Anda di halaman 1dari 18

Petujuk Pengisian Asesmen Tambahan Ortodonsia

Klinik Integrasi
Departemen Ortodonsia, FKG UI
Desember 2018

6 Desember 2018

Anamnesa

Data Pasien
Merupakan data-data pasien (nama, alamat, umur, jenis kelamin) yang dapat ditanyakan
langsung kepada pasien maupun melalui orang tua/wali bila pasien masih anak-anak. Data-
data ini juga dimaksudkan untuk mengetahui latar belakang keluarga (nama ibu/bapak, suku,
pekerjaan), serta kesehatan pasien secara umum (kesesuaian umur, dengan berat, tinggi
badan dan pekerjaan).

Keluhan utama
Adalah keluhan yang diutarakan pertama kali oleh pasien mengenai hal utama yang menjadi
alasan mengapa datang dan ingin dirawat.

Riwayat kesehatan umum yang berhubungan dengan maloklusi


Perlu ditanyakan mengenai riwayat kesehatan umum serta faktor-faktor yang dapat menjadi
riwayat maloklusi (proses kelahiran, pemberian susu saat bayi, penyakit-penyakit yang pernah
diderita).
1. Rheumatic fever. Pasien yang memiliki resiko infective endocarditis sebaiknya melakukan
pengobatan terlebih dahulu. Prosedur invasif spt extraksi dan penempatan separator harus
diberikan antibiotik terlebih dahulu
2. Epilepsi. risiko rusaknya alat ketika terjadi serangan epilepsi
3. Recurrent apthous ulceration (RAU). Alat-alat ortodonsia dapat memicu terjadinya RAU
pada individu yang rentan

Kebiasaan buruk yang berhubungan dengan maloklusi


Observasi kebiasaan buruk yang berhubungan dengan maloklusi dan sudah ada manifestasi
klinis pada pasien. Hal yang berpengaruh terjadinya kebiasaan adalah waktu, durasi, intensitas.
Beberapa contoh kebiasaaan buruk yang berhubungan dengan maloklusi: tongue thrust,
menghisap jari, bernafas melalui mulut, bruxism/clenching, menggigit kuku dll

1
Pemeriksaan Ekstra Oral
Meliputi pemeriksaan muka/wajah pasien dilihat secara langsung maupun dengan bantuan foto
frontal, foto tersenyum dan beroklusi sentrik, dan foto profil.

VERTIKAL
Bentuk Wajah
Pemeriksaan muka yang sempit, sedang atau lebar adalah dengan membandingkan lebar
wajah dengan tinggi wajah.

Mesofacial : tinggi wajah proporsional dengan lebar wajah


Dolicofacial : tinggi wajah lebih besar dibandingkan dengan lebar wajah
Brachyfacial : lebar wajah lebih besar dibangdingkan dengan tinggi wajah

Mesofacial Dolicofacial Brachyfacial

Kesimetrisan Wajah
Muka simetris yaitu bagian muka kanan dan kiri sama panjang. Digunakan foto frontal dengan
membuat garis bantu yaitu garis midsagital (melalui trichion, glabela dan sub nasion) dan tiga
garis horisontal (garis melalui sudut mata luar kanan dan kiri, garis melalui cuping hidung kanan
dan kiri dan garis melalui sudut mulut kanan dan kiri). Ketiga garis tersebut akan memotong
garis midsagital, bila sisi kanan sama dengan sisi kiri, atau minimal kedua garis horisontal

2
tersebut (yang salah satunya harus melibatkan garis yang melalui sudut mulut) saling sejajar
maka muka dianggap seimbang.

Simetri Asimetri
HORIZONTAL
Keseimbangan Wajah
Muka seimbang yaitu bila 1/3 muka tengah dan 1/3 muka bawah sama tinggi, atau minimal
memiliki perbandingan 45% : 55%. Digunakan garis bantu horizontal yang akan membagi muka
menjadi tiga bagian dan tegak lurus pada garis midsagital. Garis horizontal tersebut masing-
masing melalui titik glabela dan subnasion.

Dagu
Pemeriksaan kesimetrisan wajah sisi kanan dan kiri serta pada sepertiga bawah wajah. Posisi
dagu normal, ke kanan atau ke kiri, dilihat melalui garis midsagital.

