Anda di halaman 1dari 21

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI

METODE EXAMPLES NON EXAMPLES MATA PELAJARAN IPA


PADA SISWA KELAS IV SEMESTER I

Mahmudah*)
NIM : 823700046
Mahmudah89mahmudah@gmail.com

ABSTRAK

Peneliti mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran IPA kelas IV semester I


SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Guntur Kabupaten Demak Tahun Pelajaran 2015 / 2016. Selama ini
guru hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, tidak menggunakan alat peraga,
penjelasan guru tentang materi pelajaran masih kurang jelas, kurang mengaktifkan siswa sehingga
pembelajaran tidak menarik dan kurang bervariasi serta membosankan bagi siswa. Oleh karena itu
peneliti bertujuan untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas pada siswa kelas IV semester I
pembelajaran IPA tentang Alat Indera Manusia di SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Guntur Kabupaten
Demak Tahun Pelajaran 2015 / 2016 agar dapat menciptakan pembelajaran yang bervariasi, mudah
dipahami oleh siswa dan memotivasi siswa untuk dapat terlibat aktif dalam pembelajaran IPA tentang
Alat Indera Manusia yaitu mata. Siswa diharapkan dapat menyebutkan bagian-bagian mata dan
fungsinya serta cara kerjanya. Prestasi belajar siswa yang masih rendah dapat dilihat pada jumlah
siswa yang tuntas dan siswa yang tidak tuntas. Dari 25 siswa hanya ada 10 siswa yang tuntas dengan
persentase 40% dan 15 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 60%. Hal itu disebabkan karena
guru tidak menggunakan metode yang tepat dalam pembelajaran, kurang jelas dalam menyampaikan
materi dan tidak menggunakan alat peraga. Pada penelitian tindakan kelas ini peneliti melaksanakan
dua tahap yaitu siklus I dan siklus II. Pada siklus I guru sudah menerapkan metode examples non
examples dan menggunakan alat peraga, maka hasil prestasi belajar siswa yang diperoleh adalah 18
siswa yang tuntas dengan persentase 72% dan 7 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 28%. Dan
pada siklus II guru juga menerapkan metode examples non examples, menggunakan alat peraga,
siswa sudah dapat bekerjasama dalam kelompok dengan baik serta siswa sudah terlibat aktif dalam
pembelajaran. Maka hasil prestasi belajar siswa yang diperoleh pada siklus II ini adalah 23 siswa
yang tuntas dengan persentase 92% dan 2 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 8%. Dari hasil
tersebut dapat terlihat bahwa penelitian dua tahap yang dilakukan yaitu pada siklus I dan siklus II
mengalami peningkatan 20%. Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran
melalui metode examples non examples yang disertai alat peraga yang sesuai dalam pembelajaran
dapat meningkatkan prestasi belajar kelas IV semester I pada mata pelajaran IPA tentang alat indera
manusia di SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Guntur Kabupaten Demak.

Kata Kunci : Alat Indera Manusia, Pembelajaran yang bervariasi, mudah dipahami, dan memotivasi
siswa, Metode Examples Non Examples.

*) Mahasiswa Program S1 PGSD, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UPBJJ-UT Semarang – Pokjar
Demak
2

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang

Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab


XI pasal 40 ayat (2) yakni pendidik harus profesional untuk menciptakan suasana
pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis. Untuk
mewujudkan suasana pembelajaran yang bermakna kegiatan pembelajaran harus
dirancang sedemikian rupa agar peserta didik terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran sehingga mampu mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan
potensi yang dimilikinya. Keberadaan pendidikan yang sangat penting tersebut telah
diakui dan sekaligus memiliki legalitas yang sangat kuat sebagaimana yang tertuang
didalam UUD 1945 pasal 31 (1) yang menyebutkan bahwa : “ Setiap warga negara
berhak mendapat pendidikan “. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru agar
pembelajaran lebih bermakna bagi peserta didik antara lain : memilih metode atau
strategi dan model pembelajaran yang sesuai sehingga dapat menemukan model yang
sesuai. memilih model yang sesuai dengan kemampuan peserta didik dapat
memudahkan didalam proses belajar. Dengan ketepatan memilih model pembelajaran
maka akan terbentuklah suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.
Pengembangan kurikulum sains merespon secara aktif berbagai pengembangan
informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan desentralisasi. Hal ini
dilakukan untuk meningkatkan keterkaitan (relevansi) program pembelajaran dengan
keadaan dan kebutuhan setempat. Kompetensi sains menjamin pertumbuhan keimanan
dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penguasaan kecakapan hidup,
penguasaan prinsip – prinsip alam, kemampuan bekerja dan bersikap ilmiah sekaligus
pengembangan kepribadian Indonesia yang kuat dan berakhlak mulia (Depdiknas,
2003 : 03)
Ilmu pengetahuan Alam (IPA) merupakan mata pelajaran yang berhubungan
dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan
dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam
sekitar, serta prospek pengembangannya lebih lanjut dalam menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
3

