Anda di halaman 1dari 15

Telah disetujui/diterima Pembimbing

Hari/Tanggal :

Tanda Tangan :

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH KONTEKS INDIVIDU

PROGRAM PROFESI NERS

Asuhan Keperawatan pada pasien Peri Operatif Tanggal 21 Oktober 2019


di Ruang Operasi Rumah Sakit Umum Daerah
Embung Fatimah Kota Batam

LAPORAN PENDAHULUAN

OLEH :

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PENDIDIKAN PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA BUNDA PERSADA BATAM

TAHUN AJARAN 2019/2020

A. Konsep Dasar Keperawatan Perioperatif


1. Defenisi

Keperawatan Perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk


menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman
pembedahan pasien . Kata perioperatif adalah gabungan dari tiga fase pengalaman
pembedahan yaitu : pre operatif, intra operatif dan post operatif.

2. Tahap dalam Keperawatan Perioperatif

a. Fase Pre operatif

Fase pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif


yang dimulai ketika pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan
berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan
pembedahan.

Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut


dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun
rumah, wawancara pre operatif dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang
diberikan pada saat pembedahan. Persiapan pembedahan dapat dibagi menjadi
2 bagian, yang meliputi persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan
persiapan fisiologi (khusus pasien).

1) Persiapan Psikologi

Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya


tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena takut akan perasaan sakit,
narcosa atau hasilnya dan keeadaan sosial ekonomi dari keluarga. Maka
hal ini dapat diatasi dengan memberikan penyuluhan untuk mengurangi
kecemasan pasien. Meliputi penjelasan tentang peristiwa operasi,
pemeriksaan sebelum operasi (alasan persiapan), alat khusus yang
diperlukan, pengiriman ke ruang bedah, ruang pemulihan, kemungkinan
pengobatan-pengobatan setelah operasi, bernafas dalam dan latihan
batuk, latihan kaki, mobilitas dan membantu kenyamanan.

2) Persiapan Fisiologi, meliputi :


a) Diet (puasa) : Pada operasi dengan anaesthesi umum, 8 jam
menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam
sebelum operasi pasien tidak diperbolehkan minum. Pada
operasai dengan anaesthesi lokal /spinal anaesthesi makanan
ringan diperbolehkan. Tujuannya supaya tidak aspirasi pada saat
pembedahan, mengotori meja operasi dan mengganggu jalannya
operasi.

b) Persiapan Perut : Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi


dilakukan pada bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah
periferal. Tujuannya mencegah cidera kolon, mencegah
konstipasi dan mencegah infeksi.

c) Persiapan Kulit : Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari


rambuy

d) Hasil Pemeriksaan : hasil laboratorium, foto roentgen, ECG,


USG dan lain-lain.

e) Persetujuan Operasi / Informed Consent Izin tertulis dari pasien /


keluarga harus tersedia.

b. Fase Intra operatif

Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindahkan ke


instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.
Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup pemasangan IV cath,
pemberian medikasi intaravena, melakukan pemantauan kondisi fisiologis
menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan
pasien. Contoh : memberikan dukungan psikologis selama induksi anestesi,
bertindak sebagai perawat scrub, atau membantu mengatur posisi pasien di
atas meja operasi dengan menggunakan prinsip - prinsip dasar kesimetrisan
tubuh.

Prinsip tindakan keperawatan selama pelaksanaan operasi


yaitu pengaturan posisi karena posisi yang diberikan perawat akan
mempengaruhi rasa nyaman pasien dan keadaan psikologis pasien. Faktor
yang penting untuk diperhatikan dalam pengaturan posisi pasien adalah :

1) Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.

2) Umur dan ukuran tubuh pasien.

3) Tipe anaesthesia yang digunakan.

4) Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).

Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien : Atur posisi pasien


dalam posisi yang nyaman dan sedapat mungkin jaga privasi pasien, buka area
yang akan dibedah dan kakinya ditutup dengan duk. Anggota tim asuhan
pasien intra operatif biasanya di bagi dalam dua bagian. Berdasarkan kategori
kecil terdiri dari anggota steril dan tidak steril :

1) Anggota steril, terdiri dari : ahli bedah utama / operator, asisten ahli
bedah, Scrub Nurse / Perawat Instrumen

2) Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari : ahli atau pelaksana
anaesthesi, perawat sirkulasi dan anggota lain (teknisi yang
mengoperasikan alat-alat pemantau yang rumit).

c. Fase Post operatif

Fase Post operatif merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre


operatif dan intra operatif yang dimulai ketika klien diterima di ruang
pemulihan (recovery room)/ pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi
tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah.

Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup rentang aktivitas


yang luas selama periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek
agen anestesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas
keperawatan kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan
melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting
untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan ke rumah.
Fase post operatif meliputi beberapa tahapan, diantaranya adalah :

1) Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca anastesi


(recovery room)

Pemindahan ini memerlukan pertimbangan khusus diantaranya


adalah letak insisi bedah, perubahan vaskuler dan pemajanan. Pasien
diposisikan sehingga ia tidak berbaring pada posisi yang menyumbat
drain dan selang drainase. Selama perjalanan transportasi dari kamar
operasi ke ruang pemulihan pasien diselimuti, jaga keamanan dan
kenyamanan pasien dengan diberikan pengikatan diatas lutut dan siku
serta side rail harus dipasang untuk mencegah terjadi resiko injury.
Proses transportasi ini merupakan tanggung jawab perawat sirkuler dan
perawat anastesi dengan koordinasi dari dokter anastesi yang
bertanggung jawab.

2) Perawatan post anastesi di ruang pemulihan atau unit perawatan pasca


anastesi

Setelah selesai tindakan pembedahan, pasien harus dirawat sementara


di ruang pulih sadar (recovery room : RR) atau unit perawatan pasca
anastesi (PACU: post anasthesia care unit) sampai kondisi pasien
stabil, tidak mengalami komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk
dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal perawatan).

PACU atau RR biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi.


Hal ini disebabkan untuk mempermudah akses bagi pasien untuk :

a) perawat yang disiapkan dalam merawat pasca operatif (perawat


anastesi)

b) ahli anastesi dan ahli bedah

c) alat monitoring dan peralatan khusus penunjang lainnya.


3. Anastesi

a) Pengertian

Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit


ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang menimbulkan
rasa sakit, dalam hal ini rasa takut perlu ikut dihilangkan untuk menciptakan
kondisi optimal bagi pelaksanaan pembedahan (Sabiston, 2011).

b) Macam-macam anestesi

1) General Anestesi

General anestesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit


secara sentral disertai hilangnya kesadaran (reversible). Tindakan
general anestesi terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan
adalah general anestesi denggan teknik intravena anestesi dan general
anestesi dengan inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan
dengan teknik intubasi yaitu pemasangan endotrecheal tube atau
gabungan keduanya inhalasi dan intravena (Latief, 2007).

 Teknik General Anestesi

General anestesi menurut Mangku dan


Senapathi (2010), dapat dilakukan dengan 3 teknik,
yaitu:

 General Anestesi Intravena

Teknik general anestesi yang dilakukan dengan


jalan menyuntikkan obat anestesi parenteral
langsung ke dalam pembuluh darah vena.

 General Anestesi Inhalasi

Teknik general anestesi yang dilakukan dengan


jalan memberikan kombinasi obat anestesi inhalasi
yang berupa gas dan atau cairan yang mudah
menguap melalui alat atau mesin anestesi langsung
ke udara inspirasi.

2) Anestesi Imbang

Merupakan teknik anestesi dengan mempergunakan kombinasi


obat-obatan baik obat anestesi intravena maupun obat anestesi
inhalasi atau kombinasi teknik general anestesi dengan analgesia
regional untuk mencapai trias anestesi secara optimal dan berimbang,
yaitu:

 Efek hipnosis, diperoleh dengan mempergunakan obat hipnotikum


atau obat anestesi umum yang lain.

 Efek analgesia, diperoleh dengan mempergunakan obat analgetik


opiat atau obat general anestesi atau dengan cara analgesia
regional.

 Efek relaksasi, diperoleh dengan mempergunakan obat pelumpuh


otot atau general anestesi, atau dengan cara analgesia regional.

3) Obat-obat General Anestesi

Pada tindakan general anestesi terdapat beberapa teknik yang


dapat dilakukan adalah general anestesi dengan teknik intravena
anestesi dan general anestesi dengan inhalasi, berikut obat-obat yang
dapat digunakan pada kedua teknik tersebut.

