Anda di halaman 1dari 7

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iv
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Fokus Penelitian ......................................................................................... 4

i
C. Rumusan Masalah ...................................................................................... 4
D. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 4
E. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 4
F. Definisi Istilah ............................................................................................ 5
G. Penelitian Terdahulu .................................................................................. 7
H. Kerangka Teoretis .................................................................................... 10
I. Metode Penelitian .................................................................................... 23
J. Sistematika Penulisan .............................................................................. 28
K. Daftar Pustaka .......................................................................................... 29

ii
A. Latar Belakang

Lembaga keuangan syariah (LKS) merupakan suatu lembaga keuangan


yang prinsip operasionalnya berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah yang
terhindar dari unsur riba, gharar, maisir dan akad yang bathil.1 Baitul Maal dan
Baitul Tamwil adalah dua fungsi BMT dari segi konsep. Baitul Maal
mengisyaratkan bahwa BMT adalah wujud sosial keagamaan yang menerima zakat,
infaq, sedekah, serta titipan wakaf dan disalurkan kepada orang yang berhak sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Baitul Mal wa Tarnwil (BMT) adalah badan usaha
mandiri terpadu yang mengelola dana yang kegiatannya mengembangkan usaha
produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha kecil dan
menengah dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan
ekonominya.2

Keberadaan BMT menjadi petunjuk, terutama bagi kalangan menengah ke


bawah. Lembaga keuangan syariah saat ini merupakan fasilitas penunjang yang
lengkap bagi masyarakat. Pengertian BMT sendiri terbagi menjadi dua istilah, yaitu
baitul maal dan baitul tamwil. Baitul Maal terkait dengan kegiatan penerimaan
simpanan dana zakat, infaq, dan shadaqah, serta optimalisasi penyalurannya sesuai
dengan ketentuan dan amanat. Baitul Tamwil merupakan kegiatan pengembangan
usaha produktif dan penanaman modal untuk meningkatkan kesejahteraan
pengusaha mikro dan kecil melalui kegiatan pembiayaan.

Berdasarkan Undang-Undang Perbankan syariah UU No. 21 tahun 2008


pasal 25 : Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang disamakan dengan
itu berupa transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah, transaksi
sewa menyewa dalam bentuk ijarah dan sewa beli atau ijarah muntahiyah bit tamlik,
transaksi jual beli dalam bentuk utang piutang Murabahah, Salam dan Istisna,

1
Muhammad, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya (Depok: Rajawali Pers, 2020), h. 4.
2
Nur Dinah Fauziah, dkk., Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah (Malang: Literasi
Nusantara Abadi, 2019). h. 231

1
transaksi pinjam meminjam dalam bentuk qard,dan transaksi sewa menyewa jasa
dalam bentuk Ijarah.3

Dalam melaksanakan pembiayaan tentunya memiliki hambatan atau


permasalahan tersendiri dimana Pembiayaan bermasalah merupakan salah satu dari
resiko dalam suatu pelaksanaan pembiayaan. Risiko pembiayaan merupakan resiko
yang disebabkan oleh adanya counterparty dalam memenuhi kewajibannya. Dalam
bank syariah, resiko pembiayaan mencakup resiko terkait produk dan resiko terkait
dengan pembiayaan korporasi. 4 Pembiayaan bermasalah merupakan salah satu
resiko yang pasti dihadapi oleh setiap lembaga pembiayaan karena resiko ini sering
juga disebut dengan resiko pembiayaan.

Sebagai lembaga keuangan yang aktif menyalurkan pembiayaan pada


masyarakat sekitar yang membutuhkan modal usaha, BMT KUM3 Kabupaten
Sorong harus tetap survive dan terus melangkah maju agar kegiatan usaha
masyarakat sekitar dapat terus ditingkatkan. Salah satu masalah yang sering
dihadapi lembaga keuangan adalah kredit macet. Hal ini perlu diwaspadai dan
diminimalisasi agar tidak menghambat kinerja dan eksistensi lembaga keuangan.

BMT menjadi solusi bagi kalangan menengah ke bawah karena BMT


merupakan solusi bagi masyarakat dengan kegiatan pengembangan usaha produktif
dan penanaman modal untuk meningkatkan kesejahteraan pengusaha mikro dan
kecil melalui kegiatan pembiayaan dan simpanan yang dapat menjangkau kalangan
ekonomi menengah ke bawah yakni dengan model penyediaan jasa keuangan bagi
masyarakat yang memiliki usaha di sektor kecil. Prinsip BMT adalah
menggunakan prinsip syariah yang menjadi keunggulan tersendiri, sehingga banyak
masyarakat yang memilih mengajukan pembiayaan di BMT KUM3 Kabupaten
Sorong.

