Anda di halaman 1dari 20

Makalah system thinking organization

Mental Model

DI SUSUN
O
L
E
H
kelompok III
Abdul Salam Butolo 8114160
Nurlela A. Halid 811416024
Mutia Akuba 811416036
Kelas IV A

FAKULTAS OLAHRAGA & KESEHATAN


JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
2018
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena telah melimpahkan karunia-
Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul
“Mental Model” ini tepat pada waktunya.Makalah ini di buat untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah
Kami berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa mengenai
“Mental Model”, sehingga mahasiswa memiliki bekal teori yang nantinya akan sangat
bermanfaat dalam melaksanakan praktik di lapangan.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi perbaikan yang lebih
baik dimasa yang akan datang.
Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca
pada umumnya, Amin.

Gorontalo, 20 Februari 2018

Kelompok III

1
DAFTAR ISI
Kata pengantar……………………………………………………………………………….1
Daftar isi ……………………………………………………………………………………..2
Bab I Pendahuluan
a. Latar belakang………………………………………………………………………..3
b. Rumusan masalah ……………………………………………………………………5
c. Tujuan………………………………………………………………………………...6
Bab II Pembahasan
a. Definisi mental model………………………………………………………………...6
b. Pembentukan mental model…………………………………………………………..7
c. Mental model dan pemimpin………………………………………………………..10
d. Mental model dan organisasi………………………………………………………..11
e. Kasus dan Pembahasan……………………………………………………………...13
Bab III Penutup
Kesimpulan…………………………………………………………………………………...18
Saran…………………………………………………………………………………………..18
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………...19

2
BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Berbagai perubahan pada dekade terakhir ini digambarkan oleh banyak ahli
manajemen sebagai suatu turbulent (angin kencang yang berubah arah), organisasi
yang sangat cepat mengalami perubahan, ditambah dengan iklim kompetisi antar
organisasi yang semakin kuat menuntut organisasi apapun untuk selalu mampu
mengalami perubahan dan persaingan. Organisasi harus mampu berkompetisi dengan
sesama, juga harus mampu berkompetisi dengan lembaga lain. Untuk mampu
berkompetisi tersebut organisasi harus mampu melihat berbagai kebutuhan dan
harapan stakeholder1.
Rumah Sakit sebagai suatu organisasi juga mengalami hal yang sama. Upaya
untuk selalu memenuhi kebutuhan dan harapan stakeholder inilah yang kemudian
menuntut Rumah Sakit untuk meningkatkan mutu layanan dan produknya. Namun
sayangnya, kebutuhan dan harapan stakeholder bukanlah merupakan sesuatu yang
bersifat statis, namun bersifat dinamis, bahkan seringkali perubahannya berlangsung
sangat cepat dan tidak berpola. Kondisi ini tentu akan sangat memukul Rumah Sakit,
jika Rumah Sakit tersebut tidak memiliki kemampuan untuk berubah dan
menyesuaikan diri dengan cepat. Dengan kata lain, untuk dapat selalu menjaga mutu
produk dan layanannya Rumah Sakit juga harus memiliki kemampuan untuk selalu
berubah menyesuaikan diri dengan kondisi yang berkembang. Rumah Sakit yang
memiliki kemampuan dan kelenturan untuk berubah tersebut hanya dapat dicapai jika
Rumah Sakit tersebut memiliki kemampuan mengelola sumber daya manusia (SDM)
dengan baik1.
Seperti kita ketahui bahwa Rumah sakit adalah suatu organisasi dan menurut
definisinya organisasi adalah wadah sekumpulan orang yang saling berinteraksi untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam penyelenggaraan kegiatan
organisasi, personil didalamnya akan saling berbagi tugas, mengatur pembagian
kewenangan dan tanggungjawab, membuat prosedur kerja, aturan dan sebagainya
untuk memudahkan mereka bekerja. Seorang pemimpin akan mengarahkan,
mengkoordinasikan dan menentukan keputusan untuk keberhasilan suatu organisasi

