Anda di halaman 1dari 17

MODUL 6

NUTRISI MINERAL

PENDAHULUAN

Seperti ternak pada umumnya, mineral merupakan unsur makanan yang sangat di butuhkan
oleh ternak non-ruminansia selain air, protein, energi , lemak dan vitamin. Kecukupan mineral
dalam ransum ternak sering terabaikan bahkan dilupakan. Penyebabnya antara lain karena dana
pengadaan bahan mineral termasuk tinggi diantara semua bahan pakan yang dipakai dalam
penyusunan ransum. Biaya yang tinggi tersebut sebenarnya cukup setimpal dengan manfaat
bahan mineral yang sangat luas Pentingnya mineral dalam tubuh dapat dilihat dari peranannya
dalam mendukung pembentukan jaringan otot, tulang dan gigi, sehingga mineral dapat
disejajarkan peranannya dengan zat-zat makanan lainnya. Oleh karena itu perlu mendapat
perhatian dalam upaya meningkatkan produktivitas ternak.
Fungsi mineral dalam tubuh selain pembentukan otot, tulang dan gizi adalah :
1. menjaga keseimbangan asam-basA yang tepat dalam cairan tubuh ;
2. mempertahankan tekanan osmotik cellular dalam mengangkut zat-zat makanan
3. mempertahankan kondisi enzim-enzim pencernaan
4. mempertahankan kontraksi urat daging, jantung dan syaraf secara normal

5. mencegah kekejangan dan


6. membantu bekerjanya vitamin dalam pembentukan tulang.
7. membantu proses metabolisme protein
Tubuh membutuhkan berbagai jenis mineral bagi tubuh dalam jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan bagian-bagian tubuhnya. Dari berbagai mineral yang essensial bagi tubuh, ternak non
ruminansia adalah: mineral makro yaitu Ca, P, Mg, Na, K CI dan S . Sedangkan mineral
essensial mikro adalah : Besi (Fe), Fluor (F), Chromium (Cr), Kobalt (Co), Mangan (Mn),
Molybdenum (Mo), Selenium (Se), Silikon (Si), Tembaga (Cu). Zink (Zn).

Setelah mempelajari modul ini anda dapat


(1). Menjelaskan fungsi mineral makro dan mikro pada ternak babi dan unggas
(2) Dapat menjelaskan pengaruh kelebihan dan kekurangan vitamin pada unggas dan babi

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia1


Uraian modul ini akan dibahas :
1..Mineral Makro /Essensial bagi ternak
Fungsi Mineral, Pengaruh kelebihan dan kekurangan mineraL pada ternak
2. Mineral mikro Essensial bagi ternak
Fungsi, Pengaruh kelebihan dan kekurangan mineral pada ternak

PENYAJIAN

Kegiatan Belajar 1

6.1. Jenis-jenis Mineral yang Essensial bagi Ternak

6.1.1. Mineral Essensial Makro

Kalsium dan Fosfor


Dari sejumlah mineral yang dibutuhkan, mineral Kalsium (Ca) dan Fosfor (P) merupakan
jenis mineral yang paling besar beranannya dan defisiensi keduanya sangat terasa oleh temak.
Hal ini terjadi karena kedua mineral tersebut menempati porsi terbesar dari bagian tubuh.
Disamping itu, keduanya saling tergantung dan saling mempengaruhi dalam keberadaanya.
Maksudnya, bila salah satu kelebihan akan menekan/menghabisi jumlah yang lainnya.
Dalam keadaan normal penyerapan Ca terjadi secara transport aktif dan pasif dibagian
tengah hingga akhir usus halus dan sangat sedikit dalam usus besar. Kekurangan mineral Ca dan
P dalam ransum akan memperlihatkan gejala-gejala seperti berikut : kekurangan nafsu makan
sehingga berakibat kehilangan berat badan, penurunan produksi air susu, riketsia, kelumpuhan,
gondok, mata kabur, anak non-ruminansia lahir memiliki bulu sedikit, mati muda dan banyak
kelemahan lain.
Kandungan mineral dalam tubuh terutama Ca dan P adalah lebih dari 70% dari kandungan
abu. Berkisar 80% P dan 99% Ca dalam tubuh adalah terdapat pada tulang dan gigi, Sedangkan
pada tulang mengandung 45% mineral, protein sebanyak 35% dan lemak 20%. Pada tulang
mengandung abu sebanyak 40% Ca, 20% P dan 1% Mg. Ca dalam bentuk jaringan lemak
terdapat dalam otot dan plasma yang mana pada darah terkandung 10 mg Ca/100 mi darah, juga
terdapatnya P dalam otot dan darah. P terkandung cukup banyak dalam proses metabolisme
protein terutama dalam pelepasan energi dan pembentukan asam-asam amino. Selain itu P juga
penting dalam deposisi otot dan kelenjar air susu saat laktasi.

