Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH

KEPERAWATAN ANAK
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA RETERDASI MENTAL”
Dosen Pengampu :

Ns. Eka Putri Sudiarti, M. Kep

Di susun oleh :
1. Aulia Tasya Firdausi ( 1914201089 )
2. Indri Widayani Anisman ( 1914201053 )
3. Noranisa ( 1914201065 )
4. Rima Mustika ( 1914201072 )
5. Sabania ( 1914201090 )
6. Vidi Lita Sidiana ( 1914201077 )

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PAHLAWAN
TUANKU TAMBUSAI
RIAU
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat
serta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa kita semua ke jalan kebenaran yang diridhai Allah SWT.
Maksud kami membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
KEPERAWATAN ANAK yang diamanatkan oleh dosen kami. Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini banyak sekali kekurangannya baik dalam cara penulisan
maupun dalam isi.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi kami yang
membuat dan umumnya bagi yang membaca makalah ini, untuk menambah
pengetahuan tentang
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA RETERDASI MENTAL”Amin.

Bangkinang, 29 Oktober 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................1
1.3 Tujuan.................................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi..............................................................................................................3
2.2 Etiologi..............................................................................................................3
2.3 Klasifikasi..........................................................................................................6
2.4 Manifestasi Klinik.............................................................................................7
2.5 Pemeriksaan Penunjang ……………………………………………………..
11
2.6 Patofisiologi………………………………………………………………… 12
2.7 Prognosis…………………………………………………………………… .
13
2.8 Pencegahan…………………………………………………………………. 13
2.9 Penatalaksanaan…………………………………………………………….. 14
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
1 Pengkajian…………………………………………………………………….. 16
2 Diagnosa Keperawatan………………………………………………………... 17
.3 Intervensi Keperawatan………………………………………………………..
17
4 Asuhan keperawatan kasus……………………………………………………. 21
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………. 29

ii
4.2 Saran…………………………………………………………………………
29
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Retardasi mental merupakan suatu kelainan mental seumur hidup,
diperkirakan lebih dari 120 juta orang di seluruh dunia menderita kelainan ini.
Oleh karena itu retardasi mental merupakan masalah di bidang kesehatan
masyarakat, kesejahteraan sosial dan pendidikan baik pada anak yang mengalami
retardasi mental tersebut maupun keluarga dan masyarakat. Retardasi mental
merupakan suatu keadaan penyimpangan tumbuh kembang seorang anak
sedangkan peristiwa tumbuh kembang itu sendiri merupakan proses utama,
hakiki, dan khas pada anak serta merupakan sesuatu yang terpenting.
Prevalens retardasi mental pada anak-anak di bawah umur 18 tahun di
negara maju diperkirakan mencapai 0,5-2,5% , di negara berkembang berkisar
4,6%. Insidens retardasi mental di negara maju berkisar 3-4 kasus baru per 1000
anak dalam 20 tahun terakhir. Angka kejadian anak retardasi mental berkisar 19
per 1000 kelahiran hidup.1 Banyak penelitian melaporkan angka kejadian
retardasi mental lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan perempuan.
Berdasarkan uraian diatas kami selaku mahasiswa keperawatan tertarik
untuk membuat makalah mengenai Retardasi Mental
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan retardasi mental ?
2. Apa penyebab dari retardasi mental ?
3. Bagaimana klasifikasi dari retardasi mental ?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari retardasi mental dan penegakkan diagnosis
pada retardasi mental ?
5. Pemeriksaan penunjang apa yang dilakukan pada retardasi mental ?
6. Bagaimana prognosis dari retardasi mental ?
7. Bagaimana penatalaksanaan yang diberikan pada retardasi mental?
1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui Pengertian dari retardasi mental
2. Dapat mengetahui penyebab dari retardasi mental
3. Dapat mengetahui klasifikasi dari retardasi mental
4. Bagaimana gejala klinis dari retardasi mental dan penegakkan diagnosis
pada retardasi mental
5. Pemeriksaan penunjang apa yang dilakukan pada retardasi mental
6. Bagaimana prognosis dari retardasi mental
7. Bagaimana penatalaksanaan yang diberikan pada retardasi mental

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Retardasi Mental
Retardasi mental adalah kelainan atau kelemahan jiwa dengan inteligensi
yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa
anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan,
tetapi gejala yang utama ialah inteligensi yang terbelakang. Retardasi mental
disebut juga oligofrenia (oligo: kurang atau sedikit dan fren: jiwa) atau tuna
mental (W.F. Maramis, 2005: 386).
Retardasi mental (RM) adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki
kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO). American Association on
Mental Deficiency (AAMD)membuat definisi retardasi mental yang kemudian
direvisi oleh Rick Heber (1961) sebagai suatu penurunan fungsi intelektual secara
menyeluruh yang terjadi pada masa perkembangan dan dihubungkan dengan
gangguan adaptasi sosial.
2.2 Etiologi atau Penyebab
Penyebab retardasi mental dapat terjadi mulai dari fase pranatal, perinatal
dan postnatal. Beberapa penulis secara terpisah menyebutkan lebih dari 1000
macam penyebab terjadinya retardasi mental, dan banyak diantaranya yang dapat
dicegah. Ditinjau dari penyebab secara langsung dapat digolongkan atas penyebab
biologis dan psikososial.
Penyebab biologis atau sering disebut retardasi mental tipe klinis
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1). Pada umumnya merupakan retardasi mental sedang sampai sangat berat
2). Tampak sejak lahir atau usia dini
3). Secara fisis tampak berkelainan/aneh
4). Mempunyai latar belakang biomedis baik pranatal, perinatal maupun
postnatal
5). Tidak berhubungan dengan kelas sosial

