0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan26 halaman

Landasan Bimbingan Dan Konseling

Bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan atau pertolongan sistematis oleh konselor kepada konseli untuk membantu konseli menemukan dan memecahkan masalahnya sendiri melalui interaksi antara keduanya."

Diunggah oleh

rita tri maharani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan26 halaman

Landasan Bimbingan Dan Konseling

Bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan atau pertolongan sistematis oleh konselor kepada konseli untuk membantu konseli menemukan dan memecahkan masalahnya sendiri melalui interaksi antara keduanya."

Diunggah oleh

rita tri maharani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Profesi Kependidikan

Dosen Pembina:
Ernawati, M.Pd

Oleh:
Rita Tri Maharani (19108830005)

UNIVERSITAS ISLAM BALITAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BIOLOGI
DESEMBER 2020

1
Kata Pengantar

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,
taufik dan inayah-Nya serta nikmat sehat sehingga penyusunan makalah guna
memenuhi tugas mata kuliah profesi kependidikan ini dapat selesai sesuai dengan
yang diharapkan. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada baginda Nabi
Muhammad SAW dan semoga kita selalu berpegang teguh pada sunnahnya
Amiin.
Dalam penyusunan makalah ini tentunya hambatan selalu mengiringi
namun atas bantuan, dorongan dan bimbingan dari orang tua, dosen pembimbing
dan teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu akhirnya semua
hambatan dalam penyusunan makalah ini dapat teratasi.
Makalah ini kami susun dengan tujuan sebagai informasi serta untuk
menambah wawasan khususnya mengenai landasan bimbingan dan konseling dan
adapun metode yang kami ambil dalam penyusunan makalah ini adalah
berdasarkan pengumpulan sumber informasi dari berbagai karya tulis.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan sebagai sumbangsih
pemikiran khususnya untuk para pembaca dan tidak lupa kami mohon maaf
apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan baik dalam kosa kata
ataupun isi dari keseluruhan makalah ini. Kami sebagai penulis sadar bahwa
makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan untuk itu kritik dan saran sangat
kami harapkan demi kebaikan kami untuk kedepannya.

Blitar, 17 Desember 2020

Tim Penyusun

2
DAFTAR ISI
COVER................................................................................1

Kata Pengantar.....................................................................2

DAFTAR ISI........................................................................3

BAB I...................................................................................4

PENDAHULUAN................................................................4

Latar Belakang.....................................................................5

Rumusan Masalah................................................................5

BAB II.................................................................................. 6

PEMBAHASAN.................................................................. 6

Landasan Bimbingan Konseling..........................................6

Kode Etik Landasan Bimbingan Konseling.........................19

BAB III.................................................................................25

KESIMPULAN....................................................................25

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada


dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan
dalam pendidikan, seperti landasan dalam pengembangan kurikulum, landasan
pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Landasan
dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang
harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku
pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat
sebuah bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan
fundasi yang kuat dan tahan lama.

Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka


bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Seperti layaknya sebuah
pembelajaran Bimbingan dan Konseling juga membutuhkan apa yang dinamakan
strategi dalam pelaksanaannya. Dalam hal untuk mengetahui strategi apa yang
tepat untuk digunakan kepada seorang yang hendak dibimbing (konseli) itulah
seorang yang hendak membimbing (konselor) membutuhkan kode etik untuk
menjalankan profesinya tersebut.

Dalam masalah bimbingan dan konseling kode etik sangat dibutuhkan.


Kode etik dibutuhkan ketika konselor hendak membimbing konseli kearah
pengembangan pribadinya. Peran kode etik yaitu sebagai acuan dan tuntutan
dalam memberikan masukan-masukan kepada konseli agar masukan yang
diberikan oleh konselor tidak keluar dari aturan-aturan norma-norma yang berlaku
dimasyarakat maupun dikalangan konselor sendiri.

4
Dengan adanya kode etik yang mengatur kegiatan konselor akan
menjadikan sebuah pedoman yang sangat penting dan menentukan hasil dari
kegiatan konseling. Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling,
apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan
kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang
menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).