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia2


Daya cerna dari Ca akan dipengaruh! oleh beberapa faktor berikut :
1) Sumber mineral,
2) Sumber dari bahan makanan,
3) Faktor fisiologi hewan.
Selain itu daya cerna P akan berkurang apabila kadar Ca beriebihan sebagal akibat dari
terbentuknya calsium-posphat tidak larut. Sehingga untuk mengatasi hat tadi di usahakan terjaga
keseimbangan dengan perbandingan 2 : 1
Bahan makan yang berasal dari Serealia mengandung 3-4 g P/ kg pakan dan hasil ikutan serealia
mengandung 5-10 g P/kg pakan. Pada umumnya Ca lebih string defisien pada ransum bila
ransum kelebihan P. Hal ini terjadi akibat ransum yang bersumber dari biji-bijian dan bahan
pakan protein supiemen lebih sering digunakan dalam penyusunan ransum ternak non-ruminan.
Serealia sebagai bulky feed/ pengenyang diketahui mengandung Ca rendah.
Untuk mencapai keseimbangan Ca dan P ransum, ada 3 hal penting untuk diketahui :
1. Ca dan P cukup terpenuhi dalam ransum
2. Ca dan P harus terjaga perbandingannya dan
3. Vitamin D harus tersedia cukup.

Perbandingan Ca dan P ini akan bervariasi dalam ransum yang sesuai dengan status phisiologi
dari ternak yakni : berat badan, umur dan level Ca dan P dalam ransum. Apabila Ca ekses maka
akan mengakibatkan defisien P. Vitamin D diperlukan untuk absorbsi Ca dan P dalam formasi
tulang dan gigi. Pada Tabel 2 ditampilkan kebutuhan ternak non-ruminansia akan Ca dan P pada
berbagai status fisiologi.
Tabel 7.1. Kebutuhan Ca dan P pada Berbagai fase hidup Ternak Non-ruminansia
Mineral dalam Total Ransum
Berat badan (Kg)
Ca P
5 - 10 0,8 0,6
10 - 20 0,65 0,5
20 - 35 0,65 0,5
35 - 60 0, 50 0,4
60 - 100 1 0,50 1 0,4
Non-ruminansia dara dan Induk 1 0,75 1 0,5
Non-ruminansia laktasi dan pejantan 0,75 0,5

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia3


Fungsi utama kalsium adalah membangun tulang dan geligi, serta memelihara tulang. Fungsi
yang lain adalah :
Pembekuan darah, kontraksi dan relaksasi otot (terutama denyut jantung), transmisi syaraf ,
permeabilitas dinding sel, aktivator atau pengaktif enzim, sekresi beberapa hormon dan faktor
pelepas hormon, produksi air susu.
Apabila defisiensi kalsium tulang geligi ternak muda pertumbuhannya terganggu, kualitas
tulang dan gigi tidak baik, rakhitis, osteomalasia, osteoporosis, produksi air susu turun, timbul
batu ginjal dan kekejangan. Bila penyerapan berlebihan dapat menyebabkan pengapuran ginjal.
Usus halus bertindak sebagai pengatur penyerapan Ca sesuai kebutuhan. Setelah diserap
Ca terbanyak disimpan dalam tulang, terutama di spons tulang, dan dapat dikeluarkan apabila
dibutuhkan.
Fosfor yang diserap dari dalam usus disirkulasikan ke seluruh tubuh dan dikembalikan oleh
darah untuk pembentukan tulang dan gigi. Fosfor dapat ditarik lagi dari tulang untuk
mempertahankan level fosfor dalam plasma yang normal selama apabila terjadi kekurangan dari
makanan.
Calsium Untuk Unggas

