Anda di halaman 1dari 28

SOP (Standar Operasional Prosedur) Budidaya Tanaman

Karet (Hevea brasiliensis)


Ditujukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknologi Produksi Tanaman II

Disusun oleh :

KELOMPOK 4

Haruti Hamdani 150510130163 ( )


Ahmil Rizqin 150510130168 ( )
Muhammad Agi Pratama 150510130174 ( )
Kristina Junita Purba 150510130179 ( )
Hafsah Ashri Noor Azizah 150510130184 ( )

KELAS H

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21, Jatinangor 45363
2014
KATA PENGANTAR

Assalaamualaikum Wr. Wb.

Kami mengucapkan puji syukur atas penyertaan Allah SWT yang telah
memberikan kenikmatan iman, islam, kesehatan dan kesabaran. Tak lupa pula shalawat
serta salam selalu kami limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Kami
yakin karena kehendak-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “SOP
(Standard Operasional Prosedur) Budidaya Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)”
ini, walaupun masih jauh dari kesempurnaan.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teknologi Produksi Tanaman II. Selain itu, pembuatan makalah ini juga bertujuan
untuk menambah pengetahuan mengenai standar operasional prosedur atau SOP
budidaya tanaman karet baik teori maupun penerapannya. Makalah ini dibuat
berdasarkan berbagai sumber yang didapatkan. Kami menyadari sepenuhnya masih
banyak kekurangan baik itu pengetahuan, pengalaman maupun kemampuan. Oleh
karena itu kami mengharapkan saran maupun kritik membangun yang bertujuan agar
hasil makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi semua.
Akhir kata kami berharap, semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi
pembaca. Semoga Allah SWT akan senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah serta
taufik-Nya kepada kita semua. Amin.

Bandung, 22 Oktober 2014

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i


DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................... 2
2.1 Tanaman Karet .............................................................................................. 2
2.2 Syarat Tumbuh .............................................................................................. 6
2.3 Budidaya Tanaman Karet .............................................................................. 7
2.4 Pengendalian Hama dan Penyakit ................................................................ 14
2.5 Panen Tanaman Karet.................................................................................... 17
BAB III PENUTUP ................................................................................................... 23
3.1 Simpulan ........................................................................................................ 23
3.2 Saran .............................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 24

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kebun entres karet berumur 6 bulan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi


Selatan..................................................................................................... 2
Gambar 2. a) Pembuatan jendela okulasi, (b) Pembuatan perisai mata okulasi. ....... 8
Gambar 3. Praktik pembukaan lahan dengan teknik tebang-tebas tanpa bakar ........ 9
Gambar 4. Pemasangan ajir sebelum penanaman bibit karet .................................... 10
Gambar 5. Pertumbuhan tanaman karet < 3 tahun .................................................... 11
Gambar 6. Pemeliharaan tanaman karet .................................................................... 13
Gambar 7. (a) karet ditanam campur dengan kacang tanah, (b) karet ditanam campur
dengan padi gogo .................................................................................... 14
Gambar 8. (a) Tanaman karet yang daunnya pucat kuning dan melipat ke dalam, (b)
Akar tanaman yang terkena JAP............................................................. 17
Gambar 9. a) Menyadap Karet, (b) Getah Karet Hasil Sadapan, (c) Slab Karet ....... 22

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Dosis Pemupukan pada Tanaman Karet ...................................................... 12


Tabel 2. Waktu Dosis dan Cara Pemupukan Tanaman Penutup Tanah .................... 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman karet (Hevea Brasiliensis) merupakan tanaman perkebunan yang
bernilai ekonomis tinggi. Tanaman tahunan ini dapat disadap getah karetnya
pertama kali pada umur tahun ke-5. Dari getah tanaman karet (lateks) tersebut bisa
diolah menjadi lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet remah
(crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet. Kayu tanaman karet,
bila kebun karetnya hendak diremajakan, juga dapat digunakan untuk bahan
bangunan, misalnya untuk membuat rumah, furniture dan lain-lain.
Peningkatan produksi karet dapat dilakukan dengan penerapan teknologi
budidaya yang dianjurkan, mulai dari pemilihan bibit, penanganan bibit, persiapan
lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen. Oleh karena itu, pada
makalah ini kami akan mencoba memaparkan dan memberikan informasi dan
pengetahuan mengenai standar operasional prosedur budidaya tanaman karet.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa klasifikasi, sejarah tanaman karet ?
2. Apa saya syarat tumbuh untuk tanaman karet ?
3. Bagaimana cara budidaya tanaman karet ?
4. Bagaimana pengendalian hama dan penyakit pada tanaman karet ?
5. Bagaimana panen pada tanaman karet ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai SOP budidaya tanaman karet dari mulai pembibitan
hingga panen dan dipasarkan kepada masyarakat.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tanaman Karet

2.1.1 Sejarah Tanaman Karet

Gambar 1. Kebun entres karet berumur 6 bulan di Kabupaten Bulukumba,


Sulawesi Selatan

Sumber : Panduan Budidaya Karet untuk Petani Skala Kecil. Lembar


InformasiAgroFor Sulawesi (Agroforestry dan Forestry)

