Anda di halaman 1dari 7

ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016

KAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN TANAH PADA KEJADIAN BENCANA


LONGSOR LAHAN DI PEGUNUNGAN MENOREH KABUPATEN
KULONPROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Kuswaji Dwi Priyono dan Yuli Priyana


Dosen Fakultas Geografi UMS
Email: Kuswaji.Priyono@ums.ac.id & Yuli.Priyono@ums.ac.id

ABSTRACT
The objective of this first phase study was to know the landforms characteristic at landslide
occurrences in the research area.This research conducted with the field survey on landforms
phenomena at the location of landslides occurrences. Landforms map was constructed from
topographic map, geology map, and assisted by analysis Digital Elevation Modeling ( DEM).The
result shows that the research area has 14 landforms unit by 161 landslides occurrence. Landslide
occurrences at the mountains of denudational of Formation Bemmelen (49 occurrences), in the
mountain of intrusive andesitic ( 34 occurrences), and the foot-slope mountain of denudational of
Formation Bemmelen ( 18 occurrences). The level of landslide vulnerability is distinguished by
existence of progressively increased weathering zone and rock structure which parallel with the
level inclination of the main slope.

Key word: landforms characteristic, landslides, soil development

1. PENDAHULUAN geomorfologi dan bentuklahan tidak dapat lepas


dari kajian mengenai tanah sebagai tubuh a lam.
Daerah Pegunungan Menoreh secara Pola distribusi tanah di permukaan bumi
geomorfologis sa ngat menarik dikaji karena mengikuti konsep geomorfologi (Daniels, 1971
sejarah perkembangan bentuklahannya yang dalam Jungerius, 1985). Secara garis besar,
kompleks. Kompleksnya kondisi fisik daerah faktor pembentuk tanah hampir sa ma dengan
Pegunungan Menoreh adalah adanya proses faktor pembentuk bentuklahan (Jamulya, 1996).
endogenik dan eksogenik yang bekerja pada Menurut Jenny (1994), faktor pembentuk tanah
berbagai batuan hingga membentuk meliputi bahan induk, relief/topografi, iklim,
bentanglahan yang ada saat ini. Beberapa organisme, dan wa ktu. Adapun faktor
batuan ditemukan antara lain: batu pas ir, napal pembentuk bentuklahan meliputi batuan induk,
pasiran, batu lempung, dan batu gamping pada relief/topografi, dan proses (yang dipengaruhi
Eosen Tengah; batuan andesit, breksi andesit iklim, organisme, dan waktu). Da lam proses
dan tuff yang merupakan has il aktivitas pembentukannya, faktor-faktor tersebut tidak
Gunungapi Menoreh pada Oligosen; batu bekerja se ndiri-sendiri, melainkan sa ling
gamping dan koral yang terendapkan pada bekerja sama sehingga menghasilkan tanah.
Miosen Bawah; dan material koluvium yang Tubuh tanah secara umum dapat dipandang
terendapkan pada Zaman Quarter. Perbedaan sebagai suatu media yang dinamik. Pada
batuan dan waktu pembentukan batuan tersebut keadaan tertentu sa lah satu ata u beberapa
berpengaruh terhadap tingkat perkembangan faktor pembentuk tanah dapat lebih dominan
tanah. Proses perkembangan bentuklahan pengaruhnya dibanding faktor yang lain,
berikutnya lebih dipengaruhi oleh proses-proses sehingga sifat-sifat tanah yang terbentuk
eksogenik yang menghas ilkan lembah-lembah menjadi heterogen.
sungai dan redistribusi material hasil pelapukan Banjar topografi (toposekuen) merupakan
batuan yang sa lah satunya adalah longsorlahan. tempat gejala teragihnya sekelompok tanah
Kajian longsorlahan sebagai sa lah satu proses secara berturutan di se panjang lereng se bagai
has il topografi (topofunction) dalam kondisi