Calsium (Ca) merupakan mineral yang sangat dibutuhkan bagi unggas. Mineral ini banyak
ditemukan pada tepung ikan, tepung tulang, meat bone meal namun untuk kelengkapanya
digunakan juga mineral tambahan buatan pabrik untuk menjaga kebutuhan mineral yang
seimbang dan proporsional

Kebutuhan kalsium dan fosfor pada ayam broiler masa awal masing-masing adalah 1% dan
0,45% dari ransum. Sedangkan kebutuhan kalsium dan fosfor broiler periode finisher , masing-
masing adalah 0,85% dan 0,4% dari ransum.

Kebutuhan kalsium dan fosfor untuk anak ayam petelur masing-masing adalah 0,9% dan
0,7% dari ransum. Untuk ayam petelur masa produksi kebutuhan kalsium dan fosfor masing-
masing adalah 3,25% dan 0,5% dari ransum
Kebutuhan mineral oleh ayam sangat berbeda beda menurut jenis dan umur ayam. Untuk
kebutuhan kalsium untuk ternak dipengaruhi oleh:

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia4


a. Tingkat produksi telur . Untuk ayam jenis petelur ayam yang sedang berproduksi lebih tinggi
akan membutuhkan kalsium lebih banyak daripada ayam yang berproduksi rendah bahkan untuk
jenis ayam yang tidak memproduksi telur.
b Ukuran ayam Ayam yang lebih besar mengkonsumsi ransum lebih banyak dan dengan
sendirinya berbeda pula konsumsi kalsiumnya.
c. Umur ayam Ayam yang lebih tua membutuhkan kalsium yang lebih banyak daripada ayam
yang umurnya lebih muda.
d. Kandungan energi metabolis ransum Ransum yang mengandung energi metabolis tinggi akan
mengurangi konsumsi ransum. Ini menunjukkan akan ada kekurangan nutrisi lainya yang
masuk ketubuh ayam termasuk kalsium
6.1.2. Natrium, Kalium dan Klor

Walaupun keberadaannya dalam jumlah kecil dalam tubuh, Natrium (Na) Kalium (K) dan
Klor (CI) merupakan 2 jenis mineral yang penting peranannya bagi tubuh. Selain sebagai mineral
pembentuk garam dapur bersama Cl (NaCI), Na sangat penting dalam proses difusi glukosa
dalam tubuh. Besama mineral Kalium (K) Na sangat besar peranannya untuk fungsi pompa Na+K
(Na+K pump) dalam mengatur difusi pasif glukosa dan air dalam sel tubuh. Sementara CI selain
sebagai pembentuk senyawa garam dapur, juga sebagai unsur utama pembentuk senyawa asani
kiorida (HCI) yang sangat dibutuhkan dalam inisiasi proses pencernaan protein yang dikenal
dengan proses'denaturasi': Persenyawaan antara Hidrogen (H+) dan Cl- menciptakan suasana
asam dalam lambung yang bersifat membunuh kuman/bakteri dalam digest shg tidak
menimbuikan penyakit pada temak. Karena merupakan unsur pembentuk garam maka sumber
utama kedua mineral tersebut adalah garam dapur.
Fungsi Na yang dikenal adalah sebagai Kation utama di dalam cairan ekstrasel, mengatur volume
plasma, keseimbangan asam-basa, fungsi saraf dan otot, serta pembentuk enzim Na+/ K+-
ATPase.
Metabolisme Na sepenuhnya diatu r oleh hormon aldosteron. Defisiensi Na dalam ransum
umumnya tidak pernah terjadi tapi dapat terjadi pada keadaan abnormal, yakni penyakit addison
yakni suatu penyakit dimana fungsi adrenal dan aldosteron tidak ada.
Apabila konsentrasi Na rendah menimbulkan angiotensin dalam darah ekskresi
aldosteron dari korteks adrenal yang selanjutnya meningkatkan resorpsi Na+ oleh ginjal
akibatnya terjadi peningkatan kehilalangan K melalui urin.