3
dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, oleh karenanya kualitas seorang pemimpin
dengan kepemimpinannya sangat berpengaruh dan penting dalam suatu organisasi1.
Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin
aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (Shared
Goal) (Hemhiel and Coons, 1957).Pemimpin adalah seseorang yang memiliki
kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok, tanpa
mengindahkan bentuk alasannya, sedangkan kepemimpinan adalah proses kegiatan
memimpin1.
Salah satu bentuk kepemimpinan menggunakan pendekatan perubahan adalah
“Kepemimpinan Stratejik dengan Pendekatan Organisasi Pembelajaran.” Organisasi
pembelajaran (Learning Organization) bersumber pada konsep yang dikemukakan
oleh Peter Senge (1990), yaitu organisasi yang orang-orangnya secara terus-menerus
meningkatkan kapasitasnya untuk menciptakan hasil-hasil yang sungguh-sungguh
mereka inginkan, terus menerus mengembangkan dan memelihara pola-pola pikir baru
dan sistemik, membebaskan aspirasi-aspirasi kolektif berkembang, dan mereka terus
belajar bersama-sama secara sinerjik . Alasan dasar untuk organisasi tersebut adalah bahwa
dalam situasi perubahan yang cepat hanya mereka yang fleksibel, adaptif dan produktif yang
dapat bertahan. Agar hal ini terjadi, ia berpendapat bahwa organisasi perlu menemukan
bagaimana memanfaatkan komitmen orang dan kapasitas untuk belajar pada semua tingkat’
(Senge, 1990)3.
Teori lima disiplin yang diidentifikasikan Peter Senge merupakan kunci untuk
mencapai organisasi jenis ini. Dimensi Learning Organization Peter Senge (1999)
mengemukakan bahwa di dalam learning organization yang efektif diperlukan 5
dimensi yang akan memungkinkan organisasi untuk belajar, berkembang, dan
berinovasi yakni:
1. Personal Mastery
Kemampuan untuk secara terus menerus dan sabar memperbaiki wawasan agar
objektif dalam melihat realitas dengan pemusatan energi pada hal-hal yang
strategis2.
2. Mental Model
Suatu proses menilai diri sendiri untuk memahami, asumsi, keyakinan, dan
prasangka atas rangsangan yang muncul2.
3. Shared Vision

4
Komitmen untuk menggali visi bersama tentang masa depan secara murni tanpa
paksaan2.
4. Team Learning
Kemampuan dan motivasi untuk belajar secara adaptif, generatif, dan
berkesinambungan2.
5. System Thinking
Organisasi pada dasarnya terdiri atas unit yang harus bekerja sama untuk
menghasilkan kinerja yang optimal. Kesuksesan suatu organisasi sangat ditentukan
oleh kemampuan organisasi untuk melakukan pekerjaan secara sinergis2.
Kelima dimensi dari Peter Senge tersebut perlu dipadukan secara utuh,
dikembangkan dan dihayati oleh setiap anggota organisasi, dan diwujudkan dalam
perilaku sehari-hari. Kelima dimensi organisasi pembelajaran ini harus hadir bersama-
sama dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan kualitas pengembangan SDM,
karena mempercepat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan
kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan dan mengantisipasi perubahan pada
masa depan2.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi mental model ?
2. Bagaimana proses pembentukan mental model ?
3. Bagaimana hubungan antara mental model dan pemimpin ?
4. Bagaimana hubungan antara mental model dan organisasi ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi mental model
2. Untuk mengetahui proses pembentukan mental model
3. Untuk mengetahui hubungan antara mental model dan pemimpin
4. Untuk mengetahui hubungan antara mental model dan organisasi

