Anda di halaman 1dari 19

MANAJEMEN USAHA TERNAK PERAH

“Perbandingan Performa Produktif dan Reproduktif antara Sapi Perah FH dengan


Kambing Peranakan Etawa (PE)”

DISUSUN OLEH :

1. Huge Fajri Al – Fath (1507105083)


2. Jovita Orlin Sena (1507105119)

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2018

Fakultas Peternakan Udayana│i


KATA PENGANTAR

Makalah/paper ini yang bertujuan sebagai nilai pengganti Ujian Tengah Semester (UTS)
semester VI matakuliah Manajemen Usaha Ternak Perah.
Adapun makalah/paper yang berjudul “Perbandingan Performa Produktif dan
Reproduktif antara Sapi Perah FH dengan Kambing Peranakan Etawa (PE)” menjelaskan tentang
bagaimana Performa produktif dan reproduktif dari ternak perah Sapi FH dengan Kambing PE.

Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah/paper ini, untuk
itu kami meminta saran dan kritik yang bersifat membangun dari ibu untuk memaksimalkan
penyusunan makalah/paper selanjutnya. Terima kasih.

Denpasar, 30 Maret 2018

Fakultas Peternakan Udayana│ii


DAFTAR ISI

MANAJEMEN USAHA TERNAK PERAH .................................................................................. i

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1

1.1. Latar Belakang ............................................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah .......................................................................................................... 1

1.3. Tujuan ............................................................................................................................. 1

1.4. Manfaat ........................................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................... 3

2.1. Sapi Fries Holland (FH) ..................................................................................................... 3

2.2. Kambing Peranakan Etawa (PE)...................................................................................... 4

BAB III PEMBAHASAN .............................................................................................................. 5

3.1. Performa Produktif Sapi Perah FH ................................................................................ 5

3.2. Performa Reproduktif Sapi Perah FH ............................................................................ 6

3.3. Performa Produktif Kambing Peranakan Etawa (PE) .................................................. 7

3.4. Performa Reproduktif Kambing Peranakan Etawa (PE) ............................................. 9

3.5. Perbandingan Produktivitas dan Reproduksi Antara Sapi FH dengan Kambing PE


................................................................................................................................................... 10

BAB IV DISKUSI ....................................................................................................................... 12

BAB V KESIMPULAN ............................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 14

Fakultas Peternakan Udayana│iii


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Salah satu bangsa sapi perah yang terkenal yaitu Sapi Fries Holland (FH) yang berasal
dari Eropa, tepatnya dari Belanda provinsi Holland Utara dan Friesian Barat. Sapi FH memiliki
ciri fisik yang berbeda dengan sapi yang lainnya, yaitu memiliki bulu yang berwarna hitam
dengan bercak putih, bulu ekor yang berwarna putih dan memiliki ambing yang lebih kuat dan
besar dibanding sapi yang lainnya. Sapi FH merupakan jenis sapi perah yang produksi susunya
sangat banyak/tinggi namun memiliki kadar lemak yang rendah dibanding bangsa sapi perah
lainnya. Di negara asalnya, sapi FH dapat memproduksi air susu mencapai 6000-8000
kg/ekor/laktasi dan di Inggris sekitar 35% dari total populasi sapi perah dapat mencapai 8069
kg/ekor/laktasi (Arbel dkk., 2001). Sedangkan produksi rata-rata di Indonesia hanya mencapai
10,7 liter/ekor/hari (3264 liter/hari) (Chalid, 2006).

Sedangkan kambing perah yang banyak dikembangkan di Indonesia yaitu Kambing


Peranakan Etawa atau biasa disebut Kambing PE, meskipun sebenarnya masih lebih dominan
menghasilkan daging daripada air susu. Kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan kambing
perah hasil dari persilangan antara Kambing lokal (kambing kacang) dengan kambing keturunan
Etawa yang dibawa oleh penjajah. Kualitas susu yang dihasilkan oleh kambing PE ini sangat
baik. Bahkan, dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Kambing PE ini mampu
menghasilkan susu hingga 235 kg/ms laktasi.

