Anda di halaman 1dari 8

DISUSUN OLEH :

NAMA : VIIN THERESIA SIMARMATA (17160015)

INES THERESIA GULTOM (17160016)

SONDANG MAULINA SIMBOLON (17160029)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MEDAN

UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN

2020/2021
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teologi Pastoral adalah sebuah cabang ilmu teologis yang berfokus pada perspektif penggembalaan pada


semua kegiatan dan fungsi Gereja dan pendeta, kemudian menarik kesimpulan teologis dari pengamatan
yang dilakukan. Sejak zaman Reformasi Protestan, istilah "Pastoral" dipakai dalam dua pengertian.
Pertama, "Pastoral" sebagai kata sifat dari "Pastor". Karena Pastor melaksanakan penggembalaan, maka
istilah Pastoral dalam konteks ini berarti sama dengan penggembalaan itu sendiri. [Pemahaman yang
kedua adalah Pastoral sebagai studi tentang penggembalaan itu sendiri. Penggunaan istilah "Teologi
Pastoral" dalam Protestanisme baru muncul pada abad ke-18. Bahkan, Teologi Pastoral belum diakui
sebagai suatu disiplin ilmu baru muncul pada tahun 1830 melalui buku yang ditulis oleh Klaus
Harms di Jerman, sementara di Amerika sendiri baru muncul pada tahun 1847. Pada masa-masa awal ini,
Teologi Pastoral dimaknai sebagai upaya penerapan teologi ke dalam praktik. Huldrych Zwingli
Sebenarnya, ide-ide mengenai Teologi Pastoral sendiri sudah muncul sejak sebelumnya, sebagaimana
sebelumnya dihubungkan dengan istilah Seelsorge (penyembuhan dan pemeliharaan jiwa-jiwa) walaupun
sebenarnya keduanya tidak identik. Zwingli pernah menuliskan suatu risalah mengenai gembala yang
benar dan yang salah. Selain Zwingli, Martin Bucer juga menulis mengenai pelayanan terhadap jemaat
dalam protestanisme serta membaginya dalam lima kategori. Bahkan, Martin Luther sendiri membuat
banyak tulisan yang berhubungan dengan pemeliharaan jiwa (Seelsorge) tersebut.

B. Rumusan Masalah

1.Defenisi Teologi Pastoral menurut beberapa ahli beserta Sejarahnya

2.Mengapaa Pentingnya Teologi Pastoral ?

3.Siapa Sajakah Pelaku Teologi Pastoral itu?

4. Dasar Alkitab mengenai Teologi Pastoral

C. Tujuan Penelitian Pembahasan

-Untuk Mengarahkan dan Merencanakan Pembangunan Dan Pengembangan Hidup Gereja. Karenanya itu
terarah kepada kepentingan seluruh Gereja(pastor, umat, petugas pastoral) yang secara bersama sama
mewujudkan eksistensi gereja yang nyata di dunia.

-Tujuan Utamanya : agar Gereja sampai pada kesadaran akan hakikat dan misinya di dunia:Menghadirkan
kerajaan Allah.
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian

reidrich Schleiermacher mengorganisasi kembali studi teologi pada masanya menjadi tiga bagian besar,
yaitu Filsafat, Historis, dan Praktika sebagai bidang ilmi yang diakui di samping Teologi Sistematika dan
Teologi Historis di universitas-universitas Jerman.Teologi pastoral dalam sudut pandang Schleiermacher
termasuk ke dalam lingkup teologi praktika. Dalam salah satu karyanya, Schleiermacher mengatakan
bahwa teologi tanpa pelayanan terhadap jemaat akan kehilangan karakter teologisnya, dan oleh karena itu,
teologi secara keseluruhan bersifat pastoral. Pelayanan pastoral juga tidak terbatas pada jemaat suatu
gereja saja, tetapi juga kepada individu-individu yang belum menjadi anggota jemaat. Bagi
Schleiermacher, fokus teologi pastoral adalah memperhatikan kesejahteraan orang-orang dan juga
penataan gereja.
Seward Hiltner berpendapat bahwa Teologi Pastoral dihasilkan dari penyelidikan dari sudut pandang
penggembalaan. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa Teologi Pastoral adalah sebuah cabang ilmu teologi
dan memiliki kedudukan yang sama seperti cabang-cabang ilmu teologi lainnya, seperti Teologi
Biblika dan Dogmatika. Teologi Pastoral juga tidak berpusat pada logika, melainkan pada aktivitas yang
dilakukannya. Selain itu, Teologi Pastoral memiliki prinsip-prinsip yang disusun atas dasar
penggembalaan. Karena sifatnya sebagai suatu disiplin ilmu, Teologi Pastoral juga memiliki patokan-
patokan serta metode-metode dalam pelaksanaannya.
Selain hal-hal di atas, Hiltner juga menekankan beberapa poin berikut:

 Teologi Pastoral bukan hanya sekadar praktik.


 Teologi Pastoral bukan merupakan sebuah teori yang diterapkan.
 Teologi Pastoral bukanlah teori dari segala fungsi dan kegiatan pastor serta gereja.
 Teologi Pastoral berbeda dengan Psikologi Pastoral ataupun Sosiologi Pastoral.
 Teologi Pastoral bukanlah penghubung antara bidang studi teologi dan kegiatan serta fungsi
gereja dan pendeta.
Hiltner berpendapat bahwa mereka yang dapat terlibat dalam penggembalaan tidak hanya terbatas pada
jabatan pendeta saja, tetapi juga jemaat. Walaupun demikian, pendeta tetap memiliki kewajiban yang
lebih besar dibandingkan dengan jemaat.
Pandangan Tjaard G. Hommes tidak jauh berbeda dengan Hiltner yang menyatakan bahwa teologi
pastoral dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan teologis dan disimpulkan dengan jawaban-jawaban
teologis juga. Selain itu, Hommes juga menyatakan bahwa teologi pastoral dapat dipahami sebagai
sebuah sarana untuk memberitakan firman dan kehadiran Allah di dunia sebagaimana teologi pastoral
tersebut dilakukan dalam pelayanan-pelayanan terhadap jemaat. Perhatian utama dari teologi pastoral
adalah melihat, merefleksikan, memahami, dan menunjuk pada Allah dan tindakan-tindakan Allah dalam
dunia ini.
Menurut Hommes, teologi pastoral melayani pelayanan gereja dengan hasil studinya atas tindakan,
strategi, prioritas, program, fungsi, serta pemahaman dari pelayanan tersebut. Selain itu, teologi pastoral
juga menyediakan pedoman dan perspektif bagi tindakan pada masa depan serta memberikan pedoman
untuk mengevaluasi tindakan-tindakan tersebut.] Oleh karena itu, teologi pastoral tidak dapat terlepas dari
pelayanan pastoral.
Anton Boisen adalah seorang pendiri gerakan pendidikan pastoral klinis di Amerika dan memiliki
pengaruh penting bagi pemikiran Seward Hiltner pada masa mendatang. Dari pengalamannya sendiri
sebagai seorang pasien sakit jiwa, Boisen merasa bahwa bentuk penyakit jiwa lebih banyak berupa
masalah-masalah religius dibandingkan masalah medis. Masalah ini juga tidak dapat disembuhkan bila
belum dipahami dengan baik. Menurutnya, teologi seharusnya memiliki nilai pastoral dan terapis bagi
pasien yang mencari pemahaman dan makna dari pengalamannya. Oleh karena itu, teologi yang berguna
secara pastoral seharusnya tidak hanya mempelajari teks-teks tertulis namun juga pengalaman hidup dari
orang-orang yang bergumul dengan masalah-masalah religious. Untuk dapat memenuhi kebutuhan
tersebut, teologi pastoral tidak dapat dipahami melalui studi teks saja, tetapi juga dengan studi klinis
terhadap kisah hidup seseorang. Metode studi yang ia tawarkan untuk teologi pastoral klinis adalah
dengan metode studi kasus agar penyelidik dapat mempelajari kisah hidup seseorang, tetapi juga
melibatkan pencarian teologis dari sisi penyelidik..
Eduard Thurneysen adalah seorang teolog yang memiliki konsep dialektik Karl Barth. Dalam
pandangan ini, ia berpandangan bahwa Allah berada sangat jauh dengan manusia, dan satu-satunya cara
untuk menjembatani ini adalah dengan pewartaan Injil. Oleh karena itu, teologi pastoral menurut
Thurneysen adalah pewartaan Injil secara pribad.
Teologi Pastoral merupakan cabang resmi teologi, yang merupakan hasil studi penggembalaan Kristen,
yang sama pentingnya dengan teologi Biblika, teologi Dogmatika, dan Teologi sejarah. Teologi Pastoral
tidak hanya diperhatikan oleh para ahli, tetapi juga oleh pendeta jemaat.Sejak zaman Reformasi istilah
“Pasoral” telah dipakai dalam dua pengertian. Yaitu “Gemabala” dan “Pastoral” yang dipakai sebagai
kata sifat dari kata benda ‘pastor’ muncul Penggembalaan logisnya imperialisme pengembalaan atas
segala hal yang terjangkau sebaliknya,lunturnya pengertian kias yang asli penggembalaan yaitu sebagai
penyelenggaraan pemeliharaan yang lembut dan tertib. Dipakai dalam pengertian yang kedua, yang
menekankan dampak dari kas yang asli.Secara harafiah dinyatakan bahwa kedua pandangan itu
keliru.Semua yang dilakukan oleh “Pastor” adalah Penggembalaan.Tetapi penggembalaan bukan dibuka
hanya padaketika dan tertentu.Pandangan memberikan kesaksian kepada suatu aspek kebenaran yang
penting yang normatif dari Penggembalaan bisa belajar dari pandangan ini. Yang diperlukan bukan hanya
penggabungan karena kedua pandangan ini merupakan secara eksklusif satu sama lainnya. Kebenaran
dari pandangan yang pertama, dimana penggembalaan dilihat sebagai apapunyang dilakukan oleh orang
yang dikenal sebagai gembala, terikat dengan sikapnya.Kebenaran pandangan kedua, dimana
Penggembalaan dihubungkan dengan salah satu kejadian yang berlawanan dengan lainnya adalah
struktural dan kategorial. Jadi Penggembalaan, walaupun biasdilibatkan dalam setiap kejadian sebagai
suatu sikap atau kesediaan, tidak selalu dominan dalam setiap kejadian nyata. Pada prinsipnya
Penggembalaan bisa jadi satu kategori di antara lain-lainnya atau salah satu aspek dalam sebuah sususan
yang menetapkan beberapa tujuan yang sah. Tugas untuk mendefenisikan, pertama-tama penggembalaan
kemudian Teologi Pastoral dapat

