Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Geriatri adalah pelayanan kesehatan untuk lanjut usia (lansia) yang

mengobati kondisi dan penyakit terkait dengan proses menua.1 Geriatri

merupakan cabang disiplin ilmu kedokteran yang mempelajari aspek kesehatan

dan kedokteran pada warga lanjut usia termasuk pelayanan kesehatan kepada

lanjut usia dengan mengkaji semua aspek kesehatan berupa promosi, pencegahan,

diagnosis, pengobatan, dan rehabilitasi.2 Menurut Peraturan Menteri kesehatan

Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2015, lanjut usia adalah seseorang yang

telah mencapai usia 60 tahun ke atas.3 Penuaan merupakan suatu proses alamiah

dalam hidup yang tidak dapat ditolak atau ditunda, yang mana pada penuaan akan

diikuti dengan penurunan fungsi- fungsi tubuh yang tentunya membuat

berkurangnya produktivitas.4

Stigma yang berkembang di masyarakat, yaitu bahwa lansia identik

dengan sakit-sakitan, tergantung pada orang lain, serta tidak dapat melakukan

apapun lagi. Dengan demikian, secara umum lansia di pandang sebagai beban

bagi masyarakat. Lansia di pandang beban sebagai masyarakat juga dapat

disebabkan, karena hampir di setiap negara persentase penduduk berusia enam

puluh tahun ke atas tumbuh lebih pesat dari kelompok lainnya, sebagai hasil dari

peningkatan usia harapan hidup danterutama karena penurunan angka kelahiran

hidup, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya ledakan penduduk

usia lanjut yang harus diifikirkan bagaimana membiayai biaya kesehatan serta
perawatannya. Akan tetapi, penuaan tidak seharusnya sepenuhnya diartikan

sebagai beban, melainkan seharusnya kelompok lanjut usia lebih diakui dan

didorong potensinya agar dapat hidup sehat, aktif, dan mandiri.4

Hukum dan etika sangat penting dalam bidang geriatri. Kane dkk

menyatakan :”... ethic is fundamental part of geriatrics. While it is central to the

practice of medicine it self, the dependent nature of geriatric patients, makes it a

special concern...”.Berbagai hal yang perlu di perhatikan yaitu mengenai hidup

dan mati lansia, seperti apakah perlu tindakan resusitasi, apakah perlu makanan

tambahan per infuse tetap diberikan pada seseorang dengan kondisi yang sudah

jelas akan meninggal?. Dalam geriatric, aspek etika erat hubungannya dengan

hukum, dan saling berkaitan. Contoh keterkaitan aspek hukum dengan etika yaitu

lansia dengan kemampuan kognitif yang sudah sangat rendah seperti penderita

demensia, pengurusan harta benda lansia yang tidak mempunyai anak, dan

lainnya.5

Beberapa hal tersebut perlu mendapat perhatian di Indonesia, terutama

dibidang geriatri. Hal ini di sebabkan karena geriatri merupakan bidang ilmu yang

baru saja mulai berkembang. Oleh karena itu, beberapa prinsip etika pelayanan

kesehatan pada lansia belum terdapat/ dilaksanakan di Indonesia. Pengertian dan

pengetahuan mengenai geriatri, akan memberikan gambaran bagaimana

seharusnya masalah etika dan hukum dalam pelayanan lansia diberlakukan.5

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui aspek

medikolegal dalam pelayanan geriatri di Indonesia.


1.2 Rumusan Masalah

Referat ini membahas tentang definisi medikolegal, geriatri, aspek

medikolegal, serta hubungan medikolegal dengan geriatri.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan referat ini yaitu:

1. Mengetahui dan memahami tentang medikolegal, geriatri, serta aspek

medikolegal dalam pelayanan geriatri.

2. Memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di

bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas

Kedokteran Universitas Riau.

1.4 Manfaat Penulisan

Referat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan penulis mengenai

aspek medikolegal dalam pelayanan geriatri.

1.5 Metode Penelitian

Penulisan referat ini disusun menggunakan metode tinjauan pustaka

dengan mengacu pada beberapa literatur.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Medikolegal

Medikolegal adalah suatu ilmu terapan yang melibatkan dua aspek ilmu

yaitu medico yang berarti ilmu kedokteran dan legal yang berarti ilmu hukum.

Medikolegal berpusat pada standar pelayanan medis dan standar pelayanan

operasional dalam bidang kedokteran dan hukum – hukum yang berlaku pada

umumnya dan hukum – hukum yang bersifat khusus seperti kedokteran dan

kesehatan pada khususnya.6

Hakekat aspek medikolegal, merupakan pendekatan medikolegal dalam

ilmu pengetahuan hukum, bukanlah merupakan hal baru, karena dalam ilmu

pengetahuan hukum sudah lama dipelajari berbagai macam jurisprudence,

diantaranya mengeni medical jurisprudence, yang baru dalam hal ini adalah

pendekatannya, khususnya terhadap masalah yang timbul karena praktek profesi

medik. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan dari segi ilmu hukum pada

umumnya, karena harus masuk dalam pertimbangan dua bidang ilmu, yaitu ilmu

kedokteran/medik dan ilmu hukum. Hakekat pendekatan medikolegal ini bertolak

dari hak atas perawatan kesehatan, yaitu hak untuk menentukan nasib sendiri dan

hak atas informasi.6

Medikolegal adalah suatu ilmu terapan yang melibatkan dua aspek ilmu

yaitu medico yang berarti ilmu kedokteran dan -legal yang berarti ilmu hukum.

