Anda di halaman 1dari 142

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Salah satu aspek penting dalam kehidupan adalah kesehatan. Kesehatan sendiri
menurut Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 yakni keadaan sehat, baik secara
fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup
produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu
dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan
masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan
pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara
terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan.
Menurut Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 Rumah Sakit adalah institusi
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat jalan, rawat inap dan gawat
darurat. Pelayanan kefarmasian dirumah sakit merupakan suatu pelayanan langsung
dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan
pasien, sehingga untuk menjamin mutu pelayanan kefarmasian dirumah sakit harus
dilakukan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian yang meliputi monitoring dan
evaluasi.
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergerser orientasinya dari obat ke
pasien yang mengacu kepada Pharmaceutical Care. Kegiatan pelayanan
kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi
menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
hidup dari pasien. Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker di
tuntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar dapat
melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara
lain melaksanakan pemberian informasi, monitoring penggunaan obat untuk
mengetahui tujuan akhirnya sesuai harapan dengan baik. Apoteker harus
memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan
(Medication Error) dalam proses pelayanan. Oleh sebab itu apoteker dalam

1
menjalankan praktik harus sesuai standar. Apoteker harus mampu berkomunikasi
dengan tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi untuk mendukung
penggunaan obat yang rasional.
Bagian yang berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan obat di rumah
sakit adalah IFRS. Kegiatan yang dilakukan oleh IFRS meliputi pengelolaan
perbekalan farmasi seperti pemilihan, perencanaan kebutuhan, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan dan penarikan,
pengendalian dan administrasi, serta pelayanan farmasi klinik yaitu Pengkajian dan
Pelayanan Resep, Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat, Rekonsilisasi Obat,
Pelayanan Informasi Obat (PIO), Konseling, Visite, Pemantauan Terapi Obat
(PTO), Monitoring Efek Samping Obat (MESO), Evaluasi Penggunaan Obat
(EPO), Dispensing Sediaan Steril dan Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah
(PKOD). Untuk memaksimalkan pelayanan obat di rumah sakit, sangat diperlukan
profesionalisme apoteker. Apoteker bertanggung jawab dalam menjamin
penggunaan obat yang rasional, efektif, aman, dan terjangkau oleh pasien dengan
menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan
lainnya.
Apoteker merupakan tenaga kefarmasian yang memiliki kewenangan dan
tanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian. Seiring
perkembangan jaman, profesionalisme. Apoteker semakin diperlukan, karena
pekerjaan kefarmasian tidak lagi berorientasi pada produk semata (product
oriented), tetapi cenderung berorientasi pada pasien (patient oriented). Perubahan
orientasi pekerjaan tersebut menuntut Apoteker untuk memiliki pengetahuan yang
luas dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian, baik dalam pengelolaan
perbekalan farmasi maupun pelayanan farmasi klinik.
Mengingat begitu besarnya tanggung jawab yang harus dilakukan oleh apoteker
di rumah sakit. Seorang calon apoteker tidak cukup mendapatkan materi
kefarmasian saja, melainkan juga harus mengetahui pelaksanaan praktek secara
langsung di lapangan. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka
dilaksanakan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di rumah sakit. Program
profesi Apoteker Fakultas Farmasi Institut Sains dan Teknologi Nasional
bekerjasama dengan bagian farmasi rumah sakit Dr. Suyoto Pusrehab-Kemhan,

2
dengan adanya pelaksanaan Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini diharapkan
para calon apoteker memahami fungsi apoteker sebagai salah satu tenaga kesehatan
di rumah sakit dan mengetahui kegiatan di instalasi farmasi rumah sakit, sekaligus
menambah pengetahuan mengenai peranan dan tanggung jawab apoteker di rumah
sakit.

1.2 Tujuan Praktik Kerja Profei Apoteker (PKPA)

1.2.1 Tujuan Umum


Mengetahui dan memahami serta dapat membandingkan berdasarkan ilmu
pengetahuan, standar pelayanan kefarmasian, perundang – undangan dan etika
profesi farmasi dengan yang terdapat pada Rumah Sakit Dr. Suyoto Pusrehab-
Kemhan Bintaro

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Meningkatkan pemahaman calon apoteker tentang peran, fungsi, posisi dan
tanggung jawab apoteker dalam praktik kefarmasian di rumah sakit.
2. Meningkatkan wawasan, pengetahuan, keahlian dan pengalaman praktis
untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di rumah sakit.

I.3 Pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)


PKPA dilaksanakan pada tanggal 14 Januari-28 Februari 2019 yang bertempat
di Rumah Sakit Dr. Suyoto Pusrehab-Kemhan Bintaro Jakarta Selatan

3
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Peraturan dan Perundang-undangan Tentang Rumah Sakit


2.1.1 Definisi Rumah Sakit(4)
Berdasaran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56
Tahun 2014 tentang Perizinan Dan Klasifikasi Rumah Sakit, Rumah Sakit adalah
institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat. Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang
meliputi preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif.

2.1.2 Landasan Hukum


Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang rumah sakit dan
kegiatannya adalah:
a. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
b. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
c. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
d. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
e. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika
f. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan
Farmasi dan Alat Kesehatan
g. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
h. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 tahun 2016
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
i. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran,
Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika dan
prekursor.
j. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2018
tentang Perubahan Penggolongan Narkotika

4
k. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2017
tentang Perubahan Penggolongan Psikotropika
l. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 44 tahun 2010 tentang
Prekursor.

2.1.3 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit(3)


Berdasarkan Undang-Undang RI No.44 pasal 4 Tahun 2009, rumah sakit
mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.
Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Berdasarkan Undang-Undang RI No. 44 pasal 5 Tahun 2009, untuk
menjalankan tugas, rumah sakit mempunyai fungsi :
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan
standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

2.1.4 Persyaratan Rumah Sakit(3)


Berdasarkan Undang-Undang RI No.44 pasal 4 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit, persyaratan lokasi didirikannya Rumah Sakit harus memenuhi
ketentuan mengenai kesehatan, keselamatan lingkungan, dan tata ruang, serta
sesuai dengan hasil kajian kebutuhan dan kelayakan penyelenggaraan rumah sakit
meliputi upaya pemantauan lingkungan, upaya pengelolaan lingkungan dan/atau
dengan analisis mengenai dampak lingkungan dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Bangunan Rumah Sakit harus dapat digunakan
untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang paripurna, pendidikan dan

5
pelatihan, serta penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kesehatan. Bangunan yang harusnya ada di Rumah Sakit adalah sebagai berikut:
a. Rawat jalan
b. Ruang rawat inap
c. Ruang gawat darurat
d. Ruang operasi
e. Ruang tenaga kesehatan
f. Ruang radiologi
g. Ruang laboratorium
h. Ruang sterilisasi
i. Ruang farmasi
j. Ruang pendidikan dan latihan
k. Ruang kantor dan administrasi
l. Ruang ibadah, ruang tunggu
m. Ruang penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit
n. Ruang menyusui
o. Ruang mekanik
p. Ruang dapur
q. Laundry
r. Kamar jenazah
s. Taman
t. Pengolahan sampah
u. Pelataran parkir yang mencukupi.

Prasarana rumah sakit menurut sesuai dengan Undang-Undang Republik


Indonesia No 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit meliputi:
a. Instalasi air
b. Instalasi mekanikal dan elektrikal
c. Instalasi gas medik
d. Instalasi uap
e. Instalasi pengelolaan limbah
f. Pencegahan dan penanggulangan kebakaran

6
g. Petunjuk, standar dan sarana evakuasi saat terjadi keadaan darurat
h. Instalasi tata udara
i. Sistem informasi dan komunikasi
j. Ambulance

2.1.5 Klasifikasi Rumah Sakit(4)


Menurut Permenkes Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi Rumah
Sakit Berdasarkan Jenis Pelayanan, Sumber Daya Manusia, Jenis Peralatan,
Bangunan dan Prasarana. Rumah Sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit Umum
dan Rumah Sakit Khusus. Rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan
pelayanan kesehatan kepada semua bidang dan jenis penyakit, sedangkan Rumah
sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada satu
bidang atau satu jenis penyakit atau kekhususan lainnya.
a. Rumah Sakit Umum diklasifikasikan menjadi :
1) Rumah Sakit Umum Kelas A
Menurut Permenkes No. 56 Tahun 2014 tentang klasifikasi dan perizinan
rumah sakit, pelayanan rumah sakit umum tipe A paling sedikit meliputi pelayanan
medik, pelayanan kefarmasian, pelayanan keperawatan dan kebidanan, pelayanan
penunjang klinik, pelayanan penunjang non klinik, dan pelayanan rawat inap.
Pelayanan medik rumah sakit tipe A paling sedikit terdiri dari pelayanan gawat
darurat, 4 pelayanan medik spesialis dasar, 5 pelayanan medik spesialis penunjang,
11 pelayanan medik spesialis lain, 16 pelayanan medik subspesialis dan 7
pelayanan medik spesialis gigi dan mulut.
Sumber manusia rumah sakit umum tipe A terdiri dari tenaga medis, tenaga
kefarmasian, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan lain dan tenaga non kesehatan.
Sedangkan untuk tenaga kefarmasian yang diperlukan paling sedikit terdiri dari 1
apoteker sebagai kepala instalasi farmasi rumah sakit, 5 apoteker yang bertugas di
rawat jalan dibantu 10 tenaga teknis kefarmasian (TTK), 5 apoteker yang bertugas
di rawat inap dibantu 10 tenaga teknis kefarmasian (TTK), 1 apoteker di instalasi
gawat darurat dibantu oleh 2 TTK, 1 apoteker di ruang ICU (Intensive Care Unit)
yang dibantu 2 TTK, 1 apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi serta
1 apoteker sebagai koordinator produksi.

7
Pelayanan kefarmasian pada rumah sakit tipe A meliputi pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinik.
Peralatan rumah sakit tipe A paling sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi,
persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik,
farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah (Menkes RI, PMK No.56/ 2014).
2) Rumah Sakit Umum Kelas B
Pelayanan pada rumah sakit umum tipe B menurut Permenkes No. 56 Tahun
2014 paling sedikit meliputi pelayanan medik, pelayanan kefarmasian, pelayanan
keperawatan dan kebidanan, pelayanan penunjang klinik, pelayanan penunjang non
klinik, dan pelayanan rawat inap. Pelayanan medik rumah sakit tipe B paling sedikit
terdiri dari pelayanan gawat darurat, 4 pelayanan medik spesialis dasar, 5 pelayanan
medik spesialis penunjang, 8 pelayanan medik spesialis lain, 2 pelayanan medik
subspesialis dan 3 pelayanan medik spesialis gigi dan mulut.
Sumber manusia rumah sakit umum tipe B terdiri dari tenaga medis, tenaga
kefarmasian, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan lain dan tenaga non kesehatan.
Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri dari 1 apoteker sebagai kepala instalasi
farmasi rumah sakit, 4 apoteker yang bertugas di rawat jalan dibantu 8 tenaga teknis
kefarmasian (TTK), 4 apoteker yang bertugas di rawat inap dibantu 8 tenaga teknis
kefarmasian (TTK), 1 apoteker di instalasi gawat darurat dibantu oleh 2 TTK, 1
apoteker di ruang ICU (Intensive Care Unit) yang dibantu 2 TTK, 1 apoteker
sebagai koordinator penerimaan dan distribusi serta 1 apoteker sebagai koordinator
produksi.
Pelayanan kefarmasian pada rumah sakit tipe B meliputi pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinis.
Peralatan rumah sakit tipe B paling sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi,
persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik,
farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah.
3) Rumah Sakit Umum Kelas C
Pelayanan pada rumah sakit umum tipe C menurut Permenkes No. 56 Tahun
2014 paling sedikit meliputi pelayanan medik, pelayanan kefarmasian, pelayanan

8
keperawatan dan kebidanan, pelayanan penunjang klinik, pelayanan penunjang non
klinik, dan pelayanan rawat inap. Rumah sakit umum tipe C harus memiliki
pelayanan medik paling sedikit terdiri dari pelayanan gawat darurat, 4 pelayanan
medik umum,, 4 pelayanan medik spesialis dasar, 3 pelayanan medik spesialis
penunjang, 1 pelayanan medik spesialis lain, 1 pelayanan medik subspesialis dan 1
pelayanan medik spesialis gigi dan mulut.
Sumber manusia rumah sakit umum tipe C terdiri dari tenaga medis, tenaga
kefarmasian, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan lain dan tenaga non kesehatan.
Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri dari 1 apoteker sebagai kepala instalasi
farmasi rumah sakit, 2 apoteker yang bertugas di rawat jalan dibantu 4 tenaga teknis
kefarmasian (TTK), 4 apoteker yang bertugas di rawat inap dibantu 8 tenaga teknis
kefarmasian (TTK), 1 apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi serta
1 apoteker sebagai koordinator produksi.
Pelayanan kefarmasian pada rumah sakit tipe C meliputi pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinis.
Peralatan rumah sakit tipe C paling sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi,
persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik,
farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah.
4) Rumah Sakit Umum Kelas D
Rumah sakit tipe D dibedakan menjadi dua yaitu rumah sakit umum kelas D
dan rumah sakit umum kelas D pratama. Pelayanan pada rumah sakit umum kelas
D menurut Permenkes No. 56 Tahun 2014 paling sedikit meliputi pelayanan medik,
pelayanan kefarmasian, pelayanan keperawatan dan kebidanan, pelayanan
penunjang klinik, pelayanan penunjang non klinik, dan pelayanan rawat inap.
Rumah sakit tipe D harus memiliki pelayanan medik yang paling sedikit terdiri dari
pelayanan gawat darurat, 4 pelayanan medik umum, 2 pelayanan medik spesialis
dasar dan 2 pelayanan medik spesialis penunjang.
Sumber manusia rumah sakit umum tipe D terdiri dari tenaga medis, tenaga
kefarmasian, tenaga keperawatan, tenaga kesehatan lain dan tenaga non kesehatan.
Tenaga kefarmasian paling sedikit terdiri dari 1 apoteker sebagai kepala instalasi
farmasi rumah sakit, 1 apoteker yang bertugas di rawat jalan dan dirawat inap

9
dibantu 2 tenaga teknis kefarmasian (TTK), 1 apoteker sebagai koordinator
penerimaan, distribusi dan produksi.
Pelayanan kefarmasian pada rumah sakit tipe D meliputi pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinis.
Peralatan rumah sakit tipe D paling sedikit terdiri dari peralatan medis untuk
instalasi gawat darurat, rawat jalan, rawat inap, rawat intensif, rawat operasi,
persalinan, radiologi, laboratorium klinik, pelayanan darah, rehabilitasi medik,
farmasi, instalasi gizi dan kamar jenazah.
Rumah sakit umum kelas D pratama didirikan dan diselenggarakan untuk
menjamin ketersediaan dan meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan tingkat dua. Rumah sakit umum kelas D pratama hanya dapat
didirikan dan diselenggarakan di daerah tertinggal, perbatasan atau kepulauan
sesuai degan ketentuan perundang-undangan. Selain itu Rumah Sakit Umum kelas
D Pratama dapat juga didirikan di kabupaten/kota, apabila memenuhi kriteria
seperti belum tersedis rumah sakit di kabupaten/kota yang bersangkutan. Rumah
sakit yang telah beroperasi di kabupaten/kota yang bersangkutan kapasitasnya
belum mencukupi, atau lokasi rumah sakit yang telah beroperasi sulit dijangkau
secara geografis oleh sebagian penduduk di kabupaten/kota yang bersangkutan.

b. Rumah Sakit Khusus diklasifikasikan menjadi :


1) Rumah Sakit Khusus Kelas A
2) Rumah Sakit Khusus Kelas B
3) Rumah Sakit Khusus Kelas C

2.1.6 Indikator Pelayanan Rumah Sakit(5)


Beberapa indikator pelayanan di rumah sakit, antara lain :
1) Bed Occupancy Rate (BOR) : Angka pengunaan tempat tidur
BOR digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah
sakit. Nilai parameter BOR yang ideal adalah antara 60%-85%. Angka BOR yang
rendah (kurang dari 60%) menunjukkan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang
rendah sehingga perlu pemanfaatan tempat tidur, sedangkan angka BOR yang
tinggi (lebih dari 85%) menunjukkan tingkat pemanfaatan tempat tidur yang tinggi

10
sehingga perlu pengembangan rumah sakit atau penambahan tempat tidur. Rumus
BOR menurut Deparemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015 adalah:
Jumlah lama dirawatJumlah hari perawatan rumah sakit
RumusJumlah pasienJumlah tempat tidur x Jumlah hari dalam satu periode keluar (hidup+mati)

2) Average Length of Stay (AVLOS) : Rata-rata lamanya pasien di rawat


AVLOS adalah rata-rata lama rawat seseorang pasien indikator ini disamping
memberikan gambaran tingkat efisien, juga dapat memberikan gambaran mutu
pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang
perlu pengamatan lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6-9
hari.
Jumlah lama dirawat
Rumus = Jumlah pasien keluar (hidup+mati)

3) Bed Turn Over (BOR) : Angka perputaran tempat tidur


BTO adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, beberpa kali
tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Idealnya dalam satu tahin,
satu tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Jumlah pasien keluar (hidup+mati)
Rumus = jumlah tempat tidur

4) Turn Over Internal (TOI) : Tenggang perputaran


TOI adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah di isi
hingga saat terisi berikutnya. Indikator ini memberikan gambaran teingkat efisiensi
penggunaan tempat tidur idealnya tempat tidur kosong tidak terisi pada kisaran 1-3
hari.
(Jumlah tempat tidur x periode) – Hari perawatan
Rumus = jumlah pasien keluar (hidup+mati)

5) Net Death Rate (NDR)


NDR adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000
penderita keluar. Menggunakan mutu pelayanan di rumah sakit, idealnya adalah
kurang dari 25% (Depkes RI, 2005).
Jumlah pasien mati > 48 jam
Rumus = jumlah pasien keluar (hidup+ mati) x 1000%

11
6) Gross Beath Rate (GDR)
GDR adalah angka kematian umum untuk setiap 1000 penderita keluar,
idealnya kurang dari 45% (Depkes RI, 2005).
Jumlah pasien mati seluruhnya
Rumus = jumlah pasien keluar (hidup+mati) x 1000

2.1.7 Instalasi Farmasi Rumah Sakit


2.1.7.1 Definisi(6)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, Instalasi
Farmasi adalah unit pelaksana fungsional yang menyelenggarakan seluruh kegiatan
pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit. Pengorganisasian Instalasi Farmasi harus
mencakup Penyelenggaraan Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan (Alkes),
dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), Pelayanan Farmasi Klinik dan Manajemen
Mutu.

2.1.7.2 Tugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit(6)


Tugas Instalasi Farmasi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian Di Rumah Sakit meliputi:
1. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi seluruh
kegiatan Pelayanan Kefarmasian yang optimal dan profesional serta sesuai
prosedur dan etik profesi.
2. Melaksanakan pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai yang efektif, aman, bermutu dan efisien.
3. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan sediaan farmasi, alat
kesehatan dan bahan medis habis pakai guna memaksimalkan efek terapi dan
keamanan serta meminimalkan risiko.
4. Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) serta memberikan
rekomendasi kepada dokter, perawat dan pasien.
5. Berperan aktif dalam Panitia Farmasi dan Terapi.
6. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan Pelayanan
Kefarmasian.

12
7. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan
formularium Rumah Sakit.

2.1.7.3 Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit(6)


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, fungsi
Instalasi Farmasi meliputi Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan
Medis Habis Pakai, mulai pemilihan hingga pencatatan dan pelaporan serta
memberikan pelayanan farmasi klinik dalam penggunaan obat dan alat kesehatan.

2.1.8 Formularium Nasional(10)


2.1.8.1 Mekanisme Penyusunan Fornas
Formularium nasional disusun oleh Komite Nasional (Komnas). Penyusunan
Fornas yang disahkan oleh Menteri Kesehatan, beranggotakan pakar di bidang
kedokteran dan dokter gigi, baik umum maupun spesialis, farmakologi klinik,
praktisi perguruan tinggi, apoteker dan Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) serta unit program di Kementerian Kesehatan yang terkait.
1. Organisasi
a. Tim Penyusun
1) Struktur organisasi berbentuk Komnas Penyusunan Fornas, terdiri dari:
a) Tim Ahli
b) Tim Evaluasi
c) Tim Pelaksana
d) Tim Review
2) Tugas Komnas Penyusunan Fornas tercantum dalam SK sebagai
berikut:
a) Tim Ahli bertugas : memberikan masukan teknisjilmiah dalam
penyusunan Formularium Nasional; dan melakukan penilaian
terhadap usulan obat yang akan dimasukkan dalam Formularium
Nasional
b) Tim Evaluasi bertugas:

13
melakukan evaluasi daftar obat dalam Formularium Nasional; dan
memberikan dukungan teknis dalam penerapan kebijakan
Formularium Nasional yang telah ditetapkan.
c) Tim Pelaksana bertugas :
a. Menyusun daftar obat yang akan dimasukkan dalam
Formularium Nasional;
b. Menginventarisasi dan mengompilasi usulan masukan daftar
obat yang akan dimasukkan dalam Formularium Nasional;
c. Menyiapkan rancangan Formularium Nasional; dan
d. Melaksanakan pendokumentasian, finalisasi dan pelaporan
kegiatan penyusunan Formularium Nasional.
d) Tim Review bertugas: menyusun kajian evaluasi efikasi dan
keamanan obat dengan meminta pertimbangan tim ahli farmakologi
dan epidemiologi klinik; dan memberikan masukkan teknisjilmiah
yang diperlukan Tim Evaluasi.
3) Tugas Komnas Penyusunan Fornas mulai berlaku pada bulan Januari
sampai dengan Desember , kecuali tugas Tim Evaluasi sampai dengan
Desember.

b. Proses Pemilihan Anggota Tim Ahli


1) Persyaratan anggota Tim Ahli
a) Tidak memiliki konflik kepentingan dan bersedia menandatangani
pernyataan bebas konflik kepentingan.
b) Memiliki integritas dan standar profesional tinggi.
c) Menandatangani surat pernyataan kesediaan secara tertulis.
2) Proses rekrutmen Tim Ahli
a) Sekretariat menyampaikan permintaan kesediaan tertulis dari yang
bersangkutan, yang dilakukan 2 (dua) bulan sebelum rapat perdana.
b) Yang bersangkutan menyatakan kesediaan tertulis 1 (satu) minggu
setelah mendapat surat permintaan tersebut
c) disertai pernyataan bebas konflik kepentingan.

