Anda di halaman 1dari 17

Daftar Cek Masalah

Daftar Cek Masalah adalah daftar berisi pernyataan-pernyataan yang merupakan masalah
yang diasumsikan biasa dialami oleh individu dalam tingkat perkembangan tertentu. DCM
digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang dialami oleh individu, dengan merangsang
atau memancing individu untuk mengutarakan masalah yang pernah atau sedang dialaminya.
Dalam hal penulis merancang bentuk DCM sendiri yang merupakan perpaduan dari
contoh-contoh DCM yang sudah banyak digunakan di sekolah-sekolah. DCM hasil rancangan
penulis ini terdiri dari 240 butir pernyataan dan 3 butir pertanyaan yang terbagi dalam 5
bidang. 4 bidang sesuai dengan bidang bimbingan yakni : pribadi, sosial, belajar dan
karir. Beberapa aspek yang berusaha diungkap lewat DCM ini adalah :
1. Kesehatan
2. Keadaan Penghidupan
3. Rekreasi dan Hobi
4. Kehidupan Keluarga
5. Agama dan Moral
6. Kehidupan Sosial dan Keaktifan Berorganisasi
7. Hubungan Pribadi
8. Muda-Mudi
9. Penyesuaian Terhadap Sekolah
10. Masa Depan dan Cita-cita Pendidikan Jabatan

A. Pengertian Metode Inventori (Daftar Cek Masalah/DCM)


Metode Inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) adalah suatu metode untuk mengumpulkan
data yang berupa suatu pernyataan (statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan
sejenisnya. Setiap pernyataan yang cocok dengan dirinya diisi chek atau tanda-tanda lainnya
yang ditetapkan. Sedangkan pernyataan-pernyataan yang tidak cocok dengan dirinya tidak diisi.
Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) mempunyai persamaan dengan metode kuesioner,
yaitu kedua-duanya menggunakan instrumen yang berupa suatu daftar.
Metode inventori (Daftar Cek Masalah/DCM) instrumen berupa pertanyaan yang harus
dipilih oleh subyek sesuai dengan keadaan dirinya. Metode inventori (Daftar Cek
Masalah/DCM) merupakan salah satu laporan diri atau deskripsi diri yang dipakai untuk
mengetahui adanya masalah yang dihadapai individu secara langsung menggunakan alat-alat
tertentu.

B. Kompetensi dan Indikator DCM (Daftar Cek Masalah)


Setelah mempelajari DCM diharapkan peserta bisa memanfaatkan daftar cek sebagai salah
satu teknik untuk memahami konseli yang hendak dibimbingnya. Sebagai indikator peserta telah
mampu memanfaatkan daftar cek ditunjukkan dalam (a) menyusun daftar cek sesuai tujuan dan
subyek yang difahami, (b) mampu melaksanakan asesmen dengan menggunakan daftar cek, (c)
mampu melakukan analisis terhadap data hasil daftar cek, dan (d) mampu memanfaatkan data
dari daftar cek untuk kepentingan bimbingan.

C. Kelemahan dan Kelebihan Daftar Cek Masalah


1. Kelebihan DCM
a. Metode ini dilaksanakan dan mudah pula cara pemberian markahnya dengan
mengikuti petunjuk-petunjuk yang ditetapkan.
b. Pelaksanaan inventori lebih lanjut dapat menimbulkan self kritis pada siswa yang
mengisi inventori tersebut.
c. Metode inventori merupakan metode pengumpulan data yang cukup efektif,
sebab dapat menjaring data yang cukup banyak dalam waktu yang relatif singkat.
2. Kelemahan DCM
a. Para siswa hanya memberikan respon dalam bentuk verbal saja.
b. Pemgumpulan data terpaksa hanya tergantung kepada kejujuran dan keiklasan
para siswa.
c. Seringkali subyek tidak memberikan jawaban yang benar karena adanya beberapa
alasan.

D. Langkah langkah dalam pembuatan DCM


1. Konselor menyiapkan bahan sesuai dengan jumlah siswa
2. Konselor benar-benar menguasai petunjuk cara mengerjakan

E. Pelaksanaan
1. Mengontrol situasi ruang
2. Konselor memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan penggunaan tujuan
3. Memberikan instruksi terhadap siswa untuk mempersiapkana alat-alat tulis
4. Membagikan lembar daftar cek masalah
5. Memberikan instruksi kepada siswa untuk menulis identitas diri dan tanggal pelaksanaan
daftar cek masalah siswa
6. Membacakan petunjuk cara mengerjakan daftar cek masalah
7. Memberi contoh cara mengerjakan cek masalah
8. Memberikan instruksi cara mengerjakan daftar cek masalah, dan memperingatkan agar
siswa mengerjakan dengan tenang, dan teliti, serta memberitahukan bahwa waktu yang
disediakan cukup lam kurang lebih satu jam
9. Mengontrol apakah para siswa telah mengerjakan daftar cek masalah dengan benar
10. Mengumpulkan pekerjaan siswa

F. Fungsi dari DCM


1. Untuk memudahkan individu mengemukakan masalah yang pernah atau sedang
dihadapi.
2. Untuk mensistimatisasi jenis masalah yang ada pada individu agar memudahkan analisa
dan sintesa dengan data yang diperoleh dengan cara/alat lain.
3. Untuk menyusun program pelayanan konseling agar sesuai dengan kebutuhan dan
permasalahan siswa.

