Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN ILMU USAHA TANI

“Analisis Biaya, Penerimaan, Pendapatan dan Efisiensi Usahatani


Komoditi Padi Di Desa Bukit Peninjauan II, Kecamatan Sukaraja,
Kabupaten Seluma”

Disusun Oleh:
Shift 13
Anastasya Nurjanah E1D020086
Langgeng Dwi Yoso E1D020094
Mala Kismawati E1D020095
Ester Yuni Sari Simanjuntak E1D020096
Belti Julita E1D020105

Dosen Pembimbing:
Ir. Basuki Sigit Priyono, M.Sc

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2022
HALAMAN
PENGESAHAN LAPORAN
PRAKTIKUM

Disusun oleh
Shift 13
Anastasya Nurjanah E1D020086
Langgeng Dwi Yoso E1D020094
Mala Kismawati E1D020095
Ester Yuni Sari Simanjuntak E1D020096
Belti Julita E1D020105

Telah di periksa dan di setujui oleh Dosen Pembimbing pada tanggal Juni 2022

Mengetahui

Ir. Basuki Sigit Priyono, M.Sc

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang atas rahmatnya
maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Praktikum Lapangan tentang
“Analisis Biaya, Penerimaan, Pendapatan dan Efisiensi Usahatani Komoditi Padi Di Desa
Bukit Peninjauan II, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma”. Penulisan laporan adalah
salah satu tugas praktikum mata kuliah Ilmu Usahatani di Program Studi Agribisnis, Fakultas
Pertanian, Universitas Bengkulu.
Dalam penulisan laporan ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan laporan ini.
Dalam penulisan laporan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan laporan ini, khususnya
kepada Bapak dan Ibu dosen, serta Asisten Praktikum yang telah memberikan materi,
sehingga memberikan modal awal buat penulisan laporan ini.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak
yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih.

Bengkulu, Juni 2022

Penyusun

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanian adalah sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk di Indonesia.
Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikananan merupakan sektor-sektor yang ada pada
usaha pertanian. Kegiatan-kegiatan tersebut banyak berperan untuk pendapatan domestic
bruto (PDB) nasional. Pembangunan nasional diprioritaskan pada bidang perekonomian
sehingga pemerintah berusaha menerapkan kebijaksanaan dalam peningkatan hasil produksi
pertanian. Karena negara Indonesai yang terkenal dengan masyarakatanya yang sebagian
besar petani dan negara yang agraris serta dengan sumber daya alam yang masih sangat perlu
digali dan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia.
Sasaran pembangunan pertanian yaitu adalah peningkatan produksi pertanian dan
pendapatan petani. Tingkat pendapatan petani secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti jumlah produksi, harga jual, dan biaya-biaya yang dikeluarkan petani dalam berusaha
tani. Ilmu usaha tani merupakan ilmu yang mempelajari himpunan dari sumber alam atau
organisasi dari faktor-faktor alam, tenaga kerja, dan modal untuk menghasilkan produksi

4
pertanian. Berdasarkan kata lain, ilmu usaha tani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana
seorang petani mengalokasikan sumber daya secara efektif dan efisien untuk memperoleh
keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Tujuan diadakannya usaha tani adalah untuk
mengetahui besarnya biaya dan pendapatan dari suatu usaha tani dan juga untuk menganalisis
efisiensi dan kemanfaatan dari suatu usaha tani dengan analisis R/C ratio dan B/C ratio.
Padi merupakan salah satu komoditi yang memiliki prospek pengembangan guna
menambah pendapatan para petani. Hal ini dapat memberikan motivasi bagi para petani
untuk mengembangkan usahataninya dan meningkatkan hasil produksi agar dapat
meningkatkan hasil yang akan didapatkan nantinya. Namun, seringkali pada saat panen tiba
harga jual padi menjadi turun dan hasil produksi tak seperti yang diharapkan. Untuk
memperoleh pendapatan yang memuaskan bagi para petani, petani diharapkan cermat dalam
mempelajari perkembangan harga sebagai solusi dalam menentukan pilihan, apakah ia
memutuskan untuk menjual atau menahan terlebih dahulu hasil panennya. Untuk itulah
analisis pendapatan merupakan cara yang tepat untuk mengetahui hasil usahatani padi sawah.
Karena faktor produksi sebagian sudah dilakukan oleh rumah tangga petani sendiri, maka
digolongkan sebagai biaya yang tidak rill dikeluarkan. Hal-hal lain yang sangat berpengaruh
terhadap pendapatan usahatani padi sawah adalah menyangkut biaya-biaya yang berbeda-
beda antara usahatani padi sawah yang satu dengan usahatani padi sawah yang lainya sebagai
karakteristik varietas.
Tujuan akhir dalam pengelolaan usahatani adalah untuk memperoleh pendapatan petani
yang sebesar-besarnya, sehingga besarnya usahatani tersebut dapat digunakan untuk
menentukan keberhasilan dalam pengelolaan usahatani. Pada proses selanjutnya, pendapatan
usahatani akan digunakan oleh petani untuk membiayai proses produksi berikutnya dan untuk
konsumsi keluarga, sedangkan sisa dari pendapatan tersebut disimpan sebagai tabungan atau
untuk mendanai usaha lain. Pada usahatani, terdapat perhitungan untuk memperoleh suatu
keuntungan yang akan diterima. Perhitungan tersebut seperti penerimaan, biaya, pendapatan,
R/C ratio, dan B/C ratio. Perhitungan-perhitungan tersebut digunakan untuk menganalisis
biaya-biaya usahatani tersebut dapat memenuhi target keuntungan yang diinginkan atau tidak.
Dari hal-hal yang telah dijelaskan di atas tadi kami tertarik untuk menganalisis biaya,
penerimaan, pendapatan dan efisiensi usahatani padi sawah di Desa Bukit Peninjauan II,
Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu ini memiliki jumlah luas lahan
pertanian yang cukup luas dan sebagian penduduk berprofesi sebagai petani padi sawah.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan pembuatan laporan praktikum ini yaitu:
5
1. Menginventarisasi Struktur Biaya Usahatani padi sawah di Desa Bukit Peninjauan II
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma.
2. Menginventarisasi Struktur Penerimaan Usahatani padi sawah di Desa Bukit
Peninjauan II, Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma.
3. Menganalisis Efisiensi Usahatani padi sawah di Desa Bukit Peninjauan II, Kecamatan
Sukaraja, Kabupaten Seluma.
4. Menganalisis B/C ratio pada Usahatani yang berbeda padi sawah Desa Bukit
Peninjauan II, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma.
5. Menganalisis Marjin Kotor Usahatani padi sawah di Desa Bukit Peninjauan II,
Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Budidaya Tanaman Padi
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Penerapan PTT didasarkan pada
empat prinsip, yaitu:
1. Terpadu : PTT merupakan suatu pendekatan agar sumber daya tanaman, tanah dan air
dapat dikelola dengan sebaik-baiknya secara terpadu.
2. Sinergis : PTT memanfaatkan teknologi pertanian terbaik dengan memperhatikan
keterkaitan yang saling mendukung antar komponen teknologi
3. Spesifik lokasi : PTT memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik
maupun sosial budaya dan ekonomi petani setempat
4. Partisipatif : berarti petani turut berperan serta dalam memilih dan menguji teknologi
yang sesuai dengan kondisi setempat dan kemampuan petani melalui proses
pembelajaran dalam bentuk laboratorium lapangan
Berdasarkan media tanamnya, padi dibedakan menjadi padi gogo dan padi sawah. Padi gogo
memiliki karakteristik yang cocok untuk ditanam di Lahan yang berhumus, memiliki
ketersediaan air yang sedikit, struktur remah, ketebalan tanah berkisar 25 cm, tanah yang
cocok dan mendukung tanaman bervariasi dari yang memiliki tekstur berliat, tekstur berdebu
halus, tekstur berlempung halus sampai tanah kasar dengan keasaman tanah 4,0 sampai
dengan 8,0.
Sedangkan pengembangan padi sawah biasa ditanam pada lahan sawah dengan ciri
tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras sekitar 30 cm di bawah
permukaan tanah, menghendaki tanah berlumpur yang subur dengan ketebalan berkisar 18-22
cm, keasaman tanah berkisar diantara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, karakteristik lainnya
6
dapat diketahui secara langsung melalui 11 12 penggenangan atau pengairan yang akan
mengubah pH tanah sehingga sesuai dengan karakteristik tanaman padi. Berdasarkan uraian
tersebut, penanaman padi sawah diuraikan secara rinci sebagai berikut :
1) Pembibitan
Kebutuhan benih satu hektar padi sawah mencapai 25-30 kg tergantung pada jenis benih
padi yang akan dibudidayakan. Lahan persemaian dipersiapkan sekitar 7-10 hari sebelum
penyemaian. Luas lahan persemaian biasanya mencapai 5-10% dari areal sawah yang akan
ditanami. Lahan persemaian dibajak dan digaru untuk memperhalus struktur tanah yang
kemudian membentuk seperti bedengan dengan tinggi 15-20 cm yang bertujuan untuk
mempermudah pengairan selama masa penyemaian. Sebelum penyemaian benih padi, lahan
penyemaian padi yang sudah dibuat diberi kotoran ternak yang telah dikomposkan dengan
cara menaburkannya di atas lahan persemaian secara merata dengan. Lahan semai yang sudah
ditaburi dengan pupuk kompos selanjutnya ditaburi dengan pupuk urea dan SP-36 masing-
masing berkisar 10 g/m2 sehingga benih padi yang sudah berkecambah dapat tumbuh
menjadi bibit dengan baik. Benih padi disemai dengan kerapatan 75 g/m2 untuk
menghasilkan bibit padi yang baik (Isran Noor, 2012).
2) Pengolahan lahan
Kegiatan pengolahan lahan diawali dengan membersihkan saluran air dan sawah dari
jerami sisa penanaman sebelumnya dan rumput liar yang tumbuh di areal lahan yang akan
diolah, memperbaiki pematang untuk mempermudah pemeliharaan padi terutama dalam
pengairan, serta mencangkul beberapa sudut 13 petak sawah yang sukar diolah dengan bajak
serta pada bagian sawah yang terdapat bahan keras seperti batuan. Mengolah Lahan Sawah
melalui pembajakan bertujuan untuk membuat media tanam menjadi lebih baik salah satunya
pada saat membalikkan tanah, bahan organik yang ada di atas permukaan akan berada di
dalam tanah dan menjadi bahan organik. Manfaat lainnya adalah untuk memutuskan siklus
hama penyakit, memecah gumpalan tanah sehingga oksigen dapat masuk ke dalam pori tanah
dan membuang gas lainnya yang dapat meracuni tanaman padi. Di beberapa daerah,
pembajakan biasanya dilakukan lebih dari dua kali dimana pengolahan pertama dilakukan
pada awal musim tanam dan dibiarkan 2-3 hari sebelum dilakukan pengolahan ke dua yang
disusul oleh pembajakan ketiga 3-5 hari menjelang tanam (Isran Noor, 2012). Pengolahan
lahan sawah yang sudah dibajak dengan meratakan permukaan sawah, dan memperhalus
gumpalan tanah dengan cara menggarunya. Permukaan Sawah yang rata dapat dibuktikan
dengan melihat permukaan air di dalam petak sawah yang merata. Sementara sawah yang