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia5


Fungsi utama K dalam tubuh adalah sebagai Kation utama didalam cairan intrasel; fungsi saraf
dan otot, Na+/K+- ATPase, keseimbangan asam basa. Metabolisme K dalam tubuh juga diatur
oleh hormon aldosteron.
Defisiensi K menimbulkan Hipokalemia yang menyebabkan diare, muntah, asiduria,
penyakit cushing, yakni kelebihan steroid.
Kelebihan K (Hiperkalemia) menyebabkan Kerusakan jaringan (infark myokard ) ataupun
kerusakan ginjal dan ulkus usus halus.
Fungsi utama Klor (klorida) adalah mengatur Keseimbangan cairan dan elektrolit, keseimbangan
asam basa, getah lambung, pergeseran klorida pada transpor HCO3 didalam eritrosit.
Penyakityg sering ditemukan adalah pada bayi yang mendapat susu formula bebas garam.
Kasus penyakit umumnya terjadi sekunder karena vomitus, terapi diuretik, penyakit ginjal.
Sumber utama Cl adalah garam dapur (NaCl).
6.1.3. Magenisum (Mg).

Mineral Mg dibutuhkan dalam jumlah lebih kecil dad Ca dan P, tetapi sangat penting
peranannya dalam proses metabolisme protein. Bersama Sulfur (S) Mg berperan dalam
menstabilkan basil metabolisme protein. Defisiensi mineral ini akan menirnhulkan gejaiagejala
seperti mats berkaca-kaca, gangguan syaraf, hypersensitive, ataksia, konsulasi dan pingsan.
Fungsi Mg adalah menstabilkan ATP dalam reaksi enzim yang membutuhkan ATP,
seperti: siklus Krebs,glikolisis, siklasi adenil,fosfatase, reaksi sintesis protein dan asam nukleat.
Juga berperan dalam transmisi dan aktivitas neuromuskular. Fungsi lain adalah mobilisasi
mineral tulang, hormon parathyroid, dan sebagai kofaktor enzim (kinase, dll). Mg erat hubungan
dengan mineral lain yang terlibat dalam metabolisme tulang atau jaringan lunak.
Defisiensi terjadi Mg sebagai akibat komplikasi penyakit lain melibatkan malabsorbsi
intestin dan menurunkan fungsi ginjal serta karena rendah kadar Ca2+ dan K+ dalam
plasma.
Gejala :kekurangan Mg adalah tetani yang dapat dierapi dengan garam Magnesium
peroral atau perinjeksi. Gejala tosisitasnya adalah penekanan refleks tendo profunda dan depresi
respirasi Penyakit yang timbul terjadi sekunder karena malabsorpsi atau diare, alkoholisme.
Magnesium dari makanan sekitar 30-50% diserap di usus halus. Penyerapan Mg,
terhambat oleh konsumsi tinggi Ca, posphat, asam organik, asam fitat dan asam lemak yang sulit
dicerna. Kelebihan Mg diekskresikan lewat urine.

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia6


6.1.4. Sulfur (S)

Secara unsur, mineral sulfur beracun bagi ternak. Dalam jumlah besar mineral ini menjadi
racun yang mematikan. Akan tetapi, dalam konsentrasi yang sesuai unsur ini menjadi salah satu
penyusun senyawa (gugus samping) bebesapa asam amino, yakni jenis asam amino yang
memiliki gugus samping sulfur (sulphuric amino acids).

Fungsi Sulfur
Sulfur mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai komponen asam amino yang mengandung sulfur, yaitu metionin, sistin dan sistein
2. Komponen biotin, penting dalam metabolisme lemak
3. Komponen tiamin dan insulin, dalam metabolisme karbohidrat
4. Komponen karbohidrat kompleks tertentu
5. Pengubah bahan toksik menjadi tidak toksik
6. Komponen utama, bulu, rambut dan kuku.
Sewaktu pencernaan makanan asam amino yang mengandung sulfur dipisahkan dari protein
dan dibawa ke sirkulasi portal. Sulfur disimpan dalam setiap sel tubuh dan konsentrasi tertinggi
terdapat pada rambut, kulit, kuku dan tanduk. Sulfur sisa diekskresikan lewat feses dan urin.
Kegiatan Belajar 2.
6.2. Mineral Essensial Mikro

Uraian

6.2.1. Besi (Fe)

Tubuh hanya mengandung sekitar 0,004% besi, diantaranya 70% ada di hemoglobin,
pigmen sel darah merah atau erytrocyte mengandung besi yang mengangkut oksigen. Sisanya
30% terdapat dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Besi merupakan unsur dasar kehidupan,
karena merupakan komponen hemoglobin dan myoglobin, pelbagai enzim, sitokrom, katalase
dan peroksidase.

