Anda di halaman 1dari 9

PROCEEDING SIMPOSIUM NASIONAL IATMI 2001

Yogyakarta, 3-5 Oktober 2001

KINERJA EXPANDING ADDITIVE BARU UNTUK MENINGKATKAN


SHEAR BOND STRENGTH (Sb) SEMEN PADA KONDISI HTHP
Ir. Nur Suhascaryo, MT. 1, Ir. Eddy Wibowo 2, Ir. Budi Suroyo 3
1
TM-UPNV -Yogya
2
Vico Indonesia Balikpapan
3
Lemigas Jakarta

Key Words : Expanding Additive, Burnt and Shearbond Strength

ABSTRACT

The quality of well cement is very important in maximizing the rate of production from oil, gas and geothermal wells, caused need
to enhance physical properties of cement characteristics. In this case are shear bond strength and compressive strength value. The
expanding characteristics of cement while setting affected on good bonding between cement with casing and between cement with rock
formation to make effective zone isolation on annulus casing –formation. Hence the additive should be added in order to improve the
characteristics of cement.
What will be studied here is raising behavior of expanding cement characteristics used pure burnt MgO and CaO materials are
adding on cement samples API class G from one local manufactory and 35% BWOC silica flour in high temperature (100 – 150 oC)
and high pressure (2000 psi) condition such as curing variables. It has been proved that addition could raise the value of shear bond
strength cement without decreasing the compressive strength to a minimum API value. The comparation of this experiment have the best
composition of pure burnt MgO at 1400oC added on cement composition 5-10% @ 150oC, Sb ranges 1056-1447 psi and Cs ranges
1443-1551 psi.

1. PENDAHULUAN minyak, gas dan panas bumi dalam dunia industri


perminyakan.
Telah banyak upaya yang telah dilakukan untuk dapat
memperbaiki sistem penyekatan dari suspensi semen. Solusi penyemenan dengan melakukan usaha perbaikan sistem
Diantaranya dengan pemakaian semen mengembang dengan penyekatannya melalui peningkatan nilai shear bond strength
penambahan zat additive tertentu guna memperbaiki nilai shear semen, telah dilakukan beberapa peneliti terdahulu. Fokus
bond strength suspensi semen yang telah mengeras. Namun utama adalah pengembangan expanding additive baru, sebagai
demikian, usaha peningkatan nilai shear bond strength ternyata kelanjutan dari hasil penelitian sebelumnya yaitu Rudi
di sisi lain akan menyebabkan penurunan nilai compressive Rubiandini R.S., dan Thomas Dooley.
strength semen tersebut.
2. SISTEM SEMEN MENGEMBANG
Berdasarkan latar belakang di atas maka diidentifikasi
masalah, seperti : perlunya komposisi semen yang tepat dalam Penyemenan adalah suatu proses pendorongan sejumlah
menghadapi beberapa kondisi khususnya penyemenan, sampai suspensi semen ke dalam casing, kemudian melalui bagian
seberapa jauh proses penyemenan dapat disempurnakan bawah sepatu casing mengalir naikke annulus antara casing
memanfaatkan perbaikan penyekatan suspensinya pada sistem dan formasi. Kemudian suspensi semen ini akan mengeras
semen mengembang dan adakah zat additive lain yang dapat sehingga mengikat antara casing dengan formasi (dinding
diterapkan dalam usaha memperbaiki sistem penyekatan lubang bor) atau casing dengan casing.
semen, dengan menaikan shear bond strength tanpa
menurunkan nilai compressive strength-nya sampai melewati Tujuan utama dari operasi penyemenan adalah sebagai
batas yang perlu dikhawatirkan. pengisolasi zona-zona pada sumur pemboran untuk mencegah
masuknya atau merembesnya fluida formasi yang tidak
Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas diinginkan ke dalam sumur pemboran sekaligus sebagai
penyekatan semen yang baik dengan suspensi semen yang material penyekat antara casing dan formasi. Kegagalan dalam
tepat dengan pemakaian expanding additive atau dengan kata operasi penyemenan akan menimbulkan banyak permasalahan,
lain mencari komposisi suspensi semen yang tepat melalui antara lain : menyebabkan kerusakan pada formasi produktif,
pemakaian expanding cement dengan melakukan penambahan kehilangan sirkulasi lumpur, kecilnya laju produksi,
zat additive yang dapat menaikkan shear bond strength tanpa ketidaksempurnaan dalam melakukan stimulasi dan lain-lain.
menurunkan harga compressive strength-nya sampai melewati
batas yang perlu dikhawatirkan. Dilakukannya suatu operasi penyemenan pada sumur-sumur
minyak, gas dan panas bumi, secara umum bertujuan :
Diharapkan setelah dilakukan penelitian ini, dapat dihasilkan 1. Melekatkan casing dengan dinding formasi, agar casing
suatu komposisi semen alternatif berbasis sistem semen kuat dan kokoh sehingga dapat berfungsi dengan
mengembang, serta pengaruh penambahan zat additive sempurna.
berbasis oksida dalam hal ini MgO dan CaO murni bakar 2. Melindungi casing dari pengaruh kondisi lingkungan
terhadap sistem penyekatan semen pada tekanan dan sekitarnya yang dapat merusak, seperti temperatur dan
temperatur tinggi. Sehingga pada akhirnya, hal ini menjadi tekanan tinggi, korosifitas fluida formasi.
solusi alternatif menghadapi proses penyemenan sumur 3. Menutup zona lost sirkulasi, zona blowout serta zona-
zona berbahaya lainnya.