Tanaman karet merupakan komoditi perkebunan yang penting dalam


industri otomotif. Karet (Hevea brasiliensis) berasal dari benua Amerika dan
saat ini menyebar luas ke seluruh dunia. Karet dikenal di Indonesia sejak
masa kolonial Belanda, dan merupakan salah satu komoditas perkebunan
yang memberikan sumbangan besar bagi perekonomian Indonesia.
Diperkirakan ada lebih dari 3,4 juta hektar perkebunan karet di Indonesia,
85% diantaranya (2,9 juta hektar) merupakan perkebunan karet yang
dikelola oleh rakyat atau petani skala kecil, dan sisanya dikelola oleh
perkebunan besar milik negara atau swasta. Perkebunan karet rakyat
biasanya dikelola dengan teknik budidaya sederhana berupa pemupukan
sesuai kemampuan petani. Karet ditanam bersama dengan pohon-pohon lain
seperti pohon buah-buahan (contohnya durian, petai, jengkol, dan duku)

2
maupun pohon penghasil kayu (contohnya meranti dan tembesu) yang
sengaja ditanam atau tumbuh sendiri secara alami. Sebaliknya, perkebunan
besar dikelola dengan teknik budidaya yang lebih maju dan intensif dalam
bentuk perkebunan monokultur, yaitu hanya tanaman karet saja, untuk
memaksimalkan hasil kebun.

2.1.2 Klasifikasi & Pengenalan Botani

Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Euphorbiales
Family : Euphorbiaceae
Genus : Hevea
Spesies : Hevea brasiliensis Muell Arg

Tanaman karet memiliki sistem perakaran yang terdiri dari akar


tunggang, akar lateral yang menempel pada akar tunggang dan akar serabut.
Pada tanaman yang berumur 3 tahun kedalaman akar tunggang sudah
mencapai 1,5 m. Apabila tanaman sudah berumur 7 tahun maka akar
tunggangnya sudah mencapai kedalaman lebih dari 2,5 m. Pada konsisi
tanah yang gembur akar lateral dapat berkembang sampai pada kedalaman
40-80 cm. Akar lateral berfungsi untuk menyerap air dan unsur hara dari
tanah. Pada tanah yang subur akar serabut masih dijumpai sampai
kedalaman 45 cm. Akar serabut akan mencapai jumlah yang maksimum
pada musim semi dan pada musim gugur mencapai jumlah minimum
(Basuki dan Tjasadihardja, 1995).

Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang


cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman
biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi. Beberapa
pohon karet ada kecondongan arah tumbuh agak miring. Batang tanaman ini
mengandung getah yang dikenal dengan naman lateks (Setiawan dan
Andoko, 2000). Daun karet berselang-seling, tangkai daunnya panjang dan

3
terdiri dari 3 anak daun yang licin berkilat. Petiola tipis, hijau, berpanjang
3,5-30 cm. Helaian anak daun bertangkai pendek dan berbentuk lonjong-
oblong atau oblong-obovate, pangkal sempit dan tegang, ujung runcing, sisi
atas daun hijau tua dan sisi bawah agak cerah, panjangnya 5-35 cm dan
lebar 2,5-12,5 cm (Sianturi, 2001). Daun karet berwarna hijau. Apabila akan
rontok berubah warna menjadi kuning atau merah. Daun mulai rontok
apabila memasuki musim kemarau. Daun karet terdiri dari tangkai daun
utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama sekitar 3-20 cm.
Panjang tangkai anak daun sekitar 3-10 cm. Biasanya terdapat 3 anak daun
pada setiap helai daun karet. Anak daun karet berbentuk elips, memanjang
dengan ujung yang meruncing, tepinya rata dan tidak tajam (Marsono dan
Sigit, 2005).

Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina yang terdapat dalam
malai payung yang jarang. Pada ujungnya terdapat lima taju yang sempit.
Panjang tenda bunga 4-8 mm. Bunga betina berambut, ukurannya sedikit
lebih besar dari bunga jantan dan mengandung bakal buah yang beruang
tiga. Kepala putik yang akan dibuahi dalam posisi duduk juga berjumlah
tiga buah. Bunga jantan mempunyai sepuluh benang sari yang tersusun
menjadi suatu tiang. Kepala sari terbagi dalam 2 karangan dan tersusun
lebih tinggi dari yang lain (Marsono dan Sigit, 2005). Bunga majemuk ini
terdapat pada ujung ranting yang berdaun. Tiap-tiap karangan bunga
bercabang-cabang. Bunga betina tumbuh pada ujung cabang, sedangkan
bunga jantan terdapat pada seluruh bagian karangan bunga. Jumlah bunga
jantan jauh lebih banyak daripada bunga betina. Bunga berbentuk “lonceng”
berwarna kuning. Ukuran bunga betina lebih besar daripada bunga jantan.
Apabila bunga betina terbuka, putik dengan tiga tangkai putik akan tampak.
Bunga jantan bila telah matang akan mengeluarkan tepung sari yang
berwarna kuning. Bunga karet mempunyai bau dan warna yang menarik
dengan tepung sari dan putik yang agak lengket (Setyamidjaja, 1993).