3
Penyebab psikososial atau sering disebut tipe sosiokulturalmempunyai ciri-
ciri sebagai berikut :
1. Biasanya merupakan retardasi mental ringan
2. Diketahui pada usia sekolah
3. Tidak terdapat kelainan fisis maupun laboratorium
4. Mempunyai latar belakang kekurangan stimulasi mental (asah)
5. Ada hubungan dengan kelas sosial
Melihat struktur masyarakat Indonesia, golongan sosio ekonomi rendah masih
merupakan bagian yang besar dari penduduk, dapat diperkirakan bahwa
retardasi mental di Indonesia yang terbanyak adalah tipe sosio-kultural.
Penyebab retardasi mental tipe klinis atau biologi kali dapat dibagi dalam:
a. Penyebab prenatal
1). Gangguan metabolism
Gangguan metabolism asam amino yaitu Phenyl Keton Uria
(PKU), Maple Syrup Urine Disease, gangguan siklus urea, histidiemia,
homosistinuria, Distrofiaokulorenal Lowe, hiperprolinemia, tirosinosis
dan hiperlisinemia. Gangguan metabolism lemak yaitu degenerasi
serebromakuler dan lekoensefalopatiprogresif. Gangguan metabolism
karbohidrat yaitu galaktosemia dan glycogen storabe disease.
2). Kelainan Kromosom
Kelainan kromosom muncul dibawah 5 persen kehamilan,
kebanyakan kehamilan yang memilki kelainan kromosom berakhri
dengan kasus keguguran hanya setenggah dari satu persen yang lahir
memiliki kelainan kromosom, dan akan meninggal segera setelah lahir.
bayi yang bertahan, kebanyakan akan memiliki kelainan down syndrome,
atau trisomy 21. Manusia normal memiliki 46 kromosom (23 pasang).
Orang dengan kelainan down syndrome memiliki 47 kromosom (23
pasang + 1 kromosom pada kromosom ke 21).
3). Infeksi maternal selama kehamilan
 Yaitu infeksi TORCH dan Sifilis. Cytomegali inclusion body disease
merupakan penyakit infeksi virus yang paling sering menyebabkan

4
retardasi mental. Infeksi virus ringan atau subklinik pada ibu hamil dapat
menyebabkan kerusakan otak janin yang bersifat fatal. Penyakit Rubella
congenital juga dapat menyebabkan defisit mental.
4). Komplikasi kehamilan
Meliputi toksemia gravidarum, Diabetes Mellitus pada ibu hamil
yang tak terkontrol, malnutrisi, anoksia janin akibat plasenta previadan
solution plasenta serta penggunaan sitostatika selama hamil.
b. Penyebab perinatal
1). Prematuritas
Dengan kemajuan teknik obstetri dan kemajuan perinatologi
menyebabkan meningkatnya keselamatan bayi dengan berat badan lahir
rendah sedangkan bayi-bayi tersebut mempunyai resiko besar untuk
mengalami kerusakan otak, sehingga akan didapatkan lebih banyak
anak dengan retardasi mental.
2). Asfiksia
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat
bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin
sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan.
3). Kernikterus
Kernikterus adalah sindrom neurologis akibat pengendapan
bilirubin tak terkonjugasi di dalam sel-sel otak.
4). Hipoglikemia: menurunnya kadar gula dalam darah.
c. Penyebab postnatal
1. Infeksi (meningitis, ensefalitis)
2. Trauma fisik
3. Kejang lama
4. Intoksikasi (timah hitam, merkuri)

5
2.3 Klasifikasi Retardasi Mental
Berikut ini adalah klasifikasi retardasi mental
berdasarkan PPDGJ III:
1. F70 Retardasi Mental Ringan (IQ 55-69)
Mulai tampak gejalanya pada usia sekolah dasar,
misalnya sering tidak naik kelas, selalu memerlukan bantuan
untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-
hal yang berkaitan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-
hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi. 80 % dari
anak RM termasuk pada golongan ini. Dapat menempuh
pendidikan Sekolah Dasar kelas VI hingga tamat SMA. Ciri-
cirinya tampak lamban dan membutuhkan bantuan tentang
masalah kehidupannya.
2. F71 Retardasi Mental Sedang (IQ 35-49)
Sudah tampak sejak anak masih kecil dengan adanya
keterlambatan dalam perkembangan, misalnya
perkembangan wicara atau perkembangan fisik lainnya.
Anak ini hanya mampu dilatih untuk merawat dirinya
sendiri, pada umumnya tidak mampu menyelesaikan
pendidikan dasarnya, angka kejadian sekitar 12% dari
seluruh kasus RM. Anak pada golongan ini membutuhkan
pelayanan pendidikan yang khusus dan dukungan pelayanan.
3. F72 Retardasi Mental Berat (IQ 20- 34)
Tampak sejak lahir, yaitu perkembangan motorik
yang buruk dan kemampuan bicara yang sangat minim, anak
ini hanya mampu untuk dilatih belajar bicara dan
keterampilan untuk pemeliharaan tubuh dasar, angka
kejadian 8% dari seluruh RM. Memiliki lebih dari 1
gangguan organik yang menyebabkan keterlambatannya,
memerlukan supervisi yang ketat dan pelayanan khusus.

