Anda di halaman 1dari 43

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

CA NASOFARING

Di Susun Oleh :

1. NurBila R Wartabone
2. Tessa A Koropit
3. Silvana a Taher

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

MUHAMMADIYAH

MANADO

2018/2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Allah YME karena atas rahmat dan hidayah-Nya kami selaku
penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah dengan tema “Ca Nasofaring” sebagai
tugas kelompok dalam semester ini.

Makalah ini disusun dari berbagai sumber reverensi yang relevan, baik buku-buku
diktat kedokteran dan keperawatan, artikel-artikel nasional dan internasional dari internet
dan lain sebagainya. Semoga saja makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri
khususnya maupun bagi para pembaca pada umumnya.

Tentu saja sebagai manusia, penulis tidak dapat terlepas dari kesalahan. Dan penulis
menyadari makalah yang dibuat ini jauh dari sempurna. Karena itu penulis merasa perlu
untuk meminta maaf jika ada sesuatu yang dirasa kurang.

Penulis mengharapkan masukan baik berupa saran maupun kritikan demi perbaikan
yang selalu perlu untuk dilakukan agar kesalahan - kesalahan dapat diperbaiki di masa
yang akan datang.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Manado, 20 Mei 2018

Penulis,
DAFTAR ISI

Kata pengantar .....................................................................................................................

Daftar isi...............................................................................................................................

BAB I Pendahuluan .............................................................................................................

1.1 Latar Belakang .............................................................................................


1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................
1.3 Tujuan .........................................................................................................
1.4 Manfaat .......................................................................................................

BAB II Pembahasan .............................................................................................................

2.1 Definisi ...............................................................................................................


2.2 Anatomi Fisiologi ..............................................................................................
2.3 Etiologi ..............................................................................................................
2.4 Patofisiologi ......................................................................................................
2.5 Tanda dan Gejala ...............................................................................................
2.6 Pembagian Ca Nasofaring..................................................................................
2.7 Perluasan Tumor Ke Jaringan Sekitar Dari Ca Nasofaring ...............................
2.8 Penentuan Stadium Dari Ca Nasofaring ............................................................
2.9 Komplikasi Dari Ca Nasofaring.........................................................................

2.10 Pemeriksaan Penunjang Ca Nasofaring ...........................................................

2.11 Penatalaksanaan Ca Nasofaring .......................................................................

2.12 Pencegahan dari Ca Nasofaring .......................................................................

A. Terapi Radiasi Pada Karsinoma Nasofaring .......................................................

B. Kemoterapi Pada Karsinoma Nasofaring ............................................................

C. Kemoradioterapi Pada Karsinoma Nasofaring ....................................................

BAB IIIKonsep Asuhan Keperawatan

BAB IV PENUTUP .............................................................................................................

Daftar Pustaka ......................................................................................................................


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Bila kita merujuk pada data statistik yang dikeluarkan oleh American Cancer
Society dalam Cancer.Net (2008) teercatat bahwa Kasus Karsinoma Nasofaring termasuk
jarang ditemukan di Amerika Serikat, yaitu sekitar 2000 orang yang terdiagnosa setiap
tahunnya. Dalam beberapa tahun terakhir, dan angka ini telah mengalami penurunan.
Karsinoma nasofaring lebih banyak ditemukan di belahan dunia lain seperti Asia dan
Afirika Utara, misalnya saja China bagian Selatan banyak kasus ditemukan untuk penyakit
ini.

Sementara itu, Indonesia sebagai bagian dari Asia mencatat bahwa tumor ganas yang
paling banyak dijumpai di antara tumor ganas THT di Indonesia adalah Karsinoma
nasofaring, dimana jenis tumor yang satu ini termasuk dalam lima besar tumor ganas
dengan frekwensi tertinggi, sedangkan di daerah kepala dan leher menduduki tempat
pertama (Lutan & Soetjipto dalam Asroel, 2002). Dan dalam Roezin dan Adham (2007)
disebutkan bahwa hampir 60 % tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma
nasofaring.

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring


dengan predileksi di fossa Rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah
transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa (Efiaty, 2001).

Tumor ganas nasofaring (karsinoma nasofaring) adalah sejenis kanker yang dapat
menyerang dan membahayakan jaringan yang sehat dan bagian-bagian organ di tubuh kita.
Nasofaring mengandung beberapa tipe jaringan, dan setiap jaringan mengandung beberapa
tipe sel. Dan kanker ini dapat berkembang pada tipe sel yang berbeda. Dengan mengetahui
tipe yang sel yang berbeda merupakan hal yang penting karena hal tersebut dapat
menentukan tingkat seriusnya jenis kanker dan tipe terapi yang akan digunakan (American
Cancer Society dalam Cancer.Net, 2008).

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi Ca Nasofaring?

2. Bagaimana anatomi fisiologi Nasofaring?

3. Apa etiologi dari Ca Nasofaring?

4. Bagaimana patofisiologi dari Ca Nasofaring?


5. Bagaimana tanda dan gejala dari Ca Nasofaring?

6. Bagaimana pembagianCa Nasofaring?

7. Bagaimana perluasan tumor ke jaringan sekitar dari Ca Nasofaring?

8. Bagaimana penentuan stadium dari Ca Nasofaring?

9. Apa komplikasi dari Ca Nasofaring?

10. Bagaimana pemeriksaan penunjang Ca Nasofaring?

11. Bagaimana penatalaksanaan Ca Nasofaring?

12. Bagaimana pencegahan dari Ca Nasofaring?

1.3 TUJUAN

1. Menjelaskan definisi Ca Nasofaring.

2. Menjelaskan anatomi fisiologi Ca Nasofaring.

3.Menyebutkan etiologi dari Ca Nasofaring.

4. Menjelaskan patofisiologi dari Ca Nasofaring.

5. Menyebutkan tanda dan gejala dari Ca Nasofaring.

6. Menyebutkan pembagian Ca Nasofaring.

7. Menjelaskan perluasan tumor ke jaringan sekitar dari Ca Nasofaring.

8. Menjelaskan stadium dari Ca Nasofaring.

9. Menyebutkan komplikasi dari Ca Nasofaring.

10. Menyebutkan pemeriksaan penunjang dari Ca Nasofaring.

11. Menjelaskan penatalaksanaan dari Ca Nasofaring.

12. Menjelaskan pencegahan dari Ca Nasofaring.

1.4 MANFAAT

1. Menambah wawasan pengetahuan mengenai kasus Ca Nasofaringdan penerapan konsep


keperawatan pada kasus Ca Nasofaring.
2. Menambah wawasan pengetahuan mengenai penerapan diagnosa keperawatan pada
kasus Ca Nasofaring.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring


dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring
merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia
(Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring


dengan predileksi di fossa Rossenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah
transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi epitel skuamosa (Efiaty, 2001).

Karsinoma nasofaring adalah keganasan pada nasofaring yang berasal dari epitel
mukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di nasofaring.

Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT. Sebagian


besar klien datang ke THT dalam keadaan terlambat atau stadium lanjut.

2.2 ANATOMI FISIOLOGI

Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring, tepatnya di


sebelah dorsal dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane.
Nasofaring tidak bergerak, berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan
kualitas suara yang dihasilkan oleh laring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai
batas-batas sebagai berikut :

Atas : Basis kranii.

Bawah : Palatum mole

Belakang : Vertebra servikalis

Depan : Koane

Lateral : Ostium tubae Eustachii, torus tubarius, fossa rosenmuler (resesus faringeus).

