Anda di halaman 1dari 23

Nilai :

LAPORAN PRAKTIKUM
KARAKTERISTIK BAHAN HASIL PERTANIAN
(Retensi Air, Equilibrium Moisture Content (EMC))

Oleh :

Nama : Abella Yogi Setyo Budi


NPM : 240110170077
Hari, TanggalPraktikum : Senin, 15 Oktober 2018
Waktu : 09.30-11.30 WIB
Co. Ass : 1. Agnes Klarasitadewi
2. Dina Aprilia
3. Intan Siti Sa’adah
4. Rini Nurul Fauziyah

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES


DEPARTEMEN TEKNIK PERTANIAN DAN BIOSISTEM
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penanganan produk hasil pertanian mempengaruhi kualitas dan kuantitas
prosuk pertanian itu sendiri, baik pada proses produksi, distribusi, maupun
pengolahan bahan hasil pertanian. Penanganan pada proses distribusi dilakukan
agar pada proses pendistribusian tidak terjadi kerusakan yang dapat menyebabkan
nilai bahan hasil pertanian berkurang. Dalam meningkatkan kualitas bahan hasil
pertanian dan terhindar dari kerusakan perlu adanya proses penyimpanan dari
bahan hasil pertanian yang baik, salah satunya dengan cara mengurangi kadar
airnya melalui proses pengeringan.
Proses pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam bahan
hasil pertanian mencapai kadar yang diinginkan sehingga mempunyai umur
simpan yang lebih lama karena tidak cepat membusuk. Pengeringan dapat
dilakukan secara alami (menggunakan sinar matahari) ataupun dengan proses
mekanis (menggunakan alat atau mesin pengering). Proses pengeringan
dipengarui oleh komponen bahan, bentuk dan ukuran bahan, perlakuan praproses,
kadar air awal, ketebalan bahan, jenis pengering dan suhu pengeringan.
Dilakukan percobaan mengenai pengeringan dengan bahan berupa biji-
bijian yang beragam jenis dan ukuran guna mengetahui nilai kadar air sehingga
dapat ditentukannya penyimpanan yang baik dari bahan, oleh karena itu perlu
dilakukan uji coba retensi air, Equilibrium Moisture Content ( EMC ), dan
pengeringan bahan hasil pertanian agar kadar air bahan dapat dikurangi sampai
tingkat air kesetimbangan dengan kondisi udara luar normal. Praktikan diharapkan
dapat melakukan proses pengurangan dan penambahan kadar air serta menghitung
kadar perubahaanya.

1.2 Tujuan Instruksional Khusus


1 Mengamati perubahan kadar air bahan hasil pertanian pada berbagai
kondisi penyimpanan dengan menggunakan moisture tester.
2 Mengukur kadar air bahan dengan metode dasar (metode oven)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kandungan Air Bahan Pangan


Water activity adalah jumlah air bebas bahan yang dapat dipergunakan oleh
mikroba untuk pertumbuhannya. Untuk memperpanjang daya awet suatu bahan
maka sebagian air pada bahan dihilangkan sehingga mencapai kadar air tertentu.
Mikroba hanya tumbuh pada kisaran Aw tertentu. Untuk mencegah pertumbuhan
mikroba, maka Aw bahan harus diatur. Bahan pangan yang mempunyai Aw di
bawah 0,70 biasanya dianggap cukup baik dan tahan dalam penyimpanan
(Agung,2012).
Kandungan air yang terdapat di dalam suatu bahan menurut Agung (2012),
terdiri atas tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
a. Air Bebas (Free Water)
b. Air Terikat secara Fisik
c. Air Terikat secara Kimia

