Anda di halaman 1dari 4

Adhi Marsa Mahardika

200110170231

BREEDING BABI
Ternak babi yang dihasilkan oleh suatu peternakan babi akan mempunyai performans
yang baik apabila manajemen pemeliharaan yang digunakan juga baik. Manajemen
pemeliharaan babi harus disesuaikan dengan periode masa pertumbuhan babi, dari
manajemen pemilihan bibit, pemberian pakan, perkawinan, kesehatan dan lain-lain. Maka
dari itu manajamen pemeliharaan sangat menentukan kuantitas maupun kualitas babi yang
dihasilkan (Siagian, 1999).
 Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit yang baik merupakan langkah awal keberhasilan suatu usaha peternakan.
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan pada waktu memilih bibit:
Babi Sehat, dengan ciri-ciri : letak puting simetris dan jumlah 12-14 buah kiri dan kanan,
ambing yang besar dengan saluran darah terlihat jelas, tubuh yang padat dan kompak, kaki
yang tegap dan kokoh, tubuh yang panjang dibandingkan dari babi-babi yang sama umur.
Babi yang akan di ternakan sebaiknya berasal dari induk yang sering menghasilkan anak
banyak atau biasanya mempunyai anak lebih dari 5 ekor dalam satu kelahiran dan sanggup
atau menjaga anak-anaknya sampai saat lepas susu, maupun pejantan yang sanggup atau
mempunyai kemampuan kawin serta menghasilkan anak lebih dari 5 ekor.
Ciri-ciri indukan yang baik antara lain : kepala besarnya sedang, rahang ringan, tubuh
panjang, bahu lebar dalam, punggung agak berbentuk busur dan kuat, perut bila dipegang
lunak dan halus, jumlah putting susu cukup banyak dan genap 12-14 buah dan letaknya baik
dan simetris, kaki kuat (bisa berdiri tegak pada keempat kaki), tumit kuat, kuku lengkap dan
simetris, ham (paha) tebal dan lebar, ekor melingkar, laju pertumbuhan diatas rata-rata dan
pada umur 6 bulan beratnya minimal 75 kg, tebal lemak punggung pada umur 6 bulan (75 kg)
maksimal 3,5 cm.
Ciri-ciri pejantan yang baik antara lain: bersemangat, bersifat agresif/aktif terhadap
betina, mata lebar dan waspada, kepala ringan, bahu lebar rata, punggung sedikit lengkung,
ekor melingkar menunjukkan babi sehat, kaki kuat, berdiri tegak pada keempat kaki, kuku
lengkap dan bersih, tumit kuat, testis simetris, jalannya bagus tidak terhuyung-huyung,
bagian bawah/perut rata, laju pertumbuhan di atas ratarata dan pada umur 6 bulan beratnya
lebih dari 80kg, tebal lemak punggung pada berat 80 kg tidak lebih dari 3,62 cm, konversi
ransum pada berat 50-90 kg berkisar antara 2,8-3,2 (setiap konsumsi 1 kg ransum
menghasilkan 2,8-3,2 kg daging).
 Perkawinan
Perkawinan terjadi hanya pada saat-saat birahi saja, babi mau menerima pejantan atau
dapat dikawinkan. Tanpa timbul birahi, babi tidak dapat dipaksakan kawin. Oleh karena itu
peternak secara cepat mengetahui masa birahinya. Rata-rata interval tiap sesi proses yang
mempengaruhi fertilisasi babi adalah sebagai berikut:
a) Umur saat pubertas : 4-7 (bulan) rata-rata 6 (bulan)
b) Lama birahi : 1-5 (hari) rata-rata 2-3 (hari)
c) Panjang siklus birahi : 18-24 (hari) rata-rata 21 (hari)
Untuk mengetahui saat birahi seekor babi secara tepat, kita perlu mengetahui tanda-tanda
birahi. Tanda-tanda birahi yang dapat ditemukan pada seekor babi adalah sebagai berikut :
a) Babi nampak gelisah dan berteriak-teriak
b) Vagina bengkak, pada vulva nampak merah, bagi babi induk yang sudah sering
beranak biasanya tak begitu nampak merah
c) Selalu mencoba menaiki temannya, atau ingin keluar dari kandang
d) Bila punggung diberi beban atau diduduki diam saja.
e) Dari kemaluan sering keluar lendir.