Medikolegal berpusat pada standar pelayanan medis dan standar pelayanan


operasional dalam bidang kedokteran dan hukum – hukum yang berlaku pada

umumnya dan hukum – hukum yang bersifat khusus seperti kedokteran dan

kesehatan pada khususnya.7

Medikolegal adalah merupakan bidang interdisipliner antara

kesehatan/kedokteran dengan ilmu hukum. Pelayanan medikolegal adalah bentuk

pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis dengan menggunakan

ilmu dan teknologi kedokteran atas dasar kewenangan yang dimiliki untuk

kepentingan hukum dan untuk melaksanakan peraturan yang berlaku. 7,8

2.2 Definisi Geriatri

Menurut WHO lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang

berumur 60 tahun atau lebih. Secara global pada tahun 2013 proporsi dari

populasi penduduk berusia lebih dari 60 tahun adalah 11,7% dari total populasi

dunia dan diperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat seiring dengan

peningkatan usia harapan hidup. Data WHO menunjukan pada tahun 2000 usia

harapan hiup orang didunia adalah 66 tahun, pada tahun 2012 naik menjadi 70

tahun dan pada tahun 2013 menjadi 71 tahun. Jumlah proporsi lansia di Indonesia

juga bertambah setiap tahunnya. Data WHO pada tahun 2009 menunjukan lansia

berjumlah 7,49% dari total populasi, tahun 2011 menjadi 7,69% dan pada tahun

2013 didapatkan proporsi lansia sebesar 8,1% dari total populasi (WHO, 2015).9

Kata geriatri pertama kali ditemukan pada tahun 5000 SM dalam

Ayurveda, naskah kedokteran India kuno. Ayurveda terdiri atas 8 cabang, salah

satunya ilmu geriatri (rasayana) yang didefinisikan sebagai rasayanam cha tat

jneyam yat jara vyadhi nashanam yang berarti cabang ilmu kedokteran dengan

fokus pada penuaan dini dan tatalaksana penyakit terkait usia lanjut.9
Aristoteles, menggunakan kata eugeria (eu berarti perilaku baik dan geria

berarti perlakuan terhadap usia lanjut) pada buku pertamanya yang ditulis tahun

367 SM. Kata eugeria digunakan untuk menjelaskan successful ageing, yaitu

hidup lama, bahagia, mandiri, dan tidak sakit. Pada zaman Romawi Kuno (45 SM-

476 M), Seneca menulis bahwa usia tua merupakan penyakit yang tidak dapat

disembuhkan, namun dapat ditunda dengan latihan jasmani dan diet yang tepat.

Pada tahun 898- 980 M, Algizar seorang dokter Arab menulis buku kesehatan

pada usia lanjut mengenai kepikunan, cara meningkatkan memori, dan gangguan

tidur. Avicenna pada tahun 1025 M menulis buku The Canon of Medicine:

Regimen of Old Age yang menyatakan bahwa usia lanjut memerlukan tidur yang

cukup, latihan jasmani seperti berjalan dan berkuda, diet tepat, serta tata laksana

konstipasi.9

2.3 Aspek Medikolegal dalam Pelayanan Geriatri

2.3.1 Hubungan antara Dokter dan Pasien

Aspek medikolegal Sesudah diterbitkannya dalam Undang-Undang Praktik

kedokteran No. 29 Tahun 2004 (UU Praktek Kedokteran) norma disiplin menjadi

hal baru yang perlu diperhatikan dan dikaji, karena didalam Konsil Kedokteran

Indonesia (KKI) ada lembaga yang disebut sebagai Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia (MKDKI) dengan tujuan menegakkan disiplin dokter dan

dokter gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran terdapat hubungan antara

dokter dengan pasien. Hubungan tersebut berupa :10

1. Hubungan Kebutuhan

2. Hubungan Kepercayaan

3. Hubungan Keprofesian
4. Hubungan Hukum

Hubungan antara dokter dengan pasien dalam transaksi “terapeutik” didasari

oleh dua macam hak asasi manusia, dengan demikian keberadaan hubungan antara

dokter dengan pasien, baik ditinjau dari sudut hukum maupun aspek pelayanan

kesehatan, tidak terlepas dari hak asasi manusia yang melekat dalam diri manusia,

khususnya hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak untuk memperoleh

pelayanan kesehatan. 10

Perjanjian terapeutik antara dokter dan pasien menimbulkan hak dan

kewajiban masing-masing pihak, dari aspek perdata berupa persetujuan antara

dokter dengan pasien merupakan akibat kelalaian di bidang perdata serta

tuntutannya terhadap pelayanan kesehatan, sedangkan dari sudut pidana yang

ditimbulkan adanya hubungan hukum dalam pelayanan kesehatan meliputi

kebenaran dari isi surat keterangan kesehatan, wajib simpan rahasia oleh dokter

tentang kesehatan pasien, pengguguran kandungan dan lain sebagainya. 10

Tindakan medis tertentu yang dilakukan oleh dokter tidak dapat dijatuhi

sanksi pidana, apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut: 10

1. Ada indikasi medis yang dilakukan untuk mencapai tujuan konkret tertentu.

2. Tindakan medis dilakukan menurut aturan dalam ilmu kedokteran.

3. Mendapatkan persetujuan dari pasien terlebih dahulu.

Jika terjadi Kesalahan yang dilakukan oleh dokter, maka perbuatan tersebut

tidak menghilangkan sifat melawan hukum dalam hukum pidana. Kesalahan

dokter tersebut tetap bisa dimintai pertanggungjawaban, meskipun tindakan medis

yang dilakukan oleh dokter telah disetujui oleh pasien atau keluarga pasien. Aspek