2.2 Kadar Air


Menurut Zain (2005), kandungan air dalam bahan hasil pertanian biasanya
dinyatakan dalam persentase basis basah (m) dan persentase basis kering (M).
Kadar air bahan menunjukkan banyaknya kandungan air persatuan bobot bahan.
Dalam hal ini terdapat dua metode untuk menentukan kadar aair bahan tersebut
yaitu berdasarkan bobot kering (dry basis) dan berdasarkan bobot basah (wet
basis). Dalam penentuan kadar air bahan hasil pertanian biasanya dilakukan
berdasarkan obot basah.
Berdasarkan kadar air (bobot basah dan bobot kering) dan bahan basah
maupun bahan setelah dikeringkan, dapat ditentukan rasio pengeringan (drying
ratio) dari bahan yang dikeringkan tersebut. Besarnya “drying ratio“ dapat
dihitung sebagai bobot bahan sebelum pengeringan per bobot bahan sebelum
pengeringan per bobot bahan setelah pengeringan. Dapat dihitung dengan
rumus: Drying ratio = bobot bahan sebelum pengeringan / bobot bahan setelah
pengeringan (Zain, 2005)
Dalam perhitungan ini berlaku rumus sebagai berikut:
KA = (Wa / Wb) x 100% ......(1)
Kandungan air basis kering dapat dinyatakan sebagai berikut:
100Wm
m ..........(2)
Wm  Wd 

Sedangan kandungan air basis kering dapat dinyatakan sebagai berikut:


Wm
M  100 .........(3)
Wd
100m
M  .......(4)
100  m 
Dimana:
m = kadar air basis basah (%)
M = kadar air basis kering (%)
Wm = berat air dalam bahan (kg)
Wd = berat bahan padat (bagian yang tidak mengandung air) (kg)
Dalam perhitungan-perhitungan teknik, kadar air basis kering lebih sering
dipakai karena pada perhitungan kadar air basis kering adalah bahan setelah
dikeringkan tidak mengandung air sehingga beratnya tetap dan penurunan
kandungan air lebih terlihat dengan jelas.
Menurut Zain (2005), penentuan kadar air dapat dilakukan dengan dengan
menggunakan dua metode, yaitu:
1. Metode praktis, metode ini mudah dilakukan tetapi hasilnya kurang teliti
sehingga sering perlu dilakukan kalibrasi alat terlebih dahulu. Yang termasuk
metode ini adalah metode kalsium karbida dan metode pengukuran dengan
alat ukur kadar air (electric moiture meter).
2. Metode dasar, kadar air ditentukan dengan mengukur kehilangan berat yang
diakibatkan oleh pengeringan dan pemanasan pada kondisi tertentu dan
dinyatakan sebagai persentase dari berat mula-mula. Yang termasuk ke dalam
metode dasar adalah metode oven, metode destilasi dan metode Karl Fisher.
Metode yang digunakan untuk menetapkan kadar air pada suatu bahan adalah
dengan menggunakan metode “Penetapan air dengan metode oven“, yaitu suatu
metode yang dapat digunakan untuk seluruh produk makanan, kecuali produk
tersebut mengandung komponen-komponen yang mudah menguap atau jika
produk tersebut mengalami dekomposisi pada pemanasan 100oC – 102oC sampai
diperoleh berat yang tetap. (Rudi, 2011)

2.3 Kadar Air Kesetimbangan (Equilibrium Moisture Content (EMC))


Kadar air kesetimbangan merupakan hal yang sangat penting dalam proses
pengeringan. Kadar air kesetimbangan suatu bahan hasil pertanian adalah kadar
air padatan basah bahan hasil pertanian yang berada dalam keseimbangan dengan
udara sekelilingnya pada suhu dan kelembaban relatif tertentu. Hubungan kadar
air bahan hasil pertanian dengan kelembaban relatif udara dapat digambarkan
pada gambar 1. (Zain, 2005)

A B Desorpsi
k
a
d
a
r

a
i Adsorpsi
r

Kelembaban Relatif (%)

Gambar 1. Hubungan Kadar Air Bahan Hasil Pertanian dan Kelembaban


Relatif Udara
Hubungan kadar air kesetimbangan dan suhu dapat dirumuskan
sebagai berikut:

