Anda di halaman 1dari 169

BAB I

Anjuran Untuk Menikah

A. Pendahuluan

Nikah atau perkawinan adalah sunnatullah pada


hamba-hamba-Nya, serta sunnah Nabi Muhammad SAW.
Dengan perkawinan Allah menghendaki agar mereka
mengemudikan bahtera kehidupan dengan penuh
kedamaian.
Manusia dianjurkan untuk menikah karena menikah
itu menjaga pandangan mata yang salah dan melindungi
syahwat.

Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada


umatnya untuk menikah dan beliau sangat menyukainya,
beliau bersabda:

‫ﻋَﻦْ َﻋ ْﺒ ِﺪ َا ِ ْﻦِ ﻣ َْﺴﻌُﻮ ٍد رﴈ ﷲ ﻋﻨﻪ ﻗَﺎ َل ﻟَﻨَﺎ رَﺳُ ﻮلُ َا ِ ﺻﲆ ﷲ‬


، ْ‫ْﴩ اَﻟﺸ ﺒ َِﺎب ! ﻣَﻦِ اﺳْ ﺘَﻄَ ﺎ َع ِﻣ ُ ُْﲂ َاﻟْﺒَﺎ َء َة ﻓَﻠْﯿ ََﱱَو ج‬ َ َ ‫ﻠﯿﻪ وﺳﲅ ) َ َﻣﻌ‬
‫ ﻓَﺎﻧ ُﻪ‬،‫وَ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ َْﺴ ﺘَﻄِ ْﻊ ﻓَ َﻌﻠَ ْﯿ ِﻪ ِ ﻟﺼ ﻮْ ِم‬،ِ‫ﺣْﺼﻦُ ِﻠْﻔَﺮْ ج‬
َ َ‫ و‬،‫َﴫ‬ ِ َ ‫ﻓَﺎﻧ ُﻪ ﻏَﺾ ِﻠْﺒ‬
.‫َ ُ ِو َﺎ ٌء ( ُﻣ ﻔَﻖٌ َﻠَ ْﯿ ِﻪ‬
Artinya : “Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu
berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi
muda, barangsiapa di antara kamu telah
mampu berkeluarga hendaknya ia kawin,

Fiqih Munakahat 1
karena ia dapat menundukkan pandangan dan
memelihara kemaluan. Barangsiapa belum
mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat
mengendalikanmu." (Muttafaq Alaihi).1

Menurut pandangan Islam, di samping perkawinan


itu sebagai perbuatan ibadah, ia juga merupakan
sunnatullah dan sunnah Rasul. Sunnatullah, berarti:
menurut qodrat dan iradat Allah dalam penciptaan alam ini,
sedangkan sunnah Rasul berarti suatu tradisi yang telah
ditetapkan oleh rasul untuk dirinya sendiri dan untuk
umatnya.2

Oleh karena itu maka nikah atau perkawinan adalah


sunnatullah pada hamba-hamba-Nya. Dengan perkawinan
Allah menghendaki agar mereka mengemudikan bahtera
kehidupan.
Sunnatullah yang berupa perkawinan ini tidak hanya
berlaku di kalangan manusia saja, tapi juga didunia
binatang. Allah SWT berfirman dalam surat Adz-Dzariyat
ayat 49 :

۞ َ‫َﻠﲂ ﺗَﺬَ ﻛﺮُ ون‬


ْ ُ ‫ﳾ ٍء َ ﻠَ ْﻘ َﺎ زَوْ ْ َِﲔ ﻟَﻌ‬
َْ ‫ﰻ‬
ِّ ُ ْ‫وَ ﻣِﻦ‬
Artinya : “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-
pasangan supaya kamu mengingat kebesaran
Allah.”

1
Saleh al-Fauzan, Fiqih Sehari-Hari, (Jakarta: Gema Insani
Press, 2005), h. 636
2
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia,
(Jakarta: Kencana, 2011), h. 41
2 Fiqih Munakahat
Namun demikian, Allah SWT tidak menghendaki
perkembangan dunia berjalan sekehendaknya.Oleh sebab
itu diatur-Nyalah naluri apapun yang ada pada manusia dan
dibuatkan untuknya prinsip-prinsip dan undang-undang,
sehingga kemanusiaan manusia tetap utuh, bahkan semakin
baik, suci dan bersih. Segala sesuatu yang ada pada jiwa
manusia sebenarnya tidak satupun pernah lepas dari
bimbingan dan campur tangan Allah SWT.
Allah SWT menganjurkan untuk menikah dalam
firman-Nya surat An-Nahl ayat72 :

‫وَا ُ َﺟ َﻌ َﻞ ﻟ ُ َْﲂ ﻣِﻦْ ﻧْﻔ ُِﺴ ُ ْﲂ زْوَ ا ًﺎ وَ َﺟ َﻌ َﻞ ﻟ ُ َْﲂ ﻣِﻦْ زْوَ اﺟِ ُ ْﲂ ﺑَﻨِﲔَ وَ َﺣﻔَﺪَ ًة‬
.... ۚ ‫َﺎت‬
ِ ‫وَرَ زَ ﻗ ُ َْﲂ ﻣِﻦَ اﻟﻄ ِ ّﯿﺒ‬
Artinya : “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis
kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-
isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan
memberimu rezeki dari yang baik-baik...”3

Berdasarkan hadis-hadis Rasul:

‫ﻋَﻦْ َﻋ ْﺒ ِﺪ َا ِ ْﻦِ ﻣ َْﺴﻌُﻮ ٍد رﴈ ﷲ ﻋﻨﻪ ﻗَﺎ َل ﻟَﻨَﺎ رَﺳُ ﻮلُ َا ِ ﺻﲆ ﷲ‬


، ْ‫ْﴩ اَﻟﺸ ﺒ َِﺎب ! ﻣَﻦِ اﺳْ ﺘَﻄَ ﺎ َع ِﻣ ُ ُْﲂ َاﻟْﺒَﺎ َء َة ﻓَﻠْﯿ ََﱱَو ج‬ َ َ ‫ﻠﯿﻪ وﺳﲅ ) َ َﻣﻌ‬
،‫ وَ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ َْﺴ ﺘَﻄِ ْﻊ ﻓَ َﻌﻠَ ْﯿ ِﻪ ِ ﻟﺼ ﻮْ ِم‬،ِ‫ﺣْﺼﻦُ ِﻠْﻔَﺮْ ج‬ َ َ‫ و‬،‫َﴫ‬ ِ َ ‫ﻓَﺎﻧ ُﻪ ﻏَﺾ ِﻠْﺒ‬
.‫ﻓَﺎﻧ ُﻪ َ ُ ِو َﺎ ٌء ( ُﻣ ﻔَﻖٌ َﻠَ ْﯿ ِﻪ‬
3
Ibrahim muhammad al-jamal, Fiqih Wanita, (Jakarta: Amzah
2012).h. 358-359
Fiqih Munakahat 3
Artinya : “Abdullah Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu
berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda pada kami: "Wahai generasi
muda, barangsiapa di antara kamu telah
mampu berkeluarga hendaknya ia kawin,
karena ia dapat menundukkan pandangan dan
memelihara kemaluan. Barangsiapa belum
mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat
mengendalikanmu." (Muttafaq Alaihi. No.993)

‫ وَ َﳯْ َﻰ ﻋَﻦِ اﻟﺘ َ ﻞِ ﳖَ ْﯿًﺎ‬،‫ ) ﰷَ نَ رَﺳُ ﻮلُ َا ِ ﷺ ﯾ َ ﻣُﺮُ ِ ﻟْﺒَﺎ َء ِة‬: ‫وَ َﻋ ْﻨ ُﻪ ﻗَﺎ َل‬
‫ َﺰَ و ُﺟﻮا َاﻟْﻮَ دُو َد َاﻟْﻮَ ﻟُﻮ َد ِ ّاﱐ ﻣُﲀَ ِﺮٌ ُ ُِﲂ َا ْ ﻧْ ِ َﺎ َء ﯾ َﻮْ َم‬: ُ‫وَ ﯾَﻘُﻮل‬،‫ﺷَ ﺪِﯾﺪً ا‬
. َ‫وَﲱ َ ُﻪ ِا ْﻦُ ِﺣ ﺎن‬ َ ، ُ‫َاﻟْ ِﻘ َﺎ َﻣ ِﺔ ( رَوَ ا ُﻩ ْﲪَﺪ‬
Artinya : “Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata:
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
memerintahkan kami berkeluarga dan sangat
melarang kami membujang. Beliau bersabda:
"Nikahilah perempuan yang subur dan
penyayang, sebab dengan jumlahmu yang
banyak aku akan berbangga di hadapan para
Nabi pada hari kiamat." (Riwayat Ahmad. Hadits
shahih menurut Ibnu Hibban. No.995)

4 Fiqih Munakahat
‫ وَ ﺛ َْﲎ‬، َ ‫وَ ﻋَﻦْ َِﺲ ْﻦِ ﻣَﺎ ِ ٍ رﴈ ﷲ ﻋﻨﻪ ) ن ا َِﻟﻨﱯ ﷺ َﲪِﺪَ َا‬
،‫ وَ َﺰَ و جُ اَﻟ ِّﺴَ ﺎ َء‬. ُ‫ وَ ُﺻﻮ ُم وَ ﻓْﻄِ ﺮ‬،‫ ﻟَﻜ ِ ِّﲏ َ ﺻَ ِ ّﲇ وَ َ ُم‬: ‫ وَ ﻗَﺎ َل‬،‫َﻠَ ْﯿ ِﻪ‬
‫ﻓَﻤَﻦْ رَ ﻏِﺐَ ﻋَﻦْ ﺳُ ِﱵ ﻓَﻠَ َْﺲ ﻣ ِ ِّﲏ ( ُﻣ ﻔَﻖٌ َﻠَ ْﯿ ِﻪ‬
Artinya : “Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa
Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setelah
memuji Allah dan menyanjung-Nya bersabda:
“Tetapi aku sholat, tidur, berpuasa, berbuka,
dan mengawini perempuan. Barangsiapa
membenci sunnahku, ia tidak termasuk
ummatku." (Muttafaq Alaihi. No.994)4

Menurut riwayat lain: “Dari Sa’id Hilal Al-Laitsy,


menikahlah kamu sekalian agar menjadi banyak, karna aku
akan bangga umat ku lebih banyak dari yang terdahulu
dengan alasan alquran dan hadits rasul tersebut ternyata
bahwa manusia itu dianjurkan untuk menikah. Karena
menikah itu menjaga pandangan mata yang salah dan
melindungi syahwat.5

Dari berbagai definisi diatas maka dapat dipahami


bahwa pernikahan itu adalah sunatullah yang berarti:
menurut qodrat dan iradat Allah dalam penciptaan alam ini,
tidak ada ciptaan Allah yang tidak berpasangan begitu juga
hambanya laki-laki berpasangan dengan prempuan, itu

4
Dani Hidayat, Kompilasi Bulugul Maram Min Adillatil Ahkam,
( Tasikmalaya: Pustaka Al-Hidayah, 2008) No. 994
5
Muhammad idris ramulyo, Hukum Perkawinan
Islam,(Jakarta:Bumi Aksara 2002). h. 11-13
Fiqih Munakahat 5
semua agar manusia mendapatkan ketenteraman dalam
hidupnya, disisilain bahwa pernikahan juga sunnah Rasul
berarti suatu tradisi yang telah ditetapkan oleh rasul untuk
dirinya sendiri dan untuk umatnya.

6 Fiqih Munakahat
B. Sunnah Para Nabi Dan Rasul

Kalau ada orang yang paling tinggi derajatnya di sisi


Allah, mereka tentulah bukan para pendeta atau biksu yang
hidupnya membujang dan menjauhi hidup berumah
tangga.Kalau ada orang yang dijamin pasti masuk surga
setelah terjadi hari kiamat nanti, pastilah mereka adalah
para nabi dan rasul yang mulia. Para pendeta dan biksu
hanya mengklaim diri mereka sebagai orang suci, tetapi di
sisi Allah sebagai Tuhan yang menetapkan tata cara
beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya, para pendeta
dan biksu yang tidak menikah itu bukan orang yang dekat
dengan diri-Nya. Orang-orang terdekat yang langsung
menerima wahyu dari Allah SWT tidak lain hanyalah para
nabi dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang resmi
menjadi pembawa wahyu dari langit.Dan para nabi serta
rasul itu seluruhnya hidup normal dengan menikahi wanita,
berumah tangga dan punya anak serta keturunan.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT surat Ar-Ra’d


ayat 38:

ٍ‫وَ ﻟَﻘَﺪْ رْﺳَ ﻠْﻨَﺎ رُﺳُ ًﻼ ﻣِﻦْ ﻗَ ْ ِ َ وَ َﺟ َﻌﻠْﻨَﺎ ﻟَﻬُﻢْ زْوَ ا ًﺎ وَ ذ ُّرِﯾ ًﺔ ۚ وَ ﻣَﺎ ﰷَ نَ ﻟِﺮَﺳُ ﻮل‬
۞ ٌ‫ِﲁ َﻞٍ ِﻛﺘَﺎب‬ ِّ ُ ‫نْ ﯾ َ ِ َﰐ ِﺑ ٓﯾ َ ٍﺔ اﻻ ِ ذْنِ ا ِ ۗ ﻟ‬
Artinya : “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus
beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami
memberikan kepada mereka isteri-isteri dan
keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang
Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat)

Fiqih Munakahat 7
melainkan dengan izin Allah.Bagi tiap-tiap
masa ada Kitab (yang tertentu).”
(QS. Ar-Ra'd:38)

Dan di dalam hadits nabi SAW disebutkan bahwa


menikah itu bagian dari sunnah para Nabi dan Rasul.6

Dalam hadits juga dijelaskan, yang artinya:

“Anas Ibn Malik berkata: Datang tiga golongan kerumah


istri-istri Nabi SAW ketika diterangkan kepada mereka
seakan-akan mereka menganggapnya terlalu sedikit,
mereka berkata: “Jadi di mana kami dibandingkan dengan
Nabi SAW padahal beliau telah diampuni dosa-dosa beliau
yang terdahulu dan yang akan datang” salah satu dari
mereka berkata: “ sedangkan aku shalat malam terus
menerus” yang lain berkata “Aku berpuasa sepanjang tahun
dan tidak berbuka “ yang lain berkata: “Aku menjauhi
wanita dan tidak menikah selamanya “maka datanglah Nabi
SAW kepada mereka lalu berkata: Kalian yang berkata
begini dan begitu, Demi Allah sesungguhnya aku adalah
orang yang paling takut kepada Allah daripada kalian dan
lebih taqwa daripada kalian dihadapanNya akan tetapi aku
berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur dan aku
mengawini wanita, barang siapa yang membenci Sunnahku
maka ia bukan golonganku.” (HR. al-Bukhary pada kitab
Nikah Bab keinginan untuk menikah).

Lebih dari separuh dari masa kehidupan Rasulullah


SAW dilalui dengan didampingi istri. Terhitung sejak beliau

6
Ahmad Sarwat, Fikih Kehidupan,(Jakarta:Press, 2011), h. 32
8 Fiqih Munakahat
menikah pertama kali pada usia 25 tahun hingga menutup
usia di usia 63 tahun, selama 37 tahun beliau selalu
memiliki istri, kecuali beberapa bulan saja ketika beliau
menduda sepeninggal istri tercinta, Khadijah binti Khuwailid.

Dalam hidupnya, Rasulullah SAW bukan hanya


menikah sekali tetapi beberapa kali. Tercatat beliau pernah
menikah 11 orang wanita, mereka adalah Khadijah binti
Khuwailid, Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar,
Hafsah binti Umar bin Al-Khattab, Zainab binti Khuzaimah,
Ummu Salamah binti Abu Umayyah, Zainab binti Jahsyi,
Juwairiyah binti Al-Harits, Ramlah binti Abu Sufyan,
Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab, Maimunah binti Al-Harits.

Maka orang yang hidupnya tidak didampingi istri,


bukan karena alasan yang syar’i dan diterima dalam udzur,
berarti hidupnya tidak sejalan dengan sunnah Rasulullah
SAW.

Dan bila ketidak-menikahan itu diiringi dengan rasa


tidak suka atau membenci lembaga pernikahan, maka sikap
itu sudah termasuk membenci sunnah Nabi SAW.
Sebagaimana sabda beliau :

.‫اَﻟﻨّﲀَ حُ ﻣِﻦْ ﺳُ ِﱴ ﻓَﻤَﻦْ ﻟَﻢْ ﯾ َ ْﻌﻤَﻞْ ِﺴُ ِﱴ ﻓَﻠَ َْﺲ ﻣ ِّﲏ‬


Artinya : “Menikah itu bagian dari sunnahku, maka siapa
yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah
ia dari golonganku.” (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa hidup sendirian


tanpa nikah adalah perbuatan yang tidak dizinkan :
Fiqih Munakahat 9
.‫ﻟَﻘَﺪْ رَد رَﺳُ ﻮلُ ا ِ ََﲆ ُﻋﺜْﻤَﺎنَ ْﻦِ ﻣَﻈْ ﻌُﻮنٍ اﻟﺘ َ َﻞ وَ ﻟَﻮْ ذِنَ َ ُ ﻻ ْﺧ ََﺼ ْﯿﻨَﺎ‬
Artinya : “Sa’ad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW
menolak Usman bin Maz’unin membujang, dan
seandainya (Nabi) mengizinkan padanya
niscaya memperbolehkan.” (HR. Ibnu Majah).

C. Bagian Dari Tanda Kekuasaan Allah

Menikah adalah salah satu tanda dari sekian banyak


tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, sebagaimana firman
Allah dalam suratAn-Nahl ayat 72 di jelaskan:

َ‫وَا ُ َﺟ َﻌ َﻞ ﻟ ُ َْﲂ ﻣِﻦْ ﻧْﻔ ُِﺴ ُ ْﲂ زْوَ ا ًﺎ وَ َﺟ َﻌ َﻞ ﻟ ُ َْﲂ ﻣِﻦْ زْوَ اﺟِ ُ ْﲂ ﺑَﻨِﲔ‬
....ۚ ‫َﺎت‬
ِ ‫وَ َﺣﻔَﺪَ ًة وَرَ زَ ﻗ ُ َْﲂ ﻣِﻦَ اﻟﻄ ِ ّﯿﺒ‬
Artinya : “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis
kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-
isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan
memberimu rezeki dari yang baik-baik...”

D. Salah Satu Jalan Untuk Menjadi Kaya

‫وَ ْ ِﻜ ُﺤﻮا ا ْ َ ﻣَﻰٰ ِﻣ ُ ْْﲂ وَاﻟﺼ ﺎ ِﻟ ِﲔَ ﻣِﻦْ ِﻋﺒَﺎدِﰼُ ْ وَا ﻣَﺎ ُ ِْﲂ ۚ انْ َ ُﻜﻮﻧُﻮا ﻓُﻘَﺮَا َء‬
۞ ‫ﯾُﻐْﳯِ ِ ُﻢ ا ُ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْ ِ ِ ۗ وَا ُ وَاﺳِ ٌﻊ َ ِﻠ ٌﲓ‬
Artinya : “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian
diantara kamu, dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
10 Fiqih Munakahat
perempuan. Jika mereka miskin Allah akan
memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan
Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” (QS.An-Nuur: 21)

Seseorang menikah karna beberapa sebab :


1. karena mengharapkan harta benda
2. karena mengharapkan kebangsawanannya
3. karena melihat kecantikannya
4. karena melihat agama dan budi pekerti yang baik

Sabda Rasulullah SAW yang karena hartanya:

‫ﻣَﻦْ َ َﻜ َﻊ ْاﻟَﺮْ َة ِﻟﻤَﺎ ِﻟﻬَﺎ ﺣَﺰَ وَ ﷲ ﻣَﺎ ﻟَﻬَﺎ وَ ﲨَ َﺎ ﻟَﻬَﺎ وَ ﻣَﻦْ َ َﻜ َﻌﻬَﺎ رَزَ ﻗَ ُﻪ‬
.‫وَﲨَﺎ ﻟَﻬَﺎ‬
َ ‫ﷲ ﻣَﺎ ﻟَﻬَﺎ‬
Artinya : “Barang siapa menikahi seorang perempuan
karena hartanya, niscaya Allah akan
melenyapkan harta dan kecantikannya, dan
barang siapa yang menikah karena agamanya,
niscaya Allah akan memberi karunia kepadanya
dengan harta dan kecantikannya.” (Al-hadist)7

E. Ibadah dan Setengah dari Agama

Menikah itu memang kadang bisa menjadi bagian


dari agama seseorang, meskipun tidak merupakan jaminan
yang sifatnya pasti. Maksudnya bila seseorang sudah punya
istri, maka seharusnya dan idealnya sudah tidak lagi tergoda

7
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam (Bandung : Penerbit Sinar Baru
Algensindo, 2012),h. 376
Fiqih Munakahat 11
untuk melakukan zina. Karena apa yang dibutuhkannya
sudah tersedia secara halal di rumahnya, tanpa harus
terkena resiko biaya yang mahal atau terkena penyakit
kelamin.
Sebaliknya, laki-laki atau wanita dewasa yang sehat
lahir batin serta normal, bila tidak punya pasangan yang
sah, akan mudah sekali tergoda atau terjerumus ke dalam
lembah zina yang diharamkan.
Namun sekali lagi, untuk di masa sekarang ini,
menikah itu memang bukan jaminan yang bergaransi 100%
membuat orang tidak berzina.Buktinya, para lelaki hidung
belang yang rajin mengunjungi rumah bordil, umumnya
adalah laki-laki yang sudah punya istri.Entah kenapa, masih
lebih suka jajan di luar, seolah istri yang ada di rumah tidak
cukup.
Meski ada beberapa riwayat yang lemah, namun
hadits tentang menikah itu setengah dari agama punya
beberapa jalur sanad yang bisa diterima.

.‫ﻣَﻦْ َﺰَ و جَ ﻓَﻘَ ِﺪ اﺳْ ﺘَﳬْ َ َﻞ ﻧ ِْﺼ َﻒ اﻻ ﯾْﻤَﺎنِ ﻓَﻠْﯿَﺘﻖِ ﷲَ ﰲِ اﻟﻨّ ِْﺼ ِﻒ اﻟﺒ َِﺎﰶ‬
Artinya : “Siapa yang menikah maka sungguh dia telah
menyempurnakan setengah iman, maka
hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam
separuh yang tersisa.” (HR. Ath-Thabrani)

12 Fiqih Munakahat
.‫ا ذَا َﺰَ و جَ اﻟ َﻌﺒْﺪُ ﻓَﻘَﺪْ ﳈَ َﻞ ﻧ َْﺼ َﻒ ا ّ ِ ْﻦِ ﻓَﻠْﯿَﺘﻖِ ﷲَ ِﰲ اﻟﻨّ ِْﺼ ِﻒ اﻟﺒ َِﺎﰶ‬
Artinya : “Jika seseorang menikah, maka ia telah
menyempurnakan separuh agamanya.
Karenanya, bertakwalah pada Allah pada
separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi)

Dari Anas ra.bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang


artinya: "Orang yang diberi rizki oleh Allah SWT seorang istri
shalihah berarti telah dibantu oleh Allah SWT pada separuh
agamanya. Maka dia tinggal menyempurnakan separuh
sisanya.” (HR. Thabarani dan Al-Hakim)

F. Tidak Ada Pembujangan dalam Islam


Membujang artinya memutuskan diri dari perempuan
dan meninggalkan pernikahan. Perempuan yang
membujang adalah perempuan yang meninggalkan laki-laki,
tidak mempunyai keinginan kepada mereka, karenanya
perempuan ini disebut maryam, ibu al-masih Isa AS.

Membujang berarti seorang laki-laki yang


menyendiri. Ia menyendiri sebagai peniadaan
membujangnya dalam sebuah kamar. Jika ia tidak memiliki
keluarga disebut bujangan dan begitu pula dengan
perempuan yang membujang.
Ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Juair, Mujahid
berkata: “sejumlah laki-laki diantaranya Usman dan
Abdullah bin Amru, ingin hidup membujang, memfokuskan
dengan diri mereka, dan memakai pakaian yang kasar lalu
turunlah ayat Al-Maidah ayat 87-88 ini:

Fiqih Munakahat 13
‫َﺎت ﻣَﺎ َﻞ ا ُ ﻟ ُ َْﲂ وَ َﻻ ﺗَ ْﻌﺘَﺪُ وا ۚ ان‬ ِ ‫َ ﳞ َﺎ ا ِ ﻦَ ٓ َﻣ ُﻮا َﻻ ﲢُ ّ َِﺮ ُﻣﻮا ﻃَ ِ ّﯿﺒ‬
َ ‫ا َ َﻻ ﳛُ ِﺐ اﻟْ ُﻤ ْﻌﺘَ ِﺪ ﻦَ ۞ وَﳇُ ُﻮا ﻣِﻤﺎ رَزَ ﻗ ُ َُﲂ ا ُ ََﻼ ًﻻ ﻃَ ِ ّﯿﺒًﺎ ۚ وَاﺗ ُﻘﻮا ا‬
۞ َ‫ا ِي ﻧ ُ ْْﱲ ِﺑ ِﻪ ﻣُﺆْ ِﻣ ُﻮن‬
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah
halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu
melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas,
dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari
apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan
bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman
kepada-Nya.”8

Dalam hadits dijelaskan:

‫ٔرادا س ﻣﻦ ٔﲱﺎب راﺳﻮل ﷲ ﷺ ٔن ﺮﻓﻀﻮا ﻧﯿﺎ و‬


‫ ﻓﻘﺎل رﺳﻮل ﷲ ﷺ ﻓﻐﻠﻆ ﻓﳱﻢ ااﳌﻘﺎ ﰒ‬.‫ﯾﱰﻮااﻟ ﺴﺎء وﯾﱰﻫﺒﻮا‬
‫ﻗﺎل إﳕﺎ ﻫ ﻣﻦ ﰷن ﻗ ﻠﲂ اﻟ ﺸﺪﯾﺪ ﺷﺪّ دوا ﲇ ٔﻧﻔﺴﻬﻢ‬
‫ﻓﺸﺪّ دﷲ ﻠﳱﻢ ﻓ ٔوﻟﺌﻚ ﺑﻘﺎﳞﻢ ﰱ ٔد رواﻟﺼﺎواﻣﻊ ﻓﺎﻋﺒﺪﷲ‬
‫وﻻ ﴩ ﻮا ﺑﻪ وﲩﻮا واﻋﳣﺮوا واﺳﺘﻘﳰﻮا ﺴﺘﻘﻢ ﲂ ﻗﻞ و ﺰﻟﺖ‬
.‫ﻓﳱﻢ ﯾﺔ‬

8
Ali yusuf as-subki, Fiqih Keluarga, (Jakarta: Amzah,2010) h. 7
14 Fiqih Munakahat
Artinya : “Beberapa orang sahabat Nabi bermaksud akan
menjauhkan diri dari duniawi dan meninggalkan
perempuan (tidak kawin, dan tidak
menggaulinya) serta akan hidup membujang.
Maka Rasulullah SAW dengan nada marah
berkata: sesungguhnya orang-orang sebelum
kamu hancur lantaran keterlaluan, mereka
memperketat terhadap diri-diri mereka, oleh
karena itu Allah memperketat juga, mereka itu
akan tinggal di gereja dan kuil-kuil. Sembahlah
Allah dan jangan menyekutukan Dia, berhajilah,
berumrahlah dan berlaku luruslah kamu, maka
Allah akan meluruskan kepadamu.”9

Islam berpendirian tidak ada pelepasan kendali


gharizah seksual untuk dilepaskan tanpa batas dan tanpa
ikatan. Untuk itulah maka diharamkannya zina dan seluruh
yang membawa kepada perbuatan zina. Tetapi di balik itu
Islam juga menentang setiap perasaan yang bertentangan
dengan gharizah ini. Untuk itu maka dianjurkannya supaya
kawin dan melarang hidup membujang dan kebiri. Seorang
muslim tidakhalal menentang perkawinan dengan
anggapan, bahwa hidup membujang itu demi berbakti
kepada Allah, padahal dia mampu kawin; atau dengan
alasan supaya dapat seratus persen mencurahkan hidupnya
untuk beribadah dan memutuskan hubungan dengan
duniawinya.10

9
Abu Fathan, Assaduddin, Panduan Wanita Sholihah,
(Jakarta:Press,1992) h.22
10
Ahmad Sarwat , Seri Fikih Kehidupan, (Jakarta: Press,2011) h.
43
Fiqih Munakahat 15
G. Menikah Itu Ciri Khas Makhluk Hidup

Secara biologis, menikah atau berpasangan itu


adalah merupakan ciri dari makhluk hidup. Allah SWT telah
menegaskan bahwa makhluk-makhluk ciptaan-Nya ini
diciptakan dalam bentuk berpasangan satu sama lain.

۞ َ‫َﻠﲂ ﺗَﺬَ ﻛﺮُ ون‬


ْ ُ ‫ﳾ ٍء َ ﻠَ ْﻘ َﺎ زَوْ ْ َِﲔ ﻟَﻌ‬
َْ ‫ﰻ‬
ِّ ُ ْ‫وَ ﻣِﻦ‬
Artinya : “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-
pasangan supaya kamu mengingat kebesaran
Allah.” (QS. Adz-Dzariyat : 49)

‫ﺳُ ْﺒ َﺎنَ ا ِي َ ﻠ ََﻖ ا ْ زْوَ اجَ ﳇُ ﻬَﺎ ﻣِﻤﺎ ﺗُ ْﻨ ُِﺖ ا ْ ُرْض وَ ﻣِﻦْ ﻧْﻔ ُِﺴﻬِﻢْ وَ ﻣِﻤﺎ‬
۞ َ‫َﻻ ﯾ َ ْﻌﻠَﻤُﻮن‬
Artinya : “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan
pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa
yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri
mereka maupun dari apa yang tidak mereka
ketahui.” (QS. Yaasin : 36)

۞ َ‫وَا ِي َ ﻠ ََﻖ ا ْ زْوَ اجَ ﳇُ ﻬَﺎ وَ َﺟ َﻌ َﻞ ﻟ ُ َْﲂ ﻣِﻦَ اﻟْ ُﻔ ْ ِ وَا ْ ﻧْﻌَﺎ ِم ﻣَﺎ َﺮْ َﻛﺒُﻮن‬
Artinya : “Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-
pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan
binatang ternak yang kamu tunggangi.”
(QS. Az-Zukhruf:12)

16 Fiqih Munakahat
۞ ‫وَ ﻧ ُﻪ َ ﻠ ََﻖ اﻟﺰوْ ْ َِﲔ ا ﻛَﺮَ وَا ْ ﻧ َ ْٰﱺ‬
Artinya : “Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan
berpasang-pasangan pria dan wanita.”
(QS.An-Najm:45)

Fiqih Munakahat 17
18 Fiqih Munakahat
BAB II
Pernikahan

A. Pengertian

Ta’rif perkawinan: yaitu ‘aqad yang menghalalkan


pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta
bertolong-tolongan antara seorang laki-laki dan perempuan
yang antara keduanya bukan muhrim11.
Firman Allah SWT :

‫ﺎب ﻟ ُ َْﲂ ﻣِﻦَ اﻟ ِ ّﺴَ ﺎ ِء َﻣ َْﲎ‬


َ َ‫وَانْ ِﺧﻔ ُ ْْﱲ ﻻ ﺗُﻘ ِْﺴﻄُ ﻮا ِﰲ اﻟْ َﯿﺘَﺎﻣَﻰ ﻓَﺎ ْ ِﻜ ُﺤﻮا ﻣَﺎ ﻃ‬
َ ِ ‫ُﻼث وَرُ َ َع ﻓَﺎنْ ِﺧﻔ ُ ْْﱲ ﻻ ﺗَ ْﻌ ِﺪﻟُﻮا ﻓَﻮَا ِﺪَ ًة وْ ﻣَﺎ َﻣﻠَﻜ َْﺖ ﯾْﻤَﺎ ُ ُْﲂ َذ‬ َ ‫وَ ﺛ‬
۞ ‫د َْﱏ ﻻ ﺗَ ُﻌﻮﻟُﻮا‬
Artinya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil
terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim
(bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga
atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan
dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja,
atau budak-budak yang kamu miliki. yang
demikian itu adalah lebih dekat agar kamu tidak
berbuat zalim.” (QS. An-Nisaa’: 3)

11
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung:Percetakan Sinar Baru,
2008), h.374
Fiqih Munakahat 19
Dalam bahasa Indonesia, perkawinan berasal kata
“kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga
dengan lawan jenis; melakukan hubungan kelamin atau
bersetubuh. Perkawinan disebut juga “pernikahan”, berasal
dari kata “nikah” yang menurut bahasa artinya
mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk
arti bersetubuh (wathi). Kata “nikah” sendiri sering
dipergunakan untuk arti persetubuhan (coitus).12
Nikah adalah salah satu asas pokok hidup yang
terutama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna,
bukan saja perkawinanitu satu jalan yang amat mulia untuk
mengatur kehidupan rumah tangga dan turunan, tetapi
perkawinan itu dapat dipandang sebagai satu jalan menuju
pintu perkenalan antara satu kaum dengan kaum yang lain.
Serta perkenalan itu akan menjadi jalan buat
menyampaikan kepada bertolong-tolongan antara satu
dengan yang lainnya.