1.2. Rumusan Masalah


a. Bagaimana siklus produksi dan reproduksi Sapi FH ?
b. Bagaimana siklus produksi dan reproduksi Kambing PE?
c. Bagaimana perbandingan produktivitas dan reproduksi antara Sapi FH dengan
Kambing PE?

1.3. Tujuan
a. Mengetahui siklus produksi dan reproduksi Sapi FH
b. Mengetahui siklus produksi dan reproduksi Kambing PE

Fakultas Peternakan Udayana│1


c. Mengetahui perbandingan produktivitas dan reproduksi Sapi FH dengan Kambing PE

1.4. Manfaat
Dari tujuan tersebut, dapat mengetahui perbandingan produktivitas dan reproduksi
antara Sapi FH dengan Kambing PE.

Fakultas Peternakan Udayana│2


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sapi Fries Holland (FH)


Sapi perah FH merupakan jenis sapi perah yang paling banyak diternakkan di Indonesia.
Sapi perah jenis FH yang diternakkan di Indonesia biasanya diimpor dari negara tetangga,
Australia. Performa produksi dari sapi perah dilihat dari seberapa banyak produksi susu, lama
laktasi, puncak laktasi, serta lama kering. Sapi FH merupakan jenis sapi perah yang kadar
produktivitas susunya paling tinggi dengan kadar lemak yang rendah dibanding dengan jenis sapi
perah yang lainnya. Menurut Arbel dkk, 2001, produksi susu sapi FH di negara asalnya mencapai
6000-8000 kg/ekor/laktasi, di Inggris mencapai 8069 kg/ekor/laktasi. Namun menurut Chalid,
(2006) produksi susu sapi FH yang ada di Indonesia sangat rendah dibawah rata-rata, yaitu
sekitar 10,7 liter/ekor/hari atau 3.264 liter/laktasi..

Dalam hal ini, factor lingkungan lah yang memegang peranan penting dalam proses
fisiologis tubuh ternak sehingga menurut Sudono,(1990) akan mempengaruhi pula kapasitas
produksi susu. Menurut penelitian Williamson dan Payne, (1993), pada daerah tropis produksi
susu bergantung pada 3 aspek, yaitu 1) Teknik pemeliharaan, 2) Kualitas pakan, 3) ketinggian
tempat sapi dipelihara atau iklim.

2.1.1. Teknik Pemeliharaan

Teknik pemeliharaan pada sapi FH penting dilakukan karena kapasitas produksinya akan
mengalami peningkatan dari laktasi pertama ke laktasi selanjutnya hingga umur 6-8 tahun.
Kemudian produksinya akan menurun secara berkala hingga berumur tua. Puncak produksi susu
pada sapi FH biasanya pada laktasi keempat atau kira-kira pada umur 6-7 tahun menurut Larkin
dan Barret, 1994.

2.1.2. Kualitas Pakan

Menurut Diwyanto dkk, 2007, kualitas pakan yang diberikan sangat berpengaruh terhadap
produksi susu yang dihasilkan. Sehingga kualitas serta kuantitas pakan yang diberikan harus
sesuai dengan kebutuhan untuk hidup pokok, produksi susu, pertumbuhan, dan kebuntingan.

Fakultas Peternakan Udayana│3


2.1.3. Iklim

Dalam hal ini, iklim akan berpengaruh terhadap nafsu makan dari Sapi FH. Menurut
Sutardi, 1981, jika suhu atau iklim di sekitar lingkungan tinggi akan mengakibatkan penurunan
nafsu makan sapi dan akan mengurangi konsumsi pakan. Selanjutnya, akan menghambat
produksi susu sapi tersebut.