14
2. Tahapan Kegiatan Penyusunan Fornas
a. Pengusulan
1) Proses penyusunan diawali dengan pengiriman surat permintaan usulan
tertulis dari Ditjen Binfar dan Alkes kepada:
a) Rumah Sakit pemerintah dan swasta;
b) Perhimpunanjorganisasi profesi dokter, dokter gigi, dokter spesialis
dan dokter gigi spesialis;
c) Dinas Kesehatan ProvinsifKabupatenfKotadan Puskesmas;
d) Unit pengelola program di Kementerian Kesehatan.

Gambar. 2.1 Skema Pengajuan Usulan Secara Online

15
2) Obat diusulkan dengan mengisi Formulir Usulan Obat sebagaimana
contoh Formulir 1. Pengisian Formulir tersebut dengan ketentuan
sebagai berikut :
a) Penulisan nama obat dituliskan sesuai Farmakope Indonesia edisi
terakhir. Jika tidak ada dalam Farmakope Indonesia, maka
digunakan International Non-proprietary Names (INN)/ nama
generik yang diterbitkan WHO. Obat yang sudah lazim digunakan
dan tidak mempunyai nama INN (generik) ditulis dengan nama
lazim. Obat kombinasi dituliskan masing-masing komponen zat
berkhasiatnya disertai kekuatan masing-masing komponen.
b) Pengusulan obat menyesuaikan dengan kelas terapi di dalam Fornas
/ DOEN edisi terakhir.
c) Bentuk sediaan dan kekuatan dituliskan lengkap sesuai dengan yang
tercantum pada kemasanjleaflet obat.
d) Pengusulan harus mencantumkan alasan pengusulan yang disertai
dengan data dukung bukti ilmiah.
e) Pengajuan pengusulan harus disertai dengan surat pengantar dari
unit kerja pengusul seperti contoh terlampir, Formulir 2.
f) Dalam rangka mempermudah dan mempercepat proses usulan,
akan diterapkan e-Fornas dalam proses pengajuan usulan secara
online.

16
Gambar 2.2 Skema Pengajuan Usulan Secara Online (Lanjutan)

17
b. Seleksi administratif
Usulan yang telah diterima oleh Sekretariat diseleksi secara administratif.
Usulan yang lolos seleksi administratif adalah yang memenuhi persyaratan
sebagai berikut:
1) Usulan yang diterima hanya yang berasal dari Fasilitas Kesehatan, baik
tingkat pertama maupun rujukan tingkat lanjutan,
perhimpunan/organisasi profesi dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan
dokter gigi spesialis, Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dan
unit pengelola program di Kementerian Kesehatan
2) .
3) Obat yang diusulkan harus disertai data pendukung dan bukti ilmiah
terkini (evidence based medicine) yang menunjukkan manfaat dan
keamanan obat bagi populasi.
4) Memiliki ijin edar dan usulan penggunaannya harus sesuai dengan
indikasi yang disetujui oleh BPOM.
5) Obat yang diusulkan tidak termasuk obat tradisional dan suplemen
makanan.
c. Kompilasi usulan
Dalam waktu 1 (satu) bulan setelah tanggal batas usulan masuk, Sekretariat
melakukan kompilasi usulan yang telah lulus seleksi administrasi dan
dikelompokkan sesuai dengan kelas terapi
d. Pembahasan Teknis
1) Pembahasan teknis dilakukan bersama Tim Ahli.
Usulan obat yang dibahas adalah yang lulus seleksi administrasi.
2) Dalam penyusunan Fornas 2015, selain dibahas dan dipertimbangkan
usulan obat, juga dilakukan review terhadap seluruh obat yang sudah
tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan Fornas
e. Rapat Pleno
Pembahasan dilakukan bersama Tim Ahli, perhimpunan/organisasi profesi
dokter dan dokter spesialis, perwakilan rumah sakit, perwakilan Dinas
Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota, perwakilan FKTP, dan unit pengelola

18
program pengobatan di Kementerian Kesehatan. Hasil rapat pleno adalah
rekomendasi daftar obat yang akan dimuat dalam Fornas.
f. Finalisasi
Proses finalisasi mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut:
1) Penyempurnaan redaksional draft akhir Fornas hasil Rapat Pleno oleh
Tim Ahli.
2) Memberikan rekomendasi daftar obat yang perlu dinegosiasikan dengan
industri farmasi agar dapat diakses masyarakat.
3) Penyusunan rancangan final Fornas.
g. Pengesahan
Menteri Kesehatan menetapkan Fornas atas dasar rekomendasi dari Tim
Komnas Fornas.

2.1.8.2 Kriteria Pemilihan Obat


1. Pemilihan obat dalam Fornas didasarkan atas kriteria sebagai berikut:
a. Memiliki khasiat dan keamanan yang baik berdasarkan bukti ilmiah terkini
dan sahih.
b. Memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling
menguntungkan pasien.
c. Memiliki izin edar dan indikasi yang disetujui oleh BPOM.
d. Memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi.
e. Obat tradisional dan suplemen makanan tidak dimasukkan dalam Fornas.
f. Apabila terdapat lebih dari satu pilihan yang memiliki efek terapi yang
serupa, pilihan dijatuhkan pada obat yang memiliki kriteria berikut:
1) Obat yang sifatnya paling ban yak diketahui berdasarkan bukti ilmiah;
2) Sifat farmakokinetik dan farmakodinamik yang diketahui paling
menguntungkan;
3) Stabilitasnya lebih baik;
4) Mudah diperoleh.
g. Obat jadi kombinasi tetap, harus memenuhi kriteria berikut :
1) Obat hanya bermanfaat bagi penderita jika diberikan dalam bentuk
kombinasi tetap;

19
2) Kombinasi tetap harus menunjukkan khasiat dan keamanan yang lebih
tinggi dari pada masing-masing komponen;
3) Perbandingan dosis komponen kombinasi tetap merupakan
perbandingan yang tepat untuk sebagian besar pasien yang memerlukan
kombinasi tersebut;
4) Kombinasi tetap harus meningkatkan rasio manfaat-biaya (benefitcost
ratio); dan
5) Untuk antibiotik, kombinasi tetap harus dapat mencegah atau
mengurangi terjadinya resistensi atau efek merugikan lainnya.
2. Petunjuk Tingkat Pembuktian dan Rekomendasi
Tingkat pembuktian dan rekomendasi didasarkan pada hal-hal berikut:

Tingkat Bentuk Bukti ilmiah


Pembuktian

Bukti ilmiah diperoleh dari meta analysis atau systematic


Ia review terhadap uji klinik acak terkendali tersamar ganda
dengan pembanding.

Bukti ilmiah diperoleh dari sekurang-kurangnya satu uji


Ib klinik acak terkendali, tersamar ganda dengan
pembanding.

Bukti ilmiah diperoleh sekurang-kurangnya daru satu uji


IIa
klinik tanpa pengacakan

Bukti ilmiah diperoleh dari sekurang-kurangnya satu studi


IIb
kuasi-eksperimental yang dirancang dengan baik

Bukti ilmiah diperoleh dari studi observasional yang


III dirancang dengan baik, seperti studi komparatif, studi
korelasi, kasus-kontrol, kohort, dan/atau studi kasus.

Pendapat yang diperoleh dari laporan atau opini Komite


IV
Ahli dan/atau pengalaman klinik dari pakar.

Tabel 2.1 Tingkat Pembuktian (Statements of Evidence)

20
2.1.9 Panitia Farmasi dan Terapi(6)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, Panitia
Farmasi dan Terapi merupakan unit kerja yang memberikan rekomendasi kepada
pimpinan Rumah Sakit mengenai kebijakan penggunaan obat di Rumah Sakit yang
anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili semua spesialisasi yang ada di Rumah
Sakit, Apoteker Instalasi Farmasi, serta tenaga kesehatan lainnya apabila
diperlukan.

2.1.9.1 Susunan kepanitiaan Panitia Farmasi dan Terapi


Susunan kepanitiaan Panitia Farmasi dan Terapi serta kegiatan yang
dilakukan bagi tiap rumah sakit dapat bervariasi sesuai dengan kondisi rumah sakit
setempat, yaitu sebagai berikut:
1. PFT harus sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) tenaga kesehatan meliputi
dokter, apoteker, dan perawat. Untuk rumah sakit yang besar tenaga dokter bisa
lebih dari tiga orang yang mewakili semua staf fungsional yang ada.
2. Ketua PFT dipilih dari dokter yang ada di dalam kepanitiaan dan jika rumah
sakit tersebut mempunyai ahli farmakologi klinik, maka sebagai ketua adalah
farmakologi. Sekretarisnya adalah apoteker dari instalasi atau apoteker
ditunjuk.
3. PFT harus pengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 (dua) bulan sekali dan
untuk rumah sakit besar rapatnya diadakan sebulan sekali. Rapat PFT dapat
mengandung pakar-pakar dari dalam maupun dari luar rumah sakit yang dapat
memberikan masukan bagi pengelolaan PFT.
4. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rapat PFT diatur oleh sekretaris,
termasuk persiapan dari hasil-hasil rapat.
5. Membina hubungan kerja dengan panitia di dalam rumah sakit yang sasarannya
berhubungan dengan penggunaan obat.

21
2.1.9.2 Tugas Panitia Farmasi dan Terapi
Panitia Farmasi dan Terapi mempunyai tugas:
1. Mengembangkan kebijakan tentang penggunaan obat di Rumah Sakit
2. Melakukan seleksi dan evaluasi obat yang akan masuk dalam formularium
Rumah Sakit
3. Mengembangkan standar terapi
4. Mengidentifikasi permasalahan dalam penggunaan obat
5. Melakukan intervensi dalam meningkatkan penggunaan obat yang rasional
6. Mengkoordinir penatalaksanaan reaksi obat yang tidak dikehendaki
7. Mengkoordinir penatalaksanaan medication error
8. Menyebarluaskan informasi terkait kebijakan penggunaan obat di Rumah Sakit

2.2 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis
Pakai(6)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72
Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit, Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi standar pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dan pelayanan farmasi klinik.
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai harus
dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan menggunakan proses yang
efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya.
Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku meliputi
pemilihan, perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian, pemusnahan dan penarikan, pengendalian, dan administrasi.

2.2.1 Pemilihan
Pemilihan adalah kegiatan untuk menetapkan jenis sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan. Pemilihan
sediaan farmasi, alat kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai ini berdasarkan:
a. Formularium dan standar pengobatan atau pedoman diagnosa dan terapi

22
b. Standar sediaan farmasi, alat kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai yang
telah ditetapkan
c. Pola penyakit
d. Efektifitas dan keamanan
e. Pengobatan berbasis bukti
f. Mutu
g. Harga
h. Ketersediaan di pasaran.
Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium
Nasional. Formularium Rumah Sakit merupakan daftar obat yang disepakati staf
medis, disusun oleh Panitia Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh pimpinan
rumah sakit. Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua penulis resep,
pemberi obat, dan penyedia obat di Rumah Sakit. Evaluasi terhadap Formularium
Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai kebijakan dan
kebutuhan Rumah Sakit. Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit
dikembangkan berdasarkan pertimbangan terapetik dan ekonomi dari penggunaan
obat agar dihasilkan Formularium Rumah Sakit yang selalu mutakhir dan dapat
memenuhi kebutuhan pengobatan yang rasional.
Tahapan proses penyusunan Formularium Rumah Sakit yaitu:
a. Membuat rekapitulasi usulan obat dari masing-masing Staf Medik Fungsional
(SMF) berdasarkan standar terapi atau standar pelayanan medik.
b. Mengelompokkan usulan obat berdasarkan kelas terapi.
c. Membahas usulan tersebut dalam rapat Komite atau Tim Farmasi dan Terapi,
jika diperlukan dapat meminta masukan dari para spesialis.
d. Mengembalikan rancangan hasil pembahasan Komite atau Tim Farmasi dan
Terapi, dikembalikan ke masing-masing SMF untuk mendapatkan umpan
balik.
e. Membahas hasil umpan balik dari masing-masing SMF.
f. Menetapkan daftar obat yang masuk ke dalam Formularium Rumah Sakit
g. Menyusun kebijakan dan pedoman untuk implementasi
h. Melakukan edukasi mengenai Formularium Rumah Sakit kepada staf dan
melakukan monitoring.

23
Kriteria pemilihan obat untuk masuk Formularium Rumah Sakit:
a. Mengutamakan penggunaan obat generik
b. Memiliki rasio manfaat risiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan
penderita
c. Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas
d. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan
e. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan
f. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan olehpasien
g. Memiliki rasio manfaat biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan
biaya langsung dan tidak langsung; dan
h. Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence based
medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga yang
terjangkau.
Meningkatkan kepatuhan terhadap Formularium Rumah Sakit, maka Rumah
Sakit harus mempunyai kebijakan terkait dengan penambahan atau pengurangan
obat dalam Formularium Rumah Sakit dengan mempertimbangkan indikasi
penggunaaan, efektivitas, risiko, dan biaya.

2.2.2 Perencanaan Kebutuhan


Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah dan
periode pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya kriteria tepat
jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien. Perencanaan dilakukan untuk
menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat
dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan antara
lain:
a. Metode konsumsi
Perhitungan kebutuhan dengan metode konsumsi didasarkan pada data
konsumsi perbekalan farmasi periode yang lalu, dengan berbagai penyesuaian
dan koreksi pedoman pengelolaan perbekalan farmasi di Rumah Sakit.
b. Metode epidemiologi

24
Metode epidemiologi adalah perhitungan kebutuhan perbekalan farmasi
berdasarkan pola penyakit, perkiraan kenaikan kunjungan, dan waktu tunggu
(lead time).
c. Metode kombinasi
Metode kombinasi merupakan gabungan metode konsumsi dan metode
epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
Pedoman perencanaan harus mempertimbangkan:
a. Anggaran yang tersedia
b. Penetapan prioritas
c. Sisa persediaan
d. Data pemakaian periode yang lalu
e. Waktu tunggu pemesanan
f. Rencana pengembangan

2.2.3 Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk merealisasikan
perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus menjamin ketersediaan,
jumlah dan waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau dan sesuai standar
mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan dimulai dari
pemilihan, penentuan jumlah yang dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan
dana, pemilihan metode pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi
kontrak, pemantauan proses pengadaan, dan pembayaran. Memastikan sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai sesuai dengan mutu dan
spesifikasi yang dipersyaratkan maka jika proses pengadaan dilaksanakan oleh
bagian lain di luar Instalasi Farmasi harus melibatkan tenaga kefarmasian. Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai antara lain:
a. Bahan baku obat harus disertai sertifikat analisa.
b. Bahan berbahaya harus menyertakan Material Safety Data Sheet (MSDS).
c. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai harus
mempunyai nomor izin edar.

25
d. Masa kadaluarsa (expired date) minimal 2 (dua) tahun kecuali untuk sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai tertentu (vaksin, reagensia
dan lain-lain) atau pada kondisi tertentu yang dapat dipertanggung jawabkan.
Rumah Sakit harus memiliki mekanisme yang mencegah kekosongan stok obat
yang secara normal tersedia di Rumah Sakit dan mendapatkan obat saat
Instalasi Farmasi tutup.

Pengadaan dapat dilakukan melalui:


a. Pembelian
Untuk Rumah Sakit pemerintah pembelian sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai harus sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa
yang berlaku. Terdapat empat metode pada proses pembelian, yaitu :
1. Pelelangan (tender) Terbuka
Berlaku untuk semua rekanan yang terdaftar dan sesuai dengan kriteria yang
telah ditentukan. Pada penentuan harga metode ini lebih menguntungkan.
Pelaksanaannya memerlukan staf yang kuat, waktu lama, dan perhatian penuh.
2. Tender Terbatas
Tender terbatas sering disebut juga sebagai lelang tertutup. Hanya dilakukan
pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan memiliki riwayat yang baik. Harga
masih dapat dikendalikan, tenaga dan beban kerja lebih ringan bila dibandingkan
dengan lelang terbuka.
3. Pembelian dengan Tawar Menawar
Metode dilakukan bila item tidak penting, tidak banyak dan biasanya dilakukan
pendekatan langsung untuk item tertentu.
4. Pembelian Langsung
Pembelian dilakukan dalam jumlah kecil untuk item yang perlu segera tersedia.
Harga untuk item tertentu relatif lebih mahal dibanding pada pembelian dengan
metode lain.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelian adalah:
1. Kriteria sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai, yang
meliputi kriteria umum dan kriteria mutu obat.
2. Persyaratan pemasok.

26
3. Penentuan waktu pengadaan dan kedatangan sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai.
4. Pemantauan rencana pengadaan sesuai jenis, jumlah dan waktu.

b. Produksi Sediaan Farmasi


Instalasi Farmasi dapat memproduksi sediaan tertentu apabila:
1. Sediaan Farmasi tidak ada di pasaran
2. Sediaan Farmasi lebih murah jika diproduksi sendiri
3. Sediaan Farmasi dengan formula khusus
4. Sediaan Farmasi dengan kemasan yang lebih kecil atau repacking
5. Sediaan Farmasi untuk penelitian
6. Sediaan Farmasi yang tidak stabil dalam penyimpanan atau harus dibuat baru
(recenter paratus).
Sediaan yang dibuat di Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan mutu dan
terbatas hanya untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di Rumah Sakit tersebut.

c. Sumbangan/Dropping/Hibah
Instalasi Farmasi harus melakukan pencatatan dan pelaporan terhadap
penerimaan dan penggunaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai sumbangan/dropping/hibah. Seluruh kegiatan penerimaan sediaan farmasi,
alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dengan cara
sumbangan/dropping/hibah harus disertai dokumen administrasi yang lengkap dan
jelas. Agar penyediaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
dapat membantu pelayanan kesehatan, maka jenis sediaan farmasi, alat kesehatan
dan bahan medis habis pakai harus sesuai dengan kebutuhan pasien di Rumah Sakit.
Instalasi Farmasi dapat memberikan rekomendasi kepada pimpinan Rumah Sakit
untuk mengembalikan/menolak sumbangan/dropping/hibah sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang tidak bermanfaat bagi kepentingan
pasien Rumah Sakit.

27
2.2.4 Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak
atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua dokumen terkait
penerimaan barang harus tersimpan dengan baik. Penerimaan barang harus disertai
faktur pembelian, yang sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan terhadap faktur
tersebut dengan melihat alamat distributor, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),
nomor telepon yang menunjukkan keaslian faktur. Alur penerimaan barang
meliputi :
a. Petugas gudang memeriksa dan menerima fisik barang (segel, nomor batch
sediaan dengan yang tercantum pada faktur, kemasan dari sediaan, bentuk
sediaan, jumlah, keadaan fisik obat, tanggal kadaluarsa) dari PBF sesuai dengan
Surat Pesanan dan faktur barang.
b. Membuat tanda terima penerimaan barang (stempel gudang dan tanda tangan
penanggung jawab gudang) di faktur barang.
c. Menyimpan dan membukukan barang masuk dalam kartu stok barang.
d. Membuat tanda terima penyerahan barang yang ditandatangani oleh penerima
barang dan distempel serta dicatat.

2.2.5 Penyimpanan
Setelah barang diterima di Instalasi Farmasi perlu dilakukan penyimpanan
sebelum dilakukan pendistribusian. Penyimpanan harus dapat menjamin kualitas
dan keamanan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai sesuai
dengan persyaratan kefarmasian. Persyaratan kefarmasian yang dimaksud meliputi
persyaratan stabilitas dan keamanan, sanitasi, cahaya, kelembaban, ventilasidan
penggolongan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai.
Komponen yang harus diperhatikan antara lain:
a. Obat dan bahan kimia yang digunakan untuk mempersiapkan obat diberi label
yang secara jelas terbaca memuat nama, tanggal pertama kemasan dibuka,
tanggal kadaluarsa dan peringatan khusus.
b. Elektrolit konsentrasi tinggi tidak disimpan di unit perawatan kecuali untuk
kebutuhan klinis yang penting.