G. Cara Pengerjaan DCM


1. Siswa diminta menuliskan identitasnya secara lengkap sesuai format isian yang
disediakan dalam lembarjawab DCM.
2. Siswa dipersilahkan membaca item-item yang di dalamnya berisi pernyataan-pernyataan
yang mengandung permasalahan-pennasalahan yang biasa dialami oleh individu.
3. Siswa diminta menuliskan nomer item pernyataan di lembar jawab, jika masalah tersebut
sesuai dengan yang pemah dialami atau sedang dialami
4. Memotivasi siswa agar dapat mengerjakan dengan jujur, dengan memberikan jaminan
kerahasiaan akan semua jawabannya
5. Menginformasikan bahwa hasil DCM akan dijadikan acuan dalam memberikan layanan
(bantuan) pada siswa.
6. Waktu yang diberikan pada siswa setara dengan satu jam pelajaran, yakni 40 menit.

H. Pengolahan Hasil Instrumen


Dalam pengolahannya DCM ini dapat dianalisa secara kelompok dan individu, sedangkan aspek
yang dianalisa adalah per-butir masalah dan per-topik.
1. Langkah-langkah analisa secara individual adalah sebagai berikut :
a. Menjumlah item yang menjadi masalah individu pada setiap topik masalah.
b. Mencari presentasi per-topik masalah dengan cara mencari rasio antara jumlah butir yang
menjadi masalah dengan butir topik masalah.

Nm : Jumlah butir yang menjadi masalah individu dalam setiap Topik


N : Jumlah butir pada topik masalah tersebut.
c. Mencari jenjang (rangking) masalah dengan cara mengurutkan % topik masalah mulai dari
yang terbesar sampai yang terkecil.
d. Mengkonversikan % masalah ke dalam predikat nilai A, B, C, D, dan E sebagai berikut :

0% = A (Baik)
1 % -10 % = B (Cukup Baik)
11%-25% = C (Cukup)
26% - 50 % = D (Kurang)
51 % -100 % = E (Kurang Sekali)

2. Langkah-langkah analisa secara kelompok adalah sebagai berikut:


a. Analisa per-butir masalah
• Menjumlahkan banyaknya siswa yang mempunyai butir masalah yang sama un tuk setiap
butir.
• Mencari prosentase masalah dengan cara mencari rasio antara banyaknya siswa yang
bermasalah untuk butir tertentu dengan jumlah siswa
Nm : Banyaknya siswa yang bermasalah untuk butir tertentu.
N : Banyaknya siswa yang mengerjakan DCM

b. Analisa per-topik masalah


• Harus diketahui jumlah siswa yang mengerjakan DCM
• Harus diketahui jumlah butir yang menjadi masalah siswa (dicek)
• Menghitung Prosentase permasalahan topic

Nm : Jumlah butir masalah yang dicek


N : Jumlah siswa yang mengerjakan DCM
m : Jumlah butir dalam topik masalah

I. Penyampaian Hasil
Hasil dari pengolahan Instrumentasi perlu disampaikan kepada fihak-fihak yang terkait
secara langsung dengan responden. Dalam penyampaian hasil instrumentasi ini tetap harus
menjaga kerahasiaan, tidak boleh disampaikan/diumumkan secara terbuka dan dijadikan
pembicataan umum.
Dalam forum khusus, hasil instrumentasi dapat dijadikan topik bahasan/diskusi, namun
tetap harus menjaga kerahasiaan responden (tidak menyebut nama responden).
Dari keseluruhan penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini hasil yang diperoleh
disampaikan kepada masing-masing responden, dalam bentuk Profil Individual, sedangkan
kepada Guru bimbingan dan konseling/Kepala Sekolah diberikan Data rekap dan data
pendukung lainnya, sebagai bahan untuk pemberian layanan lebih lanjut.
Penyampaian hasil instrumentasi kepada masing-masing responden akan lebih baik apabila
disampiakan secara individual, sehingga konselor dapat berkomunikasi dan menjelaskan isi dari
laporan hasil instrumentasi yang akan diberikan dalam bentuk format individual, dan sekaligus
bagi siswa yang memiliki permasalahan dapat diberikan penjelasan untuk langkah-langkah
tindak lanjut berikutnya

