Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH ANATOMI MANUSIA

“SISTEM IMUN”

Oleh:

Kelompok 5

Olivia Hapsari (170210103011)


Aditya Rico A. (170210103012)

Fitriana (170210103036)
Kelas A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN PENDIDIKAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JEMBER

2020
DAFTAR ISI

COVER............................................................................................................................................i

DAFTAR ISI..................................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...................................................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................................2
1.3 Tujuan.................................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................................3

BAB III PENUTUP......................................................................................................................26

Kesimpulan..............................................................................................................................26

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................27
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia dan vertebrata lainnya memiliki sistem pertahanan tubuh yang
berperan untuk melindungi dirinya dari serangan agen-agen penyebab penyakit.
Sistem ini disebut sebagai sistem kekebalan tubuh atau system imun. Sistem
kekebalan vertebrata merupakan suatu jaringan yang melibatkan banyak molekul
dan sel dengan satu tujuan yaitu membedakan antara unsur dirinya sendiri dan
unsur asing. Fungsi utamanya adalah melindungi manusia dan vertebrata terhadap
mikroorganisme (virus, bakteri dan parasit) (Stryer, 2000).
Tubuh manusia akan selalu terancam oleh paparan bakteri, virus, parasit,
radiasi matahari, dan polusi. Stress emosional atau fisiologis dari kejadian ini
adalah tantangan lain untuk mempertahankan tubuh yang sehat. Biasanya kita
dilindungi oleh system pertahanan tubuh, sistem kekebalan tubuh, terutama
makrofag, dan cukup lengkap kebutuhan gizi untuk menjaga kesehatan. Kelebihan
tantangan negattif, bagaimanapun, dapat menekan sistem pertahanan tubuh,
system kekebalan tubuh, dan mengakibatkan berbagai penyakit fatal. Tubuh
manusia tidak mungkin terhindar dari lingkungan yang mengandung mikroba
pathogen disekelilingnya. Mikroba tersebut dapat menimbulkan penyakit infeksi
pada manusia. Mikroba patogen yang ada bersifat poligenik dan kompleks. Oleh
karena itu respon imun tubuh manusia terhadap berbagai macam mikroba patogen
juga berbeda. Umumnya gambaran biologi spesifik mikroba menentukan
mekanisme imun mana yang berperan untuk proteksi. Begitu juga respon imun
terhadap bakteri khususnya bakteri ekstraseluler atau bakteri intraseluler
mempunyai karakteriskik tertentu pula.
Respon imun yang alamiah terutama melalui fagositosis oleh neutrofil,
monosit serta makrofag jaringan. Lipopolisakarida dalam dinding bakteri Gram
negative dapat mangativasi komplemen jalur alternative tanpa adanya antibody.
Kerusakan jaringan yang terjaddi ini adalah akibat efek samping dari mekanisme
pertahanan tubuh untuk mengeliminasi bakteri. Sitokin juga merangsang demam
dan sintesis protein. Kekebalan timbul akibat interaksi antara antigen dan antibodi.

1
Sistem imun dapat membedakan substansi yang masuk ke dalam tubuh sebagai
“self” dan “nonself” melalui proses pengenalan yang rumit. Antigen self (dari
tubuh orang yang bersangkutan) biasanya ditoleransi oleh sistem kekebalan tubuh,
sedangkan antigen “nonself” atau dari luar tubuh diidentifikasi sebagai penyusup
dan diserang oleh sistem kekebalan tubuh (Nurcahyo, 2013).

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah
dalam makalah ini adalah:

a. Apakah yang dimaksud dengan sistem kekebalan tubuh?


b. Apa saja jenis dan fungsi kekebalan tubuh manusia?
c. Bagaimana struktur sistem kekebalan tubuh manusia?
d. Bagaimana mekanisme sistem kerja imunitas?
e. Apa saja gangguan yang dapat terjadi pada sistem kekebalan tubuh
manusia?

1.3 Tujuan
Tujuan adanya makalah ini adalah:

a. Mengetahui dan memahami konsep sistem kekebalan tubuh manusia


b. Mengetahui jenis dan fungsi kekebalan tubuh pada manusia
c. Mengetahui struktur sistem kekebalan tubuh manusia
d. Memahami mekanisme sistem kerja imunitas
e. Mengetahui gangguan apa saja yang dapat terjadi pada sistem
kekebalan tubuh manusia.
BAB II PEMBAHASAN
Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh luar
biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme sehingga tidak mudah
terkena penyakit. Jika sistem imun bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh
terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam
tubuh. Sebaliknya, jika sistem imun melemah, maka kemampuannya untuk melindungi tubuh
juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus penyebab demam dan flu,
dapat berkembang dalam tubuh. Sistem imun juga memberikan pengawasan terhadap
pertumbuhan sel tumor. Terhambatnya mekanisme kerja sistem imun telah dilaporkan dapat
meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker.
Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi
disebut sistem imun. Reaksi yang dikoordinasi sel-sel, molekul-molekul terhadap mikroba dan
bahan lainnya disebut respons imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan
keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.
Pertahanan imun terdiri atas sistem imun alamiah atau nonspesifik (nature innate/ native) dan
spesifik (adaptive/ acquired). Adapun sistem imun memiliki beberapa fungsi bagi tubuh, yaitu
sebagai:
1. Pertahanan tubuh, yaitu menangkal bahan berbahaya agar tubuh tidak sakit, dan jika
sel-sel imun yang bertugas untuk pertahana ini mendapatkan gangguan atau tidak bekerja
dengan baik, maka oranmg akan mudah terkena sakit
2. Keseimbangan, atau fungsi homeostatik artinya menjaga keseimbangan dari
komponen tubuh.
3. Perondaan (Penjaga), sebagian dari sel-sel imun memiliki kemampuan untuk
memantau ke seluruh bagian tubuh. Jika ada sel-sel tubuh yang mengalami mutasi maka sel
peronda tersebut akan membinasakannya.

Kekebalan timbul akibat interaksi antara antigen dan antibody. Sistem imun dapat
membedakan substansi yang masuk ke dalam tubuh sebagai “self” dan “nonself” melalui proses
pengenalan yang rumit. Antigen self (dari tubuh orang yang bersangkutan) biasanya ditoleransi
oleh sistem kekebalan tubuh, sedangkan antigen “nonself” atau dari luar tubuh diidentifikasi
sebagai penyusup dan diserang oleh system kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh
dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Ilmu yang mempelajari system
kekebalan tubuh (imunitas) disebut immunologi (Nurcahyo, 2013).

