Anda di halaman 1dari 50

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

MONITOR NUTRISI PADA PASIEN DENGAN DIABETES


MELLITUS TIPE II DI RUANG MELATI
RSUD DR. M. YUNUS BENGKULU
TAHUN 2019

VENI MAISAH
NIM. P05120217 034

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN
2019
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

MONITOR NUTRISI PADA PASIEN DENGAN DIABETES


MELLITUS TIPE II DI RUANG MELATI
RSUD DR. M. YUNUS BENGKULU
TAHUN 2019

Proposal Penelitian ini Diajukan sebagai pedoman untuk

penyusunan Karya Tulis Ilmiah pada Prodi DIII Keperawatan Bengkulu

Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Disusun oleh :

VENI MAISAH
NIM. P05120217034

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIII KEPERAWATAN
2019

ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Veni Maisah
NIM : P05120217034
Judul Proposal Penelitian : Monitor Nutrisi pada pasien dengan Diabetes Melitus
Tipe II di Ruang Melati RSUD dr. M. Yunus
Bengkulu Tahun 2019
Menyatakan bahwa proposal karya tulis ilmiah ini adalah benar-benar karya saya
sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan
dengan benar.

Bengkulu, November 2019


Mahasiswa

Veni Maisah

iii
PERSETUJUAN PROPOSAL

Proposal ini telah diperiksa dan disetujui untuk dipersentasikan dihadapan tim
penguji Proposal Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan Bengkulu Jurusan
Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Yang dipersiapkan dan dipersentasikan oleh :

VENI MAISAH
NIM. P05120217034

Pada tanggal :

Pembimbing,

Erni Buston, SST. M.Kes


NIP. 198707072010122003

iv
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Sang pencipta langit
dan bumi serta segala isinya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta kasih
sayang-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Karya
Tulis Ilmiah dengan judul “Monitor Nutrisi Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II
di Ruang Melati RSUD Dr. M.Yunus Bengkulu Tahun 2019”.
Dalam penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini penulis mendapatkan
bimbingan dan bantuan baik materi maupun nasehat dari berbagai pihak sehingga
penulis dapat menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini tepat pada
waktunya. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Darwis, S.Kp, M.Kes selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti
pendidikan di Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
2. Bapak Dahrizal, S.Kp, M.PH, selaku Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes
Kemenkes Bengkulu.
3. Mam Ns. Mardiani, S.Kep, M.M selaku Ketua Prodi DIII Keperawatan
Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
4. Miss Erni Buston SST. M.Kes selaku pembimbing yang telah memberikan
bimbingan, motivasi dan waktunya kepada penulis dalam penyusunan
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
5. Seluruh dosen dan staf jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
6. Kedua orang tua tercinta yang selalu mendoakan penulis kepada Allah SWT
dan memberikan dukungan materil maupun dukungan moral kepada penulis
dalam menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah.
7. Kepada saudariku Mia Mardiati dan Taria Atika Rahma yang selalu memberi
doa dan dukungan.
8. Sahabat-sahabat Nofita, Selly, Vemi, Tiara, Novila, Lia, Niken, Rara, Intan,
atas kerjasama dan dukungan dalam menyelesaikan Pendidikan ini.

v
9. Teman-teman satu angkatan khususnya kelas 3A yang sejatinya juga selalu
memberikan motivasi baik berupa sharing pendapat dan hal lainnya dalam
rangka pembuatan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
10. Pihak-pihak lainnya yang juga turut serta membantu penulis dalam pembuatan
Karya Tulis Ilmiah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Proposal Karya
Tulis Ilmiah ini masih banyak terdapat kekeliruan dan kekhilafan baik dari segi
penulisan maupun penyusunan, oleh karena itu penulis mengharapkan kepada
seluruh pihak agar dapat memberikan saran dan bimbingan penulis dapat berkarya
lebih baik dan optimal lagi dimasa yang akan datang.
Penulis berharap semoga Proposal Karya Tulis Ilmiah yang telah penulis
susun ini dapat bermanfaat didalam bahan pembelajaran bagi semua pihak serta
dapat membawa perubahan posistif terutama bagi penulis sendiri dan mahasiswa
Prodi Keperawatan Bengkulu lainnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Bengkulu, November 2019

Penulis

vi
DAFTAR ISI

SAMPUL LUAR ........................................................................................ i

SAMPUL DALAM ..................................................................................... ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ..................................... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................ iv

KATA PENGANTAR ................................................................................ v

DAFTAR ISI ............................................................................................... vii

DAFTAR TABEL ...................................................................................... ix

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. x

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1

1.2 Latar Belakang ..................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ................................................................ 5
1.3 Tujuan .................................................................................. 6
1.1 Manfaat Studi Kasus ............................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 8

2.1 Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus Tipe 2 .............. 8


2.1.1 Pengkajian .............................................................. 8
2.1.2 Diagnosa keperawatan ............................................ 12
2.1.3 Perencanaan keperawatan ....................................... 14
2.1.4 Implementasi keperawatan ..................................... 23
2.1.5 Evaluasi keperawatan ............................................. 23
2.2 Konsep Dasar Monitor Nutrisi ........................................ 24
2.2.1 Definisi ................................................................... 24
2.2.2 Manfaat monitor nutrisi .......................................... 24
2.2.3 Terapi nutrisi medis (diet) diabetes melitus ........... 24

vii
2.2.4 Jenis diet nutrisi ...................................................... 27
2.2.5 Pola makan diabetes melitus ................................... 27
2.2.6 Gangguan nutrisi pada diabetes melitus ................. 29
2.2.7 Hambatan pemenuhan kebutuhan nutrisi .............. 29
2.2.8 Patofisiologi gangguan nutrisi ................................ 29
2.2.9 Rekomendasi nutrisi pasien diabetes melitus ......... 30

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................ 33

3.1 Pendekatan/Desain Penelitian ........................................... 33


3.3 Subyek Penelitian .............................................................. 33
3.3 Fokus Studi Kasus ............................................................. 33
3.4 Batasan Istilah (Definisi Operasional) .............................. 34
3.5 Metode dan Instrumen Pengumpulan Data ....................... 34
3.6 Lokasi dan Waktu Studi Kasus ......................................... 35
3.7 Analisis Data ..................................................................... 35
3.8 Keabsahan Data ................................................................. 36
3.9 Etika Studi Kasus ............................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

viii
DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman


Tabel 2.1 Intervensi keperawatan 14-22
Tabel 2.2 Jenis diet diabetes melitus 27
berdasarkan energi, protein,
lemak, dan karbohidrat

ix
DAFTAR LAMPIRAN

No. Daftar lampiran


1. Lembar konsul

x
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit tidak menular (PTM), termasuk penyakit jantung, stroke,
kanker, diabetes dan penyakit paru kronis, secara kolektif bertanggung
jawab atas hampir 70% dari semua kematian di seluruh dunia. Hampir
tiga perempat dari semua kematian akibat PTM, dan 82% dari 16 juta
orang yang meninggal sebelum waktunya, atau belum mencapai usia 70
tahun, terjadi di Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah
(WHO, 2018).
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2017, Diabetes
Melitus adalah penyakit kronis yang terjadi baik saat pankreas tidak
menghasilkan cukup insulin atau bila tubuh tidak dapat secara efektif
menggunakan insulin yang dihasilkannya. Hormon yang mengatur gula
darah adalah insulin. Efek umum diabetes yang tidak terkontrol dan
seiring berjalannya waktu menyebabkan kerusakan serius pada banyak
sistem tubuh, terutama saraf dan pembuluh darah merupakan
hiperglikemia atau peningkatan kadar gula darah (WHO, 2017).
Diabetets melitus dikenal sebagai “silent killer” karena sering tidak
disadari oleh penyandangnya dan saat diketahui sudah terjadi komplikasi
sehingga penanganan baru dimulai beberapa tahun kemudian ketika
penyakit sudah berkembang dan komplikasi sudah terjadi. Diabetes yang
tidak terkontrol dan tidak diatasi dapat menyebabkan komplikasi
makrovaskular dan mikrovaskular. beberapa komplikasi seperti kerusakan
mata, ginjal pembuluh darah, saraf dan jantung. Komplikasi
makrovaskular terutama didasari oleh karena adanya resistensi insulin,
sedangkan komplikasi mikrovaskular lebih disebabkan oleh
hiperglikemia kronik (Eva Decroli, 2019).
Ada 2 tipe diabetes melitus, yaitu diabetes melitus tipe 1 dan
diabetes melitus tipe 2. Diabetes tipe 1 merupakan penyakit kronis yang

