Anda di halaman 1dari 26

REVALUASI ASET TETAP DALAM PERSPEKTIF

AKUNTANSI DAN PERPAJAKAN

Tugas Mata Kuliah Akuntansi Perpajakan


Dosen Pengampu :
Dr. Harnovinsah, SE., M.Si., Ak., CA., CIPSAS., CMA., CIBA., CBV., CSRS

PUTRI PRIYATIN - 55518110064

PROGRAM STUDI S2 MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS MERCU BUANA
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dan puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Alloh


SWT karena dengan rahmat dan karuniaNya penyusun dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Revaluasi Aset Tetap Dalam Perspektif Akuntansi Dan
Perpajakan ini yang masih terbatas pada pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki. Tak lupa penyusun sampaikan terimakasih kepada Bapak Harnovinsah
sebagai dosen pengampu mata kuliah akuntansi perpajakan yang telah
memberikan tugas tersebut.
Dalam menyelesaikan makalah ini penyusun menemukan berbagai
kendala dan hambatan. Akan tetapi, berbekal semangat dan niat makalah ini pun
dapat selesai dengan baik, dan semua itu tidak lepas dari dukungan, bantuan,
dan dorongan dari orang-orang yang ada disekeliling penyusun. Oleh karena itu,
penyusun ingin menyampaikan terima kasih kepada Allah SWT, orang tua dan
suami tercinta, ketua kelas pagi MAKSI Reguler 2 serta semua pihak yang telah
membantu penyusun dalam menyusun makalah ini.
Penyusun juga menyadari bahwa masih terdapat kekurangan maupun
kesalahan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran dari
pembaca sekalian penulis harapkan guna perbaikan kualitas dalam penyusunan
makalah selanjutnya. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
dan pihak yang berkaitan dengan tema makalah ini.

Jakarta, Januari 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... 1


DAFTAR ISI ........................................................................................................ 2

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 3
1.3 Tujuan ......................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Revaluasi Aset Tetap ................................................................. 5
2.2 Revaluasi Aset Tetap Berdasarkan Undang-Undang Pajak........................... 5
2.3 Aktiva Tetap yang Dapat Direvaluasi............................................................ 6
2.4 Alasan Wajib Pajak Melakukan Revaluasi... ................................................. 7
2.5 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan Revaluasi ........................ 8
2.6 Contoh Kasus ................................................................................................. 9

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 15


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tentang aset tetap telah direvisi melalui PSAK
16 tahun 2007 sebagai bagian dari proses konvergensi dengan IFRS. Revisi tersebut sangat
mempengaruhi penilaian aset tetap terutama pada cara atau metode penilaiannya. Menurut
pandangan ekonomi, pajak merupakan pemindahan sumber daya dari sector privat
(perusahaan) ke sektor public. Pemindahan sumber daya tersebut akan memengaruhi daya
beli (purchasing power) atau kemampuan belanja (spending power) dari sektor privat. Agar
tidak terjadi gangguan serius terhadap jalannya perusahaan, maka pemenuhan kewajiban
perpajakan harus dikelola dengan baik.
Bagi negara, pajak adalah salah satu sumber penerimaan penting yang akan digunakan
untuk membiayai pengeluaran Negara, baik pengeluaran rutin mapun pengeluaran
pembangunan. Sebaliknya bagi perusahaan, pajak merupakan beban yang akan mengurangi
laba bersih.
Minimalisasi beban pajak dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu caranya
dengan melakukan revaluasi aktiva tetap terhadap perusahaan.
Dalam kondisi inflasi, perusahaan perlu mempertimbangkan untuk melakukan revaluasi
karena nilai buku sudah tidak bisa mencerminkan harga pasar yang berlaku saat ini.
Dalam keadaan inflasi, dimana harga-harga barang secara keseluruhan mengalami
kenaikan, maka nilai buku dari aktiva/aset yang dimiliki perusahaan dipandang tidak
relevan lagi.Bukan hanya dalam keadaan inflasi, dalam keadaan ekonomi normal pun
sebenarnya nilai buku dianggap tidak relevan karena tidak mencerminkan nilai aktiva/aset
yang sebenarnya.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan revaluasi, aset tetap dan revaluasi aset tetap?
2. Bagaimana revaluasi aset tetap menurut Undang-Undang Pajak?
3. Apa saja aset tetap yang dapat direvaluasi?
4. Apa alasan Wajib Pajak melakukan revaluasi?
5. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan revaluasi?
6. Bagaimana contoh studi kasus revaluasi aset tetap?
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengenal lebih dalam tentang revaluasi.
2. Untuk mengetahui revaluasi aset tetap menurut Undang-undang pajak.
3. Untuk mengetahui aset tetap yang dapat direvaluasi.
4. Untuk mengetahui alasan wajib paak melakukan revaluasi.
5. Untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan revaluasi.
6. Untuk mengetahui contoh kasus revaluasi aset tetap.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Revaluasi Aset Tetap

Revaluasi merupakan salah satu cara untuk mewajarkan nilai aktiva/aset yangdimilki
perusahaan dan seringkali digunakan untuk menghemat pajak yang harus dibayar.
Aset Tetap merupakan aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi
atau penyediaan barang atau jasa untuk disewakan kepada pihak lain, atau tujuan
administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode. (SAK-
ETAP).
Revaluasi aset tetap merupakan penilaian kembali aset tetap perusahaan, yang
diakibatkan adanya kenaikan nilai aset tetap tersebut dipasaran atau karena rendahnya
nilai aset tetap dalam laporan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh devaluasi atau
sebab lain, sehingga nilai aset tetap dalam laporan keuangan tidak lagi mencerminkan nilai
yang wajar. (Waluyo, 2011)
Pada dasarnya penilaian kembali aset tetap dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai
wajar aset tetap tersebut pada saat penilaian dengan menggunakan mtode peneliian yang
lazim berlaku di Indonesia dan dilakukan oleh perusahaan penilai atau penilai yang diakui
oleh Pemerintah. Jika nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan penilai atau penilai yang
diakui oleh Pemerintah tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya maka Direktur
Jenderal Pajak akan menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar asset yang
bersangkutan.