3
A. ANTIGEN

Suatu makromolekul asing yang mampu memicu pembentukan antibodi disebut


antigen. Antigen merupakan target yang akan dihancurkan oleh sistem imun. Antigen
biasanya berupa protein atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul lainnya,
termasuk molekul kecil (hapten) dipasangkan ke protein pembawa. Antigen dalam
kehidupan sehari-hari merupakan semua benda asing yang jika masuk ke dalam tubuh
suatu oganisme dapat menimbulkan penyakit atau kelainan. Contoh antigen:

 Virus: avian influenza


 Protozoa: toxoplasma, malaria
 Jamur: candida
 Cacing dsb.
 Sel darah yang asing
 Protein asing: toksin
Sebagian antigen berukuran besar, molekulnya komplek dengan berat molekul
umumnya lebih dari 10.000. kemampuan molekul untuk berfungsi sebagai antigen
bergantung pada ukuran, kekomplekan struktur, sifat kimia, dan tingkat keasingan terhadap
hospes. Agar suatu bahan dapat bersifat antigen, biasanya harus mempunyai berat molekul
8.000 atau lebih. Selanjutnya, proses pembentukan sifat antigen biasanya bergantung
pada pengulangan kelompok molekul secara regular, yang disebut epitop. Perlu dibedakan
antara antigen dengan imunogen, karena tidak semua antigen dapat bersifat imunogen.
Secara fungsional antigen terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Imunogen
Imunogen adalan semua benda asing yang apabila berada dalam tubuh
organisme akan merangsang timbulnya respon imun (reaksi kekebalan). Imunogen,
yaitu molekul besar(molekul pembawa). Bagian dari molekul antigen besar yang
dikenali oleh sebuah antibody (oleh respetor sel T) atau bagian antigen yang dapat
membuat kontak fisik dengan respetor antibody, menginduksi pembentukan antibody
yang dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibody atau oleh respetor
anntibodi, bias juga disebut determinan antigen atau epitope. Immunogen adalah tipe
spesifik antigen. Sebuah immunogen didefinisikan sebagai zat yang mampu

4
merangsang respon imun adaptif jika disuntikkan pada sendiri. Dengan kata lain, suatu
imunogen mampu menginduksi respon kekebalan, sedangkan antigen mampu
menggabungkan dengan produkbrespon imun setelah mereka dibuat.
2. Hapten
Hapten merupkan antigen yang memiliki berat molekul sangat kecil sehingga
tidak dapat merangsang terjadinya respon imun, akan tetapi apabila hapten tersebut
digabungkan dengan molekul protein yang lebih besar (karier), maka akan bersifat
imunogen. Hapten, yaitu kompleks yang terdiri atas molekul kecil. Substansi kecil yang
bisa berubah menjadi antigen tersebut dikenal degan istilah hapten. Bahan kimia ukuran
kecil seperti dinitrofenol dapat diikat antibody, tetapi bahan tersebut sendiri tidak dapat
mengaktifkan sel B( tidak imunogenik). Hapten merupakan sejumlah molekul kecil
yang dapat bereaksi dengan antibody namum tidak dapat menginduksi produksi
antibodi. Untuk memicu respon antibody, bahan kecil tersebut perlu diikat oleh molekul
besar. Contoh hapten diantaranya adalah toksin poison ivy, berbagai macam obat
(seperti penisilin), dan zat kimia lainnya yang dapat membawa efek alergik (Nurcahyo,
2013).

B. EPITOP (ANTIGEN DETERMINANT)

Tiap antibodi mempunyai afinitas spesifik terhadap materi asing yang memicu
sintesis antibodi itu. Reseptor antigen dan antibodi yang hanya mengenali sebagian kecil
antigen yang dapat diakses disebut epitop (epitope) atau determinan antigenik (antigenic
determinant). Satu antigen biasanya memiliki beberapa epitope yag berbeda, masing-
masing mampu menginduksi respon dari limfosit yang mengenali epitop itu. Pengertian
lain dari epitope adalah suatu tempat-tempat tertentu dari suatu imunogen yang sifatnya
aktif, yang akan berikatan dengan antibody atau dengan reseptor spesifik pada permukaan
limfosit T. Epitop merupakan daerah atau sisi pada antigen yang berikatan dengan sisi
pengikatan antigen dari antibody yang spesifik atau dengan sebuah reseptor sel T. Epitop
merupakan molekul glikoprotein yang menempel pada membrane sel dan berperan sebagai
penentu terbentuknya molekul immunoglobulin (antibody). Berdasarkan jumlah epitope
yang terdapat pada permukaan sel antigen, maka dapat dibedakan ke dalam kelompok:

1. Antigen polivalen: memiliki banyak epitope


2. Antigen oligovalen : memiliki sedikit epitope
3. Antigen monovalent : memiliki satu epitope, (Nurcahyo, 2013).
5
situs
pengikata Epitop
antigen (determinan
Antibodi A Antigenik)

Antigen

Antibodi B
Antibodi C

C. ANTIBODI

Antibodi (immunoglobulin) adalah protein yang disintesis oleh hewan atau


manusia sebagai respon terhadap substansi asing (antigen). Antibodi ini disekresi oleh sel
plasma yaitu sel yang diturunkan dari sel limfosit B (sel B). Protein yang larut ini
merupakan elemen pengenalan pada respon kekebalan humoral. Tiap antibodi mempunyai
afinitas spesifik terhadap materi asing yang memicu sintesis antibodi itu (Styer,2000).

D. STRUKTUR ANTIBODI

Antibodi terdiri dari unit efektor dan unit pengikatan yang berbeda. Dalam suatu
penelitian mengenai Imunoglobulin G yang merupakan antibodi utama dalam serum
dipecah menjadi fragmen-fragmen yang tetap mempunyai. Pada tahun 1959 Rodney Porter
menunjukkan bahwa immunoglobulin G dapat dipecah menjadi tiga fragmen aktif yaitu 2
Fab dan 1 Fc. Dua diantara fragmen di atas mengikat antigen. Keduanya disebut Fab (ab
singkatan untuk pengikatan antigen atau “antigen binding”, F untuk fragmen). Tiap Fab
mengandung satu situs pengikatan untuk antigen. Fragmen I lainnya yaitu Fc yang tidak
mengikat antigen tetapi dapat berfungsi sebagai efektor.