 X * 
M   X * .............(5)
 T  wtetap

Dimana:
X* = Kadar air kesetimbangan basis kering (desimal)
T = suhu (K)
W = Kelembaban mutlak (kg uap air/kg udara kering) (%)
 = Konstanta dengan nilai dari 0,005 hingga 0,01, K-1
Bahan basah di dalam alat pengering akan mengalami penguapan pada
seluruh permukaannya. Penguapan tersebut akan terhenti pada saat tertentu,
karena molekul-molekul air yang belum diserap dari bahan sama jumlahnya
dengan molekul-molekul air yang belum diserap oleh permukaan bahan basah
tersebut. Keadaan itu dikatakan sebagai keadaan keseimbangan antara penguapan
dan pengembunan. Kadar air bahan dalam keadaan seimbang disebut kadar air
keseimbangan (equilibrium moisture content). Keseimbangan itu terjadi pada
suhu tertentu dan ditentukan oleh kelembapan nisbi tertentu. Kadar air
keseimbangan suatu bahan dapat diartikan sebagai kadar air minimum yang dapat
dikeringkan di bawah kondisi pengeringan yang tetap atau pada suhu dan
kelembapan nisbi yang tetap. Suatu bahan berada dalam keadaan seimbang
dengan kondisi sekelilingnya, apabila laju kehilangan air dari bahan menuju
kondisi sekeliling (atmosfer) sama dengan laju air yang didapat dari udara
sekelilingnya. Apabila kelembapan nisbi udara sekeliling bahan dalam keadaan
seimbang dengan sekitarnya disebut sebagai kelembapan nisbi keseimbangan
(equilibrium relative humidity). Kadar air keseimbangan (KAK) atau Equilibrium
Moisture Content (EMC) dapat disimpulkan sebagai keseimbangan antara kadar
air bahan dengan suhu dan kelembapan udara sekelilingnya. Jika suatu bahan
pangan dengan kadar air bahan tertentu ditempatkan dalam lingkungan dengan
suhu dan kelembapan tertentu, maka kadar air bahan tersebut akan berubah
sampai tercapai kadar air keseimbangan antara air dalam bahan dengan air di
udara. Bahan akan melepaskan atau menyerap air untuk mencapai kadar air
keseimbangan. Bahan yang dapat melepaskan dan menyerap air disebut bahan
higroskopis. (Zain, 2005)

2.4 Pengeringan
Proses pengeringan di dalam industri pertanian merupakan salah satu
tahapan yang cukup penting dari beberapa proses lainnya dalam penanganan
bahan hasil pertanian. Pengeringan dapat membantu menghambat kerusakan yang
terjadi pada bahan hasil pertanian, karena bahan yang telah dipanen masih
melakukan proses respirasi sehingga apabila disimpan dalam waktu yang lama
akan mengalami pembusukan. Dengan proses pengeringan, kadar air bahan hasil
pertanian dapat dikurangi sampai tingkat kadar air kesetimbangan dengan kondisi
udara luar normal atau tingkat kadar yang setara dengan aktivitas air sehingga
bahan hasil pertanian akan aman dari kerusakan mikrobiologi, enzimatis dan
kimiawi. (Zain, 2005).
Tujuan pengeringan bahan hasil pertanian adalah untuk mengurangi
kandungan air bahan sampai dengan kadar air aman, baik untuk proses
pengolahan maupun penyimpanan. Menurut Henderson (1976), pengeringan
adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian air dari
bahan dengan menggunakan media pengering (udara, cair, padat) sampai pada
tingkat kadar air kesetimbangan (equilibrium moisture content = EMC) dengan
kondisi udara luar (atmosfer) normal atau tingkat kadar air yang setara degnan
nilai aktivitas air (aw) yang aman dari kerusakan oleh mikrobiologi, enzimatis, dan
kimia. (Zain, 2005)
Proses pengeringan dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode laju
pengeringan tetap dan periode laju pengeringan menurun. Laju pengeringan tetap
akan berhenti pada saat air bebas dipermukaan habis dan laju pengurangan kadar
air akan berkurang secara progresif. Kadar air dimana laju pe geringan tetap
berhenti disebut kadar air kritis. Laju pengeringan menurun dibatasi oleh EMC
dari kurva kadar air antara nol dan mendekeati RH 100%.
Penanganan bahan hasil pertanian dikatakan tepat jika penanganan tersebut
mampu mengelola hubungan antara faktor-faktor yang dimiliki bahan hasil
pertanian diantaranya struktur bahan biologis dan retensi air dengan lingkungan
dimana bahan hasil pertanian berada. Untuk dapat memilih teknik penanganan
hasil pertanian yang tepat perlu dipahami pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap
kualitas bahan hasil pertanian.(Zain,2005)

