Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PERCOBAAN I
“PEMBUATAN PEREAKSI ”

OLEH :

NAMA : ASRI AFIL

STAMBUK : A1C4 14 006

KELOMPOK : II B

ASISTEN PEMBIMBING : MUHAMAD IMIN JAYA, S.Pd

LABORATORIUM JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Telah diperiksa secara teliti oleh Asisten Pembimbing Praktikum Biokimia,

Percobaan “Pembuatan Pereaksi”, di Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo, yang dilaksanakan pada :

Hari/tanggal : Sabtu, 22 April 2017

Waktu : 13.00 WITA - selesai

Kendari, April 2017


Menyetujui
Asisten Pembimbing

Muhamad Imin Jaya, S.Pd


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Reagensia atau pereaksi adalah bahan-bahan yang berperan dalam

pemeriksaan laboratorium. Banah-bahan yang dipakai tersebut kebanyakan

mengandung bahaya. Oleh karena itu, di sini dikenalkan bahan-bahan berbahaya

tersebut, cara pembuatannya serta penggunaannya dalam laboratorium. Bahan

yang berbahaya adalah bahan-bahan yang selama pembuatannya, pengolahannya,

pengangkutannya, penyimpanannya dan penggunaanya mungkin menimbulkan

atau membebaskan debu-debu, kabut, uap-uap, gas, serat atau radiasi mengion

yang mungkin menimbulkan iritasi, kebakaran, ledakan,dan korosif. Berdasarkan

jenisnya, reagensia terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu: Reagensia kualiatif yaitu

Reagen yang dalam pembuatannya tidak memerlukan ketelitian yang tinggi,

pengukuran volume dan beratnya tidak harus menggunakan neraca analitik, tidak

menuntut digunakan bahan kimia yang murni ataupun menggunakan alat-alat

gelas tertentu.

Reagensia kuantitatif adalah reagen yang dalam pembuatannya

memerlukan ketelitian yang tinggi, penimbangannya harus menggunakan neraca

analitik dan pengukurannya harus dengan alat ukur kuantitatif. Reagen memiliki

banyak kegunaan yang sebagian besar melibatkan menyelamatkan aplikasi.Zat

atau dua zat membuat ,mengukur,atau membangun keberadaan reaksi kimia dan

bantuan reagen.Kimia organik mungkin juga menetapkan reagen sebagai

campuran atau zat-zat yang berbeda yang akan membuat perubahan pada substrat
pada kondisi tertentu. Reagen yang dibuat juga ini biasanya digunakan sebagai

bahan uji, misalnya uji protein dan asam amino, pati atau karbohidrat,enzim serta

lipid dan lain-lain. Pembuatan pereaksi atau reagen ini adalah suatu hal yang

paling mendasar dalam melakukan praktikum ataupun penelitian.

1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan yang dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara pembuatan

pereaksi untuk berbagai uji dalam biokimia.

1.3 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam percobaan ini yaitu bagaimana membuat pereaksi

yang baik untuk digunakan dalam berbagai uji dalam biokimia?

1.4 Manfaat Praktikum

Manfaat dalam percobaan ini yaitu dapat membedakan berbagai jenis

pereaksi yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu bahan kimia.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Reagen/Larutan

Reagen atau sering disebut pereaksi adalah suatu zat yang berperan

dalam suatu reaksi kimia atau diterapkan untuk tujuan analisis. Istilah reagen juga

digunakan untuk menunjuk pada zat kimia dengan kemurnian yang cukup untuk

sebuah analisis atau percobaan. Sebagai contoh sebuah reagen air tidak boleh

mengandung banyak ketidakmurnian seperti ion natrium, klorida atau bakteri dan

juga memiliki tahanan listrik yang tinggi. Penggolongan reagen terbagi menjadi

dua, yaitu :

a. Reagen padat adalah pereaksi yang berbentuk padatan atau serbuk, seperti

calcium carbonate.

b. Reagen cair adalah pereaksi yang berbentuk cairan, baik encer maupun

kental, seperti hydrochloric acid.

Jenis reagen yang akan didinginkan oleh cold storage adalah reagen cair.