Tabel 1. Obat–obat General Anestesi

Obat-obat Anestesi Intravena Obat-obat Anestesi


Inhalasi
1)Atropine Sulfat 1) Nitrous Oxide
2)Pethidin 2) Halotan
3)Atrakurium 3) Enfluren
4)Ketamine HCL 4) Isofluran
5)Midazolam 5) Sevofluran
6)Fentanyl
7)Rokuronium bromide
8)Prostigmin
Sumber: Omoigui, 2009
4. Klasifikasi Perawatan Perioperatif

Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka tindakan pembedahan


dapat diklasifikasikan menjadi 5 tingkatan, yaitu :

a. Kedaruratan/Emergency : Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan


mungkin mengancam jiwa. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa di tunda.
Contoh : perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang
tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sanagat luas.

b. Urgen : Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat dilakukan


dalam 24-30 jam. Contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu
pada uretra.

c. Diperlukan : Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat


direncanakan dalam beberapa minggu atau bulan. Contoh : Hiperplasia
prostat tanpa obstruksi kandung kemih. Gangguan tyroid, katarak.

d. Elektif : Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi pembedahan, bila


tidak dilakukan pembedahan maka tidak terlalu membahayakan. Contoh :
perbaikan Scar, hernia sederhana, perbaikan vaginal.

e. Pilihan : Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya


pada pasien. Indikasi pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya
terkait dengan estetika. Contoh : bedah kosmetik.

Sedangkan menurut faktor resikonya, tindakan pembedahan di bagi menjadi :

a. Minor : Menimbulkan trauma fisik yang minimal dengan resiko kerusakan


yang minim. Contoh : incisi dan drainage kandung kemih, sirkumsisi

b. Mayor : Menimbulkan trauma fisik yang luas, resiko kematian sangat serius.
Contoh : Total abdominal histerektomi, reseksi colon, dan lain-lain.
5. Komplikasi Post Operatif dan Penatalaksanaanya

a. Syok

Syok yang terjadi pada pasien bedah biasanya berupa syok


hipovolemik. Tanda-tanda syok adalah : Pucat , Kulit dingin, basah,
Pernafasan cepat, Sianosis pada bibir, gusi dan lidah, Nadi cepat, lemah dan
bergetar , Penurunan tekanan darah, Urine pekat.

Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah kolaborasi dengan


dokter terkait dengan pengobatan yang dilakukan seperti terapi obat, terapi
pernafasan, memberikan dukungan psikologis, pembatasan penggunaan
energi, memantau reaksi pasien terhadap pengobatan, dan peningkatan
periode istirahat.

b. Perdarahan

Penatalaksanaannya pasien diberikan posisi terlentang dengan posisi


tungkai kaki membentuk sudut 20 derajat dari tempat tidur sementara lutut
harus dijag tetap lurus. Kaji penyebab perdarahan, Luka bedah harus selalu
diinspeksi terhadap perdarahan.

c. Trombosis vena profunda

Trombosis vena profunda adalah trombosis yang terjadi pada


pembuluh darah vena bagian dalam. Komplikasi serius yang bisa ditimbulkan
adalah embolisme pulmonari dan sindrom pasca flebitis.

d. Retensi urin

Retensi urine paling sering terjadi pada kasus-kasus pembedahan


rektum, anus dan vagina. Penyebabnya adalah adanya spasme spinkter
kandung kemih. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah
pemasangan kateter untuk membatu mengeluarkan urine dari kandung
kemih.

e. Infeksi luka operasi (dehisiensi, evicerasi, fistula, nekrose, abses)


Infeksi luka post operasi dapat terjadi karena adanya kontaminasi luka
operasi pada saat operasi maupun pada saat perawatan di ruang perawatan.
Pencegahan infeksi penting dilakukan dengan pemberian antibiotik sesuai
indikasi dan juga perawatan luka dengan prinsip steril.

f. Sepsis

Sepsis merupakan komplikasi serius akibat infeksi dimana kuman


berkembang biak. Sepsis dapat menyebabkan kematian karena dapat
menyebabkan kegagalan multi organ.

g. Embolisme Pulmonal

Embolsime dapat terjadi karena benda asing (bekuan darah, udara dan
lemak) yang terlepas dari tempat asalnya terbawa di sepanjang aliran darah.
Embolus ini bisa menyumbat arteri pulmonal yang akan mengakibatkan
pasien merasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dan sesak nafas, cemas dan
sianosis. Intervensi keperawatan seperti ambulatori pasca operatif dini dapat
mengurangi resiko embolus pulmonal.

h. Komplikasi Gastrointestinal

Komplikasi pada gastrointestinal sering terjadi pada pasien yang


mengalami pembedahan abdomen dan pelvis. Komplikasinya meliputi
obstruksi intestinal, nyeri dan distensi abdomen.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Pengkajian fase Pre Operatif

1) Pengkajian Psikologis : meliputi perasaan takut / cemas dan keadaan emosi


pasien

2) Pengkajian Fisik : pengkajian tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi,


pernafasan dan suhu.
3) Sistem integument : apakah pasien pucat, sianosis dan adakah penyakit kulit
di area badan.