5
Bab II
Pembahasan

A. Definisi Mental Model


Peter Senge mendefinisikan model mental sebagai semua asumsi, generalisasi,
bahkan gambaran yang tersimpan kuat dalam pikiran dan perasaan sehingga
mempengaruhi segala tindakan, perilaku dan pandangan tentang kehidupan dan dunia
pada umumnya5.
The discipline of mental models starts with turning the mirror inward;
learning to unearth our internal pictures of the world, to bring them to the surface and
hold them rigorously to scrutiny. It also includes the ability to carry on “learningful”
conversations that balance inquiry and advocacy, where people expose their own
thinking efectively and make that thinking open to the influence of others. (Senge
1990:9)6.
Mental Model adalah ‘asumsi yang tertanam, generalisasi, atau bahkan gambar
dan gambar yang mempengaruhi bagaimana kita memahami dunia dan bagaimana kita
mengambil tindakan’. Hal tersebut tergambar pada perilaku kita dan cerminkan dari
tindakan kita3. Didalam mempelajari model mental (mental models) dimulai dengan
melihat cerminan diri sendiri, mengembangkan kemampuan yang diri sendiri dan
kemampuan untuk ‘learningful’, mengungkapkan pemikiran secara efektif dan
membuat pemikiran terbuka untuk mempengaruhi orang lain3,6.
Mental models merupakan satu dari lima disiplin yang dikemukakan Peter
Senge (1990). Mental models merupakan refleksi diri, menelusuri dan mendukung,
dimana orang-orang mengekspos pemikiran sendiri secara efektif dan menjadikan
pemikiran yang terbuka terhadap pengaruh orang lain6.
Tjakraatmadja dan Lantu (2006:189) menyatakan bahwa model mental
menggambarkan kemampuan para anggota organisasi untuk melakukan perenungan,
mengklarifikasi dan memperbaiki gambaran-gambaran internal (pemahaman) tentang
dunia, yang dilandasi oleh prinsip-prinsip serta nilai-nilai yang sarat dengan moral
etika6.
Senge (1996:8) menyatakan These are ‘deeply ingrained assumptions,
generalizations, or even pictures and images that influence how we understand the
world and how we take action’ bahwa model mental adalah asumsi yang sangat
melekat umum, atau bahkan suatu gambaran dari bayangan / citra yang berpengaruh
6
bagaimana kita memahami dunia dan bagaimana kita mengambil tindakan6.Sehingga
model mental dapat dikatakan sebagai konsep diri, yang dengan konsep tersebut akan
menghasilkan pengambilan keputusan yang baik6

B. Pembentukan Mental Model


Mental Model berasal dari pengamatan dengan pengetahuan, informasi-
informasi membentuk skemata-skemata sehingga terbentuklah mindset atau yang
disebut model mental7. Salah satu teori dasar pembentukan mental model adalah yang
disampaikan oleh Cris Argyris yaitu The Ladder of Inference atau tangga Argyris,
yang kemudian dikembangkan oleh Peter Senge. “The Ladder Of Inference” adalah
suatu proses seperti tangga dalam mengambil kesimpulan. Teori ini berasal dari Chris
Argyris kemudian dikembangkan oleh Peter Senge dalam Learning Organization.
Menurut teori ini ada tingkatan dalam mengambil kesimpulan yaitu4:
1. Reality and fact (kenyataan dan fakta)
2. Selected reality (kenyataan yang terseleksi)
3. Interpreted reality (kenyataan yang diinterprestasikan)
4. Assumtion (asumsi)
5. Conclutions (kesimpulan-kesimpulan)
6. Beliefs (keyakinan)
7. Action (bertindak)

Gambar 1. Tingkatan Pengambilan Keputusan


Sumber : http://www.mindtools.com/pages/article/newTMC_91.htm unduh 28/10/2012
Dengan menerapkan the ladder inference akan membantu kita terhindar dari
membuat kesimpulan yang salah dan mengabaikan fakta-fakta4.

7
Kepustakaan lain menyebutkan Model mental (Mental Model) adalah suatu
prinsip yang mendasar dari organisasi pembelajar. Model mental adalah suatu aktivitas
perenungan yang dilakukan dengan terus menerus mengklarifikasikan dan
memperbaiki gambaran-gambaran internal kita tentang dunia, dan melihat bagaimana
hal itu membentuk tindakan dan keputusan kita. Model mental terkait dengan
bagaimana seseorang berpikir dengan mendalam tentang mengapa dan bagaimana dia
melakukan tindakan atau aktivitas dalam berorganisasi. Model mental merupakan
suatu pembuatan peta atau model kerangka kerja dalam setiap individu untuk melihat
bagaimana melakukan pendekatan terhadap masalah yang dihadapinya. Dengan kata
lain, model mental bisa dikatakan sebagai konsep diri seseorang, yang dengan konsep
diri tersebut dia akan mengambil keputusan terbaiknya. Model mental ini kemudian
menghasilan cara berfikir atau mindset8.

Gambar 2: Mental Model


Sumber : http://www.google.co.id/search?num=10&hl=id&site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=1024&bih=

8
Gambar 3 : Mental Model
Sumber : http://www.google.co.id/search?num=10&hl=id&site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=1024&bih=