2.2 Revaluasi Aset Tetap Berdasarkan Undang-Undang Pajak

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 384/KMK.04/1998 tanggal 14 Agustus


1998 dan Surat Edaran Dirjen Pajak No. 29/Pj.42/1998, menjelaskan hal-hal sebagai
berikut:
1. Wajib Pajak yang dapat melakukan revaluasi adalah WP Badan dalam negeri yang
terletak atau berada di Indonesia. Wajib Pajak Badan dalam negeri adalah
sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan
usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas,
perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah
dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, dana
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi sosial politik, atau
organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.
2. Telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir
sebelum masa pajak dilakukannya penilaian kembali. Kewajiban pajak yang
dimaksud terdiri dari:
a. Pajak Penghasilan (PPh);
b. Pajak Pertambahan Nilai (PPn) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
(PPnBM);
c. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);
d. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan

2.3 Aktiva Tetap yang Dapat Direvaluasi

Aset tetap yang dapat direvaluasi, yaitu:


1. Aset tetap berwujud dalam bentuk tanah, kelompok bangunan, dan bukan
bangunan yang tidak dimaksudkan untuk dialihkan atau dijual.
2. Aset tersebut terletak atau berada diwilayah Indonesia.
3. Penilaian kembali dapat dilakukan terhadap seluruh aset tetap (revaluasi total) atau
terhadap sebagian aset tetap (revaluasi parsial) yang dimiliki perusahaan.
4. Penilaian kembali aset tetap dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar aset
tetap pada saat penilaian dilakukan, yang ditetapkan oleh perusahaan penilai atau
penilai yang diakui oleh pemerintah.
5. Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan penilai atau
penilai yang diakui oleh pemerintah ternyata kemudian tidak mencaerminkan
keadaan yang sebenarnya, Dirjen Pajak akan menetapkan kembali nilai pasar atau
nilai wajar yang bersangkutan.
6. Selisih antara niali pasar atau nilai wajar dengan nilai buku fiskal aset tetap yang
dinilai kembali wajib dikompensasikan terlebih dahulu dengan kerugian fiskal
tahun berjalan dan sisa kerugian fiskal tahun-tahun sebelumnya yang masih dapat
dikompensasikan.
7. Selisih lebih karena penilaian kembali setelah dilakukan kompensasi kerugian
dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final, sesebesar 10% .
8. Bagi WP yang melakukan penggabungan usaha, pajak penghasilan yang terhutang
sebesatr 10% diatas, dapat dibayar dalam jangka waktu paling lama 5 tahun
terhitung sejak tahun dilakukannya penilaian kembali aset tetap perusahaan.
9. Pajak penghasilan yang harus dilunasi untuk setiap tahun paling sedikit sebesar
20% dari jumlah pajak yang terutang, kecuali pelunasan untuk tahun terakhir.
10. Apabila WP melakukan penilaian kembali aset tetap sebelum akhir tahun pajak,
maka kerugian fiskal pada tahun buku yang bersangkutan, diperhitungkan sampai
dengan dilakukannya revaluasi aset tetap tersebut.
11. Nilai pasar atau nilai wajar merupakan dasar penyusutan aset mulai tahun pajak
dilakukannya penilaian kembali aset tetap tersebut penyusutan dilakukan sesuai
dengan Pasal 11 UU Pajak Penghasilan.
12. Aset tetap yang telah dilakukan penilaian kembali dan telah dikenakan Pajak
Penghasilan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain sebelum lewat jangka waktu 5
tahun setelah dilakukannya penilaian kembali.
13. Apabila WP mengalihkan aset tetap tersebut sebelum lewat jangka waktu 5 tahun,
maka atas selisih penilaian aset tetap tersebut tetap dikenakan Pajak Penghasian
yang terutang sebesar 10% dan tambahan Pajak Penghasilan yang bersifat final
sebesar 15%.
14. Dikecualikan dari jangka waktu 5 tahun jika aset tetap tersebut dialihkan kepada
pemerintah atau dialihkan dalam rangka penggabungan, peleburan, atau pemekaran
usaha.

2.4 Alasan Wajib Pajak Melakukan Revaluasi

1. Meningkatkan nilai perusahaan (mark-up) sehingga memudahkan perusahaan


dalam proses pencarian dana, baik melalui pinjaman bank maupun pinjaman saham
(go public);
2. Meningkatkan biaya penyusutan aktiva tetap dimasa datang sehingga deductibie
expense dimasa datang semakin besar dan beban pajak semakin kecil;
3. Meningkatkan keakuratan perhitungan penghasilan maupun biaya sehingga
mencerminkan kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam menghasilkan laba;
4. Agar neraca perusahaan menunjukan posisi kekayaan perusahaan yang sebenarnya.
2.5 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan revaluasi