Dagu miring ke kiri

3
Midline gigi atas dan bawah
Diperiksa dengan melihat garis tengah wajah dan gigi geligi dalam keadaan oklusi sentrik.
Garis tengah wajah, mesial insisif sentral atas kanan dan kiri, mesial insisif sentral bawah
kanan dan kiri, garis tengah bibir bawah dan dagu hendaknya berada pada satu garis lurus.
Melalui garis tersebut dapat diketahui bila terdapat deviasi garis tengah di rahang atas atau di
rahang bawah.

BIBIR
Tonus bibir atas dan bawah
Diperiksa untuk melihat bagaimana tonus (kekuatan otot) pada bibir. Bibir hipotonus memiliki
kekuatan otot yang rendah (‘memble’) sedangkan bibir hipertonus memiliki kekuatan otot yang
kuat.

Kompetensi bibir
Bibir yang kompeten adalah yang dapat menutup pada saat posisi istirahat sedangkan
dikatakan inkompeten jika membutuhkan aktivitas otot bibir untuk dapat menutup bibir.

Bibir Kompeten Bibir Inkompeten

4
Profil Jaringan Lunak
Profil jaringan lunak ditentukan dengan melihat relasi antara dua garis yaitu garis antara glabela
dengan subnasal dan garis antara subnasal dengan pogonion. Rata-rata nilai sudut tersebut
adalah 120 + 40, menunjukkan profil yang lurus. Jika sudut antara kedua garis tersebut lebih
besar dari rata-rata, maka dikatakan cembung. Jika sudut antara kedua garis tersebut kurang
dari rata-rata, maka dikatakan cekung. (Mitchell, 2013)

Posisi bibir atas dan bawah


Posisi bibir ditentukan dengan melihat langsung kondisi klinis pasien dengan pedoman E-line
menggunakan penggaris yang ditempelkan pada ujung hidung dan ujung dagu, kemudian
dilihat posisi bibir bawah serta bibir atas. Idealnya, bibir bawah terletak tepat pada E-line (0
mm) dan bibir atas sedikit di belakang E-line (-1 mm)

5
Pemeriksaan Intra Oral

Kesehatan mulut
Meliputi keadaan intra oral pasien dengan melihat ada tidaknya karies, karang gigi, tumpatan,
protesa, jumlah gigi yang hilang dan gingiva (merah, bengkak, berdarah).

Frenulum labii RA dan RB


Frenulum labialis superior yang tinggi dapat menjadi penyebab diastema sentral. Letak
frenulum labii dinyatakan tinggi bila dasar perlekatan frenulum mendekati servikal gigi,
dinyatakan rendah bila menjauhi servikal gigi

Lidah, palatum dan adenoid


• Dilakukan pemeriksaan terhadap ukuran lidah dan adenoid (normal, besar atau kecil).
Lidah yang besar ditandai dengan adanya jejas gigi posterior pada sisi lateral lidah.
• Kedalaman palatum dilihat dengan menggunakan kaca mulut no. 3
• Adenoid yang bengkak dan memerah dapat dicurigai adanya kebiasaan bernafas melalui
mulut yang dapat berhubungan dengan terjadinya maloklusi.

Diastema
Terdapat celah atau diastema yang berjumlah tunggal maupun multiple dicantumkan dengan
menyebutkan regio serta besar diastema-nya (mm).

Crossbite (gigitan silang)


Pemeriksaan gigitan silang pada pasien, tuliskan regionya.

6
Hubungan rahang
Pemeriksaan hubungan rahang adalah untuk melihat letak mandibula terhadap maksila. Pada
pemeriksaan intra oral dapat dilakukan dengan cara “digital examination”. Palpasi bagian
anterior dari maksila pada titik A dan mandibular pada titik B untuk menentukan hubungan
skeletal antero-posterior

• kelas I skeletal, rahang atas akan berada 2-4 mm di depan


rahang bawah.
• kelas II skeletal, rahang bawah akan berada > 4 mm di
belakang rahang atas.
• kelas III skeletal, rahang bawah akan berada < 2 mm di
belakang rahang atas atau berada di depan rahang atas.