Didalam proses terbentuknya mental model terdapat hal tersebut dibawah ini, yaitu:
a. Konstruksi : menciptakan sesuatu mencari pola dan makna yang paling semu9.
b. Penghapusan : memilih dan menyaring pengalaman, menutupi beberapa bagian9.
c. Distorsi : pengalaman yang berliku mengubah pengalaman, mengurangi dan
melengkapi bagian memberikan arti yang berbeda dengan kenyataan (reading
different meaning into it) 9.
d. Generalisasi : gambaran umum atas semua kejadian yang sama menciptakan
sesuatu dari pengalaman dan mempresentasikan kelompok9.
Selain proses tersebut diatas, didalam pembentukan suatu model mental
terdapat Teori Chris Argyris (Teori Dewasa dan Tidak Dewasa) yang merupakan
pengembangan dari Teori X dan Y. Teori X dan Teori Y oleh Mc.Gregor berdasarkan
atas penelitiannya pada organisasi tradisional dengan ciri-cirinya yang sentralisasi
dalam pengambilan keputusan, hubungan piramida antara atasan dan bawahan, dan
pengendalian kerja ekstrenal, adalah pada hakikatnya berdasarkan atas asumsi-asumsi
mengenai sifat manusia dan motivasinya. Teori X menyatakan bahwa sebagian besar
manusia lebih suka diperintah, dan tidak tertarik akan rasa tanggungjawab, serta
menginginkan keamanan atas segalanya. Mengikuti falsafah ini maka kepercayaaanya
ialah orang-orang hendaknya dimotivasi dengan uang, gaji, honorarium dan
diperlakukan dengan sanksi hukuman. Untuk menutupi kelemahan dari asumsi teori X
itu, maka Mc.Gregor memberikan alternative teori lain yang dinamakan teori Y.
asumsi teori Y merupakan kebalikan dari teori X10.
Teori Argyris menambahkan bahwa ada perbedaan antara sikap dan perilaku pada
diri seseorang. Menurut Argyris, ada tujuh perubahan yang terjadi di dalam kepribadian
seseorang jika ia berkembang ke kedewasaan.
a. Seseorang itu akan bergerak dari suatu keadaan pasif sebagai anak-anak, ke suatu
keadaan yang bertambah aktivitasnya sebagai orang dewasa10.
b. Seseorang akan berkembang dari suatu keadaan yang tergantung kepada orang lain ke
suatu keadaan yang relatif merdeka sebagai orang dewasa10.
c. Seseorang bertindak hanya dalam cara sedikit sebagai anak-anak, tetapi sebagai orang
dewasa ia akan mampu bertindak dalam berbagai cara10.

9
d. Seseorang itu mempunyai minat yang tidak menentu, kebetulan dan tidak begitu
mendalam dan kuat minatnya sebagai orang dewasa10.
e. Persfektif waktu bagi anak-anak adalah singkat, hanya melibatkan waktu kini, tetapi
sebagai orang dewasa maka perspektif waktunya bertambah menjangkau masa lalu
dan masa yang akan datang10.
f. Seorang sebagai anak-anak, ia berada di bawah pengendalian setiap orang
(Subordinary to every one) 10.
g. Sebagai anak-anak, seseorang kurang kesadaran akan dirinya, tetapi sebagai orang
yang sudah matang ia tidak hanya sadar, tetapi mampu untuk mengendalikan dirinya10
.
C. Mental model dan pemimpin
Kegagalan dalam mewujudkan ide dan gagsan cemerlang dalam suatu
organisasi kerap tidak dapat terwujud . Hal tersebut seringkali disebabkan mental
model (pola pandang dan persepsi) para anggota organisasi terhadap suatu kejadian
sekelilingnya tidak sama atau berbeda satu sama lain dan hal ini akan mempengaruhi
tindakan terhadap pandangan realitas tersebut. Tindakannya akan produktif bila
mental modelnya sesuai (mendekati) realitas. Bila mental modelnya tidak sesuai
dengan realitas keputusan akan berlawanan dengan realitas1.
Dalam kaitan hal tersebut sangat penting bagi setiap pimpinan untuk memliki
kemampuan untuk mengatasi model-model mental yang tidak sesuai dengan tujuan
organisasi, dengan tujuan meningkatkan efektivitas keputusan dan menghindari
konflik dan mempercepat penyelesaian masalah.Mental model yang tidak sesuai
dengan realitas obyektif akan menimbulkan keputusan / tindakan keliru terhadap
realitas sehingga timbul konflik dan masalah tidak terselesaikan1.
Pemimpin dalam menyesuaikan dan menumbuhkembangkan kesamaan mental
model anggota organisasi yang sesuai dengan realitas kolektif harus mempunyai
kemampuan hal hal dibawah ini,yaitu:
1. Ladder of Inference, yaitu urutan berpikir dalam menganggapi suatu kejadian. Dalam
hal ini jangan terlalu cepat menyimpulkan (leap of abstraction), yaitu terlalu cepat
pindah dari pengamatan langsung (concrete data) kepada kesimpulan tanpa pengujian.
Harus mampu berpikir dengan tenang dan dengan tata urut yang jelas sehingga dapat
diperoleh suatu kesepakatan dan keputusan untuk bertindak dengan lebih obyektif1.
2. Left Hand Column¸ yaitu kemampuan mengungkapkan hal-hal yang sifatnya tertutup.
Dalam hal ini jangan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada dalam
10
pikiran. Masih ada pemimpin yang hanya bermanis bibir (lip service) untuk
mengatakan pemberdayaan, belajar dari kesalahan dan seterusnya tetapi tindak nyata
tidak sesuai dengan perkataan tersebut. Komitmen yang dibangun disini adalah
kejujuran, keterbukaan, kepercayaan, dan integritas. Warren Bennis (2002)
mengemukakan bahwa integritas adalah landasan kepercayaan, bukan sekedar bahan
kepemimpinan, namun lebih merupakan hasil kepemimpinan. Integritas adalah sebuah
kualitas yang tidak dapat diperoleh, namun harus dimiliki. Tanpa integritas pemimpin
tidak akan berfungsi. Dengan demikian keberadaan kepemimpinan yang berintegritas
adalah yang tanggap, bermoral, beretika, serta profesional dalam mengelola
permasalahan dan tuntutan publik. Komitmen terhadap kejujuran dan integritas ini
selanjutnya menjadi norma serta dilakukan secara fokus, serius, ikhlas yang diawali
diri sendiri. Anwar Suprijadi mempertegas hal ini bahwa yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin adalah kepercayaan (trust). Kepercayaan harus dibangun melalui
integritas dan kompetensi. Kepercayaan akan ada jika pemimpin itu mempunyai jati
diri sebagai individu yang patut dipercaya karena kejujurannya, komitmennya dan
kompetensinya. Dengan kepercayaan, pemimpin akan mendapat dukungan terutama
dari pihak-pihak yang berkaitan dengan perubahan. Dalam birokrasi, kepercayaan dan
dukungan yang diperlukan adalah dari atas maupun dari bawahan, juga perlu
diperhatikan dukungan publik1.