7
memiliki lereng yang curam, maka dibuat teras memanjang dengan petak-petak yang dibatasi
oleh pematang agar permukaan tanah merata.
3) Penanaman
Pada Lahan Sawah yang memliki saluran irigasi yang baik, sawah dapat ditanami padi
sebanyak 3 musim dalam setahun, tetapi pada sawah tadah hujan atau memiliki ketersediaan
air yang terbatas biasanya dilakukan pergiliran tanaman padi dengan palawija. Pergiliran
tanaman ini juga dilakukan pada lahan beririgasi sebagai upaya untuk memotong siklus hama
dan penyakit yang 14 menyerang padi dengan rentan waktu setelah satu tahun menanam padi.
Adapun cara penanaman padi diawali kegiatan pemilihan bibit yang seragam. Bibit yang
ditanam biasanya berumur 15-21 hari setelah semai (HSS) dengan cara mengambil 2-3 bibit
ke dalam larikan atau lubang tanam, kedalaman penanaman 1-2 cm dengan jarak tanam
sesuai kondisi Lahan Sawah seperti 20x20 cm, 25x25 cm, 22x22 cm atau 30x20 cm atau jajar
legowo 2:1 dan 4:1 tergantung dari varietas padi yang digunakan, irigasi dan tingkat
kesuburan tanah serta kondisi iklim (Zainal, 2013).
4) Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman padi diawali dengan penyulaman tanaman yang terkena serangan
hama atau penyakit tanaman sehingga layu atau mati. Penyulaman padi selambatnya
dilakukan 14 hari setelah tanam (HST). Bibit sulaman berasal dari jenis yang sama yang
merupakan bibit cadangan pada persemaian. Setelah tanaman disulam, pemeliharaan padi
juga dilakukan penyiangan dari gulma. Penyiangan yang biasa dilakukan petani dengan
mempertahankan volume air sehingga mempermudah dalam mencabut gulma baik secara
manual maupun dengan alat landak atau gasrukan (bahasa Jawa untuk alat penyiangan padi
dengan cara didorong). Kegiatan penyiangan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada saat
tanaman berumur 3 dan 6 minggu dengan membersihkan antara baris horizontal dan vertikal
tanaman yang dilakukan setelah penanaman ketika menjelang pemupukan susulan pertama
dan kedua (Isran Noor, 2012). Setelah penyiangan selesai dilakukan, ketinggiaan air
diperhatikan yang disesuaikan dengan umur tanaman padi untuk mendukung pertumbuhan
akar 15 tanaman dan anakan baru terutama satu minggu setelah penanaman. Penggenangan
lahan sawah dipertahankan setinggi 3-5 cm ketika padi memasuki fase primordia sampai fase
bunting untuk menekan pertumbuhan anakan baru. Pada fase pengisian biji, ketinggian air
diturunkan dan dipertahankan sekitar 2-3 cm. Pengairan lahan sawah selanjutnya dilakukan
secara periodik seperti menjelang pemupukan dilakukan pengeringan sampai keadaan macak-
macak. Setelah selesai pengisian biji, lahan diairi dan dikeringkan secara bergantian.
Seminggu menjelang pemanenan, lahan sawah dikeringkan agar proses pematangan biji lebih
8
cepat dan Lahan Sawah tidak becek saat padi dipanen. Memasuki umur 2 minggu atau 14 hari
setelah tanam (HST), tanaman padi diberikan pemupukan yang terdiri dari pupuk Urea, SP-
36 dan KCl (Zainal, 2013). Adapun dosis kebutuhan pupuk per hektar secara umum adalah N
= 90-120 kg, P= 60 kg, dan K= 50 kg tergantung dari varietas padi yang dibudidayakan.
Pemberian pupuk dilakukan dengan cara mencampur dan menyebar ketiga jenis pupuk secara
merata dengan rincian setengah dari dosis pupuk diberikan pada pemupukan pertama (umur
14 HST) dan setengah dosis pupuk untuk pemupukan kedua ( umur 25-30 HST). Adapun
pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) biasanya dikendalikan secara hayati,
biopestisida, fisik dan mekanis serta pestisida kimia sesuai dengan anjuran. Hama yang sering
ditemui pada tanaman padi meliputi tikus sawah, wereng coklat, penggerek batang padi dan
keong mas. Sedangkan penyakit padi biasanya tungro dan hawar daun bakteri.

5) Panen
Padi sawah dapat dipanen ketika 90-95% butir atau malai sudah menguning (33-36
hari setelah berbunga sesuai dari varietas padi yang dibudidayakan) yang ditandai ketika biji
masak fisiologis dengan bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau, kadar air
gabah 21-26 %, dan butir hijau sudah rendah. Pemanenan padi sawah dapat dilakukan dengan
menggunakan sabit bergerigi yang tajam untuk memperkecil tingkat kerontokan gabah saat
panen. Pemanenan lainnya dapat melalui mesin panen terutama untuk sawah yang luas.
Tujuannya penggunaan mesin pemanen ini untuk mempercepat pemanenan sekaligus
meminimalisir kerusakan yang berakibat terhadap kehilangan hasil panen. Adapun cara
pemanenannya yaitu dengan pemotongan jerami sekitar 20- 25 cm di atas permukaan tanah,
kemudian rumpun padi diletakan dengan cara menumpuknya di atas alas terpal. Padi yang
sudah dipanen secepatnya dirontok menggunakan banting bertirai maupun power tresher.
6) Pascapanen
Padi yang sudah dirontokkan pada saat pemanenan selanjutnya dilakukan penanganan
pascapanen, seperti pembersihan dan penjemuran. Pembersihan gabah yang sudah dipanen
dengan cara mengayak atau ditapi atau dengan blower manual. Kadar kotoran atau
kebersihan gabah tidak boleh lebih dari 3%. Gabah yang sudah bersih kemudian dijemur
untuk menghilangkan kadar air. Penjemuran gabah tergantung dari kondisi cuaca dengan
lama penjemuran sampai kadar airnya 14-13%. Penjemuran secara tradisional, dapat
dilakukan dengan menjemur padi di halaman atau lahan terbuka dengan memanfaatkan sinar
matahari. Sementara 17 apabila penjemuran padi dengan menggunakan mesin pengering,
kebersihan gabah yang dihasilkan lebih terjamin daripada dijemur di halaman terbuka. Gabah
9
yang sudah dijemur kemudian disimpan ke dalam gudang penyimpanan dengan dimasukkan
ke dalam karung bersih serta dijauhkan dari beras pada saat penataan di gudang karena dapat
tertular hama beras.

