Anda di halaman 1dari 26

HALAMAN JUDUL

MAKALAH
KONSEP PERSONAL MASTERY
“Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kepemimpinan Dan Berpikir Sistem Kesehatan
Masyarakat ”

OLEH :
KELAS K3
KELOMPOK 5 (LIMA) :
AMELIA PUTRI J1A115250
ILHAM IBNU AHMADI J1A117056
KURNIA WULAN RAMADHANI J1A117066
RAHMAYANI J1A117113
SILVI TRISTYA PRATIWI J1A117131
NADILA RAMADHAN ARBAIN S. J1A117243
SRI AYU MULYANA J1A117272
WA ODE YASNI J1A117282

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji serta syukur, kami ucapkan kehadirat Allah SWT , karena atas Berkah
dan RahmatNya-lah kami mampu menyelesaikan penulisan makalah ini yang
membahas tentang “Konsep Personal Mastery“. Kemudian kami juga ingin
mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Kepemimpinan
dan Berpikir Sistem Kesehatan Masyaraka, Ibu Agnes Mersatika Hartoyo, M.kes
dan kepada pihak lain yang telah ikut membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini,


oleh karena itu Kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para
pembaca demi penyempurnaan makalah ini, semoga makalah ini dapat
dimengerti dan bermanfaat bagi para pembacanya, Aamiin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kendari, 13 Februari 2019

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3
C. Tujuan .......................................................................................................... 3
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 4
A. Definisi Personal Mastery ............................................................................ 4
B. Konsep Mengenali Diri ................................................................................ 7
BAB III : PENUTUP ............................................................................................ 22
A.Kesimpulan .................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan zaman identik dengan modernisasi dan pertumbuhan


yang pesat di segala bidang, hal ini memaksa setiap organisasi untuk terus
berkembang dan tumbuh mengikuti zaman. Sehingga setiap organisasi harus
melakukan perubahan dan berbagai perbaikan seperti memberikan pelayanan yang
terbaik bagi konsumen/klien, merekrut SDM terbaik, serta memperbaiki sistem
agar tetap dapat bertahan.
Kunci sukses sebuah perubahan terletak pada sumber daya manusia yaitu sebagai
inisiator dan agen perubahan terus menerus, pembentuk proses serta budaya yang
secara bersama meningkatkan kemampuan perubahan organisasi.
Keanekaragaman sumber daya manusia dalam organisasi cukup tinggi, sehingga
kemampuan sumber daya manusia tersebut sebagai “agent of change” juga
berbeda-beda. Namun demikian, usaha perubahan suatu organisasi akan tercapai
jika setiap karyawan memiliki kemauan untuk berubah, tidak hanya
mengandalkan kemampuan saja (Ulrich Dave, 1988).
Cara berfikir sistem merupakan suatu pemecahan masalah medrnisasi
saat ini. Cara berpikir sistem adalah salah satu pendekatan yang diperlukan agar
manusia dapat memandang persoalan-persoalan dunia ini dengan lebih
menyeluruh dan dengan demikian pengambilan keputusan dan pilihan aksi dapat
dibuat lebih terarah kepada sumber-sumber persoalan yang akan mengubah sistem
secara efektif. selain itu, “Personal Mastery” juga merupakan sebuah pondasi
untuk memindset diri menuju kesuksesan pribadi maupun didalam organisasi.
Organisasi biasanya percaya bahwa untuk mencapai keunggulan harus
mengusahakan kinerja individu yang setinggi-tingginya karena pada dasarnya
kinerja individu akan berpengaruh pada kinerja dari sebuah tim atau kelompok
dan akhirnya akan berpengaruh pada kinerja organisasi. sehingga organisasi lebih