28
c. Elektrolit konsentrasi tinggi yang disimpan pada unit perawatan pasien
dilengkapi dengan pengaman, harus diberi label yang jelas dan disimpan pada
area yang dibatasi ketat (restricted) untuk mencegah penatalaksanaan yang
kurang hati-hati.
d. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang dibawa oleh
pasien harus disimpan secara khusus dan dapat diidentifikasi.
e. Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang
lainnya yang menyebabkan kontaminasi. Instalasi Farmasi harus dapat
memastikan bahwa obat disimpan secara benar dan diinspeksi secara periodik.
Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang harus
disimpan terpisah yaitu:
a. Bahan yang mudah terbakar, disimpan dalam ruang tahan api dan diberi tanda
khusus bahan berbahaya.
b. Gas medis disimpan dengan posisi berdiri, terikatdan diberi penandaaan untuk
menghindari kesalahan pengambilan jenis gas medis. Penyimpanan tabung gas
medis kosong terpisah dari tabung gas medis yang ada isinya. Penyimpanan
tabung gas medis di ruangan harus menggunakan tutup demi keselamatan.
Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi, bentuk
sediaan, dan jenis sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dan
disusun secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired First Out (FEFO)
dan First In First Out (FIFO) disertai sistem informasi manajemen. Penyimpanan
sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang penampilan dan
penamaan yang mirip (LASA, Look Alike Sound Alike) tidak ditempatkan
berdekatan dan harus diberi penandaan khusus untuk mencegah terjadinya
kesalahan pengambilan obat. Rumah Sakit harus dapat menyediakan lokasi
penyimpanan obat emergensi untuk kondisi kegawatdaruratan. Tempat
penyimpanan harus mudah diakses dan terhindar dari penyalahgunaan dan
pencurian. Pengelolaan obat emergensi harus menjamin:
a. Jumlah dan jenis obat sesuai dengan daftar obat emergensi yang telah
ditetapkan
b. Tidak boleh bercampur dengan persediaan obat untuk kebutuhan lain
c. Bila dipakai untuk keperluan emergensi harus segera diganti

29
d. Dicek secara berkala apakah ada yang kadaluarsa
e. Dilarang dipinjam untuk kebutuhan lain

2.2.6 Pendistribusian(7)
Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
menyalurkan atau menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan atau pasien
dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah dan ketepatan waktu. Rumah
Sakit harus menentukan sistem distribusi yang dapat menjamin terlaksananya
pengawasan dan pengendalian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis
habis pakai di unit pelayanan. Sistem distribusi di unit pelayanan dapat dilakukan
dengan cara:
a. Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (floor stock)
Pada sistem floor stock pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai untuk persediaan di ruang rawat disiapkan dan dikelola
oleh instalasi farmasi. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
yang disimpan di ruang rawat harus dalam jenis dan jumlah yang sangat
dibutuhkan, dalam kondisi sementara dimana tidak ada petugas farmasi yang
mengelola (diatas jam kerja) maka pendistribusiannya didelegasikan kepada
penanggung jawab ruangan. Setiap hari dilakukan serah terima kembali
pengelolaan obat floor stock kepada petugas farmasi dari penanggung jawab
ruangan.
b. Sistem Resep Perorangan
Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
berdasarkan resep perorangan atau pasien rawat jalan dan rawat inap melalui
Instalasi Farmasi.
c. Sistem Unit Dosis
Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
berdasarkan resep perorangan yang disiapkan dalam unit dosis tunggal atau ganda,
untuk penggunaan satu kali dosis atau pasien. Sistem unit dosis ini digunakan untuk
pasien rawat inap.
d. Sistem Kombinasi

30
Sistem pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai bagi pasien rawat inap dengan menggunakan kombinasi a+b atau b+c atau
a+c.
Sistem distribusi Unit Dose Dispensing (UDD) sangat dianjurkan untuk pasien
rawat inap mengingat dengan sistem ini tingkat kesalahan pemberian obat dapat
diminimalkan sampai kurang dari 5% dibandingkan dengan sistem floor stock atau
resep individu yang mencapai 18%. Sistem distribusi dirancang atas dasar
kemudahan untuk dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan efisiensi dan
efektifitas sumber daya yang ada dan metode sentralisasi atau desentralisasi.
2.2.7 Pemusnahan dan Penarikan
Pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan
medis habis pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penarikan
sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar atau ketentuan peraturan perundang-
undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan perintah penarikan oleh
BPOM (mandatory recall) atau berdasarkan inisiatif sukarela oleh pemilik izin edar
(voluntary recall) dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM.
Penarikan alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dilakukan terhadap produk
yang izin edarnya dicabut oleh menteri. Pemusnahan dilakukan untuk sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai bila:
a. Produk tidak memenuhi persyaratan mutu
b. Telah kadaluarsa
c. Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau
kepentingan ilmu pengetahuan
d. Dicabut izin edarnya
Tahapan pemusnahan terdiri dari:
a. Membuat daftar sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
yang akan dimusnahkan
b. Menyiapkan berita acara pemusnahan
c. Mengkoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak
terkait
d. Menyiapkan tempat pemusnahan

31
e. Melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan serta
peraturan yang berlaku.
2.2.8 Pengendalian
Pengendalian persedian adalah suatu kegiatan untuk memastikan
tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah
ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan atau kekosongan obat.
Pengendalian dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan penggunaan
sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai. Pengendalian
penggunaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai dapat
dilakukan oleh instalasi farmasi harus bersama dengan Komite atau Tim Farmasi
dan Terapi di Rumah Sakit. Tujuan pengendalian persediaan sediaan farmasi, alat
kesehatan dan bahan medis habis pakai adalah untuk:
a. Penggunaan obat sesuai dengan Formularium Rumah Sakit
b. Penggunaan obat sesuai dengan diagnosis dan terapi
c. Memastikan persediaan efektif dan efisien atau tidak terjadi kelebihan dan
kekurangan atau kekosongan, kerusakan, kadaluarsa, dan kehilangan serta
pengembalian pesanan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai.
Cara untuk mengendalikan persediaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai adalah:
a. Melakukan evaluasi persediaan yang jarang digunakan (slow moving)
b. Melakukan evaluasi persediaan yang tidak digunakan dalam waktu tiga bulan
berturut-turut (death stock)
c. Stok opname yang dilakukan secara periodik dan berkala.

2.2.9 Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan untuk
memudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu. Kegiatan administrasi
terdiri dari:
a. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang meliputi perencanaan kebutuhan,

32
pengadaan, penerimaan, pendistribusian, pengendalian persediaan, pengembalian,
pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis
pakai. Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan Instalasi Farmasi dalam
periode waktu tertentu (bulanan, triwulanan, semester atau pertahun). Jenis-jenis
pelaporan yang dibuat yaitu:
1. Laporan keuangan yang telah dikeluarkan oleh IFRS
2. Mutasi perbekalan farmasi
3. Penulisan resep generik dan non generik
4. Pelaporan psikotropik dan narkotik
5. Stok opname
6. Pendistribusian berupa jumlah dan rupiah
7. Penggunaan obat program
8. Pemakaian perbekalan farmasi jaminan kesehatan bagi masyarakat tidak
mampu
9. Kepatuhan pada formularium
10. Penggunaan obat terbesar
11. Penggunaan antibiotik
12. Kinerja
Pencatatan dilakukan untuk:
1. Persyaratan Kementerian Kesehatan atau BPOM
2. Dasar akreditasi Rumah Sakit
3. Dasar audit Rumah Sakit
4. Dokumentasi farmasi
Pelaporan dilakukan sebagai:
1. Komunikasi antara level manajemen
2. Penyiapan laporan tahunan yang komprehensif mengenai kegiatan di Instalasi
Farmasi
3. Laporan tahunan
b. Administrasi Keuangan
Apabila Instalasi Farmasi harus mengelola keuangan maka perlu
menyelenggarakan administrasi keuangan. Administrasi keuangan merupakan
pengaturan anggaran, pengendalian dan analisa biaya, pengumpulan informasi

33
keuangan, penyiapan laporan, penggunaan laporan yang berkaitan dengan semua
kegiatan Pelayanan Kefarmasian secara rutin atau tidak rutin dalam periode
bulanan, triwulanan, semesteran atau tahunan.
c. Administrasi Penghapusan
Administrasi penghapusan merupakan kegiatan penyelesaian terhadap sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai yang tidak terpakai karena
kadaluarsa, rusak, mutu tidak memenuhi standar dengan cara membuat usulan
penghapusan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai kepada
pihak terkait sesuai dengan prosedur yang berlaku.
2.3 Pelayanan Farmasi Klinis(6)
Pelayanan Farmasi Klinik merupakan pelayanan langsung yang diberikan
Apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan
meminimalkan risiko terjadinya efek samping karena obat, untuk tujuan
keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas hidup pasien (quality of life)
terjamin. Pelayanan farmasi klinik meliputi :
a. Pengkajian dan pelayanan resep
b. Penelusuran riwayat penggunaan obat
c. Rekonsiliasi obat
d. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
e. Konseling
f. Visite
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
j. Dispensing sediaan steril
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)

2.3.1 Pengkajian dan Pelayanan Resep(6)


Pengkajian resep dilakukan untuk menganalisa adanya masalah terkait
obat, bila ditemukan masalah terkait obat harus dikonsultasikan kepada dokter
penulis resep. Apoteker harus melakukan pengkajian resep sesuai persyaratan
administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat

34
inap maupun rawat jalan. Pelayanan resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan
ketersediaan, pengkajian resep, penyiapan sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyerahan
disertai pemberian informasi. Pada setiap tahap alur pelayanan resep dilakukan
upaya pencegahan terjadinya kesalahan pemberian obat (medication error).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, kegiatan pengkajian resep meliputi
administrasi, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis.
1. Persyaratan administrasi pada resep meliputi:
a. Nama, umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan pasien
b. Nama, nomor ijin, alamat dan paraf dokter
c. Tanggal resep
d. Ruangan/ unit asal resep
2. Persyaratan farmasetik meliputi:
a. Nama obat, bentuk dan kekuatan sediaan
b. Dosis dan jumlah obat
c. Stabilitas
d. Aturan dan cara penggunaan

3. Persyaratan klinis pada resep meliputi:


a. Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat
b. Duplikasi pengobatan
c. Alergi dan reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD)
d. Kontra indikasi
e. Interaksi obat

2.3.2 Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat


Penelusuran riwayat penggunaan obat merupakan proses untuk
mendapatkan informasi mengenai seluruh obat atau sediaan farmasi lain yang
pernah dan sedang digunakan, riwayat pengobatan dapat diperoleh dari wawancara
atau data rekam medik atau pencatatan penggunaan obat pasien.
a. Tahapan penelusuran riwayat penggunaan obat

35
1. Membandingkan riwayat penggunaan obat dengan data rekam medik atau
pencatatan penggunaan obat untuk mengetahui perbedaan informasi
penggunaan obat.
2. Melakukan verifikasi riwayat penggunaan obat yang diberikan oleh tenaga
kesehatan lain dan memberikan informasi tambahan jika diperlukan
3. Mendokumentasikan adanya alergi dan Reaksi Obat yang Tidak
Dikehendaki (ROTD).
4. Mengidentifikasi potensi terjadinya interaksi obat
5. Melakukan penilaian terhadap kepatuhan pasien dalam menggunakan obat
6. Melakukan penilaian rasionalitas obat yang diresepkan
7. Melakukan penilaian terhadap pemahaman pasien terhadap obat yang
digunakan
8. Melakukan penilaian adanya bukti penyalahgunaan obat
9. Melakukan penilaian terhadap teknik penggunaan obat
10. Memeriksa adanya kebutuhan pasien terhadap obat dan alat bantu
kepatuhan minum obat (concordance aids)
11. Mendokumentasikan obat yang digunakan pasien sendiri tanpa
sepengetahuan dokter
12. Mengidentifikasi terapi lain, misalnya suplemen dan pengobatan alternatif
yang mungkin digunakan oleh pasien
b. Kegiatan pada penelusuran riwayat penggunaan obat
1. Penelusuran riwayat penggunaan obat kepada pasien atau keluarganya
2. Melakukan penilaian terhadap pengaturan penggunaan obat pasien
c. Informasi yang harus didapatkan pada penelusuran riwayat penggunaan obat
1. Nama obat (termasuk obat non resep), dosis, bentuk sediaan, frekuensi
penggunaan, indikasi dan lama penggunaan obat
2. Reaksi obat yang tidak dikehendaki termasuk riwayat alergi
3. Kepatuhan terhadap regimen penggunaan obat (jumlah obat yang tersisa)

2.3.3 Rekonsiliasi Obat


Rekonsiliasi obat merupakan proses membandingkan instruksi pengobatan
dengan obat yang telah didapat pasien. Rekonsiliasi dilakukan untuk mencegah

36
terjadinya kesalahan obat (medication error) seperti obat tidak diberikan, duplikasi,
kesalahan dosis atau interaksi obat. Kesalahan obat (medication error) rentan
terjadi pada pemindahan pasien dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit lain, antar
ruang perawatan, serta pada pasien yang keluar dari Rumah Sakit ke layanan
kesehatan primer dan sebaliknya. Tujuan dilakukannya rekonsiliasi obat adalah:
a. Memastikan informasi yang akurat tentang obat yang digunakan pasien
b. Mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terdokumentasinya instruksi
dokter
c. Mengidentifikasi ketidaksesuaian akibat tidak terbacanya instruksi dokter.
Tahap proses rekonsiliasi obat yaitu:
a. Pengumpulan data
Mencatat data dan memverifikasi obat yang sedang dan akan digunakan pasien,
meliputi nama obat, dosis, frekuensi, rute, obat mulai diberikan, diganti, dilanjutkan
dan dihentikan, riwayat alergi pasien serta efek samping obat yang pernah terjadi.
Khusus untuk data alergi dan efek samping obat, dicatat tanggal kejadian, obat yang
menyebabkan terjadinya reaksi alergi dan efek samping, efek yang terjadi, dan
tingkat keparahan. Data riwayat penggunaan obat didapatkan dari pasien, keluarga
pasien, daftar obat pasien, obat yang ada pada pasien, dan rekam medik atau
medication chart. Data obat yang dapat digunakan tidak lebih dari 3 (tiga) bulan
sebelumnya, semua obat yang digunakan oleh pasien baik resep maupun obat bebas
termasuk herbal harus dilakukan proses rekonsiliasi.
b. Komparasi
Petugas kesehatan membandingkan data obat yang pernah, sedang dan akan
digunakan. Discrepancy atau ketidakcocokan adalah bilamana ditemukan
ketidakcocokan atau perbedaan diantara data-data tersebut. Ketidakcocokan dapat
pula terjadi bila ada obat yang hilang, berbeda, ditambahkan atau diganti tanpa ada
penjelasan yang didokumentasikan pada rekam medik pasien. Ketidakcocokan ini
dapat bersifat disengaja (intentional) oleh dokter pada saat penulisan resep maupun
tidak disengaja (unintentional) dimana dokter tidak tahu adanya perbedaan pada
saat menuliskan resep.

37
c. Melakukan konfirmasi kepada dokter jika menemukan ketidaksesuaian
dokumentasi, bila ada ketidaksesuaian maka dokter harus dihubungi kurang dari 24
jam. Hal lain yang harus dilakukan oleh Apoteker adalah:
1. Menentukan bahwa adanya perbedaan tersebut disengaja atau tidak
disengaja
2. Mendokumentasikan alasan penghentian, penundaan, atau pengganti
3. Memberikan tanda tangan, tanggal, dan waktu dilakukannya rekonsilliasi
obat
d. Komunikasi
Melakukan komunikasi dengan pasien dan/atau keluarga pasien atau
perawat mengenai perubahan terapi yang terjadi. Apoteker bertanggung
jawab terhadap informasi obat yang diberikan.

2.3.4 Pelayanan Informasi Obat (PIO)


Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan dan
pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, tidak bias, terkini
dan komprehensif yang dilakukan oleh Apoteker kepada dokter, Apoteker, perawat,
profesi kesehatan lainnya serta pasien dan pihak lain di luar Rumah Sakit. Apoteker
harus mampu memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah dimengerti,
akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-
kurangnya meliputi cara pemakaian obat, jangka waktu pengobatan, cara
penyimpanan obat, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari
selama terapi. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam PIO yaitu sumber daya
manusia, tempat dan perlengkapan.
Pelayanan Informasi Obat (PIO) bertujuan untuk:
a. Menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien dan tenaga kesehatan,
dilingkungan Rumah Sakit dan pihak lain di luar Rumah Sakit
b. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang berhubungan dengan
c. obat atau sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai,
terutama bagi Tim Farmasi dan Terapi
d. Menunjang penggunaan obat yang rasional.
e.

38
Kegiatan Pelayanan Informasi Obat (PIO) meliputi:
a. Menjawab pertanyaan
b. Menerbitkan buletin, leaflet, poster, news letter
c. Menyediakan informasi bagi tim farmasi dan terapi sehubungan dengan
penyusunan formularium rumah sakit
d. Bersama dengan tim penyuluhan kesehatan rumah sakit (PKRS) melakukan
kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap
e. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga kefarmasian dan tenaga
kesehatan lainnya
f. Melakukan penelitian.

2.3.5 Konseling
Konseling obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran terkait
terapi obat dari Apoteker (konselor) kepada pasien dan/atau keluarganya.
Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap disemua fasilitas kesehatan
dapat dilakukan atas inisitatif Apoteker, rujukan dokter, keinginan pasien atau
keluarganya. Pemberian konseling yang efektif memerlukan kepercayaan pasien
dan/atau keluarga terhadap apoteker. Pemberian konseling obat bertujuan untuk
mengoptimalkan hasil terapi, meminimalkan risiko reaksi obat yang tidak
dikehendaki, dan meningkatkan cost-effectiveness yang pada akhirnya
meningkatkan kemananan penggunaan obat bagi pasien (patient safety). Secara
khusus konseling obat bertujuan untuk:
a. Meningkatkan hubungan kepercayaan antara Apoteker dan pasien
b. Menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien
c. Membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan obat
d. Membantu pasien untuk mengatur dan menyesuaikan penggunaan obat dengan
penyakitnya
e. Meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan
f. Mencegah atau meminimalkan masalah terkait obat
g. Meningkatkan kemampuan pasien memecahkan masalahnya dalam hal terapi
h. Mengerti permasalahan dalam pengambilan keputusan

39
i. Membimbing dan mendidik pasien dalam penggunaan obat sehingga dapat
mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien.

Kegiatan dalam konseling obat meliputi:


a. Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien
b. Mengidentifikasi tingkat pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui
Three Prime Question, antara lain:
1) Apa yang disampaikan dokter tentang obat anda?
2) Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian obat anda?
3) Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan setelah
anda menerima terapi obat tersebut?
c. Menggali informasi lebih lanjut dengan member kesempatan kepada pasien
untuk mengeksplorasi masalah penggunaan obat
d. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
pengunaan obat
e. Melakukan verifikasi akhir dalam rangka mengecek pemahaman pasien
f. Dokumentasi.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam konseling obat:
a. Kriteria Pasien:
1) Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi ginjal, ibu hamil
dan menyusui)
2) Pasiendenganterapi jangka panjang atau penyakit kronis (TB, DM,
epilepsi, dan lain-lain)
3) Pasien yang menggunakan obat-obatan dengan instruksi khusus
(penggunaan kortikosteroid dengan tapering down/off)
4) Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin,
phenytoin)
5) Pasien yang menggunakan banyak obat (polifarmasi)
6) Pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah.
b. Sarana dan Peralatan:
1) Ruangan atau tempat konseling
2) Alat bantu konseling (kartu pasien atau catatan konseling)

40
2.3.6 Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan
Apoteker secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan untuk mengamati
kondisi klinis pasien secara langsung, dan mengkaji masalah terkait obat,
memantau terapi obat dan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD),
meningkatkan terapi obat yang rasional dan menyajikan informasi obat kepada
dokter, pasien serta profesional kesehatan lainnya. Visite juga dapat dilakukan pada
pasien yang sudah keluar Rumah Sakit baik atas permintaan pasien maupun sesuai
dengan program Rumah Sakit yang biasa disebut dengan Pelayanan Kefarmasian
di rumah (Home Pharmacy Care). Sebelum melakukan kegiatan visite Apoteker
harus mempersiapkan diri dengan mengumpulkan informasi mengenai kondisi
pasien dan memeriksa terapi obat dari rekam medik atau sumber lain.