J. Implikasi Hasil Aplikasi Instrumentasi Dalam Pelayanan Konseling


Hasil Aplikasi Instrumentasi pada hakekatnya dapat diaplikasikan dalam seluruh spektrum
kegiatan pelayanan konseling, mulai dari perencanaan sampai dengan penilaian dan
pengembangannya. Bahkan memungkinkan kegiatan Aplikasi Instrumentasi ini merupakan
langkah yang menentukan dalam penentuan pemberian layanan konseling. Secara umum
Implikasi hasil Aplikasi Instrumentasi ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Perencanaan Program Konseling.
Penyusunan program layanan konseling di sekolah, baik program tahunan maupun
semesteran seharusnya didasarkan pada data tentang variasi masalah siswa, hasil ulangan/ujian,
bakat dan minat serta kecenderungan siswa, dan data lainnya yang kesemuanya terkumpul dalam
kegiatan Need Assessment..
Hasil Aplikasi Instrumentasi secara jelas telah menunjukkan berbagai data yang
menyangkut kondisi responden, maka akan ditemukaNeed Assessment sebagai dasar
penyusunan/perencanaan Program Konseling. Dengan data yang lengkap dari Aplikasi
Instrumentasi ini dapat dirumuskan Program Konseling secara menyeluruh, untuk setiap kelas,
dengan mengacu kepada kebutuhan siswa, baik perorangan maupun kelompok. Pada intinya
untuk berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling direncanakan berdasarkan data
hasil Need Assessment.

2. Penetapan Peseta Layanan


Berdasarkan data hasil instrumentasi, Konselor dapat menetapkan individu yang perlu
mendapat layanan konseling, baik layanan dengan format klasikal, kelompok maupun
individual. Kegiatan dengan format lapangan dan “politik” bagi klien tertentupun dapat
direncanakan oleh Konselor dengan mendasarkan pada hasil Aplikasi Instrumentasi ini.

3. Sebagai Isi Layanan


Data yang terungkap dari penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi ini dapat pula menjadi
isi dari layanan konseling.Hal ini disebabkan karena dalam penyelenggaraan Aplikasi
Instrumentasi khususnya yang mengungkap tentang hubungan sosial (sosiogram), inteligensi,
bakat dan minat dapat dijadikan sebagai isi layanan Untuk hal ini diperlukan kecermatan
Konselor dalam melihat relevansi antara hasil Aplikasi Instrumentasi dengan kebutuhan Klien
dan menggunakannya secara tepat, dengan senantiasa menerapkan asas kerahasiaan sebagaimana
mestinya.

4. Tindak lanjut Layanan


Hasil instrumentasi, khususnya hasil evaluasi (laiseg, laijapen dan laijapang) dapat
digunakan sebagai pertimbangan bagi upaya tindak lanjut pelayanan terhadap klien. Kecermatan
Konselor terhadap kesesuaian antara hasil evaluasi dan upaya tindak lanjutnya sangat diperlukan.

5. Pengembangan.
Dalam upaya pengembangan layanan konseling, dasar utama yang diperlukan adalah data
yang akurat dan handal. Dalam hal ini, data hasil Aplikasi Instrumentasi dengan tingkat validitas
dan reliabilitas yang tinggi dapat secara tepat menunjang pengembangan program pelayanan
konseling dalam jangka panjang. Dalam hal ini diperlukan berbagai instrumentasi yang
komprehensip, dari berbagai kelompok responden dalam jangka waktu yang relatif memadai.
Dengan data gabungan tersebut, akan nampak arah pokok yang dapat dijadikan arah dan garis
besar pengembangan layanan konseling.
Secara khusus, penyelenggaraan Aplikasi Instrumentasi Daftar Cek Masalah (DCM) yang
telah penulis laksanakan, implikasinya dalam layanan konseling dapat dijelaskan sebagai berikut
:
Setelah pengolahan data angket DCM ini akan diperoleh suatu gambaran yang berkaitan
dengan permasalahan dan kebutuhan nyata siswa, yang selanjutnya digunakan sebagai acuan
dalam merencanakan layanan-layanan yang akan diberikan pada siswa
AUM PTSDL

AUM PTSDL merupakan alat untuk mengungkapkan masalah - masalah


secara khusus yang berkaitan dengan upaya kegiatan belajar peserta didik, di sekolah, di
rumah ataupun ditempat lainya dan oleh karena settingnya berkaitan dengan proses belajar di
sekolah maka, AUM PTSDL dipergunakan oleh guru untuk peserta didiknya, kendatipun
demikian penyelenggaraan AUM PTSDL ini seyogyanya hanya dapat dipergunakan oleh guru
BK dan atau konselor sekolah yang memang berlatar belakang bimbingan dan konseling hal ini
untuk menghindari kekeliruan baik dalam proses maupun hasil yang di dapat dari AUM PTSDL
itu sendiri. Mengungkapkan 5 aspek, yaitu:

 Prasyarat penggunaan materi pelajaran;


 Keterampilan Belajar;
 Sarana Belajar;
 Keadaan diri pribadi;
 Lingkungan Belajar dan sosio emosional

1. Sejarah Pengembangan AUM-PTSDL

Alat Ungkap Masalah belajar di Indonesia yang telah di gunakan 30 tahun terakhir adalah
adaptasi dari survey Of Habits and Attitude (SSHA) yang di kembangkan W.F,Brown dan
W.H.Holtzman versi 1953.Pengembangan AUM-PTSDL disusun dengan memperhatikan format
dan kandungan isi SSHA dan PKSB serta pengalaman pemakaian terjemahan atau
adptasinya,serta keinginan untuk menyusun sendiri instrumen sejenis yang lebih sesuai dengan
kondisi Indonesia.AUM-PTSDL sebagai alat ungkap masalah sederhana dan mudah di gunakan
untuk mengkomunikasikan mutu dan msalah siswa/mahasiswa kepada personel yang membantu
(konselor).

2. Karakteristik AUM-PTSDL

a. AUM-PTSDL memiliki 4 format,F1 untuk mahasiswa,F2 untuk siswa SLTA,F3 untuk


siswa SLTP,F4 untuk siswa SD.
b. Memiliki 5 bidang masalah prasyarat pengusaha materi pelajaran (P),Keterampilan
belajar (T),Sarana Belajar (S),Diri Pribadi (D),Lingkungan belajar sosio-emosional (L)
c. Mampu menentukkan mtu kegiatan belajar yang akan mempengaruhi hasil belajar.
d. AUM-PTSDL biasa di sebut AUM Belajar.
e. Hasil AUM-PTSDL adalah; (a) Mutu Kegiatan Belajar dan (b) Masalah Belajar.
Kelebihan dan Kekurangan

Pengunaan AUM-PTSDL pada proses asesmen dalam layanan bimbingan dan konseling
memiliki kelebihan dan kekurangan.

1. Kelebihan AUM-PTSDL
a. pada proses pelaksanaan bersifat efisien karena pelaksanaan AUM-PTSDL dapat
di lakukan secara induvidual,kelompok maupun klasikal,sehingga guru
pembimbing dalam waktu singkat dapat memperoleh data yang banyak.
b. pada akurasi data yang diperoleh melalui AUM-PTSDL memiliki vasiditas dan
realitibitas tinggi yang dibuktikan melalui uji vasiditas dan reliabilitas tinggi yang
dibuktikan melalui uji validitas dan reliabilitas yang telah dilakukan oleh prayitno
dan kawan-kawan sebagai tim pengembang AUM-PTSDL.
c. Dari segi fungsinya,penggunaan AUM-PTSDL memudahkan peserta didik
mengemukakan mutu belajar dan masalah belajar yang dimiliki,mengingat
penyediaan butir mutu belajar dan permasalahan belajar yang banyak
memudahkan peserta didik untuk mengenali mutubelajar saat ini maupun
permasalahan belajar yang sedang atau pernah dialaminya.
d. Sistematis mutu belajar dan jenis masalah yang dikelompokkan dalam berbagai
bidang mempermudah konselor/guru/dosen pembimbing untuk melakukan
analisis dan sintesa data serta merumuskan kesimpulan mutu belajar dan masalah
yang dialami peserta didik.
e. Tersedianya software program pengolahan AUM-PTSDL akan mempermudah
dan mempercepat konselor melakukan proses pengolahan AUM-PTSDL.
f. Penggunaan AUM-PTSDL memiliki banyak manfaat antara lain konselor lebih
mengenal mutu belajar dan memahami masalah peserta didik yang membutuhkan
bantuan segera,konselor memiliki peta mutu belajar dan masalah belajar dan
masalah belajar individu maupun kelompok,hasil AUM-PTSDL dapat digunakan
sebagai landasan penetapan layanan bimbingan dan konseling belajar yang sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan pesesrta didik;dan yang lebih penting lagi peserta
didik dapat memahami kualitas mutu dan masalah belajar yang dialami dan
memahami apakah dirinya memerlukan bantuan atau tidak.

2. Kelemahan AUM-PTSDL

Sebagai suatu metode asesmen tentu saja AUM-PTSDL juga memiliki kelemahan,antara lain:

a. Membutuhkan waktu yang banyak untuk pengolahan hasil,sebagai konsekuensi dari


banyaknya jumlah butir pernyataan mutu dan masalah belajar yang tersedia.
b. Data yang diungkapkan melalui AUM-PTSDL masih bersifat umum berbentuk peta mutu
belajar dan masalah belajar,sehingga untuk mendalami pemahaman terhadap mutu dan
masalah belajar peserta didik,guru pembimbing perlu ,mengkombinasi dengan metode
asesmen lain.

