Anda di halaman 1dari 16

PANCASILA

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

KELOMPOK : 2
NAMA : 1. ANGGUN WENING FATWA (1304617073)
2. ERLIN CHAERUNISA K (1304617067)
3. FITRIA NUR CAHYATI (1304617068)
4. IHIYA APRISIA WANTI (1304617018)
5. NUR ANNISA ARDHIANI (1304617011)
6. RANIA AZ-ZAHRA (1304617042)

PROGRAM STUDI : PENDIDIKAN BIOLOGI B


FAKULTAS : MATEMAIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
DOSEN : ROMI NURSYAM
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’alamiin, puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT, karena atas rahmat, dan karunia-Nya kami masih diberi
kesehatan sehingga dapat menyelesaikan tugas pembuatan Makalah
Pendidikan Pancasila ini dengan baik, dan tepat waktu. Tidak lupa,
shalawat serta salam marilah kita curahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan
menuju zaman terang-benderang karena canggihnya teknologi seperti
sekarang. Ini merupakan suatu nikmat yang tidak terhingga, sehingga
harus di syukuri sampai akhir hayat.
Makalah Pendidikan Pancasila yang berjudul “Pancasila Sebagai
Sistem Filsafat” ini saya buat dengan maksud untuk memberikan
pengetahuan, serta pemahaman mengenai Pancasila sebagai Sistem
Filsafat kepada pembaca, dan untuk memenuhi tugas Pendidikan
Pancasila.
Ucapan terimakasih penyusun sampaikan kepada :
1. Allah SWT.
2. Dosen Pendidikan Pancasila, Bapak Romi Nursyam, M.Pd.
3. Serta kepada orang tua yang telah memberi dukungan baik secara
langsung maupun tidak langsung, dan
4. Teman-teman, serta pihak-pihak lain.
Dengan penyusunan makalah ini, semoga pembaca mendapatkan
penambahan ilmu yang bermanfaat. Penyusun dalam pembuatan
makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, perlu adanya
kritik dan saran yang membangun untuk pembuatan karya-karya kami
selanjutnya.
Jakarta, 14 Oktober 2017
(Penyusun)
ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul.....................................................................................i

Kata pengantar…………........……………………….............................. ii

Daftar isi…………………………………………................................... iii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………….....……1.1
Latar Belakang................................……………………............................1.2
Rumusan masalah..................................................................................1.3
Tujuan Penulisan……….....………………………………..........................1.4

BAB II
PEMBAHASAN………………………........................................................2.1
Pengertian Filsafat.................................................................................2.2
Pengertian Filsafat Pancasila..................................................................2.3
Pengertian Hakikat Sila Pancasila.......................................................2.4

BAB III
PENUTUP....………………………………………...............….............3.1
Kesimpulan……………………………………………...........................3.2
Saran…...........................………………………………….......................

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………....................

LAMPIRAN………………………………………………………………......

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pancasila merupakan ideologi Indonesia yang menjadi pedoman dalam


kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah lima sila dengan satu
kesatuan yang berasal dari nilai-nilai luhur dan bersumber dari nilai-nilai budaya
masyarakat Indonesia yang majemuk dan beragam dalam artian Bhinneka
Tunggal Ika. Sedangkan Filsafat adalah upaya manusia untuk mencari
kebijaksanaan hidup yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Upaya ini berupa
pemikiran untuk mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu. Secara
etimologis istilah filsafat atau dalam bahasa Inggris disebut dengan philosophi
sedangkan dalam bahasa Yunani adalah philosophia yang diterjemahkan sebagai
cinta kearifan karena arti kata philos adalah pilia cinta, dan sophia adalah
kearifan. Sehingga pengertian filsafat secara bahasa adalah cinta kearifan atau
cinta kebijaksanaan karena kearifan juga berarti wisdom.