Didalam alat reproduksi betina, sperma dapat hidup 24-48 jam. Dan untuk mencapai
oviduc memerlukan waktu 4-6 jam. Akan tetapi perlu diketahui bahwa ada sperma yang
hidupnya lebih pendek, kurang dari 24 jam setelah terjadi ovulasi dan tidak semua sel telur
bisa dibuahi. Jumlah sel telur bisa 12-16, yang masak bersama-sama dan bisa dibuahi. Akan
tetapi sering juga sampai 20 buah: sebaliknya, juga tidak jarang hanya 3 atau 4 buah. Saat
mengawinkan babi harus betul-betul tepat pada waktunya, yakni babi dikawinkan pada hari
kedua setelah nampak birahi. Terkecuali babi dara (gilt) bisa dikawinkan pada hari pertama
dari masa birahi. Karena birahnya babi dara lebih pendek dibanding babi-babi yang pernah
beranak. Apabila babi yang sedang birahi itu tidak dikawinkan, birahi akan terulang kembali
pada 18 – 24 hari, atau rata-rata 3 minggu (21 hari). Khususnya untuk babi dara diperlukan
perlakuan khusus. Babi mulai baliq pada umur 5-6 bulan, sudah birahi tapi sebaiknya jangan
dikawinkan dulu, karena kedewasaan tubuh baru tercapai pada umur 8-10 bulan dengan berat
badan + 100-120 kg.Untuk mencapai konsepsi (pembuahan) yang tinggi hendaknya, babi itu
dikawinkan 2 kali selama masa birahi. Babi yang baru dikawinkan hendaknya ditempatkan
tepisah dari babi-babi lain, selama 2 hari, diberikan makanan yang baik dan ditempatkan
dilingkungan tenang.
Untuk induk yang pernah beranak yang akan dikawinkan kembali, sebelumnya dilakukan
penyapian terlebih dahulu. Induk yang habis menyapih pada umumnya akan birahi lagi 3-10
hari. Biasanya babi yang baru menyapi akan kurus, maka sebaiknya perkawinan ditunda dulu
sampai babi gemuk dan sehat kembali. Untuk mengawinkan babi bisa dilakukan dua sistem
yakni:
1. Perkawinan Alam
Pada umumnya perkawinan bisa berlangsung selama 10 – 15 menit. Babi betina yang
birahi dimasukkan dalam kandang pejantan, bisa dikawinkan sampai dua kali untuk
mendapatkan hasil yang optimal. Betina yang kecil dan jantan yang besar bisa dibantu
dengan membuat kandang secara khusus. Perbandingan jantan dan betina : jantan usia 1
tahun adalah 1jantan : 15-20 betina; umur jantan setahun keatas adalah 1 jantan : 30 betina.
2. Perkawinan buatan = Artificial Insimination (AI) = Insiminasi buatan (IB)
Perkawinan ini adalah memasukkan serma kedalam kelamin betina dengan tindakan
manusia. Keuntungan AI atau IB antara lain dapat memanfaatkan seekor pejantan bisa
diperbesar. Perkawinan bisa dilakukan diantara hewan yang tempatnya berjauhan, misalnya
babi Indenesia dengan Australia atau Belanda. Dengan IB, tidaklah setiap peternak
memelihara pejantan sendiri sehingga bisa hemat biaya. Pemacek yang karena sesuatu hal,
misalnya pejantan terlalu besar, pincang, dst sulit dilakukan, dengan IB dapat dikerjakan.
Sedangkan kelemahan IB yaitu tidak semua inseminator mempunyai pengalaman yang
cukup, sehingga hasil kurang terjamin. Kemungkinan akan terbawanya bagian penyakit
senantiasa ada, karena pelaksanaannya yang ceroboh. Menyebarkan keturunan yang jelek.