IATMI 2001-18
Kinerja Expanding Additive Baru untuk Meningkatkan Shear Bond Strength (Sb) Semen Nur Suhascaryo, Eddy Wibowo, Suroyo
Pada Kondisi HTHP

4. Mengisolasi zona-zona dibelakang casing, sehingga tidak penambah lainnya. Pada konsentrasi normal, material-material
terjadi komunikasi antar zona. ini tidak begitu mempengaruhi sifat set semen, tapi
5. Mencegah penyusupan gas atau fluida formasi mempengaruhi laju hidrasi, ketahan terhadap serangan sulfat
bertekanan tinggi ke ruang antar casing dan formasi dan sifat bubur semen.
yang dapat mengakibatkan permasalahan yang berbahaya
di permukaan. Struktur butiran klinker bervariasi mengikuti material
6. Memperbaiki casing yang pecah dan menutupi zona yang mentahnya, ukuran butirannya dan pemanggangannya dan
tidak diperlukan. pendinginannya. Variabel-variabel tadi mempengaruhi proses
7. Memperbaiki kesalahan letak perforasi. kristalisasi, berbagai hasil akhir dan porositas dari butiran
8. Dan lain-lain. klinker itu sendiri. Secara umum, C3S (alite), sebagai
komponen mayoritas mengkristal sebagai partikel butiran. C2S
2.1. Komponen Dasar Semen (balite) mengkristal kecil-kecil, lebih bundar yang mana
tersebar di sekitar butiran C3S. C4AF membentuk fasa kontinu
Pada operasi penyemenan sumur pemboran minyak, gas dan di antara struktur butiran klinker.
panas bumi suspensi semen yang digunakan terdiri dari
komponen dasar dan komponen tambahan. Komponen Distrubusi permukaan dari komposisi yang berbeda penting
dasarnya adalah semen portland, dikembangkan oleh Joseph dalam menentukan sifat semen. Kelas semen tertentu dengan
Aspdin (1824), dimana semen portland ini termasuk semen spesifikasi yang sama dapat mempunyai kekuatan yang
hidrolis dalam arti akan mengeras bila bercampur dengan air. berbeda. Ini biasanya disebabkan perbedaan proses kristalisasi.

Sedangkan komponen tambahannya merupakan macam- 2.2. Komponen Tambahan Semen


macam additive yang dapat menjadikan semen memiliki
kinerja khusus yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun Komponen tambahan semen merupakan macam-macam
komponen dasar semen yang mampu menghidrat dan additive yang digunakan dalam operasi penyemenan untuk
membentuk struktur yang keras dan kuat adalah : memperoleh sifat khusus atau kinerja yang dibutuhkan.
1. Triclacium silicate (3CaO.SiO2 atau C3S) Additive yang umum digunakan untuk bahan campuran pada
yang dihasilkan dari kombinasi CaO dan SiO 2. suspensi semen/slurry antara lain :
Komponen ini merupakan yang terbanyak dalam semen • Retarder, digunakan untuk memperpanjang thickening
portland, 40 – 45 % untuk semen yang lambat proses time.
pengerasannya dan sekitar 60 – 65 % untuk semen yang • Akselerator, digunakan untuk memperpendek thickening
cepat proses pengerasannya (high-early strength cement). time.
Komponen C3S pada semen memberikan strength yang • Weighting Agent, digunakan untuk menambah densitas
terbesar pada awal maupun akhir pengerasan, terutama suspensi semen.
awal pengerasan. • Ekstender, digunakan untuk mengurangi densitas
2. Dicalcium silicate (2CaO.SiO2 atau C2S) suspensi semen.
yang juga dihasilkan dari kombinasi CaO dan SiO 2. • Dispersant, digunakan untuk menurunkan viskositas
Komponen ini sangat penting dalam memberikan final suspensi semen.
strength semen karena C2S ini menghidrasinya lambat • Fluid Loss Control Agent, digunakan untuk mengurangi
maka tidak berpengaruh dalam setting time semen, akan filtrat (air bebas).
tetapi sangat menentukan dalam kekuatan semen lanjut.
• Lost Circulation Control Agent, digunakan untuk
Kadar C2S dalam semen tidak lebih dari 20 %.
mengurangi kehilangan suspensi semen ke formasi.
3. Tricalcium aluminate (3CaO.Al2O3 atau C3A)
• Special Additive, digunakan untuk keperluan khusus
yang terbentuk dari reaksi antara CaO dan Al2O3.
dalam menanggulangi kasus tertentu.
Walaupun kadarnya lebih kecil dari komponen silikat,
sekitar 15 % untuk high-early strength cement dan
Didalam penggunaan bahan additive tersebut pada suspensi
sekitar 3 % untuk semen yang tahan terhadap sulfat
semen akan memberikan efek sampingan yang terjadi pada
karena hasil hidrasi C3A mudah diserang sulfat, namun
parameter-parameter lainnya, walaupun memberikan sifat
berpengaruh terhadap rheologi suspensi semen dan
tertentu yang diinginkan dari additive tersebut, sehingga perlu
membantu proses pengerasan awal pada semen tapi tidak
dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui interaksi yang
menyumbang kekuatan akhir semen.
terjadi.
4. Tetra calcium aluminoferite (4CaO.Al2O3.Fe 2O3 atau
C4AF)
2.3. Semen Mengembang (Expanding Cement)
yang terbentuk dari reaksi CaO, Al2O3 dan Fe 2O3.
Komponen ini hanya sedikit pengaruhnya terhadap
Selama bertahun-tahun industri kontruksi berusaha keras
strength semen. API menjelaskan bahwa bila kadar C4AF
menghadapi masalah penyusutan pada semen yang telah
ditambah dengan dua kali kadar C3A tidak boleh lebih
mengering. Semen mengalami penyusutan volume setelah
dari 24 % untuk semen yang tahan terhadap kandungan
mengering melewati waktu setting-nya. Penurunan ini akan
sulfat tinggi. Penambahan oksida besi yang berlebihan
menyebabkan rekahan pada semen saat terjadinya
akan menaikkan kadar C4AF dan menurunkan kadar
pengembangan tensile strength. Semen mengembang dibuat
C3A, dan berfungsi menurunkan panas hasil
untuk menghadapi masalah penyusutan volume dengan
reaksi/hidrasi C3S dan C2S.
membuat semen mengembang selama periode kritik ini.
Selain ke-4 dasar komponen yang ditemukan dalam klinker,
Secara kimia, semen mengembang hampir sama dengan semen
semen portland dalam bentuk akhirnya dapat mengandung
portland biasa, kecuali adanya kandungan material anhydrous
gypsum, alkali sulfat, magnesium, lime bebas dan zat