Pada atap dan dinding belakang Nasofaring terdapat adenoid atau tonsila faringika.
2.3 ETIOLOGI

Kaitan Virus Epstein Barr dengan ikan asin dikatakan sebagai penyebab utama
timbulnya penyakit ini. Virus ini dapat masuk dalam tubuh dan tetap tinggal disana tanpa
menyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengaktifkan virus
ini dibutuhkan suatu mediator kebiasaan untuk mengkonsumsi ikan asin secara terus
menerus mulai dari masa kanak-kanak, merupakan mediator utama yang dapat
mengaktifkan virus ini sehingga menimbulkan Ca Nasofaring. Mediator yang berpengaruh
untuk timbulnya Ca Nasofaring :

1. Ikan asin, makanan yang diawetkan dan nitrosamine.

2. Keadaan social ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.

3. Sering kontak dengan Zat karsinogen ( benzopyrenen, benzoantrance, gas kimia, asap
industri, asap kayu, beberapa ekstrak tumbuhan).

4. Ras dan keturunan (Malaysia, Indonesia)

5. Radang kronis nasofaring

6. Profil HLA

2.4 PATOFISIOLOGI

Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500
kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang
diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty
& Nurbaiti, 2001 hal 146).

Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan


makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor
geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial
ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya
tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring
adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus
EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).

Infeksi virus Epstein Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring. Hal ini dapat
dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadaan protein-protein laten pada penderita
karsinoma nasofaring. Pada penderita ini sel yang teerinfeksi oleh EBV akan
menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk proses poliferasi dan mempertahankan
kelangsungan virus didalam sel host. Protein laten ini dapat dipakai sebagai pertanda
delam mendiagnosa karsinoma nasofaring.

Hubungan antara karsinoma nasofaring dan infeksi virus Epstein-Barr juga


dinyatakan oleh berbagai peneliti dari bagian yang berbeda di dunia ini . Pada pasien
karsinoma nasofaring dijumpai peninggian titer antibodi anti EBV (EBNA-1) di dalam
serum plasma. EBNA-1 adalah protein nuklear yang berperan dalam mempertahankan
genom virus. Huang dalam penelitiannya, mengemukakan keberadaan EBV DNA dan
EBNA di dalam sel penderita karsinoma nasofaring.
WOC

Konsumsi ikan asin Riwayat keluarga

Mengaktifkan EBV Kerusakan DNA pd sel dimana


pola kromosomnya abnormal

Menstimulasi pembelahan sel


Terbentuk sel-sel muatan
abnormal yg tdk terkontrol

Pola kromosom abnormal


Diferensiasi dan pol ferasi
protein laten (EBNA-1)
Kromosom ekstra terlalu
sedikit translokasi kromosom
Pertumbuhan sel kanker pd nasofaring
(utama pd fosa rossamuller)
Sifat kanker diturunkan
Metastase sel-sel kanker pd anak
Penekanan ps tuba eustachius
ke kelenjar getah bening
melalui aliran limfe
Penyubatan muara tuba
Pertumbuhan dan perkembangan
sel-sel kanker di kel. getah bening Gangguan persepsi
sensori (pendengaran)
Benjolan massa pd
leher bagian samping
Iritasi traktus GI

Menembus kelenjar dan


Rangsangan
mengenai otak di bawahnya

Kelenjar melekat pd otot Supresi sum-sum Gangguan pembuluh Konstipasi


Diare
dan sulit di gerakkan tulang sel darah merah

Nyeri
Eritrosit, leukosi Resti
Imunosupressi
Indikasi keoterapi trombosit infeksi

Perangsangan elektrik zona pencetus Merusak sel-


kemoreseptor di ventrikel IV otak sel epitel kulit

Resti Kerusakan Gangguan


perubahan Iritasi mukosa mulut Mual muntah integritas kulit integritas kulit
membran
mukosa oral
Stomatitis Perubahan Kerusakan pd
nutrisi kurang kulit kepala
Anoreksia dari kebutuhan
Gangguan harga
Alopesia
diri rendah
2.5 TANDA DAN GEJALA

Simtomatologi ditentukan oleh hubungan anatomic nasofaring terhadap hidung, tuba


Eustachii dan dasar tengkorak.

Gejala hidung :

 Epistaksis : rapuhnya mukosa hidung sehingga mudah terjadi perdarahan.


 Sumbatan hidung. Sumbatan menetap karena pertumbuhan tumor kedalam rongga
nasofaring dan menutupi koana, gejalanya : pilek kronis, ingus kental, gangguan
penciuman.

Gejala telinga :

 Kataralis/ oklusi tuba Eustachii : tumor mula-mula dofosa Rosen Muler,


pertumbuhan tumor dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba ( berdengung,
rasa penuh, kadang gangguan pendengaran).
 Otitis Media Serosa sampai perforasi dan gangguan pendengaran.
 Gangguan mata dan saraf :
 Karena dekat dengan rongga tengkorak maka terjadi penjalaran melalui foramen
laserum yang akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI sehingga dijumpai diplopia,
juling, eksoftalmus dan saraf ke V berupa gangguan motorik dan sensorik.
Karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika
penjalaran melalui foramen jugulare yang sering disebut sindrom Jackson. Jika
seluruh saraf otak terkena disebut sindrom unialteral. Prognosis jelek bila sudah
disertai destruksi tulang tengkorak.
 Metastasis ke kelenjar leher :
 Yaitu dalam bentuk benjolan medial terhadap muskulus sternokleidomastoid yang
akhirnya membentuk massa besar hingga kulit mengkilat. Hal inilah yang
mendorongpasien untuk berobat.Suatu kelainan nasofaring yang disebut lesi
hiperplastik nasofaring atau LHN telah diteliti dicina yaitu 3 bentuk yang
mencurigakan pada nasofaring seperti pembesaran adenoid pada orang dewasa,
pembesaran nodul dan mukositis berat pada daerah nasofaring. Kelainan ini bila
diikuti bertahun – tahun akan menjadi karsinoma nasofaring.(Efiaty& Nurbaiti, 2001
hal 147 -148).
 Tumor pada nasofaring relatif bersifat anaplastikdan banyak terdapat kelenjar limfe,
maka karsinoma nasofaring dapat menyebar ke kelenjar getah bening leher. Melalui
aliran pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat sampai ke kelenjar limfe leher dan
tertahan di sana dan karena memang kelenjar ini merupakan pertahanan pertama
agar sel-sel kanker tidak langsung ke bagian tubuh yang lebih jauh.
Gejala lanjut :

 Limfadenopati servikal : melalui pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat mencapai


kelenjar limfe dan bertahan disana. Dalam kelenjar ini sel tumbuh dan berkembang
biak hingga kelenjar membesar dan tampak benjolan dileher bagian samping, lama
kelamaan karena tidak dirasakan kelenjar akan berkembang dan melekat pada otot
sehingga sulit digerakkan.

2.6 PEMBAGIAN CA NASOFARING

Menurut Histopatologi :

Well differentiated epidermoid carcinoma.

- Keratinizing

- Non Keratinizing.

Undiffeentiated epidermoid carcinoma = anaplastic carcinoma

- Transitional

- Lymphoepithelioma.

Adenocystic carcinoma

Menurut bentuk dan cara tumbuh :

Ulseratif

Eksofilik : Tumbuh keluar seperti polip.

Endofilik : Tumbuh di bawah mukosa, agar sedikit lebih tinggi dari jaringan sekitar
(creeping tumor)

Klasifikasi Histopatologi menurut WHO (1982) :

Tipe WHO 1

- Karsinoma sel skuamosa (KSS)

- Deferensiasi baik sampai sedang.

- Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan).


Tipe WHO 2

- Karsinoma non keratinisasi (KNK).

- Paling banyak pariasinya.