489
ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016

faktor-faktor pembentuk tanah lain yang sama pemetaan. Identifikasi bentuklahan didasarkan
(Milne, 1935 dalam Gerrard, 1981). Lereng a tas keadaan relief, litologi, dan proses geomorfologi
dengan kemiringan nisbi curam mempunyai menggunakan sumber data Peta rupa bumi, peta
drainase bebas, aliran permukaan besar, geologi, dan dibantu dengan analisis DEM (digital
infiltras i air kecil; se dangkan lere ng bawah elevation modeling).
mempunyai drainase terhambat, infiltras i air Variabel yang diamati, diukur, dan
besar; dan bagian lembah dengan bentuk datar dikaji dalam penelitian ini meliputi Variabel
atau cekungan berpengatusan jelek bentuklahan (geomorfik) yang mempengaruhi
menimbulkan iklim mikro yang berbeda sebaran kejadian bencana longsorlahan, yaitu:
sehingga terjadi perubahan sifat-sifat tanah dari morfologi (morfografi dan morfometri),
lere ng atas sa mpai lereng bawa h bahkan sa mpai morfogenesa , morfokronologi dan
lembah (Gerrard, 1981). morfoarra ngement. Lokasi kejadian longsor
Tingkat perkembangan tanah merupakan dipetakan dalam peta bentuklahan dan
ukuran kuantitatif jumlah perubahan yang dilakukan penyelidikan tingkat perkembangan
terjadi di dalam tanah yang umumnya lebih tanahnya. Tahap I penelitian ini dibatas i pada
ditunjukkan oleh sifat-sifat morfologi yang survey kejadian longsor dan pemetaa n sebaran
terlihat pada penampang profil tanah. Tingkat kejadian longsorlahannya. Variabel yang
perkembangan tanah dapat dinilai berdasarkan mempengaruhi kejadian longsorlahan di setiap
warna tanah, kedalaman solum, kedalaman dan satuan bentuklahan diamati meliputi kedalaman
ketebalan horizon iluvias i, penyebaran lempung zone lapuk, ketinggian, kemiringan lere ng,
di dalam profil tanah, tekstur, struktur tanah struktur bidang kontak terhadap kemiringan
dimana sifat-sifat ini dapat diukur secara lere ng, tingkat usikan manusia, dan penggunaan
kuantitatif (Foth dan Turk, 1972; Birkeland, lahan. Analisis dilakukan
1984). Tanah yang lebih berkembang akan
mempunyai horisonisasi yang lebih kompleks 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
dan sifat fisik yang lebih mantap. Berdasarkan pembagian tipe iklim
Sejalan dengan latarbelakang di atas, maka Koppen, Schmidt dan Ferguson, dan Oldeman
penelitian ini memiliki t iga tujuan penelitian sebagai menunjukkan bahwa daerah penelitian beriklim
berikut. tropik dengan curah hujan tahunan cukup tinggi
1. mengetahui karakteristik bentuklahan (Am), kondisi sedang – basah (D, C, B), bulan
pada kejadian longsorlahan di daerah basah berturut-turut antara 5 – 7 bulan dan
penelitian, bulan kering berturut-turut antara 2 - 3 bulan
2. mengetahui tingkat perkembangan (C2). Ke jadian bencana longsorlahan di daerah
tanah pada titik kejadian longsorlahan penelitian umumnya terjadi pada 2 bulan
di daerah penelitian, dan pertama musim penghujan (Nopember –
3. mempelajari pengaruh tingkat Desember). Berdasarkan data hujan rerata
perkembangan tanah terhadap bulanan se lama 10 tahun menunjukkan awal
intensitas kejadian longsorlahan di musim hujan pada Bulan Oktober, diperkirakan
daerah penelitian. longsorlahan terjadi setelah 1 bulan tanah
mengalami jenuh air. Ketahanan batuan akan
2. METODE PENELITIAN menurun tajam pada musim penghujan dan
mengakibatkan lereng menjadi labil dan rawan
Penelitian perkembangan tanah di longsorlahan. Pertumbuhan penduduk di daerah
Pegunungan Menoreh ini mencakup semua kejadian penelitian menyebabkan bertambahnya
longsorlahan (landslide) pada berbagai bentuklahan kebutuhan sarana jalan dan permukiman.
di daerah penelitian. Berdasarkan register bencana
longsor dari kantor kecamatan yang diperkuat Perkembangan sarana jalan dan permukiman
dengan survey lapangan tahun 2009 terdapat 166 dilakukan secara gotongroyong dengan
kejadian bencana longsorlahan. Sesuai tujuan memotong lere ng. Pemotongan tebing lere ng
penelitian, maka cara pengambilan sampel dilakukan ini menyebabkan tahanan geser berkurang,
secara purposif dengan bentuklahan sebagai satuan demikian pula sistem drainase air dapat