B. Manfaat Pernikahan

Berbagai ayat dan hadits menunjukkan bahwa nikah


itu sangat dianjurkan dalam Islam.Dalam Al-Qur’an terdapat
23 ayat yang menyangkut nikah. Diantaranya terdapat ayat
yang menjelaskan keharusan menikah, seperti surat Ar-Rum
ayat 21 :

12
Abd.Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana,
2006),h.7
20 Fiqih Munakahat
‫وَ ﻣِﻦْ ٓ َ ِﺗ ِﻪ نْ َ ﻠ ََﻖ ﻟ ُ َْﲂ ﻣِﻦْ ﻧْﻔ ُِﺴ ُ ْﲂ زْوَ ا ًﺎ ِﻟ َْﺴ ُﻜ ُﻮا ا َﳱْ َﺎ وَ َﺟ َﻌ َﻞ ﺑ َ ْ ُ َْﲂ‬
۞ َ‫ﻣَﻮَد ًة وَرَ ْ َﲪ ًﺔ ۚ ان ِﰲ َذ ِ َ َ ٓ َ ٍت ِﻟﻘَﻮْ ٍم ﯾَﺘَﻔَﻜﺮُ ون‬
Artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan
merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya
diantara kamu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berpikir.”13 (QS. Ar-rum: 21)

Sebenarnya pertalian nikah adalah pertalian yang


seteguh-teguhnya dalam hidup dan kehidupan manusia,
bukan saja antara suami istri dan turunan bahkan antara
dua keluarga. Betapa tidak? Dari sebab baik pergaulan
antara si isteri dengan suaminya, kasih-mengasihi, akan
berpindahlah kebaikan itu kepada semua keluarga dari
kedua belah pihaknya, sehingga mereka menjadi satu dalam
segala urusan bertolong-tolongan sesamanya dalam
menjalankan kebaikan dan menjaga segala kejahatan.
Selain dari pada itu, dengan perkawinan seseorang akan
terpelihara daripada kebinasaan hawa nafsunya.14

13
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,Ensiklopedi islam,(Jakarta:
PT. Ichtiar Baru Van Hueve:2009),h.32
14
Sulaiman Rasjid, Op. Cit
Fiqih Munakahat 21
Sabda Rasulullah SAW:

‫ﻣﻌﴩ ا اﻟﺸﺒﺎ ب ﻣﻦ اﺳﺘﻄﺎع ﻣ ﲂ اﻟﺒﺎءة ﻓﻠﯿﱱوج ﻓﺎﻧﻪ اﻏﺾ‬


‫ﻠﺒﴫ واﺣﺼﻦ ﻠﻔﺮج وﻣﻦ ﱂ ﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﯿﻪ ﻟﺼﻮم ﻓﺎﻧﻪ و ﺎء )رواﻩ‬
(‫اﶺﺎ ﻪ‬
Artinya : “Hai pemuda-pemuda, barang siapa yang mampu
diantara kamu serta berkeinginan untuk kawin,
hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya
perkawinan ituakan memejamkan matanya
terhadap orang yang tidak halal dilihatnya, dan
akan memeliharakannya dari godaan syahwat.
Dan barang siapa yang tidak mampu kawin
hendaklah dia puasa.Karena dengan puasa,
hawa nafsunya terhadap perempuan akan
berkurang”.

Sabda lain dari Rasulullah SAW:

.‫ﻋﻦ ﺎ ﺸﻪ ﺰوّ ﺟﻮا اﻟ ّﺴﺎءﻓﺎﳖّ ﻦّ ﯾ ٔﺗ ﲂ ﺑﻞ ﳌﺎل‬


Dari Aisyah: “kawinilah olehmu kaum wanita itu,
maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan
harta (rezeki) bagi kamu.” (Riwayat Hakim dan Abu
Daud).

Faedah yang terbesar dalam perkawinan ialah untuk


menjaga dan memelihara perempuan yang bersifat lemah
itu dari pada kebinasaan. Sebab seorang perempuan,

22 Fiqih Munakahat
apabila ia sudah kawin, maka nafkahnya (belanjanya) jadi
wajib atas tanggungan suaminya.15 Perkawinan juga
berguna untuk memlihara kerukunan anak cucu (turunan),
sebab kalau tidak dengan nikah tentulah anak tidak
berketentuan siapa yang akan mengurusinya dan siapa
yang bertanggung jawab atasnya. Nikah juga dipandang
sebagai kemaslahatan umum, karena kalau tidak ada
perkawinan tentulah manusia akan menurutkan sifat
kebinatangan, dan dengan sifat itu maka akan timbul
perselisihan, bencana dan permusuhan antara sesamanya,
yang mungkin juga sampai menimbulkan pembunuhan yang
maha dahsyat.
Demikian maksud perkawinan yang sejati dalam
Islam. Dengan singkat untuk kemaslahatan dalam rumah
tangga dan keturunan, juga untuk kemaslahatan
masyarakat.
Oleh sebab itu syari’at Islam mengadakan beberapa
peraturan untuk menjaga kemaslahatan perkawinan ini. 16
Tetapi sebelumnya kita menerangkan syarat-syarat dan
rukunnya, begitu juga kewajiban dan hak-hak masing-
masing antara suami isteri, lebih dahulu akan kita uraikan
tujuan perkawinan dalam anggapan yang berlaku dalam
kehendak manusia. Telah berlaku anggapan kebanyakan
para pemuda-pemudi dari zaman dahulu sampai sekarang,
karena mereka ingin kawin lantaran beberapa sebab,
diantaranya:
1. Karena mengharapkan harta benda
2. Karena mengharapkan kebangsawanannya

15
Ibid, h.375
16
Ibid,
Fiqih Munakahat 23
3. Karena ingin melihat kecantikannya
4. Karena agama dan budi pekertinya yang baik.

Yang pertama, karena harta baik kehendak ini dari


pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Yaitu
seseorang yang ingin kawin dengan seorang hartawan,
sekalipun dia tahu bahwa perkawinan itu tidak akan sesuai
dengan keadaan dirinya dan kehendak masyarakat, orang
yang mementingkan perkawinan disebabkan harta benda
yang diharap-harap akan dipungutnya. Pandangan ini
bukanlah pandangan yang sehat, lebih-lebih kalau hal ini
terjadi dari pihak laki-laki, sebab sudah tentu akan
menjatuhkan dirinya dibawah pengaruh perempuan dari
hartanya. Hal yang demikian adalah berlawanan dengan
sunnah alam dan titah Tuhan yang menjadikan manusia.
Allah telah menerangkan dalam Al-Qur’an dengan cara
sebaik-baiknya bagi aturan kehidupan manusia sebagai
berikut:
Firman Allah SWT:

‫اﻟ ّ ِﺮ َﺎلُ ﻗَﻮاﻣُﻮنَ ََﲆ اﻟ ِ ّﺴَ ﺎ ِء ِﺑﻤَﺎ ﻓَﻀ َﻞ ا ُ ﺑَﻌْﻀَ ﻬُﻢْ ََﲆ ﺑَﻌ ٍْﺾ وَ ِﺑﻤَﺎ ﻧْ َﻔ ُﻘﻮا‬
‫وَاﻟﻼﰐ‬
ِ ُ ‫َﺎت ﻗَﺎ ِﻧﺘَﺎتٌ َﺎﻓِﻈَ ﺎتٌ ِﻠْﻐَﯿ ِْﺐ ِﺑﻤَﺎ َﺣ ِﻔﻆَ ا‬ ُ ‫ﻣِﻦْ ﻣْﻮَا ِﻟﻬِﻢْ ﻓَﺎﻟﺼ ﺎ ِﻟ‬
ْ‫وَاﴐﺑُﻮﻫُﻦ ﻓَﺎن‬ ِ ْ ِ ‫ﲣَ َﺎﻓُﻮنَ ُﺸُ ﻮزَ ﻫُﻦ ﻓَﻌِﻈُ ﻮﻫُﻦ وَاﳗْ ُﺮُ وﻫُﻦ ِﰲ اﻟْﻤَﻀَ ﺎﺟِ ﻊ‬
۞ ‫ﻃَ ْﻌﻨ ُ َْﲂ ﻓَﻼ ﺗَ ْﺒ ُﻐﻮا َﻠَﳱْ ِﻦ ﺳَ ِ ﻼ ان ا َ ﰷَ نَ َﻠِﯿﺎ ﻛَﺒِﲑًا‬
Artinya : ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum
wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian
yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki)
24 Fiqih Munakahat
telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang
taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu
khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur
mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika
mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha
besar.” (QS. An-Nisaa’:34)

Sabda Rasulullah SAW:

‫ﻣﻦ ﻜﺢ اﳌﺮ ٔة ﳌﺎ ﻟﻬﺎ ﺣﺮّم ﷲ ﻣﺎ ﻟﻬﺎ وﺟﲈ ﻟﻬﺎ وﻣﻦ ﻜﺤﻬﺎ ﳯﺎ رزﻗﻪ‬
(‫ﷲ ﻣﺎ ﻟﻬﺎ وﺟﲈ ﻟﻬﺎ )اﳊﺪ ﯾﺚ‬
Artinya : “Barang siapa menikahi seorang perempuan
karena hartanya dan rupanya yang manis,
niscaya Allah akan melenyapkan hartanya dan
kecantikannya. Dan barang siapa yang
menikahinya karena agamanya niscaya Allah
akan memberi karunia kepadanya dengan
harta dan kecantikannya.”

Sabda Rasulullah SAW:

۞ ‫ﻣﻦ ﺰوّ ج إﻣﺮ ٔة ﳌﺎا ﻟﻬﺎ ﱂ ﺰدﻩ ا ٓ ﻓﻘﺮا‬


Fiqih Munakahat 25
Artinya : “Barang siapa yang menikahi seorang perempuan
karena kekayaannya, niscaya tidak akan
bertambah kekayaannya, sebaliknya kemiskinan
akan didapatinya.”

Yang kedua, karena mengharap kebangsawanannya


berarti mengharap gelar atau pangkat. Ini juga tidak akan
memberi faedah sebagaimana yang diharapkannya, maka
dia akan bertambah hina dan dihinakan, karena
kebangsawanan salah seorang diantara suami isteri itu,tidak
akan berpindah kepada orang lain.

Sabda Rasulullah SAW:

.ّ‫ﻣﻦ ﺰوّ ج اﻣﺮ ٔة ﻟﻌﺰّﻫﺎ ﱂ ﺰدﻩ ا ّﻻ ذﻻ‬


Artinya: “Barang siapa mengawini seorang perempuan
karena kebangsawanannya, niscaya tidak akan
menambah Allah kecuali kehinaanya”.

Yang ketiga, karena kebagusan (kecantikannya). Ini


adalah lebih sedikit dari harta dan kebangsawanannya,
sebab harta dapat lenyap dengan lekas, tapi kecantikan
sesorang dapat tinggal sampai tua, asal dia jangan bersifat
bangga dan sombong karena kecantikannya itu.

Sabda Rasulullah SAW:

ّ‫ﻻ ﺰوّ ﺟﻮااﻟ ّﺴﺎ ء ﳊﺴﻨﺤﻦّ ﻓﻌﴗ ﺣﺴﻨﺤﻦّ ان ﺮدﳛﻦّ وﻻ ﺰوّ ﺟﻮﺣﻦ‬
‫ﻻﻣﻮاﳊﻦّ ﻓﻌﴗ اﻣﻮاﳊﻦّ ان ﺗﻄﻐﳱﻦّ وﻟﻜﻦ ﺰوّ ﺟﻮ ﻫﻦّ ﲆ ا ّ ﻦ‬
(‫وﻻﻣﺔ ﺳﻮداءذات د ﻦ اﻓﻀﻞ )راﻩ اﻟﺒﳱﻘﻰ‬
26 Fiqih Munakahat
Artinya : “Janganlah kamu mengawini perempuan itu,
karena ingin melihat kecantikannya, mungkin
kecantikannya itu akan membawa kerusakan
bagi mereka sendiri dan janganlah kamu
mengawini mereka karena mengharap harta
mereka mungkin hartanya itu akan membuat
mereka sombong, tetapi kawinilah mereka
dengan dasar agama dan sesungguhnya
hamba sahaya yang hitam lebih baik asal ia
beragama.” (HR.Baihaqi)

Yang keempat, karena agama dan budi pekerti.


Inilah yang patut dan baik dijadikan ukuran dalam
pergaulan yang akan kekal, serta dapat menjadi kerukunan
dan kemaslahatan rumah tangga serta keluarga semuanya.
Jadi, hendaknya agama dan budi pekerti itulah yang
menjadi pokok yang utama untuk pemilihan dalam
perkawinan. Maka dari keterangan-keterangan diatas
hendaklah kiranya wali-wali anak, jangan sembarangan saja
memperjodohkan anaknya, sebab kalau tidak berkebetulan
dijalan yang benar, sudah tentu dia seolah-olah
menghukum dan merusakkan akhlak dan jiwa anaknya yang
tidak bersalah itu. Pertimbangkanlah terlebih dahulu
dengansedalam-dalamnya, antara manfaat atau
mudharatnya, yang bakal terjadi dihari kemudiannya
sebelum mempertalikan suatu perjodohan.

Fiqih Munakahat 27
28 Fiqih Munakahat
BAB III
HUKUM PERNIKAHAN
DAN MEMILIH PASANGAN DALAM ISLAM

A. Hukum Pernikahan

Hukum asal nikah yaitu jaiz (diperbolehkan).17


Perkawinan (pernikahan) adalah suatu perbuatan yang
disuruh oleh Allah SWT dan juga disuruh oleh Nabi SAW
banyak suruhan-suruhan Allah dalam Al-Qur’an untuk
melaksanakan perkawinan diantara firman-Nya dalam surat
An-Nuur ayat 32 :

‫وَ ْ ِﻜ ُﺤﻮا ا ْ َ ﻣَﻰٰ ِﻣ ُ ْْﲂ وَاﻟﺼ ﺎ ِﻟ ِﲔَ ﻣِﻦْ ِﻋﺒَﺎدِﰼُ ْ وَا ﻣَﺎ ُ ِْﲂ ۚ انْ َ ُﻜﻮﻧُﻮا ﻓُﻘَﺮَا َء‬
۞ ‫ﯾُﻐْﳯِ ِ ُﻢ ا ُ ﻣِﻦْ ﻓَﻀْ ِ ِ ۗ وَا ُ وَاﺳِ ٌﻊ َ ِﻠ ٌﲓ‬
Artinya : “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian
diantara kamu, dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang
lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. jika mereka miskin Allah akan
memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan
Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha
mengetahui.”

17
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2013), h. 381
Fiqih Munakahat 29
Begitu banyak pula suruhan Nabi kepada umatnya
untuk melakukan pernikahan. Diantaranya seperti dalam
hadits Nabi dari Anas bin Malik menurut riwayat Ahmad dan
disahkan oleh Ibnu Hibbab sabda Nabi yang artinya:

“Kawinilah perempuan-perempuan yang dicintai


yang subur, karena sesungguhnya aku akan
berbangga karena banyak kaum dihari kiamat.”

Dari begitu banyak seruan Allah dan Nabi untuk


melaksanakan perkawinan itu maka perkawinan itu adalah
perbuatan yang lebih disenangi Allah dan Nabi untuk
dilaksanakan. Atas dasar ini hukum perkawinan itu menurut
asalnya adalah sunnat menurut pandangan jumhur ulama. 18
Islam tidak senang kepada orang yang
membujang.Membujang termasuk perbuatan yang
menimbulkan dasar kebencian Islam terhadap setiap
sesuatu yang tidak sesuai antara insting dan akal. Sesuatu
yang tidak mempertimbangkan antara kenyataan dan
kebutuhan dasar kebutuhan kemanusian. Rosulullah SAW.
menolak pengakuan seseorang yang berkeinginan kuat
untuk beribadah dengan meninggalkan kehidupan duniawi
dan meninggalkan pernikahan. Rosulullah juga menyatakan
bahwa kehidupan keluarga termasuk bagian sunah-
sunahnya.19
Namun karena ada tujuan mulia yang hendak
dicapai dari perkawinan itu dan yang melakukan perkawinan
itu berbeda pula kondisi dan situasinya yang melingkupi

18
Amir Syarifuddin, Garis-garis besar Fiqh, (Jakarta Timur:
Prenada Media, 2003) h. 78-79
19
Ali Yusuf As-subki, Fiqh keluarga, (Jakarta: Amzah, 2010) h.
12-13
30 Fiqih Munakahat
suasana perkawinan itu berbeda pula, maka secara rinci
jumhur ulama menyatakan hukum perkawinan itu dengan
melihat keadaan orang-orang tertentu. Sebagai berikut:

1. Wajib

Bagi orang-orang yang telah pantas untuk menikah,


berkeinginan untuk menikah dan memiliki perlengkapan
untuk menikah, ia khawatir akan terjerumus ketempat
maksiat kalau ia tidak menikah.20 Yaitu wajib bagi orang
yang mampu memberi nafkah dan dia takut akan tergoda
pada kejahatan (zina).21 Menikah menjadi wajib bagi yang
mampu dan mempunyai hasrat yang kuat untuk
melakukannya disertai rasa takut terjerumus pada
perbuatan zina. Alasannya menjaga kehormatan dan
kesucian diri dari perbuatan haram adalah wajib, hal ini
tidak dapat dilakukan kecuali melalui menikah.22
Al-Qurthubi berkata “orang yang mampu dan
mengkhawatirkan diri dari agamanya menjadi rusak karena
membujang sehingga tidak mungkin mengatasinya kecuali
dengan menikah, tidak ada perbedaan sedikitpun untuk
menyatakan bahwa ia wajib menikah”.
Di dalam bukunya garis-garis besar fiqh prof. Dr.
Amir Syarifuddin menuliskan syarat-syarat yang mesti
dipenuhi untuk laki-laki dan perempuan yang akan menikah
yaitu:

20
Amir Syarifiddin. Op.Cit; h.79
21
Sulaiman Rasjid. Op.Cit; h.382
22
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunah jilid, (Jakarta: Al-I’tisom, 2008) h.
162-163
Fiqih Munakahat 31
a. Keduanya jelas keberadaannya dan jelas identitasnya.
b. Keduanya sama-sama beragama Islam.
c. Keduanya tidak terlarang melakukan perkawinan.
d. Keduanya telah mencapai usia yang layak untuk
melangsungkan pernikahan.

Tentang batas usia perkawinan memang tidak


dibicarakan dalam kitab-kitab fiqh, tidak ada ayat Al-Qur’an
yang secara jelas dan terarah menyebutkan usia perkawinan
dan tidak ada pula hadits Nabi yang secara langsung
menyebutkan batas usia. Namun ada ayat Al-Qur’an dan
begitu hadits Nabi yang secara tidak langsung
mengisyaratkan batas usia tertentu.
Adapun ayat al-Qur’an dalam surat An-Nisa ayat 6
menjelaskan:

… َ‫وَاﺑْﺘَﻠُﻮا اﻟْ َﯿﺘَﺎﻣَﻰٰ َﺣﱴ ٰ ا ذَا ﺑَﻠَ ُﻐﻮا اﻟﻨِّﲀَ ح‬


Artinya : “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup
umur untuk kawin.”

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa nikah itu


mempunyai batas umur dan batas umur itu adalah baligh.
Adapun hadits Nabi adalah hadits dari Abdullah Ibn Mas’ud
yang artinya:
“Wahai para pemuda siapa dia diantaramu telah
mempunyai kemampuan dalam persiapan
perkawinan, maka kawinlah.”

32 Fiqih Munakahat
Ada persyaratan dalam hadis Nabi ini untuk
melangsungkan perkawinan yaitu kemampuan persiapan
untuk kawin.Kemampuan dan persiapan untuk kawin ini
hanyadapat terjadi bagi orang yang sudah dewasa.
Penjelasan diatas menunjukkan wajib hukumnya
seseorang itu untuk menikah apabila semua syarat sudah
terpenuhi dan dia takut jika tidak menikah akan terjerumus
ke zina. Dan Islam juga menganjurkan untuk tidak
membujang (sendiri), kita tentu mengharapkan agar orang
Islam tidak menjatuhkan diri pada jurang kemaksiatan,
menuruti hawa nafsunya dan mengikuti setan, sehingga
terjerumus kepada perbuatan yang tidak halal berupa sikap-
sikap yang menghancurkan dan dosa-dosa yang merusak.
Sungguh pada diri pemuda terdapat sifat kemudaan, jiwa
dan pikiran yang menyala-nyala untuk mengikuti nafsunya,
mendorong keras untuk memenuhinya dengan tanpa
mempedulikan efek negatif positifnya.
Sudah banyak para pemuda yang mengikuti hawa
nafsunya dan memenuhi kenikmatan dunia semata.Ia
menjatuhkan harga dirinya dalam perbuatan dosa-dosa dan
kemaksiatan yang mengakibatkan kehancuaran. Akibat
perbuatan tersebut adalah hilangnya rasa kemuliaan,
kesempitan setelah kemudahan, harta yang hilang,
kehinaan setelah kedudukan dan kemulian, kelemahan
setelah kekuatan dan kesehatan sempurna.Mereka
tersadarkan setelah tertimpa berbagai dampak yang
ditimbulkan dan berbagai penyakit.
Menyegerakan menikah menjadikan seseorang
mampu menjaga dari iffah, merendahkan dari pandangan-
pandangan haram, memungkinkan untuk mendidik anak-

Fiqih Munakahat 33
anak dan mempersiapkan mereka dengan baik untuk
kehidupan masa depan mereka. Dengan demikian jelaslah
pentingnya keluarga sebagaimana pentingnya pernikahan
itu.23
Akan tetapi, jika hasrat menikahnya besar namun
tak sanggup mamberi nafkah kepada istri, maka hendaknya
menjalankan arahan Allah SWT. Dalam firman-Nya dalam
surat An-Nur ayat 33 :

...ۗ ِ ِ ْ‫وَ ﻟْ َْﺴ ﺘَ ْﻌﻔ ِِﻒ ا ِ ﻦَ َﻻ ﳚَ ِﺪُ ونَ ِﲀَ ًﺎ ﺣَﱴ ٰ ﯾُ ْﻐﻨِﳱَ ُ ُﻢ ا ُ ﻣِﻦْ ﻓَﻀ‬
Artinya : “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin
hendaklah menjaga kesucian (diri)nya,
sehingga Allah memampukan mereka dengan
karunia-Nya.”

Selain memperbanyak puasa, karena dalam sebuah


hadits dari Ibn Mas’ud ra. Dinyatakan bahwa Rasulullah
SAW bersabda yang artinya:
“Hai segenap kaum muda, siapa diantara kalian yang
mampu bersenggama, maka menikahlah karena
dengan menikah pandangan akan lebih terjaga dan
kemaluan akan lebih terpelihara.Sedangkan bagi
yang tidak mampu, maka berpuasalah karena
puasa dapat menahan nafsu syahwatnya.” (HR.
Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi,
Nasa’i dan Ibnu Majah).24

23
Ali Yusuf As-subki, Op.Cit,h. 6
24
Sayyid Sabiq, Op.Cit,h.163
34 Fiqih Munakahat
2. Sunah

Orang yang mempunyai hasrat menikah dan


mampu, tapi masih menjaga diri dari terjerumus kepada
perbuatan yang diharamkan Allah SWT.Maka hukum
menikah baginya adalah mustahab (sunah).25
Tapi lebih baik menikah daripada membujang
dengan alasan hendak konsentrasi beribadah, karena cara
hidup rahbaniyah sama sekali bukan ajaran Islam.
Umar ra.Berkata kepada Zuwa’id, “hanya dua alasan
yang menghalangimu menikah, tidak mampu atau suka
bermaksiat.”
Ibnu Abbas ra.Berkata “Ibadah seorang sulit akan
sempurna kecuali bila telah menikah.”

3. Haram

Hukum menikah menjadi haram bagi orang yang


tidak dapat memenuhi hak isteri baik hubungan seks
maupun nafkah, karena tidak mampu sedangkan hasrat
melakukannya cukup besar.
Al-Qurtubi menjelaskan, “ketika seorang laki-laki
tahu dirinya tidak sanggup memberi nafkah atau mahar
kepada wanita yang akan diperisterinya atau hak-hak isteri
lainnya yang menjadi kewajiban suami, maka dia tidak
boleh menikahi wanita itu kecuali setelah menerangkan
keadannya. Atau dia dapat memastikan dirinya sanggup
memenuhi hak-hak isterinya. Begitu pula jika memiliki cacat
yang membuatnya tidak mampu melakukan hubungan seks,
maka dia juga harus menerangkan keadannya agar wanita
25
Ibid.h. 163
Fiqih Munakahat 35
itu tidak tertipu olehnya.Selain itu tidak boleh berbohong
dengan mengaku berasal dari keluarga dan keturunan
terhormat, punya banyak harta dan karya besar untuk
menipu wanita.”26
Sebaliknya, ketika wanita tahu dirinya tidak sanggup
memenuhi hak-hak suami, atau punya cacat yang
membuatnya tidak mampu melakukan hubungan seks,
seperti gila, kusta, sopak, atau penyakit kelamin, maka ia
tidak boleh menipu calon suaminya, melainkan wajib
menerangkan keadaannya itu apa adanya.

4. Makruh

Nikah menjadi makruh bagi orang yang tidak


sanggup memenuhi hak isteri. Baik hubungan seks maupun
nafkah, tapi tidak membahayakan wanita, seperti bila sang
wanita kaya dan tidak memiliki dorongan nafsu yang kuat
untuk melakukan hubungan seks. Sedangkan jika dengan
kondisi itu dia tidak dapat manjalankan beberapa amal
ibadah, atau menghambatnya mencari ilmu, maka tingkat
makruhnya semakin tinggi.27

5. Mubah

Hukum menikah menjadi mubah apabila semua


dorongan dan halangan menikah diatas tidak ada. 28

26
Ibid.h. 163
27
Ibid,h.164
28
Ibid,h.164
36 Fiqih Munakahat
B. Kriteria memilih Pasangan Hidup

Bagi suami, istri adalah tempat mencari ketenangan


dan ibarat ladang, sekaligus berperan sebagai pasangan
hidup, pengurus rumah tangga, ibu bagi anak-anak,
tambatan hati dan tempat meluapkan segalaisi hati. Istri
merupakan pilar yang paling penting bagi bangunan rumah
tangga, karena dialah yag melahirkan anak-anak dan
darinyalah mereka mewarisi berbagai potensi dan karakter.
Dipelukan sang isterilah emosi anak-anak terbentuk,
mengasah bakat, belajar bahasa, meniru sekian banyak
adat dan kebiasaan, mengenal agama dan menetapkan
tingkah laku lingkuangan.
Karena itulah Islam memberi perhatian terhadap
pentingnya memilih calon isteri yang salih dan
menempatkannya sebagai kesenangan dunia terbaik yang
harus menjadi idaman setiap orang. Pengertian keshalian
tidak lain selalu taat kepada ajaran agama, memegang
teguh nilai-nilai kebaikan, menjaga hak suami dan
melindungi anak-anak.
Itulah aspek-aspek yang harus diperhatikan saat
akan memilih calon isteri, sedangkan aspek-aspek lainnya
yang bersifat duniawi justru diperingatkan dan dilarang
Islam jika lepas dari nilai-nilai kebaikan, keutamaan dan
keshalihan. Kebanyakan orang lebih mendambakan harta
yang melimpah, atau kecantikan yang mempesona atau
pengaruh yang besar, atau garis keturunan yang
terpandang atau karya besar nenek moyang tanpa
memperdulikan kesempurnaan mental dan pendidikan yang

Fiqih Munakahat 37
baik, hingga pernikahan justru membuahkan kepahitan dan
menghasilkan kegetiran.29

1. Memilih Calon Istri

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Wanita dinikahi karena empat alasan: karena harta,


keluarga, kecantikan dan ketaatannya kepada agama.
Pilihlah wanita yang baik agamanya jika engkau tidak
mau jatuh miskin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW menjelaskan definisi wanita yang


shalih adalah wanita yang cantik, patuh, berbakti, dan
amanah.
Kelebihan-kelebihan lain yang harus
dipertimbangkan ketika hendak meminang calon isteri
adalah latar belakang lingkungannya yang mulia dan dikenal
memiliki emosi yang stabil dan pembawaan yang tenang,
serta tidak ada penyimpangan mental.Sebab, wanita seperti
ini lebih memungkinkan untuk menunjukkan kasih sayang
yang besar kepada anak-anaknya dalam menjaga hak-hak
suaminya.
Salah satu tujuan utama pernikahan adalah
melahirkan keturunan.Karena itu calon isteri harus subur
yang bisa diketahui dari kondisi fisiknya yang sehat.
Caranya adalah dengan membandingkannya dengan
saudara-saudara perempuan dan bibi-bibinya.
Suatu ketika seorang laki-laki meminang wanita yang
diketahui mandul. Dia berkata, “Wahai Rosulullah, aku

29
Ibid, h.165
38 Fiqih Munakahat
hendak meminang wanita dari keluarga terhormat dan
cantik tapi mandul.” Rasulullah melarangnya, seraya
berkata: “Menikahlah dengan wanita yang besar rasa
sayangnya dan subur peranakannya. Sesunggguhnya aku
membanggakan banyaknya jumlah kalian kepada umat-
umat lain pada hari kiamat kelak.”
Maksud dari “besar rasa sayangnya” adalah wanita
yang berusaha membuat dirinya disayangi dan dicintai
suaminya, serta berupaya sekuat tenaga agar mendapat
keridhaannya.
Pada dasarnya manusia merindukan dan
mendambakan keindahan, oleh sebab itu Islam tidak
menghilangkan aspek keindahan dan kecantikan sebagai
salah satu kreteria yang menjadi pertimbangan ketika
memilih calon isteri. Alangkah baiknya jika calon isteri masih
gadis perawan, karena belum matang dan belum tahu
banyak tentang seluk beluk lelaki, sehingga akan lebih erat
dihatinya.
Ada satu masalah yang perlu diperhatikan yaitu
meminimalkan kesenjangan antara suami isteri, baik usia,
status sosial, tingkat pendidikan maupun taraf ekonomi.
Minimnya kesenjangan dalam aspek-aspek tersebut dapat
menunjang kelanggengan hubungan kasih dan sayang.
Abu Bakar r.a dan Umar r.a Pernah meminang
Fatimah r.a Kepada Rasulullah SAW, tapi beliau menolaknya
dengan alasan Fatimah itu masih terlalu kecil. Tapi ketika Ali
yang datang meminangnya, maka Rosulullah SAW
menerima dan menikahkannya. Demikian beberapa
tuntunan yang diajarkan Islam agar menjadi petunjuk bagi
orang yang hendak melangsungkan pernikahan. Kita akan

Fiqih Munakahat 39
lebih leluasa mempersipakan anak-anak shalih yang akan
menciptakan kehidupan umat yang lebih baik dan
terhormat.30
Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW. Membagi
keinginan pernikahan dari segi tujuan pokok dalam
pernikahan pada empat bagian:

Pertama: Memilih istri dengan melihat segi


kepemilikan hartanya agar ia tertolong dari kemiskinan dan
dengan itu ia terpenuhi segala kebutuhannya, atau dapat
membantu dan memecahkan kesulitan hidup yang bersifat
materi.