dilaksanakan pada tingkat yang relatif tidak rumit, seolah-olah dimensi-dimensi tugasnya
secara intelektual hanya sederhana saja, dan tidak lagi yang diperlukan kecuali bahan ilustrasi yang hidup.
Studi penggembalaan menuntut perhatian kepada kejadian-kejadian nyata yang

melibatkan penggembalaan, sehingga harus ada baik dimensi empiris maupun dimensi

konteporer untuk penelitian. Dan karena perhatian menembus kegiatan penggembalaankepada Teologi
Pastoral, dengan demikian kita harus memberikan perhatian kepada isi dan metode dari tiap-tiap cabang
teologi Kristen yang sah. Dalam beberapa pengertian, penyelidikan kita harus bersifat teoritis, karena kita
mencari prinsip-prinsip umum dan holistic yang patut bagi “Teologi Pastoral”.penggembalaan menduduki
suatu tempat yang sangat unik dalam Kekristenan. Dengandemikian tidak ada agama lain yang seperti
ajaran Kristus yang menyerap semua gagasan.
Sejarah
Penggunaan istilah "Teologi Pastoral" dalam Protestanisme baru muncul pada abad ke-
18. Bahkan, Teologi Pastoral belum diakui sebagai suatu disiplin ilmu baru muncul pada tahun 1830
melalui buku yang ditulis oleh Klaus Harms di Jerman, sementara di Amerika sendiri baru muncul pada
tahun 1847. Pada masa-masa awal ini, Teologi Pastoral dimaknai sebagai upaya penerapan teologi ke
dalam praktik.
Sebenarnya, ide-ide mengenai Teologi Pastoral sendiri sudah muncul sejak sebelumnya, sebagaimana
sebelumnya dihubungkan dengan istilah Seelsorge (penyembuhan dan pemeliharaan jiwa-jiwa) walaupun
sebenarnya keduanya tidak identik. Zwingli pernah menuliskan suatu risalah mengenai gembala yang
benar dan yang salah. Selain Zwingli, Martin Bucer juga menulis mengenai pelayanan terhadap jemaat
dalam protestanisme serta membaginya dalam lima kategori. Bahkan, Martin Luther sendiri membuat
banyak tulisan yang berhubungan dengan pemeliharaan jiwa (Seelsorge) tersebut.
Pada abad ke-17, Richard Baxter menulis sebuah buku untuk para pendeta dengan judul "The Reformed
Pastor" yang menganjurkan sistem pelayanan ke rumah-rumah jemaat. Dalam buku ini, ia mengkritisi
perasaan tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang pendeta kepada jemaatnya. Ia menuntut adanya
persiapan yang serius dari para pendeta sebelum melakukan pelayanan penggembalaan. Walaupun
demikian, ia tidak memandang penting teori dan berpendapat bahwa kemampuan praktis untuk melihat
bermacam-macam kebutuhan lebih penting.
Mendekati awal abad ke-19, buku-buku mengenai petunjuk praktis untuk pendeta mulai bermunculan dan
menekankan hal-hal seperti kebijaksanaan, pengetahuan, kesalehan, doa, dan penyangkalan diri dalam
diri pendeta. Selain itu, seorang pendeta juga dituntut untuk sering mengunjungi jemaatnya. Studi Teologi
Pastoral secara khusus baru dimulai di Jerman pada abad ke-19, tetapi baru disusun secara sistematis
oleh Inggris dan Amerika sekitar tahun 1873 dengan mengembangkan Teologi Praktika, sebuah bagian
studi Teologi yang dipandang Friedrich Schleiermacher sebagai bidang studi yang lebih luas