Penyerapan besi terbanyak terjadi pada duodenum, jejenum, sebagian kecil di daerah
lambung, dan bagian usus halus lainnya. Ada dua bentuk besi dalam makanan yaitu heme

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia7


(organik) dan non-heme (an-organik). Bentuk heme lebih mudah diserap dari makanan
dibanding non-heme.

Besi mempunyai fungsi membentuk hemoglobin bersama-sama protein. Besi


mentransport oksigen ke semua sel jaringan seluruh tubuh. Myoglobin terdapat dalam otot
mengandung besi yang berfungsi sama dengan hemoglobin.

Metabolisme Fe;

Ferritin dalam mukosa usus, mengantarkan Fe dalam status ferro (Fe ++) ke dalam sistem
portal darah. Di situ Fe dirubah kembali ke status Ferri (Fe +++) melalui oksidasi. Dalam bentuk
ferri ia bergabung dengan protein (transferrin) membentuk suatu kombinasi yang dikenal
dengan transferritin. Dalam bentuk transferritin ini, besi diangkut ke sumsum tulang dan disana
dipersatukan menjadi molekul hemoglobin yang baru disintesis, atau disimpan dalam hati, limpa
dan sumsum tulang.

6.2.2. Tembaga (Cu)

Cu bersama-sama Fe berkecimpung dalam pembentukan hemoglobin. Fungsi lain adalah

1. Memudahkan penyerapan Fe dari saluran pencernaan dan melepaskannya dari


penyimpanan dari hati

2. Essensial untuk pembentukan hemoglobin, meskipun bukan merupakan bagian dari


hemoglobin.

3. Komponen belbagai sistem enzim

4. Untuk pertmbuhan dan pemeliharaan struktur sendi., pembuluh darah, tendon dan tulang

5. Untuk tugas dan struktur syaraf sentral dan pigmen rambut

6. Komponen protein yang mengandung tembaga

7. Penting untuk reproduksi dan fertilitas

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia8


6.2.3. Cobalt (Co);

Cobalt adalah suatu unsur komponen essensial dari vitamin B12 dan belum ada fungsi
lain yang diketahui dalam makanan. Sebagai komponen vitamin B 12 Cobalt membutuhkan faktor
instrinsik, suatu senyawa yang disekresikan lambung untuk penyerapan. Jika faktor tersebut
tidak ada, maka defisiensi vitamin B12 akan terjadi. Oleh karena Co diekskresikan dari tubuh
melalui empedu, maka unsur tersebut d

Pat diserap kembali untuk meminimalkan kehilangan Co dri tubuh. Co yang berlebih akan
diekskresikan lewat urin.

6.2.4. Selenium (Se)

Dibutuhkan oleh tubuh ternak sangat sedikit sekali, namun essensial . Selenium dalam
jumlah cukup, berfungsi / memegang kunci untuk mempertahankan kesehatan ketika mengalami
stress. Seperti kelahiran prematur, malnutrisi protein-energi dan kelaianan jaringan tubuh oleh
umur tua.

Selenium yang dimakan, diserap di dalam usus halus terutama di duodenum, kemudian
terikat dengan sejenis protein dan diangkut oleh darah ke jaringan tubuh. Bergabung dengan
protein jaringan dalam bentuk selenocystein dan selenomethionine Ekskresi selenium terutama
melalui ginjal dan sebagian kecil mmelalui feses dan keringat.

6.2.5. Zink (seng)

Seng adalah unsur essensial bagi ternak. Terbanyak ada pada kulit (20%), sisanya
menyebar di rambut, kuku dan tanduk dan mata. Hanya sedikit terdapat dalam hati, tulang dan
darah.