Buah karet memiliki pembagian ruang yang jelas. Masing-masing


ruang berbentuk setengah bola. Jumlah ruang biasanya tiga, kadang-kadang

4
sampai enam ruang. Garis tengah buah sekitar 3-5 cm. Bila telah masak,
maka buah akan pecah dengan sendirinya. Pemecahan biji ini berhubungan
dengan pengembangbiakan tanaman karet secara alami yaitu biji terlontar
sampai jauh dan akan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung (Marsono
dan Sigit, 2005). Tanaman karet dapat diperbanyak secara generatif (dengan
biji) dan vegetatif (okulasi). Biji yang akan dipakai untuk bibit, terutama
untuk penyediaan batang bagian bawah harus sungguh-sungguh baik
(Setyamidjaja, 1993).

2.1.3 Penyebaran

Sumatra dan Kalimantan adalah daerah penghasil karet terbesar di


Indonesia dengan sentra produksi tersebar di Sumatra Selatan (668 ribu
hektar), Sumatra Utara (465 ribu hektar), Jambi (444 ribu hektar), Riau (390
ribu hektar), dan Kalimantan Barat (388 ribu hektar). Sementara Sulawesi
Selatan adalah provinsi yang memiliki luas perkebunan karet terbesar di
Sulawesi yaitu sekitar 19 ribu hektar.

2.1.4 Varietas unggul

Klon-klon unggul batang atas dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:


a. klon penghasil lateks, memiliki potensi hasil lateks sangat tinggi, tetapi
potensi hasil kayunya sedang, antara lain BPM 24, BPM 107, BPM 109,
IRR 104, PB 217, PB 260, PR 255, dan PR 261
b. klon penghasil lateks-kayu, dengan ciri potensi hasil lateks dan kayu tinggi,
antara lain AVROS 2037, BPM 1, IRR 5, IRR 21, IRR 32, IRR 39, IRR 42,
IRR 118, PB 330, dan RRIC 100
c. klon penghasil kayu, yaitu hasil lateksnya sedang, tetapi produksi kayu
sangat tinggi, antara lain IRR 70, 71, 72, dan 78.

2.1.5 Manfaat

Karet mempunyai arti penting dalam aspek kehidupan sosial ekonomi


masyarakat indonesia, yaitu:

5
 Sebagai tanaman penghasil getah karet untuk berbagai keperluan
industri.
 Batangnya dapat dijadikan sebagai kayu bakar dan kayu olahan.
 Menghasilkan biji karet yang dapat menghasilkan minyak untuk industri
serta dapat dijadikan bahan pangan dan keperluan lainnya.
 Salah satu komoditi penghasil devisa negara.
 Tempat persediaan lapangan kerja bagi penduduk.
 Sumber penghasilan bagi petani karet

2.2 Syarat Tumbuh

1. Tanah
- Tanah harus gembur
- Kedalaman antara 1-2 meter
- Tidak bercadas
- PH tanah 3,5 – 7,0
- Ketinggian tempat anatara 0 – 400 meter, paling baik pada
ketinggian 0 – 200 meter, setiap kenaikan 200 meter matang sedap
terlambat 6 bulan.
2. Iklim

- Curah hujan minimum 1.500 mm pertahun, jumlah hari hujan 100 –


150 hari, curah hujan optimum 2.500 – 4.000 mm.
- Hujan selain bermanfaat bagi pertumbuhan karet, ada hubungannya
dengan pemungutan hasil, terutama jumlah hari hujan sering turun
pada pagi hari
- Unsur angin berpengaruh terhadap ;
- Kerusakan tanaman akibat angin kencang,
- Kelembaban sekitar tanaman,
- Produksi akan berkurang.

6
2.3 Budidaya Tanaman Karet

1. PEMBIBITAN DAN TEKNIK PERBANYAKAN

Para petani karet di Indonesia saat ini masih banyak yang menggunakan
bibit karet cabutan, anakan liar, atau hasil semaian biji dari pohon karet alam yang
dibudidayakan sebelumnya. Meskipun demikian, bibit karet unggul sebenarnya
sudah dikenal luas oleh petani. Bibit karet unggul dihasilkan dengan teknik
okulasi antara batang atas dengan batang bawah yang tumbuh dari biji-biji karet
pilihan. Okulasi dilakukan untuk mendapatkan bibit karet berkualitas tinggi.
Batang atas dianjurkan berasal dari karet klon PB260, IRR118, RRIC100 dan
batang bawah dapat menggunakan bibit dari biji karet klon PB20, GT1, dan
RRIC100 yang diambil dari pohon berumur lebih dari 10 tahun.
Bahan dan alat yang digunakan untuk okulasi adalah:
• Pisau okulasi, plastik okulasi, meteran kain, penggaris, batu asah, spidol,
dan lap kain.
• Batang bawah yang memiliki payung dorman atau berdaun hijau tua dengan
lilit batang 5–7 cm pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah.
Proses okulasi mencakup tahap-tahap sebagai berikut:
a. Membuat jendela okulasi:
• Pilih batang bawah yang memiliki paying dorman dan bersihkan.
Pembuatan jendela okulasi (Delabarre, 1994)
• Buat jendela okulasi pada ketinggian 5–10 cm dari permukaan tanah dengan
cara membuat irisan tegak sepanjang 5–7 cm dan lebar sepertiga lilit batang.

b. Pembuatan perisai mata okulasi:


• Buat perisai mata okulasi dari kebun entres (kebun batang atas) yang telah
dipanen.
• Pilih mata okulasi yang terletak di bekas ketiak daun.
• Sayat kayu entres selebar 1 cm sepanjang 5–7 cm dengan menyertakan
sedikit kayu batangnya.
• Lepas kulit kayu perlahan, usahakan bagian dalam tidak kotor atau
terpegang, karena

7
di bagian dalam terdapat titik putih yang merupakan mata entres yang siap
ditempelkan.
c. Penempelan perisai mata okulasi:
• Tempelkan perisai mata okulasi dengan cepat setelah jendela okulasi
dibuka.
• Tutup jendela okulasi, tekan dengan tangan, lalu balut dengan plastik yang
sudah disiapkan.
• Pembalutan dimulai dari bawah bila bukaan jendela okulasi dari bawah,
sebaliknya dibalut dari atas bila bukaan jendela okulasi dari atas.
• Hasil okulasi berupa stum mata tidur yang kemudian ditanam di polybag
selama beberapa bulan. Setelah stum bertunas dan tumbuh hingga memiliki
1–2 payung (kira– kira 3–6 bulan), bibit karet tersebut bias dipindahkan ke
kebun.

(a) (b)
Gambar 2. (a) Pembuatan jendela okulasi, (b) Pembuatan perisai mata okulasi.
Sumber : Panduan Budidaya Karet untuk Petani Skala Kecil. Lembar
InformasiAgroFor Sulawesi (Agroforestry dan Forestry)

8
2. PERSIAPAN LAHAN
A. Pengolahan Lahan.
1. Penebangan dan pembakaran pohon yang ada pada lahan.
2. Penyacaran lahan dari rumput yang ada.
3. Pembajakan dengan traktor atau penggarpuan/pencangkulan
dilakukan 3 kali, dengan tenggang waktu 1 bula, setelah pembajakan ke
3 lahan dibiarkan 2 minggu baru digaru.

Gambar 3. Praktik pembukaan lahan dengan teknik tebang-tebas tanpa bakar


Sumber : Panduan Budidaya Karet untuk Petani Skala Kecil. Lembar
InformasiAgroFor Sulawesi (Agroforestry dan Forestry)

B. Pencegahan Erosi
1. Pembuatan teras, baik teras individu maupun teras bersambung di
sesuaikan dengan kemiringan lahan.
2. Pembuatan parit dan rorak, parit dibuat sejajar dengan lereng,saluran
drainase memotong lereng dan rorak dibuat diantara barisan.
3. Pengajiran, untuk menentukan letak tanaman dan meluruskan dalam
barisan dengan cara sebagai berikut :
- Tentukan arah Timur-Barat (TB) atau Utara-Selatan (US).

- Ukur pada TB jarak 6 meter atau 7 meter dan 3 meter dari arah
US.

9
4. Penanaman penutup tanah, kegunaaanya : melindungi tanah dari sinar
matahari langsung, erosi, menekan pertumbuhan gulma, dan sebagai
media hidup cacing.

3. PENANAMAN
1. Pembuatan lubang tanam dan pengajiran kedua.
2. Jarak tanam untuk tanah ringan 45X45X30 Cm, untuk tanah berat 60 X 60
X 40 Cm.
3. Lubang dibiarkan satu bulan atau lebih.
4. Jenis penutup tanah; Puecaria Javanica, Colopogonium moconoides dan
centrosema fubercens,penanaman dapat diatur atau ditugal setelah tanah
diolah dan di bersihkan, jumlah bibit yang ditanam 15 – 20 Kg/Ha dengan
perbandingan 1 : 5 : 4 antara Pueraria Javanoica : Colopoganium
moconoides dan cetrosema fubercens
5. Penanaman ; bibit ditanam pada lubang tanah yang telah dsiberi tanda dan
ditekan sehingga leher akan tetap sejajar dengan permukaan tanah, tanah
sekeliling bibit diinjak-injak sampai padat sehingga bibit tidak goyang,
untuk stump mata tidur mata menghadap ke sekatan atau di sesuaikan
dengan arah angin.

Gambar 4. Pemasangan ajir sebelum penanaman bibit karet


Sumber : Panduan Budidaya Karet untuk Petani Skala Kecil. Lembar
InformasiAgroFor Sulawesi (Agroforestry dan Forestry)

10
Gambar 5. Pertumbuhan tanaman karet < 3 tahun

Sumber : 2008. Teknologi Budidaya Karet. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan
Teknoloi Pertanian

4. PEMELIHARAAN
1. Penyulaman

 Bibit yang baru ditanam selama tiga bulan pertama setelah tanam diamati
terus menerus.
 Tanaman yang mati segera diganti.
 Klon tanaman untuk penyulaman harus sama.
 Penyulaman dilakukan sampai unsur 2 tahun.
 Penyulaman setelah itu dapat berkurang atau terlambat pertumbuhannya.
2. Pemotongan Tunas Palsu

Tunas palsu dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 1 kali 2 minggu,
sedangkan tunas liar dibuang sampai tanaman mencapai ketinggian 1,80
meter.