Tujuan mata pelajaran IPA adalah diharapkan dapat menjadi wahana bagi
peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek
pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk
mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara
ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu
peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam
sekitar
Berdasarkan temuan Depdiknas (2007), dari hasil penelitian tersebut
menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan pelaksanaan standar isi mata
pelajaran IPA. Guru dalam menerapkan pembelajaran lebih menekankan pada metode
yang mengaktifkan guru, pembelajaran yang dilakukan guru kurang kreatif, lebih
banyak menggunakan metode ceramah dan kurang mengoptimalkan media
pembelajaran, sehingga siswa kurang aktif dan kurang menguasai materi pembelajaran
IPA.
Berdasarkan hasil observasi penelitian, rendahnya hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPA pada kelas IV SDN Sidoharjo 1 antara lain Guru kurang
menggunakan pembelajaran yang inovatif serta tidak mengikuti perkembangan psikis
siswa serta guru tidak menggunakan media/alat peraga dalam proses pembelajaran
sehingga mengakibatkan pelajaran IPA dianggap membosankan dan tidak menarik
bagi siswa, Penyampaian pembelajaran IPA yang bersifat abstrak tidak dapat begitu
saja dipahami oleh para siswa, khususnya anak usia SD yang dalam klasifikasi
tahapan berpikir konkret. Secara umum siswa hanya cenderung menghafalkan konsep
tanpa memahami dan mengerti makna yang terkandung dalam konsep yang
disampaikan oleh guru. .
Hal itu di dukung dari data pencapaian hasil observasi dan evaluasi pada siswa
kelas IV semester 1 tahun pelajaran 2015/2016 masih di bawah Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu ≥ 65. Data hasil belajar dari jumlah 25
siswa ditunjukkan dengan siswa yang telah mencapai standar ketuntasan ada 10 siswa
(40%), siswa yang belum mencapai standar ketuntasan ada 15 siswa (60%).
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan peranan guru sangat
menentukan.Menurut Slavin (2008) pembelajaran kooperatif adalah metode atau
model dimana siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan bertanggung
jawab terhadap pencapaian hasil belajar individu dan kelompok. Pembelajaran
4

kooperatif adalah pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa
untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan
belajar.
Pembelajaran kooperatif itu salah satunya adalah model pendekatan Examples
Non Examples karena metode Examples Non Examples merupakan model
pembelajaran yang mengajarkan pada siswa untuk belajar mengerti dan menganalisis
sebuah konsep. Metode Examples Non Examples penting dilakukan karena suatu
definisi konsep adalah suatu konsep yang diketahui secara primer hanya dari segi
definisinya daripada dari sifat fisiknya. Examples memberikan gambaran akan sesuatu
yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan Non
examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi
yang sedang dibahas.
Untuk mengatasi permasalahan di atas sebagai upaya peningkatan kualitas
pembelajaran yang meliputi peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan
pembelajaran, peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran, respon siswa dalam
pembelajaran, dan peningkatan hasil belajar siswa, maka perlu adanya penelitian
tindakan kelas dengan judul “Upaya peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Metode
Examples Non Examples Mata Pelajaran IPA Pokok Bahasan Panca Indera pada siswa
kelas IV Semester 1 SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Guntur Kabupaten Demak”.

1. Identifikasi Masalah
Dari hasil pengamatan terhadap tes formatif dan hasil refleksi diri dalam pembelajaran
mata pelajaran IPA Kompetensi Dasar ”Mendeskripsikan hubungan antara struktur
panca indera dengan fungsinya” penulis diskusikan dengan teman sejawat dan
dikonsultasikan dengan supervisor untuk mengidentifikasikan masalah yang timbul
dalam proses pembelajaran. Masalah-masalah yang dihadapi ketika melaksanakan
kegiatan belajar-mengajar di SDN Sidoharjo 1, diantaranya :
a. Pembelajaran IPA tentang struktur panca indera di kelas IV SDN Sidoharjo 1
masih belum berhasil.
b. Menggunakan metode ceramah dan tanya jawab.
c. Tidak menggunakan alat peraga.
d. Masih banyak siswa yang belum tuntas.
e. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran.
5

2. Analisis Masalah
Analisis masalah yang dapat peneliti simpulkan adalah :
- Penjelasan guru tentang materi pelajaran kurang jelas.
- Guru kurang mengaktifkan siswa.
- Guru tidak menggunakan alat peraga.
- Penggunaan metode kurang tepat.