IATMI 2001-18
Kinerja Expanding Additive Baru untuk Meningkatkan Shear Bond Strength (Sb) Semen Nur Suhascaryo, Eddy Wibowo, Suroyo
Pada Kondisi HTHP

kalsium sulfoaluminat (4CaO.3Al2O3.SO 3). Sehingga juga tidak termasuk dalam pilihan expanding additive, karena
keuntungan dari adanya semen mengembang akan sama sekali tidak bisa diatur dan tidak dapat dipersiapkan.
menghasilkan ikatan yang lebih baik antara casing dengan Sedangkan pengembangan pada saat semen sedang mengeras
semen dan semen dengan formasi. yang diakibatkan pengembangan kristal-kristal asing yang
terbentuk, sehingga dapat memberikan pengembangan matriks
Ikatan yang baik antara semen dengan pipa dan antara semen dan meningkatkan shear bond strength.
dengan formasi sangat penting untuk penyekatan zona yang
efektif. Ikatan yang buruk akan membatasi kinerja produksi Yang dimaksud dengan expanding additive dalam penelitian
yang diinginkan, dan menurunkan tingkat keefektifan pada ini adalah additive yang dapat mengakibatkan proses
perlakuan stimulasi. Hubungan antara zona dapat diakibatkan pengembangan matriks semen akibat adanya pengembangan
oleh tidak cukupnya lumpur yang dipindahkan, penyemenan kristal asing yang dikandungnya, seperti di atas. Hal ini
yang buruk akibat mud cake yang tebal, ekspansi dan kontraksi disebabkan pada kondisi seperti di atas, reaksi pengembangan
dari casing sebagai akibat dari adanya tekanan dalam atau dapat diatur dengan cara memilih bahan, mengatur temperatur
thermal stress, dan adanya kontaminasi semen dari fluida bakar, dan tingkat kehalusan material yang digunakan.
pemboran atau formasi (Parker and Wahl, 1966; Beirute and Pengaturan saat pengembangan dumulai sangatlah penting
Tragresser, 1973). Dalam kondisi seperti ini, akan terjadi untuk diperhatikan, karena sangat menentukan keberhasilan
mikroannulus pada ikatan semen dengan casing maupun semen peningkatan shear bond strength.
dengan permukaan formasi.
Bila pengembangan matriks semen terjadi pada saat suspensi
Sistem semen yang dapat mengembang setelah waktu setting semen mulai mengeras, maka kemungkinan diperoleh
disimpulkan dapat mengurangi munculnya mikroannulus dan pengembangan matriks yang nyata, bila memenuhi beberapa
meningkatkan hasil penyemenan primer. Peningkatan syarat sebagai berikut :
penyekatan dihasilkan dari adanya ketahanan mekanik atau • Peningkatan tekanan kristal asing tidak terlalu besar atau
pengetatan semen terhadap pipa dan formasi. Ikatan yang baik tidak lebih besar dari kekuatan matriks itu sendiri,
dapat diperoleh bahkan pada saat lumpur masih berada di supaya tidak terjadi retakan-retakan.
casing atau permukaan formasi. • Tegangan yang dihasilkan dari kumpulan tekanan kristal
asing tersebut tersebar ke segala arah, tidak hanya pada
Sistem semen mengembang kebanyakan bergantung pada satu arah tertentu.
pembentukan mineral ettringite (3CaO.Al2O3.3CaSO 4.32H 2O). • Proses pengerasan semen belum selesai atau masih bisa
Kristal ettringite memiliki volume bulk yang lebih besar membuat ikatan antar butir, sehingga memungkinkan
daripada volume bulk bahan-bahan asalnya, berarti pengikatan kembali antar butir semen dalam matriks, bila
pengembangan terjadi karena tekanan dalam yang mendesak ada ikatan yang terlepas oleh dorongan tekanan kristal
pada saat kristalisasi. Semen yang dicampur air membentuk asing tersebut.