Namun menurut Sudono, 1985, faktor iklim ini masih bisa diatasi dan tak terlalu banyak
berpengaruh apabila sapi perah diberi pakan yang berkualitas tinggi.

2.2. Kambing Peranakan Etawa (PE)


Menurut Ressang, 1959 kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing hasil
persilangan antara kambing Etawah (Jamnapari) dengan kambing Kacang . Kambing PE ini
adalah ternak yang dapat menjadi penghasil susu dan juga daging.

Pakan kambing PE sebagian besar hanya rumput saja, sehingga kebutuhan fisiologisnya
masih kurang tercukupi terutama dari sumber energi dan protein. Maka, perlu adanya pasokan
nutrient yang cukup tinggi bagi kambing PE dalam memenuhi keburtuhannya untuk sintesis air
susu. Namun kualitas hijauan yang ada di daerah tropis terbilang rendah sehingga jumlah hijauan
yang dikonsumsi tidak mampu memenuhi kebutuhan energi diluar kebutuhan pokok ternak.

Penambahan suplementasi konsentrat pada kambing PE yang mengandung campuran


bahan-bahan sumber energi, protein serta mineral merupakan salah satu solusi untuk
meningkatan produk fermentasi rumen yang akan menyediakan nutrient yang cukup untuk
pembentukan air susu.

Fakultas Peternakan Udayana│4


BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Performa Produktif Sapi Perah FH


Performa produktif pada sapi FH tergantung pada faktor genetik dan faktor lingkungan
yang mencakup aspek reproduksi, pakan dan tatalaksana yang baik. Kedua faktor tersebut saling
berhubungan satu sama lain, oleh sebab itu perlu dilakukan usaha manajemen pemeliharaan yang
baik.

Sifat Produksi Susu

1. Produksi susu: diperoleh dari pencatatan produksi susu pemerahan pagi


dan sore hari sebagai produksi susu harian (dalam kg), dan dicatat pula
produksi susu dalam satu laktasi (dalam 305 hari).
2. Lama laktasi: dihitung dari mulai sapi berproduksi susu sampai dengan
sapi dikeringkan, dalam satuan hari.
3. Lama kering: dihitung mulai sapi dikering kandangkan sampai dengan
sapi beranak, dalam satuan hari.

3.1.1. Produksi Susu Harian

Menurut Makin (1990), kisaran rataan produksi susu sapi perah FH sebesar 7-15
kg/ekor/hari yang dipelihara di daerah tropis termasuk di Indonesia. Menurut Warwick dan
Legates, (1979) terjadinya kisaran produksi susu rata-rata baik di berbagai daerah di Indonesia
ataupun di berbagai negara- negara tropis menunjukan adanya perbedaan kemampuan
berproduksi yang lebih disebabkan atas perbedaan lingkungan dimana sapi perah FH itu
dipelihara.

3.1.2. Lama Laktasi

Menurut Mason, 1977, lama laktasi di negara-negara tropis berkisar antara 184-349 hari.
Menurut Hafez, 1968, sapi FH di daerah tropis masa laktasinya pada umumnya lebih pendek
dibanding dengan sapi FH yang ada di daerah beriklim sedang. Menurut Schmidt dan Van Vleck,
1974, efisiensi reproduksi juga dapat mempengaruhi lama laktasi selain dari faktor iklim dan

Fakultas Peternakan Udayana│5


lingkungan. Variasi produksi susu dipengaruhi oleh variasi lama laktasinya. Sehingga produksi
susu yang rendah karena laktasinya lebih singkat dan sebaliknya produksi susu tinggi karena
lama laktasinya juga lebih lama.

