TAXIWAY
Landasan penghubung (taxiway) adalah suatu jalur
perkerasan yang digunakan oleh pesawat terbang
sebagai akses dari apron menuju landasan pacu
(runway) dan sebaliknya dari landasan pacu menuju
apron setelah melakukan pendaratan.
Akses dari apron menuju landasan pacu disebut
‘entrance taxiway’ dan
Akses dari landasan pacu menuju apron disebut
‘exit taxiway’.
Kedua jalur akses ini merupakan by-pass taxiway.
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Fungsi taxiway adalah :
1. Sebagai jalan keluar masuk pesawat dari runway ke apron
dan sebaliknya atau dari runway ke hanggar
pemeliharaan
2. Agar pesawat yang baru mendarat tidak mengganggu
pesawat lain yang sedang taxi siap menuju ujung takeoff
Pada bandara yang sibuk, lalu lintas pesawat taxi
diperkirakan bergerak sama banyak dari 2 arah, maka harus
dibuat pararel taxiway terhadap landasan untuk taxiway
terhadap landasan untuk taxi satu arah
Rute dipilih jarak terpendek dari terminal menuju ujung
bangunan landasan menuju ujung landasan yang dipakai
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Jenis taxiway adalah :
1. Jalan keluar : memungkinkan pesawat memasuki runway dari arah
apron. Biasanya taxiway ini tegak lurus runway. Pada kasus dimana
tersedia jalan pesawat sejajar, dibangun sejumlah jalan keluar
pesawat untuk mengurangi waktu pesawat menggunakan runway.
Sudut belok antara 30 – 40°
2. Jalan pesawat sejajar, taxiway yang sejajar dengan runway.
Direncanakan untuk mengurangi waktu penggunaan runway dan
meningkatkan jumlah pergerakan untuk lepas landas
3. Jalan pesawat sejajar dengan kecepatan tinggi, dibangun dengan
sudut tertentu terhadap runway sehingga memungkinkan pesawat
yang baru mendarat untuk meninggalkan runway dengan kecepatan
tinggi.
4. Jalan pesawat pada pelataran parkir pesawat, bagian dari pelataran
parkir yang berfungsi untuk jalan pesawat
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
GEOMETRIK TAXIWAY
1. Jarak Bersih Roda Minimum (Dmin) dan Lebar Taxiway
Jarak bersih antara bagian terluar dari roda utama dan tepi taxiway :
ICAO Lebar Dmin
(2013) (m) (m)
A 7,5 1,50
B 10,5 2,25
C 15/18 3,0/4,5
D 18/23 4,50
E 23 4,50
F 25 4,50
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
2. Kelandaian memanjang (longitudinal slope)
Kelandaian Perubahan Jari-jari
Code Penggolongan Memanjang maksimum Peralihan
Letter Pesawat Maksimum kelandaian minimum
(%) (%/m) (m)
A I 3 1/25 2500
B II 3 1/25 2500
C III 1,5 1/30 3000
D IV 1,5 1/30 3000
E V 1,5 1/30 3000
F VI 1,5 1/30 3000
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
3. Jarak Pandang dan Kelandaian Melintang serta Bahu Taxiway
Jarak Pandang
dari titik tengah
Kelandaian Bahu
Code Penggolongan (m)
Melintang Taxiway
Letter Pesawat
Ketinggian Jarak (%) min (m)
X Y
A I 1,5 150 2 3
B II 2 200 2 3
C III 3 300 1,5 3
D IV 3 300 1,5 4,5
E V 3 300 1,5 4,5
F VI 3 300 1,5 4,5
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
4. Taxiway Strip
Merupakan area perpanjangan taxiway yang bebas dari objek-objek yang
dapat membahayakan penerbangan
Code Penggolongan Lebar Taxiway Graded portion of
Letter Pesawat Strip/SW (m) taxiway strip (m)
A I 32,5 22
B II 43 25
C III 52 25
D IV 81 38
E V 95 44
F VI 115 60
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
5. Rapid Exit Taxiway
Sudut pertemuan (intersection angle) dari rapid exid taxiway dan runway
: 25° < α < 45°. Sebaiknya pada sudut 30°