3. Merangsang Percabangan

11
Bila tanaman 2 – 3 tahun dengan tinggi 3,5 meter belum mempunyai
cabang perlu diadakan perangsangan dengan cara :

- Pengeringan batang (ring out)


- Pembungkusan pucuk daun (leaf felding)
- Penanggalan (tapping)
4. Pemupukan

Pemupukan dilakukan 2 kali setahun yaitu menjelang musim hujan dan


akhir musim kemarau, sebelumnya tanaman dibersihkan dulu dari
rerumputan dibuat larikan melingkar selama – 10 Cm. Pemupukan pertama
kurang lebih 10 Cm dari pohon dan semakin besar disesuaikan dengan
lingkaran tajuk.
Tabel 1. Dosis Pemupukan pada Tanaman Karet

Sumber : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian


dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Dosis (gram/pohon)
Umur
Urea Rock MOP Kleresit
(Bulan) Pospat

(Rp)

Pupuk
dasar
- 200 - -
2–3
75 150 50 50
7–8
75 150 50 50
12
100 175 62 50
18
100 175 62 50
24
250 400 150 100
36
275 400 200 100
48
300 400 200 100

Cat : Jenis Pupuk dapat diganti asalkan kandungan unsur haranya setara.

12
5. Pemeliharaan Penutupan Tanah

Tabel 2. Waktu Dosis dan Cara Pemupukan Tanaman Penutup Tanah

Sumber : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian


dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Waktu Dosis Cara Pemberian

Saat tanam 20 Kg Fospat Dicampur dan ditabur

alam atau sesuai bersama-sama dengan

dengan berat bibit biji..

Umur 3 bulan 200 – 300 fosphat diatur dan ditabur, di

alam setiap hektar atur Leguinosa

Gambar 6. Pemeliharaan tanaman karet

Sumber : 2008. Teknologi Budidaya Karet. Balai Besar Pengkajian dan


Pengembangan Teknoloi Pertanian

6. Tumpangsari/Tanaman sela/intercroping

Syarat-syarat pelaksanaan tumpangsari :

13
- Topografi tanah maksimum 11 (8%)
- Pengusahaan tanaman sela diantara umur tanaman karet 0 – 2 tahun.
- Jarak tanam karet sistem larikan 7 X 3 meter atu 6 X 4 meter.
- Tanaman sela harus di pupuk.
- Setelah tanaman sela dipanen segera diusahakan tanaman penutup
tanah.

(a) (b)

Gambar 7. (a) karet ditanam campur dengan kacang tanah, (b) karet ditanam campur
dengan padi gogo

Sumber : Panduan Budidaya Karet untuk Petani Skala Kecil. Lembar


InformasiAgroFor Sulawesi (Agroforestry dan Forestry)
2.4 Pengendalian Hama dan Penyakit

Terdapat beberapa hama dan penyakit yang sering ditemukan pada tanaman karet
yang dapat menurunkan produktivitas tanaman karet sendiri.
Hama
a. Rayap
Rayap yang biasa menyerang tanaman karet adalah Microtermes
inspiratus dan Captotermes curvignathus. Gejala yang ditimbulkan berupa
rusaknya bagian ujung stum atau tanaman karet muda. Di bagian ini juga
terlihat bekas gerekan. Bagian dalam batang terdapat lubang besar dari ujung
stum sampai akar. Akar tanaman terputus-putus, bahkan tidak ada lagi ujung
akar.
Pengendalian dan pencegahan serangan rayap dilakukan dengan cara
kultur teknis, mekanis, dan kimia. Secara kultur teknis, rayap dapat
dikendalikan dengan membersihkan kebun dari tunggul dan sisa-sisa akar.

14
Secara mekanis, rayap dapat dikendalikan dengan dipancing atau diumpan
keluar dari stum. Umpan yang sering digunakan, yaitu sungkai dan ubi kayu.
Secara kimia, rayap dapat dikendalikan menggunakan Furadan, Agrolene, atau
Lindamul.

b. Uret tanah
Beberapa jenis uret yang biasa menyerang pertanaman karet, yaitu
Helatrichia serrate, Helotrichia rufoflava, Leucopholis sp., Exopholis sp., dan
Lepidiota sp. Tanaman yang terserang hama ini akan menjadi layu dan
berwarna kuning daun-daunnya atau bahkan mati. Pengendaliannya dengan
penyemprotan Endosulfan 0,1%, Furadan 3 gram, Diazon 10 gram atau
Basudin 10 gram disekitar batang.

c. Kutu Lak (Laccifer greeni Chamberlis)


Menyerang dan menghisap cairan jaringan tanaman karet sehingga
ranting-rantingnya jadi melemah dan daunnya menjadi berguguran.
Membentuk jelaga hitam pada permukaan daun sehingga menghambat
fotosintesis. Pemberantasan kutu ini bisa diberantas menggunakan zat kimiawi
yaitu Anthio 3 EC (0,15%), Surfaktan Citrowett (0,025%), Albolineum (2%),
Formalin (0,15%) atau rotasi 3 minggu sampai dengan serangga habis dibasmi.

d. Tungau karet (Tarsonemus translucens)


Menghisap cairan sel sehingga terjadi bintik-bintik kuning pada daun
muda tanaman bibit dipersemian sehingga daun muda tersebut kemungkinan
gugur. Tindakan pengendaliannya dengan menggunakan kimiawi yaitu
Pestona, Endrin 19,2%, dll.

e. Babi Hutan (Sus verrucosus)