3.1.3. Lama Kering

Rataan lama kering sapi perah FH ini menunjukan nilai lama kering yang ideal (60-80
hari) yang sudah seharusnya dilaksanakan oleh para peternak. Menurut Makin,(1990) lama
kering yang baik atau ideal adalah antara 60-90 hari sebelum partus lebih pendek dari 60 hari
atau lebih panjang dari 90 hari, maka produksi susu berikutnya akan menurun. Terjadinya variasi
lama kering pada sapi perah FH baik di Indonesia ataupun di negara-negara tropis lainnya
disebabkan selain karena pengaruh iklim setempat dan juga kerana pengaruh tatalaksana yang
kurang baik terutama tatalaksana pemberian pakan, akibatnya waktu periode menjadi lebih lama
atau panjang.

3.2. Performa Reproduktif Sapi Perah FH


Performans sifat reproduksi sapi perah FH meliputi aspek kawin pertama setelah beranak,
masa kosong, banyak kawin setiap kebuntingan (S/C), lama bunting, dan selang beranak.

3.2.1. Kawin Pertama Setelah Beranak

menurut Salisbury dan Van Demark (1961), perkawinan pertama pada sapi perah FH
sebaiknya dilakukan pada kisaran antara 60-80 hari setelah beranak, akan tetapi menurut Makin
(1990) periode waktu yang baik setelah sapi beranak dikawinkan kembali yaitu pada 60-90 hari.

3.2.2. Lama Masa Kosong

Kisaran masa kosong yang ideal atau optimum pada sapi perah FH yaitu 60-80 hari
setelah beranak atau paling lambat tidak lebih dari 120 hari menurut Touch keny, et.al,(1959)..

3.2.3. Jumlah Kawin Perkebuntingan (S/C)

Menurut Toelihere (1981), jumlah perkawinan yang normal sampai bunting pada sapi
perah FH adalah antara 1,6-2,0 kali. De Vaccaro (1974) mengemukakan lebih tingginya angka
jumlah perkawinan perkebuntingan di daerah tropis termasuk Indonesia disebabkan karena tata

Fakultas Peternakan Udayana│6


laksana dan mutu pakan yang kurag baik, juga pengaruh iklim tropis terutama untuk lingkungan
di daerah dataran yang cukup tinggi.

3.2.4. Lama Bunting

Lama bunting bangsa sapi perah Eropa yaitu antara 278- 288 hari, dikemukakan oleh
Ensminger,(1980).

3.2.5. Selang Beranak

Lama waktu selang beranak (Calving Interval) merupakan salah satu tolak ukur efisiensi
reproduksi yang sangat penting. Karena, menurut Banerjee, (1980) dapat dijadikan sebagai
petunjuk keberhasilan dalam peternakan sapi perah. Menurut Bath et al.,(1978), lama selang
beranak yang normal yaitu antara 360-420 hari atau 12-14 bulan.

3.3. Performa Produktif Kambing Peranakan Etawa (PE)


3.3.1. Produktivitas Susu Kambing PE

Menurut Sarwono (2002), induk sudah mampu memproduksi susu dan produksi susunya
sangat beragam, yaitu antara 1,5 sampai 3,7 liter/hari dengan masa laktasi 7 – 10 bulan.

3.3.2. Performans Produksi Susu Berdasarkan Paritas

Performans produksi susu berdasarkan paritas kambing PE memiliki hubungan yang


positif akan tetapi nilai korelasinya masih rendah. peningkatan produksi susu pada setiap
penambahan paritas yang sangat rendah lebih dipengaruhi oleh jumlah dan mutu pakan yang
diberikan dan dikonsumsi. Tiesnamurti dkk. (2003) mengemukakan bahwa paritas induk ternak
memiliki peranan secara langsung terhadap keragaman produksi susu di awal laktasi dengan rata-
rata induk pada paritas ke-3 mampu menghasilkan produksi susu paling tinggi dan memiliki
waktu dalam mencapai produksi susu tercepat jika dibandingkan dengan urutan paritas lainnya.

