Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIK
PERCOBAAN IV
“STOIKIOMETRI REAKSI LOGAM DENGAN GARAM”

NAMA : WA ODE YANI

NIM : A1L1 16 043

KELOMPOK : V (LIMA) A

ASISTEN : SARIANTI

LABORATORIUM JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada dasarnya, stoikiometri reaksi dalam larutan sama dengan stoikiometri

pada umumnya, yaitu bahwa perbandingan mol zat-zat yang terlibat dalam reaksi

sama dengan koefisien reaksinya. Hitungan stoikiometri reaksi dapat digolongkan

sebagai stoikiometri sederhana, stoikiometri dengan pereaksi pembatas, dan

stoikiometri yang melibatkan campuran. Hitungan stoikiometri dengan salah satu zat

dalam reaksi diketahui atau dapat ditentukan jumlah molnya, digolongkan sebagai

stoikiometri sederhana. Stoikiometri merupakan dasar perhitungan kimia yang

menyatakan relasi kuantitatif rumus kimia dan persamaan kimia. Stoikiometri adalah

cabang ilmu kimia yang berhubungan dengan suatu hubungan kuantitatif yang

terdapat antara reaktan dan juga produk dalam reaksi kimia. Reaktan ialah suatu zat

yang berpartisipasi didalam reaksi kimia, dan juga produk ialah suatu zat yang

diperoleh sebagai hasil dari reaksi kimia.

Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan senyawa

kimia. Senyawa ataupun senyawa-senyawa awal yang terlibat dalam reaksi disebut

sebagai reaktan. Reaksi kimia biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan

kimiawi, dan akan menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-

ciri yang berbeda dari reaktan. Reaksi kimia dapat digolongkan ke dalam reaksi

redoks. Istilah dari redoks berkaitan dengan peristiwa reduksi dan oksidasi.

Pengertian reaksi reduksi dan oksidasi itu telah mengalami perkembangan. Pada
awalnya reaksi reduksi dan oksidasi berkaitan dengan pelepasan dan pengikatan

oksigen, oksidasi sebagai pengikat oksigen sedangkan reduksi dikaitkan dengan

pelepasan oksigen. Pada perkembangan selanjutnya reaksi oksidasi dan reaksi

reduksi dikaitkan dengan penangkapan dan pelepasan elektron dan dengan perubahan

bilangan oksidasinya.

Sebagian besar unsur logam dan nonlogam diperoleh dari bijinya melalui

proses oksidasi reduksi. Logam tembaga merupakan logam merah muda yang lunak,

dapat ditempa dan liat. Tembaga dapat melebut pada suhu 1038oC. Pasangan

Cu/Cu2+ tembaga tidak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer karena

potensial dari elektrodanya positif (+0,34V). Kebanyakan senyawa Cu(I) sangat

mudah teroksidasi menjadi Cu(II). Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dikakukan

praktikum dengan judul “Stoikiometri Reaksi Logam Tembaga dan Garam Besi III”.

1.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari stoikiometri reaksi

antara logam tembaga dengan larutan besi (III) dan meramalkan komposisi ion

tembaga yang dihasilkan

1.3 Prinsip Percobaan

Prinsip dari percobaan ini adalah mempelajari stoikiometri reaksi antara

logam tembaga dengan larutan besi (III) dengan meramalkan komposisi ion tembaga

yang dihasilkan berdasarkan harga perbandingan jumlah mol antara ion Fe3+ yang

bereaksi dengan logam tembaga yang terpakai.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stoikiometri

Stoikiometri merupakan kajian tentang hubungan-hubungan kuantitatif dalam

reaksi kimia. Reaksi kimia merupakan pusat perhatian dari ilmu kimia, dapat

dinyatakan bahwa reaksi kimia adalah suatu proses dimana zat-zat baru yaitu hasil

reaksi, terbentuk dari beberapa zat aslinya yang disebut pereaksi. Biasanya suatu

reaksi kimia disertai oleh kejadian-kejadian fisis, seperti perubahan warna,

pembentukan endapan, atau timbulnya gas. Materi stoikiometri mencakup persamaan

reaksi sederhana, penerapan hukum kekekalan massa pada persamaan reaksi, hukum

Gay Lussac, hukum Avogadro, dan perhitungan kimia.Persamaan kimia (chemical

equation) menggunakan lambang kimia untuk menunjukkan apa yang terjadi saat

reaksi berlangsung. Zat yang mengalami perubahan yaitu reaktan, ditulis pada sisi

kiri, dan zat yang terbentuk yaitu produk, ditulis pada sisi kanan dari tanda panah.