Kedua: Memilih istri berdasarkan nasabnya, nasab


istri dalam berbagai keadaan umum menjadi keinginan
banyak orang. Seperti seseorang yang berusaha mengambil
manfaatdari nasab istri untuk kemuliaan serta keinginan
kedudukan dan sebagainya.

Ketiga: Memilih istri hanya berdasarkan perasaan


akan kecantikannya, dengan alasan bahwa dalam
pernikahan mencakup kecantikan untuk bersenang-senang
sehingga mendorong untuk menjaga diri dan tidak melihat
perempuan lain dan juga tidak melakukan perbuatan yang
dibenci Allah SWT.

Keempat: Memilih istri karena Agamanya, Rosulullah


SAW telah mempertimbangkan bagian ini sebagai landasan
dalam memilih istri. Karena perempuan yang beragama
meskipun tidak cantik secara fisik, agama merupakan
masalah yang perlu dipertimbangkan. Kualitas agama

30
Ibid. h.165
40 Fiqih Munakahat
berbeda antara individu satu dengan yang lainnya.
Perempuan yang baik agamanya memiliki keutamaan yang
lebih baik daripada kecantikan fisik. Ia dapat menyenangkan
hati dan baik perilakunya.31

2. Memilih Calon Suami

Hadis mengenai calon suami tidak banyak ditemukan


sebagaimana hadis tentang calon istri. Mengenai calon
suami Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila kamu sekalian didatangi oleh seorang yang


agama dan akhlaknyan kamu ridhoi, maka
kawinkanah ia. Jika kamu sekalian tidak
melaksanakannya, maka kamu menjadi fitnah di
muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR.
Tirmidzi)

Pernikahan yang baik dilandasi keinginan untuk


memelihara keturunan, tempat menyemaikan bibit iman,
melahirkan keluarga sehat serta memenuhi dorongan rasa
aman, sejahtera, sakinah, penuh mawadah dan rahmah.
Oleh karena itu pemilihan pasangan sebelum nikahpun
menjadi kepedulian utama dalam merancang pendidikan
anak.
Rasulullah SAW tidaklah hanya menganjurkan
kepada seorang laki untuk memilih calon istri yang taat
beragama, akan tetapi juga menganjurkan kepada
perempuan untuk memilh calon suami yang taat beragama.

31
Ali Yusuf As-subki, Loc Cit ,h. 41
Fiqih Munakahat 41
Wali wanita harus berhati-hati memilih pasangan
hidup bagi buah hatinya. Sehingga ia hanya bersedia
menikahkan dengan laki-laki yang taat beragama, berakhlak
mulia, terhormat dan berkarakter baik. Tepatnya laki-laki
yang mempertahankan tali pernikahan dengannya, maka
akan memperlakukan dengan baik. Dan jika harus
menceraikannya maka akan menceraikanya dengan cara
yang baik pula.
Imam Al-Gahazali menuliskan dalam karyanya, Al-
Ihya’, “bersikap lebih hati-hati dalam menikahkan anak
perempuan jauh lebih penting karena setelah masuk jenjang
pernikahan dia ibarat budak yang tidak mempunya banyak
ruang gerak, sementara suaminya mempunyai wewenang
untuk menceraikannya dalam kondisi apapun. Karena itu
seorang wali menikahkan putrinya dengan seorang lali-laki
zalim, atau fasik atau ahli bid’ah atau pemabuk, berarti telah
merusak agama putrinya sendiri dan mengundang murka
Allah, karena telah memutuskan hak kekeluargaan dan
menentukan pilihan yang buruk

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Siapa yang menikahkan buah hatinya dengan lelaki


fasik, berarti telah memutuskan hubungan kekeluargaan
dengannya.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Adh-Dhu’afa’
dari Anas, Ibnu Hibban juga meriwayatkan dalam kitab
Ats-Tsiqat dari Asy-Sya’bi dengan sanad yang shahih.)32

32
Ibid, h.166
42 Fiqih Munakahat
C. Melihat Pasangan yang Dipilih

Sebelum melangsungkan pernikahan biasanya


dilakukan peminangan, pinangan yang dilakukan oleh
seorang lelaki berarti meminta kesedian wanita untuk
menikah dengannya melalui cara yang dikenal dikalangan
masyarakat. Pinangan merupakan salah satu pendahuluan
menuju pernikahan. Allah SWT menetapkan sebelum
melangsungkan akad nikah agar masing-masing calon suami
isteri itu saling berkenalan, sehingga pernikahan yang akan
mereka jalani benar-benar berdasarkan petunjuk dan fakta
yang jelas.33

1. Memandang wanita yang dipinang

Salah satu faktor yang dapat menunjang


keharmonisan kehidupan rumah tangga dan membuatnya
selalu diliputi oleh rasa bahagia dan kesenangan adalah laki-
laki yang memandang wanita yang hendak dipinangnya.
Tujuannya adalah untuk memastikan wanita tersebut
memang cantik, sehingga bisa menjadi motivasi tersendiri
untuk menjadikannya sebagai pendamping hidup. Atau
justru jelek, sehingga dapat segera menjatuhkan pilihan
kepada wanita lain.34
Orang yang bijak akan melangkah lebih jauh
sebelum memastikan sisi baik dan sisi buruknya, al-A’masy
berkata: “Setiap pernikahan yang tidak didahului dengan
memandang calon isteri akan diakhiri dengan kesedihan dan
kekecewaan.”

33
Ibid, h.167
34
Ibid, h.168
Fiqih Munakahat 43
Kebanyakan ulama berpendapat lelaki hanya boleh
memandang wajah dan kedua telapak tangan wanita yang
hendak dipinangnya. Sebab dengan memandang wajah
dapat disimpulkan parasnya cantik atau buruk, sementara
dengan memandang dua telapak tangan dapat disimpulkan
badanya berisi atau kurus. Menurut Dawud, boleh
memandang seluruh tubuhnya. Sedangkan menurut Al-
Auza’i boleh melihat bagian-bagian yang menunjukkan
kepadatan dagingnya.
Hadits-hasits yang ada tidak menentukan bagian-
bagian tubuh wanita mana saja yang boleh dilihat,
melainkan membebaskannya untuk memberi keleluasaan
kepada laki-laki melihat bagian yang dapat memenuhi
tujuannya dengan melihat tersebut.35

2. Memandang calon suami

Hukum boleh melihat ini tidak terbatas bagi laki-laki


saja, melainkan berlaku juga bagi wanita sehingga dia boleh
melihat laki-laki yang meminangnya, karena wanita juga
penasaran dengan calon pasangannya, sama seperti laki-
laki. Umar r.a Berkata “Jangan nikahkan anak-anak
perempuan kalian dengan laki-laki yang buruk rupanya,
karena mereka memiliki ketertarikan yang sama dengan
laki-laki.”36

35
Ibid, h.168
36
Ibid, h.168
44 Fiqih Munakahat
3. Mengenal sifat-sifat calon pasangan

Pembahasan diatas hanya berkaitan dengan


memandang yang berfungsi untuk mengetahui cantik atau
buruk fisiknya. Tapi sifat-sifat lain yang berkaitan dengan
akhlak dapat diketahui dengan keterangan langsung atau
mencari keterangan dari orang lain, dan mengamati orang-
orang yang sering bersamanya, baik teman pergaulan
ataupun tetangga. Atau boleh juga melalui perantara
beberapa orang terdekat yang biasa menjadi tempat
curahan isi hatinya, seperti ibu atau saudara
perempuannya.37
Dalam hal melihat sifat ini seorang laki-laki dan
perempuan harus berhati-hati agar kita mendapatkan
keterangan yang akurat maka harus memilih orang yang
bisa dipercaya untuk dimintai keterangan, atau melihat
dengan siapa dia bergaul dalam kesehariannya.

37
Ibid, h.168
Fiqih Munakahat 45
46 Fiqih Munakahat
BAB IV
WANITA YANG HARAM DI NIKAHI

A. Mahram

Mahram adalah wanita-wanita yang haram dinikahi


oleh seorang laki-laki. Allah SWT telah berfirman menyebut
wanita-wanita tersebut di dalam Al-Qur’ansurat An-Nisa: 22-
23bila dikelompokkan maka menjadi dua sebagaimana
berikut:
1. Larangan Kawin Karena Pertalian Nasab
a. Ibu: yang dimaksud adalah perempuan yang ada
hubungan darah dalam garis keturunan garis ke
atas yaitu ibu, nenek (naik dari pihak ayah maupun
ibu dan seterusnya ke bawah).
b. Anak perempuan: yang dimaksud ialah wanita yang
mempunyai hubungan darah dalam garis lurus ke
bawah, yakni anak perempuan, cucu perempuan,
baik dari anak laki-laki maupun anak perempuan
dan seterusnya.
c. Sudara perempuan, baik seayah anak seayah saja,
atau seibu saja.
d. Bibi: yaitu saudara perempuan ayah atau ibu, baik
saudara sekandung ayah atau seibu seterusnya ke
atas.
e. Kemenakan (keponakan) perempuan: yaitu anak
perempuan saudara laki-laki atau saudara
perempuan dan seterusnya ke bawah.

Fiqih Munakahat 47
2. Larangan kawin karena hubungan sesusuan.
a. Ibu sususan: yaitu ibu yang menyusui, maksudnya
adalah seorang wanita yang pernah menyusui
seorang anak, dipandang sebagai ibu anak yang
disusui itu, sehingga haram melakukan perkawinan.
b. Nenek susuan: yaitu ibu dari yang pernah
menyusui atau ibu dari suami yang menyusui itu,
suami dari ibu yang menyusui itu dipandang seperti
ayah bagi anak susuan.
c. Bibi susuan: yakni saudara perempuan ibu susuan
atau saudara perempuan suami ibu susuan dan
seterusnya.
d. Kemenakan susuan perempuan, yakni anak
perempuan dari sudara ibu susuan.
e. Saudara susuan perempuan, baik saudara seayah
kandung maupun seibu saja.

Mereka adalah perempuan yang sebab


keharamannya memiliki sifat yang tidak akan mengalami
perubahan seperti anak-anak perempuan, saudara-saudara
perempuan, dan saudara-saudara perempuan dari bapak.
Mereka inilah yang tidak dihalalkan bagi laki-laki untuk
menikahi mereka selamanya.

48 Fiqih Munakahat
‫‪B. Mahram Dalam Surat An-Nisa Ayat 22-24‬‬

‫‪Perempuan-perempuan yang haram dinikahi :‬‬

‫وَ َﻻ ﺗَ ْﻨ ِﻜ ُﺤﻮا ﻣَﺎ َﻜَﺢَ ٓ َ ؤُﰼُ ْ ﻣِﻦَ اﻟ ِّﺴَ ﺎ ِء اﻻ ﻣَﺎ ﻗَﺪْ ﺳَ ﻠ ََﻒ ۚ اﻧ ُﻪ ﰷَ نَ‬
‫ﻓَﺎﺣِﺸَ ًﺔ وَ َﻣ ْﻘ ًﺎ وَﺳَ ﺎ َء ﺳَ ِ ًﻼ ۞ ﺣ ّ ُِﺮﻣ َْﺖ َﻠَﯿ ُ ْْﲂ ﻣ ﻬَﺎ ُ ُْﲂ وَ ﺑَﻨَﺎ ُ ُْﲂ وَ ﺧَﻮَا ُ ُْﲂ‬
‫َوَﲻﺎ ُ ُْﲂ وَ ََﺎﻻ ُ ُْﲂ وَ ﺑَﻨ َُﺎت ا ْ خِ وَ ﺑَﻨ َُﺎت ا ْ ﺧ ِْﺖ وَ ﻣ ﻬَﺎ ُ ُُﲂ اﻟﻼ ِﰐ رْﺿَ ْﻌﻨ ُ َْﲂ‬
‫وَ ﺧَﻮَا ُ ُْﲂ ﻣِﻦَ اﻟﺮﺿَ ﺎ َ ِﺔ وَ ﻣ ﻬ َُﺎت ِﺴَ ﺎ ُ ِْﲂ وَرَ َ ﺋِﺒ ُ ُُﲂ اﻟﻼ ِﰐ ِﰲ ُﺣﺠُﻮرِ ﰼُ ْ ﻣِﻦْ‬
‫ِﺴَ ﺎ ُ ُِﲂاﻟﻼ ِﰐ َد َ ﻠ ُ ْْﱲ ﲠِ ِﻦ ﻓَﺎنْ ﻟَﻢْ َ ُﻜﻮﻧُﻮا َد َ ﻠ ُ ْْﱲ ﲠِ ِﻦ ﻓ ََﻼ ُﺟ َﺎحَ َﻠَﯿ ُ ْْﲂ‬
‫وَ ََﻼﺋِ ُﻞ ﺑْﻨَﺎ ُ ُِﲂ ا ِ ﻦَ ﻣِﻦْ ْﺻ َﻼ ُ ِْﲂ وَ نْ ﲡَ ْ َﻤ ُﻌﻮا ﺑ ْ ََﲔ ا ْ ْﺧ ْ َِﲔ اﻻ ﻣَﺎ ﻗَﺪْ‬
‫ﺳَ ﻠ ََﻒ ۗ ان ا َ ﰷَ نَ ﻏَﻔُﻮرً ا رَ ِﺣﳰ ًﺎ ۞ وَاﻟْ ُﻤﺤ َْﺼﻨ َُﺎت ﻣِﻦَ اﻟ ِّﺴَ ﺎ ِء اﻻ ﻣَﺎ‬
‫َﺎب ا ِ َﻠَﯿ ُ ْْﲂ ۚ وَ ِﻞ ﻟ ُ َْﲂ ﻣَﺎ وَرَ ا َء َذ ﻟ ُ ِْﲂ نْ ﺗَ ْ َ ُﻐﻮا‬ ‫َﻣﻠَﻜ َْﺖ ﯾْﻤَﺎ ُ ُْﲂ ۖ ِﻛﺘ َ‬
‫ِﺑ ﻣْﻮَاﻟ ُ ِْﲂ ُﻣﺤْﺼِ ﻨِﲔَ ْ ََﲑ ﻣُﺴَ ﺎ ِﻓ ِﲔَ ۚ ﻓَﻤَﺎ اﺳْ ﺘَ ْﻤﺘَﻌ ُ ْْﱲ ِﺑ ِﻪ ﻣِﳯْ ُﻦ ﻓَ ٓﺗُﻮﻫُﻦ‬
‫ُﺟﻮرَ ﻫُﻦ ﻓَﺮِﯾﻀَ ًﺔ ۚ وَ َﻻ ُﺟ َﺎحَ َﻠَﯿ ُ ْْﲂ ِﻓﳰ َﺎ َﺮَاﺿَ ﯿ ُ ْْﱲ ِﺑ ِﻪ ﻣِﻦْ ﺑ َ ْﻌ ِﺪ اﻟْ َﻔﺮِﯾﻀَ ِﺔ ۚ‬
‫ان ا َ ﰷَ نَ َ ِﻠﳰ ًﺎ َﺣ ِﻜﳰ ًﺎ ۞‬
‫‪Artinya :‬‬
‫‪“22. dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang‬‬
‫‪telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang‬‬
‫‪telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji‬‬
‫‪dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang‬‬
‫”‪ditempuh).‬‬

‫‪Fiqih Munakahat 49‬‬


“23. diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu;
anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu
yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang
perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan;
anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang
laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu
yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu;
saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu
(mertua); anak-anak isterimu yang dalam
pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri,
aceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya;
(dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu
(menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan)
dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah
terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”
“24. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita
yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki
(Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-
Nya atas kamu. dan Dihalalkan bagi kamu selain yang
demikian(yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu
untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri
yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka,
berikanlah kepada mereka maharnya (dengan
sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan Tiadalah
mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah
saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.

50 Fiqih Munakahat
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana.”38

C. Pembagian Mahram Sesuai Klasifikasi Para Ulama

1. Mahram Karena Nasab

a. Ibu, setiap wanita yang mempunyai hubungan


dengan seorang laki-laki karena kelahiran, baik
dari pihak ibu maupun ayah. Dengan demikian
mencakup ibu kandung, nenek, dan seterusnya
ke atas.39 Ataupun wanita yang ada hubungan
darah dalam garis keterunan lurus keatas.
b. Anak perempuan, setiap wanita yang di
nasabkan kepada seorang lelaki karena
kelahiran, seperti anak perempuan kandung,
cucu perempuan dari anak laki-laki maupun dari
anak perempuan dan seterusnya.
c. Saudara perempuan
Saudara perempuan dari mana saja, baik seayah
maupun seibu, seayah saja atau seibu saja.40
d. Bibi dari pihak ayah, mereka adalah saudara-
saudara perempuan ayah dan seterusnya
sehingga termasuk pula bibi ayah dan bibi
ibunya. Seperti saudara ayah atau ibu, baik

38
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Terjemah Per-Kata, (Jakarta:
SYGMA 2008), h.81
39
Bin Sayyid Salim,Abu Malik Kamal, Fiqih Sunah untuk
Wanita, (Jakarta : Al-I’tishom Cahaya Umat,2007), h. 603
40
Nur Djaman, Fiqih Munakahat,(Semarang: Dina
utama,1993),h.51
Fiqih Munakahat 51
sekandung, seayah atau seibu, dan seterusnya
keatas. 41
e. Bibi dari pihak ibu, mereka adalah saudara-
saudara perempuan ibu dan saudara-saudara
perempuan nenek dari pihak ayah. Seperti anak
perempuan saudara laki-laki atau saudara
perempuan dan seterusnya ke bawah. 42
f. Anak saudara yang perempuan atau( keponakan
perempuan ), mereka adalah anak-anak
perempuan saudara laki-laki atau pun saudara
perempuan dari semua pihak dan seterusnya ke
bawah.
2. Mahram Karena Mushahrah (besanan/ipar)
Atau Sebab Pernikahan
a. Seluruh mazhab sepakat bahwa istri ayah
haram dinikahi oleh anak kebawah, semata-mata
karena adanya akad nikah, baik sudah dicampuri
atau belum. 43
b. Pendapat Jumhuur Ulama Ketika seorang
lelaki mengikat akad nikah dengan seorang
wanita, maka dia haram menikahi ibu wanita
tersebut. 44

41
Bin Sayyid Salim,Abu Malik Kamal, Op.Cit, h. 604
42
Nur Djaman, Fiqih Munakahat, (Semarang: Dina
Utama,1993),h.52
43
Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab,
(Jakarta:Perbit Lentera,2011),h.327
44
Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Fiqih Sunah untuk
Wanita, (Jakarta : Al-I’tishom Cahaya Umat,2007) h. 606
52 Fiqih Munakahat
c. Para Imam Mazhab sepakat apabila seorang
telah menikahi seorang anak perempuan maka
haram baginya menikahi ibu anak perempuan itu
untuk selamanya. Apabila ibu dari seorang
perempuan yang dinikahi dan telah dicampuri
maka anak perempuan itu tidak boleh dinikahi
oleh orang yang menikahi ibunya, meskipun anak
perempuan itu tidak berada dalam asuhannya.
Keharaman perempuan mushaharah yaitu
muhrim kareana hubungan perbesanan,
bergantung pada terjadinya percampuran pada
kemaluannya. Hanafi berkata hal demikian bisa
mengakibatkan keharamannya. Bahkan, ia pun
berkata: melihat kemaluan sama dengan
bercampur dalam hal keharaman menikahi
munhahahrah. 45
d. Sabda Nabi, yang berbunyi “kawinlah dengan
keluarga jauh agar tidak lemah”. Dari hadits
tersebut dijelaskan bahwa kita dianjurkan untuk
tidak kawin dengan keluarga dekat dan
sebaliknya kita diharuskan untuk kawin dengan
wanita yang bukan keluarga dekat atau bukan
saudara sendiri. Supaya nanti tidak mendapat
keturunan yang lemah dan menghasilkan
keturunan yang kuat. Oleh karena itu, demi
mendapatkan keturunan yang baik dan kuat,
maka agama melarang mengawinkan saudara
dekat (ibu, bibi, anak, keponakan, dll).

45
Syaikh al-Allamah Muhammad bin Abdurrahman ad-
Dimasyqi,Fiqih Empat Mazhab,(Bandung:Hasyimi,2012),h. 327
Fiqih Munakahat 53
Perkawinan dengan keluarga dekat
mengakibatkan hal-hal yang negatif dari kedua
orang itu yang akan dapat berkumpul pada anak-
anaknya nanti sebaliknya bila perkawinan itu
dengan keluarga jauh, maka akan menurunkan
kepada anak yang positif. Kemudian hal-hal yang
positif adalah merupakan suatu sifat yang baik,
kecerdasan dan kekuatan mental serta fisiknya.46
Jadi, dari uraian diatas jelas bahwa, kawin
dengan keluarga dekat itu tidakbisa
menghasilkan keturunan yang baik, maka, dari
itu kita dianjurkan untuk tidak kawin dengan
keluarga dekat.

3. Mahram Karena Sepenyusuan

a. Rasulullah SAW bersabda tentang putri Hamzah


r.a,
“Dia tidak halal bagiku. Wanita yang haram di
nikahi karena sepersusuan sama seperti wanita
yang haram dinikahi karena hubunga nasab
(keturunan). Dia itu putri saudara sepersusuan
ku.” (HR.Bukhari dn Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda:


“Hubungansepersusuan mengharamkan (wanita
untuk dinikahi) seperti haram menikahinya
karena alasan kelahiran atau (keturunan).” (HR.
Bukhari dan Muslim).

46
Labib Mz Dan Aqis Qisthi Bil , Risalah Fiqih Wanita,
(Surabaya:Bintang Usaha Jaya, 2005),h. 335
54 Fiqih Munakahat
Dengan demikian, wanita-wanita yang haram
dinikahi oleh seorang lelaki karena hubungan
sepersusuan adalah sebagai berikut :
1) Wanita yang menyusuinya dan ibunya
(karena dia seperti ibunya sendiri).
2) Anak perempuan wanita yang menyusuinya,
baik yang lahir sebelum dirinya maupun
setelahnya (karena mereka seperti saudara-
saudara perempuannya).
3) Saudara perempuan wanita yang
menyusuinya (karena statusnya sama dengan
bibinya).
4) Cucu perempuan wanita yang menyusuinya,
baik dari anak perempuan maupun anak
lelakinya (karena statusnya sama dengan
keponakannya).
5) Ibu suami wanita yang menyusuinya dimana
susu wanita tersebut tersedia karena hamil
dari suaminya itu (karena statusnya sama
dengan neneknya sendiri).
6) Saudara perempuan suami wanita yang
menyusuinya (karena dia sama dengan
bibinya).
7) Anak perempuan (tiri) wanita yang
menyusuinya ( karena dia sama dengan
saudara tirinya).
8) Istri lain suami wanita yang menyusuinya
(karena statusnya sama dengan ibu tirinya).

Fiqih Munakahat 55
9) Istri anak susu haram di nikahi oleh suami
wanita yang menyusuinya (karena statusnya
sama denga istri anakya sendiri (menantu)).
10) Jika yang menyusui adalah perempuan maka
dia haram menikah denga suami wanita yang
menyusuinya, karena statusnya sama dengan
ayahnya; saudara suami wanita yang
menyusuinya, karea dia sama seperti
pamannya; dan ayah suami wanita yang
menyusuinya, karena dia seperti kakeknya
sendiri.
Hukum mahram hanya berlaku bagi orang
yang di susui, tidak berlaku bagi kaum
kerabatnya. Misalnya, saudara perempuan
sepersusuannya tidak menjadi saudara
perempuan bagi saudara kandungnya.47

b. Dua orang dari sebab menyusu


1) Ibu yang menyusuinya
2) Saudara peremuan yang sepersusuan48

c. Sabda Rasulullah SAW


“Diharamkan bagimu karena ada hubungan
sesusuan apa yang diharamkan karena ada
hubungan nasab.” (HR.Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, Ahmad, An-nasa’i dan Ibnu Majah)

47
Abu Malik Kamal Bin Sayyid Salim, Fiqih Sunah untuk
Wanita, (Jakarta : Al-I’tishom Cahaya Umat,2007),h. 608,610,611
48
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru, 1988), h.
361
56 Fiqih Munakahat
Berdasarkan hadits diatas dapat dirinci
bahwa haramnya wanita dinikahi oleh hubungan
sesusuan ini sebagai berikut :

1) Ibu susuan, yakni ibu yang menyusui,


maksudnya seorang wanita yang pernah
menyusui seorang anak di pandang sebagai
ibu bagi anak yang disusui itu sehingga
haram melakukan perkawinan.
2) Nenek susuan, yakni ibu dari yang pernah
menyusui, atau ibu dari suami ibu yang
menyusui dipandang sebagai ayah bagi si
anak susuan, sehingga haram melakukan
perkawinan.
3) Bibi sesusuan, yakni saudara perempuan ibu
susuan atau saudara perempuan suami ibu
susuan dan seterunya keatas.49
4) Keponakan perempuan, yakni anak
perempuan dari saudara ibu susuan.
5) Mereka dikumpulkan berdasarkan keharaman
karena keturunan dari ibu-ibu, anak-anak
perempuan, saudara-saudara perempuan,
saudara-saudara perempuan dari bapak,
saudara perempuan dari ibu, anak
perempuan dari laki-laki, dan anak-anaak
perempuan dari perempuan, berdasarkan
sabda Nabi “diharamkan karena sebab

49
Djuman Nur, Fiqih Munakahat,(Semarang: Dina
Utama,199),h.52-54

Fiqih Munakahat 57
sesusuan seperti keharaman atas keturunan
(nasab)”.
Sesusuan yang diharamkan jiak tidak
mencapai dua tahun. Ini menjadi jelas jika
diikuti sampainya susu sebenarnya pada
rongga yang menyusui dan di anggap
menyusui, berdasarkan sabda Rasulullah ““
tidaklah haram sekali isapan atau 2 kali
isapan”

Karena sekali isapan adalah sesuatu yang


kecil, susunya tidak sampai pada
50
tenggorokan kaarena sifatnya sedikit.
6) Saudara susuan perempuan, baik saudara
seayah kandung maupun seibu saja.
Sabda Rasulullah SAW :

“tidak haram kawin karena sekali atau dua


kali susuan.”(HR.Jamaah kecuali bukhari).

Sabda Rasulullah SAW :

“dari Uqbah Ibnu Harits dia berkata : saya


pernah kawin dengan Ummu yahya putri Abi
Irham, lalu datanglah seorang budak
perempuan hitam seraya menerangkan,
kamu berdua ini dulu pernah aku susui, lalu
saya datang kepada Nabi menceritakan hal
tersebut, maka sanda nabi : bagaimana lagi,

50
Ali Yusuf As-Subki, Fiqih Keluarga, (Jakarta : Amzah, 2010),
h. 124-125
58 Fiqih Munakahat
toh sudah terjadi, karena itu ceraikanlah dia.”
(HR.Bukhari – Muslim).

Dari keterangan di atas yang dimaksud


dengan susuan yang mengakibatkan haram
untuk nikah adalah susuan yang diberikan pada
anak yaang memang masih memperoleh
makanan dari air susu. Tentang berapa kali si
anak tersebut menyusu yang mengakibatkan
haram nikah, para ulama berbeda pendapat.
Imam Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa
tidak di batasi berapa kali anak itu memyusu,
asal seseorang bayi itu menyusu kepada
seorang ibu dan dia kenyang, maka hal itu
sudah menyebabkan haram nikah. Imam Syafi’i
dan Imam Ahmad berpendapat bahwa: mereka
membatasi sekurang-kurangnya 5 kali menyusu
dan masing-masing mengenyangkan. Abu Tsaur,
Abu Ubaid, Daud Ibnu Ali Adz-Dz Ahiri dan Ibnu
Muzakkir berpendapat bahwa sedikitnya 3 kali
susuan yang mengenyangkan51.

D. Hukum Menikahi Wanita Ahli Kitab

Dalam islam, “Ahli Kitab“ adalah orang-orang Yahudi


dan Nasrani, mereka yang percaya pada Kitabullah Taurat
dan Injil, yang masing-masing diturunkan kepada Nabi Musa
a.s dan Nabi Isa a.s. Menikah dengan wanita Ahli Kitab

51
Djaman Nur, Fiqih Munakahat,(Semarang: Dina
Utama,1993),h.55

Fiqih Munakahat 59
Memang diperkenankan dalam Islam berdasarkan petunjuk
Al-Qur’an berikut ini:

‫َﺎب ِﻞ ﻟ ُ َْﲂ‬ َ ‫َﺎت ۖ وَﻃَ ﻌَﺎ ُم ا ِ ﻦَ وﺗُﻮا ا ْﻟ ِﻜ‬ ُ ‫اﻟْﯿَﻮْ َم ِﻞ ﻟ ُ َُﲂ اﻟﻄ ِﯿّﺒ‬
َ‫ُﲂ ِﻞ ﻟَﻬُﻢْ ۖ وَاﻟْ ُﻤﺤ َْﺼﻨ َُﺎت ﻣِﻦَ اﻟْﻤُﺆْ ِﻣ َِﺎت وَاﻟْ ُﻤﺤ َْﺼﻨ َُﺎت ﻣِﻦَ ا ِ ﻦ‬ْ ُ ‫وَﻃَ ﻌَﺎﻣ‬
‫َﺎب ﻣِﻦْ ﻗَ ْﻠ ُ ِْﲂ ا ذَا ٓﺗَ ْ ُﻤُﻮﻫُﻦ ﺟُﻮرَ ﻫُﻦ ُﻣﺤْﺼِ ﻨِﲔَ ْ ََﲑ‬ َ ‫وﺗُﻮا ا ْﻟ ِﻜ‬
ُ ُ ‫ﻣُﺴَ ﺎ ِﻓ ِﲔَ وَ َﻻ ُﻣ ِ ﺬِي ْﺪَانٍ ۗ وَ ﻣَﻦْ َ ْﻜﻔُﺮْ ِ ْﻻﳝ َﺎنِ ﻓَﻘَﺪْ َﺣ ِ ﻂَ َ َﲻ‬
۞ َ‫َﺎﴎﻦ‬ِ ِ ْ‫وَ ﻫُﻮَ ِﰲ ا ْ ٓﺧِﺮَ ِة ﻣِﻦَ اﻟ‬
Artinya : “Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik.
makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi
Al-kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu
halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan
mangawini) wanita yang menjaga kehormatan.
diantara wanita-wanita yang beriman dan
wanita-wanita yang menjaga kehormatan di
antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum
kamu, bila kamu telah membayar mas kawin
mereka dengan maksud menikahinya, tidak
dengan maksud berzina dan tidak (pula)
menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa
yang kafir sesudah beriman (tidak menerima
hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya
dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang

60 Fiqih Munakahat
merugi. Ada yang mengatakan wanita-wanita
yang merdeka.” (Q.S Al-Maidah 5:5)52

Ada kesepakatan pendapat para ulama “Ahli Al-


Sunnah Wal Jamaah” bahwa menikah dengan wanita Yahudi
dan Nasrani diperbolehkan karena ia pernah dipraktekkan
oleh para sahabat Nabi SAW seperti Utsman,Thalhah, Ibn
Abbas, Huzaifah, dan para Tabi’in seperti Said bin Al-
Musayyab, Said bin Jubair, Al-Hasan, Mujahid, Thawus,
Ikrimah, dan lain-lain.