- Menyerupai karsinoma transisional

Tipe WHO 3

- Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD).

-Seperti antara lain limfoepitelioma, Karsinoma anaplastik, “Clear Cell Carsinoma”,


varian sel spindel.

- Lebih radiosensitif, prognosis lebih baik.

2.7 PERLUASAN TUMOR KE JARINGAN SEKITAR

1. Perluasan ke atas : ke N.II dan N. VI, keluhan diplopia, hipestesi pipi

2. Sindrom petrosfenoid terjadi jika semua saraf grup anterior terkena dengan gejala khas :

Neuralgia trigeminal unilateral

Oftalmoplegia unilateral

Amaurosis

Gejala nyeri kepala hebat akibat penekanan tumor pada duramater

3.Perluasan ke belakang : N.VII-N.XII, trismus, sulit menelan, hiper/hipo/anestesi


palatum,faring dan laring,gangguan respirasi dan salvias, kelumpuhan otot trapezius,
stenokleidomastoideus, hemiparalisis dan atrofi sebelah lidah.

4. Manifestasi kelumpuhan :

N IX: kesulitan menelan akibat hemiparese otot konstriktor superior serta gangguan
pengecap pada sepertiga belakang lidah.

N X : Hiper / hipo / anestesi mukosa palatum mole, faring dan laring disertai
gangguan respirasi dan salvias.
N XI : kelumpuhan atau atropi otot-otot trapezius, sterno – kleido mastoideus, serta
hemiparese palatum mole.

N XII : hemiparese dan atropi sebelah lidah.

2.8 PENENTUAN STADIUM

TUMOR SIZE (T)


T Tumor primer
T0 Tidak tampak tumor
T1 Tumor terbatas pada satu lokasi saja
T2 Tumor dterdapat pada dua lokalisasi atau lebih tetapi masih terbatas
pada rongga nasofaring
T3 Tumor telah keluar dari rongga nasofaring
T4 Tumor teah keluar dari nasofaring dan telah kmerusak tulang
tengkorak atau saraf-saraf otak
Tx Tumor tidak jelas besarnya karena pemeriksaan tidak lengkap
REGIONAL LIMFE NODES (N)
N0 Tidak ada pembesaran
N1 Terdapat pembesarantetapi homolateral dan masih bisa digerakkan
N2 Terdapat pembesaran kontralateral/ bilateral dan masih dapat
digerakkan
N3 Terdapat pembesaran, baik homolateral, kontralateral maupun
bilateral yang sudah melekat pada jaringan sekitar
METASTASE JAUH (M)
M0 Tidak ada metastase jauh
M1 Metastase jauh

Stadium I : T1 No dan Mo

Stadium II :T2 No dan Mo

Stadium III : T1/T2/T3 dan N1 dan Mo atau T3 dan No dan Mo

Stadium IV : T4 dan No/N1 dan Moatau T1/T2/T3/T4 dan N2/N3 dan Moatau
T1/T2/T3/t4 dan No/N1/N3/N4 dan M1
2.9 KOMPLIKASI

Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah, mengenai organ
tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang sering adalah tulang, hati dan paru. Hal ini
merupakan hasil akhir dan prognosis yang buruk.

Dalam penelitian lain ditemukan bahwa karsinoma nasofaring dapat mengadakan


metastase jauh, ke paru-paru dan tulang, masing-masing 20 %, sedangkan ke hati 10 %,
otak 4 %, ginjal 0.4 %, dan tiroid 0.4 %.

Komplikasi lain yang biasa dialami adalah terjadinya pembesaran kelenjar getah
bening pada leher dan kelumpuhan saraf kranial.

2.10 PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Nasofaringoskopi

b. Rinoskopi posterior dengan atau tanpa kateter

c. Biopsi multiple

d. Radiologi :Thorak PA, Foto tengkorak, Tomografi, CT Scan, Bone scantigraphy (bila
dicurigai metastase tulang)

e. Pemeriksaan Neuro-oftalmologi : untuk mengetahui perluasan tumor kejaringan sekitar


yang menyebabkan penekanan atau infiltrasi kesaraf otak, manifestasi tergantung dari
saraf yang dikenai.

f. MRI

g. Sinar X

2.11 PENETALAKSANAAN

Prinsipnya pengobatan untuk karsinoma nasofaring meliputi terapi sbb :7,8

1. Radioterapi
2. Kemoterapi
3. Kombinasi
4. Operasi
5. Imunoterapi
6. Terapi paliatif
A. TERAPI RADIASI PADA KARSINOMA NASOFARING

Definisi Terapi Radiasi

Terapi radiasi adalah terapi sinar menggunakan energi tinggi yang dapat menembus
jaringan dalam rangka membunuh sel neoplasma.

Persyaratan Terapi Radiasi

Penyembuhan total terhadap karsinoma nasofaring apabila hanya menggunakan


terapi radiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

- Belum didapatkannya sel tumor di luar area radiasi


- Tipe tumor yang radiosensitif
- Besar tumor yang kira-kira radiasi mampu mengatasinya
- Dosis yang optimal.
- Jangka waktu radiasi tepat
- Sebisa-bisanya menyelamatkan sel dan jaringan yang normal dari efek samping radiasi.
Dosis radiasi pada limfonodi leher tergantung pada ukurannya sebelum kemoterapi
diberikan. Pada limfonodi yang tak teraba diberikan radiasi sebesar 5000 cGy, < 2 cm
diberikan 6600 cGy, antara 2-4 cm diberikan 7000 cGy dan bila lebih dari 4 cm diberikan
dosis 7380 cGy, diberikan dalam 41 fraksi selama 5,5 minggu.

Sifat Terapi Radiasi

Terapi radiasi sendiri sifatnya adalah :

- Merupakan terapi yang sifatnya lokal dan regional


- Mematikan sel dengan cara merusak DNA yang akibatnya bisa mendestrukasi sel tumor
- Memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis dari sel tumor.
- Ionisasi yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor.
- Memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor
sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya..
- Berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari tumornya.
- Walaupun pemberian radiasi bersifat lokal dan regional namun dapat mengakibatkan
defek imun secara general.
Efek Samping Terapi Radiasi :
1. Radiomukositis, stomatitis, hilangnya indra pengecapan, rasa nyeri dan ngilu pada gigi.
2. Xerostomia, trismus, otitis media
3. Pendengaran menurun
4. Pigmentasi kulit seperti fibrosis subkutan atau osteoradionekrosis.
5. Pada terapi kombinasi dengan sitostatika dapat timbul depresi sumsum tulang dan
gangguan gastrointestinal.
6. Lhermitte syndrome karena radiasi myelitis.
7. Hypothyroidism
Pengaruh Terapi Radiasi Terhadap Sistem Imun
Secara luas dilaporkan bahwa segera setelah pemberian radiasi terjadi gangguan
terhadap sel limfosit T, yang akibatnya memudahkan timbulnya berbagai macam infeksi.11
Pasien dengan tumor primer di leher dimana drainase limfatiknya juga di leher , setelah
diberikan radiasi mengakibatkan berkurangnya limfosit darah tepi secara signifikan.
Jumlah limfosit T CD4+ menurun lebih bermakna dibandingkan penurunan jumlah sel
limfosit T CD8+. Gangguan akibat radiasi tidak hanya mempengaruhi jumlah sel limfosit
T namun juga mengakibatkan defek pada fungsi sel T. Adanya gangguan fungsi
dibuktikan dengan sulitnya sel T ini distimulasi pada percobaan invitro. Apakah defek
jumlah dan fungsi limfosit T pada penderita yang diterapi radiasi dapat reversibel?
Penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan normalisasi sel limfosit T CD4+
setelah 3-4 minggu pasca radiasi.

