Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN

SURVEILANS LINGKUNGAN TUBERKULOSIS DI DESA SUREN


KECAMATAN LEDOKOMBO KABUPATEN JEMBER TAHUN 2018
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Surveilans Kesehatan Masyarakat)
Surveilans Kesehatan Masyarakat Kelas A
Pukul 15.10 – 17.50/Ruang Kuliah 2

Dosen Pengampu:
Irma Prasetyowati, S.KM., M.Kes.
Yunus Ariyanto, S.KM., M.Kes.
Disusun oleh:
Kelompok 4
Fika Murti Utami 152110101016
Dewi Anggraeni 152110101036
Mia Syahradita 152110101059
Maya Indriyana Dewi 152110101098
Viona Reza Maulinda 152110101125
Disny Prajnawita 152110101132
Nikita Dwi Mulyaningsih 152110101145
Maya Risqi Nurlaili 152110101168
Geofani Armahedi 152110101215
Zulfaida Martha Isnayni 162110101041

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT, shalawat serta salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan rahmat-Nya, penulis
mampu menyelesaikan laporan ini guna memenuhi tugas mata kuliah Surveilans
Kesehatan Masyarakat. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit
hambatan yang penulis hadapi, namun penulis menyadari bahwa kelancaran
dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan ibu Irma
Prasetyowati, S.KM., M.Kes. dan bapak Yunus Ariyanto, S.KM., M.Kes. selaku
dosen pengampu mata kuliah Surveilans Kesehatan Masyarakat sehingga kendala-
kendala yang penulis hadapi dapat teratasi.
Makalah ini disusun untuk membahas permasalahan lingkungan rumah
penderita TB serta ditujukan untuk memenuhi penugasan mata kuliah yang
penulis sajikan berdasarkan pengamatan dari studi lapang dan didukung berbagai
sumber informasi, referensi dan berita. laporan ini disusun dengan berbagai
rintangan baik itu yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga laporan ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Jember. Penulis sadar bahwa laporan ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pengampu, penulis meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan laporan penulis di masa yang akan datang
dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Jember, 10 Juni 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................. iii

DAFTAR TABEL .......................................................................................... v

BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................. 2

1.3 Tujuan ................................................................................................... 2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 3

2.1 Surveilans Lingkungan TB .................................................................... 3

2.2 Tuberkulosis (TB).................................................................................. 6

2.3 Klasifikasi TB...................................................................................... 17

2.4 Pencegahan dan Pengobatan TB .......................................................... 18

2.5 Upaya yang Dilakukan Pemerintah ...................................................... 19

BAB 3. METODE KEGIATAN .................................................................. 21

3.1 Jenis Kegiatan...................................................................................... 21

3.2 Tempat dan Waktu Kegiatan ................................................................ 21

3.3 Populasi dan Sampel ............................................................................ 21

3.4 Sumber Data ........................................................................................ 22

3.5 Instrumen Pengambilan Data ............................................................... 22

iii
3.6 Teknik Pengambilan Data .................................................................... 23

3.7 Pengolahan, Penyajian dan Analisis Data ............................................. 23

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 25

4.1 Hasil .................................................................................................... 25

4.2 Pembahasan ......................................................................................... 31

BAB 5. PENUTUP ....................................................................................... 35

5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 35

5.2 Saran ................................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 37

LAMPIRAN................................................................................................. 39

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Distribusi Riwayat Penyakit TB Desa Suren Kecamatan Ledokombo . 25

Tabel 4.2 Komponen Langit – Langit Rumah ..................................................... 25

Tabel 4.3 Komponen Dinding Rumah ................................................................ 26

Tabel 4.4 Komponen Lantai Rumah ................................................................... 26

Tabel 4.5 Ketersediaan Jendela di Kamar Tidur ................................................. 27

Tabel 4.6 Ketersediaan Jendela di Ruang Keluarga ............................................ 27

Tabel 4.7 Komponen Ventilasi Rumah ............................................................... 28

Tabel 4.8 Komponen Lubang Asap Dapur di Rumah.......................................... 28

Tabel 4.9 Komponen Pencahayaan Rumah......................................................... 29

Tabel 4.10 Komponen Suhu Rumah ................................................................... 29

Tabel 4.11 Komponen Padatan Hunian Rumah .................................................. 30

Tabel 4. 12 Distribusi Status Rumah Sehat ......................................................... 30

v
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting
di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah
mencanangkan tuberkulosis sebagai “Global Emergency”. Laporan WHO tahun
2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun
2002, dimana 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Setiap detik
ada satu orang yang terinfeksi tuberkulosis di dunia ini, dan sepertiga penduduk
dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis. Jumlah terbesar kasus TB terjadi di
Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihat
dari jumlah pendduduk, terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk.Di Afrika
hampir 2 kali lebih besar dari Asia tenggara yaitu 350 per 100.000 penduduk.
Diperkirakan terdapat 2 juta kematian akibat tuberkulosis pada tahun 2002.
Jumlah terbesar kematian akibat TB terdapat di Asia tenggara yaitu 625.000 orang
atau angka mortaliti sebesar 39 orang per 100.000 penduduk. Angka mortaliti
tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per 100.000 penduduk, dimana prevalensi
HIV yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan cepat kasus TB yang muncul.
Di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun
2001 didapatkan bahwa penyakit pada sistem pernapasan merupakan penyebab
kematian kedua setelah sistem sirkulasi. Pada SKRT 1992 disebutkan bahwa
penyakit TB merupakan penyebab kematian kedua, sementara SKRT 2001
menyebutkan bahwa tuberkulosis adalah penyebab kematian pertama pada
golongan penyakit infeksi.

Sementara itu dari hasil laporan yang masuk ke subdit TB P2MPL


Departemen Kesehatan tahun ,2001 terdapat 50.443 penderita BTA positif yang
diobati (23% dari jumlah perkiraan penderita BTA positif ). Tiga perempat dari
kasus TB ini berusia 15 – 49 tahun. Pada tahun 2004 WHO memperkirakan setiap
tahunnya muncul 115 orang penderita tuberkulosis paru menular (BTA positif)
1
pada setiap 100.000 penduduk. Saat ini Indonesia masih menduduki urutan ke 3 di
dunia untuk jumlah kasus TB setelah India dan China.

1.2 Rumusan Masalah


1) Apakah yang dimaksud dengan surveilans lingkungan TB?
2) Apakah yang dimaksud dengan penyakit TB?
3) Apa saja klasifikasi dari penyakit TB?
4) Bagaimana pencegahan dan pengobatan penyakit TB?
5) Bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah terkait penanggulangan TB?
6) Metode apa yang digunakan peneliti dalam melakukan kegiatan surveilans
penyakit TB?
7) Bagaimanakah hasil dari penelitian survei cepat penyakit TB?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui maksud dari surveilans lingkungan TB
2) Untuk mengetahui maksud dari penyakit TB
3) Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit TB
4) Untuk mengetahui cara pencegahan dan pengobatan penyakit TB
5) Untuk mengetahui upaya yang dilakukan pemerintah terkait
penanggulangan TB
6) Untuk mengetahui metode yang digunakan peneliti dalam melakukan
kegiatan surveilans penyakit TB
7) Untuk mengetahui hasil dari penelitian survei cepat penyakit TB