3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah


Alternatif dan prioritas pemecahan masalah yang dapat diambil dari masalah
diatas adalah:
- Guru sebaiknya menggunakan alat peraga yang sesuai dengan materi agar siswa
dapat dengan mudah memahami.
- Sebaiknya guru menggunakan metode examples non examples agar pembelajaran
lebih efektif.
- Sebaiknya siswa aktif dalam pembelajaran.
- Guru dalam menyampaikan materi sebaiknya lebih bervariasi agar siswa tertarik
dalam pembelajaran.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakangdiatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
“Apakah dengan penggunaan metode examples non examples dapat meningkatkan
hasil belajar siswa kelas IV pada pelajaran IPA tentang panca indera di SDN Sidoharjo
1 Kecamatan Guntur Kabupaten Demak?”.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Meningkatkan kualitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA.
2. Meningkatkan pemahaman materi dengan menggunakan alat peraga.
3. Meningkatkan ketuntasan belajar siswa melalui perbaikan pembelajaran.
4. Meningkatkankemampuan guru dalam pembelajaran IPA melalui metode
examples non examples.
6

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan. Selain itu peneliti juga berharap dapat memberi manfaat bagi:
a) Siswa
a. Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian mata dan fungsinya serta dapat
menambah pengalaman belajar yang bervariasi yang dapat meningkatkan minat
siswa dalam pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara
optimal.
b) Guru
Melalui metode Examples Non Examples kreatifitas guru dapat berkembang
sehingga dapat menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga dapat
memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
c) Sekolah
1) Memberikan pengetahuan baru bagi guru SDN Sidoharjo 1 tentang pendekatan
Examples Non Examples.
2) Memberi kontribusi yang lebih baik dalam perbaikan pembelajaran pada
khususnya dan kemajuan sekolah pada umumnya.

II. Kajian Pustaka

A. Hakekat Pembelajaran IPA


Gagne dalam Pribadi (2009: 9) mendefinisikan istilah pembelajaran sebagai “a
set of events embedded in purposeful activities that fasilitate learning”. Pembelajaran
adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk
memudahkan terjadinya proses belajar.
Miarso dalam Pribadi (2009: 9) menyatakan bahwa pembelajaran adalah
proses yang sengaja dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam
diri individu. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan sesuatu hal yang bersifat
eksternal dan sengaja dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar internal
dalam diri individu.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur
manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi
mencapai tujuan pembelajaran. Manusiawi terlibat dalam pembelajaran terdiri dari
siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya, tenaga laboratorium. Material, meliputi
buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape.
7

Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, juga
komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik,
belajar, ujian dan sebagainya (Hamalik 1994: 57).
Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah
rangkaian kegiatan belajar mengajar yang terstruktur dan terencana untuk
menyampaikan tujuan pembelajaran dengan menggunakan beberapa media.
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam.Sains menurut Suyoso
(1998:23) merupakan “pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan
dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur,
sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal”.
Menurut Abdullah (1998:18), IPA merupakan “pengetahuan teoritis yang
diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan
observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi
dan demikian seterusnya kait mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain”.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan
pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan
langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan dididapatkan dari hasil
eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus di sempurnakan.
Pendidikan IPA menurut Tohari (1978:3) merupakan “usaha untuk
menggunakan tingkah laku siswa hingga siswa memahami proses-proses IPA,
memiliki nilai-nilai dan sikap yang baik terhadap IPA serta menguasi materi IPA
berupa fakta, konsep, prinsip, hokum dan teori IPA”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hakekat pembelajaran IPA di SD merupakan
suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan
menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah
laku siswa sehingga siswa dapat memahami proses IPA dan dapat dikembangkan di
masyarakat serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

B. Karakteristik Pembelajaran IPA di SD


Dalam belajar IPA siswa diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi siswa
dengan teori melalui eksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Pendidikan
IPA disekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri
sendiri dan alam sekitarnya serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
8

Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman langsung untuk


mengembangkan kompetensi agar siswa mampu memahami alam sekitar melalui
proses “mencari tahu” dan “berbuat”, hal ini akan membantu siswa untuk memperoleh
pemahaman yang mendalam.
Sebagaimana tercantum dalam UU No.2 tahun 1989 Pasal 37 ayat 3 dalam
Poedjiadi (2007:112) menyatakan bahwa “Pengantar IPA (sains) dan teknologi
merupakan bahan yang harus dikaji sejak siswa belajar pada tingkat pendidikan
dasar”.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwaIPA merupakan mata
pelajaran yang harus diajarkan pada tingkat pendidikan dasar yang harus ditekuni dan
dikuasai oleh siswa, karena sains merupakan ilmu yang universal yang menjadi
fondasi teknologi.

C. Metode Examples Non Examples


Menurut pendapat Joyce (dalam Trianto, 2009 : 2) “Model pembelajaran
adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk
menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku,
film, komputer, kurikulum, dan lain-lain”.
Metode pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa
untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan
belajar ialah pembelajaran kooperatif. Metode Examples Non Examples adalah
metode pembelajaran yang termasuk kedalam pembelajaran kooperatif yang cocok
digunakan untuk proses pembelajaran.