1
2

mengharapkan perilaku individu yang baik sebagai cerminan dari kinerja yang
baik. Beberapa perilaku yang diharapkan dimiliki karyawan adalah OCB
(Organizational Citizenship behaviour) dan Personal Mastery.
OCB (Organizational Citizenship behaviour) merupakan perilaku
individu terhadap organisasi atau orang lain yang dilakukan secara sukarela.
Karyawan yang memiliki OCB akan dapat mengendalikan perilakunya sendiri
sehingga dapat memilih perilaku yang terbaik untuk kepentingan organisasinya.
Begitu juga dengan karyawan yang memiliki Personal Mastery. Seperti
pendapat Senge (1990) bahwa ada lima disiplin (pilar) yang membuat suatu
organisasi menjadi learning organization, yaitu: Personal Mastery yang
merupakan prinsip bagi seseorang untuk secara terus menerus memperdalam visi
pribadi, fokus pada kekuatan diri sendiri, mengembangkan kesabaran diri serta
melihat realita secara objective. Sehingga dengan adanya pengembangan dari
masing individu dapat meningkatkan kinerja organisasi. Pilar kedua adalah
Mental Model yang memegang konsep bercermin, dan peningkatan gambaran
tentang dunia luar, dan melihat bagaimana mereka membentuk keputusan dan
tindakan kita. Pilar ketiga Shared Vision adalah membangun rasa komitmen
dalam suatu kelompok dengan menggambarkan visi perusahaan menjadi visi
pribadi karyawan. Pilar keempat Team Learning adalah kelompok berbagi
wawasan atau pengalamaan, sehingga dapat mengembangkan otak dan
kemempuan berpikir. Pilar terakhir adalah System Thinking merupakan prinsip
tentang mengaamati seluruh sistem dan tidak hanya fokus pada individu.
Kelima point di atas serta adanya Organizational Citizenship Behaviour
(OCB) dapat membantu organisasi untuk mempercepat proses pembelajaran
organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan.
3

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Personal Mastery ?
2. Bagaimana Konsep Mengenaliu diri ?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui definisi dari Personal Mastery ?
2. Untuk Mengetahui Konsep Mengenaliu diri ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Personal Mastery

Secara etimologi, mastery berasal dari bahasa inggris dan latin yang
berarti penguasaan atau keahlian dominasi terhadap sesuatu. Sedangkan dari
bahasa Perancis, berasal dari kata Maitre yang berarti seseorang mempunyai
keahlian khusus, cakap, dan ahli dalam sesuatu.

1. Peter M. Senge
“Personal Mastery is the discipline of continually clarifying and
deepening our personal vision, of focusing our energies, of developing
patience, and of seeing reality objectively”
Personal Mastery adalah suatu disiplin yang selalu mengklarifikasi
secara terus menerus dan memperdalam visi pribadi kita, berfokus pada
energi kita, mengembangkan kesabaran, dan melihat realita secara objektif.
Personal mastery menciptakan sesuatu yang dinginkan seseorang
dalam kehidupan dan pekerjaannya. Personal Mastery menuntut komitmen
seseorang terhadap kontinuitas pengembangan suatu hal yang dikerjakan dan
dalam semua aspek kehidupan seseorang. Sehingga Personal Mastery
(Penguasaan Diri) merupakan suatu proses pembelajaran kehidupan
seseorang, bukan sesuatu yang sudah dimiliki

2. Michael J. Marquardt
“Personal Mastery is A special level of proficiency that is committed
to continually improve and perfect skills, a discipline of continually clarifying
and deepening one’s personal vision, energies, and patience”

4
5

Personal Mastery adalah sebuah tingkatan khusus dari kemampuan


yang berkomitmen untuk terus meningkatkan dan keterampilan yang
sempurna, sebuah disiplin yang terus mengklarifikasi dan memperdalam visi
pribadi seseorang, energi , dan kesabaran.
Suatu cara yang berkesinambungan untuk menjernihkan dan
memperdalam visi, energy dan kesabaran seseorang.

3. Fran Sayers Ph.D


Penguasaan diri adalah pengembangan diri seseorang yang prosesnya
terus berkesinambungan, selalu mencari jalan untuk terus berkembang, hal
baru untuk dipelajari, bertemu dengan orang baru, merupakan suatu jalan
kehidupan yang menekankan pada perkembangan dan kepuasan dalam
kehidupan personal dan professional.

4. Karen Childress
“Personal mastery is, well, personal. What you choose to do, the
agreements you keep with yourself, how you go about maintaining self-
confidence and self-esteem are things that you decide for yourself”.
Personal Mastery adalah Pribadi yang baik. apa yang anda pilih untuk
dikerjakan, Persetujuan/Kepercayaan yang kamu pelihara untuk diri sendiri,
bagaimana cara kamu memelihara kepercayaaan diri dan rasa kagum pada
diri sendiri merupakan suatu hal yang kamu putuskan untuk diri kamu
sendiri.