2.5 Prinsip Dasar Pengeringan


Menurut Sutanto (2012), mekanisme pengeringan bahan hasil pertanian
meliputi dua proses perpindahan, yaitu perpindahan massa air dari dalam bahan
secara difusi dan perpindahan energi panas yang digunakan untuk menguapkan air
dari permukaan bahan. Proses pengeringan yang umum digunakan di industri
terbagi dalam beberapa kategori:
1. Pengeringan konveksi
2. Pengeringan konduksi
3. Pengeringan hampa udara (vakum)
4. Pengeringan beku.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Peralatan yang dibutuhkan pada praktikum kali ini adalah:
1. Cawan
2. Desikator
3. Moisture Tester
4. Oven
5. Refrigerator
6. RH meter
7. Stopwatch
8. Thermometer
9. Timbangan analitik
3.1.2 Bahan
Bahan yang dibutuhkan untuk praktikum kali ini adalah:
1. Jagung
2. Kacang Hijau
3. Kacang kedelai
4. Kacang Tanah
3.2 Prosedur Percobaan
3.2.1 Pengamatan pada Bahan Awal
1. Mengukur kadar air bahan dengan menggunakan moisture tester.
2. Mengukur suhu dan RH udara dengan RH meter di 3 titik berbeda
ruangan praktikum

3.2.2 Penurunan Kadar Air


1. Mengukur suhu dan RH pada oven
2. Menyiapkan 3 cawan yang masing-masing telah berisi bahan seberat 5
gram.
3. Menyimpan 3 cawan yang berisi bahan seberat 5 gram ke dalam oven
selama 5 menit, 15 menit dan 30 menit.
4. Mengeluarkan cawan yang berisi bahan seberat 5 gram.
5. Mengukur kadar air bahan dengan moisture tester.

3.2.3 Peningkatan Kadar Air


1. Mengukur suhu dan RH refrigerator.
2. Menyiapkan 3 cawan yang masing-masing telah berisi bahan seberat 5
gram.
3. Menyimpan cawan tersebut ke dalam refrigerator selama 5 menit, 15
menit dan 20 menit.
4. Mengeluarkan cawan tersebut dari refrigerator.
5. Mengukur kadar air bahan dengan moisture tester.

3.2.4 Pembacaan pada Moisture Tester


1. Membersihkan tempat sampel pada moisture tester
2. Memasukkan bahan ke dalam tempat sampel moisture tester
3. Memasukkan bahan kedalam tempat pada moisture tester
4. Memutar grinding handle ke kiri (stop line) dan memasukkan wadah
kedalam instrument
5. Menekan select button untuk merubah sampel
6. Hasil pengukuran akan ditampilkan pada layar LCD
7. Mematikan alat dengan menekan average button dua kali
8. Membuat grafik hubungan antara peningkatan kadar air terhadap waktu
dan grafik hubungan antara penurunan kadar air terhadap waktu.

3.2.5 Prosedur Porcabaan pada EMC


Prosedur percobaan pada EMC menggunakan pengukuran kadar air
metode oven pada 1300C (ISTA)
1. Menimbang bahan yang terdapat pada cawan (Mc)
2. Menghitung kadar air basis basah untuk 3 pengamatan, yaitu disimpan
dalam oven 1300C selama 5 menit, 15 menit dan 20 menit.
(Mb−Mc)gram
Kadar air basis basah (Ka wb) = (Mb−Ma)gramx 100%

(Mb−Mc)gram
Kadar air basis kering (Ka db) = (Mc−Ma)gramx 100%
BAB IV
HASIL PERCOBAAN

4.1 Tabel
Tabel 1. Hasil Pengukuran Suhu dan RH (Relative Humidity).
Pengukuran Ruangan Refrigerator Oven
RH (%) T(℃) RH (%) T(℃) RH (%) T(℃)
1 50 26,3 42 5,7 53 62,4
2 51 26,5 43 4,9 57 65,2
3 52 24,7 41 7,5 57 61,4
Rata-rata 51 25,83 42 6,03 55,67 63

Tabel 2. Hasil Pengukuran Penurunan dan Peningkatan Kadar Air Kelompok 1


Perlakuan Rerata Kadar Air Akhir (%)
Nama Kadar Air
Waktu Kadar Air Penurunan Peningkatan
Bahan Awal (%)
(menit) Awal (%) (Oven) (Refrigerator)
5 11,7 10,7 11,7
Jagung 10 11,2 11,167 10,4 12,0
20 11,1 9,3 11,8