Jadi Pancasila sebagai filsafat adalah hasil pemikiran yang sedalam-dalamnya


mengenai sesuatu seperti nilai-nilai,noma-norma,perilaku dan kenyataan yang
dianggap paling benar dan bijaksana untuk dijadikan pedoman.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui pengertian pancasila sebagai sistem filsafat
b. Untuk mengetahui hakikat dari isi Pancasila

1.3 Rumusan Masalah


Makalah ini akan membahas mengenai:
1. Apakah yang dimaksud dengan Pancasila sebagai sistem filsafat?
2. Bagaimana hakikat kelima sila dalam pancasila?
BAB II
PEMBAHASAN
Kata filosofi (philosophy) berasal dari perkataan Yunani philos (suka,
cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Jadi kata filosofi berarti cinta kepada
kebijaksanaan. Suatu definisi filsafat dapat diberikan dari berbagai pandangan.
Tugas dari filsafat adalah untuk memberikan pandangan dari keseluruhan,
kehidupan, dan pandangan tentang alam, dan untuk mengintegrasikan
pengetahuan sains dengan pengetahuan disiplin-disipllin lain agar mendapatkan
suatu keseluruhan yang konsisten. Menurut pandangan ini, filsafat berusaha
membawa hasil penyelidikan manusia keagamaan, sejarah, dan keilmuan kepada
suatu pandangan yang terpadu, sehingga dapat memberi pengetahuan dan
pandangan yang mendalam bagi kehidupan manusia.

Filsafat dapat didefinisikan mencari suaru kebenaran atau suatu hakikat.


Ilmu sebelum ilmu pengetahuan.

A. Filsafat Pancasila
a. Pengertian
Filsafat merupakan pemikiran tentang sesuatu secara menyeluruh,
mendalam dan spekulatif. Filsafat membawa kepada kebijakaanaan.
Pancasila sebagai dasar negara juga merupakan pedoman dalam
berbangsa dan bernegara. Pancasila diambil dari bahasa Sansekerta,
yaitu “panca” berarti lima dan “Syila” berarti dasar, batu, sendi atau
alas dan “Syila” juga berarti aturan dan tingkah laku yang baik. Jadi
Pancasila adalah lima dasar tentang lima kesusilaan atau ajaran tentang
tingkah laku.

Menurut Notonegoro
Sifat-sifat Pancasila saling berkaitan (sifat hierarki), yang mana ada
nya sila yang lebih tinggi. Pancasila berbentuk piramida terbalik
1. KeTuhanan Yang Maha Esa.
Dalam bernegara tentu di dalamnya terdapat manusia. Jika dilihat
melalui sudut pandang terbesar bahwa manusia adalah ciptaan
Tuhan yang lebih sempurna dari makhluk di bumi lainnya. Tuhan
menciptakan manusia dan kemudian manusia bernegara. Manusia
sebagai makhluk tuhan merupakan hal pertama yang nantinya akan
mewakilkan sila-sila berikutnya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Adapun manusia adalah sebagai subjek pendukung pokok negara,
karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai
persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia.
3. Persatuan Indonesia.
Bentuk negara merupakan suatu penyatuan dari manusia-manusia
tersebut.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan.
Sehingga terbentuklah persekutuan hidup bersama yang disebut
rakyat. Maka rakyat pada hakikatnya merupakan unsur negara
disamping wilayah dan pemerintahan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Persatuan yang terwujud menciptakan kumpulan manusia dalam
negara dengan nama rakyat, maka semua rakyat harus merasakan
yang sama. Satu orang menyatakan dirinya berbangsa Indonesia
dan orang lain menyatakan dirinya bangsa Indonesia. Semua
bangsa berhak mendapatkan suatu kesamaan yaitu keadilan. Pada
hakikatnya sebagai tujuan dari lembaga hidup bersama yang
disebut negara ( lihat Notonagoro, 1984).
B. Pancasila Sebagai Filsafat
Indonesia menerapkan sistem ideologi Pancasila, sebagai
aktualisasi filsafat hidup (weltsanschauung) seleuruh bangsa
Indonesia.
Pancasila sebagai filsafat dapat didefinisikan sebagai “refleksi
kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan
kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-
pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh.” (Budi Juliardi,
2014:27).
Tiga aspek Pancasila sebagai Filsafat
1. Ontologi
Apa yang ada di dalam Pancasila?
Pancasila merupakan nilai-nilai yang ada di bangsa Indonesia
sejak lama.
Soekarno pernah membuat Pancasila dari 5 sila, ditarik menjadi
3 sila dan ditarik lagi menjadi 1 sila, yaitu gotog royong. Nilai
asli Pancasila itu gotong royong. Seperti halnya yang kita
ketahui, bahwa bangsa Barat menerapkan individualisme.
Sementara kita sudah ditanamkan rasa gotong royoung dalam
menerapkan ideologi kita. Kita bermusyawarah mufakat.
Bukti dari sila pertama: Ketuhana Yang Maha Esa, bukti sebelum ada
negara Indonesia, Nusantara itu didominasikan dengan kerajaan yang beragama,
maka tidak dapat dihilangkan sifat keagamaannya.