Dari pendapat beberapa ahli diatas “Personal Mastery” dapat dartikan,


yaitu pengendalian, penguasaan, dan pengembangan diri sendiri yang melalui
suatu proses pembelajaran kehidupan. Personal mastery mengajarkan untuk
mengembangkan kepribadian diri sendiri, belajar mencintai diri sendiri, dan dapat
mengetahui dan mengidentifikasi kebiasaan yang muncul, serta dapat mengontrol
kebiasaan tersebut.
6

Penguasaan diri (Personal Mastery) merupakan salah satu pilar dari Fifth
Discipline Peter Senge yang membentuk organisasi pembelajar. Organisasi
pembelajar (Learning Organization) adalah organisasi dimana orang terus-
menerus memperluas kapasitas mereka untuk menciptakan hasil yang benar-benar
mereka inginkan, dimana pola baru dan ekspansi pemikiran dikelola, kebebasan
aspirasi, dan pembelajaran yang dilakukan terus-menerus. Untuk itu Peter Senge
mengidentifikasi Learning Organization dalam 5 pilar sebagai berikut:
1. Berfikir Sistem (System Thinking)
System Thinking merupakan prinsip tentang mengamati seluruh sistem dan
tidak hanya fokus pada individu. Dimana akan terlihat bahwa semua kejadian
terhubung dalam pola yang sama dan saling mempengaruhi.
2. Penguasaan Diri (Personal Mastery)
Personal mastery merupakan prinsip bagi seseorang untuk terus menerus
memperdalam visi pribadi, fokus pada kekuatan diri sendiri, mengembangkan
kesabaran diri serta melihat realita secara objektif.
3. Model Mental (Mental Models)
Mental models adalah asumsi yang tertanam, tergeneralisasi, atau
bahkan gambar yang mempengaruhi cara memahami dunia dan mengambil
tindakan.
4. Penjabaran Visi (Building Shared Vision)
Building shared vision adalah proses membangun rasa komitmen
dalam suatu kelompok dengan menggambarkan visi perusahaan menjadi visi
pribadi karyawan.

5. Tim Belajar (Team Learning)


Team Learning adalah kelompok berbagi wawasan atau pengalaman,
sehingga dapat mengembangkan otak dan kemempuan berpikir.

Manfaat atau keuntungan bagi seseorang yang mempunyai tingkat


penguasaan diri tinggi adalah:
a. Kemampuan mengambil tanggung jawab
7

b. Kejelasan dan profesionalisme visi


c. Kohesive dan team work yang berlaku
d. Penurunan jumlah karyawan yang absen melalui peningkatan
kesejahteraan karyawan
e. Mampu mengendalikan stress dan bersikap positif
f. Menciptakan petumbuhan organisasi yang tetap dan berjangka panjang
g. Pemenuhan tanggung jawab sosial
h. Kepemimpinan kreatif yang kuat
i. Meningkatkan kecerdasan emosi

B. Konsep Mengenali Diri

Pada dasarnya setiap manusia cenderung untuk mengembangkan


dirinya sendiri menjadi lebih baik., lebih matang dan lebih mantap. Namun
kecendrungan seseorang untuk menimbulkan kemampuannya tidak terwujud
begitu saja, tanpa ada upaya untuk pengembangan kepribadian yang
dimilikinya, karena setiap manusia memiliki kemampuan dan keunikan
tersendiri. Sejauh mana kepribadian terwujud sangat ditentukan oleh seberapa
jauh lingkungan mendorong untuk perkembangan terhadap konsep diri
seseorang dan seberapa jauh seseorang tersebut merasa dirimya perlu belajar
agar lebih baik lagi.

Untuk itu penting diketahui apakah perkembangan pribadi seseorang


sudah mencapai tingkat optimal atau kematangan. Hal ini dapat diketahui
dengan cara mengenal dirinya. Mengenal diri sendiri berarti memperoleh
pengetahuan tentang totalitas diri yang tepat, yaitu menyadari kelebihan atau
keunggulan yang dimiliki maupun kekurangan atau kelemahan yang ada pada
diri sendiri. Dengan mengenal diri sendiri secara tepat akan diketahui konsep
diri yang tepat pula, dengan berupaya mengembangkan yang positif dan
mengatasi atau menghilangkan yang negatif.
8

Menurut John Robert Powers (1997), konsep diri adalah kesadaran dan
pemahaman terhadap dirinya sendiri yang meliputi : siapa aku, apa
kemampuanku, apa kekuranganku, apa kelebihanku, apa perananku, dan apa
keinginanku, konsep diri menjadi dasar prilaku hidup sehari-hari yang
disadari, kesadaran dan pemahaman akan dirinya semakin mencerminkan
prinsip hidup dan kehidupannya.