Selanjutnya, pada struktur antibodi terdapat dua rantai ringan ( light chain) dan dua
rantai berat (heavy chain). Tiap rantai L (ringan) terikat pada rantai berat (H) dengan suatu
ikatan disulfida dan ratai H saling berikatan dengan paling sedikit satu ikatan disulfida.
Panjang rantai H yang mengandung 446 residu asam amino, kira-kira dua kali panjang
rantai L. Analisis menunjukkan bahwa semua perbedaan urutan asam amino terdapat pada
108 residu di ujung amino terminal. Jadi rantai panjang, seperti juga rantai pendek, terdiri
dari bagian yang variabel dan bagian yang konstan. Bagian variabel pada rantai panjang
mempunyai panjang yang sama dengan yang di rantai pendek, sedang bagian yang konstan
6
kira-kira tiga kali panjang bagian konstan pada rantai pendek (Stryer, 2000). Struktur
antibodi dapat digambarkan sebagai berikut:

7
E. KELAS-KELAS ANTIBODI

Pada sel B tertentu, antibodi-antibodi yang dihasilkan berbeda dari reseptor sel B
hanya dalam wilayah konstan (C) dari rantai berat. Sebagai ganti dari wilayah
transmembrane dan ekor sitoplasmik, rantai berat mengandung sekuens-sekuens yang
menentukan tempat antibodi didistribusikan dan bagaimana antibodi tersebut memerantarai
pembuangan antigen. Kelima tipe utama wilayah C rantai berat menentukan lima kelas
utama antibodi. (Campbel, 2010). Rantai panjang pada immunoglobulin G disebut rantai
γ, sedangkan pada immunoglobulin A,M,D dan E disebut α, μ, δ, dan δ berurutan
(Styer,2000). Berikut gambaran ke lima kelas antibodi:

F. MEKANISME SISTEM KERJA IMMUNITAS

Hewan terus menerus diserang oleh patoghen, agen-agen penginfeksi yang


menyebabkan penyakit. Bagi pathogen, tubuh hewan adalah habitat yang nyaris ideal,

8
karena menawarkan sumber nutrient yang siap digunakan., tempat yang terlindung untuk
pertumbuhan dan reproduksi serta transport ke inang dan lingkungan baru. Dalam sebagian
besar, patoghen itu berupa virus, bakteri, protista, dan fungi. Menginfeksi berbagai jenis
hewan termasuk manusia. Sebagai respons, hewan menyerang kembali patoghen dalam
berbagai cara. Sel-sel kekebalan khusus menjaga cairan-cairan tubuh, mencari, dan
mengahancurkan sel-sel asing. Bentuk pertahanan tubuh pada hewan dan manusia disebut
dengan system kekebalan (immune system).

9
G. PERTAHANAN NONSPESIFIK
1. Pertahanan Penghalang (Pertahanan Fisik)

Pada mamalia, jaringan-jaringan epithelia menghalangi masuknya banyak


patogen. Pertahanan-pertahanan penghalang ini tidak hanya mencakup kulit, namun
juga membran-membran mucus yang melapisi saluran pencernaan, pernapasan, urin,
dan reproduksi. Sel-sel tertentu dari membran mukus menghasilkan mukus (mucus)
yaitu cairan kental yang meningkatkan pertahanan dengan menjebak mikroba-mikroba
dan partikel-partikel yang lain. Selain peran fisik dalam menghambat masuknya
mikroba, sekresi tubuh menciptakan lingkungan yang tak bersahabat bagi banyak
mikroba. Sekresi-sekresi dari kelenjar sebum (minyak) dan kelenjar keringat
menjadikan pH kulit manusia berkisar antara 3 hingga 5, cukup asam untuk mencegah
pertumbuhan banyak mikroorganisme (Campbell, 2010).

Kulit dan membran mukosa yang melapisi saluran pernapasan, pencernaan, dan
genitouriner (kelamin dan ekspresi urine) merupakan pertahanan terdepan terhadap
infeksi dalam pertahanan fisik. Selain itu, pada trakea sel-sel epitel bersilia dapat
menyapu mucus dengan mikroba yang terjerat di dalamnya, sehingga mencegah
mikroba memasuki paru-paru.

2. Pertahanan Kimiawi

Selain peranannya sebagai rintangan fisik, kulit, dan membran mukosa juga
menghadapi patogen dengan pertahanan kimiawi. Pada manusia misalnya, sekresi dari
kelenjar minyak dan keringat akan membuat pH kulit menjadi asam (sekita pH 3-5)
sehingga dapat mencegah kolonisasi banyak mikroba. Kolonisasi mikroba juga
dihambat oleh aktivitas pencucian yang dilakukan oleh air liur (saliva), air mata, dan
sekresi mukosa secara terus menerus membasahi permukaan epithelium yang terpapar
(Campbell, 2010).

Selain itu mampu melindungi tubuh terhadap bakteri gram positif dengan cara
mengahancurkan dinding selnya. Berbagai bahan yang disekresikan getah lambung,
usus, dan empedu mampu menciptakan lingkungan yang dapat mencegah infeksi
banyak mikroorganisme. Sel pembunuh alami membantu mengenali dan melenyapkan
sel-sel berpenyakit tertentu pada vertebrata. Kecuali sel darah merah, semua sel dalam
tubuh normalnya memiliki protein yang disebut molekul MHC kelas I. setelah infeksi

10
virus atau konversi menjadi tahap kanker, sel-sel terkadang berhenti menyekresikan
protein ini. sel-sel pembunuh alami yang mengawasi tubuh melekat ke sel-sel sakit
semacam itu dan melepaskan zat-zat kimia yang menyebabkan kematian sel , sehingga
menghambat penyebaran virus atau kanker lebih jauh (Campbell, 2010).

3. Pertahanan Selular Bawaan

Patogen yang masuk kedalam tubuh merupakan subjek yang dideteksi oleh sel-
sel darah putih fagositik (leukosit). Sel-sel ini mengenali mikroba menggunakan
reseptor-reseptor yang sangat mirip dengan reseptor Toll serangga. Sel darah putih
mengenali dan menelan mikroba-mikroba yang menyerang, menjebaknya dalam suatu
vakuola. Vakuola itu kemudian berdifusi dengan lisosom, menyebabkan penghancuran
mikroba-mikroba dengan dua cara. Pertama, nitrat oksida dan gas-gas lain yang
dihasilkan didalam lisosom meracuni mikroba-mikroba yang ditelan. Kedua, lisozim
dan enzim-enzim yang lain mendegradasi komponen- komponen mikroba. Sel-sel
fagositik yang paling melimpah dalam tubuh mamalia adalah neutrofil (Campbell,
2010).