Secara teoritik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara


umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan
bimbingan dan konseling ada 6 yaitu : landasan filosofis, landasan religius,
landasan psikologis, landasan sosial budaya, landasan ilmiah dan teknologis,
landasan pedagogis.

1.2 Rumusan Masalah

1. Jelaskan definisi dari bimbingan dan konseling

2. Jelaskan tujuan bimbingan dan konseling.

3. Apa saja landasan yang digunakan dalam bimbingan dan konseling?

4. Jelaskan asas-asas yang berkenaan dengan pratik atau pekerjaan


bimbingan konseling.

5. Apa Pengertian Kode Etik Profesi Konselor?

6. Apa Pengertian Kode Etik Bimbingan Dan Konseling?

7. Apa tujuan kode etik ?

8. Dasar kode etik profesi bimbingan dan konseling ?

9. Apa saja pelaksanaa kode etik profesi konselor.

10. Bentuk Pelanggaran yang Sering Terjadi.

11. Sanksi Pelanggaran dan Mekanisme Penerapan Sanksi.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling

Secara etimologis, bimbingan dan konseling terdiri atas dua kata, yaitu
“bimbingan” (terjemahan dari kata “guidance”) dan “konseling” (diadopsi dari
kata “conseling”). Dalam praktik, bimbingan dan konseling merupakan satu
kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan. Keduanya merupakan bagian yang
integral. Untuk pemahaman yang yang lebih jelas, dalam uraian berikut
pengertian bimbingan dan konseling diuraikan secara terpisah.

Makna Bimbingan

Seperti disebut diatas bahwa, “bimbingan” merupakan terjemahan dari


kata “guidance” dari kata dasar “guide” yang berarti menunjukkan jalan (showing
the way), memimpin (leading), memberikan petunjuk (giving instruction),
mengatur (regulating), mrngarahkan (governing), dan memberi nasihat (giving
advice) (Winkel, 1991). Istilah “guidance”, juga diterjemahkan dengan arti
bantuan dan tuntunan. Ada juga yang menerjemahkan dengan arti pertolongan.
Jadi secara etimologis, bimbingan dan konseling berarti bantuan dan tuntunan
atau pertolongan, tetapi tidak semua bantuan, tuntunan atau pertolongan berarti
konteksnya bimbingan.

Makna bimbingan bisa diketahui melalui akronim kata bimbingan sebagai berikut:

B (bantuan)

I (individu)

M (mandiri) atau kemandirian

B (bahan)

I (interaksi)

N (nasihat)

6
G (gagasan)

A (asuhan)

N (norma)

Jadi bimbingan bisa berarti bantuan yang diberikan pembimbing kepada


individu agar individu yang dibimbing mencapai kemandirian dengan
mempergunakan berbagai bahan, melalui interaksi dan pemberian nasihat serta
gagasan dalam suasana asuhan dan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Makna Konseling

Istilah konseling diadopsi dari bahasa Inggris “conseling” didalam kamus


artinya dikaitkan dengan “counsel” memiliki beberapa arti, yaitu nashiat (to obtain
consel), anjuran (to give counsel) dan pembicaraan (to take counsel). Berdasarkan
arti diatas, konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran dan
pembicaraan dengan bertukar pikiran. (Mortensen, 1994) menyatakan bahwa
konseling merupakan proses hubungan antar pribadi dimnana orang yang satu
yang membantu yang lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan
menemukan masalahnya.

Makna konseling juga dapat dimaknai dari akronim kata konseling sebagai
berikut;

K (kontak)

O (orang)

N (menangani)

S (masalah)

E (expert atau ahli)

L (laras)

I (integrasi)

N (norma)

7
G (guna)

Jadi konseling bisa berarti kontak hubungan umbal balik antara dua orang
(konselor dan klien) untuk menangani masalah klien, yang didukung oleh
keahlian dan dalam suasana yang laras dan integrasi, berdasarkan norma-norma
yang berlaku untuk tujuan yang berguna bagi klien. Berdasarkan makna
bimbingan dan koseling diatas, dapat dirumuskan makna bimbingn dan konseling
sebagai berikut: Bimbingan dan Konseling merupakan proses bantuan atau
pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu
(konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara
keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan
menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri.