6
4. F73 Retardasi Mental Sangat Berat (IQ < 20)
Sudah tampak sejak lahir yaitu gangguan kognitif,
motorik, dan komunikasi yang pervasif. Mengalami
gangguan fungsi motorik dan sensorik sejak awal masa
kanak-kanak, individu pada tahap ini memerlukan latihan
yang ekstensi funtuk melakukan“self care” yang sangat
mendasar seperti makan, BAB, BAK. Selain itu memerlukan
supervisi total dan perawatan sepanjang hidupnya, karena
pada tahap ini pasien benar-benar tidak mampu mengurus
dirinya sendiri.
5. F78 Retardasi Mental lainnya
Kategori ini hanya dignakan bila penilaian dari
tingkat Retardasi Mental intelektual dengan memakai
prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan
karena adanya hendaya sensorik atau fisik, seperti buta, bisu
tli, dan penyandang yang perilakunya terganggu berat atau
fisiknya tidak mampu.
2.4 Manifestasi Klinis

Diagnosis retardasi mental tidak hanya didasarkan atas tes


intelegensia saja, melainkan juga dari riwayat penyakit, laporan dari
orangtua, laporan dari sekolah, pemeriksaan fisis, laboratorium,
pemeriksaan penunjang. Yang perlu dinilai tidak hanya intelegensia saja
melainkan juga adaptasi sosialnya. Dari anamnesis dapat diketahui beberapa
faktor risiko terjadinya retardasi mental. Pemeriksaan fisis pada anak
retardasi mental biasanya lebih sulit dibandingkan pada anak normal, karena
anak retardasi mental kurang kooperatif. Selain pemeriksaan fisis secara
umum (adanya tanda-tanda dismorfik dari sindrom-sindrom tertentu) perlu
dilakukan pemeriksaan neurologis, serta penilaian tingkat perkembangan.
Pada pemeriksaan fisik pasien dengan retardasi mental dapat ditemukan
berbagai macam perubahan bentuk fisik, misalnya perubahan bentuk kepala:

7
mikrosefali, hidrosefali, dan down syndrome. Wajah pasien dengan
retardasi menral sangan mudah dikenali seperti hipertelorisme, yaitu
lidah yang menjulur keluar, gangguan pertumbuhan gigi dan ekspresi
wajah yang tampak tumpul.

Pada anak yang berumur diatas 3 tahun dilakukan tes intelegensia.


Namun, tingkat kecerdasan intelegensia bukan satu-satunya karakteristik,
melainkan harus dinilai berdasarkan sejumlah besar ketrampilan spesifik
yang berbeda. penilaian tingkat kecerdasan harus berdasarkan semua
informasi yang tersedia, termasuk temuan klinis, prilaku adaptif dan hasil tes
psikometrik. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) kepala dapat membantu
menilai adanya kalsifikasi serebral, perdarahan intra kranial pada bayi
dengan ubun-ubun masih terbuka. Pemeriksaan laboratorium dilakuka atas
indikasi, pemeriksaan ferriklorida dan asam amino urine dapat dilakukan
sebagai screening PKU.

Pemeriksaan analisis kromosom dilakukan bila dicurigai adanya


kelainan kromosom yang mendasari retardasi mental tersebut. Beberapa
pemeriksaan penunjang lain dapat dilakukan untuk membantu seperti
pemeriksaan BERA, CT-Scan, dan MRI. Kesulitan yang dihadapi adalah
kalau penderita masih dibawah umur 2-3 tahun, karena kebanyakan tes
psikologis ditujukan pada anak yang lebih besar. Pada bayi dapat dinilai
perkembangan motorik halus maupun kasar, serta perkembangan bicara dan
bahasa. Biasanya penderita retardasi mental juga mengalami keterlambatan
motor dan American Psychiatric Association (APA) pada tahun 1994,
mensyaratkan tiga diagnosis keterbelakangan mental, yaitu :

1. Fungsi intelektual secara signifikan dibawah rata-rata: IQ sekitar 70 atau


kurang menurut tes IQ yang diadakan secara individu.
2. Ketidakmampuan atau kelemahan yang terjadi bersamaan dengan fungsi
adaptasi saat ini (yakni efektivitas seseorang dalam memenuhi standar
yang diharapkan pada usianya dengan kelompok budayanya) setidaknya

8
dalam bidang berikut ini: yaitu komunikasi, perhatian diri sendiri,
kehidupan rumah tangga, keterampilan sosial-interpersonal, penggunaan
sumber dalam komunitas, self dierection, keterampilan akademik
fungsional, pekerjaan, waktu luang, kesehatan dan keamanan.
3. Terjadi sebelum berusia 18 tahun.
Tingkatan keterbelakangan mental menurut APA, diklasifikasikan
menjadi mild retardation (tingkat IQ 50 atau 55 sampai sekitar 70),
moderate mental retardation (tingkat IQ 35 atau 40 sampai 50 atau 55),
severe mental retardation (tingkat IQ 20 atau 25 sampai 35 atau 40), dan
profound mental retardation (tingkat IQ dibawah 20 atau 25).