2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Surveilans Lingkungan TB


2.1.1 Definisi TB
Menurut Kepmenkes RI Nomor 1479/MENKES/SK/X/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan
PenyakitTidak Menular Terpadu, menyebut bahwa surveilans adalah adalah
kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau
masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya
peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut,
agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui
proses pengumpulan data, pengolahan, dan penyebaran informasi epidemiologi
kepada penyelenggara program kesehatan.
Sedangkan surveilans lingkungan adalah pengamatan dan pengkajian
secara sistematik terhadap aspek-aspek lingkungan sebagai faktor resiko , dalam
rangka menurunkan prevalensi penyakit menular. Dari hasil penelitian
Riswanto(2010) menunjukkan bahwa lingkungan yang kurang sehat akan lebih
berisiko terpapar tuberkulosis. Lingkungan yang dimaksud diantaranya kepadatan
hunian, lantai rumah, ventilasi, pencahayaan, dan suhu sangat penting untuk
memenuhi syarat lingkungan rumah yang sehat. Kualitas udara dalam ruangan
dipengaruhi ada tidaknyaventilasi yang tentu saja harus memenuhi syarat yaitu
10% lebih luas darilantai. Menurut penelitian Fatimah (2008), lingkungan juga
merupakan salah satufaktor risiko terjadinya Tuberkulosis.
Pada faktor kepadatan penghuni dapat dijelaskan, bahwa semakin padat
maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit melalui udara akan semakin
mudah dan cepat. Sesuai standart Depkes, tingkat kepadatan rumah minimal 10
m2 per orang, jarak antar tempat tidur satu dengan lainnya 90 cm. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa risiko terjadinya TB Paru jauh lebih tinggi pada
penduduk yang tinggal pada rumah yang tidak memenuhi standar kepadatan
hunian. Faktor lantai terkait dengan dengan tingkat kelembaban ruangan, sehingga
pada kondisi lantai tumah terbuat dari tanah, cenderung mempengaruhi viabilitas
3
kuman TBC di lingkungan yang pada akhirnya dapat memicu daya tahan kuman
TBC di udara semakin lama.
Faktor ventilasi akan terkait dengan sirkulasi pergantian udara dalam
rumah serta proses pengurangan tingkat kelembaban. Standar luas ventilasi sesuai
Kepmenkes Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah 10% dari luas lantai.
Ventilasi selain berperan sebagai tempat masuk sinar matahari, juga
mempengaruhi dilusi udara, yang dapat mengencerkan konsentrasi kuman TBC
atau kuman lain, yang dapat terbawa keluar ruangan, yang pada akhirnya dapat
mati oleh sinar ultra violet matahari.Beberapa penelitian menunjukkan, bahwa
luas lubang ventilasi rumah dan pencahayaan rumah mempengaruhi kehidupan
bakteri dan jamur dalam rumah. Sementara penelian lain menyimpulkan bahwa
faktor-faktor yang berhubungan dengan penularan penyakit TB Paru adalah
kepadatan hunian kamar tidur, pencahayaan sinar matahari, ventilasi, jenis lantai,
jenis dinding, dan bahan bakar yang digunakan dalam rumah tangga, status gizi,
dan perilaku merokok.
Menurut penelitian semua cahaya pada dasarnya dapat membunuh kuman
TBC, tergantung jenis dan intensitasnya. Pencahayaan yang tidak memenuhi
syarat berisiko 2,5 kali terkena TBC dibanding yang memenuhi syarat Rumah
memerlukan cahaya cukup, khususnya sinar matahari dengan ultra violet nya.
Pemenuhan pencahayaan rumah selain dipenuhi dari sumber buatan seperti lampu,
juga oleh keberadaan ventilasi dan genteng kaca di rumah kita. Sebagaimana kita
ketahui, penyakit TB Paru disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang
menular melalui udara. Proses penularan tidak sederhana, misalnya dengan
menghirup udara bercampur bakteri TBC lalu terinfeksi kemudian menderita
penyakit TB Paru. Masih banyak faktor atau variabel yang berperan dalam
timbulnya TB Paru pada seseorang. Daya penularan ditentukan banyaknya kuman
dan patogenitas kuman, serta lamanya seseorang menghirup udara yang
mengandung bakteri TBC.
Faktor Kelembaban. Tingkat kelembaban masih terkait erat dengan tingkat
kepadatan dan ventilasi rumah. Kelembaban merupakan sarana yang baik untuk

4
pertumbuhan mikroorganisme, termasuk TBC. Namun kelembaban juga
dipengaruhi oleh topografi sehingga wilayah lebih tinggi cenderung memiliki
kelembaban yang lebih rendah. Menurut penelitian, penghuni rumah menempati
rumah dengan tingkat kelembaban ruang lebih besar dari 60% berisiko terkena TB
Paru 10,7 kali dibanding yang tinggal pada rumah dengan kelembaban lebih kecil
atau sama dengan 60%.
2.1.2 Tujuan Surveilans TB
1. Terselenggaranya surveilans faktor resiko lingkungan dalam rangka
menurunkan prevalensipenyakit menular TB
2. Pengumpulan data faktor resiko lingkungan berdasarkan penyakit
3. Pengolahan dan analisis data faktor resiko lingkungan berdasarkan penyakit
4. Diseminasi informasi hasil kajian faktor resiko lingkungan
5. Rencana tindak lanjut
2.1.3 Langkah – Langkah Surveilans TB
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45
Tahun 2014 Langkah-langkah Surveilans Kesehatan dilakukan melalui
pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, dan diseminasi sebagai satu
kesatuan yang tidak terpisahkan untuk menghasilkan informasi yang objektif,
terukur, dapat diperbandingkan antar waktu, antar wilayah, dan antar kelompok
masyarakat sebagai bahan pengambilan keputusan.
1. Pengumpulan data dilakukan dengan cara:
a. Aktif
Pengumpulan data secara aktif dilakukan dengan cara mendapatkan
data secara langsung dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan, masyarakat atau
sumber data lainnya, melalui kegiatan Penyelidikan Epidemiologi, surveilans
aktif puskesmas/rumah sakit, survei khusus, dan kegiatan lainnya.
b. Pasif
Pengumpulan data secara pasif dilakukan dengan cara menerima data
dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya,

5
dalam bentuk rekam medis, buku register pasien, laporan data
kesakitan/kematian, laporan kegiatan, laporan masyarakat dan bentuk lainnya.
2. Pengolahan data dilakukan dengan cara perekaman data, validasi, pengkodean,
alih bentuk (transform) dan pengelompokan berdasarkan tempat, waktu, dan
orang.
3. Analisis data dilakukan dengan metode epidemiologi deskriptif dan/atau
analitik untuk menghasilkan informasi yang sesuai dengan tujuan surveilans
yang ditetapkan.
4. Diseminasi dilakukan dengan cara:
a. Menyampaikan informasi kepada unit yang membutuhkan untuk
dilaksanakan tindak lanjut;
b. Menyampaikan informasi kepada Pengelola Program sebagai sumber
data/laporan surveilans sesuai ketentuan peraturan perundangundangan;
dan
c. Memberikan umpan balik kepada sumber data dalam rangka perbaikan
kualitas data.

2.2 Tuberkulosis (TB)


2.2.1 Definisi
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis atau kuman TB. Sebagian bakteri ini menyerang
paru-paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya (Depkes RI, 2011).
Manusia adalah satu-satunya tempat untuk bakteri tersebut menyerang. Bakteri ini
berbentuk batang dan termasuk bakteri aerob obligat (Todar, 2009).
Bakteri Mycobacterium tuberculosis tidak menghasilkan spora dan toksin.
Ukuran dari bakteri ini cukup kecil yaitu 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron,
berbentuk batang, tipis, lurus atau agak bengkok, dan bergranul, serta tidak
mempunyai selubung.Tetapi, mempunyai lapisan luar yang tebal yang terdiri dari
lipoid (terutama asam mikolat). Mycobacterium tuberculosisdapat bertahan
terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol sehingga sering disebut
dengan bakteri tahan asam (BTA). Selain itu, bakteri ini juga tahan terhadap
6
suasana kering dan dingin, serta dapat bertahan pada kondisi rumah atau
lingkungan yang lembab dan gelap hingga berbulan-bulan namun, bakteri ini tidak
tahan atau dapat mati apabila terkena sinar, matahari atau aliran udara
(Widoyono,2011).
Pada saat penderita TB batuk dan bersin kuman menyebar melalui udara
dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei) dimana terdapat 3.000 percikan
dahak dalam sekali batuk (Depkes RI, 2007). M. tuberculosis ditularkan melalui
percikan ludah. Infeksi primer dapat terjadi di paru-paru, kulit dan usus (Hull,
2008). Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru, tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus
(Depkes, 2007). Penyakit ini, apabila tidak diobati atau pengobatannya tidak
dilakukan dengan tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga
kematian.
2.2.2 Penyebab TB
Penyebab penyakit TB paru adalah Mycrobacterium tuberkulosis, bakteri
ini masuk dalam bentuk batang dan memiliki sifat tahan terhadap asam atau
Batang Tahan Asam (BTA). Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis
BTA positif pada waktu batuk atau bersin. Penderita menyebarkan kuman ke
udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman
dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat
terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan.Setelah
kuman tuberkulosis masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman
tuberkulosis tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya melalui
sistem peredaran darah, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian
tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan
dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif
(tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Seseorang
terinfeksi tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan

7
lamanya menghirup udara tersebu (Manalu, 2010; Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia, 2006).
2.2.3 Gejala TB
Gejala TB pada umumnya penderita mengalami batuk dan berdahak terus-
menerus selama 2 minggu atau lebih, yang disertai dengan gejala pernafasan lain,
seperti sesak nafas, batuk darah nyeri dada, badan lemah, nafsu makan atau
pernah batuk darah, berat badan menurun, berkeringan malam walaupun tanpa
kegiatan, dan demam meriang lebih dari sebulan (WHO, 2009).
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2005,
gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik sebagai berikut :
1. Gejala respiratorik
a. batuk ≥ 3 minggu
b. batuk darah
c. sesak napas
d. nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang penderita
terdiagnosis pada saat medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam
proses penyakit, maka penderita mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk
yang pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk
diperlukan untuk membuang dahak ke luar.
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat,
misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang
lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis
tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis, sementara pada pleuritis
tuberkulosa terdapat gejala sesak napas dan terkadang nyeri dada pada sisi
yang rongga pleuranya terdapat cairan.
2. Gejala sistemik
a. Demam
b. Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun

8
2.2.4 Cara Penularan
Penyakit TB paru ini dapat ditularkan oleh penderita dengan hasil
pemeriksaan BTA positif. Lebih jauh lagi, penularan TB paru dapat terjadi di
dalam ruangan yang gelap dan lembab karena kuman M. tuberculosis ini dapat
bertahan lama apabila di kondisi ruangan yang gelap dan lembab tersebut. Dalam
hal ini, makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan, maka orang itu makin
berpotensi untuk menularkan kuman tersebut. Selain itu, faktor yang
memungkinkan seseorang untuk terpapar yaitu seberapa lama menghirup udara
yang sudah terkontaminasi kuman M. tuberculosis tersebut dan konsentrasi
percikan dalam udara itu (Depkes RI,2007).
Risiko seseorang untuk tertular TB paru tergantung dari tingkat pajanan
percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif akan memberikan risiko
penularan lebih besar dibandingkan pasien TB paru dengan BTA negatif (Depkes
RI, 2007; Widoyono, 2011). Faktor daya tahan tubuh yang rendah, misalnya pada
penyakit HIV/AIDS,akan mempengaruhi seseorang untuk tertular suatu penyakit.
Penyakit HIV merupakanfaktor risikoyang paling kuatbagi yang terinfeksi TB
paru menjadisakit TB paru.Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem
daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta
(oportunistic), seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit
parah bahkan bisa mengakibatkan kematian (Depkes RI, 2007; Depkes, 2011).
2.2.5 Pathogenesis
1. Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman
TBC.Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati
sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan terus berjalan sehingga sampai di
alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil
berkembangbiak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan
peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke kelenjar
limfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara
terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6

9
minggu.Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi
tuberkulin dari negatif menjadi positif (Depkes RI, 2008).
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang
masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler).Pada umumnya
reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TBC.
Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister
atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu
menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan yang
bersangkutan akan menjadi penderita TBC. Masa inkubasi, yaitu waktu yang
diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan
(Depkes RI, 2008).
2. Tuberkulosis Pasca Primer
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau
tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat
terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk.Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer
adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura
(Depkes RI, 2008).
2.2.6 Diagnosis TB
1. Diagnosis Tuberkulosis Pada Orang Dewasa
Diagnosis pasti TBC seperti lazimnya penyakit menular yang lain adalah
dengan menemukan kuman penyebab TBC yaitu kuman Mycobacterium
Tuberculosis pada pemeriksaan sputum, bilas lambung, cairan serebrospinal,
cairan pleura ataupun biopsi jaringan (Kemenkes RI, 2013). Pemeriksaan yang
paling sering dilakukan adalah pemeriksaan 3 spesimen dahak Sewaktu Pagi
Sewaktu (SPS) yaitu:
a. Sewaktu (S): pengambilan dahak saat penderita pertama kali berkunjung
ke tempat pengobatan dan dicurigai menderita TBC.
b. Pagi (P): pengambilan dahak pada keesokan harinya, yaitu pada pagi hari
segera setelah bangun tidur.

10
c. Sewaktu (S): pengambilan dahak saat penderita mengantarkan dahak pagi
ke tempat pengobatan.
Hasil pemeriksaan dinyatakan positif bila sekurang-kurang 2 dari 3
spesimen dahak SPS hasilnya positif.Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu
diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan
dahak SPS diulang.Bila hasil rontgen mendukung TBC, maka penderita
didiagnosis menderita TBC BTA positif, namun bila hasil rontgen tidak
mendukung TBC, maka pemeriksaan dahak SPS diulangi.Apabila fasilitas
memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan biakan/kultur.Pemeriksaan
biakan/kultur memerlukan waktu yang cukup lama serta tidak semua unit
pelaksana memilikinya, sehingga jarang dilakukan (Depkes RI, 2008).
2. Diagnosis Tuberkulosis Pada Anak
TBC anak adalah penyakit TBC yang terjadi pada anak usia 0-14 tahun.
Diagnosis paling tepat adalah dengan ditemukannya kuman TBC dari bahan yang
diambil dari penderita.Tetapi pada anak hal ini sangat sulit dan jarang didapat,
sehingga sebagian besar diagnosis TBC anak didasarkan atas gambaran klinis,
gambaran foto rontgen dada dan uji tuberkulin.Selain melihat gejala umum TBC
anak, seorang anak harus dicurigai menderita tuberkulosis bila mempunyai sejarah
kontak erat (serumah) dengan penderita TBC BTA positif dan terdapat reaksi
kemerahan cepat setelah penyuntikan BCG (dalam 3-7 hari) (Depkes RI, 2008).
a. Uji Tuberkulin (Mantoux)
Uji tuberkulin dilakukan dengan cara Mantoux (pernyuntikan
intrakutan) dengan semprit tuberkulin 1 cc jarum nomor 26. Tuberkulin
yang dipakai adalah tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU.Pembacaan
dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan.Diukur diameter transveral dari
indurasi yang terjadi. Ukuran dinyatakan dalam milimeter, uji tuberkulin
positif bila indurasi >10 mm (pada gizi baik ), atau >5 mm pada gizi
buruk. Bila uji tuberkulin positif, menunjukkan adanya infeksi TBC dan
kemungkinan ada TBC aktif pada anak.Namun uji tuberkulin dapat negatif
pada anak TBC dengan anergi (malnutrisi, penyakit sangat berat

11
pemberian imunosupresif, dll).Jika uji tuberkulin meragukan dilakukan uji
ulang (Depkes RI, 2008).
b. Reaksi Cepat BCG
Saat penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3-7 hari) berupa
kemerahan dan indurasi > 5 mm, maka anak tersebut dicurigai telah
terinfeksi Mycobacterium tubercolosis (Depkes RI, 2008).
c. Foto Rontgen dada
Gambar rontgen TBC paru pada anak tidak khas dan interpretasi
foto biasanya sulit, harus hati-hati kemungkinan bisa overdiagnosis atau
underdiagnosis.Paling mungkin kalau ditemukan infiltrat dengan pembesar
kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal. Gejala lain dari foto rontgen yang
mencurigai TBC adalah milier, atelektasis/kolaps konsolidasi, infiltrat
dengan pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal, konsolidasi (lobus),
reaksi pleura dan atau efusi pleura, kalsifikasi, bronkiektasis, kavitas,
destroyed lung. Bila ada diskongruensi antara gambar klinis dan gambar
rontgen harus dicurigai TBC.Foto rontgen dada sebaiknya dilakukan PA
(postero-anterior) dan lateral, tetapi kalau tidak mungkin PA saja (Depkes
RI, 2008).
d. Pemeriksaan mikrobiologi dan serologi
Pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung pada anak
biasanya dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit didapat pada
anak. Pemeriksaan BTA secara biakan (kultur) memerlukan waktu yang
lama. Cara baru untuk mendeteksi kuman TBC dengan cara Polymery
Chain Reaction (PCR) atau Bactec masih belum dapat dipakai dalam klinis
praktis. Demikian juga pemeriksaan serologis seperti Elisa, Pap, Mycodot
dan lain-lain masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk pemakaian
dalam klinis praktis (Depkes RI, 2008).
e. Diagnosis TB anak dengan Sistem Skoring
Pada waktu menegakkan diagnosis TBC anak, semua prosedur
diagnostik dapat dikerjakan, namun apabila dijumpai keterbatasan sarana