A. Revaluasi Parsial atau Menyeluruh


Objek revaluasi adalah aset berwujud dalam bentuk tanah, kelompok bangunan,
dan bukan bangunan yang tidak dimaksudkan untuk dialihkan atau dijual atau bukan
barang dagangan.Revaluasi parsial berarti perusahaan hanya melakukan revaluasi atas
sebagian asset tetap yang ada sesuai pertimbangan perusahaan.Bagi perusahaan tertentu,
misalnya perusahaan perkebunan, revaluasi atas tanah tidak menarik. Hal ini
disebabkan adanya pembayaran PPh sebear 10% atas selisih lebih penilaian kembali
aset padahal tanah tidak disusutkan, sehingga tambahan beban penyusutan tahun-tahun
mendatang hanya dari selisih lebih revaluasi ata asset tetap selain tanah, padahal asset
tanah nilainya paling besar dibandingkan dengan yang lainnya. Dengn demikian,
perusahaan dapat melakukan revaluasi parsial sepanjang yang tidak direvaluasikan
adalah asset tetap berupa tanah yang tidak disusutkan.
B. Pembayaran PPh Sebesar Sepuluh Persen yang Bersifat Final
Bagi perusahaan yang akan melakukan revaluasi perlu melakukan penghitungan apakah
membayar PPh 10% itu lebih menguntungkan dibanding dengan tariff PPh badan
sebesar 25%. Aktiva tetap yang sudah direvaluasi dan biaya penyusutan akan
mengurangi Penghasilan Kena Pajak (PKP). Umur aktiva akan kembali seperti semula,
meskipun sebenarnya telah digunakan lebih dari separuh umur.
C. Pembayaran Pajak Selama Lima Tahun
Bagi perusahaan yang melakukan penggabungan usaha, PPh sebesar 10%
(sepuluh persen) yang terutang dapat dibayar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima)
tahun. Kemudian ini sangat membantu likuiditas perusahaan yang melakukan revaluasi
dan kemudian melakukan penggabungan. Namun, ketentuan ini bertentangan dengan
Pasal 4 huruf b Keputusan Menteri Keuangan No. 422/KMK.04/1998 yang menegaskan
bahwa Wajib Pajak yang melakukan penggabungan, peleburan, atau pemekaran harus
melunasi seluruh utang pajak dari tiap perusahaan terkait.
2.6 Contoh Kasus Revaluasi Aktiva Tetap
Contoh Kasus 1
Pada tanggal 1 Januari 2003 PT. PQR melakukan penilaian kembali aktiva perusahaan.
Posisi aktiva perusahaan pada tanggal tersebut adalah sebagai berikut :

Aktiva tetap Nilai Buku Fiskal Nilai Pasar Selisih Lebih

Tanah Rp. 2.000.000.000 Rp. 2.500.000.000 Rp. 500.000.000


Bangunan Rp. 200.000.000 Rp. 450.000.000 Rp. 250.000.000
Mesin Rp. 1.000.000.000 Rp. 8.000.000.000 Rp. 7.000.000.000
Rp. 3.200.000.000 Rp. 10.950.000.000 Rp. 7.750.000.000

Untuk tahun 2002 PT. PQR memperoleh laba sebesar Rp. 200.000.000. Tahuntahun
sebelumnya PT. PQR mencatatatkan kerugian sebagai berikut:

Tahun Kerugian

1995 Rp. 200.000.000


1996 Rp. 300.000.000
1997 Rp. 250.000.000
1998 Rp. 2.000.000.000
1999 Rp. 3.000.000.000
2000 Rp. 200.000.000
2001 Rp. 100.000.000

Pembahasan:
PT. PQR terlebih dahulu mengkompensasikan laba tahun 2002 sebesar Rp. 200.000.000
dengan rugi tahun 1997 sebesar Rp. 250.000.000 sehingga sisa rugi tahun 1997 adalahRp.
50.000.000.Kemudian selisih revaluasi dikompensikan dengan urutan sebagai berikut:

Selisih Lebih Kompensasi Kerugian Sisa Selisih lebih


Rp. 7.750.000.000 Th. 2001 Rp. 100.000.000 Rp. 7.650.000.000
Rp. 7.650.000.000 Th. 2000 Rp. 200.000.000 Rp. 7.450.000.000
Rp. 7.450.000.000 Th. 1999 Rp. 3.000.000.000 Rp. 4.450.000.000
Rp. 4.450.000.000 Th. 1998 Rp. 2.000.000.000 Rp. 2.450.000.000
Rp. 2.450.000.000 Th. 1997 Rp. 50.000.000 Rp. 2.400.000.000
PPh Revaluasi aktiva tetap = 10% x Rp. 2.400.000.000 = Rp. 240.000.000 (Final)

Apabila revaluasi tersebut dilakukan dalam rangka penggabungan usaha merger atau
konsolidasi, maka PPh Final sebesar Rp. 240.000.000 dapat diangsur sampai 5 tahun
minimal 20%/tahun.
Contoh Kasus 2

Studi Kasus
PT (Persero) Angkasa Pura

Laba rugi perusahaan PT. Angkasa Pura adalah Rp. 4.464.157.000 sebelum dikenakan
Pajak Penghasilan (PPh) terhadap Badan dengan pengenaan tarif pajak Badan sebesar
25%. Dengan demikian besarnya PPh Terhutang PT. (Persero) Angkasa Pura I Kantor
Cabang Bandar Udara Sam Ratulangi sesuai dengan tarif pajak PPh Pasal 17 ayat 2 (a)
adalah sebagai berikut :
25% x Rp. 4.464.157.000 = Rp. 1.116.039.250
Selisih Lebih Revaluasi Tanah, Bangunan, dan Gedung