2.2 Landasan Teori


2.2.1 Biaya Produksi
Produksi berkaitan dengan penerimaan dan biaya produksi, penerimaan tersebut
diterima petani karena masih harus dikurangi dengan biaya produksi yaitu keseluruhan biaya
yang dipakai dalam proses produksi, biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang
dipergunakan dalam usahatani. Biaya usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tetap dan
biaya tidak tetap (biaya variabel).
1) Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang secara tetap dibayar atau dikeluarkan oleh produsen atau
pengusaha dan besarnya tidak dipengaruhi oleh tingkat output. Yang termasuk kategori biaya
tetap adalah sewa tanah bagi produsen yang tidak memiliki lahan sendiri, sewa gudang, sewa
gedung, biaya penyusutan alat, sewa kantor, gaji pegawai atau karyawan (Supardi, 2000
Dalam Abdul ,2016).
2) Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya sangat tergantung pada skala produksi. Yang
termasuk biaya variabel antara lain : benih, pupuk, pestisida, upah tenaga kerja, biaya panen,
biaya pasca panen, biaya taransfortasi, dan lainlain sebagainya (Dumairy, 2004. Dalam Abdul
2016). Perhitungan biaya:
a. Total biaya (TC), adalah keseluruhan biaya yang dikelurkan dalam proses produksi sampai
terciptanta barang. rumus : TC =TFC + TVC
b. Biaya perunit (AC) adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi 1 unit barang jadi
rumus : AC = TC/Q
2.2.2 Penerimaan
Penerimaan hasil penjualan merupakan fungsi dari jumlah barang yang terjual,
penerimaan total (total revenue) adalah hasil kali jumlah barang yang terjual dengan
10
hargajual perunit. penerimaan umunya beersifat liner, karena tidak ada alasan mengapa
penerimaan menurun bila produksi meningkat, kecuali bila harga jual menurun karena
produksi meningkat (teori penawaran). Bentuk fungsi penerimaan total (total revenue,(R))
yang non liner pada umumnya berupa sebuah persamaan para pola terbuka merupakan bentuk
fungsi penerimaan yang lazim dihadapi oleh seorang produsen yang beroperasi di pasar
monopoli, sedangkan fungsi penerimaan total yang liner, merupakan fungsi penerimaan yang
dihadapi oleh seorang produsen yang beroperasi dipasar persaingan sempurna.Penerimaan
total merupakan fungsi dari jumlah barang, juga merupakan hasil kali jumlah barang dengan
barang per unit. Seperti halnya dalam konsep biaya, dalam konsep penerimaan pun dikenal
pengertian rata-rata margin. penerimaan rat-rata (average revenue, AR) adalah penerimaan
yang diperoleh per unit barang, merupakan hasil bagi penerimaan total terhadap jumlah
barang penerimaan marjin (margin revenue, MR) adalah penerimaan tambahan yang
diperoleh dari setiap tambahan satu unit barang yang dihasilkan atau terjual (Soeharni, 2010)
2.2.3 Pendapatan
Pendapatan usahatani ialah selisih antara pendapatan kotor (output) dan biaya
produksi (input) yang dihitung dalam perbulan, pertahun, dan per musim. Dalam pendapatan
usahatani ada dua unsur yang digunakan yaitu unsur penerimaan dan pengeluaran dari
usahatani tersebut ( yunus,2011). Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk
mengukur kesejahteraan seorang atau masyarakat, sehingga pendapatan masyarakat ini
mencerminkan kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Pendapatan individu merupakan
pendapatan yang diterima seluruh rumah tangga dalam perekonomian dari pembayaran atas
penggunaan faktor-faktor produksi yang dimiliki dan dari sumber lain. Pendapatan adalah
salah satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan, maupun tahunan, kegiatan usaha
pada akhirnya akan memperoleh pendapatan berupa nilai uang yang diterima dari penjualan
produk yang dikurangi biaya yang telah dikeluarkan (Sukimo, 2010). Besarnya total jumlah
penerimaan (TR) dihitung berdasarkan jumlah produksi dalam satu kali proses produksi di
kali dengan harga saat itu. rumus yang digunakan untuk menghitung penerimaan yaitu:
TR = P×Q
keterangan : TR = total revenue /total penerimaan (Rp)
P = price/ harga (RP)
Q = quantity / jumlah (RP)
Pendapatan bersih sangat tergantung pada dua faktor utama yaitu penerimaan dan biaya.
Untuk mengetahui pendapatan bersih maka dapat dIgunakan rumus berikut:
Pd = TR- TC
11
Keterangan : Pd = pendapatan (RP)
TR = total revenue /total penerimaan (Rp)
TC = total cost/ total biaya ( Rp)
2.2.4 Efisiensi Usaha Tani
Efisiensi merupakan perbandingan antara nilai produk marjinal terhadap nilai faktor
produksi. Suatu proses produksi dikatakan efisien ketika dapat menggunakan input sekecil
mungkin untuk menghasilkan output yang maksimal. Efisiensi dapat dikelompokkan menjadi
3 macam yaitu efisiensi teknis, efisiensi alokatif (harga), dan efisiensi ekonomis (Setiawan
dan Prajanti, 2011). Efisiensi teknis digunakan untuk mengetahui hubungan antara input dan
output, yaitu sejauh mana seorang petani mengkombinasikan input menjadi ouput pada
tingkat produksi, faktor ekonomi, dan teknologi tertentu. Nilai efisiensi teknis tercapai ketika
nilai ET = 1 (Augustina et al., 2018).

12
BAB III
METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1 Metode Penentuan Lokasi
Metode penentuan lokasi adalah dipilih secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan
bahwa di desa Bukit Peninjauan II, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma memiliki jumlah
luas lahan sawah yang cukup banyak dan jumlah petani yang mencukupi serta untuk
melakukan survei.
3.2 Populasi dan Sampel
Metode penentuan populasi yaitu populasi diambil dari seluruh petani padi di Desa Bukit
Peninjauan II, sedangkan metode penentuan sample ditentukan secara purposive atau sengaja
dengan cara acak dimana para petani di Desa Bukit Peninjauan II, Kecamatan Sukaraja ini
bisa dijadikan sampel. Jadi teknis di lapangan dilakukan dengan cara bertanya langsung
kepada petani Padi sesuai jumlah sample yang dibutuhkan.

3.3 Metode Analisis


Metode analisis yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode kuantitatif yaitu
gambaran secara sistematis yang faktual mengenai fakta-fakta selanjutnya, keterangan atau
data-data yang kita peroleh dari petani diolah atau ditabulasikan dan kemudian kita lakukan
perhitungan dan pembahasan.

13
BAB IV
KEADAAN UMUM LOKASI PRAKTIKUM
4.1 Letak dan Keadaan Wilayah
4.1.1 Kondisi Geografis dan Tata Guna Lahan
Desa Bukit Peninjauan II Terletak di Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. Desa Bukit
Peninjauan II memiliki luas daerah 256 ha, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sidosari dan Niur
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Padang Pelawi
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Kayu Arang
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sarimulyo
Jarak tempuh Desa Bukit Peninjaun II ke pusat Pemerintahan Kabupaten Seluma kurang
lebih 45 km.
4.1.2 Keadaan Alam dan Kondisi Fisik
Desa Bukit Peninjauan II kecamatan Sukaraja kabupaten Seluma termasuk dalam kawasan
daerah yang beriklim tropis dengan kondisi secara umum sebagai berikut : Tingkat keasaman
Tanah Ph netral dengan Ph 5-7 Ketinggian tempat daripermukaa laut 150-210 M dengan
suhu 25 derajat celsius-31 derajat celcius, lama penyinaran 10 jam /hari Curah hujan rata-
rata 2000/3000 mm/tahun dengan bulan basah 7 bulan (Agustus s.d februari ) dan bulan
kering 5 bulan (Maret s.d Juli) Keadaan drainase secara umum tergolong baik Jenis tanah
pod Solid Merah Kuning (PMK) dengan tekstur lempung berpasir. Keadaan penduduk
Penduduk desa Bukit Peninjauan II berasal dari berbagai daerah yang berbeda-beda,dimana
mayoritas penduduknya berasal dari propnsi Jawa Tengah, Jawa Barat,Serawai,Batak,Padang
dll. Jumlah Penduduk Desa Bukit Peninjauan II Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma
terdiri dari 2043 Jiwa terdiri dari laki-laki 1014 jiwa dan perempuan 1029 jiwa dari 497
Kepala Keluarga.
4.2 Luas Lahan dan Penggunaan
Desa Bukit Peninjaun II berupa dataran rendah memiliki luas lahan pertanian 200 hektar yang
terdiri dari luas sawah, kebun dan daratan serta wilayah pemukiman seluas 56 hektar.
4.3 Keadaan Penduduk
Penduduk desa Bukit Peninjauan II berasal dari berbagai daerah yang berbeda-beda,dimana
mayoritas penduduknya berasal dari propnsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Serawai, Batak,
Padang, dll. Jumlah Penduduk Desa Bukit Peninjauan II Kecamatan Sukaraja Kabupaten
Seluma terdiri dari 2043 Jiwa terdiri dari laki-laki 1.014 jiwa dan perempuan 1.029 jiwa dari

14
497 Kepala Keluarga. Jumlah penduduk menurut kelompok umur dapat di lihat pada tabel
4.3.1
Tabel 4.3.1 Distribusi penduduk menurut kelompok umur di desa Bukit Peninjauan II
Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma.