12
diagnostik yang tersedia, dapat menggunakan suatu pendekatan lain yang
dikenal sebagai sistem skoring. Sistem skoring tersebut dikembangkan
diuji coba melalui tiga tahap penelitian oleh Ikatan Dokter Anak Indoneisa
(IDAI), Kemenkes dan didukung oleh WHO dan disepakati sebagai salah
satu cara untuk mempermudah penegakan diagnosis TBC anak terutama di
fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Sistem skoring ini membantu tenaga
kesehatan agar tidak terlewat dalam mengumpulkan data klinis maupun
pemeriksaan penunjang sederhana sehingga diharapkan dapat mengurangi
terjadinya underdiagnosis maupun overdiagnosis TBC.
Penilaian/pembobotan pada sistem skoring dengan ketentuan
sebagai berikut: parameter uji tuberkulin dan kontak erat dengan pasien
TBC menular mempunyai nilai tertinggi yaitu 3, uji tuberkulin bukan
merupakan uji penentu utama untuk menegakkan diagnosis TB pada anak
dengan menggunakan sistem skoring, pasien dengan jumlah skor ≥6 harus
ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT. Diagnosis TB Anak
ditegakkan oleh Dokter.Jika dijumpai skrofulderma, maka langsung
didiagnosis TBC.Setelah dinyatakan sebagai pasien TBC anak dan
diberikan pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) harus dilakukan
pemantauan hasil pengobatan secara cermat terhadap respon klinis
pasien.Apabila respon klinis terhadap pengobatan baik, maka OAT dapat
dilanjutkan sedangkan apabila didapatkan respons klinis tidak baik maka
sebaiknya pasien segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan
untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

13
Tabel 2. 1 Sistem Skoring (scoring system) Gejala dan Pemeriksaan
Penunjang TBC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

2.2.7 Faktor Risiko


1. Faktor Predisposisi
a. Umur
Tuberkulosis dapat menyebabkan kematian pada kelompok anak-anak dan
pada usia remaja. Kejadian infeksi TBC pada anak usia dibawah 5 tahun
mempunyai risiko 5 kali dibandingkan anak usia 5-14 tahun. Di Indonesia
diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50
tahun (Depkes, 2008).

14
b. Pendidikan dan Pengetahuan
Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan seseorang
diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan
penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang
akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat.
c. Perilaku
Perilaku seseorang yang berkaitan dengan penyakit TBC adalah perilaku
yang mempengaruhi atau menjadikan seseorang untuk mudah terinfeksi/tertular
kuman TB misalnya kebiasaan membuka jendela setiap hari, menutup mulut bila
batuk atau bersin, meludah sembarangan, merokok dan kebiasaan menjemur kasur
ataupun bantal.
d. Imunisasi
Proses terjadinya penyakit infeksi dipengaruhi oleh faktor imunitas
seseorang. Anak merupakan kelompok rentan untuk menderita tuberkulosis, oleh
karena itu diberikan perlindungan terhadap infeksi kuman tuberkulosis berupa
pemberian vaksinasi BCG pada bayi berusia kurang dari dua bulan.
e. Status Gizi
Status gizi merupakan variabel yang sangat berperan dalam timbulnya
kejadian TBC Paru, tetapi hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang
lainnya seperti ada tidaknya kuman TBC pada paru. Kuman TBC merupakan
kuman yang dapat “tidur” bertahun-tahun dan apabila memiliki kesempatan
“bangun” dan menimbulkan penyakit maka timbullah kejadian penyakit TBC
Paru.
f. Kontak Penderita
Seseorang dengan BTA positif sangat berisiko untuk menularkan pada
orang disekelilingnya terutama keluarganya sendiri khususnya anak-anak.Semakin
sering seseorang melakukan kontak dengan penderita BTA positif maka semakin
besar pula risiko untuk tertular kuman tuberkulosis, apalagi ditunjang dengan
kondisi rumah dan lingkungan yang kurang sehat (Depkes, 2008).

15
g. Status Sosial Ekonomi
WHO (2003) menyebutkan penderita TBC Paru didunia menyerang
kelompok sosial ekonomi lemah atau miskin.Walaupun tidak berhubungan secara
langsung namun dapat merupakan penyebab tidak langsung seperti adanya kondisi
gizi memburuk, perumahan tidak sehat, dan akses terhadap pelayanan kesehatan
juga menurun kemampuannya. Apabila status gizi buruk maka akan menyebabkan
kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TBC Paru.
2. Faktor Pendukung
a. Kepadatan Hunian
Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan
dalam m 2 /orang.Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas
bangunan dan fasilitas yang tersedia.Untuk rumah sederhana luasnya minimum 10
m2 /orang.Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m2 /orang. Untuk
mencegah penularan penyakit pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu
dengan yang lainnya minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni oleh
lebih dari dua orang, kecuali untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun (Depkes
RI, 2001).
b. Pencahayaan
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak
terlalu banyak.Kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama
cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat
yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit.
c. Ventilasi dan Kelembaban Udara
Rumah yang sehat harus memiliki ventilasi untuk menjaga agar aliran
udara didalam rumah tersebut tetap segar, sehingga keseimbangan oksigen yang
diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi juga
menyebabkan kelembaban di dalam ruangan meningkat. Kelembaban ini akan
menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/bakteri
penyebab penyakit, misalnya kuman TBC.

16
3. Faktor Pendorong
a. Tingkat penularan
Faktor risiko infeksi TBC anak salah satunya dipengaruhi oleh tingkat
penularan (derajat sputum BTA).Pasien TBC dewasa dengan BTA positif
memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pada pasien TBC
dengan BTA negatif, meskipun masih memiliki kemungkinan menularkan
penyakit TBC. Tingkat penularan pasien TBC BTA positif adalah 65%, pasien
BTA negatif dengan hasil kultur positif adalah 26% sedangkan pasien TBC
dengan hasil kultur negatif dan foto thoraks positif adalah 17% (Kemenkes RI,
2013).
b. Lamanya kontak
Sumber penularan yang paling berbahaya adalah penderita TBC paru
dewasa dan orang dewasa yang menderita TBC paru dengan kavitas (lubang pada
paru-paru).Kasus seperti ini sangat infeksius dan dapat menularkan penyakit
melalui batuk, bersin dan percakapan.Semakin sering terpajan dan lama kontak,
makin besar pula kemungkinan terjadi penularan.
c. Daya tahan tubuh anak
TBC menyebabkan keadaaan gizi anak memburuk dan merupakan salah
satu penyebab lingkaran sebab akibat dari kurang gizi dan infeksi.Pemenuhan gizi
yang seimbang berkorelasi langsung dengan pembentukan sistem imun tubuh
anak.Makin baik gizinya, makin baik pula imunitas tubuhnya.