Binatang yang hidup bergerombol di dalam hutan ini merusak dan
menjadi hama tanaman karet dengan cara mendongkel tanaman karet muda
dengan menggunakan moncongnya. Setelah pohon rebah baru dimakan daun-
daun sampai tandas, bahkan mengerat kulit pohonnya. Pengendaliannya

15
dengan sanitasi lingkungan, memasang jaring, perangkap, memberi pagar dan
parit di areal kebun, pemberian umpan beracun.
Penyakit
a. Penyakit jamur upas
Penyebab penyakit ini adalah Corticium salmonicolor . Bagian tanaman
yang terserang akan mengeluarkan cairan lateks berwarna cokelat kehitaman
yang meleleh di permukaan batang tanaman. Lama-kelamaan kulit tanaman
yang terserang akan membusuk dan berubah menjadi warna hitam, mengering,
dan terkelupas. Pengendalian dapat dilakukan melalui cara mengoleskan
fungisida Fylomac, Calixin, Dowco, atau bubur Bordo pada bagian yang
terkena serangan

b. Penyakit embun tepung


Penyebab penyakit embun tepung adalah Oidium heveae. Oleh karena
itu, penyakit ini juga sering disebut sebagai penyakit Oidium. Tanaman yang
terserang pathogen ini memperlihatkan gejala berupa daun muda yang berubah
warna menjadi hitam, lemas, keriput, dan berlendir. Di bawah permukaan daun
terdapat bercak bundar berwarna putih, seperti tepung halus yang terdiri dari
benang-benang hifa dan spora jamur. Pengendalian penyakit dapat dilakukan
dengan pemberian pupuk nitrogen dosis tinggi (dua kali dosis anjuran) saat
daun-daun mulai terbentuk. Pengendaliannya dapat juga dilakukan dengan cara
menghembuskan serbuk belerang seminggu sekali selama lima minggu.
Penghembusan dilakukan saat 100% pohon di kebun membentuk daun baru
atau sudah terlihat gejala serangan embun putih.

c. Penyakit akar putih (Rigidoporus microporus)


Penyakit ini dapat menyerang pada tanaman di pembibitan sampai
tanaman menghasilkan. Tanaman yang terserang terlihat daun tajuknya pucat
kuning dan tepi atau ujung daun tajuknya terlipat ke dalam. Kemudian daun
gugur dan ujung ranting menjadi mati. Adakalanya terbentuk daun muda atau
bunga dan buah lebih awal. Pada perakaran tanaman sakit terdapat benang-
benag berwarna putih dan agak tebal (rizomorf). Jamur kadang-kadang

16
membentuk badan buah mirip topi berwarna jingga kekuning-kuningan pada
pangkal akar. Pada serangan berat akar tanaman menjadi busuk dan tanaman
akan tumbang dan mati. Penyakit ini bisa menular pada tanaman yang sehat di
sekitarnya melalui kontak akar. Pencegahannya dengan pembongkaran atau
pemusnahan tunggul akar tanaman, dengan menanam tanaman antagonis
seperti lidah mertua, kunyit, lengkuas dan lain-lain, penanaman bibit sehat,
taburi belerang pada tempat rawan penyakit ini sebanyak 100-200 gr/pohon
selebar 100 cm, yang kemudian dibuat alur agar belerang masuk kedalam
perakaran. Pemberian belerang ini diberikan setiap tahun sekali sampai dengan
tanaman berumur lima tahun.

(a) (
b
(b)
(c)
(a) (b)
Gambar 8. (a) Tanaman karet yang daunnya pucat kuning dan melipat ke dalam, (b)
Akar tanaman yang terkena JAP
Sumber : Panduan Budidaya Karet untuk Petani Skala Kecil. Lembar
InformasiAgroFor Sulawesi (Agroforestry dan Forestry)

2.5 Panen Tanaman Karet

Penyadapan bertujuan membuka pembuluh lateks pada kulit pohon karet


agar lateks cepat mengalir. Kecepatan aliran lateks tersebut diperngaruhi oleh
takaran cairan lateks itu sendiri. Untuk memperoleh hasil sadap yang baik,
penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh produksi yang tinggi,
menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatikan faktor
kesehatan tanaman.beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam penyadapan
adalah sebagai berikut:

17
1. Penentuan matang sadap dan peralatan penyadap
Penyadapan merupakan Suatu tindakan membuka pembuluh lateks agar lateks
yang terdapat di dalam tanaman karet keluar. Syarat penyadapan yang baik
dalam penyadapan karet adalah dengan melakukan 3 cara, yaitu:
1. Menghasilkan lateks banyak
2. Biayanya rendah
3. Tidak mengganggu kesinambungan produksi tanaman.
Selain syarat dalam penyadapan yang baik, dalam penyadapan karet juga
mempunyai tahapan penyadapan yang sesuai aturan, antara lain:
a. Menentukan matang sadap
Standar Lilit Batang Umur (bln) : 12 18 24 30 60
Lilit Batang (Cm) : 10.58 14.35 18.55 23.05 45.25
Umur (bln) : 36 42 48 54
Lilit Batang (Cm) : 27.69 32.34 36.88 38.35

Umur Tanaman dan Pengukuran Lilit Batang

Penyadapan dapat dilakukan sekitar umur 4.5-6 tahun tergantung pada


klon dan lingkungan. Umur tersebut tidak dapat dijadikan pedoman baku untuk
menentukan matang sadap, sehingga yang hanya dapat dijadikan pedoman untuk
menentukan matang sadap adalah dengan melakukan pengukuran lilit batang.
Pengukuran lilit batang terhadap pohon yang sudah masuk matang sadap dapat
dilakukan dengan:

1. Lilit batang 45 cm atau lebih


2. Ketinggian 100 cm dpo (di atas pertautan okulasi).

Penentuan matang sadap pada tanaman karet ada dua diantaranya:

1. Matang Sadap Pohon


Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap pohon. Matang sadap
pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya tanpa menyebabkan
gangguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Kesanggupan
tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan "umur dan lilit batang".