Peran dan Fungsi konselor


Pada proses asesmen menggunakan Alat Ungkap Masalah Belajar (AUM-PTSDL),konselor
memiliki peran dan fungsi sebagai:
1. Perencanaan,Yaitu mulai dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen,menetapkan
peserta didik sebagai sasaran asesmen,menyediakan buku dan lembar jawaban AUM-
PTSDL,sesuai jumlah peserta didik sasaran,dan membuat satuan layanan asesmen
AUM-PTSDL.
2. Pelaksanaan,yaitu memberikan verbal setting(menjelaskan tujuan,manfaat,dan
kerahasian data),memandu peserta didik dalam cara mengerjakan sehingga dapat di
pastikan seluruh peserta didik mengisinya dengan benar.
3. Melakukan pengolahan data kuantitatif mulai dari menghitung hasil dengan
menggunakan format yang format yang spesifik,menetapkan peringkat
persentase,membuat grafik persentase masalah belajar dan mutu belajar,serta membuat
deskripsi analisis kuantitatif masalah belajar dan mutu belajar sebagai hasil AUM-
PTSDL.
4. Melakukan tindak lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan
bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Langkah Pengadministrasian

Penggunaan AUM-PTSDL memiliki prosedur yang harus dipatuhi agar hasil yang diperoleh
memiliki tingkat akurasi yang baik.Prosedur penggunaan memiliki tiga langkah utama yaitu
persiapan,pelaksanaan,dan pengolahan hasil,yang akan di uraikan berikut ini.

1. Perencanaan
a. Menetapkan waktu,sasaran dan jumlah peserta didik yang akan mendapat layanan
asesmen.
b. Menyiapkan buku AUM-PTSDL,sesuai jumlah peserta didik.
c. Menyiapkan lembar jawaban AUM-PTSDL,sesuai jumlah peserta didik.
d. Menyiapkan ruang dengan situasi tenang,pencahayaan baik,kursi yang nyaman.
2. Pelaksanaan
a. Memberikan verbal setting sebelum mulai (menjelaskan tujuan,manfaat,dan
kerahasiaan).
b. Meminta individu menyiapkan alat tulis.
c. Membagi buku dan lembar jawaban AUM-PTSDL.
d. Memberi instruksi cara pengerjaan AUM-PTSDL.
e. Mengimformasikan bahwa pengerjaan AUM-PTSDL tidak memiliki batas
waktu,akan tetapi peserta didik diminta bekerja dengan teliti,sungguh
sungguh,cepat,dan tidak membuang waktu.
f. Melakukan pemeriksaan ketepatan peserta didik dalam cara mengisi AUM-PTSDL.
g. Mengumpulkan kembali buku dan lembar jawaban hasil pengisian AUM-
PTSDL.Lembar jawaban yang dikumpul di teliti apakah telah di kerjakan dengan
lengkap
3. Pengolahan Hasil
a. Konselor melakukan pengolahan hasil AUM-PTSDL,dengan melakukan analisis
kuantitatif menggunakan format tabulasi pengolahan dan rumus yang telah
ditetapkan.
b. Berdasarkan hasil pengolahan secara kuantitatif,konselor melakukan analisis
kualitatif.
c. Pengolahan hasil AUM-PTSDL harus dilakukan peling lambat satu minggu setelah
pengisian,mengingat permasalahan individu bersifat dinamis dan bisa mengalami
perubahan.
d. Kesegaran pengolahan hasil AUM-PTSDL akan menjungjung asas kekinian dalam
bimbingan dan konseling.
e. Pengolahan hasil menggunakan format khusus.

Langkah Pengolahan dan analisis

1. Pengolahan hasil pengisian AUM-PTSDL dilakukan dengan menggunakan format


khusus (lihat tabel 10.2 dan 10.3)
2. Analisis hasil pengolahan
Berdasarkan hasil pengolahan dengan menggunakan format yang ditetapkan,maka
konselor melakukan analisis kualitatif untuk mutu belajar dengan mengikuti tahapan
berikut ini.
a. Konselor mengelompokkan dan menuliskan butir butir mutu belajar yang dipilih
untuk semua biadang hasil penggunaan kunci K1 dan K2.
b. Membaca kesimpulan mutu belajar untuk setiap bidang,berdasarkan pernyataan
mutu yang di pilih
c. Membuat grafik persen mutu belajar berdasarkan hasil penghitungan persentase
pada kolom 3 format pengolahan.
d. Membuat grafik persentase rata-rata mutu beljar berdasarkan hasil penghitungan
persentase pada kolom 4 format pengolahan.
e. Membuat rangking dari hsil persentase rata rata kolom 4,mulai dengan mutu
bidang tertinggi sampai terendah.
f. Membuat kesimpulan umum mutu belajar yang dimiliki,dengan bidang mutu
belajar dengan persentase rata-rata yang dominan.
Analisis Masalah Belajar