3.3.3. Performans Produksi Susu Berdasarkan Umur

Menurut Peris et al. (1999) bahwa meskipun produksi susu akan meningkat seiring
dengan semakin tinggi umur seekor kambing, belum dapat diketahui sampai sejauh mana faktor
umur tersebut dapat mempengaruhi produksi susu karena kembali pada manajeman

Fakultas Peternakan Udayana│7


pemeliharaannya, terutama dalam pemberian pakan. Lalu, menurut Devendra dan Burns (1983)
selain pengaruh umur, produksi susu juga dipengaruhi oleh faktor seperti pakan, tatalaksana
pemeliharaan, dan faktor lingkungan lainnya namun produksi susu tetap akan tercapai dengan
maksimum.

Menurut Sutama, (2007), secara umum produksi susu kambing perah akan meningkat
terus dari awal laktasi hingga mencapai laktasi ketiga yang setara dengan umur 2,5 – 3,5 tahun
dan kemudian akan menurun, dan masih layak untuk dipertahankan hingga ternak berumur 5 – 6
tahun.

3.3.4. Performans Produksi Susu Berdasarkan Bobot Badan

Morand-Fehr (1991) yang menyatakan bahwa kambing perah dengan bobot badan yang
lebih besar akan memiliki tingkat produksi susu yang lebih tinggi dibandingkan dengan kambing
dengan bobot badan rendah, sehingga bobot badan secara tidak langsung memiliki pengaruh
terhadap produksi susu yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan bobot badan menentukan
kematangan dan kesiapan sel-sel kelenjar ambing untuk memproduksi susu dan menentukan
ragam produksi susu di awal laktasi. Serta menurut Ramdan (2007) menyatakan bahwa lingkar
dada berkorelasi positif terhadap bobot badan, sehingga semakin besar ambing yang diakibatkan
oleh perkembangan sel sekretori akan menyebabkan bertambahnya bobot badan pada kambing
sehingga meningkatkan produksi susu.

3.3.5. Performans Produksi Susu Berdasarkan Status Kebuntingan

Hasil penelitian dari Legarra dan Ugarte (2005) menunjukkan bahwa pertumbuhan
kelenjar ambing berbanding lurus dengan besarnya ambing, semakin besar ambing maka
semakin banyak jumlah sel sekretori yang digunakan untuk mensintesis susu, nilai korelasi
antara lebar dan dalam ambing dengan jumlah sel sekretori yaitu 0,10 dan 0,27. Kemudian
menurut Lawrence dan Fowler (2002), yang menyatakan bahwa pertumbuhan dan
perkembangan ambing pada saat sebelum fase kebuntingan berjalan terlambat, namun pada saat
ternak memasuki fase kebuntingan pertumbuhan ambing berjalan sangat cepat dan menurun saat
memasuki fase laktasi.

Fakultas Peternakan Udayana│8


Sebuah studi dari Gurmessa dan Melaku (2012) mengemukakan bahwa adanya efek
kebuntingan pada produksi susu dan merupakan parameter yang paling penting untuk
mengevaluasi kemampuan produksi susu ternak. Perbedaan produksi susu yang tidak terlalu
signifikan antara kelompok ternak bunting dan kelompok ternak tidak bunting, akan tetapi rata-
rata produksi susu pada kelompok bunting menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan
rata-rata produksi susu pada kelompok tidak bunting.

3.4. Performa Reproduktif Kambing Peranakan Etawa (PE)


Performans sifat reproduksi Kambing PE meliputi umur kawin pertama, angka kawin per
kebuntingan, masa kosong, selang beranak, dan jumlah anak per kelahiran.

3.4.1. Umur Kawin Pertama

Menurut Atabany (2013) kambing sebaiknya dikawinkan saat sudah mencapai dewasa
tubuh yakni pada umur 10-12 bulan dengan rataan bobot 30-40 kg. Adapula hasil penelitian lain
yang mendukung untuk umur kawin pertama ternak kambing yakni 10-12 bulan (Pralomkarn,
dkk., 1996). Ketidakseragaman umur kawin pertama kambing betina PE dikarenakan perbedaan
laju tingkat pertumbuhan ternak yang dapat dilihat dari metode pemeliharaan ternak dan
pengalaman peternak.

