Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT PADA


KELUARGA Tn. X DENGAN FOKUS UTAMA Tn. X YANG MENDERITA
TB PARU DI DESA BANJARSARI KECAMATAN SOKARAJA
KABUPATEN BANYUMAS

KTI
Disusun untuk memenuhi syarat mata kuliah Tugas Akhir
Pada Program Studi D III Keperawatan Purwokerto

Oleh :
Nida Fauziyah Noor
P 17420213107

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO


JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang di sebabkan
Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru – paru dan hampir
seluruh organ tubuh lainnya. Bakteri ini dapat masuk melalui saluran
pernapasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Tetapi paling
banyak melalui inhalasi droplet yang berasal dari orang yang terinfeksi.
(Sylvia dalam Amin, 2015)
World Health Organization dalam report of Global TB Control
(2011), saat ini Indonesia menempati urutan ke 9 di antara 27 negara yang
mempunyai beban tinggi untuk MDR TB, sedikitnya telah ditemukan 8
kasus XDR-TB (Extensively Drug Resistan) di Indonesia. Tahun 2011,
Indonesia telah mencapai angka penemuan kasus 82.69 % (melebihi target
global 70%). Selain itu, angka keberhasilan pengobatan sebesar 90.29%,
bila dibandingkan dengan target RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional) untuk angka keberhasilan pengobatan di tahun 2011
adalah sebesar 86%.
Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium
tuberculosis ini pun tinggi. Tahun 2009, 1,7 juta orang meninggal karena
TB (600.000 diantaranya perempuan) sementara ada 9,4 juta kasus baru
TB (3,3 juta diantaranya perempuan). Sepertiga dari populasi dunia sudah
tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia
produktif (15-55 tahun). (Depkes, 2011)
Berdasarkan data evaluasi kesembuhan TB tahun 2010 sampai
dengan 2013 di Jawa Tengah didapat bahwa factor risiko terjadinya TB-
MDR (Multi Drug Resistan) ada 5.779 kasus berasal dari kasus
ketidakpatuhan dan gagal pengobatan pada pengobatan katagori pertama
dan katagori ke dua. Suspek TB- MDR terdeteksi sejumlah 702 kasus dan
hasilnya 151 kasus sudah terdeteksi confirm TB – MDR sehingga proporsi
confirm TB – MDR 21, 51%. Dari 151 kasus confirm TB – MDR ternyata
kabupaten Banyumas menempati urutan ke enam dari seluruh kabupaten
kota di provinsi Jawa Tengah.
Ketidakpatuhan dalam pengobatan merupakan salah satu factor
terjadinya TB. Ketidakpatuhan adalah perilaku individu dan atau pemberi
asuhan yang tidak sesuai dengan rencana promosi kesehatan atau
terapeutik yang ditetapkan oleh individu, keluarga atau komunitas serta
pelayanan kesehatan professional. (Wilkinson & ahern, 2011)
Kepatuhan menjalani pengobatan secara teratur selama enam bulan
dan rutin meminum obat merupakan kunci keberhasilan penyembuhan
pasien TB. Akan teapi pengobatan yang berlangsung relatif lama (enam
sampai delapan bulan) menjadi penyebab penderita TB sulit sembuh
karena penderita TB berhenti berobat (drop out) setelah merasa sehat
meski proses pengobatan belum selesai, hal inilah yang menyebabkan TB
ini menjadi Tuberkulosis Multi Drug Resistant (TB-MDR) yang kebal
terhadap bermacam obat. Oleh karena itu penulis ingin melaporkan
pengelolaan keperawatan tentang kepatuhan minum obat pada penderita
TB di desa Banjarsari Sokaraja.