Fungsi lainnya sebagai komponen pelbagai enzim, yang berkecimpung di dalam


metabolisme dan pernafasan, mengalihkan karbon dioksida dalam sel darah merah, untuk
kalsifikasi tulang, metabolisme dan sintesis protein dan asam-asam nukleat, perkembangan dan
fungsi alat reproduksi. Dan sebagai bahan penyubur rambut atau bulu.

Setelah Zink diserap dlam usus halus, ia bergabung dengan protein plasma untuk
diangkut ke jaringan tubuh. Sebagian besar Zink dideposit dalam tulang, namun tidak
dimobilisir seperti unsur lainnya.

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia9


6.2.6. Mangan (Mn)

Essensial bagi ternak. Merupakan activator pelbagai system enzim yang berlangsung
dalam metabolisme protein dan karbohidrat. Fungsi lainnya adalah berperan dalam
pembentukan tulang dan pertumbuhan jaringan pengikat, pembentukan darah, kerja insulin,
sintesis kholesterol.

Setelah diserap, mangan tidak terikat kuat dengan protein dan diangkut dalam bentuk
transmanganin. Tempat penyimpanan Mn terbanyak dalam tulang dan makin kurang dalam hati,
otot dan kulit.

6.2.7. Molybdenum (Mo)

Mo diperlukan dalam jumlah sedikit, yang berperan dalam 3 sistem yang berbeda yaitu
dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein, asa-asam amino mengandung sulfur, asam-asam
nukleal dan besi.. Komponen Xanthine oxidase, suatu enzim yang essensial dalam pembentukan
asam urat. Mo juga merupakan komponen email gigi.

6.2.8..Fluorin (F);

Florin adalah halogen dengan atom yang paling kecil dan sangat beracun , dan dianggap
unsur yang paling aktif sehingga molekulnya dapat bersatu dengan apa saja. Dalam jumlah
sangat sedikit F dibutuhkan dalam pembentukan tulang dan gigi menjadi kuat. Tetapi bila
berlebih tulang menjadi porous dan lunak.

6.3. Metabolisme Mineral dalam Tubuh Ternak Non Ruminansia

Secara umum, mekanisme metabolisme dan penyerapan mineral adalah sama pada semua
jenis ternak. Elemen mineral umumnya diserap oleh tubuh dari saluran pencernaan balk secara
aktif maupun secara pasif. Absorbi secara aktif berlangsung dengan cara mineral yang bersumber
dari digesta, dipompa oleh dinding usus dalam saluran pencernaan kedalam se!-sel intestinal.
Mineral-mineral yang mengalami absorbsi aktif meliputi Ca, P dan Na. Sedangkan, kebanyakan
dari mineral-mineral lainnya mengalami penyerapan secara pasif. Mineral tersebut mengalami
difusi dari digesta menebus dinding usus halus secara teratur oleh penimbunan mineral baik
dalam digesta maupun sel-sel mukosa usus. Oleh karena itu, penyerapan secara pasif akan
berpengaruh pada konsentrasi dari mineral dalam ransum dan juga yang ada pada tubuh sehingga
memberi dampak pada banyaknya mineral terabsorbsi.

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia10


Mineral-mineral akan diabsorbsi pertama-tama dalam bentuk ion. Bahan digesta yang
mengandung ikatan mineral seperti phytat, oksalat dan lemak adalah komponen yang dapat
mengikat mineral sehingga dapat menurunkan penyerapannya. Sementara, faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi penyerapan mineral adalah umur ternak, dimana ternak muda lebih efisien
menyerap mineral dibanding ternak tua. Selain itu bentuk mineral ( organik dan anorganik ) dan
pH saluran pencernaan akan mempengaruhi daya serap mineral.

Metabolisme Ca
Ca yang terserap akan memasuki aliran darah dan diangkut ke target organ yang meliputi otot
untuk kontraksi, tulang dan jaringan saraf. Keberadaan Ca dalam jaringan tulang adalah dalam
bentuk hydroksilapatit3Ca3 (PO4)2.Ca(OH)2, sementara pada jaringan saraf adalah bentuk dalam
bentuk Ca+. Hormon yang terlibat dalam proses penyerapan dan metabolism Ca adalah hormon
paratiroid dan calsitonin. Secara singkat proses penyerapan dan transportasi Ca dalam tubuh
seperti pada ilustrasi 7.1.