1
2

ditandai dengan ketidakmampuan tubuh menghasilkan insulin yang


diakibatkan oleh rusaknya sel beta pankreas akibat faktor autoimun,
genetik atau idipatik, sedangkan diabetes melitus tipe 2 ditandai dengan
cacat progresif dari fungsi sel beta pankreas akibat resistensi insulin
sehingga tidak dapat mempertahankan tingkat glukosa normal terkait
perubahan gaya hidup (Kerner and Bruckel, 2014).
Diabetes melitus merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian
tertinggi didunia. Internasional Diabetes Federation (IDF) menunjukkan
bahwa kasus diabetes setiap tahunnya mengalami peningkatan dan tahun
2017 sekitar 425 juta orang di seluruh dunia atau 8,8% usia 20-79 tahun
diperkirakan menderita diabetes dengan 79% penderita bertempat di
Negara dengan pendapatan rendah dan menengah, diperkirakan tahun
2045 kasus diabetes akan semakin meningkat menjadi 629 juta orang.
Kasus diabetes dengan jumlah penderita tertinggi berada di China dengan
jumlah prevalensi 114,4 juta orang dan 61,3 juta orang tidak terdiagnosa
diabetes dengan proporsi sebesar 53,6% dan akan meningkat pada tahun
2045 (IDF,2017; Diabetes Atlas Eight Edition 2017).
Internasional Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017 melaporkan
bahwa epidemi diabetes di indonesia masih menunjukkan kecenderungan
meningkat. Indonesia merupakan Negara peringkat ke-6 di dunia setelah
Tiongkok, India, Amerika serikat, Brazil dan Meksiko dengan jumlah
penyandang diabetes usia 20-79 tahun sekitar 10,3 juta orang. Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) memperlihatkan peningkatan angka
prevalensi diabetes yang cukup signifikan, yaitu dari 6,9% di tahun 2013
menjadi 8,5% ditahun 2018, sehingga estimasi jumlah penderita di
Indonesia mencapai lebih dari 16,7 juta orang (IDF, 2017)
Penderita diabetes melitus di Bengkulu dengan jumlah penduduk 1,9
juta pada tahun 2018 menempati provinsi ke-29, setelah provinsi DKI
Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara. Jumlah
penderita diabetes melitus di Bengkulu pada semua umur yaitu 0,9% dari
penduduk provinsi Bengkulu (Riskesdas, 2018).
3

Hasil studi pendahuluan yang penulis lakukan di RSUD Dr. M.


Yunus Bengkulu, diketahui bahwa angka kejadian diabetes melitus tipe 2
pada tahun 2016 berjumlah 302 dengan angka kematian 29 pasien, laki-
laki berjumlah 134 orang dan perempuan 168 orang. Pada tahun 2017
berjumlah 369 dengan 18 diantaranya meninggal, laki-laki berjumlah 154
orang dan perempuan 215 orang. Pada tahun 2018 dilaporkan ada
sebanyak 359 penderita diabetes melitus tipe 2 dengan angka kematian
sebanyak 31 penderita, laki-laki berjumlah 128 orang dan perempuan 231
orang (Rekam Medik RSUD dr.M. Yunus Bengkulu, 2019).
Penderita diabetes melitus tipe 2 sebagian besar dirawat di ruang
Melati RSUD dr. M. Yunus. Pada tahun 2018 pasien yang dirawat
mencapai 85 orang pasien. Sedangkan pada tahun 2019 sampai bulan
September pasien yang dirawat mencapai 48 orang pasien.
Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada usia dewasa, Biasanya terjadi
pada usia 45 tahun, tetapi bisa pula timbul pada usia di atas 20 tahun.
Kejadian diabetes melitus tipe 2 pada wanita lebih tinggi daripada laki-
laki. Wanita lebih beresiko mengidap diabetes karena secara fisik wanita
memiliki peluang peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang lebih
besar. Seringkali diabetes tipe 2 di diagnosis beberapa tahun setelah
komplikasi muncul sehingga tinggi insidensinya sekitar 90% dari
penderita DM di seluruh dunia dan sebagian besar merupakan akibat dari
memburuknya faktor resiko seperti kelebihan berat badan dan kurangnya
aktifitas fisik (WHO, 2014).
Penyebab terjadinya diabetes melitus tipe 2 adalah penurunan
sensitivitas dari insulin (resistensi terhadap insulin) dan penurunan
produksi insulin oleh sel beta pankreas. Faktor-faktor yang meningkatkan
terjadinya diabetes melitus adalah obesitas, dislipidemia, usia >45 tahun,
gaya hidup, riwayat keluarga atau herediter. DM tipe 2 merupakan tipe
diabetes yang paling umum ditemukan pada pasien dibandingkan DM
tipe 1 (Bustam, 2014).
4

Diabetes melitus tipe 2 ditandai dengan adanya gangguan sekresi


insulin, Keluhan khas yang menyertai umumnya adalah mudah lapar dan
sering makan (poliphagia), sering haus dan banyak minum (polidipsia),
dan banyak kencing (poliuria) serta sebagian mengalami kehilangan berat
badan dan terjadinya peningkatan kadar glukosa darah. Sementara itu
Keluhan yang tidak khas adalah yang menyertai diabetes melitus tipe 2
antara lain kesemutan pada kaki, gatal daerah genital dan keputihan pada
wanita, luka sulit sembuh, mata kabur, cepat lelah dan mudah mengantuk
(Paulus, 2019).
Penatalaksanaan diabetes melitus diabetes mellitus tipe 2 terdiri dari
penatalaksanaan farmakologis dan penatalaksanaan non farmakologis.
Penatalaksanan farmakologis yaitu Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dan
terapi insulin. Penatalaksanan non farmakologis meliputi edukasi dengan
tujuan hidup sehat, pencegahan dengan diet, latihan jasmani secara teratur
(3-4 kali seminggu selama 30 menit/kali) bagi pasien yang mengalami
komplikasi intensitas latihan jasmani dapat dikurangi, terapi nutrisi
meliputi upaya-upaya mendorong pola hidup sehat, diet diabetes dengan
memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30
kalori/kgBB ideal (BBI) (Eva Decroli, 2019 dan Paulus, 2019).
Peran perawat dalam menjalankan monitor nutrisi dengan pemberian
terapi nutrisi untuk mengontrol gula darah pada pasien diabetes melitus
sangat diperlukan. Peran perawat dapat sebagai care provider, edukator,
kolaborator dan peran lainnya. Semua peran tersebut perlu dijalankan
dengan tepat guna meningkatkan kemandirian pasien dan keluarga dalam
meningkatkan derajat kesehatan penderita diabetes melitus.
Terapi nutrisi medis ini dasarnya adalah melakukan pemantauan
dalam pengaturan pola makan yang didasarkan pada status gizi. Tujuan
umum terapi gizi adalah membantu orang dengan diabetes memperbaiki
kebiasaan aktivitas sehari-hari untuk mendapatkan kontrol metabolik
yang lebih baik, mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal,
mencapai kadar serum lipid yang optimal, memberikan energi yang
5

cukup untuk mencapai atau mempertahankan berat badan dan


meningkatkan tingkat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang
optimal (Franky, 2010).
Komponen-komponen gizi makronutrien yang direkomendasikan
pada pasien diabetes adalah karbohidrat 45-65%, Protein 10-20 % total
asupan energi, lemak 20-25% kebutuhan kalori, natrium <2300 mg/hari
Serat 20-35 gram/hari (PERKENI, 2015). Individu yang beresiko tinggi
untuk diabetes tipe 2 harus dianjurkan untuk diet tinggi serat (20-35 gram
serat/1000 kkal). Serat memiliki kemampuan memperlambat penyerapan
glukosa dan lemak dengan cara meningkatkan kekentalan feses yang
secara tidak langsung menurunkan kecepatan difusi sehingga kadar
glukosa darah, profil lipid dan kolestrol menurun. Serat dapat ditemui
pada sayur-sayuran, buah-buahan yang mengandung vitamin C
(Azmrimaidaliza, 2010).
Berdasarkan hasil observasi di ruang Melati RSUD dr. M. Yunus
terlihat bahwa perawat lebih banyak melakukan tindakan kolaborasi,
tindakan mandiri kurang diterapakan seperti monitor nutrisi, monitor
asupan setiap jadwal makan, kurangnya dalam memberikan pendidikan
kesehatan kepada keluarga, dan mengingatkan pentingnya pengetahuan
mengenai diet kepada pasien dan keluarga. Sebaiknya perawat di RS
tersebut melakukan tindakan mandiri karena sangat berguna untuk
membantu proses penyembuhan pasien.
Berdasarkan data dan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk
melakukan studi kasus tentang monitor nutrisi pada pasien Diabetes
Melitus tipe 2 di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2020.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah
dalam karya tulis ilmiah ini adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan pada
pasien diabetes melitus tipe 2 dalam monitor nutrisi di ruang melati RSUD
dr. M. Yunus Kota Bengkulu” ?
6