4) Sistem Kardiovaskuler : apakah ada gangguan pada sisitem cardio, validasi


apakah pasien menderita penyakit jantung ?, kebiasaan minum obat jantung
sebelum operasi., Kebiasaan merokok, minum alcohol, Oedema, Irama dan
frekuensi jantung.

5) Sistem pernafasan : Apakah pasien bernafas teratur dan batuk secara tiba-
tiba di kamar operasi.

6) Sistem gastrointestinal : apakah pasien diare ?

7) Sistem reproduksi : apakah pasien wanita mengalami menstruasi ?

8) Sistem saraf : bagaimana kesadaran ?

9) Validasi persiapan fisik pasien : apakah pasien puasa, lavement, kapter,


perhiasan, Make up, Scheren, pakaian pasien / perlengkapan operasi dan
validasi apakah pasien alaergi terhadap obat ?

b. Pengkajian fase Intra Operatif

Hal-hal yang dikaji selama dilaksanakannya operasi bagi pasien yang diberi
anaesthesi total adalah yang bersifat fisik saja, sedangkan pada pasien yang diberi
anaesthesi lokal ditambah dengan pengkajian psikososial. Secara garis besar yang
perlu dikaji adalah :

1) Pengkajian mental : Bila pasien diberi anaesthesi lokal dan pasien masih
sadar / terjaga maka sebaiknya perawat menjelaskan prosedur yang sedang
dilakukan terhadapnya dan memberi dukungan agar pasien tidak
cemas/takut menghadapi prosedur tersebut.

2) Pengkajian fisik : Tanda-tanda vital (bila terjadi ketidaknormalan maka


perawat harus memberitahukan ketidaknormalan tersebut kepada ahli
bedah).

3) Transfusi dan infuse : Monitor flabot sudah habis apa belum.


4) Pengeluaran urin : Normalnya pasien akan mengeluarkan urin sebanyak 1
cc/kg BB/jam.

c. Pengkajian fase Post Operatif

1) Status respirasi : Meliputi : kebersihan jalan nafas, kedalaman pernafasaan,


kecepatan dan sifat pernafasan dan bunyi nafas.

2) Status sirkulatori : Meliputi : nadi, tekanan darah, suhu dan warna kulit.

3) Status neurologis : Meliputi tingkat kesadaran.

4) Balutan Meliputi : keadaan drain dan terdapat pipa yang harus disambung
dengan sistem drainage.

5) Kenyamanan Meliputi : terdapat nyeri, mual dan muntah

6) Keselamatan Meliputi : diperlukan penghalang samping tempat tidur, kabel


panggil yang mudah dijangkau dan alat pemantau dipasang dan dapat
berfungsi.

7) Perawatan Meliputi : cairan infus, kecepatan, jumlah cairan, kelancaran


cairan. Sistem drainage : bentuk kelancaran pipa, hubungan dengan alat
penampung, sifat dan jumlah drainage.

8) Nyeri Meliputi : waktu, tempat, frekuensi, kualitas dan faktor yang


memperberat / memperingan.

2. Asuhan Keperawatan Perioperatif

NO. NANDA NOC NIC

1. Pre Operatif Tujuan : cemas dapat Penurunan kecemasan


terkontrol.
Cemas b.d krisis · Bina hubungan saling percaya dengan klien
situasional Kriteria hasil : / keluarga
Operasi
· Secara verbal dapat · Kaji tingkat kecemasan klien.
mendemonstrasikan
· Tenangkan klien dan dengarkan keluhan
teknik menurunkan klien dengan atensi
cemas.
· Jelaskan semua prosedur tindakan kepada
· Mencari informasi yang klien setiap akan melakukan tindakan
dapat menurunkan cemas
· Dampingi klien dan ajak berkomunikasi
· Menggunakan teknik yang terapeutik
relaksasi untuk
menurunkan cemas · Berikan kesempatan pada klien untuk
mengungkapkan perasaannya.
· Menerima status
kesehatan. · Ajarkan teknik relaksasi
· Bantu klien untuk mengungkapkan hal-hal
yang membuat cemas.
· Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk
pemberian obat penenang,

