Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
Mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai konsep-konsep
perkembangan hewan dewasa dan proses regenerasi.
1.2 Dasar Teori
Regenerasi adalah proses perbaikan tubuh yang luka atau rusak. Prosesini
ditentukan oleh sel-sel batang dalam tubuh hewan yang belum mengalami diferensiasi.
Pada organisme yang berkembang baik secara aseksual, regenerasi juga sebagai proses
reproduksi atau berkembang biak, contohnya cacing pipih. Cacing pipih memilki
kemampuan regenerasi yang cukup tinggi. Apabila tubuhnya dipotong, setiap potongan
akan menjadi individu baru yang lengkap (Aryulina, 2006)
Hewan-hewan yang termasuk sub phylum vertebrata mempunyai daya regenerasi
yang lebih rendah dibandingkan dengan daya regenerasi pada hewan-hewan avertebrata.
Kebanyakan vertebrata memiliki kemampuan regenerasi, kemampuan ini tergantung
pada tubuh yang dipotong. Segmen-segmen yang terjadi pada saat regenerasi umumnya
lebih sedikit dari pada jumlah segmen yang hilang. Daya regenerasi pada organisme tidak
sama, vertebrata adalah yanga paling rendah regenerasinya, dimana abgian tubuh yang
lepas tidak dapat dilumpuhkan kembali (Surjono, 2001).
Berdasarkan mekanisme selulernya, regenerasi dibagi menjadi dua kategori yaitu
morphallaxis dan ephimorphosis. Morphollaxis adalah regeneasi bagian tubuh yang
hilang dengan cara renovasi jaringan yang tersisa. Pertumbuhan untuk mencapai ukuran
semula memerlukan proliferasi selular, contohnya terjadi pada hydra. Sedangkan
ephimorphosis pada mekanisme pertamanya melibatkan diferensiasi struktur uang
matang untuk membentuk suatu massa sel yang sama, melibatkan proliferasi selular aktif
sebelum penggantian tubuh yang hilang (Kottelat, 2013).
Sirip-sirip pada ikan mampu beregenerasi apabila rusak atau dipotong. Regenerasi
merupakan suatu proses perbaikan struktur yang hilang atau rusak. perbaikan ini terjadi
dengan sempurna atau mendekati sempurna (Poss, 2003). Regenerasi dipengaruhi oleh
faktor diantaranya adalah temperatur, proses biologi dan faktor bahan makanan.
Kenaikan dari temperatur pada hal tertentu mempercepat proses regenerasi. Regenerasi
lebih cepat pada suhu 29,7 C. Faktor bahan makanan tidak begitu mempengaruhi dalam
proses regenerasi (Morgan, 1998).
Regenerasi sirip iken terdiri dari empat tahap, yaitu tahap penutupan luka (wound
healing); pembentukan blastema, yaitu sekelompok sel yang belum tere diferensiasi dan
memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berdiferensiasi (blastema formation);
pertumbuhan regeneratif (regeneratif outgrowth); proliferasi dan diferensiasi yang terjadi
secara berurutan. Pada proses regenerasi, proses perbaikan morfologi sisrip ikan (jari-jari
dan ukuran) juga disertai dengan proses pigmentasi sehingga dihasilkan pola warna yang
sama atau mendekati pola warna awal sebelum sirip dipotong (Johnson, 1995)
Pada hari pemotonagn sisrip beberapa ikan akan mengalami pendarahan pada
bagian yang dipotong dan pembuluh darah (Katogi, 2004). Selain intu dihari pertma juga
terbentuk blastema yaitu sekelompok sel yang belum terdiferensiasi dan memiliki
kemampuan untuk tumbuh dan berdiferensiasi. Blastema terbentuk dari proliferasi sel-
sel mesenkim. Setelah tahap pembentukan blastema, dilanjutkan dengan tahap
pertumbuhan regeneratif, dicirikan dengan terjadinya proses angiogenesis, pembentukan
pulau-pulau darah yang mengumpul diujung-ujung jati-jari dan berkembang menjadi
pembuluh darah pada hari k-7 (Iza, 2010).
