Anda di halaman 1dari 116

Standar Profesi Dokter Spesialis Anak

1
Standar Profesi Dokter Spesialis Anak

A. Pendahuluan
Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan profesionalitas serta mutu profesi
dokter spesialis anak, maka perlu adanya suatu standar profesi dokter spesialis anak agar
dapat melaksanakan profesinya sebaik mungkin dan merata tingkat kompetensi dokter
spesialis anak tersebut sesuai dengan tingkat katagorinya.

B. Kebijakan
Standar Profesi Dokter Spesialis Anak ini merupakan batasan kemampuan (knowledge,
skill dan professional attitude) yang harus dikuasai oleh dokter spesialis anak maupun
dokter spesialis anak konsultan untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada
masyarakat secara mandiri.

Standar Profesi Dokter Spesialis Anak ini meliputi aspek legalitas sebagai individu dokter
spesialis anak atau konsultan, kompetensi dan etika kedokteran dalam bentuk beberapa
standar yang tidak terpisahkan yang terdiri dari Standar Kompetensi Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI), Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) IDAI yang
dibuat dalam satu buku terpisah, dan Standar Etika yang meliputi Kode Etik Kedokteran
Indonesia (KODEKI) dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Standar Profesi Dokter Spesialis Anak ini dalam bahasa Inggris disebut sebagai Good
Medical Pediatrics Practice.

2
C. Standar Profesi Dokter Spesialis Anak
1 Kualifikasi sebagai Dokter Spesialis Anak dan Konsultan

Dokter tersebut dinyatakan mempunyai kualifikasi sebagai dokter spesialis anak


atau konsultan bila memenuhi kriteria sebagai berikut:

i. Lulus dan mempunyai Sertifikat Ijazah Dokter Spesialis Anak atau


Dokter Spesialis Anak Konsultan dari institusi pendidikan dokter
spesialis anak dan konsultan yang terakreditasi dan diakui oleh
pemerintah.

ii. Mempunyai Sertifikat Kompetensi Dokter Spesialis Anak atau


Konsultan dari Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

iii. Mempunyai Sertifikat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran


Indonesia.

2 Praktik Dokter Spesialis Anak dan Konsultan

i. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) akan memberikan Surat


Rekomendasi untuk praktik sebagai dokter spesialis anak atau konsultan
bila memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Dokter tersebut adalah Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)


dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

b. Mempunyai kualifikasi sebagai dokter spesialis anak atau


konsultan sebagaimana 1 (i) sampai dengan 1 (iii) di atas.

c. Mempunyai Sertifikat Kompetensi sebagai dokter spesialis anak


atau konsultan yang masih berlaku dari Kolegium IDAI.

3
ii. Dokter tersebut dapat melakukan praktik sebagai dokter spesialis anak
atau konsultan harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Memenuhi seluruh persyaratan 2 (i) di atas.

b. Tidak mempunyai catatan pelanggaran etika profesi dari pihak


berwenang sesuai dengan perundangan dan peraturan yang
berlaku.

c. Mempunyai lisensi (Surat Izin Praktek) dari pihak yang


berwenang sesuai dengan perundangan dan peraturan yang
berlaku.

3 Pelaksanaan Praktik sebagai Dokter Spesialis Anak atau Konsultan

i. Dokter tersebut dalam melaksanakan praktik sebagai dokter spesialis


anak atau konsultan harus senantiasa berpedoman kepada:

a. Standar Profesi Dokter Spesialis Anak

b. Sumpah Dokter

c. Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)

d. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) yang


dikeluarkan dan disahkan oleh IDAI.