Persamaan kimia harus setara dan mengikuti hukum kekekalan massa. Jumlah atom

tiap jenis unsur dalam reaktan dan produk harus sama (Winarni, 2013).

2.2 Titrasi

Titrasi adalah proses untuk memastikan volume yang tepat dari satu larutan

yang secara kimia setara dengan jumlah zat lain yang diberikan, baik larutan lain

atau sejumlah bahan padat yang dilarutkan dalam pelarut. Peralatan yang biasa

digunakan dalam titrasi adalah buret jika larutan asam dititrasi dengan larutan basa.

Titik eqivalen adalah titik dimana jumlah asam dan basa kimiawi yang setara telah
dicampur dan dapat ditentukan dengan indikator. Sedangkan titik akhir titrasi

ditandai dengan perubahan warna larutan. Hal ini memungkinkan untuk analisis

kuantitatif konsentrasi larutan asam atau basa yang tidak diketahui (Mane, 2016).

Titrasi adalah salah satu metodologi analisis tertua, berdasarkan perubahan

mendadak sifat fisika-kimia media titrasi. Menurut A. Johansson deskripsi titrasi

yang mudah dimengerti diperkenalkan oleh C. J. Geoffroy pada tahun 1729.

Awalnya, titrasi dilakukan berdasarkan pada generasi fenomena yang terlihat secara

visual, semacam itu seperti pelangi, presipitasi, atau pewarnaan.. Titrasi berdasarkan

variasi warna menggunakan pengaturan detektor cahaya dikembangkan oleh Muller

dan Partridge pada tahun 1928 dan E. N. Wiseet Al. Tahun 1953 Proposal ini

termasuk pengembangan kedua elektronik setup dan prosedur titrasi asam-basa

fotometrik, menggunakan hari zat sebagai indikator titrasi titik akhir (Lima, 2017).

2.3 Logam

Logam berat merupakan salah satu jenis zat pencemar di perairan. Hal ini

disebabkan sifat-sifat logam berat yang tidak dapat terurai. Dalam kadar rendah,

logam berat pada umumnya sudah beracun bagi makhluk hidup. Logam berat

menjadi berbahaya disebabkan oleh sistem bioakumulasi, yaitu peningkatan

konsentrasi unsur kimia di dalam tubuh makhluk hidup. Banyaknya industri yang

menggunakan logam berat sebagai bahan baku maupun bahan tambahan

mengakibatkan jumlah bahan pencemar meningkat (Irdhawati, 2017).


2.4 Tembaga (Cu)

Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam berat yang dapat ditemukan pada

lingkungan perairan maupun dalam sedimen. Ion Cu (II) dapat terakumulasi di otak,

jaringan kulit, hati, pankreas dan miokardium. Oleh karena itu, proses penanganan

limbah menjadi bagian yang sangat penting dalam industri. Keberadaan unsur

tembaga di alam dapat ditemukan dalam bentuk logam bebas, akan tetapi lebih

banyak ditemukan dalam bentuk persenyawaan. Cu termasuk ke dalam kelompok

logam essensial, dimana dalam kadar yang rendah dibutuhkan oleh organisme

sebagai koenzim dalam proses metabolisme tubuh (Fitriyah, 2012).

Cu merupakan unsur yang esensial, dan dalam kadar rendah dibutuhkan oleh

organisme sebagai koenzim dalam proses metabolisme tubuh dan sifat racunnya baru

muncul dalam kadar yang tinggi. Sumber pencemaran Cu biasa berasal dari limbah

cat, limbah perlistrikan, insektisida dan fungisida (Said, 2014).

Cu merupakan elemen mikro yang sangat dibutuhkan oleh organisme, baik

darat maupun perairan, namun dalam jumlah yang sedikit. Keberadaan Cu di suatu

perairan umum dapat berasal dari daerah industri yang berada di sekitar perairan

tersebut. Logam ini akan terserap oleh biota perairan secara berkelanjutan apabila

keberadaannya dalam perairan selalu tersedia. Terlebih lagi bagi biota perairan

dengan mobilitas yang rendah seperti kerang (Cahyani, 2012).