hukum administrasi dalam melakukan tindakan medis berhubungan dengan


kewenangan dokter secara yuridis yang didasarkan pada syarat yang harus

dipenuhi yaitu untuk memiliki izin praktek dokter yang sah. Perjanjian terapeutik

merupakan inspaningverbintenis, bahwa secara berhati-hati, teliti, dan trampil

sesuai dengan ilmu pengetahuannya serta pengalamannya untuk menyembuhkan

pasien. 10

Hal yang terpenting dalam perjanjian terapeutik adanya informasi dari

kedua belah pihak yang merupakan hak dan kewajiban masing-masing

sebagailandasan untuk melaksanakan tindakan medis. Dasar hukum perjanjian

terapeutik Pasal 1233 KUHP.10,11

Dasar Hukum hubungan dokter dengan pasien dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Karena Kontrak (perjanjian terapeutik)

2. Karena Undang- Undang

Pelanggaran terhadap KODEKI ada yang merupakan pelanggaran etik saja,

ada pula yang merupakan pelanggaran etik sekaligus pelanggaran hukum, salah

satu contohnya: 10

Pelanggaran etik murni: 10

- Menarik imbalan yang tidak wajar

- Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya

- Memuji diri sendiri dihadapan pasien

- Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran yang berkesinambungan

- Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri

Pelanggaran etikolegal: 10

- Pelayanan dokter dibawah standar

- Menerbitkan surat keterangan palsu (Pasal 263 dan 267 KUHP)


- Memberikan atau menjual obat palsu (Pasal 286 KUHP)

- Membuka rahasia jabatan atau pekerjaan dokter (Pasal 322 KUHP)

- Abortus Provocatus Criminalis (Pasal 299, 348, 349 KUHP)

- Pelecehan seksual

Gambar1.2 Norma dalam praktik Kedokteran

Tanggungjawab dokter menurut UU Perlindungan Konsumen

Pasien merupakan pihak penerima pelayanan kesehatan yang dapat

dikategorikan sebagai konsumen pengguna jasa yang diberikan oleh tenaga

kesehatan. Dokter dapat dikategorikan sebagai pelaku usaha dibidang jasa

pelayanan kesehatan. Hubungan antara konsumen dan pelaku usaha di Indonesia

diatur dalam Undang-Undang No.8 Tahun 1999. 12


Gambar1.1 Hubungan Dokter-Pasien

2.3.2 Prinsip Pelayanan Kesehatan pada Pasien Geriatri

Beberapa prinsip yang harus dijalankan dalam pelayanan pada penderita

usia lanjut adalah :

 Empati : istilah empati menyangkut pengertian : ”simpati atas dasar pengertian

yang dalam”. Dalam istilah ini diharapkan upaya pelayanan geriatri harus

memandang seorang lansia yang sakit denagn pengertian, kasih sayang dan

memahami rasa penderitaan yang dialami oleh penderita tersebut. Tindakan

empati harus dilaksanakan dengan wajar, tidak berlebihan, sehingga tidak

memberi kesan over-protective dan belas-kasihan. Oleh karena itu semua

petugas geriatrik harus memahami peroses fisiologis dan patologik dari

penderita lansia.13
 Yang harus dan yang ”jangan” : prinsip ini sering dikemukakan sebagai non-

maleficence dan beneficence. Pelayanan geriatri selalu didasarkan pada

keharusan untuka mngerjakan yang baik untuk pnderita dan harus menghindari

tindakan yang menambah penderita (harm) bagi penderita. Terdapat adagium

primum non nocere (”yang penting jangan membuat seseorang menderita”).

Dalam pengertian ini, upaya pemberian posisi baring yang tepat untuk

menghindari rasa nyeri, pemberian analgesik (kalau perlu dengan derivat

morfina) yang cukup, pengucapan kata-kata hiburan merupakan contoh

berbagai hal yang mungkin mudah dan praktis untuk dikerjakan.13

 Otonomi : yaitu suatu prinsip bahwa seorang inidividu mempunyai hak untuk

menentukan nasibnya, dan mengemukakan keinginannya sendiri. Tentu saja

hak tersebut mempunyai batasan, akan tetapi di bidang geriatri hal tersebut

berdasar pada keadaan, apakah penderita dapat membuat putusan secara

mandiri dan bebas. Dalam etika ketimuran, seringakali hal ini dibantu (atau

menjadi semakin rumit ?) oleh pendapat keluarga dekat. Jadi secara hakiki,

prinsip otonomi berupaya untuk melindungi penderita yang fungsional masih

kapabel (sedanagkan non-maleficence dan beneficence lebih bersifat

melindungi penderita yang inkapabel). Dalam berbagai hal aspek etik ini

seolah-olah memakai prinsip paternalisme, dimana seseorang menjadi wakil

dari orang lain untuk membuat suatu keputusan (mis. Seorang ayah membuat

keuitusan bagi anaknya yang belum dewasa). 13

 Keadilan : yaitu prinsip pelayanan geriatri harus memberikan perlakuan yang

sama bagi semua penderita. Kewajiban untuk memperlakukan seorang


penderita secara wajar dan tidak mengadakan pembedaan atas dasar

karakteristik yang tidak relevan. 13

2.3.3 Pengambilan Keputusan pada Pasien Geriatri

Dengan melihat prinsip diatas tersebut, asek etika pada pelayanan geriatric

berdasarkan prinsip otonomi kemudian di titik beratkan pada berbagai hal sebagai

berikut :