4
ii. Dokter tersebut dalam melaksanakan praktik sebagai dokter spesialis
anak atau konsultan mempunyai kewajiban untuk:

a. Mempunyai Surat Izin Praktik yang masih berlaku

b. Memasang papan nama praktik sesuai dengan ketentuan


peraturan yang berlaku

c. Menghormati hak hak pasien

d. Memberikan pelayanan sesuai dengan standar profesi dan


standar prosedur operasional

e. Membuat rekam medis sesuai dengan ketentuan peraturan yang


berlaku

f. Meminta persetujuan izin pasien/wali terhadap tindakan medis


yang berisiko tinggi dengan memberikan penjelasan secara
lengkap sebelumnya

g. Merujuk pasien kepada yang mempunyai keahlian atau


kemampuan yang lebih baik

h. Menyimpan rahasia kedokteran sesuai dengan ketentuan


peraturan yang berlaku

i. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan

j. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan


ilmu kesehatan anak

k. Menyelenggarakan kendali mutu dan kendali biaya

iii. Dokter tersebut dalam melaksanakan praktik sebagai dokter spesialis


anak atau konsultan mempunyai hak:

a. Memperoleh perlindungan hukum spanjang melaksanakan tugas


sesuai dengan Standar Profesi Dokter Spesialis Anak dan
standar prosedur operasional

b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien dan


atau keluarganya

c. Memperoleh imbalan jasa

5
4 Kompetensi Dokter Spesialis Anak dan Konsultan

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan profesionalitas serta mutu


profesi, maka perlu adanya suatu standar kompetensi dokter spesialis anak dan
dokter spesialis anak konsultan agar dapat melaksanakan profesinya sebaik
mungkin dengan pengetahuan dan ketrampilan yang mutakhir serta mengikuti
perkembangan ilmu kesehatan anak sesuai dengan tingkat katagorinya.

Ketentuan:

1. Sertifikat Kompetensi diberikan secara otomatis kepada Dokter Spesialis


Anak dan Konsultan yang baru lulus menyelesaikan pendidikan dari
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang diakui dan
terakreditasi IDAI serta Dokter Spesialis Anak dan Konsultan lulusan luar
negeri yang telah selesai menjalani masa adaptasi di Institusi (Pusat)
Pendidikan yang terakreditasi IDAI.

2. Sertifikat Kompetensi harus diperbaharui setiap 5 (lima) tahun untuk


menjaga dan meningkatkan mutu profesi yang bersangkutan.

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Anak

Untuk memperoleh Standar Kompetensi Dokter Spesialis Anak, seorang Dokter


Spesialis Anak harus memenuhi kriteria di bawah ini.

i. Kegiatan Ilmiah Profesi Dokter Spesialis Anak:

a. Mengikuti 3 (tiga) pelatihan wajib dan mendapatkan


sertifikat tanda lulus yang diselenggarakan oleh IDAI dalam
periode 5 (lima) tahun terakhir mengenai:

i. Kegawat daruratan pediatri

ii. Pertumbuhan dan perkembangan anak

iii. Salah satu pelatihan yang diselenggarakan oleh Unit


Kerja Koordinasi (UKK) IDAI.

b. Mengikuti berbagai kegiatan ilmiah kesehatan anak yang


diselenggarakan oleh institusi/lembaga yang terakreditasi dan
atau diakui oleh IDAI dalam periode periode 5 (lima) tahun
terakhir dalam bentuk:

i. Modul pendalaman

ii. KONIKA (Kongres Ilmu Kesehatan Anak)

6
iii. Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IDAI

iv. Lokakarya atau workshop

v. Pendidikan Tambahan Berkelanjutan

vi. Round table discussion atau diskusi panel

vii. Seminar

viii. Simposium

c. Ujian Tulis Kompetensi yang diselenggarakan oleh IDAI


dalam periode 5 (lima) tahun terakhir. Ujian Tulis tersebut
berbentuk pertanyaan pilihan ganda (MCQ) yang diambil dari:

i. Berbagai kegiatan ilmiah skala nasional: PIT dan


KONIKA

ii. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM


KA) IDAI

iii. Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)

iv. Undang Undang mengenai profesi kedokteran

d. Log Book (Buku Kinerja) Dokter Spesialis Anak mengenai


tindakan yang dilakukan selama periode 5 (lima) tahun terakhir
dalam hal:

i. Pemasangan: jarum infus (IVFD), kateter urin, pipa


nasogastrik, dan pipa endotarakial.