Mikroba yang menembus garis pertahanan pertama seperti mikroba yang


masuk lewat luka di kulit, akan menghadapi garis pertahanan kedua. Garis pertahanan
ini sangat tergantung pada proses fagositosis, yaitu proses penelanan mikroba yang
menyerang tubuh oleh jenis leukosit tertentu. Sel-sel fagositik terdiri atas neutrofil,
monosit, dan eosinofil. Selain sel-sel fagositik, pertahanan nonspesifik pada garis
pertahanan kedua juga meliputi sel pembunuh alami. Sel-sel ini termasuk golongan
limfosit dengan granula besar dan banyak mengandung sitoplasma. Jumlahnya sekitar
5%-15% dari limfosit dalam sirkulasi dan sekitar 45% dari limfosit dalam jaringan.
11
Fungsi utamanya adalah merusak sel tubuh yang diserang oleh virus dan sel tumor. Sel
mast sangat berperan dalam reaksi alergi dan imunitas terhadap parasit dalam usus dan
invasi bakteri (Nurcahyo, 2013).

Respon bawaan terhadap patogen yang menyerang biasanya disertai dengan


proses peradangan di tempat yang terluka dimana cairan, sel, dan zat terlarut keluar dari
darah dan masuk ke jaringan yang terkena peradangan. Hal ini ditandai dengan
kemerahan lokal, bengkak, dan demam. Peradangan menyediakan ruang untuk
memusatkan agen defensif tubuh di tempat di mana mereka dibutuhkan (Gerald Karp,
2005).

4. Pertahanan Humoral (Peptida dan Protein Antimikroba)

Pertahanan humoral adalah pertahanan tubuh oleh bahan-bahan yang terdapat


didalam sirkulasi darah. Pengenalan patogen pada mamalia memicu produksi dan
pelepasan berbagai macam peptida dan protein yang menyerang mikroba-mikroba
atau menghalangi reproduksinya. Molekul-molekul pertahanan lain, termasuk
interferon, CRP, kolektin, dan protein komplemen, bersifat unik bagi sistem kekebalan
vertebrata (Nurcahyo, 2013)

Interferon adalah protein-protein yang memberikan bawaan melawan infeksi


virus. Sel-sel tubuh yang terinfeksi oleh virus menyekresikan interferon, menginduksi
sel-sel tak terinfeksi di dekatnya untuk menghasilkan zat-zat yang menghambat
reproduksi virus. Dengan cara ini, interferon membatasi penyebaran virus dari sel ke
sel di dalam tubuh, membantu mengontrol infeksi virus seperti pilek dan influenza.

5. Respons Peradangan

Rasa nyeri dan pembengkakan yang menyadarkan Anda bahwa ada serpihan
kayu dibawah kulit Anda merupakan hasil dari respons peradangan (inflammatory
response) lokal, perubahan-perubahan yang disebabkan oleh molekul-molekul pesinyal
yang dilepaskan saat terjadi luka atau infeksi. Salah satu molekul pesinyal peradangan
yang penting adalah histamine (histamine), yang disimpan dalam sel tiang (mast cell),
sel-sel jaringan ikat yang menyimpan granula-granula untuk sekresi. Histamine
dilepaskan oleh sel-sel tiang di tempat-tempat kerusakan jaringan memicu pembuluh-
pembuluh darah di dekatnya untuk berdilatasi dan menjadi lebih permeabel.
Peningkatan suplai aliran darah lokal yang dihasilkan akan menyebabkan kemerahan

12
dan panas yang khas dari inflamasi (membakar). Kapiler-kapiler yang membengkak
karena terisi darah kemudian bocor ke jaringan-jaringan sebelahnya, sehingga
menyebabkan pembengkakan (Campbell, 2010).

Dengan memanfaatkan permeabelitas pembuluh yang ditingkatkan untuk


memasuki jaringan yang terluka, sel-sel ini melaksanakan fagositosis tambahan dan
inaktivasi mikroba. Hasilnya adalah akumulasi nanah (pus), cairan kaya sel-sel darah
putih , mikroba mati, dan sisa-sisa sel. Luka kecil menyebabkan inflamasi lokal, namun
kerusakan jaringan atau infeksi parah bisa menimbulkan respons yang sistemik (seluruh
tubuh) seperti produksi sel darah putih yang ditingkatkan. Terluka atau terinfeksi
seringkali menyekresikan molekul-molekul yang merangsang neutrofil tambahan dari
sumsum tulang, pada infeksi yang parah seperti meningitis atau usus buntu, jumlah sel
darah putih dalam darah bisa meningkat beberapa kali lipat dalam beberapa jam.
Respon peradangan sistemik yang lain adalah demam.

Selama peradangan, sel fagosit meninggalkan aliran darah dan bermigrasi ke


tempat infeksi sebagai respons terhadap bahan kimia (chemoattractants) yang
dilepaskan di lokasi. Kemudian sel-sel ini mengenali, menelan, dan menghancurkan
patogen. darah juga mengandung protein yang disebut pelengkap yang mengikat
patogen ekstraselular, memicu kerusakan pada sel patogen. Di salah satu proein
pelengkap, protein ini aktif melubangi membran plasma sel bakteri, yang menyebabkan
lisis dan kematian sel (Gerald Karp, 2005).

6. Penghindaran sistem Kekebalan Bawaan oleh Patoghen

Berbagai adaptasi telah dievolusikan pada beberapa patogen yang


memungkinkan mereka menghindari penghancuran oleh sel-sel fagositik. Misalnya,
13
kapsul luar yang mengelilingi bakteri tertentu menyembunyikan polisakarida pada
dinding selnya, sehingga mencegah pengenalan.

7. Molekul-Molekul Kekebalan

1. Komplemen

Komplemen diproduksi oleh hepatosit dan monosit, terdiri atas sejumlah besar
protein yang apabila diaktifkan akan memberikan proteksi terhadap infeksi dan
berperan dalam respons inflamasi fungsi komplemen antara lain untuk :
1. Menghancurkan sel membran banyak bakteri

2. Sebagai faktor kemotatik yang mengerahkan makrofag ke tempat bakteri.

3. Dapat diikat pada permukaan bakteri yang memudahkan makrofag untuk


mengenal (opsonisasi) dan memakannya.
2. Interferon

Merupakan protein yang disekresikan oleh sel yang terinfeksi virus, bersifat
antivirus, dan dapat menginduksi sel-sel disekitar sel yang terinfeksi virus, sehingga
menjadi resisten terhadap virus. Interferon merupakan sitokin berupa lipoprotein yang
diproduksi makrofag yang diaktifkan. Interferon merupakan sel pembuluh yang
diproduksi makrofag yang diaktifkan. Interferon merupakan sel pembuluh alami dari
berbagai sel tubuh yang mengandung nucleus, dan dilepas sebagai respons terhadap
infeksi virus.
3. CRP

Merupakan salah satu protein yang kadarnya dalam darah meningkat pada infeksi
akut sebagai respons imunitas nonspesifik.
4. Kolektin

Merupakan protein yang berfungsi sebagai opsonin yang dapat mengikat hidrat arang
pada permukaan kuman. Lisozim merupakan protein lisosom yang terdapat dalam
ludah, air mata, dan sekresi mukosa yang merupakan enzim yang dapat melisis sel
mikroba.