a. Konselor Pembimbing mengelompokkan dan menuliskan butir butir masalah yang


dipilih untuk setiap bidang masa;ah,hasil penggunaan kunci M.
b. Membuat kesimpulan masalah untuk setiap bidang,berdasarkan pernyatab butir
masalah yang dipilih.
c. Membuat grafik persen masalah berdasarkan hasil penghitungaan persentase pada
kolom 7 format pengolahan.
d. Membuat grafik persentase rata-rata masalah,berdasarkan hasil penghitungan
pada kolom 8 format pengolahan.
e. Membuat rangking dari hasil persentase rata-rata kolom 8,mulai dengan
persentase bidang masalah tertinggi sampai terendah.

Memuat kesimpulan umum masalah yang dialami,dengan melihat dinamika hubungan 3


bidang masalah dengan persentase rata-rata yang dominan.

ALAT UNGKAP MASALAH UMUM (AUM-U)

Untuk mengungkap masalah yang sedang dialami oleh individu, pada umumnya di
Indonesia menggunakan Mooney Problem Check List (MPCL, revisi 1950) dari Ross L. Mooney
untuk SLTP, SLTA dan PT dengan 330 butir item.

MPCL memuat 11 bidang masalah, yaitu :

1. Perkembangan jasmani dan kesehatan


2. Keuangan, lingkungan dan pekerjaan
3. Kegiatan sosial dan rekreasi
4. Seks, pacaran, dan perkawinan
5. Hubungan sosial - kejiwaan
6. Hubungan pribadi - kejiwaan
7. Moral dan agama
8. Rumah tangga dan keluarga
9. Masa depan pekerjaan dan pendidikan
10. Penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah
11. Kurikulum dan pengajaran

Dengan memperhatikan format dan kandungan isi MPCL, dan keinginan menyusun sendiri
instrumen sejenis MPCL yang sesuai kondisi indonesia maka disusun AUM umum oleh prayitno
dan kawan-kawan. AUM umum bukan alat pengukur tetapi alat untuk mengkomunikasikan
masalah klien kepada konselor/guru pembimbing. Aum Umun merupakan alat ungkap masalah
umum, yang dibentuk dalam 5 format yaitu : Format 1 untuk mahasiswa, Format 2 untuk
SLTA, format 3 untuk SLTP, format 4 untuk SD, format 5 untuk masyarakat.

1. AUM umum Format 1

Komposisi dibuat dengan memperhatikan ruang lingkup dan kondisi kehidupan mahasiswa
umumnya, berisi sejumlah item yang memuat berbagai masalah yang mungkin dialami
mahasiswa. Komposisi ini untuk AUM-U F-1 dapat dilihat pada uraian bidang masalah dan
sejumlah item yang terkandung berikut ini.

a. Jasmani dan kesehatan 25


b. Diri pribadi 20
c. Hubungan sosial 15
d. Ekonomi dan keuangan 15
e. Karier dan pekerjaan 15
f. Pendidikan dan pekerjaan 45
g. Agama, Nilai dan Moral 30
h. Hubungan muda-mudi dan perkawinan 25
i. Keadaan dan hubungan dalam keluarga 25
j. Waktu senggang 10
k. Jumlah butir 225

Penggunaaan AUM-U F1 diadministrasikan kepada mahasiswa perguruan tinggi, dan dapat


digunakan secara perorangan, kelompok, maupun klasikal. Untuk mempermudah peserta didik
dalam menggunakan, maka tim pengembang alat asesmen ini sudah mamuat pertunjuk
pengerjaan di dalan buku AUM-U F1.

Hasil penggunaan AUM-U F1, dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa maupun dosen
pembimbingnya, yaitu memberi peluang kepada mahasiswa untuk memahami masalahnya
sehingga diharapkan akan menggerakan mahasiswa untuk menggunakan layanan bimbingan dan
konseling di perguruan tingginya. Sedangkan bagi konselor, hasil AUM-U1 dapat digunakan
sebagai dasar menentukan program, jenis layanan dan materi bimbingan dan konseling. Untuk
menerapkan asas kekinian maka penggunaaan hasil paling lambat satu minggu setelah tes.
2. AUM Umum Format 2 (AUM-U F2)

komposisi dibuat dengan memperhatikan ruang lingkup dan kondisi kehidupan peserta didik
SLTA pada umumnya, berisi sejumlah item yang memuat berbagai masalah yang mungkin
dialami peserta didik. Kompisisi isi untuk AUM-U F-2 dapat dilihat pada uraian bidang masalah
dan jumlah item yang terkandung berikut ini.