2.3.7 Pemantauan Terapi Obat (PTO)


Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang mencakup
kegiatan untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif dan rasional bagi pasien.
Tujuan Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah meningkatkan efektivitas terapi dan
meminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD). Kegiatan
dalam Pemantauan Terapi Obat (PTO) meliputi:
a. Pengkajian pemilihan obat, dosis, cara pemberian obat, respons terapi, Reaksi
Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD)
b. Pemberian rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat
c. Pemantauan efektivitas dan efek samping terapi obat.
Tahapan Pemantauan Terapi Obat (PTO):
a. Pengumpulan data pasien
b. Identifikasi masalah terkait obat
c. Rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat
d. Pemantauan
e. Tindak lanjut
f. Faktor yang harus diperhatikan dalam melaksanakan Pemantauan Terapi Obat
(PTO) yaitu kemampuan penelusuran informasi dan penilaian kritis terhadap

41
bukti terkinidan terpercaya (Evidence Best Medicine), kerahasiaan informasi
dan kerjasama dengan tim kesehatan lain (dokter dan perawat)

2.3.8 Monitoring Efek Samping Obat (MESO)


Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan pemantauan
setiap respon terhadap obat yang tidak dikehendaki, yang terjadi pada dosis lazim
yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosa dan terapi. Efek
samping obat adalah reaksi obat yang tidak dikehendaki yang terkait dengan kerja
farmakologi. Faktor yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan
Monitoring Efek Samping Obat (MESO) yaitu kerjasama dengan Tim Farmasi dan
Terapi dan ruang rawat serta ketersediaan formulir Monitoring Efek Samping Obat.
Monitoring Efek Samping Obat (MESO) bertujuan:
a. Menemukan Efek Samping Obat (ESO) sedini mungkin terutama yang berat,
tidak dikenal, frekuensinya jarang.
b. Menentukan frekuensi dan insidensi Efek Samping Obat (ESO) yang sudah
dikenal dan yang baru saja ditemukan.
c. Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan atau mempengaruhi
angka kejadian dan hebatnya Efek Samping Obat (ESO).
d. Meminimalkan risiko kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki.
e. Mencegah terulangnya kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki.
Kegiatan pemantauan dan pelaporan Efek Samping Obat (ESO):
a. Mendeteksi adanya kejadian reaksi obat yang tidak dikehendaki (ESO)
b. Mengidentifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai risiko tinggi
mengalami Efek Samping Obat (ESO)
c. Mengevaluasi laporan Efek Samping Obat (ESO) dengan algoritma Naranjo
d. Mendiskusikan dan mendokumentasikan Efek Samping Obat (ESO) di Panitia
Farmasi dan Terapi
e. Melaporkan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional.

42
2.3.9 Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) merupakan program evaluasi
penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara kualitatif dan
kuantitatif. Tujuan Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) yaitu:
a. Mendapatkan gambaran keadaan saat ini atas pola penggunaan obat
b. Membandingkan pola penggunaan obat pada periode waktu tertentu
c. Memberikan masukan untuk perbaikan penggunaan obat
d. Menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan obat
Kegiatan praktek Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) meliputi:
a. Mengevaluasi pengggunaan obat secara kualitatif
b. Mengevaluasi pengggunaan obat secara kuantitatif

2.3.10 Dispensing Sediaan Steril


Dispensing sediaan steril harus dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah
Sakit dengan teknik aseptik untuk menjamin sterilitas dan stabilitas produk dan
melindungi petugas dari paparan zat berbahaya serta menghindari terjadinya
kesalahan pemberian obat. Dispensing sediaan steril bertujuan:
a. Menjamin agar pasien menerima obat sesuai dengan dosis yang dibutuhkan
b. Menjamin sterilitas dan stabilitas produk
c. Melindungi petugas dari paparan zat berbahaya
d. Menghindari terjadinya kesalahan pemberian obat
Kegiatan dispensing sediaan steril meliputi :
a. Pencampuran obat suntik
Melakukan pencampuran obat steril sesuai kebutuhan pasien yang menjamin
kompatibilitas dan stabilitas obat maupun wadah sesuai dengan dosis yang
ditetapkan.
1) Mencampur sediaan intravena ke dalam cairan infus
2) Melarutkan sediaan intravena dalam bentuk serbuk dengan pelarut yang sesuai
3) Mengemas menjadi sediaan siap pakai.
Faktor yang perlu diperhatikan:
1) Ruangan khusus
2) Lemari pencampuran Biological Safety Cabinet

43
3) HEPA Filter
b. Penyiapan Nutrisi Parenteral
Penyiapan Nutrisi Parenteral merupakan kegiatan pencampuran nutrisi
parenteral yang dilakukan oleh tenaga yang terlatih secara aseptis sesuai kebutuhan
pasien dengan menjaga stabilitas sediaan, formula standar dan kepatuhan terhadap
prosedur yang menyertai. Kegiatan dalam dispensing sediaan khusus yaitu:
1) Mencampur sediaan karbohidrat, protein, lipid, vitamin, mineral untuk
kebutuhan perorangan
2) Mengemas ke dalam kantong khusus untuk nutrisi
Faktor yang perlu diperhatikan:
1) Tim yang terdiri dari dokter, Apoteker, perawat, ahli gizi
2) Sarana dan peralatan
3) Ruangan khusus
4) Lemari pencampuran Biological Safety Cabine
5) Kantong khusus untuk nutrisi parenteral.
c. Penanganan Sediaan Sitostatik
Penanganan sediaan sitostatik merupakan penanganan obat kanker secara
aseptis dalam kemasan siap pakai sesuai kebutuhan pasien oleh tenaga farmasi yang
terlatih dengan pengendalian pada keamanan terhadap lingkungan, petugas maupun
sediaan obatnya dari efek toksik dan kontaminasi, dengan menggunakan alat
pelindung diri, mengamankan pada saat pencampuran, distribusi, maupun proses
pemberian kepada pasien sampai pembuangan limbahnya. Secara operasional
dalam mempersiapkan dan melakukan harus sesuai prosedur yang ditetapkan
dengan alat pelindung diri yang memadai. Kegiatan dalam penanganan sediaan
sitostatik meliputi:
1) Melakukan perhitungan dosis secara akurat
2) Melarutkan sediaan obat kanker dengan pelarut yang sesuai
3) Mencampuran sediaan obat kanker sesuai dengan protokol pengobatan
4) Mengemas dalam kemasan tertentu
5) Membuang limbah sesuai prosedur yang berlaku
Faktor yang perlu diperhatikan:
1) Ruangan khusus yang dirancang dengan kondisi yang sesuai

44
2) Lemari pencampuran Biological Safety Cabinet
3) HEPA filter
4) Alat Pelindung Diri (APD)
5) Sumber daya manusia yang terlatih
6) Cara pemberian obat kanker

2.3.11 Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah (PKOD)


Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) merupakan interpretasi
hasil pemeriksaan kadar obat tertentu atas permintaan dari dokter yang merawat
karena indeks terapi yang sempit atau atas usulan dari Apoteker kepada dokter.
Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah (PKOD) bertujuan mengetahui kadar obat
dalam darah dan memberikan rekomendasi kepada dokter yang merawat. Kegiatan
Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah (PKOD) meliputi:
a. Melakukan penilaian kebutuhan pasien yang membutuhkan Pemeriksaan Kadar
Obat dalam Darah (PKOD)
b. Mendiskusikan kepada dokter untuk persetujuan melakukan Pemeriksaan Kadar
Obat dalam Darah (PKOD)
c. Menganalisis hasil Pemeriksaan Kadar Obat dalam Darah (PKOD) dan
memberikan rekomendasi.

2.4 Sumber Daya Manusia, Sarana dan Peralatan(6)


2.4.1 Sumber Daya Manusia
Instalasi Farmasi harus memiliki Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian
yang sesuai dengan beban kerja dan petugas penunjang lain agar tercapai sasaran
dan tujuan Instalasi Farmasi. Ketersediaan jumlah tenaga Apoteker dan Tenaga
Teknis Kefarmasian di Rumah Sakit dipenuhi sesuai dengan ketentuan klasifikasi
dan perizinan Rumah Sakit yang ditetapkan oleh Menteri.
a. Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM)
Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan, kualifikasi Sumber Daya Manusia
(SDM) Instalasi Farmasi diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Untuk pekerjaan kefarmasian terdiri dari Apoteker dan Tenaga Teknis
Kefarmasian

45
2) Untuk pekerjaan penunjang terdiri dari Operator Komputer atau Teknisi
yang memahami kefarmasian, Tenaga Administrasi dan Pekarya atau
pembantu pelaksana.
Untuk menghasilkan mutu pelayanan yang baik dan aman, maka dalam
penentuan kebutuhan tenaga harus mempertimbangkan kompetensi yang
disesuaikan dengan jenis pelayanan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung
jawabnya.
b. Persyaratan Sumber Daya Manusia (SDM)
Pelayanan Kefarmasian harus dilakukan oleh Apoteker dan Tenaga Teknis
Kefarmasian. Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan Pelayanan Kefarmasian
harus di bawah supervisi Apoteker. Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian
harus memenuhi persyaratan administrasi seperti yang telah ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan terkait jabatan fungsional
di Instalasi Farmasi diatur menurut kebutuhan organisasi dan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Instalasi Farmasi harus dikepalai oleh seorang Apoteker
yang merupakan Apoteker penanggung jawab seluruh Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit. Kepala Instalasi Farmasi diutamakan telah memiliki pengalaman
bekerja di Instalasi Farmasi minimal 3 (tiga) tahun.
c. Beban Kerja dan Kebutuhan
1) Beban Kerja
Dalam perhitungan beban kerja perlu diperhatikan faktor-faktor yang
berpengaruh pada kegiatan yang dilakukan, yaitu:
a) Kapasitas tempat tidur dan Bed Occupancy Rate (BOR)
b) Jumlah dan jenis kegiatan farmasi yang dilakukan (manajemen, klinik dan
produksi)
c) Jumlah resep atau formulir permintaan obat (floorstock) per hari
d) Volume sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
2) Penghitungan Beban Kerja
Penghitungan kebutuhan Apoteker berdasarkan beban kerja pada Pelayanan
Kefarmasian di rawat inap yang meliputi pelayanan farmasi manajerial dan
pelayanan farmasi klinik dengan aktivitas pengkajian resep, penelusuran riwayat
penggunaan obat, rekonsiliasi obat, pemantauan terapi obat, pemberian informasi

46
obat, konseling, edukasi dan visite, idealnya dibutuhkan tenaga Apoteker dengan
rasio 1 Apoteker untuk 30 pasien. Penghitungan kebutuhan Apoteker berdasarkan
beban kerja pada Pelayanan Kefarmasian di rawat jalan yang meliputi pelayanan
farmasi menajerial dan pelayanan farmasi klinik dengan aktivitas pengkajian resep,
penyerahan obat, Pencatatan Penggunaan Obat (PPP) dan konseling, idealnya
dibutuhkan tenaga Apoteker dengan rasio 1 Apoteker untuk 50 pasien. Selain
kebutuhan Apoteker untuk Pelayanan Kefarmasian rawat inap dan rawat jalan,
maka kebutuhan tenaga Apoteker juga diperlukan untuk pelayanan farmasi yang
lain seperti di unit logistik medik/distribusi, unit produksi steril atau aseptic
dispensing, unit pelayanan informasi obat dan lain-lain tergantung pada jenis
aktivitas dan tingkat cakupan pelayanan yang dilakukan oleh Instalasi Farmasi.
Selain kebutuhan Apoteker untuk Pelayanan Kefarmasian di rawat inap dan
rawat jalan, diperlukan juga masing-masing 1 (satu) orang Apoteker untuk kegiatan
Pelayanan Kefarmasian di ruang tertentu, yaitu:
a) Unit Gawat Darurat
b) Intensive Care Unit (ICU)/ Intensive Cardiac Care Unit (ICCU)/ Neonatus
Intensive Care Unit (NICU)/ PediatricIntensive Care Unit (PICU)
c) Pelayanan Informasi Obat
3) Pengembangan Staf dan Program Pendidikan
Setiap staf di Rumah Sakit harus diberi kesempatan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya. Peran Kepala Instalasi Farmasi dalam
pengembangan staf dan program pendidikan meliputi:
a) Menyusun program orientasi staf baru, pendidikan dan pelatihan
berdasarkan kebutuhan pengembangan kompetensi SDM.
b) Menentukan dan mengirim staf sesuai dengan spesifikasi pekerjaan (tugas
dan tanggung jawabnya) untuk meningkatkan kompetensi yang diperlukan.
c) Menentukan staf sebagai narasumber/pelatih/fasilitator sesuai dengan
kompetensinya.
4) Penelitian dan Pengembangan.
Apoteker harus didorong untuk melakukan penelitian mandiri atau
berkontribusi dalam tim penelitian mengembangkan praktik Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit. Apoteker yang terlibat dalam penelitian harus

47
mentaati prinsip dan prosedur yang ditetapkan dan sesuai dengan kaidah-kaidah
penelitian yang berlaku. Instalasi Farmasi harus melakukan pengembangan
Pelayanan Kefarmasian sesuai dengan situasi perkembangan kefarmasian terkini.
Apoteker juga dapat berperan dalam Uji Klinik Obat yang dilakukan di Rumah
Sakit dengan mengelola obat-obat yang diteliti sampai dipergunakan oleh subyek
penelitian dan mencatat Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) yang terjadi
selama penelitian.

2.4.2 Sarana dan Peralatan


Penyelenggaraan Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit harus didukung
oleh sarana dan peralatan yang memenuhi ketentuan dan perundang-undangan
kefarmasian yang berlaku. Lokasi harus menyatu dengan sistem pelayanan Rumah
Sakit, dipisahkan antara fasilitas untuk penyelenggaraan manajemen, pelayanan
langsung kepada pasien, peracikan, produksi dan laboratorium mutu yang
dilengkapi penanganan limbah. Peralatan yang memerlukan ketepatan pengukuran
harus dilakukan kalibrasi alat dan peneraan secara berkala oleh balai pengujian
kesehatan dan/atau institusi yang berwenang.Peralatan harus dilakukan
pemeliharaan, didokumentasi, serta dievaluasi secara berkala dan
berkesinambungan.
A. Sarana
Fasilitas ruang harus memadai dalam hal kualitas dan kuantitas agar dapat
menunjang fungsi dan proses Pelayanan Kefarmasian, menjamin lingkungan kerja
yang aman untuk petugas, dan memudahkan sistem komunikasi Rumah Sakit.
1. Fasilitas utama dalam kegiatan pelayanan di Instalasi Farmasi, terdiri dari:
a) Ruang Kantor/Administrasi
Ruang Kantor/Administrasi terdiri dari ruang pimpinan, ruang staf, ruang
kerja/administrasi tata usaha dan ruang pertemuan
b) Ruang penyimpanan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai.
Rumah Sakit harus mempunyai ruang penyimpanan sediaan farmasi, alat
kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai yang disesuaikan dengan kondisi
dan kebutuhan, serta harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur,

48
sinar atau cahaya, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu
produk dan keamanan petugas, terdiri dari:
1) Kondisi umum untuk ruang penyimpanan obat jadi, obat produksi,
bahan baku obat dan alat kesehatan.
2) Kondisi khusus untuk ruang penyimpanan obat termolabil, bahan
laboratorium dan reagensia, Sediaan Farmasi yang mudah terbakar dan
obat atau bahan obat berbahaya (narkotik atau psikotropik)
c) Ruang distribusi
Ruang distribusi harus cukup untuk melayani seluruh kebutuhan sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai rumah sakit. Ruang
distribusi terdiri dari:
1) Ruang distribusi untuk pelayanan rawat jalan, dimana terdapat ruang
khusus atau terpisah untuk penerimaan resep dan peracikan.
2) Ruang distribusi untuk pelayanan rawat inap, dapat secara sentralisasi
maupun desentralisasi di masing-masing ruang rawat inap.
d) Ruang konsultasi atau konseling
Obat ruang konsultasi atau konseling obat harus ada sebagai sarana untuk
Apoteker memberikan konsultasi atau konseling pada pasien dalam rangka
meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien. Ruang konsultasi atau
konseling harus jauh dari hiruk pikuk kebisingan lingkungan Rumah Sakit
dan nyaman sehingga pasien maupun konselor dapat berinteraksi dengan
baik. Ruang konsultasi atau konseling dapat berada di Instalasi Farmasi
rawat jalan maupun rawat inap.
e) Ruang Pelayanan Informasi Obat
Pelayanan Informasi Obat dilakukan di ruang tersendiri dengan dilengkapi
sumber informasi dan teknologi komunikasi, berupa bahan pustaka dan
telepon.
f) Ruang Produksi
Persyaratan bangunan untuk ruangan produksi harus memenuhi kriteria
yang telah diatur oleh Menteri Kesehatan antara lain lokasi jauh dari
pencemaran lingkungan (udara, tanah dan air tanah, terdapat sarana
perlindungan dari banjir, cuaca dan rembesan air, rancangan bangunan

49
disesuaikan dengan alur barang dam memiliki Luas ruangan minimal 2
(dua) kali daerah kerja + peralatan, dengan jarak setiap peralatan minimal
2,5 m.
g) Ruang Aseptic Dispensing
Ruang aseptic dispensing harus memenuhi persyaratan:
1) Ruang bersih: kelas 10.000 (dalam Laminar Air Flow = kelas 100)
2) Ruang atau tempat penyiapan:kelas 100.000
3) Ruang antara:kelas 100.000
4) Ruang ganti pakaian:kelas 100.000
5) Ruang atau tempat penyimpanan untuk sediaan yang telah disiapkan
Tata ruang harus menciptakan alur kerja yang baik sedangkan luas ruangan
disesuaikan dengan jenis dan volume kegiatan. Ruang aseptic dispensing
harus memenuhi spesifikasi:
1) Lantai
Permukaan datar dan halus, tanpa sambungan, keras, resisten terhadap
zat kimia dan fungi, serta tidak mudah rusak.
2) Dinding
Permukaan rata dan halus, terbuat dari bahan yang keras, tanpa
sambungan, resisten terhadap zat kimia dan fungi, serta tidak mudah
rusak, sudut-sudut pertemuan lantai dengan dinding dan langit-langit
dengan dinding dibuat melengkung dengan radius 20 – 30 mm, serta
colokan listrik datar dengan permukaan dan kedap air dan dapat
dibersihkan.
3) Plafon
Penerangan, saluran dan kabel dibuat di atas plafon, dan lampu rata
dengan langit-langit atau plafon dan diberi lapisan untuk mencegah
kebocoran udara.
4) Pintu Rangka terbuat dari stainles steel. Pintu membuka ke arah ruangan
yang bertekanan lebih tinggi.
5) Aliran udara menuju ruang bersih, ruang penyiapan, ruang ganti pakaian
dan ruang antara harus melalui HEPA filter dan memenuhi persyaratan
kelas 10.000. Pertukaran udara minimal 120 kali per jam.

50
6) Tekanan udara di dalam ruang bersih adalah 15 pascal lebih rendah dari
ruang lainnya sedangkan tekanan udara dalam ruang penyiapan, ganti
pakaian dan antara harus 45 pascal lebih tinggi dari tekanan udara luar.
7) Temperatur suhu udara diruang bersih dan ruang steril, dipelihara pada
suhu 16-25° C.
8) Kelembaban relatif 45-55%.
9) Ruang bersih, ruang penyangga, ruang ganti pakaian steril dan ruang
ganti pakaian kerja hendaknya mempunyai perbedaan tekanan udara 10-
15 pascal.

h) Laboratorium Farmasi
Dalam hal Instalasi Farmasi melakukan kegiatan penelitian dan
pengembangan yang membutuhkan ruang laboratorium farmasi, maka harus
memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Lokasi terpisah dari ruang produksi dan konstruksi bangunan dan
peralatan tahan asam, alkali, zat kimia dan pereaksi lain (harus inert);
aliran udara, suhu dan kelembaban sesuai persyaratan.
2) Tata ruang disesuaikan dengan kegiatan dan alur kerja
3) Perlengkapan instalasi (air, listrik) sesuai persyaratan
i) Ruang produksi non steril
j) Ruang penanganan sediaan sitostatik
k) Ruang pencampuran/pelarutan/pengemasan sediaan yang tidak stabil
l) Ruang penyimpanan nutrisi parenteral
2. Fasilitas penunjang dalam kegiatan pelayanan di Instalasi Farmasi, terdiri dari:
a) Ruang tunggu pasien
b) Ruang penyimpanan dokumen atau arsip resep dan sediaan farmasi, alat
kesehatan dan bahan medis habis pakai yang rusak
c) Tempat penyimpanan obat di ruang perawatan
d) Fasilitas toilet, kamar mandi untuk staf

51
B. Peralatan
Fasilitas peralatan harus memenuhi syarat terutama untuk perlengkapan
peracikan dan penyiapan baik untuk sediaan steril, non steril, maupun cair untuk
obat luar atau dalam. Fasilitas peralatan harus dijamin sensitif pada pengukuran dan
memenuhi persyaratan, peneraan dan kalibrasi untuk peralatan tertentu setiap
tahun.
Peralatan yang paling sedikit harus tersedia:
1. Peralatan untuk penyimpanan, peracikan dan pembuatan obat baik steril dan
nonsteril maupun aseptik atau steril
2. Peralatan kantor untuk administrasi dan arsip
3. Kepustakaan yang memadai untuk melaksanakan Pelayanan Informasi Obat
4. Lemari penyimpanan khusus untuk narkotika
5. Lemari pendingin dan pendingin ruangan untuk obat yang termolabil
6. Penerangan, sarana air, ventilasi dan sistem pembuangan limbah yang baik
7. Alarm

2.5 Evaluasi Mutu Pelayanan Kefarmasian


Pengendalian Mutu adalah mekanisme kegiatan pemantauan dan penilaian
terhadap pelayanan yang diberikan, secara terencana dan sistematis, sehingga dapat
diidentifikasi peluang untuk peningkatan mutu serta menyediakan mekanisme
tindakan yang diambil. Melalui pengendalian mutu diharapkan dapat terbentuk
proses peningkatan mutu Pelayanan Kefarmasian yang berkesinambungan.
Pengendalian mutu Pelayanan Kefarmasian merupakan kegiatan yang dapat
dilakukan terhadap kegiatan yang sedang berjalan maupun yang sudah berlalu.
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui monitoring dan evaluasi. Tujuan kegiatan ini
untuk menjamin Pelayanan Kefarmasian yang sudah dilaksanakan sesuai dengan
rencana dan upaya perbaikan kegiatan yang akan datang. Pengendalian mutu
Pelayanan Kefarmasian harus terintegrasi dengan program pengendalian mutu
pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
Kegiatan pengendalian mutu Pelayanan Kefarmasian meliputi :
a. Perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan evaluasi
untuk peningkatan mutu sesuai target yang ditetapkan.