Jenis Pemberian Terapi Radiasi

Terapi radiasi pada karsinoma nasofaring bisa diberikan sebagai :

- Radiasi eksterna dengan berbagai macam teknik fraksinasi.

- Radiasi interna ( brachytherapy ) yang bisa berupa permanen implan atau intracavitary
barchytherapy.
Radiasi eksterna dapat digunakan sebagai :

- pengobatan efektif pada tumor primer tanpa pembesaran kelenjar getah bening
- pembesaran tumor primer dengan pembesaran kelenjar getah bening
- Terapi yang dikombinasi dengan kemoterapi
- Terapi adjuvan diberikan pre operatif atau post operatif pada neck dissection
Radiasi Interna/ brachyterapibisa digunakan untuk :

- Menambah kekurangan dosis pada tumor primer dan untuk menghindari terlalu banyak
jaringan sehat yang terkena radiasi.
- Sebagai booster bila masih ditemukan residu tumor
- Pengobatan kasus kambuh.
B. KEMOTERAPI PADA KARSINOMA NASOFARING

Definisi Kemoterapi

Kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang dapat menghambat


pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel kanker.

Obat-obat anti kaker ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal (active single
agents), tetapi kebanyakan berupa kombinasi karena dapat lebih meningkatkan potensi
sitotoksik terhadap sel kanker. Selain itu sel-sel yang resisten terhadap salah satu obat
mungkin sensitif terhadap obat lainnya. Dosis obat sitostatika dapat dikurangi sehingga
efek samping menurun.

Tujuan Kemoterapi

Tujuan kemoterapi adalah untuk menyembuhkan pasien dari penyakit tumor


ganasnya. Kemoterapi bisa digunakan untuk mengatasi tumor secara lokal dan juga untuk
mengatasi sel tumor apabila ada metastasis jauh. Secara lokal dimana vaskularisasi
jaringan tumor yang masih baik, akan lebih sensitif menerima kemoterapi sebagai
antineoplastik agen. Dan karsinoma sel skuamosa biasanya sangat sensitif terhadap
kemoterapi ini.

Obat-Obat Sitostatika yang direkomendasi FDA untuk Kanker Kepala Leher

Beberapa sitostatika yang mendapat rekomendasi dari FDA (Amerika) untuk


digunakan sebagai terapi keganasan didaerah kepala dan leher yaitu Cisplatin, Carboplatin,
Methotrexate, 5-fluorouracil, Bleomycin, Hydroxyurea, Doxorubicin, Cyclophosphamide,
Doxetaxel, Mitomycin-C, Vincristine dan Paclitaxel. Akhir-akhir ini dilaporkan
penggunaan Gemcitabine untuk keganasan didaerah kepala dan leher.

Sensitivitas Kemoterapi terhadap Karsinoma Nasofaring

Kemoterapi memang lebih sensitif untuk karsinoma nasofaring WHO I dan sebagian
WHO II yang dianggap radioresisten. Secara umum karsinoma nasofaring WHO-3
memiliki prognosis paling baik sebaliknya karsinoma nasofaring WHO-1 yang memiliki
prognosis paling buruk.

Adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan (growth) dan pembelahan (division)


antara sel kanker dan sel normal yang disebut siklus sel (cell cycle) merupakan titik tolak
dari cara kerja sitostatika. Hampir semua sitostatika mempengaruhi proses yang
berhubungan dengan sel aktif seperti mitosis dan duplikasi DNA. Sel yang sedang dalam
keadaan membelah pada umumnya lebih sensitif daripada sel dalam keadaan istirahat.
Berdasar siklus sel kemoterapi ada yang bekerja pada semua siklus ( Cell Cycle non
Spesific ) artinya bisa pada sel yang dalam siklus pertumbuhan sel bahkan dalam keadaan
istirahat. Ada juga kemoterapi yang hanya bisa bekerja pada siklus pertumbuhan tertentu (
Cell Cycle phase spesific ).

Obat yang dapat menghambat replikasi sel pada fase tertentu pada siklus sel disebut
cell cycle specific. Sedangkan obat yang dapat menghambat pembelahan sel pada semua
fase termasuk fase G0 disebut cell cycle nonspecific. Obat-obat yang tergolong cell cycle
specific antara lain Metotrexate dan 5-FU, obat-obat ini merupakan anti metabolit yang
bekerja dengan cara menghambat sintesa DNA pada fase S. Obat antikanker yang
tergolong cell cycle nonspecific antara lain Cisplatin (obat ini memiliki mekanisme cross-
linking terhadap DNA sehingga mencegah replikasi, bekerja pada fase G1 dan G2),
Doxorubicin (fase S1, G2, M), Bleomycin (fase G2, M), Vincristine (fase S, M).

Dapat dimengerti bahwa zat dengan aksi multipel bisa mencegah timbulnya klonus
tumor yang resisten, karena obat-obat ini cara kerjanya tidak sama. Apabila resiten
terhadap agen tertentu kemungkinan sensitif terhadap agen lain yang diberikan,
dikarenakan sasaran kerja pada siklus sel berbeda.

Mekanisme Cara Kerja Kemoterapi

Kebanyakan obat anti neoplasma yang secara klinis bermanfaat, agaknya bekerja
dengan menghambat sintesis enzim maupun bahan esensial untuk sintesis dan atau fungsi
asam nukleat. Berdasarkan mekanisme cara kerja obat , zat yang berguna pada tumor
kepala leher dibagi sebagai berikut :

1. Antimetabolit, Obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai contoh
MTX, menghambat pembentukan folat tereduksi, yang dibutuhkan untuk sintesis
timidin.

2. Obat yang mengganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti CTX (
Cyclophosphamide) mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel.
Di lain pihak, antibiotika seperti dactinomycin dan doxorubicin mengikat dan menyelip
diantara rangkaian nukleotid molekul DNA dan dengan demikian menghambat
produksi mRNA.

3. Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan
pembelahan sel dengan mengganggu filamen mikro pada kumparan mitosis.
Cara Pemberian Kemoterapi

Secara umum kemoterapi bisa digunakan dengan 4 cara kerja yaitu :

1. Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi.


2. Sebagai terapi kombinasi yaitu kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi pada
kasus karsinoma stadium lanjut.
3. Sebagai terapi adjuvan yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau
radiasi
4. Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada
kasus kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan
limfoma).
Menurut prioritas indikasinya terapi terapi kanker dapat dibagi menjadi dua yaitu
terapi utama dan terapi adjuvan(tambahan/ komplementer/ profilaksis). Terapi utama dapat
diberikan secara mandiri, namun terapi adjuvan tidak dapat mandiri, artinya terapi adjuvan
tersebut harus meyertai terapi utamanya. Tujuannya adalah membantu terapi utama agar
hasilnya lebih sempurna.

Terapi adjuvan tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi yaitu bila
setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata :

- kankernya masih ada, dimana biopsi masih positif


- kemungkinan besar kankernya masih ada, meskipun tidak ada bukti secara
makroskopis.
- pada tumor dengan derajat keganasan tinggi ( oleh karena tingginya resiko kekambuhan
dan metastasis jauh).
Berdasarkan saat pemberiannya kemoterapi adjuvan pada tumor ganas kepala leher dibagi
menjadi :

1. neoadjuvant atau induction chemotherapy

2. concurrent, simultaneous atau concomitant chemoradiotherapy

3. post definitive chemotherapy.