bubur akan mengembang setelah mengental yaitu pada saat
akan mengeras. Reaksi pengembangan yang terjadi ini Bila pengembangan terjadi terlalu cepat, shear bond strength
biasanya hilang setelah 4 minggu. yang meningkat tidak akan terjadi. Sebaliknya bila terlalu
lambat dibandingkan dengan kecepatan pengerasan semen
Kelemahan dari semen mengembang dengan dasar mineral akan memungkinkan terjadinya retakan-retakan.
ettringite ialah tidak mampu bertahan pada temperatur tinggi
diatas 76 oC (170 oF) (Bour dkk., 1988). Ettringite tidak stabil Dalam kasus suspensi semen mengisi lubang annulus sumur
pada suhu tinggi, cenderung untuk berubah menjadi kalsium pemboran yang volumenya terbatas, maka tekanan-tekanan
sulfoaluminat terhidrat dan gypsum yang lebih padat (Lea, hasil pengembangan matriks berubah menjadi peningkatan
1970). shear bond strength antara semen dengan casing dan semen
dengan dinding lubang. Akibat lain adalah mengecilnya pori-
2.4. Expanding Additive pori matriks yang menjadi penyebab menurunnya
permeabilitas semen mengeras.
Pengembangan suatu semen, yaitu penambahan ukuran bagian
luar semen, menurut Danjushevsky (1980) dapat terjadi Penggunaan semen mengembang pada industri perminyakan
melalui beberapa proses : saat ini menurun. Beberapa masalah berkenaan dengan
• Pada saat suspensi semen masih mampu mengalir, yang penggunaan semen mengembang dalam industri perminyakan
diakibatkan efek kontraksi negatif secara kimiawi, (Beirute, dkk., SPE 18027) adalah :
artinya melalui pembentukan hasil hidrat lain yang akan 1. Keterbatasan temperatur, semen mengembang sangat
menambah volume, seperti terlepasnya garam-garam saat sulit untuk diperlambat. Konvensional retarder
kristalisasi pada temperatur tinggi. (lignosulfonat) tidak bekerja dengan baik pada semen
• Pada saat semen mengeras melalui kristal asing seperti jenis ini. Peningkatan temperatur juga akan menurunkan
CaO, MgO dan CaSO 4 dalam matriks semen. pengembangan.
• Masuknya fluida formasi ke dalam kolom semen. 2. Sedikitnya pengetahuan akan kinerja semen jenis
mengembang ini pada kondisi sebenarnya di lapangan.
Adanya efek kontraksi negatif tidak memberikan efek
penambahan shear bond strength yang berarti, misalnya 3. METODOLOGI PENELITIAN
dengan penambahan garam (NaCl), dikarenakan suspensi
semen masih mampu mengirimkan tekanan hasil reaksi ke Pengujian laboratorium terhadap suatu komposisi semen
segala arah, sehingga tipe jenis ini tidak menjadi pilihan sangat diperlukan untuk memperoleh kualitas semen yang
sebagai expanding additive semen pemboran minyak, gas dan diharapkan. Persiapan pengujian di laboratorium meliputi
panas bumi. Masuknya fluida formasi ke dalam kolom semen beberapa tahapan kerja, yaitu :

IATMI 2001-18
Kinerja Expanding Additive Baru untuk Meningkatkan Shear Bond Strength (Sb) Semen Nur Suhascaryo, Eddy Wibowo, Suroyo
Pada Kondisi HTHP

• Persiapan peralatan. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


• Prosedur pengujian.
• Persiapan material semen dan additive. Dari pengujian yang telah dilakukan di laboratorium diperoleh
• Pembuatan suspensi semen. hasil pengujian densitas dan rheologi serta hasil pengetesan
• Pengkondisian suspensi semen. compressive strength dan shear bond strength semen terlihat
• Pengujian kualitas semen. pada tabel di Lampiran.