Meskipun ada amalan dari para sahabat dan tabi’in


tersebut, namun Abdullah bin Umar berpendapat tidak boleh
mengawini wanita Yahudi ataupun Nasrani. Dia berkata:
“Allah telah melarang menikahi orang musyrik, maka aku
tak tahu mana syirik/kemusyrikan yang lebih besar dari
pada seorang wanita yang berkata bahwa Tuhannya adalah
Isa, padahal Isa sesungguhnya Isa hanyalah hamba dan
Rasul Allah di antara Rasul-rasul yang lainnya.”

Para Ulama dari keempat Mazhab Hukum Islam telah


membahas masalah perkawinan dengan Wanita Ahli kitab
dan telah pula memberikan pandangan hukumnya. Menurut
Mazhab Hanafi, Haram hukumnya menikahi wanita Ahli
kitab bila si wanita itu berada di negeri yang sedang
berkecamuk perang dengan kaum Muslimin (Bar Al-Harbi),
karena hal itu dapat menimbulkan kerugian. Dalam keadaan
demikian, maka anak-anak hasil perkawinan itu akan lebih
cenderung pada agama ibunya. Sedangkan Mazhab Maliki
sebaliknya, ia memiliki dua pendapat, pertama bahwa

52
Ibid, h 33
Fiqih Munakahat 61
Menikah dengan Ahli Kitab hukumnya Makruh sama sekali,
apakah dia seorang dzimmi ataukah penduduk dalam
wilayah perang. Dalam hal yang terakhir itu, hukumnya
lebih berat lagi.Pendapat kedua, hukumnya tidak Makruh,
karena Al-Qur’an telah mendiamkannya sebagai
persetujuan. Mereka menunjukkan ketidaksukaan atas
perkawinan semacam itu di negeri muslim karena bagi
wanita tak terlarang meminum anggur, makan daging babi,
atau pergi ke gereja, padahal cara ini mempengaruhi
kepercayaan dan perilaku anak- anaknya. Sedangkan bagi
Ahli Kitab bukan keharusan kalau kedua orang tuanya dari
golongan Ahli Kitab. Perkawinanya akan tetap sah sekalipun
ayahnya dari Ahli Kitab dan ibunya seorang penyembah
berhala.53

Dibolehkannya Menikahi wanita Ahli Kitab

‫ ﻛَﻮْﳖُ َﺎ ﻣ ُْﺴ ِﻠ َﻤ ًﺔ او ِﻛﺘَﺎ ِﺑ َﯿ ًﺔ َﺎﻟ َِﺼ ًﺔ ِذ ِّﻣ ًﺔ‬,ٍ‫ اَﻧ ُﻪ ُﺸْ َ َﱰ ُط َاﯾْﻀً ِﺎﰱ اﻟْ َﻤ ْﻨﻜُﻮْ َ ﺔ‬,ْ‫ِا َْﲅ‬
.‫ﰷَ ﻧ َْﺖ او ﺣﺮْ ﺑِﯿ ًﺔ‬
Artinya : “Ketahuilah! Bahwa disyaratkan untuk calon istri
hendaknya orang muslimah atau kitabiyah
khalisah, baik dzimmi atau harby.”

Halal Tapi Makruh menikahi Ahli Kitab

‫وَ ِﲀَ حُ ْ َِﲑﻫَﺎ َِﴩ ِْط اَنْ ﯾُﻌْﲅَ َ ُدﺧُﻮْلُ اَولِ َا َ ﲛِ َﺎ ِﻓ ْ ِﻪ ﻗَ ْﻠَﻬَﺎ وَ ﻟَﻮْ ﺑَﻌْﺪَ اَﻟﺘ ْﺤ ِﺮﯾ ِْﻒ‬
.‫َﺮف‬ ُ ‫اِنْ ﲡَ َﻨﺒُﻮْ اﻟْ ُﻤﺤ‬
53
Ibid,h 34-35.
62 Fiqih Munakahat
Artinya : “Juga halal tapi makruh menikahi wanita ahlul
kitab selain israiliyah dengan syarat diketahuinya
bahwa nenek moyang awal kenasabannya
memasuki agama tersebut sebelum terutusnya
Nabi Isa AS sekalipun setelah terjadi
pengorbanan kitab jika mereka menyingkirkan
perubahan yang palsu itu.”54

E. Hukum Menikahi Wanita Yang Pernah Berzina

Jumhur ulama’ mengatakan boleh menikahi


perempuan yang telah berzina, tapi beberapa imam
madzhab.

1. Imam Ahmad bin Hanbal memberikan syarat perempuan


yang melakukan zina boleh dinikahi jika ia telah taubat
jika tidak bertaubat maka dia tidak boleh dinikahi oleh
orang yang pernah berzina dengannya atau orang lain
yang ingin menikahinya. Pendapat ini juga diikuti oleh
Ibnu Taimiyah dan beberapa ulama salaf. Karena taubat
itu bisa membersihkan nama orang yang pernah
melakukan zina. Nabi SAW bersabda:

” َ َ‫”اﻟﺘَﺎﺋ ُِﺐ ﻣِﻦَ ا ﻧ ِْﺐ ﳈَ َﻦْ َﻻ َذﻧْﺐ‬


Artinya : “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang
yang tidak memiliki dosa/dihapus.”
(Ibnu Majah, al-Bayhaqi, hadits hasan
shohih) Bahkan Ibnu Taimiyah mengharuskan

54
Aliy As’ad, Fathul Muin, ( Menara Kudus Kota: Kudus,
1979 ) h. 31.
Fiqih Munakahat 63
untuk menguji apakah perempuan yang
berzina benar – benar telah bertaubat.
2. Imam Syafi’i, Imam Abu hanifah dan Imam Malik tidak
mensyaratkan taubat bagi penzina yang akan dinikahi.
3. Imam as-Syaukani berpendapat, ”hadits inimenjadi dalil
bahwa seorang perempuan tidak boleh menikah dengan
lelaki yang telah berzina, demikian juga dengan lelaki
tidak boleh menikahi perempuan yang pernah
melakukan zina. Karena ayat sangat jelas mengatakan
keharamanya.” Ini adalah pendapat yang independen
dari Imam as-Syaukani dia tidak mengikuti pendapat
para imam madzhab.
4. Ulama’ yang lain berpendapat, ”zina merupakan salah
satu hal yang bisa membatalkan sahnya pernikahan.”
Pendapat ini juga di ambil oleh al-Hasan. Saya sendiri
cenderung mengambil pendapat mayoritas ulama.
Adapun kawan, kalian bebas mau mengambil pendapat
yang lain. Ini adalah hukum fiqih bagi mereka yang
pernah berzina.55

Harus kita ketahui adalah balasan itu sesuai dengan


amal yang kita lakukan. Bukankah dalam ayat lain Allah
SWT berfirman yang artinya:

Artinya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki


yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-
wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang
baik dan laki- laki yang baik adalah untuk

55
Ibid, h. 33.
64 Fiqih Munakahat
wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang
dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan
oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka
ampunan dan rezki yang mulia (surga).”

Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan


Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada
mereka. Rasulullah SAW adalah orang yang paling
baik,maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri
beliau.
Mereka yang baik – baik dan menjaga kehormatanya
akan dipasangkan dengan orang yang baik pula. Ini adalah
hukum Allah yang berlaku untuk semua mahluknya. Karena
ayat inilah kita bisa melihat dalam kehidupan nyata, mereka
yang pernah melakukan perbuatan keji/zina biasanya juga
akan mendapatkan pasangan yang pernah melakukan zina.
Na’udzubillah min dzaalik. Semoga kita dijauhkan dari
pasangan yang buruk/fasik. Ada banyak kisah tentang ini.
Kecuali Allah berkehendak lain yang ingin menutupi
aib hambanya yang pernah melakukan zina kemudian
bertaubat, Sebagai gantinya Allah berikan dia pasangan
yang masih “suci” terjaga dari perbuatan keji dan hina.56

F. Undang- Undang Tentang Perkawinan Antar


Pemeluk Agama.
Perkawinan antar pemeluk Agama (Pria yang
beragama Islam dengan wanita yang beragama selain Islam
atau sebaliknya) tidak diatur dalam peraturan Perundang-
undangan di Indonesia, baik dalam Undang-Undang Nomor

56
Ibd..,
Fiqih Munakahat 65
1 Tahu1974, Undang No 7 Tahun1989, maupun dengan
kompilasi Hukum Islam Tahun 1991. Namun demikian,
kompilasi hukum Islam mengungkapkan larangan terhadap
orang Islam mengawini orang yang tidak beragama Islam
yang diatur dalam Pasal 40 dan 44 KHI.

Pasal 40 KHI :
Dilarang melangsungkan perkawinan antar seorang pria
dengan seorang wanita karena keadaan tertentu:

a. Karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu


perkawinan dengan pria lain
b. Seorang wanita masih berada dalam masa iddah
dengan pria lain.
c. Seorang wanita yang tidak beragama Islam.

Pasal 44 KHI :
Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan
dengan seorang pria yang tidak beragama Islam.

Jika dilihat dari Pemahaman Fiqih di Indonesia


memungkinkan terjadinya perkawinan antara seoarang pria
yang beragam Islam dengan wanita Kitabiyah. Wanita
Kitabiyah adalah orang Yahudi dan Nasrani. Kebolehan
tersebut didasari oleh adanya kesamaan kitab suci, yaiyu
masing-masing berasal dari wahyu Allah. Namun sebaliknya
wanita muslimah menikah dengan pria yang beragama
selain Islam tidak dibolehkan.57

57
Zainuddin Ali, Hukum PerdataIslam ( Jakarta: Sinar Grafika
2006), h 98- 99
66 Fiqih Munakahat
BAB V
Khitbah

A. Pengertian Khitbah
Dalam buku Amir Syarifuddin, Setelah ditentukan
pilihan pasangan yang akan dikawini sesuai dengan kriteria,
langkah selanjutnya adalah penyampain kehendak untuk
menikahi pilihan yang telah ditentukan itu. Penyampaian
kehendak untuk menikahi seseorang itu disebut dengan
khitbah atau yang dalam bahasa Melayu disebut
“peminangan”.58

Dalam buku Ali Yusuf As-Subki, adalah Kata khitbah


(dengan dibaca kasrah kha-nya) secara bahasa ialah
seseorang yang meminang perempuan pada suatu kaum,
jika ia ingin menikahinya. Apabila dibaca fathah, atau
dhamah kha-nya bermakna orang yang berkhutbah pada
suatu kaum dan menasihatinya, bentuk jamaknya
khuthabun dan fail (pelakunya) disebut khatib. Adapun jika
kha-nya dibaca kasrah secara syara’ adalah keinginan
seseorang laki-laki untuk memiliki perempuan yang jelas
dan terlepas dari berbagai halangan. Atau keinginan
seorang laki-laki untuk memiliki perempuan yang halal
untuk dinikahi.59

58
Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqih,(Jakarta:Kencana
Prenada Media Grop,2003),h.82
59
Ali Yusuf As-Subki, Fiqih
Keluarga,(Jakarta:Amzah,2010),h.66
Fiqih Munakahat 67
Dalam buku Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul
Wahhab Sayyed Hawwas, adalah Khitbah adalah permintaan
seorang laki-laki untuk menguasai seorang wanita tertentu
dari keluarganya dan bersekutu dalam urusan kebersamaan
hidup atau dapat pula diartikan, seorang laki-laki
menampakkan kecintaannya untuk menikahi seorang wanita
yang halal dinikahi secara syara’.60
Dalam buku Ali Yusuf As-Subki , Fiqih Keluarga,
(Jakarta: Amzah, 2010), hlm.66 adalah Khitbah merupakan
pernyataan yang jelas atas keinginan menikah, ia
merupakan langkah-langkah menuju pernikahan meskipun
khitbah tidak berurutan dengan mengikuti ketetapan, yang
merupakan dasar dalam jalan penetapan, dan oleh karena
itu seharusnya dijelaskan dengan keinginan yang benar dan
kerelaan penglihatan.61
Sesungguhnya Islam menjadikan khitbah sebagai
perantara untuk mengetahui sifat-sifat perempuan yang
dicintai, yang laki-laki menjadi tenang terhadapnya, dengan
orang yang diinginkannya sebagai suami baginya sehingga
menuju pelaksanaan pernikahan. Ia seorang yang
menyenangkan untuk ketinggian istrinya secara indrawi dan
maknawi sehingga tidak menyusahkan hidupnya dan
mengeruhkan kehidupanya.62

60
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed
Hawwas, Fiqih Munakahat (Khitbah, Nikah, dan Talak) h, 8
61
Ali Yusuf As-Subki , Op.Cit,h.66
62
Musthafa Abdul Wahid, Al-Usrah fi al-Islam, h.29.
68 Fiqih Munakahat
B. Khitbah Yang Diperbolehkan
Dalam buku Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul
Wahhab Sayyed Hawwas, yaitu Dalam peminangan
(khitbah) tidak sah kecuali dua syarat, yaitu seorang wanita
yang baik diakad nikahi dan wanita yang belum terpinang.63
Dalam buku Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul
Wahhab Sayyed Hawwas, yaitu Seorang wanita yang baik
diakad nikahkan pada saat pinangan sehingga dapat
menyempurnakan akad nikah. Karena khitbah berfungsi
sebagai sarana (wasilah) untuk mencapai tujuan, yakni
nikah. Hukum sarana sama dengan hukum tujuan. Jika
tujuan itu tidak disyariatkan maka sarana pun terlarang.
Wanita sebagai objek akad jika ia terlepas dari berbagai
larangan nikah secara syara’ dan tidak haram karena suatu
sebab dari berbagai sebab keharaman. Sebab keharoman
itu ada kalanya kekal abadi seperti ibu, saudara perempuan,
dan saudara perempuan dari pihak bapak maupun ibu
istrinya. Wanita yang haram abadi tidak boleh dinikahi
dalam keadaan bagaimanapun karena sebab keharamannya
bersifat tetap yang tidak akan sirna. Sedangkan wanita yang
diharamkan bersifat temporal tidak boleh dinikahi selama
sebab keharaman itu masih ada namun jika sebab
keharoman itu sudah lenyap, bagi orang yang ingin
menikahinya boleh melakukan khitbah.Misalnya, wanita
murtad kembali masuk Islam, wanita musyrik memeluk
agama Samawi dan wanita yang tertalak yang sudah habis
masa iddahnya.64 Kemudian syarat khitbah yang lain yaitu

63
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed
Hawwas, Fiqih Munakahat (Khitbah, Nikah, dan Talak),h.18
64
Ibid, h.19
Fiqih Munakahat 69
seorang wanita yang belum terpinang maka boleh untuk
meminangnya.65
Dari dua syarat diatas dapat dipahami bahwa
khitbah yang diperbolehkan adalah khitbah yang memenuhi
dua syara’ yaitu seorang wanita yang baik untuk
diakadnikahi dan seorang wanita yang belum terpinang.

C. Khitbah Yang Diharamkan


Dalam buku Saleh Bin Fauzan, yaitu Sebagaimana
ketentuan dalam khitbah yang diperbolehkan diatas harus
sesuai dengan dua syarat.Oleh karena itu khitbah
diharamkan jika tidak memenuhi syarat diatas. Khitbah yang
diharamkan antara lain :
1. Haram meminang seorang wanita dalam masa
iddah

Diharamkan untuk meminang seorang wanita


dalam masa iddahnya dengan diungkapkan secara
terang-terangan, contohnya, “saya ingin menikahimu”,
sebagaimana firman Allah:

Artinya : “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang


wanita-wanita itu dengan sindiran atau
kamu menyembunyikan (keinginan
mengawini meraka) dalam hatimu.” (Al-
Baqarah: 235)

Diperbolehkan bagi laki-laki yang akan meminang


wanita yang masih dalam masa iddahnya untuk
mengungkapkan maksudnya dengan sindiran,

65
Ibid,h..26
70 Fiqih Munakahat
contohnya dengan mengatakan “saya suka dengan
wanita sepertimu,” atau “jangan kau melupakanku.”

Ungkapan diatas mengindikasikan adanya


larangan untuk berterus terang dalam meminang
wanita yang masih dalam masa iddah, seperti dengan
mengatakan, “saya ingin menikahimu.” Karena,
ungkapan terus terang itu tidak akan membawa arti lain
kecuali menikah. Hal itu tidak menjamin seorang wanita
akan memberitahukan bahwa masa iddhnya telah habis
sebelum waktunya tiba.66
Imam Ibnu Qayyim berkata, “diharamkan
meminang wanita dalam iddahnya dengan terang-
terangan, walaupun iddah tersebut adalah iddahnya
seorang wanita yang ditinggal wafat suaminya. Sebab,
sumber berita tentang habisnya masa iddah itu tidak
tergantung dari wanita yang bersangkutan. Jika
diperbolehkan meminang, maka ia akan menolak untuk
cepat memberikan jawabanya. Atau ia akan berbohong
dengan mengatakan bahwa masa iddahnya telah habis,
dan diperbolehkan meminang seorang wanita yang
masih dalam masa iddahnya dari talak bain (bukan
talak tiga) dengan cara terang-terangan maupun
dengan sindiran. Karena sebenarnya ia boleh dinikahi
oleh mantan suaminya, meski masih dalam masa
iddahnya.”67

66
Saleh Bin Fauzan, Fiqih Sehari-Hari ,(Jakarta:Gema Insani
Press, 2005), h.645
67
Imam Ibnu Qayyim
Fiqih Munakahat 71
Syeikh Taqiyyuddin berkata, “diperbolehkan
meminang terang terangan atau sindiran bagi orang
yang berhak atas iddahnya (suami), jika ia masih
diperbolehkan untuk menikahinya pada masa iddah
tersebut.”68
Untuk memperjelas permasalahan khitbah
terhadap wanita tertalak dalam masa iddah, berikut ini
akan dipaparkan secara terperinci.

a. Wanita ber-iddah talak raj’i


Para fuqaha sepakat keharaman meminang
wanita dalam masa tunggu (iddah) talak raj’i
(suami boleh kembali pada istri karena talaknya
belum mencapai ketiga kalinya) baik menggunakan
bahasa tegas (sharih) maupun menggunakan
bahasa sindiran (kinayah). Sang istri yang tertalak
raj’i masih berstatus istri dan hak suami atas istri
masih eksis selama dalam masa iddah. Suami boleh
ruju’ tanpa meminta kerelaan darinya, tidak perlu
akad dan mahar baru selama masih berada dalam
masa iddahnya.

Diharamkan bagi laki-laki lain melakukan


khidbah pada wanita dalam masa iddah karena
khitbah dalam kondisi ini berarti melawan hak
suami pencerai, menodai perasaanya dan
merampas haknya dalam mengembalikan istri
tercinta kepangkuannya karena terkadang wanita
itu mempunyai banyak anak yang masih kecil yang

68
Syeikh Taqiyyuddin
72 Fiqih Munakahat
kemudian bisa terlantar karenanya.69 Meminang
wanita dalam masa iddahnya membuat wanita
berbohong, mengaku telah habis masa iddahnya
padahal ia belum habis masa iddahnya

b. Wanita ber-iddah talak ba’in


Tidak ada perselisihan dikalangan fuqaha,
bahwa tidak boleh meminang wanita masa iddah
talak ba’in qubra (talak ba’in besar yakni tiga kali
cerai) dengan kalimat yang jelas. Kecuali dengan
menggunakan sindiran , jumhur ulama
memperbolehkan sekalipun ulama Hanafiyah tidak
memperbolehkan. Namun ulama Malikiyah,
Syafi’iyah, dan Hanabillah memperbolehkan
berdasarkan dalil nash Qur’an, sunnah, dan rasio.

c. Wanita ber-iddah talak ba’in shughra


Dalam talak ba’in shughra terdapat
perbedaan pendapat, namun menurut mayoritas
ulama berpendapat keharaman melakukan
pinangan sindiran terhadap wanita tersebut
dikarenakan dengan bolehnya pinangan dengan
selain suami pencerai, akan menimbulkan
terjadinya permusuhan antara keduanya,
sementara suami pencerai berhak kembali dengan
akad dan mahar baru dan lebih utama daripada
yang lain. Terlebih jika mantan pasangan suami
istri itu mempunyai anak banyak, tentunya mereka
berhak hidup bersama bapak ibunya sehingga

69
Muhammad Abi Zahra, Al-Ahwal Asy-Syakhshiyah,h.28 dan
Abd Al-Fattah Abi Al’Aynain,Al-Islam wa Al-Usrah, h.111
Fiqih Munakahat 73
mereka dapat menikmati kehidupan yang tenang
dan tentram. Jika peminangan itu dibolehkan,
berati merampas hak suami pencerai dan juga akan
menelantarkan keluarga dan menimbulkan
bencana.

d. Wanita ber-iddah karena khulu’ dan fasak


Wanita beri-iddah karana khulu’ (talak karena
permohonan istri dengan hadiah) atau karena
fasakh nikah (ada suatu yang merusak keabsahan
nikah) karena suami miskin atau menghilang, tidak
pernah pulang. Hukum meminang sindiran
terhadap kedua wanita tersebut terjadi perbedaan
pendapat dikalangan ulam sebagaimana meminag
sindiran terhadap wanita pada masa iddah dari
talak ba’in shughra.
Fuqaha sepakat bahwa masing-masing
wanita tersebut tidak boleh dipinang secara jelas
dari selain suami pencerai. Bagi suami pencerai
boleh saja memperjelas atau menyindir pinangan
selain wanita ber-iddah talak ba’in qubra, baginya
haram hingga wanita itu dinikahi laki-laki lain yang
telah berhubungan intim kemudian dipisah dengan
cerai atau dengan yang lain dan telah habis masa
iddahnya.
e. Wanita ber-iddah karena kematian suami
Fuqaha sepakat tidak boleh meminag dengan
jelas kepada wanita yang masih dalam masa iddah
karena kematian suami. Hikmah adanya larangan
tersebut pada umumnya dikarenakan dapat
mendatangkan berbagai bencana, antara lain:

74 Fiqih Munakahat
1. Adanya permusuhan antara peminang dan
keluarga suami yang meninggal
2. Keluarga almarhum menjadi benci dan
memusuhi wanita terpinang jika ia menerima
pinangan seorang setelah wafat suaminya dan
belum habis masa iddahnya.
3. Suami yang telah almarhum mempunyai
kehormatan dan banyak teman, wajib dijaga
dan tidak dapat segera diingkari dari sisi
istrinya.
4. Pinangan secar jelas tidak relevan dengan
kondisi yang seharusnya karena istri sedang
meninggalkan hiasan yang menyolok, bela
sungkawa dan berduka cita atas kematian
suami.

Fuqaha sepakat tidak boleh meminang secar


jelas terhadap wanita ber-iddah dari kematian
suami sebagaiman kesepakatan diperbolehkannya
meminang dengan sindiran. Dasar ketentuan
tersebut adalah firman Allah (QS.Al-Baqarah (2):
235) yaitu :

Artinya : “Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang


wanita-wanita itu dengan sindiran atau
kamu menyembunyikan (keinginan
mengawini meraka) dalam hatimu.” (QS.
Al-Baqarah: 235)

Hikmah diperbolehkannya sindiran dalam


pinangan disini bahwa hubungan antara wanita dan

Fiqih Munakahat 75
suaminya telah selesai disebabkan kematian
sehingga tidak ada jalan untuk menyatukan
kembali antar mereka berdua. Oleh karena itu,
tidak ada permusukhan pada hak suami yang
meninggal dalam pinangan sindiran. Masa iddah
wanita karena kematian tidak dihitung berdasarkan
menstruasi atau kesucian, namun berdasarkan
pada kelahiran anak atau empat bulan sepuluh
hari. Dalam hal ini tidak ada kesempatan
berbohong dalam menghitung selesainya iddah.70

2. Meminang seorang wanita yang masih dalam


pinangan orang lain.

Dalam buku Saleh Bin Fauzan, yaitu Barang


siapa yang meminang seorang wanita, kemudian
seorang wanita tersebut telah memberikan jawaban
positifnya, maka dilarang bagi orang lain untuk
meminang wanita tersebut, sampai ia memberi izin atau
telah membatalkan pinangannya yang pertama. Hal ini
sebagaimana sabda Nabi saw, yaitu:

َ‫ا ذَاﺧَﻄِ ﺐَ َﺪُ ﰼُ ْ اﻣْﺮَ ًة ﻓَﻘَﺪَ رَ نْ َﺮَي ﻣِﳯْ َﺎ ﺑ َﻌ َْﺾ ﻣ َﺎ ﯾ َﺪْ ﻋُﻮْ ُﻩ اﱃ‬
(‫ِﲀَ ِ َﻔﻠْ َﯿ ْﻔﻌَﻞْ )رواﻩ ٔﲪﺪ و ٔﺑﻮداود‬
Artinya : “Dilarang meminang seorang wanita yang
berada dalam pinangan seorang laki-laki

70
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed
Hawwas, Fiqih Munakahat (Khitbah, Nikah, dan Talak) h,26
76 Fiqih Munakahat
sampai ia menikahinya atau meninggalkan
pinangannya.” (HR.Bukhari dan Nasa’i)

Selain itu juga ada hadist yang lain yaitu:

Artinya : “Tidak diperbolehkan bagi seorang mukmin


untuk meminang wanita yang dalam
pinangan saudaranya, sampai ia
meninggalkannya.” (HR.Muslim)

Dan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar


disebutkan :
Artinya : “Dilarang bagimu meminang atas pinangan
saudaranya.”(Muttafaq Alaih)

Dalam riwayat Bukhari disebutkan, bahwa:


Artinya : “Dilarang bagi laki-laki lain meminang wanita
yang dalam pinangan laki-laki lain sampai
wanita itu ditinggalkan oleh peminang
pertama atau telah mengijinkannya.”

Beberapa hadis diatas memiliki satu maksud dan


makna yang sama, ini menunjukkan betapa
diharamkannya seorang muslim meminang wanita yang
masih berada dalam pinagannya saudaranya yang lain.
Dikarenakan hal itu dapat merusak hak peminang
pertama dan dapat menimbulkan permusuhan diantara
manusia.Hal itu juga melanggar hak-hak mereka,
seandainya sampai terjadi penolakan kepada peminang
pertama, yang menyebabkan diterimanya pinangan
laki-laki yang kedua. Seandainya laki-laki yang
Fiqih Munakahat 77
meminang pertama telah meninggalkan wanita
tersebut, maka laki-laki kedua baru boleh diizinkan
untuk meminangnya, sebagaimana yang disebutkan
dalam sabda Nabi Saw, yaitu:

Artinya : “Sampai ia (laki-laki pertama yang meminang)


mengizinkan atau meninggalkannya.”

Inilah etika dan kehormatan yang diajarkan kepada


ayariat setiap muslim. Termasuk beberapa larangan yang
dapat menimbulkan permusuhan satu sama lain. Oleh
karena itu bagi seorang muslim harus senantiasa
memperhatikan hal ini dan senantiasa menjaga hak
seorang muslim terhadap saudaranya yang lain sangatlah
mulia. Maka, janganlah seseorang meminang seorang
wanita yang sedang berada dalam pinangan orang lan.
Janganlah membeli barang yang telah ditawar oleh orang
lain dan jangan menyakiti walau denagn cara apapun
juga.71

Selain itu juga Ibnu Hazm Muhammad


Uwaidahmengatakan: Tidak diperbolehkan menikahi ibu,
nenek dari bapak atau ibu, meskipun hubungannya tidak
dekat. Tidak juga putri dan putri dariputrinya (cucu) putri
dari putranya dan seterusnya. Juga tidak diperbolehkan
menikahi saudara perempuan, putri saudara (kemenakan)
dan seterusnya sampai ke bawah. Serta tidak boleh

71
Saleh Bin Fauzan, Fiqih Sehari-Hari ,(Jakarta:Gema Insani
Press, 2005), h.646-648
78 Fiqih Munakahat
menikahi ibu istrinya (mertua) dan neneknya, meskipun
hubungannya jauh.72
Allah swt berfirman: “Diharamkan atas kalian
(menikahi) ibu-ibu kalian, anak-anak perempuan kalian,
saudara-saudara perempuan kalian, saudara-saudara
perempuan bapak kalian, saudara-saudara ibu kalian,
anak-anak perempuan dari saudara-saudara laki-laki
kalian, anak-anak perempuan dari saudara-saudara laki-
laki kalian, anak-anak perempuan dari saudara-saudara
perempuan kalian, ibu-ibu yang menyusui kalian, saudara
perempuan sepersusuan, ibu-ibu istri kalian (mertua),
anak-anak istri kalian yang dalam pemeliharaan kalian
(Maksud dari kata ibu pada awal ayat ini adalah ibu, nenek
dan seterusnya ke atas. Sedangkan yang dimaksud
dengan anak-anak perempuan adalah anak perempuan,
cucu perempuan dan seterusnya ke bawah. Demikian juga
pada yang lainnya. Adapun yang dimaksud dengan “anak-
anak istri kalian berada yang dalam pemeliharaan kalian”,
menurut jumhur ulama, termasuk juga anak tiri yang tidak
dalam pemeliharaannya) dari istri yang telah kalian
campuri. Tetapi jika kalian belum bercampur dengan istri
kalian tersebut dan sudah kalian ceraikan, maka tidak ada
dosa bagi kalian untuk menikahinya. (Juga diharamkan
bagi kalian) istri-istri anak kandung kalian (menantu) dan
menghimpun dua perempuan yang bersaudara dalam satu
pernikahan, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (An-Nisa : 23 )

72
Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqih Wanita edisi
Lengkap. (Jakarta: Pustaka Al-Kausar,1998), h. 413-414
Fiqih Munakahat 79
Diharamkan bagi seorang Muslim menikahi wanita
yang telah dilaknatinya. Hal ini sebagaimana sabda
Rasulullah saw :

Artinya : “Dua orang (laki-laki dan perempuan) yang saling


melaknat, jika berpisah, tidak boleh disatukan
kembali selamanya.“(HR. Malik dan Abu
Dawud)

Menurut Imam Malik, dua orang (laki-laki dan


perempuan) yang saling melaknat tidak boleh menikah
selamanya.