dibandingkan Teologi Pastoral. Di awal abad 19 ini juga mulai muncul berbagai pandangan mengenai
cakupan Teologi Pastoral, misalnya W.G.T. Shedd yang memandang Teologi Pastoral sebagai studi atas
perkunjungan, pengajaran, kehidupan pribadi, doa, dan akal budi dari pendeta dan Van Oosterzee yang
memandang Teologi Pastoral sebagai studi Poimenika, yaitu sebagai teori pelayanan pastoral.
Di Amerika Serikat, hasil karya Teologi Pastoral sistematis pertama kali dibuat oleh Enoch
Pond dari Bangor Theological Seminary. Gregory Thurson Bedell,
seorang Uskup dari Ohio dan Washington Gladden pertama kali memperkenalkan mengenai sistem
pembagian kerja secara kelompok (group work) dalam tulisannya yang berjudul "Gereja yang melayani".
B. Pentingnya Teologi Pastoral
Berikut ini beberapa alasan mengapa Teologi Pastoral sangat diperlukan.  Pertama sifat Teologi
Pastoral yang sangat khas dan luasnya kebutuhan terhadap Teologi Pastoral. Kekhasan Teologi Pastoral
muncul dari pengertian Teologi Pastoral itu sendiri.  Sedangkan luasnya lingkup Teologi Pastoral dapat
dilihat dari kebutuhan manusia untuk mencari arti hidup, yang pemenuhannya membuka peluang bagi
diterapkannya Teologi Pastoral. Di sisi lain pelaku Teologi Pastoral sendiri mengalami banyak krisis yang
semakin menambah kebutuhan terhadap Teologi Pastoral dan pelakunya.
Kedua, munculnya banyak disiplin ilmu, alat-alat dan profesi baru yang dapat digunakan untuk
pemeliharaan dan pertumbuhan.  Ini berarti tindakan penggembalaan tidak hanya dapat dikerjakan oleh
pendeta saja, tetapi juga oleh mereka yang memiliki, menguasai dan menjalankan disiplin ilmu, alat-alat
dan profesi baru tersebut.  Akibatnya Teologia Pastoral akan kehilangan sisi praktisnya. Atas dasar inilah
diperlukan penegasan tentang batasan-batasan, tugas-tugas dan perbedaan Teologi Pastoral dengan hal-
hal baru tersebut.
Alasan ketiga, tanpa studi terhadap Teologi Pastoral, pemahaman tentang iman tidak akan
terterangi. Pengetahuan tentang Allah yang diperoleh dari tindakan-Nya dalam sejarah, menuntut adanya
aktivitas pembelajaran yang serius.  Perbedaan budaya dan waktu membuat proses pemahaman terhadap
tindakan-Allah menjadi sulit.  Jika kesulitan ini tidak teratasi, maka iman mungkin akan memiliki dasar
yang kurang kuat.  Inilah sebabnya studi terhadap Teologi Pastoral sangat diperlukan.
Keempat, studi terhadap Teologi Pastoral penting karena suasana psikologis akhir-akhir
ini. Psikologi, sebenarnya, dapat digunakan untuk mendukung Teologi Pastoral, yaitu ketika Psikologi
dengan sudut pandang yang tepat menganalisa keadaan dan kecenderunga manusia.  Namun ketika
Psikologi tidak mempunyai sudut pandang yang sama dengan Teologi Pastoral maka akan terjadi
masalah; seperti yang dikatakan oleh Hiltner:
Nampaknya ada semakin banyak pikiran psikologis populer yang benar-benar berkaitan denagn
pertanyaan-pertanyaan teologis tetapi karena gagal memahami konteks teologis dengan baik maka
mengaburkan teologi dan menimbulkan keretakan….