Persiapan peralatan dan material merupakan langkah awal 4.1. Compressive Strength
yang harus dikerjakan sebelum dimulainya suatu penelitian
atau riset. Fenomena yang terjadi pada semen dasar dan semen silika
sebagai pembanding kelakuan dan kinerja dari semen
Pengujian yang dilakukan pada penelitian ini, meliputi : mengembang yang digunakan terlihat bahwa semakin
densitas dan rheologi untuk suspensi semen serta pengujian bertambah temperatur CS semen dasar semakin rendah dan
compressive strength dan shear bond strength pada semen berbeda dengan semen silika dimana semakin tinggi
mengeras. temperatur semakin tinggi besar harga CS, hal ini disebabkan
oleh terbentuknya mineral α-C2SH gel yang lebih padat
3.1. Bahan Penelitian sehingga mengakibatkan volume semen menyusut, maka
terjadi perubahan pada semen dasar (lemah dan poros).
Bahan-bahan yang digunakan antara lain : Sedangkan adanya penambahan silika pada semen dasar
• Semen klasifikasi API Kelas G produksi PT. Indocement memberikan kestabilan pada semen akibat terbentuknya
Tunggal Prakarsa. mineral tubermorite pada kondisi temperatur tinggi sehingga
• Bubuk additive Silika produksi PT. Halliburton memberikan strength yang tinggi dan permeabilitas yang
Indonesia. rendah.
• Bubuk additive MgO dan CaO murni yang telah dibakar
pada temperatur 1000 dan 1400 oC selama 2 jam, Untuk semen mengembang pada penambahan additive MgO
kemudian digiling dengan kehalusan 2800 – 3200 1000 oC dengan bertambahnya temperatur memberikan
cm2/gr. peningkatan pada besar harga CS tersebut tetapi kenaikan yang
signifikan terjadi pada penambahan additive 1.5 dan 3%, hal
• Aquadest yang digunakan sebagai fluida pencampur dan
ini diakibatkan masih kecilnya proses pengembangan yang
pengkondisian.
terjadi pada konsentrasi tersebut sehingga memberikan tingkat
kerapatan yang lebih baik dari penambahan additive pada 5
3.2. Peralatan Penelitian
dan 10%.
Adapun peralatan yang digunakan pada penelitian meliputi :
Begitu pula yang terjadi pada penambahan additive MgO 1400
• Timbangan elektrik. o
C dengan bertambahnya temperatur akan mengalami kenaikan
• Gelas ukur. besar harga CS-nya, tetapi untuk bahan additive ini hasil dan
• Mixer dengan dua kecepatan tipe propeler. performance-nya lebih baik dari bahan MgO 1000 oC,
• Stop watch. dikarenakan tingkat kemurnian dari bahan additive tersebut.
• Cetakan sampel.
• Pressure curing chamber. Hal serupa juga diperlihatkan pada penggunaan bahan additive
• Hydraulic pressure. CaO murni baik dengan temperatur bakar 1000 maupun 1400
o
C, dimana dengan bertambahnya temperatur akan mengalami
3.3. Prosedur Pengujian dan Persiapan Additive kenaikan harga CS-nya. Tetapi kinerja dan besar harga yang
diperoleh dari bahan tersebut memberikan hasil yang lebih
Pembuatan suspensi semen dimulai dengan persiapan peralatan baik pada CaO 1000 oC. Selain itu, pengaruh adanya silika
dan material semen, adapun spesifikasi peralatan dan prosedur flour pada suspensi semen akan memberikan tingkat ketahanan
pengujian dilakukan berdasarkan API Spec. 10 pada Appendix dan kestabilan yang lebih baik pada temperatur tinggi.
A. Percobaan yang dilakukan pada penelitian ini terhadap
suspensi semen mengembang dapat dilihat pada Gambar 1. 4.2. Shear Bond Strength
Sedangkan persiapan additive untuk bahan MgO dan CaO
murni dilakukan dengan membakar batuan dolomit dan kalsit Besar harga SBS pada semen dasar dan semen silika
sesuai temperatur yang diinginkan dengan lama waktu memperlihatkan kelakuan yang sama seperti pada besar harga
pembakaran tertentu (dalam penelitian ini, selama 2 jam), CS.
terhitung sejak temperatur yang diinginkan tersebut tercapai.
Kemudian hasil pembakaran tersebut ditumbuk hingga Pada semen mengembang dengan penambahan MgO dan CaO
mencapai kehalusan yang dikehendaki. murni diharapkan mampu memberikan nilai SBS yang besar
tanpa mengurangi nilai CS yang sesuai dengan standar API.
Dari hasil pembakaran diperoleh tingkat kemurnian dari Kondisi tersebut diatas berhasil diperoleh dalam penelitian ini,
masing-masing additive tersebut, dimana CaO 1000 oC sebesar dimana untuk penambahan additive MgO 1000 oC dan 1400 oC
63,99%, CaO 1400 oC sebesar 72,35%, MgO 1000 oC sebesar memperlihatkan adanya peningkatan harga SBS dengan
91,12% dan MgO 1400 oC sebesar 97,42%. bertambahnya temperatur seiring dengan peningkatan
konsentrasi penambahan additive tersebut. Harga SBS yang
signifikan terjadi pada konsentrasi 5 dan 10% penambahan,
dikarenakan proses pengembangan semen mulai optimal
terjadi. Tetapi harga SBS pada bahan MgO murni

IATMI 2001-18
Kinerja Expanding Additive Baru untuk Meningkatkan Shear Bond Strength (Sb) Semen Nur Suhascaryo, Eddy Wibowo, Suroyo
Pada Kondisi HTHP

