Anda di halaman 1dari 9

KELOMPOK 5

RMK MENGISI DAN MELAPORKAN SPT (PPh pasal 21/26)

Moh. Gofaldi (A031191138)


Dimansya Appa (A031181308)
Andi Mulia (A031191134)
Nur Salsabila Arham (A031191200)
Putri Aqidah Setiawan (A031191032)

A. Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pasal 21/26


Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib pajak digunakan
untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak, objek pajak dan atau
bukan objek pajak dan atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
SPT Masa Pajak adalah SPT yang memiliki jangka waktu yang menjadi dasar
bagi wajib pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang
terutang dalam jangka waktu tertentu. Masa pajak sama dengan 1 bulan kalender
atau jangka waktu lain yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan paling
lama 3 bulan kalender. SPT masa ini dipakai oleh pemotong atau pemungut pajak
untuk melaporkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkan dalam setiap
masa.

B. Dasar Hukum SPT Masa Pasal 21/26


1. PMK-181/PMK.34/2007 s.t.d.d tentang Bentuk dan Isi SPT, serta Tata
Cara Pengambilan, Pengisian, Penandatanganan, dan Penyampaian SPT
2. PMK-252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan
Pajak atas Penghasilan Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan
Kegiatan Orang Pribadi
3. PMK-262/PMK.03/2010 tentang Tata Cara Pemotongan PPh Pasal 21
Bagi Pejabat Negara, PNS, Anggota TNI, anggota POLRI, dan Pensiunan
atas Penghasilan yang Dibebankan pada APBN atau APBD

1
4. PMK-16/PMK.03/2010 tentang Tata Cara Pemotongan PPh Pasal 21 atas
Uang Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, THT/JHT, atau Pembayaran
Sejenis yang Dibayarkan Sekaligus
5. PMK-250/PMK.03/2008 tentang Besar Biaya Jabatan atau Biaya Pensiun
yang dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto Pegawai Tetap atau
Pensiunan
6. PMK-206/PMK.11/2012 tentang Penetapan Bagian Penghasilan
Sehubungan dengan Pekerjaan dari Pegawai Harian dan Mingguan Serta
Pegawai Tidak Tetap Lainnya yang tidak Dikenakan Pemotongan PPh
Pasal 21
7. PER-31/PJ/2009 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran, dan Pelaporan PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26
Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi
8. PER-32/PJ/2009 tentang Bentuk Formuli SPT PPh Pasal 21 dan/atau PPh
Pasal 26 dan Bukti Pemotongan/Pemungutan PPh Pasal 21 dan/atau PPh
Pasal 26
9. PER-6/PJ/2009 tentang Penyampaian SPT Dalam Bentuk Elektronik

C. Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT)


Fungsi SPT ditujukan kepada tiga subjek, yaitu:
1.  Wajib Pajak PPh
Sebagai sarana WP untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan
penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang dan untuk
melaporkan tentang :
a. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri atau
melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam satu Masa
Pajak; 
b. penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek pajak;
c. harta dan kewajiban;
d. pemotongan/ pemungutan pajak orang atau badan lain dalam 1 (satu)
Masa Pajak.

2
2.  Pengusaha Kena Pajak
Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan
penghitungan jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang dan untuk
melaporkan tentang :
a) Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran;
b) Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh
PKP dan atau melalui pihak lain dalam satu masa pajak, yang ditentukan
oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
3.  Pemotong/Pemungut Pajak
Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang
dipotong atau dipungut dan disetorkan.

D. Petunjuk Umum SPT Masa Pasal 21/26


Dalam hal ini dilampirkan

E. Proses Pelaporan/Penyampaian dan Pembayaran Surat Pemberitahuan


(SPT) Masa Pasal 21/26
1. Tata Cara Pelaporan/Penyampaian SPT
Setelah Wajib Pajak mendapatkan NPWP, kemudian melakukan
pembayaran pajak, kewajiban selanjutnya yang harus dilaksanakan adalah
melaporkannya ke Kantor Pelayanan Pajak tempat kedudukan Wajib Pajak
tersebut. Hal-hal yang berkaitan dengan pelaporan Wajib Pajak dapat diakses
melalui website Direktorat Jenderal Pajak http://www.pajak.go.id dengan
mengklik Petunjuk “3M” Melapor.
Kewajban melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek
pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam SPT
tercantum dalam Pasal 3 ayat 1 UU KUP yang berbunyi sbb: “Setiap WP
wajib mengisi SPT dengan benar, lengkap, dan jelas, dalam bahasa Indonesia
dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan

3
menandatangani serta menyampaikannya ke kantor DJP tempat WP terdaftar
atau dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.”
a. Yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi SPT
adalah : benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam
penerapan ketentuan peraturan UU Pajak, dalam penulisan, dan sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya;
b. Lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek
pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT; dan
c. Jelas melaporkan asal-usul / sumber objek pajak dan unsur lain yg harus
diisikan dalam SPT. SPT yang telah diisi dengan benar, lengkap, dan jelas
tersebut wajib disampaikan ke kantor DJP tempat WP terdaftar atau
dikukuhkan atau tempat lain yang ditetapkan oleh DJP, dan kewajiban
penyampaian SPT oleh Pemotong atau Pemungut Pajak dilakukan untuk
setiap Masa Pajak.

2. Ketentuan tentang Penyampaian SPT


SPT dapat disampaikan secara langsung atau melalui Pos secara tercatat ke
KPP atau KP4 setempat, atau melalui jasa ekspedisi atau jasa kurir yang
ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak.

3. Batas waktu penyampaian:


a. SPT Masa, paling lambat dua puluh hari setelah akhir Masa Pajak.
b. SPT Tahunan, paling lambat tiga bulan setelah akhir Tahun Pajak.
c. SPT yang disampaikan langsung ke KPP/KP4 diberikan bukti
penerimaan. Dalam hal SPT disampaikan melalui pos secara tercatat,
bukti serta tanggal pengiriman dianggap sebagai bukti penerimaan.

PENGISIAN SPT MASA PASAL 21/26


Misal diketahui dalam catatan pembayaran gaji dan perhitungan pajak sebuah
perusahaan sebagai berikut:

4
Ket:
PTKP yang digunakan PTKP yang baru tahun 2015
Pertama, Pastikan formulir yang akan diisi adalah formulir 1721.
Kedua, isi masa pajak (Panah A) dengan masa pajak yang akan dilaporkan,
dalam contoh ini masa pajak bulan juli (bulan 7), selanjutnya cakra kotak yang
bertuliskan SPT Normal (Panah B), Selanjutnya isi identitas perusahaan sebagai
pemotong pajak (Panah C). Identitas perusahaan dibawah adalah fiktif..

Ketiga, Isi Kolom 4 Jumlah penerima penghasilan dengan jumlah pegawai


yang menerima penghasilan, dalam contoh di atas sebanyak 8 orang, selanjutnya
isi kolom 5 Jumlah penghasilan Bruto dengan jumlah seluruh penghasilan
pegawai, dalam contoh di atas jumlahnya RP. 23.000.000,- dan kolom 6 Jumlah
pajak Dipotong isi dengan jumlah pajak yang dipotong, dalam contoh di atas
nihil / nol.

5
Ketiga, Isi Kolom 4 Jumlah penerima penghasilan dengan jumlah pegawai
yang menerima penghasilan, dalam contoh di atas sebanyak 8 orang, selanjutnya
isi kolom 5 Jumlah penghasilan Bruto dengan jumlah seluruh penghasilan
pegawai, dalam contoh di atas jumlahnya RP. 23.000.000,- dan kolom 6 Jumlah
pajak Dipotong isi dengan jumlah pajak yang dipotong, dalam contoh di atas
nihil / nol.

Ketiga, Isi Kolom 4 Jumlah penerima penghasilan dengan jumlah pegawai


yang menerima penghasilan, dalam contoh di atas sebanyak 8 orang, selanjutnya
isi kolom 5 Jumlah penghasilan Bruto dengan jumlah seluruh penghasilan
pegawai, dalam contoh di atas jumlahnya RP. 23.000.000,- dan kolom 6 Jumlah
pajak Dipotong isi dengan jumlah pajak yang dipotong, dalam contoh di atas
nihil / nol.

Keempat, Isi nomor urut 14 dan 15 dengan nol, itu merupakan penjumlahan dari
atas.

Kelima, Untuk selanjutnya isi halaman 2, yang pertama harus diisi di halaman 2
adalah NPWP perusahaan sebagai pemotong pajak.

6
Keenam, Selanjutnya isi identitas pemotong / pimpinan perusahaan yang
mempunyai hak untuk menandatangani SPT (lihat panah G), selanjutnya tanda
tangan dan kasih stempel perusahaan (lihat panah H)

Contoh Kedua :
Data Pegawai Tetap :

Data Pegawai Tidak Tetap :

Pengisisan SPT

7
8
9