2.5 Besi (Fe)

Logam Fe juga merupakan logam berat. Logam Fe merupakan logam esensial

yang keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup,

namun dalam jumlah berlebih dapat menimbulkan efek racun. Tingginya kandungan
logam Fe akan berdampak terhadap kesehatan manusia diantaranya bisa

menyebabkan keracunan (muntah), kerusakan usus, penuaan dini hingga kematian

mendadak, radang sendi, cacat lahir, gusi berdarah, kanker, sirosis ginjal, sembelit,

diabetes, diare, pusing, mudah lelah, hepatitis, hipertensi, insomnia

(Supriyantini, 2015).

2.6 Reaksi Redoks

Reaksi redoks adalah reaksi reduksi dan oksidasi. Hal ini karena kedua proses

terjadi bersamaan dalam reaksi yang sama. Reaksi ini melibatkan pengalihan atom

oksigen atau hidrogen atau elektron dari satu unit zat ke zat lainnya. Ada dua jenis

reagen redoks yang digunakan dalam reaksi redoks: zat pereduksi dan zat

pengoksidasi. Dalam reaksi redoks, Agen pereduksi (oksidasi atau reduktor) adalah

zat yang kehilangan atau menyumbangkan elektron, atau mengalami oksidasi yang

jumlah oksidasinya meningkat. Agen pengoksidasi (reduksi atau oksidator) adalah

zat yang memperoleh atau menerima pemilihan, atau dikurangi atau yang jumlah

oksidasi menurun. Oleh karena itu reaksi redoks dapat didefinisikan dalam hal

transfer elektron, hidrogen atau oksigen, atau dalam istilah dari perubahan keadaan

oksidasi spesies dalam reaksi (Shehu, 2015).


BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Kimia Anorganik Percobaan IV dengan judul ”Stoikiometri Reaksi

Logam Dengan Garam” dilaksanakan pada hari Sabtu, 8 Desember 2018 pada pukul

13.00 WITA - selesai, bertempat di Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu gelas kimia 100 mL, 500 mL,

gelas arloji, botol timbang, labu ukur 100 mL, pipet skala 5 mL, 25 mL, buret 50 mL,

erlenmeyer 100 mL, hot plate, spatula, batang pengaduk, filler, botol semprot, gegep,

pipet tetes, statif dan klem.

3.2.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu besi (III) 0,2 M, H2SO4 2,5

M, KMnO4 0,02 M, serbuk Cu 0,2 gram, H2C2O4.2H2O 0,02 M dan aquades.


3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Standarisasi Larutan 0,02 M KMnO4

Diambil 5 mL larutan asam oksalat, dimasukkan ke dalam erlenmeyer 100

mL, ditambahkan 20 mL H2SO4 2,5 M, lalu dititrasi dengan larutan standar KMnO4

yang akan distandarisasi dari buret dan dihitung molaritas larutan standar KMnO4.

3.3.2 Stoikiometri Reaksi Logam Cu dengan Garam Fe(III)

Ditimbang 0,2 gram tepat serbuk logam tembaga dengan gelas kimia 100 mL

yang kering, disiapkan gelas beker 500 mL, lalu diisilah dengan 30 mL larutan besi

(III) 0,2 M dan 15 mL larutan asam sulfat 2,5 M. Selanjutnya dimasukkan dengan

hati-hati gelas kimia beserta isinya kedalam gelas beker yang telah berisi larutan besi

(III) dan asam sulfat tersebut. Diusahakn semua serbuk masuk kedalam larutan.