14
H. SISTEM PERTAHANAN SPESIFIK

Sistem pertahanan spesifik merupakan sistem pertahanan tubuh yang memliki


kemampuan untuk mengenali benda asing oleh tubuh. Sistem imun spesifik mempunyai
kemampuan untuk mengenali benda yang dianggap asing. Benda asing yang pertama kali muncul
akan segera dikenali dan terjadi sensitisasi sel-sel sistem imun tersebut. System pertahanan
spesifik seringkali mampu memberikan perlindungan yang kuat. System ini hanya daoat
mengenali benda yang sudah pernah masuk ke dalam tubuh sebelumnya. Oleh karena itu disebut
sistem pertahanan spesifik. Sistem pertahanan ini sangat efektif dalam memberantas infeksi serta
mengingat agen infeksi tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit di kemudian hari.
Sistem imun spesifik terdiri atas sistem humoral dan sistem seluler. Respon imun spesifik terdiri
dari respon imun seluler (cell-mediated immunity) dan respon imun humoral. Perbedaan kedua
respon imun tersebut terletak pada molekul yang berperan dalam melawan agen infektif, namun
tujuan utamanya sama yaitu untuk menghilangkan antigen ( Coico, 2003 :75). Respon imun
seluler diperlukan untuk melawan mikroba yang berada di dalam sel (intraseluler) seperti virus
dan bakteri. Respon ini dimediasi oleh limfosit T (sel T) dan berperan mendukung penghancuran
mikroba yang berada di dalam fagosit dan membunuh sel yang terinfeksi. Beberapa sel T juga
berkontribusi dalam eradikasi mikroba ekstraseluler dengan merekrut leukosit yang
menghancurkan patogen dan membantu sel B membuat antibodi yang efektif (Abbas et al.,
2005: 89).

Sistem pertahanan spesifik merupakan sistem pertahanan tubuh yang memiliki


kemampuan untuk mengenali benda asing oleh tubuh. Sistem imun spesifik mempunyai
kemampuan untuk mengenali benda yang dianggap asing. Benda asing yang pertama kali
muncul akan segera dikenali dan terjadi sensitisasi sel-sel sistem imun tersebut. System
pertahanan spesifik seringkali mampu memberikan perlindungan yang kuat. System ini hanya
dapat mengenali benda yang sudah pernah masuk ke dalam tubuh sebelumnya (Nurcahyo 2013
: 25). Oleh karena itu disebut sistem pertahanan spesifik. Respon sistem imun spesifik lebih
lambat karena dibutuhkan sensitisasi oleh antigen namun memiliki perlindungan lebih baik
terhadap antigen yang sama. Sistem imun ini diperankan oleh Limfosit B dan Limfosit T yang
berasal dari sel progenitor limfoid Sistem pertahanan spesifik disebut pula dengan sistem imun
yang didapat (adaptive immunity), dimana sel-sel imun yang berperan penting adalah sel limfosit
B dan limfosit T. Substansi yang dapat merangsang respon imun spesifik disebut dengan antigen.

15
Sedangkan respon tubuh terhadap masuknya antigen tersebut adalah dengan pembentukan
antibodi. Antibodi adalah suatu protein yang dihasilkan oleh sel limfosit B sebagai respon
terhadap adanya antigen. Antibodi bersifat spesifik terhadap jenis tertentu dari suatu antigen.
Sistem pertahanan spesifik dibagi menjadi dua yaitu sistem pertahanan humoral dan selular.
1. Sistem pertahanan humoral
Imunitas humoral adalah sistem yang diperankan oleh sel limfosit B dengan
atau tanpa bantuan sel imun kompeten lainnya. Di dalam imunitas humoral yang
berperan adalah limfosit B atau lebih dikenal dengan sel B. fungsi utamanya adalah
mempertahankan tubuh terhadap reaksi bakteri, virus, dan melakukan netralisasi toksin.
Dibuat di sumsum tulang yaitu sel batang yang sifatnya pluripitensi (pulipotent stem
cells) dan dimatangkan di sumsum tulang (bine marrow). limfosit B menyerang antigen
yang ada cairan antar sel .
Imunitas humoral diperantarai oleh antibodi serum, yang merupakan protein
yang disekresi oleh sel B. Sel B yang diaktifkan, akan mensekresi antibodi, setelah
pengikatan antigen ke membran molekul imunoglobulin (Ig), yaitu reseptor sel B
(BCR), yang diekspresikan oleh sel B tersebut. Sudah diperkirakan bahwa setiap sel B
mengekspresikan sampai 105 BCR dari spesifisitas yang sama. Sekali diikat, sel B
menerima signal untuk memulai mensekresi bentuk imunoglobulin ini, yang merupakan
suatu proses yang menginisiasi respon antibodi yang optimal dengan maksud untuk
mengeliminasi antigen dari hospes.
2. Sistem pertahanan seluler
Imunitas seluler, terutama diperantarai oleh sel T. Tidak seperti sel B, yang
memproduksi antibodi larut yang disirkulasi untuk mengikat antigen spesifik, setiap sel
T, mengekspresikan beberapa reseptor antigen yang identik, yang dinamakan T
cellreceptors (TCR), bersirkulasi langsung di sisi aktif antigen dan membentuk
fungsinya, apabila berinteraksi dengan antigen.
Respon imun selular merupakan fungsi dari limfosit T. Antigen akan
menyebabkan proliferasi dan diferensiasi sel T menjadi beberapa subpopulasi.
Subpopulasi sel T yang disebut sel T-helper (Th) akan mengenali antigen pada
permukaan sel makrofag atau sel yang terinfeksi melalui T-cell receptors (TCR) dan
molekul major histocompatibility complex (MHC) kelas-II. Sinyal yang diberikan oleh
sel terinfeksi akan menginduksi limfosit untuk memproduksi berbagai jenis limfokin
yang dapat membantu menghancurkan antigen tersebut. Subpopulasi sel T