Efek Samping Kemoterapi

Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor tapi juga sel normal yang
membelah secara cepat seperti sel rambut, sumsum tulang dan Sel pada traktus gastro
intestinal. Akibat yang timbul bisa berupa perdarahan, depresi sum-sum tulang yang
memudahkan terjadinya infeksi. Pada traktus gastro intestinal bisa terjadi mual, muntah
anoreksia dan ulserasi saluran cerna. Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan
kerontokan rambut.Jaringan tubuh normal yang cepat proliferasi misalnya sum-sum
tulang, folikel rambut, mukosa saluran pencernaan mudah terkena efek obat sitostatika.
Untungnya sel kanker menjalani siklus lebih lama dari sel normal, sehingga dapat lebih
lama dipengaruhi oleh sitostatika dan sel normal lebih cepat pulih dari pada sel kanker.

Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah toksisitas terhadap
jantung, yang dapat dievaluasi dengan EKG dan toksisitas pada paru berupa kronik
fibrosis pada paru. Toksisitas pada hepar dan ginjal lebih sering terjadi dan sebaiknya
dievalusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya. Kelainan neurologi juga merupakan salah
satu efek samping pemberian kemoterapi.

Untuk menghindari efek samping intolerable, dimana penderita menjadi tambah


sakit sebaiknya dosis obat dihitung secara cermat berdasarkan luas permukaan tubuh (m2)
atau kadang-kadang menggunakan ukuran berat badan (kg). Selain itu faktor yang perlu
diperhatikan adalah keadaan biologik penderita. Untuk menentukan keadaan biologik yang
perlu diperhatikan adalah keadaan umum (kurus sekali, tampak kesakitan, lemah sadar
baik, koma, asites, sesak, dll), status penampilan (skala karnofsky, skala ECOG), status
gizi, status hematologis, faal ginjal, faal hati, kondisi jantung, paru dan lain sebagainya.

Penderita yang tergolong good risk dapat diberikan dosis yang relatif tinggi, pada
poor risk (apabila didapatkan gangguan berat pada faal organ penting) maka dosis obat
harus dikurangi, atau diberikan obat lain yang efek samping terhadap organ tersebut lebih
minimal.

Efek samping kemoterapi dipengaruhi oleh :

1. Masing-masing agen memiliki toksisitas yang spesifik terhadap organ tubuh tertentu.
2. Dosis.
3. Jadwal pemberian.
4. Cara pemberian (iv, im, peroral, per drip infus).
5. Faktor individual pasien yang memiliki kecenderungan efek toksisitas pada organ
tertentu.
Persyaratan Pasien yang Layak diberi Kemoterapi

Pasien dengan keganasan memiki kondisi dan kelemahan kelemahan, yang apabila
diberikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan
kemoterapi perlu pertimbangan sbb :

1. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu status


penampilan <= 2
2. Jumlah lekosit >=3000/ml
3. Jumlah trombosit>=120.0000/ul
4. Cadangan sumsum tulang masih adekuat misal Hb > 10
5. Creatinin Clearence diatas 60 ml/menit (dalam 24 jam) ( Tes Faal Ginjal )
6. Bilirubin <2 mg/dl. , SGOT dan SGPT dalam batas normal (Tes Faal Hepar).
7. Elektrolit dalam batas normal.
8. Mengingat toksisitas obat-obat sitostatika sebaiknya tidak diberikan pada usia diatas 70
tahun.
Status Penampilan Penderita Ca ( Performance Status )

Status penampilan ini mengambil indikator kemampuan pasien, dimana penyait


kanker semakin berat pasti akan mempengaruhi penampilan pasien. Hal ini juga menjadi
faktor prognostik dan faktor yang menentukan pilihan terapi yang tepat pada pasien
dengan sesuai status penampilannya.

Skala status penampilan menurut ECOG ( Eastern Cooperative Oncology Group) adalah
sbb :

- Grade 0 : masih sepenuhnya aktif, tanpa hambatan untuk mengerjakan tugas kerja dan
pekerjaan sehari-hari.

- Grade 1 : hambatan pada perkerjaan berat, namun masih mampu bekerja kantor

ataupun pekerjaan rumah yang ringan.

- Grade 2 : hambatan melakukan banyak pekerjaan, 50 % waktunya untuk tiduran dan


hanya bisa mengurus perawatan dirinya sendiri, tidak dapat melakukan pekerjaan lain.

- Grade 3 : Hanya mampu melakukan perawatan diri tertentu, lebih dari 50%

waktunya untuk tiduran.

- Grade 4 : Sepenuhnya tidak bisa melakukan aktifitas apapun, betul-betul hanya

di kursi atau tiduran terus.


C. KEMORADIOTERAPI PADA KARSINOMA NASOFARING

Definisi Kemoradioterapi

Kemoradioterapi kombinasi adalah pemberian kemoterapi bersamaan dengan


radioterapi dalam rangka mengontrol tumor secara lokoregional dan meningkatkan
survival pasien dengan cara mengatasi sel kanker secara sistemik lewat mikrosirkulasi.
Begitu banyak variasi agen yang digunakan dalam kemoradioterapi ini sehingga sampai
saat ini belum didapatkan standar kemoradioterapi yang definitif.

Manfaat Kemoradioterapi

Manfaat Kemoradioterapi adalah :

1. Mengecilkan massa tumor, karena dengan mengecilkan tumor akan memberikan hasil
terapi radiasi lebih efektif. Telah diketahui bahwa pusat tumor terisi sel hipoksik dan
radioterapi konvensional tidak efektif jika tidak terdapat oksigen. Pengurangan massa
tumor akan menyebabkan pula berkurangnya jumlah sel hipoksia.
2. Mengontrol metastasis jauh dan mengontrol mikrometastase.
3. Modifikasi melekul DNA oleh kemoterapi menyebabkan sel lebih sensitif terhadap
radiasi yang diberikan (radiosensitiser).
Terapi kombinasi ini selain bisa mengontrol sel tumor yang radioresisten, memiliki
manfaat juga untuk menghambat pertumbuhan kembali sel tumor yang sudah sempat
terpapar radiasi.

Kemoterapi neoajuvan dimaksudkan untuk mengurangi besarnya tumor sebelum


radioterapi. Pemberian kemoterapi neoadjuvan didasari atas pertimbangan vascular bed
tumor masih intak sehingga pencapaian obat menuju massa tumor masih baik. Disamping
itu, kemoterapi yang diberikan sejak dini dapat memberantas mikrometastasis sistemik
seawal mungkin. Kemoterapi neoadjuvan pada keganasan kepala leher stadium II – IV
dilaporkan overall response rate sebesar 80 %- 90 % dan CR ( Complete Response )
sekitar 50%. Kemoterapi neoadjuvan yang diberikan sebelum terapi definitif berupa
radiasi dapat mempertahankan fungsi organ pada tempat tumbuhnya tumor (organ
preservation).
Secara sinergi agen kemoterapi seperti Cisplatin mampu menghalangi perbaikan
kerusakan DNA akibat induksi radiasi. Sedangkan Hidroksiurea dan Paclitaxel dapat
memperpanjang durasi sel dalam keadaan fase sensitif terhadap radiasi.

Kemoterapi yang diberikan secara bersamaan dengan radioterapi (concurrent or


concomitant chemoradiotherapy ) dimaksud untuk mempertinggi manfaat radioterapi.
Dengan cara ini diharapkan dapat membunuh sel kanker yang sensitif terhadap kemoterapi
dan mengubah sel kanker yang radioresisten menjadi lebih sensitif terhadap radiasi.
Keuntungan kemoradioterapi adalah keduanya bekerja sinergistik yaitu mencegah
resistensi, membunuh subpopulasi sel kanker yang hipoksik dan menghambat recovery
DNA pada sel kanker yang sublethal.