Produk reagen ini mempunya komposisi didalam cairan tersebut adalah protein

dan enzim. Pada penyimpanannya produk reagen ini harus berada pada kisaran

suhu 2 – 8 oC. Apabila produk reagen ini berada pada batas atas suhu tersebut

maka akan merusak kandungan protein dan enzim yang ada pada produk reagen

ini, sehingga akan memperpendek umur dari kualitas produk tersebut. Kemudian

jika produk reagen ini berada pada batas bawah suhu tersebut, maka akan

membekukan produk sehingga produk tersebut akan rusak (Rahmat, 2015).


Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat

yang terdispersi baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat

bervariasi. Larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan encer adalah

larutan yang mengandung sejumlah kecil solute, relatif terhadap jumlah pelarut.

Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang mengandung sebagian besar solute.

Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent (pelarut) adalah medium dalam mana

solute terlarut (Baroroh, 2004).

Daya larut suatu zat dalam zat lain, dipengaruhi oleh : Jenis zat pelarut,

jenis zat terlarut, temperatur, dan tekanan. Zat-zat dengan struktur kimia yang

mirip umumnya saling bercampur baik, sedang yang tidak biasanya sukar

bercampur. Air dan alkohol bercampur sempurna, air dan eter bercampur

sebagian, sedang air dan minyak tidak bercampur sama sekali (Sukardjo, 2002).

2.2. Pelarut dan Zat terlarut

Zat terlarut dapat berupa zat padat, gas atau cair. Zat padat terlarut dalam

air misalnya gula dan garam. Gas terlarut dalam air misalnya amonia, karbon

dioksida, dan oksigen. Zat cair terlarut dalam air misalnya alkohol dan cuka.

Umumnya komponen larutan yang jumlahnya lebih banyak disebut sebagai

pelarut. Larutan 40 % alkohol dengan 60 % air disebut larutan alkohol. Larutan 60

% alkohol dengan 40 % air disebut larutan air dalam alkohol. Larutan 60 % gula

dengan 40 % air disebut larutan gula karena dalam larutan itu air terlihat tidak

berubah sedangkan gula berubah dari padatan (kristal) menjadi terlarut

(menyerupai air) (Harper, 1980).


2.3. Konsentrasi Larutan

Kosentrasi dari larutan dapat dinyatakan dengan bermacam-macam cara

yaitu : Persen berat : Bagian berat zat terlarut tiap 100 bagian berat larutan, persen

volum : bagian volume zat terlarut tiap 100 bagian volume larutan, bagian berat

zat terlarut tiap seberat tertentu pelarut, bagian berat zat terlarut tiap sebesar

tertentu larutan, molaritas (M) : Jumlah mol zat terlarut tiap liter larutan,

normalitas (N) : Jumlah grek zat terlarut tiap liter larutan, nolalitas (m) : Jumlah

mol zat terlarut tiap 1000 gram zat pelarut, fraksi mol (NA) : Jumlah mol zat

terlarut dibagi jumlah mol larutan (Sukardjo, 2002).

Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut dalam sejumlah

tertentu larutan. Secara fisika konsentrasi dapat dinyatakan dalam % (persen) atau

ppm (part per million) = bpj (bagian per juta). Dalam kimia konsentrasi larutan

dinyatakan dalam molar (M), molal (m) atau normal (N). (Gunawan, 2004)

Molar (M) larutan didasarkan pada jumlah mol kimia dalam 1 liter

larutan. Mol terdiri dari molekul atau atom 6.02x1023. Berat molekul (MW)

adalah berat satu mol kimia. Tentukan MW menggunakan tabel periodik dengan

menambahkan massa atom setiap atom dalam rumus kimia. Setelah berat molekul

dari suatu bahan kimia yang diketahui, berat kimia untuk larut dalam air untuk

larutan molar kurang dari 1M (Delvin, 2003).