Atau proses pemberian bantuan atau pertolongan yang sistematis dari


pembimbing (konselor) kepada konseli (siswa) melalui pertemuan tatap muka
atau hubungan timbal balik antara keduanya untuk mengungkap masalah konseli
sehingga konseli mampu melihat masalah sendiri, mampu menerima dirinya
sendiri sesuai dengan potensinya, dan mampu memecahkan sendiri masalan yang
dihadapinya.

B. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling berkenaan dengan perilaku, oleh sebab itu


tujuan bimbingan dan konseling adalah dalam rangka: pertama. Membantu
mengembangkan kualitas kepribadian individu yang dibimbing atau dikonseling.
Kedua, membantu mengembangkan kualitas kesehatan mental klien. Ketiga,
membantu mengembangkan perilaku yang lebih efektif pada diri individu dan
lingkungannya. Keempat, membantu klien menanggulangi problema hidup dan
kehidupannya secara mandiri.

8
Adapun tujuan lainnya adalah sebagai berikut:

1. Pengenalan terhadap diri sendiri dan penerimaan terhadap diri sendiri.

2. Penyesuaian diri terhadap lingkungan (sekolah, rumah, masyarakat).

3. Pengembangan potensi semaksimal mungkin.

4. Pemecahan masalah dengan baik dan realistis.

Hamdan Bakran Adz Dzaky, (2004), merinci tujuan bimbingan dan


konseling dalam Islam sebagai berikut:

1. pertama, untuk mnghasilkan suatu perubahan, perbaikan, kesehatan dan


kebersihan jiwa dan mental. Jiwa menjadi tenang, jinak dan damai
(muthmainnah), bersikap lapang (radhiyah) dan mendapatkan pencerahan
taufiq dan hidayah-Nya (mardhiyah).

2. Kedua, untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, dan kesopanan


tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri,
lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan kerja maupun lingkungan sosial
dan sekitarnya.

3. Ketiga, untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu


sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi (tasammukh),
kesetiakawanan, tolong menolong dan rasa kasih sayang.

4. Keempat, untuk menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu


sehingga muncul dan berkembang keinginan untuk berbuat taat kepada-
Nya, ketulusan memenuhi segala perintah-Nya serta ketabahan menerima
ujian-Nya.

5. Kelima, untuk menghasilkan potensi ilahiyah, sehingga dengan potensi itu


individu dapat melakukan tugas-tugasnya sebagai khalifah dengan baik
dan benar, dapat dengan baik menaggulangi berbagai persoalan hidup dan
dapat membeikan kemanfaatan dan keselamatan bagi lingkungannya pada
berbagai aspek kehidupan.

9
C. Landasan Dalam Bimbingan dan Konseling

Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan


faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh
konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan
konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu
membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama.

Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka


bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula, dengan
layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi atau
landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan
bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu
yang dilayaninya (klien).

Aspek Layanan Bimbingan Dan Konseling Secara teoritik, berdasarkan


hasil studi dari beberapa sumber, secara umum terdapat empat aspek pokok yang
mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling, ada 6, yaitu landasan
filosofis, landasan religius, landasan psikologis, landasan sosial budaya, landasan
ilmiah dan teknologis, landasan pedagogis.

1. Landasan Filosofis

Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: Philos berarti cinta dan
sophos berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Sikun pribadi mengartikan filsafat sebagai suatu “usaha manusia untuk
memperoleh pandangan atau konsepsi tentang segala yang ada, dan apa makna
hidup manusia dialam semesta ini”. Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan
manusia, yaitu bahwa:

1) Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan

2) Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri

3) Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan

4) Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah.

10
Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala
pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat John J.
Pietrofesa et. al. (1980) mengemukakan pendapat James Cribin tentang prinsip-
prinsip filosofis dalam bimbingan sebagai berikut:

1. Bimbingan hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kemuliaan dan


harga diri individu dan hak-haknya untuk mendapat bantuannya.

2. Bimbingan merupakan proses yang berkeseimbangan

3. Bimbingan harus Respek terhadap hak-hak klien

4. Bimbingan bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental

Fokus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi


dirinya Bimbingan merupakan bagian dari pendidikan yang bersifat
individualisasi dan sosialisasi.