Yang Haram dinikahi Dalam Waktu Tertentu

a. Saudara perempuan istri (ipar), sampai si istri


diceraikan dan menyelesaikan masa iddahnya atau
setelah istrinya meninggal dunia. Hal ini sebagaimana
difirmankan oleh Allah swt.
“Dan diharamkan bagi kalian menghimpun (dalam
satu pernikahan) dua perempuan yang bersaudara,
kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.” (An-
Nisa : 23)
b. Bibi dari istri, baik dari pihak bapak maupun ibu. Ia
tidak boleh dinikahi, kecuali setelah putri saudara laki-
laki atau saudara perempuannya itu (istri) diceraikan
serta menyelesaikan masa iddahnya atau istrinya telah
meninggal dunia.
c. Wanita yang bersuami (Muhshanah), sehingga
diceraikan oleh suaminya dan menyelesaikan masa
iddahnya. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah
swt, yaitu :

80 Fiqih Munakahat
Artinya: “Dan diharamkan juga bagi kalian menikahi
wanita-wanita yang bersuami.” (An-Nisa:
24)
d. Wanita yang sedang menjalani masa iddah, baik
karena perceraian maupun karena kematian
suaminya, sehingga ia menyelesaikan masa iddahnya.
Pada saat menjalani massa iddah tersebut juga
diharamkan untuk melamarnya. Akan tetapi, tidak ada
larangan untuk menyatakannya dengan sindiran,
sebagaimana disebutkan pada firman Allah swt di
dalam surat Al-Baqarah ayat 235.
e. Wanita yang telah ditalak tiga (ba’in) sehingga ia
dinikahi oleh laki-laki lain, yang kemudian berpisah
karena perceraian maupun kematian dan telah
menyelesaikan masa iddahnya. Hal ini sesuai dengan
firman Allah swt di dalam surat Al-Baqarah ayat 230.
f. Wanita yang berzina , sehingga ia benar-benar
bertaubat dari perbuatan tersebut. Hal ini
dilakukannya dengan penuh keyakinan serta telah
menyelesaikan masa iddah dari perzinaannya
tersebut. Sebagaiman firman Allah swt, yaitu :

Artinya : “Dan wanita yang berzina tidak boleh


dinikahi, melainkan oleh laki-laki yang
berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang
demikian itu diharamkan atas orang-orang
yang beriman (maksud dari ayat ini
adalah; tidak pantas bagi orang yang
beriman menikahi orang yang telah

Fiqih Munakahat 81
berbuat zina, demikian pula sebaliknya).”
(QS.An-Nur: 3)73

3. Beberapa Hadits tentang Larangan

Dalam buku Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah,


adalah Dari Abu Hurairah saw, ia mengungkapkan:
“Bahwa Rasulullah saw telah melarang untuk menikahi
seorang wanita berikut bibinya dari pihak bapak atau
bibinya dari pihak ibunya.” (Muttafaqun Alaih)
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Bahwa Nabi saw
melarang menikahi seorang wanita berikut bibinya dari
pihak bapak atau bibinya dari pihak ibunya.” (HR.At-
Tirmidzi)
Imam At-Tirmidzi mengatakan, bahwa hadist ini
berstatus hasan shahih. Secara umum para ulama
mengamalkan isi yang terkandung dalam hadist-hadist di
atas. Penulis tidak melihat adanya perbedaan pendapat
di kalangan mereka, yaitu; bahwasanya tidak
diperbolehkan bagi seorang laki-laki menikahi secara
bersama-sama antara seorang wanita dengan bibinya,
baik dari pihak bapak maupun bibi dari pihak ibunya. Jika
ada seorang wanita yang dinikahi berikut bibinya dari
pihak bapak atau ibunya; atau seorang bibi yang dinikahi
berikut putri saudara perempuannya, maka nikah salah
satu dari keduanya dinyatakan batal. Demikian menurut
pendapat jumhur ulama.

73
Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqih Wanita edisi
Lengkap. (Jakarta: Pustaka Al-Kausar,1998), h.415-416
82 Fiqih Munakahat
Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari
kakeknya, ia berkata ; bahwa Murtsid bin Abi Murtsid Al-
Ghanawi pernah membawa beberapa tawanan ke
Makkah, sedang di Makkah terdapat seorang wanita
pelacur bernama ‘Anaq, yang merupakan temen
dekatnya. Ia (Murtsid) mengatakan, bahwa ia datang
untuk menemui Nabi saw. Lalu ia bertanya kepada
beliau: “Wahai Rasulullah, apakah aku boleh menikahi
‘Anaq? Maka beliau pun terdiam. Kemudian turunlah
ayat: “Dan wanita yang berzina tidak boleh dinikahi
melainkan oleh laki-laki yang berrzina atau laki-laki
musyrik. “Selanjutnya beliau memanggilnya dan
membacakan ayat tersebut seraya berkata: “Janganlah
engkau menikahinya.” (HR. Imam Ahmad dan Abu
Dawud)
Dari Abu Hurairah saw, ia menceritakan; bahwa
Rasulullah saw bersabda:“Tidaklah boleh seorang yang
berzina dan telah didera menikah, melainkan dengan
orang yang semisal dengannya.” (HR. Abu Dawud)74

D. Melihat Wanita Yang Akan Dikhitbah

1. Hukum memandang wanita terpinang


Syariat Islam memperbolehkan seorang laki-laki
memendang wanita yang ingin dinikahi, bahkan
dianjurkan dan disunahkan karena pandangan
peminang terhadap terpinang merupakan bagian dari
sarana keberlangsungan hidup pernikahan dan
ketentraman.
74
Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqih Wanita Edisi
Lengkap. (Jakarta: Pustaka Al-Kausar,1998), h.416
Fiqih Munakahat 83
Dalam hadis disebutkan :

Dari Zabir bin Abdullah berkata :”Rasulullah


bersabda: Jika seseorang meminang perempuan,
maka jika mampu hendaknya ia melihatnya sehingga
ia menginginkan untuk menikahinya, maka
lakukanlah sehingga engkau melihatnya sesuatu
yang menarik untuk menikahinya maka nikahilah”.75
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.)

Dalam buku Saleh Bin Fauzan, Fiqih Sehari-


Hari yaitu Dalam Hadis lain disebutkan :

Artinya : “Lihatlah ia, karena hal itu akan menjadikan


kalian berdua lebih lestari dalam kasih
sayang kalian.”
Hadis diatas mengidentifikasikan adanya izin
kepada laki-laki yang hendak meminang wanita
untuk melihat kepada hal-hal yang telah umum dan
boleh dilihat dari seseorang wanita yang akan
dipinangnya. Ini bisa dilakukan tanpa
sepengetahuannya dan tanpa berkhalwat atau
berduaan saja dengan wanita tersebut, tapi harus
dengan orang lain yang menyertainya.76

Menurut Amir Syarifuddin. Kebolehan melihat


ini didasarkan kepada hadist Nabi dan Jabir menurut
riwayat Ahamad dan Abu Daud dengan sanad yang
dipercaya yang bunyinya: “Bila seseorang diantara

75
HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.
76
Saleh Bin Fauzan, Fiqih Sehari-Hari ,(Jakarta:Gema Insani
Press, 2005), h.644-645
84 Fiqih Munakahat
aku meminang perempuan dan ia melihatnya yang
akan mendorong untuk menikahnya, maka
lakukanlah”.77
Para ulama berkata: “Dibolehkan bagi orang yang
hendak meminang seorang wanita yang
kemungkinan besar pinangannya diterima, untuk
melihat apa yang lazimnya nampak dengan tidak
berkholwat (berduaan) jika aman dari fitnah”.
Dalam hadits Jabir, dia berkata: “Aku
(berkeinginan) melamar seorang gadis lalu aku
bersembunyi untuk melihatnya sehingga aku bisa
melihat darinya apa yang mendorongku untuk
menikahinya, lalu aku menikahinya” (HR. Abu
Dawud, no.2082).
Hadits ini menunjukkan bahwa Jabir tidak
berduaan dengan wanita tersebut dan si wanita tidak
mengetahui kalau dia dilihat oleh Jabir. Dan tidaklah
terlihat dari wanita tersebut kecuali yang biasa
terlihat dari tubuhnya. Hal ini rukhsoh (keringanan)
khusus bagi orang yang kemungkinan besar
pinangannya diterima. Jika kesulitan untuk
melihatnya, bisa mengutus wanita yang dipercaya
untuk melihat wanita yang dipinang kemudian
menceritakan kondisi wanita yang akan dipinang.78
Berdasarkan apa yang diriwayatkan bahwa
Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ummu
Sulaim untuk melihat seorang wanita. (HR. Ahmad)
77
Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqih, (Kencana
Prenada Media Grop2003).h 85
78
Maktabah Abu Salma al-Atsari, Bekal-Bekal Pernikahan
Menurut Sunah Nabi,h.7
Fiqih Munakahat 85
Barang siapa yang diminta untuk menjelaskan
kondisi peminang atau yang dipinang, wajib baginya
untuk menyebutkan apa yang ada padanya dari
kekurangan atau hal lainnya, dan itu bukan termasuk
ghibah.79

2. Batasan anggota tubuh terpinang yang boleh


dilihat
Dalam buku Amir Syarifuddin, yaitu Meskipun
hadis nabi menetapkan boleh melihat perempuan
yang dipinang, namun ada batasan-batasan yang
boleh dilihat dalam hal ini terdapat perbedaan
pendapat dikalangan ulam.80
a. Mayoritas fuqaha’ seperti Imam Malik, Asy-
Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu
pendapatnya mengatakan bahwa anggota tubuh
wanita terpinang yang boleh dilihat hanyalah
wajah dan kedua telapak tangan. Wajah tempat
menghimpun segala kecantikan dan
mengungkapkan banyak nilai-nilai kejiwaan,
kesehatan, dan akhlak. Sedangkan kedua telapak
tangan dijadikan indikator kesuburan badan,
gemuk dan kurusnya. Dalilnya adalah firman
Allah (QS.An-Nur (24): 31)

‫وَ ﻗُﻞْ ِﻠْﻤُﺆْ ِﻣ َِﺎت ﯾَﻐْﻀُ ﻀْ ﻦَ ﻣِﻦْ ﺑ َْﺼﺎرِﻫِﻦ وَﳛَ ْ ﻔَﻈْ ﻦَ ﻓُﺮُ و َ ُﻦ وَ َﻻ‬
ۖ ‫َﴬْﻦَ ِ ُﲞ ُﻤ ِﺮﻫِﻦ َ َٰﲆ ُﺟ ُﻮﲠِ ِﻦ‬
ِ ْ ‫ﯾُ ْﺒ ِﺪ ﻦَ زِﯾ َﳤَ ُﻦ اﻻ ﻣَﺎ ﻇَ ﻬَﺮَ ﻣِﳯْ َﺎ ۖ وَ ﻟْﯿ‬
79
Ibid.,h.7
80
Amir Syarifuddin, Op Cit.h.85
86 Fiqih Munakahat
‫وَ َﻻ ﯾُ ْﺒ ِﺪ ﻦَ زِﯾ َﳤَ ُﻦ اﻻ ِﻟ ُﺒ ُﻌﻮ َﳤِ ِﻦ وْ ٓ َ ﲛِ ِﻦ وْ ٓ َ ِء ﺑُ ُﻌﻮ َﳤِ ِﻦ وْ ﺑْﻨَﺎﲛِ ِﻦ‬
ْ‫وْ ﺑْﻨَﺎ ِء ﺑُ ُﻌﻮ َﳤِ ِﻦ وْ ا ﺧْﻮَاﳖِ ِﻦ وْ ﺑ َِﲏ ا ﺧْﻮَاﳖِ ِﻦ وْ ﺑ َِﲏ ﺧَﻮَاﲥِ ِﻦ و‬
َ‫ِﺴَ ﺎﲛِ ِﻦ وْ ﻣَﺎ َﻣﻠَﻜ َْﺖ ﯾْﻤَﺎﳖُ ُﻦ ِو اﻟﺘﺎ ِﺑﻌِﲔَ ْ َِﲑ ِوﱄ ْاﻻرْ ﺑ َ ِﺔ ﻣِﻦ‬
‫اﻟﻄﻔْﻞِ ا ِ ﻦَ ﻟَﻢْ ﯾ َﻈْ ﻬَﺮُ وا َ َٰﲆ ﻋَﻮْ رَ ِات اﻟ ِّﺴَ ﺎ ِء ۖ وَ َﻻ‬ ِّ ‫ّ ِاﻟﺮ َﺎلِ ِو‬
‫َﴬْﻦَ ِﺑ رْ ُ ِﻠﻬِﻦ ِﻟ ُﯿﻌْﲅَ َ ﻣَﺎ ﳜُ ْ ﻔِﲔَ ﻣِﻦْ زِﯾ َﳤِ ِﻦ ۚ وَ ﺗُﻮﺑُﻮا َاﱃ ا ِ َﲨِﯿﻌًﺎ‬ ِ ْ‫ﯾ‬
۞ َ‫َﻠﲂ ﺗُ ْﻔ ِﻠﺤُﻮن‬
ْ ُ ‫ﯾ َﻪ اﻟْﻤُﺆْ ِﻣ ُﻮنَ ﻟَﻌ‬
Artinya :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,
dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya, dan janganlah Menampakkan
perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah
mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera
mereka, atau putera-putera suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera
saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara
perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau
budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-
pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum
mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka
memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang
mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian
kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung.”
Fiqih Munakahat 87
Ibnu Abbas menafsirkan kalimat “apa yang
bisa terlihat darinya” dimaksudkan wajah dan
kedua telapak tangan. Mereka juga menyatakan,
pandangan disini diperbolehkan karena kondisi
darurat maka hanya sekadarnya, wajah
menunjukkan keindahan dan kecantikan,
sedangkan kedua telapak tangan menunjukkan
kehalusan dan kelemahan tubuh seseorang.
Tidak boleh memandang selain kedua anggota
tubuh tersebut jika tidak ada darurat yang
mendorongnya.81

Ulama Hambali berpendapat bahwa batas


kebolehan memandang anggota tubuh wanita
terpinang sebagaimana memandang wanita
mahram, yaitu apa yang tampak pada wanita
pada umumnya disaat bekerja dirumah, seperti
wajah, kedua telapak tangan, leher, kepala,
kedua tumiit kaki, dan sesamanya. Tidak boleh
memandang anggota tubuh yang umumnya
tertutupi seperti dada, punggung dan
sesamanya. Adapun alasan mereka, nabi tatkala
memperbolehkan seorang sahabat memandang
wanita tanpa sepengetahuannya. Diketahui
bahwa beliau mengijinkan segala yang tampak
pada umumnya. Oleh karena itu, tidak mungkin
hanya memandang wajah, kemudian

81
Mughni Al-Muhtaj, Jus 3 h.127; Ibn Qudamah, Al-Mughni,
Jus 7, h.53; Bidayat Al-Mujtahid, jus 2, h.3 dan Nail Al-Authar, jus
6,h.94
88 Fiqih Munakahat
diperbolehkan memandang yang lain karena
sama-sama tampak seperti halnya wajah.82
Ulama Hanafiyah dan Hambaliyah yang
masyhur mazhabnya berpendapat, kadar
anggota tubuh yang diperbolehkan untuk dilihat
adalah wajah, kedua telapak tangan dan kaki,
tidak lebih dari itu. Memandang anggota tubuh
tersebut dipandang cukup bagi orang yang ingin
mengetahui kondisi tubuhnya. Menyingkap dan
memandang wanita lebih dari anggota tersebut
akan menimbulkan kerusakan dan maksiat yang
pada umumnya diduga maslahat.83

Dawud Azh-Zhahiri berpendapat bolehnya


melihat seluruh anggota tubuh wanita terpinag
yang diinginkan.Berdasarkan keumuman sabda
Nabi “lihatlah kepadanya.” Disini Rasulullah tidak
mengkhususkan suatu bagian bukan bagian
tertentu dalam kebolehan melihat.
Pendapat Azh-Zhahiriyah telah ditolak mayoritas
ulama, karena pendapat ereka menyalahi ijma’
ulama dan menyalahi prinsip tuntunan kebolehan
suatu karena darurat diperkirakan sekadarnya.84
Pendapat yang kuat(rajih), yakni bolehnya
memandang wajah, kedua tangan, dan kedua
tumit kaki. Baginya boleh berbincang-bincang
sehingga mengetahui kelebihan yang ada pada
82
Al Mughni, jus 6,h.554
83
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed
Hawwas, Fiqih Munakahat (Khitbah, Nikah, dan Talak), h.13
84
Abd Al-Fattah Abi Al-‘Aynain, Al-Islam wa Al-Usrah,h.103
Fiqih Munakahat 89
terpinang, baik dari segi fisik, suara, pemikiran,
dan segala isi hatinya agar tumbuh rasa
kecintaannya. Sebagaimana hadis Nabi :
Arwah adalah pasukan yang terhimpun, apa
yang dikenal daripadanya akan menadi menyatu
dan apa yang dibenci daripadanya akan
membuat berpisah. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu
Daud, dan Ahmad)
Kadang kalanya wanita terpinang tidak
terlalu cantik, tetapi terkadang karena baik sifat-
sifat dan tingkah lakunya, seorang laki-laki dapat
teperdaya karena sifat, akhlak dan
kecerdasannya.
Jumhur Ulama berpendapat bahwa yang
diperolehkan bagi lelaki hanyalah melihat wajah
dan telapak tangan saja. Demikian pula bagi
wanita ia boleh melihat siapa yang melamarnya.
Karena sebagaiaman lelaki bisa tertarik atau
tidak kepada seorang wanita, wanitapun
demikian.85
Dalam bukunya Muhammad Ali, Fiqih,
Terdapat hadis yaitu “Apabila salah seorang
diantara kamu meminang seorang perempuan ,
sekiranya ia dapat melihat perempuan itu,
hendaklah dilihatnya sehingga bertambah
keinginannya pada pernikahan, maka
lakukanlah.” (Riwayat Ahmad dan Abu Daud).

85
Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fiqih Wanita, Anshori Umar
Sitanggal, h.363
90 Fiqih Munakahat
Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata :
“Aku pernah melamar seorang wanita, lalu Nabi
saw berkata: Lihatlah ia. Karena, yang demikian
itu akan melanggengkan kasih sayang antara
kalian berdua.” (HR. An-An-Nasa’i, Ibnu Majah
dan At-Tirmidzi).
Dari Aisyah saw, ia menceritakan;
Rasululah saw pernah berkata kepadaku: “Aku
telah melihatmu dalam mimpiku dibawa oleh
malaikat dengan ditutup oleh kain sutera. Lalu
malaikat itu mengatakan kepadaku: Ini adalah
istrimu. Maka aku pun membuka kain penutup
yang menutupi wajah wanita itu. Tiba-tiba yang
muncul adalah kamu (Aisyah). Selanjutnya
engkau pun berkata: Apabila ini berasal dari sisi
Allah, maka biarlah Allah meneruskannya,” (HR.
Imam Al-Bukhari)86

E. Hubungan Antara Laki-Laki Dan Wanita Yang


Sudah Dipinang

Dalm buku Abd Al-Fattah Abi Al’Aynain, Al-Islam wa


Al-Usrah; Dirasah Muqaranah fi Dhaw Al-Madzahib Al-
Fiqhiyyah wa Qawanin Al-Ahwal Asy-Syakhshiyah, ‘Aqad Az-
Zawaj, Transaksi nikah dalam Islam tergolong transaksi
yang paling agung dan paling tinggi kedudukannya, karena
ia hanya terjadi pada makhluk yang paling agung di bumi,

86
Muhammad Ali, Fiqih, (Bandar Lampung: Anugrah Utama
Raharja, 2013), h: 147
Fiqih Munakahat 91
yakni manusia yang dimuliakan Allah sebagaimana firman-
Nya (QS.Al-Isra’ (17): 70) :

‫َﺎت‬
ِ ‫وَﲪﻠْﻨَﺎﱒُ ْ ِﰲ اﻟ َ ِّْﱪ وَاﻟْ َﺒ ْﺤ ِﺮ وَرَ زَ ْﻗ َﺎﱒُ ْ ﻣِﻦَ اﻟﻄ ِﯿّﺒ‬
َ َ ‫وَ ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺮ ْﻣ َﺎ ﺑ َِﲏ ٓ َد َم‬
۞ ‫وَ ﻓَﻀ ﻠْﻨَﺎﱒُ ْ َ َٰﲆ َﻛ ِﺜ ٍﲑ ﻣِﻤﻦْ َ ﻠَ ْﻘ َﺎ ﺗَﻔْﻀِ ًﯿﻼ‬
Artinya : “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-
anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan
di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-
baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan
yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang
telah Kami ciptakan.”

Akad nikah untuk selamanya dan sepanjang masa


bukan untuk sementara. Salah satu dari kedua calon
pasangan hendaklah tidak mendahului ikatan pernikahan
yang sakral terhadap yang lain kecuali setelah diseleksi
benar dan mengetahui secara jelas tradisi calon teman
hidupnya, karakter, perilaku, dan akhlaknya sehingga
keduanya akan dapat meletakkan hidup mulia dan
tenteram, diliputi suasana cinta, puas, bahagia, dan
ketenangan. Ketergesaan dalam ikatan pernikahan tidak
mendatangkan akibat kecuali keburukan bagi kedua belah
pihak atau salah satu pihak. Oleh karena itu Islam
menjadikan khitbah untuk mencapai tujuan yang mulia dari
impian yang agung.87

87
Abd Al-Fattah Abi Al’Aynain, Al-Islam wa Al-Usrah;
Dirasah Muqaranah fi Dhaw Al-Madzahib Al-Fiqhiyyah wa Qawanin
Al-Ahwal Asy-Syakhshiyah, ‘Aqad Az-Zawaj, h.100
92 Fiqih Munakahat
Khitbah sebagai perantara untuk mengetahui sifat-
sifat perempuan yang dicintai, yang laki-laki menjadi tenang
terhadapnya, dengan orang yang diinginkannya sebagai
manusia baginya sehingga menuju pelaksanaan pernikahan.
Ia seorang yang menyenangkan untuk ketinggian istrinya
secara indrawi dan maknawi sehingga tidak menyusahkan
hidupnya dan mengeruhkan kehidupannya.88

Dalam buku Abu Malik Kamal Bin Sayyid Salim,Fiqih


Sunah Untuk Wanita, yaitu Khitbah adalah menyampaikan
keinginan untuk menikah dengan seorang wanita dengan
cara yang sudah banyak dikenal masyarakat. Jika
keinginannya disetujui maka kedudukan persetujuan sama
dengan janji untuk melangsungkan pernikahan, sehingga
laki-laki yang mengajukan pinangan sama sekali tidak halal
melakukan sesuatu terhadap wanita yang dipinangnya,
melainkan tetap memjadi wanita asing (bukan mahram)
sampai berlangsungnya akad nikah.89

88
Saleh al-Fauzan,Al-Mulakhkhasul Fiqhi,(Tp,2006),h.66
89
Abu Malik Kamal Bin Sayyid Salim,Fiqih Sunah Untuk
Wanita, (Jakarta:Al-I’thisom Cahaya Umat,2007), h. 634
Fiqih Munakahat 93
94 Fiqih Munakahat
BAB VI
Wali Nikah

A. Pengertian Wali

Secara etimologis, “wali” mempunyai arti pelindung,


penolong, atau penguasa. Wali mempunyai banyak arti,
antara lain:
1. Orang yang menurut hukum (agama atau adat) diserahi
kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya
sebelum anak itu dewasa.
2. Pengasuh pengantin perempuan pada waktu menikah
(yaitu yang melakukan janji nikah dengan pengantin
laki-laki).
3. Orang saleh (suci), penyebar agama, dan
4. Kepala pemerintah dan sebagainya.

Arti-arti wali diatas tentu saja pemakaiannya dapat


disesuaikan dengan konteks kalimat. Adapun yang dimaksud
wali dalam pembahasan ini adalah wali dalam pernikahan,
yaitu yang sesuai dengan poin 2.90

Sedangkan menurut Muhammad Jawad Mughniyah,


perwalian adalah pemeliharaan dan pengawasan anak yatim
dan hartanya.Pemeliharaan dan pengawasan harta itu
bukan hanya untuk anak yatim saja, tetapi juga berlaku
untuk orang gila, anak yang masih kecil, tetapi juga berlaku

90
Tiham dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat : Kajian Fikih
Nikah Lengkap, (Jakarta: PT RajaGrafindo Press, 2009), h. 89-90.
Fiqih Munakahat 95
untuk orang gila, anak yang masih kecil, safih, dan
bangkrut.91
Yang dimaksud dengan wali dalam perkawinan
adalah seseorang yang bertindak atas nama mempelai
perempuan dalam suatu akad nikah. Akad nikah dilakukan
oleh dua pihak yaitu pihak laki-laki yang dilakukan oleh
mempelai laki-laki itu sendiri dan pihak perempuan yang
dilakukan oleh walinya.

Keberadaan seorang wali dalam akad nikah harus


ada dan tidak sah akad perkawinan yang tidak dilakukan
oleh wali. Ini adalah pendapat jumhur ulama.Hal ini berlaku
untuk semua perempuan, yang dewasa atau masih kecil,
masih perawan atau sudah janda.

Memang tidak ada satu ayat Al-Qur’an pun yang


secara jelas menghendaki keberadaan wali dalam akad
perkawinan. Yang ada hanya ayat-ayat yang dapat dipahami
mengehendaki adanya wali seperti dalam surat Al-Baqarah
ayat 221 :

‫ُﴩ َﻛ ٍﺔ‬
ِ ْ ‫وَ َﻻ ﺗَ ْﻨ ِﻜ ُﺤﻮا اﻟْﻤ ُْﴩِﰷَ ِت ﺣَﱴ ٰ ﯾُﺆْ ﻣِﻦ ۚ وَ َ َﻣ ٌﺔ ﻣُﺆْ ِﻣ َ ٌﺔ ْ ٌَﲑ ﻣِﻦْ ﻣ‬
‫ُﴩﻛِﲔَ ﺣَﱴ ٰ ﯾُﺆْ ِﻣ ُﻮا ۚ وَ ﻟَ َﻌ ْﺒ ٌﺪ ﻣُﺆْ ﻣِﻦٌ ْ ٌَﲑ‬
ِ ْ ‫وَ ﻟَﻮْ ﲺْ َ َﺒﺘ ُ ْْﲂ ۗ وَ َﻻ ﺗُ ْﻨ ِﻜ ُﺤﻮا اﻟْﻤ‬
‫ﻣِﻦْ ﻣ ُْﴩِكٍ وَ ﻟَﻮْ ﲺْ َ ﺒ ُ َْﲂ ۗ وﻟَـ ﺌِﻚَ ﯾ َﺪْ ﻋُﻮنَ َاﱃ اﻟﻨﺎرِ ۖ وَا ُ ﯾ َﺪْ ﻋُﻮ َاﱃ‬
۞ َ‫ِﻠﻨﺎس ﻟَﻌَﻠﻬُﻢْ ﯾَﺘَﺬَﻛﺮُ ون‬ ِ ‫اﻟْﺠَﻨ ِﺔ وَاﻟْ َﻤ ْﻐﻔِﺮَ ِة ِ ْذ ِﻧ ِﻪ ۖ وَ ﯾُﺒ ِ ّ َُﲔ ٓ َ ِﺗ ِﻪ‬

91
Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2006), h. 166.
96 Fiqih Munakahat
Artinya: “...janganlah kamu menikahkan anak-anak
perempuanmu dengan laki-laki musyrik.
Sesungguhnya hamba sahaya mukmin lebih bail
dari laki-laki musyrik walaupun dia menarik hati
kamu.”

Namun di samping itu terdapat pula ayat Al-Qur’an


yang memberikan pengertian perempuan itu kawin sendiri
tanpa mesti memakai wali,sebagaimana yang terdapat
dalam surat Al-Baqarah ayat 232 :

‫وَا ذَا ﻃَ ﻠﻘ ُ ُْﱲ اﻟ ِّﺴَ ﺎ َء ﻓَ َﻠَﻐْﻦَ َ ﻠَﻬُﻦ ﻓ ََﻼ ﺗَﻌْﻀُ ﻠُﻮﻫُﻦ نْ ﯾ َ ْﻨ ِﻜﺤْﻦَ زْوَ ا َ ُﻦ‬
ُ‫وف ۗ َذ ِ َ ﯾُﻮ َﻋﻆُ ِﺑ ِﻪ ﻣَﻦْ ﰷَ نَ ِﻣ ُ ْْﲂ ﯾُﺆْ ﻣِﻦ‬ ِ ُ‫ا ذَا َﺮَاﺿَ ﻮْا ﺑ َ ْﳯَ ُﻢْ ِ ﻟْ َﻤﻌْﺮ‬
‫ِ ِ وَاﻟْﯿَﻮْ ِم ا ْ ٓ ِﺧ ِﺮ ۗ َذ ﻟ ُ ِْﲂ زْ َ ٰﰽ ﻟ ُ َْﲂ وَ ﻃْ ﻬَﺮُ ۗ وَا ُ ﯾَﻌْﲅَ ُ وَ ﻧ ُ ْْﱲ َﻻ‬
۞ َ‫ﺗَ ْﻌﻠَﻤُﻮن‬
Artinya: “Apabila kamu mentalak istri-istrimu dan habis
iddahnya maka janganlah kamu (para wali)
menghalangi mereka kawin dengan bakal suami
mereka.”

Ayat ini dengan tegas mengatakan perempuan itu


mengawini bakal suamiya dan wali dilarang mencegahnya.
Adanya dua isyarat kemungkinan pemahaman yang berbeda
tersebut diatas berbeda dengan paham ulama dalam
menetapkan kemestian adanya wali untuk masing-masing 4
kemungkinan perempuan tersebut diatas.

Fiqih Munakahat 97
Jumhur ulama menggunakan ayat pertama diatas
sebagai dalil yang mewajibkan wali dalam perkawinan dan
menguatkan pendapatnya itu dengan serangkaian hadist-
hadist dibawah ini:

Hadist Nabi dari Abu Burdah bin Abu Musa menurut


riwayat Ahmad dan lima perawi hadist bunyinya: “tidak
boleh nikah tanpa wali”.
Hadist Nabi dari Aisyah yang dikeluarkan oleh empat
perawi hadist selain al-Nasai: “perempuan mana saja yang
kawin tanpa izin walinya, perkawinannya adalah batal”.
Hadist dari Abu Hurairah yang mengutip ucapan
Nabi: “perempuan tidak boleh mengawinkan perempuan
dan perempuan juga tidak boleh mengawinkan dirinya
sendiri”. 92

B. Siapakah yang bisa menjadi wali?

Orang yang berhak menikahkan seorang perempuan


adalah wali yang bersangkutan, apabila wali yang
bersangkutan sangggup bertindak sebagai wali. Namun, ada
kalanya wali tidak hadir atau karena sesuatu sebab ia tidak
dapat bertindak sebagai wali, maka hak kewaliannya
berpindah kepada orang lain.93
Wali ditunjuk berdasarkan skala prioritas secara
tertib dimulai dari orang yang paling berhak, yaitu mereka
yang paling akrab, lebih kuat hubungan darahnya. Jumhur
ulama, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, mengatakan

92
Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2010), h. 90-92
93
Tiham dan Sohari Sahrani, Loc.Cit.,h. 90.
98 Fiqih Munakahat
bahwa wali itu adalah ahli waris dan diambil dari garis ayah,
bukan dari garis ibu.94
Para ulama mazhab sepakat bahwa wali anak kecil
adalah ayahnya, sedangkan ibunya tidak mempunyai hak
perwalian, kecuali menurut pendapat sebagian ulama Syafi’i.
Selanjutnya para ulama mazhab berbeda tentang wali yang
bukan ayah.95
Diantara orang yang dapat menjadi wali bagi calon
mempelai wanita adalah sebagai berikut:96
1. Ayahnya
2. Kakeknya, atau ayah dari ayahnya terus keatas
3. Anak laki-lakinya, cucunya terus kebawah
4. Saudara laki-laki sekandung (seayah dan seibu)
5. Saudara laki-laki seayah
6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki, baik sekandung
maupun seayah saja
7. Paman (saudara kandung ayah)
8. Paman (dari saudara seayah dengan ayahnya)
9. Anak laki-laki dari paman (sekandung dengan ayah,
atau hanya seayah dengan ayahnya)
10. Laki-laki terdekat dari saudaranya yang ada, dilihat dari
garis ahli warisnya
11. Majikan yang memerdekakannya
12. Orang yang berkuasa yang dapat dipercayainya
(Hakim)

94
Ibid.
95
Abd. Rahman Ghazaly, Loc.Cit.,h. 166.
96
Saleh al Fauzan, Fiqih Sehari-hari, (Jakarta: Gema Insani
Press, 2005), h. 651-652.
Fiqih Munakahat 99
Jumhur Ulama membagi wali itu kepada dua
kelompok:97

1. Wali dekat atau wali qarib yaitu ayah dan kalau tidak
ada ayah pindah kepada kakek. Keduanya mempunyai
kekuasaan yang mutlak terhadap anak perempuan yang
akan dikawinkannya. Ia dapat mengawinkan anaknya
yang masih berada dalam usia muda tanpa minta
persetujuan dari anaknya tersebut. Wali dalam
kedudukan seperti ini disebut wali mujbir.
2. Wali jauh atau wali ab’ad. Yang menjadi wali jauh ini
secara berurutan adalah:
a. Saudara laki-laki kandung, kalau tidak ada pindah
kepada
b. Saudara laki-laki seayah, kalau tidak ada pindah
kepada
c. Anak saudara laki-laki kandung, kalau tidak ada
pindah kepada
d. Anak saudara laki-laki seayah, kalau tidak ada
pindah kepada
e. Paman kandung, kalau tidak ada pindah kepada
f. Paman seayah, kalau tidak ada pindah kepada
g. Anak paman kandung, anak paman seayah.
h. Ahli waris kerabat lainnya kalau ada.
i. Sultan atau wali hakim yang memegang wilayah
umum.