1. Karakteristik
Metode Examples Non Examples merupakan suatu metode pembelajaran yang
menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Penggunaan media gambar ini
disusun dan dirancang agar anak dapat menganalisis gambar tersebut menjadi sebuah
bentuk diskripi singkat mengenai apa yang ada didalam gambar. Metode ini
diharapkan dapat mendorong siswa menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai
materi yang ada.
9

2. Prosedur
Prosedur yang dilakukan dalam metode pembelajaran adalah :
a. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP.
c. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk
memperhatikan / menganalisa gambar.
d. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar
tersebut dicatat pada kertas.
e. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi
sesuai tujuan yang ingin dicapai.
f. Kesimpulan

3. Kelebihan
Kelebihan metode examples non examples diantaranya adalah:
a. Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk
memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih
komplek.
b. Siswa terlibat dalam satu proses discoveri (penemuan), yang mendorong
mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari
examples non examples.
c. Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari
suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non examples yang
dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter
dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian examples.

4. Kelemahan
Dalam metode examples non examples terdapat kelemahan, diantaranya
adalah:
a. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
b. Memakan waktu yang lama.
10

D. Alat Indera Manusia


Mata
Mata adalah alat indera yang berfungsi untuk melihat keadaan di sekitar.
Dengan mata yang sehat, kita dapat melihat segala sesuatu dalam berbagai warna dan
bentuk dengan jelas.
Secara umum, mata terdiri atas dua bagian, yaitu bagian yang melindungi mata
dan bagian yang berhubungan dengan fungsi penglihatan. Kedua bagian itu
mempunyai bagian-bagian tertentu.
1. Bagian yang melindungi mata
a. Alis mata
Alis mata berfungsi untuk menahan keringat atau air yang mengalir dari dahi.
b. Kelopak mata
Kelopak mata adalah kulit yang dapat menutupi bola mata. Kelopak mata
dapat bergerak membuka dan menutup. Disebelah dalam kelopak mata
terdapat kelenjar air mata yang menghasilkan air mata. Air mata berfungsi
untuk menjaga permukaan bola mata selalu basah, bebas dari debu, dan juga
membunuh kuman yang akan masuk ke mata.
c. Rambut ( bulu ) mata
Rambut ( bulu ) mata berfungsi seperti jaring yang menghalangi debu atau
kotoran lain agar tidak masuk ke mata.
2. Bagian yang berhubungan dengan fungsi penglihatan
a. Kornea
Kornea merupakan selaput yang bening. Kornea berfungsi untuk meneruskan
cahaya yang masuk ke mata.
b. Iris
Iris disebut juga selaput pelangi. Iris memberi warna bagi mata kita. Iris
berfungsi mengatur jumlah cahaya yang memasuki pupil, yaitu lubang pada
pusat iris.
c. Pupil
Pupil disebut juga anak mata. Pupil merupakan lubang pada pusat iris. Jika
cahaya yang diterima mata banyak, pupil akan mengecil. Jika cahaya yang
diterima mata sedikit, pupil akan membesar.
d. Lensa
11

Lensa berbentuk cembung dan bening. Lensa mata berfungsi untuk


memfokuskan cahaya yang masuk ke mata agar bayangan benda jatuh tepat di
retina. Jika mata mengamati objek yang dekat, lensa mata menjadi lebih
cembung. Jika mata mengamati objek yang jauh, lensa mata menjadi lebih
pipih. Kemampuan lensa mata untuk memipih dan mencembung disebut daya
akomodasi. Perubahan bentuk lensa mata diatur oleh otot mata.
e. Humor berair dan Humor bening
Keduanya merupakan cairan kental dan transparan seperti jeli. Humor berair
mengisi rongga mata di depan lensa, sedangkan humor bening mengisi rongga
mata di belakang lensa. Keduanya berfungsi sebagai lensa cair yang membantu
memfokuskan cahaya ke retina.
f. Retina
Retina atau selaput jala merupakan lapisan paling dalam pada mata. Di retina
terdapat bintik kuning yang merupakan bagian paling peka terhadap cahaya.
Cahaya yang diterima retina dilaporkan ke otak melalui saraf mata.
g. Saraf mata
Saraf mata berfungsi untuk meneruskan rangsang cahaya ke otak.
h. Otot mata
Otot mata berfungsi menggerakkan mata. Otot mata membuat mata dapat
bergerak ke atas, bawah, samping kanan dan kiri, serta memutar.
Cara kerja mata :
 Sumber cahaya diterima oleh kornea.
 Dari kornea cahaya diteruskan ke pupil, Pupil menentukan jumlah cahaya
yang masuk ke bagian mata yang lebih dalam. Pupil melebar jika kondisi
ruangan gelap, dan menyempit jka kondisi ruangan terang. Lebar pupil
dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya.
 Iris berfungsi sebagaimana diafragma sebagai pengatur masuknya cahaya.
 Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya ke retina.
 Setelah dari retina, cahaya diteruskan ke saraf mata.
 Saraf mata adalah saraf yang memasuki sel tali dan kerucut dalam retina,
untuk menuju ke otak.
12