B. TUJUAN PENULISAN
Dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini, penulis mempunyai tujuan
diantaranya adalah :
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk melaporkan
Pengelolaan Keperawatan Ketidakpatuhan Minum Obat Pada Keluarga
Tn. X Dengan Fokus Utama Tn. X Yang Menderita Tb Paru Di Desa
Banjarsari Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
2. Tujuan Khusus
a. Menggambarkan :
1) Pengkajian ketidakpatuhan pada Tn. X dengan TB paru
2) Masalah keperawatan yang ditemukan pada Tn. X dengan TB
paru
3) Perencanaan keperawatan untuk mengatasi masalah yang
ditemukan, terutama diagnosa ketidakpatuhan
4) Tindakan yang dilakukan untuk memecahkan masalah
5) Penilaian keberhasilan dari tindakan keperawatan yang telah
dilakukan
b. Membahas kesenjangan yang ditemukan pada Pengelolaan
Keperawatan Ketidakpatuhan Minum Obat Pada Keluarga Tn. X
Dengan Fokus Utama Tn. X Yang Menderita Tb Paru Di Desa
Banjarsari Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.

C. MANFAAT
Hasil laporan karya tulisan ini diharapkan dapat memberikan
manfaat praktis dalam dunia keperawatan, khususnya keperawatan
keluarga dan komunitas, yaitu sebagai panduan perawat dalam pengelolaan
keperawatan ketidakpatuhan minum obat pada penderita TB paru. Selain
itu juga diharapkan menjadi informasi bagi tenaga kesehatan lain seperti
kader – kader di desa, kader TB, bidan, dokter, dan lain- lain.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Tuberculosis


1. Pengertian Tuberculosis
Tuberculosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan
Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan hampir
seluruh organ tubuh lainnya. Bakteri ini dapat masuk melalui saluran
pernapasan dan saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Tetapi
paling banyak melalui inhalasi droplet yang berasal dari orang yang
terinfeksi bakteri tersebut. ( Sylvia A. Price dalam Amin, Hardi, 2015)
Menurut Mansjoer (1999 cit Padila, 2013) tuberculosis adalah
penyakit infeksi yang di sebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis
dengan gejala yang sangat bervariasi.
Tuberculosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang
parenkim paru – paru yang di sebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosis. Penyakit ini dapat juga menyebar ke bagian tubuh lain
seperti meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe. (Somantri, Irman,
2007)

2. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis. Bakteri atau kuman ini berbentuk batang, dengan ukuran
panjang 1-4 µm dan tebal 0,3-0,6 µm. Sebagian besar kuman berupa
lemak/ lipid, sehingga kuman tahan terhadap asam dan lebih tahan
terdapat kimia atau fisik. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang
menyukai daerah dengan banyak oksigen, dan daerah yang memiliki
kandungan oksigen tinggi yaitu apical/ apeks paru. Daerah ini menjadi
predileksi pada penyakit tuberculosis. ( Somantri, Irman, 2009 )