52
b. Pelaksanaan, yaitu monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana kerja
(membandingkan antara capaian dengan rencana kerja) dan memberikan umpan
balik terhadap hasil capaian.
c. Tindakan hasil monitoring dan evaluasi, yaitu melakukan perbaikan kualitas
pelayanan sesuai target yang ditetapkan dan meningkatkan kualitas pelayanan
jika capaian sudah memuaskan.
Tahapan program pengendalian mutu:
1. Mendefinisikan kualitas Pelayanan Kefarmasian yang diinginkan dalam bentuk
kriteria
2. Penilaian kualitas Pelayanan Kefarmasian yang sedang berjalan berdasarkan
kriteria yang telah ditetapkan
3. Pendidikan personel dan peningkatan fasilitas pelayanan bila diperlukan
4. Penilaian ulang kualitas Pelayanan Kefarmasian
5. Up date kriteria.
Untuk mengukur pencapaian standar yang telah ditetapkan diperlukan
indikator, suatu alat atau tolak ukur yang hasil menunjuk pada ukuran kepatuhan
terhadap standar yang telah ditetapkan. Indikator dibedakan menjadi:
a. Indikator persyaratan minimal yaitu indikator yang digunakan untuk mengukur
terpenuhi tidaknya standar masukan, proses, dan lingkungan.
b. Indikator penampilan minimal yaitu indikator yang ditetapkan untuk mengukur
tercapai tidaknya standar penampilan minimal pelayanan yang
diselenggarakan.
Indikator atau kriteria yang baik adalah yang sesuai dengan tujuan,
informasinya mudah didapat, singkat, jelas, lengkap dan tidak menimbulkan
berbagai interpretasi dan rasional. Dalam pelaksanaan pengendalian mutu
Pelayanan Kefarmasian dilakukan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi yang
harus dapat dilaksanakan oleh Instalasi Farmasi sendiri atau dilakukan oleh tim
audit internal. Monitoring dan evaluasi merupakan suatu pengamatan dan penilaian
secara terencana, sistematis dan terorganisir sebagai umpan balik perbaikan sistem
dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan. Monitoring dan evaluasi harus
dilaksanakan terhadap seluruh proses tata kelola sediaan farmasi, alat kesehatan dan
bahan medis habis pakai sesuai ketentuan yang berlaku.

53
Berdasarkan waktu pelaksanaan evaluasi, dibagi menjadi 3 (tiga) jenis
program evaluasi, yaitu:
a. Prospektif adalah program dijalankan sebelum pelayanan dilaksanakan, contoh:
standar prosedur operasional dan pedoman.
b. Konkuren adalah program dijalankan bersamaan dengan pelayanan
dilaksanakan, contoh: memantau kegiatan konseling Apoteker, peracikan resep
oleh Asisten Apoteker.
c. Retrospektif adalah program pengendalian yang dijalankan setelah pelayanan
dilaksanakan, contoh: survei konsumen, laporan mutasi barang, audit internal.
Evaluasi Mutu Pelayanan merupakan proses pengukuran, penilaian atas
semua kegiatan Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit secara berkala. Kualitas
pelayanan meliputi teknis pelayanan, proses pelayanan, tata cara atau standar
prosedur operasional, waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan. Metode
evaluasi yang digunakan, terdiri dari:
a. Audit (pengawasan): dilakukan terhadap proses hasil kegiatan apakah sudah
sesuai standar.
b. Review (penilaian): terhadap pelayanan yang telah diberikan, penggunaan
sumber daya, penulisan resep
c. Survei: untuk mengukur kepuasan pasien, dilakukan dengan angket atau
wawancara langsung.
d. Observasi: terhadap kecepatan pelayanan misalnya lama antrian, ketepatan
penyerahan obat.

2.6 Unit Sterilisasi CSSD (Central Sterile Supply Departement)(8)


CSSD (Central Sterile Supply Departement) atau pusat sterilisasi
merupakan salah satu dari mata rantai yang penting agar dapat mengendalikan
infeksi dan mempunyai peran dalam upaya menekan kejadian infeksi terutama
infeksi nosokomial, hal ini dikarenakan CSSD adalah bagian di institusi pelayanan
kesehatan (rumah sakit) yang mengurus suplai dan peralatan bersih atau steril.
Pembentukan CSSD (Central Sterile Supply Departement) berdasarkan pada
kebijakan Departement Kesehatan Republik Indonesia yang menyatakan bahwa
CSSD sebagai salah satu upaya dalam pengendalian infeksi di rumah sakit dan

54
merupakan salah satu mata rantai yang penting untuk Perencanaan dan
Pengendalian infeksi (PPI).
Central Sterile Supply Departement adalah departemen dalam rumah sakit
yang menyediakan bahan atau sediaan dan alat-alat steril secara profesional kepada
semua departemen terspesialisasi. Departemen ini khusus melayani ruang
perawatan, klinik, laboratorium khusus seperti cardiac catherization laboratory
(laboratorium katerisasi jantung) dan ruang operasi. Instalasi pusat sterilisasi juga
merupakan unit pelayanan nonstruktural yang berfungsi memberikan pelayanan
sterilisasi yang sesuai dengan standar atau pedoman dan memenuhi kebutuhan
barang steril di rumah sakit.

1. Tujuan pelayanan CSSD adalah:


a. Menyediakan kebutuhan rumah sakit, sediaan atau peralatan kamar operasi
dan unit yang membutuhkan peralatan steril.
b. Menyelenggarakan proses dekontaminasi dan sterilisasi peralatan di rumah
sakit dan menjamin bahwa seluruh alat atau barang dengan tingkat sterilisasi
yang sama sesuai standar yang telah ditetapkan.
c. Menyelenggarakan standarisasi dalam proses dekontaminasi, pengemasan
atau pengepakan sampai dengan sterilisasi.
d. Memelihara dan melakukan inventarisasi persediaan peralatan yang ada
serta peralatan di unit kerja CSSD secara akurat.
e. Memelihara efektivitas secara akurat terhadap berbagai proses
pembersihan, desinfeksi dan sterilisasi.
f. Memberikan kontribusi dalam mengembangkan pelayanan mutu di rumah
sakit yang terkait dengan pengendalian infeksi.
2. Ruangan pusat sterilisasi dibagi atas 5 ruang yaitu:
a. Ruang dekontaminasi
Tempat terjadinya proses penerimaan barang atau alat-alat kotor,
dekontaminasi atau pembersihan. Dekontaminasi adalah proses untuk
mengurangi jumlah pencemaran mikroorganisme atau substansi lain yang
berbahaya sehingga aman untuk penangan lebih lanjut.

55
b. Ruang pengemasan alat
Tempat dilakukannya pengemasan alat dan dilakukan pengecekan alat
untuk lebih mengetahui kelengkapan serta kondisi alat tersebut.
c. Ruang proses linen
Tempat dilakukannya pemeriksaan linen, yang dikemas untuk persiapan
sterilisasi.
d. Ruang sterilisasi
Tempat dilakukannya proses sterilisasi alat atau bahan dengan
menggunakan autoklaf, oven dan sinar uv.
e. Ruang penyimpanan sterilisasi
Tempat penyimpanan semua alat atau bahan yang telah melalui proses
sterilisasi untuk kemudian siap didistribusikan ke ruangan yang
memerlukan.
3. Jenis-jenis indikator yang digunakan pada proses sterilisasi di ruang CSSD
yaitu:
a. Indikator biologi, berupa bakteri Bacillus sterothernophyllus, proses
kerjanya indikator tersebut dimasukkan ke dalam autoclave, dipanaskan
sesuai pada waktu melakukan sterilisasi, setelah itu dilihat adanya
perubahan warna, jika bakteri dan media berwarna hitam, maka bakteri
tersebut mau artinya dengan baik.
b. Indikator kimia yang berbentuk selotif bergaris, terdiri dari indikator
internal dan indikator eksternal. Indikator internal digunakan untuk
mengevaluasi produk yang telah disterilkan, tetapi belum masuk ke tahap
pengemasan, perubahan warna yang terjadi pada indikator ini adalah dari
warna coklat menjadi hitam, sedangkan indikator eksternal untuk produk
yang telah dikemas, perubahan warna yang terjadi adalah dari putih menjadi
cokelat.
c. Indikator fisika atau mekanik berupa tombol dan monitor yang berada pada
alat sterilisasi.
4. Sterilisasi
Sterlisasi yaitu suatu proses membunuh segala bentuk kehidupan
mikroorganisme yang ada dalam sampel atau contoh, alat-alat atau lingkungan

56
tertentu. Teknik sterilisasi antara lain dapat dilakukan dengan cara fisik, yang
diantaranya meliputi metode pemanasan dengan uap air dengan pegaruh tekanan
dan metode pemanasan secara kering.
a. Metode pemanasan
Dengan uap air dan pengaruh tekanan benda yang akan disterilkan
diletakkan diatas lempengan saringan dan tidak langsung mengenai air di
bawahnya. Pemanasan dilakukan hingga air mendidih (diperkirakan pada
suhu 1000C) pada tekanan 15lb temperatur mencapai 1210C. Organisme
yang tidak berspora dapat dimatikan dalam tempo 10 menit saja. Banyak
jenis spora hanya dapat mati dengan pemanasan 1000C selama 30 menit
tetapi ada beberapa jenis spora dapat bertahan pada temperatur ini selama
beberapa jam. Spora-spora yang dapat bertahan selama 10 jam pada
temperatur 1000C dapat dimatikan hanya dalam waktu 30 menit apabila air
yang mendidih ini ditambah dengan natrium carbonat (Na2CO3).
b. Metode pemanasan secara kering
Metode pemanasan kering dilakukan pada temperatur antara 160-1800C.
Pada temperatur ini akan menyebabkan kerusakan pada sel-sel hidup dan
jaringan. Hal ini disebabkan terjadinya auto oksidasi sehingga bakteri
patogen dapat terbakar. Pada sistem pemanasan kering terdapat udara yang
merupakan penghantar panas yang buruk sehingga sterilisasi melalui
pemanasan kering memerlukan waktu cukup lama, rata-rata waktu yang
diperlukan 45 menit. Pada temperatur 1600C memerlukan waktu 1 jam,
sedangkan pada temperatur 1800C memerlukan waktu 30 menit.

2.7 Pengolahan Limbah Rumah Sakit(9)


Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan sebagai upaya untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat tersebut. Rumah sakit sebagai
salah satu upaya peningkatan kesehatan tidak hanya terdiri dari balai pengobatan
dan tempat praktik dokter saja, tetapi juga ditunjang oleh unit-unit lainnya, seperti
ruang operasi, laboratorium, farmasi, administrasi, dapur, laundry, pengolahan
sampah dan limbah, serta penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.

57
Selain membawa dampak positif bagi masyarakat, yaitu sebagai tempat
menyembuhkan orang sakit, rumah sakit juga memiliki kemungkinan membawa
dampak negatif. Dampak negatifnya dapat berupa pencemaran dari suatu proses
kegiatan, yaitu bila limbah yang dihasilkan tidak dikelola dengan baik. Limbah
rumah sakit terbagi 3 macam yaitu:
1. Limbah cair artinya semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan
rumah sakit yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia
beracun dan radio aktif yang berbahaya bagi kesehatan,
2. Limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas yang berasal dari kegiatan
pembakaran di rumah sakit seperti insenerator, dapur, perlengkapan generator
dan anastesi,
3. Limbah padat adalah semua limbah rumah sakit yang terdiri dari limbah medis
padat dan limbah padat nonmedis.

2.7.1 Limbah Medis


Limbah medis adalah limbah yang berasal dari pelayanan medis,
perawatan, bahan-bahan yang beracun, infeksius, atau bahan yang berbahaya.
Berdasarkan potensi bahaya yang terkandung, maka jenis limbah medis dapat
digolongkan sebagai berikut:
a. Limbah benda tajam adalah limbah objek atau alat yang memiliki sudut tajam,
sisi, ujung atau bagian yang menonjol yang dapat mendorong atau menusuk
kulit. Benda tajam yang terbuang berpotensi terkontaminasi darah, cairan atau
bahan yang berbahaya, beracun dan infeksius.
b. Limbah infeksius adalah limbah yang dihasilkan dari isolasi penyakit menular,
limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikorbiologi dan
ruang isolasi penyakit menular
c. Limbah sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi dengan obat sitotoksik
selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik
d. Limbah farmasi adalah limbah yang berasal dari obat kadaluarsa, obat yang
terbuang dan obat yang tidak diperlukan lagi serta limbah yang dihasilkan
selama produksi obat-obatan

58
e. Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radioisotop yang
berasal dari penggunaan medis.

2.7.2 Limbah Non Medis


Limbah non medis rumah sakit digolongkan berdasarkan unit penghasil
dan kegunaan desain pembuangan. Pengertian sampah menurut sifatnya yaitu:
a. Sampah : sebagian bahan tidak berguna atau bahan yang terbuang
b. Refuse : sampah padat yang meliputi garbage, rubbish, ash, dan
bangkai binatang.
c. Garbage : sampah mudah busuk dari makanan
d. Rubbish : sampah yang tidak mudah membusuk
e. Abu : residu dari hasil pembakaran
f. Sampah biologi : sampah yang langsung dihasilkan dari diagnosis dan
tindakan terhadap pasien.

2.7.3 Klasifikasi Limbah


Klasifikasi limbah padat dibagi menjadi lima kategori limbah padat,
limbah radioaktif, limbah yang sangat infeksius, limbah infeksius, patologi dan
anatomi, limbah sitotoksik, kimia dan limbah farmasi.
Tabel 2.2 Klasifikasi Limbah Padat Rumah Sakit
berdasarkan Menteri Kesehatan Indonesia
No Warna Tipe Limbah
1 Hitam Nonmedis
2 Merah Radioaktif
3 Kuning Infeksius, patologi dan anatomi
4 Ungu Sitotoksik
5 Coklat Kimia dan farmasi

Tabel 2.3 Klasifikasi Limbah Padat Rumah Sakit berdasarkan WHO


No Warna Tipe limbah
1 Hitam Nonmedis
2 Merah Limbah medis dengan peralatan tajam

59
3 Biru Limbah medis dengan peralatan tajam
4 Kuning Radioaktif
5 Hijau Kimia

60
BAB III

TINJAUAN KHUSUS

3.1 Sejarah dan Perkembangan RS Dr. Suyoto


Sejarah pendirian Rumah Sakit dr. Suyoto tidak bisa dipisahkan dari sejarah
induk organisasinya, yaitu Pusat Rehabilitasi (PUSREHAB) Departemen
Pertahanan (DEPHAN). Diawali dengan sebuah keinginan untuk memberikan
penghargaan kepada penyandang cacat (penca) ABRI/Veteran tahun 1960,
beberapa tokoh Veteran membuat sebuah gagasan membangun suatu fasilitas
rehabilitasi bagi penyandang cacat (penca) dalam bentuk Rumah Sakit Veteran.
Pada tahun 1968 gagasan itu dihimpun dan dituangkan dalam bentuk naskah tertulis
sebagai Naskah Proyek Rehabilitation Center (RC) ABRI/Veteran berupa rencana
membangun R.C ABRI/Veteran secara lengkap di Bintaro, Jakarta Selatan.

Rumah Sakit dr. Suyoto Pusrehab Kemhan merupakan Unit Pelaksana


Teknis (UPT) dari lingkungan Kementrian Pertahanan yang pengelolaan
operasionalnya bertanggung jawab kepada Kapus Rehab Kemhan. Berada di lokasi
yang sangat strategis, tepatnya di jalan Veteran 178 Bintaro Kelurahan Bintaro
Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Rumah Sakit dr. Suyoto Pusrehab
Kemhan mendapatkan izin penyelenggaraan Rumah Sakit pada tahun 2007 dari
Departemen Kesehatan untuk melayani anggota penca TNI, anggota Kemhan (TNI
dan PNS di lingkungan Kemhan dan keluarganya) maupun masyarakat umum.

Rumah Sakit dr. Suyoto Pusrehab Kemhan merupakan Rumah Sakit tipe B.
Rumah Sakit dr. Suyoto Pusrehab Kemhan pada tahun 2009 telah terakreditasi
untuk lima pelayanan, lalu pada tahun 2016 telah melakukan akreditasi versi 12
dengan tingkat paripurna, memiliki 152 tempat tidur dengan berbagai kelas
perawatan meliputi super VIP, VIP, Kelas I, Kelas II, dan Kelas III, serta perawatan
khusus seperti perinatology, ICU, dan PICU, serta 19 poli rawat jalan.

61
3.2 Visi, Misi, Motto, dan Falsafah RS dr. Suyoto Pusrehab Kemhan
3.2.1 Visi
Mewujudkan Rumah Sakit dengan unggulan Rehabilitasi Medik menuju
pelayanan kesehatan prima bagi personel Kementerian Pertahanan dan TNI, PNS
Kemhan, serta masyarakat umum

3.2.2 Misi
Misi RS dr. Suyoto Pusrehab Kemhan adalah meningkatkan derajat kesehatan
yang optimal, melalui :

a. Menyelenggarakan pelayanan dan pengembangan di bidang Rehabilitasi


Medik komprehensif.
b. Menyelenggarakan rujukan teknis Rehabilitasi Medik
c. Menyelenggarakan siaga kesehatan dalam membantu korban bencana
d. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui program pelayanan
kesehatan bagi masyarakat umum sebagai Sub Sistem Kesehatan Nasional.

3.2.3 Motto
Respek Sigap Dalam Situasi

3.2.4 Falsafah
Melayani dan mewujudkan penyandang disabilitas personel pertahanan dan
TNI serta masyarakat umum yang mandiri dan produktif.

3.3 Tugas dan Fungsi RS dr. Suyoto Pusrehab Kemhan


Rumah Sakit dr. Suyoto mempunyai tugas melaksanakan pelayanan medik,
penunjang medik, dan rehabilitasi medik secara terpadu, serta penelitian dan
pengembangan dengan kekhususan rehabilitasi medik komprehensif sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun untuk melaksanakan tugas
sebagaimana dimaksudkan, Rumah Sakit dr. Suyoto menyelenggarakan fungsi:

1. Pelaksanaan pelayanan kesehatan, pelayanan medik, penunjang medik serta


penelitian dan pengembangan di bidang rehabilitasi medik komprehensif;

62
2. Pelayanan rujukan teknis rehabilitasi medik, pelayanan pasien dan penunjang
diagnosis;
3. Pelayanan siaga kesehatan dalam membantu korban bencana
4. Pelaksanaan administrasi umum di bidang perencanaan, program dan
anggaran, tata usaha, keuangan, kepegawaian, dan kerumahtanggaan serta data
dan informasi Rumah Sakit; dan
5. Pengembangan profesi kesehatan melalui komite medik dan staf
fungsional kesehatan di lingkungan Rumah Sakit dr. Suyoto.

3.4 Struktur Organisasi RS dr. Suyoto


Rumah Sakit dr. Suyoto Pusrehab Kemhan diketuai oleh seorang Kepala
Rumah Sakit (Karumkit) yang berpangkat Kolonel dan dibantu oleh 2 (dua) wakil
yaitu Wakil Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Wakil Kepala Bidang Penunjang
Medis. Karumkit juga membawahi 1 sub bagian Tata Usaha (TU) yang terdiri dari
tiga bidang pelayanan, yaitu Urusan Datin, Urusan Keuangan, Urusan Umum.
Rumah Sakit dr. Suyoto memiliki 10 (sepuluh) departemen unsur pelaksana antara
lain :

1. Departemen Watsif (Perawatan Intensif) dan Rikkes (Pemeriksaan


Kesehatan)
2. Departemen Gigi dan Mulut
3. Departemen Keperawatan
4. Departemen Mata, THT dan Kulit Kelamin
5. Departemen Penyakit Dalam, Jantung dan Paru
6. Departemen Obgin dan Anak
7. Departemen Penyakit Syaraf, Jiwa, dan Ketergantungan Obat
8. Departemen Bedah, Anastesi, dan Ortopedi
9. Departemen Rehabilitasi Medik

63
3.5 Instalasi Farmasi RS dr. Suyoto Pusrehab Kemhan
3.5.1 Struktur Instalasi Farmasi Rumah Sakit dr. Suyoto Pusrehab Kemhan
Struktur organisasi instalasi farmasi merupakan bagan yang
menggambarkangaris koordinasi, kewenangan, pembagian tugas dan fungsi
organisasi instalasi farmasi. Instalasi Farmasi dipimpin oleh Kepala Instalasi (Ka
Instal) Farmasi yang berkualifikasi Apoteker dan telah menempuh program S2.
Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Instalasi Farmasi dibantu oleh
administrasi farmasi yang membawahi langsung pengelolaan farmasi, alat
kesehatan dan bahan habis pakai, pelayanan farmasi klinik serta pengendalian
mutu farmasi.