2. Epistomologi
1. Bagaimana merumuskan Pancasila? (zaman dahulu)
2. Bagaimana mengamalkan Pancasila sebagai pedoman
hidup? (zaman sekarang)
Pertama, melalui BPUPKI.
Ir. Soekarno pada Sidang BPUPKI I tanggal 1 Juni 1945
merumuskan Pancasila dari mulai berbentuk lima sila yaitu
(1) Kebangsaan Indonesia atau nasionalisme, (2)
Internasionalisme atau perikemanusiaan, (3) Mufakat atau
demokrasi, (4) Kesejahteraan sosial, (5) Ketuhanan.
Kemudian dirangkum kembali menjadi Trisila yaitu (1) Sosio-
nasionalisme, (2) Sosio-demokratis, dan (3) keTuhanan. Yang terakhir dan
merupakan inti dari Pancasila adalah Gotong Royong. Gotong royong mencirikan
bangsa Indonesia sejak dulu. Masyarakat Indonesia senang untuk saling
membantu dan bermusyawarah.
Kajian kedua, jika menggunakan suatu metode dalam kajian
pancasila sebagai filsafat :
a. Metode Deduktif
dengan mencari hakikat Pancasila serta menganalisis dan
menyusunnya secara sistematis menjadi keutuhan
pandangan yang komprehensif.
b. Metode Induktif
dengan mengamati gejala-gejala sosial budaya masyarakat,
merefleksikannya, dan menarik arti dan makna yang hakiki
dari gejala-gejala itu.
3. Aksiologi
Manfaat dari Pancasila?
Pancasila dituangkan dalam Undang-Undang.
Jadi, sebagaimana jika kita ingin membuat UU baru, lihatlah
terlebih dahulu pedoman kita, pancasila.
Bukti: Kemanusiaan yang adil dan beradab ada didalam UU
pasal 27A-38B tentang Hak Asasi Manusia. Kemudian pasal
34, fakir miskin dirawat oleh negara ataupun dipelihara dengan
baik.