3.4.2. Angka Kawin per Kebuntingan

Dpenelitan Rara, dkk (2011), angka kawin per kebuntingan 1,35 ± 0,5 kali. Semakin
kecil angka kawin per kebuntingan menunjukan keefisienan sistem perkawinan yang dilakukan
oleh para peternak. Angka tersebut dapat dicapai dengan manajemen perkawinan yang tepat
sehingga dapat tercapai keefisienan dalam perkawinan ternak. Pengalaman dan pengetahuan para
peternak merupakan faktor penting lain yang dapat membantu mencapai angka tersebut. Calon
induk jantan maupun betina pun diseleksi dan turut dipelihara dengan baik, sehingga
meningkatkan persentase keberhasilan kebuntingan.

3.4.3. Masa Kosong

Dari penelitian Atabany (2013) masa kosong induk kambing PE yakni 90 - 120 hari.
Atabany (2013) juga menyatakan bila lama masa kosong melebihi 120 hari pada kambing PE,
betina menunjukan telah terjadi kelainan reproduksi. Penelitian lain juga menunjukan bahwa

Fakultas Peternakan Udayana│9


rata- rata masa kosong induk kambing PE adalah 93,9 ± 15,5 hari yang dikemukakan oleh Rara,
dkk.,(2011). Sedangkan menurut Murtidjo (1993) normalnya masa kosong adalah 60 - 90 hari.

3.4.4. Lama Bunting

Pada kambing PE betina masa kebuntingan mencapai 150 hari atau 5 bulan (Sarwono
2007). Lama bunting yang dikemukakan beberapa ahli lainnya yaitu 144-157 hari menurut Smith
dan Mangkoewidjojo (1988) dan 143-153 hari menurut Davendra dan Burns (1994). Penyebab
keragaman dalam periode bunting ini dipengaruhi oleh jenis kelamin, keragaman lingkungan
(pakan) dan faktor keturunan.

3.4.5. Selang Beranak

Hasil penelitian dari Coosly (1984), bahwa selang beranak kambing di daerah tropis pada
kondisi makanan dan tatalaksana yang baik biasanya selang beranak antara 260 sampai dengan
290 hari (8,7 bulan sampai 9,6 bulan). Dan menurut Setiadi dan Sitorus, (1983) pada kambing
PE selang beranak sekitar 269 hari. Nilai koefisien variasi selang beranak induk kambing PE
kecil, yang berarti semakin seragam.

3.4.6. Jumlah Anak per Kebuntingan

Secara reproduksi kambing mempunyai kemampuan menghasilkan anak 1-4 ekor per
kelahiran (litter size) (Ahmed et al., 1998; Manalu dan Sumaryadi, 1998b; Adriani et al., 2003).
Menurut pernyataan Davendra dan Burns (1994), bahwa induk kambing dianggap produktivitas
tinggi apabila dapat menghasilkan keturunan yang banyak atau lebih dari satu ekor per
kelahirannya. Ditjen Peternakan (1993), juga menyatakan bahwa induk kambing yang mampu
melahirkan anak kembar pada kelahiran pertama ada kecenderungan mengulanginya pada setiap
melahirkan berikutnya. Nilai koefisien variasi jumlah anak per kelahiran cukup besar yang
menandakan bahwa jumlah anak per kelahiran bervariatif. Hal ini disebabkan karena perbedaan
setiap gen induk kambing PE.