2.3 Klasifikasi TB
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru
(parenkim paru) tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil
pemeriksaan dahak, menurut Depkes RI (2008), TBC paru dibagi dalam :
1. Tuberkulosis Paru BTA Positif
Sekurang-kurang 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada
menunjukkan gambar tuberkulosis aktif. Satu spesimen dahak SPS hasilnya
BTA positif dan biakan kuman TBC positif. Satu atau lebih spesimen dahak
17
hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya
hasil BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT
2. Tuberkulosis Paru BTA Negatif
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif. Foto rontgen
dada menunjukkan gambar tuberkulosis aktif. TBC paru BTA negatif rontgen
positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat
dan ringan. Bentuk berat bila gambar foto rontgen dada memperlihatkan
gambar kerusakan paru yang luas dan/atau keadaan umum penderita buruk
(Depkes RI, 2008). Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non
OAT. Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
3. Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ
tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung
(pericardium) kelenjar lymfe, tulang persendian, kulit, usus, ginjal, saluran
kencing, alat kelamin dan lain-lain. TBC ekstra paru dibagi berdasarkan pada
tingkat keparahan penyakit yaitu :
a. TBC Ekstra Paru Ringan Misalnya TBC kelenjar limfe, pleuritis
eksudativa unilateral tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar
adrenal.
b. TBC Ekstra Paru Berat Misalnya meningitis, millier, perikarditis,
peritionitis, pleuritis eksudativa duplex, TBC tulang belakang, TBC usus,
TBC saluran kencing dan alat kelamin (Depkes RI, 2008).

2.4 Pencegahan dan Pengobatan TB


1. Pencegahan TB
a. Saat batuk seharusnya menutupi mulutnya, dan apabila batuk lebih dari
3 minggu, merasa sakit di dada dan kesukaran bernafas segera dibawa
kepuskesmas atau ke rumah sakit.
b. Saat batuk memalingkan muka agar tidak mengenai orang lain.

18
c. Membuang ludah di tempat yang tertutup, dan apabila ludahnya
bercampur darah segera dibawa ke puskesmas atau ke rumah sakit.
d. Mencuci peralatan makan dan minum sampai bersih setelah digunakan
oleh penderita.
e. Bayi yang baru lahir dan anak-anak kecil harus diimunisasi dengan
vaksin BCG. Karena vaksin tersebut akan memberikan perlindungan
yang amat bagus.
2. Pengobatan TB
a. Jenis Obat
i. Isoniasid
ii. Rifampicin
iii. Pirasinamid
iv. Streptomicin
b. Prinsip Obat
Obat TB Diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan,supaya semua
kuman dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutan
ditelan dalam dosis tunggal,sebaiknya pada saat perut kosong. Apabila
paduan obat yangdigunakan tidak adekuat, kuman TB akan
berkembangmenjadi kuman kebal. Pengobatan TB diberikan dalan 2
Tahap yaitu:
i. Tahap intensif : Pada tahap intensif penderita mendapat obat
(minumobat) setiap hari selama 2 - 3 bulan.
ii. Tahap lanjutan : Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat
(minumobat) tiga kali seminggu selama 4 – 5 bulan.

2.5 Upaya yang Dilakukan Pemerintah


Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menangani
masalah TBC adalah dengan diadakannya Rapat Kerja Kesehatan Daerah
(Rakerkesda) di Provinsi Bengkulu tahun 2018. Rapat kerja kesehatan tersebut
mengusung tema yang sesuai dengan pemerintah pusat, yakni “Sinergisme pusat
19
dan daerah dalam upaya percepatan eliminasi TBC, penurunan stunting dan
peningkatan cakupan serta mutu imunisasi melalui program Indonesia Sehat
dengan pendekatan keluarga (PIS-PK). Kebijakan pemerintah yang dihasilkan
melalui rapat kesehatan tersebut untuk mengatasi masalah TBC yakni dengan
penilaian resiko TB, skrinning dan diagnosis TBC, inisiasi pengobatan, kepatuhan
pengobatan dan keberhasilan pengobatan. Selain itu, untuk jangka panjang (2015-
2030) telah dilakukan terobosan diantaranya kampanye temukan TBC obat sampai
sembuh, gerakan ketuk pintu terintegrasi melalui pendekatan keluarga, dan
gerakan masyarakat (germas) hidup sehat.

20
BAB 3. METODE KEGIATAN

3.1 Jenis Kegiatan


Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif dengan
kegiatan observasional-analitik. Kegiatan tersebut bertujuan untuk melihat riwayat
kejadian Tuberculosis dengan kondisi rumah yang ada di Desa Ledokombo,
Kabupaten Jember. Metode yang digunakan adalah dengan metode survei cepat
atau Rapid Survei Method untuk mengetahui surveilans kesehatan lingkungan
Tubercullosis Paru di Kabupaten Jember. Metode survei cepat atau Rapid Survei
Method merupakan kegiatan atau usaha pengumpulan informasi dari sebagian
populasi yang dianggap dapat mewakili populasi bersifat cepat.

3.2 Tempat dan Waktu Kegiatan


Penelitian ini dilaksanakan pada masyarakat di wilayah kerja Desa Suren
Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember. Waktu pelaksanaan penelitian pada 2
Mei 2018 sampai dengan 30 Mei 2018.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh warga masyarakat di
wilayah kerja Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang
diteiti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2015).
Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara acak atau
random, yang memiliki syarat yaitu boleh digunakan jika setiap anggota
dari populasi bersifat homogen atau diasumsikan homogeny (Nasution,
2003).
Sampel dalam penelitian ini adalah warga Desa Ledokombo yang
berdomisili wilayah kerja Desa Ledokombo Kecamatan Ledokombo

21
Kabupaten Jemberdan memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi dalam
penelitian ini antara lain:
a. Tercatatat sebagai warga kerja Desa Ledokombo Kecamatan Ledokombo
Kabupaten Jember
b. Masih tinggal atau berdomisili di Desa Ledokombo
c. Bersedia menjadi responden
d. Mengetahui keadaan dan kondisi keluarga
Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel dalam
penelitian ini dengan menggunakan probability samples yaitu teknik
cluster sampling dua tahap. Teknik tersebut merupaan pengambilan
anggota sampel dari populasi berdasarkan daerah populasi yang
ditetapkan, kemudian menentukan sampel yang ada pada daerah pemilihan
sampel tersebut secara acak atau dikenal dengan simple random
sampling,dengan jumlah sampel sebanyak 10 responden.

3.4 Sumber Data


Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data
primer merupakan data yang dikumpulkan sendiri oleh perorangan atau langsung
melalui obyeknya. Pengumpulan data ini biasanya dilakukan dengan membagikan
kuesioner kepada obyek penelitian dan di isi secara langsung oleh responden,
dimana data primer ini di dapat dari pengisian lembar observasi yang dilakukan
peneliti dari hasil wawancara dan dilakukan observasi langsung pada tempat
tinggal responden.

3.5 Instrumen Pengambilan Data


Instrumen yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa kuisioner.
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efesien apabila peneliti tahu
dengan siapa variabel akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari
responden. Kuesioner dapat berupa pertanyaan-pertanyaan tertutup atau terbuka,
dan diberikan kepada responden secara langsung (Sugiyono, 2012).

22
3.6 Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data yang digunakan untuk mendapatkan data atau
informasi yaitu:
a. Observasi
Menurut Sugiyono (2012), observasi adalah teknik pengumpulan data
untuk mengamati prilaku manusia, proses kerja, dan gejala-gejala alam,
dan responden. Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengamatan
langsung untuk menemukan fakta-fakta di lapangan. Instrumen yang
digunakan peneliti adalah observasi nonpartisipan tidak terstruktur.
b. Wawancara
Menurut Nazir (2014) yang dimaksud dengan wawancara adalah proses
memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab,
sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan yang
ditanya atau responden dengan menggunakna alat yang dinamakan
interview guide (panduan wawancara). Sedangkan dalam buku Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D Sugiyono (2012) menjelaskan
bahwa,Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila
peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan
permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin
mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah
responden sedikit atau kecil.
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah informasi yang berasal dari catatan penting baik dari
lembaga atau organisasi maupun dari perorangan (Hamidi, 2004). Sedangkan
menurut Arikunto (2006), dokumentasi merupakan mencari data mengenai
variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,
notulen rapat, agenda dan sebagainya.