Dibawah ini sekilas tentang perubahan perilaku terkait usia pada


anak dengan keterbelakangan mental:

1. Keterbelakangan Mental Ringan (IQ = 50 -70)


 Anak prasekolah (0 – 5 tahun): lebih lambat daripada rata-
rata dalam berjalan, makan sendiri, dan berbicara, namun
pengamat sambil lalu tidak melihat keterbelakangan ini.
 Usia sekolah (6 – 21 tahun): Belajar keterampilan motorik-
pemahaman dan kognisi (membaca dan arithmatic) di kelas
tiga sampai kelas enam oleh remaja tahap ini, dapat belajar
untuk menyesuaikan diri secara sosial.
 Dewasa (21 tahun keatas): Biasanya mencapai keterampilan
sosial dan kejuruan yang diperlukan untuk merawat diri,
membutuhkan bimbingan dan bantuan ketika berada pada
kondisi ekonomi sulit atau stress social.
2. Keterbelakangan Mental menengah (IQ = 35 – 49)
 Anak prasekolah (0 – 5 tahun): sebagian besar perkembangan
kelihatan dengan jelas terlambat.
 Usia sekolah (6 – 21 tahun): belajar berkomunikasi dan
merawat kesehatan dasar dan kebutuhan keamanan.

9
 Dewasa (21 tahun keatas): melakukan tugas tanpa
keterampilan atau semi terampil sederhana pada kondisi yang
diawasi, berpartisipasi pada permainan sederhana dan
melakukan perjalanan sendiri di tempat yang dikenal, mampu
merawat diri sendiri.
3. Keterbelakangan Mental Berat (IQ = 20 – 34)
 Anak prasekolah (0 – 5 tahun): perkembangan motorik sangat
tertunda, sedikit atau tidak berbicara, mendapat mamfaat dari
pelatihan mengerjakan sendiri (misalnya makan sendiri).
 Usia sekolah (6 – 21 tahun): biasanya berjalan kecuali jika
terdapat ketidakmampuan motorik, dapat memahami dan
merespon pembicaraan, dapat mengambil mamfaat dari
pelatihan mengenai kesehatan dan kebiasaan lain yang dapat
diterima.
 Dewasa (21 tahun keatas): melakukan kegiatan rutin sehari-
hari dan memperbesar perawatan diri sendiri, memerlukan
petunjuk dan pengawasan ketat dalam lingkungan yang dapat
dikendalikan.
4. Keterbelakangan Mental Sangat Berat (IQ dibawah 20)
 Anak prasekolah (0 – 5 tahun): keterbelakangan ekstrem
disemua bidang, kemampuan sensorik minimal,
membutuhkan bantuan perawatan diri.
 Usia sekolah (6 – 21 tahun): semua bidang perkembangan
tampak jelas tertunda, respon berupa emosi dasar dan
mendapatkan manfaat dari pelatihan dalam penggunaan
anggota badan dan mulut, harus diawasi dengan ketat.
 Dewasa (21 tahun keatas): barangkali dapat berjalan dan
berbicara dengan cara primitive, mendapatkan mamfaat dari
aktivitas fisik regular, tidak dapat merawat diri sendiri, tetapi
membutuhkan bantuan perawatan diri.

10
11
2.5 Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan pada anak yang menderita
retardasi mental,yaitu:
a.       Kromosom kariotipe
b.      EEG (Elektro Ensefalogram)
c.      CT (Cranial Computed Tomography) atau MRI (Magnetic Resonance
Imaging)
d.      Titer virus untuk infeksi congenital
e.       Serum asam urat (Uric acid serum)
f.       Laktat dan piruvat
g.      Plasma asam lemak rantai sangat panjang
h.      Serum seng (Zn)
i.        Logam berat dalam darah
j.        Serum tembaga (Cu) dan ceruloplasmin
k.      Serum asam amino atau asam organik
l.        Plasma ammonia
m.    Analisa enzim lisozom pada lekosit atau biopsy kulit:
n.      Urin mukopolisakarida

12
2.6 Patofisologi

Faktor Genetik Faktor Prenatal Faktor Perinatal Faktor Pascanatal

 Gizi  Proses  Infeksi


Kelainan jumlah
 Mekanis kelahiran  Trauma
dan bentuk  Toksin lama kapitalis, tumor
kromoson  Endokrin  Posisi janin otak
 Radiasi abnormal  Kelainan tulang
 Infeksi  Kecelakaan tengkorak
 Stress pd waktum  Kelainan
 Imunitas lahir & endokrin &
 Anoreksia kegawatan metabolik,
embrio fatal keracunan otak

Kerusakan pada fungsi otak :


 Hemisfer kanan : keterlambatan perkembangan motorik kasar dan halus
 Hemisfer kiri : keterlambatan perkembangan bahasa, social, dan kognitif

Penurunan fungsi intelektual secara umum


Gangguan perilaku adaptif social

Keluarga Hubungan social Perkembangan

Fungsi intelektual
3. Kecemasan keluarga 6. Gangguan komunikasi
4. Kurang pengetahuan verbal menurun
5. Koping keluarga tidak 7. Gangguan bermain
efektif. 8. Isolasi social
9.Kerusakan interaksi 1. Resiko
sosial ketergantungan
2. Resiko cedera