Para penulis Barat (Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes,


Thompson & Rudolph, dalam Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan tentang
hakikat manusia sebagai berikut :

1. Manusia adalah makhluk rasional

2. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan


dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan.

3. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk

4. Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual

5. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya

6. Manusia adalah unik

7. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk


membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perilaku kehidupannya sendiri.

11
Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya
bimbingan dan konseling diharpkan tidak menyimpang dari hakikat tentang
manusia itu sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus
mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan
berbagai dimensinya.

2. Landasan Religius

Dalam landasan religius BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:

1. Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk Tuhan

2. Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan


kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama

3. Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara


optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai
dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan
pemecahan masalah individu.

Landasan Religius berkenaan dengan :

Manusia sebagai Mahluk Tuhan

Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan.


Wujud ketakwaan manusia pada Tuhan hendaklah seimbang dan lengkap,
mencakup hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia dengan
manusia di dunianya.

Tetapi, karna kasih sayang, kemurahan dan keadilan-Nya, Tuhan tidak


mau mutlak-mutlakan. Wujud ketakwaan yang tidak seimbang dan tidak lengkap
pun diberi-Nya ganjaran yang setimpal. Biar sekecil apapun, suatu wujud
ketakwaan akan diberi ganjaran manis yang sepadan.

12
Sikap Keberagamaan

Menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari


sikap keberagaman. Sikap keberagaman tersebut pertama difokuskan pada agama
itu sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilai-
nilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek
sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.

Peranan Agama

Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak


dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak
mengambil keputusan sendiri, sehingga agama dapat berperan positif dalam
konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup yang memiliki fungsi :

1. Memelihara fitrah

2. Memelihara jiwa

3. Memelihara akal

4. Memelihara keturunan

Landasan religius dalam bimbingan dan konseling pada umumnya ingin


menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan dengan segenap kemuliaan
kemanusiaannya menjadi fokus netral upaya bimbingan dan konseling. Tetapi,
karna di dalam masyarakat agama itu banyak macamnya, maka konselor harus
dengan sangat hati-hati dan bijaksana menerapkan landasan religius itu terhadap
klien yang berlatar belakang agama yang berbeda.

3. Landasan Psikologis

Landasan psikologis dalam BK memberikan pemahaman tentang tingkah


laku individu yang menjadi sasaran (klien). Hal ini sangat penting karena bidang
garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku
yang perlu diubah atau dikembangkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.
Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang
psikologi perlu dikuasai, yaitu tentang:

13
1. Motif dan motivasi

2. Pembawaan dasar dan lingkungan

3. Perkembangan individu

4. Belajar, Balikan dan Penguatan

5. Kepribadian

6. Landasan Sosial Budaya

Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan


pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan
sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Kegagalan dalam
memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari
lingkungannya.

Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara


konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar
sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan
lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan
penyesuain diri antar budaya, yaitu : (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi non-
verbal; (c) stereotipe; (d) kecenderungan menilai; dan (e) kecemasan. Agar
komunikasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka
kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.

Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh.


Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling
multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural
sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia.

Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat


bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan
konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara
nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.

14
4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang


memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun prakteknya.
Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis
dengan menggunakan berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara, analisis
dokumen, prosedur tes, yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku
teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.

Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat


“multireferensial”. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi
perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling, seperti : psikologi,
ilmu pendidikan, statistik, evaluasi, biologi, filsafat, sosiologi, antroplogi, ilmu
ekonomi, manajemen, ilmu hukum dan agama.

Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk


kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan
teori maupun prakteknya. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan
konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan
melalui berbagai bentuk penelitian.

Sejalan dengan perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi


berbasis komputer, sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak
dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003)
bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier
dan bimbingan dan konseling pendidikan.

Moh. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan


teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya
(klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga
dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet, dalam bentuk
“cyber counseling”. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam bidang
teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan
teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.

15
Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran konselor
didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh
McDaniel (Prayitno, 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Sebagai
ilmuwan, konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang
bimbingan dan konseling, baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun
melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian.