16
lain yang disebut sel T-cytotoxic (Tc) akan menghancurkan antigen melalui MHC
kelas-I dengan cara kontak langsung dengan sel (cell to cell contact)
a. Sel T
Sel T mempunyai dua peranaan penting dalam sistem kekebalan. Regulator
sel T adalah sel yang merancang respon sistem kerja sama diantara beberapa
beberapa tipe sel imun. Helper sel T yang disebut juga “CD4 positif T cells”
(CD4+ T cells) mempeeringatkan sel B untuk mulai membentuk antibodi. CD4+
sel T juga dapat mengaktifkan sel T dan sistem imun yang disebut sel makrofag
yang mempengaruhi sel B untuk menentukan antibodi yang diproduksi. Sel T
tertentu yang disebut “CD8 positif T cells” (CD8+ T cells), dapat menjadi sel
pembunuh sel asing dengan menyerang dan menghancurkan sel yang
menginfeksi tersebut. Pembunuh sel T (T cells killer) juga disebut “cytotoxic T
cells” atau CTLs (Cytotoxic lymphocytes).
Progenitor asal sumsum tulang yang bermigrasi ke timus berdiferensiasi
menjadi sel T. Sel T merupakan imunitas selular yang berperan pada sistem imun
spesifik. Sel T terdiri atas sel CD4+, CD8+, sel T naif, NKT, dan Tr/Treg/Ts/Th3.
Sel T naif yang yang terpajan dengan kompleks antigen MHC dan dipresentasikan
APC atau rangsangan sitokin spesifik, akan berkembang menjadi subset sel T
berupa CD4+ dan CD8+ dengan fungsi efektor yang berlainan. Dari timus, sel T
naif dibawa darah ke organ limfoid perifer.2 Sel naif yang terpajan dengan antigen
akan bekembang menjadi sel Th0 yang dipengaruhi oleh mekanisme autokrin dari
IL-2 untuk berproliferasi yang akan berdiferensiasi menjadi Th1 dan Th2.8 Sel
efektor Th1 yang berperan pada infeksi dan Th2 yang berperan pada alergi.

 Sel Th1
Diferensiasi Th1 terutama dipacu oleh sitokin IL-12 dan IFN-γ dan
terjadi sebagai respon terhadap mikroba yang mengaktifkan sel dendritik,
makrofag, dan sel NK.9 Proses diferensiasi Th1 melibatkan reseptor sel T, IL-
2 dan T-bet, STAT1, STAT4 sebagai faktor transkripsi.8 IL-12 yang dilepas
makrofag dan sel dendritik menginduksi perkembangan Th1 melalui jalur yang
STAT4 dependen. Faktor transkripsi T-bet yang diproduksi sebagai respons
terhadap IFN-γ meningkatkan respons Th1.2 Sitokin terpenting yang dihasilkan
sel Th1 pada fase efektor adalah IFN-γ. IFN-γ akan memacu

17
aktifitas pembunuhan mikroba sel-sel fagosit dengan meningkatkan destruksi
intrasel pada mikroba yang difagositosis. Fungsi pokok efektor Th1 adalah
sebagai pertahanan infeksi dimana proses fagositosis sangat diperlukan. Th1
juga mengeluarkan IL-2 yang berfungsi sebagai faktor pertumbuhan autokrin
dan memacu proliferasi dan diferensiasi sel T CD8+. Jadi Th1 berfungsi sebagai
pembantu (helper) untuk pertumbuhan sel limfosit T sitotoksik yang juga
meningkatkan imunitas terhadap mikroba intrasel. Sel-sel Th1 memproduksi LT
yang meningkatkan pengambilan dan aktifasi neutrofil.3 Fungsi utama Th1
sebagai pertahanan dalam melawan infeksi terutama oleh mikroba intraseluler,
mekanisme efektor ini terjadi melalui aktivasi makrofag, sel B, dan sel neutrofil
(Baratawidjaja, 2000 : 165)

Gambar . Fungsi Sel-sel Th1

18
 Sel Th2
Atas pengaruh sitokin IL-4, IL-5, IL-10, IL-13 yang dilepas sel mast
yang terpajan dengan antigen, Th0 berkembang menjadi sel Th2 yang
merangsang sel B untuk meningkatkan produksi antibodi.2 Diferensiasi Th2
muncul sebagai respon terhadap alergi dan parasit, melibatkan reseptor sel T,
IL-4, faktor transkripsi GATA-3 dan STAT6. IL-4 menstimulasi produksi IgE

yang berfungsi dalam opsonisasi parasit.8 Sehingga Th2 adalah mediator untuk
reaksi alergi dan pertahanan infeksi terhadap parasit. Th2 juga memproduksi
sitokin seperti IL-4, IL-13, dan IL-10 yang bersifat antagonis terhadap IFN-γ
dan menekan aktivasi makrofag. Jadi Th2 kemungkinan berfungsi sebagai
regulator fisiologis pada respon imun dengan menghambat efek yang mungkin
membahayakan dari respon Th1. Pertumbuhan yang berlebihan dan tak
terkontrol dari Th2 berhubungan dengan berkurangnya imunitas seluler
terhadap infeksi mikroba intraseluler (Coico, 2003 :234).
Pada beberapa kondisi, seperti infeksi cacing, IL-4 yang diproduksi sel
mast dibawa ke organ limfoid dan eosinofil, yang ikut terlibat dalam
perkembangan Th2. Kemungkinan lain adalah antigen yang menstimulasi sel
CD4+ mensekresi sejumlah kecil IL-4 dari aktivasi awal sel tersebut. Jika
antigen tetap ada dan dengan konsentrasi yang tinggi, maka konsentrasi lokal
IL-4 berangsur-angsur akan meningkat. Jika antigen tidak memicu inflamasi
dengan disertai produksi IL-12, maka akan menghasilkan peningkatan
diferensiasi sel ke subset Th2. Apabila sel Th2 telah berkembang, maka IL-4
akan memperkuat reaksi dan menghambat perkembangan sel Th1 dan sel Th1

19
Gambar 2. Fungsi Sel-sel Th2

b. Aktivasi “helper T sel”


Antigen asing yang masuk dalam tubuh dipagosit oleh sel makrofag,
kemudian diproses dan terbentuk fragmen antigen yang akan berkombinasi
dengan protein klas IIMHC pada permukaan sel makrofag. Antigen-protein
kombinasi tersebut mempengaruhi helper sel T untuk menjadi aktif. Reseptor
yang bersikulasi dalam darah akan mempengaruhi sitotoksik sel T mengaktifkan
sitotoksik sel T sehingga sitotoksik sel T menyerang sel yang terinfeksi tersebut
dan menghancurkannya.