No. Aktiv Nilai Perolehan Akumulasi Nilai Buku Nilai Akmulasi Selisih Lebih PPh Final
a Penyusutan Pasar Penyusutan Revaluasi 10%
Tetap s.d thn 2012 Wajar Setelah
Revaluasi
1. Tana 6.171.100.142, - 6.171.100.142, 13.800.000. - 7.628.899.858 762.889.985
h 00 00 000
2. Banguna 193.893.764.6 (9.694.688.230 (11.266.000.000 29.914.923.62 2.991.492.362
n 03,56 ) 184.199.076.3 225.320.00 ) 6,44 ,64
/ 73,56 0.000
Lapanga
n
3. Gedu 115.343.576.45 (5.767.178.822 124.320.00 (6.216.000.000) 8.527.602.360, 852.760.236,4
ng 8,07 ,90) 109.576.397.6 0.000 83 8
35,17
Juml 315.408.441.2 (15.461.867.05 299.946.574.1 363.440.00 (17.422.000.000 46.071.425.84 4.607.142.584
ah 03,63 2,9) 50,73 0.000 ) 9,27 ,12
Selisih Lebih Revaluasi Aktiva Kendaraan, Peralatan Perhubungan Udara, dan Lain-lain Aktiva

Aktiva Tetap Nilai Akumula Nilai Buku Nilai Akumulasi Selisih Lebih PPh Final
Perolehan sai Pasar Penyusutan Revaluasi 10%
Penyusut Wajar Setelah
an Revaluasi
Alat-Alat
Perhubungan
Udara
Alat-alat 19.576.644.889,60 (4.894.161.222) 14.682.483.667,6 22.120.000.000 (5.530.000.000) 1.907.516.332,4 190.751.633,24
Telekomunik
asi
Rambu-rambu 22.344.592.844,59 (2.793.074.106) 19.551.518.738,59 22.120.000.000 (3.187.500.000) 2.760.981.261,41 276.098.126,14
udara
Alat Kerja 121.000.000,00 (15.125.000) 105.875.000 500.000.000 (62.500.000) 331.625.000 33.162.500
Perhubungan
udara
Jumlah 42.042.237.734 (7.688.747.328) 34.339.877.406,19 48.120.000.000 (8.780.000.000) 5.000.122.594 500.012.259,4

Alat-alat Angkutan175.166.096.068,8 (21.895.762.008,6 153.270.334.068, 190.100.000.00 (23.762.500.000) 13.067.165.931,7 1.306.716.593,1


/Kendaraan 3 0) 23 0 7 7
Jumlah 175.166.096.068,8 (21.895.762.008,6 153.270.334.068, 190.100.000.00 (23.762.500.000) 13.067.165.931,7 1.306.716.593,1
3 0) 23 0 7 7
Lain-lain Aktiva 1.227.978.211,01 (306.994.552,75) 920.983.658,26 1.345.000.000 (336.250.000) 87.766.341,74 8.776.634,17
Tetap
Jumlah 1.227.978.211,01 (306.994.552,75) 920.983.658,26 1.345.000.000 (336.250.000) 87.766.341,74 8.776.634,17
Pengaruh Revaluasi Aktiva Tetap Terhadap Laba Kena Pajak

Laporan laba rugi sebelum PPh badan sebesar Rp.3.084.186.000. Perhitungan PPh Terhutang
adalah:
25% x Rp.3.084.186.000 = Rp. 771.046.500

Tarif PPh Final :

10% x Rp.59.226.358.127,78 = Rp. 5.922.635.812,77

Final ditambah dengan PPh badan yaitu sebesar Rp. 6.693.682.312.77

Perbandingan Pengenaan Pajak Sebelum Melakukan Dan Melakukan Revaluasi Aktiva


Tetap

Sebelum Melakukan Melakukan Revaluasi


Revaluasi
Biaya PPh Final Revaluasi 0 5.922.635.812,77

Laba Kena Pajak 4.464.157.000 3.084.186.000

Beban Pajak 1.116.039.250 771.046.500

Dikarenakan biaya PPh final revaluasi lebih besar dari pada beban pajak , maka beban
pajak dihapuskan menjadi Rp. 0.
Biaya PPh final revaluasi dapat di angsur sampai 5 tahun.

Namun sebaiknya , PT. Angkasa Pura I sebelum melakukan revaluasi terhadap aktiva
tetap perusahaannya, sebaiknya dilakukan pertimbangan terlebih dahulu, dimana dapat
dilakukan dengan cara membandingkan besarnya pajak yang dibayar apabila
melakukan revaluasi dan tidak melakukan revaluasi aktiva tetapnya, apabila jumlah
pajak PPh Final dan PPh Badan yang dibayar lebih besar dari pada jumlah pajak
dengan tidak melakukan revaluasi aktiva tetap (PPh Badan), maka perusahaan tidak
perlu melakukan revaluasi melalui aktiva tetap dengan melihat kembali peraturan yang
berlaku dan nilai pasar wajar aset tetap perusahaan yang ada dan menghasilkan nilai wajar
yang sesuai dan mendapatkan total beban pajak yang sebenarnya.
BAB III
KESIMPULAN