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Memberikan gambaran asuhan keperawatan penerapan
Monitor Nutrisi pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di ruang
Melati RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2019.
1.3.2 Tujuan khusus
1.3.2.1 Penulis mampu memberikan gambaran pengkajian
monitor nutrisi pada pasien diabetes melitus tipe 2
secara holistik.
1.3.2.2 Penulis mampu memberikan gambaran diagnosa
keperawatan monitor nutrisi pada pasien diabetes melitus
tipe 2 sesuai prioritas keperawatan.
1.3.2.3 Penulis mampu memberikan gambaran perencanaan
keperawatan monitor nutrisi pada pasien diabetes melitus
tipe 2 secara komprehensif.
1.3.2.4 Penulis mampu memberikan gambaran implementasi
monitor nutrisi pada pasien diabetes melitus tipe 2 secara
tepat.
1.3.2.5 Penulis mampu memberikan gambaran evaluasi monitor
nutrisi pada pasien diabetes melitus tipe 2

1.4 Manfaat Studi Kasus


1.4.1 Bagi mahasiswa
Mahasiswa dapat menerapkan konsep pembelajaran teoritis
dan aplikatif dalam melakukan proses monitor nutrisi dengan
pendekatan studi kasus pada pasien diabetes melitus tipe 2.
1.4.2 Bagi keluarga
Bagi keluarga karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat menjadi
tambahan informasi dan juga menjadi sebagai acuan dalam
memberikan perawatan pada pasien diabetes melitus tipe 2
dirumah.
7

1.4.3 Bagi pelayanan kesehatan


Karya tulis ilmiah ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan,
informasi dan sarana untuk mengembangkan monitor nutrisi
dengan pendekatan studi kasus pada pasien diabetes melitus tipe 2.
1.4.4 Bagi akademik
Diharapkan dapat menambah referensi bacaan dan literatur
dalam meningkatkan mutu pendidikan khususnya dalam monitor
nutrisi dengan pendekatan studi kasus pada pasien diabetes melitus
tipe 2.
1.4.5 Peneliti lain
Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk
melakukan penelitian yang serupa dengan kasus yang lain maupun
dengan kasus yang sama yaitu Diabetes Melitus Tipe 2. Selain itu,
diharapkan dimasa mendatang akan banyak mahasiswa ataupun
tenaga keperawatan yang akan membuat jurnal keperawatan
berdasarkan pengalaman praktiknya dalam memberikan monitor
nutrisi pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asuhan Keperwatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2


2.1.1 Pengkajian
Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik difokuskan pada tanda
dan gejala hiperglikemia dan pada faktor-faktor fisik, emosional,
serta social yang dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk
mempelajari dan melaksanakan berbagai aktivitas perawatan mandiri
diabetes. Pasien dikaji dan diminta menjelaskan gejala yang
mendahului diagnosis diabetes seperti poliuria, polydipsia, polifagia,
kulit kering, penurunan berat badan dan luka yang lama sembuh
(Smeltzer Suzanne C, 2001).
2.1.1.1 Data biografi : Nama, alamat, umur, jenis kelamin, tanggal
masuk rumah sakit, diagnose medis, penanggung jawab,
catatan kedatangan.
2.1.1.2 Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : Pasien diabetes melitus datang ke
rumah sakit dengan keluhan berbeda-beda. Pada
umunya seseorang datang kerumah sakit dengan gejala
khas yang dialami penderita DM seperti :
1) Banyak kencing : Karena sifatnya kadar glukosa
darah tinggi akan menyebabkan banyak kencing.
2) Banyak minum : rasa haus amat sering dialami
penderita karena banyaknya cairan yang keluar
melalui kencing.
3) Banyak makan : rasa lapar yang semakin besar
sering timbul pada penderita diabetes melitus karena
pasien mengalami keseimbangan kalori negatif,
sehingga timbul rasa lapar yang sangat besar.

8
9

4) Terjadinya penurunan berat badan : sejumlah kalori


hilang kedalam air kemih, sehingga penderita
mengalami penurunan berat badan.
5) Letih dan kelemahan : akibat gangguan aliran darah
pada pasien diabetes lama, katabolisme protein
diotot dan ketidakmampuan sebagian besar sel
untuk menggunakan glukosa sebagai energi.
6) Luka yang sulit sembuh : proses penyembuhan luka
membutuhkan bahan dasar utama dari protein dan
unsur makanan yang lain. Bahan protein banyak
diformulasikan untuk kebutuhan energi sel sehingga
bahan yang diperlukan untuk penggantian jaringan
yang rusak mengalami gangguan.
7) Pengelihatan kabur : pengelihatan kabur karena
katarak atau gangguan refraksi akibat perubahan
pada lensa oleh hiperglikemia.
b. Riwayat kesehatan sekarang : Pengkajian riwayat
kesehatan sekarang berupa proses terjadinya gejala khas
dari DM biasanya klien datang kerumah sakit dengan
keluhan seperti pasien banyak kencing, banyak makan,
banyak minum dan luka yang sulit sembuh.
c. Riwayat kesehatan dahulu : Pada pengkajian riwayat
penyakit dahulu akan didapatkan informasi apakah
terdapat faktor-faktor terjadinya diabetes melitus
misalnya riwayat penyakit jantung, obesitas, dan
hipertensi, tindakan medis yang pernah di dapat
maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh
penderita.
d. Riwayat kesehatan keluarga : adalah penyakit yang
diderita anggota keluarga lainnya. Biasanya ada riwayat
10

anggota keluarga yang menderita diabetes melitus yang


berhubungan dengan proses genetik.
e. Riwayat psikososial-spiritual
1) Psikologis : perasaan yang dirasakan oleh klien, bisa
dilihat dari ekspresi wajah klien dan keluhan yang
disampaikan.
2) Sosial : bagaimana hubungan klien dengan orang
lain maupun orang terdekat klien dengan
lingkungan.
3) Spiritual : apakah klien tetap menjalankan ibadah
selama perawatan di rumah sakit.
f. Riwayat makanan
Riwayat makanan meliputi informasi atau
keterangan tentang pola makanan, tipe makanan
yang dihindari, makanan yang lebih disukai, yang
dapat digunakan untuk membantu merencanakan
jenis makanan untuk sekarang, dan rencana
makanan untuk selanjutnya.
2.1.1.3 Pemeriksaan fisik persistem pada pasien penderita diabetes
melitus tipe 2 (Paulus, 2019 dan SDKI, 2017).
a. Keadaan umum
1) Status penampilan kesehatan : yang sering muncul
adalah kelemahan fisik.
2) Tingkat kesadaran : normal, samnollen, stupor,
koma (tergantung kadar gula yang dimiliki dan
kondisi fisiologi untuk melakukan kompensai
kelebihan gula darah).
3) Tanda-tanda vital : meliputi tekanan darah, nadi,
suhu, dan frekuensi nafas.
11