18
2. Matang Sadap Kebun
Apabila pada kebun, jumlah tanaman matang sadap sudah mencapai >60%.
Misalkan, jarak tanam: 6x3 m (555 pohon/ha), maka pohon matang sadapnya
sudah mencapai 333 pohon/ha. Hal ini didasarkan pada produksi yang
dihasilkan secara ekonomis cukup menguntungkan untuk memproduksi
sejumlah pohon tersebut.

Alat yang biasanya digunakan dalam proses penyadapan tanaman karet adalah

1 Meteran kain 150 cm, untuk mengukur lilit batang


2 Meteran kayu 100 cm, untuk menentukan ketinggian pengukuran lilit batang
3 Mal sadap
4 Sepotong kayu: panjang 130 cm
5 Plat seng dengan lebar 6 cm, panjang 50-60 cm dipakukan pada ujung kayu
dengan sudut 120°
6 Pisau mal, besi berujung runcing dan bertangkai untuk menoreh kulit waktu
menggambar bidang sadap
7 Talang sadap (Seng: lebar 2.5 cm; panjang 8 cm). Guna: Untuk mengalirkan
lateks ke mangkuk sadap.Pemasangan talang lateks pada pohon karet dilakukan
dengan menancapkan talang tersebut sedalam 5cm dari titik atau ujung
terendah irisan sadapan. Talang lateks berfungsi sebagai alat untuk
mengalirkan caira lateks atau getah karet dari irisan sadap kedalam mangkuk.
8 Tali cincin, yang terbuat dari ijuk, ban, plastik atau tali plastik. Guna: untuk
mencantolkan cincin mangkuk dengan mengikatkan tali ke batang karet
9 Cincin mangkuk, terbuat dari kawat yang digunakan untuk meletakkan
mangkuk sadap
10 Mangkuk sadap terbuat dari tanah, plastik,alumunium. Guna: untuk
menampung lateks
11 Pisau sadap Ada dua macam:
a. pisau sadap tarik
b. pisau sadap dorong.

Penggambaran Bidang Sadap

19
1. Dilakukan pada pohon dan kebun yang sudah matang sadap
2. Ditetapkan berdasarkan:
a. Tinggi bukaan sadap
b. Arah dan sudut kemiringan irisan sadap
c. Panjang irisan sadap
d. Letak bidang sadap
3. Penggambaran bidang sadap:
a. Tanaman okulasi 130 cm dpo
b. Tanaman seedling 100 cm
c. Arah: dari kiri atas ke kanan bawah Alasannya:
d. Pembuluh lateks posisinya dari kanan atas ke kiri bawah membentuk sudut
3.7° dengan bidang datar.
4. Sudut kemiringan sadap
a. Bidang sadap bawah: 30°-40° terhadap bidang datar.
b. Bidang sadap atas: 45°. 30°-40°

Kemiringan Irisan Sadap Berpengaruh pada

1. Jumlah pembuluh lateks yang terpotong


2. Aliran lateks ke arah mangkuk sadap (membeku,menyimpang dari alur
aliran lateks).

Panjang Irisan Sadap (pis) Berpengaruh pada

a. Produksi dan pertumbuhan


b. Konsumsi kulit
c. Keseimbangan produksi jangka panjang
d. Kesehatan tanaman. Anjuran pis: ½ S (irisan miring sepanjang ½ spiral
(lingkaran))
e. Letak bidang sadap
f. Arah Timur Barat (pada jarak antar tanaman yang sempit). Tujuannya:
pelaksanaan penyadapan cepat
2. dan mudah dikontrol.

Pemasangan Talang Sadap dan Mangkuk Sadap

20
1) Setelah penggambaran bidang sadap

2) Diletakkan di bawah ujung irisan sadap bagian bawah, tujuannya:

a. Agar tidak mengganggu penyadapan

b. Lateks dapat mengalir dengan baik

c. Tidak banyak meninggalkan bekuan.

3) Mangkuk sadap diletakkan di atas cincin mangkuk dan diikat dengan tali ke
batang.

2. Pelaksanaan penyadapan
Kedalaman Irisan Sadap dianjurkan 1-1.5 mm dari kambium
Dasar pemikiran:
1. Di dalam kulit batang terdapat pembuluh lateks, semakin ke dalam semakin
banyak
2. Jangan sampai terjadi kerusakan kambium agar kulit pulihan dapat
terbentuk dengan baik
3. Lamanya penyadapan 25-30 tahun.
Lingkaran Saluran Lateks yang Terpotong
Kedalaman irisan sadap dari:
kambium (mm) : 2.0 1.5 1.0 0.5
Saluran Latex yg Terpotong : 38 48 62 80
Ketebalan Irisan Sadap Dianjurkan ketebalan sadap sekitar 1.5-2.0 mm
setiap penyadapan.