Hakekat isi Pancasila


1. Sila Pancasila : Ke-Tuhanan yang Maha Esa.
Ketuhana berasal dari kata Tuhan, pencipta segala yang ada dan
semua mahluk. Yang Maha Esa berarti yang Maha tunggal, tiada sekutu,
Esa dalam zat-Nya, Esa dalam sifat-Nya, Esa dalam Perbuatan-Nya,
artinya bahwa zat Tuhan tidak terdiri dari zat-zat yang banyak lalu menjadi
satu, bahwa sifat Tuhan adalah sempurna, bahwa perbuatan Tuhan tidak
dapat disamai oleh siapapun. Jadi ke-Tuhanan yang maha Esa,
mengandung pengertian dan keyakinan adanya Tuhan yangmaha Esa,
pencipta alam semesta, beserta isinya. Keyakinan adanya Tuhan yang
maha Esa itu bukanlah suatu dogma atau kepercayaan yang tidak dapat
dibuktikan kebenarannya melalui akal pikiran, melainkan suatu
kepercayaan yang berakar pada pengetahuan yang benar yang dapat diuji
atau dibuktikan melalui kaidah-kaidah logika.
Atas keyakinan yang demikianlah maka Negara
Indonesia berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa, dan Negara memberi
jaminan kebebasan kepada setiap penduduk untuk memeluk agama sesuai
dengan keyakinannya dan beribadah menurut agamanya dan
kepercayaannya.Bagi dan didalam Negara Indonesia tidak boleh ada
pertentangan dalam hal ketuhanan yang Maha Esa, tidak boleh ada sikap
dan perbuatan yang anti ketuhanan yang Maha Esa, dan anti keagamaan
serta tidak boleh ada paksaan agama dengan kata lain dinegara Indonesia
tidak ada paham yang meniadakan Tuhan yang Maha Esa (ateisme).
Sebagai sila pertama Pancasila ketuhanan yang Maha Esa menjadi sumber
pokok kehidupan bangsa Indonesia, menjiwai mendasari serta
membimbing perwujudan kemanusiaan yang adil dan beradab,
penggalangan persatuan Indonesia yang telah membentuk Negara
Republik Indonesia yang berdaulat penuh, bersifat kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
guna mewujudkan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Hakekat
pengertian itu sesuai dengan:
a) Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi antara lain
”Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa….”
b) Pasal 29 UUD 1945:1. Negara berdasarkan atas ketuhanan yang maha
Esa2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan
kepercayaannya.
2. Sila kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu mahluk berbudi yang
mempunyai potensi pikir, rasa, karsa, dan cipta karena potensi inilah
manusia menduduki martabat yang tinggi dengan akal budinya manusia
menjadi berkebudayaan, dengan budi nuraninya manusia meyadari nilai-
nilai dan norma-norma. Adil mengandung arti bahwa suatu keputusan dan
tindakan didasarkan atas norma-norma yang obyektif tidak subyektif
apalagi sewenang-wenang. Beradab berasal dari kata adab, yang berarti
budaya. Mengandung arti bahwa sikap hidup, keputusan dan tindakan
selalu berdasarkan nilai budaya, terutama norma sosial dan kesusilaan.
Adab mengandung pengertian tata kesopanan kesusilaan atau moral. Jadi:
Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan
perbuatan manusia yang didasarka kepada potensi budi nurani manusia
dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan umumnya baik
terhadap diri pribadi, sesama manusia maupun terhadap alam dan hewan.
Didalam silan kedua kemuanusian yang adil yang beradab telah
tersimpul cita-cita kemanusiaan yang adil dan beradab memenuhi seluruh
hakekat mahluk manusia. Sila dua ini diliputi dan dijiwai sila satu hal ini
berarti bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab bagi bangsa Indonesia
bersumber dari ajaran Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan kodrat
manusia sebagai ciptaa-Nya. Hakekat pengertian diatas sesuai dengan
Pembukaan UUD 1945 alenia yang pertama dan pasal-pasal 27,28,29,30
UUD 1945
3. Sila ketiga : Persatuan Indonesia.

Persatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh tidak


terpecah belah persatuan berarti bersatunya bermacam corak yang
beraneka ragam menjadi satu kebulatan. Indonesia mengandung dua
makna yaitu makna geografis dan makna bangsa dalam arti politis. Jadi
persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah
Indonesia. Bangsa yang mendiami wilayah Indonesia bersatu karena
didorong untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam wadah
Negara yang merdeka dan berdaulat, persatuan Indonesia merupakan
faktor yang dinamis dalam kehidupan bangsa Indonesia bertujuan
memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa
serta mewujudkan perdamaian dunia.

Persatuan Indonesia adalah perwujudan dari paham


kebangsaan Indonesia yang dijiwai oleh sila I dan II. Nasionalisme
Indonesia mengatasi paham golongan, suku bangsa, sebaliknya membina
tumbuhnya persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa yang padu tidak
terpecah belah oleh sebab apapun.

Hakekat pengertian itu sesuai dengan pembukaan UUD1945 alenia


ke empat dan pasal-pasal 1,32,35,dan 36UUD 1945

4. Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh HikmatKebijaksanaan


dalam Permusyawaratan Perwakilan.