Ditutup gelas beker itu dengan gelas arloji, kemudian dididihkan hingga semua

tembaga karut sempurna. Sekali-kali diaduk agar tidak ada tembaga yang menempel

pada dinding gelas. Setelah reaksi berhenti, diambil gelas kimia dengan

menggunakan penjepit dan didinginkan larutan pada udara terbuka, kemudian

dipindahkan secara kuantitatif kedalam labu takar 100 mL dan diencerkan sampai

tanda tera. Diambil larutan 25 mL dengan pipet skala, dimasukkan kedalam

erlenmeyer 100 mL kemudian logam besi (II) yang ada dalam larutan dititrasi

dengan larutan standar KMnO4 0,02 M. Diulangi titrasi ini sebanyak 3 kali. Dihitung

konsentrasi Fe2+ yang dihasilkan dalam reaksi (pada langkah 2) dan dihitung pula

perbandingan jumlah mol.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

4.1.1 Standarisasi Larutan 0,02 M KMnO4

Tabel 4.1.1 Standarisasi Larutan 0,02 M KMnO4


No. Perlakuan Pengamatan
1. Diambil 5 mL larutan asam oksalat, Larutan bening
ditambahkan 20 mL H2SO4 2,5 M,
2. Dititrasi dengan larutan standar KMnO4 yang V = 6,3 mL dan larutan
akan distandarisasi dari buret. berwarna pink ke ungu-
unguan
3. Dihitung molaritas larutan standar KMnO4 [KMnO4] = 0,01587 M

4.1.2 Stoikiometri Reaksi Logam Cu dengan Garam Fe3+

Tabel 4.1.2 Stoikiometri Reaksi Logam Cu dengan Garam Fe3+


No. Perlakuan Pengamatan
1. Ditimbang 0,2 gram serbuk logam tembaga Berwarna coklat atau merah
bata
Dimasukkan 30 mL larutan besi (III) 0,2 M
2. dan 15 mL larutan asam sulfat 2,5 M Larutan berwarna kuning
kedalam gelas kimia
3. Dimasukkan gelas kimia yang berisi serbuk Serbuk tembaga tidak larut
logam tembaga kedalam gelas kimia. sempurna
Didihkan hingga semua tembaga bereaksi
sempurna
4. Didinginkan dan dipindahkan dalam labu Terdapat endapan coklat
takar lalu diencerkan sampai tanda tera
Dimasukkan 25 mL larutan tembaga
5. kedalam erlenmeyer dan dititrasi dengan Larutan berwarna merah bata
larutan standar KMnO4 0,02 M
6. Titrasi pertama V1 KMnO4 = 0,7 mL
7. Titrasi kedua V2 KMnO4 = 0,3 mL
8. Titrasi ketiga V3 KMnO4 = 0,5 mL
4.2 Reaksi Lengkap

1. Standardisasi Larutan KMnO4 0,02 M

MnO4⁻ + 8H⁺ + 5e⁻ → Mn²⁺ + 4H2O ×2

C2O4²⁻ → 2CO2 + 2e⁻ ( ×5)

2MnO4⁻ + 5 C2O4²⁻ + 16H⁺ → 2Mn²⁺ + 10CO2 + 8H2O

2. Stoikiometri Fe³⁺dan Cu

Fe³⁺ + Cu → Fe²⁺ + Cu⁺

2Fe³⁺ + Cu → 2Fe²⁺ + Cu⁺

Fe2+ Fe3+ + e- ×5

MnO4⁻ + 8H⁺ + 5e⁻ → Mn²⁺ + 4H2O____×1__

5Fe2+ + MnO4⁻ + 8H⁺ → 5Fe3+ + Mn²⁺ + H2O

4.3 Analisis Data

4.3.1 Standarisasi Larutan 0,02 M KMnO4

Dik: V H2C2O4.2H2O = 5 mL = 0,005 L

[H2C2O4.2H2O] = 0,02 M

V rata-rata KMnO4 = 6,3 mL = 0,0063 L

Dit: [KMnO4] baku = ....?