13
2.7 Prognosis Retardasi Mental

Mengukur kecerdasan dan perilaku adaptif dapat membantu klasifikasi dari


kecenderungan keterbelakangan dan dapat memprediksikan apakah individu
tersebut dapat hidup secara independen. Individu dengan keterbelakangan mental
menengah (moderate mental retardation) lebih sering ditemukan dapat mencapai
seilf-sufficiency dan mendapatkan hidup yang bahagia. Untuk mencapai tujuannya,
mereka membutuhkan lingkungan yang sesuai dan mendukung seperti pendidikan,
komunitas, lingkungan sosial, keluarga dan keterampilan yang konsisten.
Harapannya lebih kecil untuk individu yang menderita keterbelakangan mental
sangat berat (profound retardation). Individu dengan profound retardation
membutuhkan dukungan yang besar dan biasanya tidak bisa hidup secara
independen atau di rumah secara berkelompok.
Penelitian menemukan bahwa mereka memiliki harapan hidup yang lebih kecil.
Kecenderungan dari keterbelakangan invidu cenderung menetap selama hidup.
Misalkan seorang anak didiagnosa memiliki keterbelakangan mental berat (severe)
pada usia 5 tahun, maka ia akan memiliki diagnosa yang sama pada usia 21 tahun.
Hal ini mungkin tidak akan terlalu terlihat oleh keluarga mereka, dimana anak-anak
dengan keterbelakangan memiliki kemampuan yang mirip dengan rekan-rekan
mereka, namun akan nampak bahwa mereka akan semakin tertinggal dengan
sejalannya usia mereka.
2.8 Pencegahan Retardasi Mental
Terjadinya retardasi mental dapat dicegah. Pencegahan retardasi mental
dapat dibedakan menjadi dua: pencegahan primer dan pencegahan sekunder.
a. Pencegahan Primer
Usaha pencegahan primer terhadap terjadinya retardasi mental dapat
dilakukan dengan:
1) pendidikan kesehatan pada masyarakat,  
2) perbaikan keadaan sosial-ekonomi,
3) konseling genetik,
4) Tindakan kedokteran, antara lain:

14
a) perawatan prenatal dengan baik,
b) pertolongan persalinan yang baik, dan
c) pencegahan kehamilan usia sangat muda dan terlalu tua.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder terhadap terjadinya retardasi mental dapat
dilakukan dengan diagnosis dan pengobatan dini peradangan otak dan
gangguan lainnya.

2.9 Penatalaksanaan Retardasi Mental


Penanganan terhadap penderita retardasi mental bukan hanya tertuju pada
penderita saja, melainkan juga pada orang tuanya. Mengapa demikian? Siapapun
orangnya pasti memiliki beban psiko-sosial yang tidak ringan jika anaknya
menderita retardasi mental, apalagi jika masuk kategori yang berat dan sangat berat.
Oleh karena itu agar orang tua dapat berperan secara baik dan benar maka mereka
perlu memiliki kesiapan psikologis dan teknis. Untuk itulah maka mereka perlu
mendapatkan layanan konseling. Konseling dilakukan secara fleksibel dan
pragmatis dengan tujuan agar orang tua penderita mampu mengatasi bebab psiko-
sosial pada dirinya terlebih dahulu.
Untuk mendiagnosis retardasi mental dengan tepat, perlu diambil anamnesis
dari orang tua dengan teliti mengenai: kehamilan, persalinan, dan pertumbuhan
serta perkembangan anak. Dan bila perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium.
a. Pentingnya Pendidikan dan Latihan untuk Penderita Retardasi Mental
1) Latihan untuk mempergunakan dan mengembangkan kapasitas yang
dimiliki dengan sebaik-baiknya.
2) Pendidikan dan latihan diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat yang
salah.
3) Dengan latihan maka diharapkan dapat membuat keterampilan
berkembang, sehingga ketergantungan pada pihak lain menjadi
berkurang atau bahkan hilang.
Melatih penderita retardasi mental pasti lebih sulit dari pada
melatih anak normal antara lain karena perhatian penderita retardasi

15
mental mudah terinterupsi. Untuk mengikat perhatian mereka tindakan
yang dapat dilakukan adalah dengan merangsang indera.
b. Jenis-jenis Latihan untuk Penderita Retardasi Mental
Ada beberapa jenis latihan yang dapat diberikan kepada penderita
retardasi mental, yaitu:
1) Latihan di rumah: belajar makan sendiri,  membersihkan badan dan
berpakaian sendiri, dst.,
2) latihan di sekolah: belajar keterampilan untuk sikap social,
3) Latihan teknis: latihan diberikan sesuai dengan minat dan jenis
kelamin penderita, dan
4) latihan moral: latihan berupa pengenalan dan tindakan mengenai
hal-hal yang baik dan buruk secara moral.

16
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengakajian dapat dilakukan melalui:
1. Neuroradiologi dapat menemukan kelainan dalam struktur kranium,
misalnya klasifikasi atau peningkatan tekanan intrakranial.
2. Ekoesefalografi dapat memperlihatkan tumor dan hamatoma.
3. Biopsi otak hanya berguna pada sejumlah kecil anak retardasii mental. Juga
tidak mudah bagi orang tua untuk menerima pengambilan jaringan otak
dalan jumlah kecil sekalipun karena dianggap menambah kerusakan otak
yang memang tidak adekuat.
4. Penelitian bio kimia menentukan tingkat dari berbagai bahan metabolik
yang diketahui mempengaruhi jaringan otak jika tidak ditemukan dalam
jumlah besar atau kecil, misalnya hipeglekimia pada neonatus prematur,
penumpukan glikogen pada otot dan neuron, deposit lemak dalam otak dan
kadar fenilalanin yang tinggi.
Atau dapat melakukan pengkajian sebagai berikut:
1. Lakukan pengkajian fisik.
2. Lakukan pengkajian perkembangan.
3. Dapatkan riwayat keluarga, teruma mengenai retardasi mental dan
gangguan herediter dimana retardasi mental adalah salah satu jenisnya
yang utama
4. Dapatkan riwayat kesehatan unutk mendapatkan bukti-bukti adanya
trauma prenatal, perinatal, pascanatal, atau cedera fisik.
5. Infeksi maternal prenatal (misalnya, rubella), alkoholisme, konsumsi
obat.
6. Nutrisi tidak adekuat.
7. Penyimpangan lingkungan.
8. Gangguan psikiatrik (misalnya, Autisme).
9. Infeksi, teruma yang melibatkan otak (misalnya, meningitis,
ensefalitis, campak) atau suhu tubuh tinggi.