Adanya pemahaman terhadap konsep diri, diharapkan tumbuhnya


kesadaran seseorang untuk memahami dan mengenali dirinya serta mampu
mengembangkan kemampuannya, serta terbentuknya sikap dan prilaku
percaya diri serta prinsip hidup menuju kehidupan yang sejahtera.Sikap dan
prilaku percaya diri adalah kemampuan mengekspresikan diri
ataumengemukakan hak-hak pribadi serta mempertahankannya tanpa
melanggar hak orang lain.

Setiap orang perlu mengetahui dan memahami dirinya serta mampu


menumbuhan dan mengembangkan kemampuannya. Setelah seseorang
mengetahui dirinya, maka terbentuklah sikap dan prilaku dalam menentukan
arah dan prinsip hidup yang diinginkan. Seseorang yang mempunyai konsep
diri, dapat menilai dirinya dalam menjalankan peranan hidup berkeluarga atau
dalam masyarakat tanpa merasa lebih atau kurang terhadap kemampuan dan
bersikap kepada orang lain. Perilaku seseorang dalam kehidupan
bermasyarakat merupakan faktor yang menentukan, dengan demikian konsep
diri seseorang bukan suatu yang langsung melainkan dipeoleh dan dibentuk
melalui pendidikan, pengalaman serta pengaruh lingkungan.

1. Aspek Personal Mastery


Seseorang yang telah menguasai Personal Mastery memiliki
komitmen yang tinggi terhadap suatu hal, sering mengambil insiatif, terus
menerus mengembangkan kemampuan untuk menciptakan hasil terbaik
dalam kehidupan yang diinginkan. Metavarsity Course menyebutkan bahwa
Personal Mastery memiliki empat aspek, yaitu:
9

a. Aspek Emosional
Personal Mastery berkaitan erat dengan aspek emosional yang
terdapat dalam diri seseorang. Hubungan tersebut bisa memunculkan
sifat atau perilaku seseorang seperti berikut ini:
1) Memahami emosi diri sendiri dan akibat emosi
2) Memahami orang lain dan emosi yang dialami
3) Berdaya secara emosional dan nyata
4) Menjadi terbuka dengan suatu hubungan

b. spek Spirital
Faktor spiritual menjadi aspek yang tidak terpisahkan dengan
Personal Mastery. Hal ini disebabkan spiritual bisa menjadi dasar
yang cukup kuat keyakinan seseorang dalam melakukan sesuatu.
Aspek spirital terdiri atas:
1) Berkaitan dengan inner self.
2) Mengapresiasi kehidupan, menyayangi orang lain.
3) Bersatu dalam perbedaan dengan orang lain.
4) Menciptakan dunia yang lebih baik untuk tempat hidup

c. Aspek Fisik
Kondisi fisik seseorang juga berpengaruh cukup kuat dalam
implementasi personal mastery. Tanpa kondisi fisik yang prima,
personal mastery seseorang bisa terpengaruh atau bahkan tereduksi.
Berikut ini beberapa contoh aspek fisik, yakni:
1) Berada secara fisik dan dalam lingkungan
2) Memahami hubungan antara ‘mind-body’
3) Bertanggung jawab dan membuat keputusan positif
4) Me-manage stress dan mencapai keseimbangan
10

d. Aspek Mental
Faktor mental memiliki pengaruh yang sama pentingnya dengan
aspek fisik. Seorang individu pada dasarnya merupakan perpaduan dari
mental dan fisik yang berkoordinasi menjadi satu kesatuan yang utuh.
Aspek mental tersebut terdiri atas:
1) Memahami cara kerja pikiran dan cara menciptakan realitas
2) Meningkatkan fokus mental dan konsentrasi
3) Menciptakan pikiran yang jernih dan inovatif
4) Menciptakan realitas yang diinginkan.