E. Kerangka Berpikir
Dalam proses pembelajaran sebagai seorang guru harus memiliki kemampuan
dalam mengajarkan materi pelajaran. Guru diharapkan lebih kreatif dalam
menentukan metode yang cocok untuk materi yang akan diajarkan serta menggunakan
media yang sesuai sehingga dapat memudahkan siswa untuk lebih memahami dan
mencapai keberhasilan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan tujuan pembelajaran seorang guru harus mampu memilih dan
menerapkan metode serta media pembelajaran yang tepat maka, kerangka berpikirnya
adalah Apakah melalui penggunaan metode examples non examples dapat
meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada pelajaran IPA dalam alat indera
manusia di SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Guntur Kabupaten Demak.

F. Hipotesis Tindakan
Sesuai dengan landasan teori dan kerangka berpikir tersebut maka hipotesis dari
penelitian perbaikan pembelajaran adalah “Apakah melalui Penggunaan Metode
Examples Non Examples dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV pada
Pelajaran IPA dalam Alat Indera Manusia di SDN Sidoharjo 1 Kecamatan Guntur
Kabupaten Demak Tahun Pelajaran 2015 / 2016?”

III. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas IV semester I
SDN SIDOHARJO 1 Kecamatan Guntur Kabupaten Demak yang berjumlah 25 siswa
terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan.
Latar belakang pekerjaan orang tua siswa kelas IV SDN SIDOHARJO 1
Kecamatan Guntur Kabupaten Demak berasal dari keluarga ekonomi menengah ke
bawah dengan pekerjaan orang tua sebagai petani dan kuli bangunan. Tempat tinggal
siswa berada di pedesaan.
Tempat penelitian tindakan kelas dilakukan di SDN SIDOHARJO 1
Kecamatan Guntur Kabupaten Demak. Letakya di Desa Sidoharjo RT. 02 RW. 01
Kecamatan Guntur Kabupaten Demak, Kode Pos 59565
13

Waktu pelaksanaan kegiatan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Pra siklus : Kamis, 01 Oktober 2015 pukul 11.00 - 12.10 WIB


2. Siklus I : Kamis, 08 Oktober 2015 pukul 11.00 - 12.10 WIB
3. Siklus II : Kamis, 15 Oktober 2015 pukul 11.00 - 12.10 WIB

Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus dengan tindakan yang dilakukan setelah


tahap awal. Pada tahap awal atau pra siklus guru masih menggunakan metode
ceramah, belum menggunakan pembelajaran inovatif yang menarik bagi siswa, siswa
merasa jenuh, lebih sering bermain sendiri dan kurang berperan aktif ketika
pembelajaran. Oleh karena itu, selanjutnya dilaksanakan penelitian pada siklus 1 dan
siklus 2. Siklus 1 dan siklus 2 memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan prestasi
belajar siswa. Pada siklus 1 guru sudah menerapkan metode examples non examples
dan menggunakan alat peraga yang sesuai dan hasilnya menunjukkan peningkatan,
meskipun masih ada siswa yang belum tuntas. Kemudian untuk memperbaikinya
peneliti melaksanakan penelitian pada siklus 2. Pada siklus 2 guru menerapkan metode
examples non examples dan menggunakan alat peraga yang sesuai. Setelah
dilaksanakan siklus 2 ini dapat dilihat bahwa siswa lebih aktif dalam pembelajaran,
hasil belajar siswa meningkat, siswa lebih mudah memahami materi pelajaran. Jadi
pembelajaran ini berhasil karena dari siklus 1 ke siklus 2 menunjukkan peningkatan
prestasi belajar siswa yang memuaskan.
1) Teknik pengumpulan, pengolahan dan analisis data
Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti selama pembelajaran
adalah observasi, tes, dokumentasi dan wawancara.
Peneliti melakukan pengolahan data dengan observasi, tes, dokumentasi dan
wawancara. Pada observasi guru mengamati aktifitas siswa, tes dengan
memberikan tes tertulis berbentuk subjektif, dokumentasi dengan cara guru
menyimpan hasil prestasi belajar siswa dan wawancara digunakan untuk
mengetahui pemahaman siswa terhadap materi.
Teknik analisis data menurut Maryoto (2012) analisis data yang digunakan
adalah analisis data deskriptif kuantitatif. Data kuantitatif adalah nilai tes dari
tiap-tiap siklus. Untuk mencari rata-rata hasil kerja siswa digunakan rumus jumlah
14

nilai siswa dibagi jumlah siswa sedangkan untuk mencari tingkat ketuntasan siswa
dengan rumus jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar dibagi jumlah
siswa kemudian dikalikan 100%.