3.5. Perbandingan Produktivitas dan Reproduksi Antara Sapi FH dengan Kambing PE


 Menurut Makin (1990), kisaran rataan produksi susu sapi perah FH sebesar 7-15
kg/ekor/hari yang dipelihara di daerah tropis termasuk di Indonesia. Sedangkan pada

Fakultas Peternakan Udayana│10


Induk Kambing PE laktasi dapat memproduksi susu antara 1,5 sampai 3,7 liter/hari
dengan masa laktasi 7 – 10 bulan yang dikemukakan oleh Sarwono, (2002).
 Secara reproduksi, pada sapi FH jumlah anak yang dilahirkan dalam satu proses kelahiran
adalah 1 – 2 ekor . Pada kambing mempunyai kemampuan menghasilkan anak 1 - 4 ekor
per kelahiran menurut Ahmed et al., (1998); Manalu dan Sumaryadi, (1998).
 Menurut Salisbury dan Van Demark (1961), perkawinan pertama pada sapi perah FH
sebaiknya dilakukan pada kisaran antara 60-80 hari setelah beranak, akan tetapi menurut
Makin (1990) periode waktu yang baik setelah sapi beranak dikawinkan kembali yaitu
pada 60-90 hari. Sedangkan pada Kambing PE menurut Atabany (2013) kambing
sebaiknya dikawinkan saat sudah mencapai dewasa tubuh yakni pada umur 10-12 bulan
dengan rataan bobot 30-40 kg. Adapula hasil penelitian lain yang mendukung untuk
umur kawin pertama ternak kambing yakni 10-12 bulan (Pralomkarn, dkk., 1996).
 Kisaran masa kosong yang ideal atau optimum pada sapi perah FH yaitu 60-80 hari
setelah beranak atau paling lambat tidak lebih dari 120 hari menurut Touch keny,
et.al,(1959). Dan dari penelitian Atabany (2013), masa kosong induk kambing PE yakni
90 - 120 hari.
 Lama bunting bangsa sapi perah FH yaitu antara 278- 288 hari, dikemukakan oleh
Ensminger,(1980). Pada kambing PE betina masa kebuntingan mencapai 150 hari atau 5
bulan (Sarwono 2007). Lama bunting yang dikemukakan beberapa ahli lain yaitu 144-
157 hari menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) dan 143-153 hari menurut Davendra
dan Burns (1994)
 Menurut Bath et al.,(1978), lama selang beranak yang normal yaitu antara 360-420 hari
atau 12-14 bulan. Hasil penelitian dari Coosly (1984), bahwa selang beranak kambing di
daerah tropis pada kondisi makanan dan tatalaksana yang baik biasanya selang beranak
antara 260 sampai dengan 290 hari (8,7 bulan sampai 9,6 bulan). Dan menurut Setiadi
dan Sitorus, (1983) pada kambing PE selang beranak sekitar 269 hari.

Fakultas Peternakan Udayana│11


BAB IV
DISKUSI

Fakultas Peternakan Udayana│12


BAB V
KESIMPULAN

Fakultas Peternakan Udayana│13


DAFTAR PUSTAKA

Atabany, A. 2013. Beternak Kambing Peranakan Etawah.Cetakan 1. PT Penerbit IPB


Press. Kampus IPB Taman Kencana Bogor. Bogor. Indonesia.

Bath, D.L., F.N. Dickinson, H.A. Tucker and R.D. Appleman. 1978. Dairy Cattle :
Principles, Practises, Problems, Profits. 2nd Ed. Lea and Fabiger,
Philadelphia.

Coosly, J.K. 1984. Role in Meeting Supplies. In Extention Goat Handbook. Printed and
Distributed in Cooperation with the Extention Service. United State
Department of Agriculture. Washington D.C. 587-589.

Devendra, C. dan M. Burns. 1983. Produksi Kambing Di Daerah Tropis. Terjemahan


Harya Putra. 1994. Bandung: Institut Teknologi Bandung Press.

De Vaccaro, L.P. 1974. Some Aspect of The Performans of European Pure Bred and
Cross Breed Dairy Cattle in The Tropics. Part II. Mortality and Culling Rates
Animal Breed. Abstr., 42 : 93-103.

Direktorat Jenderal Peternakan. 1993. Beternak Kambing dan Domba. Departemen.