2.4. Pereaksi Fehling dan Benedict

Modifikasi pereaksi fehling adalah pereaksi Benedict yang merupakan

campuran 17,3 gram kupri sulfat, 173 gram natrium sitrat, dan 100 gram natrium

karbonat dalam 100 gram air. Pemanasan karbohidrat pereduksi dengan pereaksi
Benedict akan terjadi perubahan warna dari biru, hijau, kuning kemerah– merahan

dan akhirnya terbentuk endapan merah bata kupro oksida apabila konsentrasi

karbohidrat pereduksi cukup tinggi. Seperti halnya pereaksi fehling, dalam reaksi

ini, karbohidrat pereduksi akan teroksidasi menjadi asam onat, sedangkan pereaksi

Benedict (sebagai Cu+) akan tereduksi menjadi kupro oksida. Jadi, dalam uji ini

terjadi proses oksida dan proses reduksi.

Gambar 1.1 reaksi antara karbohidrat pereduksi dengan pereaksi Benedict.

(Sumardjo, 2008).

Pereaksi Fehling dan pereaksi Benedict yang terdiri dari kelompok Cu2+

dengan ion tartrat untuk pereaksi Fehling atau ion sitrat untuk perekasi Benedict,

keduanya adalah larutan basa. Reaksinya dengan aldehida ialah :

Pereaksi tembaga berwarna biru tua. Jika pereakis ini bereaksi dengan

aldehida, terbentuk endapan Cu2O berwarna merah bata. Reaksi dengan pereaksi

Tollen atau Fehling mengubah ikatan C-H menjadi ikatan C-O. Aldehida

dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan jumlah atom karbon yang sama.

Karena keton tidak mempunyai hidrogen yang menempel pada atom karbon

karbonil, keton tidak dapat dioksidasi dengan pereaksi-pereaksi ini (Hart, 1990).
2.5 Larutan Pati

Pati merupakan polisakarida pada hidrolisis dengan katalis asam disertai

pemanasan akan menjadi glukosa. Pati dapat dihidrolisis menjadi rantai-rantai

yang menghasilkan monomer, dengan masuknya air pada ikatan glikosidik,

hidrolisis tersebut dikatalis oleh enzim dan asam. Asam yang biasa digunakan

adalah asam klorida dan asam sulat, sedang enzim yang digunakan dari golongan

amylase. Pati merupakan produk akhir pada fotosintesis tumbuhan berklorofil.

Pati pada tumbuhan digunakan sebagai cadangan makanan yang terdapat pada

akar, biji atau batang. Pati tersusun dari butiran atau granula yang berjumlah

jutaan (Sutikno, 2008).

Pati adalah polimer karnohidat yang terbuat dari unit hidroglukosa yang

beriaktan seperti ikatan 1,4 glikosidik . pati terbagi menjadi dua yatiu amilosa dan

amilopektin (Yusuf, 2007). Larutan alhohol di campur dengan setetes larutan

glukosa kemudiakn di tambahkan asam sulfat. Muculnya warna ungu menandakan

adanya α naftol. Secara teori turunan fulfural dibentul dari reaksi asam sulfur

menghasilkan warna ungu di tengah lapisan, dengan Pemanasan atau Pada suhu

rendah, warna ungu di yakini akibat dar reaksi α triphenilmetana antara napthol

dan fulfural (Murugan, 2013).

2.6 Pereaksi Ninhidrin

Fungsi reagen ninhidrin adalah sebagai suatu oksidator sangat kuat yang

dapat menyebakan terjadinya dekarboksilasi aksidatif asam α-amino untuk

menghasilkan suatu aldehid dengan atom karbon kurang asam amino induknya.
Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik. Apabila senyawa ini bereaksi

dengan asam amino akan menghasilkan zat berwarna ungu (Hidayatullah, 2012).

Asam amino dapat diidentifikasi dengan berbagai reagen. Salah satu reagen

yang digunakan secara umum adalah ninhidrin. Ninhidrin adalah reagen yang

paling populer karena sensitivitasnya yang tinggi. Namun, ninhidrin menghasilkan

warna ungu/violet yang sama dengan warna semua asam amino (hanya prolin dan

hidroksiprolin yang menghasilkan warna kuning) (Sinhababu, 2013).


BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari sabtu 9 april 2017 pukul 13.00-17.00

WITA di Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Halu Oleo.