3
Andrianto dan M. Anang Firmansyah, Manajemen Bank Syariah (Implementansi Teori
Dan Praktek) (Surabaya: CV. Penerbit Qiara Media, 2019). h. 305-306
4
Adiwarman A. Karim. Bank Islam Analisis Fiqih Dan Keuangan (Jakarta:PT Raja
Geafindo Persada. 2010), h. 260, dikutip dalam Junaidi, Hukum Lembaga Pembiayaan (Indramayu:
CV. Adanu Abimata, 2022). h. 138

2
Dengan pembiayaan yang diberikan tentukan terdapat risiko yang dihadapi.
Masalah yang kursial dan sangat berpengaruh terhadap eksistensi kinerja lembaga
keuangan adalah yang berkaitan dengan masalah kredit macet. Masalah kredit
macet menjadi penting karena inti kegiatan lembaga ini adalah penyaluran dana
dalam bentuk pembiayaan dan merupakan sumber pendapatan terbesar bagi
lembaga keuangan di samping sumber-sumber pendapatan operasional lainnya.
Program Pembiayaan yang disalurkan BMT menjadi pilihan masyarakat sebagai
jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Alasannya karena
pendapatan tidak mencukupi dan kebutuhan yang meningkat, sehingga pengajuan
pembiayaan cenderung naik khususnya pada lembaga keuangan. Hal tersebut
mengakibatkan tren kredit bermasalah juga cenderung naik.

Berkembangnya dunia usaha membuat peran lembaga keuangan semakin


penting, salah satunya adalah lembaga pembiayaan yang memfasilitasi usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam meningkatkan usahanya. BMT (Baitul
Maal wat Tamwil) merupakan salah satu lembaga keuangan yang memfokuskan
diri pada pembiayaan UMKM. Dalam melakukan kegiatan pembiayaannya, BMT
harus mempertimbangkan tingkat resiko pembiayaan yang akan diambil dan
bagaimana hal tersebut akan mempengaruhi tingkat profitabilitas lembaga. BMT
memberi kebijakan untuk tetap wajib membayar namun sesuai dengan
kemampuannya. Jadi, jika banyak dari nasabah yang mengalami kesulitan dalam
membayar angsurannya dan BMT memberikan kebijakan untuk membayar
semampunya apakah tidak berpengaruh terhadap laba BMT itu sendiri, dimana
pembiayaan merupakan salah penghasilan dari BMT tersebut. Oleh karena itu,
dalam penelitian ini akan dibahas pengaruh tingkat risiko pembiayaan terhadap
tingkat profitabilitas pada BMT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah
tingkat risiko pembiayaan yang diambil oleh BMT mempengaruhi tingkat
profitabilitas BMT.

Dengan permasalahan tersebut penulis mengambil judul “Pengaruh


Tingkat Risiko Pembiayaan Terhadap Tingkat Profitabilitas di BMT KUM3
Kabupaten Sorong”

3
B. Fokus Penelitian
Sangat penting untuk mempersempit ruang lingkup ketika menghadapi materi
yang sangat luas. Maka dari itu, pembahasan akan berfokus pada tujuan yang akan
dicapai. Dalam penelitian ini penulis hanya akan membahas masalah yang berkaitan
dengan Pengaruh Tingkat Risiko Pembiayaan Terhadap Tingkat Profitabilitas di
BMT KUM3 Kabupaten Sorong
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus penelitian diatas, maka rumusan masalah yang akan
diteliti adalah:
1. Bagaimana pengaruh tingkat risiko pembiayaan Mudharobah terhadap
profitabilitas pada BMT KUM3 Kabupaten Sorong?
2. Bagaimana pengaruh tingkat risiko pembiayaan Murobahah terhadap
profitabilitas pada BMT KUM3 Kabupaten Sorong?
3. Bagaimana pengaruh tingkat risiko pembiayaan Mudharobah dan
Murobahah secara simultan terhadap profitabilitas pada BMT KUM3
Kabupaten Sorong?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan di atas, maka tujuan yang akan
dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tingkat risiko pembiayaan Mudharobah berpengaruh
terhadap tingkat profitabilitas pada BMT KUM3 Kabupaten Sorong
2. Untuk mengetahui tingkat risiko pembiayaan Murobahah berpengaruh
terhadap tingkat profitabilitas pada BMT KUM3 Kabupaten Sorong
3. Untuk mengetahui tingkat risiko pembiayaan Mudharobah dan Murobahah
secara simultan berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas pada BMT
KUM3 Kabupaten Sorong
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi peneliti

4
Bagi peneliti semoga penelitian ini dapat menambah pengetahuan,
wawasan, pengalaman, dan dapat mengembangkan ilmu peneliti untuk
kedepannya.
2. Bagi pihak praktisi Lembaga Keuangan.
Bagi pihak Lembaga Keuangan, dengan hasil penelitian ini peneliti ber
harap bisa memotivasi dan sebagai acuan evaluasi kedepannya agar dapat
memperkecil risiko yang terjadi di sebabkan oleh pembiyaan dan dapat terus
meningkatkan profitabilitas BMT KUM3 Kabupaten Sorong.
3. Bagi Akademis
Peneliti berharap agar penelitian yang telah dibuat ini mendapat menjadi
bekal serta refrensi yang dapat membantu dan sebagai bahan masukan,
maupun pembanding bagi setiap pembaca, selain itu peneliti juga berharap
penelitian ini dapat berguna bagi orang yang membacanya baik kalangan
umum, praktisi, maupun akademisi

Anda mungkin juga menyukai