17
1. Abnormalitas kromosom.
2. Bantu dengan tes diagnostik misalnya: analis kromosom,
disfungsimetabolik, radiografi, tomografi, elektro ersafalografi.
3. Lakukan atau bantu dengan tes intelegensia. Stanford, binet, Wechsler
Intellence, Scale, American Assiciation of Mental Retardation Adaptif
Behavior Scale.
4. Observasi adanya manifestasi dini dari retardasi mental:
5. Tidak responsive terhadap kontak.~Kontak mata buruk selama menyusui.
6. Penurunan aktivitas spontan
7. Penurunan kesadaran terhadap suara getaran
8. Peka rangsang.
9. Menyusui lambat.
10. Stimulasi pada anak usia 60-72 tahun
a. Kemampuan gerak kasar : naik sepeda, bermain sepatu roda
b. kemampuan gerak halus : berlatih meningat-ngingat, megenal
kalender, bermain”berjualan”, mengenal waktu, menggambar dari sudut
pandang, belajar memasak, mengumpulkan benda-benda, belajar
mengukur
c. kemampuan bicara dan bahasa : bermain tebak-tebakan, berlatih
mengingat-ingat, menjawab pertanyaan “ mengapa?”, mengamati/
meneliti keadaan sekitarnya
d. kemampuan bersosialisasi dan kemandirian : berkomunikasi dengan
teman sebaya, berteman dan bergaul, mematuhi peraturan keluarga

2 Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan komunikasi verbal
2. Gangguan interaksi sosial
3. Gangguan tumbuh kembang
4. Risiko cedera

3 Intervensi Keperawatan

18
1. Diagnosa : gangguan komunikasi verbal
NOC : hambatan Komunikasi verbal
Indicator :
a. Menggunakan bahsa tertulis.
b. Menggunakan bahasa lisan.
c. Menggunakan bahasa isyarat.
d. Menggunakan foto dan gambar.
e. Menggunakan bahasa non verbal.
f. Mengenali pesan yg diterima.
g. Interpretasi akurat terhadap pesan yang diterima.
h. Mengarahkan pesan pada penerima yang tepat.
i. Pertukaran pesan yang akurat dengan orang lain.
NIC : peningkatan sistem dukungan
a. Identifikasi respon psikologi terhadap situasi dan ketersediaan sistem
dukungan.
b. Tentukan kecukupan dari jaringan sosial yang ada.
c. Identifikasi tingkat dukungan keluarg, dukungan keuangan,dan
sumber daya lainnya.
d. Tentukan hambatan terhadap sistem dukungan yang tidak terpakai dan
kurang dimanfaatkan.
e. Monitor situasi keluarga saat ini dan jaringan dukungan.
f. Identifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya masyarakat dan
advokasi terkait perubahan jika diperlukan.

2. Diagnosa : Gangguan interaksi social


NOC : Keterlibatan sosial
indikator:
a. mampu berinteraksi dengan teman dekatnya
b. mampu berinteraksi dengan anggota keluarga
c. mampu berinteraksi dengan cepat terhadap lingkungannya
NIC : Peningkatan Sosial

19
a. tingkatkan hubungan dengan orang-orang yang memiliki minat dan
tujuan yang sama
b. anjurkan kegiatan sosial dan masyarakat
c. fasilitasi partisipasi pasien dalam kelompok mendongeng
d. lakukan bermain peran dalam rangka berlatih
e. Meningkatkan keterampilan dan teknik komunikasi

3. Diagnosa : Gangguan Tumbuh Kembang


NOC : Perkembangan Anak : Usia anak pertengahan
Indikaor :
a. menunjukan kebiasaan sehat dan baik
b. bermain berkelompok
c. megembangkan persahabatan
d. menunjukan perasaan secara konstruktif
e. menunjukan kreatifitas
f. menunjukan kemampuan pada tingkat mampu di sekolah

NIC : modifikasi perilaku : kecakapan sosial


a. bantu pasien untuk mengidentifikasi masalah dari kurangnya keterampilan
sosial
b. bantu pasien untuk engidentifikasi langkah-langkah dalam berperilaku
dalam
rangka mencapai kemampuan keterampilan sosail
c. bantu pasien untuk mengidentifikasi kemungkinan tindakan dan
koensikuensi dari
hubungan interpersonal/rasionalnya
d. dukung pasien untuk verbalisasi perasaannya berkaitan dengan masalah
interpersonal

4. Resiko cedera

20
NOC : kinerja pengasuhan : keamanan fisik kehidupan masa awal/tengah anak-
anak
Indikator :
a. memilih mainan yang aman dan sesuai dengan usia
b. menyediakan pengawasan disekitar binatang
c. memberikan pengawasan di air
d. memelihara lingkungan untuk tindakan pencegahan jatuh yang
membahayakan
e. menjaga lingkungan untuk mencegah kebakaran, tersengat listrik, dan
terpapar pada
bahan kimia
f. memberikan pengawasan terkait peralatan diarea bermain
NIC : Manajemen lingkungan
a. identifikasi kebutuhan keamanan pasien berdasarkan fungsi fisik dan
kognitif serta riwayat perilaku dimasa lalu
b. identifikasi hal-hal yang membahayakan di lingkungan
c. singkirkan bahan berbaya dair lingkungan jika diperlukan
d. modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahan berbahaya dan beresiko