3.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu labu takar 100 mL, labu

takar 25 mL, gelas kimia 50 mL, botol semprot, kaca arloji, pipet tetes, pipet

volume 25 mL, filler, batang pengaduk, dan spatula.

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini α-naftol, alkohol, orcinol

besi(III) klorida, HCl pekat, resorsinol 0,5%, HCl 6 M, kristal Cu(II) asetat, asam

asetat 1%, asam asetat glasial, natrium metabisulfit, p-rosanilin HCl, AgNO3,

NaOH, ammonia encer, asam sulfat encer, natrium kalium tartarat, natrium sitrat,

natrium karbonat anhidrat, CuSO4 hidrat, ninhidrin, HgSO4, asam sulfat pekat,

NaNO2, pati/kanji, HgI, Na-asetat, KI, I2, natrium karbonat anhidrat, natrium

bikarbonat, natrium sulfat anhidrat, CuSO4.5H2O dan Aquadest.

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1. Pereaksi Mollisch

Sebanyak 5 gram α naftol (C10H8O) ditimbang, kemudian dilarutkan

dengan alkohol dalam gelas kimia dan dimasukkan ke dalam labu takar 100

mL, lalu ditambahkan alkohol sampai batas tanda tera.


3.3.2. Pereaksi Bial Orsinol

Sebanyak 0,5 gram orcinol FeCl3 ditimbang, dimasukkan ke dalam

labu takar 10 mL kemudian dilarutkan dengan sedikit HCl pekat dan larutan

dicukupkan hingga tanda tera.

3.3.3. Pereaksi Seliwanof

Dicampurkan 3,5 mL resorsinol 0,5% dengan 1,5 mL HCl,

dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL. Setelah larut larutan dicukupkan

dengan HCl 6 M.

3.3.4. Pereaksi Barfoed

Sebanyak 6,65 gram Cu asetat ditimbang lalu larutkan dengan sedikit

asam asetat 1% dalam gelas kimia, kemudian dimasukkan dalam labu takar

100 mL, dan ditambahkan asam asetat 1% sampai batas tera, lalu

dihomogenkan.

3.3.5. Pembuatan Larutan Asam Asetat 1%

Dipipet volume 1 gram CH3COOH, dimasukkan ke dalam labu takar

100 mL. Volumenya dicukupkan dengan akuades.

3.3.6. Pereaksi Schiff

Ditimbang 1 gram natrium metabisulfit, ditambahkan 0,1 gram p-

rosanilin HCl, ditambahkan 1 mL HCl, diisi dengan akuades sampai tanda

tera.
3.3.7. Pereaksi Fehling

a. Pereaksi Fehling A

Sebanyak 6,928 gram kristal Cu (II)SO4 ditimbang, kemudian

dilarutkan dalam gelas kimia dengan campuran 10 mL aquades ditambah

sedikit asam sulfat encer, lalu dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL, dan

ditambahkan aquades sampai batas tera. Dikocok hingga homogen.

b. Pereaksi Fehling B

Sebanyak 12 gram NaOH dan 34,6 gram natrium kalium tartarat

ditimbang, kemudian dilarutkan dengan aquades, lalu dimasukkan dalam labu

takar 100 mL, dan dicukupkan dengan aquades sampai batas tera.

3.3.8. Pereaksi Benedict

Sebanyak 0,25 gram resorsinol ditimbang, kemudian dilarutkan dalam

gelas kimia, lalu dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL, dan ditambahkan

aquades hingga batas tanda tera.

3.3.9. Pereaksi Ninhidrin

Sebanyak 0,2 gram ninhidrin ditimbang, lalu dilarutkan dengan sedikit

air, kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL, dan ditambahkan

aquades hingga batas tanda tera.

3.3.10. Pereaksi Millon

a. Pembuatan Larutan H2SO4 10%

Dimasukkan 10 mL H2SO4 pekat ke dalam labu takar 100 mL, lalu

ditambahkan aquades hingga batas tanda tera.


b. Pembuatan Pereaksi

Sebanyak1 gram HgSO4 ditimbang, lalu dilarutkan dengan sedikit

larutan H2SO4 10%, kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL, lalu

ditambahkan aquades hingga batas tanda tera.