1. penderita harus ikut berpartisipasi dalam prosea pengambilan keutusan dan

pembuatan keputusan. Pada akhirnya pengambilan keputusan harus bersifat

sukarela.13

2. keputusan harus telah mendapat penjelasan cukup tentang tindakan atau

keputusan yang akan diambil secara lengkap dan jelas. 13

3. keputuan yang diambil hanya dianggap sah bial penderita secara mental

dianggap kapabel. 13

Atas dasar hal diatas maka aspek etika tentang otonomi ini kemudian

ituangkan dalam bentuk hukum sebagai persetujuan tindakan meik (pertindik)

atau informed consent. Dalam hal seperti diatas, maka penderita berha menolak

tindakan medik yang disarankan oleh dokter, tetapi tidak berarti boleh memilih

tindakan, apabila berdasarkan pertimbangan dokter yang bersangkutan tindakan

yang dipilih tersebut tidak berguan (useless) atau bahkan berbahaya (harmful). 13

Kapasitas untuk mengambil keputusan, merupakan aspek etik dan hokum

yang sangat rumit. Dasar dari penilaian kapasitas pengambilan keputusan


penderita tersebut haruslah dari kapasitas fungsional penderita dan bukan atas

dasar label iagnosis, antara lain terlihat dari : 13

 Apakan penderita bisa buat/tunjukan keinginan secara benar ?

 Dapatkah penderita memberi alasan tentang pilihan yang dibuat ?

 Dpakah alasan penderita tersebut rasional (artinya setelah penderita

mendapatkan penjelasan yang lengkap dan benar) ?

 Apakah penderita mengerti implikasi bagi dirinya ? (misalnya tentang

keuntungan dan kerugian dari tindakan tersebut ? dan mengerti pula berbagai

pilihan yang ada) ?

Pendekatan fungsional tersebut memang sukar, karena seringkali masih

terdapat fungsi yagn baik dari 1 aspek, tetapi fungsi yagn lain sudah tidak baik,

sehingga perlu pertimbangan beberapa faktor. Pada usia lanjut serinkali sudah

terdapat gangguan komunikasi akibat menurunnya pendengaran, sehingga perlu

waktu, upaya dan kesabaran yang lebih guna mengetahui kapasitas fungsional

penderita.10

Pada dasarnya prinsip etika ini mnyatakan bahwa kapasitas penderita

untuk mengambil/menentukan keputusan (prinsip otonomi) dibatasi oleh :

 Realitas klinik adanya gangguan proses pengambilan keputusan (misalnya

pada keadaan depresi berat, tidak sadar atau dementia). Bila gangguan

tersebut demikian berat, sedangakan keputusan harus segera diambil, maka

keputusan bisa dialihkan kepada wakil hukum atau walimkeluarga


(istri/suami/anak atau pengacara). Dalam istilah asing keadaan ini disebut

sebagai surrogate decission maker. 10

 Apabila keputusan yang diharapkan bantuannya bukan saja mengenai aspek

medis, tetapi mengenai semua aspek kehidupan (hokum, harta benda dll)

maka sebaiknya terdapat suatu badan pemerintah yang melindungi

kepentingan penderita yang disebut badan perlindungan hokum (guardianship

board).

Dalam kenyatannya pengambila keputusan ini sering dilakukan

berdasarkan keadaan de-facto yaitu oleh suami/istri/anggota kelurga, dinbanding

keadaan de-jure oleh pengacara, karena hal yang terkhir ini sering tidak praktis,

waktu lama, dan sering melelahkan baik secara fisik maupun emosional. 10

Oleh Karen suatu hal, misalnya gangguan komunikasi, salah pengertian,

kepercayaan penderita atau latar belakang budaya dapat menyebabkan penderita

mengambil keputusan yang salah ( antara lain menolak tramfusi / tindakan bedah

yagn live saving). Dalam hal ini, dokter dihadapkan pada keadaan yang sulit,

dimana atas otonomi penderita tetap harus dihargai. 10

Yang penting adalah bahwa dokter mau mendengar semua keluhan atau

alas an penderita dan kalau mungkin memperbaiki keputusan penderita tersebut

denagn pemberian edukasi. Seringkali perlu diambil tindakan “kompromi” antara

apa yang baik menurut pertimbangan dokter dan apa yang diinginkan oleh

penderita. 10
2.3.4 Pelayanan Kesehatan pada Pasien Geriatri

Pelayanan Geriatri diberikan kepada pasien Lanjut Usia dengan kriteria:14

a. Memiliki lebih dari 1 (satu) penyakit fisik dan/atau psikis; atau

b. Memiliki 1 (satu) penyakit dan mengalami gangguan akibat penurunan fungsi

organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan yang membutuhkan

pelayanan kesehatan.