2. Karakteristik Personal Mastery


Menurut Marty Jacobs, Cara mengetahui seseorang yang memiliki
“Personal Mastery” yang tinggi yaitu memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. They have a special sense of purpose – a calling.
Mereka yang memiliki sense (Perasaan/pengertian) khusus mengenai
tujuan hidup.
b. They accurately assess their current reality; in particular, they quickly
recognize inaccurate assumptions.
Mereka yang teliti menilai realitas sekarang ini dan cepat tanggap
mengenali asumsi yang tidak akurat.
c. They are skilled at using creative tension to inspire their forward progress.
Mereka yang Terampil dalam mengelola tegangan kreatif untuk
memotivasi diri dalam mencapai kemajuan kedepannya.
d. They see change as opportunity.
Mereka yang mampu melihat perubahan sebagai suatu peluang
e. They are deeply inquisitive.
Mereka yang memiliki rasa ingin tahu yang besar.
f. They place a high priority on personal connections without giving up their
individuality.
11

Mereka yang menempatkan prioritas yang tinggi terhadap


hubungan personal tanpa menunjukkan rasa egois atau individualismenya.
g. They are systemic thinkers, that is, they see themselves as one part in a
larger system.
Mereka adalah Pemikir sistemik, dimana seseorang melihat dirinya
sebagai salah satu bagian dari sistem yang lebih besar

Orang-orang yang memiliki tingkat “Personal Mastery” yang tinggi


secara kontinu mengembangkan potensi mereka untuk menciptakan masa
depan mereka. Mereka menciptakan potensi itu, untuk dapat membangun suatu
organisasi yang pantas.

3. Ciri – ciri konsep diri yang positif dan negatif

Menurut William D. Brooks (dalam Rahkmat, 2005:105) bahwa


dalam menilai dirinya seseorang ada yang menilai positif dan ada yang
menilai negatif. Maksudnya individu tersebut ada yang mempunyai konsep
diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif.

Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah:

a. Ia yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah. Orang ini


mempunyai rasa percaya diri sehingga merasa mampu dan yakin untuk
mengatasi masalah yang dihadapi, tidak lari dari masalah, dan percaya
bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
b. Ia merasa setara dengan orang lain. Ia selalu merendah diri, tidak
sombong, mencela atau meremehkan siapapun, selalu menghargai orang
lain.
c. Ia menerima pujian tanpa rasa malu. Ia menerima pujian tanpa rasa malu
tanpa menghilangkan rasa merendah diri, jadi meskipun ia menerima
pujian ia tidak membanggakan dirinya apalagi meremehkan orang lain.
12

d. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan


keinginan serta perilaku yang tidak seharusnya disetujui oleh masyarakat.
Ia peka terhadap perasaan orang lain sehingga akan menghargai perasaan
orang lain meskipun kadang tidak di setujui oleh masyarakat.
e. Ia mampu memperbaiki karena ia sanggup mengungkapkan aspek-
aspek kepribadian tidak disenangi dan berusaha mengubahnya. Ia
mampu untuk mengintrospeksi dirinya sendiri sebelum
menginstrospeksi orang lain, dan mampu untuk mengubahnya menjadi
lebih baik agar diterima di lingkungannya. Dasar konsep diri positif
adalah penerimaan diri. Kualitas ini lebih mengarah kekerendahan hati
dan kekedermawanan dari pada keangkuhan dan keegoisan. Orang yang
mengenal dirinya dengan baik merupakan orang yang mempunyai
konsep diri yang positif.

Menurut Hamachek (dalam Rahmat, 2000) menyebutkan 11


karakteristik orang yang mempunyai konsep diri positif:

a. Meyakini betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia


mempertahankannya,walaupun menghadapi pendapat kelompok yang
kuat. Tapi ia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk merubah prinsip-
prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.
b. Mampu bertindak berdasarkan penelitian yang baik tanpa merasa
bersalah yang berlebih-lebihan atau menyesali tindakannya jika orang
lain tidak menyetujui tindakannya.
c. Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa
yang terjadi besok, apayang telah terjadi waktu yang lalu dan apa yang
sedang terjadi waktu sekarang.
d. Memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan,
bahkan ketika ia akanmenghadapi kegagalan atau kemunduran.
e. Merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau
rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar
belakang keluarga atau sikap orang lain terhadapnya.
13

f. Sanggup menerima dirinya sebagai orang penting dan benilai bagi orang
lain, paling tidak bagiorang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya.
g. Dapat menerima pujian tanpa berpuar-pura rendah hati dan menerima
penghargaan tanpa merasa bersalah.
h. Cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.
i. Sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasa berbagai
dorongan dan keinginan,dari persaan marah sampai cinta, dari sedih
sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai kepuaasan
yang mendalam pula.
j. Mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang me
liputi pekrjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan
atau sekedar mengisi waktu.
k. Peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah
diterima dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa
bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.