ii. Tindakan: pungsi (lumbal, pleura dan asites), uji


Mantoux, vena seksi dan intubasi.

iii. Pemberian obat secara : intramuskular, intravena,


subkutan, intrakutan, rektal dan nebuliser.

iv. Interpretasi hasil: EKG, analisis gas darah, elektrolit,


kimiawi darah, kultur dan resistensi, foto rontgen:
kepala, torak, abdomen, BNO/IVP dan tulang.

iii. Dinyatakan lulus dan mendapat Sertifikat Kompetensi Dokter Spesialis


Anak dari IDAI bila:

7
a. Mempunyai sertifikat tanda lulus mengikuti 3 (tiga) pelatihan
wajib

b. Nilai kumulatif Kegiatan Ilmiah ≥ 150

c. Nilai Ujian Tulis Kompetensi ≥ 70%.

d. Log Book (Buku Kinerja) Dokter Spesialis Anak memenuhi


persyaratan yang telah ditetapkan.

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Anak Konsultan


Untuk memperoleh Standar Kompetensi Dokter Spesialis Anak Konsultan,
seorang Dokter Spesialis Anak Konsultan harus memenuhi kriteria di bawah ini.

i. Kegiatan Ilmiah Profesi Dokter Spesialis Anak Konsultan:

a. Mengikuti 4 (empat) pelatihan wajib dan mendapatkan


sertifikat tanda lulus yang diselenggarakan oleh IDAI dalam
periode 5 (lima) tahun terakhir mengenai:

i. Kegawat daruratan pediatri

ii. Pertumbuhan dan perkembangan anak

iii. 2 (dua) yang diselenggarakan oleh Unit Kerja


Koordinasi (UKK) IDAI dalam bidang ilmu terkait.

b. Mengikuti berbagai kegiatan ilmiah kesehatan anak yang


diselenggarakan oleh institusi/lembaga yang terakreditasi dan
atau diakui oleh IDAI dalam periode periode 5 (lima) tahun
terakhir dalam bentuk:

i. Modul pendalaman

ii. KONIKA (Kongres Ilmu Kesehatan Anak)

iii. Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) IDAI

iv. Lokakarya atau workshop

v. Pendidikan Tambahan Berkelanjutan

vi. Round table discussion atau diskusi panel

vii. Seminar

8
viii. Simposium

c. Ujian Tulis Kompetensi yang diselenggarakan oleh IDAI


dalam periode 5 (lima) tahun terakhir. Ujian Tulis tersebut
berbentuk pertanyaan pilihan (MCQ) yang diambil dari:

i. Berbagai kegiatan ilmiah skala nasional: PIT dan


KONIKA

ii. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM


KA) IDAI

iii. Dari kegiatan ilmiah UKK bidang terkait

iv. Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)

v. Undang Undang mengenai profesi kedokteran

d. Log Book (Buku Kinerja) Dokter Spesialis Anak Konsultan


mengenai tindakan yang dilakukan selama periode 5 (lima)
tahun terakhir dalam hal:

i. Pemasangan: jarum infus (IVFD), kateter urin, pipa


nasogastrik, dan pipa endotarakial.

ii. Tindakan: pungsi (lumbal, pleura dan asites), uji


Mantoux, vena seksi dan intubasi.

iii. Pemberian obat secara : intramuskular, intravena,


subkutan, intrakutan, rektal dan nebuliser.

iv. Interpretasi hasil: EKG, analisis gas darah, elektrolit,


kimiawi darah, kultur dan resistensi, foto rontgen:
kepala, torak, abdomen, BNO/IVP dan tulang.

v. Tindakan lain yang ditetapkan oleh Unit Kerja


Koordinasi (UKK) IDAI sesuai bidang keahliannya.

ii. Dinyatakan lulus dan mendapat Sertifikat Kompetensi Dokter Spesialis


Anak Konsultan dari IDAI bila:

a. Mempunyai sertifikat tanda lulus mengikuti 4 (empat) pelatihan


wajib

b. Nilai kumulatif Kegiatan Ilmiah ≥ 150

9
c. Nilai Ujian Tulis Kompetensi ≥ 70%.

d. Log Book (Buku Kinerja) Dokter Spesialis Anak Konsultan


memenuhi persyaratan yang ditetapkan Unit Kerja Koordinasi
(UKK) IDAI sesuai bidang keahliannya.