b. System integument
Data mayor : turgor kulit menurun, kerusakan jaringan
dan lapisan kulit.
Data minor : nyeri, pendarahan, kemerahan, hematoma.
c. System pernafasan
Data mayor : sesak nafas atau merasa kekurangan
oksigen, dispnea, penggunaan otot bantu pernafasan,
fase ekspirasi memanjang, pola nafas abnormal
(misalnya takipnea, bradipnea, hiperventilasi,
kussmaul).
Data minor : ortopnea, pernafasan pursed-lip,
pernafasan cuping hidung, ventilasi semenit turun,
kapasitas vital menurun, tekanan ekspirasi menurun,
tekanan inspirasi menurun, ekskursi dada berubah.
d. System sirkulasi
Data mayor : kesemutan dibagian ekstremitas,
pengisian kapiler >3 detik, Nadi perifer menurun atau
tidak teraba, akral teraba dingin, warna kulit pucat,
turgor kulit menurun.
Data minor : paratesia, nyeri ekstremitas, edema,
penyembuhan luka lambat, bruit femoral.
e. System gastrointestinal
Data mayor : Polifagia (sering lapar dan sering makan),
berat badan menurun 10% dibawah rentang normal.
Data minor : cepat kenyang setelah makan, kram/nyeri
abdomen, nafsu makan menurun, bising usus hiperaktif,
membrane mukosa pucat, rambut rontok berlebihan,
sariawan, diare.
12

f. System urinary
Data mayor : poliuria (sering buang air kecil), desakan
berkemih, mengompol, nokturia, distensi kandung
kemih, volume residu urine meningkat.
g. System muskuloskeleteal
Data mayor : mengeluh lelah, frekuensi jantung
meningkat >20% dari kondisi istirahat.
Data minor : dispnea saat/setelah aktifitas, merasa tidak
nyaman setelah aktifitas, merasa lemah, gambaran
elektrokardiogram menunjukkan aritmia, sianosis.
h. System neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anatesia,
mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
i. System endokrin
Data mayor : nafas berbau keton, kadar glukosa darah
tinggi, merasa haus berlebihan.
Data minor : pembesaran tiroid, luka gangrene.
2.1.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah proses menganalisis data subjektif
dan objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk
menegakkan diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan
melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan
dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan
yang lain (Nursalam, 2011).
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan resistensi insulin (SDKI, 2016).
a) Data mayor :
1) Mudah lapar
2) Berat badan menurun minimal 10% dibawah rentang
normal
13

b) Data minor :
1) Cepat kenyang setelah makan
2) Kram/nyeri abdomen
3) Bising usus hiperaktif
4) Rambut rontok
b. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis
osmotik (SDKI, 2016).
a) Data mayor :
1) Haus berlebih
2) Lemah/lesu
3) Membrane muka pucat
4) Rongga mulut kering
5) Turgor kulit jelek
b) Data minor :
1) Mual/anoreksia
2) Peningkatan natrium serum
3) Keluaran urine berlebih
4) Sering berkemih
c. Intoteransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan (SDKI,
2016).
a) Data mayor :
1) Mengeluh lelah
2) Frekuensi jantung meningkat > 20% dari kondisi istirahat
3) Tekanan darah berubah >20% dari kondisi istirahat
b) Data minor :
1) Dyspnea saat/setelah aktifitas
2) Merasa tidak nyaman setelah aktifitas
3) Merasa lelah
4) Sianosis
5) Gambaran elektrokardiogram menunjukkan aritmia
saat/setelah aktifitaas
14

2.1.3 Perencanaan Keperawatan


Intervensi keperawatan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang dipusat pada klien dan hasil
yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut (Nursalam, 2011).

Tabel 2.1 Intervensi keperawatan (SDKI, 2016. NOC & NIC, 2016).
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional

1. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan intervensi NIC : Monitor nutrisi


nutrisi kurang dari keperawatan selama … x 24 Aktivitas Keperawatan :
kebutuhan tubuh jam, diharapkan 1. Menimbang berat badan 1. Memberikan hasil pengkajian
berhubungan dengan NOC : Status nutrisi: pasien pemasukan makanan dari status
peningkatan kebutuhan asupan nutrisi nutrisi yang sedang berlangsung
metabolisme. □ dipertahankan pada level… dan selanjutnya untuk memantau
Ditandai dengan : □ ditingkatkan ke level… pertumbuhan pada pasien dalam
Data mayor subjektif: Deskripsi level : memberikan makanan pengganti.
Mudah lapar 1. Tidak adekuat 2. Melakukan pengukuran 2. Menentukan status gizi dengan
Data mayor objektif: 2. Sedikit adekuat Indeks Massa Tubuh membandingkan berat badan dan
Berat badan menurun 3. Cukup adekuat (IMT) tinggi badan untuk mengetahui
minimal 10% dibawah 4. Sebagian besar adekuat penderita DM mengalami
15

rentang normal 5. Sepenuhnya adekuat kegemukan dan obesitas, IMT


Data minor subjektif : 6. =BB(kg)/ TB2 (m2 ). Laki-laki
Cepat kenyang setelah Dengan kriteria hasil : normal= 18-25 kg/m2 .
makan, kram/nyeri 1. Asupan serat Perempuan normal=17-23 kg/m2 .
abdomen 2. Asupan vitamin 3. Monitor turgor kulit dan 3. Mengetahui elastisitas kulit
Data minor objektif : 3. Asupan mineral mobilitas dicubit selama 30 detik apabila
Bising usus hiperaktif, 4. Asupan zat besi normal kulit kembali <1 menit
rambut rontok 5. Asupan kalium inspeksi kulit dapat dideteksi
melalui memar pada kulit dan
penyembuhan luka pada diabetes
sulit sembuh akibat tigginya
kadar glukosa dalam darah
4. Mengidentifikasi 4. pemeriksaan kulit untuk
abnormalitas kulit menemukan penyimpangan pada
keadaan kulit
5. Monitor adanya mual dan 5. Mual dan muntah mempengaruhi
muntah pemenuhan nutrisi
6. Monitor diet dan asupan 6. Mengetahui penyebab
kalori pemasukkan yang kurang atau
16

lebih sehingga dapat menentukan


intervensi yang sesuai dan efektif
7. Mengidentifikasi 7. Perubahan nafsu makan
perubahan nafsu makan disebabkan sel-sel di dalam tubuh
dan aktifitas akhir-akhir akan merasa kelaparan, karena
ini tidak dapat menggunakan
1. glukosa yang berada di dalam
darah. Tubuh tidak bisa
menggunakan energi sehingga
merasa lemas dan tidak bertenaga
8. Monitor pola makan 8. pemantauan pola makan pada
pasien mengenai pembatasan
asupan kalori/ hari sesuai diit
yang diberikan oleh tim gizi
membantu penurunan berat badan
berlebih dan penurunan glukosa
darah
9. Lakukan pemeriksaan 9. Pemeriksaan laboratorium dapat
laboratorium tes kadar mengontrol terjadinya
17

glukosa darah, monitor peningkatan atau penurunan


hasilnya kadar gula darah dan
memonitoring hasil intervensi
yang dilakukan
10. Anjurkan untuk 10. Asupan makanan yang
mengkonsumsi vitamin C menandung vitamin C dari
sumber alami seperti buah jeruk,
apel, buah naga membantu
menurunkan kadar glukosa darah
11. Anjurkan banyak makan 11. Serat memiliki kemampuan
serat memperlambat penyerapan
glukosa dan lemak dengan cara
meningkatkan kekentalan feses
yang secara tidak langsung
menurunkan kecepatan difusi
sehingga kadar glukosa darah,
profil lipid dan kolestrol
menurun.
18