Kerakyatan berasal dari kata rakyat, yang berarti sekelompok


manusia dalam suatu wilayah tertentu kerakyatan dalam hubungan dengan
sila IV bahwa “kekuasaan yang tertinggi berada ditangan rakyat. Hikmat
kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan
selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa kepentingan
rakyat dan dilaksanakan dengan sadar, jujur dan bertanggung jawab.
Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk
merumuskan dan memutuskan sesuatu hal berdasarkan kehendak rakyat
hingga mencapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau
mufakat. Perwakilan adalah suatu sistem dalam arti tata cara (prosedura)
mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian dalam
kehidupan bernegara melalui badan-badan perwakilan.

Jadi sila ke IV adalah bahwa rakyat dalam menjalankan


kekuasaannya melalui sistem perwakilan dan keputusan-keputusannya
diambil dengan jalan musyawarah dengan pikiran yang sehat serta penuh
tanggung jawab baik kepada Tuhan yang maha Esa maupun kepada
rakyat yang diwakilinya.

Hakekat pengertian itu sesuai dengan pembukaan UUD alenia


empat dan pasal-pasal 1,2,3,28 dan 37 UUD 1945.

5. Sila kelima : Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Keadilan sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat di


segala bidang kehidupan, baik materi maupun spiritual. Seluruh rakyat
Indonesia berarti setiap orang yang menjadi rakyat Indonesia, baik yang
berdiam diwilayah kekuasaan Republik Indonesia maupun warga Negara
Indonesia yang berada di luar negeri. Jadi sila ke V berarti bahwa setiap
orang Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum,
politik, social, ekonomi dan kebudayaan.

Sila Keadilan sosial adalah tujuan dari empat sila yang


mendahuluinya, merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam bernegara,
yang perwujudannya ialah tata masyarakat adil-makmur berdasarkan
Pancasila.

Hakekat pengertian itu sesuai dengan pembukaan UUD 1945


alinea kedua dan pasal-pasal 23, 27, 28, 29, 31 dan 34 UUD 1945.
BAB III

3.1 KESIMPULAN

· Filsafat ialah alam berpikir atau alam pikiran. Berfilsafat berarti berpikir
secara mendalam dan berpikir sampai ke akar-akarnya dengan sungguh-sungguh
tentang hakikat sesuatu.

· Pancasila sebagai sistem filsafat yaitu suatu konsep tentang dasar negara yang
terdiri dari lima sila sebagai unsur yang mempunyai fungsi masing-masing dan
satu tujuan yang sama untuk mengatur dan menyelenggarakan kehidupan
bernegara di Indonesia.
· Susunan Kesatuan sila-sila Pancasila yang bersifat organis, yaitu Unsur-unsur
hakikat manusia.
· Pancasila sebagai suatu system filsafat berperan sebagai pedoman masyarakat
dalam bertingkah laku.
3.2 SARAN

Nila-nilai dalam Pancasila termasuk nilai etik atau nilai moral merupakan
nilai dasar yang mendasari nilai intrumental dan selanjutnya mendasari semua
aktivitas kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila,


yaitu bangsa yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang berpersatuan, yang
berkerakyatan dan berkeadilan sosial. Pengakuan, penerimaan dan penghargaan
atas nilai-nilai Pancasila itu nampak dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan
bangsa Indonesia sehingga mencerminkan sifat khas sebagai Manusia Indonesia.
Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya bersikap, dan
berperilaku sesuai dengan aturan/norma-norma yang berlaku didalam masyarakat,
aturan sesuai dengan agamanya masing-masing, serta aturan yang berlaku di
Indonesia pada umumnya, sesuai dengan Pancasila, dan UUD 1945
DAFTAR PUSTAKA

1. staffnew.uny.ac.id/upload/131655976/pendidikan/3-pancasl-sistem-
filsafat.pptx
2. file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196604251992032.../BAB_2.pdf
3. Syarbaini H.syahrial. Dr., M.A. 2011. Pendidikan pancasila. Jakarta:
Ghalia Indonesia
4. https://www.scribd.com/doc/283926073/Makalah-Hakikat-Sila-sila-
Pancasila
LAMPIRAN