Revaluasi aset tetap merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan
sebagai salah satu cara pelaksanaan tax planning yang bertujuan untuk meringankan beban
kerugian perusahaan.
Revaluasi aktiva tetap secara umum akan menghasilkan kenaikan nilai pasar wajar yang
merupakan nilai aktiva pada tahun berjalan dan biaya disusutkan aktiva. Kenaikan biaya
penyusutan akan menurunkan laba usaha yang berdampak pada pengurangan beban PPh
badan. Pada aktiva tanah, tidak dapat menghemat pajak karena aktiva tanah tidak dapat
disusutkan, sedangkan untuk aktiva berwujud lainnya dapat menghemat pajak karena pada
aktiva tersebut dapat disusutkan.
DAFTAR PUSTAKA

Buku
Waluyo. 2016. Akuntansi Pajak Edisi 6. Jakarta: Salemba Empat.
Suandy, Erly. 2013. Perencanaan Pajak Edisi Revisi 5. Salemba Empat.
Kieso, Donald E., Weygandt, Jerry J., Warfield, Terry D. 2013. ). Intermediate
accounting: IFRS Edition Volume 1. Hoboken: John Wiley & Sons, Inc.

Aturan
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 79/PMK.03/2008
Tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Untuk Tujuan Perpajakan

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 29/PMK.03/2016


Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor
191/PMK.010/2015 Tentang Penilaian Kembali Aktiva Tetap Untuk Tujuan
Perpajakan Bagi Permohonan Yang Diajukan Pada Tahun 2015 Dan Tahun 2016
REVALUASI ASET TETAP

Aset tetap menurut PSAK 16 revisi 2007 dapat dinilai dengan


menggunakan nilai revaluasi sebagai salah satu alternatif
pengukuran. Konsep ini lebih menekankan pada aspek relevansi
laporan keuangan untuk pengambilan keputusan. Pengaturan
revaluasi aset tetap sesuai standar akuntansi berbeda dengan
konsep revaluasi menurut ketentuan perpajakan, sehingga
penggunaan konsep ini harus dipertimbangkan secara hati-hari.
Revaluasi aset yang selama ini sering dilakukan untuk
memperbaiki posisi keuangan sebelum melakukan restrukturisasi
modal maupun akuisisi perusahaan menjadi lebih sulit dilakukan
berdasarkan ketentuan standar yang baru.
Kata kunci: aset tetap, revaluasi, relevansi