21
4 Asuhan keperawatan kasus
1.    Kasus
Bapak Amir dan Ibu Bety masing-masing berusia 35 tahun dan 33 tahun,
memiliki 2 orang putri bernama Amira yang berusia 11 tahun dan Meisya yang
berusia 6 tahun. Amira memiliki prestasi yang tinggi di sekolahnya dan selalu
mendapat juara kelas. Sedangkan Meisya mengalami retardasi mental sehingga
ibunya menganggap anaknya tidak perlu masuk sekolah.
Pada saat Meisya berusia 4 tahun, Ibu bety sudah merasakan hal yang beda
dalam diri Meisya. Melihat anak-anak seumuran Meisya begitu aktif,
sedangkan Meisya perkembangannya agak lambat dibandingkan teman
seusianya seperti lambat berbicara, lambat berespon terhadap lingkungan
sekitar. Namun ibunya tidak begitu resah karena tingkah Meisya tidak terlalu
mencolok. Jika ibunya meminta tolong dalam hal sederhana seperti menyuruh
mengambil barang-barang kecil yang dikenalnya, Meisya mau
mengambilkannya.
Ibu Bety merasa bahwa Meisya tidak perlu diperiksa ke rumah sakit karena
anaknya mungkin bisa mengejar keterlambatannya. Walaupun Meisya sering
berperilaku hiperaktif, ketidakstabilan afektif bahkan suka berperilaku agresif,
tapi keluarga selalu memberikan kasih sayang kepada Meisya.
Namun akhir-akhir ini perilaku Meisya tidak seperti biasanya. Jika
keinginannya tidak tercapai, misalnya tanpa sepengetahuan orang tuanya ia
ingin mengambil sesuatu di rak lemari yang lebih tinggi darinya, dia
mengacak-acakkan semua isi lemari dan menyerakkan ke lantai karena ia tidak
dapat meraih barang-barang yang diinginkannya. Dan sekarang Meisya lebih
sering meminta untuk bermain di rumah tetangganya, tapi ibunya tidak
mengizinkan karena takut menyusahkan orang lain. Namun Meisya tetap
memaksa untuk bermain dirumah tetangganya, bahkan dia melempar barang-
barang yang ada dihadapannya agar ibunya mengizinkan dia untuk bermain di
rumah tetangga. Karena sudah tidak sanggup lagi menahannya, akhirnya si ibu
mengizinkannya.

22
Melihat keadaan Meisya yang semakin tidak terkendali, maka orang tuanya
memutuskan untuk memeriksa kondisi Meisya ke rumah sakit. Pada kunjungan
pertama Bu Bety terlihat lelah sementara Meisya yang duduk di sebelahnya
sedang bermain dengan bonekanya, dia berbicara sendiri, tersenyum dan
bertingkah seolah-olah boneka itu temannya.
2.    Proses Keperawatan
a.    Pengkajian
1. Identitas keluarga
2. Nama Kepala Keluarga  : Bapak Amir
3. Alamat                           : Limpok, Darussalam
4. Komposisi keluarga
Nama Gender Hubungan Usia Pekerjaan Pendidikan
Amir L Bapak 35th Guru Sarjana
Bety P Ibu 33th IRT SMA
Anak
Amira P 11th Siswi SD
Perempuan
Meisy Anak
P 6th - -
a Perempuan

5. Tipe bentuk keluarga:  Keluarga inti dengan Bapak, Ibu, Anak 2 orang
6. Latar belakang budaya: Keluarga ini merupakan keluarga asli Aceh Besar.
7. Identifikasi Religius: Terlibat secara aktif di mesjid setempat dan istrinya
juga mengikuti pengajian di mesjid. Bapak Amir selalu shalat berjamaah.
Kepercayaan kepada keluarga dan anak-anaknya ditekankan.
8. Status Kelas Sosial: Ayah merupakan satu-satunya pencari nafkah.
9. Status Ekonomi: Pendapatan mencukupi, jika ada yang sakit ada simpanan
10. Aktifitas Rekreasi: Mereka sering nonton, makan & berkumpul bersama-
sama. Kadang mereka saling mengunjungi keluarga besar.
11. Tahap perkembangan Keluarga saat ini: Keluarga dalam tahap keluarga
dengan anak usia sekolah, dengan usia 11 dan 6 tahun.
12. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi: Nampaknya keluarga
memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga dalam perumahan, kamar, ruang

23
dan privasi serta keamanan. Ibu merasa tertekan dengan perlakuan anaknya
yang retardasi mental dan kesulitan dalam mengendalikan perilaku anaknya,
yang semakin sering berperilaku agresif. Pemeliharaan hubungan-hubungan
orangtua-anak memuaskan.
13. Riwayat Keluarga: Kedua orangtua hidup dalam lingkungan yang sama.
Kedua orang tua menerima kekurangan anaknya dengan hangat dan
menyayanginya.
14. Riwayat Keluarga Asal: Dari kedua belak pihak keluarga tidak ada riwayat
retardasi mental.

b.    Diagnosa
1. Hambatan komunikasi verbal
2. Gangguan interaksi sosial
3. Resiko cedera

c.    Analisa Data


Masalah
No. Data Etiologi
Keperawatan
1. DS: Kurangnya Gangguan
Ibu mengatakan Meisya rangsangan komunikasi
lambat berbicara. dan verbal
lingkungan
Ibu mengatakan Meisya
lambat berespon
terhadap lingkungan
sekitar.