97
Amir Syarifuddin, Loc.Cit.,h. 92-93.
100 Fiqih Munakahat
Orang-orang yang berhak menjadi wali98 :

1. Wali nasab, yaitu wali berhubungan tali


kekeluargaan dengan perempuan yang akan kawin.
2. Wali mu’thiq, yaitu orang yang menjadi wali
terhadap perempuan bekas hamba sahaya yang
dimerdekakannya.
3. Wali hakim, yaitu orang yang menjadi wali dalam
kedudukan sebagai hakim atau penguasa.

C. Syarat Seorang Wali

Pernikahan dilangsungkan oleh wali pihak mempelai


perempuan atau wakilnya dengan calon suami atau
wakilnya.

Karena itu pernikahan tanpa wali dianggap tidak sah.


Hal ini berlandasan hadist Nabi SAW.:

(‫َﻻ ِﲀَ حَ اﻻﺑِﻮَ ِ ٍ ّﱄ )رواﻩ اﶆﺴﺔ إﻻاﻟ ﺴﺎئ‬


“Tidak ada pernikahan tanpa wali.”H.R. Al-Khomsah
kecuali An-Nisaiy.99

Wali bertanggung jawab atas sahnya akad


pernikahan. Oleh karena itu, tidak semua orang dapat
diterima menjadi wali, tetapi hendaknya orang-orang yang
memiliki beberapa sifat berikut:

98
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia,
(Jakarta: Kencana Prenada Group, 2009), h 75.
99
Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam
Depaetemen Agama, Ilmu Fiqh, (Jakarta: IAIN Jakarta, 1985), h. 100.
Fiqih Munakahat 101
1. Beragama Islam. Wali juga harus beragama
Islam, sebab orang yang bukan beragama Islam
tidak boleh menjadi walinya orang Islam. Allah
SWT berfirman :

۞ ‫…وَ ﻟَﻦْ ﳚَ ْ َﻌ َﻞ ا ُ ِﻠْﲀَ ِﻓ ِﺮﻦَ ََﲆ اﻟْﻤُﺆْ ِﻣ ِﲔَ ﺳَ ِ ًﻼ‬.


“dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan
kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan
orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 141)100

Orang yang tidak beragama Islam tidak sah


menjadi wali atau saksi.
Firman Allah SWT :
ْ‫ﺎرَى وْ ِﻟﯿَﺎ َء ۘ ﺑَﻌْﻀُ ﻬُﻢ‬
ٰ ‫وَاﻟﻨﺼ‬
َ ‫َ ﳞ َﺎ ا ِ ﻦَ ٓ َﻣ ُﻮا َﻻ ﺗَﺘ ِﺬُ وا ا ْﳱَ ُﻮ َد‬
‫وْ ِﻟﯿَﺎ ُء ﺑَﻌ ٍْﺾ ۚ وَ ﻣَﻦْ ﯾَﺘَﻮَﻟﻬُ ْﻢ ِﻣ ُ ْْﲂ ﻓَﺎﻧ ُﻪ ﻣِﳯْ ُﻢْ ۗ ان ا َ َﻻ ﳞَ ْﺪِي‬
۞ َ‫اﻟْﻘَﻮْ َم اﻟﻈ ﺎ ِﻟﻤِﲔ‬
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin
101
(mu).” (Al-Maidah: 51)

100
Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqih Munakahat, (Bandung:
CV Pustaka Setia, 1999), h. 83.
101
Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 2007), h.384.
102 Fiqih Munakahat
2. Baligh dan Berakal
Telah dewasa dan berakal sehat dalam arti anak
kecil atau orang gila tidak berhak menjadi wali.Ini
merupakan syarat umum bagi seseorang yang
melakukan akad.102

3. Merdeka
Syarat menjadi seorang wali tentunya ia harus
merdeka, karena kewalian tidak akan sah jika dipegang
budak baik budak mutlak maupun muba’adl, karena
sifat kekurangannya.103

Adapun menurut Zainuddin bin Abdul tentang


persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang wali nikah
adalah: diisyaratkan seorang wali hendaknya orang yang
adil, merdeka, dan mukallaf. Untuk itu tidak ada hak
menjadi wali bagi orang yang fasik jika dia bukan imam
besar (sultan), karena sifat fasik merupakan cela yang
mencegah pelakunya untuk melakukan persaksian. Untuk
itu ia tidak boleh menjadi wali, sama halnya dengan budak.
Demikianlah menurut mazhab karena ada hadis sahih yang
mengatakan:

.‫اﻧ ُﻪ ﯾ َِﲆ‬: ْ‫وَ ﻗَﺎ َل ﺑَﻌْﻀُ ﻬُﻢ‬. ٍ‫)) َﻻ ِﲀَ حَ اﻻﺑِﻮَ ِ ٍ ّﱄ ﻣُﺮْ ﺷِ ﺪٍ(( يْ َﺪْ ل‬
“tidak ada nikah kecuali dengan adanya seorang wali yang
mursyid. Yakni yang adil.”

102
Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2010), h. 93.
103
Aliy As’ad, Terjemah Fat-Hul Mu’in, (Yogyakarta: Menara
Kudus, 1977), h. 44.
Fiqih Munakahat 103
Akan tetapi, ada sebagian ulama yang mengatakan
bahwa orang yang fasik boleh menjadi wali nikah. Pendapat
yang dipulih oleh Imam Nawawi sama halnya dengan
pendapat Ibnu Shalah dan As Subuki, yaitu apa yang
difatwakan oleh Imam Ghazali, bahwa tugas sebagai wali
masih tetap berapa pada wali yang fasik. Bilamana hak
tersebut dicabut darinya, maka akan berpindah ketangan
hakim yang fasik pula.104

Para ulama mazhab sepakat bahwa wali dan orang-


orang yang menerima wasiat untuk menjadi wali,
dipersyaratkan harus baligh, mengerti dan seagama, bahkan
banyak diantara mereka menisyaratkan bahwa wali itu
harus adil, sekalipun ayah dan kakek.

Namun, tidak diragukan sama sekali bahwa yang


demikian itu berarti menutup pintu perwalian dengan semen
beton, tidak sekedar dengan batu dan semen belaka, sebab
‘adalah (adil) itu adalah sarana untuk memelihara dan
menjaga, dan bukan merupakan tujuan itu sendiri. 105

D. Urutan Wali

Wali yang paling utama adalah ayah, kemudian


kakek (ayah dari ayah saudara laki-laki seayah dan seibu

104
Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari al-Fannani,
Terjemahan Fat-Hul Mu’in, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005), h.
1219-1220.
105
Abd. Rahman Ghazaly, Loc.Cit.,h. 169.
104 Fiqih Munakahat
atau seayah, kemudian anak lakinya, kemudian ashabah-
ashabah lainnya.106

Jumhur ulama fikih sependapat bahwa urut-urutan


wali adalah sebagai berikut107 :

1. Ayah
2. Ayahnya ayah (kakek) terus keatas,
3. Saudara laki-laki seayah seibu,
4. Saudara laki-laki seayah saja,
5. Anak laki-laki saudara laki-laki seayah seibu,
6. Anak laki-laki saudara laki-laki seayah,
7. Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki
seayah seibu,
8. Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki
seayah,
9. Anak laki-laki no. g
10. Anak laki-laki no. h dan seterusnya,
11. Saudara laki-laki ayah, seayah seibu,
12. Saudara laki-laki ayah, seayah saja,
13. Anak laki-laki no. k
14. Anak laki-laki no. l
15. Anak laki-laki no. m. Dan seterusnya.

Singkat urutan wali adalah:108


a. Ayah seterusnya ke atas,
b. Saudara laki-laki kebawah.
c. Saudara laki-laki ayah ke bawah.
106
Ibrahim Muhammad al Jamal, Fiqih Muslimah, (Jakarta:
Pustaka Amani, 1995), h. 257.
107
Slamet Abidin dan Aminuddin, Loc.Cit., h. 90-91.
108
, Ibid.
Fiqih Munakahat 105
Adapun menurut Hanafi mengatakan bahwa
urutan pertama perwalian itu ditangan anak laki-laki wanita
yang akan menikah itu, jika dia memang punya anak,
sekalipun hasil zina. Kemudian berturut-turut: cucu laki-laki
(dari pihak anak laki-laki), ayah, kakaek dari pihak ayah,
saudara kandung, saudara laki-laki seayah, anak saudara
laki-laki sekandung, anak saudara laki-laki seayah, paman
(saudara ayah), anak paman, dan seterusnya. Dari urutan
ini jelaslah bahwa penerima wasiat dari ayah tidak
memegang perwalian nikah, kendatipun wasiatitu
disampaikan secara jelas.
Maliki mengatakan bahwa wali itu adalah ayah,
penerima wasiat dari ayah, anak laki-laki (sekalipun hasil
zina) manakala wanita tersebut punya anak, lalu berturut-
turut: saudara laki-laki, anak laki-laki dari saudara laki-laki,
kakek, paman (saudara ayah), dan seterusnya, dan sesudah
semuanya itu tidak ada, perwalian beralih ke tangan hakim.
Sementara itu urutan yang digunakan oleh Syafi’i
adalah: ayah, kakek dari pihak ayah, saudara laki-laki
kandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari
saudara laki-laki, paman (saudara ayah), anak paman, dan
seterusnya, dan bila semuanya itu tidak ada, perwalian
beralih ketangan hakim.
Hambali memberikan urutan: ayah, penerima
wasiat dari ayah, kemudian yang terdekat dan seterusnya,
mengikuti urutan yang ada dalam waris, dan baru beralih ke
tangan hakim.
Sementara itu, Imamiyah mengatakan bahwa
perwalian itu hanya di tangan ayah dan kakek dari pihak
ayah, serta dalam kasus-kasus tertentu hakim. Baik ayah

106 Fiqih Munakahat


maupun kakek dari pihak ayah mempunyai hak penuh
dalam perwalian terhadap akad nikah bagi anak laki-laki dan
perempuan kecil.

Para Ulama Imamiyah mensyaratkan bahwa


perwalian itu, baik untuk ayah, kakek atau hakim baru
dapat dilaksanakan jika tidak merugikan si anak.Maka, si
anak yang masih kecil itu merasa dirugikan oleh pernikahan
tersebut, maka dia boleh memilih ketika baligh apakah
menggugurkan akadnya atau melanjutkannya.
Hanafi mengatakan bahwa, manakala ayah atau
kakek mengawinkan anak gadis mereka yang masih kecil
dengan orang yang tidak se-kufu atau kurang dari mahar
mitsil, maka akad nikahnya sah jika ia tidak dikenal sebagai
pemilih yang jelek. Akan tetapi bila yang mengawinkannya
bukan ayah atau kakeknya, dengan orang yang tidak
sepadan (se-kufu) atau kurang dari mahar mitsil, maka akad
nikah tersebut tidak sah sama sekali.
Hambali dan Maliki berpendapat bahwa seorang
ayah boleh mengawinkan anak gadisnya yang masih kecil
kurang dari mahar mitsil, sedang Syafi’i mengatakan
bahwa ayah tidak berhak atas itu, dan bila dia
melakukannya juga, maka si anak boleh menuntut mahar
mitsil bagi dirinya.
Sementara itu, Imamiyah mengatakan bahwa bila
seorang ayah mengawinkan anak gadisnya yang masih kecil
kurang dari mahar mitsil, atau mengawinkan anak laki-
lakinya yang masih kecil dengan mahar yang lebih dari itu,
maka bila hal itu dipandang maslahat, akad nikah dan
maharnya sah, tetapi bila tidak mengandung maslahat,
maka akadnya sah, namun keabsahan mahar tergantun g

Fiqih Munakahat 107


pada izinnya. Apabila ia menyetujui mahar tersebut setelah
ia balight, maka maharnya tetap seperti sediakala, tapi
kalau tidak, maka maharnya adalah mahar mitsil.
Seluruh mazhab sepakat bahwa hakim yang adil
berhak mengawinkan laki-laki dan perempuan gila manakala
mereka tidak mempunyai wali yang dekat, berdasarkan
hadis dibawah ini:

“Penguasa adalah wali bagi orang yang tidak punya


wali”.

Akan tetapi bagi Imamiyah dan Syafi’i, hakim


tidak berhak mengawinkan anak gadis yang masih kecil.
Sedangkan Hanafi mengatakan bahwa hakim punya
hak atas itu, tetapi akad tersebut tidak mengikat, dan
apabila si anak sudah baligh, dia berhak menolaknya.
Pendapat ini, sesungguhnya kembali pada pendapat
Syafi’i dan Imamiyah, sebab dalam keadaan seperti itu,
sang hakim telah melakukan aqad fudhuli (tanpa izin).
Sementara itu, Maliki mengatakan bahwa apabila
tidak ada wali yang dekat, maka hakim berhak
mengawinkan anak laki-laki dan perempuan kecil, orang gila
laki-laki dan perempuan dengan orang yang se-kufu, serta
mengawinkan wanita dewasa dan waras dengan izin
mereka.109

109
Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab,
(Jakarta: Lentera Anggota IKAPI, 2011), h. 347-349.
108 Fiqih Munakahat
E. Wali ‘Adhal

Wali ‘adhal adalah apabila wali tidak mau


menikahkan wanita yang sudah baligh, yang akan menikah
dengan seorang pria yang kufu’.
Apabila terjadi hal seperti itu, maka perwalian
langsung pindah kepada wali hakim ‫ ﻗَﺎ ﺿِﻰ‬bukan kepada
wali ab’ad , karena ‘adhal adalah zalim, sedangkan yang
menghilangkan sesuatu yang zalim adalah hakim. Tapi jika
‘adhalnya sampai tiga kali, berarti dosa besar dan fasikh
maka perwaliannya pindah kewali ab’ad.110
Lain halnya kalau ‘adhlalnya karena sebab nyata
yang dibenarkan oleh syara’, maka tidak disebut ‘adhal
seperti wanita menikah dengan pria yang tidak kufu’, atau
menikah maharnya dibawah mitsli, atau wanita dipinang
oleh pria lain yang lebih pantas (kufu’) dan peminang
pertama.111
Dalam hal wali ‘adhal atau enggan mewalikan maka
wali hakim dapat pertindak sebagai wali nikah setelah ada
putusan pengadilan agama tentang wali tersebut.112

F. Saksi

Jumhur ulama sepakat bahwa saksi yang sangat


penting adanya dalam pernikahan. Apabila tidakdihadiri oleh
para saksi, maka hukum pernikahan jdi tidak sah walaupun
diumumkan dengan khalayak ramai dengan cara lain.
Karena saksi adalah syarat sah pernikahan, bahkan imam

110
Slamet Abidin dan Aminuddin, Loc.Cit.,h. 96.
111
Tihami dan Sohari Sahrani, Loc.Cit.,h. 102-103.
112
Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam., h. 75.
Fiqih Munakahat 109
syafi’I menyatakan bahwa saksi dalam akad nikah itu
merupakan rukun dari pernikahan.113
Menurut imam maliki dan para sahabatnya bahwa
saksi dalam akad nikah itu tidak wajib dan cukup di
umumkan. Allah tidak menyebutkan didalam Al-Quran
tentang adanya syarat mempersaksikan dalam suatu
pernikahan. Karena itu tentulebihbaik jika masalah
mempersaksikan tidak termasuk salahsatu syaratnya, tetapi
cukuplah diberitahukan dan disiarkan saja guna
memperjelas keturunan.

Rasullah SAW. Bersabdab yang artinya: “tidak sah


pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi”
(H.R.daruqutni) 114

G. Syarat-syarat Saksi

1. Islam
Orang yang tidak beragama islam tidak sah
menjadi saksi.115 Kecuali terhadap sesuatu yang
telah diberikan pengecualiyan oleh mushanif setelah
menerangkan keenam syarat.116 Menurut imam
ahmad, imam asy-syafi’I dan Muhammad ibn hasan,
saksi dalam perniklahan priya dan wanita muslim
adalah orang islam. Abu hanafiah dan abu yusuf

113
Slamet Abidin dan Aminudin, Fiqih Munakahad
1,(Bandung: Pustaka Setia, 1999) h.99
114
Ibid. h 100
115
Sulaiman Rasyid. Fiqih Islam. (Bandung: Sinar Baru
Algensindo. 2012) h.384
116
Achmad Sunarto. Terjemah Fat-Hul Qorib. (Surabaya: Al-
Hidayah. 1992) h.31
110 Fiqih Munakahat
menyatakan bahwa pernikahan seoarang laki-laki
muslim dan seorang ahli kitab maka saksinya boleh
dua orang ahli kitab.117

2. Baligh
Maka tidak sah anak kecil menjadi saksi.
Sudah berumur minimal 15 tahun.

3. Merdeka
Maka tidak sah seorang budak menjadi saksi
dalam pernikahan, tetapi dia boleh menerima dalam
pernikahan. Abu Hanifah dan Syafi’I mensyaratkan
orang yang menjadi saksi harus orang-orang yang
merdeka. Tetapi imam ahmad membolehkan orang
yang tidak merdeka menjadisaksi, karena didalam Al-
Quran maupun hadis tidak ada ketertangan yang
menolak budak untuk menjadi saksi, selain dia jujur
serta amanah dalam kesaksian.

4. Adil
Imam hanafi mengatakan bahwa saksi dalam
perkawinan disyratkan harus adil, jadi perkawinan
yang disaksiakn oleh dua fasiq hukumnya sah.
Golongan syafi’iyah berpendapat bahwa saksi itu
harus orang yang adil sebagaimana disebutklan
dalam hadist.

Berkenaan dengan keadilan bagi seorag saksi, Ima


hanafi mengetakan bahwa untuk menjadisaksi dalam
pernikahan tidak disyaratkan harus orang yang adil.

117
Djamaan Nur. Fiqih MUnakahat. (Semarang: Dina Utama.
1992) h. 63
Fiqih Munakahat 111
Jadi, pernikahan yang disaksikan oleh dua orang
yang tidak adil, hukumnya tetap sah.Setiap orang
yang sudah pantas menjadi saksi, boleh menjadi
saksi, maksud adanya saksi adalah untuk diketahui
umum.118

Lain halnya dengan golongan syafi’iyah dan


hambali, mereka sepakat bahwa saksi itu harus adil.
Selanjutnya mereka mengatakan bahwa apoabila
perniklahan disaksikan oleh dua orang yang belum
diketahui adil atau tidaknya, maka hukumnya tetap
sah. Karena pernikahan itu terjadi diberbagai
tempat, dikampung-kampung daerah terpencil, baik
di kota-kota, dimana ada orang yang belum
diketahui adil atau tidaknya.

5. Berakal Sehat.
Maka tidak sah orang gila menjadi saksi, baik
gilanya terus-menerus ataupun kumat-kumatan
(kadang-kadang).119

6. Laki-laki
Maka tidak sah wali perempuan dan orang
banci.120 Akad nikah akan sah apabiula disaksikan
oleh dua orang. Golongan syafi’iyah dan hambali
mensyaratkan bahwa saksi itu harus terdiri atas laki-
laki.Akad nikah dengan seorang laki-laki dan
duaorang perempuan juga tidak sah.

118
Slamet Abidin dan Aminudin.Loc cit
119
Achmad Sunarto. Loc cit
120
Ibid
112 Fiqih Munakahat
Abu Ubaid meriwayatkan dari Zuhri, “ tidak
berlaku contoh dari Rosullah SAW. Bahwa
perempuan tidak boleh menjadi saksi dalam akad
nikah, talak dan pidana.Akad nikah bukanlah suatu
perjanjian kebendaan, dan yang biasanya
menghindari adalah kaum laki-laki.Karena itu, tidak
sah akad nikah yang disaksikan oleh dua orang
perempuan.
Akan tetapi golongan hahafiah tidak
demikian. Mereka tiodak mensyaratkan saksi harius
laki-laki, tetpi kesaksian dua orang laki-laki atau
seorang laki-laki den gan dua orang perempuan
adalah sah 121sebagaimana dijelaskan dalam firman
Allah yang artinya :

“dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari


orang-oranmg lelaki (diantaramu). Jika takada
dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang lelaki
dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang
kamu ridhai” (Q.S. Al-Baqarah: 282)

Akad nikah itu sama dengan jual beli, karena


merupakan perjanjian timbalbalik yang dianggap sah
dengan saksi dua orang perempuan disamping
seorang laki-laki.

121
Slamet Abidin dan Aminudin.Loc cit
Fiqih Munakahat 113
7. Dua orang saksi Memahami Bahasa Yang
Digunakan
Mengetahui bahasa yang digunakan wali
nikah dan calon suami (bahasa dalam ijab dan
qobul).122

Karena itu akad nikah tidak sah dengan saksi dua


orang budak, dua wanita, dua orang fasik, dua orang
tuli, dua orang bisu, dua orang tidak memahami bahsa
orang yang berijab dan qobul, doa orang yang menjadi
wali.

H. Sayart-sarat saksi Menurut Imam mazhab

Menurut imam hanafi mengemukakan bahwa sayart-


syarat yang ada pada seorang saksi adalah:123

1. Berakal, oranggila tidak sah menjadisaksi.


2. Baligh, tidak sah saksi anak-anak.
3. Merdeka, bukan hamba sahaya.
4. Islam

Menururut hambali syarat-syarat saksi adalah:124

1. Dua orang laki-laki yang baligh berakal dan adil.


2. Keduanya beragama islam.
3. Keduanya bukan berasal dari keturunan kedua
mempelai.

122
Abul Hiyadh. Terjemah Fat-Hul Mu’in.(Surabaya: Al-
Hidayah. 1993) h. 42
123
Ibid. h 101
124
Ibid
114 Fiqih Munakahat
Imam syafi’I mengatakan bahwa syarat-syarat saksi
adalah:125

1. dua orang saksi


2. berakal.
3. Baligh
4. Islam
5. Mendengar
6. Adil

125
Ibid
Fiqih Munakahat 115
116 Fiqih Munakahat
BAB VII
Aqad Nikah

A. Rukun Nikah
Rukun yang pokok dalam pernikahan, adalah
ridhanya laki-laki dan perempuan dengan persetujuan
keduanya untuk mengikat hidup berkeluarga, oleh karena
itu untuk membentuk hubungan suami istri disebut Ijab dan
peryataan kedua dinyatakan oleh pihak yang mengadakan
aqad untuk menyatakan rasa ridha serta setujunya disebut
qabul
Kata rukn secara bahasa berarti sisi terkuat yang
menjadi pegangan sesuatu.Secara istilah rukn adalah
sesuatu yang menjadi bagian hakikat sesuatu.Sesuatu itu
tidak dapat ditemui kecuali dengannya, seperti ruku’ dalam
shalat.
Adapun rukun akad dalam pernikahan adalah
sebagai berikut :
1. Dua orang yang berakad;
2. Yang diakadkan keduanya;
3. Sighat “ijab dan qabul”

Akan tetapi, terjadinya ijab dan qabul mengharuskan


adanya dua pihak yang berakad dan tempat akad.Para
ulama fiqh umumnya meringkas pendapat mereka bahwa
rukun akad nikah adalah ijab dan qabul.

Ijab adalah sesuatu yang dikeluarkan (diucapakan)


pertama kali oleh salah seorang dari dua orang yang

Fiqih Munakahat 117


berakad sebagai tanda mengenai keinginannya dalam
melaksanakan akad dan kerelaan atasnya.
Qabul adalah sesuatu yang dikeluarkan (diucapakan)
kedua dari belah pihak lain sebagai tanda kesepakatan dan
kerelaannya atas sesuatu yang diwajibkan pihak pertama
dengan tujuan kesempurnaan akad.
Yang ber-ijab dalam akad pernikahan secara umum
adalah suami atau wakilnya jika suami secara langsung
melaksanakan akad pernikahan dirinya.Adapun dengan
walinya jika suami tidak dapat melaksanakannya sendiri.
Terkadang terjadi sebaliknya, yang berijab adalah istri
sedangkan yang menerima adalah suami.126
Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung
antara dua belah pihak yang melangsungkan dalam bentuk
ijab dan Kabul.Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama,
sedangkan qabul adalah penerimaan dari pihak kedua. Ijab
dari pihak si wali si perempuan dengan ucapannya: “Saya
kawinkan anak sayayang bernama si A kepadamu dengan
mahar sebuah kitab Al-Qur’an”. Qabul adalah penerimaan
dari pihak suami dengan ucapannya: “Saya terima
mengawini anak Bapak yang bernama si A dengan mahar
sebuah kitab Al-Qur’an.127

126
Ali Yusuf As-Subkhi. Fiqh Keluarga. ( Jakarta:Amzah,
2010). h. 100
127
Amir Syarifuddin. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia
Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan.( Jakarta:
Kencana.2009). h. 65
118 Fiqih Munakahat
B. Syarat Ijab Qabul

Untuk terjadinya suatu akad yang mempunyai akibat


hukum pada suami istri, maka syarat-syarat ijab qabul harus
dipenuhi yaitu :
1. Satu Majelis

Artinya, ketika mengucapkan ijab qabul


tersebut, tidak boleh diselingi dengan kata-kata lain,
atau menurut kebiasaan setempat ada yang
menghalangi peristiwa ijab qabul.Akan tetapi, dalam
ijab qabul tidak ada syarat harus langsung. Bila
majelisnya berjalan lama dan antara keduanya ada
tenggang waktu, tetapi tanpa menghalangi upacara ijab
qabul, maka tetap dianggap satu majelis, hal ini sama
dengan pendapat golongan Hanafi dan Hambali.

Di dalam kitab Al-Mughni disebutkan : Bila ada


tenggang waktu antara ijab Kabul maka hukumnya
tetap sah, apabila dalam suatu majelis tersebut tidak
diselingi sesuatu yang mengganggu. Dipandang satu
majelis selama terjadinya akad nikah dengan alas an,
sama dengan penerimaan tunaibarang yang
disyaratkanditerima tunai. Sedangkan bagi barang yang
tidak disyaratkan tunai penerimaannya, barulah
dibenarkan hak khiyar (tetap jadi atau dibatalkan.
Golongan Syafi’I menyaratkan cara tersebut asalkan
dilakukan dengan segera. Para ulama fiqh berkata :
“Andai kata qabul itu diselingi khutbah oleh si wali,
misalnya : Saya kawinkan kamu, lalu mempelai laki-laki
menjawab, “Bismillah. Alhamdulillah Wassalatu

Fiqih Munakahat 119


Wassalamu ala Rasulillah, Saya terima akad nikahnya.”
Dalam hal ini ada dua pendapat :

Pertama : Syekh Abu Hamid Asfaray ini


berpendapat sah karena khutbah dan akad nikah
diperintahkan agama, dan perbuatan ini bkan
merupakan penghalang bagi sahnya akad nikah, seperti
halnya orang yang bertayamum antara dua shalat yang
dijamak.
Kedua : tidak sah, sebab memisahkan antara
ijab dan Kabul, sebagaimana halnya kalau antara ijab
dan qabul itu dipisahkan oleh hal-hal lain diluar
khutbah. Hal ini berbeda dengan tayamum karena
tayamum diantara dua shalat yang dijamak itu memang
diperintahkan oleh agama, sedangkan khutbah nikah
diperintahkan sebelum ijab qabul.
Adapun Imam Malik membolehkan tenggang
waktu yang sebentar antara ijab dan qabul.128
Kesatuan tempat ijab dan qabul; Dengan arti
agar tidak terpisah antara ijab dan qabul dengan
perkataan orang asing atau dengan sesuatu yang jauh,
sehingga menghalangi dan menyibukkan diri antara
satu pihak dengan pihak lainnya.129
Ijab qabul ini dilakukan didalam satu majelis dan
tidak boleh ada jarak yang lama antara ijab dan Kabul
yang merusak kesatuan akad dan kelangsungan akad.,
dan masing-masing ijab dan qabul dapat didengar

128
Tihami. Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap.
(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. 2009). h. 86
129
Ali Yusuf As-Subkhi. Fiqh Keluarga. (Jakarta:Amzah, 2010). h.
101
120 Fiqih Munakahat
dengan baik oleh kedua belah pihak dan dua orang
saksi.
Hanafi membolehkan ada jarak antara ijab dan
qabul asal masih didalam suatu majelis dan tiada hal-
hal yang menunjukkan salah satu pihak berpaling dari
maksud akad itu.130

2. Antara Suami dengan Wali Sama-sama Saling


Dengar dan Mengerti Apa Yang Diucapkan

Pihak-pihak yang melakukan akad harus dapat


mendengarkan pernyataan masing-masingnya dengan
kalimat yang maksudnya menyatakan terjadinya
pelaksanaan akad nikah, sekalipun kata-katanya ada
yang tidak dapat dipahami, karena yang
dipertimbangkan disini ialah maksud dan niat, bukan
mengerti setiap kata-kata yang dinyatakan dalam ijab
dan qabul.131

Masing-masing dari dua orang yang berakad


mendengarkan dan memahami maksut pembicaraan
adalah pelaksanaan akat pernikahan. Meskipun masing-
masing dari mereka tidak memahami arti kosakata yang
di ucapkan. Karena ucapan itu sesuai dengan tujuan
dan niat .132
Pihak-pihak yang mengadakan akad harus
dapat mendengarkan pernyataan masing-masing.
Pernyataan kedua belah pihak tersebut harus dengan

130
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam,
Ilmu Fiqh. (Departemen Agama: Jakarta.1985). h. 98
131
Sayyid Sabiq. Fikih Sunnah 6. (Bandung:PT Al-Maarif). h.45
132
Ibid ,h 101
Fiqih Munakahat 121
kalimat yang maksudnya menyatakan terjadinya
pelaksanaan akad nikah sekalipun kata-katanya ada
yang tidak dapat dipahami.Karena yang menjadi
pertimbangan disini adalah maksud dan niat, bukan
mengerti setiap kata-kata yang dinyatakan dalam ijab
dan qabul.133

3. Antara Ijab Dengan Qabul Tidak Bertentangan

Hendaklah ucapan qabul tidak menyalahi


ucapan ijab kecuali kalau lebih baik dari ucapan ijabnya
sendiri yang menunjukkan pernyataan persetujuannya
lebih tegas. Jika pengijab mengatakan: Aku kawinkan
anak perempuanku Anu, dengan mahar Rp. 1000geram
emas, lalu qabil menyambut : Aku menerima nikahnya
dengan Rp. 3000 gram emas maka nikahnya sah, sebab
qabulnya memuat hal yang lebih baik (lebih tinggi
nilainya) dari yang dinyatakan pengijab.134
Hendaknya penerima tidak menyalahi ijab,
kecuali jika perbedaan itu kepada sesuatu yang lebih
baik dari yang berijab, seperti perbedaan yang bersifat
umum dalam kesesuaian. Misalnya jika seseorang yang
mengijabkan berkata : “Kunikahkan engkau dengan
anak perempuan Funalah dengan mahar sekitar seratus
ribu”, kemudian yang menerima berkata: “Aku terima
nikahnya dengan seratus ribu”, maka sah pernikahan