3.3.11. Larutan HCl

Dimasukkan 0,83 mL HCl pekat ke dalam labu takar 100 mL, lalu

ditambahkan aquades hingga batas tanda tera.

3.3.12. Larutan NaOH

Sebanyak 0,4 gram padatan NaOH ditimbang dan dilarutkan dengan

sedikit aquades dalam gelas kimia, lalu masukkan ke dalam labu takar 100

mL, dan ditambahkan aquades hingga batas tanda tera.

3.3.13. Larutan Asam Asetat 1 M

Dimasukkan 28,875 mL asam asetat glacial ke dalam labu takar 500

mL, lalu ditambahkan aquades hingga batas tanda tera.

3.3.14. Larutan Pati/Kanji

Ditimbang 10 gram kanji ditambahkan 10 mgHgl ditambahkan 30 mL

akuades, ditambahkan 1 L akuades mendidih.

3.3.15. Larutan Dapar/ Buffer Asetat

a. Larutan A

Sebanyak 5,775 mL larutan asam asetat 0,2 M diencerkan dengan

sedikit aquades, lalu dimasukkan dalam labu takar 500 mL dan ditambahkan

aquades sampai tanda tera.


b. Larutan B

Sebanyak 8,2 gram Na-asetat 0,2 M dilarutkan dengan aquades dan

dimasukkan ke dalam labu takar 100, lalu ditambahkan aquades sampai batas

tera.

3.3.16. Larutan Iod 0,01 N

Sebanyak 2 gram KI dan 1,269 gram I2 ditimbang lalu dilarutkan

dengan aquades, dan dimasukkan ke dalam labu takar 1000 mL, kemudian

ditambahkan aquades hingga batas tanda tera.

3.3.17. Pereaksi Nelson

a. Nelson A

12,5 gram natrium karbonat anhidrat ditambahkan 12,5 gram garam

rochelle, ditambahkan 10 gram natrium bikarbonat ditambahkan 100 gram

natrium sulfat anhidrat. Dilarutkan dalam 350 mL akuades. Diencerkan

hingga 500 mL.

b. Nelson B

Sebanyak 7,5 CuSO4.5H2O dilarutkan dalam 50 mL akuades

ditambahkan 1 tetes H2SO4 pekat.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan

4.1.1 Pereaksi Mollisch

Tabel 1. Data pengamatan pembuatan pereaksi Mollisch


No Perlakuan Pengamatan
1. Ditimbang 5 g naftol Berwarna bening
2. Dilarukan sedikit alcohol Bening
Dicukupkan voluemenya hingga
3.
tanda tera

4.1.2 Pereaksi Bial Orcinol

No Perlakuan Pengamatan
1. Ditimbang 0,5 g orcinol FeCl3 Berwarna bening
2. Dilarukan sedikit HCl pekat Bening
Dicukupkan voluemenya hingga
3.
tanda tera

4.1.3 Pereaksi Seliwanoff

Tabel 3. Data pengamatan pembuatan pereaksi Seliwanoff


No Perlakuan Pengamatan
3,5 mL resorsinol 0,5% + 1,5 mL
1. Larutan bening
HCl
Didisi dengan HCl 6 M sampai
2. Larutan bening dan terasa hangat
tanda tera

4.1.4 Pereaksi Barfoed

Tabel 4. Data pengamatan pembuatan pereaksi Barfoed


No Perlakuan Pengamatan
1. Ditimbnag 6,65 g Cu(II)asetat 6,65 g Cu(II)asetat
Dilarutkan dengan 100 mL
2. Larutan berwarna biru
CH6COOH 1%
4.1.5 Asam Asetat 1%

Tabel 15. Data pengamatan pembuatan larutan Asam Asetat 1%


No Perlakuan Pengamatan
1. Dipipet volume 1 g CH3COOH Larutan Asam asetat
Diisi dengan 100 mL aquadest
2. Larutan bening
sampai tanda tera

4.1.6 Pereaksi Schift

Tabel 6. Data pengamatan pembuatan pereaksi Schiff


No Perlakuan Pengamatan
1 g natrium metabislulfit + 0,1 g
1.
p-rosanilin HCl + 1 mL HCl pekat
Disi dengan aquadest sampai
2. Larutan bening
tanda tera

