Anda di halaman 1dari 2

Natarina Syahputri Sidharta

1706026166
Filsafat Hukum
Kelas B (Paralel)
Classical Positivism and Pure Theory of Law
Istilah positivism berasal dari kata ponere yang berarti meletakkan, kemudian menjadi
bentuk pasif positu – a – um yang berarti diletakkan. Dengan demikan, positivism merujuk
pada sebuah sikap atau pemikiran yang meletakan pandangan dan pendekatannya pada
sesuatu. Umumnya positivism bersifat empiris. Positivism hukum melihat bahwa yang
terutama dalam melihat hukum adalah fakta bahwa hukum diciptakan dan diberlakukan oleh
orang-orang tertentu di dalam masyarakat yang mempunyai kewenangan untuk membuat
hukum. Sumber dan validitas norma hukum itu sendiri bersumber pada kewenangan tersebut.
Hukum diartikan sebagai norma-norma yang diciptakan atau bersumber dari kewenangan
yang formal atau informal dari lembaga pemerintahan yang tertinggi, dalam sebuah
komunitas politik yang independen. Bagi penganut aliran ini, hukum adalah fenomena sosial
yang khusus dibandingkan fenomena-fenomena sosial yang lainnya yang hanya dapat
dibentuk, diadakan dan diterapkan dalam ruang lingkup tertentu, walaupun hukum tidak
dapat dilepaskan dari faktor-faktor lain seperti moralitas, agama, etika dan sebagainya. 1
Aliran positivism (selanjutnya disebut hukum positif) berkembang pada abad pertengahan dan
merupakan reaksi terhadap teori Natural Law.2
Seorang jurist positivism yaitu Jeremy Bentham menolak mazhab natural law dan
nilai yang berasal dari pandangan yang subjektif, kedua hal tersebut ia ganti dengan suatu
standar norma yang berdasarkan dari keuntungan, kesenangan dan kepuasan manusia
(advantages, pleasure and satisfaction) yang sekarang dikenal dengan teori Utilitarianisme.
Teori Utilitarianisme mengatakan bahwa prinsip moralitas yang paling tinggi adalah untuk
meningkatkan kebahagiaan, menyeimbangkan secara keseluruhan antara kenikmatan dan
kesengsaraan. Hal tersebut terjadi karena rasa kebahagiaan dan kesengsaraan adalah tuan dari
kedaulatan kita (sovereign master). Dalam hukum tidak ada masalah kebaikan atau
keburukan ataupun hukum yang tertinggi atau yang terendah dalam ukuran nilai.
Kebahagiaan dan kesengsaraan mengendalikan kita di setiap kali kita melakukan sesuatu hal
dan menentukan apa yang seharusnya dilakukan.3
Selanjutnya, terdapat tokoh terkenal bernamaa Hans Kelsen yang merupakan seorang
ahli dalam ilmu hukum. Ia terkenal karena memiliki peran yang signifikan dalam
perkembangan hukum di dunia internasional. Tidak sedikit eori dan pendapat-pendapat dari
1
Antonius Cahyadi, E. Fernando M. Manulang, Pengantar ke Filsafat Hukum (Jakarta: Kencanaa
Prenada Media Group, 2011), hlm. 66.
2
Materi Kuliah Program Sarja Hukum Filsafat Hukum Jilid 1, Bab 3 Bentham, Austin and Classical
English Positivism (Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2008), hlm. 205.
3
Michael J. Sandel, Justice: What’s the Right Things to Do? (New York: Farar, Straus and Giroux,
2010), hlm. 34.
Natarina Syahputri Sidharta
1706026166
Filsafat Hukum
Kelas B (Paralel)
Hans Kelsen yang menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan ilmu hukum dari
waktu ke waktu. Salah satu teori Hans Kelsen, yaitu Pure Theory of Law kemudian
diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai Teori Hukum Murni atau Teori Murni tentang
Hukum.
Pure Theory of Law atau Teori Murni tentang Hukum lahir dan berkembang dengan
dasar analisis perbandingan sistem hukum positif yang berbeda-beda dimana hal tersebut
kemudian membentuk konsep dasar yang dapat menggambarkan suatu komunitas hukum.
Hans Kelsen beranggapan bahwa ilmu hukum merupakan ilmu-ilmu yang normatif sehingga
ia menyimpulkan bahwa hukum itu sendiri adalah suatu norma. Suatu norma tidak serta
merta dapat dijabarkan dari fakta, karena eksistensinya memiliki arti bahwa norma tersebut
telah sah dan berlaku pada kondisi tertentu. Teori hukum murni yang diperkenalkan oleh
Kelsen lebih menitikberatkan pada analisanya seputar konsep-konsep hukum positif, struktur
dan bentuk-bentuk khasnya, serta dirinya pun mengeluarkan seluruh elemen-elemen lain
yang diluar konteksnya. Pure Theory of Law merupakan teori umum tentang hukum, yang
bukan merupakan suatu penafsiran terhadap kaidah-kaidah hukum nasional tertentu atau
kaidah-kaidah hukum internasional, akan tetapi hal itu memberikan suatu teori penafsiran.4
Norma merupakan aturan yang menyatakan bagaimana orang seharusnya bertindak,
sedangkan hukum positif merupakan suatu tata tertib bersifat normatif yang mengatur
perilaku manusia dengan cara tertentu. Norma menyatakan bukan tentang halnya atau yang
dilakukan atau keharusan, tetapi tentang apa yang seharusnya dalam suatu keadaan tertentu.
Absahnya eksistensi dari suatu norma berkaitan dengan sistem norma dimana norma tersebut
merupakan bagian darinya. Keberadaan suatu norma berasal dari norma yang lebih tinggi
tingkatannya, hingga sampai pada norma terakhir yang menjadi tempat bersandar norma-
norma lainnya, norma inilah yang kemudian disebut sebagai Grundnorm.
Teori dari Hans Kelsen ini pun tidak terlepas dari kritik-kritik. Kritik terhadap Teori
Kelsen banyak datang dari aliran-aliran hukum sebelumnya, terutama natural law dan
positivism. Umumnya, kritik terhadap teori kelsen ini menitikberatkan pada metode formal
yang digunakan dalam Pure Theory of Law.

4
Soerjono Soekanto, Teori yang Murni Tentang Hukum, (Bandung : Penerbit Alumni, 1985), hlm. 1.