Aset tetap merupakan bagian terpenting dalam laporan keuangan, bahkan untuk
entitas yang capital intensif jumlah aset tetap ini dominan dibandingkan dengan
aset yang lain. Penggunaan aset tetap yang efisien menentukan kinerja entitas.
Pada saat entitas menambah modalnya dalam bentuk utang, aset tetap sangat
diperhatikan dalam menentukan kelayakan dan jumlah kredit yang akan diberikan,
karena aset tetap digunakan sebagai jaminan kredit.
Umumnya aset tetap dinilai sebesar harga perolehan. Selama masa manfaat aset
tersebut disusutkan sehingga nilai aset menjadi semakin kecil. Penggunaan harga
perolehan menjadikan beberapa nilai aset di neraca tidak mencerminkan nilai
sebenarnya. Gedung yang telah dipakai untuk operasi lebih dari 20 tahun,
mungkin nilainya sudah mendekati nol, walaupun sebenarnya nilai gedung
tersebut masih tinggi. Entitas yang memiliki umur lebih tua cenderung memiliki
aset yang lebih kecil sedangkan entitas yang baru berdiri memiliki aset yang
tinggi karena aset tetapnya dibeli dengan menggunakan harga terkini.
Penggunaan nilai historis (harga perolehan) menjadikan nilai aset tetap kehilangan
relevansi karena tidak mencerminkan nilai terkini sehingga perlu dibaca dengan
hati-hati. Beberapa analis kredit meminta bantuan apraisal untuk menilai kembali
aset tetap jika akan digunakan untuk menentukan jumlah kredit dan kelayakan
entitas menerima kredit. Namun nilai historis memiliki keunggulan dari sisi
keandalan. Nilai historis didasarkan pada harga perolehan saat pembelian
sehingga bukti dan nilainya dapat diverifikasi. Sedangkan nilai wajar atau nilai
terkini untuk aset tetap tidak mudah diperoleh karena tidak ada harga pasar aktif
untuk aset tetap. Jika ditentukan sendiri oleh perusahaan memungkinkan bias
dalam penilaian. Penilaian oleh appraisal dapat memberikan hasil beragam jika
asumsi yang digunakan berbeda.
Perubahan Standar Akuntansi
Aset tetap adalah aset yang dimiliki entitas yang memiliki bentuk fisik dan
dimanfaatkan untuk operasi entitas lebih dari satu tahun. Aset tetap dapat
berbentuk tanah, bangunan, pabrik dan peralatan bahkan secara spesifik IAS 16
menyebutnya sebagai aset tetap tetapi standar untuk Property, Plant and
Equipment. PSAK 16 revisi 2011 juga mempertimbangkan kemungkinan PSAK
16 dirubah namanya seperti IFRS. Aset tetap diakui di neraca jika memenuhi
definisi aset tetap dan nilainya dapat diukur dengan andal. Kriteria pengakuan
tersebut berlaku pada saat perolehan awal dan juga pada saat pengeluaran setelah
pereolehan awal.
PSAK 16 Aset Tetap tahun 2007 berbeda dengan PSAK 16 tahun 1994 karena
PSAK revisi 2007 tidak hanya mengatur aset tetap namun juga mengatur tentang
penyusutan, sehingga PSAK 18 tentang penyusutan tidak berlaku. Ada beberapa
hal perbedaan utama dalam pengaturan PSAK 16 revisi 2007, diantaranya:
a. Penilaian aset setelah perolehan awal boleh menggunakan nilai revaluasi
dikurangi akumulasi penyusutan dan penuruan nilai sebagai salah satu
alternatif penilaian.
b. Akumulasi penurunan nilai secara eksplisit disebutkan dalam standar
sebagai pengurang nilai aset tetap selain akumulasi penyusutan.
c. Termasuk dalam biaya perolehan adalah nilai kini dari estimasi biaya
restorasi aset di akhir masa penggunaan.
d. Suku cadang utama aset dengan dapat dicatat sebagai aset tetap jika
memenuhi kriteria aset tetap (memiliki manfaat lebih dari satu periode)
dengan syarat suku cadang tersebut hanya dapat digunakan untuk aset
tertentu.
e. Pertukaran aset tetap tidak mempertimbangkan apakah pertukaran aset
tersebut sejenis atau tidak sejenis, semua pertukaran aset menggunakan
dasar nilai wajar. Penggunaan nilai buku hanya diperkenankan untuk
pertukaran yang tidak memiliki substansi komersial atau nilai wajarnya
tidak dapat ditentukan dengan andal.
f. Biaya inspeksi yang signifikan yang memiliki kriteria pengakuan dapat
diakui sebagai nilai aset.
g. Review masa manfaat dan nilai sisa dilakukan setiap pelaporan dan jika
terdapat perubahan dilakukan penyesuaian.
h. Metode penyusutan direview setiap pelaporan untuk memastikan bahwa
pola konsumsi aset tersebut sesuai dengan metode penyusutan yang
dipilih, dan perubahannya dianggap sebagai perubahan estimasi yang
berlaku prospektif bukan perubahan metode akuntansi.
Saat ini telah dikeluarkan exposure draft PSAK 16 revisi 2011. Namun
perubahannya hanya karena sinkronisasi beberapa PSAK yang telah ada seperti
PSAK 58 tentang aset tidak lancar dimiliki untuk dijual, PSAK 64 Aktivitas
eksplorasi dan evaluasi pertambangan dan sumber daya mineral, tidak ada
pengaturan property investasi yang sedang dikembangkan dan pengaturan tentang
tanah yang memiliki umur ekonomi terbatas yang diatur dalam ISAK 25 Hak atas
tanah. ED PSA K 16 revisi 2011 jika disetujui akan berubah nama sesuai dengan
IAS 16 Properti, Pabrik dan Peralatan.
Revaluasi Aset tetap
Revaluasi aset tetap adalah penilaian ulang aset tetap. Dalam bahasa sehari-hari
revaluasi sering dimaknai penilaian ulang yang menyebabkan nilai aset menjadi
lebih tinggi, padahal revaluasi sebenarnya dapat menghasilkan nilai yang lebih
rendah maupun lebih tinggi dari aset tercatat. Revaluasi aset tetap menurut
ketentuan PSAK 16 tahun 1994 diperkenankan. Standar menyebutkan “revaluasi
aktiva tetap tidak diperkenankan karena penilaian dengan menggunakan harga
perolehan, namun penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan
berdasarkan ketentuan pemerintah”. Ketentuan pemerintah tentang perpajakan
membolehkan entitas melakukan penilaian, sehingga revaluasi aset diperkenankan
mengikuti revaluasi aset menurut ketentuan perpajakan.
Berdasarkan ketentuan PSAK 16 tahun 1994, entitas melakukan penilaian kembali
asetnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Biasanya revaluasi aset dilakukan