No. Umur Jumlah Jiwa


1. 0-9 183
2. 10-19 266
3. 20-29 308
4. 30-39 126
5. 40-49 333
6. 50-59 296
7. > 60 361
Jumlah 2.043

Sumber : Profil Desa Bukit Peninjauan II


Dari tabel 1 di bawah dapat di lihat bahwa jumlah penduduk desa Bukit Peninjauan II
Kecamatan Sukaraja kabupaten Seluma sebanyak 2.043 jiwa dan komposisi penduduk
menurut kelompok umur yang terbesar yaitu pada rentang umur 26-60 tahun, usia ini
menunjukan usia masa pendidikan dan usia masa produktif.
4.4 Sarana dan Prasarana Perekonomian
Potensi sosial ekonomi penduduk Desa Bukit Peninjauan II yang sebagian besar berusaha
pada sector pertanian di dukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana umum yang ada.
Sarana prasarana umum tersebut seperti jalan, tempat ibadah, sekolah dan perkantoran desa
dan berbagai bangunan lain yang menunjang kegiatan social penduduk. Fasilitas sosial
ekonomi yang ada di desa Bukit Peninjauan II antara lain, gedung SD.gedung PAUD,
Puskesdes, kios saprodi, rumah ibadah, Bank, Pasar, Kantor instansi Pemerintah, dan lain
sebagainya

15
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Petani
Tabel 5.1.1 Karakteristik Petani

Sumber : Data Primer yang sudah diolah dari petani Desa Bukit Peninjauan II
Karakteristik petani merupakan ciri keadaan petani, dalam praktikum ini di Bukit Peninjauan
1 Sukaraja mulai dari umur petani, pendidikan formal/ non formal maupun pekerjaan utama
dan sampinganya, table 5.1.1 menunjukan karakteristik petani untuk 25 responden, dilihat
dari pendidikan formalnya rata-rata pendidikan yang ditempuh petani adalah 10 tahun,
artinya pendidikan yang ditempuh masih cukup rendah yakni setara dengan lulusan SMP,
sehingga dibutuhkan pendidikan tambahan di luar formal dengan mengikuti pendidikan non
formal berupa penyuluhan. Dengan demikian petani mempunyai bekal untuk berusahatani
selain dari pengalaman pribadinya. Berdasarkan pekerjaanya, yang dibedakan menjadi 2 yaitu
pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan, 25 responden tersebut secara keseluruhan bekerja
sebagai petani dalam hal ini budiday padi sawah. Selain itu, Umur petani juga sangat
mempengaruhi produktivitas hasil usahatani berupa kualitas dan kuantitasnya, jika dilihat
pada tabel 5.1.1 rata-rata umur petani padi adalah 45 tahun, artinya petani ikan padi tersebut
masuk dalam kategori umur produktif untuk berusahatani.
5.2 Budidaya Tanaman Padi
5.2.1 Budidaya Padi dengan Cara Konvensional

16
Secara prinsip, tahapan penanaman budidaya padi cara konvensional dan SRI adalah sama.
Demikian pula varietas yang digunakan pada umumnya sesuai dengan anjuran seperti yang
dilepas oleh Departemen Pertanian, seperti Ciherang atau IR 64 atau yang lainnya (Badan
Litbang Pertanian, 2007). Apabila kedua cara tanam tersebut dibandingkan, terdapat
modifikasi dari cara tanam padi SRI dibandingkan dengan cara konvensional. Modifikasi
dilakukan berturut-turut terhadap umur pindah bibit, jumlah bibit yang ditanam, jenis pupuk,
dan cara pemberian air irigasi. Tahapan penanaman padi secara garis besar dimulai dengan
pengolahan tanah, persemaian, pemupukan dan penanaman, pengairan, penyiangan gulma,
pengendalian hama dan penyakit dan terakhir adalah pemanenan. Prinsip-prinsip
budidayanya berturut-turut adalah sebagai berikut:
1) Tanah diolah sampai mencapai pelumpuran sempurna (Andi dkk., 2008 ).
2) Benih disemai sampai berumur 21-25 hari, sebelum dipindah ke lapangan (Andi dkk.,
2008)
3) Jumlah bibit antara 3-5 batang per lubang (Andi dkk., 2008).
4) Pupuk dasar diberikan 100 kg/ha masing-masing untuk urea, SP 36 dan KCl. Pupuk
susulan pertama diberikan urea 100 kg/ha pada umur 2 minggu setelah tanam, 27 dan
pupuk susulan kedua diberikan urea dan KCl masing-masing 100 kg/ha pada umur 5
minggu setelah tanam (Andi dkk., 2008).
5) Pemberian air dilakukan dengan penggenangan, berturut-turut 3-5 cm sampai tanaman
berumur 30 hari, tinggi genangan ditingkatkan menjadi 5-10 cm mengikuti tinggi
tanaman di lapangan. Pengeringan dilakukan menjelang penyiangan dan pemupukan
susulan, serta memasuki fase pemasakan (Tomar dan O’Toole, 1979 dalam
Pasandaran, 1985).
6) Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida mengikuti kondisi lapangan.
7) panen dilakukan setelah daun-daun tanaman menguning, gabah telah mengeras pada
kadar air sekitar 25 %. Hasil-hasil penelitian budidaya padi di Bali, belakangan ini
menunjukkan hasil panen gabah berkisar antara 6-7 ton/ha gabah kering giling (GKG)
(Badan Litbang Pertanian., 2007).
5.2.2 Budidaya Padi Tadah Hujan
Sawah tadah hujan merupakan jenis sawah sistim perairannya sangat bergantung pada hujan,
tanpa bangunan-banguna irigasi permanen. Penanaman padi akan dimulai ketika memasuki
musim penghujan. Lahan tadah hujan merupakan lumbung padi kedua setelah lahan sawah
irigasi. Namun ada beberapa permasalahan yang menonjol pada lahan tersebut yakni
produktivitas masih rendah disebebkan pasokan air hujan yang sulit dipridiksi. Selain itu
17
kesuburan dan pH tanah rendah, sifat fisik tanah kompak, permasalahn tersebut menjadi
hambatan dalam produksi padi sawah tadah hujan.
Ekosistem sawah tadah hujan cukup berbeda dengan ekosistem sawah irigasi, dimana pada
awal musim hujan padi ditanam, menjelang kemarau masih ada air, dapat ditanam palawija
atau sayuran karena penanamannya bergantung pada musim hujan. Potensi sawah tadah hujan
di Sulawesi Barat cukup luas yang tersebar diseluruh daerah terutama di Kab. Mamuju,
mempunyai luas lahan yang cukup siknifikan untuk menunjang peningkatan produksi padi
Sehingga dibutuhkan strategi untuk dapat memperbaiki produktivitas lahan sawah tadah
hujan. Startegi itu dapat kita lakukan melalui pendekatan metode Pengelolaan Tanaman
Terpadu (PTT) Padi sawah tadah hujan spesifik lokasi, didalammya terdapat komponen-
komponen teknologi yang terintegrasi, sehingga mampu meningkatkan produktivitas padi.
5.3 Analisis Hasil
5.3.1 Biaya, Penerimaan dan Pendapatan
a) Biaya usahatani
1) Biaya yang dibayarkan, terdiri dari : harga pembelian bibit, pupuk, obat-obatan, upah
tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga, pajak, dan sewa lahan.
2) Biaya yang diperhitungkan, terdiri dari : pemakaian tenaga kerja dalam keluarga,
biaya pupuk kandang, bunga modal sendiri, sewalahan milik sendiri dan biaya
penyusutan alat. Biaya tenaga kerja dihitung dengan mengalikan jumlah tenaga kerja
dengan upah yang diterapkan pada waktu penelitian. Biaya pupuk kandang diperoleh
dengan perkalian dari jumlah pupuk kandang yang digunakan per kilogram dengan
harga pupuk kandang per kilogram. Bunga modal merupakan modal yang
diinvestasikan dalam membudidayakan tanaman mulai dari awal budidaya sampai
akhir yang dihitung dalam Rp/MT. Sewa lahan diperoleh dengan cara mengalikan
harga sewa lahan yang berlaku di daerah penelitian dengan luas lahan masing-masing
petani. Biaya penyusutan diperoleh dengan cara harga peralatan dikurangi dengan
persen penyusutan dikali dengan harga peralatan yang lalu dibagi dengan umur
ekonomis.
b) Penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara jumlah produksi dengan harga jual.
Penerimaan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut :
TR = Py ×Y
Keterangan :
TR = total penerimaan (Rp/Ha/MT)
18
Py = harga jual bawang putih (Rp/Kg)
Y = Jumlah produksi bawang putih (Rp/Ha/MT)
c) Pendapatan
Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan total petani dari usahataninya dengan
pengeluaran tunai petani dalam pengelolaan usahatani selama musim tanam. Pendapatan
usahatani dapat dirumuskan dengan:
Pd = TR – TC
Keterangan :
Pd = pendapatan usahatani (Rp/Ha/MT)
TR = total penerimaan (Rp/Ha/MT)
TC = biaya total (Rp/Ha/MT)
5.3.2 Produktifitas lahan dan tenaga kerja
Tenaga kerja adalah salah satu faktor produksi yang utama. Dalam usahatani kedudukan si
petani dalam usahatani sangat penting. Petani dalam usaha tani tidak hanya menyumbangkan
tenaga saja, tapi lebih dari pada itu, Petani adalah pemimpin (manager) usaha tani, mengatur
organisasi produksi secara keseluruhan. Salah satu faktor yang memiliki tingkat produktifitas
adalah lahan garapan. Hal ini menyebabkan usaha pertanian yang mempunyai tanah sedikit di
daerah tertentu produksinya atau pendapatan yang diperoleh juga sedikit. Dapat dikatakan
pula bahwa luas tanah berpengaruh positif terhadap hasil atau produksi. Semakin luas lahan
sawah hasil yang diperoleh semakin tinggi. Begitu juga sebaliknya semakin sempit luas lahan
yang digunakan untuk berusahatani maka produksi yang dihasilkan juga sedikit.
5.3.3 Efisiensi ekonomi R/C dan B/C ratio
R/C merupakan singkatan dari Revenue Cost Ratio yang diketahui dengan melihat
perbandingan antara penerimaan dan biaya total. Secara matematik, hal ini dapat dituliskan
sebagai berikut (Soekartawi 1995) :
R/C = Total Penerimaan/Total Biaya
Analisis manfaat biaya (B/C ratio) adalah rasio atau perbandingan dari nilai ekuivalen
manfaat-manfaat terhadap nilai ekuivalen biaya-biaya. B/C ratio digunakan sebagai kriteria
keputusan dalam pemilihan alternatif proyek kepentingan umum (Public Works) dimana di
dalam penerapannya, manfaat proyek dinikmati masyarakat luas, biaya ditanggung pemilik
proyek dan dinyatakan dalam persamaan :
B/C = Total Keuntungan/ Total Biaya
5.3.4 Break event Point : penerimaan, produksi dan harga