2. Risiko kekurangan Setelah dilakukan intervensi NIC : Monitor cairan


volume cairan keperawatan selama … x 24 Aktivitas Keperawatan :
berhubungan dengan jam, diharapkan 1. Tentukan faktor-faktor 1. faktor-faktor resiko terjadi ketika
gangguan arbsorbsi NOC : Keseimbangan resiko yang mungkin tubuh kehilangan cairan dan
cairan cairan menyebabkan elektrolit yang disebabkan
Ditandai dengan : □ dipertahankan pada level … ketidakseimbangan cairan kehilangan cairan abnormal
Data mayor subjektif : □ ditingkatkan ke level… (poliuria).
Haus berlebih Deskripsi level : 2. Tentukan apakah pasien 2. Haus yang dirasakan pasien
Data mayor Objektif : 1. Berat mengalami kehausan atau akibat kehilangan cairan dan
Lemah/lesu, membrane 2. Cukup berat gejala perubahan cairan menimbulkan gejala perubahan
muka pucat, rongga 3. Sedang yang terjadi pusing, ketakutan,
mulut kering, turgor 4. Ringan mual mudah tersinggung
kulit menurun 5. Tidak ada 3. Monitor berat badan 3. Memberikan hasil pengkajian
Data minor subjektif : pemasukan cairan dari status
Mual/anoreksia Dengan kriteria hasil : cairan yang sedang berlangsung
Data minor Objektif : 1. Pusing umtuk menilai keadaan dehidrasi.
Peningkatan natrium 2. Distensi vena leher 4. Catat asupan dan 4. Memberikan informasi tentang
seum, keluaran urine 3. Edema perifer pengeluaran keseimbangan cairan melalui
berlebih, sering 4. Kehausan asupan dan pengeluaran
19

berkemih, 5. Kram otot 5. Berikan asupan oral 5. Minuman air putih atau sari buah
(minuman rasa alami) membantu memperbaiki
ketidakseimbangan cairan dan
mencegah dehidrasi
6. Monitor tanda-tanda vital 6. Hipotensi (termasuk postural),
takikardi, demam dapat
menunjukkan respon terhadap
efek kehilangan cairan
7. Monitor membran 7. Membran mukosa pucat, kering,
mukosa, turgor kulit, dan sariawan, turhor kulit yang jelek
respon haus dan rasa haus yang berlebih efek
dari kehilangan cairan dalam
tubuh
8. Monitor warna, kuantitas, 8. Untuk mengetahui adanya
dan berat jenis urine perubahan warna dan mengetahui
efek dari pengoabtan terapi yang
dilakukan
9. Monitor tanda-tanda 9. Untuk mengetahui apakah ada
asites penumpukan cairan berlebih di
20

rongga perut sehingga akan


dilakukan pemeriksaan
laboratorium
10. Berikan cairan yang tepat 10. Mencegah kekurangan cairan dan
(Intravea seperti elektrolit memperbaiki keseimbangan asam
dan vitamin) basa dalam sel tubuh
3. Intoleransi aktifitas Setelah dilakukan intervensi NIC : Manajemen energi
berhubungan dengan keperawatan selama … x 24 Aktivitas Keperawatan :
kelemahan jam, diharapkan 1. Monitor intake/asupan 1. Mengetahui penyebab
Ditandai dengan : NOC : Status nutrisi: nutrisi untuk mengetahui pemasukkan yang kurang atau
Data mayor subjektif : Energi sumber energi yang lebih sehingga dapat menentukan
Mengeluh lelah □ dipertahankan pada level … adekuat intervensi yang sesuai dan efektif
Data mayor Objektif □: ditingkatkan ke level… 2. Konsultasikan dengan 2. Diit yang diberikan pada
Frekuensi jantung Deskripsi level : ahli gizi mengenai cara penderita diabetes melitus dengan
meningkat > 20% dari 1. Sangat menyimpang dari asupan energi dari asupan 1100-2500 kalori perhari
kondisi istirahat rentang normal makanan sesuai kebutuhan yang diperlukan
Data minor subjektif : 2. Banyak menyimpang dari 3. Anjurkan senam aerobic 3. Senam aerobic sesuai
Dyspnea saa/setelah rentang normal sesuai kemampuan pasien kemampuan membantu
aktifitas, merasa tidak 3. Cukup menyimpang dari meregangi otot-otot dari tegangan
21

nyaman setelah aktifitas, rentang normal dan merelaksasikan otot agar


merasa lelah 4. Sedikit menyimpang dari tidak terasa kaku
Data minor Objektif : rentang normal 4. Monitor waktu dan lama 4. Pada orang dewasa tidur yang
Tekanan darah berubah 5. Tidak menyimpang dari istirahat/tidur pasien diperlukan 7-9 jam/hari untuk
>20% dari kondisi rentang normal membantu menjaga kekebalan
istirahat, gambaran EKG tubuh
menunjukkan aritmia Dengan kriteria hasil : 5. Monitor lokasi dan 5. Ketidaknyamanan berasal dari
saat/setelah aktifitas, 1. Stamina sumber ketidaknyamanan/ cidera fisik pada pasien, hindari
sianosis 2. Daya tahan nyeri yang dialami pasien untuk mencegah resiko cidera
3. Kekuatan cengkraman selama aktivitas dengan menghentikan aktivitas
tangan dan beristirahat
4. Penyembuhan jaringan 6. Anjurkan pasien untuk 6. Aktivitas yang membangun
5. Resistensi infeksi memilih aktivitas- ketahanan seperti menggerakkan
aktivitas yang otot-otot ektremitas, memutar
membangun ketahanan otot lengan untuk melenturkan
sendi-sendi
7. Tingkatkan tirah 7. Menghilangkan stress pada otot-
baring/pembatasan otot pinggang dan menyegarkan
kegiatan dengan tubuh dengan mengistirahatkan
22

cakupannya yaitu waktu pasien 7-9 jam/hari


istirahat yang dipilih
8. Susun kegiatan fisik 8. Menghindari aktivitas segera
untuk mengurangi setelah makan, anjurkan untuk
penggunaan cadangan beristirahat sejenak setelah
oksigen untuk fungsi makan baru melakukan aktivitas
organ vital untuk mencegah sesak akibat
penumpukan lemak
9. Melakukan ROM 9. Latihan ROM meningkatkan
aktif/pasif untuk kemampuan pasien untuk
mengurangi ketegangan melakukan rentang gerak
aktif/pasif dan meregangkan otot-
otot dari kram
10. Berikan kegiatan 10. Distraksi melalui kegiatan
pengalihan yang spiritual untuk meningkatkan
menenangkan untuk ketaqwaan pasien untuk sembuh
meningkatkan relaksasi
23

2.1.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat maupun tenaga medis lain untuk membantu
pasien dalam proses penyembuhan dan perawatan serta masalah
kesehatan yang dihadapi pasien yang sebelumnya disusun dalam
rencana keperawatan (Nursalam, 2011).
Implementasi yang dilakukan pada pasien diabetes melitus tipe
2 dapat bersifat implementasi mandiri dimana perawat dapat
melakukannya tanpa batnuan dari tenaga kesehatan lain,
implementasi kolaborasi seperti pemberian obat, dan dialisa, dan
implementasi edukasi untuk meningkatkan pemahaman pasien dan
keluarga mengenai tindakan pencegahan komplikasi yang dapat
dilakukan.
2.1.5 Evaluasi Keperawatan
Menurut (Nursalam, 2011), evaluasi keperawatan terdiri dari
dua jenis yaitu :
2.2.1.2 Evaluasi formatif : evaluasi ini disebut juga evaluasi
berjalan dimana evaluasi dilakukan sampai dnegan tujuan
tercapai.
2.1.5.2 Evaluasi somatif : merupakan evaluasi akhir dimana dalam
metode evaluasi ini menggunakan SOAP.
S : ungkapan perasaan dan keluhan yang dikeluhkan secara
subjektif oleh keluarga maupun klien setelah diberi
tindakan keperawatan.
O : keadaan objektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat
dengan menggunakan pengamatan yang objektif.
A : analisa perawat setelah mengetahui respon klien secara
objektif dan subjektif.
P : perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan
analisis.
24

2.2 Konsep Monitor Nutrisi


2.2.1 Definisi
Nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan
makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan,
pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ
dan jaringan tubuh (Rock CL, 2004). Monitor nutrisi adalah
pengumpulan dan analisa data pasien yang berkaitan dengan asupan
nutrisi (Bulecheak, 2016).
Sistem yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
adalah sistem pencernaan yang terdiri atas saluran pencernaan dan
saluran aksesoris. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, sampai usus
halus bagian distal, sedangkan organ aksesoris terdiri atas hati,
kantung empedu, dan pankreas. Ketiga organ ini membantu
terlaksananya sistem pencernaan secara kimiawi.
2.2.2 Manfaat monitor nutrisi
a. Menjaga asupan nutrisi berlebih
b. Mengontrol berat badan
c. Mengontrol tekanan darah dalam batas normal
d. Menurunkan kadar glukosa darah
e. Memperbaiki profil lipid
f. Meningkatkan sensitivitas reseptor insulin
g. Memperbaiki sistem koagulasi darah
2.2.3 Terapi nutrisi medis (diet) diabetes melitus
Terapi nutrisi medis ini dasarnya adalah melakukan pengaturan
pola makan yang didasarkan pada status gizi. Tujuan umum terapi
gizi adalah membantu orang dengan diabetes memperbaiki kebiasaan
aktivitas sehari-hari untuk mendapatkan kontrol metabolik yang
lebih baik, mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal,
mencapai kadar serum lipid yang optimal, memberikan energi yang
cukup untuk mencapai atau mempertahankan berat badan dan
25

meningkatkan tingkat kesehatan secara keseluruhan melalui gizi


yang optimal (Franky, 2010).
Standar dalam asupan nutrisi makanan seimbang yang sesuai
dengan kecukupan gizi baik adalah sebagai berikut : (PERKENI,
2015).
1) Protein : 10-20 % total asupan energi
2) Karbohidrat : 45-65 % total asupan energi
3) Lemak : 20-25 % kebutuhan kalori, tidak boleh
melebihi 30% total asupan energi
4) Natrium : <2300 mg/hari
5) Serat : 20-35 gram/hari
a. Penentuan kebutuhan kalori :