4.1.7 Pereaksi Fehling

Tabel 7. Data pengamatan pembuatan pereaksi Fehling


No Perlakuan Pengamatan
6,928 g CuSO4 dalam labu takar
1. 100 mL + H2SO4 encer dalam 10 Larutan berwarna biru
mL H2O
Diisi dengan aquadest hingga
2. Larutan Fehling A
tanda tera
12 g NaOH dan 34,6 g natrium
3. kalium tartarat kedalam labu takar
100 mL
Diisi dengan aquadest hingga
4. Larutan fehling B
tanda tera

4.1.8 Pereaksi Benedict

Tabel 8. Data pengamatan pembuatan pereaksi Benedict


No Perlakuan Pengamatan
34,6 g natrium sitrat + 1 g Natrium sitrat dan natrium karbonat
1.
natrium karbonat anhidrat berwarna putih
Dialarutkan dengan 80 mL
2.
aquadest + 5 mL aquadest
Ditimbang 3,46 g CuSO4 hidrat
3.
kedalam 10 mL aquadest
Dicampurkan da diisi dengan
4. Larutan Bening
aquadest sampai tanda tera
4.1.9 Pereaksi Ninhidrin

Tabel 8. Data pengamatan pembuatan pereaksi Ninhidrin


No Perlakuan Pengamatan
Ditimbnag 0,2 g ninhidrin
1. Larutan bening
kedalam 100 mL
Diisi dengan aquadest hingga tada
2.
tera

4.1.10 Pereaksi Millon

Tabel 10. Data pengamatan pembuatan pereaksi Millon


No Perlakuan Pengamatan
1 g HgSO4 dalam labu takar 100
1. Larutan bening
mL
Ditambahkan sedikit H2SO4 10%
2.
hingga tanda tera
Larutan H2SO4 10% : 10 mL
H2SO4 pekat dalam 100 mL labu
3. Larutan bening
takar di isis dengan aquadest
hingga tanda tera
Larutan NaOH 1% : 1 g NaNO3
dalam 100 mL labu takar diisi
4. Larutan bening
dengan aquadest hingga tanda
tera

4.1.11 Larutan HCl

Tabel 11. Data pengamatan pembuatan pereaksi Larutan HCl


Normalitas / Molaritas mL HCl pekat menjadi 1 L
0,1 N 0,2 mL
6N 12,5 mL

4.1.12 Larutan NaOH

Disiapkan alkali (1:1) dengan menambahkan aquadest pada NaOH

dibiarkan selama 1 hari.

Tabel 12. Data pengamatan pembuatan pereaksi Larutan NaOH


Normalitas / Molaritas gram NaOH
10 % 25 gram
3% 0,75 gram
40 % 10 gram
0,1 M 0,1 gram
4.1.1 Asam Asetat 1M

Tabel 11. Data pengamatan pembuatan pereaksi larutan Asam Asetat 1 M


No Perlakuan Pengamatan
1,6 m asam asetat dalam 25 mL
1. Larutan bening
labu takar
Diencerkan dengan aquadest
2.
hingga tanda tera

4.1.2 Larutan Kanji

Tabel 12. Data pengamatan pembuatan larutan Kanji


No Perlakuan Pengamatan
10 g kanji + 10 mg HgI + 30 mL
1. Larutan bening
aquadest
Ditambahkan 1 L aquadet yang
2.
mendidih

4.1.3 Larutan Dapar Asetat

Tabel 13. Data pengamatan pembuatan pereaksi larutan Buffer Asetat


Larutan Perlakuan Pengamatan
0,2 M asam asetat 11,55 mL
A Larutan bening
dalam 1000 mL aquadest
O,2 M larutan Na-asetat (16,4
g C2H3O2Na atau 27,2 g
B Larutan bening
C2H3O2Na.3H2O dalam 1000
mL)