Penye: V1M2 = V2M2

0,005 L x 0,02 M = 0,0063 L x M2

0,005 L x 0,02 M
M2 =
0,0063 L

M2 = 0,01587 M

Jadi, [KMnO4] baku = 0,01587 M


4.3.2 Stoikiometri Reaksi Logam Cu dengan Garam Fe (III)

Dik: Berat serbuk Cu = 0,2 gram

Volume Fe (III) 0,2 M = 30 mL

Volume H2SO4 2,5 M = 15 mL

V Fe(II) = 25 mL (titrasi) = 0,025 L

Vrata-rata KMnO4 0,02 M = 0,5 mL = 0,0005 L

Cu+
Dit: [Fe(II)], perbandingan mol (r) dan = ....?
Cu2+

Penye: Reaksi 5Fe2+ + MnO4- + 8H+ → 5Fe3+ + Mn2- + 4H2O

Mol MnO4- = V KMnO4 x [KMnO4] baku

= 0,0005 L x 0,01587 mol/L

= 0,000007935 mol

Mol Fe2+ = 5 x mol MnO4-

= 5 x 0,000007935 mol

= 0,000039657 mol

mol Fe2+ 0,000039675 mol


[Fe2+] = =
vol Fe2+ 0,025 L

= 0,001587 M

Berat Cu 0,2
Mol Cu awal = =
BM Cu 63,5

= 0,003 mol

mol Fe2+ hasil 0,000039675


r= =
mol Cu 0,003

= 0,013225

Cu+ 2−r 2−0,013225 1,986775


Perbandingan = = = = -2,0134
Cu2+ r−1 0,013225−1 −0,986775
4.4 Pembahasan

Percobaan ini terdiri dari dua perlakuan. Pertama yaitu standarisasi larutan

KMnO4 0,02 M dengan asam oksalat yang bertujuan untuk menentukan konsentrasi

yang sebenarnya dari KMnO4 sehingga dapat digunakan sebagai larutan baku dalam

penentuan stoikiometri reaksi antara logam dengan garam besi (III) dengan metode

titrasi. Standarisasi adalah suatu usaha untuk menentukan konsentrasi yang tepat dari

calon larutan baku. Proses ini dilakukan dengan mencampurkan asam oksalat dengan

asam sulfat yang kemudian dititrasi dengan larutan standar KMnO4. Larutan standar

merupakan larutan yang telah diketahui konsentrasinya, dimana nantinya larutan

standar tersebut yang akan dimasukkan ke dalam buret dan ditambahkan secara

perlahan-lahan ke dalam analit untuk mencapai titik ekivalennya.

Penggunaan asam sulfat dalam proses standarisasi KMnO4 disebabkan asam

sulfat yang paling sesuai digunakan, karena tidak bereaksi terhadap permanganat

dalam larutan encer sedangkan asam lain seperti asam klorida kemungkinan

mengalami reaksi dengan kalium permanganat. Larutan yang mulanya bening

berubah menjadi pink ke ungu-unguan setelah tercapai titik ekivalen dengan volume

sebesar 6,3 mL. Titrasi yang digunakan dalam percobaan ini disebut sebagai titrasi

redoks. Dimana KMnO4 merupakan oksidator kuat dan telah digunakan secara luas.

Larutan ini juga mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator karena memiliki

warna sendiri. Permanganat dapat mengalami reaksi yang bermacam-macam, karena

Mn dapat berada dalam keadaan dengan bilangan oksidasi +2, +3, +4, +6 dan +7,

karena titrasi ini menggunakan oksidator kuat maka disebut sebagai oksidimetri

dimana larutan cuplikan merupakan reduktornya. Permanganat yang bereaksi dengan


larutan campuran yang bersifat asam akan mengalami reduksi menjadi Mn2+ dimana

biloksnya turun dari +7 menjadi +2. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan

diperoleh konsentrasi KMnO4 yaitu 0,0158 M.

Perlakuan kedua yaitu stoikiometri logam Cu dengan garam Fe (III) yang

dilakukan dengan menimbang serbuk tembaga sebanyak 0,2 gram dan dimasukan ke

dalam gelas kimia 100 mL lalu dimasukkan ke dalam gelas kimia 500 mL yang

berisi 30 mL larutan garam besi (III) 0,2 M yang ditambahkan dengan 15 mL larutan

asam sulfat 2,5 M. Pencampuran larutan mengakibatkan terjadinya perubahan warna

dari kuning pekat menjadi kuning pudar. Hal ini terjadi karena besi III mengalami

reaksi reduksi menjadi besi II. Selanjutnya, gelas kimia 500 mL yang berisi gelas

kimia kecil dipanaskan hingga mendidih dan ditutup dengan gelas arloji. Pemanasan

dilakukan agar logam tembaga dapat larut, namun saat dilakukan pemanasan logam

tembaga tidak larut sempurna karena beda potensial tembaga sangat positif sehingga

tembaga sulit larut dan suhu yang digunakan saat pemanasan di bawah suhu 10000 C.