Overjet (jarak gigit) dan overbite (tumpang gigit)


• Overjet adalah jarak horisontal dari permukaan labial insisif sentral bawah ke tepi insisal
insisif sentral atas. Normalnya adalah 1-3 mm.
• Overbite adalah tumpang gigit atau jarak vertikal yang
diukur dari tepi insisal insisif sentral atas ke tepi insisif
sentral bawah. Normalnya insisif atas menutupi
maksimum 50% insisif bawah.
• Bila ditemukan gigi- gigi anterior memiliki nilai overjet dan
overbite yang berbeda-beda (kasus crowding), maka Rakosi, 1993
sebaiknya dilakukan pengukuran pada tiap regio gigi.

Kurva spee
Yaitu kurva ilustasi berupa garis yang ditarik dari puncak tonjol gigi posterior (gigi M2) ke tepi
insisal gigi anterior. Kecuraman kurva dilihat dengan menghitung kedalaman kurva yaitu pada
regio antara premolar pertama dan kedua. Normalnya adalah 2 mm.

7
Hubungan Insisif
Relasi gigi insisif satu yang dilihat dari kedudukan tepi insisal gigi bawah terhadap gigi insisif
atas
Kelas I Insisal edge I bawah terletak pada cingulum I1 atas

Kelas II div 1 Insisal edge I bawah terletak di posterior cingulum I1


atas. I atas proklinasi atau normal dgn overjet besar

Kelas II div 2 Insisal edge I bawah terletak di posterior cingulum I1


atas. I atas retroklinasi, overjet kecil/besar

Kelas III Insisal edge I bawah terletak di anterior cingulum I1


atas

Mitchell, 2013

8
Hubungan Molar
Relasi gigi Molar pertama kanan dan kiri, dalam arah sagital, transversal, vertikal.

Sagital Kelas I (netroklusi) Kelas II (distoklusi) Kelas III (mesioklusi)


Cusp mesiobukal gigi M1 mesiobukal groove M1 bawah mesiobukal groove M1
atas terletak pada terletak lebih ke distal dari bawah terletak lebih ke
mesiobukal groove M1 cusp mesiobukal gigi M1 atas mesial dari cusp mesiobukal
bawah gigi M1 atas

Transversal Normal Crossbite Scissor bite


Cusp bukal gigi RA berada Cusp bukal dari gigi RB Cusp bukal dari gigi RB
lebih ke bukal terhadap berada lebih ke bukal terhadap berada lebih ke lingual
cusp bukal gigi RB dan cusp bukal gigi RA pada saat terhadap cusp lingual RA
memiliki overjet posterior beroklusi. pada saat beroklusi.
yang normal.

Vertikal Normal Openbite Deepbite


Saat beroklusi memiliki Tidak ada overlap pada gigi Overlap antara gigi anterior
overbite normal (2-4 mm) anterior saat beroklusi. atas dan bawah melebihi 4
atau mencakup 1/3-1/2 mm atau lebih besar dari ½
tinggi mahkota insisif tinggi mahkota insisif bawah.
bawah.

9
Hubungan Kaninus
Relasi gigi kaninus kanan dan kiri dalam arah sagital, transversal, vertikal
Kelas I Kelas II Kelas III
Sagital Embrasure antara kaninus Embrasure antara kaninus Embrasure antara kaninus
dan premolar 1 bawah dan premolar terletak lebih dan premolar terletak lebih
terletak tepat bertemu ke distal dari cusp kaninus ke mesial dari cusp kaninus
dengan cusp kaninus atas atas atas

Transversal Normal Crossbite Scissor bite


Cusp kaninus RA berada Cusp kaninus RA berada Overlap antara kaninus RA
lebih ke bukal terhadap lebih ke palatal terhadap dan embrasure antara C &
embrasure antara C & P1 embrasure antara C & P1 P1 RB melebihi 4 mm atau
RB dan memiliki overjet RB pada saat beroklusi. lebih besar dari ½ tinggi
posterior yang normal. mahkota gigi bawah.

Vertikal Normal Openbite Deepbite


Saat beroklusi memiliki Tidak ada overlap pada gigi Overlap antara kaninus RA
overbite normal (2-4 mm) kaninus RA saat beroklusi. dan embrasure antara C &
atau mencakup 1/3-1/2 tinggi P1 RB melebihi 4 mm atau
mahkota gigi bawah. lebih besar dari ½ tinggi
mahkota gigi bawah

10
Keadaan lokal gigi geligi
Pengisian keadaan lokal gigi geligi harus dapat menggambarkan keadaan di rongga mulut
pasien. Gigi yang telah dicabut diberi tanda silang. Gigi yang belum erupsi, namun ada
benihnya diberi tanda lingkaran. Gigi yang mengalami rotasi diperjelas arah rotasinya dan
ditulis pada kolom. Keterangan lain yang dianggap perlu seperti kelainan bentuk, ukuran dan
jumlah gigi (peg shape, agenesis, impaksi) hendaknya dicantumkan. Pengisian keadaan lokal
gigi geligi dapat dibantu dengan model studi.