3. Frekuensi dan intensitas sadapan


Frekuesi sadapan merupakan selang waktu penyadapan dengan satuan
waktu dalam hari, minggu,bulan dan tahun. Satuan ini bergantung pada sistem
penyadapan yang dilakukan.Bila penyadapan dilakukan terus-menerus setiap
hari maka maka penyadapan tersebut ditandai dengan d/1. Sedangkan, bila
dilakukan dengan selang dua hari maka waktunya ditandai dengan d/2dan
seterusnya.

21
Pada sadapan berkala atau secara periodik, lamanya penyadapan ditandai
dengan bilangan yang dibagi sedangkan lamanya putaran atau rotasi sampai
kulit kembali ditandai dengan bilangan pembagi. Pada sadapan yang berpindah
tempat, kulit batang disadap pada dua bidang sadap yang berbeda dengan cara
bergantia menurut selang waktu tertentu. Tanda dari site mini adalah
perkaliann dua faktor yang ditulis diantara tanda kurung.kedua faktor itu
adalah jumlah bidang sadap yang terpakai dengan nilai bagi dari lamanya
penyadapan. Sedangkan angka pembaginya adalah lamanya rotasi sadapan.
Intensitas ditentukan oleh panjang irisan dan frekuensi penyadapan. Pohon
yang baru disadap biasanya intensitas sadapnya sebesar 67% dan baru bisa
mencapai 100% pada tahun ketiga.

(a)

(d) (c)

Gambar 9.(a) Menyadap Karet, (b) Getah Karet Hasil Sadapan, (c) Slab Karet

Sumber : Panduan Budidaya Karet untuk Petani Skala Kecil. Lembar


InformasiAgroFor Sulawesi (Agroforestry dan Forestry)

22
BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Tanaman karet merupakan komoditi perkebunan yang penting dalam
industri otomotif. Karet (Hevea brasiliensis) berasal dari benua Amerika dan saat
ini menyebar luas ke seluruh dunia. Karet dikenal di Indonesia sejak masa
kolonial Belanda, dan merupakan salah satu komoditas perkebunan yang
memberikan sumbangan besar bagi perekonomian Indonesia.
Peningkatan produksi karet dapat dilakukan dengan penerapan teknologi
budidaya yang dianjurkan dan sudah sesuai dengan standar operaisonal prosedur,
mulai dari pemilihan bibit, penanganan bibit, persiapan lahan, penanaman,
pemeliharaan, panen dan pasca panen.

3.2 Saran

Tanaman karet merupakan komoditas tanaman yang sangat penting bagi


Indonesia dan memberikan sumbangan besar bagi perekonomian bangsa
Indonesia, maka diperlukan adanya budidaya agar kebutuhan akan tanaman karet
tercukupi dan mampu meningkatkan perekonomian Indonesia salah satunya
melalui industry dan ekspor. Pada budidaya tanaman karet diperlukan sinergisitas
antara pihak-pihak yang terkait baik pemerintah hingga masyarakat, baik dari
hulu hingga hilir, agar budidaya tanaman karet berjalan dengan tepat dan efisien .
Lalu, perlu diberikannya sosialisasi ataupun pengetahuan kepada para petani
tanaman karet dalam budidaya tanaman karet yang sudah sesuai prosedurnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, K. 2006. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Makalah pada pelatihan
“Tekno Ekonomi Agribisnis Karet”, Tanggal 18 Mei 2006 di Jakarta. PT. FABA
Indonesia Konsultan.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26966/4/Chapter%20II.pdf diakses
pada Selasa, 14 Oktober 2014 pukul 23:00 WIB
http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/wr301087.pdf diakses pada Selasa, 14
Oktober 2014 pukul 23:00 WIB
http://cybex.deptan.go.id/lokalita/syarat-penyadapan-tanaman-karet-yang-baik (diakses
pada tanggal 14 Oktober 2014, pukul 11.00)
Kiswanto, Purwanta, J.H dan Wijayanto,B. 2008. Teknologi Budidaya Karet. Bogor :
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian dan Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Novia, dkk. 2009. Pemanfaatan Biji Karet Sebagai Semi Drying Oil dengan Metode
Ekstraksi Menggunakan Pelarut N-Heksana. Jurnal Teknik Kimia. No.4 Vol. 16
Rosyid, M.J. 2006. Teknis Budidaya karet Bagi Pengembangan Wilayah Pasang Surut
di Kalimantan Tengah. Sembawa : Balai Penelitian Karet.
Suwarto & Octavianty, Yuke. 2010. Budi daya 12 Tanaman Perkebunan Unggulan.
Jakarta: Penebar Swadaya
Swadaya, Niaga. Karet.
http://books.google.co.id/books?id=B7sk0upj3WoC&pg=PA172&lpg=PA172&
dq=penetuan+matang+sadap+pada+karet&source=bl&ots=cOd1TnEh&sig=cUF
ZvPnYtM3YE0EXRrMsYwwL_Oc&hl=id&sa=X&ei=KKI8VLiyMdiXuATuk4
LQBw&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

24