3. Patofisiologi Tuberculosis
Seseorang yang di cumpuk dan berkembang biak. Penyebaran
basil ini bisa juga mengalami curigai menghirup basil Mycobacterium
tuberculosis akan menjadi terinfeksi. Bakteri menyebar melalui jalan
napas ke alveoli, di mana pada daerah tersebut bakteri bertumpuk dan
berkembang biak. Penyebaran basil ini bisa juga melalui system limfe
dan aliran darah ke bagian tubuh lain (ginjal, tulang, korteks serebri)
dan area lain dari paru – paru (lobus atas)
Sistem kekebalan tubuh berespon dengan melakukan reaksi
inflamasi. Neutrofil dan makrofag memfagositosis (menelan) bakteri.
Limfosit yang spesifik terhadap tuberculosis menghancurkan
(melisiskan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini
mengakibatkan terakumulasinya eksudat dalam alveoli dan terjadilah
bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2010
minggu setelah terpapar.
Masa jaringan baru di sebut granuloma, yang berisi gumpalan
basil yang hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang
membentuk dinding. Granuloma berubah bentuk menjadi massa
jaringan fibrosa. Bagian tengah dari massa tersebut disebut Ghom
Tubercle, Materi yang terdiri atas makrofag dan bakteri menjadi
nekrotik, membentuk perkejuan (necrotizing caseosa). Setelah itu
akan terbentuk kalsifikasi, membentuk jaringan kolagen. Bakteri
menjadi non aktif.
Penyakit akan berkembang menjadi aktif setelah infeksi awal, karena
repons system imun yang tidak adekuat. Penyakit aktif dapat juga
timbul akibat infeksi ulang atau akhirnya kembali menjadi bakteri
yang tidak aktif. Pada kasus ini, terjadi ulserasi pada ghon tubercle,
dan akhirnya menjadi perkejuan. Tuberculosis yang ulserasi
mengalami proses penyembuhan membentuk jaringan parut. Paru –
paru yang terinfeksi kemudian meradang, mengakibatkan
bronkopneumonia, pembentukan tuberkel, dan seterusnya. Pneumonia
seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya. Proses ini berjalan terus
dan basil terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga
menyebar melalui kelenjar getah bening. Makrofag yang mengadakan
infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian baersatu membentuuk
sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan 10-
20 hari). Daerah yang mengalami nekrosis serta jaringan granulasi
yang dikelilingi sel epiteloid dan fibroblast akan menimbulkan
respons berbeda dan akhirnya membentuk suatu kapsul yang
dikelilingi oleh tuberkel. (Somantri, Irman, 2009)

4. Klasifikasi Tuberculosis
Menurut American Thoracic Society (1974 cit Padila, 2013)
klasifikasi tuberculosis di bagi menjadi :
a. Kategori 0 :
1) Tidak pernah terpapar / terinfeksi
2) Riwayat kontak negative
3) Tes Tuberkulin
b. Kategori I :
1) Terpapar TB tapi tidak terbukti ada infeksi
2) Riwayat / kontak negative
3) Tes tuberculin negative
c. Kategori II :
1) Terinfeksi TB tapi tidak sakit
2) Tes tuberekulin positif
3) Radiologis dan sputum negative
d. Kategori III :
1) Terinfeksi dan sputum positif

Sedangkan menurut Depkes (2000 cit Padila, 2013) klasifikasi


Tuberculosis antara lain :
a. Kategori I :
Paduan obat 2HRZE/ 4H3R3 atau 2HRZE/ 4HR atau 2HRZE/

6HE. Obat tersebut di berikan pada pada penderita baru Y + TB

paru BTA positif, penderita TB paru BTA negative. Roentgen


positif yang sakit berat dan penderita TB ekstra paru berat.
b. Kategori II :
Paduan obat 2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3. Obat ini di berikan
untuk penderita kambuh (relaps), penderita gagal (failure) dan
penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)
c. Katogeri III :
Paduan obat 2HRZ/ 4H3R3. Obat ini diberikan untuk penderita
BTA negative fan roentgen positif sakit ringan, penderita ekstra
paru ringan yaitu TB kelenjar limfe(limfadenitis), leuritis
eksudativa uiteral, TB kulit, TB tulang ( kecuali tulang
belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
Adapun tambahan dari pengobatan pasienTB obat sisipan yaitu
diberikan bila pada akhir tahap intensif dari suatu pengobatan dengan
kategori I atau II, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif,
diberikan obat sisipan (HRZE) setiap hari selama sebulan.