D. Mental Model Dan Organisasi


Mental model memungkinkan manusia bekerja dengan lebih cepat. Namun,
dalam organisasi yang terus berubah, mental model ini kadang-kadang tidak berfungsi
dengan baik dan menghambat adaptasi yang dibutuhkan. Dalam organisasi
pembelajar, mental model ini didiskusikan, dicermati, dan direvisi pada level
individual, kelompok, dan organisasi2.
Adapun dimensi model mental meliputi :
1. Prinsip dan nilai-nilai : seluruh anggota organisasi mengetahui dan memiliki prinsip-
prinsip dan nilai-nilai yang dimiliki bersama6.
2. Mengkaji ulang kebiasaan : mengkaji ulang nilai-nilai bersama yang ada untuk
diselaraskan dengan kondisi lingkungan6.
3. Memperkuat kebersamaan : anggota organisasi selalu berusaha untuk memelihara dan
memperkuat kebersamaan6.

11
Jika organisasi adalah untuk mengembangkan kapasitas untuk bekerja dengan
model mental maka akan diperlukan bagi orang untuk belajar keterampilan baru dan
mengembangkan orientasi baru, dan untuk mereka untuk menjadi perubahan institusional
yang mendorong perubahan tersebut. Mental model yang sudah berdiri kuat
menggagalkan perubahan yang dapat berasal dari sistem pemikiran3.