490
ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016

menyebabkan kadar air (lengas) tanah pada keadaan lereng yang memungkinkan
meningkat sehingga dapat mempercepat terjadinya perkolasi air hujan yang
terjadinya longsorlahan. maksimum, ditandai juga oleh kandungan
Kejadian longsorlahan di daerah lempung kaolinit yang tinggi.
penelitian tersebar pada satuan litologi Daerah penelitian terdiri dari 3
breksi andesit sebanyak 106 kejadian dan bentukan asal, yaitu fluvial, structural, dan
pada litologi andesit 41 kejadian, denudasional. Bentukan asal fluvial dan
sedangkan pada litologi breksi andesit dan struktural di daerah penelitian masing-
napal tufaan, gamping klastik, dan pada masing dapat dirinci menjadi 2 satuan
litologi batu pasir dan napal tufaan bentuklahan, sedangkan bentukan asal
sebanyak 19 kejadian. Kejadian denu-dasional menjadi 11 satuan
longsorlahan dicirikan oleh batuan yang bentuklahan. Adapun sebaran kejadian
sudah lapuk dan membentuk solum tanah longsorlahan pada setiap satuan
yang tebal. Proses geomorfologi seperti bentuklahan disajikan Tabel 1, selanjutnya
pelapukan dan erosi merupakan proses awal uraian 15 satuan bentuklahan adalah
terjadinya longsorlahan. Pelapukan pada sebagai berikut. Peta sebaran kejadian
batuan breksi andesit cenderung paling longsorlahan pada satuan bentuklahan di
intensif, tanah yang terbentuk mudah daerah penelitian disajikan pada Gambar 1.
terlongsorkan. Karakteristik bentuklahan rawan
Berdasarkan hasil analisis peta longsorlahan di Pegunungan Menoreh
lereng dapat dijelaskan bahwa daerah Kabupaten Kulonprogo ini didasarkan pada
penelitian hanya 36,35 % dengan kajian detail geomorfologis sebaran kejadian
kemiringan datar-landai, sedangkan 63,65 longsorlahan aktual. Guzzeti (2005)
% mempunyai lereng agak miring hingga mendefinisikan rawan ata u kerentanan se bagai
sangat curam yang rawan kejadian longsor. kemungkinan terjadinya suatu longsor pada
suatu area tertentu tanpa mempertimbangankan
Kejadian longsor pada lereng miring hingga
aspek temporal. Analisis longsorlahan secara
sangat curam ini sebanyak 148 kejadian, geomorfologis mendasarkan pada konse p dasar
dominan pada lereng Kelas V (82 kejadian) geomorfologi “the past and present are the
dan lereng Kelas VI (52 kejadian). keys to the future” (Huabin et al., 2005).
Berdasarkan sebaran ketinggian tempat, Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat
kejadian longsorlahan di daerah penelitian digunakan untuk memperkirakan kemungkinan
adalah sebagai berikut: pada ketinggian > terjadi longsorlahan di suatu lere ng di daerah
625 m dpal (23 kejadian), 375 – 625 m dpal pegunungan/perbukitan berdasarkan kejadian
(84 kejadian), 125 – 375 m dpal (32 longsorlahan sebelumnya. Pelongsoran dalam
kejadian), dan pada ketinggian < 125 m skala kecil hingga menengah juga sering terkait
dpal (11 kejadian). dengan pembentukan tanah pada tanah-tanah
yang mempunyai dera jad kembang kerut yang
Berdasarkan kemiringan lereng
relatif besar, pelongsoran dalam skala besar
menunjukkan bahwa semakin besar biasanya lebih dikontrol kondisi litologi,
kemiringan lerengnya maka semakin besar struktur geologi, dan morfologi lereng
kandungan kaolinitnya dan termasuk
tipologi kejadian longsorlahan kelas tinggi.
Kejadian longsorlahan di daerah penelitian
umumnya berada pada pegunungan dengan
bentuk lereng cembung dan kemiringan
lerengnya tidak terjal. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa longsorlahan terjadi