Misalnya karena sperma diambil tanpa memilih pejantan yang bagus. Terlalu banya babi
yang memiliki keturunan yang sama (inbreed)
 Kebuntingan dan Kelahiran
1. Pemeliharaan Induk Bunting Awal
Segera setelah babi dara (calon induk) atau induk dikawinkan secara tepat, perlu
dilakukan pengecekan setiap 20-21 hari selama dua kali berturut-turut untuk memastikan
kebuntingan sudah terjadi, yaitu tidak memperlihatkan tanda-tanda estrus. Hari kebuntingan
dihitung saat babi dikawinkan, dan hari partus 115 hari kemudian. Bila setelah dikawinkan
masih ada tanda estrus, berarti kebuntingan belum terjadi dan induk harus dikawinkan ulang.
Sampai tanda estrus tidak nampak setelah kawin ulang, maka tanggal kawin ulang tersebut
ditetapkan sebagai hari awal kebuntingan dan partus ditetapkan 115 hari berikutnya. Jika
keadaan memungkinkan, setelah babi dara atau induk positif bunting, maka pemeliharaannya
harus terpisah dari induk kering/babi dara lainnya yaitu pada kandang khusus induk bunting.
Hal ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti perkelahian dan
sebagainya. Sampai 2,5 bulan pertama tidak ada hal-hal istimewa yang perlu dilakukan dalam
menangani induk bunting awal ini. Makanan diberi dalam jumlah biasa, yaitu 2,5
kg/ekor/hari.
2.Pemeliharaan pada akhir kebuntingan
Sebulan sebelum tanggal penetapan kelahiran disebut sebagai masa kebuntingan
akhir. Jika memungkinkan, persiapkan kandang khusus untuk partus. Pada akhir kebuntingan
ini, induk tidak dicampur dengan induk kering atau status lainnya. Kandang harus cukup
ruangan untuk induk berjalan-jalan (exercise) guna memperlancar peredaran darah saat
proses kelahiran. Induk dan kandang harus selalu bersih. Seminggu sebelum partus, induk
diperkenalkan dengan kandang beranak. Hal ini perlu untuk induk beradaptasi dengan
lingkungan kandang yang baru. Sebelum dimasuki induk untuk beranak, kandang
didesinfeksi; dan induk dimandikan,yakni dibersihkan dengan sabun dan air hangat.
3. Pemberian pakan induk bunting
Keinginan memberikan makan induk babi sebanyak mungkin agar menghasilkan air
susu sebanyak mungkin, mempertahankan kondisi tubuh jumlah besar anak-anak tetap berat.
Agar supaya induk babi dapat menghasilkan panas sekitarnya dan mencegah untuk bergerak
maka tempatkan induk babi tersebut dalam luasan kandang terbatas sehingga akan
memudahkan juga penggunakan kandang sapihan. Penggunaan panas kandang dengan lampu
rumah yang sulit bagi sebagian masyarakat akan memberikan pengaruh pada induk babi.
Pembuktian cara alternatif yang ekonomis dan lebih efisien dan jauh lebih maju harus terus
dilakukan. Jumlah konsumsi induk babi tergantung pada suhu lingkungan. Suhu kandang
yang ideal untuk induk babi bunting adalah antara 64-68° F, tetapi yang ideal untuk anak babi
pada 102°F. Perbedaan ini merupakan kesulitan utama. Untuk setiap peningkatan 2° F suhu
lingkungan di atas 68° F, induk babi akan mengurangi jumlah konsumsi 0,5 kg pakan per
hari. Setelah periode penyapihan, penting memberikan pakan induk hingga terus meningkat
pada hari ke-10 masa laktasi. Tetapi pemberian makanan berlebihan bagi induk bunting,
akan membuat nafsu makannya menurun. Peningkatan gizi harus mencerminkan peningkatan
volume produksi air susu induk. Proses kelahiran (partus) merupakan salah satu faktor paling
kritis dalam keseluruhan proses produksi ternak babi, dalam hubungan dengan kesejahteraan
induk babi dan anak-anaknya. Berbagai hal dapat terjadi yang dapat menyebabkan kematian
atau setidaknya menurunkan efisiensi pemeliharaan induk dan anak-anaknya. Oleh sebab itu
penting sekali untuk menghasilkan suatu kelahiran normal, dan mengetahui secara dini bila
ada kelainan supaya dapat diambil tindakan secepatnya.