Ibu mengatakan
perkembangan Meisya
lebih lambat daripada
anak seusianya.

24
DO :
1. hambatan lingkungan
2. lambat berbicara dan
bahasa
3. menunjukan respon
Tidak sesuai
4.
2. DS: Perilaku Gangguan
Ibu mengatakan Meisya agresif interaksi sosial
lambat berespon
terhadap lingkungan
sekitar,
bertingkah agresif dan
hiperaktif.
DO :
1. kurang koperatif atau
tertarik pada orang
lain
2. tidak koperatif dalam
bermain dan berteman
dengan sebaya
3. perilaku tidak sesuai
Usia
4. hambatan
perkembangan/matura
si
3. DS: Risiko Risiko Cedera
Ibu mengatakan apabila mengalami
keinginan Meisya tidak cedera atau
tercapai Meisya kerusakan fisik
mengacak-acakkan

25
semua isi lemari dan
menyerakkan ke lantai
dan melempar-
lemparkannya.
DO:
1. perubahan fungsi
Kognitif
2. perubahan fungsi
Psikomotor
3. perubahan sensasi
4. perubahan orientasi
afektif

d.   Intervensi

1. Diagnosa : Hambatan komunikasi verbal


NOC : Komunikasi
j. Menggunakan bahsa tertulis.
k. Menggunakan bahasa lisan.
l. Menggunakan bahasa isyarat.
m. Menggunakan foto dan gambar.
n. Menggunakan bahasa non verbal.
o. Mengenali pesan yg diterima.
p. Interpretasi akurat terhadap pesan yang diterima.
q. Mengarahkan pesan pada penerima yang tepat.
r. Pertukaran pesan yang akurat dengan orang lain.
NIC : peningkatan sistem dukungan
g. Identifikasi respon psikologi terhadap situasi dan ketersediaan sistem
dukungan.
h. Tentukan kecukupan dari jaringan sosial yang ada.
i. Identifikasi tingkat dukungan keluarg, dukungan keuangan,dan
sumber daya lainnya.

26
j. Tentukan hambatan terhadap sistem dukungan yang tidak terpakai dan
kurang dimanfaatkan.
k. Monitor situasi keluarga saat ini dan jaringan dukungan.
l. Identifikasi kekuatan dan kelemahan sumber daya masyarakat dan
advokasi terkait perubahan jika diperlukan.

27
2. Diagnosa : Gangguan interaksi social
NOC : Keterlibatan sosial
kriteria hasil :
d. mampu berinteraksi dengan teman dekatnya
e. mampu berinteraksi dengan anggota keluarga
f. mampu berinteraksi dengan cepat terhadap lingkungannya
NIC : Peningkatan Sosial
f. tingkatkan hubungan dengan orang-orang yang memiliki minat dan
tujuan yang sama
g. anjurkan kegiatan sosial dan masyarakat
h. fasilitasi partisipasi pasien dalam kelompok mendongeng
i. lakukan bermain peran dalam rangka berlatih
j. Meningkatkan keterampilan dan teknik komunikasi

3. Resiko cedera
NOC : kinerja pengasuhan : keamanan fisik kehidupan masa awal/tengah anak-
anak
Indikator :
a. memilih mainan yang aman dan sesuai dengan usia
b. menyediakan pengawasan disekitar binatang
c. memberikan pengawasan di air
d. memelihara lingkungan untuk tindakan pencegahan jatuh yang
membahayakan
e. menjaga lingkungan untuk mencegah kebakaran, tersengat listrik, dan
terpapar pada
bahan kimia
f. memberikan pengawasan terkait peralatan diarea bermain
NIC : Manajemen lingkungan
a. identifikasi kebutuhan keamanan pasien berdasarkan fungsi fisik dan
kognitif serta riwayat perilaku dimasa lalu
b. identifikasi hal-hal yang membahayakan di lingkungan

28
c. singkirkan bahan berbaya dair lingkungan jika diperlukan
d. modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahan berbahaya dan beresiko

29
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Retardasi mental adalah bentuk gangguan atau kekacauan fungsi
mental atau kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan
mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap
stimulus eksteren dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan
fungsi atau gangguan struktur dari suatu bagian, satu organ, atau sistem
kejiwaan mental.
Retardasi mental bisa saja terjadi pada setiap individu / manusia
karena adanya faktor-faktor dari dalam maupun dari luar, gejala yang
ditimbulkan pada penderita retardasi mental umumnya rasa cemas, takut,
halusinasi serta delusi yang besar.
4.1 Saran
Disarankan kepada para ibu agar memperhatikan kesehatan dirinya
seperti memperhatikan gizi, hati-hati mengkonsumsi obat-obatan dan
mengurangi kebiasaan buruk seperti: minum-minuman keras dan merokok.
Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan perlu
melakukan langkah prepentif guna menanggulangi gangguan mental yang
dapat membahayakan kesehatan anak dan remaja caranya yaitu dengan
menggalakkan penyuluhan tentang retardasi mental kepada masyarakat.

30
31
DAFTAR PUSTAKA

Maramis, W.F. (2005) Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.
Newman, Dorlan. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorlan Edisi 2008. Jakarta: EGC.

32