20
Gambar 4. Proses antibodi bekerja untuk melawan antigen

c. Aktivasi sel B untuk memproduksi antibodi


Sel B digunakan sebagai salah satu reseptor untuk mengikat antigen
dengan jalan memfagositosis dan memprosesnya. Kemudian sel B meperlihatkan
fragmen antigen tersebut yang terikat oleh protein klas II MHC pada
permukaannya. Bentuk ikatan tersebut kemudian mengikat sel T helper yang
aktif. Proses pengikatan tersebut menstimuli terjadinya transformasi dari sel B
menjadi sel plasma yang akan mengekskresi antibodi.

21
Gambar 5. Proses pembentukakn sel plasma untuk memproduksi antibodi

d. Antibodi
Setelah antigen masuk dalam tubuh, maka helper sel T memberi
peringatan pada sel B untuk bertransformasi menjadi plasma sel yang akan
mensintesis molekul antibodi atau imunoglobulin yang dapat bereaksi terhadap
antigen. Imunoglobulin adalah kelompok molekul yang erat hubungannya
dengan glikoprotein yang terdiri dari 82-96% protein dan 4-18% karbohidrat.
Pada dasarnya molekul imunoglobulin mempunyai bentuk ikatan 4 rantai yang
terdiri dari dua rantai kembar yang kuat (H=heavy) dan dua rantai kembar yang
lemah (L=light), dimana kedua bentuk rantai tersebut dihubungkan dengan
molekul disulfida (S2). Didalam rantai ikatan disulfida tersebut bertanggung
jawab terhadap formasi dua jalur ganda yang menguatkan antibodi yang juga
merupakan ciri khas dari molekul antibodi tersebut. Pada ujung terminal amina
dan rantai H dan L terciri dengan sifat yang berubah-ubah (variasi) dari
komposisi asam aminonya, sehingga disebut VH (variasi heavy) dan VL (variasi
light). Bagian yang tetap atau konstant dari rantai L disebut sebagai C L,
sedangkan dari rantai H disebut CH, sedangkan CH sendiri dibagi menjadi sub-
22
unit: CH1, CH2, dan CH3. Fungsi dan daerah yang bervariasi tersebut (V) adalah
terlihat dan berperan dalam pengikatan antigen. Sedangkan pada daerah C adalah
berperan untuk menguatkan ikatan dalam molekul dan daerah C ini terlibat dalam
proses sistem biologik sehingga disebut fungsi efektor seperti: “complement
binding” (ikatan komplemen, pasase plasenta dan berikatan dengan membran
sel).

Gambar 6. bentuk monomer dari imunoglobulin

3. Imunoglobulin dan Imunitas Humoral


Komponen glikoprotein dari imunoglobulin G (IgG), adalah molekul efektor
yang terbesar dalam respon sistem imun humoral pada orang, jumlahnya sekitar 75%
dari total imunoglobulin dalam plasma darah orang yang sehat. Sedangkan empat
imunoglobulin lainnya yaitu IgM, IgA, IgD dan IgE hanya mengandung sekitar 25%
glikoprotein. Antibodi dari IgG menunjukkan aktifitas yang dominan selama terjadi
respon antibodi sekunder. Hal tersebut menunjukkan bahwa IgG adalah merupakan
respon antibodi yang telah matang yang merupakan kontak antibodi yang kedua
dengan antigen.

Antibodi yang diproduksi pertama kali oleh sel B adalah IgM, sekali diproduksi
konsentrasi IgM meningkat dengan cepat dalam serum darah. Beberapa jam setelah
IgM diproduksi, sel B mulai memproduksi IgG, yang kemudian konsentrasi IgG
meningkat cepat melebihi konsentrasi IgM. Antibodi IgG ini lebih kuat untuk
melawan kuman patogen karena ukurannya yang kecil, sehingga ia dapat berpenetrasi
kedalam jaringan pada tempat yang penting. Sedangkan aktifitas IgM terbatas pada
saluran darah, tetapi IgM merupakan respon antibodi pertama (antibodi

23
primer) dalam mempertahankan tubuh terhadap antigen sampai cukup
terbentuknya IgG (antibodi sekunder). Kedua bentuk antibodi tersebut secara
terus menerus diproduksi selama ada antigen dalam tubuh. Antibodi yang
diproduksi oleh sel B tersebut akan melekat pada antigen dan dikeluarkan dari
tubuh, dimana antibodi lainnya yang tidak digunakan di katabolisme dan
hancur sendiri. Setiap antibodi mempunyai kemampuan hidup yang berbeda
yaitu: Waktu paroh biologi (biological half life) dari antibodi: IgG1, IgG2 dan
IgG4 adalah 20 hari, IgM selama 10 hari, IgA 6 hari dan IgD, IgE selama 2
hari.

Sebagaimana sistem tubuh lainnya, sayangnya sistem imun juga tidak


bisa terlepas dari adanya sejumlah gangguan ataupun kelainan. Kelainan
sistem kekebalan tubuh pada manusia dapat berupa alergi, autoimunitas, dan
sebagainya. Alergi merupakan sensitivitas secara berlebihan terhadap sesuatu
atau yang disebut sebagai anaphylaxis. Sebagian orang mengalami alergi ini,
misalnya alergi ikan laut, alergi daging, alergi dingin, alergi debu, alergi telor,
alergi susu, alergi obat, alergi serangga dan sebagainya. Adapun bentuk
reaksinya ada bermacam-macam diantaranya pusing, gatal-gatal, diare, sakit
perut, muntah-muntah, bersin, sesak nafas, hidung meler, batuk, kulit terasa
panas dan lain-lain. Pada reaksi yang lebih lanjut, bila terjadi reaksi anafilaktik,
maka si penderita alergi dapat mengalami shock (jantungan), muka berubah
menjadi pucat, mendadak bingung, pingsang bahkan dapat mengalami
kematian.

Proses terjadinya alergi disebabkan karena tingginya kadar antibodi


atau imunoglobin E (IgE) yang spesifik terhadap zat tertentu yang dapat
menimbulkan zat alergen atau zat yang dapat menyebabkan reaksi alergi. Pada
jaringan tubuh, imunoglobin E (IgE) dapat bereaksi dengan zat alergen dengan
cara menempel pada sel mast yaitu sebuah sel yang berperan dalam peradangan
dan alergi. Apabila, imunoglobin E (IgE) menerima kontak dengan zat alergen
yang sama untuk kesekian kalinya (sampai batas tertentu), maka sel mast lama
kelamaan akan mengalami degranulasi atau pecah sehingga kemudian akan

23
mengeluarkan zat-zat diantaranya histamin, kinin dan bradikinin dari dalam
granula. Zat-zat inilah yang kemudian dapat menimbulkan pengaruh yang kita
rasakan sebagai gejala seperti gatal-gatal, asma, muntah, diare dan sebagainya.