memperlihatkan hasil yang lebih baik pada pembakaran 1400 ”Attenuation of Casing Cemented With Coventional and
o
C. Expanding Cements Across Heavy Oil and Sandstone
Formations”, SPE 18027.
Untuk bahan CaO murni baik pembakaran 1000 maupun 1400
o
C kurang memberikan kanaikan harga SBS yang signifikan, 3. BOUR, D.I., EAST LE., : “Expansion Anti-Fluid
disebabkan oleh tingkat kemurnian bahan tersebut setelah Migration Technology Salles South Texas Fluid Migration
pembakaran lebih rendah dari bahan additive MgO murni, Problems”, IADC/SPE- 17259, Dallas, Texas, March
walaupun memberikan kecenderungan yang sama seperti MgO 1988, p.653-658.
murni, dimana dengan bertambahnya temperatur akan
memberikan kenaikan harga SBS tersebut. 4. BURGOYNE., ADAM T. Jr. : “Applied Drilling
Engineering”, SPE., USA., 1986.
Dalam penelitian ini juga diperlihatkan pengaruh mud cake
yang ada pada dinding formasi terhadap besar harga SBS yang 5. DOWELL SCHLUMBERGER., : “Cementing
dicapai pada saat setting semen mulai terjadi, lihat gambar Technology”, Published by Nova Communications Ltd,
pada Lampiran. Dengan adanya mud cake pada dinding London, England (1984).
formasi akan memperkecil besar harga SBS, dimana daya
ikatan semen dengan dinding formasi terhalangi oleh mud 6. P.N. PARKER., W.W. WAHL.: “Expanding Cement-A
cake, hal inilah yang akan mengurangi besar harga SBS semen New Development in well Cementing”, Member of AIME.,
tersebut. Dowell Div. Of The Dow Chemical Co, Tulsa, Okla, May
1996.
Untuk lebih memberikan sifat yang diinginkan, khususnya
pada semen mengembang perlu adanya pengujian lain selain 7. RUDI RUBIANDINI RS. : “Pengaruh Elektrolit dan
pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini, seperti Temperatur Pada Rheology Suspensi Semen”, Lembaga
pengukuran Thickening time, Fluids loss, Free water content Penelitian-ITB, 1992.
agar dapat sesuai dengan standar yang berlaku pada API Spec.
8. RUDI RUBIANDINI RS. : “Semen Penyekat Lubang
5. KESIMPULAN Sumur Minyak, Gas dan Panas Bumi Yang Bertemperatur
Dan Bertekanan Tinggi”, Laporan Penelitian Perguruan
Dari hasil penelitian di laboratorium dan analisa penelitian Tinggi Hibah Bersaing, 1994/1995.
pada Bagian IV dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu :
1. Compressive strength semakin menurun apabila prosentasi 9. RUDI RUBIANDINI RS. : “Perubahan Sifat Fisik Semen
komposisi bahan additive MgO murni semakin besar Pada Temperatur dan Tekanan Tinggi, Serta Kandungan
dalam suspensi semen. CO2 dan H2S Tinggi”, Jurnal Teknologi Minyak dan Gas
2. Bahan CaO murni cenderung memberikan peningkatan Bumi, Nomor 1, Volume II/1995.
compressive strength yang lebih baik, khususnya pada
bahan CaO 1000 oC dan cenderung turun untuk bahan 10. RUDI RUBIANDINI RS. dan HERIANTO : “
CaO 1400 oC. Investigasi Laboratoris Penanggulangan Compressive
3. Peningkatan shear bond strength sangat baik terutama untuk Strength Retrogration Semen Pemboran Sampai
temperatur tinggi pada bahan additive MgO 1400 oC, Temperatur 300 oC “, IATMI, 1994.
dimana makin tinggi temperatur semakin baik
peningkatannya. 11. THOMAS DOOLEY P. : “Perilaku Expanding Additive
4. Shear bond strength pada bahan additive CaO murni kurang dari Bahan Magnesit pada Perubahan Compressive
menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Strength dan Shear Bond Strength Semen”, Tugas Akhir
5. MgO murni merupakan bahan expanding additive terbaik Sarjana tak diterbitkan Jurusan Teknik Perminyakan
dari seluruh bahan yang digunakan untuk temperatur 100 Fakultas Teknologi Mineral, ITB., 1996.
– 150 oC.
6. Komposisi optimum untuk bahan MgO murni adalah 5 – 12. WAYNE, A. WALKER., and CALVIN, D
10 % dan komposisi optimum untuk bahan CaO murni SAUNDERS., Member AIME : “Strength of Oil Well
adalah 1.5 – 3 %. Cements And Additives Under High Temperatur Well
Conditions”, Paper 390-G, 1954.
UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan inipula kami mengucapkan terima kasih


kepada ketua tim RUT VII ITB Bpk. DR. Ing Ir. Doddy
Nawangsidi & DR. Ing. Ir. Rudi Rubiandini RS. Atas
kesertaan kami selaku anggota tim peneliti.

DAFTAR PUSTAKA

1. BAIRUTE R.M., ART TRAGESSER., : “Expansive and


Shrinkage Characteristics Of Cements Under Actual Well
Conditions”, SPE of AIME, The Western Co, August
1973.
2. BAIRUTE R.M., Amoco Production Co., and M.A.
Wilson and F.L. SABINS, Haliburton Services., :

IATMI 2001-18
Kinerja Expanding Additive Baru untuk Meningkatkan Shear Bond Strength (Sb) Semen Nur Suhascaryo, Eddy Wibowo, Suroyo
Pada Kondisi HTHP