pada saat akan go publik, menambah modal dengan menerbitkan tambahan
saham, restrukturisasi, akuisisi atau dalam rangka kuasi reorganisasi. Salah satu
tujuan revaluasi adalah agar nilai aset perusahaan menunjukkan kondisi yang
sebenarnya, sehingga entitas dapat menjual sahamnya dengan harga yang lebih
tinggi, atau memiliki nilai yang tinggi pada saat diakuisisi pihak lain.
Menurut PSAK 16 revisi 2007, revaluasi merupakan salah satu metode penilaian
aset tetap. Jika suatu entitas memilih menggunakan metode revaluasi maka
metode ini harus diterapkan secara konsisten oleh perusahaan. Perusahaan tidak
boleh hanya menggunakan metode revaluasi sesekali untuk tujuan seperti yang
disebutkan di atas, tetapi revaluasi harus dilakukan secara reguler.
Penerapan metode revaluasi dilakukan untuk aset tetap dalam kelompok yang
sama. Tidak ada penjelasan rinci pengertian kelompok yang sama, namun secara
implisit dapat dikatakan jika suatu entitas memiliki aset tetap yang disajikan
dalam satu kelompok, maka model penilaian yang digunakan harus sama. Sebagai
contoh jika induk menggunakan metode revaluasi maka konsekuensinya anak
perusahaan untuk kelompok aset tanah harus menggunakan metode revaluasi.
Namun untuk peralatan, apakah dianggap satu kelompok atau dapat menggunakan
sub kelompok misal kendaraan, mesin, peralatan kantor, tidak ada pedoman yang
mengaturnya.
Pada saat melakukan revaluasi, selisih antara nilai tercatat aset dan nilai hasil
revaluasi akan dibukukan sebagai surplus revaluasi. Revaluasi tidak diakui dalam
laporan laba rugi tahun berjalan tetapi merupakan komponen dalam laba rugi
komprehensif yang merupakan bagian dari ekuitas. Jika sebelum revaluasi entitas
telah melakukan penurunan nilai maka, akan dilakukan pembalikan penurunan
nilai sebelum diakui sebagai surplus revaluasi. Jika revaluasi menghasilkan nilai
yang lebih kecil dari nilai aset tercatat maka penurunan nilai ini, pertama akan
mengurangi surplus revaluasi (jika ada), setelah tidak ada lagi baru akan
mengurangi saldo laba. Dengan pencatatan seperti itu, maka entitas akan
mengakui penurunan nilai (impairment), ketika revaluasi menghasilkan nilai aset
lebih kecil dari nilai terbawa (carrying value) dengan menggunakan metode biaya.
Surplus revaluasi yang telah disajikan ke saldo laba pada saat aset tersebut
dihentikan pengakuan atau disusutkan. Surplus revaluasi akan dipindahkan ke
saldo laba selama sisa masa manfaat aset tersebut, jika aset tersebut dihentikan
pengakuan pemindahannya dilakukan sekaligus dari sisa surplus revaluasi yang
masih ada. Pemindahan dilakukan langsung dengan mendebit surplus revaluasi
dan kredit saldo laba tanpa melalui laporan laba rugi.
Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler sehingga nilai
tercatat aset tidak berbeda secara signifikan dengan nilai wajarnya. Standar tidak
menyebutkan berapa tahun sekali, revaluasi dilakukan tergantung perkembangan
nilai wajar aset tetap. Jika harga tidak berubah signifikan mungkin revaluasi dapat
dilakukan tiga atau lima tahun sekali, namun jika harga signifkan berubah
revaluasi mungkin dilakukan setiap tahun.
Nilai wajar adalah nilai di mana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu
kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk
melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction). Berdasarkan konsep nilai
wajar, harga pasar aktif merupakan nilai wajar yang ideal dan memiliki keandalan
yang tinggi, karena mudah diverifikasi. Namun jika tidak ada harga pasar aktif,
dapat digunakan nilai pasar terkini, harga pasar dari aset serupa, menggunakan
pendekatan nilai kini arus kas di masa depan atau dengan metode nilai opsi.
Khusus untuk menentukan nilai wajar dalam model revaluasi aset tetap, standar
secara eksplisit menyebutkan bahwa nilai tanah, bangunan dilakukan oleh penilai
independen yang profesional berdasarkan bukti pasar. Sedangkan nilai wajar
pabrik dan peralatan menggunakan nilai pasar yang ditentukan oleh penilai. Nama
penilai harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Apabila revaluasi dilakukan, akumulasi penyusutan dapat diberlakukan dengan
dengan dua cara yatu metode eliminasi dan proporsional. Pertama dengan cara
eliminasi, akumulasi penyusutan ditutup sehingga diperoleh nilai buku aset, nilai
ini kemudian ditambah atau dikurangi sehingga nilainya menjadi nilai hasil
revaluasi aset yang terbaru. Kedua dengan cara proporsional, dengan metode ini,
nilai aset dan akumulasi penyusutan akan dinaikkan nilainya sebesar rasio
revaluasi (rasio nilai hasil revaluasi dengan nilai buku). Untuk contoh ilustrasi dan
penjelasan rinci mengenai teknik penjurnalan dapat dilihat pada link berikuti :
http://staff.blog.ui.ac.id/martani/pendidikan/slide-psak/
Pajak atas revaluasi menurut PSAK 16 dipertanggungjawabkan mengikuti
ketentuan dalam PSAK 46 tentang pajak penghasilan. Atas selisih revaluasi tidak
diakui dalam laba rugi tahun berjalan tetapi diakui dalam laba komprehensif,
maka konsekuensi pajaknya akan dimasukkan dalam komponen laba
komprehensif. Jika pajak atas revaluasi ini tidak dikenakan menurut peraturan
perpajakan maka konsekuensi pajaknya akan diakui sebagai aset atau liabiltas
pajak tangguhan. Sebagai contoh atas keuntungan revaluasi tanah akan diakui
debit beban pajak tangguhan atas surplus revaluasi dan kredit liabilitas pajak
tangguhan.
Aspek Perpajakan
Undang-Undang Pajak Penghasilan dalam pasal menyebutkan bahwa selisih lebih
penilaian kembali aktiva tetap merupakan obyek pajak. Ketentuan dalam UU PPh
ini dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor
79/PMK.03/2008. PSAK 16 tahun 1994 dan peraturan dalam PMK sejalan karena
pengaturan lebih detail dalam peraturan perpajakan menjadi aturan pelaksana
revaluasi aset tetap yang ada dalam standar akuntansi.