Analisis Fungsional

TMJ
Palpasi
Pemeriksaan TMJ diperlukan untuk melihat ada tidak adanya kelainan pada sendi tersebut.
Apakah terdapat rasa sakit atau tidak yang dapat ditanyakan langsung kepada pasien

Bunyi sendi
Pemeriksaan melalui perabaan pada daerah sendi dilakukan untuk melihat adanya loncatan
sendi. Adanya bunyi “clicking” atau krepitasi dapat diperiksa dengan bantuan stetoskop

Pola buka tutup mulut


Pasien diinstruksikan untuk membuka dan tutup mulut dan kemudian dilihat apakah terdapat
deviasi atau defleksi. Apakah kelainan tersebut terjadi saat buk mulut atau tutup mulut.

Deviasi : Mandibula kembali ke posisi


awal pada saat buka atau
tutup mulut.

Defleksi: displacement mandibula


sepanjang proses buka tutup
mulut.

OKLUSI
Interocclusal clearance:
Adalah jarak gigi atas dan gigi bawah dalam keadaan istirahat atau dapat disebut pula
dengan free way space. Jarak tersebut merupakan selisih antara oklusi sentrik dan relasi
sentik, dengan cara mengukur jarak dua titik, yaitu titik di atas bibis atas dan titik di bawah
bibir bawah.

11
Oklusi sentrik dan relasi sentrik
Oklusi sentrik: posisi kondilus mandibula ketika gigi dalam kondisi interkuspasi maksimum
(seluruh permukaan oklusal gigi rahang atas dan bawah berkontak)
Relasi sentris: posisi mandibula terhadap maksila ketika kondil berada paling supero anterior
pada fossa glenoid dan bersandar pada puncak eminensia artikulare

Oklusal interference/ hambatan oklusal dalam arah horizontal dan vertikal:


Dalam perawatan ortodonti yang lebih diperhatikan adalah hambatan oklusi dalam arah
vertikal. Oklusal interference diperiksa langsung pada pasien dengan melihat ada tidaknya
perubahan posisi mandibula pada saat inisial oklusi ke oklusi penuh. Bila terdapat oklusal
interference maka mandibula dapat terdefiasi untuk mencapai oklusi penuh.

Analisis Model
Menggunakan model studi yang dilengkapi dengan catatan gigit. Model studi digunakan untuk
membantu menegakkan diagnosa yang dibuat sebelum perawatan dimulai. Model studi telah dibasis
dengan baik dan sesuai dengan keadaan pada pasien.

Umur dentalis dan urutan erupsi gigi


Adalah umur gigi yang terakhir tumbuh. Urutan erupsi gigi adalah perkiraan erupsi gigi yang
mengacu pada order of eruption gigi geligi, dapat dibantu melalui foto panoramik. Bila gigi
tetap telah erupsi semua, maka umur dentalis dan urutan erupsi tidak perlu dicantumkan.

Bentuk/ukuran/jumlah gigi abnormal


Mencakup data mengenai gigi geligi RA dan RB yang memiliki bentuk abnormal (peg-shaped,
fusi, geminasi, dan lain-lain), ukuran abnormal (mikrodontia, makrodontia), dan jumlah gigi
yang abnoraml (agenesis, hipodontia, hiperdontia)

Bentuk lengkung gigi


Adalah bentuk lengkung gigi di RA dan RB di awal perawatan (oval, segi empat, segitiga,
omega atau lyra).

Lebar mesio distal gigi


Dituliskan pada tabel yang telah tersedia. Diperlukan untuk mengetahui apakah gigi geligi
berukuran normal, besar atau kecil. Pengukuran dilakukan pada bagian lingkar terbesar di
daerah interproksimal. Pengukuran ini juga dapat dimanfaatkan dalam menghitung kebutuhan
ruangan.