Pertanian. Jakarta.

Ensminger, M. E. 1980. Dairy Cattle Science. 2nd Ed. Interstate Printers and Publisher,
Illinois.

Gurmessa, J. and A. Melaku. 2012. Effect of lactation stage, pregnancy, parity, and age
on yield and major components of raw milk in bred cross holstein frisien
cows. World Journal of Dairy and Food Sciences, vol. 7 (2): 146-149.

Makin, M. 1990. Studi Sifat-Sifat Pertumbuhan Reproduksi Dan Produksi Susu Sapi
Sahiwal Cross (Sahiwal x Fries Holland) di Jawa Barat. Disertasi. Fakultas
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Fakultas Peternakan Udayana│14


Murtidjo, B. A. 1993. Memelihara Kambing Sebagai Ternak Potong dan Ternak Perah.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Peris, S., G. Caja and X. Such. 1999. Relationships between udder and milking traits in
murciano-granadina dairy goats. Small Ruminant Research, vol. 33: 171-
179.

Pralomkam, W., S. Saithanoo, W. Ngampoqpi, C. Suwanrut & J.T.B. Milton. 1996.


Growth and Med. Pet. Vol. 24 No. 2 puberty traits of Thai Native (TN) and
TN x Anglo- Nubian does. In Asiun-Australian Journal of Science (AJAS),
9(5) : 591-595. Shin Kwang Publishing Company. Korea.

Rara, Wenny, S., Suyadi dan M, Nasich. 2011. Penampilan Reproduksi Induk dan
Produksi Anak Lepas Sapih Kambing Peranakan Ettawa (PE) di Peternakan
Rakyat Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang. Jurnal. Universitas
Brawijaya. Malang.

Sulastri. 2005. Perbedaan Performans Sifat-sifat Produksi Susu dan Reproduksi Sapi
Perah FH Pada Berbagai Skala Usaha Peternakan Rakyat. (Suatu Kasus di
Wilayah Kerja KPSBU Lembang Kabupaten Bandung). Skripsi Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung. Tolihere, M.R. 1981.
Inseminasi Buatan Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.

Salisbury, G.W. dan N.L. Van Demarck. 1961. Physiology of reproduction and
Artificial Insemination of Cattle. W.H. Freeman & Co., San Fransisco.
London.

Schmidt, G.H. dan L.D. Van Vleck. 1988. Principles of Dairy Science. W.H. Freeman
& Co., San Fransisco. London.

Setiadi, B. dan P. Sitorus. 1983. Penampilan Reproduksi dan Produksi Kambing


Peranakan Etawah. Dalam pertemuan Ilmiah Ruminansia Kecil. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Ternak. Bogor.

Fakultas Peternakan Udayana│15


Touchbery, R.W., K. Rottensen and H. Anderson. 1959. Association Betwen Service
Interval Interval from Firs Service Conception and Level Butterfat
Prodoction. J. Dairy Sci., 42 : 1157-1168.

Warwick, E.J. and Legates. 1979. Breeding and Improvements of Farm Animals. Tata
Mc. Graw Hill Publishing, Co. Ltd., New York.

Widyaninggar, S. 2003. Performans Sifat Reproduksi dan Produksi Susu Sapi Perah
Fries Holland pada Berbagai Skala Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat.
(Kasus di Wilayah Kerja KUD Sinar Jaya, Kota Bandung). Skripsi Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran. Bandung.

Agus Salim, 2015. http://agussalim11.blogspot.sg/2015/10/makalah-kambing-


perah.html

DISNAK SINJAI, 2011. https://disnaksinjai.blogspot.co.id/2011/09/sapi-perah-fries-


holland.html

Rustan Syuaib, 2015. https://www.kompasiana.com/rustansyuaib/sapi-perah-fries-


holland_550970658133118e6ab1e1aa

Fakultas Peternakan Udayana│16