19
Titik impas (break even point) adalah sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan
pendapatan adalah seimbang sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan.
Rumus yang digunakan untuk analisis Break Even Point ini terdiri dari dua macam sebagai
berikut:
1. Dasar Unit Berapa unit jumlah barang/jasa yang harus dihasilkan untuk mendapat titik
impas: BEP = FC /(P-VC)
2. Dasar Penjualan Berapa rupiah nilai penjualan yang harus diterima untuk mendapat titik
impas: FC/ (1 – (VC/P))* Penghitungan (1 – (VC/P)) biasa juga disebut dengan istilah
Margin

5.4 Pembahasan
5.4.1 Biaya Usahatani
Adapun biaya produksi pada usahatani terdiri dari biaya yang dibayarkan (riil) dan biaya
yang diperhitungkan (unriil). Perhitungan biaya usaha tani umumya terbagi menjadi dua
yakni biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan biaya yang tidak habis pakai
dalam sekali produksi atau dapat dikatakan biaya yang besar dan kecilnya tidak
mempengaruhi jumlah produksi dan akan menjadi semakin kecil besaran biaya tetap jika
jumlah produksi semakin banyak.
Biaya total merupakan penjumlahan dari seluruh biaya-biaya produksi yang terdiri dari biaya
yang dibayarkan dan biaya yang diperhitungkan. Tabel berikut menunjukkan besarnya biaya
rill dan unrill tergantung kepada luas lahan yang dimiliki oleh petani, semakin besar luas
lahanya maka semakin besar pula total biayanya, adapun rata-rata luas lahan dari 25
responden tersebut adalah hektar. Secara rata-rata, biaya riil yang dibayarkan oleh petani per
usahatani adalah sebesar Rp. 11.330.900. Sedangkan untuk biaya rata-rata yang
diperhitungkan (unriil) petani per usahatani Desa Bukit Peninjauan II adalah sebesar Rp.
14.180.894.

Tabel 5.4.1 Total Biaya Produksi Usahatani Padi Sawah Desa Bukit Peninjauan II
No. Nama Luas Total Biaya Produksi
Responden Lahan Riil Unriil
(Rp/MT) (Rp/Ha) (Rp/MT) (Rp/Ha)
1. Nurianto 0,5 Rp5.097.000 Rp10.194.000 Rp6.526.850 Rp13.053.700
2. Wito 0,5 Rp5.577.000 Rp11.154.000 Rp6.929.100 Rp13.858.200