Kelemahan Kemoradioterapi

Kelemahan cara ini adalah meningkatkan efek samping antara lain mukositis,
leukopeni dan infeksi berat. Efek samping yang terjadi dapat menyebabkan penundaan
sementara radioterapi. Toksisitas Kemoradioterapi dapat begitu besar sehingga berakibat
fatal.

Beberapa literatur menyatakan bahwa pemberian kemoterapi secara bersamaan


dengan radiasi dengan syarat dosis radiasi tidak terlalu berat dan jadwal pemberian tidak
diperpanjang, maka sebaiknya gunakan regimen kemoterapi yang sederhana sesuai jadwal
pemberian.

Untuk mengurangi efek samping dari kemoradioterapi diberikan kemoterapi tunggal


(single agent chemotherapy) dosis rendah dengan tujuan khusus untuk meningkatkan
sensitivitas sel kanker terhadap radioterapi (radiosensitizer). Sitostatika yang sering
digunakan adalah Cisplatin, 5-Fluorouracil dan MTX dengan response rate 15%-47%.

2.12 PENCEGAHAN

Meskipun beberapa faktor risiko karsinoma nasofaring tidak dapat dikontrol, ada
beberapa yang dapat dihindari dengan melalkukan perubahan gaya hidup. Menghentikan
penggunaan rokok, karena hal ini adalah hal yang sangat penting untuk mengurangi risiko
karsinoma nasofaring.

Selain itu pemberian vaksinasi pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah
dengan risiko tinggi. Memindahkan (migrasi) penduduk dari daerah risiko tinggi ke tempat
lainnya. Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah cara memasak makanan
untuk mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya. Penyuluhan
mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan sosial-ekonomi dan
berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan faktor penyebab.
Melakukan tes serologik IgA-anti VCA dan IgA anti EA bermanfaat dalam menemukan
karsinoma nasofaring lebih dini.
BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN

Pengumpulan Data

Data-data yang dikumpulkan atau dikaji meliputi :

a. Identitas Pasien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat
rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan dan
pekerjaan pasien.

b. Keluhan Utama

Telinga kiri terasa buntu/hingga peradangan. Timbul benjolan di leher kanan dan kiri sejak
3 bulan yang lalu.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Klien pernah mengalami stroke atau tidak

d. Riwayat Penyakit Sekarang


Telinga kiri terasa buntu/hingga peradangan. Timbul benjolan di leher kanan dan
kiri sejak 3 bulan yang lalu.

e. Riwayat Kesehatan Keluarga


Riwayat kesehatan keluarga yang lain tidak ada yang menderita penyakit seperti
yang diderita klien saat ini.

f. Keadaan Kesehatan Lingkungan


Klien mengatakan bahwa Lingkungan rumah tempat tinggal cukup bersih

g. Riwayat Psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta
bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.
Pola aktivitas sehari-hari

(1) Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehatan


Pada pasien diabetik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena
kurangnya pengetahuan tentang dampak diabetuk sehingga menimbulkan persepsi
yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur
pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang
benar dan mudah dimengerti pasien.
(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar gula
darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering kencing,
banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan
tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang
dapat mempengaruhi status kesehatan penderita.
(3) Pola Eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan
pasien sering kencing (poliuri) dan lancar, Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine
kuning. Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan. Klien buang air besar 1
X/hari.

(4) Pola tidur.dan Istirahat


Adanya poliuri dan situasi rumah sakit yang ramai akan mempengaruhi waktu tidur
dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu tidur penderita mengalami
perubahan. Klien kurang tidur baik pada waktu siang maupun malam hari. Klien
tampak terganggu dengan kondisi ruang perawatan yang ramai.

(5) Pola Aktivitas dan latihan


Adanya diabetik dan Ca. nasofaring menyebabkan penderita tidak mampu
melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita mudah mengalami
kelelahan. Klien biasanya bekerja diluar rumah, tapi saat ini klien hanya beristirahat
di Rumah Sakit sambil menunggu rencana operasi.

(6) Pola Hubungan dan Peran


Ca nasofaring yang sukar sembuh menyebabkan penderita malu dan menarik diri
dari pergaulan.
(7) Pola Sensori dan Kognitif
Pasien dengan diabetes cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka
sehingga tidak peka terhadap adanya trauma. Klien mampu melihat dan mendengar
dengan baik, klien tidak mengalami disorientasi.
(8) Pola Persepsi Dan Konsep Diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita
mengalami gangguan pada gambaran diri. Lamanya perawatan, banyaknya biaya
perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan
gangguan peran pada keluarga (self esteem). Klien mengalami cemas karena
Kurangnya pengetahuan tentang sifat penyakit, pemeriksaan diagnostik dan tujuan
tindakan yang diprogramkan.

(9) Pola Seksual dan Reproduksi


Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga
menyebabkan gangguan potensi seksual, gangguan kualitas maupun ereksi, serta
memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme. Selama dirawat di rumah
sakir klien tidak dapat melakukan hubungan seksual seperti biasanya.

(10) Pola mekanisme/Penanggulangan Stress dan koping


Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya
karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa marah,
kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain, dapat menyebabkan penderita tidak
mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif. Klien merasa
sedikit stress menghadapi tindakan kemoterapi/sitostatika. karena kurangnya
pengetahuan.

(11) Pola Tata Nilai dan Kepercayaan


Adanyaperubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh sertaca
nasofaringtidak menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi
mempengaruhi pola ibadah penderita.
Personal Higiene

Kebiasaan di rumah klien mandi 2 X/hari, gosok gigi 2 X/hari, dan cuci rambut 1
X/minggu.

Ketergantungan

Klien tidak perokok, tidak minum-minuman yang mengandung alkohol.

Aspek Psikologis

Klien terkesan takut akan penyakitnya, merasa terasing dan sedikit stress
menghadapi tindakan operasi.
Aspek Sosial/Interaksi

Hubungan dengan keluarga, teman kerja maupun masyarakat di sekitar tempat


tinggalnya biasa sangat baik dan akrab. Saat ini klien terputus dengan dunia luar,
kehilangan pencari nafkah (bagi keluarganya), biaya mahal.

Aspek Spiritual

Klien dan keluarganya sejak kecil memeluk agama Kristen, ajaran agama dijalankan
setiap saat. Klien sangat aktif menjalankan ibadah dan aktif mengikuti kegiatan
agama yang diselenggarakan oleh gereja di sekitar rumah tempat tinggalnya maupun
oleh masyarakat setempat.

Saat ini klien merasa tergangguan pemenuhan kebutuhan spiritualnya

Prioritas Keperawatan

1. Dukungan adaptasi dan kemandirian.


2. Meningkatkan kenyamanan.
3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.
4. Mencegah komplikasi.
5. Memberi informasi tentang proses/kondisi penyakit, prognosis dan kebutuhan
pengobatan.
Tujuan Pemulangan

1. Klien menerima situasi dengan realistis.


2. Nyeri berkurang/terkontrol.
3. Homeostasis dicapai.
4. Komplikasi dicegah/dikurangi
5. Proses/kondisi penyakit, prognosis, pilihan terapeutik dan aturan dipahami.
3.2 PEMERIKSAAN FISIK (Body Systems)
(1) Pernafasan (B 1 : Breathing)
Pernafasan melalui hidung. Frekuensi 20 x/menit, Irama teratur, tidak terlihat
gerakan cuping hidung, tidak terlihat Cyanosis, tidak terlihat keringat pada dahi,
tidak terdengar suara nafas tambahan, dentuk dada simetris.Hasil foto Thorax PA
Cor/pulmo tidak ada kelainan.