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia11


Ilustrasi 7.1. Proses penyerapan dan transportasi Ca dan aktivitas vitamin D (diambil dari Rusdiana, 2007.
p 16).

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia12


Metabolisme Na
Setelah memasuki peredaran darah Na akan diangkut ke jaringan tubuh target yang
selanjutnya Na yang tidak terpakai akan dibuang bersama urine yang sebelumnya mengalami
penyaringan setelah tiba didaerah ginjal. Proses metabolism Na dalam tubuh sepenuhnya
dibawah kontrol hormone aldosterone dan enzim Na+/ K+-ATPase. Proses metabolism Na secara
garis besar ditampilka pada ilustrasi 2.

Ilustrasi 7.2. Proses metabolisme Na dalam tubuh (dikutip dari Rusdiana, 2007, p. 18 )
PENUTUP
Rangkuman

Selain air, protein, energi , lemak dan vitamin, mineral sangat penting ternak non-ruminansia
seperti umumnya ternak.. Hal itu dapat dilihat dari peranannya dalam mendukung
pembentukan jaringan otot, tulang dan gigi, serta proses metabolime nutrisi sehingga mineral
dapat di sejajarkan peranannya dengan zat-zat makanan lainnya. Oleh karena itu perlu
mendapat perhatian dalam upaya meningkatkan produktivitas ternak.
Fungsi mineral dalam tubuh selain pembentukan otot, tulang dan gizi adalah :

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia13


1. menjaga keseimbangan asam-bass yang tepat dalam cairan tubuh ;
2. mempertahankan tekanan osmotik sellular dalam mengangkut zat-zat makanan
3. mempertahankan kondisi enzim-enzim pencernaan
4. mempertahankan kontraksi urat daging, jantung dan syaraf secara normal
5. mencegah kekejangan dan
6. membantu bekerjanya vitamin dalam pembentukan tulang
7. membantu proses metabolisme protein

Dari berbagai mineral yang dibutuhkan tubuh, mineral Ca, P, Mg, Na, K CI dan S yang perannya
sangat signifikan bagi tubuh ternak non-ruminansia.
Secara umum, mekanisme metabolisme dan penyerapan mineral adalah sama ada semua jenis
ternak. Mineral umumnya diserap oleh tubuh dari saluran pencernaan secara aktif dan secara
pasif. Absorbi secara aktif berlangsung dengan cara mineral dipompa oleh dinding usus kedalam
sel-sel intestinal. Mineral-mineral yang diabsorbsi aktif adalah Ca, P dan Na. Sedangkan
sebagaian besar mineral-mineral lainnya diabsorbsi secara pasif. Mineral seara difusi menebus
dinding usus halus secara teratur melalui penimbunan mineral dalam digesta maupun sel-sel
mukosa usus. Karena itu penyerapan secara pasif akan berpengaruh pada konsentrasi dari
mineral dalam ransum dan juga pada tubuh sehingga memberi dampak pada banyaknya mineral
terabsorbsi. Mineral-mineral akan diabsorbsi pertama-tama dalam bentuk ion.

Tetapi peranan mineral sangat penting bagi tubuh, seperti pembentukan tulang dan jaringan otot,
konstraksi otot, sayaraf, mengatur keseimbangan cairan tubuh serta menjadi kofaktor dalam
pembentukan enazim dan hormon dalam tubuh. Aktivitas beberapa mineral seperti Ca sangat
berhubugan dengan kerja vitamin seperti vitamin D.
Proses metabolism mineral dalam tubuh pada umumnya melalui aliran darah dan cairan inra-
ekstra seluler, dimana sebagian mineral belum diketahui dengan jelas proses metabolismenya
dalam tubuh.
Kekurangan mineral dalam tubuh selain menimbulkan penyakit langsung, juga dapat
mengganggu keberadaan dan daya kerja mineral lainnya sehingga dapat menimbulkan penyakit
sekunder.