12
13 Desember 2018
Analisis Radiologi
Analisis radiologis dilakukan dengan menganalisa foto sefalometri lateral, foto panoramik, dan bila
perlu dilakukan analisa foto dental dari pasien.

Foto sefalometri lateral


Analisa Foto sefalometri merupakan analisa standar dalam perawatan ortodonti untuk
mengetahui pola pertumbuhan kraniofasial, deformitas kraniofasial, rencana perawatan,
evaluasi dari kasus yang sedang dilakukan perawatan, dan analisa relaps. Analisa dilakukan
dengan melakukan penapakan terhadap foto sefalometri lateral dengan menggunakan kertas
asetat dan pensil 2H dan kemudian dilakukan pengukuran sudut dari garis-garis yang
menghubungkan titik-titik Landmark yang diperlukan.

Sudut-sudut tersebut adalah:


RATA-RATA SD PASIEN KESIMPULAN

SNA 81° 3° Kedudukan maksila terhadap basis kranii


(normal/protruded/retruded)
SNB 78° 3° Kedudukan mandibula terhadap basis kranii
(normal/protruded/retruded)
ANB 3° 2° Kedudukan mandibula terhadap maksila
(ortognati/prognati/retrognati)
NAPg 0° 5,1° Profil skeletal (lurus/cembung/cekung)

MMPA 27° 4° Pertumbuhan 1/3 muka bawah dalam arah postero-


inferior (N/>N/<N)
FMPA 25° 3° Pertumbuhan 1/3 muka bawah dalam arah postero-
inferior (N/>N/<N)
IMPA 90° 5° Inklinasi insisif bawah terhadap bidang mandibula
(normal/protrusi/retrusif)
FMIA 65° 2° Inklinasi insisif bawah terhadap basis kranii
(normal/protrusi/retrusif)
I-SN 104° 6° Inklinasi insisif atas terhadap basis kranii
(normal/protrusi/retrusif)
I-MxPl 109° 6° Inklinasi insisif atas terhadap bidang maksila
(normal/protrusi/retrusif)
UI-NA 4 mm 2 mm Inklinasi insisif atas terhadap basis kranii
(normal/protrusi/retrusif)
LI-NB 2 mm Inklinasi insisif bawah terhadap basis kranii
4 mm
(normal/protrusi/retrusif)

Kesimpulan analisis sefalometri


Menyimpulkan dan merangkum hasil pengukuran sudut-sudut foto sefalometri lateral yang
menyatakan :

13
• Hubungan mandibula terhadap maksila : kelas I/ kelas II/ kelas III
• Posisi maksila atau mandibula : normal / prognati / retrognati / bimaksilari prognatism
atau retrognatism
• Posisi gigi insisif atas atau bawah : normal / protrusif / retrusif / bimaksilari protrusion
atau retrusion
• Profil : normal / cembung / cekung
• Pertumbuhan 1/3 muka bawah : arah pertumbuhan bawah belakang / atas depan

Foto Panoramik
Analisa foto panoramik dilakukan untuk melihat :
• Keadaan tulang dan kepadatan tulang; ada tidaknya kelainan
• Keadaan jaringan periodontal
• Kondisi gigi geligi; ada tidaknya kehilangan gigi, karies, gigi berlebih, agenesi, impaksi, dan
hal lain yang perlu dicatat
• Keadaan saluran nafas; ada tidaknya obstruksi atau kelainan anatomis
• Keadaan sinus maksilaris; ada tidaknya kelainan.
• Kondil mandibula; kesimetrisan, ada tidaknya kelainan.

Foto Dental
Analisa foto dental dilakukan untuk melihat kondisi regio gigi geligi tertentu apabila diperlukan;
untuk melihat keadaan gigi, jaringan periodontal dan periapikal secara lebih jelas.