Cara membuat : X mL larutan A + y mL larutan B dalam 1000 mL

X Y pH X Y pH
46,3 3,7 3,6 20,0 30,0 4,8
44,0 6,0 3,8 14,8 35,2 5,0
41,0 9,0 4,0 10,5 39,5 5,2
36,8 13,2 4,2 8, 41,2 5,4
30,5 19,5 4,4 4,8 45,2 5,6
25,5 24,5 4,6
4.1.4 Larutan Iod

Tabel 14. Data pengamatan pembuatan larutan Iod 0,01 N


No Perlakuan Pengamatan
1. 2 – 2,5 g KI + 1,269 I2 Berwarna biru
Dilaritkan engan aquadest hingga
2. Larutan biru
1L

4.1.5 Pereaksi Nelson

Tabel 15. Data pengamatan pembuatan pereaksi Nelson


Pereaksi Perlakuan Pengamatan
12,5 g natrium karbonat
anhidrat + 12,5 g garam
rochelle + 10 g natrium Larutan berwarna merah bata
bikarbonat + 100 g natrium
A
sulfat anhidrat
Dilarutkan dalam 350 mL
aquadest dan di encerkan Larutan berwarna merah bata
hingga 500 mL
7,5 g CuSO4.5H2O dilaritkan
B dalam 50 mL aquadest + 1 Larutan berwarna merah bata
tetes H2SO4 pekat

4.2 Pembahasan

Pereaksi kimia, reaktan atau reagen adalah bahan yang menyebabkan atau

dikonsumsi dalam suatu reaksi kimia. Istilah reagen juga digunakan untuk

menunjuk pada zat kimia dengan kemurnian yang cukup untuk sebuah analisis

atau percobaan. Berdasarkan data pada tabel hasil percobaan di atas dapat

diuraikan bahwa dalam membuat suatu larutan yang paling utama adalah jumlah

zatnya. Karena dengan diketahui jumlah zatnya kita dapat menentukan berapa

massa yang dibutuhkan untuk membuat suatu larutan (pereaksi). Dimana pada

percobaan ini dilakukan percobaan pembuatan larutan atau pereaksi

tollens,pereaksi fehling, dan larutan asam asetat.


Pada percobaan pertama dilakukan pembuatan reagent tollens. Untuk

membuat reagen tollens, larutan AgNO ditambahdengan beberapa tetes NaOH,

hasilnya larutan menjadi keruh dan ada endapan cokelat.

Reaksinya adalah:

AgNO3 + NaOH AgOH + NaNO3

Kemudian ditambahkan beberapa tetes NH4OH sampai sebagian endapan larut.

Setelah ditambah NH4OH, endapan AgOH sebagian dibuat larut (tidak dilarutkan

semua),menghasilkan larutan tak berwarna dan sedikit ada endapan coklat.

Reaksinya adalah:

AgOH + NH4OHAg2O + NH3+ 2 H2O

Larutan yang dihasilkan tersebut adalah reagen tollens berupa ion perak

beramoniak yang digunakan untuk membedakan aldehid dan keton pada sampel.

Selanjutnya adalah pembuatan pereaksi fehling. Perekasi Fehling adalah

oksidator lemah yang merupakan pereaksi khusus untuk mengenali aldehida.

Pereaksi Fehling terdiri dari dua bagian, yaitu Fehling A dan Fehling B. Fehling A

adalah larutan CuSO4, sedangkan Fehling B merupakan campuran larutan NaOH

dan kalium natrium tartrat. Pereksi Fehling dibuat dengan mencampurkan kedua

larutan tersebut, sehingga diperoleh suatu larutan yang berwarna biru tua. Dalam

pereaksi Fehling, ion Cu2+ terdapat sebagai ion kompleks. Pereaksi Fehling dapat

dianggap sebagai larutan CuO. pembuatan pereasi ini dilakkuan dua kali (dua

larutan). Untuk larutan pertama sebanyak 6,928 gram kristal Cu2SO4 diencerkan

sampai dengan 100 mL. sedangkan untu larutan kedua sebanyak 12 gram ristal

NaOH dan Natrium kalium tartarat sebanyak 34,6 gram dilrutan dengan aquades
sampai 100 mL. warnah kedua larutan ini sama-sama bening. hal inni menujukan

terjadinya reaksi yang sempurna, karena terlihat larutan menjadi bening.