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia14


Test Formatif
1. Untuk mencapai keseimbangan Ca dan P ransum, ada 3 hal penting untuk diketahui
KECUALI:
a. Ca dan P cukup terpenuhi dalam ransum

b. Ca dan P harus terjaga perbandingannya dan

c. Vitamin D harus tersedia cukup.

d. Vitamin A harus tersdia cukup


2. Fungsi mineral dalam tubuh selain pembentukan otot, tulang dan gizi adalah kecuali :
a.menjaga keseimbangan asam-basa yang tepat dalam cairan tubuh ;
b.mempertahankan tekanan osmotik sellular dalam mengangkut zat-zat makanan
c.mempertahankan kondisi enzim-enzim pencernaan
d.menjaga keseimbangan asam amino dalam darah
3. Fungsi Mangan dalam tubuh ternak kecuali
a. Merupakan activator pelbagai system enzim yang berlangsung dalam metabolisme
protein dan karbohidrat.
b. berperan dalam pembentukan tulang dan
c. berperan dalam pertumbuhan jaringan pengikat,
d. berperan dalam sisntesis asam amino

4. Fungsi Sulfur; sulfur mempunyai fungsi sebagai berikut kecuali:


a.Sebagai komponen asam amino yang mengandung sulfur, yaitu metionin, sistin dan
sistein
b. Sebagai komponen asam amino yang mengandung sulfur, yaitu leusin dan isoleusin
c. Komponen biotin, penting dalam metabolisme lemak
d.Komponen tiamin dan insulin, dalam metabolisme karbohidrat
5. Fungsi Calsium adalah kecuali
a.membangun tulang dan geligi, serta memelihara tulang. :
b.Pembekuan darah, kontraksi dan relaksasi otot (terutama denyut jantung),
c.berperan dalam transmisi syaraf , permeabilitas dinding sel, aktivator atau pengaktif
enzim,
d.berperan dalam sintesis asam amino

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia15


Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Cocokkanlah jawaban anda dengan kunci jawabab test formatif yang terdapat pada bagian akhir
dari modul i ni dan hitunglah berapa jawaban anda yang benar
Rumus :
Jumlah jawaban yang benar
Tingkat Penguasaan = _________________________________ x 100 %
5

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :


90- 100 % = baik sekali
80- 89 % = baik
70 - 79 % = sedang
-69 % = kurang
Kalau anda mencapai tingkat penguasaan 89 % keatas, anda dapat melanjutkan dengan
kegiatan belajar . Bagus, tetapi kalau tingkat penguasaan anda masih dibawah 80 %, anda harus
mempelajari terutama bagian yang anda belum kuasai

DAFTAR PUSTAKA
Cunha, T.J. 1977. Animal Feeding and Nutrition. Academic Press New York. Hal. 35 – 36

Church, D. C., W.G. Pond. 1974. Basic Animal Nutrition and Feeding. Third Edition. United
States of America. Hal 27 – 49.

Duke, H. H. 1957. The Physiology of Domistic Animal. Comstock Publishing Association,


New York

Frandson, R. D. 1981. Anatomy and Physiologi of Farm Animals. The Inited States of America.
Hal 13 – 25

Harper, Harold A., Rodwell, Victor, W., Meyes, Peter, A. 1979. Review of Physiological
Chemistry. 17th edition, lange Medical Publications, Los Altos California
.
Kustono, 1992. Fisiologi Ternak Dasar. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada

Mataram, B. 1981. Fisiologi Pencernaan. Bagian Fisiologi, Fakultas Kedokteran hewan dan
Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar.

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia16


Parakkasi, A. 1980. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik Vo 1b. Penerbit UI Press.
Hal.160-173

Sihombing, D. T. H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada. University Press. Hal. 160-173.

Surisdiarto dan Koentjo. 1999. Ilmu Makanan Ternak Khusus. Buku 1 : Ternak Babi. Jurusan
Nutrisi dan Makanan Ternak. NUFFIC- Universitas Brawijaya – Malang. Hal 8-15.

Swenson,. M. J. 1997. Digestion, Absorption and Metabolism. Dukes Physiology of Domistic


Animal. Comstok Publishing Addociates. Ithaca, London

Zulbardi Muhammad (2011) Meneliti komposisi mineral pada pakan unggas yang lebih baik dan
efisien . Majalah TROBOS Edisi Februari

SENARAI
Absorbsi : proses penyerapan
Bulky : pengisi atau memenuhi ruang
sulphuric amino acids : Asam amino yang mengandung sulfur .

Ilmu Nutrisi Unggas dan Non Ruminansia17