            Ke lima, studi terhadap Teologia Pastoral penting karena berkaitan erat engan kebangkitan teologi
secara umum. Teologi Pastoral, sebagai salah satu cabang dari Teologi Kristen, juga harus berkembang
seperti cabang-cabang yang lain.  Selain itu, belum terdapat keseragaman pendapat tentang bagaimana
memikirkan, mempelajari dan mengorganisir Teologi Pastoral. Inilah alasan mengapa Teologi Pastoral
untuk dipelajari.

C. Pelaku Teologi Pastoral

Hiltner mengatakan bahwa baik pendeta maupun kaum awam adalah pelaku Teologi Pastoral.
Seorang pendeta, ketika berada di tengah-tengah masyarakat, dia menjalankan fungsi penggembalaan
melalui hidupnya yang suci, Seorang pendeta tidak dapat melepaskan fungsi tersebut dengan mengatakan
bahwa jika dia berada di tengah masyarakat dan bukan di tengah jemaat, maka dia bukan pendeta.  Justru
ketika ada di tengah-tengah masyarakat, seorang pendeta berkewajiban untuk mewujudnyatakan ajaran
yang sudah dikatakan di tengah jemaat.
Dalam arti ini, kaum awam juga dapat mengerjakan fungsi penggembalaan, yaitu dengan
menjalankan hidup yang baik.  Dengan menjalankan hidup dan mengerjakan pekerjaan dengan baik,
seorang kaum awam telah berfungsi sebagai seorang pelaku Teologi Pastoral.  Lebih dari itu, kaum awam
yang mempunyai disiplin ilum yang berkaitan dengan Teologi Pastoral, mungkin dapat menjadi pelaku
Teologi Pastoral yang lebih efektif karena tidak dibebani dengan status yang diterima oleh pendeta
setelah petahbisan.

D. Dasar Alkitab Mengenai Teologi Pastoral

Perjanjian Lama memberikan dengan jelas metode bimbingan dan penggembalaan yang dikerjakan
oleh Allah sendiri.  Pada zaman anteduvilan atau purba, Allah membimbing keluarga Adam untuk tetap
berhubungan dengan-Nya, bahkan setelah Adam jatuh dalam dosa dengan cara menumbuhkan kebiasaan
membangun mezbah (Kej. 4:3-4).  Meskipun demikian Allah tetap menunjukkan keadilan-Nya dengan
cara tetap menghukum dosa mereka.  Pada para patriakh, Allah menunjukkan penggembalaan-Nya
dengan cara memberikan janji kepada mereka dan membimbing mereka bagaimana hidup dalam janji
tersebut, sampai Dia menggenapi janji-Nya.
            Dalam Perjanjian baru, dasar-dasar penggembalaan dijelaskan dengan sangat menarik.  Matius
mengambil ajaran-ajaran Yesus, dan menggunakannya untuk memecahkan masalah-masalah jemaat.
Sedangkan Markus lebih menekankan sikap meneladani Kristus dalam penderitaannya sebagai perspektif
kunci dalam penggembalaan. Paulus, dengan menulis surat kepada gereja-gereja, menunjukkan
keprihatinan pastoralnya. Pada saat yang sama, Paulus menjelaskan tujuan pelayanannya, yaitu untuk
memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus (Kol. 1:28). Akhirnya melalui berbagai
cara, Allah mengilhami penulis Alkitab untuk menulis dan berkata, memimpin mereka untuk bertindak
sesuai dengan kehendak-Nya, sehingga semuanya itu dapat dijadikan pedoman bagi generasi-generasi
berikutnya.