133
Tihami. Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap.
(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. 2009). h.88
134
Ibid. h.45
122 Fiqih Munakahat
itu karena penerimaanya mencakup sesuatu yang lebih
tepat.135
Ucapan qabul hendaknya tidak menyalahi
ucapan ijab. Artinya maksud dan tujuan adalah sama,
kecuali kalau kabulnya sendiri lebih baik dari pada
ijabnya dan menunjukkan pernyataan persetujuan yang
lebih tegas. Jika pengijab mengatakan, “Saya kawinkan
kamu dengan anak perempuan saya, dengan mahar
seratus ribu rupiah.”Lalu penerima menjawab,” Aku
menerima nikahnya dengan dua ratus ribu rupiah.”Maka
nikahnya sah, sebab kabulnya memuat hal yang lebih
baik (lebih tinggi nilainya) dengan yang dinyatakan
pengijab.136

4. Keduanya sudah sama-sama tamyiz

Apabila salah satu pihak masih kecil atau ada


yang gila maka pernikahannya tidak sah.137 Bila salah
satu pihak ada yang gila atau masih kecil dan belum
tamyiz (membedakan benar dan salah), maka
pernikahannya tidak sah.138

135
Ali Yusuf As-Subkhi. Fiqh Keluarga. Op.Cit. h 101
136
Tihami. . Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap.
Op.Cit. h 88
137
Ibid. h.86
138
Sayyid Sabiq.Loc Cit. h. 43
Fiqih Munakahat 123
C. Lafadz Ijab Qabul

Didalam melakukan ijab qabul haruslah


dipergunakan kata-kata yang dapat dipahami oleh masing-
masing pihak yang melakukan akad nikah sebagai
menyatakan kemauan yang timbul dari kedua belah pihak
untuk nikah, dan tidak boleh menggunakan kata-kata yang
samar atau kabur.
Ibnu Taimiyah mengatakan : Akad nikah, ijab
qabulnya boleh dilakukan dengan bahasa, kata-kata atau
perbuatan apa saja yang oleh masyarakat umumnya
diaanggap sudah menyatakan terjadinya nikah. Sama
dengan hal ini hukum semua akad (transaksi). Sehubungan
dengan masalah akad ini para ahli fiqh pun sependapat
bahwa di dalam ijab qabul boleh digunakan kata-kata dan
bahasa apa saja dapat menyatakan adanya rasa ridha dan
setuju, misalnya : Saya terima, saya setuju, saya
laksanakan dan sebagainya.139
Mazhab Hanafi berpendapat: Akad boleh dilakukan
dengan segala redaksi yang menunjukkan maksud menikah,
bahkan sekalipun dengan lafal Al-Tamlik (pemilikan), Al-
Hibah (penyerahan), Al-Bay’ (penjualan), Al-Atha’
(pemberian), Al-Ibahah (pembolehan), dan Al-Ihlal
(penghalalan), sepanjang akad tersebut disertai dengan
karinah (kaitan) yangmenunjukkan arti nikah.akan tetapi
akad tidaak sah jika dilakukan dengan lafal Al-Ijarah (upah)
atau Al-‘Ariyah (pinjaman), sebab kedua kata tersebut tidak
member arti kelestarian atau kontinuitas. Para penganut

139
Ibid,h. 45-46
124 Fiqih Munakahat
mazhab Hanafi menggunakan dalil berupa riwayat yang
dimuat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Maliki dan Hambali berpendapat: Akad nikah
dianggap sah jika menggunakan lafal Al-Nikah dan Al Zawaj
serta lafal-lafal bentukannya. Juga dianggap tidak sah
dengan lafal-lafal Al-Hibah, dengan syarat harus disertai
penyebutan mas kawin, selain kata-kata tersebut diatas
tidak dianggap sah. Dalil yang mereka gunakan bagi sahnya
akad dengan menggunakan lafal Al-Hibah adalah ayat Al-
Qur’an berikut ini :

…‫اﻟﻨﱯ نْ َْﺴ َ ْ ِﻜ َﺤﻬَﺎ‬


ِ ‫ِﻠﻨﱯ انْ رَا َد‬
ّ ِ ِ ‫…وَاﻣْﺮَ ًة ﻣُﺆْ ِﻣ َ ًﺔ انْ وَ َﻫﺒ َْﺖ ﻧَﻔْﺴَ ﻬَﺎ‬
Artinya : “…Dan perempuan mukmin yang menyerahkan
dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau
mengawininya.” (QS. Al-Ahzab: 50)

Sementara itu, mazhab Syafi’I berpendapat bahwa


redaksi akad harus merupakan kata bentukan dari lafal al-
Tazwij dan Al-Nikah saja, selain itu tidak sah.140

1. Lafaz tidak harus dalam bahasa Arab

Para ahli fiqh sependapat, ijab qabul boleh


dilakukan dengan bahasa selain Arab, asalkan memang
pihak-pihak yang beraqad baik semua atau salah
satunya tidak paham bahasa Arab.Mereka berbeda
pendapat bagaimana bila kedua belah pihak faham
bahasa Arab dan bisa melaksanakan ijab qabulnya
dengan bahasa ini.

140
Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqh Lima Mazhab.
(Jakarta:Lentera. 2011). h 309-310
Fiqih Munakahat 125
Ibnu Qudamah dalam kitab Mughni
mengatakan: Bagi orang yang mampu mempergunakan
bahasa Arab dan ijab qabulnya, tidak sah
mempergunakan selain bahasa Arab. Demikianlah salah
satu dari pendapat Imam Syafi’I.menurut Imam Abu
Hanifah boleh, sebab ia telah menggunakan kata-kata
tertentu yang digunakan dalam ijab qabul sebagaimana
juga dalam bahasa Arab. Tapi bagi kami (Ibnu
Qudamah) tidak menggunakan kata-kata Arab “nikah
dan tazwij”, padahal ia mampu, hukumnya tidak sah.
Adapun orang-orang yang tidak pandai bahasa Arab ia
bolah menggunakan bahasanya sendiri, karena bahasa
lain memang ia tidak mampu, sehingga kewajibannya
menggunakan lafaz Arab gugur, seperti bagi orang
yang bisu. Tetapi perlu ia menggunakan lafaz lain yang
khusus yang maknanya sama dengan lafaz Arab yang
digunakan dalam ijab qabul, dan bagi orang yang tidak
pandai berbahasa Arab tidak wajib mempelajari kata-
kata ijab qabul dalam bahasa Arab ini. Tetapi Abu
Khattab berkata : Ia wajib belajar, sebab bahasa Arab
termasuk syarat sahnya ijab qabul, yang karena itu bagi
orang yang mampu wajib mempelajarinya, seperti
halnya dengan mengucapkan takbir shalat.
Pihak pertama mengatakan : nikah itu tidak
wajib, jadi tidak wajib mengetahui rukun-rukunnya
dengan bahasa Arab, seperti halnya dengan jual beli.
Adapun takbir berbeda masalahnya dengan ijab
qabul ini.
Jika salah satu pihak yang berakad pandai
bahasa Arab, sedang yang lainnya tidak, maka ia harus

126 Fiqih Munakahat


menggunakan bahasa Arab dan lainnya dengan bahasa
nya sendiri.141

Seluruh mahzab berpendapat bahwa akad


dengan menggunakan bahasa non-arab adalah sah bila
yang bersangkutan tidak bisa melakukannya dalam
bahasa arab. Akan tetapi terdapat perbedaan
pendaapat bila ia mampu melakukannya. Hanafi, Maliki,
dan Hambali menyatakan sah, sedangkan syafi’i
memandangnya tidak sah

Sementara itu Imamiyah, Hambali, dan Syafi’i


berpendapat : akad dengan tulisan (surat dan
sebagainya) tidak sah. Sedangkan Hanafi
menyatakannya sah manakala orang yang dilamar dan
melamar tidak berada disatu tempat (yang sama)

Selanjutnya, semua mahzab sependapat bahwa


orang bisu cukup dengan memberikan isyarat secara
jelas yang menunjukkan maksud nikah, manakala dia
tidak pandai menulis. Kalau dia pandai menulis, maka
sebaiknya dipadukan antara akad dalam bentuk tulisan
dan isyarat.142
Hendaknya akad menggunakan dua kata yang
diletakkan dalam bentuk lampau. Atau meletakkan
salah satunya dalam bentuk lampau dan yang lainnya
bentuk yang akan datang. Misalnya: pihak pertama
melakukan akad: “Aku menikahkanmu (zawwajtuka)
dengan anak perempuanku, “yang menerima

141
Sayyid Sabiq.Op Cit. h. 47
142
Ibid. h 312
Fiqih Munakahat 127
mengatakan: “Aku menerima (qabiltu)”, atau ia
mengatakan, “Aku menikahkanmu (uzawwijuka)
dengan anak perempuanku”. Lalu ia mengatakan
kepadanya: “Aku menerima (qabiltu). Hal itu Karen
sighat (bentuk kata) yang dipilih oleh syara’; yang
penuh hikmah untuk melaksanakan akad adalah sighat
lampau (madhi) karena menunjukkan pada
keberhasilan kerelaan dari dua pihak secara pasti. Ia
tidak mengandung kata lain, berbeda dengan bentuk
yang menunjukkan keadaan sekarang dan yang akan
datang, ia tidak menunjukkan secara pasti akan
keberhasilan kerelaan waktu pembicaraan.
Jika salah seorang berkata: “Aku menikahkanmu
(uzawwijuka) dengan anak perempuanku?”.

Yang lain menjawab: “Aku akan terima (aqbilu)”.


Maka bentuk sighat dari keduanya tidak sah
dalam pernikahan, untuk memungkinkan
dimaksudkan dengan kata-kata yang terbatas
pada janji. Janji dengan pernikahan yang akan
datang bukanlah akad baginya dalam keadaan
sekarang.143

143
Ali Yusuf As-Subkhi. Loc Cit. h.104
128 Fiqih Munakahat
Contoh kalimat akad nikah :

‫ْ َﻜ ْﺤﺘُﻚَ وَزَ وﺟْ ُﻚَ … ِﺑ ْﺖِ … َﺎﻻرُوْ ِﺑ َﯿ ِﺔ ﻟْ ِﻔ ِ َﻤﻬْ ِﺮ‬


“Aku kawinkan engkau dengan … binti….
Dengan mas kawin seribu rupiah tunai”

2. Lafaz dengan fi’il Madhi

Para ahli fiqh mensyaratkan ucapan ijab Kabul


itu dengan lafaz fi’il Madhi (kata kerja telah lalu) atau
salah satunya dengan fi’il madhi dan yang lain fi’il
mustaqbal (kata kerja sedang).
Contoh pertama : Pengijab berkata :
Zawwajtuka ibnati (aku kawinkan anak perempuanku
dengan kamu), lalu penerima menyahut: Qabiltu (saya
terima).
Contoh kedua : pengijab berkata: Uzawwijuka
ibnati (aku kawinkan sekarang anak perempuanku
dengan kamu), lalu penerima menyahut : Qabiltu (saya
terima). Mereka mensyaratkan demikian karena
keridhaan dan persetujuan kedua belah pihak yang
menjadi rukun pokok akad nikah denga demikian bisa
diketahui dengan jelas, dan oleh karena ijab dan Kabul
merupakan lambang dari adanya ridha kedua pihak,
haruslah dinyatakan dengan ucapan yang pasti
menunjukkan adanya keridlaan, dan secara konkrit
dinyatakan dengan tegas ketika akad nikah itu
dilangsungkan.

Fiqih Munakahat 129


Bentuk ucapan didalam ijab qabul yang di
pergunakan oleh agama dengan fiil madhi, karna dapat
menunjukan secara tegas lahirnya pernyataan setuju
dari kedua belah pihak, dan tidak mungkin
mengandung arti lain. Berbeda hal nya dengan ucapan
yang di nyatakan dengan “fiil hal atau
istiqbal”(sekarang atau akan), ia tidak secara tegas
dapat menunjukan adanya keridhaan ketika di
nyatakan, andai kata salah seorang dari mereka
berkata: Uzawwijuka ibnati (saya kawinkan anak
perempuanku dengan kamu sekarang), lalu penerima
menjawab: Aqbalu (saya terima sekarang). Ucapan dari
kedua belah pihak ini belum tegas menunjukan telah
terjadi nya aqad nikah dengan sah karna masih ada
kemungkinanya bahwa yang di maksudkan nya baru
merupakan satu perjanjian semata-mata.
Sedangkan perjanjian untuk kawin di masa akan
datang bukan lah berarti sudah terjadi ikatan
perkawinan pada saat sekarang.
Dan andaikan peminang berkata: Zawwijni
ibnataka (kawinkanlah putri bapak dengan saya), lalu
wali nya menjawab: Zawwajtuha laka (ya, saya
kawinkan dia dengan kamu), berarti telah terjadi aqad
nikah, karna ucapan tersebut telah menunjukan adanya
pernyataan memberikan kuasa dan aqad nikah
sekaligus, padahal aqad nikah sah di lakukan dengan
menguasakan kepada salah satu pihak untuk
melaksanakannya. Jika peminang mengatakan:
kawinkanlah putri bapak dengan saya, lalu wali nya
menjawab: saya terima. Dengan demikian berarti pihak

130 Fiqih Munakahat


pertama menguasakan kepada pihak kedua,lalu pihak
kedua mengadakan aqad nikah sesuai dengan
pemintaan pertama.144
Para ulama fikih sepakat bahwa syarat ucapan
ijab Kabul itu hahus dengan lafal fiil madhi yang
menunjukan kata kerja telah lalu, atau dengan salah
satu nya fiil madhi yang lain fiil mustaqbal yang
menunjukan kata kerja yang sedang berlaku.
Contoh ijab Kabul yang menggunakan fiil madhi:
a. Ijab : َ‫اﺑْﻨَ ِ ﺰَ و ْﺟ ُﻚ‬
“Saya nikahkan engkau kepada anak perempuan
saya”
b. Kabul : ‫“ ﻗَ ِ ﻠ ُْﺖ‬Saya terima”
Contoh ijab Kabul yang salah satunya fi’il madhi
dan lainnya fi’il mustaqbal
a. Ijab : َ‫ِاﺑْﻨَ ِ ِّزَو ُﻚ‬
“Sekarang saya nikahkan engkau kepada anak
perempuan saya”
b. Kabul : ‫“ ﻗَ ِ ﻠ ُْﺖ‬Saya terima”

Bentuk ucapan dalamijab Kabul yang


dipergunakan oleh agama adalah fi’il madhi, karena
menyatakan secara tegas lahirnya pernyataan setuju
dari kedua belah pihak dan tidak mungkin mengandung
arti yang lain. Berbeda dengan ucapan yang dinyatakan

144
Sayyid Sabiq.Op Cit. h. 47-48
Fiqih Munakahat 131
dengan fi’il mustaqbal yang tidak secara tegas
menunjukkan adanya keridaan ketika dinyatakan.145

145
Tihami.Op Cit,h 84
132 Fiqih Munakahat
Fiqih Munakahat 133
134 Fiqih Munakahat
BAB VIII
Mahar Atau Maskawin

A. Nilai Mahar

Pada umumnya dalam bentuk barang atau uang,


namun syariat Islam memungkinkan dalam bentuk jasa
melakukan sesuatu.146Mengenai besarnya mahar, para
fuqoha telah sepakat bahwa bagi mahar itu tidak ada batas
tertinggi. Nabi bersabda : “Carilah, walaupun hanya cincin
besi”, merupakan dalil bahwa mahar itu tidak mempunyai
batasan terendah.147 Banyaknya mas kawin itu tidak dibatasi
oleh syariat Islam menurut kemampuan suami beserta
keridhaan istri.148
Dengan demikian maka dalam pemberihan mahar
dalam Islam tidak dibatasi namun sesuai kemampuan pihak
laki-laki, dan atas ridha siperempuan yang akan dinikai.

B. Mahar yang Baik adalah yang Tidak Memberatkan

Kalau mahar itu dalam bentuk uang atau barang


berharga maka Nabi menghendaki mahar itu dalam bentuk
yang sederhana. Hal ini tergambar dari hadits Uqbah bin
Amr yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dan disahkan oleh
Hakim bahwa Nabi bersabda :

146
Amir Syarifudin, Garis-garis Besar Fiqih, (Bogor: Kencana,
2003), h. 100
147
Abd. Rahman Ghazaly, Fiqih Munakahat, (Jakarta: Kencana,
2006), h. 90
148
Sulaim Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,
2004), h. 393
Fiqih Munakahat 135
‫ﲑ اﻟﺼﺪاق ٔ ﴪﻩ‬
Artinya : “Sebaik-baik mahar itu adalah yang paling
mudah”.149

Mukhtar Kamal menyebutkan “Janganlah hendaknya


ketidak sanggupan mas kawin karena besar jumlahnya
menjadi penghalang bagi berlangsungnya pernikahan. 150

Seorang calon istri yang solehah dia tidak akan


meminta mahar yang kiranya akan memberatkan calon
suaminya, hal ini penting untuk diperhatikan karena itu awal
dari keharmonisan keluarga dari keduabelah pihak, sesuatu
yang dipaksakan akan mengakibatkan hal yang tidak baik
pula dalam hubungan kedua belak pihak, oleh karenanya
mahar yang paling baik yaitu yang tidak memberatkan
calaon suami.

C. Haramnya Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah hukumnya haram.151 Dalil yang


mengharamkan nikah mut’ah adalah :
1. Al-Qur’an Al-Karim
... ‫ﻓَﺎ ْ ِﻜﺤُﻮﻫُﻦ ِ ذْنِ ْﻫ ِﻠﻬِﻦ‬
Artinya:
“Karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan
mereka.”
(QS. An-Nisa’ : 25)

149
Amir Syarifudin, Op.Cit., h. 101
150
Tihami dan Sohari Sahrani, Op Cit, h. 40
151
Abd. Rahman Ghazaly, Op.Cit., h. 37
136 Fiqih Munakahat
Ayat ini mewajibkan nikah dengan seizin
keluarga yaitu nikah syar’i yang harus ada izin wali
dan disaksikan dua orang saksi.Nikah mut’ah tidak
melakukan ini.152

Firman Allah SWT :

‫وَا ِ ﻦَ ﱒُ ْ ِﻟﻔُﺮُ و ِ ِﻢْ َﺎﻓِﻈُ ﻮنَ ۞اﻻ َ َٰﲆ زْوَ ا ِ ِﻢْ وْ ﻣَﺎ َﻣﻠَﻜ َْﺖ‬
۞ َ‫ﯾْﻤَﺎﳖُ ُﻢْ ﻓَﺎﳖ ُﻢْ ْ َُﲑ َﻣﻠُﻮﻣِﲔ‬
Artinya :

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,


kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang
mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam
hal ini tiada tercela”. (QS. Al-Mu’minun : 5 – 6)

Dalam dua ayat tersebut bahwa Alloh SWT


hanya memperbolehkan mempergauli wanita pada
dua jalur yaitu beristri wanita dan jalur pemilikan
budak dan melarang selain jalur tersebut dengan
firman-Nya pada ayat 7 surat yang sama :

َ‫ا ِ ﻦَ ﳛَ ْ ِﻤﻠُﻮنَ اﻟْﻌَﺮْ َش وَ ﻣَﻦْ ﺣَﻮْ َ ُ ُﺴَ ِ ّﺒﺤُﻮنَ ِ َﲝ ْﻤ ِﺪ ِ ّ ِرَﲠ ْﻢ وَ ﯾُﺆْ ِﻣ ُﻮن‬
‫رَﲪ ًﺔ وَ ِﻠْﻤًﺎ‬َ ْ ‫ﳾ ٍء‬ ْ َ ‫ِﺑ ِﻪ وَ َْﺴ ﺘَ ْﻐﻔِﺮُ ونَ ِ ِ ﻦَ ٓ َﻣ ُﻮا رَﺑﻨَﺎ وَﺳِ ﻌ َْﺖ ُﰻ‬
۞ ‫َﺬَاب اﻟْ َﺠ ِﺤ ِﲓ‬ َ ْ‫ﻓَﺎ ْﻏﻔِﺮْ ِ ِ ﻦَ َ ﺑُﻮا وَاﺗ َﺒ ُﻌﻮا ﺳَ ِ َ َ وَ ِﻗﻬِﻢ‬
152
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed
Hawwas, Fiqih Munakahat, (Jakarta: Amzah, 2009), h. 82
Fiqih Munakahat 137
Artinya :

“Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka


Itulah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-
Mu’minun : 7)

Nikah mut’ah keluar dari jalur yang


diperbolehkan tersebut karena dalam nikah mut’ah
status wanita bukan istri menurut konsensus ulama
sehingga syiah sendiri tidak mengatur hak-hak
wanita andaikan sebagai istri seperti naflun dan
harta warisan.Demikianlah juga dalam pernikahan
syari’at menimbulkan hubungan nasab, dalam nikah
mut’ah tidak dikatakan nasab.153

2. Ijma’ Seluruh Umat Islam


Al-khattab menyatakan: keharaman mut’ah
adalah berdasarkan ijma’ kecuali dari sebagian
golongan syi’ah.154

3. Hadits Rasulullah SAW

ْ‫اﻟﻨﺎس ا ِ ِّﱏ ُﻛﻨ ُْﺖ َا ِذﻧ ُْﺖ ﻟ ُ َْﲂ ِﰱ اْﻻﺳْ ِﺘﻤَﺎعِ َاﻻَوَ اِن ﷲَ ﻗَﺪ‬ ُ ‫ﯾ َ ٓﳞ َﺎ‬
.‫ﺣَﺮ َﻣﻬَﺎ ا َِﱃ ﯾ َﻮْ ِم اﻟْ ِﻘ َﺎ َﻣ ِﺔ‬

153
Ibid, h. 82-83
154
Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Fiqih Muslimah, (Jakarta:
Pustaka Amari, 1995), h. 264
138 Fiqih Munakahat
Artinya:
“Hai sekalian manusia, pernah kuizinkan kalian
melakukan kawin mut’ah.Ketahuilah, sesungguhnya
Allah telah mengharamkan hingga hari kiamat”.155

ْ‫ رَ َ رَﺳُ ﻮْ ُل ﷲِ ﺻَ َﲆ ﷲُ َﻠَ ْﯿ ِﻪ وَﺳَ ﲅ َ َﺎ ٍم اَو‬: ‫ﻋَﻦْ ﺳَ ﻠَ َﻤ ُﺔ ﻗَﺎ َل‬


(‫ﻃَ ِﺎس ِﰱ اﻟْ ُﻤ ْﺘ َﻌ ِﺔ ﺛَ َﻼ َ ُﰒ ﳖَ َﻰ ﻋَﳯْ َﺎ)روﻩ ﻣﺴﲅ‬
(Hadits diriwayatkan) dari sahabat Salamah, ia
berkata: telah memberikan keringanan Rasulullah
SAW di tahun Authas (tahun pembebasan, yakni
pembukaan Kota Mekkah) tantang melangsungkan
perkawinan mut’ah selama tiga hari, lalu
melarangnya.156

4. Ali bin Abi Thalib sendiri pernah mengharamkan


nikah mut’ah.

َ ‫ﻋَﻦْ َِﲆ ا ْﻦِ ا َِﰉ ﻃَ ﺎﻟ ِِﺐ ن رَﺳُ ﻮْلُ ﷲِ ﺻَ َﲆ ﷲُ َﻠَ ْﯿ ِﻪ وَﺳَ ﲅ‬


‫ﰻ ﻟُﺤُﻮْ ِم اﻟْ ُﺤ ُﻤ ِﺮ‬
ِ َ ْ‫ﳖَ َ ﻰ ﻋَﻦْ ُﻣ ْ َﻌ ِﺔ اﻟ ِّﺴَ ﺎ ِء ﯾ َﻮْ َم َﺧ َ َْﱪ وَ ﻋَﻦ‬
.‫اْﻻ ِْﺴ ﯿ ِﺔ‬
“Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah SAW
melarang mengawini wanita (secara) kawin mut’ah
pada waktu perang khaibar dan melarang memakan
daging khimar yang jinak.”157

155
Ibid, h. 263-264
156
Abd. Rahman Ghazaly, Op.Cit., h. 38
157
Ibid
Fiqih Munakahat 139
5. Mut’ah tidak sesuai dengan tujuan pernikahan
Kemudian tujuan dan maksud kawin mut’ah itu
hanya untuk memuaskan hawa nafsunya
syahwatnya saja, tetapi bukan mendapat keturunan
atau membangun rumah tangga.158

6. Mut’ah tidak berorientasi untuk mendapatkan


keturunan
Karena mut’ah dilakukan untuk melampiaskan
syahwat dan tidak untuk menghasilkan keturunan
maupun memelihara anak merupakan tujuan
perkawinan, maka kawin mut’ah menyerupai zina
dari segi tujuan bersenang-senang saja.159
Dapat diketahui bahwa nikah mut’ah tidak
disepakati dan demi kebaikan manusia, karena
dengan inilah hilanglah keturunan, pemanfaatan
perempuan hanya terbatas pemenuhan syahwat laki-
laki dengan merendahkan kepribadian perempuan,
maka wajib keharamannya.160

7. Ibnu Umar RA merajam pelaku nikah mut’ah


Dalam suatu periwayatan Umar berkata:

‫َاذِنَ ﻟَﻨَﺎ رَﺳُ ﻮْلُ ﷲِ ﺻَ َﲆ ﷲُ َﻠَ ْﯿ ِﻪ وَﺳَﲅ َ ِﰱ اﻟْ ُﻤ ْﺘﻌَﺔ ٕا ﺛَ َﻼ َ ُﰒ‬


ِ ‫رَﲨ ُﺘ ُﻪ‬
َ ْ ‫ﷲ َﻻ ْﲅَ ُ َﺪَا ﯾَﺘَ َﻤﺘَ ُﻊ وَ ﻣُﻮَ ُﻣﺤ َْﺼﻦُ اﻻ‬
ِ ‫ﺣَﺮ َﻣﻬَﺎ وَا‬
.‫اﻟْ ِﺤ َﺎر ِة‬
158
Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Op.Cit., h. 341
159
Ibid, h. 264
160
Ali Yusuf As-Subki, Op Cit, h. 135-136
140 Fiqih Munakahat
Artinya :
“Rasulullah SAW mengizinkan kami mut’ah selama 3
hari kemudian mengharamkannya. Demi Allah aku
tidak tahu seseorang yang melakukan mut’ah
sedangkan ia muhson kecuali aku rajam dengan
batu”.161

161
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed
Hawwas, Op.Cit., h. 84
Fiqih Munakahat 141
142 Fiqih Munakahat
BAB IX
Walimatul `Urs

A. Pengertian Walimatul ‘Urs


Walimah secara etimologi berasal dari bahasa Arab “
Al-Walima “ yang artinya makanan pengantin, maksudnya
adalah makanan yang disediakan khusus dalam acara pesta
perkawinan. Bisa juga di artikan ssebagai makanan untuk
tamu undangan atau lainnya.162
Walimah adalah makanan yang secara khusus di
hidangkan dalam acara perkawinan.163 Walimah atau
lengkapnya Walimah Al-‘Urs yaitu perhelatan yag dilakukan
setelah selesai akad nikah.164 Sebagai sebuah peristiwa
penting dalam kehidupan seseorang maka pernikahan perlu
diberitahukan kepada family atau khalayak ramai.Acara
pengumuman ini dilakukan dalam bentuk pesta pernikahan
(walimah al-‘urs).165 Walimah atau lengkapnya Walimah Al-
‘Urs yaitu perhelatan yag dilakukan setelah selesai akad
nikah.166

162
Slamet Abidin, Aminudin, Fiqh Munkahat 1, (Bandung : CV
Pustaka Setia, 1999), h. 149
163
Bin Sayyid Salim, Abu Malik Kamal, FiqihSunnah Untuk
Wanita, (Jakarta : Al-I’tishom Cahaya Umat, 2007), h. 686
164
Muhammad Ali, Fiqh, (Bandar Lampung : Aura, 2013), h.
148
165
Armaidi Tanjung, Free Sex No Nikah Yes, (Jakarta :
AMZAH, 2007), h. 186
166
Amir Syarifudin, Loc Cit, h. 117
Fiqih Munakahat 143
Walimah adalah jamuan atau syukuran pernikahan,
sesuai kemampuan.167
Asli kata walimah adalah sempurnanya sesuatu dan
berkumpulnya sesuatu. Dalam bahasa arab diartikan jika
akal dan akhlaknya bersatu. Kemudian makna ini di adopsi
dari nama “makanan” dan “hidangan pengantin” yang di
adakan karena adanya pernikahan seorang laki-laki dengan
seorang wanita. Maka dari itu, walimah tidak pernah di
pakai kecuali untuk hidangan pengantin. Inilah makna
walimah menurut bahasa dan apa yang telah di kenal oleh
banyak ulama.168

B. Hukum Mengadakan Walimah

Hukum walimah itu menurut para kebanyakan ulama


adalah sunnah. Hal ini dipahami dari sabda Nabi yang
berasal dari Annas Ibn Malik menurut penukilan yang
muttafaq ‘alaih yang artinya : “ Sesungguhnya Nabi
Muhammad SAW. Melihat ke muka Abdul Rahman bin ‘auf
yang masih ada bekas kuning. Nabi berkata : “ada apa ini?”.
Abdul rahman berkata : “saya baru mengawini seorang
perempuan dengan maharnya lima dirham”. Nabi bersabda :
“semoga Allah memberkatimu”. Adakanlah perhelatan,
walaupun hanya dengan memotong seokor kambing “.
Perintah Nabi untuk mengadakan walimah dalam
hadis ini meskipun ada ulama yang mengatak hukumnya

167
Heri Jauhari Muchtar, Fiqih Pendidikan, (Bandung :
Rosdakarya, 2008), h. 50
168
Saleh Al-Fauzan, Fiqih Sehari-Hari, (Jakarta : Gema Insani,
2005), h. 678
144 Fiqih Munakahat
wajib, sebagaimana yang di pahami oleh mazhab Zhahiri,
namun jumhur ulama memahaminya hanya sunnat.169
Hukum walimah untuk pengantin adalah sunnah.
Ketentuan ini telah menjadi kesepakatan para ulama.
Bahkan, sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa
hukumnya wajib. Hal tersebut berlandaskan pada adanya
perintah dari Rasulullah.170
Zumhur ulama sepakat bahwa mengadakan walimah
itu hukumnya sunnah mu’akad. Hal ini berdasarkan hadis
Rasulullah:
1. Artinya : “ dari Anas, ia berkata,”Rasulullah SAW.
Mengadakan walimah dengan seekor kambing
untuk istri-istrinya dan Zainab.” (H.R bukhari
Muslim).171
2. Artinya : “ Anas r.a. berkata,” Rasulullah SAW.
Tidak pernah mengadakan walimah bagi istri-istri
nya juga bagi Zainab”. Beliau memulai menyuruh
aku, lalu aku memanggil orang atas nama beliau.
Kemudian beliau hidangkan kepada mereka roti
dan daging sampai mereka kenyang.” (Al-Hadis).
3. Artinya : “ Rasulullah SAW. Mengadakan walimah
untuk sebagian istrinya dengan dua mud gandum. ”
(H.R bukhari)

Beberapa hadis tersebut diatas menunjukan bahwa


walimah itu boleh diadakan dengan makanan apa saja
sesuai kemampuan. Hal itu ditujukan oleh Nabi SAW. Bahwa

169
Heri Jauhari Muchtar, Op.Cit., h. 118
170
Saleh Al-Fauzan, Op.Cit.,h 679
171
Slamet Abidin, Aminudin, Op.Cit., h. 149
Fiqih Munakahat 145
perbedaan perbedaan dalam mengadakan walimah ole
beliau bukan, mebedakan atau melebihkan salah satu dari
yang lain, tetapi smata mata disesuaikan dengan keadaan
ketika sulit atau lapang.172
Hukum mengadakan Walimatul ’Urs adalah sunah
muaakad. Setiap orang yang melangsungkan pernikahaan
hendaknya mengadakan perjamuan Walimatul ‘Urs bila
mampu. Rasulullah SAW. Sendiri mengadakan perjamuan
Walimatu ‘Urs ketika menikah dengan istri-istri nya
menyuruh para sahabat untuk mengadakan nya.
Anas ra.Berkata,” pada keesokan harinya Rasulullah
SAW. Telah menikahi Zainab Binti Jahsyi, maka beliau
mengundang para sahabat. Mereka semua menyantap
jamuan(dirumah beliau) kemudian keluar….
Ketika mengetahui Abdurrahman Bin ’Auf satelah
menikah, Rasulullah SAW. berkata kepadanya, “diadakanlah
perjamuan walimah, walaupun hanya dengan menyembelih
seekor kambing.” (H.R.bukhari).173
Orang yang nikah hendaklah mengadakan
peranyaan sekedar kuasanya. Mengenai Hukum perayaan
mempelai, sebagian ulama mengatakan wajib, dan yang lain
mengatakan hanya sunnat saja.
Sabda Nabi SAW. Kepada Abdul Rahman bin ‘Auf
sewaktu dia nikah, yang artinya : “adakanlah perayaan
sekalipun hnya memotong seokor kambing.” (H.R Bukhari
dan Muslim).174

172
Ibid, h. 150
173
Bin Sayyid Salim, Abu Malik Kamal, Op.Cit., h. 686
174
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, (Bandung : Sinar Baru, 1987),
h. 368
146 Fiqih Munakahat
Hukum walimah itu menurut paham kebanyakan
para ulama adalah sunnah. Hal ini dipahami dari sabda Nabi
yang berasal An-Nas ibn Malik menurut penukilan yang yang
muttafaq alaih.175
Rasulullah SAW. Melihat bekas warna kuning pada
diri Abdur Rahman bin ‘Auf, sehingga beliau bertanya, “
apakah ini?” abdur Rahman menjawab, “aku telah menikahi
seorang perempuan dengan mahar yang beukuran satu
butir emas.” Rasulullah bersabda, “semoga Allah
memberkatimu dan buatlah walimah (resepsi) walau dengan
seekor kambing.” (Shahih Ibnu Majah 1907).176

C. Waktu Penyelenggaraan

Walimah di adakan ketika acara akad nikah


beralangsung, atau sesudahnya, atau ketika hari
perkawinan (mencampuri istrinya) atau sesudahnya.Bisa
juga di adakan tergantung adat dan kebiasaan yang berlaku
dalam masyarakat.177
Waktu pelaksanaan jamuan walimah yang benar
adalah bersamaan dengan malam pertama atau
sesudahnya, bukan bersamaan dengan akad nikah. Ini
berdasarkan pada hadits Annas ra. Yang menuturkan
peristiwa pernikahan Nabi SAW. Dengan Zainab “pada
keesokan harinya Rasulullah SAW. Telah menikahi Zainab
binti Jahsy, maka beliau mengundang para sahabat. Mereka
semua menyantap jamuan (di rumah beliau)….”