IV. Hasil dan Pembahasan


A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Pada tanggal 01 Oktober 2015 telah dilaksanakan pembelajaran pada tahap
prasiklus yang belum menggunakan metode examples non examples, guru masih
menggunakan metode ceramah dan guru belum memanfaatkan alat peraga. Siswa
masih belum aktif dan hanya mendengarkan penjelasan guru saja, masih banyak siswa
yang berbicara sendiri dan tidak memperhatikan penjelasan guru. Hal ini yang
membuat prestasi belajar siswa belum berhasil.
Tabel 4.1
Hasil Tes Formatif IPA Pra Siklus
No. Skor (S) Frekuensi (F) Prosentase (%) SxF
1 10 - 0% 0
2 9 3 12% 27
3 8 4 16% 32
4 7 3 12% 21
5 6 3 12% 18
6 5 4 16% 20
7 4 5 20% 20
8 3 3 12% 9
JUMLAH 25 100% 147
Keterangan
KKM IPA : 65
SxF : Skor x Frekuensi
Skor rata-rata : 147 : 25 = 5,9 atau 59

Dari data diatas dapat terlihat skor yang diperoleh siswa, dengan skor antara 3 s/d
9. Pada tahap awal hasil tes dapat diketahui jumlah siswa yang tuntas dan siswa yang
tidak tuntas. Dari 25 siswa, maka siswa yang tuntas ada 10 orang dengan persentase
40%, dan siswa yang tidak tuntas ada 15 orang dengan persentase 60%. Karena
prestasi belajar siswa yang masih rendah, maka peneliti akan melakukan perbaikan
pembelajaran pada siklus 1 dan siklus 2.

Hasil Penelitian Siklus 1


15

Proses pembelajaran ditujukan untuk memperbaiki pembelajaran sebelumnya,


yang belum menggunakan metode examples non examples. Oleh karena itu, rencana
pembelajaran yang akan digunakan peneliti harus sesuai dengan menggunakan alat
peraga yang sesuai materi. Maka, peneliti akan melaksanakan perbaikan dengan siklus
1 pada tanggal 08 Oktober 2015 jam 11.00 – 12.10 WIB agar prestasi belajar siswa
dapat meningkat.
Tabel 4.2
Hasil Tes Formatif IPA Siklus I
No. Skor (S) Frekuensi (F) Prosentase (%) SxF
1 10 4 16% 40
2 9 4 16% 36
3 8 6 24% 48
4 7 4 16% 28
5 6 7 28% 42
6 5
JUMLAH 25 100% 194
Keterangan
KKM IPA : 65
SxF : Skor x Frekuensi
Skor rata-rata : 194 :25 = 7,8 atau 78

Dari data diatas dapat dilihat bahwa skor maksimal adalah 10 yang diperoleh 4
siswa, siswa yang tuntas adalah berjumlah 18 orang dengan persentase 72%
sedangkan siswa yang tidak tuntas berjumlah 7 orang dengan persentase 28%. Pada
pelaksanaan siklus 1 ini berjalan dengan baik dan lancar. Melalui metode examples
non examples siswa dapat dengan mudah dan lebih paham karena terdapat 1 contoh
gambar yang sesuai dengan materi dan 1 contoh gambar yang tidak sesuai dengan
materi sehingga siswa dapat membedakan dengan jelas gambar yang sesuai dengan
materi yang diajarkan pada saat ini. Siswa sudah dapat bekerja sama dalam diskusi
dengan baik dan berani bertanya dan juga menjawab pertanyaan. Dalam siklus 1 ini
peneliti dapat melihat betapa antusias dan tertariknya siswa yang membuat siswa
menjadi memiliki motivasi tinggi dalam pembelajaran sehingga tercipta keadaan kelas
yang kondusif. Tetapi ada juga siswa yang masih malu bertanya dan menjawab
pertanyaan serta kurang memperhatikan penjelasan guru. Dan juga alat peraga yang
digunakan masih terlalu kecil sehingga masih ada siswa yang kurang paham.
16

Kekurangan pada siklus I ini akan peneliti lakukan perbaikan pembelajaran pada
siklus 2.

Hasil Penelitian Siklus 2


Siklus II ini dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran yang masih kurang
pada siklus I, siklus II dilaksanakan tanggal 15 Oktober 2015 jam 11.00-12.10 WIB.
Prestasi belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.4
Hasil Nilai Tes Formatif IPA Siklus II
No. Skor (S) Frekuensi (F) Prosentase (%) SxF
1 10 7 28% 70
2 9 7 28% 63
3 8 6 24% 48
4 7 3 12% 21
5 6 2 8% 12
6 5
JUMLAH 25 100% 214
Keterangan
KKM IPA : 65
SxF : Skor x Frekuensi
Skor rata-rata : 214 : 25 = 8,6 atau 86