(2) Cardiovascular (B 2 : Bleeding)


Nadi 90 X/menit kuat dan teratur, tekanan darah 140/90 mmHg, Suhu 36,8 0C,
perfusi hangat. Cor S1 S2 tunggal reguler, ekstra sistole/murmur tidak ada

(3) Persyarafan (B 3 : Brain)


Tingkat kesadaran (GCS) Membuka mata : Spontan (4)

Verbal : Orientasi baik (5)

Motorik : Menurut perintah (6)

Compos Mentis : Pasien sadar

(4) Perkemihan-Eliminasi Uri (B.4 : Bladder)


Jumlah urine 1200 cc/24 jam, warna urine kuning

(5) Pencernaan-Eliminasi Alvi (B 5 : Bowel)


Mulut dan tenggorokan normal, Abdomen normal, Peristaltik normal, tidak
kembung, tidak terdapat obstipasi maupun diare, Rectum normal, klien buang air
besar 1 X/hari.

(6) Tulang-Otot-Integumen (B 6 : Bone)


Kemampuan pergerakan sendi bebas/terbatas

Parese ada/tidak, Paralise ada/tidak, Hemiparese ada/tidak, .

Tidak terdapat kontraktur maupun dikubitus

(7) Sistem Endokrin


Terapi hormon

Karakteristik sex sekunder

Riwayat pertumbuhan dan perkembangan fisik

Hipoglikemia

Polidipsi
Poliphagi

Poliuri

Postural hipotensi

Kelemahan

3.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG

pemeriksaan Laboratorium

- Hb : 15,8 mg/dl (13,4 mg/dl)


- Leukosit : 11,3
- Albumin : 4,1 gr/dl (3,2 – 3,5 gr/dl)
- SGOT : 10,2 ( kurang 29 )U/L
- SGPT : 13,5 U/L
- Bilirubin Direk : 0,31 ( 0,25)
- Bilirubin Total : 1,01 ( 1,00)
- Alkali Phospatase : 148
- Cholesterol Total : 148,8 ( 200)
- Trigliserida : 81,4 ( 200)
- HDL Cholesterol : 30 ( 35
- LDL Cholesterol : 101 ( 130)
- Ureum/BUN : 13,8 mg/dl (10 – 20)
- Serum Creatinin : 1,16 mg/dl (L : 0,9 – 1,5 P : 0,7 – 1,3)
- Uric Acid : 4,1 (L : 3,4 – 7,0 P : 2,4 – 5,7)
- Glukosa puasa : 300 mg/dl ( 126 mg/dl)
- Glukosa 2 jam pp : 463 mg/dl ( 140 mg/dl)
Hasil pemeriksaan Laboratorium

- Gula darah acak : 178 mg/dl ( 140 mg/dl)


Hasil pemeriksaan Patologi

Mikroskopik

- Jaringan nasofaring hiperplastik, tidak tampak tanda-tanda keganasan


- Jaringan nasofaring dengan infiltrat luas undiff. Epidermoid carcinoma, WHO type 3.
- Kesimpulan : Nasofaring kiri, biopsi undiff. Epidermoid carcinoma, WHO type 3.
Hasil pemeriksaan CT Scan

Terliha gambaran massa daerah nasopharynx mengenai atap serta dinding kanan kiri. Batas
anterior mencapai cavum nasi bagian posterior. Sisi kanan juga terlihat ada cairan dalam
sinus maxillaris kanan suspect merupakan perluasan tumor tersebut. Belum terlihat ada
invasi tumor ke intracranial. Perluasan ke lateral, kanan kiri sampai di musculus
pterygoideus tetapi belum mengadakan infiltrasi pada musculus tsb. Pada infiltrasi
intracranial.

Kesimpulan : Gambaran tumor nasopharynx

Hasil pemeriksaan Radiologi tanggal 9 April 2002

Thorax PA

Cor / pulmo tidak ada kelainan.

TERAPI :

- Infus RL/D5%
- Inj Actrapid 16 UI ¼ jam sebelummakan.
- Copar 6 X 1 Tab/hari
- Inj Xylo Della 2 : 2 Im
- Inj Novoban 1 Amp
- Inj Carbocin 450 mg dalam Inf D5% 100 cc drip  habis dalam 6 jam.
- Inj Curasil (5 FU) 1000mg dalam 100 cc D5% drip  habis dalam 30 menit.
- Inj Bleocyn 30 mg dalam 100 cc RL drip  habis dalam 30 menit.
3.4ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI MASALAH PARAF


1 DS:Klien kurang Rasa nyeri pada Ganguan pola
tidur baik pada kepala. tidur
waktu siang maupun
malam hari.
DO:Klien tampak
terganggu dengan
kondisi ruang
perawatan yang
ramai.

2 DS:Klien Kurangnya Cemas


mengatalakn cemas pengetahuan
karena Kurangnya tentang
pengetahuan tentang penyakitnya.
sifat penyakit,
pemeriksaan
diagnostik dan
tujuan tindakan yang
diprogramkan.

Lamanya perawatan,
banyaknya biaya
perawatan dan
pengobatan dan
gangguan peran
pada keluarga (self
esteem).

DO:Klien
mengatakan sedikit
stress menghadapi
tindakan kemoterapi/
sitostatika. karena
kurangnya
pengetahuan.

3 DS:Klien Kurangnya Kurangnya


mengatakan kurang informasi. pengetahuan
mengetahui tentang tentang proses
proses penyakit, penyakit, diet,
perawatan maupun perawatan dan
pengobatan serta pengobatan
kurangnya
pengetahuan tentang
dampak diabetuk
dan diet.

DO:px tampak
lemah

4 DS:Klien mengalami Intake makanan Gangguan


muntah 2 X yang kurang. pemenuhan nutrisi
kurang dari
DO:Klien mengeluh
kebutuhan tubuh
selalu mual dan
selalu ingin muntah

3.5DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada kepala.
2. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
3. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya informasi.
4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
denganintakemakananyangkurang
3.6 INTERVENSI

NO Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


keperawatan
1 Gangguan pola Tujuan : Gangguan pola 1Ciptakan lingkungan 1. Lingkungan
tidur tidur pasien akan teratasi. nyaman dan tenang yang
berhubungan Kriteria hasil : nyamandapat
dengan rasa 1. Pasien mudah tidur dalam 2.Kajitentang membantu
nyeri pada waktu 30 – 40 menit. kebiasaantidurpasien meningkatkan
kepala 2. Pasien tenang dan wajah di rumah. tidur/istirahat.
segar.
3. Pasien mengungkapkan 3.Kajiadanyafaktor 2. Mengetahui
dapat beristirahat dengan penyebab perubahandari
cukup. gangguapolatidur hal-halyang
yanglainseperti cemas, merupakan
efekobat-obatandan kebiasaan
suasana ramai. pasien ketika
tidur akan
4.Anjurkanpasien mempengaruhi
untuk menggunakan pola tidur
pengantartidur pasien.
danteknik relaksasi.
3. Mengetahui
5.Kaji tanda-tanda faktorpenyebab
kurangnya gangguanpola
pemenuhan kebutuhan tiduryanglain
tidur pasien dialamidan
dirasakan
pasien.
4. Pengantar tidur
akan
memudahkan
pasien dalam
jatuh dalam
tidur
teknik relaksasi
akan
mengurangi
ketegangan dan
rasa nyeri.