Laki-laki : Berat badan (kg) X 30 kal/kg = . . . kalori


Perempuan : Berat badan (kg) X 25 kal/kg = . . . kalori

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori : (Paulus,


2019).
1) Jenis kelamin
Kebutuhan kalori basal per hari untuk perempuan sebesar 25
kal/kgBB sedangkan pria sebesar 30 kal/kalBB.
2) Umur
a) Pasien usia diatas 40 tahun, kebutuhan dikurangi 5%
untuk setiap decade antara 40-59 tahun.
b) Pasien usia di antara 60-69 tahun dikurangi 10%.
c) Pasien usia di atas 70 tahun dikurangi 20%.
3) Aktifitas fisik
a) Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal
diberikan pada keadaan istirahat.
b) Penambahan sejumlah 20% pada pasien dengan dengan
aktivitas ringan : pegawai kantor, guru, ibu rumah tangga.
26

c) Penambahan sejumlah 30% pada pasien dengan dengan


aktivitas sedang : pegawai industry ringan, mahasiswa,
militer yang sedang tidak perang.
d) Penambahan sejumlah 40% pada pasien dengan dengan
aktivitas berat : petani, buruh, atlet, militer dalam keadaan
latihan.
e) Penambahan sejumlah 50% pada pasien dengan dengan
aktivitas sangat berat : tukang becak, tukang gali.
4) Berat badan
a) Penyandang DM yang gemuk, kebutuhan kalori dikurangi
sekitar 20-30% tergantung tingkat kegemukan.
b) Penyandang DM kurus, kebutuhan kalori ditambah
sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk
meningkatkan BB.
c) Jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200
kal/hari untuk wanita dan 1200-1600 kal/hari untuk pria.
b. Penentuan berat badan berdasarkan Indeks Massa tubuh (IMT)
Salah satu keberhasilan pemantauan makanan untuk
mengatur makanan adalah asupan makanan dan pola makan yang
sama sebelum maupun sesudah diagnosis. Jumlah kolori yang
dibutuhkan oleh tubuh disesuaikan dengan faktor-faktor jenis
kelamin, umur, aktivitas fisik, stress metabolik dan berat badan.
Untuk penentuan status gizi, dipakai perhitungan Indeks Massa
Tubuh (IMT). Rumus yang dipakai dalam perhitungan adalah :
(Paulus, 2019).

BB (kg)
IMT = 𝑇𝐵2 (m)

Keterangan :
BB kurang : < 18,5
27

BB normal : 18,5 - 22,9


BB lebih : >22,9
Dengan Resiko : 23,0 – 24,9
Obes 1 : 25,0 – 29,9
Obes 2 : >30
2.2.4 Jenis diet diabetes
Tabel 2.2 Jenis diet diabetes melitus berdasarkan kandungan energi,
protein, lemak dan karbohidrat
No Jenis diit Energi Protein Lemak Karbohidrat
(kcal) (gram) (gram) (gram)
1. Diit I 1100 36,49 22,81 179,35
2. Diit II 1300 41,74 28,55 217,88
3. Diit III 1500 47,3 34,3 253,5
4. Diit IV 1700 49,82 36,28 300,58
5. Diit V 1900 53,97 38,88 328,41
6. Diit VI 2100 65,49 45,89 377,45
7. Diit VII 2300 67,85 50,89 395,73
8. Diit VIII 2500 75,11 57,29 424,98
Sumber : Mary E.Beck, Buku ilmu gizi dan diet (2011).
Keterangan :
Diit 1-3 : Diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk
Diit 4-5 : Diberikan kepada penderita berat badan normal
Diit 6-8 :Diberikan kepada penderita kurus, diabetes remaja dan
diabetes komplikasi
2.2.5 Pola makan diabetes melitus
Ada istilah 3 J yang harus diingat oleh para penderita diabetes
dalam mengatur pola makan sehari-hari (Rafanani, 2013).
1) Jadwal
Pengaturan jadwal bagi penderita diabetes biasanya
adalah 6 kali makan. 3 kali makan besar dan 3 kali selingan.
Adapaun jadwal waktunya adalah sebagai berikut :
28

a) Makan pagi : pukul 07.00


b) Snack 1 : pukul 10.00
c) Makan siang : pukul 13.00
d) Snack 2 : pukul 16.00
e) Makan malam : pukul 19.00
f) Snack 3 : pukul 21.00
2) Jumlah
Prinsip jumlah makanan yang dianjurkan untuk penderita
diabetes adalah porsi kecil dan sering. Artinya makan dalam
jumlah sedikit tetapi sering. Adapun pembagian kalori untuk
setiap kali makan dengan pola menu 6 kali makan adalah
sebagai berikut:
a) Makan pagi : 20% dari total kebutuhan kalori/hari
b) Snack 1 : 10%Makan
c) Siang : 25%
d) Snack 2 : 10%
e) Makan malam : 25%
f) Snack 3 : 10%
3) Jenis
Jenis makanan menentukan kecepatan naiknya kadar
gula darah, kecepatan suatu makanan dalam menaikkan kadar
gula darah disebut juga indeks glikemik. Semakin cepat
menaikkan kadar gula darah sehabis makan tersebut
dikonsumsi, maka semakin tinggi indeks glikemik makanan
tersebut.
Jadi hindari makanan berindeks glikemik tinggi seperti
sumber karbohidrat sederhana, gula, madu, sirup roti, dan
mie. Makanan yang berindeks glikemik rendah makanan kaya
dengan serat, contohnya sayuran dan buah-buahan.
29

2.2.6 Gangguan nutrisi pada diabetes melitus


Diabetes melitus merupakan gangguan kebutuhan nutrisi yang
ditandai dengan adanya gangguan metabolisme karbohidrat akibat
kekurangan insulin atau penggunaan karbohidrat secara berlebihan.
2.2.7 Hambatan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi (Sri, 2017).
a. Perasaan takut mengkonsumsi gula
Perasaan takut merupakan tanggapan emosi terhadap
ancaman. Takut adalah mekanisme pertahanan hidup dasar akibat
adanya stimulus. perasaan takut mengkonsumsi gula timbul
karena anggapan bahwa mengkonsumsi gula dapat menaikkan
kadar gula darah, sehingga penderita diabetes melitus cenderung
menghindari gula. Persepsi tersebut timbul karena sebagian besar
partisipan kurang memahami tentang konsep diet pada penderita
diabetes.
b. Diet yang sudah ditentukan tidak sesuai selera
Selera seseorang akan mempengaruhi perilaku dalam
kehidupan sehari-hari. Diet yang tidak sesuai selera menyebabkan
penderita diabetes melitus tidak patuh terhadap diet, hal tersebut
menyebabkan kadar glukosa darah tidak terkontrol dengan baik.
c. Bosan dengan menu diet
Bosan merupakan suatu bentuk emosi yang menyebabkan
berkurangnya minat terhadap suatu hal. Perasaan bosan terjadi
karena menu makanan diabetes melitus kurang variasi.
2.2.8 Patofisiologi gangguan nutrisi pada penderita diabetes melitus
Diabetes melitus tipe 2 adalah sekumpulan gejala yang timbul
pada seseorang yang disebabkan oleh adanya peningkatan kadar
glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin yang progresif
dilatarbelakangi oleh resistensi insulin. Faktor risiko DM tipe 2 ini
adalah multi-faktorial, mencakup unsur genetik, gaya hidup, dan
obesitas (Paulus, 2019). Insulin dalam jumlah cukup namun tidak
dapat bekerja sebagaimana mestinya untuk menurunkan kadar
30