Menurut (Noviani, 2006) regenerasi meliputi tiga cara, yaitu:
1. Pertama, lewat mekanisme yang melibatkan diferensiasi struktur dewasa untuk
membentuk massa sel yang terdiferensiasi yang kemudian direspesifikasi. Tipe
regenerasi ini disebut regenerasi ephimorphis, dan ini khas pada regenerasi membaran.
Contohnya pada insekta, pisces dan reptilia.
2. Mekanisme regenerasi kedua disebut morphollaxis. Regenerasi semacam ini terjadi
lewat pemolaran kembali jaringan yang masih ada tidak disertai dengan perbanyakan
sel.
3. Mekanisme regenerasi intermediet dan diuga sebagai regenerasi konsenpatori. Pada
regenerasi ini, sel-sel membelah tapi mempertahanakn fungsi sel yang telah diferensia.
Tapi regenerasi ini khas pada hati manusia.
Jenis Cupang atau Betta sp. disunia tercatat sebanyak 79 jenis, asebanyak 51 jenis
berada di Indonesia (Kottelat, 2013). Secara umum ikan cupang merupakan penghuni
perairan tawar seperti danau, sungai dengan arus lambat, rawa dan selokan. Kemampuan
adaptasi cupang sangat tinggi diantaranya mampu menyesuaikan diri pada tempat-tempat
yang sempit dan tidak memungkinkaan jenis ikan lain untuk berkembangbiak. Cipang
sangat menyukai tempat-tempat yang banyak ditumbuhi tumbuhan air, hal ini berguna
untuk melindungi dirinya dari burung0burung pemangsa ikan (Wahyudewantoro, 2001).
Cupang memiliki postur tubuh memanjang, bentuk tubuhnya pipih kesamping atau
compressed. Kepala relatif besar, mulut kecil dilengkapi dengan bibir agak tebal dan
eahang yang kua. Sirip perut ramping memanjang, sirip pungung bentuknya relatif lebar
dan terentang sampai ke belakang, dan sirip ekor umumnya berbentuk membulat
(rounded). Sirip punggung dan sirip ekor apabila mengembang akan membulat
menyerupai kipasa dan berwarna indah. Sisik tubuhnya ada yng kasar dan ada yng halus,
serta warnanya sangat beragam (Yustina, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Aryulina, D. 2006. Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.


Iza, N. 2010. Ikan Gatul (Poecilla sp.) Sebagai Kandidat Hewan Model: Proses Regenerasi Sirip
Kaudal. Skripsi. Malang: Universitas Negeri Malang.
Johnson, SL and Weston, JA. 1995. Temperature Sensitive Mutation That Causes Stage Spesific
Defect Zebrafish Fin Regeneration. Genetic. 141: 1583-1595.
Katogi. 2004. Large Scale Analysis of The Genes In Fin Regeneration and Blastema Formation
in The Medaca, Oryzias Latipes. Development. 4259: 226-501.
Kottelat, M. 2013. The Fishes of The Inland Water of Southeast Asia: A Catalogue And Core
Bibliography of The Fishes Known To Occur In Freshwater, Mangrove and Estuaries.
The Raffles Buletin Of Zoology. 12(27): 16-28.
Morgan, W. 1998. Comparative Anatomy. New York: Jhon Wiley and Sons Inc.
Novianti, D. 2006. Pertumbuhan Planaria yang Diperlakukan dengan Regenerasi Buatan di
Sungai Semirang Ungaran. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Poss, K. 2003. Mps Defines a Proximal Blasternal Proliterative Compartment Essential For
Zebrafish Fin Regeneration. Development. 129: 5141-5149.
Surjono, W. 2001. Perkembangan Hewan. Jakarta: Pusat Penerbit UT.
Wahyudewantoro, G. (2001). Mengenal Cupang (Betta sp.) Ikan Hias yang Gemar Bertarung.
Warta Iktiologi. 1(1): 28-32.
Yustina, A. 2003. Daya Tetas dan Laju Pertumbuhan larva Ikan Hias Betta splendens di Habitat
Buatan. Jurnal Natur Indonesia. 5(2): 129-132.