LAMPIRAN
Tabel 3
Tabel 1. Hasil Penelitian Semen
Hasil Pengujian Densitas Suspensi Semen
Additive Temperatur (oC)
Komposisi Komposisi Densitas 100 115 135 150
Additive (ppg)
(%BWOC)
MgO10000oC - - + +
Semen Dasar 0 16.00 MgO14000oC + + + +
S. Dasar + 35 % Silika 0 15.75 CaO10000 oC - - - -
S. Dasar + 35% Silika + MgO 1000 oC 1.5 15.75 CaO14000 oC + + - -
S. Dasar + 35% Silika + MgO 1000 oC 3.0 15.50
S. Dasar + 35% Silika + MgO 1000 oC 5.0 16.10 Keterangan “
S. Dasar + 35% Silika + MgO 1000 oC 10.0 15.85 Baik untuk digunakan
S. Dasar + 35% Silika + MgO 1400 oC 1.5 15.85 Tidak Baik untuk digunakan
S. Dasar + 35% Silika + MgO 1400 oC 3.0 15.90
S. Dasar + 35% Silika + MgO 1400 oC 5.0 15.65
S. Dasar + 35% Silika + MgO 1400 oC 10.0 16.00
S. Dasar + 35% Silika + CaO 1000 oC 1.5 15.80
S. Dasar + 35% Silika + CaO 1000 oC 3.0 15.75
S. Dasar + 35% Silika + CaO 1000 oC 5.0 15.65
S. Dasar + 35% Silika + CaO 1000 oC 10.0 16.00
S. Dasar + 35% Silika + CaO 1400 oC 1.5 15.65
S. Dasar + 35% Silika + CaO 1400 oC 3.0 15.50
S. Dasar + 35% Silika + CaO 1400 oC 5.0 15.60
S. Dasar + 35% Silika + CaO 1400 oC 10.0 15.60

Tabel 2
Hasil Pengujian Rheologi Suspensi Semen

Rheologi Suspensi Semen


Komposisi GS
θ 600 θ 300 µP τy GS 10'
10”
Semen Dasar 181 122 59 63 11 18
Semen Silika 110 72 38 34 9 13
S. Dasar + 35% Silika + 1.5% MgO 1000 o C 112 78 34 44 14 22
S. Dasar + 35% Silika + 3.5% MgO 1000 o C 104 84 20 64 14 23
S. Dasar + 35% Silika + 5.0% MgO 1000 o C 140 105 34 70 15 20
S. Dasar + 35% Silika + 10 % MgO 1000 o C 185 144 41 103 18 20
S. Dasar + 35% Silika + 1.5% MgO 1400 o C 123 80 43 37 11 18
S. Dasar + 35% Silika + 3.0% MgO 1400 o C 103 69 34 35 10 19
S. Dasar + 35% Silika + 5.0% MgO 1400 o C 107 74 33 41 10 21
S. Dasar + 35% Silika + 10 % MgO 1400 o C 118 83 35 48 11 34
S. Dasar + 35% Silika + 1.5% CaO 1000 o C 120 78 42 36 10 14
S. Dasar + 35% Silika + 3.0% CaO 1000 o C 100 65 35 20 10 11
S. Dasar + 35% Silika + 5.0% CaO 1000 o C 117 76 41 45 9 17
S. Dasar + 35% Silika + 10 % CaO 1000 o C 126 85 41 44 10 26
S. Dasar + 35% Silika + 1.5% CaO 1400 o C 111 72 39 33 9 10
S. Dasar + 35% Silika + 3.0% CaO 1400 o C 132 86 46 40 8 11
S. Dasar + 35% Silika + 5.0% CaO 1400 o C 133 88 45 43 10 13
S. Dasar + 35% Silika + 10 % CaO 1400 o C 147 95 52 43 13 17

IATMI 2001-18
Kinerja Expanding Additive Baru untuk Meningkatkan Shear Bond Strength (Sb) Semen Nur Suhascaryo, Eddy Wibowo, Suroyo
Pada Kondisi HTHP

IATMI 2001-18
Kinerja Expanding Additive Baru untuk Meningkatkan Shear Bond Strength (Sb) Semen Nur Suhascaryo, Eddy Wibowo, Suroyo
Pada Kondisi HTHP

3500 3016 100 C 3500 3016 100C


3000 3000

2500
2500

2000 1577 1475 1444


2000
1243 1129 1060
1129 1171 928 1500
1500 928
1000
1000
500
500
0
0

115 C 3500 115C


3500
3000 2513
3000 2513 2124 2158
2500

2500
2000 1564 1509
1547 1271
2000
1456 1500
1271 1176
1500 969 1000

COMPRESSIVE STRENGTH (psi)


COMPRESSIVE STRENGTH (psi)

1000 500

500 0

0
Se Se 1.5% 3% 5% 10%
DSR Silika

3500
3106
3500
135 C 3000
2673 135C
2341 2372
3000 2500 1878
2500 1878 2000
1613 1285
2000 1537 1500
1285
1234
1500 971 1000

1000 500

500 0

3064 3183
3500 3081 2973
3500
150 C 3000 150 C
2238
3000 2500
2238
2500 2000
1691
2000 1543 1500
886
1243 1077
1500
886 1000