Ada 7 siswa yang mendapat skor maksimal dan ada 2 siswa yang mendapat skor
minimal. Siswa yang tuntas adalah mereka yang mendapat skor 7, 8, 9 dan 10 yang
berjumlah 23 orang dengan persentase 92% sedangkan siswa yang mendapat skor 6
adalah siswa tidak tuntas yang berjumlah 2 orang dengan persentase 8%. Melalui
metode examples non examples sudah baik dan menggunakan alat peraga yang sesuai
dengan materi. Semua siswa ikut terlibat aktif yang dibuktikan dengan semua siswa
bekerja sama dalam diskusi, berani menjawab dan berani bertanya kepada guru serta
memperhatikan penjelasan guru. Dalam siklus II ini kegiatan pembelajaran berhasil
maka yang harus diperhatikan adalah mempertahankan dan memaksimalkan
pembelajaran melalui metode examples non examples dengan menggunakan alat
peraga yang sesuai. Oleh sebab itu, tidak perlu lagi adanya tindak lanjut perbaikan ke
siklus berikutnya.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


17

Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa melalui metode examples non
examples dengan menggunakan alat peraga yang sesuai memiliki banyak manfaat dan
keuntungan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dalam
persentase ketuntasan belajar siswa yang meningkat dari tahap prasiklus, siklus I dan
siklus II yaitu masing-masing sebesar 40%, 72% dan 92%.

1. Tahap awal
Pada tahap awal ini atau tahap prasiklus peneliti masih menggunakan metode
ceramah dan tanya jawab, sehingga siswa cenderung pasif hanya mendengarkan guru
saja. Guru tidak menggunakan alat peraga atau media pembelajaran lainnya. Hasil
belajar siswa pada mata pelajaran IPA pada tahap awal ini masih sangat kurang, dapat
dilihat dari banyaknya siswa yang perolehan nilainya masih dibawah KKM yaitu 65.
Nilai tertinggi yang didapat siswa adalah 90, sedangkan nilai terendah yang didapat
adalah 30. Jika dilihat antara nilai tertinggi dan nilai terendah masih sangat jauh
jaraknya. Jadi dari 25 siswa, hanya ada 10 siswa yang tuntas dengan persentase 40%
dan 15 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 60%.

2. Siklus I
Dalam pembelajaran di siklus I ini guru menyampaikan materi melalui metode
examples non examples dan menggunakan alat peraga yang sesuai dengan materi
berupa gambar. Siswa terlihat antusias yang dapat dilihat dari siswa ikut aktif dalam
pembelajaran,sudah bekerja sama berkelompok dalam diskusi, berani bertanya dan
menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Meskipun masih ada juga siswa yang malu
untuk bertanya dan menjawab pertanyaan guru. Hasil tes formatif pada siklus I mata
pelajaran IPA adalah 18 siswa tuntas dengan persentase 72% dan 7 siswa yang tidak
tuntas dengan persentase 28%. Dilihat dari perolehan nilai siswa diatas bahwa prestasi

belajar siswa pada siklus I ini telah mencapai nilai 65. Dibanding saat tahap awal

hasil tes formatif yang diperoleh siswa adalah 10 siswa yang tuntas dengan persentase
40% dan 15 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 60%. Jadi dapat dilihat bahwa
prestasi belajar siswa pada siklus I ini meningkat sebesar 32%.

3. Siklus II
18

Dalam pembelajaran di siklus II ini guru menyampaikan materi melalui metode


examples non examples dan menggunakan alat peraga yang sesuai dengan materi
berupa gambar. Siswa terlihat antusias yang dapat dilihat dari siswa ikut aktif dalam
pembelajaran, sudah bekerja sama berkelompok dalam diskusi, berani bertanya dan
menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Hasil tes formatif pada siklus II mata
pelajaran IPA ini tentunya jauh lebih baik daripada tahap awal atau prasiklus dan
siklus I. Hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa yang tuntas sebesar 23 siswa dengan
persentase 92% dan hanya 2 siswa yang tidak tuntas dengan persentase 8%. Dilihat
dari perolehan nilai siswa diatas bahwa prestasi belajar siswa pada siklus II ini telah