Selain pasien Lanjut Usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelayanan

Geriatri juga diberikan kepada pasien dengan usia 70 (tujuh puluh) tahun ke atas

yang memiliki 1 (satu) penyakit fisik dan/atau psikis. 14

Berdasarkan kemampuan pelayanan, pelayanan Geriatri di Rumah Sakit

dibagi menjadi: 14

a. tingkat sederhana;

b. tingkat lengkap;

c. tingkat sempurna; dan

d. tingkat paripurna.

Jenis pelayanan Geriatri tingkat sederhana paling sedikit terdiri atas rawat

jalan dan kunjungan rumah (home care). Jenis pelayanan Geriatri tingkat lengkap

paling sedikit terdiri atas rawat jalan, rawat inap akut, dan kunjungan rumah

(home care). Jenis pelayanan Geriatri tingkat sempurna paling sedikit terdiri atas

rawat jalan, rawat inap akut, kunjungan rumah (home care), dan Klinik Asuhan

Siang, dan jenis pelayanan Geriatri tingkat paripurna terdiri atas rawat jalan,
Klinik Asuhan Siang, rawat inap akut, rawat inap kronik, rawat inap Psikogeriatri,

penitipan Pasien Geriatri (respite care), kunjungan rumah (home care), dan

Hospice. 14

Selain menyelenggarakan pelayanan Geriatri, Rumah Sakit dengan

pelayanan Geriatri tingkat sempurna dan tingkat paripurna, melaksanakan

pendidikan, pelatihan, dan penelitian serta kerjasama lintas program dan lintas

sektor dalam rangka pengembangan pelayanan Geriatri dan pemberdayaan

masyarakat. 14

Tim Terpadu Geriatri pada pelayanan Geriatri tingkat sederhana paling sedikit

terdiri atas: 14

a. dokter spesialis penyakit dalam;

b. dokter spesialis lainnya sesuai dengan jenis penyakit Pasien Geriatri;

c. dokter;

d. perawat yang telah mengikuti pelatihan keperawatan gerontik atau pelatihan

keterampilan inteligensia;

e. apoteker;

f. tenaga gizi;

g. fisioterapis; dan

h. okupasi terapis.
Tim Terpadu Geriatri pada pelayanan Geriatri tingkat lengkap paling sedikit

terdiri atas: 14

a. dokter spesialis penyakit dalam;

b. dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi;

c. dokter spesialis kedokteran jiwa/psikiater ;

d. dokter spesialis lainnya sesuai dengan jenis penyakit Pasien Geriatri;

e. dokter;

f. perawat yang telah mengikuti pelatihan keperawatan gerontik atau pelatihan

keterampilan intiligensia;

g. apoteker;

h. tenaga gizi;

i. fisioterapis;

j. okupasi terapis

k. psikolog; dan

l. pekerja sosial.

Tim Terpadu Geriatri pada pelayanan Geriatri tingkat sempurna paling sedikit

terdiri atas: 14

a. dokter spesialis penyakit dalam;

b. dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi;


c. dokter spesialis kedokteran jiwa/psikiater;

d. dokter spesialis lainnya sesuai dengan jenis penyakit Pasien Geriatri;

e. dokter;

f. perawat yang telah mengikuti pelatihan keperawatan gerontik atau pelatihan

keterampilan inteligensia;

g. apoteker;

h. tenaga gizi;

i. fisioterapis;

j. okupasi terapis;

k. terapis wicara;

l. perekam medis;

m. psikolog; dan

n. pekerja sosial.

Tim Terpadu Geriatri pada pelayanan pelayanan Geriatri paripurna paling sedikit

terdiri atas: 14

a. dokter spesialis penyakit dalam konsultan Geriatri;

b. dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi;

c. dokter spesialis kedokteran jiwa/psikiater;

d. dokter spesialis lainnya sesuai dengan jenis penyakit Pasien Geriatri;


e. dokter;

f. perawat yang telah mengikuti pelatihan keperawatan gerontik atau pelatihan

keterampilan inteligensia;

g. apoteker;

h. tenaga gizi;

i. fisioterapis;

j. okupasi terapis;

k. terapis wicara;

l. perekam medis;

m. psikolog; dan

n. pekerja sosial;

o. psikolog.