Tabel 3. Hasil Pengukuran Penurunan dan Peningkatan Kadar Air Kelompok 2


Perlakuan Rerata Kadar Air Akhir (%)
Nama Kadar Air
Waktu Kadar Air Penurunan Peningkatan
Bahan Awal (%)
(menit) Awal (%) (Oven) (Refrigerator)
5 9,7 13,7 9,9
Kacang
10 9,7 9,7 9,8 7,9
Hijau
20 9,7 10 10
Tabel 4. Hasil Pengukuran Penurunan dan Peningkatan Kadar Air Kelompok 3
Perlakuan Rerata Kadar Air Akhir (%)
Nama Kadar Air
Waktu Kadar Air Penurunan Peningkatan
Bahan Awal (%)
(menit) Awal (%) (Oven) (Refrigerator)
5 9,7 8,3 9,23
Kacang
10 9,6 9,63 9,1 8,8
Hijau
20 9,6 9,5 9,4

Tabel 5. Hasil Pengukuran Penurunan dan Peningkatan Kadar Air Kelompok 4


Perlakuan Rerata Kadar Air Akhir (%)
Nama Kadar Air
Waktu Kadar Air Penurunan Peningkatan
Bahan Awal (%)
(menit) Awal (%) (Oven) (Refrigerator)
5 10,8 8,7 10,767
Kacang
10 10,8 10,767 9,2 11,3
Kedelai
20 10,7 9,5 10,9

Tabel 6. Hasil Pengukuran Penurunan dan Peningkatan Kadar Air Kelompok 5


Perlakuan Rerata Kadar Air Akhir (%)
Nama Kadar Air
Waktu Kadar Air Penurunan Peningkatan
Bahan Awal (%)
(menit) Awal (%) (Oven) (Refrigerator)
5 10 10,03 10,83
Kacang
10 10 10,03 9,1 9,2
Tanah
20 10,1 9,5 9,5

Tabel 7. Hasil Pengukuran Kadar Air Bahan Metode ISTA.


ma + massa ma + massa Kadar air (%)
Massa awal
Bahan bahan awal akhir bahan
(ma) gr Wb Db
(mb) gr (mc) gr
Kel.1 4,3688 9,4057 9,0888 6,291 6,71
Tabel lanjutan
ma + massa ma + massa Kadar air (%)
Massa awal
Bahan bahan awal akhir bahan
(ma) gr Wb Db
(mb) gr (mc) gr
Kel.2 4,9650 9,9744 9,6102 7,27 7,84
Kel.3 4,3107 9,3908 9,0849 6,0215 6,4073
Kel.4 5,4925 10,4943 10,1817 6,84 6,666
Kel.5 4,2875 9,2931 8,9768 6,31 6,745

4.2 Perhitungan
4.2.1 Rumus perhitungan
a. Perhitungan Kadar Air Basis Basah (Wet Basis)
𝑀𝑏−𝑀𝑐
Wb = 𝑥 100%
𝑀𝑏−𝑀𝑎
b. Perhitungan Kadar Air Basis Kering (Dry Basis)
𝑀𝑏−𝑀𝑐
Db = 𝑥 100%
𝑀𝑐−𝑀𝑎

4.2.2 Perhitungan kelompok 1


(9,4057−9,0888)
a. Kadar Air Basis Basah (Wb) = 𝑥 100%
(9,4057 − 4,3688)

= 6,291 %
(9,4057−9,0888)
b. Kadar Air Basis Kering (DB) = 𝑥 100%
(9,0888−4,3688)

= 6,7139 %

4.2.3 Perhitungan kelompok 2


(9,9744 − 9,6102)
a. Kadar Air Basis Basah (Wb) = 𝑥 100%
(9,9744−4,9650)

= 7,27 %
(9,9744 − 9,6102)
b. Kadar Air Basis Kering (DB) = 𝑥 100%
(9,6102−4,9650)

= 7,84 %
4.2.3 Perhitungan kelompok 3
(9,3908−9,0849)
a. Kadar Air Basis Basah (Wb) = 𝑥 100%
(9,3908−4,3107)