glukosa darah akibat kerusakan pada reseptor insulin di sel. Dengan


demikian hormon insulin tidak dapat berikatan dengan reseptornya
dan glukosa darah tidak dapat di serap oleh sel sehingga terjadilah
hiperglikemia. Akibat dari hiperglikemia yang tidak terkompensasi
menyebabkan sel kekurangan bahan untuk metabolisme sehingga
terjadi peningkatan polifagia, tubuh kekurangan energi dan
meyebabkan berat badan menurun sehingga terjadinya
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
2.2.9 Rekomendasi nutrisi untuk diabetes melitus
a. Asupan karbohidrat
Efek karbohidrat pada kadar gula darah sangatlah kompleks.
Sumber-sumber gula yang dimurnikan (refined sugar) akan
diserap lebih cepat dibandingkan dengan karbohidrat yang
berasal dari pati atau makanan berserat seperti sereal atau buah.
Melalui Indeks Glikemik (IG) dapat ditentukan kuantitas
glikemia dalam makanan. Makanan dengan IG tinggi akan
menyebabkan kenaikan kadar darah lebih cepat. Sumber
karbohidrat kompleks seperti nasi, kentang, singkong, ubi dan
sagu (Linus, 2011).
b. Asupan serat
Makanan berserat akan memberikan serat pangan, vitamin
dan mineral. Serat memiliki kemampuan memperlambat
penyerapan glukosa dan lemak dengan cara meningkatkan
kekentalan feses yang secara tidak langsung menurunkan
kecepatan difusi sehingga kadar glukosa darah, profil lipid dan
kolestrol menurun. Jumlah serat yang dianjurkan bagi penderita
DM yaitu 20-35% atau 1000 kkal setiap harinya. Makanan tinggi
serat misalnya : buah-buahan, sayur-sayuran, dan kacang-
kacangan (Azmrimaidaliza, 2010).
31

c. Asupan protein
Protein adalah zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan
pengganti jaringan yang rusak. Oleh karena itu perlu makan
protein setiap hari. Sumber protein banyak terdapat dalam ikan,
udang, cumi-cumi, daging tanpa lemak, kacang-kacangan, tahu,
tempe (Paulus, 2019).
d. Asupan lemak
Lemak jenuh merupakan determinan diet yang penting untuk
menentukan kadar LDL-kolestrol di dalam plasma. Aspek yang
paling penting yang berhubungan dengan dengan komposisi diet
adalah konsumsi lemak jenuh <10% dari total energi atau bahkan
<8% bagi pasien dengan risiko kardiovaskuler tinggi. Asupan
kolestrol sebaiknya juga dikurangi, yaitu <300 mg per hari bagi
semua penderita diabetes dan <250 mg per hari bagi individu
yang mengalami peningkatan kolestrol LDL (Snehalatha, 2009).
Makanan yang mengandung lemak jenuh yang harus
dibatasi adalah terutama dari daging, makanan laut (seafood),
jerohan, produk susu seperti keju dan eskrim, membatasi
makanan snack , margarin makanan yang dipanggang, digoreng
dan makanan yang banyak mengandung lemak trans (Harvard
School Of Public Health).
e. Asupan vitamin C
Salah satu zat gizi mikro adalah vitamin C. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Azmrimaidaliza, Melva Diana dan
Ramadani (2010) menunjukkan bahwa asupan vitamin C
berpengaruh pada penurunan kadar gula darah pada orang
dewasa. Sumber makanan kaya antioksidan, serat, dan vitamin
seperti buah-buahan apel, jeruk dan buah naga mempunyai
antioksidan, vitamin C yang memiliki kemampuan untuk
menurunkan kadar glukosa darah. Antioksidan yang tergantung
dalam vitamin C memiliki kemampuan untuk menurunkan stress
32

oksidatif dan mengurangi ROS (Reaktif Oxygen Species) melalui


perbaikan fungsi endothelial sehingga menimbulkan efek
protektif terhadap sel β pankreas dan meningkatkan sensitivitas
insulin (Azmrimaidaliza, 2010).
BAB III
METODOLOGI PENULISAN

3.1 Pendekatan/Desain Penelitian


Penelitian kualitatif ini menggunakan desain studi kasus yang
bertujuan untuk mengeksplorasi tahapan penerapan Monitor nutrisi dengan
pendekatan proses asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus Tipe
II. Pendekatan yang digunakan pada studi kasus ini yaitu proses asuhan
keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan,
perencanaan, implementasi, dan evaluasi keperawatan.

3.2 Subyek Penelitian


Subyek penelitian dalam studi kasus ini yaitu pasien Diabetes Melitus
Tipe II dengan deficit nutrisi yang menjalani perawatan di Ruang Melati
RSUD dr. M Yunus Bengkulu. Jumlah subyek penelitian yang
direncanakan yaitu 2 orang pasien dengan minimal perawatan selama 3
hari. Kriteria inklusi dan ekslusi yang ditetapkan pada subyek penelitian
yaitu :
3.2.1 Kriteria inklusi
3.2.1.1 Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 yang dirawat inap di
ruang Melati RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
3.2.1.2 Penderita berusia lebih dari 20 tahun ke atas
3.2.1.3 Penderita bersedia menjadi responden
3.2.2 Kriteria ekslusi
3.2.2.1 Penderita Diabtes Melitus Tipe 2 dengan komplikasi
3.2.2.2 Penderita tidak bersedia menjadi responden

3.3 Fokus Studi Kasus


3.3.1 Kebutuhan nutrisi pada pasien diabetes melitus tipe 2
3.3.2 Penerapan prosedur diet pada pasien diabetes melitus tipe 2

33
34

3.4 Batasan Istilah (Definisi Operasional)


3.4.1 Asuhan keperawatan dalam studi kasus ini didefiniskan sebagai
suatu proses pelayanan keperawatan monitor nutrisi meliputi
tahapan pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan
evaluasi keperawatan pada pasien Diabetes Melitus Tipe II.
Dengan fokus penerapan Monitor nutrisi pada pasien Diabetes
Melitus Tipe II.
3.4.2 Pasien dalam studi kasus ini didefinisikan sebagai orang yang
menerima pelayanan kesehatan atas penyakit Diabetes Melitus
Tipe II yang dialami.
3.4.3 Diabetes Melitus Tipe II dalam studi kasus ini didefiniskan sebagai
suatu diagnosis penyakit yang ditetapkan dokter RSUD dr. M
Yunus Bengkulu berdasarkan manifestasi klinis, hasil pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Pada yang dirawat di ruang
melati RSUD dr. M Yunus Bengkulu.
3.4.4 Monitor nutrisi dalam studi kasus didefinisikan sebagai rangkaian
intervensi untuk memantau asupan nutrisi.

3.5 Metode dan Instrumen Pengumpulan Data


3.5.1 Metode pengumpulan data
3.5.1.1 Wawancara Hasil anamnesis yang harus di dapatkan
berisi tentang identitas klien, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
penyakit keluarga, riwayat psikologi, pola pola fungsi
kesehatan. Data hasil wawancara dapat bersumber dari
klien keluarga dan dari perawat lainnya.
3.5.1.2 Obsevasi dan pemeriksaan fisik Teknik pengumpulan
data ini meliputi keadaan umum, pemeriksaan kepala
leher, pemeriksaan integumen, pemeriksaan sistem
pernafasan, pemeriksaan sistem sirkulasi, pemeriksaan
sistem gastrointestinal, pemeriksaan sistem urinary,
35

pemeriksaan sistem muskuloskeleteal, pemeriksaan


sistem neurologis, pemeriksaan endokrin, pemeriksaan
monitor nutrisi pendekatan.
3.5.1.3 Studi dokumentasi Instrumen dilakukan dengan
mengambil data dari MR (Medical Record), mencatat
pada status pasien, mencatat hasil laboratorium, melihat
cataan harian perawat ruangan, mencatat hasil
pemeriksaan diagnostik.
3.5.2 Instrumen pengumpulan data
Alat atau instrumen pengumpulan data menggunakan format
pengkajian asuhan keperawatan medikal bedah dengan fokus
pengkajian pada monitor nutrisi pasien diabetes melitus tipe 2.