12
Kasus dan Pembahasan
Dari beberapa kepustakaan diatas, kami merangkum apa yang dimaksud dengan
mental model dan bagaimana prosesnya, yaitu :
1. Dari semua asumsi, generalisasi, bahkan gambaran yang tersimpan kuat dalam pikiran
dan perasaan sehingga mempengaruhi segala tindakan, perilaku dan pandangan
tentang kehidupan dan dunia pada umumnya, atau
2. Dari suatu proses menilai diri sendiri untuk memahami, asumsi, keyakinan, dan
prasangka atas rangsangan yang muncul, atau
3. Dari proses berpikir seseorang tentang bagaimana sesuatu bekerja di dunia nyata. Ini
adalah representasi dari dunia sekitarnya, hubungan antara berbagai bagian dan
persepsi intuitif seseorang tentang tindakannya sendiri dan konsekuensinya. Model
mental dapat membantu membentuk perilaku dan menetapkan pendekatan untuk
memecahkan masalah (mirip dengan personal algoritma) dan melakukan tugas-tugas,
atau
4. Sebuah model mental adalah semacam simbol internal atau representasi dari realitas
eksternal, diduga memainkan peran utama dalam kognisi, penalaran, dan pengambilan
keputusan, atau
5. Dari suatu aktivitas perenungan yang dilakukan dengan terus menerus
mengklarifikasikan dan memperbaiki gambaran-gambaran internal kita tentang dunia,
dan melihat bagaimana hal itu membentuk tindakan dan keputusan kita. Model mental
terkait dengan bagaimana seseorang berpikir dengan mendalam tentang mengapa dan
bagaimana dia melakukan tindakan atau aktivitas dalam berorganisasi. Model mental
merupakan suatu pembuatan peta atau model kerangka kerja dalam setiap individu
untuk melihat bagaimana melakukan pendekatan terhadap masalah yang dihadapinya.
Dengan kata lain, model mental bisa dikatakan sebagai konsep diri seseorang, yang
dengan konsep diri tersebut dia akan mengambil keputusan terbaiknya. Dalam
pembahasan terdahulu model mental ini kemudian menghasilan cara berfikir atau
mindset, atau
6. Dari suatu proses bercermin, sinambung memperjelas, dan meningkatkan gambaran
diri kita tentang dunia luar, melihat bagaimana mereka membentuk keputusan kita
dan tindakan kita. Menurut Senge dalam membentuk mental models di perlukan
terjadinya ‘metanoia’ yaitu pergeseran mindset atau perubahan cara berpikir, atau
7. Dari asumsi mendalam, generalisasi dan gambaran yang mempengaruhi bagaimana
memahami dunia sekitar serta bagaimana mengambil langkah berikutnya, atau
13
8. Dari gambar atau bayangan yang mempengaruhi bagaimana kita memandang dunia
dan bagaimana kita bertindak.
Membangun mental models orang-orang yang terlibat dan beragam di rumah
sakit adalah penting. Namun lebih penting lagi adalah bagaimana mengembangkan model
mental bersama untuk mencapai tujuan organisasi/rumah sakit. Tindakan yang harus
dilakukan membangun model mental secara efektif adalah dengan mengembangkan
keterbukaan terhadap kritik dari sesama anggota organisasi. Keterbukaan terhadap kritik
tidak hanya berlaku bagi pemimpin rumah sakit, tapi bagi seluruh anggota organisasi
rumah sakit.
Didalam sebuah rumah sakit yang mempunyai struktur organisasi berjenjang
yaitu Direktur Utama, Direktur Medik dan Keperawatan dan Kepala Bidang Keperawatan,
dapat terjadi masalah beberapa masalah yang berkaitan dengan mental model yang dapat
menghambat kesuksesan sebuah rumah sakit. Berikut ini beberapa contoh yang dapat
terjadi, antara lain :
1. Tipe penyakit Model Mental yang dapat kita temui pada level top manajemen, antara
lain:
a. Memiliki ketakutan untuk merubah sistem kerja yang ada, meskipun
mengetahui sistem yang ada sekarang sudah tidak mampu lagi membawa
kemajuan perusahaan. Ketakutan ini muncul karena kekhawatiran bahwa
perubahan sistem dapat membawa dampak yang lebih buruk dari situasi yang
ada saat ini.
b. Sifat tidak ingin dibantah oleh bawahan, dan merasa bahwa ide dan
gagasannya adalah yang terbaik karena sudah melalui proses pengalaman kerja
yang panjang. Hal ini menyebabkan tidak berkembangnya sistem
pembaharuan, dan kreativitas yang dimiliki oleh para staf atau manajer pada
perusahaan tersebut. (Expert Blindness)
c. Menganggap perubahan-perubahan eksternal (kebijakan pemerintah,
pergeseran pola permintaan konsumen, fluktuasi pola penyakit setiap tahun),
sebagai ancaman terhadap kestabilan kinerja perushaan. Tidak mampu
mengambil sikap untuk bagaimana menjadikan perubahan-perubahan eksternal
yang ada sebagai sebuah peluang dan kekuatan baru bagi perusahaan.
d. Pemilik rumah sakit berasumsi dengan membangun rumah sakit dengan
gedung yang besar dan bangunan yang mewah akan menarik pasien. Hal ini
tidak sesuai dengan realita bahwa rumah sakit tersebut dibangun dikalangan
14
masyarakat menengah yang tidak mampu membayar. Pemilik tidak menyadari
membangun rumah sakit tidak hanya membutuhkan bangunan tetapi juga
manajemen dan peralatan yang baik, sehingga pada akhirnya dana sudah habis
hanya untuk pembangunan gedung. Hal ini berakibat rumah sakit tidak bisa
membeli peralatan yang baik dan merekrut SDM yang berkualitas karena
terbentur gaji. Dampaknya, tidak ada dokter spesialis yang mau praktek
sebagai fulltime karena tidak lengkapnya sarana prasarana, banyak tenaga
kesehatan yang keluar karena gaji yang tidak sesuai, dan tidak adanya
manajemen yang solid. Dana banyak dihabiskan untuk biaya operasional
gedung yang tinggi (listrik, kebersihan). Mindset pihak pemilik agar segera
balik modal karena sudah menghabiskan banyak biaya membuat tarif rumah
sakit tinggi sehingga tidak bisa dijangkau oleh masyarakat sekitar.
e. RS sedang tertimpa masalah hukum dan media tentang penyalahgunaan obat
yang tidak sesuai prosedur sehingga mengakibatkan kunjungan pasien
menurun. Mental model pemimpin melihat realita bahwa kondisi ini akan
merugikan rumah sakit dan dia berasumsi akan dipecat oleh pemilik rumah
sakit. Pemimpin akan mencari solusi yaitu melakukan kerja sama dengan pihak
askes dengan perjanjian yang merugikan rumah sakit. Keputusan itu berhasil
menyelamatkan rumah sakit karena pasien tetap masih ada (yang berasal dari
askes). Namun ternyata, semakin lama kerugian semakin membesar dan
akhirnya pasien askes mulai ditolak dengan alasan penuh yang akan berakibat
kerepotan merujuk dan merugikan pasien.
2. Penyakit Model Mental lain yang dapat ditemukan pada level staf dan manajer madya
antara lain:
a. Hanya ingin mengetahui sistem kerja departemen yang ditempatinya, dan
enggan untuk melihat lebih luas sistem kerja rumah sakit secara keseluruhan.
Model mental seperti ini memiliki kecenderungan pengkotak-kotakan sistem,
sehingga dapat berujung pada sikap “I am my position”.
b. Memiliki ketakutan untuk menyuarakan ide dan pendapat apabila dinilai takut
bertentangan dengan keinginan direksi. Padahal ide atau pendapat yang dia
miliki sebetulnya dapat membuat kemajuan perusahaan.
c. Takut melakukan argumentasi dengan atasan karena kekhawatiran akan
diberhentikan atau tidak disukai atasan.