5. Landasan Pedagogis

Bimbingan dan konseling identik dengan pendidikan. Artinya, ketika seseorang


melakukan praktik bimbingan dan konseling berarti ia sedang mendidik, dan
begitu pula sebaliknya. Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang
universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial ( Budi Santoso, 1992).
Landasan pedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga
segi, yaitu:

1. Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu

2. Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Tanpa pendidikan, bagi


manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan
dimensi ke individualannya, kesosialisasinya, kesosilaanya dan
keberagamaanya.

3. Pendidikan sebagai inti proses bimbingan konseling.

Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani


oleh klien-kliennya. Kesadaran ini telah tampil sejak pengembangan gerakan
Bimbingan dan Konseling secara meluas di Amerika Serikat . pada tahun 1953,
Gistod telah menegaskan Bahwa Bimbingan dan Konseling adalah proses yang
berorientasi pada belajar.

Belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk
mengembangkan dan merupakan secara efektif berbagai pemahaman.. Lebih jauh,
Nugent (1981) mengemukakan bahwa dalam konseling klien mempelajari
ketrampilan dalam pengambilan keputusan. Pemecahan masalah, tingkah laku,
tindakan, serta sikap-sikap baru .

16
Dengan belajar itulah klien memperoleh berbagai hal yang baru bagi
dirinya dan dengan memperoleh hal-hal baru itu juga seorang klien akan semakin
berkembang.

D. Asas Bimbingan dan Konseling

Dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling, ada asas-


asas yang dalam melakukannya, yaitu ketentuan yang harus diterapkan dalam
pelaksanaan pelayanan itu. Asas-asas yang di maksudkan adalah asas kerahasiaan,
kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan, kedinamisan,
keterpaduan, kenormatifan, keahlian,alih tangan kasus dan tut wuri handayani.
Untuk lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan secara terperinci masing-masing
asas tersebut sebagai berikut:

1. Asas kerahasiaan, konselor dituntut dan bertanggung jawab atas


kerahasiaan data dan keterangan klien yang menjadi sasaran layanan, data
dan keterangan tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh pihak lain selain
konselor dan klien.

2. Asas kesukarelaan, yaitu menghendaki adanya kesukarelaan klien untuk


mengikuti, menjalani layanan yang diperlukan baginya.

3. Asas keterbukaan, yaitu agar menghendaki klien untuk bersifat terbuka


dan tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang
dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi
dari luar yang berguna untuk pengembangan dirinya.

4. Asas kekinian, menghendaki agar klien bimbingan dan konseling untuk


permasalahan klien yang sekarang. Layanan yang berkenaan dengan masa
depan atau kondisi masa lalu dilihat dampak dan kaitannya dengan kondisi
yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.

5. Asas kemandirian, yaitu menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan


konseling, yakni klien diharapkan menjadi individu yang mandiri dengan
ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu
mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri,
konselor hendaknya mampu mengarahkan segenap layanan bimbingan dan

17
konseling yang di selenggarakannya bagi perkembangan kemandirian
peserta didik.[10]

6. Asas kegiatan, yaitu menghendaki agar klien berpartisipasi secara aktif di


dalam penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling.

7. Asas kedinamisan, usaha pelayanan bimbingan dan konseling


menghendaki terjadinya perubahan pada diri klien, yaitu perubahan
tingkah laku ke arah yang lebih baik. Perubahan ini tidaklah sekedar
mengulang hal yang sama, yang bersifat monoton, melainkan perubahan
yang selalu menuju ke sesuatu pembaharuan, sesuatu yang lebih maju,
dinamis sesuai dengan arah perkembangan klien yang dikehendaki.

8. Asas keterpaduan, pelayanan usaha bimbingan dan konseling berusaha


memadukan berbagai aspek kepribadian klien, disamping keterpaduan
pada diri klien, juga harus diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan
yang diberikan.Untuk terselenggaranya asas keterpaduan, konselor perlu
memiliki wawasan yang luas tentang perkembangan klien dan aspek-aspek
lingkungan klien, serta berbagai sumber yang dapat dipergunakan untuk
menangani masalah klien, dan semuanya dipadukan dalam keadaan serasi
dan saling menunjang dalam upaya bimbingan dan konseling.[11]

9. Asas kenormatifan, yaitu usaha bimbingan dan konseling tidak boleh


bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, baik ditinjau dari norma
agama, norma adat, norma hukum Negara, norma ilmu, maupun kebiasaan
sehari-hari. Kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun proses
penyelenggaraan bimbingan dan konseling.