Analisis Ruang

ANALISA RUANG UNTUK GIGI BERCAMPUR


Metode MOYERS
Dengan melihat analisa foto sefalometri, ditentukan dulu besarnya koreksi gigi geligi anterior
maksila dan mandibula dalam arah sagital; Protraksi / Retraksi (dalam milimeter)

Perubahan lengkung gigi


Retraksi : RA ………mm RB .………mm
Protraksi : RA ………mm RB .………mm
Overjet lama .………mm baru .………mm

Tahapan:
Available space/ ruangan yang tersedia
1. Buat lengkung gigi baru sesuai dengan rencana perubahan lengkung
(retraksi/protraksi/tidak ada perubahan lengkung) dengan menggunakan brasswire

14
2. Setelah lengkung diperbaiki, beri tanda dengan menggunakan spidol permanen pada
mesial gigi M1 kanan dan kiri serta tanda pada midline yang tepat (jika direncanakan akan
diperbaiki). Pindahkan 4 ukuran gigi 2 1 1 2 pada brasswire dengan menggunakan jangka
dan tandai sisi distal gigi 2 dengan spidol permanen.
3. Bentangkan brasswire, hitung dengan menggunakan penggaris lebar jarak dari mesial M1
kanan ke distal gigi I2 kanan dan jarak dari distal I2 kiri ke mesial M1 kiri untuk gigi atas
dan gigi bawah (ruangan tersedia untuk erupsi gigi 3 4 5). Hal Ini merupakan available
space

Required space/ ruangan yang dibutuhkan


1. Ukur lebar mesio-distal 4 gigi insisif mandibula (gigi 42 41 31 32)
2. Kemudian untuk melihat probabilitas jumlah ukuran gigi 3 4 5, dilihat dari tabel probabilitas
Moyers dengan mengambil kolom sesuai total jumlah lebar M-D gigi 42 41 31 32 dan baris
probabilitas 75 %, diperoleh probabilitas total lebar 3 4 5 dalam millimeter.
Terdapat tabel probabilitas ukuran gigi 3 4 5 untuk rahang bawah dan rahang atas dan
untuk laki-laki/ perempuan

RA kanan RA kiri RB kanan RB kiri


Ruang tersedia ………mm ………mm ………mm ……mm
(setelah 21 I 12 diperbaiki)
Ruang dibutuhkan ………mm ………mm ………mm ……mm
(untuk 345 dari tabel Moyers/foto Huckaba)
Selisih ………mm ………mm ………mm ……mm
Perbaikan hubungan molar ………mm ………mm ………mm ……mm

Selisih ………mm ………mm ………mm ……mm

Masukkan nilai available space dan required space pada masing-masing kuadran gigi, hasil
pengurangannya merupakan selisih ruangan/ jumlah ruang yang kurang (-)/ jumlah ruang
yang berlebih (+)

Kesimpulan
Bila kekurangan ruang :
< dari ½ diameter gigi premolar (3.5 mm): Indikasi non ekstraksi
> dari ½ diameter gigi premolar (3.5 mm): Indikasi ekstraksi

15
ANALISIS RUANG UNTUK GIGI PERMANEN
Metode KESLING

Perhitungan menggunakan brasswire


Dengan melihat analisa foto sefalometri, ditentukan dulu besarnya koreksi gigi geligi anterior
maksila dan mandibula dalam arah sagital; Protraksi / Retraksi (dalam milimeter)

Perubahan lengkung gigi :


Retraksi : RA ………mm RB ………mm
Protraksi : RA ………mm RB ………mm
Perbaikan Midline : …………………………….
Perbaikan Hub Molar : …………………………….
Overjet lama ………mm baru ………mm
Selisih
………mm ………mm

………mm ………mm
Tahapan:
Available space/ ruang yang tersedia
1. Buat lengkung gigi baru sesuai dengan rencana perubahan lengkung
(retraksi/protraksi/tidak ada perubahan lengkung) dengan menggunakan brasswire
2. Setelah lengkung diperbaiki, beri tanda dengan menggunakan spidol permanen pada
mesial gigi M1 kanan dan kiri serta tanda pada midline gigi yang tepat (jika direncanakan
akan diperbaiki)
3. Bentangkan brasswire, hitung dengan menggunakan penggaris lebar jarak dari mesial
M1 kanan ke midline gigi dan jarak dari midline gigi ke mesial M1 kiri untuk gigi atas dan
gigi bawah. Ini merupakan available space

Required space/ ruang yang dibutuhkan


Ukur lebar mesiodistal gigi P2,P1,C,I2,I1 pada masing-masing kuadran. Kemudian ukuran
gigi dijumlahkan, kemudian ditulis sebagai required space
Masukkan nilai available space dan required space pada masing-masing kuadran gigi, hasil
pengurangannya merupakan selisih ruangan/ jumlah ruang yang kurang (-)/ jumlah ruang
yang berlebih (+)