491
ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016

Genesis
Luas Jumlah
No Bentuk- Bentuklahan Luas (ha)
% Longsor
lahan
1 Fluvial F1:Datara n Alluvial Lembah Sungai 994,98 2,90 0
2 F2:Datara n Alluvial-koluvia l 3.447,79 10,06 0
Struk- S1: Pegunungan Antiklinal Berbatuan Formas i van
3 558,52 1,63
tural Bemmelen Tersesarkan 7
S2: Pegunungan Antiklinal Berbatuan Formas i
4 219,11 0,64
Jonggrangan Tersesarkan 3
D1: Pegunungan De nudasional Berbatuan Intrusi
5 1.706,89 4,98 13
Denuda Andes it
sional D2:Lere ng Atas Pegunungan De nudas ional
6 2.759,55 8,05
Berbatuan Intrusi Andes it 34
D3: Pegunungan De nudasional Berbatuan Formas i
7 4.711,23 13,75 49
Bemmelen
D4:Lere ng Atas Pegunungan De nudas ional
8 4.119,05 12,02
Berbatuan Formas i Bemmelen 18
D5:Lere ngkaki Pegunungan Denudas ional
9 4.956,32 14,46
Berbatuan Formas i Bemmelen 16
D6: Pegunungan De nudasional Berbatuan Formas i
10 931,20 2,72 5
Jonggrangan

11 D7: Lereng Atas Pegunungan Denudas ional 1.112,41 3,25 8


Berbatuan Formas i Jonggrangan
D8: Perbukitan Denudas ional Berbatuan Formas i
12 2.268,09 6,62 3
Sentolo
D9: Lereng Atas Perbukitan Berbatuan Formas i
13 2.913,40 8,50 4
Sentolo
D10:Lereng Kaki Perbukitan Berbatuan Formas i
14 1.838,77 5,37 1
Sentolo
D11: Perbukitan Denudasional Berbatuan Formas i
15 1.732,36 5,05 6
Nanggulan
Total: 34.269,67 100 166
bersifat impermeabel mempunyai kondisi
Tabel 1. Sebaran Bentuklahan dan lere ng rentan terhadap longsorlahan.
Kejadian Longsorlahan di Daerah Kedalaman zone lapuk dan posisi
Penelitian bidang kontak berupa lapisan batuan yang
Sumber: Analisis Peta Bentuk lahan impermeabel terhadap kemiringan lere ng
Daerah Penelitian, 2009 memberi indikas i perbedaa n tingkat kerentanan
Berdasarkan has il analisis litologi, daerah longsorlahannya. Semakin dalam zone lapuk
penelitian didominas i oleh breksi andesit, tuff, pada posisi bidang kontak yang miring se jajar
tuff lapili, aglomerat dan sisipan lava andes it, kemiringan lereng, kejadian longsor semakin
andes it hiperstein dan andesit-augit-hornblende, sering terjadi. Karakteristik zone lapuk dan
kepingan tuff napalan dengan luas 39,81 % dari posisi bidang kontak yang memicu kejadian
keseluruhan luas daerah penelitian. Keberadaan longsorlahan tersebut terdapat pada bentuklahan
litologi tersebut sangat terkait dengan D4, D3, dan D2.
keberadaan formas i andes it tua pada zaman
Oligosen tengah sa mpai Miosen bawah. Pada Tindakan manusia dalam
litologi ini telah terjadi 98 kejadian memanfaatkan lahan di lereng-lereng
longsorlahan, pengaruh bahan lapuk yang Pegunungan Menoreh ini telah
langsung kontak dengan batuan induk yang menyebabkan perubahan mikro relief yang
mempengaruhi pergerakan air permukaan.