= 6,0215 %
(9,3908−9,0849)
b. Kadar Air Basis Kering (DB) =
(9,0849−4,3107)
𝑥 100%
= 6,4073 %
4.2.4 Perhitungan kelompok 4
(10,4943−10,1817)
a. Kadar Air Basis Basah (Wb) =
(10,4943−5,4925)
𝑥 100%

= 6,48 %
(10,4943−10,1817)
b. Kadar Air Basis Kering (DB) = 𝑥 100%
(10,1817−5,4925)

= 6,666 %
4.2.5 Perhitungan kelompok 5
(9,2931 − 8,9768)
a. Kadar Air Basis Basah (Wb) = 𝑥 100%
(9,2968 − 4,2875)

= 6,31 %
(9,2931 - 8,9768)
b. Kadar Air Basis Kering (DB) = 𝑥 100%
(8,9768 - 4,2875)

= 6,745 %
4.3 Grafik
9
8.9
8.8
Kadar Air %

8.7
8.6
8.5 y = -0.0257x + 9
R² = 0.9643
8.4
0 5 10 15 20 25
Waktu
Gambar 2. Grafik Waktu Terhadap Penurunan Kadar Air Kelompok 1
14
12 y = 0.2929x + 6.75
R² = 0.8929
10
8

Kadar Air %
6
4
2
0
0 5 10 15 20 25
Waktu

Gambar 3. Grafik Waktu Terhadap Peningkatan Kadar Air Kelompok 1

16
14
12
Kadar Air %

10
8
6
4
2
0
0 5 10 15 20 25
Waktu

Gambar 4. Grafik Waktu Terhadap Penurunan Kadar Air Kelompok 2

12
Kadar Air %

10
8
6
4
2
0
0 5 10 15 20 25
Waktu

Gambar 5. Grafik Waktu Terhadap Peningkatan Kadar Air Kelompok 2


PROSES PENGERINGAN
10
Kadar Air (%) 9.5
9
8.5 KADAR AIR
8 PENGERINGAN

7.5
5 10 20
Waktu

Gambar 6. Grafik Waktu Terhadap Penurunan Kadar Air Kelompok 3

PROSES PENDINGINAN
9.6
9.4
Kadar Air (%)

9.2
9
8.8 KADAR AIR
8.6 PENDINGINAN
8.4
5 10 20
Waktu

Gambar 7. Grafik Waktu Terhadap Peningkatan Kadar Air Kelompok 3

9.6
9.5
9.4
9.3
Kadar Air (%)

9.2
9.1
9
8.9
8.8
8.7
8.6
0 5 10 15 20 25
Waktu

Gambar 8. Grafik Waktu Terhadap Penurunan Kadar Air Kelompok 4


11.4

11.3

11.2

Kadar Air (%) 11.1

11

10.9

10.8

10.7
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)

Gambar 9. Grafik Waktu Terhadap Peningkatan Kadar Air Kelompok 4

Penurunan Kadar Air Kacang Tanah


11
Penurunan Kadar Air (%)

10.5
Penurunan Kadar
10 Air Kacang Tanah

9.5 Linear
(Penurunan Kadar
Air Kacang Tanah)
9
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)
Gambar 10. Grafik Waktu Terhadap Penurunan Kadar Air Kelompok 5