Sedangkan tanda-tanda individu yang memmiliki konsep diri negatif


menurut William D.Brooks (dalam Rahkmat, 2005 : 105 ) adalah:

a. Ia peka terhadap kritik


Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya dan mudah
marah atau naik pitam, hal ini berarti dilihat dari faktor yang
mempengaruhi dar individu tersebut belum dapat mengendalikan
emosinya, sehingga kritikan dianggap sebagai hal yang salah. Bagi
orang seperti ini koreksi sering dipersepsi sebagai usaha untuk
menjatuhkan harga dirinya. Dalam berkomunikasi orang yang memiliki
konsep diri negatif cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan
bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagai logika yang
keliru.
b. Ia responsif sekali terhadap pujian
Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak
dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian.
14

Buat orang seperti ini, segala macam embel-embel yang menjunjung


harga dirinya menjadi pusat perhatian. Bersamaan dengan
kesenangannya terhadap pujian, merekapun hiperkritis terhadap orang
lain.
c. Ia cenderung bersikap hiperkritis
Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan
siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan
penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
d. Ia cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain
Ia merasa tidak diperhatikan, karena itulah ia bereaksi pada orang
lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan
keakraban persahabatan, berarti individu tersebut merasa rendah diri
atau bahkan berperilaku yang tidak disenangi, misalkan membenci,
mencela atau bahkan yang melibatkan fisik yaitu mengajak berkelahi
(bermusuhan).
e. Ia bersikap psimis terhadap kompetisi
Hal ini terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan
orang lain dalam membuat prestasi. Ia akan menganggap tidak akan
berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

4. Proses Pembentukan Konsep Diri

Konsep diri tidak dibawa sejak lahir tetapi secara bertahap sedikit demi
sedikit timbulsejalan dengan berkembangnya kemampuan persepsi
individu. Konsep diri manusia terbentuk melalui proses belajar sejak masa
pertumbuhan seorang dari kecil hingga deswasa. Bayi yang baru lahir tidak
memiliki konsep diri karena tidak dapat membedakan antara dirinya
dengan lingkungannya.
Rahmat (2000), menjelaskan bahwa konsep diri bukan hanya sekedar
gambaran deskriptif, tapi juga penilaian diri anda tentang diri anda. Jadi,
konsep diri meliputi apa yang anda pikirkan dan apa yang anda rasakan
15

tentang diri anda. Adanya proses perkembangan konsep diri menunjukkan


bahwa konsep diri seseorang tidak lansung dan menetap, tetapi merupakan
suatu keadaan yang mempunyai proses pembentukan dan masih dapat
berubah.
Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan
seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan
pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
konsep diri yang terbentuk.
Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan
informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh karna itu, sering kali
anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan
negative atau pun lingkunganya yang kurang mendukung, cenderung
mempunyai konsep diri yang negative.
Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul,
mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap
tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah dsb. Hal ini dianggap
sebagai hukuman akibat kekurangan , kesalahan atau punkebodohan
dirinya.
Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan
dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif,
maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah
konsep diri yang positif.
Konsep ini mempunyai sifat yang dinamis, artinya tidak luput dari
perubahan. Ada aspek-aspek yang bisa bertahan dalam jangka waktu
tertentu, namun ada pula yang mudah sekali berubah sesuai dengan situasi
sesaat. Misalnya, seorang merasa dirinya pandai dan selalu berhasil
mendapatkan nilai baik, namun suatu ketika dia mendapat angka merah.
Biasanya saja jadi merasa “bodoh”, namun karena dasar keyakinan yang
positif, ia berusaha memperbaiki nilai.

5. Faktor – faktor yang mempengaruhi konsep diri


16

Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang


mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri
dari teori perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau
yang terdekat) dan Self Perception (persepsi diri sendiri).
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara
bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan
orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang
terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi
lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama
panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan
pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta
aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.

a. Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat)


Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman
dengan orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu
dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang
lain terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja
dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang
dekat atau orang pentingsepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan
sosialisasi.
b. Self Perception (persepsi diri sendiri)
Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya,
serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu.
Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang
positif. Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar
dari prilaku individu. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfu
ngsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari
kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual dan penguasaan
17

lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat


darihubungan individu dan sosial yang terganggu.