a. Jasmani dan kesehatan 25


b. Diri pribadi 20
c. Hubungan sosial 15
d. Ekonomi dan keuangan 15
e. Karier dan pekerjaan 15
f. Pendidikan dan pekerjaan 55
g. Agama, Nilai dan Moral 30
h. Hubungan muda-mudi dan perkawinan 15
i. Keadaan dan hubungan dalam keluarga 25
j. Waktu senggang 10
Jumlah butir 225

Penggunaan AUM-U F2 diadministrasikan kepada kelompok peserta didik di SLTA, dan dapat
digunakan secara perorangan,kelompok,maupun klasikal. Untuk mempermudah peserta didik
dalam menggunakan, maka tim pengembangan alat asesmen ini sudah memuat petunjuk
pengerjaan di dalam buku AUM-U F2.

Hasil penggunaaan AUM-U F2, dapat dimanfaatkan oleh peserta didik maupun konselor, yaitu
memberi peluang kepada peserta didik untuk memahami masalahnya sehingga diharapkan akan
menggerakan mereka untuk menggunakan layanan bimbingan dan konseling di sekolahnya.
Sedangkan bagi konselor, hasil AUM-U F2 dapat digunakan sebagai dasar menentukan program,
jenis layanan dan materi bimbingan dan konseling. Untuk menerapkan asas kekinian maka
pengolahan dan penggunaaan hasil paling lambat 1 minggu setelah pengisian.

Kelebihan dan Kekurangan

1. Kelebihan AUM Umum

Penggunaan AUM-U F1 maupun AUM-U F2 memiliki beberapa kelebihan, yaitu :

a. Pada proses pelaksanaan bersifat efesien karena pelaksanaan AUM-U F1 maupun AUM-
U F2 dapat dilakukan secara individual, kelompok maupun klasikal, sehingga konselor
dalam waktu singkat dapat memperoleh daga yang banyak.
b. Pada akurasi data yang diperoleh melalui AUM-U F1 maupun AUM-U F2 memiliki
validitas dan rehabilitas tinggi yang dibuktikan melalu uji validitas dan rehabilitas yang
telah dilakukan oleh prayitno dan kawan-kawan sebagai tim pengembang AUM-U F1
dan AUM-U F2.
c. Dari segi fungsinya, penggunaaan AUM-U F1 dan AUM-U F2 memudahkan peserta
didik mengemukakan masalah, mengingat penyediaan butir permasalahan yang banyak
memudahkan peserta didik untuk mengenali permasalahan yang sedang atau pernah
dialaminya.
d. Sistemasi jenis masalah yang dikelompokkan dalam berbagai bidang mempermudah
konselor melakukan analisis dan sintesa data serta merumuskan kesimpulan masalah
yang dialami peserta didik.
e. Tersedianya software program pengolahan AUM-U F1 maupun AUM-U F2 akan
mempermudah dan mempercepat konselor melakukan proses pengolahan AUM-U F1 dan
AUM-U F2.
f. Penggunaaan AUM-U F1 dan AUM-U F2 memiliki banyak manfaat antara lain:
 Konselor lebih mengenal peserta didiknya yang membutuhkan bantuan segera.
 Konselor memiliki peta masalah individu maupun kelompok.
 Hasil AUM-U F1 maupun AUM-U F2 dapat digunakan sebagai landasan penetapan
layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta
didik di perguruan tinggi maupun SLTA.
 Dan yang lebih penting lagi peserta didik dapat memahami masalah yang dialami dan
memahami apakah dirinya memerlukan bantuan atau tidak.

2. Kelemahan AUM Umum

Sebagi suatu metode asesmen tentu saja AUM-U F1 maupun AUM-U F2 juga memiliki
kelemahan, antara lain:

a. Membutuhkan waktu yang banyak untuk pengolahan hasil, sebagai konsekuesi dari
banyaknya jumlah bidang masalah dan jumlah butir pernyataan masalah yang tersedia.
b. Data yang diungkapakan melalui AUM-U F1 maupun aum-u F2 Masih bersifat umum;
berbentuk peta masalah dan banyaknya masalah yang dialami pada setiap bidang,
sehingga untuk mendalami pemahaman terhadap masalah pesert didik, dosen
pembimbing perlu mengkombinasi dengan metode asesmen lain.