Penggolo Radius Exit
Code
ngan tikungan Speed
Letter
Pesawat (m) (km/j)
A I 275 65
B II 275 65
C III 550 93
D IV 550 93
E V 550 93
F VI 550 93
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
6. Persilangan dan Kurva Taxiway
Desain Fillet Taxiway
Code Panjang
Jari-jari
Letter/ Jari-jari jalur
Tikungan Lebar
Penggolon Tikungan Tikungan
Tambahan Taxi
gan (m) Tambahan
/ Fillet (m) W
Pesawat R (m)
F
L
A/I 22,5 15 18 7,5
B/II 22,5 15 16,5 10,5
C/III 30 45 16,5 15
D/IV 45 75 25,5 23
E/V 45 75 25,5 23
F/VI 52 75 25,5 25
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Tabel Klasifikasi Pesawat Terbang Rencana
Grup Tipe Wing span
Pesawat (m)
I Cessna, Piper Navajo, T-82 < 49 ft
(< 15 m)
II N-212, CN-235, STOL Sky-van 49 ft < x < 79 ft
(15 m < x < 24 m)
III DC-9-32, DC-9-50, B-737-200, B- 79 ft < x < 118 ft
727-200 (24 m < x < 36 m)
IV DC-10-A, DC-10-B, B-720B, 118 ft < x < 171 ft
B-707-120B, B-707-320B (36 m < x < 52 m)
Airbus A-300
V B-747-300, B-747-400, 171 ft < x < 214 ft
B-767, B-747 SP (52 m < x < 65 m)
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
1. Perencanaan tikungan dan lebar tambahan tikungan (fillet)
pada taxiway
Contoh perhitungan desain lebar jalur taxiway dan taxiway fillet :
Diketahui pesawat terbang rencana B-737-200 dengan wing span 32,92 m
termasuk Airplane Design Group III (lihat tabel 3.1), sehingga dari data
ADF III didapat :
- Lebar taxiway (W) = 50 ft (15 m)
- Jarak tepi aman taxiway (M) = 10 ft (3 m)
- Lebar bahu taxiway (S) = 10 ft (3 m)
- Jari-jari tikungan tambahan (fillet) terhadap taxiway centerline (F) =
60 ft (18 m)
- Panjang jalur tikungan tambahan (fillet) hingga pada ujung belokan
taxiway (L) = 150 ft (45 m)
- Jari-jari belokan taxiway (R) = 150 ft (45 m)
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Perencanaan Tikungan pada Taxiway dengan pesawat terbang rencana B-737-200
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
2. Perencanaan by-pass taxiway
(exit taxiway dan entrance taxiway)
Perencanaan by-pass taxiway (exit taxiway dan entrance taxiway) yang
perlu diperhatikan adalah penentuan kecepatan rencana dari pesawat
terbang saat akan memasuki area sistem landasan penghubung.
Penentuan kecepatan rencana dihitung dengan persamaan :
V2
R=
125 . μ
sehingga :
V = 125. R. μ
dengan :
V = kecepatan rencana pesawat terbang (km/jam)
R = jari-jari tikungan pada sistem taxiway sesuai dengan Airplane Design
Group atau hasil perhitungan ( m )
µ = koefisien gesek antara ban dan struktur permukaan perkerasan (0,13)
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Penentuan jari-jari tikungan berdasarkan ukuran wheel base (jarak
antara roda pendarat utama/main gear dan roda depan/nose gear) dapat
dihitung dengan persamaan :
0,388 . 2B
R= W
−D
2
dengan :
R = jari-jari tikungan pada taxiway yang direncanakan ( m )
B = ukuran wheel base dari pesawat terbang rencana ( m )
W = lebar jalur taxiway sesuai dengan Airplane Design Group ( m )
D = jarak antara titik tengah kelompok roda pendarat utama/main gear
dan tepi jalur taxiway ( m )
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Contoh perhitungan desain tikungan pada sistem by-pass
taxiway :
Diketahui pesawat terbang rencana B-737-200 dengan
wing span 32,92 m termasuk Airplane Design Group III
sehingga dari tabel perencanaan komponen taxiway dari
FAA diperoleh :
Lebar taxiway (W) = 50 ft (15 m)
Untuk pesawat terbang rencana B-737-200,