10. Asas keahlian, usaha bimbingan dan konseling perlu di lakukan asas ke
ahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan prosedur, teknik,
alat yang memadai. Untuk itu para konselor perlu mendapat latihan
secukupnya baik teori dan praktik, sehingga akan dicapai keberhasilan
usaha pemberian layanan yang terbaik.[12]

18
11. Asas alih tangan, dalam pemberiaan layanan bimbingan dan konseling,
asas alih tangan jika konselor sudah mengarahkan segenap kemampuannya
untuk membantu klien, namun klien belum dapat terbantu sebagaimana
yang diharapkan, maka konselor dapat mengirim klien tersebut kepada
petugas, badan atau lembaga yang lebih ahli.[13]

12. Asas tutwuri handayani, asas ini menunjukkan pada suasana umum yang
hendaknya tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara konselor
dan klien. Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling
tidak hanya dirasakan pada waktu klien mengalami masalah dan
menghadap konselor saja, namun diluar hubungan proses bantuan
bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya dan
manfaatnya pelayanan bimbingan dan konseling itu.

E. Pengertian Kode Etik Profesi Konselor.

Kode Etik adalah seperangkat standar, peraturan, pedoman, dan nilai yang
tertulis untuk mengatur mengarahkan perbuatan atau tindakan dalam suatu
perusahaan, profesi, atau organisasi bagi para pekerja atau anggotanya, dan
interaksi antara para pekerja atau anggota dengan masyarakat (Yusuf, 2009).

Kode Etik Profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap
tenaga profesi dalam menjalankan tugas profesi dan dalam kehidupannya
dimasyarakat. Norma-norma itu berisi apa yang tidak boleh, apa yang seharusnya
dilakukan, dan apa yang diharapkan dari tenaga profesi. Pelanggaran terhadap
norma-norma tersebut akan mendapat sanksi (Depdiknas, 2004).

Dari beberapa pendapat tentang pengertian yang telah dipaparkan di atas,


maka penulis mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Kode Etik
Profesi adalah pola aturan atau norma-norma, tata cara dan pedoman etis dalam
melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang harus perhatikan oleh setiap tenaga
profesi.

19
F. Kode Etik dalam Bimbingan Konseling

Etika profesi bimbingan dan konseling adalah kaidah-kaidah perilaku yang


menjadi rujukan bagi konselor dalam melaksanakan tugas atau tanggung
jawabnya memberi layanan bimbingan dan konseling kepada konseli.

Kode etik bimbingan dan konseling Indonesia merupakan landasan moral


dan pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan
diamankan oleh setiap anggota profesi bimbingan dan konseling Indonesia. Kode
etik bimbingan dan konseling Indonesia wajib dipatuhi dan diamalkan oleh
pengurus dan anggota organisasi tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.

Dengan adanya kode etik di dalam bimbingan konseling dimaksudkan


agar bimbingan dan konseling tetap dalam keadaan baik dan diharapkan menjadi
semakin baik, lebih-lebih di Indonesia di mana bimbingan dan konseling masih
relatif baru. Kode etik ini mengandung ketentuan-ketentuan yang tidak boleh
dilanggar ataupun diabaikan tanpa membawa akibat yang tidak menyenangkan.

Kode etik bimbingan dan konseling, antara lain:

1. Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang


bimbingan dan konseling harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan
konseling.

2. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai


hasil yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau
wewenangnya. karena itu pembimbing jangan sampai mencampuri wewenang
serta tanggung jawab yang bukan wewenang serta tanggung jawabnya.

3. Oleh karena pekerjaan pembimbing berhubungan langsung dengan


kehidupan pribadi orang maka seseorang pembimbing harus :

a. Dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya.

b. Menunjukkan sikap hormat kepada klien.

c. Menghargai sama terhadap bermacam-macam klien. Jadi di dalam


menghadapi klien pembimbing harus menghadapi klien dalam derajat yang sama.