492
ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016

Pembuatan teras-teras pada lahan usaha tani Ketinggian < 300 300 – 600 > 600
telah meningkatkan jumlah air perkolasi, (m dpal)
sehingga proses pengkayaan partikel Tebal Zone < 40 40 – 60 > 60
lempung di horizon B menjadi dipercepat. lapuk (cm)
Penggunaan lahan permukiman, kebun Tingkat < 20% 20 – 30% > 30%
Usikan
campuran, dan tegalan yang merupakan
Manusia
penggunaan lahan dominan di daerah
Penggunaa Hutan Permukim Tegalan
penelitian, yaitu seluas 27.894,18 ha atau n Lahan an dan
81,39% luas keseluruhan daerah penelitian Kebunc
telah merubah keadaan bentuk lereng ampuran
aslinya. Pembuatan teras bangku pada lahan Posisi berlawa mendatar Searah
pertanian dan pemotongan lereng untuk bidang nan
permukiman dan pembuatan jalan telah kontak
menyebabkan intensitas kejadian terhadap
longsorlahan meningkat di daerah kemiringan
penelitian. Pembuatan teras bangku tidak lere ng
hanya meningkatkan jumlah air perkolasi, Sumber: Analisis karakteristik bentuklahan
pada kejadian longsorlahan, 2009
namun di beberapa lokasi pembuatan teras
bangku ini hingga kontak dengan batuan
4. KESIMPULAN
induk yang impermeabel sehingga Hasil penelitian menunjukkan bahwa :
mengakibatkan kejadian longsorlahan. (1) Kejadian longsorlahan di Pegunungan
Karakteritik bentuklahan rawan Menoreh dalam 20 tahun terakhir
longsorlahan yang didasarkan dari kejadian sebanyak 166 yang menyebar di 13
longsorlahan sebelumnya di daerah penelitian satuan bentuklahan.
dapat dikelompokkan dalam tiga kelas berikut. (2) Bentuklahan dengan kejadian
Karakteristik secara geomorfik yang paling longsorlahan terbanyak adalah
sederhana dalam mitigas i bencana longsorlahan Pegunungan denudas ional berbatuan
di daerah penelitian, adalah: ketebalan zone Formas i Bemmelen (49 kejadian);
lapuk, ketinggian tempat, kemiringan lere ng, Lereng atas pegunungan denudasional
dan posisi bidang kontak dari lapisan berbatuan intrusi andes it (34 kejadian);
impermeabel. Tingkat usikan manusia Lereng atas pegunungan denudasional
berdasarkan persentase luasan terusik semakin berbatuan Formas i Bemmelen (18
rapat semakin besar persentasenya se makin kejadian).
terusik. Posisi bidang kontak di daerah (3) Karakteristik bentuklahan rawan
penelitian dibedakan berlawanan arah lere ng, longsorlahan di daerah penelitian dapat
sejajar arah lere ng, dan mendatar. Pada posisi dibedakan menjadi 3 tingkat (rendah,
yang berlawanan arah lere ng menunjukkan sedang, dan tinggi), kejadian
pemotongan lere ng tidak berpengaruh terhadap longsorlahan terbanyak terjadi pada
kejadian longsorlahan. Bentuklahan Lereng atas pegunungan
denudas ional , kondisi lereng dengan
Tabel 2. Klas ifikas i Bentuklahan kemiringan agak curam (>25 – 55%),
Rawan Longsorlahan di Daerah Penelitian ketebalan zone lapuk > 60 cm, ketinggian
tempat 375 – 625 m dpal, tingkat usikan
Sifat Tingkat Kerawanan Longsor manusia >30%, penggunaan lahan
Morfologi lahan tegalan dan kebun campuran, dan posisi
Rendah Sedang Tinggi bidang kontak terhadap lereng
Kemiringan < 25 25 – 60 > 60 sejajar/searah.
Lereng (%)