Peningkatan Kadar Air Kacang Tanah


11
Peningkatan Kadar Air (%)

10.8
10.6 Peningkatan Kadar
10.4 Air Kacang Tanah
10.2
10
9.8 Linear
(Peningkatan
9.6
Kadar Air Kacang
9.4 Tanah)
0 5 10 15 20 25
Waktu (menit)
Gambar 11. Grafik Waktu Terhadap Peningkatan Kadar Air Kelompok 5
BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini praktikan melakukan pengukuran kadar air dari
bahan hasil pertanian yaitu biji-bijian. Praktikan mendapatkan kacang hijau untuk
mengukur kadar air nya dengan dua perlakuan, yaitu dipanaskann didalam oven
dan didinginkan di dalam kulkasPengambilan sampel dilakukan dalam rentang
waktu 5, 10, dan 20 menit. Sebelum sampel dimasukkan ke refrigerator dan oven,
terlebih dahulu sampel diukur kadar air awalnya. Kadar air rata-rata awal kacang
hijau yaitu sebesar 9,63.
sampel dari refrigerator dan satu sampel dari oven dikeluarkan secara
bersamaan pada menit ke 5, lalu diukur kadar airnya akan tetapi sampel dari oven
didiamkan kurang lebih 15 menit didalam desikator terlebih dahulu. Fungsi dari
desikator adalah untuk mengeringkan dan mendinginkan sampel yang akan
digunakan untuk diuji kadar airnya. Pengujian pada alat ini dilakukan sebanyak
tiga kali agar didapatkan hasil yang maksimal. Hal yang sama juga dilakukan pada
sampel yang telah didiamkan pada refrigerator dan oven pada menit ke 10 dan 20.
berdasarkan hasil yang diperoleh, hasil kadar air yang didapatkan semakin
tinggi seiring dengan lamanya sampel berada didalam refrigerator. Dalam hal ini
dapat disimpulkan proses pendinginan dapat membuat kadar air pada bahan
semakin bertambah karena suhu dingin. Sedangkan pada proses penurunan kadar
air dengan menggunakan oven beberapa data juga didapatkan kadar air yang
bertambah. Hal ini kemungkinan terjadi akibat adanya kesalahan pada saat
praktikum ataupun kesalahan pada alat sehingga dihasilkan data yang tidak akurat
bahkan error, selain itu sifat higrokopis dari bahan sangat mempengaruhi kadar air
dari bahan karena higrokopis merupakan kemampuan dari suatu bahan dalam
menyerap air di udara.
Pada praktikum kali ini terdapat beberapa kendala yang mempengaruhi hasil
praktikum kali ini yaitu kerusakan atau kesalahan yang terjadi pada alat sehingga
beberapa data nilainya error serta seringnya desikator dibuka seiring dengan
masuknya sampel dari kelompok lain memungkinkan mempengaruhi data yang
didapatkan. Sifat higrokopis dari suatu bahan juga mempengaruhi hasil
pengukuran apabila dilakukan di ruangan yang lembab maka ada kemungkinan
kadar air akan naik karena sifat ini. Perubahan kadar air ini dipengaruhi oleh
tingkat kekerasan bahan, komposisi dari dalam bahan itu sendiri. Kurang
akuratnya hasil percobaan pada nilai penurunan dan peningkatan dikarenakan
bahan bisa saja menyesuaikan kembali dengan lingkungan karena pengukuran
kadar air dengan menggunakan moisture tester harus dilakukan bergantian karena
keterbatasan alat yang hanya ada 1 di laboratorium.
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum kali ini adalah:
1. Nilai kadar air pada sampel kacang hijau hanya diperoleh karena
kesalahan pada alat.
2. Kandungan air di dalam bahan hasil pertanian dinyatakan dalam
persentase basis basah (m) dan persentase basis kering (M).
3. Semakin lama waktu pemanasan yang diiringi tingginya suhu
penyimpanan menyebabkan penurunan kadar air yang semakin tinggi.
4. Semakin lama waktu pendinginan yang diiringi rendahnya suhu
penyimpanan menyebabkan peningkatan kadar air yang semakin tinggi.

6.2 Saran
Saran untuk praktikum adalah:
1. Sebelum praktikum sebaiknya dilakukan pengecekan alat yang akan
dipakai sehingga tidak terjadi kesalahan pada alat yang mempengaruhi
hasil dari praktikum.
2. Praktikan sebaiknya lebih teliti dalam melakukan perhitungan untuk
mendapatkan hasil percobaan praktikum yang akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Rudi. 2011. Teknik Pengawetan Pangan. Jakarta : PT. Gramedia.

Zain, Sudaryanto.2005. Teknik Penanganan Hasil Pertanian. Bandung: Giratuna.

Agung.2013. Analisis bahan hasil pertanian. Terdapat pada:


http://library.unsoed.ac.id/366788/9/1397.chapter III.pdf (Diakses pada, 29
Oktober 2017 pukul 13.36 WIB)

Sutanto.2012. Proses pembuatan makanan. Terdapat pada:


http://library.unsri.ac.id/pdf//2089603/BAB%10II.pdf (Diakses pada, 29
Oktober 2017 pukul 14.47 WIB)
LAMPIRAN
Dokumentasi Praktikum

Gambar 12. Sampel di dalam desikator

Gambar 13. Oven Gambar 14. moisture tester