Revaluasi dilakukan oleh entitas yang telah memenuhi kewajiban perpajakan dan
tidak termasuk perusahaan yang diperbolehkan menggunakan pembukuan dengan
dollar dan pembukuan dalam bahasa Inggris. Entitas yang akan melakukan
revaluasi harus mengajukan permohonan kepada Direktorat Jendral Pajak dan atas
permohonan tersebut diterbitkan surat keputusan penilaian aktiva tetap
perusahaan.
Beberapa ketentuan umum revaluasi menurut aturan perpajakan dapat
diringkaskan berikut ini:
a. Revaluasi dilakukan atas seluruh aktiva tetap perusahaan termasuk tanah
dengan status hak milik atau hak guna bangunan.
b. Revaluasi dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar aktiva tetap
yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai yang
memperoleh izin dari Pemerintah. Jika hasil revaluasi tidak mencerminkan
keadaan yang sebenarnya dapat ditetapkan oleh DJP.
c. Selisih revaluasi dikenakan pajak final sebesar 10%.
d. Penilaian kembali aktiva tetap tidak dapat dilakukan sebelum lewat jangka
waktu lima tahun terhitung dari revaluasi terakhir.
e. Hasil revaluasi akan memperbaruhi nilai tercatat aset dan menjadi dasar
penyusutan fiskal.
f. Revaluasi yang tidak memperoleh persetujuan DJP untuk penilaian
kembali aktiva tetap, maka nilai revaluasi yang ditetapkan tidak dapat
digunakan sebagai dasar melakukan penyusutan fiskal.
g. Perusahaan yang menjual aset yang telah direvaluasi sebelum masa
penyusutan berakhir (kelompok 1 dan 2) atau sebelum 10 tahun dari
tanggal revaluasi (kelompok lainnya), maka akan dikenakan tambahan
pajak final sebesar selisih tarif terakhir dikurangi 10% (25% - 10% = 15%)
dikalikan dengan keuntungan revaluasi aset.
Ketentuan revaluasi menurut pajak tersebut telah 10 tahun digunakan sebagai
dasar pencatatan akuntansi. Entitas banyak melakukan revaluasi aset saat IPO,
restrukturisasi dan kuasi reorganisasi. Standar akuntansi mengakomodasi
ketentuan dalam perpajakan karena standar menyatakan “selama peraturan
pemerintah mengijinkan”. Entitas memiliki insentif untuk melakukan revaluasi
karena ada manfaat langsung yang dapat diperoleh berupa harga jual saham dan
nilai akuisisi yang lebih tinggi sehingga entitas memperoleh dana untuk
membayar pajak atas revaluasi dan jasa penilai.
Kesimpulan
Sampai saat ini pemerintah belum melakukan revisi atas ketentuan revaluasi
walaupun KMK dikeluarkan setelah PSAK 16 direvisi. Ketentuan dalam
perpajakan masih memandang revaluasi dilakukan sesekali bukan sebagai proses
penilaian yang dilakukan secara reguler. Jika revaluasi menurut akuntansi
dikenakan pajak final 10% maka dapat dipastikan entitas tidak ada yang memilih
metode revaluasi dalam menilai aset tetap.
Ketentuan pajak mengharuskan revaluasi dilakukan atas seluruh aset tetap yang
dimiliki oleh satu wajib pajak bukan satu kelompok aset suatu entitas seperti
dalam ketentuan dalam standar akuntansi. Akuntansi mengharuskan revaluasi
dilakukan secara reguler namun pajak justru melarang dilakukan revaluasi
sebelum lima tahun.
Namun kedua pengaturan revaluasi menggunakan dasar penilaian nilai wajar atau
nilai pasar yang ditetapkan oleh penilai independen. Bagi entitas revaluasi akan
menimbulkan dua biaya besar yaitu biaya jasa penilai dan pajak final yang
dibayarkan pada saat revaluasi dilakukan. Sedangkan menurut akuntansi selisih
penilaian tersebut tidak diakui dalam laba rugi tetapi sebagai komponen ekuitas
pada akun laba rugi komprehensif.
Jika peraturan perpajakan tidak dirubah, maka entitas dapat juga menerapkan
model revaluasi tanpa mengikuti peraturan perpajakan, karena tujuannya hanya
untuk penilaian di akuntansi. Pemerintah tidak memiliki hak untuk menarik pajak
10% dengan alasan revaluasi tersebut tidak dilakukan tanpa surat permohonan ke
DJP dan nilai revaluasi tidak dijadikan dasar menghitung penyusutan fiskal.
Perbedan nilai aset tetap antara akuntansi dan pajak akan dipertanggungjawabkan
secara akuntansi sesuai ketentuan PSAK 46 sebagai pajak tangguhan. Namun ada
kemungkinan pihak pajak yang tidak memahami akuntansi akan menganggap
hasil revaluasi sebagai obyek pajak, sehingga akan mengenakan pajak final, pada
saat membaca laporan keuangan nilai aset tetap entitas meningkat.
Jika entitas berpegang pada aturan dalam standar akuntansi, maka secara otomatis
tidak akan ada perusahaan yang akan melakukan revaluasi menurut ketentuan
perpajakan dan di sisi lain perusahaan juga akan jarang memilih menggunakan
metode revaluasi. Praktik revaluasi yang hanya dilakukan sesekali menyalahi
standar akuntansi sehingga ketentuan pajak sulit diterapkan. Jika perusahaan akan
melakukan revalusi menurut ketentuan akuntansi dan pajak menganggap itu
sebagai revaluasi yang diijinkan maka entitas akan keberatan membayar pajak
final 10%, maka entitas tidak akan ada yang melakukan revaluasi karena biaya
pajak dan jasa penilai tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
Walaupun konsep revaluasi akan membuat laporan keuangan lebih relevan dalam
pengambilan keputusan, namun dalam pratik masih sulit untuk dilakukan.
Penyajian nilai wajar aset tetap dengan memindahkan biaya penilaian aset kepada
entitas penyusun dirasakan masih sangat mahal, sehingga lebih baik
mekanismenya seperti praktik yang sekarang ini ada. Jika pengguna informasi
membutuhkan informasi nilai wajar aset, cukuplah pengguna tersebut yang
menyewa jasa penilai untuk melakukan apraisal namun informasi tersebut untuk
keperluan internal pengguna. Dalam praktik entitas tetap akan memilih
menggunakan metode biaya dalam mencatat aset tetapnya. Kesulitan akan muncul
saat perusahaan melakukan IPO dan menginginkan posisi keuangannya
mencerminkan kondisi perusahaan, mungkin teknik penggabungan usaha dan
aukisisi dapat digunakan sebagai alternatifnya.