493
ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016

5. UCAPAN TERIMAKASIH Daniels, R.B. dan Hammer, R.D., 1992, Soil


Penulis mengucapkan terimakasih yang Geomorphology, New York: John Wiley
sebesar-besarnya kepada Agus Ulinuha, P h.D & Sons, Inc.
selaku Ketua LPPM Univers itas
Gerrard, A.J., 1981, Soil and Landforms, An
Muhammadiyah Surakarta yang telah
Introduction of Geomorphology and
membiayai penelitian ini. Ucapan terimakas ih
Pedology, London: Department of
juga disampaikan kepada segenap mahas iswa
Geography, University of Birmingham.
yang telah membantu pelaksanaan penelitian
ini. Goldich, S.S., 1968, A Study of Rock
Weathering, Journal Geology Vol.46 (17-
6. PUSTAKA ACUAN 58).
Alcantara, Norte, A., Chavez, O.E., dan Parrot,
Goenadi, S., Sartohadi, J., Hadmoko, D.S., dan
J.F., 2006, Landsliding Related to Land- Giyarsih, S.R., 2004, Konservasi Lahan
cover Change: A Diachronic Analysis of
Terpadu Daerah rawan Bencana
Hillslope Instability Distribution in The Longsoran di Kabupaten Kulonprogo,
Sierra Norte, Puebla, Mexico, Catena
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
65(2006):152- Laporan Hibah Bersaing XI, Yogyakarta:
165.www.elsevier.com/locate/catena. Universitas Gadjah Mada.
Ali Yalcin, 2007, The Effects of Clay on
Grim, R.E., 1968, Clay Mineralogy, New York:
Landslides: A case Study, Applied Clay Mc Graw Hill Book Company.
Science xx (207):xxx-xxx.
www.elsevier.com/locate/clay. Gunn, R.H., 1974, A Soil Catena on Weathered
Basalt in Queensland. Aus.J.Soil Res, 12:
Bemmelen, R.W. Van, 1949, The Geology of 1-4.
Indonesia. General Geology of Indonesia
and Adjacent Archipelagoes. Jamulya, 1996, Kajian Tingkat Pelapukan
Government Printing Office, The Hague. Batuan Menurut Toposekuen di DAS
Tangsi Kabupaten Magelang, Laporan
Bergur Sigfusson, Gislason, S., dan Paton, G.I., Penelitian, Yogyakarta: Lembaga
2008, Pedogenesis and Weathering Rates
Penelitian UGM.
of a Histic Andosol in Iceland: Field and
Experimental Soil Solution Study, Jungerius, P.D. (ed), 1985, Soil and
Geoderma 144:572-592, Geomorphology, Cremlingen:catena
www.elsevier.co m/locate/ geoderma. Verlag.
Birkeland, Peter.,W., 1999, Soils and King, A.M., 1975, Techniques in
Geomorphology, New York: Oxford Geomorphology, London: Edward
University Press. Arnold, Pu.Ltd
Bloom, A.L., 1991, Geomorphology: a Pannekoek, A.J., 1949, Outline of The
Systematic Analysis of Late Cenozoic Geomorphology of Java, Harlem:
Landform, 2 nd edition, New Jersey: Geological Survei.
prentice Hall. Sartohadi, J. dan Purwaningsih, 2004, Korelasi
Colman, S.M. dan Dethier, D.P., 1986, Rate of Spasial antara Tingkat Perkembangan
Chemical Weathering of Rock and Tanah dengan Tingkat Kerawanan
Minerals, New York: Academic Press. Gerakan Massa di Das Kayangan
Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa
Cooke, R.U. and Dorrkamp, J.C., 1994, Yogyakarta, Forum Geografi, Vol.18,
Geomorphology in Environmental No.2, Desember 2004: 14-31.
Management An Introduction, Oxford:
Clavendon Press. Sartohadi, J., 2007, Geomorfologi Tanah dan
Aplikasinya untuk Pembangunan

494
ISSN 2407-9189 The 3rd Universty Research Colloquium 2016

Nasional, Orasi Ilmiah Dies natalis ke- Verstappen. H.Th., 1983. Applied
44 Fakultas Geografi UGM 01 Geomorphology.Geomorphological
September 2007, Yogyakarta: Fakultas Sureys for Environmental Management.
Geografi UGM. Amsterdam: Elsivier.
Strahler, 1983, Modern Physical Geography, Zuidam, R.A. & Zuidam Cancelado, F.I.,1979,
John Wiley and Sons, New York. Terrain Analysis and Classification
Using Areal Photographs, A
Summerfield, M.A., 1991, Global
Geomorphologycal Approach,
Geomorphology, An Introduction to The
Netherland, Enschede: ITC.
Study of Landform, Singapore: Longman
Singapore Pub. Zuidam, R.A. Van, 1985, Aerial Photo-
interpretation in Terrain Analysis and
Thornbury, W.D., 1958, Principles of
Geomorphologic Mapping,
Geomorphology, New York: John Wiley
Enschede:ITC.
Sons Inc.

495