20
3. Gustriono 0,25 Rp4.671.000 Rp18.684.000 Rp5.909.051 Rp23.636.205
4. Imam 0,75 Rp7.973.000 Rp10.630.666 Rp9.751.763 Rp13.002.351
5. Samsiati 1 Rp7.090.000 Rp7.090.000 Rp8.100.571,43 Rp8.100.571
6. Taruni 0,25 Rp4.104.500 Rp16.418.000 Rp4.922.400 Rp19.689.600
7. Pawit 1 Rp10.729.500 Rp10.729.500 Rp12.838.500 Rp12.838.500
8. Muslimin 0,25 Rp4.373.500 Rp17.494.000 Rp5.004.500 Rp20.018.000
9. Wahyu 0,5 Rp5.967.000 Rp11.934.000 Rp7.664.657 Rp15.329.314
10. Karman 0,75 Rp7.558.500 Rp10.078.000 Rp8.781.097 Rp11.708.129
11. Mirwanto 1 Rp6.227.000 Rp6.227.000 Rp9.436.409 Rp9.436.409
12. Gio 0,25 Rp3.919.000 Rp15.676.000 Rp4.758.009 Rp19.032.036
13. Dina 0,75 Rp6.874.500 Rp9.166.000 Rp8.295.753 Rp11.061.004
14. Supardi 0,5 Rp5.959.500 Rp11.919.000 Rp7.415.566 Rp14.831.133
15. Maryati 1 Rp8.939.500 Rp8.939.500 Rp11.427.869 Rp11.427.869
16. Kardi 1 Rp8.399.500 Rp8.399.500 Rp10.825.467 Rp10.825.467
17. Nopri 0,25 Rp3.599.000 Rp14.396.000 Rp4.762.303 Rp19.049.212
18. Paryati 0,5 Rp3.654.500 Rp7.309.000 Rp4.702.966 Rp9.405.933
19. Rian 1 Rp9.522.000 Rp9.522.000 Rp11.839.620 Rp11.839.620
20. Siti Cahya 0,5 Rp4.934.500 Rp9.869.000 Rp6.182.214 Rp12.364.428
21. Pariun 0,75 Rp6.886.000 Rp9.181.333 Rp8.792.944 Rp11.723.926
22. Jon Kenedi 0,25 Rp3.639.000 Rp14.556.000 Rp4.761.125 Rp19.044.500
23. Mamat 0,5 Rp4.904.500 Rp9.809.000 Rp6.615.700 Rp13.231.400
24. Wahudin 1 Rp8.911.000 Rp8.911.000 Rp11.240.069 Rp11.240.069
25. Marti 0,25 Rp3.746.500 Rp14.986.000 Rp4.693.694 Rp18.774.779
Total 15,25 Rp153.257.000 Rp283.272.500 Rp192.178.204 Rp354.522.362
Rata-rata 0,61 Rp6.130.280 Rp11.330.900 Rp7.687.128 Rp14.180.894
Sumber : Data Primer yang sudah diolah dari petani Desa Bukit Peninjauan II
5.4.2 Penerimaan
Pada penerimaan usahatani petani di Desa Bukit Peninjauan II, diperoleh dari nilai hasil
penjualan bahwa semakin besar luas lahan dan jumlah produk yang dihasilkan maka
penerimaannya semakin tinggi, dengan asumsi harganya tetap. Penerimaan masing-masing
petani responden cenderung tidak sama dikarenakan bergantung pada banyaknya faktor
produksi yang dikorbankan (lahan, bibit, pupuk, pestisida, tenaga kerja, dsb.). Para petani
tidak menggunakan penerimaan untuk hal-hal seperti iuran, selamatan ataupun bagi hasil, dll.
Sehingga penerimaan unriil responden sama dengan jumlah penerimaan riil/usahatani
21
(Rp/UT). Dan dari data dibawah didapatkan rata-rata penerimaan riil per usahataninya
sebesar Rp. 118.882.686,- sama halnya dengan penerimaan unriil.
Tabel 5.4.2 Tabel Total Penerimaan Usahatani Padi Sawah Desa Bukit Peninjauan II
No. Nama Luas Total Penerimaan
Responden Lahan Riil Unriil
(Rp/MT) (Rp/Ha) (Rp/MT) (Rp/Ha)
1. Nurianto 0,5 Rp47.210.000 Rp94.420.000 Rp47.210.000 Rp94.420.000
2. Wito 0,5 Rp44.650.000 Rp89.300.000 Rp44.650.000 Rp89.300.000
3. Gustriono 0,25 Rp19.235.000 Rp76.940.000 Rp19.235.000 Rp76.940.000
4. Imam 0,75 Rp68.200.000 Rp90.933.333 Rp68.200.000 Rp90.933.333
5. Samsiati 1 Rp168.200.000 Rp168.200.000 Rp168.200.000 Rp168.200.000
6. Taruni 0,25 Rp21.789.500 Rp87.158.000 Rp21.789.500 Rp87.158.000
7. Pawit 1 Rp143.680.000 Rp143.680.000 Rp143.680.000 Rp143.680.000
8. Muslimin 0,25 Rp21.705.000 Rp86.820.000 Rp21.705.000 Rp86.820.000
9. Wahyu 0,5 Rp69.700.000 Rp139.400.000 Rp69.700.000 Rp139.400.000
10. Karman 0,75 Rp81.950.000 Rp109.266.666 Rp81.950.000 Rp109.266.666
11. Mirwanto 1 Rp164.700.000 Rp164.700.000 Rp164.700.000 Rp164.700.000
12. Gio 0,25 Rp16.600.000 Rp66.400.000 Rp16.600.000 Rp66.400.000
13. Dina 0,75 Rp53.050.000 Rp70.733.333 Rp53.050.000 Rp70.733.333
14. Supardi 0,5 Rp58.150.000 Rp116.300.000 Rp58.150.000 Rp116.300.000
15. Maryati 1 Rp186.650.000 Rp186.650.000 Rp186.650.000 Rp186.650.000
16. Kardi 1 Rp194.540.000 Rp194.540.000 Rp194.540.000 Rp194.540.000
17. Nopri 0,25 Rp21.195.000 Rp84.780.000 Rp21.195.000 Rp84.780.000
18. Paryati 0,5 Rp42.000.000 Rp84.000.000 Rp42.000.000 Rp84.000.000
19. Rian 1 Rp141.850.000 Rp141.850.000 Rp141.850.000 Rp141.850.000
20. Siti Cahya 0,5 Rp69.590.000 Rp139.180.000 Rp69.590.000 Rp139.180.000
21. Pariun 0,75 Rp85.420.000 Rp113.893.333 Rp85.420.000 Rp113.893.333
22. Jon Kenedi 0,25 Rp30.157.500 Rp120.630.000 Rp30.157.500 Rp120.630.000
23. Mamat 0,5 Rp55.262.500 Rp110.525.000 Rp55.262.500 Rp110.525.000
24. Wahudin 1 Rp173.287.500 Rp173.287.500 Rp173.287.500 Rp173.287.500
25. Marti 0,25 Rp29.620.000 Rp118.480.000 Rp29.620.000 Rp118.480.000
Total 15,25 Rp2.008.392.000 Rp2.972.067.166 Rp2.008.392.000 Rp2.972.067.166
Rata-rata 0,61 Rp80.335.680 Rp118.882.686 Rp80.335.680,00 Rp118.882.686

22
5.4.3 Pendapatan
Pendapatan riil usahatani diperoleh dari : I = TR-TC yaitu penerimaan dikurang dengan total
biaya produksi. Pendapatan Unriil yang bernilai negatif disebabkan oleh adanya pendapatan
dari dalam (implisit) yang diperhitungkan. Menurut data dari tabel di bawah ini, adapun rata-
rata dari total pendapatan riil petani per usahataninya sebesar Rp. 137.938.312 dan sedangkan
rata-rata untuk total pendapatan unriil petani per usahataninya sebesar Rp. 104.701.792,-
5.4.3 Tabel Total Pendapatan Usahatani Padi Sawah Desa Bukit Peninjauan II
No. Nama Luas Total Pendapatan
Responden Lahan Riil Unriil
(Rp/MT) (Rp/Ha) (Rp/MT) (Rp/Ha)
1. Nurianto 0,5 Rp42.113.000 Rp37.016.000 Rp40.683.150 Rp81.366.300
2. Wito 0,5 Rp39.073.000 Rp167.446.000 Rp37.720.900 Rp75.441.800
3. Gustriono 0,25 Rp14.564.000 Rp551.000 Rp13.325.948 Rp53.303.794
4. Imam 0,75 Rp60.227.000 Rp262.169.333 Rp58.448.236 Rp77.930.981
5. Samsiati 1 Rp161.110.000 Rp329.310.000 Rp160.099.428 Rp160.099.428
6. Taruni 0,25 Rp17.685.000 Rp12.634.666 Rp16.867.100 Rp67.468.400
7. Pawit 1 Rp132.950.500 Rp132.950.500 Rp130.841.500 Rp130.841.500
8. Muslimin 0,25 Rp17.331.500 Rp69.326.000 Rp16.700.500 Rp66.802.000
9. Wahyu 0,5 Rp63.733.000 Rp80.999.333 Rp62.035.342 Rp124.070.685
10. Karman 0,75 Rp74.391.500 Rp153.822.000 Rp73.168.902 Rp97.558.536
11. Mirwanto 1 Rp158.473.000 Rp158.473.000 Rp155.263.599 Rp155.263.590
12. Gio 0,25 Rp12.681.000 Rp924.000 Rp11.841.990 Rp47.367.963
13. Dina 0,75 Rp46.175.500 Rp203.034.000 Rp44.754.246 Rp59.672.328
14. Supardi 0,5 Rp52.190.500 Rp104.381.000 Rp50.734.433 Rp101.468.866
15. Maryati 1 Rp177.710.500 Rp177.710.500 Rp175.222.130 Rp175.222.130
16. Kardi 1 Rp186.140.500 Rp380.680.500 Rp183.714.532 Rp183.714.532
17. Nopri 0,25 Rp17.596.000 Rp13.864.000 Rp16.432.696 Rp65.730.787
18. Paryati 0,5 Rp38.345.500 Rp160.691.000 Rp37.297.033 Rp74.594.066
19. Rian 1 Rp132.328.000 Rp274.178.000 Rp130.010.379 Rp130.010.379
20. Siti Cahya 0,5 Rp64.655.500 Rp59.721.000 Rp63.407.785 Rp126.815.571
21. Pariun 0,75 Rp78.534.000 Rp332.498.666 Rp76.627.055 Rp102.169.406
22. Jon Kenedi 0,25 Rp26.518.500 -Rp12.578.459 Rp25.396.375 Rp101.585.500