20
4. Pembimbing tidak diperkenankan :

a. Menggunakan tenaga pembantu yang tidak ahli atau tidak terlatih.

b. Menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan.

c. Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin akan menimbulkan hal-hal


yang tidak baik bagi klien.

d. Mengalihkan klien kepada konselor lain tanpa persetujuan klien.

5. Meminta bantuan kepada ahli dalam bidang lain di luar kemampuan ataupun
di luar keahlian stafnya yang diperlukan dalam bimbingan dan konseling.

6. Pembimbing haruslah selalu menyadari akan tanggung jawabnya yang berat


yang memerlukan pengabdian sepenuhnya.

Prinsip-prinsip dan kode-kode etik seperti dikemukakan di atas itu mempunyai


hubungan yang erat satu dengan yang lain, yang tidak dapat dilepaskan satu dari
yang lainnya apabila hendak mencapai tujuan bimbingan dan konseling dengan
sebaik-baiknya.

G. TUJUAN KODE ETIK

1. Menjunjung tinggi martabat profesi.

2. Melindungi pihak yang menjadi layanan profesi dari perbuatan mal-praktik.

3. Meningkatkan kualitas profesi.

4. Menjaga status profesi.

5. Menegakkan ikatan antara tenaga professional dengan profesi yang


disandangnya.

21
H. DASAR KODE ETIK PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING

1. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945

2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang


Standar Nasional Pendidikan (pasal 28 ayat 1, 2 dan 3 tentang standar pendidik
dan tenaga kependidikan).

4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 tahun


2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor.

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang


Guru.

I. PELAKSANAAN KODE ETIK PROFESI KONSELOR

Kode etik konselor Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman


tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh
setiap anggota profesi bimbingan dan konseling Indonesia.Kode etik konselor
diperlukan untuk melindungi anggota profesi sendiri dan kepentingan publik.

Sebagai penjamin mutu layanan yang diberikan oleh konselor, kode etik
berperan sebagai pedoman tingkah laku konselor dalam menjalankan aktifitas
profesionalnya dan setiap konselor harus melaksanakan kode etik profesi dengan
sebaik-baiknya.

Secara umum tujuan diadakannya bimbingan dan konseling yaitu untuk


membantu peserta didik atau siswa dalam memahami diri dan lingkungan,
mengarahkan diri, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengembangkan
potensi dan kemandirian diri secara optimal pada setiap tahap perkembangannya.
Artinya dalam melaksanakannya guru pembimbing dituntut untuk dekat, akrab
dan bersahabat dengan segala pola tingkah laku dan kepribadian siswa dalam
batasan tertentu sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah yang dihadapi
siswa.

22
Namun kenyataannya yang terjadi di lapangan cenderung berbeda dengan
tujuan umum di atas.Yang terjadi adalah jarak pemisah yang cukup jauh antara
guru BK dan siswa.Siswa merasa enggan untuk secara suka rela mendatangi
konselor dalam mengatasi masalahnya.

J. Bentuk Pelanggaran yang Sering Terjadi.

1. Terhadap Konseli

a. Menyebarkan/membuka rahasia konseli kepada orang yang tidak terkait


dengan kepentingan konseli.

b. Melakukan perbuatan asusila (pelecehan seksual, penistaan agama, rasialis).

c. Melakukan tindak kekerasan (fisik dan psikologis) terhadap konseli.

d. Kesalahan dalam melakukan praktik profesional (prosedur, teknik, evaluasi,


dan tindak lanjut).

2. Terhadap Organisasi Profesi

a. Tidak mengikuti kebijakan dan aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi
profesi.

b. Mencemarkan nama baik profesi (menggunakan organisasi profesi untuk


kepentingan pribadi dan atau kelompok).

3. Terhadap Rekan Sejawat dan Profesi Lain yang Terkait

a. Melakukan tindakan yang menimbulkan konflik (penghinaan, menolak


untuk bekerja sama, sikap arogan).

b. Melakukan referal (rekomendasi) kepada pihak yang tidak memiliki


keahlian sesuai dengan masalah konseli.