Kesimpulan
Bila kekurangan ruang :
< dari ½ diameter gigi premolar (3.5 mm): Indikasi non ekstraksi
> dari ½ diameter gigi premolar (3.5 mm): Indikasi ekstraksi

16
20 Desember 2018
Kemungkinan Etiologi Maloklusi
Maloklusi yang terjadi pada kasus tersebut kemungkinan dapat disebabkan oleh :
• Skeletal Penyakit, keturunan, kelainan kelahiran, kelainan kongenital
• Dentoalveolar kehilangan gigi susu prematur, kehilangan gigi tetap, gigi abnormal dalam ukuran
dan bentuk, gigi kelebihan, agenesi, keterlambatan pertumbuhan gigi, persistensi gigi susu,
pergeseran gigi ke depan,
• Jaringan lunak. Hipertonus bibir, hipotonus bibir
• Faktor lokal kebiasaan buruk, dan lain-lain

Kemungkinan faktor penyebab tersebut dikemukakan dan kemudian disimpulkan dengan didukung
oleh teori dan literatur .

Diagnosis
Merupakan kumpulan data-data yang diperoleh secara menyeluruh berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan-pemeriksaan pada pasien. Umumnya ditulis dengan mencantumkan umur, jenis
kelamin, tipe maloklusi yang dialami, profil pasien, keadaan-keadaan abnormal yang ada di pasien
(ekstra oral, intra oral, hasil analisa radiografis), ada tidaknya kebiasaan buruk serta kekurangan
ruang yang ada.

Prognosis
Merupakan dugaan terhadap keberhasilan perawatan. Baik, sedang maupun beruknya prognosa,
bergantung pada berbagai factor. Faktor yang mempengaruhi antara lain jenis maloklusi (skeletal /
dental), keparahan maloklusi, usia pasien, motifasi pasien, kemampuan dokter gigi. Keberhasilan
perawatan pada penggunaan alat ortodonti lepas, 70% bergantung pada kooperatif pasien.

Daftar masalah dan sasaran perawatan


Disusun berdasarkan data yang telah diperoleh dari berbagai pemeriksaan awal. Masalah yang ada
merupakan keadaan maloklusi (penyakit dan patologis : penyebab, penyerta dan yang memperberat
keparahan) yang ada di dalam rongga mulut. Adapun sasaran perawatan merupakan hal-hal yang
menjadi tujuan perawatan dari setiap permasalahan yang ada.

Rencana perawatan
Rencana perawatan hendaknya disusun secara berurutan berdasarkan permasalahan yang ada.
Perlu diingat bahwa penyusun rencana perawatan untuk menggeser atau menggerakan gigi
hendaknya diawali dengan upaya mempersipkan ruangan terlebih dahulu. Rencana perawatan tidak

17
hanya berisikan perawatan di bidang ortodonti saja namun meliputi perawatan inter disiplin (antar
cabang ilmu).

Sketsa gambar alat / Desain alat


Untuk merawat pasien dengan alat lepas, dibutuhkan rancangan / sketsa alat yang telah diracang
sesuai dengan rencana perawatan. Rancangan ini berguna sebagai rekam gambar dan juga untuk
dikirim kepada tekniker yang akan membuat alat. Sketsa gambar alat ortodonti lepas meliputi gambar
pegas-pegas, cengkram dan basis. Sketsa digambar diatas gambar lengkung gigi pasien dan untuk
memperjelas gambar digunakan spidol berwarna-warni. Sketsa alat dapat disertakan keterangan
gambar, yaitu: jenis pegas yang akan digunakan, pada regio apa dan diameter kawat yang akan
dibutuhkan.

Perawatan
Berisikan catatan pekerjaan yang dilakukan pada setiap pertemuan dengan pasien. Catatan ini
merupakan rekaman tahapan perawatan yang telah dilakukan dalam setiap kunjungan dan dapat
menjadi panduan pekerjaan berikutnya. Lembar perawatan merupakan catatan harian/kunjungan
yang mengacu dan sesuai dengan rencana perawatan yang telah disusun. Catatan ini juga
bermanfaat untuk mengevalusi berbagai pekerjaan yang telah dilakukan, karena setiap pekerjaan
ditulis secara jelas dan terperinci. Hal-hal yang telah diperoleh berupa kemajuan ataupun
kemunduruan dari perawatan sebelumnya juga dicatat.

18