175
Muhammad Ali, Op.Cit., h. 149
176
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Tirmidzi,
(Jakarta : Pustaka Azzam, 2007), h. 837
177
Slamet Abidin, Aminudin, Op.Cit., h. 149
Fiqih Munakahat 147
Sebagian ulama berpendapat bahwa waktu
pelaksanaan walimah bersifat leluasa yakni dapat
dilaksanakan sejak akad nikah selesai malam pertama. 178
Pesta pernikahan umumnya dilangsungkan sesudah
akad nikah. Ada juga akad nikah bersamaan harinya dengan
pesta pernikahan.
Umumkanlah olehmu pernikahan ini,dengan
lakukanlah aqad nikah itu dalam masjid dan pukulan rebana
(bunyi-bunyian) untuknya. (HRAhmad dan At-Tirmidzi)
Selanjutnya sabda Rasulullah “Sesungguhnya
Rasulullah bersabda, siarkanlah (kabar) pernikahan itu”(HR.
Ahmad).179

D. Hukum Menghadiri Walimah

Hukum menghadiri walimah itu bila ia diundang


pada dasarnya ialah wajib sesuai dengan perintah nabi
untuk menghadiri undangan itu. 180
Untuk menunjukan perhatian, memriahkan, dan
menggembirakan orang yang mengundang, maka orang
yang di undang walimah wajib mendatanginya.181
Kebanyakan ulama (jumhur) berpendapat bahwa
Hukum menghadiri undangan Walimatul ‘Urs adalah wajib,
kecuali ada alasan kuat.182

178
Bin Sayyid Salim, Abu Malik Kamal, Op.Cit., h. 687
179
Armaidi Tanjung, Op.Cit., h.189
180
Muhammad Ali, Op.Cit., h. 150
181
Slamet Abidin, Aminudin, Op.Cit., h. 152
182
Bin Sayyid Salim, Abu Malik Kamal, Op.Cit., h. 688
148 Fiqih Munakahat
1. Fardhu ‘Ain
Dasar hukum wajibnya mendatangi
undangan walimah adalah :
a) Hadits Ibnu Umar ra. Yang menyatakan
bahwa Rasulullah SAW. Bersabda yang
artinya “jika seseoarang di antara kalian di
undang untuk menghadiri walimah maka
datanglah” (HR. Bukhari).183
b) “dari ibnu umar, bahwa Rasulullah SAW.
Telah bersabda “jika salah seorang
diantaramu diundang kewalimahan,
hendaklah ia datangi.” (HR. Bukhari).184
c) Dari abu harairah ra bhwa Rasulullsh SAW.
Telah bersabda “barang siapa meninggalkan
undangan sesungguhnya ia telah durhaka
kepada Allah dan Rasul-Nya”.
185
(HR.Bukhari).
d) “dari abu hurairah ra bahwa nabi
sawbersabda,” andaikata aku diundang
untuk makan kambing,niscaya aku
datangi,dan andaikata aku dihadiahi kaki
depan kambing, niscaya aku terima.” (H.R
bukhari).186
e) Abu Salamah Yahya bin Khalaf
menceritakan kepada kami, Bisyr bin Al
Mufadhdhal memberitahukan kepada kami
dari Ismail bin Umayah dari Nafi’, dari Ibnu
183
Ibid.,
184
Slamet Abidin, Aminudin, Op.Cit.,
185
Ibid.,
186
Ibid.,
Fiqih Munakahat 149
Umar, ia berkata, “Rasulullah SAW.
Bersabda, ‘hadirilah undangan apabila kalian
di undang’.” (Shahih: Ibnu Majah dan
Muttafaq ‘alaih).187

2. Fardhu Kifaya

Jika undangan itu bersifat umum, tidak tertuju


pada orang orang tertentu, maka tidak wajib
mendatangi, tidak juga sunah. Misalnya orang yang
mengundang berkata,” wahai orang banyak!
Datangilah walimah saya, tanpa menyebut orang
tertentu, atau dikatakan,” undangan setiap orang
yang kamu temui.”
Nabi Muhammad saw bersabda yang: Artinya :
“Anas berkata,” Nabi SAW. menikah lalu masuk
bersama istri nya. Kemudian ibuku membuat kue
untuk Ummu Salamah, lalu menempatkan nya pada
bejana. Lalu ia berkata, “wahai saudaraku, bawalah
ini kepada Rasulullah SAW., lalu aku bawa kepada
beliau, maka sabdanya, “letakanlah.” kemudian
sabdanya lagi, “undanglah Si Dia dan Si Dia, dan
orang orang yang kau temui”. Lalu saya undang
orang orang yang disebutkan dan yang saya temui.
(H.R Muslim)
Ada yang berpendapat bahwa hokum
menghadiri undangan adalah wajib kifayah dan ada

187
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Op.Cit., h. 838
150 Fiqih Munakahat
juga yang berpendapat hokum nya sunah. Akan
tetapi, pendapat pertamalah yang jelas.188

E. Yang Harus Diperhatikan Dalam Walimatul ‘Urs

1. Jangan berlebihan
Perjamuan walimah tidak harus dengan
menyembelih kambing atau lainnya, melainkan dengan
apa saja yang dapat di hidangkan oleh pengantin laki-
laki sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah SAW.
Sendiri pernah mengadakan jamuan walimah dengan
hais ketika menikah dengan Shafiyyah.
Hais adalah hidangan yang terdiri dari kurma
yang telah di keluarkan bijinya, lalu di campur dengan
susu kering atau gandum (setelah dimasak).189
Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW.Telah
bersabda, yang artinya “dari Aisyah, sesungguhnya
Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya yang sebesar-
besarnya berkat nikah ialah yang sederhana
belanjanya. (HR. Ahmad).190

2. Bukan untuk gengsi


Undangan bertambah fungsi sebagai prestise
dari keluarga si pengundang. Sehingga makin tinggi
status dan kedudukan seseorang di tengah masyarakat,

188
Slamet Abidin, Aminudin, Op.Cit.,
189
Bin Sayyid Salim, Abu Malik Kamal, Op.Cit.
190
Armaidi Tanjung, Op.Cit.
Fiqih Munakahat 151
maka undngan pernikahan juga harus lebih “mahal”,
lebih “indah”, dan paling bagus.191
Bila status si pengundang di masyarakat
dihormati, disegani, seorang pejabat atau pengusaha
sukses, jangan takut dengan undangan sederhana,
tetapi fungsinya sebagai undangan dapat terpenuhi. 192

3. Hendaknya Mengundang Fakir Miskin


Setiap orang yang melangsungkan pernikahan di
anjurkan mengundang orang-orang soleh untuk
menghadirinya baik miskin maupun kaya. Hal ini di
sandarkan pada hadits :
a) Abu hurairah ra. Berkata, “makanan paling buruk
adalah makanan walimah. Orang-orang kaya
diundang untuk menyantapnya sedangkan orang-
orang fakir tidak diundang. Barang siapa yang tidak
menghadiri undangan walimah, maka telah
menyalahi ajaran Allah dan Rasul-Nya.193
b) Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda, “makanan yang paling jelek adalah pesta
perkawinan yang tidak mengundang orang yang
mau datang kepadanya (miskin), tetapi
mengundang orang enggan datang kepadanya
(kaya). Barang siapa yang tidak memperkenankan
undangan, maka sesungguhnya durhaka kepada
Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Muslim).194

191
Ibid., h. 188
192
Ibid.,
193
Bin Sayyid Salim, Abu Malik Kamal, Op.Cit., h. 687
194
Slamet Abidin, Aminudin, Op.Cit., h. 156
152 Fiqih Munakahat
c) Sesungguhnya abu hurairah berkata, “sejelek-
jeleknya makanan ialah makanan walimah yang
hanya mengundang orang-orang kaya, akan tetapi
meninggalkan orang-orang miskin.” (HR.
195
Bukhari).

195
Ibid.,
Fiqih Munakahat 153
154 Fiqih Munakahat
BAB X
Kewajiban Suami Istri

A. Kewajiban Suami Terhadap Istri Dari Pendapat 5


Mazab

1. Nafkah

Pendapat Imam Syafi’i: nafkah istri di tentukan


oleh ukuran syara’ dan tidak ada ijtihad di dalamnya
yang di pertimbangkan menurut keadaan suami saja.
Oleh karena itu suami wajib memberikan nafkah 2 mud
sehari, suami yang pertengahan wajib memberikan
nefkah 1,5 mud sehari, sedangkan suami yangmiskin
wajib memberikan 1 mud sehari.196
Pendapat Hanafi, Maliki, Hambali dan Az-
zhahiri: di ukur menurut keadaan suami istri. Oleh
karena itu,wajib hukumnya bagi suami kaya memberi
nafkah kepada istri kaya, yaitu sebanyak nafkah yang
bias di beri orang kaya, sedangkan suami yang miskin
wajib memberi nafkah kepada suami yang miskin,yaitu
secukupnya. Suami yangkaya wajib memberi nafkah
suami yang fakir, yaitu dengan nafkah pertengahan atau
2 nafkah mereka.Suami yang fakir memberi nafkah
suami yang kaya adalah sekedar yang di perlukannya,
sedangkan yang lainya menjadi utangnya.197

196
Syaikh, al-mlamah muhamad bin abdurrohman ad-dimayqi,
Fiqh lima mazab,(Bandung: Hasyimi, 2012), h 388.
197
Ibid.,h.388.
Fiqih Munakahat 155
2. Memberi pelayan

Pendapat Para mazab: sepakat atas wajibnya


suami memenuhinya, jika istri memperlukan pelayan.
Namun para mazab berbeda pendapat apabila pelayan
lebih dari satu.
Pendapat hanafi, hambali dan az-zhahiri:
tidak wajib memenuhinya kecuali satu orang saja,
walaupun di perlukan banyak pelayan.
Pendapat maliki: jika yang memperlukan dua,
tiga pelayan maka semuanya wajib di penuhi.198

3. Nafkah bersetubuh

Pendapat Para Imam Mazhab: berbeda


pendapat pada nafkah istri yang masih kecil, yang
belumdapatdi setubuhi dengan suami.Pendapat Hanafi,
maliki, hambali, az-zhahiri: tidak berhak nafkah.
Pendapat Syafi’i: mempunyai 2 pendapat dan paling
shahih: tidak berhak nafkah.Apabila istri sudah besar,
dan suami masih kecil dan belum biasa bersenggama,
maka iya tetap wajib memberikan nafkah. Demikian
pendapat hanafi, az-zhari dan maliki.Pendapat
Syafi’i mempunyai 2 pendapat dan paling shahih: tidak
berhak nafkah.

Pendapat maliki: tidak wajib memberikan nafkah.

198
Ibid.,h. 389.
156 Fiqih Munakahat
4. Memberi pakaian

Apabila suami tidak tidak sanggup memberi


nafkah pakaian apakah istri berhak membatalkan
berkawinan?
Pendapat Hambali: tidak berhak, tapi hendknya
istri di beri kesempatan untuk mencari penghidupan
Pendapat Maliki, Syafi’I, Hambali, dan Az-zahiri:
benar iya berhak memintak membatalkan perkawinan
lantaran suaminya tidak sanggup membeikan nafkah,
pakaian dan tempat tinggal.199

B. Hak Dan Kewajiban Suami Istri Dari Pendapat


Yang Berbeda

Apabila akad nikah telah berlangsung dan sah


memenuhi syarat rukunnya, maka akan menimbulkan akibat
hukum. Dengan demikian, akan menimbulkan pula hak dan
kewajibannya selaku suami istri dalam keluarga.

Jika semua istri sama – sama menjalankan tanggung


jawabnya masing – masing, maka akan terwujudlah
ketentraman dan ketenangan hati, sehingga se mpurnalah
kebahahagiaan hidup berkeluarga akan terwujud sesuai
dengan tuntutan agama, yaitu sakinah, mawaddah
warahmah. Dalam Komplikasi Hukum Islam, hak dan
kewajiban suami istri di jelaskan secara rinci.200

199
Ibid., h 390.
200
Rohman, gozali.Fiqh munakad.(Bandung: Hazimi, 2003) h.
160.
Fiqih Munakahat 157
C. Hak Suami Terhadap Istrinya, Yang Paling
Pokok Adalah:
1. Di taati dalam hal – hal yang tidak maksiat.
2. Istri menjaga dirinya sendiri dan harta suami.
3. Menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang
dapat menyusahkan suami.
4. Tidak bermuka masam di hadapan suami.
5. Tidak menunjukkan keadaan yang tidak di
senangi suami.

Hakim meriwayatkan dari Aisyah :


Dari Aisyah, ia berkata: Saya bertanya kepada
Rasulullah SAW: Siapakah orang yang paling besar
haknya terhadap perempuan? Jawabnya: Suaminya Lalu
saya bertanya lagi: Siapakah orang yang paling besar
hak nyaterhadap laki–laki? jawabnya: Ibunya (H.R
Hakim).201

Kemudian taat kepada suami hanyalah dalam hal-


hal yang di benarkan agama, bukan dalam hal
kemaksiatan kepada Allah SWT.Jika suami menyuruh istri
untuk berbuat maksiat, maka istri harus menolaknya.Di
antara ketaatan istri kepada suami adalah tidak keluar
rumah, kecuali dengan seizinnya.

Tentang hak suami terhadap istri, Rasulullah SAW


menegaskan :

Dari Abdullah bin Umar ra sesungguhnya


Rasulullah SAW bersabda: Hak suami terhadap istrinya
adalah tidak menghalangi permintaan suaminya
201
Ibid., h. 161
158 Fiqih Munakahat
kepadanya sekalipun sedang di atas punggung unta,
tidak berpuasa walaupun sehari saja selain dengan
izinnya, kecuali puasa wajib. Jika ia tetap berpuasa, ia
berdosa dan puasanya tidak di terima. Ia tidak boleh
memberikan sesuatu dari rumahnya kecuali dengan izin
suaminya. Jika ia memberinya maka pahalanya bagi
suaminya dan dosanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak
keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suaminya. Jika
ia berbuat demikian maka Allah akan melaknatnya dan
para malaikat memarahinya sampai tobat dan pulang
kembali sekalipun suaminya itu zalim. (H.R Abu
Dawud).202

Dan allah berfirman :

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,


oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka
(laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena
mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta
mereka. Sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang
taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya
tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).
wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika
mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari
jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha
Tinggi lagi Maha besar.”

202
Ibid., h. 162
Fiqih Munakahat 159
Dalam Al-Quran Surat An-Nisa’ ayat 34 di jelaskan
bahwa istri harus bisa menjaga dirinya, baik ketika
berada di depan suami maupun di belakangnya, dan ini
merupakan salah satu ciri yang shahih. Maksud
memelihara diri di balik pembelakangan suaminya dalam
ayat tersebut adalah istri dalam menjaga dirinya ketika
suaminya tidak ada dan tidak berbuat khianat
kepadanya, baik mengenai diri maupun harta
bendanya.Inilah merupakan kewajiban teringgi bagi
seorang istri terhadap suaminya.203

1. Kewajiban Materi Berupa Kebendaan

Sesuai dengan penghasilannya, suami mempunyai


kewajiban terhadap isrtri:

1. Memberi nafkah, kiswah dan tempat tinggal.


2. Biaya rumah tangga, biaya perawatan, dan biaya
pengobatan bagi istri dan anak.
3. Biaya pendidikan bagi anak.

Dua kewajiban paling depan di atas mulai berlaku


sesudah ada tamkin sempurna dari istri, dan ia dapat
membebaskan kewajiban tersebut terhadap dirinya. Di
samping itu, juga bisa gugur apabila ia (istri) nusuz.

Sedangkan yang di maksud dengan nafkah secara


etimologis, berarti berarti pergi dan keluar.
Menurut ulama fiqih, nafkah adalah pengeluaran
yang harus di keluarkan oleh orang yang wajib memberi
nafkah,kepada seorang istrinya, yang berupa makanan,

160 Fiqih Munakahat


pakaian tempat tinggal atau segala sesuatu yang
berhubungan dengan keperluan hidup.204
Hukum nafkah adalah wajib bagi seorang suami
terhadap istrinya, dan tidak ada prbdaan pendapat
tntang masalah ini. Bahkan al-quran tela mewajibkan hal
tersebut melalui firman allah:

‫ِﻟ ُﯿ ْﻨﻔ ِْﻖ ذُو ﺳَ َﻌ ٍﺔ ﻣِﻦْ ﺳَ َﻌ ِﺘ ِﻪ ۖ وَ ﻣَﻦْ ﻗُﺪِرَ َﻠَ ْﯿ ِﻪ رِزْ ﻗُ ُﻪ ﻓَﻠْ ُﯿ ْﻨﻔ ِْﻖ ﻣِﻤﺎ ٓ َ ُﻩ‬
‫ُﴪ‬ٍ ْ ‫ا ُ ۚ َﻻ ُﳫَ ّ ُِﻒ ا ُ ﻧَﻔْﺴً ﺎ اﻻ ﻣَﺎ ٓ َ ﻫَﺎ ۚ ﺳَ ﯿَﺠْ َﻌ ُﻞ ا ُ ﺑَﻌْﺪَ ﻋ‬
۞‫ُْﴪًا‬
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah
menurut kemampuannya.dan orang yang disempitkan
rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang
diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban
kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah
berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan
kelapangan sesudah kesempitan, (QS. At-thalaq:7).
Dan allah juga telah berfirman:

۞ ‫وَارْ زُ ﻗُﻮﱒُ ْ ِﻓﳱَﺎ وَاﻛْﺴُ ﻮﱒُ ْ وَ ﻗُﻮﻟُﻮا ﻟَﻬُﻢْ ﻗَﻮْ ًﻻ َﻣﻌْﺮُ وﻓًﺎ‬
Artinya: “berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil
harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-
kata yang baik.”( An-Nissa:5)

7
Supian, dkk.Materi Pendidikan Agama Islam,(Bandung: PT
Ramaja Rosdakarya, 2003),h 136.
Fiqih Munakahat 161
sebelumnya, Dia berfirman:
...‫َذ ِ َ د َ ْٰﱏ ﻻ ﺗَ ُﻌﻮﻟُﻮا‬
Artinya : “yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak
berbuat aniaya.” (QS. An-nissa : 3)

Adapun menurut Ijma adalah sebagai berikut:

Adamah berkata , “Para ahli ilmu sepakat tentang


kewajiban suami menaflahi istri – istrinya, bila sudah baligh,
kecuali kalau istri berbuat durhaka. Ibnul Munzir dan lainnya
berkata, “Istri yang durhaka boleh di pukul sebagai
pelajaran.Perempuan adalah orang yang tertahan di tangan
suaminya.Ia telah menahannya untuk bepergian dan
bekerja. Karena itu, ia berkewajiban untuk memberikan
nafkah kepadanya.205

Adapun seorang istri berhak menerima nafkah dari


suaminya, apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Dalam ikatan perkawinan yang sah.


2. Menyerahkan dirinya krpada suaminya.
3. Suaminya dapat menikmati dirinya.
4. Tidak menolak apabila di ajak pindah ke tempat yang di
kehendaki suaminya. Kecuali kalau suami bermaksud
merugikan istri dengan membawanya pindah, atau
membahayakan keselamatan diri dan hartanya
Keduanya saling dapat menikmati.

205
Slamet Abidin dkk, Fiqih Munakahat, (Bandung : CV
Pustaka Setia, 1999) h. 165
162 Fiqih Munakahat
Sedangkan mengenai waktu memberi nafkah, para
fuqaha berbeda pendapat.Imam Malik berpendapat bahwa
nafkah itu menjadi wajib apabila suami telah menggauli
atau mengajak bergaul dan istri termasuk orang yang dapat
di gauli dan suami telah dewasa.206

Imam Abu Hanafah dan Syafi’i berpendapat bahwa


suami yang belum dewasa wajib memberi nafkah apabila
istri telah dewasa, sedang apabila istri belum dewasa, dalam
hal ini menurut Imam Syafi’i terdapat dua pendapat:
pertama, sama dengan pendapat Imam Malik. Pendapat
kedua, bahwa istri berhak memperoleh nafkah
bagaimanapun keadaannya.

Perbedaan pendapat tersebut di sebabkan karena


nafkah itu merupakan pengganti dari kenikmatan yang di
peroleh suami, atau karena istri tertahan oleh suami
sebagaimana halnya pada suami yang bepergian jauh atau
sakit.

Disebutkan di dalam kitab ar-raudah an-nadiyyah,


adalah pendapat yang benar tidak di perlukanadanya
ukuran tertentu.Yang kebutuhan dari setiap indivindu.Di
mana ada keluarga yang membiasakan keluarga makan
hanya dua kali dalam sehari. Di tempat lain ada
yangmembiasakan makan tiga kali dalam satu hari. Dan di
antara indivindu mempunyai kondisi yang berbeda.Ada
sebagian orang yang kebutuhan makannya hanya satu sha’,

206
Ibit.,h 166.
Fiqih Munakahat 163
atau lebih. Ada juga yang setengah sha’ dan sebagian lain
ada yang kurang dari itu.207

Berdasarkan perbedaan pendapat tersebut, maka


penetapan ukuran tertentu terhadap pemberian nafkah
merupakan suatu hal yang tidak benar. Tidak ada syaria;at
yang menentukan ukuran tertentu terhadap nafkah itu,
rasullulah menggunakan istilah secukupnya dalam
pemberian nafkah ini dan di lakukan dengan carayang baik.
208

2. Kewajiban non materi yang bukan berupa


kebendaan

Beberapa kewajiban suami terhadap istri yang


bukan berupa kebendaan, antara lain adalah:

a. Berlaku sopan kepada istri, menghormatinya serta


memperlakukannya dengan wajar.
b. Memberi perhatian penuh kepada istri.
c. Setia kepada istri dengan menjaga kesucian nikah
di mana saja
d. berada.
e. Berusaha mempertinggi keimanan, ibadah, dan
kecerdasan istri.
f. Membimbing istri sebaik – baiknya.
g. Memberi kemerdekaan kepada istri untuk berbuat,
bergaul di tengah– tengah masyarakat.
h. Suami hendaknya memaafkan kekurangan istri.

207
Ibid.,h 167.
208
Abdul ghofar.Fiqh keluarga. (Jakarta Timur: Pustaka Al-
Kausar. 2001). h. 445
164 Fiqih Munakahat
i. Tidak memaksa bekerja keras untuk urusan rumah
tangga.
j. Selalu bersikap jujur terhadap istri.
k. Melindungi istri dan memberikan semua keperluam
hidup rumah tangga sesuai dengan
kemampuannya.
l. Menjaga istrinya dengan baik.
m. Suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk
menegakkan rumah tangga ang sakinah, mawadah,
dan waramah yang menjadi sendi dasar susunan
masyarakat.
n. Mempelihara anak-anak mereka, baik mengenai
pertumbuhan jasmani, rohani, maupun
kecerdasaan serta pendidikan agamanya.209

Suami berkewajiban menjaga istrinya


mempelihara istrinya dari segala sesuatu yang menodai
kehormatannya, menjaga harga dirinya menjunjung
tinggi kehormatannya sehingga citranya baik.
Dalam salah satu sabda nabi dinyatakan sebagai
berikut :

Dari abukhurairoh bahwa rosulullah bersabda:


“sesungguhnya allah mempunyai rasa cemburu
dan seorang mukminpun mempunyai rasa cemburu,
cemburu allah agar seorang hambanya tidak melakukan
perbuatan yang di larang”

209
Tihami,dkk. Fiqh munakat, (Jakarta: Rajawali Pres: 2010), h.
157.
Fiqih Munakahat 165
Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan bias
berbuat adil di antara istri istri mu dalam masalah cinta
dan kecenderungan hati (yang bersifat batin).210
Menafsiri ayat tersebut ibnu sirin mengutip
pendapat yang mengatakan bahwa yang di maksud
ialah tidak biasa berbuat adil dalam masalah cinta dan
hubungan seksual. Ibnu abas dan sofyan juga
berpendapat yang sama.211
Oleh karna itu suami harus merasa cemburu
terhadap istri, tapi kecemburuannya bersifat adil,
jangan sampai berburuk sangka yang berlebihan karna
hal ini menimbulkan masalah dan tidak menutup
kemungkinan menimbulkan perceraian. Berlaku adil dan
sama di antara para istri (apa bila mempunyai istri lebih
dai satu). Seorang suami harus bisa berlaku adil
terhadap para istri-istrinya, supaya tidak timbul
perpecahan di antara mereka.
Diriwayatkan dari Nabi SAW.bersabda:

ْ‫ ) ﻣَﻦ‬: ‫َﻟﻨﱯ ﷺ ﻗَﺎ َل‬ ّ ِ ِ ‫وَ ﻋَﻦْ ِﰊ ﻫُﺮَ ْﺮَ َة رﴈ ﷲ ﻋﻨﻪ ﻋَﻦْ ا‬
‫ َﺎ َء ﯾ َﻮْ َم َاﻟْ ِﻘ َﺎ َﻣ ِﺔ وَﺷِ ﻘ ُﻪ‬, ‫ ﻓَﻤَﺎ َل َاﱃ ا ْﺪَ اﳘُ َﺎ‬, ِ‫ﰷَ ﻧ َْﺖ َ ُ ِاﻣْﺮَ َ ن‬
{‫ﲱﯿﺢ‬ ِ َ ‫ وَﺳَ ﻨَﺪُ ُﻩ‬, ‫ وَا ْ رْ ﺑ َ َﻌ ُﺔ‬, ُ‫ }رَوَ ا ُﻩ ْﲪَﺪ‬.( ‫ﻣَﺎﺋِ ٌﻞ‬
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa
memiliki dua orang istri dan ia condong kepada salah

210
Syaikh Hafizhbali Syuaisiyi. Kado Pernikahan. (Jakarta
Timur: Pustaka al-Kausar, 2003). h. 123.
211
Ibid., h 124.
166 Fiqih Munakahat
satunya, ia akan datang pada hari kiamat dengan tubuh
miring." Riwayat Ahmad dan Imam Empat, dan
sanadnya shahih.

D. Kewajiban Istri Terhadap Suami


Ketika ada kewajiban seorang suami terhadap
istrinya, maka begitu juga sebaliknya ada kewajiban
seorang istri terhadap suaminya, hal ini terjadi karena
antara suami dan isti harus saling melayani baik batiniyah
maupun rohaniyah, sehingga keduanya saling berkasih
sayang.
Slamet Abidin dan H. Aminuddin mengatakan ada
beberapa kewajiban istri terhadap suami diantaranya :
1. Taat dan patuh terhadap suami
2. Pandai mengambil hati suami melalui makanan dan
minuman
3. Mengatur rumah tangga dengan baik
4. Menghormati keluarga suami
5. Bersikap sopan, penuh senyum kepada suami
6. Tidak mempersulit suami, dan selalu mendorong suami
untuk maju
7. Ridha dan syukur terhadap apa yang diberikan suami
8. Selalu berhemat dan suka menabung
9. Selalu berhias, bersolek untuk suami
10. Jangan selalu cemburu buta.212

Sementara dalam kompilasi Hukum Islam, kewajiban


istri terhadap suami dijelaskan sebagai berikut :

212
Slamet dan H. Aminuddin, Fiqih Munakahat, ( Bandung: CV
Pustaka Setia 1999) Cet, ke-1, h.172
Fiqih Munakahat 167
Pasal 83 Kewajiban Istri

1. Kewajiban utama bagi seorang istri ialah berbakti


lahir batin kepada suami di dalam batas-batas yang
dibenarkan oleh hokum Islam
2. Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan
rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya.

Pasal 84

1. Istri dapat dianggap nusyuzjika ia tidak mau


melaksanakan kewajiban-kewajiban, sebagaimana
dimaksud dalam pasal 83 (1), kecuali dengan alas
an yang sah.
2. Selama sitri dalam nusyuz, kewajiban suami
terhadap istrinya tersebut pada pasal 80 ayat (4)
huruf a dan b (a.) Nafkah, kiswah dan tempat
kediaman bagi istri. (b.) Biaya rumah tangga, biaya
perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan
anak) tidak berlaku kecuali hal-hal untuk
kepentingan anaknya.
3. Kewajiban suami tersebut pada ayat (2) di atas
berlaku kembali sesudah istri tidak nusyuz.
4. Ketentuan ada atau tidak adanya nusyuz dari istri
harus didasarkan atas bukti yang sah.

168 Fiqih Munakahat