23
23. Mamat 0,5 Rp50.358.000 Rp80.785.262 Rp48.646.800 Rp97.293.600
24. Wahudin 1 Rp164.376.500 Rp164.376.500 Rp162.047.430 Rp162.047.430
25. Marti 0,25 Rp25.873.500 Rp103.494.000 Rp24.926.305 Rp99.705.220
Total 15,25 Rp1.855.135.000 Rp3.448.457.803 Rp1.816.213.795 Rp2.617.544.803
Rata-rata 0,61 Rp74.205.400 Rp137.938.312 Rp72.648.555 Rp104.701.792
Sumber : Data Primer yang sudah diolah dari petani Desa Bukit Peninjauan II
5.4.4 Produktivitas Lahan dan Tenaga Kerja
Tenaga kerja dalam hal ini ada dua macam yaitu tenaga kerja dalam keluarga ( TKDK ) dan
tenaga kerja luar keluarga ( TKLK ), penggunaan tenaga kerja disesuaikan dengan kebutuhan
dalam suatu tahapan usahatani serta melihat dari tingkat produktivitas yang dihasilkan.
Produktivitas tenaga kerja dalam hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya
adalah umur petani. Ketika tenaga kerja dalam keluarga rata-rata memiliki usia yang sudah
tidak produktif maka penggunaan tenaga kerja luar keluarga akan lebih efisien. Penggunaan
TKLK dalam usahatani padi sawah ini banyak dibutuhkan pada saat pemanenan, sedangkan
pada proses pemeliharaan umumnya petani melakukanya sendiri.
5.4.4 Tabel Total Biaya Tenaga Kerja Usahatani Padi Sawah Desa Bukit Peninjauan II
No Nama Luas Total Biaya Tenaga Kerja
. Responden Lahan TKDK TKLK
(Rp/MT) (Rp/Ha) (Rp/MT) (Rp/Ha)
1. Nurianto 0,5 1400000 2800000 450000 900000
2. Wito 0,5 1300000 2600000 930000 1860000
3. Gustriono 0,25 1200000 4800000 1290000 5160000
4. Imam 0,75 1750000 2333333 1255000 1673333,333
5. Samsiati 1 950000 950000 890000 890000
6. Taruni 0,25 790000 3160000 610000 2440000
7. Pawit 1 2075000 2075000 1530000 1530000
8. Muslimin 0,25 605000 2420000 975000 3900000
9. Wahyu 0,5 1665000 3330000 720000 1440000
10. Karman 0,75 1195000 1593333 870000 1160000
11. Mirwanto 1 3170000 3170000 710000 710000
12. Gio 0,25 805000 3220000 850000 3400000
13. Dina 0,75 1370000 1826667 1010000 1346666,667
14. Supardi 0,5 1405000 2810000 1865000 3730000

24
15. Maryati 1 2450000 2450000 1240000 1240000
16. Kardi 1 2390000 2390000 700000 700000
17. Nopri 0,25 1125000 4500000 670000 2680000
18. Paryati 0,5 1015000 2030000 580000 1160000
19. Rian 1 2280000 2280000 880000 880000
20. Siti Cahya 0,5 1210000 2420000 770000 1540000
21. Pariun 0,75 1870000 2493333 890000 1186666,667
22. Jon Kenedi 0,25 1090000 4360000 710000 2840000
23. Mamat 0,5 1680000 3360000 600000 1200000
24. Wahudin 1 2280000 2280000 730000 730000
25. Marti 0,25 910000 3640000 680000 2720000
Total 15,25 37980000 69291667 22405000 47016666,67
Rata-rata 0,61 1519200 2771667 896200 1880666,667
Sumber : Data Primer yang sudah diolah dari petani Desa Bukit Peninjauan II
Untuk tenaga kerja yang diperlukan juga dipengaruhi berbagai faktor seperti luas lahan
dimana jika lahan yang dimiliki lumayan besar maka kebutuhan tenaga kerjanya juga
bertambah. Dengan bertambahnya tenaga kerja maka upah yang harus diberikan juga akan
bertambah. Rata-rata biaya upah yang dikeluarkan untuk tenaga kerja dalam keluarga sebesar
Rp. 15.192.200/usahataninya, sedangkan untuk tenaga kerja luar keluarga sebesar Rp.
896.200/usahataninya. Hal ini juga dipengaruhi oleh petani responden yang lebih memilih
untuk mengambil tenaga kerja dari pihak keluarga sendiri dengen mempertimbangkan banyak
faktor.
5.4.5 Efisiensi ekonomi R/C dan B/C ratio
Dalam melakukan analisis usahatani, analisis R/C ratio perlu dilakukan agar dapat
mengetahui untung atau ruginya suatu usahatani yang dikelola oleh petani sampel didaerah
praktikum. Jika R/C > 1 maka usahatani dikatakan untung, R/C < 1 dikatakan rugi dan R/C=1
usahatani dikatakan impas. B/C (Benefit/Cost) ratio adalah ukuran perbandingan antara
pendapatan dengan total biaya produksi. Jika B/C > 1 maka usaha layak dilaksanakan.
Sedangkan berdasarkan perhitungan B/C ratio yang menyatakan usahatani tersebut
layak/tidak menunjukan secara rata-rata nilainya < 1.
5.4.5 Tabel Efisiensi Ekonomi R/C dan B/C Usahatani Padi Sawah Desa Bukit Peninjauan II
N Nama Lua Efisiensi Usaha Tani
o. Respon s

25
den Lah R/C B/C
an

Riil Unriil Riil Unriil

(Rp/ (Rp/ (Rp/ (Rp/ (Rp/ (Rp/ (Rp/ (Rp/


MT/UT) MT/Ha) MT/UT) MT/Ha) MT/UT) MT/Ha) MT/UT) MT/Ha)

1. Nuriant
0,5 Rp9,26 Rp9,26 Rp7,23 Rp7,23 Rp8,26 Rp8,26 Rp6,23 Rp6,23
o
2. Wito 0,5 Rp8,01 Rp8,01 Rp6,44 Rp6,44 Rp7,01 Rp7,01 Rp5,44 Rp5,44
3. Gustrio
0,25 Rp4,12 Rp4,12 Rp3,26 Rp3,26 Rp3,12 Rp3,12 Rp2,26 Rp2,26
no
4. Imam 0,75 Rp8,55 Rp8,55 Rp6,99 Rp6,99 Rp7,55 Rp7,55 Rp5,99 Rp5,99
5. Samsiat
1 Rp23,72 Rp23,72 Rp20,76 Rp20,76 Rp22,72 Rp22,72 Rp19,76 Rp19,76
i
6. Taruni 0,25 Rp5,31 Rp5,31 Rp4,43 Rp4,43 Rp4,31 Rp4,31 Rp3,43 Rp3,43
7. Pawit 1 Rp13,39 Rp13,39 Rp11,19 Rp11,19 Rp12,39 Rp12,39 Rp10,19 Rp10,19
8. Muslim
0,25 Rp4,96 Rp4,96 Rp4,34 Rp4,34 Rp3,96 Rp3,96 Rp3,34 Rp3,34
in
9. Wahyu 0,5 Rp11,68 Rp11,68 Rp9,09 Rp9,09 Rp10,68 Rp10,68 Rp8,09 Rp8,09
10
Karman 0,75 Rp10,84 Rp10,84 Rp9,33 Rp9,33 Rp9,84 Rp9,84 Rp8,33 Rp8,33
.
11 Mirwan
1 Rp26,45 Rp26,45 Rp17,45 Rp17,45 Rp25,45 Rp25,45 Rp16,45 Rp16,45
. to
12
Gio 0,25 Rp4,24 Rp4,24 Rp3,49 Rp3,49 Rp3,24 Rp3,24 Rp2,49 Rp2,49
.
13
Dina 0,75 Rp7,72 Rp7,72 Rp6,39 Rp6,39 Rp6,72 Rp6,72 Rp5,39 Rp5,39
.
14
Supardi 0,5 Rp9,76 Rp9,76 Rp7,84 Rp7,84 Rp8,76 Rp8,76 Rp6,84 Rp6,84
.
15
Maryati 1 Rp20,88 Rp20,88 Rp16,33 Rp16,33 Rp19,88 Rp19,88 Rp15,33 Rp15,33
.
16
Kardi 1 Rp23,16 Rp23,16 Rp17,97 Rp17,97 Rp22,16 Rp22,16 Rp16,97 Rp16,97
.
17
Nopri 0,25 Rp5,89 Rp5,89 Rp4,45 Rp4,45 Rp4,89 Rp4,89 Rp3,45 Rp3,45
.
18
Paryati 0,5 Rp11,49 Rp11,49 Rp8,93 Rp8,93 Rp10,49 Rp10,49 Rp7,93 Rp7,93
.
19
Rian 1 Rp14,90 Rp14,90 Rp11,98 Rp11,98 Rp13,90 Rp13,90 Rp10,98 Rp10,98
.
20 Siti
0,5 Rp14,10 Rp14,10 Rp11,26 Rp11,26 Rp13,10 Rp13,10 Rp10,26 Rp10,26
. Cahya
21
Pariun 0,75 Rp12,40 Rp12,40 Rp9,71 Rp9,71 Rp11,40 Rp11,40 Rp8,71 Rp8,71
.