BAB III
PENUTUP

Teologi Pastoral merupakan cabang resmi teologi, yang merupakan hasil studi penggembalaan Kristen,
yang sama pentingnya dengan teologi Biblika, teologi Dogmatika, dan Teologi sejarah. Teologi Pastoral
tidak hanya diperhatikan oleh para ahli, tetapi juga oleh pendeta jemaat.Sejak zaman Reformasi istilah
“Pasoral” telah dipakai dalam dua pengertian. Yaitu “Gemabala” dan “Pastoral” yang dipakai sebagai
kata sifat dari kata benda ‘pastor’ muncul Penggembalaan logisnya imperialisme pengembalaan atas
segala hal yang terjangkau sebaliknya,lunturnya pengertian kias yang asli penggembalaan yaitu sebagai
penyelenggaraan pemeliharaan yang lembut dan tertib. Dipakai dalam pengertian yang kedua, yang
menekankan dampak dari kas yang asli.Secara harafiah dinyatakan bahwa kedua pandangan itu
keliru.Semua yang dilakukan oleh “Pastor” adalah Penggembalaan.Tetapi penggembalaan bukan dibuka
hanya padaketika dan tertentu.Pandangan memberikan kesaksian kepada suatu aspek kebenaran yang
penting yang normatif dari Penggembalaan bisa belajar dari pandangan ini. Yang diperlukan bukan hanya
penggabungan karena kedua pandangan ini merupakan secara eksklusif satu sama lainnya. Kebenaran
dari pandangan yang pertama, dimana penggembalaan dilihat sebagai apapunyang dilakukan oleh orang
yang dikenal sebagai gembala, terikat dengan sikapnya.Kebenaran pandangan kedua, dimana
Penggembalaan dihubungkan dengan salah satu kejadian yang berlawanan dengan lainnya adalah
struktural dan kategorial. Jadi Penggembalaan, walaupun biasdilibatkan dalam setiap kejadian sebagai
suatu sikap atau kesediaan, tidak selalu dominan dalam setiap kejadian nyata. Pada prinsipnya
Penggembalaan bisa jadi satu kategori di antara lain-lainnya atau salah satu aspek dalam sebuah sususan
yang menetapkan beberapa tujuan yang sah. Tugas untuk mendefenisikan, pertama-tama penggembalaan
kemudian Teologi Pastoral dapat dilaksanakan pada tingkat yang relatif tidak rumit, seolah-olah dimensi-
dimensi tugasnya secara intelektual hanya sederhana saja, dan tidak lagi yang diperlukan kecuali bahan
ilustrasi yang hidup. Studi penggembalaan menuntut perhatian kepada kejadian-kejadian nyata yang
melibatkan penggembalaan, sehingga harus ada baik dimensi empiris maupun dimensi konteporer untuk
penelitian. Dan karena perhatian menembus kegiatan penggembalaankepada Teologi Pastoral, dengan
demikian kita harus memberikan perhatian kepada isi dan metode dari tiap-tiap cabang teologi Kristen
yang sah. Dalam beberapa pengertian, penyelidikan kita harus bersifat teoritis, karena kita mencari
prinsip-prinsip umum dan holistic yang patut bagi “Teologi Pastoral”.penggembalaan menduduki suatu
tempat yang sangat unik dalam Kekristenan. Dengan demikian tidak ada agama lain yang seperti ajaran
Kristus yang menyerap semua gagasan.
BAB IV
KEPUSTAKAAN

http://hukompattinasarany.blogspot.com/2017/04/pengantar-untuk-teologi-patoral.html?m=1
https://id.wikipedia.org/wiki/Teologi_pastoral
http://hukompattinasarany.blogspot.com/2017/04/pengantar-untuk-teologi-patoral.html?m=1

Anda mungkin juga menyukai