5. Untuk
mengetahui
terpenuhi atau
tidaknya
kebutuhan tidur
pasien akibat
gangguan pola
tidur sehingga
dapat diambil
tindakan yang
tepat

2 Cemas Tujuan : rasa cemas 1. Kaji tingkat 1 Untuk


berhubungan berkurang/hilang. kecemasan yang menentukan
dengan Kriteria Hasil : dialami oleh tingkat
kurangnya 1. Pasien dapat pasien. kecemasan yang
pengetahuan mengidentifikasikan sebab dialami pasien
tentang kecemasan. sehingga
penyakitnya 2. Emosi stabil., pasien 2. Beri kesempatan perawat
tenang. pada pasien untuk bisa
3. Istirahat cukup. mengungkapkan memberikan
rasa cemasnya. intervensi yang
3. Gunakan cepat dan tepat.
komunikasi 2 Dapat
terapeutik. meringankan
beban pikiran
pasien.
4. Beri informasi
yang akurat 3 Agar terbina
tentang proses rasa
penyakit dan saling percaya
anjurkan pasien antar perawat-
untuk ikut serta pasien sehingga
dalam tindakan pasien
keperawatan. kooperatif
dalam tindakan
5. Berikan keperawatan.
keyakinan pada 4 Informasi yang
pasien bahwa akurat tentang
6. perawat, dokter, penyakitnya dan
dan tim kesehatan keikutsertaan
lain selalu pasien dalam
berusaha melakukan
memberikan tindakan dapat
pertolongan yang mengurangi
terbaik dan beban pikiran
seoptimal pasien.
mungkin. 5 Sikap positif
7. Berikan dari
kesempatan pada timkesehatan
keluarga untuk akan membantu
mendampingi menurunkan
pasien secara kecemasan yang
bergantian. dirasakan
8. Ciptakan pasien.
lingkungan yang
aman dan tenang 6 Pasien akan
. merasa lebih
tenang bila ada
anggota
keluarga yang
menunggu.
7 Lingkung yang
tenang dan
nyaman dapat
membantu
mengurangi rasa
cemas pasien.

3 Tujuan : Pasien memperoleh 1. Kaji tingkat 1. Untuk


Kurangnya informasi yang jelas dan pengetahuan memberikan
pengetahuan benar tentang penyakitnya. pasien/keluarga informasi pada
tentang proses Kriteria Hasil : tentang penyakit pasien/keluarga,
penyakit, diet, 1. Pasien mengetahui tentang DM dan Ca. perawat perlu
perawatan, dan proses penyakit, diet, Nasofaring. mengetahui
pengobatan perawatan dan sejauh mana
berhubungan pengobatannya dan dapat informasi atau
dengan menjelaskan kembali bila 2. Kaji latar pengetahuan
kurangnya ditanya. belakang yang diketahui
informasi. pendidikan pasien/keluarga.
pasien.
2. Agar perawat
2. Pasien dapat melakukan 3. Jelaskan tentang dapat
perawatan diri sendiri proses penyakit, memberikan
berdasarkan diet, perawatan penjelasan
pengetahuan yang diperoleh. dan pengobatan dengan
pada pasien menggunakan
dengan bahasa kata-kata dan
dan kata-kata kalimat yang
yang mudah dapat
dimengerti. dimengerti
4. Jelasakan pasien sesuai
prosedur yang tingkat
kan dilakukan, pendidikan
manfaatnya bagi pasien.
pasien dan 3. Agar informasi
libatkan pasien dapat diterima
didalamnya. dengan mudah
dan tepat
5. Gunakan gambar- sehingga tidak
gambar dalam menimbulkan
memberikan kesalahpahaman
penjelasan (jika .
ada /
memungkinkan). 4. Dengan
penjelasdan
yang ada dan
ikut secra
langsung dalam
tindakan yang
dilakukan,
pasien akan
lebih kooperatif
dan cemasnya
berkurang.
5. Gambar-gambar
dapat membantu
mengingat
penjelasan yang
telah diberikan.

4 Gangguan Tujuan : Kebutuhan nutrisi 1. Kaji status nutrisi 1. Untuk


pemenuhan dapat terpenuhi dan kebiasaan mengetahui
nutrisi kurang Kriteria hasil : makan. tentang keadaan
dari kebutuhan 1. Berat badan dan tinggi dan kebutuhan
tubuh badan ideal. 2. Anjurkan nutrisi pasien
berhubungan 2. Pasien mematuhi dietnya. pasienuntuk sehingga dapat
dengan intake 3. Kadar gula darah dalam mematuhi diberikan
makanan yang batas normal. dietyang tindakan dan
kurang 4. Tidak ada tanda-tanda telahdiprogramka pengaturan diet
hiperglikemia/hipoglikemi n.Timbang berat yang adekuat.
a. badan setiap 2. Kepatuhan
seminggu sekali. terhadap diet
dapat mencegah
3. Identifikasi komplikasi
perubahan pola terjadinya
makan. hipoglikemia/hi
perglikemia.
3. Mengetahui
4. Kerja sama perkembangan
dengan tim berat badan
kesehatan lain 4. pasien (berat
untuk pemberian badan
insulin dan diet merupakan
diabetik. salah satu
indikasi untuk
menentukan
diet).
5. Mengetahui
apakah pasien
telah
melaksanakan
program diet
yang ditetapkan.
6. Pemberian
insulin akan
meningkatkan
pemasukangluk
osa ke dalam
jaringan
sehingga
gula darah
menurun,pembe
rian diet yang
sesuai dapat
mempercepat
penurunan gula
darah dan
mencegah
komplikasi.
EDUKASI

1. Menjelaskan pengertian dari Ca nasofaring


2. Menjelaskan penyebab dari Ca Nasofaring
3. Menjelaskan pencegahan dari Ca Nasofaring
4. Menjelaskan tanda dan gejala dari Ca Nasofaring
5. Menjelaskan penanganan dari Ca Nasofaring
6. Menjelaskan Komplikasi dari Ca Nasofaring
7. Beri penjelasan pada pasien agar dapat berobat lebih awal
BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring


dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring
merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia.
(Efiaty & Nurbaiti, 2001 ha146).

Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500
kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang
diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty
&Nurbaiti, 2001 hal146).

Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan


makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor
geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial
ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya
tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring
adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus
EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).

4.2 SARAN

Setelah penulis menjabarkan mengenai kasus Ca Nasofaring, diharapkan memberi


suatu pencerahan dan tambahan ilmu pengetahuan mengenai kasus ini. Namun, dalam
uraiannya, penulis sadar bahwa masih banyak hal yang dirasa kurang dan oleh karenanya
penulis mengharapkan suatu masukan dan saran untuk kebaikan mendatang dalam segala
bidang, terutama kasus Ca Nasofaring ini. Penelusuran lebih jauh dan dalam lagi
mengenai perkembangan kasus Ca Nasofaring ini merupakan jalan terbaik untuk mendapat
informasi yang lebih relevan disamping makalah ini. Semoga makalah yang kami buat
dapat bermanfaat bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

 Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah, edisi 8 vol.3.EGC,
Jakarta
 Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9, EGC,Jakarta
 Inskandar.N, 1989, Tumor Telinga-Hidung-Tenggorokan, Diagnosa Dan
Penatalaksanaan, Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Indonesia, Jakarta
 Joanne C.Mc Closkey. 1996. Nursing Intervension Classification (NIC). Mosby Year
Book. St. Louis
 Marion Johnon, dkk. 2000. Nursing Outcome Classificasion (NOC). Mosby Year
Book.St. Louis
 Marjory Gordon, dkk.2000.Nursing Diagnoses : Definition & Classificasion 2001-
2002.NANDA. Mosby Year Book.St.Louis
 File:///G:/askep-ca-nasofaring.html
 File:///G:/ASKEP CA NASOFARING_b4hri.html
 NANDA International, 2001, Nursing Diagnosis Classification 2005 – 2006, USA
LAMPIRAN