3.6 Lokasi dan Waktu Studi Kasus


Studi kasus ini akan dilakukan di Ruang Melati RSUD dr M Yunus
Bengkulu. Studi kasus ini direncanakan akan dilaksanakan pada bulan
Januari sampai Februari 2020.

3.7 Analisis Data


Analisis data dilakukan dengan menyajikan data hasil pengkajian
keperawatan, yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, pemeriksaan
fisik, dan studi dokumentasi hasil laboratorium dalam bentuk narasi.
Selanjutnya data pengkajian yang berhasil dikumpulkan tersebut akan
dianalisis dengan membandingkannya terhadap pengkajian teori yang telah
disusun. Analisis data terhadap diagnosis keperawatan, intervensi
keperawatan, impelementasi, serta evaluasi keperawatan, yang
dilaksanakan pada studi kasus ini akan dianalisis dengan membandingkan
antara hasil dengan tahapan Proses yang telah diuraikan pada tinjauan
teori.
36

3.8 Keabsahan Data


Keabsahan data dilakukan oleh peneliti dengan cara peneliti
mengumpulkan data secara langsung pada pasien dengan menggunakan
format pengkajian yang telah dibuat terhadap 2 orang pasien.
Pengumpulan data dilakukan pada catatan medis/status pasien,
anamnesa dengan klien langsung, anamnesa dengan kelurga klien, dokter,
dan perawat ruangan agar mendapatkan data yang valid, disamping itu
untuk menjaga validitas dan keabsahan data peneliti melakukan obsevasi
dan pengukuran ulang terhadap data data klien yang meragukan yang
ditemukan melalui data sekunder.

3.9 Etika Studi Kasus


Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya
rekomendasi pihak institusi atau pihak lain dengan mengajukan
permohonan izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini RSUD dr.
M Yunus Kota Bengkulu. Setelah mendapat persetujuan barulah dilakukan
penelitian dengan menekan masalah etika penelitian yang meliputi :
3.9.1 Informant consent (lembar persetujuan menjadi responden)
Informent consent di berikan kepada responden yang akan
diteliti disertai judul penelitian, apabila responden menerima
atau menolak, maka peneliti harus mampu menerima
keputusan responden.
3.9.2 Anonymity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan
menyebutkan nama responden tetapi akan menggantinya
menjadi inisial atau kode responden.
3.9.3 Confidentiality (kerahasiaan informasi)
Kerahasiaan informasi responden di jamin oleh peneliti
dan hanya kelompok data tertentu saja yang dilaporkan
sebagai hasil penelitian.
37

3.9.4 Beneficience
Penelitian melindungi subjek agar terhindar dari bahaya
dan ketidaknyamanan fisik.
3.9.5 Full disclosure
Penelitian memberikan kepada responden untuk membuat
keputusan secara suka rela tentang partisipasinya dalam
penelitian ini dan keputusan tersebut tidak dapat dibuat tanpa
memberikan penjelasan selengkap-lengkapnya.
DAFTAR PUSTAKA

Azrimaidaliza. 2010. Asupan zat gizi dan penyakit diabetes melitus. Journal
kesehatan masyarakat, Vol. 6 no.1

Ben, Rafanani. 2013. Buku Pintar Pola Makan Sehat dan Cerdas Bagi Penderita
Diabetes. Yogyakarta:Araska

Bulcheck, Gloria M.dkk (Ed).2016. Nursing Intervention Classification (NIC), Edisi


ke-6 (Edisi Bahasa Indonesia). Elseiver

Bustam, K.A. 2014. Tipe II Diabetes Melitus dan Penatalaksanaan Keperawatan.


Yogyakarta:Nuha medika

Decroli, Eva. 2019. Diabetes Melitus Tipe 2. Fakultas Kedokteran Universitas


Andalas. Padang

Harvard School Of Public Health. The Nutrition source. Fats and cholesterol: Out
with the bad, in with the good. Di akses pada https://www.hsph.harvard.edu
tanggal 14 oktober 2019

Internasional Diabetes Federation (IDF) & Lathifah,N.L. 2017. Hubungan Durasi


Penyakit dan Kadar Gula Darah dengan Keluhan Subyektif Penderita
Diabetes Mellitus. Journal Berkala Epidemiologi, 5(2), 231-239. https://e-
journal.unair.ac.id/JBE/article/download/4781/3893. Di akses tanggal 10
September 2018

Internasional Diabetes Federation (IDF). 2017. Konsensus Atlas. (7𝑡ℎ Ed).


https://diabetesatlas.org/resources/2017-atlas.html. Di akses tanggal 10
Oktober 2019

Bruckel, J. W. Kerner.2014. Definition, Classification and Diagnosis of Diabetes


Melitus. Exp Clin Endokrinol Diabetes

Linus Pauling Institute. Glycemic Index and Glycemic Load. Oregon State University
Diakses pada http:lpi.Oregonstate.edu tanggal 14 oktober 2019
Moorhead, sue dkk (Ed).2016. Nursing outcomes Classification (NOC), Edisi ke-5
(Edisi Bahasa Indonesia). Elsevier

Mary E. Back. 2011. Buku ajar ilmu gizi dan diet hubungannya dengan penyakit-
penyakit untuk perawat dan dokter. Ed.I. Yogyakarta:Yayasan Essentia
Medica (YEM)
Ns. Paulus Subiyanto, M.Kep., Sp.KMB. 2019. Buku ajar asuhan keperawatan pada
pasien dengan gangguan sistem endokrin: untuk dosen dan mahasiswa DIII
keperawatan. Yogyakarta:Pustaka baru press

Nursalam. 2011. Proses dan Dokumentasi Keperawatan, Konsep dan Praktek.


Jakarta:Salemba medika

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia(Perkeni). 2015. Konsensus Pengelolaan dan


Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia .Jakarta.
https:pbperkeni.or.id/wp=content/uploads-konsensus-pengelolaan-dan-
pencegahan-diabetes-melitus-tipe-2-di-Indonesia-
Perkeni2015.pdf&ved=2ahUKEwoyq0bTIAhWBOovVaw1PxTUAnZLMkJY
CkfCBY1mU. Diakses tanggal 17 september 2019

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). 2017. Standar Diagnosis


Keperawatan Indonesia. Edisi 1 . Dewan pengurus pusat PPNI: Jakarta

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2018. Kementerian Kesehatan RI. Badan


Penelitian dan Pengembangan. http://labdata.litbang.depkes.go.id/menu-
download/menu-download-laporan. Diakses 14 Oktober 2019

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2018. Kementerian Kesehatan RI. Badan


Penelitian dan Pengembangan: Jakarta. http://www.depkes.go.id.article/view/
181212200001/prevent-prevent-and-prevent-the-voice-of-the-world-fight-
diabetes.html.Di akses tanggal 18 September 2019

Rock CL. 2004. Nutrition in the Prevalention and Treatment of disease. Di dalam:
Goldman L Ausiello D, editor. Cecil Textbook of medicin.
Philadelphia:Saunders

Snehalatha, Chamukuttan dan Ramachandran, Ambady. 2009. Diabetes Melitus


Dalam Gizi Kesehatan Masyarakat. Editor : Micheal J gibney, et al. :
Jakarta:Penerbit buku kedokteran EGC

Smeltzer Suzanne C. Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Edisi 8. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta
Sri, Endah. W. Herawati. 2017. Persepsi Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Pada Pasien
Diabetes Melitus di Desa Sawah Kuwung Karang Anyar. Journal care Vol. 5,
No. 2 Https:www.google.com/url?=https://jurnal.unitri.ac.id/index.php
/care/article/download/571. Di akses tanggal 7 September 2019
Tumiwa A. Franky, Yuanita A. langi. (2010). Terapi Gizi Medis Pada Diabetes
Melitus. Manado:Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://ejournal.uns
rat.ac.id/index.php/biomedik/article/download/846/664&ved=2. Diakses
tanggal 7 september 2019

World Health Organization (WHO). 2017. https:www.who.int/gho/publications/


world_health_statistics/2017/en/. Di akses tanggal 14 september 2019

World Health Organization (WHO).(2014). https:www.who.int/gho/publications/


world_health_statistics/2014/en/. Diakses tanggal 15 september 2019