Mengingat berbagai kekhususan perjalanan dan penampilan penyakit

pada usia lanjut, terdapat 2 prinsip utama yang harus dipenuhi guna

melaksanakan pelayanan kesehatan pada lanjut usia, yaitu pendekatan

HOLISTIK atau lengkap, serta tatakerja dan tatalaksana secara tim. 14

2.3.4.1 Prinsip Holistik

Pada pelayanan kesehatan usia lanjut sangat unik karena menyangkut

berbagai aspek, yaitu : 10,14


1. Seorang pasien usia lanjut harus dipandang sebagai manusia seutuhnya,

meliputi pula lingkungan kejiwaan (psikologis) dan sosial ekonomi. Hal ini

ditunjukan antara lain bahwa aspek diagnosis penyakit pada pasien usia lanjut

menggunakan tata cara khusus yang disebut sebagai pengkajian geriatric, yang

bukan saja meliputi seluruh organ dan sistem, akan tetapi menyangkut pula

aspek kejiwaan dan lingkungan sosial ekonomi. 10,14

2. Sifat holistik mengandung artian baik secara vertikal atau horizontal. Secara

vertikal dalam arti pemberian pelayanan harus dimulai dari pelayanan di

masyarakat sampai ke pelayanan rujukan tertinggi, yaitu rumah sakit yang

mempunyai pelayanan subspesialis geriatri. Holistik secara horizontal berarti

bahwa pelayanan kesehatan harus merupakan bagian dari pelayanan

kesejahteraan usia lanjut secara menyeluruh. Oleh karenanya, pelayanan

kesehatan harus bekerja secara lintas sektoral dengan dinas/lembaga terkait

dibidang kesejahteraan, misalnya agama, pendidikan, dan kebudayaan, serta

dinas sosial. 10,14

3. Pelayanan holistik juga berarti pelayanan harus mencakup aspek pencegahan

(preventif), promotif, penyembuhan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif).

Begitu pentingnya aspek pemulihan ini, sehingga WHO menganjurkan agar

diagnosis penyakit pada usia lanjut harus meliputi 4 tingkatan penyakit,

sebagai berikut : 10,14

a. Disease (penyakit), yaitu diagnosis penyakit pada pasien, misalnya penyakit

jantung iskemik.
b. Impairment (kerusakan atau gangguan), yaitu adanya gangguan atau kerusakan

dari organ akibat penyakit, misalnya pada keadaan di atas : infark miokard akut

atau kronis.

c. Disability (ketidak-mampuan), yaitu akibat obyektif pada kemampuan

fungsional dari organ atau individu tersebut. Pada kasus di atas misalnya terjadi

dekompensasi jantung.

d. Handicap (hambatan) yaitu akibat sosial dari penyakit. Pada kasus tersebut di

atas ketidakmampuan pasien untuk melakukan aktivitas sosial baik di rumah,

maupun di lingkungan sosial-nya.

2.3.4.2 Prinsip tatakerja dan tatalaksana dalam tim

Tim geriatri merupakan bentuk kerjasama multidisiplin yang bekerja secara

interdisiplin dalam mencapai tujuan pelayanan geriatri yang dilaksanakan. Yang

dimaksud dengan kata multi-disiplin di sini adalah berbagai disiplin ilmu

kesehatan yang secara bersama-sama melakukan penanganan pada pasien usia

lanjut. Komponenya berbeda dengan berbagai tim yang kita kenal pada populasi

usia lain. Pada tim geriatri, komponen utama terdiri dari dokter, pekerja sosio

medik, dan perawat. Tergantung dari kompleksitas dan jenis layanan yang

diberikan, anggota tim bisa ditambah dengan tenaga rehabilitasi medik (dokter,

fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dan lain-lain), psikolog dan/atau

psikiater, ahli farmasi, ahli gizi, dan tenaga lain yang bekerja dalam layanan

tersebut. 10,14

Istilah interdisiplin diberikan sebagai suatu tatakerja dimana masing-masing

anggotanya saling tergantung satu sama lain. Perbedaan dengan tim multidisplin
yang bekerja secara multidisiplin pula (seperti banyak tim kesehatan lainya)

dimana tujuan seolah-oleh dibagi secara kaku berdasarkan disiplin masing-masing

anggota. Pada tim interdisiplin, tujuan merupakan tujuan bersama. Masing-masing

anggota mengerjakan tugas sesuai disiplinnya sendiri-sendiri, akan tetapi tidak

secara kaku. (pada skema di bawah digambarkan sebagai garis terputus). Disiplin

lain bisa memberi saran demi tercapainya tujuan bersama. Secara periodik

dilakukan pertemuan antara anggota tim untuk mengadakan evaluasi kerja yang

telah dicapai, dan kalau perlu mengadakan perubahan demi tujuan bersama yang

hendak dicapai. Dengan kata lain, pada tim multidisiplin kerjasama terutama

bersifat pada pembuatan dan penyerasian konsep, sedangkan pada interdisiplin

kerjasama meliputi pembuatan dan penyerasian konsep serta penyerasian

tindakan. Secara praktis, tatakerja interdisiplin dari tim geriatri adalah melalui

konferensi, bersama-sama menentukan prioritas masalah (setting priority),

menekankan kualitas hidup, membuat program penanganan dan evaluasi

berdasarkan prioritas masalah, serta menentukan kondisi setting limits. Secara

skematis perbedaan antara tim multidisiplin dan tim interdisiplin dapat dilihat

pada gambar 1.

Gambar 1. Perbedaan skematis antara tim multidisiplin dan interdisiplin.


Tim geriatri disamping mengadakan pengkajiaan masalah yang ada,

juga mengadakan pengkajian sumber daya manusia dan sosial ekonomi

yang bisa digunakan untuk membantu penatalaksanaan masalah pasien.

tersebut. Cara kerja seterusnya dapat dilihat seperti dalam skema

berikut.10,14

Gambar 2. Alur kerja penatalaksanaan pasien geriatric .