23
K. Sanksi Pelanggaran dan Mekanisme Penerapan Sanksi

1. Sanksi Pelanggaran

Konselor wajib mematuhi kode etik profesi bimbingan dan konseling. Apabila
terjadi pelanggaran terhadap kode etik profesi bimbingan dan konseling maka
diberikan sanksi sebagai berikut:

a. Memberikan teguran secara lisan dan tertulis.

b. Memberikan peringatan keras secara tertulis.

c. Pencabutan keanggotaan ABKIN (Asosiasi Bimbingan Konseling


Indonesia).

d. Pencabutan lisensi.

e. Apabila terkait dengan permasalahan hukum/kriminal maka akan


diserahkan pada pihak yang berwenang.

2. Mekanisme Penerapan Sanksi

Apabila terjadi pelanggaran seperti yang tercantum diatas, maka mekanisme


penerapan sanksi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Mendapatkan pengaduan dan informasi dari konseli dan atau masyarakat.

b. Pengaduan disampaikan kepada dewan kode etik tingkat daerah.

c. Apabila pelanggaran yang dilakukan masih ringan maka penyelesaiannya


dilakukan oleh dewan kode etik tingkat daerah.

d. Pemanggilan konselor yang bersangkutan untuk verifikasi data yang


disampaikan oleh konseli dan atau masyarakat.

e. Apabila berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan oleh dewan kode etik
daerah terbukti kebenarannya maka diterapkan sanksi sesuai dengan masalahnya.

24
BAB III

PENUTUPAN

A. KESIMPULAN

Sebagai seorang yang memiliki profesi pasti di tuntut akan tanggung


jawabnya ,namun tidak banyak yang memiliki profesi tertentu seringkali
melakukan hal yang tidak sesuai etika. Etika sangat penting bagi seorang yang
memiliki profesi,karena untuk memaksimalkan profesi itu harus memperhatikan
etika sebagai pedoman dalam menjalankan profesi .

Etika sangat di perlukan dalam profesi konselor,karena konselor sangat


diperhatikan dalam penyelesaian masalah,dan seringkali berhubungan dengan hal-
hal yang menyangkut moral.dengan demikian profesi kode etik di terapkan pada
konselor.

Penerapan kode etik konseling akan berjalan ketika dalam menjalankan


profesinya seorang konselor selalu berpedoman dan melihat kembali ke dalam
dasar-dasar kode etik konseling.Dasar-dasar kode etik merupakan suatu acuan
penting dalam menjalankan profesi sebagai konselor.

Bimbingan dan konseling adalah suatu proses tolong menolong untuk


mencapai tujuan yang dimaksud, dapat juga diartikan sebagai hubungan timbal
balik antara dua orang untuk menangani masalah klien, yang di dukung dengan
keahlian dalam suasana yang laras dan integrasi, berdasarkan norma-norma yang
berlaku untuk tujuan yang berguna bagi klien.

Bimbingan dan konseling adalah dua komponen yang tak terpisahkan dan
saling membutuhkan dan saling berperan didalam proses bimbingan dan
konseling

25
DAFTAR RUJUKAN

https://justalittlescience.wordpress.com/2016/04/16/landasan-bimbingan-dan-
konseling/#:~:text=Landasan%20bimbingan%20dan%20konseling
%20meliputi,ilmiah%20dan%20teknologis%2C%20dan
%20pedagogis.&text=Kata%20filosofi%20atau%20filsafat%20berasal,cinta%2C
%20dan%20shopos%20berarti%20bijaksana

http://adhisaptr.blogspot.com/2015/06/landasan-bimbingan-konseling.html

http://journal.uny.ac.id/index.php/paradigma/article/download/5806/5026

http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/analytica/article/view/372

http://bimbingandankonseling12.blogspot.com/2017/05/kode-etik-bimbingan-dan-
konseling.html?m=1

konseling(online).(www.iki-indonesia.com diakses 21 Desember 2010)

Bimbingan konsseling indonesia, 2002.kode etik jabatan profesional


konselor.Bandung: ABKIN

26

Anda mungkin juga menyukai