2. Pre Operatif Tujuan : bertambah-nya Pendidikan kesehatan : proses penyakit


pengetahuan pasien
Kurang tentang penyakitnya. · Kaji tingkat pengetahuan klien.
Pengetahuan b.d
keterbatasan Pengetahuan: Proses · Jelaskan proses terjadinya penyakit, tanda
informasi tentang Penyakit gejala serta komplikasi yang mungkin terjadi
penyakit dan
Kriteria hasil : · Berikan informasi pada keluarga tentang
proses operasi
perkembangan klien.
· Pasien mampu men-
jelaskan penyebab, · Berikan informasi pada klien dan keluarga
komplikasi dan cara tentang tindakan yang akan dilakukan.
pencegahannya
· Diskusikan pilihan terapi
· Klien dan keluarga
· Berikan penjelasan tentang pentingnya
kooperatif saat dilakukan
ambulasi dini
tindakan
· Jelaskan komplikasi kronik yang mungkin
akan muncul

3. Post Operatif Tujuan : kerusakan per- Pengelolaan jalan napas


tukaran gas tidak terjadi
Gangguan · Kaji bunyi paru, frekuensi nafas,kedalaman
pertukaran gas Status Pernapasan: dan usaha nafas.
b.d efek samping ventilasi
dari anaesthesi. · Auskultasi bunyi napas, tandai area
Kriteria hasil : penurunan atau hilangnya ventilasi dan adanya
bunyi tambahan
· Status neurologis DBN
· Pantau hasil gas darah dan kadar elektrolit
· Dispnea tidak ada
· Pantau status mental
· PaO2, PaCO2, pH arteri
dan SaO2 dalam batas · Observasi terhadap sianosis, terutama
normal membran mukosa mulut
· Tidak ada gelisah, · Pantau status pernapasan dan oksigenasi
sianosis, dan keletihan
· Jelaskan penggunaan alat bantu yang
diperlukan (oksigen, pengisap,spirometer)
· Ajarkan teknik bernapas dan relaksasi
· Laporkan perubahan sehubungan dengan
pengkajian data (misal: bunyi napas, pola
napas, sputum,efek dari pengobatan)
· Berikan oksigen atau udara yang
dilembabkan sesuai dengan keperluan

4. Post Operatif Tujuan : kerusakan Perawatan luka


integritas kulit tidak
Kerusakan terjadi. · Ganti balutan plester dan debris
integritas kulit
b.d luka post Penyembuhan Luka: · Cukur rambut sekeliling daerah yang
operasi Tahap Pertama terluka, jika perlu

Kriteria hasil : · Catat karakteristik luka bekas operasi

· Kerusakan kulit tidak · Catat katakteristik dari beberapa drainase


ada · Bersihkan luka bekas operasi dengan sabun
· Eritema kulit tidak ada antibakteri yang cocok

· Luka tidak ada pus · Rendam dalam larutan saline yang sesuai

· Suhu kulit DBN · Berikan pemeliharaan lokasi IV


· Sediakan pemeliharaan luka bekas operasi
sesuai kebutuhan
· Berikan pemeliharaan kulit luka bernanah
sesuai kebutuhan
· Gunakan unit TENS (Transcutaneous
Elektrikal Nerve Stimulation) untuk
peningkatan penyembuhan luka bekas operasi
yang sesuai
· Gunakan salep yang cocok pada kulit/ lesi,
yang sesuai
· Balut dengan perban yang cocok
· Pertahankan teknik pensterilan perban
ketika merawat luka bekas operasi
· Periksa luka setiap mengganti perban
· Bandingkan dan mencatat secara teratur
perubahan-perubahan pada luka
· Jauhkan tekanan pada luka
· Ajarkan pasien dan anggota keluarga
prosedur perawatan luka

5. Post Operatif Tujuan : Nyeri dapat Manajemen Nyeri :


teratasi.
Nyeri akut b.d · Kaji nyeri secara komprehensif ( lokasi,
proses Kontrol Resiko karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan
pembedahan faktor presipitasi ).
Kriteria hasil :
· Observasi reaksi NV dr ketidak nyamanan.
· Klien melaporkan
nyeri berkurang dg scala · Gunakan teknik komunikasi terapeutik
2-3 untuk mengetahui pengalaman nyeri klien
· Ekspresi wajah · Kontrol faktor lingkungan yang
tenang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan.
· klien dapat istirahat
dan tidur · Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologis/non farmakologis).
· v/s dbn
· Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengetasi nyeri.
· Kolaborasi pemberian analgetik untuk
mengurangi nyeri.
· Evaluasi tindakan pengurang nyeri
· Monitor TTV