1000 500

500 0
Se Se 1.5% 3% 5% 10%

0 DSR Silika
Se Se 1.5% 3% 5% 10%
DSR Silika
Jenis Semen
Jenis Semen

Gambar 6.
Gambar 4. Grafik Compressive Strength Semen CaO 1000 C pada
Grafik Compressive Strength Semen MgO 1000 C pada Berbagai Temperatur dengan Waktu Pengkondisian 1 Hari
Berbagai Temperatur dengan Waktu Pengkondisian 1 Hari
3500 3016
100 C
3500 3016
100 C 3000

2500
3000

2000 1523
2500 1313
1500
1129 1147 916
2000

1129 1177
1500 1000
922 767
784
1000 500

500
0

3500
115 C
3500
115 C
3000 2513
3000 2513
2500

2500
2000
1543
1271 1378
2000 1234 1171
1362 1500
1271 1224
1500 1174 1132 1000
COMPRESSIVE STRENGTH (psi)
COMPRESSIVE STRENGTH (psi)

1000
500

500
0

0
Se Se 1.5% 3% 5% 10%
DSR Silika

3500

135 C 135 C
3500 3000

3000
2500
1878
2500 1730
1878 2000
1449
2000
1397 1502
1285 1145 1241
1285 1372 1398
1500
1500

1000
1000

500 500

0
0

150 C 3500

3500
3000 150 C
3000 2238 2128 2108
2238 2500
2500
1752
2000 1436 1536 1551
2000 1500
1443
1500
1500
886 886
1000 1000

500 500

0
0
Se Se 1.5% 3% 5% 10%
Se Se 1.5% 3% 5% 10%
DSR Silika DSR Silika

Jenis Semen Jenis Semen

Gambar 5. Gambar 7.
Grafik Compressive Strength Semen MgO 1400 C pada Grafik Compressive Strength Semen CaO 1400 C pada
Berbagai Temperatur dengan Waktu Pengkondisian 1 Hari Berbagai Temperatur dengan Waktu Pengkondisian 1 Hari

IATMI 2001-18
Kinerja Expanding Additive Baru untuk Meningkatkan Shear Bond Strength (Sb) Semen Nur Suhascaryo, Eddy Wibowo, Suroyo
Pada Kondisi HTHP

100 C
1600
100 C 1600

1400 1400

1200 1200

847 770
1000 770 760 1000
692 688
800
800 495 486 536
600
600 308
308 287
400
400
10 10 20 29 20
10 10 20 19 29 38 200 19
200

0
0

115 C
1600 115 C 1600

1400
1400
1200
1200
835 835
1000
1000 747 772
676 581
800
622 800
514
440 482
600
440 600
313
400
400
19 19 19 19 29 29 29
19 19 19 29 39 200
200

SHEAR BOND STRENGTH (psi)


0
0
SHEAR BOND STRENGTH (psi)

135 C
1600
1600 135 C 1400

1400
1200

1200 765
859 892 855 1000
1000 765 605
714 800 615
546
800 492
600 385
600 385
400

400 29 29 30 48 49
200
30
29 29 10 19 19 57
200
0

150 C
1600

1600
150 C 1400

1400 1179 1200

1200 1000
923 897 697 669
1000 783 800 571 588 588
800 571 600
441

600
441 400

39 20 39 78 78
400 200 39
98 78 115 106
39 20 0
200
Se Se 1.5% 3% 5% 10%

0 DSR Silika

Se Se 1.5% 3% 5% 10%
DSR Silika
Jenis Semen
Jenis Semen

Gambar 8. Gambar 10.


Grafik Shear Bond Strength Semen MgO 1000 C pada Grafik Shear Bond Strength Semen CaO 1000 C pada Berbagai
Berbagai Temperatur dengan Waktu Pengkondisian 1 Hari Temperatur dengan Waktu Pengkondisian 1 Hari

1600
100 C
1400
1600
100 C
1200 1008
1400

1000 770 1200


695
800
593 1000 770 783
515
600 800
656
308 504 482
400 600
145 308
10 10 19 19 38
200 400

10 10 19 19 30
0 200 10
0

1600
115 C 115 C
1600
1400
1074 1400
1200
1200
1000
835 784 893
1000
835 788
666 720
800 581
800
440 578
600 440
600

400 192 400


19 19 19 38 48
200 19 19 20 20 28
200 19
SHEAR BOND STRENGTH (psi)

0
SHEAR BOND STRENGTH (psi)

135 C
1600 1600

1400
1116 1400
135 C
1200
1043
1200
853 884
1000 765 819 832
1000 765 795
800 800
481
600 385 600 385
400 205 400

29 29 29 39 77
200 200
29 29 20 29 29 38

0 0

1600 1447 1600

1400
150 C 1400

1056 1200
1200
900 896 1000 783
150 C
1000 700 736
800 571
800
504
571 441
600
441
600
400
249
400 39 20 20 30 39 49
200
39 20 29 30 88
200 0
Se Se 1.5% 3% 5% 10%
0 DSR Silika
Se Se 1.5% 3% 5% 10%
DSR Silika
Jenis Semen
Jenis Semen

Gambar 9. Gambar 11.


Grafik Shear Bond Strength Semen MgO 1400 C pada Grafik Shear Bond Strength Semen CaO 1400 C pada Berbagai
Berbagai Temperatur dengan Waktu Pengkondisian 1 Hari Temperatur dengan Waktu Pengkondisian 1 Hari

IATMI 2001-18