2.3.5 Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut

a. Pelayanan kesehatan geriatri di masyarakat (Community Based Geriatric

Service)

Dengan prinsip pelayanan geriatri seperti diatas, konsep pelayanan

kesehatan pada populasi lanjut usia direncanakan dan dilaksanakan. Untuk

mengupayakan prinsip holistik yang berkesinambungan, secara garis besar

pelayanan pada kesehatan pada usia dapat dibagi sebagai berikut :10,14
Pada upaya kesehatan pelayanan ini, semua upaya kesehatan yang

berhubungan dan dilaksanakan oleh masyarakat harus diupayakan berperan serta

menangani kesehatan para lanjut usia. Puskesmas dan dokter praktek swasta

merupakan tulang punggung layanan di tingkat ini. Puskesmas berperan dalam

membentuk kelompok/klub lanjut usia. Di dalam dan melalui klub lanjut usia ini

pelayanan kesehatan dapat lebih mudah dilaksanakan, baik usaha promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif. 10,14

Pada dasarnya layanan kesehatan geriatri di tingkat masyarakat seharusnya

mendayagunakan dan mengikut-sertakan masyarakat (termasuk para lanjut usia)

semaksimal mungkin. Yang perlu dikerjakan dengan berbagai cara, antara lain

ceramah, symposium, lokakarya, dan penyuluhan-penyuluhan. 10,14

b. Pelayanan kesehatan geriatri di masyarakat berbasis rumah sakit (Hospital

Based Comomnity Geriatric Service)

Pada layanan tingkat ini, rumah sakit setempat yang telah melakukan

layanan geriatri bertugas membina geriatri berada di wilayah-wilayahnya, baik

secara langsung atau tidak langsung memalui pembinaan pada puskesmas yang

berada diwilayah kerjanya “Transfer of Knowledge” berupa lokakarya, ceramah-

ceramah, symposium baik kepada tenaga kesehatan ataupun kepada awam perlu

dilaksanakan. Di lain pihak, rumah sakit harus selalu bersedia bertindak sebagai

rujukan dari layanan kesehatan yang ada di masyarakat. 10,14


c. Pelayanan kesehatan geriatri berbasis rumah sakit (Hospital Based Geriatric

Service).

Pada layanan ini rumah sakit, tergantung dari jenis layanan yang ada,

menyediakan berbagai layanan bagi para lanjut usia. Mulai dari layanan sederhana

berupa poliklinik lanjut usia, sampai pada layanan yang lebih maju, misalnya

bangsal akut, klinik siang terpadu (day-hospital), bangsal kronis dan/atau panti

rawat wredha (nursing homes). Disamping itu rumah sakit jiwa juga menyediakan

layanan kesehatan jiwa bagi geriatri dengan pola yang sama. Pada tingkat ini,

sebaliknya dilaksanakan suatu layanan terkait antara unit geriatri rumah sakit

umum dengan unit psikogeriatri suatu rumah sakit jiwa, terutama untuk

menangani penderita penyakit fisik dengan komponen gangguan psikis berat atau

sebaliknya. 10,14

2.3.6 Euthanasia Menurut Aspek Medikolegal

Permasalahan euthanasia sudah ada sejak kalangan kesehatan menghadapi

penyakit yang tak tersembuhkan, sementara pasien sudah dalam keadaan sekarat

dan menyiksa. Dalam situasi demikian, tidak jarang pasien memohon agar

dibebaskan dari penderitaan ini dan tidak ingin diperpanjang hidupnya lagi atau di

lain keadaan pada pasien yang sudah tidak sadar, keluarga pasien yang tidak tega

melihat pasien yang penuh penderitaan menjelang ajalnya meminta kepada dokter

atau perawat untuk tidak meneruskan pengobatan atau bila perlu memberikan obat

yang mempercepat kematian. Dari sinilah istilah euthanasia muncul, yaitu

melepas kehidupan seseorang agar terbebas dari penderitaan atau mati secara baik.

Dari kajian penulisan tesis ini dapat di simpulkan bahwa suntik mati atau lebih
sering disebut eutanasia jika ditinjau dari aspek hukum pidana dan hak asasi

manusia di indonesia masih mengalami perdebatan yang belum menemukan

ujung, karena antara pemberian hak asasi manusia dengan pertentangan hukum

nasional khususnya KUHP yang diberlakukan di Indonesia, tetapi pada dasarnya

bahwa perbuatan eutanasia masih meupakan perbuatan yang dilarang dalam

sistem hukum pidana maupun hukum kesehatan yang ada di Indonesia, apapun

dan bagaimanapun alasan yang digunakan dan siapapun yang mengajukan baik

pribadi yang menginginkan sendiri maupun keluarga semuanya masih dilarang

untuk melakukan perbuatan suntik mati tersebut, bahkan tenaga kesehatan juga

masih dilarang untuk melakukan suntik mati tersebut dengan alasan apapun.15

Dilema muncul dan menempatkan dokter atau perawat pada posisi yang

serba sulit. Tenaga medis merupakan suatu profesi yang mempunyai kode etik

tersendiri sehingga mereka dituntut untuk bertindak secara professional. Tenaga

medis merasa mempunyai tanggung jawab untuk membantu menyembuhkan

penyakit pasien, sedangkan di pihak lain, pengetahuan dan kesadaran masyarakat

terhadap hak-hak individu juga sudah sangat berubah. Dengan demikian, konsep

kematian dalam dunia kedokteran masa kini dihadapkan pada kontradiksi antara

etika, moral, hukum, dan kemampuan serta teknologi kesehatan yang sedemikian

maju. 15

Indonesia memang belum mengatur secara spesifik dan tegas mengenai

masalah euthanasia dan hal ini masih menjadi perdebatan pada beberapa kalangan

yang menyetujui tentang euthanasia dan pihak yang tidak setuju tentang hal

tersebut. Pihak yang menyetujui tindakan euthanasia beralasan bahwa setiap

manusia memiliki hak untuk hidup dan hak untuk mengakhiri hidupnya dengan
segera dan hal ini dilakukan dengan alasan yang cukup mendukung, yaitu alasan