6. Cara mengubah konsep diri


a. Cara membina/ mengubah konsep diri:
1) Menemukan hal-hal positif dan negatif pada dirinya.
2) Terbuka menerima pandangan orang lain mengenai dirinya.
3) Menggunakan kesempatan agar bisa mengemukakan perasaan ,
pikiran dan rencana.
4) Menghargai usaha/hasil karya sendiri.
5) Menggunakan seluruh kekuatan/kemampuan untuk meningkatkan
keberhasilan dalam menghadapi lingkungan.
6) Menciptakan lingkungan/suasana yang aman, menyenangakan dn
menimbulkankepercayaan penuh untuk menanggulangi persoalan.

b. Salah satu cara membuka diri (T. Jendral Johari)


1) Bagian yang terbuka dari diri kita (positif/negatif) berdasarkan pen
dangan sendiri maupun orang lain.
2) Bagian yang tersembunyi dari diri kita (positif/negatif) yang
disembunyikan, sehingga orang lain tidak dapat melihatnya
(misalnya sikap curiga, penakut)
3) Bagian terlena dari diri kita (positif/negatif) yang tidak disadari ,
tetapi orang lain dapat melihatnya. Misanya terlalu
membanggakan diri, kurang memperhatikan perasaan oranglain.
4) Bagian yang tidak dikenal oleh diri sendiri/orang lain, yaitu hal-
hal yang tidak disadari lagi tetapi mempengaruhi tindakannya
dalam hubungannya dengan orang lain.

Cara mengembangkan Personal Mastery :

Untuk mengembangkan “Personal Mastery” dibutuhkan proses


seumur hidup, dan tidak pernah ada kata terlambat untuk memulainya.
18

Banyak hal yang terjadi tentang bagaimana cara kita berfikir dan
bagaimana cara kita memandang dunia dimana tempat kita hidup dan
bekerja. Untuk dapat meningkatkan “Personal Mastery” disini ada
beberapa hal yang dapat kita coba :

a. Berfikir Secara Sistematik


Ketika kamu meghadapi suatu hasil yang tidak diinginkan
atau hal yang tidak terduga, sebaiknya memikirkan suatu
proses/penyelesaian dari masalah tersebut ketimbang mencari
seseorang untuk disalahkan.
b. Menaksir Kenyataan Sekarang
Dalam menaksirkan Kenyataan sekarang ini, dibutuhkan
kesadaran akan asumsi-asumsi yang ada disekitar.
c. Jaga keseimbangan pembelaan dengan pemeriksaan
Didalam suatu diskusi, kebanyakan orang mempertahankan
pendapat yang menurutnya benar. hal ini, bukan berarti bahwa kita
tidak bisa mendengarkan pendapat dari orang lain. Dengan
menyembangkan antara melindungi pendapat pribadi dan
melakukan pemeriksaan pada pendapat orang lain kita dapat
memahami tentang sudut pandang orang lain sama halnya dengan
cara kita menjelaskan sudut pandang kita sendiri.

d. Membuat makna bersama


Seseorang yang memiliki “Peronal Mastery” yang baik
mengetahui bahwa sesuatu yang dimilikinya tidaklah sempurna
oleh karena itu, dengan banyak berkomunikasi dan bertanya
kepada orang lain tentang sudut pandang orang tersebut kita dapat
mengetahui kekurangan pada diri kita dan mencari kesamaan dari
sudut pandang orang tersebut.