15
d. Pemimpin tidak memberikan ruang bagi manajer lini dan manajer madya untuk
mengembangkan ide dan pemikirannya, namun hanya memberikan instruksi
tanpa memberikan kesempatan untuk mengembangkan ide-ide sehingga para
manajer tergantung kepada pimpinan. Dengan demikian apabila terjadi
masalah di lapangan mereka tidak berani untuk mengambil keputusan karena
tidak mau atau takut bertanggung jawab. Hal ini akan berakibat pelayanan dan
keluhan pelanggan yang harusnya diatasi dengan cepat menjadi berlarut-larut
dan lambat, sehingga tentunya akan menimbulkan ketidakpuasan dari
pelanggan. Semua orang didalam organisasi akan cenderung untuk berpusat
pada pimpinan Rumah Sakit dan manajer tidak difungsikan dengan maksimal
sehingga tentunya akan lambat untuk belajar.
3. Contoh penyakit Model Mental yang sering ditemukan di lingkungan kerja RS kita,
antara lain :
a. Dokter spesialis dibayar sangat murah, dibatasi obat dan tindakan yang akan
dilakukan untuk pasien askes menyebabkan mereka tidak mau menjadi
fulltimer dan mencari pendapatan lain di luar RS sehingga RS tidak bisa
memberi pelayanan yang optimal.
b. Model mental dokter spesialis yang menulis resep tidak jelas karena berasumsi
bahwa dokter tidak masalah jika tulisannya jelek. Hal ini tentu saja
membahayakan pasien karena dapat menimbulkan kesalahan pembacaan resep
dan pemberian obat. Pihak farmasi yang sulit memahami tulisan para dokter,
justru kadang dimarahi karena menyebabkan bias terjadinya kesalahan
pemberian obat yang fatal bagi pasien.
c. Mental model seorang dokter spesialis yang mengambil tesis penyakit TB
membuat dia beranggapan sebagian besar orang TB dan mengobati TB tidak
sesuai prosedur. Dampaknya pasien dengan mual muntah, gagal ginjal, gagal
jantung, geriatri semua dipukul rata diberi OAT yang menambah keluhan
pasien.
d. Dokter jaga tidak visit pasien di ruangan dengan alasan mereka dikontrak
untuk jaga UGD dan tidak ada fee visit di ruangan. Pihak manajemen
mengganggap jaga ruangan adalah satu paket tugas dan tanggung jawab
mereka jaga. Mental model yang dilakukan dokter jaga karena asumsinya dia
hanya jaga ruangan dan dari penalarannya visit pasien ruangan dia tidak
dibayar jadi dia tidak visit.
16
e. Petugas rumah sakit yang menganggap pasien hanya sebagai orang sakit yang
butuh pertolongan atau beban dan mengaitkan pelayanan (jasa) dengan
pendapatan. Hal ini menyebabkan banyak sikap dari petugas yang kurang tepat
sehingga pelayanan yang diberikan memuaskan. Mereka terkadang
menunjukkan tidak sepenuh hati, kurang peduli akan kebutuhan pasien, dan
kurang ramah kepada pasien, dan lain-lain. Tidak adanya penyatuan visi dari
pemimpin rumah sakit untuk memajukan rumah sakit sehingga memberikan
pelayanan yang lebih baik kepada pasien. Pelayanan pasien yang meningkat
seharusnya disertai dengan tunjangan kesejahteraan yang juga meningkat.