5. Gejala Klinis
Menurut Mansjoer (1999 cit Padila, 2013) gejala umum TB paru
adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise,
gejala flu, demam ringan , nyeri dada, batuk darah.
Sedangkan menurut Amin & bahar (2014) gejala- gejala klinis
yang dirasakanh pasien tuberculosis dapat bermacam-macam atau
malah banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali
dalam pemeriksaan kesehatan. Keluhan yang terbanyak adalah
a. Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi
kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40-410C.
Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi
kemudian dapat timbul kembali. Begitulah seterusnya hilang
timbul demam influenza ini, sehingga pasien merasa tidak
pernah terbebas dari serangan demam influenza. Keadaan ini
sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat
ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
b. Batuk/ batuk berdarah
Gejala ini banyak ditemukan, batuk terjadi karena adanya
iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang
produk – produk radang keluar. Karena terlibatnya bronkus
pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada
setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni
setelah berminggu – minggu atau berbulan – bulan peradangan
bermula. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non- produktif)
kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif
(menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa
batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah.
Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi pada
kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
c. Sesak Napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan
sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang
sudah lanjut, yang yang infiltrasinya sudah meliputi setengah
bagian paru – paru
d. Nyeri Dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila
infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga
menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu
pasien menarik/ melepaskan napasnya.
e. Malaise
Penyakit tuberculosis bersifat radang yang menahun. Gejala
malaise sering ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu
makan, badan makin kurus (berat badan turun), sakit kepala,
meriang, nyeri otot, keringat malam, dan lain-lain. Gejala
malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul
secara tidak teratur.
6. Penatalaknsanaan
Penatalaksanaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) harus diberikan
dalam bentuk kombinasi, sedikitnya ada dua obat yang bersifat
bakterisida dengan atau tanpa obat yang lain. (Mansjoer, 2000 cit
Padila, 2013)
Pengobatan TB ada 2 tahap menurut Depkes (2000 cit Padia,
2013) yaitu :
a)Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung
untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap rifampisisn. Bila
saat tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita
menular menjadi tidakl menular dalam ukuran 2 minggu.
Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi negative
(konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat
dalam tahap intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya
kekebalan obat.
b)Tahap Lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu
lebih panjang dan jenis obat lebih sedikit untukk mencegah
terjadinya kekambuhan. Tahap lanjutan penting untuk
membunuh kuman persisten (dormant) sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan.
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang biasa digunakan yaitu Depkes
(2001) :
a) Rifampisin ( R ), di berikan dengan dosis 10-15
mg/KgBB/hari/oral, setiap sekali sehari. Pada saat lambung
kosong, diberikan selama 6-9 bulan.
b) Isoniazid ( INH ) dengan dosis 10 – 20 mh/KgBB/hari/oral,
diberikan selama 18-24 bulan, bekerja bakterisidal terhadap
basil yang berkembang aktif ekstraseluler dan basil di dalam
makrofag.
c) Streptomisin diberikan secara intramuscular ( IM ) dengan
dosis 30-50 mg/KgBB/hari, maksimum 750 mg/ hari.
Streptomisin bekerja bakterisida hanya terdapat basil yang
tumbuh aktif ekstraseluler. Diberikan setiap hari selama 1-3
bulan, dilanjutkan 2-3 kali seminggu selama 1-3 bulan lagi.
d) Pirazinamid dengan dosis 30-35 mg/KgBB/hari/oral, diberikan
2 kali sehari selama 4-6 bulan. Bekerja bakterisidal tyerhadap
basil intraseluler.
e) Etambutol (belum jelas apakah bakterisida atau bakterostatik),
diberikan 1 kali sehari selama 1 tahun, dengan dosis 20
mg/KgBB/hari/oral pada waktu lambung kososng sekali.
f) Kortikosteroid, dengan sifat imunosupresif diberikan bersama-
sama dengan Obat Anti Tuberculosis (OAT), dalam bentuk
kortison diberikan dengan dosis 10-15 mg/KgBB/hari
g) Selain Obat Anti Tuberculosis (OAT) diatas, juga terdapat obat
lain, seperti : PAS (Para Amino Salisilat) sebagai bakterostatik,
diberikan dengan dosis 200-300 mg/KgBB/hari/oral 2-3 kali
sehari. Obat ini jarang dipakai karena dosisnya yang tinggi.
Di Indonesia paduan Obat Anti Tuberculosis (OAT) yang
disediakan oleh pemerintah ada 4 jenis, yaitu :
a. Kategori I
Panduan ini terdiri atas 2 bulan fase awal intensif dengan
meminum HRZE (Isoniazoid, Pirazinamid, Rifamicin,
Etambutamol) setiap hari dan fase lanjutan selama 4 bulan
dengan HR 3 kali seminggu. Kategori I diberikan untuk :
1) Penderita baru Basil Tahan Asam ( BTA ) positif
2) Penderita baru BTA negative
b. Kategori II
Panduan ini terdiri atas 2 bulan fase awal intensif dengan
HRZE diminum setiap hari dan setiap habis minum obat diberi
suntikan streptomycin di puskesmas terdekat, kemudian 1 bulan
lagi dengan HRZE diminum setiap hari tanpa suntikan dan
dilanjutkan dengan fase intermitten selama 5 bulan dengan
HRZE (Isonizoid, Rifamicin, Pirazinamid, Etambutamol) 3 kali
seminggu. Kategori II diberikan pada :
1) Penderita kambuh (relaps) BTA positif
2) Gagal BTA positif
c. Kategori III
Panduan obat ini terjadi atas 2 bulan fase awal intensif
dengan HRZ ( Isoniazid, Rifamicin, Pirazinamid ) diminum
setiap hari, kemudian diteruskan dengan fase lanjutan selama 4
bulan dengan HR (Isoniazid, Rifamicin) diminum 3 kali
seminggu. Kategori III diberikan untuk :
1) Penderita baru BTA negative dan rontgen positif
2) Penderita denjgan ekstra paru ringan
d. Kategori IV
Berupa obat sisipan HRZE (Isoniazid, Pirazinamid,
Rifamicin, Etambutamol) diberikan setiap hariu selama 1 bulan
bila pengobatan kategori I dan II pada fase awal BTA masih
positif.