7. Persiapan Menuju Personal Mastery


19

Personal Mastery-Putting “me” in leadership mengemukakan bahwa


terdapat 7 hal seseorang dapat memiliki Personal Mastery, yaitu :
a. Personal Vision/Visi pribadi
Banyak pemimpin memiliki tujuan tetapi sangat sedikit yang
memiliki personal vision. sebuah kemampuan yang menggambarkan
secara jelas pemimpin terbaik yang dapat dan bekerja secara fokus dengan
tekad dan ketekunan. Visi pribadi memberikan energi dan dorongan untuk
berubah.
"Visi pribadi adalah sebuah kunci untuk membuka kekuatan dari
sebuah tujuan. Sebuah visi pribadi sangat kuat sejauh yang
mengungkapkan tujuan yang mendasari seseorang. Personal vision
merupakan suatu kendaraan yang mengantarkan tujuan ke sebuah tindakan
dan komitmen.
b. Personal Purpose/Tujuan Pribadi
Definisi singkat mengenai personal purpose, sejauh mana
seseorang dapat mengubah kehidupan yang mereka inginkan.
c. Personal Values/Nilai Pribadi
Hal yang paling penting bagi kita adalah pembentukan dasar dari
visi pribadi. Leader yang berlatih Personal Mastery dipandu dan di dorong
untuk keluar dari nilai-nilai dikehidupan mereka.

d. Personal Allignment/Pribadi yang selaras


Sejauh mana visi pribadi kita, tujuan, nilai-nilai dan perilaku
adalah kongruen dengan satu sama lain. Ketika hal-hal ini cocok erat,
jumlah besar kekuatan positif dan energi dapat dilepaskan. dan kami
menemukan kapasitas kreatif untuk kembali bentuk dan merubah diri kita
sendiri. Pemimpin yang out-of-touch atau out-of-synch dengan hal-hal ini,
sering mengejar program tindakan yang menciptakan inner-konflik;
membatasi kekuasaan mereka atau potensial dan memimpin mereka
untuk mengadopsi perilaku yang merugikan.
h. Personal Perception/Persepsi Pribadi
20

Persepsi Pribadi yaitu menyadari cara tertentu Anda yang


cenderung melihat hal-hal yang frame menjadi acuan yang Anda gunakan
untuk melihat orang lain, peristiwa dan situasi. Ini juga tentang 'identitas
diri' dan 'konsep diri', yang merupakan sumber dari 'harga diri' anda dan
sejauh mana Anda belajar untuk memahami diri sendiri secara akurat.
i. Personal Awareness/Kesadaran Pribadi
Seberapa banyak Anda tahu (atau bersedia untuk mengetahui)
tentang diri Anda. Tujuan anda, keinginan Anda, mengendalikan diri anda,
kebutuhan anda , keinginan dan preferensi. hal Ini bisa melangkah
mundur dan anda dapat mengamati apa yang benar-benar anda sukai:
pola berpikir Anda, perasaan dan berperilaku; melihat bagaimana pola-
pola berdampak pada orang lain dan mempengaruhi kualitas interaksi
Anda; memperkuat mereka yang mendapatkan hasil yang baik dan
mengubah mereka yang tidak.
j. Personal Transformation/Transformasi Pribadi
Transformasi pribadi adalah kapasitas kreatif kita untuk bentuk
kembali, memulai kembali atau kembali menciptakan diri kita untuk
menjadi lebih selaras dengan Visi pribadi, nilai-nilai dan tujuan.
Kemampuan untuk menjembatani kesenjangan tersebut tidak dapat
dihindari antara visi pribadi dan kenyataan saat ini adalah tombol aksi-
unsur Personal Mastery
BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan

1. Secara etimologi, mastery berasal dari bahasa inggris dan latin yang
berarti penguasaan atau keahlian dominasi terhadap sesuatu. Sedangkan
dari bahasa Perancis, berasal dari kata Maitre yang berarti seseorang
mempunyai keahlian khusus, cakap, dan ahli dalam sesuatu
2. konsep diri adalah kesadaran dan pemahaman terhadap dirinya sendiri
yang meliputi : siapa aku, apa kemampuanku, apa kekuranganku, apa
kelebihanku, apa perananku, dan apa keinginanku, konsep diri menjadi
dasar prilaku hidup sehari-hari yang disadari, kesadaran dan pemahaman
akan dirinya semakin mencerminkan prinsip hidup dan kehidupannya.

22
DAFTAR PUSTAKA

Infed. 2006. peter senge and the theory and practice of the learning organization.
http://www.infed.org/thinkers/senge.htm. accessed Maret, 16/2019.
Warnaya, Budi. Materi konsep.
https://www.academia.edu/16466297/Materi_Konsep. Accessed 16/03/2019

Referensi John Robert Powers, 1997, pelatihan program pengembangan pribadi,


departemen kesehatan RI, Jakarta.

http://astriniworld.blogspot.com/2017/07/personal-mastery.html
http://www.psikologikita.com/?q=psikologi/konsep-diri

23