maka ukuran wheel base (B) = 11,38 m
Jarak antara titik tengah kelompok roda pendarat
utama/main gear dan tepi jalur taxiway (D) = 3,75 m
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Maka :
0,388 . 2B 0,388 . 2 (11,38)
R= W = 15/2
2
−D −3,75
2
= 13,399 m = 14 m
Sehingga kecepatan rencana pesawat terbang saat
memasuki tikungan adalah :
V = 125. R. μ
= 125 . 14 . 0,13
= 15 m/dtk
= 15 x 3,6 = 54 km/jam
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
EXIT TAXIWAY
Berfungsi untuk menekan sekecil mungkin waktu penggunaan
landasan oleh pesawat pada waktu mendarat
Bentuk Exit taxiway
1.Siku-siku terhadap runway
2.< 30◦ C
3.< 45◦ C
Lokasi Exit taxiway tergantung :
Mix pesawat (pesawat campuran)
Kecepatan / waktu menyentuh landasan
Kecepatan saat menuju exit
Tingkat pengereman
Jumlah Exit taxiway
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Jarak Threshold sampai ke Exit Taxiway
SE = Jarak titik sentuh dari ujung landasan (Touch Down
Distance) + D
(VTD)2 −(VE)2
D=
2a
Touch down distance
1500 ft : air carrier aircraft
1000 ft : twin engine general aviation aircraft
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Touch down speed (V TD)
140 knots : B 707, DC 8, DC 10, L1011, B 747
130 knots : DC 9, B 727, B 737
95 knots : General aviation twin engine
95 knots : General aviation single engine
Exid speed (VE)
60 mil/jam : high speed exit
15 mil/jam : 90º C
a = average deceleration
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
CONTOH 1 :
Tentukan lokasi exit taxiway untuk kecepatan exit = 60 mil/jam
Touch down speed (VTD) = 140 knots
VE = 60 mil/j = 52 knots = 88 ft/sec
1 knots = 1,154 mil/j
1 mil/j = 1,467 ft/sec
1 knots = 1,693 ft/sec
VTD = 140 kn0ts = 140 x 1,693 =237 ft/sec
Touch down distance dianggap 1500 ft.
Average Deceleration (a) = 5 ft/sec2
sehingga
(VTD)2 −(VE)2
SE = TDD +
2a
(237)2 −(88)2
SE = 1500 + = 1500 + 4843 = 6343 ft
2.5
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Koreksi :
1. Elevasi : tiap kenaikan 1000 ft (305 m) dari muka air laut
maka SE naik 3 %
2. Temperatur : SE naik 1,5 % untuk tiap kenaikan 10º F (5,6º
C) dari 59º F (15º C)
Elevasi airport = 5 ft
Temperatur lapangan = 30º C = 9/5 x 30 + 32 = 86º F
Selisih temperatur 86 – 59 = 27ºF
Koreksi SE terhadap Temperatur :
∆T = (27/10) x (1,5/100) x 6343 = 257 ft
Koreksi SE terhadap Elevasi :
∆L = (5/1000) x (3/100) x 6343 = 0,95 ft
Maka setelah koreksi elevasi dan temperatur
SE = 6343+(257+0,95) = 6601 ft
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
CONTOH 2 :
Tentukan lokasi exit taxiway untuk pesawat kelas A dengan
kecepatan exit = 15 mil/jam
Touch down distance = 1500 ft
VTD = 140 knots = 140 x 1,693 = 237 ft/sec
VE = 15 mil/j = 15 x 1,467 = 22 ft/sec
SE = 1500 + ((237)2 – (22)2)/(2 x 5)
= 1500 + 5569 = 7069 ft
Koreksi :
1. Elevasi : tiap kenaikan 1000 ft (305 m) dari muka air laut
maka SE naik 3 %
2. Temperatur : SE naik 1,5 % untuk tiap kenaikan 10º F (5,6º
C) dari 59º F (15º C)
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara
Elevasi airport = 1,37 m
Temperatur lapangan = 33,2º C = 9/5 x 33,2 + 32 = 91,76º F
Selisih temperatur 91,76 – 59 = 32,76ºF
Koreksi SE terhadap Temperatur :
∆T = (32,76/10) x (1,5/100) x 7069 = 347 ft
Koreksi SE terhadap Elevasi :
∆L = (1,37/305) x (3/100) x 7069 = 0,95 ft
Maka setelah koreksi elevasi dan temperatur
SE = 7069+(347+0,95) = 7416,95 ft = 7417 ft
Desi Widianty - Teknik Bandar Udara