B. Konsep Dasar Ketidakpatuhan


Menurut Wilkinson, Judith (2007, p.
Menurut Wilkinson dan ahern (2011, p. 496-503) Definisi ketidakpatuhan
adalah perilaku individu dan / pemberi asuhan yang tidak sesuai dengan
rencana promosi kesehatan atau terapeutik yang ditetapkan oleh individu,
keluarga atau komunitas serta pelayanan kesehatan professional. Perilaku
pemberi asuhan atau individu yang tidak mematuhi ketetapan, rencana
promosi kesehatan atau terapeutik secara keseluruhan atau sebagian dapat
menyebabkan hasil akhir yang tidak efektif secara klinis atau sebagian
tidak efektif. Batasan karakterisitik dari ketidakpatuhan adalah perilaku
yang menunjukan individu gagal memenuhi ketetapan, terjadi
perkembangan komplikasi dari kondisi yang di alami, terdapat perburukan
gejala, gagal mempertahankan janji untuk kunjungan klinis, gagal
mengalami perkembangan kesehatan, uji objektif ( missal tindakan
fisiologis, deteksi penanda fisiologis)
Faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan diantaranya :
a. Sistem Kesehatan : akses terhadap perawatan, ketrampilan
komunikasi penyedia layanan kesehatan, kenyamanan asuhan,
kredibilitas penyedia layanan kesehatan, hambatan hubungan
klien/ penyedia layanan kesehatan, cakupan/ asuransi layanan
kesehatan individu, kesinambungan penyedia layanan
kesehatan secara teratur, penggantian pembayaran/ penyedia
layanan kesehatan, kepuasaan terhadap asuhan/ perawatan,
ketrampilan penyuluhan dari penyedia layanan kesehatan.
b. Rencana pelayanan kesehatan : kompleksitas, biaya, durasi,
fleksibilitas secara finansial, intensitas.
c. Individual : Pengaruh kebudayaan, kemampuan perkembangan,
keyakinan kesehatan, system nilai individu, pengetahuan yang
relevan mengenai perilaku regimen, dorongan motivasi,
kemampuan personal, orang yang dianggap penting,
ketrampilan yang relevan dengan perilaku regimen, nilai
spiritual.
d. Jaringan : Keterlibatan anggota dalam rencana kesehatan,
persepsi individu.