26
22 Jon
0,25 Rp8,29 Rp8,29 Rp6,33 Rp6,33 Rp7,29 Rp7,29 Rp5,33 Rp5,33
. Kenedi
23
Mamat 0,5 Rp11,27 Rp11,27 Rp8,35 Rp8,35 Rp10,27 Rp10,27 Rp7,35 Rp7,35
.
24 Wahudi
1 Rp19,45 Rp19,45 Rp15,42 Rp15,42 Rp18,45 Rp18,45 Rp14,42 Rp14,42
. n
25
Marti 0,25 Rp7,91 Rp7,91 Rp6,31 Rp6,31 Rp6,91 Rp6,91 Rp5,31 Rp5,31
.
Total 15,2 Rp297,7 Rp297,7 Rp235,3 Rp235,3 Rp272,7 Rp272,7 Rp210,3 Rp210,3
5 4 4 0 0 4 4 0 0
Rata-rata 0,61 Rp11,91 Rp11,91 Rp9,41 Rp9,41 Rp10,91 Rp10,91 Rp8,41 Rp8,41

Sumber : Data Primer yang sudah diolah dari petani Desa Bukit Peninjauan II
Berdasarkan perhitungan R/C ratio pada tabel 5.4.5 baik secara riil maupun unriil nilai R/C
rationya > 1, sehingga disimpulkan bahwa usahatani padi di Desa Bukit Peninjauan II
tersebut secara keseluruhan memberikan keuntungan. Sedangkan untuk perhitungan B/C ratio
yang dihasilkan dari data Desa Bukit Peninjauan II dapat dikatakan bahwa usahatani Padi
Sawah layak untuk diusahakan.

5.4.6 Break Event Point : Penerimaan, Produksi dan Harga


Titik impas (break even point) adalah sebuah titik dimana biaya atau pengeluaran dan
pendapatan adalah seimbang sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan.
5.4.6 Tabel Break Event Point Usahatani Padi Sawah Desa Bukit Peninjauan II
No Nama Luas Total Produksi
. Responden Lahan
Gabah Kering Gabah Kering Giling Beras Dijual
Panen
Jumlah (kg) Jumlah (kg) Jumlah (kg)
1. Nurianto 0,5 2100 2000 1700
2. Wito 0,5 2000 1900 1600
3. Gustriono 0,25 850 800 700
4. Imam 0,75 3000 2800 2500
5. Samsiati 1 7000 6500 6450
6. Taruni 0,25 900 839 839
7. Pawit 1 6000 5560 5500
8. Muslimin 0,25 1000 810 810

27
9. Wahyu 0,5 3000 2800 2600
10. Karman 0,75 3500 3200 3100
11. Mirwanto 1 7000 6400 6300
12. Gio 0,25 750 700 600
13. Dina 0,75 2300 2100 2000
14. Supardi 0,5 2500 2300 2200
15. Maryati 1 8000 7300 7100
16. Kardi 1 8400 7400 7400
17. Nopri 0,25 900 810 810
18. Paryati 0,5 1750 1650 1600
19. Rian 1 6000 5500 5400
20. Siti Cahya 0,5 3000 2780 2600
21. Pariun 0,75 4000 3640 3000
22. Jon Kenedi 0,25 1500 1365 1000
23. Mamat 0,5 2500 2275 2000
24. Wahudin 1 7500 6825 6500
25. Marti 0,25 1300 1180 1100
Total 15,25 86750 127000 75409
Rata-rata 0,61 3470 5080 3016,36
Sumber : Data Primer yang sudah diolah dari petani Desa Bukit Peninjauan II

28
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis terhadap usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan
II, dapat disimpulkan bahwa:
1) Karakteristik petani di Desa Bukit Peninjauan II dapat dilihat dari umur petani,
pendidikan formal/non formal maupun pekerjaan utama dan sampinganya.
Karakteristik petani untuk 25 responden, dilihat dari pendidikan formalnya rata-rata
pendidikan yang ditempuh petani adalah 10 tahun yakni setara dengan lulusan SD-
SMP, dan para petani belum banyak mendapatkan pendidikan non formal seperti
contohnya adalah kegiatan penyuluhan untuk petani. Berdasarkan pekerjaanya,
dibedakan menjadi 2 yaitu pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan, 25 responden
tersebut secara keseluruhan memiliki pekerjaan utama sebagai petani. Sedangkan
Umur petani di wilayah praktikum secara rata -rata berumur 44 tahun, yang mana
artinya petani padi tersebut masih produktif untuk melakukan usahatani padi.
2) Pada daerah praktikum produksi padi yang dihasilkan oleh petani sangatlah beragam,
hal ini bisa di sebabkan oleh banyak faktor seperti luas lahan yang diusahakan, teknis
yang digunakan dalam berusahatani, dll. Adapun jumlah produksi per luas lahan yang
dihasilkan petani sampel adalah sebesar 2000 Kg/Luas Lahan dengan rata-rata
produksi sebesar 4.200 Kg/Luas Lahan. Untuk harga jual padi dan beras sendiri
berkisar dari Rp. 5.000,- s/d Rp. 15.000,- . Sehingga diperoleh penerimaan rill dan
penerimaan unrill untuk setiap luas lahan maupun per hektarnya. Secara rata-rata
penerimaan rill dan unrill per luas lahan usahatani adalah sebesar Rp80.335.680,
sedangkan penerimaan per hektarnya adalah Rp118.882.686,67
3) Pendapatan yang diterima oleh masing-masing petani diperoleh dari penerimaan yang
didapatkan oleh masing-masing petani dikurangi dengan total biaya. Pendapatan rill
dan unrill per luas lahan usahatani memiliki nilai yang positif artinya total biaya yang
dikeluarkan lebih kecil dengan penerimaanya sedangkan untuk pendapatan per hektar,
pendapatan rill secara rata-rata nilainya positif dan pendapatan unrill nya bernilai
positif meskipun angkanya berada pada angka nol.
4. Berdasarkan perhitungan R/C ratio, baik secara rill maupun unrill nilai R/C rationya >1,
sehingga disimpulkan bahwa usahatani padi tersebut memberikan keuntungan pada petani..
Sedangkan berdasarkan perhitungan B/C ratio yang menyatakan usahatani tersebut
29
layak/tidak menunjukan secara rata-rata nilainya >1 sehingga dapat disimpulkan bahwa
usahatanipadi yang dilakukan para petani di Desa Bukit Peninjauan II, Kecamatan Sukaraja,
Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu dapat dikatakan layak untuk diusahakan.

6.2 Saran
Usahatani padi merupakan usahatani yang membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk
dilakukan, sehingga perlu perhitungan yang sangat matang agar tidak menimbulkan kerugian
yang besar. Sebaiknya petani melakukan pendidikan tambahan secara berkala sehingga
management terhadap resiko usahatani padi dapat di hadapi. Selain itu, bantuan subsidi
terhadap usahatani padi juga perlu di pertimbangkan misalnya bantuan pupuk dan pestisida
sehingga petani akan terbantu dalam meminimalisir pengeluaran.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Kabupaten Seluma. 2020
Dumairy, 2004. Matematika Terapan Untuk Bisnis dan Ekonomi. BPFE faktor-faktor
produksi pada usaha kecil genteng : Kabupaten Temanggung, Sarjana IESP FE.

30
Noor, Isran. 2012. Buku Pintar Penyuluhan Pertanian. Jakarta: PERHIPTANI (Perhimpunan
Penyuluhan Pertanian Indonesia).
Setiawan. 2011. Analisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi pada usaha kecil
genteng di Desa Tegowanuh Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung, Sarjana
IESP FE UNDIP, Skripsi
Supardi, S, 2000. Pengantar Ilmu Ekonomi. Surakarta : Universitas Diponegoro.
Yunus. 2011. Kontribusi Usaha Budidaya Rumput Laut Terhadap Pendapatan Keluarga .
Jurnal Penelitian. Sulawesi Selatan: Universitas Hasanuddin.
Zainal. 2013. Budidaya Tanaman Padi. http://www.litbang.pertanian.go.id. Diakses pada 13
Juni 2022

31
LAMPIRAN
Lampiran 1. Identitas Responden Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

1
Lampiran 2. Biaya Benih Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

2
Lampiran 3. Biaya Pupuk Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

3
Lampiran 4. Biaya Pestisida Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

4
Lampiran 5. Tenaga Kerja Dalam Keluarga Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

Lam
pira
n 6.

Tenaga Kerja Luar Keluarga Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

5
6
7
8
9
10
Lampiran 7. Biaya Variabel Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

11
Lampiran 8. Biaya Peralatan Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

12
Lampiran 9. Biaya Tetap Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

13
Lampiran 10. Biaya Produksi Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

14
Lampiran 11. Penerimaan Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

15
Lampiran 12. Pendapatan Responden Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

16
Lampiran 13. Margin Kotor Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

17
Lampiran 14. Efisiensi Responden Usahatani Padi di Desa Bukit Peninjauan II

18
19
Lampiran 15. Dokumentasi

Wawancara Responden Wawancara Responden Dokumentasi Bersama Kepala Desa Desa Bukit
Peninjauan II

Wawancara Responden Wawancara Responden Wawancara Responden

20
Wawancara Responden Wawancara Responden Wawancara Responden

21

Anda mungkin juga menyukai