kemanusiaan. Dengan keadaan pasien yang tidak lagi memungkinkan untuk

sembuh atau bahkan hidup, maka ia dapat melakukan permohonan untuk segera

diakhiri hidupnya. Sementara sebagian pihak yang tidak memperbolehkan

euthanasia beralasan bahwa setiap manusia tidak memiliki hak untuk mengakhiri

hidupnya karena masalah hidup dan mati adalah kekuasaan mutlak Tuhan yang

tidak bisa diganggu gugat oleh manusia. Secara umum, argumen pihak anti

euthanasia adalah kita harus mendukung seseorang untuk hidup, bukan

menciptakan struktur yang mengizinkan mereka untuk mati. 15

Perdebatan ini tidak akan pernah berakhir karena sudut pandang yang

digunakan sangat bertolak belakang dan lagi-lagi alasan perdebatan tersebut

adalah masalah legalitas dari tindakan euthanasia sendiri sampai pada saat ini

masih mengalami proses perdebatan panjang, dimana perdebatan tersebut,

Euthanasia atau suntik mati olehdokter terhadap seorang pasien yang sudah tidak

memiliki kemampuan mengobati penyakitnya saat ini masih merupakan perbuatan

pidana berupa menghilangkan nyawa orang lain. Untuk menempuh euthanasia,

selain masih ada persoalan hukum yang melarang hal itu, juga masih ada

persoalan etika dan moral. Masih berlakukah sumpah etik dokter, yang berasal

dari sumpah Bapak Ilmu Kedokteran Yunani, Hippokrates (400 SM), tak akan

kulakukan, walaupun atas permintaan, untuk memberikan racun yang mematikan,

ataupun sekedar saran untuk menggunakannya, Pro dan kontra mengenai boleh

tidaknya euthanasiadilakukan haruslah dilihat dalam keadaan senyatanya, tetapi

akan lebih baik lagi bila sebelum dilakukan didahului pengkajian secara

komprehensif, syarat ketat, dan regulasi peraturan. 15


Untuk euthanasia aktif maupun pasif tanpa permintaan, ada beberapa pasal

yang berkaitan atau dapat menjelaskandasar hukum dilakaukannya euthanasia

bagi orang atau keluarga yang mengajukan untuk dilakukan euthanasia:

1. Pasal 340 KUHP

Barang siapa yang dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu menghilangkan

jiwa orang lain, dihukum, karena pembunuhan direncanakan (moord), dengan

hukuman mati atau pejara selama-lamanya seumur hidup atau penjara sementara

selama-lamanya dua puluh tahun.16

2. Pasal 359 KUHP

Barang siapa karena salahnya menyebabkan matinya orang, dihukum penjara

selama- lamanya lima tahun atau kurungan selama- lamanya satu tahun. 17

3. Pasal 345 KUHP

Barang siapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk membunuh diri,

menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberikan daya upaya itu jadi bunuh

diri, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun penjara. 18

Berdasarkan penjelasan pandangan hukum terhadap tindakan euthanasia

dalam skenario ini, maka dokter dan keluarga yang memberikan izin dalam

pelaksanaan tindakan tersebut dapat dijeratkan dengan pasal 345 yang ber bunyi

barang siapa dengan sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, atau

memberikan sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana penjara dengan

acaman penjara selama- lamanya empat tahun penjara. Dengan tidak adanya

regulasi yang jelas di Indonesia maka dapat dipastikan bahwa suntuk mati
(euthanasia) masih belum mempunyai dasar hokum yang jelas untuk melakukan

tindakan suntik mati atau euthanasia tersebut. 15

Patut menjadi catatan, bahwa secara yuridis formal dalam hukum pidana

positif di Indonesia hanya dikenal 2 bentuk euthanasia, yaitu euthanasia yang

dilakukan atas permintaan pasien atau korban itu sendiri dan euthanasia yang

dilakukan dengan sengaja melakukan pembiaran terhadap pasien/ korban

sebagaimana secara eksplisit diatur dalam Pasal 344 dan 304 KUHP. Pasal 344

KUHP secara tegas menyatakan : 15

“Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang

jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling

lama dua belas tahun”

Sementara dalam pasal 304 KUHP dinyatakan:

“Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam

keadaan sengsara,padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena

persetujuan dia wajib memberi kehidupan,perawatan atau pemeliharaan kepada

orang itu,diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan

atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”

Bertolak dari ketentuan Pasal 344 dan 304 KUHP tersebut tersimpul, bahwa

pembunuhan dengan sengaja membiarkan sengsara dan atas permintaan korban

sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian, dalam konteks

hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang

dilarang. Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia, tidak

dimungkinkan dilakukan “pengakhiran hidup seseorang” sekalipun atas


permintaan orang itu sendiri. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak

pidana, yaitu sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang

melanggar larangan tersebut. 15