Kesemua contoh penyakit Model Mental di atas dapat berdampak pada


buruknya kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, untuk itu adalah tugas tiap
pemimpin untuk menyadari penyakit Model Mental yang dimiliki oleh organisasinya
dan mencari solusi terbaik guna mencapai perubahan ke arah kemajuan.

17
Bab III
Penutup
Kesimpulan
Model mental secara tidak sadar mempengaruhi dan membentuk bagaiman kita
dalam bertindak dan memandang suatu kejadian yang ada disekeliling kita. Dua orang
yang berbeda mental model akan menggambarkan suatu kejadian yang sama secara
berbeda. Cara mental model membentuk persepsi sangat penting dalam manajemen.
Mental model yang sudah melekat akan menghambat terjadinya perubahan perubahan
dalam individu dan organisasi.

Saran
Bagi kita tenaga kesehatan sangat penting untuk mengetahui teori mental
Model karena berguna untuk memberikan gambaran tentang kejadian tertentu di
sekililing kita dan menjadi modal utama dalam membentuk persepsi dalam sebuah
manajemen kesehatan

18
Daftar Pustaka

1. Hamdani, I. “Kepemimpinan Stratejik dengan Pendekatan Organisasi Pembelajaran :


Strategi Menantisipasi Perubahan.”
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1405188199.pdf (diunduh 20 februari 2018)
2. “Organisasi Belajar.” http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_belajar (diunduh 20
februari 2018)
3. “Peter M. Senge: Organisasi Pembelajar.” http://perilakuorganisasi.com/peter-m-
senge-organisasi-pembelajar.html (diunduh 20 februari 2018)
4. http://www.mindtools.com/pages/article/newTMC_91.htm unduh 28/10/2012
(diunduh 28 Oktober 2012)
5. Suryohadiprojo, S. “Membangun Model Mental Yang Tepat.”
http://sayidiman.suryohadiprojo.com/?p=1086 (diunduh 20 februari 2018)
6. http://repository.upi.edu/operator/upload/s_adpend_0705248_chapter2.pdf (diunduh
20 februari 2018)
7. Zulyadaini. “Model Mental dan Pemimpin.”
http://zulyadai.wordpress.com/2012/06/19/model-mental-dan-pemimpin/ (diunduh 20
februari2018)http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=artic
le&id=1699:organisasi-pembelajar&catid=35:artikel-dosen&Itemid=210 (diunduh 20
februari 2018
8. Rahardijanto, T.H. “Teori Sistem.” kk.mercubuana.ac.id/files/42004-7-
145163489210.doc (diunduh 20 februari 2018)
9. Idrus, A. “Teori Motivasi.” http://formasiprima.blogspot.com/2008/02/teori-motivasi-
motivasi-berasal-dari.html (diunduh 20 februari 2018)

19