3.5.2 Kegiatan Pelayanan Instalasi Farmasi

Kegiatan Pelayanan di Instalasi Farmasi


meliputi :

a. Layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD)


b. Layanan Farmasi Rawat Jalan
c. Layanan Farmasi Rawat Inap
d. Layanan Farmasi Kamar Operasi (OK)
e. Layanana Farmasi ICU dan PICU

3.5.3 Ruang Lingkup Pelayanan Kefarmasian


Pelayanan kefarmasian di rumah sakit meliputi 2 kegiatan, yaitu kegiatan
yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, Bahan
Medis Habis Pakai (BMHP) dan kegiatan pelayanan farmasi klinik. Kegiatan
tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia, sarana dan peralatan.

a) Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis


Pakai
Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) di rumah sakit yang menjamin
seluruh rangkaian kegiatan perbekalan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan BMHP.
Pengelolaan harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan

64
menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali
biaya.Kegiatan pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan BMHP meliputi:

1) Pemilihan
2) Perencanaan
3) Pengadaan
4) Penerimaan
5) Penyimpanan
6) Pendistribusian
7) Pemusnahan dan penarikan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan BMHP
8) Pengendalian
9) Administrasi

b) Pelayanan Farmasi Klinik

Pelayanan farmasi klinik merupakan pelayanan langsung yang diberikan


Apoteker kepada pasien dalam rangka meningkatkan outcome terapi dan
meminimalkan risiko terjadinya efek samping karena obat, untuk tujuan
keselamatan pasien (patient safety) sehingga kualitas hidup pasien (quality of life)
terjamin.

Pelayanan farmasi klinik berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan 72


tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi :

1. Pengkajian dan pelayanan resep


2. Penelusuran riwayat penggunaan obat
3. Rekonsiliasi obat
4. Pelayanan informasi obat (PIO)
5. Konseling
6. Visite
7. pemantauan terapi obat (PTO)
8. Monitoring efek samping obat (MESO)
9. Evaluasi penggunaan obat (EPO)
10. Dispensing sediaan steril
11. Pemantauan kadar obat dalam darah (PKOD)

65
3.6 Pengolahan Limbah Rumah Sakit dr. Suyoto
Limbah RS di bagi 2 macam yaitu limbah padat medis dan limbah cair medis.

a). Limbah padat medis terdiri 4 jenis.

1) Limbah padat medis infeksius, adalah sampah yang terkombinasi cairan tubuh
pasien, pewadahannya dimasukkan tempat sampah yang sudah dilapisi kantong
plastik warna KUNING. Contoh: infus set, kateter/kantong urine, masker,
sarung tangan, jaringan tubuh, dll.
2) Limbah padat medis non infeksius adalah sampah yang tidak terkombinasi
cairan tubuh pasien, pewadahannya dimasukkan tempat sampah yang sudah
dilapisi kantong plastik warna HITAM. Contoh: plastik pembungkus spuit,
kertas, dll.
3) Limbah medis benda tajam adalah sampah yang dapat menusuk/melukai dan
terkontaminasi dengan cairan tubuh pasien, pewadahannya dimasukkan box
tahan tusuk (safety box) berwarna KUNING. Contoh : jarum suntik, pisau
bedah, dll.
4) Limbah daur ulang, adalah sampah yang tidak terkontaminasi dengan cairan
tubuh pasien dan dapat diolah kembali, pewadahannya dimasukkan ke dalam
tempat sampah yang sudah dilapisi kantong plastik berwarna PUTIH. Contoh:
infuse, vial, botol, dll.
5) Limbah cairan medis adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal
dari kegiatan rumah sakit dan kemungkinan mengandung mikroorganisme
yang berbahaya bagi kesehatan. Pembuangannya dimasukkan ke dalam
kloset/septic tank (feses dan urine), cairan WSD, nanah, cairan dari botol
suction, dan lain-lain. dituang ke dalam saluran Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL).

3.7 CSSD (Central Steril Supply Departement)


Risiko infeksi dapat diturunkan dengan proses-proses pembersihan,
desinfeksi, dan sterilisasi yang benar (Abdullah et al 2014). Tujuan dari Instalasi
Pusat Sterilisasi yaitu membantu unit lain di rumah sakit yang membutuhkan

66
kondisi steril, untuk mencegah terjadinya infeksi, menyediakan dan menjamin
kualitas hasil sterilisasi (Jabbari 2012).

Instalasi pusat sterilisasi adalah unit pelayanan non struktural yang


berfungsi memberikan pelayanan sterilisasi yang sesuai standar dan memenuhi
kebutuhan barang steril di Rumah Sakit. Instalasi pusat sterilisasi atau Central Steril
SuplayDepartement (CSSD) merupakan salah satu unit dibawah tangung jawab
manajerlayanan medik dan penunjang medik. Berdasarkan pedoman instalasi pusat
sterilisasi menurut KepMenkes No.40 tahun 2009 yang dijadikan sebagai acuan
dalam pengelolaan instalasi pusat sterilisasi oleh KARS tahun 2012, instalasi pusat
sterilisasi dipimpin oleh kepala instalasi (dalam jabatan fungsional) dan
bertanggung jawab langsung kepada wakil direktur penunjang medik.

3.8 Kegiatan PKPA dan Pembahasan


Kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dilaksanakan di Rumah
Sakit dr.Suyoto yang berlokasi di JL. RC Veteran No.178 Bintaro Jakarta Selatan.
Kegiatan PKPA ini dilaksanakan mulai dari tanggal 14 Januari sampai dengan 28
Februari 2019 dengan 2 (dua) shift, yaitu shift pagi pukul 07.00-15.30 WIB dan
shift siang pukul 13.00-20.00 WIB. Pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit
dr.Suyoto meliputi 2 (dua) kegiatan yaitu kegiatan yang bersifat managerial
berupa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai
dan pelayanan farmasi klinik. setiap mahasiswa/i mendapatkan penempatan di
Instalasi farmasi rawat inap, instalasi farmasi BPJS, Instalasi farmasi umum, OK
dan IGD, CSSD, dan IPAL. Adapun kegiatan adapun yang dilakukan di Instalasi
Farmasi di Rumah Sakit dr. Suyoto dapat dilihat pada tabel 1.

67
Tabel 3. 1. Kegiatan Harian Praktik Kerja Profesi Apoteker

Di RS dr. Suyoto

No. Waktu Lokasi Kegiatan

1. Januari - Februari 2018 Pembukaan 1. Sambutan dari RS dr. Suyoto


PKPA dan 2. Pemberian materi tentang RS
pengenalan Pusrehab Kemhan dr. Suyoto
RS. DR 3. Kunjungan ke tiap- tiap apotek,
Suyoto CSSD, IGD, OK, dan gudang
BPJS dan gudang umum.
4. Melihat tata letak penyimpanan
obat dan alkes
5. Melihat dan mengamati alur
pelayanan resep hingga obat
diserahkan kepada pasien.
6. Pemberian tugas khusus
pemantauan terapi obat pada
pasien

2. Januari - Februari 2018 Apotek BPJS 1. Mempelajari sistempelayanan


resep BPJS
2. Mempelajari jumlah pemberian
obat yang tercover oleh BPJS
3. Melakukan cek stok obat
4. Melakukan penyiapan obat
5. Melakukan Pemberiaan
Informasi Obat kepada pasien
3. Januari – Februari 2018 Apotek 1. Mempelajari sistem pelayanan
Umum resep untuk pasien umum dan
asuransi

68
2. Mempelajari sistem
penyimpanan obat
3. Melakukan penyiapan obat
4. Mempelajari cara PO defecta
4. Januari - Februari 2018 Apotek Rawat 1. Mempelajari sistem pengadaan
Inap barang di depo rawat inap
2. Mempelajari sistem
penyimpanan obat di rawat
inap
3. Mempelajari sistem pelayanan
resep
4. Membantu menyiapkan obat
untuk pasien
5. Membantu menyiapkan obat
pulang dan penulisan lembar
edukasi pasien pulang
6. Melakukan kegiatan One Daily
Dose
7. Membantu mengisi trolly
Emergency di setiap ruang
perawatan rawat inap
8. Melakukan pengisian kardek
pasien di ruang perawatan.
5. Januari - Februari 2018 Depo OK, 1. Melihat tata letak penyimpanan
IGD obat, alkes dan BMHP di depo
farmasi IGD.
2. Membantu menyiapkan obat
dan alkes untuk keperluan
operasi dan untuk pasien gawat
darurat

12
3. Pengenalan trolly emergency
dan penjelasan SPO pemakaian
Trolly Emergency
4. Melakukan stok harian
pemakaian obat, alkes, dan
BMHP di depa farmasi OK
6. Januari - Februari 2018 Apoteker 1. Mengamati apoteker melakukan
Keliling visite kepada pasien rawat inap dan
mengisi lembar SOAP

2. Memberikan edukasi kepada pasien


yang ingin pulang dari rawat inap.

7. Januari - Februari 2018 CSSD 1.Mengamati alur penerimaan barang


kotor dan proses sterilisasi barang di
setiap ruangan CSSD

8. Januari – Februari 2018 IPAL 1. Mengamati, melihat cara


pengolahan limbah dan juga alur
penanganan limbar cair dan padat
9. Januari – Februari 2018 Penutupan 1. PemaparanTugas Pemantauan
Terapi Obat (PTO)
2. Penutupan dan pelepasan
mahasiswa PKPA

3.9 Pembahasan
Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien,
penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau
bagi semua lapisan masyarakat. Bagian yang berwenang untuk menyelenggarakan
pelayanan obat di rumah sakit adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS).
Kegiatan yang dilakukan oleh IFRS meliputi pengelolaan perbekalan farmasi
seperti pemilihan, perencanaan, pengadaan, memproduksi, penerimaan,

13
penyimpanan, dan pendistribusian, serta pelayanan kefarmasian terkait penggunaan
obat dan alat kesehatan yang habis pakai.
Untuk memaksimalkan pelayanan obat di rumah sakit, sangat diperlukan
profesionalisme apoteker. Apoteker merupakan tenaga kefarmasian yang memiliki
kewenangan dan tanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian.
Rumah sakit dr. Suyoto merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari lingkungan
Kementerian Pertahanan yang pengelolaan operasionalnya bertanggung jawab
kepada kapus rehab kemhan. Status rumah sakit dr. Suyoto adalah Rumah Sakit tipe
B dan pada bulan april tahun 2016 telah melakukan Akreditasi Paripurna, memiliki
152 tempat tidur dengan berbagai kelas perawatan meliputi Super VIP, VIP, Kelas
I, Kelas II, Kelas III serta perawatan khusus seperti ICU, dan PICU serta 19 poli
rawat jalan. Mendapatkan surat izin penyelenggaraan Rumah Sakit pada tahun 2007
dari Departemen Kesehatan untuk melayani anggota penyandang cacat (penca) TNI,
anggota Kemhan (TNI dan PNS dilingkungan Kemhan dan keluarganya) maupun
masyarakat umum.
Instalasi Farmasi RS dr Suyoto adalah bagian dari sistem pelayanan
kesehatan RS dr Suyoto yang dipimpin oleh seorang Kepala Instalasi Farmasi yang
secara struktural berkedudukan dibawah Wakarumkit Penunjang Medis. Instalasi
Farmasi RS. dr. Suyoto membawahi 5 depo farmasi yaitu depo IGD, depo OK, depo
rawat inap, depo apotek rawat jalan BPJS/Dinas dan depo apotek rawat jalan
Umum. Instalasi farmasi umum melayani resep pasien umum atau obat yang tidak
tersedia di instalasi farmasi BPJS/Dinas. Instalasi farmasi BPJS/Dinas hanya
melayani resep BPJS/Dinas yang diperuntukkan bagi pasien dinas TNI dan PNS
Kemhan. Depo farmasi IGD, OK dan rawat inap melayani resep baik pasien umum
maupun pasien BPJS/Dinas.
Berdasarkan jenis pelayanan, Rumah Sakit dr. Suyoto merupakan Rumah
sakit tipe B. Menurut PMK No. 56 tahun 2014 Rumah Sakit tipe B memiliki tenaga
kefarmasian meliputi : 1 (satu) orang apoteker sebagai kepala instalasi farmasi
Rumah Sakit, 4 (empat) orang apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu
oleh paling sedikit 8 (delapan) orang tenaga teknis kefarmasian (TTK), 4 (empat)
orang apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 8 (delapan) orang
TTK, 1 (satu) orang apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh paling

14
sedikit 2 (dua) orang TTK, 1 (satu) orang apoteker di ruang ICU yang dibantu
paling sedikit 2 (dua) orang TTK, 1 (satu) orang apoteker sebagai koordinator
penerimaan dan distribusi yang merangkap melakukan pelayanan farmasi klinis di
rawat inap.
Rumah sakit tipe B harus memiliki tenaga kefarmasian profesi Apoteker
sebanyak 13 Apoteker, sedangkan di Rumah Sakit dr. Suyoto hanya memiliki 5
(lima) apoteker meliputi : 1 (satu) apoteker sebagai kepala instalasi farmasi rumah
sakit, 1 (satu) apoteker di rawat jalan pasien bpjs yang dibantu 3 (tiga) orang TTK,
1 (satu) orang apoteker di rawat jalan umum dibantu 5 (lima) orang TTK, 1 (satu)
apoteker di rawat inap dibantu oleh 4 (empat) orang TTK dan 1 (satu) apoteker
sebagai apoteker keliling.
Saat pelaksanaan PKPA di RS dr. Suyoto dibagi kebebrapa depo yaitu
depo farmasi apotek umum, depo farmasi apotek BPJS/dinas, depo farmasi IGD,
depo farmasi OK, depo farmasi rawat inap.

3.9.1 Depo Farmasi Apotek Umum


Depo farmasi rawat jalan salah satunya adalah depo farmasi apotek umum.
Depo apotek umum melayani pasien umum dan pasien BPJS yang obatnya tidak
tertanggung oleh BPJS. Depo apotek umum melayani pasien 24 jam yang terbagi
dalam tiga shift (shift pagi: 07.30-14.00, shift siang: 14.00-21.00, dan shift malam:
21.00-07.00).
Pelayanan resep pasien berdasarkan Individual Prescriptionuntuk pasien
rawat jalan dan pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang tidak dirawat inap. Alur
pelayanan resep di depo apotek umum yaitu ketika pasien membawa resep lakukan
skrining resep, cek ketersediaan obat, untuk resep internal Rumah Sakit bila ada
obat yang tidak tersedia konfirmasi dokter untuk mengganti dengan obat lain yang
sejenis. Pergantian obat atas persetujuan obat penulis resep dan pasien, selanjutnya
hargai obat terutama untuk obat-obat racikan, obat disiapkan bila pasien telah
membayar obat di kasir, kemudian obat yang telah di keluarkan melalui resep di
masukkan ke sistem komputerisasi untuk pelaporan pemakaian obat. Setiap obat
yang telah di layani cek dengan teliti sebelum resep di arsipkan.

15
Skrining resep dilakukan dengan telaah resep meliputi: kejelasan tulisan,
benar nama pasien, benar nama obat, benar dosis, benar waktu dan frekuensi
pemberian, benar cara pemberian, ada tidaknya poli farmasi, ada atau tidaknya
duplikasi obat, interaksi obat yang mungkin terjadi. Pelayanan kefarmasian yang
dilakukan selama PKPA di depo farmasi apotek umum meliputi skrining resep,
mengecek ketersediaan obat, menghargai obat, menyiapkan obat dan menyerahkan
obat kepada pasien disertai dengan Pemberian Informasi Obat.

3.9.2 Depo Farmasi Apotek BPJS


Depo farmasi apotek BPJS hanya melayani pasien BPJS yang sebelumnya
telah mendapat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat satu. Depo apotek BPJS di
kepalai oleh seorang apoteker dalam pelaksanaan kerjanya di bantu oleh satu orang
tenaga teknis kefarmasian dan satu orang tenaga administrasi. Depo apotek BPJS
melayani pasien yang terbagi dalam dua shift (shift pagi: 07.30-14.00, shift siang:
14.00-21.00) dari hari senin sampai hari jumat.
Pelayanan resep pasien berdasarkan Individual Prescription untuk pasien
rawat jalan dan pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang tidak dirawat inap.
Adapun obat-obatan yang diberikan untuk pasien BPJS dimana untuk pasien kronis
obatnya diberikan untuk 1 bulan, sedangkan untuk pasien non kronis obatnya
diberikan hanya untuk 1 minggu. Obat-obat yang di layani hanya obat yang masuk
E-katalog dan bila dalam pelayanan ada obat yang tertanggung namun
persediaannya tidak ada, maka petugas apotek BPJS akan memberikan Copy Resep
yang telah di paraf oleh kepala ruangan untuk menganmbil obat di Apotek
Sanafarma. Apotek Sanafarma merupakan apotek yang bekerja sama dan
mempunyai MOU dengan RS. dr. Suyoto.
Pelayanan kefarmasian yang dilakukan mahasiswa selama PKPA di depo
farmasi apotek BPJS meliputi menyiapkan obat dan menyerahkan obat kepada
pasien disertai dengan pemberian informasi obat. Depo farmasi apotek BPJS
selama pelayanan resep tidak melakukan skrining resep dikarenakan pasien BPJS
yang banyak dan meminimalkan waktu tunggu pasien.

16
3.9.3 Depo Farmasi OK (Kamar Operasi)
Depo farmasi OK hanya melayani pasien yang akan di operasi saja, baik
untuk alkes ataupun injeksi, depo OK tidak melayani resep untuk obat oral,
sehingga pelayanan resep obat oral dilakukan dari Depo Farmasi Rawat Inap.
Pelayanan di depo farmasi OK di mulai pukul 07.30-16.00, di hari sabtu tidak ada
pelayanan, namun apabila ada opreasi cito biasanya petugas depo farmasi OK
sistem on call. Namun dalam kondisi tertentu, jika tidak ada petugas depo farmasi
OK, karena depo farmasi OK berada di ruangan OK maka petugas OK mengambil
sendiri kebutuhan obat atau alkes yan di perlukan, hal ini dapat menyebabkan
human error karena ada kalanya pengeluaran obat tidak terstock oleh petugas OK
nya.
Penyiapan obat di depo OK ada formulir khususnya yang di tulis oleh
petugas OK sesuai dengan kebutuhan operasinya, kemudian petugas di depo OK
yang menyiapkan sesuai dengan yang tertulis di formulir permintaan tersebut. Di
dalam ruang OK terdapat trolly emergency yang di cek setiap hari, bila terpakai
untuk operasi maka keesokan harinya akan di tambah lagi sesuai dengan stok
tetapnya. Bila ada permintaan dokter untuk keperluan operasi, sementara di depo-
depo farmasi lain dan gudang farmasi tidak tersedia biasanya akan dilakukan
pembelian cito melalui kepala instalasi farmasi di teruskan ke bagian pengadaan.
Kegiatan yang dilakukan mahasiswa selama PKPA di depo farmasi OK yaitu
menyiapkan obat dan alkes yang dibutuhkan pasien untuk operasi dengan
menggunakan formulir permintaan obat OK, kemudian dilanjutkan dengan
menyetok pengeluaran obat tersebut di kartu stock.

3.9.4 Depo Farmasi IGD (Instalasi Gawat Darurat)


Depo farmasi IGD melayani semua resep pasien IGD, baik pasien umum
maupun pasien BPJS. Depo IGD terdapat trolly emergency di dalam ruangan IGD
yang mempunyai stok tetap yang di cek setiap pergantian shift dan bila obatnya
terpakai langsung di ganti. Depo farmasi IGD melayani 24 jam dimana di bagi
dalam tiga shift (shift pagi: 07.00-14.00, shift siang: 14.00-21.00, dan shift malam:
21.00-07.00).

17
Pelayanan resep IGD bila pasiennya tidak di rawat inap, maka resep obat
oral di ambil dari depo farmasi apotek umum ataupun depo farmasi apotek BPJS,
sementara untuk pemakaian alkes tetap dari depo farmasi IGD. Pengendalian obat-
obatan di depo IGD menggunakan kartu stock yang di catat setiap pergantian shift
untuk obat-obat yang terpai dan stock opname yang di lakukan setiap satu bulan
sekali. Sumber obat yang terdapat di depo IGD berasal dari gudang umum dan
gudang BPJS, namun untuk pelaksanaannya di lapangan dilakukan subsidi silang
baik untuk pasien umum maupun pasien BPJS akan tetapi dalam pelaporannya tetap
di pisahkan. Kegiatan mahasiswa selama PKPA di depo farmasi IGD yaitu
menyiapkan obat berdasarkan resep pasien dari IGD, lalu menghargai obat tersebut
dan menyetok pengeluaran obatnya.