mencapai nilai 65. Dibandingkan saat tahap awal atau prasiklus siswa yang tuntas

hanya 10 siswa (40%), siklus I ada 18 siswa (72%) dan siklus II ini memiliki
ketuntasan yang paling tinggi yaitu ada 23 siswa (92%). Pada siklus II ini ada 7 siswa
yang memperoleh nilai maksimum yaitu 100, sedangkan pada siklus I hanya ada 4
siswa yang memperoleh nilai maksimum yaitu 100.
Dilihat dari data diatas dapat kita ketahui bahwa persentase kenaikan
ketuntasan dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 20%. Agar lebih jelas dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Perbandingan Prestasi Belajar IPA
Jumlah Persentase
N Kategori Tahap Siklus Siklus Tahap Siklus Siklus
o Awal I II Awal I II
1 Tuntas 10 18 23 40% 72% 92%
2 Tidak Tuntas 15 7 2 60% 28% 8%
3 Nilai Minimun 30 60 60
4 Nilai 90 10 10
Maksimum
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa persentase ketuntasan siswa pada siklus II
telah mencapai 92% atau sudah lebih dari indikator yang diharapkan. Prestasi belajar
siswa pada siklus II ini sudah tercapai sesuai yang diharapkan peneliti sehingga
penelitian ini dihentikan sampai siklus II saja.
Berdasarkan hasil analisis data dalam pengelolaan selama proses pembelajaran
adalah bahwa guru dalam mengelola pembelajaran melalui metode examples non
examples kelas IV SDN Sidoharjo I Kecamatan Guntur Kabupaten Demak sudah baik.
Dilihat dari siklus I dan siklus II yang menunjukkan peningkatan prestasi belajar
siswa. Meskipun masih ada yang belum maksimal. Selama pembelajaran
19

menggunakan metode examples non examples yang menggunakan alat peraga berupa
gambar, sisswa dapat menganalisis gambar dengan baik, aktif dalam bertanya dan
menjawab pertanyaan. Disini dapat dilihat bahwa siswa memiliki motivasi tinggi yang
terlihat dari ketertarikan dan antusias siswa mengikuti pembelajaran yang dilakukan.
Hal ini menunjukkan hasil yang baik terhadap prestasi belajar siswa dengan
ketuntasan yang terus meningkat pada setiap siklusnya.
Prestasi belajar siswa diharapkan dapat dipertahankan agar kegiatan
pembelajaran dapat mencapai hasil yang maksimal. Dan siswa dapat termotivasi
dalam pembelajaran yang dilakukan guru melalui metode examples non examples.
Peningkatan pembelajaran ini diharapkan dapat membawa dampak positif bagi
prestasi belajar siswa.

V. Simpulan dan Saran Tindak Lanjut


A. Simpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas adalah
bahwa melalui metode examples non examples dengan dukungan alat peraga yang
sesuai dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV
pada mata pelajaran IPA semester 1 tentang alat indera manusia di SDN Sidoharjo 1
Kecamatan Guntur Kabupaten Demak Tahun pelajaran 2015 / 2016. Hal ini dibuktikan
dengan jumlah siswa yang tuntas pada tahap pra siklus sebesar 10 siswa (40%), siklus
I sebesar 18 siswa (72%) dan terakhir pada siklus II sebesar 23 siswa (92%).
Dilihat dari hasil penelitian diatas yang dilaksanakan dari siklus ke siklus
menunjukkan peningkatan prestasi pembelajaran, maka peningkatan prestasi
pembelajaran ini diharapkan mampu dipertahankan dan sebagai perbaikan untuk
pembelajaran selanjutnya.
B. Saran
Saran tindak lanjut yang dapat peneliti berikan berdasarkan hasil penelitian
tindakan kelas melalui metode examples non examples pada mata pelajaran IPA
semester 1 tentang alat indera manusia di kelas IV SDN Sidoharjo 1 Kecamatan
Guntur Kabupaten Demak yaitu kepada :

a. Guru
Penerapan metode examples non examples dengan menggunakan alat
peraga berupa gambar pada mata pelajaran IPA yang digunakan oleh guru sangat
20

cocok karena dapat meningkatkan kemampuan guru dan memberikan ruang agar
guru lebih kreatif dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga
pembelajaran akan terus berkembang.
b. Siswa
Dengan penerapan metode examples non examples pada mata pelajaran IPA
yang disertai alat peraga berupa gambar siswa dapat mudah memahami materi
yang diberikan. Siswa termotivasi sehingga ikut terlibat dan antusias mengikuti
kegiatan pembelajaran.
c. Sekolah
Sekolah merupakan tempat belajar bagi siswa hendaknya memberikan
suasana yang menyenangkan bagi anak didik.

DAFTAR PUSTAKA

Setneg.2003.UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Jakarta : Cipta


Jaya.
Depdiknas.2003. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:-
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD Negeri Sidoharjo 1 Kecamatan Guntur Kabupaten
Demak.
Badan Standar Pendidikan Nasional Pendidikan. 2007. Peraturan Pendidikan Nasional
Republik Indonesia No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Jakarta : BNSP.
Slavin,(2009). Cooperative learning, Teori, Riset dan praktik. Bandung: Nusamedia.
Maryoto.(2012). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa melalui Penerapan Strategi Belajar
Kooperatif Tipe TPS dengan Alat Bantu Benda Konkret pada Pelajaran IPA kelas IV
SDN 3 Depok Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan. Salatiga: Universitas Satya
Wacana.
Wardhani, I G A K & Wihardit, K. (2010). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Nuryani Rustaman. 2010. Materi dan Pembelajaran IPA. Jakarta: Universitas Terbuka.
Joyce,Trianto. 2009. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Wahyono Budi dan Setya Nuracmandani. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam 4.Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
21