Percobaan selanjutnya adalah pembuatan larutan asam asetat 1 M, pada pecobaan

ini digunakan asam asetat 96% dan diambil sebanyak 2,8875 mL kemudian

diencerkan sampai 500 mL. Hal ini bertujuan untuk menurunkan konsentrasi

larutan asam asetat tersebut. karena apabila suatu larutan apabila diencerkan atau

ditambahkan suatu larutan maka konsentrasinya akan menurun atau akan

berkurang. Hal itu bias dilihat saja dari rumus pengenceran, adalah

M1.V1 = M2. V2. Dimana M.V adalah rumus banyaknya jumlah zat

(mol), sehingga mol awal = mol akhir. Oleh karena itu, percobaan pembuatan

larutan dengan pengenceran hasil yang didapat adalah sesuai dengan teori yang

mendasari,yakni bahwa mengencerkan larutan yaitu memperkecil konsentrasi

larutan dengan jalan menambahkan sejumlah tertentu pelarut. Pengenceran

menyebabkan volume dan kemolaran larutan berubah, tetapi jumlah zat terlarut

tidak berubah.
BAB V
SIMPULAN

Simpulan dari pembuatan beberapa pereaksi yaitu bahwa setiap pereaksi

memiliki fungsi pada masing-masing uji-uji tertentu. Misalnya pada pereaksi

fehling, uji pada pereaksi fehling ini digunakan untuk menunjukkan adanya

karbohidrat reduksi. Uji positif ditandai dengan warna merah bata. Kemudian

pereaksi benedict dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada gula dalam suatu

zat seperti glukosa dalam pati. Dan yang terakhir yaitu pereaksi ninhidrin

berfungsi untuk menguji adanya gugus asam amino bebas. Reaksi positif dari uji

ini yaitu adanya perubahan warna sampel menjadi biru atau hijau.
DAFTAR PUSTAKA

Baroroh., Umi L. U. 2004. Diktat Kimia Dasar I. Universitas Lambung


Mangkurat.

Delvin, M. Thomas. 2003. Textbook of Biochemistry, with Clinical Correlation.


New York:Willey-Liss.

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi ke IV. Jakarta: Departemen


Kesehatan Republik Indonesia.

Harper, H.A. 1980. Review of Physiological Chemistry, diterjemahkan oleh Martin


Muliawan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Hart, H. 1990. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat Edisi Keenam. Jakarta:
Erlangga.
Gunawan, Banjar., Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Surabaya: Kartika.

Hidayatullah, F. 2012. Tugas Akhir Analisa Asam Amino pada Buah Pepaya
dengan Spektrofotometer (The Amino Acid Analysis in Papaya Fruits with
Spectrophotometer. Semarang: Universitas Diponegoro.

Mulyono. 2009. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: PT. Bumi


Aksara. Hal: 20-29, 37-38, 125, 163-170.

Murugan, S. 2013. Micro scale Experiments in Organic and Inorganic Chemistry.


Journal of Applicable Chemistry. 2(1).

Rahmat, M.R. 2015. Perancangan Cold Storage untuk Produk Reagen. Jurnal Ilmiah
Teknik Mesin. Vol. 3(1).

Sinhababu, A. 2013. Modified Ninhydrin Reagent for the Detection of Amino


Acids on TLC Plates. Journal of Applied and Natural Science. ISSN :
0974-9411. Vol. 5(1).
Sudjadi.(2008). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 5,
240, 245-247.

Sukardjo. 2002. Kimia Fisika. Jakarta: Rineka Cipta.

Sumardjo, Damin, 2009. Pengantar Kimia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


EGC.
Sutikno .2008 Pengaruh Pemblasiran Irirsan Buah Sukun (Artocarpus
Communis) Terhadap Pencoklatan Dan Kadar Pati Sebagai Alternative
Sumber Belajar Kimia SMA kelas XII. Yogyakarta: UIN Sutan Kalijaga.

Yusuf., ayedun H., Logunleko, G.B. 2007. Functional properties of unmodified and
modified Jack Bean (Canavalia Ensiformis) starches. Negerian Food Journal.
25(2).