3.9.5 Depo Farmasi Rawat Inap


Depo farmasi Rawat Inap melayani semua pasien yang di rawat di RS. dr.
Suyoto. Depo farmasi rawat inap di kepalai oleh seorang apoteker, di bantu oleh
satu orang apoteker dan empat orang tenaga teknis kefarmasian. Depo farmasi
rawat inap tidak melayani selama 24 jam dan hanya di bagi dalam dua shift saja
yaitu shift pagi pukul: 07.30-15.00 dan shift siang pukul 14.00-21.00.
Alur pelayanan resep untuk pasien yang di rawat inap yaitu resep di tulis
setelah dokter visite kemudian dari ruang perawatan menyerahkan resep ke depo
rawat inap. Selanjutnya obat di siapkan dengan sistem One Daily Dose (ODD) yang
dilakukan setiap hari oleh petugas farmasi untuk pemakaian satu hari dengan
jumlah obat untuk pemakaian sehari dan dengan aturan pakainya. Setelah obat di
siapkan peruangan,lalu petugas depo rawat inap yang mendistribusikannya ke
ruangan di sertai buku serah terima dengan perawat.
Alur pelayanan untuk pasien yang akan pulang yaitu pasien di nyatakan
pulang oleh dokter dan atas permintaan pasien sendiri (APS) dengan
menandatangani formulir untuk pasien APS, di sertai dengan resep obat pulang,
obat di siapkan untuk 7 hari pemakaian, biasanya pasien di anjurkan untuk kontrol
kembali ke dokter untuk melanjutkan pengobatan. Untuk pasien yang pulang ada
pengisian formulir obat pulang pasien yaitu “Lembar Edukasi Pasien” yang memuat
keterangan nama obat, jumlah, aturan pakai, pemberian informasi obat terhadap

18
pasien dan di bawah formulir di sertai tanda tangan petugas farmasi depo rawat
inap.
Depo farmasi rawat inap mempunyai trolly emergency yang di letakkan di
masing-masing ruangan perawatan yang mempunyai stok tetap yang di cek setiap
pergantian shift dan bila obatnya terpakai langsung di ganti. Depo rawat inap di RS.
dr. Suyoto melayani ruangan lantai 2 (Alamanda, HD), lantai 3 (Anggrek, Dahlia),
lantai 4 (Anyelir, Kenanga), ICU dan PICU. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa
selama PKPA di depo farmasi rawat inap yaitu menyiapkan obat dengan sistem
ODD dan mengganti penggunaan obat untuk trolly emergency untuk masing-
masing ruang perawatan, mendistribusikan obat ke ruang perawatan serta mengisi
formulir lembar edukasi pasien pulang.

3.9.6 Pengelolaan Obat di Instalasi Farmasi


Pengelolaan obat di instalasi farmasi terdiri dari :
a. Pemilihan
Kriteria pemilihan obat dengan memprioritaskan obat essensial (Vital,
Esensial, Non Esensial / VEN) dan berpedoman pada formularium Rumah Sakit
Dr. Suyoto. Formularium Rumah Sakit Dr. Suyoto sudah dibuat sejak tahun 2012,
dan direvisi setiap satu tahun sekali. Isi dari formularium tersebut diambil dari pola
konsumsi berdasarkan survey ke dokter atau quisioner obat yang akan digunakan
dokter, dan hasil rekomendasi dari Komite Farmasi Terapi (KFT). Dokter diberikan
pilihan untuk memilih 1 macam obat generik dengan maksimal 3 macam brand dari
obat generik tersebut.
b. Perencanaan
Perencanaan obat di instalasi farmasi Rumah Sakit dr. Suyoto mengacu
padakebutuhan dan pertimbangan anggaran. Perencanaan dilakukan berdasarkan
defekta yang diajukan ke Kepala Instalasi Farmasi. Perencanaan kebutuhan obat di
instalasi farmasi masih dilakukan secara manual Metode yang diterapkan dalam
perencanaan dapat ditinjau dari :
1) Banyaknya pemakaian bulan lalu
2) Jumlah kebutuhan obat
3) Jumlah sisa stok obat di apotek dan di gudang
c. Pengadaan

19
Pengadaan perbekalan farmasi dan alat kesehatan di RS Dr. Suyoto
dilakukandengan 3 jalan yaitu :
1) Pembelian langsung

Sistem pembelian langsung dilakukan setiap satu bulan sekali pada Instalasi
Farmasi atau Apotek Umum..
2) Tender
Sistem tender dilakukan setiap tiga bulan sekali pada Apotek BPJS.
3) Hibah
Sistem hibah didapatkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
Kementrian Pertahanan, contoh obatnya yaitu obat program TB.
d. Penerimaan
Penerimaan barang dilakukan oleh petugas gudang farmasi, dengan
melakukan pengecekan antara faktur dan surat pesanan, lalu dilakukan
pemeriksaan kesesuaian antara jenis barang, jumlah barang, kondisi fisik barang
dan tanggal kadaluwarsa barang minimal 2 tahun dari tanggal penerimaan
barang. Khusus obat Narkotika, Psikotropika dan Prekursor harus diterima dan
ditandatangani oleh apoteker yang mempunyai surat izin praktek.
e. Penyimpanan
Penyimpanan sedian farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
berdasarkan :
1) Apotek :
a) Bentuk sediaan
b) Alfabetis
c) FIFO (First In First Out) & FEFO (First Expired First Out)
d) Kondisi penyimpanan
e) Obat Look Alike Sound Alike (LASA), diberikan label dan disimpan
pada rak yang berjarak satu rak terpisah sehingga tidak berdekatan
f) Obat High Alert juga diberikan label khusus dengan penyimpanan pada
lemari khusus.
2) Gudang :
a) Bentuk Sediaan
b) Alfabetis

20
c) FIFO (First In First Out) & FEFO (First Expired First Out)
d) Kondisi penyimpanan

f. Pendistribusian Obat
Dalam melakukan distribusi obat, Rumah Sakit dr. Suyoto menerapkan 3
macam sistem distribusi. Adapun distribusi bekal kesehatan (termasuk obat) yang
dilaksanakan meliputi :
1) Floor Stock
Sistem floor stock adalah suatu sistem pengelolaan dan distribusi obat sesuai
dengan yang ditulis oleh dokter pada resep obat yang disiapkan dan persediaan
obatnya berada diruang perawat, tetapi persediaan di ruangan tetap dikendalikan
oleh instalasi farmasi, termasuk ke dalamnya adalah trolly emergency untuk
masing-masing ruangan. Alur sistem distribusi Floor Stock adalah dokter menulis
resep kemudian diberikan kepada perawat untuk diinterpretasikan, kemudian
perawat menyiapkan semua obat yang diperlukan dari persediaan obat yang ada di
ruangan sesuai resep dokter untuk diberikan kepada penderita.
2) Individual order (IO)
Sistem Individual order atau resep individual yaitu resep yang ditulis oleh
dokter diberikan kepada pasien, lalu ditebus ke instalasi farmasi rumah sakit sesuai
dengan yang ditulis pada resep, meliputi persiapan dan pemberian etiket sesuai
dengan nama pasien yang bersangkutan. Sistem Individual order atau resep
individual dilakukan di Apotek Umum dan Apotek BPJS, yang digunakan untuk
pasien rawat jalan.
3) One Daily Dose(ODD)
One daily dose merupakan sistem distribusi dimana obat yang
dimintadisiapkan, diberikan/digunakan dan dibayar dalam satu hari pemakaian
selama 24 jam. Sistem ODD digunakan untuk pasien rawat inap. Alur sistem
distribusi ODD dimulai dengan penulisan resep oleh dokter untuk penderita,
kemudian resep tersebut dibawa oleh keluarga pasien atau perawat kepada apoteker
untuk di interpretasikan. Resep tersebut akan disiapkan dalam bentuk dosis satu
hari pemakaian untuk kebutuhan penggunaan 24 jam.
g. Pemusnahan dan Penarikan

21
Sediaan farmasi yang sudah kadaluarsa atau rusak dilakukan pemusnahan
dengan cara yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku,sedangkan untuk limbah cair, radiologi serta alat kesehatan dimusnahkan
menggunakan orang ketiga yakni PT. Wastek.
Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar atau kepentingan
peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan
perintah penarikan oleh BPOM atau berdasarkan insiasi sukarela oleh pemilik izin
edar dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM.
h. Pengendalian
Pengendalian sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
di RS dr. Suyoto menggunakan sistem manual (kartu stok) dan sistem
komputerisasi rumah sakit. Pengendalian persediaan di Apotek Umum dilakukan
dengan stockopname setiap satu bulan sekali.
i. Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan
untukmemudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu.
Kegiatan Administrasi terdiri dari :
1) Pencatatan dan Pelaporan
2) Adminitrasi Keuangan
3) Administrasi Penghapusan

3.9.7 Pelayanan Farmasi Klinik


Pelayanan farmasi klinik adalah pelayanan farmasi yang diberikan sebagai
bagian dari perawatan pasien melalui interaksi dengan profesi kesehatan lainnya
yang secara langsung terkait dengan perawatan pasien. Ruang lingkup farmasi
klinik meliputi :
a. Pengkajian dan Pelayanan Resep
Pengkajian dan pelayanan resep dilakukan untuk menganalisa adanya
masalah terkait obat. Apoteker harus melakukan pengkajian resep sesuai
persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis yang
dilakukan setiap hari. Pelayanan resep dimulai dari penerimaan resep yang
diserahkan oleh pasien, diperiksa kelengkapan administrasinya, dilihat ketersediaan

22
obat, penyiapan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai
termasuk peracikan obat, pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi.
Pada setiap tahap alur pelayanan resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya
kesalahan pemberian obat (medication error).
Pengkajian dan pelayanan resep yang dilaksanakan oleh RS dr.Suyoto telah
sesuai dengan pemberian obat yang 7 benar, yaitu benar pasien, benar indikasi,
benar obat, benar dosis, benar cara pemakaian, benar waktu dam frekuensi
pemberian dan benar dokumentasi.
b. Penelurusan Riwayat Penggunaan Obat
Penelusuran riwayat penggunaan obat merupakan proses untuk
mendapatkan informasi mengenai seluruh obat atau sediaan farmasi lain yang
pernah dan sedang digunakan. Riwayat penggunaan obat dapat diperoleh melalui
wawancara pasien atau catatan medik pasien. Hasil dari penelusuran riwayat
penggunaan obat ini dapat diketahui ada tidaknya alergi obat pada pasien, Reaksi
Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD), mengidentifikasi potensi terjadinya interaksi
obat, melakukan penilaian terhadap kepatuhan pasien dalam menggunakan obat.
Penelusuran riwayat penggunaan obat di RS. dr.Suyoto dilakukan dengan
melihat data rekam medik atau pencatatan penggunaan obat pasien, dimana hanya
dilakukan untuk pasien dari IGD saja.
c. Rekonsilasi Obat
Rekonsiliasi obat merupakan proses membandingkan instruksi pengobatan
dengan obat yang telah didapat oleh pasien. Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya kesalahan obat atau medication error seperti obat tidak diberikan,
duplikasi, kesalahan dosis, atau interaksi obat. Obat yang sedang dan akan
digunakan pasien dicatat di kardeks farmasi dan kardeks perawat, meliputi nama
obat, dosis, aturan pakai, rute pemberian, obat mulai diberikan, diganti, dilanjutkan
atau dihentikan. Bila selama terapi ada perubahan obat yang harus didapat pasien
maka harus dikomunikasikan dengan pasien dan/atau keluarga pasien atau perawat.
Rekonsilasi Obat di RS dr. Suyoto telah dilakukan, tetapi belum maksimal karena
rekonsilasi obat dilakukan oleh perawat dan apoteker hanya melihat dari kardex
perawat.

23
d. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Pelayanan Informasi Obat di Rumah Sakit dilakukan olehApoteker kepada
dokter, Apoteker lain, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien secara
langsung. Untuk pelayanan informsi obat dalam bentuk leaflet, brosur dan
penyuluhan sudah tidak berjalan lagi di Rumah Sakit, hanya dalam bentuk
banner.dan pemberiaan informasi obat mengenai frekuensi dan waktu pemakaian
obat kepada pasien terutama pasien rawat jalan.
e. Konseling
Konseling adalah suatu aktivitas pemberian nasehat atau saran terkait terapi obat
dari apoteker kepada pasien maupun keluarga pasien. Kegiatan konseling di RS. dr.
Suyoto belum dilakukan secara maksimal oleh Apoteker kepada pasien yang
seharusnya mendapatkan konseling. Hal ini dikarenakan kurangnya sumber daya
manusia.
f. Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan
Apoteker secara mandiri. Untuk visite di RS dr. Suyoto sudah dilakukan namun
masih kurang maksimal, karena apoteker yang melakukan visite hanya satu
apoteker.
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Pemantauan Terapi Obat merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan
untuk memastikan terapi obat yang aman, efektif, dan rasional bagi pasien.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan
risiko ROTD. Pemantauan terapi obat di RS. dr.Suyoto sudah dilakukan tetapi
masih kurang maksimal.Hal ini dikarenakan kurangnya sumber daya manusia.
h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Monitoring efek samping obat merupakan kegiatan pemantuan setiap
respon terhadap obat yang tidak dikehendaki, yang terjadi pada dosis lazim yang
digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosa dan terapi. MESO
bertujuan untuk menemukan efek samping obat sedini mungkin, mencegah dan
meminimalkan resiko kejadian ROTD.Monitoring Efek Samping Obat atau di RS
dr. Suyoto disebutKejadian Tidak Diinginkan (KTD) dan Kejadian Nyaris Cedera

24
(KNC) telah berjalan dengan baik, apabila ada kasus yang terjadi akan dibahas di
Komite Medis dan hanya dalam lingkungan intern saja.

i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)


Untuk kegiatan Evaluasi Penggunaan Obat tidak dilakukan di RS dr.
Suyoto,dikarenakan kurangnya sumber daya kefarmasian.
j. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
Pencampuran sediaan steril meliputi pencampuran obat suntik, penyiapan
nutrisi parenteral, penanganan sediaan sitostatik (PMK Nomor 72 tahun 2016).
Pencampuran sediaan steril seharusnya dilakukan di instalasi farmasi dengan teknik
aseptik untuk menjamin sterilitas dan stabilitas produk dan melindungi petugas dari
paparan zat berbahaya, serta menghindari terjadinya kesalahan pemberian obat.
Pencampuran sediaan steril tidak dilakukan di RS dr. Suyoto, karena kurangnya
sumber daya kefarmasiaan, tidak adanya sarana dan prasarana serta peralatan yang
mendukung.
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD)
Pemantauan Kadar Obat dalam Darah tidak dilakukan di RS dr. Suyoto. Hal
ini dikarenakan kurangnya sumber daya kefarmasian, dan tidak adanya sarana dan
prasarana serta peralatan yang mendukung.

3.9.8 Pengolahan Limbah


Pengolahan limbah pada Rumah Sakit dr.Suyoto terdiri dua pengolahan
yaitu pengolahan limbah cair dan pengolahan limbah padat.
a. Pengolahan Limbah Cair
Pengolahan limbah cair di Rumah Sakit dr Suyoto terdiri dari 7
bakpenampungan limbah. Dimana bak pertama merupakan kolam yang berisi
limbah air dari pasien seperti air urine pasien, air yang digunakan untuk mandi dan
mencuci dan limbah cair lainnya yang berasal dari rumah sakit dr. Suyoto. Setelah
limbah masuk kedalam bak pertama selanjutnya limbah akan dimasukkan dalam
bak kedua untuk diolah yaitu bak equalisasi bak ini dimaksudkan untuk menangkap
benda kasar yang mudah mengendap yang terkandung dalam air baku, seperti pasir

25
atau lain-lain yang tidak tersaring pada screen sehingga dapat dicapai penurunan
kekeruhan. Selanjutnya limbah akan dialirkan ke bak ke tiga yaitu bak sarang tawon
pada bio reaktor sangat efektif untuk mengurangi polutan organik baik secara aerob
maupun secara anaerob.
Selanjutnya limbah akan dialirkan ke bak keempat yaitu bak aerasi. Pada
proses aerasi, mikroba yang digunakan adalah bakteri filamen yang berfungsi untuk
mereduksi zat-zat pencemar yang tersisa. Di bak aerasi zat-zat organik dirubah
kedalam bentuk karbon dioksida, air dan sejumlah energi juga dihasilkan sehingga
mikroorganisme dapat berkembang biak. Kemudian limbah dialirkan ke bak kelima
yaitu bak sedimentasi, air limbah yang telah diuraikan terbagi menjadi 2 fraksi yaitu
fraksi supernatant dan fraksi padatan/lumpur. Supernatant secara visual terlihat
agak jernih dan sedikit mengandung padatan tersuspensi sedangkan sebagian
padatan/lumpur yang mengendap dibawah akan dikembalikan ke bak aerasi,
supernatant kemudian mengalir ke bak ke enam yaitu bak klorinasi untuk
melakukan proses desinfeksi, yaitu membunuh bakteri dengan menggunakan
kaporit. Kemudian limbah dialirkan ke bak terakhir yaitu bak penampungan air
output limbah yang didalamnya terdapat ikan sebagai indikator kualitas air output
limbah. Jika ikan tersebut mati maka limbah tidak dapat dibuang kelingkungan
tetapi jika ikan tetap hidup menandakan limbah dapat dibuang ke lingkungan
masyarakat. Selain menggunakan indikator ikan, limbah cair juga dilakukan
pengujian ph sebelum di buang ke lingkungan masyarakat. Limbah ini digunakan
untuk perternakan, perikanan dan perkebunan yang terdapat pada RS dr Suyoto.

b. Pengolahan Limbah Padat


Adapun pengolahan limbah padat pada Rumah Sakit dr.Suyoto adalah
limbah padat dari pasien pertama-tama dimasukkan kedalam penyimpanan limbah
padat atau disebut dengan TPS limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Kemudian semua pengolahan limbah padat di rumah sakit dr Suyoto ini diolah oleh
pihak ketiga yaitu PT Jasa Medipes (Wastex) untuk pengelohannya.

3.9.9 Centralized Sterile Supply Departemen (CSSD)


Centralized Sterile Supply Departemen (CSSD) adalah unit sterilisasi yang
melayani kebutuhan akan instrument/bahan steril yang digunakan untuk berbagai

26
tindakan medis, penunjang medis, asuhan keperawatan dan lain-lain serta
bertanggung jawab atas pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian. Pelayanan
unit sterilisasi Rumah Sakit dr Suyoto meliputi kepentingan internal, berupa
pemenuhan kebutuhan alat instrument steril, bahan steril guna menunjang 27inap,
poliklinik, penunjang medis dan ruang bayi. Barang atau bahan yang disterilkan
antara lain : set ganti perban (kain kassa, gunting, klam, pinset), kain linen, baju
operasi, alat-alat operasi.
Sterilisasi adalah suatu proses untuk membuat ruang atau benda menjadi
steril atau penghilangan semua mikroorganisme yang hidup. Rumah sakit dr.
Suyoto dalam proses sterilisasi menggunakan 3 mesin, yaitu mesin washer untuk
pencucian alat instrumen yang prosesnya selama 45 menit, mesin suhu tinggi 134ºC
menggunakan steam steril dan autoklaf yang digunakan untuk sterilisasi alat-alat
instrumen, sedangkan suhu rendah 121ºC menggunakan plasma untuk alat-alat
berbahan plastik dan linen. Prosesnya untuk mesin suhu tinggi dan suhu rendah
kurang lebih selama 45 menit.. Sedangkan untuk alat-alat instrumen yang tidak
masuk ke dalam tubuh, prosesnya hanya dengan DTT (Desinfektan Tingkat
Tinggi).
Alur masuknya produk untuk disterilisasi yaitu sistem sekali proses. Alat
atau instrumen yang ingin di sterilisasi di berikan ke CSSD kemudian
dilakukanpenerimaan dan penulisan data meliputi: ruangan asal alat/instrumen,
nama alat atau instrumen dan lain-lain setelah itu dilakukan dekontaminasi yang
dilanjutkan dengan merendam dengan cairan enzimatik(Alkazide atau Alkazime)
selama 10-15 menit untuk menghilangkan lemak atau darah di instrumen, lalu di
bersihkan dengan disikat dan dicuci dengan air mengalir, rendam dengan
desinfektan selama 10-15 menit lalu bersihkan kembali disikat dan dicuci dengan
air mengalir, setelah di keringkan dilakukan packing dengan green paper untuk
linen sedangkan instrumen kasa dengan plastik pouches lalu diberi label, indicator
internallalu di sterilisasi dengan autoklaf.
Alat atau instrumen yang telah steril di letakkan diruang penyimpanan
sebelum di kirim ke depo masing-masing. Pintu masuk dan keluar harus berbeda
untuk menghindari alat yang sudah tersterilisasi tidak terkontaminasi.Penanggung
jawab unit CSSD seorang perawat yang sudah menjalani pelatihan terkait CSSD.