Sesuai hasil reaksi yang terjadi, Cu mengalami oksidasi dari Cu menjadi Cu2+.

Setelah itu, larutan didinginkn dan diencerkan dengan aquades pada labu takar 100

mL sampai batas tera.

Sebanyak 25 mL larutan diambil dan dimasukkan kedalam erlenmeyer untuk

dilakukan titrasi dengan menggunakan KMnO4 0,02 M. Titrasi dilakukan secara

triplo untuk mencari rata-ratanya. Pada proses titrsi ini diperoleh volume KMnO4

yang digunakan yaitu berturut-turut 0,7 mL, 0,3 mL dan 0,5 mL dengan rata-rata

volume yaitu sebesar 0,5 mL. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan

diperoleh konsentrasi besi II yang dihasilkan adalah 0,00158 M dengan perbandingan


antara besi II yang dihasilkan dan tembaga yang terpakai (r) sebesar 0,013225. Nilai

r ini digunakan untuk mengetahui perbandingan antara konsentarai ion tembaga I

(Cu+) dan ion tembaga II (Cu2+). Berdasarkan perhitungan, perbandingan antara Cu+

dengan Cu2+ adalah -2,0134.


BAB V
SIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa stoikiometri

merupakan aspek ilmu yang menyangkut kesetaraan massa antara zat yang terlibat

dalam reaksi kimia, baik dalam skala molekular maupun dalam skala eksperimental.

Harga r untuk perbandingan mol Fe2+ dengan mol Cu yang terpakai sebesar 0,013225

dan perbandingan antara Cu+ dengan Cu2+ adalah -2,0134. Karena beda potensialnya,

tidak ada yang mendekati nilai r, maka hasil analisa dari pengamatan yang dilakukan

adalah stoikiometri antara logam tembaga dan garam besi III tidak dapat diramalkan

antara Cu+ atau Cu2+ yang lebih banyak dihasilkan.


DAFTAR PUSTAKA

Cahyani, Dyah Maryuli., Ria Azizah TN dan Bambang Yulianto. 2012. Studi
Kandungan Logam Berat Tembaga (Cu) pada Air, Sedimen, dan Kerang
Darah (Anadara granosa) di Perairan Sungai Sayung dan Sungai Gonjol,
Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Journal Of Marine Research 1(2).

Fitriyah, Anita Wardah. 2012. Analisis Kandungan Tembaga (Cu) Dalam Air Dan
Sedimen Di Sungai Surabaya. Jurnal Perairan 1(2).

Irdhawati., Hery S., Putu Y.A. 2017. Penggunaan Elektroda Pasta Karbon
Termodifikasi Zeolit Untuk Analisis Logam Cu Secara Voltametri Pelucutan
Anodik. Jurnal Penelitian Kimia 13(1).

Lima, Manoel J.A., dan Boaventura F. R. 2017. Fully Automated Photometric


Titration Procedure Employing A Multicommuted Flow Analysis Setup For
Acidity Determination In Fruit Juice, Vinegar, and Wine. Microchemical
Journal 4(2).

Mane A.N, Dhanashri S. K, Vinayak B. K, Satara, Maharashtra. Use Of Combretum


Indicum Flower Extract As A Natural Indicator In Acid-Base Titration.
International Journal of Institutional Pharmacy and Life Sciences 6(3).

Said, Irwan., Dessy Amalia Lubis dan Suherman. 2014. Akumulasi Timbal (Pb) dan
Tembaga (Cu) Pada Ikan Kuniran (Upeneus Sulphureus) Di Perairan Estuaria
Teluk Palu. J. Akad. Kim 3(2).

Shehu, Gerba. 2015. Two Ideas of Redox Reaction: Misconceptions and Their
Challeges in Chemistry Education. Journal of Research & Method in
Education 5(1).

Supriyantini, Endang dan Hadi Edrawati. 2015. Kandungan Logam Berat Besi (Fe)
Pada Air, Sedimen, Dan Kerang Hijau (Perna viridis) Di Perairan Tanjung
Emas Semarang. Jurnal Kelautan Tropis 18(1).

Winarni, Sri., Ade Ismayani., Fitriani. 2013. Kesalahan Konsep Materi Stoikiometri
yang Dialami Siswa SMA. Jurnal Ilmiah Didaktika. 14(1).