3.7 Pengolahan, Penyajian dan Analisis Data


Pengolahan data merupakan kegiatan penyusunan data yang sudah
dikumpulkan ke dalam format-format tertentu, menggunakan teknik-teknik
23
pengolahan data yang sesuai. Dalam pengolahan data, terdapat langkah yang
penting yaitu kompilasi data, yang bertujuan untuk menghindari duplikasi (doble)
data dan untuk menilai kelengkapan data. Proses kompilasi data dapat dilakukan
secara manual (dengan kartu pengolah data atau master table), atau komputerisasi
(dengan aplikasi pengolah data, misalnya Epi info). Variabel yang dikompilasi
meliputi orang, tempat, dan waktu.
Data yang telah diolah kemudian dilakukan analisis untuk membantu
dalam penyusunan perencanaan program, monitoring, evaluasi, dan dalam upaya
pencegahan serta penanggulangan penyakit. Penganalisis data harus memahami
dengan baik data yang akan dianalisa. Penyajian data dapat dijadikan sebagai
kumpulan informasi yang tersusun sehingga memberikan kemungkinan adanya
penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian yang sering
digunakan adalah dalam bentuk naratif, bentuk matriks, grafik, dan bagan.

24
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Distribusi responden berdasarkan riwayat penyakit TB dari 10 KK di Desa
Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Tahun 2018 diperoleh data
sebagai berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Riwayat Penyakit TB Desa Suren Kecamatan Ledokombo

No Riwayat Penyakit TB Jumlah Persentase (%)


1 Tidak 10 100
2 Ya 0 0
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa semua responden di Desa Suren
Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember tidak pernah mengalami riwayat
penyakit TB.
Distribusi responden berdasarkan komponen rumah langit-langit dari 10
KK di Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Tahun 2018
diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.2 Komponen Langit – Langit Rumah

No Komponen Rumah Jumlah (KK) Persentase (%)


1. Langit-langit a. Tidak ada 4 40
b. Ada kotor, sulit 1 10
dibersihkan dan rawan
kecelakaan
c. Ada bersih, dan tidak 5 50
rawan kecelakaan
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa mayoritas masyarakat di Desa
Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember komponen rumah langit-langit
ada bersih dan tidak rawan kecelakaan sebesar 5 rumah (50%) dan sebagian kecil
memiliki langit-langit namun kotor (10%) serta ada yang tidak memiliki langit-
langit sebesar 40% atau sebanyak 4 responden.

25
Distribusi responden berdasarkan komponen rumah dinding dari 10 KK di
Desa Curahmalang Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember Tahun 2018
diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.3 Komponen Dinding Rumah

No Komponen Rumah Jumlah (KK) Persentase (%)


1. Dinding a. Bukan tembok (terbuat 1 10
dari anyaman
bamboo/ilalang)
b. Semi permanen / 1 10
setengah tembok/
pasangan bata atau batu
yang tidak di plester/
papan tidak kedap air
c. Permanen 8 80
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa mayoritas masyarakat di Desa
Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember komponen rumah dinding
permanen sebesar 80%, semi permanen sebesar 10% dan bukan tembok sebesar
10%.
Distribusi responden berdasarkan komponen rumah lantai dari 10 KK di
Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Tahun 2018 diperoleh
data sebagai berikut:
Tabel 4.4 Komponen Lantai Rumah

No Komponen Rumah Jumlah (KK) Persentase (%)


1. Lantai a. Tanah 1 10
b. Papan / anyaman 2 20
bamboo dekat dengan
tanah/ plester yang
retak atau berderu
c. Diplester/ ubin/ 7 70
keramik/ papan/ (rumah
panggung)
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)
Berdasarkan tabel diatas mayoritas penduduk Desa Suren yang komponen
rumah lantainya diplester/ubin/keramik/papan (rumah panggung) sebanyak 7 KK
dengan persentase sebesar 70%, sedangkan untuk komponen rumah lantainya
26
dengan papan/anyaman bambu dekat dengan tanah/plester yang retak atau
berdebu sebanyak 2 KK dengn persentase sebesar 20%, dan sisanya komponen
lantainya dengan tanah sebesar 10%.

Distribusi responden berdasarkan ketersediaan komponen rumah jendela


kamar tidur dari 10 KK di Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember
Tahun 2018 diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.5 Ketersediaan Jendela di Kamar Tidur

No Komponen Rumah Kriteria Jumlah (KK) Persentase (%)


1. Jendela Kamar Tidur Ada 5 50
Tidak ada 5 50
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahu bahwa penduduk Desa Suren yang
memiliki jendela kamar tidur sebanyak 5 KK dengan persentase sebesar 50% dan
yang tidak memiliki jendela kamar tidur sebanyak 5 KK dengan persentase
sebesar 50%.

Distribusi responden berdasarkan ketersediaan komponen rumah jendela


ruang keluarga dari 10 KK di Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten
Jember Tahun 2018 diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.6 Ketersediaan Jendela di Ruang Keluarga

No Komponen Kriteria Jumlah (KK) Persentase


Rumah (%)
1. Jendela ruang Ada 9 90
keluarga Tidak ada 1 10
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)

Berdasarkan tabel diatas diketahu bahwa mayoritas penduduk di Desa Suren


Kecamatan Ledokombo mempunyai komponen rumah jendela ruang keluarga
sebanyak 9 KK dengan persentase sebesar 90% dan yang tidak mempunyai
jendela ruang keluarga sebanyak 1 KK dengan persentase 10%.

27
Distribusi responden berdasarkan komponen rumah ventilasi dari 10 KK di
Desa Suren Kecamatan Ledokombo KabupatenJember Tahun 2018 diperoleh data
sebagai berikut:
Tabel 4.7 Komponen Ventilasi Rumah

No Komponen Rumah Jumlah (KK) Persentase (%)


1. Ventilasi a. Tidak ada 1 10
b. Ada, luas ventilasi <10% 3 30
dari luas lantai
c. Ada, luas ventilasi >10% 6 60
dari luas lantai
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar masyarakat di
Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember komponen rumah yaitu
memilikiventilasi yang luasnya >10% dari luas lantai sebesar 60%.

Distribusi responden berdasarkan komponen rumah lubang asap dapur dari


10 KK di Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Tahun 2018
diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.8 Komponen Lubang Asap Dapur di Rumah

No Komponen Rumah Jumlah (KK) Persentase (%)


1, Lubang asap a. Tidak ada 4 40
dapur
b. Ada, lubang ventilasi 4 40
dapur <10% dari luas
lantai dapur
c. Ada, lubang ventilasi 2 20
dapur >10% dari luas
lantai dapur
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa masyarakat di Desa Suren
Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember, pada komponen rumah yaitu memiliki
lubang ventilasi dapur yang luasnya <10% dari luas lantai dapur sebesar
40%,serta tidak memiliki lubang ventilasi dapur sebesar 40%.

28
Distribusi responden berdasarkan pencahayaan di rumah dari 10 KK di
Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Tahun 2018 diperoleh
data sebagai berikut:
Tabel 4.9 Komponen Pencahayaan Rumah

No Komponen Rumah Jumlah (KK) Persentase (%)


1. Pencahayaan a. Tidak terang <60 lux 6 60
b. Terang >60 lux 4 40
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar masyarakat di
Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember mempunyai tingkat
pencahayaan yang tidak terang<60 lux sebesar 60%.

Distribusi responden berdasarkan suhu, dari 10 KK di Desa Suren


Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember Tahun 2018 diperoleh sebagai berikut:
Tabel 4.10 Komponen Suhu Rumah

No Komponen Rumah Jumlah Persentase (%)


(KK)
1 Suhu a. Suhu rendah < - -
. b. Suhu tinggi > - -
10 100
c. Suhu sedang /suhu udara nyaman
yaitu antara 18 - C

Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa suhu di rumah semua responden


di Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember bersuhu sedang / suhu
udara nyaman yaitu antara 18 - C sebesar 100%.

Distribusi responden berdasarkan padatan Hunian dari 10 KK yang ada di


Desa Suren Kecamatan Ledok Ombo Kabupaten Jember tahun 2018 diperoleh
data sebagai berikut :

29
Tabel 4.11 Komponen Padatan Hunian Rumah

No Komponen Rumah Jumlah (KK) Persentase (%)

1.. Padatan Hunian a. Padat < 2 20


b. Tidak padat > 8 80
Total 10 100
Sumber: Data Primer Terolah (2018)

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar responden di


Desa Suren Kecamatan Ledok Ombo Kabupaten Jember padatan hunian mereka
yaitu sebesar 80% tidak padat > dan sebesar 20% padat < .