27
BAB IV
PEMBAHASAN

RS dr. SUYOTO PUSREHAB-KEMHAN merupakan salah satu fasilitas


pelayanan kesehatan. Untuk menunjang pelayanan kefarmasian yang berorientasi
pada pasien, maka dibentuk suatu badan organisasi yang disebut IFRS (Instalasi
Farmasi Rumah Sakit). IFRS dipimpin oleh seorang Apoteker dan bertanggung
jawab terhadap segala aspek hukum dan peraturan-peraturan farmasi baik terhadap
pengawasan distribusi maupun administrasi barang farmasi.
Selama melakukan praktek kerjadi RS dr.Suyoto, khususnya di IFRS RS
dr.Suyoto, banyak hal yang dapat diamati, dianalisis dan dipelajari terkait
pengelolaan perbekalan farmasi dan pelayanan farmasi klinik. RS dr.Suyoto
merupakan rumah sakit milik pemerintah Kementerian Pertahanan yang di
golongkan sebagai rumah sakit tipe B Paripurna, yaitu rumah sakit yang memiliki
pelayanan medik spesialitik serta telah memiliki pelayanan medik sub spesialitik
meskipun terbatas yang memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan
jenis penyakit. Rumah Sakit ini memiliki unit fasilitas mulai dari rawat inap, rawat
jalan, bedah, Insentive Care Unit (ICU), instalasi gawat darurat serta berbagai
fasilitas penunjang medik lainnya seperti instalasi farmasi.
RSUD Dr.Suyoto dipimpin oleh seorang Kepala Rumah Sakit (Karumkit)
yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kementerian
Pertahanan, dan dibantu oleh Wakil Kepala Rumah Sakit (Wakarumkit) yang
dibagi menjadi bidang waka pelayanan medik dan penunjang medik, Komite
Medik, Komite Keperawatan, Komite Akreditasi, Satuan Pengawas Enternal. Salah
satu pelayanan penunjang medis yang ada di RS dr.Suyoto adalah pelayanan
kefarmasian yang di selenggarakan oleh Bagian Farmasi yang di kepalai oleh
seorang Apoteker.

28
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, idealnya 1 orang Apoteker berbanding 30
tempat tidur pasien. RS dr.Suyoto memiliki tempat tidur sebanyak 127 di bagi
dalam kelas SVIP 4 tempat tidur, VIP 7 tempat tidur, kelas I 20 tempat tidur, kelas
II 32 tempat tidur, kelas II 52 tempat tidur, ICU 3 tempat tidur, Isolasi 7 tempat
tidur, Inkubator 7 tempat tidur. sehingga idealnya harus memiliki 4 tenaga
Apoteker, sedangkan di RS dr. Suyoto memiliki tenaga apotker sebanyak 7. yang
terdiri dari 1 orang Apoteker selaku Kepala Instalasi Farmasi, 1 orang Apoteker
sebagai penanggung jawab farmasi umum , instalasi farmasi BPJS terdiri dari 2
apoteker , 2 Apoteker di instalasiI farmasi umum, 1 Apoteker di depo farmasi IGD,
1 Apoteker di depo ranap inap.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit
yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Dalam keputusan Menteri
Kesehatan No. 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit,
yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan
pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang
terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Pelayanan farmasi klinik yang telah di lakukan di RS dr. Suyoto berupa
Pelayanan Informasi Obat (PIO). Pelayanan Informasi Obat (PIO) di RS dr. Suyoto
di lakukan dengan memberikan informasi mengenai obat dan penggunaannya
kepada tenaga kesehatan lain yang menanyakan mengenai obat. PIO yang di
lakukan yang masih belum bersifat menyeluruh terhadap semua tenaga kesehatan.
Hal ini yang telah di lakukan dalam menjalankan fungsi Komunikasi Informasi
Edukasi (KIE) bagi pasien adalah pemberian penjelasan mengenai cara penggunaan
obat yang benar dan pemasangan leaflet yang berisi informasi mengenai penyakit
dan pengobatannya. Kegiatan konseling juga sudah dapat di laksanakan kepada
pasien dan sudah disediakan ruangan untuk kegiatan konseling, namun kegiatan ini
belum dapat dilakukan karena keterbatasan sumber daya manusia. Kegiatan visite
ke ruang rawat inap pasien sudah dilakukan di RS dr. Suyoto.
Bagian farmasi rumah sakit merupakan salah satu bagian yang menunjang
semua fungsi rumah sakit sebagai sarana kesehatan Bagian farmasi rumah sakit

29
bertugas melakukan perencanaan, pengadaan dan pengawasan terhadap perbekalan
farmasi yang di butuhkan di RS dr. Suyoto. Perencanaan perbekalan farmasi di RS
dr. Suyoto berdasarkan kepada permintaan atau kebutuhan dari setiap unit, dalam
hal ini dapat di sarankan agar dilakukan rekapitulasi konsumsi rata-rata perbulan
atau pertahun dari setiap unit yang dapat di jadikan dasar perencanaan selanjutnya
selain berdasarkan formularium yang telah di tetapkan.
Pengadaan perbekalan farmasi di RS dr.Suyoto dilakukan oleh bagian
pengadaan berdasarkan kebutuhan dari setiap unit dengan menggunakan dana
anggaran dari pemerintah untuk pengadaan setiap 3 bulan sekali (tri wulan).
Pengelolaan barang instalasi farmasi di lakukan oleh petugas di gudang
farmasi, mulai dari penerimaan dan penyimpanan barang, termasuk pendataan
defekta. Seluruh daftar defekta kemudian direkapitulasi oleh penanggung jawab
instalasi farmasi gudang yang memiliki kewenangan dalam hal pengendalian
bidang perencanaan dan distribusi.
Gudang farmasi di RS dr. suyoto berfungsi untuk menyimpan perbekalan
farmasi untuk Instalasi Farmasi Umum, Instalasi Farmasi BPJS, Depo OK, Depo
Rawat Inap, Depo IGD dan lain-lain. Setiap kegiatan berupa penerimaan dan
pendistribusian barang di gudang farmasi dilakukan pencatatan dan dibuat
laporannya. Barang yang telah diterima kemudian disimpan di gudang dan disusun
berdasarkan bentuk sediaan dan abjad. Kegiatan distribusi perbekalan farmasi oleh
gudang farmasi ke ruangan di lakukan ketika ada permintaan dari setiap unit depo.
Gudang farmasi telah memenuhi beberapa syarat gudang yang baik seperti
dilengkapi dengan pendingin ruangan untuk menjamin stabilitas perbekalan
farmasi, dan lokasi gedung dekat dengan unit pemakaian. Beberapa hal yang perlu
menjadi perhatian karena belum sesuai dengan persyaratan gudang yang baik
adalah lemari khusus untuk menyimpan obat golongan narkotika, psikotropika, dan
high alert, dan beberapa hal lain yang belum memenuhi persyaratan seperti
penyimpanan obat dan alkes di Gudang Farmasi belum teratur, dan masih terdapat
ketidaksesuaian jumlah data barang pada kartu stok dengan jumlah fisik.
Pendistribusian obat yang ada di instalasi farmasi Rumah Sakit dr. Suyoto
menggunakan sistem desentralisasi dimana gudang instalasi farmasi pusat
menyalurkan obat ke pasien dengan sistem One Daily Dose (ODD). Permintaan

30
sediaan farmasi dan alat kesehatan dilakukan secara desentralisasi yaitu depo-depo
instalasi farmasi dapat dilakukan secara rutin sesuai jadwal yang telah ditetapkan
untuk masing – masing unit kerja atau permintaan. Distribusi sediaan ke depo
faarmasi dilakukan sesuai kebutuhan. Alur distribusi diawali permintaan kegudang
melalui sistem electronic health record (EHR), kemudian permintaan yang
diajukan secara online akan langsung dicetak oleh depo gudang farmasi dalam
bentuk surat permintaan barang, lalu petugas menyiapka perbekalan farmasi yang
diminta serta melakukan pencatatan jenis dan jumlah sediaan farmasi yang tertera
pada surat permintaan dan pada saat penyerahan, di lakukan pengecekan kembali
oleh petugas gudang dan pihak unit kerja dengan membaca ulang dan memeriksa
sediaan farmasi yang telah disiapkan.
Pendistribusian obat dan alkes di lakukan oleh masing-masing depo farmasi,
setiap persediaan dan pengeluaran kemudian disalin pada kartu stok setiap harinya
dan disesuaikan dengan persediaan dan pengeluaran yang terdapat dalam sistem
komputerisasi.
Depo farmasi rawat inap termasuk dalam pelayanan penunjang medis yang
dikepalai oleh koordinator depo. 1 Apoteker penanggung jawab depo instalasi
farmasi rawat inap setiap harinya melayani ± 120 resep.
Depo Farmasi Rawat jalan melayani pasien anggota BPJS non berbayar.
Depo farmasi rawat jalan hanya melayani obat untuk rawat jalan. Pelayanan di depo
farmasi telah berjalan dengan baik. Depo farmasi rawat jalan melakukan pemberian
nomor resep. Waktu tunggu untuk obat racikan di RS dr. Suyoto yaitu 1 jam dan
untuk waktu tunggu obat non racikan yaitu 30 menit.Untuk penataan obat–obat di
depo farmasi rawat jalan disusun atau diletakkan secara alfabetis dan sesuai bentuk
sediaan sehingga pelayanan resep bisa jauh lebih cepat.
Alur Pelayanan pasien di Rawat Inap di RS dr. Suyoto yaitu Pasien rawat inap
yang memilki riwayat pengobatan sebelumnya menyerahkan obat-obat yang sedang
dikonsumsinya kepada petugas farmasi, kemudian petugas farmasi mencatat profil
pasien. Setelah Dokter melakukan visite, maka dilakukan rekonsiliasi obat oleh
petugas farmasi dan dicatat pada form rekonsiliasi obat, untuk kemudian dilakukan
penyiapan oleh petugas farmasi. Resep yang masuk di tiap – tiap ruangan yang ada
di setiap lantai rawat inap diberikan ke ruangan diterima oleh farmasi, kemudian

31
setiap resep yang masuk di kaji oleh apoteker. Setelah resep dikaji, obat yang akan
di siapkan dicocokan dengan kardek masing – masing pasien, tujuannya untuk
memantau obat yang masih diberikan dan obat yang harus dihentikan. Jika pasien
baru di buatkan kardek baru, resep yang masuk disalin ke kardek baru. Setelah itu
obat masing – masing pasien disetiap lantai rawat inap disiapkan oleh farmasi,
kemudian diserahkan langsung oleh farmasi kepada perawat yang bertugas, setelah
itu perawat mengecek kembali obat yang telah diberikan agar tidak terjadi
kesalahan. Setelah penyerahan obat dilakukan, selanjutnya resep yang sudah
disiapkan dan diberikan kemudian dibilling. Untuk pasien rawat inap yang
mendapatkan terapi tambahan dari obat sebelumnya biasanya dilakukan oleh tenaga
perawat dengan cara via telepon ke farmasi atas persetujuan dari dokter
penanggung jawab pasien. Selanjutnya petugas farmasi akan menyiapkan obat,
menyerahkan dan membilling. Terapi baru pasien rawat inap akan ditambahkan
diobat yang sudah disiapkan pada kardek pasien. Pasien yang dinyatakan boleh
pulang oleh dokter maka petugas farmasi menginput obat pulang dan menyiapkan
obat pulang serta meretur obat yang tidak pakai. Jika ada pasien rawat inap yang
meninggal, obat-obat yang terlanjur sudah disiapkan di Rumah Sakit tetapi tidak
terpakai dilakukan retur pemakaian obat atas nama pasien tersebut, sehingga hanya
membayar obat yang dipakai saja.
Sistem distribusi One Daily Dose (ODD) sangat dianjurkan untuk pasien
rawat inap mengingat dengan sistem ini tingkat kesalahan pemberian Obat dapat
diminimalkan.
RS dr. Suyoto sudah memiliki ruangan CSSD (Central Sterile Supply
Departement). CSSD RS dr. Suyoto menggunakan 2 jenis alat sterilisasi yaitu
Autoclave dan plasma. CSSD RS dr. Suyoto masih dibawahi naungan Kepala
Instalasi Penunjang Khusus yang dibawahi oleh Kepala Bidang Pelayanan
Penunjang Medis dan bertanggung jawab langsung kepada Wakil Direktur
Pelayanan.
Pengolahan limbah cair di Rumah Sakit dr. Suyoto dilakukan setiap 1 bulan
sekali dengan cara mengirimkan sampel ke BPLHD (Badan Pengelolah
Lingkungan Hidup Daerah) dengan format yang sudah ditentukan. Hal ini sesuai
dengan peraturan PerGub DKI Jakarta No.69 tahun 2013 tentang Baku mutu air

32
limbah bagi kegiatan dan usaha yang nantinya limbah tersebut akan dibuang ke
badan air atau lingkungan harus memenuhi persyaratan baku mutu. Efluen sesuai
keputusan menteri lingkungan hidup (KepMen LH No.58 Tahun 1995) atau
peraturan daerah setempat.
Pengolahan Limbah padat yang bersifat non infeksius dimasukan ke dalam
plastik hitam, sedangkan untuk limbah infeksius dimasukkan kedalam plastik
kuning. Penanganan limbah padat medis dikumpulkan oleh petugas kesehatan
lingkungan Rumah Sakit setiap hari yaitu pada pagi, siang dan malam hari.
Kemudian limbah medis diambil dan diolah oleh Pihak ketiga. Kemudian
dilakukan penimbangan dan dibuatkan tanda bukti pengangkutan.
Limbah Non Medis merupakan limbah yang berasal dari sampah dapur, ATK
(Alat Tulis Kantor). Penanganan limbah padat non medis dilakukan dengan
pengumpulan oleh petugas kesehatan setiap hari pada pagi, siang, malam.
Kemudian limbah non medis atau sampah domestik diambil oleh petugas Dinas
kebersihan Provinsi DKI Jakarta setiap hari pagi dan sore.
Untuk limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun ) non medis seperti lampu
TL, oli bekas, kantong bekas, dan aki, baterai bekas dan limbah B3 medis (Bahan
berbahaya dan beracun) seperti kasa, jarum suntik, perban, kapas, botol infus, vial
dan ampul. Penanganan limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun) non medis dan
medis dikumpulkan oleh petugas kesehatan setiap hari pada pagi, siang, dan malam.
Kemudian limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun) non medis dan medis diambil
oleh PPLI (pengolahan limbah khusus).
Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) di RS dr. Suyoto dilakukan dengan
sistem lagoon atau kolam yaitu dengan menampung air limbah pada suatu kolam
yang luas dengan waktu tinggal yang cukup lama sehingga dengan aktifitas
mikroorganisme yang tumbuh secara alami, senyawa polutan yang ada dalam air
akan terurai. Untuk mempercepat proses penguraian senyawa polutan atau
memperpendek waktu tinggal dapat juga dilakukan proses aerasi. Alur pengelolaan
IPAL dimulai dari mengalirnya seluruh air limbah rumah sakit menuju ke kolam.
Lalu diolah dengan mesin sarang tawon untuk menyaring limbah yang tingkat
kekasarannya lebih halus. Setelah itu limbah dialirkan ke kolam aerasi, dimana
dalam kolam tersebut terjadi proses pengolahan air limbah untuk memisahkan air

33
limbah dari benda padat yang masih tercampur dalam air limbah. Di dalam kolam
aerasi terdapat ikan yang berfungsi sebagai indikator alami untuk memastikan layak
atau tidaknya air limbah dibuang ke lingkungan. Kemudian air limbah yang sudah
diolah dialirkan ke kolam sedimentasi untuk memisahkan air limbah dari sedimen,
sebagai kolam pengontrol aliran, serta kolam pengurai zat organik yang berbentuk
padatan. Lalu air limbah dikembalikan ke kolam aerasi untuk diolah kedua kalinya,
kemudian disedimentasi kembali. Lalu ditampung ke penampungan akhir dan
dialirkan melalui selokan setempat yang menuju ke sungai pesanggrahan sebagai
tempat pembuangan akhir.

34
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) yang telah
dilaksanakan di RS dr. SUYOTO yang berlangsung dari tanggal 14 Januari –
28 Februari 2019 maka dapat disimpulkan RS dr. Suyoto melakukan praktik
kefarmasian sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan etika farmasi.
2. Calon Apoteker memahami dan mendapatkan wawasan, pengetahuan dan
keahlian tentang praktik kefarmasian di apotek, karena apoteker RS. dr.
Suyoto telah memberikan bimbingan, arahan dan melakukan pekerjaan
kefarmasian susuai dengan peran, fungsi, posisi dan tanggung jawab dalam
praktik kefarmasian.

5.2. Saran
1. Perlu adanya peningkatan pelayanan farmasi klinik seperti: Pemantauan
terapi obat, konseling, pemantauan kadar obat dalam darah, evaluasi
penggunaan obat, dispensing sediaan steril dan monitoring efek samping obat
agar keselamatan pasien ( patien safety } dapat terwujud
2. Perlu adanya penambahan luas ruangan di depo farmasi rawat inap, depo
IGD dan depo farmasi kamar operasi
3. Perlu adanya peningkatan pelayanan di bidang penyediaan obat.

35
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan


Kefarmasian.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 tentang


Perizinan Dan Klasifikasi Rumah Sakit.

Buku Petunjuk Pengisian, Pengolahan, dan Penyajian Data Rumah Sakit. Depkes
RI Tahun 2000.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016. Tentang


Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Farmasi Rumah Sakit dan Klinik


Tahun 2016 tentang Modul Bahan Ajar Farmasi Klinik.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2009 tentang Pedoman Instalasi


Pusat Sterilisasi (Central Sterile Supply Department/CSSD) di Rumah Sakit.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:


1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


HK.02.02/MENKES/524/2015 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan
Formularium Nasional.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

36
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi


dan Alat Kesehatan.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran,


Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika dan
prekursor.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2018 tentang


Perubahan Penggolongan Narkotika.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2017 tentang


Perubahan Penggolongan Psikotropika.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 44 tahun 2010 tentang Prekursor.

37
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi RS. Dr Suyoto

38
Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RS. Dr. Suyoto

39
Lampiran 3. Instalasi Farmasi BPJS

Lemb

ar Edukasi Obat Dibawa Pulang

Copy Resep dan Telaah Resep

40
Lampiran 4.. Lemaria Narkotika dan Rak Obat Instalasi farmasi BPJS

41
Lampiran 5. Instalasi Farmasi Umum

42
Lampiran 6. Lemari Narkotika, Psikotropika Farmasi Umum

43
Lampiran 7. Resep dan Telaah Resep

44
Lampiran 8. Resep Rangkap Tiga

45
Lmpiran 9 Copy Resep dan Telaah Resep

46
Lampira 10. Etiket Obat

47
Lampiran 11. Kartu Stok Barang

48
Lampiran 12. Lembaran Informasi dan Edukasi Pasien

49
Lampiran 13. Lembar SOAP

50
Lampiran 14. Lembar Edukasi Obat Dibawa Pulang

51
Lampiran 15. Lembar Asuhan Kefarmasian

52
Lampiran 16. Lembar Pelayanan Informasi Obat

53
Lampiran 17. Daftar Pemakaian Obat dan Alkes di ICU

54
Lampiran 18. Surat Elegibilitas Peserta untuk Pasien BPJS

55
Lampiran 19. Form Pemakaian Obat dan Alkes Troly Emergency

56
Lampiran 20. Formulir Penggantian No Registrasi Troly Emergency

57
Lampiran 21. Troly Emergency

58
Lampiran 22 .Isi Troly Emergency

59
Lampiran 23. Lemari High Alert Umum

60
Lampiran 24 .Lemari High Alert BPJS

61
Lampiran 25. Lemari Pendingin Injeksi Obat Umum dan BPJS

62
Lampiran 26. Lemari Narkotika , Psikotropika dan Prekursor Rawat Inap

63
Lampiran 27 . Ruang Isolasi

64
Lampiiran 28 . Ruang CSSD

65
Lampiran 29. Tempat Penerimaan dan Pengiriman intrumen

66
Lampiran 30 . Ruang Pencucian Instrumen

67
Lampiran 31.. Alat Pengering Instrumen

68
Lampiran 32. Alat Sterilisasi

69
Lampiran 33 . Instrumen yang Sudah Disterilisasi

70
Lampiran 34 . Alat Sealer ( Mesin Pengemas )

71
Lampiran 35. Depo Farmasi IGD

72
Lampiran 36. Formulir Pemakaian Obat dan Alkes di OK

73
Lampiran 37. Lembar Rencana Pemakaian Alkes Di OK

74
Lampiran 38. Gudang Obat

75
Lampiran 39 . Ruang Laundry

76
Lampiran 40 . Ruang Setrika

77
Lampiran 41 . IPAL

78
Lampiran 42. . Sembilan Kolam IPAL

79
Lampiran 43 . Penampungan Air Bersih

80
Lampiran 44. Air Limba Bersih

Lampiran 45 . Sampah Infeksius

81
Lampiran 46 . Sertifikat Akreditasi

82
Lampiran 47 . Selesai Paparan

83
Lampiran 48 . Perpisahan

84
RS dr. SUYOTO

85