Kesahihan dan keterandalan

Sebagai suatu alat asesmen yang dikembangkan, untuk memenuhi tingkat kesahihan, tim
pengembang AUM-U F1 melakukan pengujian dengan cara mencocokkan jenis masalah yang
dikemukakan peserta didik pada kertas kosong dengan jenis masalah yang dinyatakan melalui
AUM-U F1, diperoleh kecocokkan hasil sebesar 84%. Sedangkan untuk menguji tingkat
keterandalan, dilakukan dengan test-retest. Dengan jarak dua sampai tiga hari antara hasil jenis
masalah yang dinyatakan melalui pelaksanaan pengisian AUM-U F1 pertama dan AUM-U F1
pada Pelaksanaan pengisian kedua pada peserta didik yang sama. Hasilnya diperoleh keajegan
munculnya masalah sebesar 71%.

Sedangkan untuk AUM-U F2 yang juga dilakukan pengujian untuk tingkat kesahihan dan
keterandalan dengan prosedur yang sama kepada peserta didik di tingkat SLTA. Sehingga
diperoleh kesahihan dengan tingkat kecocokkan sebesar 84,25% dan untuk keterandalan
memperoleh tingkat keajegan sebesar 86%.

Peran dan fungsi Konselor

Pada proses asesmen menggunakan Alat Ungkap Masalah Umun (AUM-U) baik untuk F1
maupun F2, konselor memiliki peran dan fungsi sebagai:

1. Perencana, yaitu melalui dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, menetapkan


peserta didik sebagai sasaran asesmen, menyediakan buku dan lembar jawaban AUM-U
sesuai jumlah peserta didik sasaran, dan membuat satuan layanan asesmen AUM-U.
2. Pelaksana, yaitu memberikan verbal setting (menjelaskan tujuan, manfaat,dan
kerahasiaan data ), memandu peserta didik dalam cara mengerjakan sehingga dapat
dipastikan seluruh peserta didik megisinya dengan bener.
3. Melakukan pengolahan data mulai dari menghitung hasil dengan menggunakan format
yang spesifik, merangking persentase, membuat grafik persentase, membuat deskripsi
analisis kualitatif hasil AUM-U.
4. melakukan tindak lanjut dari hasil asesmen dengan menbuat program layanan bimbingan
dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Langkah pengadministrasian

Penggunaaan AUM-U F1 maupun AUM-U F2 memiliki prosedur yang harus dipatuhi agar hasil
yang diperoleh memiliki tingkat akurasi yang baik. Prosedur penggunaan memiliki tingkat
langkah utama yaitu perisapan, pelaksanaan dan pengolahan hasil, yang akan diuraikan berikut
ini.

1. Perencanaan
a. Menetapkan waktu,sasaran dan jumlah peserta didik yang akan mendapatkan
Layanan asesmen.
b. Menyiapkan buku AUM-U sesuai jumlah peserta didik.
c. Menyiapkan lembar jawaban AUM-U sesuai jumlah peserta didik.
d. Menyiapkan ruang dengan situasi tenang, pencahayaan baik, kursi, yang nyaman.
2. Pelaksanaaan

a. Memberikan verbal setting sebelum mulai (menjelaskan tujuan, manfaat, dan


kerahasiaan).
b. Meminta individu menyiapkan alat tulis.
c. Membagi buku dan lembar jawaban AUM-U.
d. Memberi instruksi cara pengerjaan AUM-U.
e. Menginformasikan bahwa pengerjaan AUM-U tidak memiliki batasan waktu, akan tetapi
peseeta didik diminta bekerja dengan teliti, sungguh-sungguh,cepat, dan tidak membuang
waktu.
f. Mengumpulkan kembali buku dan lembar jawaban hasil pengisian AUM-U. Lembar
jawaban yang dikumpul diteliti apakah telah dikerjakan dengan lengkap.

3. Pengolahan Hasil

a. Konselor melakukan pengolahan hasil AUM-U dengan melakukan penghitungan secara


kuantitatif menggunakan format tabulasi pengolahan dan rumus yang telah ditetapkan.
b. Berdasarkan hasil pengolahan secara kuantitatif, konselor melakukan analisis kuantitatif.
c. Pengolahan hasil AUM-U harus dilakukan paling lambat satu minggu setelah pengisian,
mengingat permasalahan individu bersifat dinamis dan bisa mengalami perubahan.
d. Kesegaraan pengolahan hasil AUM-U akan menjunjung asas kekinian dalam bimbingan
dan konseling.
e. Pengolahan hasil menggunakan format khusus.

Dapus

Sutoyo Anwar.2012.Pemahaman Individu.Yogyakarta:Pustaka Pelajar


Erikson, Damanik. 2013. Pengertian Daftar Cek Masalah ( DCM ) di akses di
laman http://eriksondamanik.blogspot./2013/pengertian-daftar-cek-masalah-html
Sasniar . 1993 . Pengantar Teknik Pemahaman ( NON – TES ) . Padang : FKIP.