Distribusi responden berdasarkan status rumah sehat dari 10 KK di Desa


Suren Kecamatan Ledok Ombo Kabupaten Jember Tahun 2018 diperoleh data
sebagai berikut:

Tabel 4. 12 Distribusi Status Rumah Sehat

No Nama Pemilik Rumah Total Skor Persentase (%) Status Rumah Sehat
1. Slamet Riyadi 496 100 Rumah Sehat
2. Mirnawi 372 75 Rumah Sehat
3. Ansori Edi 248 50 Rumah Tidak Sehat
4. Peri Bi’i 310 62,5 RumahKurang Sehat
5. Briwa 62 12,5 Rumah Tidak Sehat
6. Salimun 310 62,5 Rumah Kurang Sehat
7. Siti Sahara 496 100 Rumah Sehat
8. Simatun 434 87,5 Rumah Sehat
9. Rudi 310 62,5 Rumah Kurang Sehat
10. Miskan 465 93,75 Rumah Sehat
Sumber: Data Primer Terolah (2018)

Berdeasarkan tabel diatas diketahui bahwa mayoritas rumah yang dimiliki


oleh responden di Desa Suren Kecamatan Ledok Ombo Kabupaten Jember
tergolong dalam kategori rumah sehat sebanyak 5 rumah, kategori rumah kurang
sehat terdapat sebanyak 3 rumah, dan kategori rumah yang tidak sehat terdapat 2
rumah.

30
4.2 Pembahasan
Menurut Hendrick L. Blum derajat kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi
oleh empat faktor yaitu faktor perilaku, faktor lingkungan, faktor keturunan dan
faktor pelayanan kesehatan, dari keempat faktor tersebut yang pengaruhnya cukup
besar adalah faktor perilaku dan diikuti oleh pengaruh faktor lingkungan, setelah
itu faktor pelayanan kesehatan, dan yang terakhir faktor keturunan. Keempat
faktor di atas sangat berhubungan dan saling mempengaruhi (Syukra dan Sriani,
2015).
Penyakit yang timbul karena faktor lingkungan salah satunya adalah penyakit
tuberkulosis (TB). Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi paling sering
menyerang jaringan paru, disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit
tuberkulosis (TB) paru ini dapat menyerang semua usia dengan kondisi klinis
yang berbeda-beda atau tanpa dengan gejala sama sekali hingga manifestasi berat
(Kemenkes, 2011). Tuberculosis (TB) merupakan penyakit yang menular melalui
droplet pada orang yang terinfeksi kuman Mycobacterium tuberculosis, penyakit
tuberculosis dapat menyebar secara luas dan cepat. MDGs memberikan komitmen
secara global pada pengendalian penyakit HIV/A, malaria,dan tuberculosis
(Depkes RI, 2008).
Pasien dengan TB BTA positif merupakan sumber penularan penyakit
tuberculosis. Batuk atau bersin dari pasien TB akan menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk droplet nuclei (percikan dahak). Kurang lebih 3000 percikan dahak
dihasilkan pada waktu sekali batuk. Percikan dahak yang berada pada waktu yang
lama dalam suatu ruangan akan memudahkan terjadinya penularan penyakit TB.
Jumlah percikan dapat dikurangi dengan adanya ventilasi atau aliran udara yang
cukup dan kuman Mycobacterium tuberculosis akan mati apabila terkena sinar
matahari secara langsung. Dalam keadaan gelap dan lembab, percikan dahak
dapat bertahan selama beberapa jam (Depkes RI, 2008).
Jumlah kuman yang dikeluarkan dari paru-paru dapat mempengaruhi daya
penularan seorang pasien. Semakin banyak jumlah kuman atau semakin tinggi
hasil BTA positif pada pemeriksaan dahak pasien, semakin tinggi juga daya

31
penularan dari pasien tersebut. Konsentrasi percikan dahak pada udara dan
lamanya menghirup udara tersebut akan mempengaruhi seseorang untuk terpajan
kuman Mycobacterium tuberculosis (Depkes RI, 2008).
Untuk menanggulangi dan mengendalikan masalah TB, WHO telah
merekomendasikan strategi Directly Observed Tretment Shortcourse (DOTS)
sejak tahun 1995. Fokus utama strategi DOTS adalah penemuan dan
penyembuhan pasien. Dalam penanggulangannya, salah satu target penting yang
harus dicapai adalah menyembuhkan 85% kasus TB paru menular yang dapat
dideteksi, dan berhasil setidaknya 70% kasus TB menular di masyarakat
(Kementerian Kesehatan RI, 2012). Berdasarkan hasil wawancara terhadap 10 KK
di Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember mengenai riwayat
penyakit TB dapat diketahui bahwa keseluruhan responden menyatakan tidak
pernah memiliki riwayat penyakit TB sebesar 100%. Namun terdapat satu
responden yang mengaku sakit dengan gejala batuk lebih dari seminggu, dahak
mengeluarkan darah dan pernapasan agak terasa sesak , akan tetapi tidak pernah
memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan sehingga ketika kami wawancara beliau
tidak mengaku memiliki penyakit tertentu seperti TB paru.
Salah satu faktor lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap penularan
penyakit TB adalah lingkungan rumah. Rumah adalah pengembangan kehidupan
dan tempat untuk berkumpul semua anggota keluarga untuk beraktivitas dan
menghabiskan sebagian besar waktunya. Konstruksi rumah serta keadaan
lingkungan tempat tinggal yang tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat kesehatan
merupakan faktor risiko terjadinya penularan berbagai macam penyakit (Dinkes
Kota Surabaya, 2015).
Menurut Kepmenkes RI No.829 Tahun 1999, rumah sehat adalah rumah yang
memenuhi persyaratan kesehatan rumah tinggal diantara adalah bahan bangunan
yang tidak membahayakan kesehatan, komponen rumah dan penataan rumah
memenuhi persyaratan fisik dan biologi, pencahayaan yang cukup sehingga dapat
menerangi seluruh bagian ruangan, kualitas udara di dalam rumah yang tidak
melebihi ketentuan, memiliki ventilasi, tidak ada vektor dan rodent, tersedia

32
sarana penyimpanan makanan yang aman dan higienis, limbah dari kegiatan
rumah tangga tidak mencemari, dan kepadatan hunian ruang cukup. Fungsi dari
rumah sehat adalah mencegah terjadinya penyakit, mencegah terjadinya
kecelakaan, aman dan nyaman bagi penghuni, dan penurunan ketegangan jiwa dan
sosial.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan didapatkan hasil observasi
terhadap 10 KK dengan kondisi komponen langit-langit rumah sebagian besar
responden di Desa Suren Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember memiliki
komponen langit-langit rumah,bersih,dan tidak rawan kecelakaan sebesar5 KK
(50%). Untuk komponen dinding rumah, mayoritas masyarakat di Desa Suren
Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember memiliki komponen dinding rumah
permanen sebesar 8 KK (80%).
Penggunaan jenis komponen lantai rumah, mayoritas responden memiliki
komponen lantai rumah hanya diplester saja (rumah panggung) sebanyak 7 KK
dengan persentase sebesar 70%, jarang ada warga yang memiliki rumah dengan
berlantai keramik. Untuk ketersediaan jendela kamar tidur, sebagian besar
responden memiliki jendela kamar tidur sebanyak 5 KK dengan persentase
sebesar 50% dan yang tidak memiliki jendela kamar tidur sebanyak 5 KK dengan
persentase sebesar 50%. Sementara untuk ketersediaan komponen jendela ruang
keluarga mayoritas responden memiliki komponen jendela ruang keluarga
sebanyak 9 KK dengan persentase sebesar 90%.
Untuk kepemilikan ventilasi rumah, sebagian besar responden memiliki
ventilasi yang luasnya >10% dari luas lantai sebesar 60%. Sedangkan, mengenai
kepemilikan lubang asap dapur, sebanyak 4 KK (40%) memiliki lubang asap
dapur yang luasnya <10% dari luas lantai dan sebanyak 4 KK (40%) tidak
memiliki komponen lubang asap dapur. Untuk tingkat pencahayaan yang
digunakan, sebagian besar responden mempunyai tingkat pencahayaan yang tidak
terang <60 lux sebanyak 6 KK dengan persentase sebesar 60%. Sedangkan, untuk
keadaan suhu yang ada di rumah, keseluruhan rumah responden memiliki suhu
sedang/ suhu udara nyaman yaitu antara 18 - C sebesar 100%. Mengenai