Proses alergi memerlukan waktu yang dinamakan sebagai proses


sensitisasi yang dimulai sejak pertama kali imunoglobin E (IgE) melakukan
kontak dengan zat alergen. Proses sensitisasi ini bisa berlangsung dalam
hitungan jam, bulan hingga tahun. Itulah sebabnya sering kali seseorang itu
akan kaget ketika suatu saat secara tiba-tiba dia mengetahui bahwa dirinya
alergi terhadap sesuatu padahal sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Alergi dalam
jangka waktu yang lama dapat menjadi sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan
sel mast dapat mengeluarkan zat interleukin 4 yakni suatu zat yang dapat
merangsang sel limfosit B agar menghasilkan imunoglobin E (IgE) dalam
jumlah yang lebih banyak lagi. Akibatnya, penderita akan perlu dipaksa untuk
mengkonsumsi obat alergi dalam dosis yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Dalam dunia medis, obat alergi yang benar-benar mujarab belum ditemukan.
Untuk itu biasanya kita disarankan untuk menjauhi makanan, minuman atau
menjalin kontak dengan benda-benda yang mengandung zat alergen. Penderita
alergi tidak memiliki pengaruh dari keturunan. Biasanya seseorang yang
memiliki alergi disebabkan karena menderita penyakit seperti asma, polip,
infeksi telinga, infeksi sinus, infeksi pada pangga tenggorokan atau orang yang
memiliki kulit sensitif.

Berbeda halnya dengan autoimun dimana autoimun sendiri merupakan


penyakit dimana sistem kekebalan tubuh yang diproduksi menyerang sel
lainnya di dalam tubuh (salah sasaran). Disini sel tubuh lainnya dianggap oleh
Sel limfosit T seolah-olah bukan merupakan bagian dari tubuh itu sendiri
dengan kata lain dianggap seperti antigen sehingga harus diperangi.
Keabnormalan ini belum sepenuhnya terungkap oleh ilmuwan masa kini
sehingga sulit untuk disembuhkan bahkan penyebabnya saja belum dapat
diketahui secara pasti. Penderita autoimun lebih banyak menyerang wanita
daripada laki-laki. Para ahli menduga bahwa sebuah kinerja abnormal ini dapat
disebabkan oleh beberapa kemungkinan seperti terjadinya serangan virus
24
kepada sistem kekebalan tubuh pada bayi saat belum lahir atau bisa disebabkan
karena rusaknya senyawa dalam tubuh sehingga dianggap seperti antigen oleh
sistem kekebalan tubuh. Saat ini obat untuk penyakit ini belum ditemukan,
adapun obat yang beredar di pasaran hanya berfungsi untuk mengurangi
gamma globulin dalam darah, yakni bagian darah yang mengandung antibodi.

Gejala penyakit autoimun dapat bermacam-macam karena pada


prinsipnya, keabnormalan ini dapat menyerang semua sel-sel dalam tubuh
termasuk sel dalam organ-organ penting seperti otak, jantung, paru-paru, hati
dan ginjal. Si penderita akan mengalami gejala yang hampir sama dengan
alergi seperti demam, pusing, muntah, gatal, penyakit kuning, merusak sendi,
sesak napas dan kematian. Beberapa abnormal yang dipengaruhi oleh
autoimun antara lain:

a. Myasthenia gravis yaitu suatu keabnormalan dimana sistem


kekebalan tubuh menyerang sel pada otot lurik sehingga terjadi degradasi otot
dan berkurangnya kemampuan otot dalam berkontraksi. Hal yang nampak
misalnya mata yang tidak simetris.

b. Lupus erythematosus yaitu suatu keabnormalan dimana sistem


kekebalan tubuh menyerang sel-sel tubuh lainnya. Sel-sel tubuh dianggap
seperti benda asing yang berbahasa sehingga perlu dilawan. Penyakit ini sangat
sulit untuk dideteksi karena memiliki gejala-gejala yang bersifat umum.

c. Addison’s disease yaitu suatu keabnormalan dimana sistem


kekebalan tubuh menyerang kalenjar adrenalin dan sel-sel yang menghasilkan
hormon adrenalin sehingga dapat menyebabkan infeksi, tubuh cepat lelah,
berat badan turun, darah rendah, peningkatan pigmentasi kulit dan timbul rasa
tertekan.

d. Multiple sclerosis yaitu suatu keabnormalan dimana sistem


kekebalan tubuh menyerang jaringan saraf di otak dan tulang belakang.
Penderita penyakit ini dapat mengalami stres, pusing dan gangguan
pengelihatan.

25
BAB VI PENUTUP
Kesimpulan
Sistem imun terbagi dua berdasarkan perolehannya atau asalnya, yaitu
Sistem Imun Nonspesifik (Sistem imun alami) merupakan lini pertama
sedangkan Sistem Imun Spesifik (Sistem imun yang didapat/hasil adaptasi)
merupakan lini kedua dan juga berfungsi terhadap serangan berikutnya oleh
mikroorganisme patogen yang sama. Masing-masing dari sistem imun
mempunyai komponen seluler dan komponen humoral, walaupun demikian,
kedua sistem imun tersebut saling bekerjasama dalam menjalankan fungsinya
untuk mempertahankan tubuh.

26
DAFTAR PUSTAKA

Abbas, A.K. & Lichtman, A.H. 2005. Cellular and Molecular Immunology 5th
Edition. Philadelphia: Elsevier Publisher.

Baratawidjaja, K.G. 2000. Imunologi Dasar Edisi 4. Universitas Indonesia


Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran.

Campbell, Reece. 2010. Biologi. Jakarta: Erlangga

Coico R., Sunshine G. Benjamini E. 2003 . Imunology. Edisi ke-5. States of


America: Wiley- Liss Publication.

Karp, Gerald. 2005. Cell and Molecular Biology. United States of America:
Willey International Edition.

Nurcahyo, Heru. 2013. Hand Out Molekul Hormon & Molekul Immunoglobulin.
Yogyakarta: UNY Press.

Stryer, Lubert. 2000. Biokimia Vol.1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

27