33
kepadatan hunian diketahui bahwa, sebagian besar responden memiliki padatan
hunian yang tidak padat >8m2 sebanyak 8 KK dengan presentase sebesar 80%.
Berdasarkan komponen rumah sehat didapatkan hasil bahwa dari 10 KK di
DesaSurenKecamatanLedokomboKabupatenJember, diketahui sebanyak 5 KK
memiliki rumah dengan kriteria rumah sehat namun, masih terdapat 3 KK dengan
kriteria rumah kurang sehat dan 2 KK dengan kriteria rumah tidak sehat.
Berdasarkan penelitian Listyowati (2011), didapatkan hasil bahwa rumah sehat
dapat menurunkan resiko angka kejadian TB Paru , terutama perilaku penghuni
yang buruk juga dapat meningkatkan risiko angka kejadian TB Paru. Dengan
demikian, perlunya dilakukan sosialisasi terkait dengan rumah sehat sehingga
masyarakat mengetahui pentingnya rumah sehat untuk menurunkan resiko angka
kejadian TB Paru.

34
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Surveilans Epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus
menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi
yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau
masalah-masalah kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan
data, pengolahan, dan penyebaran informasi epidemiologi kepada
penyelenggara program kesehatan.

2. TB atau Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh


bakteri micro tuberculosis yang dapat menular melalui percikan dahak

3. Klasifikasi TB diantaranya yaitu TB Paru BTA positif, TB Paru BTA


negative dan TB ekstra paru.

4. Pencegahan TB menurut WHO telah merekomendasikan strategi DOTS


sebagai strategi dalam pengendalian TB sejak tahun 1995. Bank Dunia
menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang
secara ekonomis sangat efektif (cost-effective). Sedangkan pengobatan TB
yaitu dengan menggunkan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adapun jenis
obat utama diantaranya : INHR, Rifampisin, Pirazinamid, Streptomisin dan
Etambutol dan jenis obat tambahan diantaranya kanamisin, amikasin dan
kuinolon

5. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan rapat kerja


kesehatan yang mengusung tema yakni “Sinergisme pusat dan daerah dalam
upaya percepatan eliminasi TBC, penurunan stunting dan peningkatan
cakupan serta mutu imunisasi melalui program Indonesia Sehat dengan
pendekatan keluarga (PIS-PK). Kebijakan pemerintah yang dihasilkan
melalui rapat kesehatan tersebut untuk mengatasi masalah TBC yakni

35
dengan penilaian resiko TB, skrinning dan diagnosis TBC, inisiasi
pengobatan, kepatuhan pengobatan dan keberhasilan pengobatan

6. Berdasarkan hasil wawancara dengan semua responden, tidak terdapat


responden yang pernah mengalami riwayat penyakit TB. Untuk penilaian
rumah sehat terdapat 5 rumah yang dinyatakan sebagai rumah sehat, 3
rumah dinyatakan rumah kurang sehat dan 2 rumah dinyatakan rumah
tidak sehat berdasarkan penilaian yang sudah dilakukan.

5.2 Saran
Pencegahan dan penangulangan TB perlu diadakan kegiatan yang
banyak melibatkan peran serta masyarakat diantaranya penyuluhan mengenai
lingkungan rumah sehat serta pemgetahuan terkait TB dan perlu adanya
pengadaan obat yang belum tersedia di Indonesia untuk penderita TB.
Adapun obat yang belum tersedia di Indonesia diantaranya adalah
Kapreomisin, sikloserino PAS, Derivat rimpisin dan Thioamides.

36
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara.


Depkes RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkulosis. Jakarta :
Depkes RI.
Depkes RI. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta:
Depkes RI.
Depkes RI. 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan TB Paru Edisi 2 Cetakan
kedua. Jakarta: Ditjen PP&PL.
Depkes RI. 2011. Program Penanggulangan Tuberkulosis. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia 2011. Jakarta : Depkes RI.
Dinas Kesehatan Kota Surabaya. 2011. Pentingnya Upaya Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi TB. Surabaya. Dinkes
http://dinkes.urabaya.go.id/portal/index.php/berita/pentingnya-
upayapencegahan-dan-pengendalian-infeksi-tb/ [diakses pada 9Juni 2018].
Hamidi. 2004. Metode Penelitian Kualitatif: Aplikasi Praktis Pembuatan
Proposal dan Laporan Penelitian. Malang: UMM Press.
Hull, D., Johnston, D.I. 2008. Dasar-Dasar Pediatri. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Mem Inst Oswaldo Curz. 101:7. 607-714.

Kementrian Kesehatan. 2011. TBC Masalah Kesehatan Dunia. Jakarta. Kemenkes


RI. http:// www.depkes.go.id/article/view/1444/tbcmasalah-kesehatan-
dunia.html [diakses pada 9Juni 2018].
Kementerian Kesehatan RI. 2012. Pedoman Manajerial Pelayanan Tuberculosis
Dengan Strategi DOTS Di Rumah Sakit. Jakarta : Direktorat Bina Upaya
Kesehatan.
Kepmenkes RI Nomor 1479/MENKES/SK/X/2003 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan
PenyakitTidak Menular Terpadu.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/


SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan, Jakarta.
Listyowati, R. D. 2011. Hubungan Rumah Sehat dengan Kejadian TB Paru di
Kecamatan Karang Pilang Kota Surabaya. UNAIR : Surabaya.
37
Nazir. 2014. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014 Tentang


Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006. Tuberkulosis - Pedoman Diagnosis &
Penatalaksanaan Di Indonesia. Available at:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.html (diakses pada 21 Mei
2018).
Puspa, Sri et al. 2010. Epidemiologi /TBC. Banten : Stikes Banten.
Rakerkesda 2018. Pemerintah Berupaya Eliminasi TBC Dan Turunkan Stunting.
Bengkulu : Garudadaily.com [Online] tersedia di
http://www.garudadaily.com/bengkulu/rakerkesda-2018-pemerintah-
berupaya-eliminasi-tbc-dan-turunkan-stunting/ (diakses tanggal 21 Mei
2018)
Riswanto, 2010. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Alfamedika dan Kanal
Medika. Yogyakarta.
Siti Fatimah. 2008. Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Tb Paru Di Kabupaten Cilacap (Kecamatan : Sidareja,
Cipari, Kedungreja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari) Tahun 2008
(Tesis). Program Pascasarjana FKM Undip Semarang.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.
Syukra, A., Sriani, Y. 2015. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Masyarakat. [e-book]
Deepublish. https://www. google.com/search?tbo=p&tbm=bks&q=isbn:
6022808081 [diakses pada 9 Juni 2018].
Todar, K. 2009. Todar's Online Textbook Of Bacteriology Chapter On
Tuberculosis.
Widoyono. 2011. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan
Pemberantasannya Edisi ke 2. Jakarta: Erlangga.
World Health Organization. 2009. Treatment Of Tuberkulosis Guidelines Fourth
Edition. Geneva: World Health Organization.

38
LAMPIRAN
Lampiran 1. Peta Mapping Desa Suren

Titik Tengah
Desa (Balai Desa)

Keterangan :
Toko/Warung
Rumah warga
Makam
Masjid
Sekolah dasar
Batas desa (sungai)
Persawahan

39
Lampiran 2. Dokumentasi Kegiatan

Proses Wawancara dan Observasi

Kondisi Rumah Responden

40
Proses Wawancara dan Observasi

Kondisi Rumah Responden

41
Proses Wawancara dan Observasi

42