5 Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak IDAI

Dalam melaksanakan praktek dan memberikan pelayanan sebagai dokter spesialis


anak atau konsultan akan berpedoman kepada Standar Pelayanan Medis
Kesehatan Anak (SPM KA) IDAI :

i. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) IDAI tersebut


disusun oleh seluruh Unit Kerja Koordinasi (UKK) sesuai dengan bidang
keilmuannya dan dikoordinasikan oleh Ketua II (Bidang Ilmiah) IDAI.

ii. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) IDAI mempunyai
masa berlakunya.

iii. Revisi Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) IDAI
dilakukan secara periodik dan sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan kesehatan anak.

iv. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) IDAI sebagai
salah satu referensi Ujian Kompetensi dokter spesialis anak atau
konsultan.

v. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) IDAI sebagai


acuan pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) di tempat
penyelenggara pelayanan kesehatan anak

vi. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) IDAI, Standar
Profesi Dokter Spesialis Anak dan Standar Prosedur Operasional (SPO)
dipergunakan sebagai acuan pembanding dalam pelaksanaan audit medis

10
6 Standar Etika Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Anak Konsultan

Dalam melaksanakan praktek dan memberikan pelayanan sebagai dokter spesialis


anak atau konsultan senantiasa akan berpedoman kepada Kode Etik Kedokteran
Indonesia (KODEKI) dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang terdiri dari :

1. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan


sumpah dokter.
2. Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya
sesuai dengan standar profesi tertinggi.
3. Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh
dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan
kemandirian profesi.
4. Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat
memuji diri.
5. Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis
maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien,
setelah memperoleh persetujuan pasien.
6. Setiap dokter harus senantiasa berhati hati dalam mengumumkan dan
menerapkan penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji
kebenarannya.
7. Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah
diperiksa sendiri kebenarannnya.
a. Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan
pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan
moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan
penghormatan atas martabat manusia.
b. Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan
pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan
sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter
atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan,
dalam menangani pasien.
c. Seorang dokter harus menghormati hak hak pasien, hak hak
sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga
kepercayaan pasien.
d. Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban
melindungi hidup makhluk insani.
8. Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan
kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan
kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif), baik fisik maupun psiko sosial, serta berusaha menjadi
pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar benarnya.
9. Setiap dokter harus bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan
dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.

11
10.Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala
ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia
tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas
persetujan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang
mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.
11.Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar
senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam
beribadat dan atau dalam masalah lainnya.
12.Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya
tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
13.Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan
mampu memberikannya.
14.Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri
ingin diperlakukan.
15.Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawatnya,
kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.
16.Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja
dengan baik.
17.Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan.

12
7 Audit Medis

Agar mutu pelayanan yang diberikan oleh dokter spesilias anak dan konsultan
tersebut dapat dijaga dan ditingkatkan, maka evaluasi dapat dilaksanakan dalam
bentuk audit medis di berbagai tingkat secara restropektif, konkurens maupun
prospektif dengan ketentuan:

i. Menentukan topik atau ruang lingkup (scope) yang akan dilakukan audit.

ii. Adanya Standar Prosedural Operasional (SPO) yang mngacu kepada


Standar Profesi IDAI dan Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak
(SPM KA) IDAI.

iii. Tujuan dan objektif audit jelas dan bersifat memperbaiki,


mempertahankan serta meningkatkan mutu pelayanan; tidak mencari
kesalahan seseorang (blame no one).

iv. Bila dianggap perlu hasil audit medis tersebut dapat menjadi dasar revisi
Standar Prosedural Operasional (SPO) di tempat penyelenggara
pelayanan kesehatan anak.

8 Program upaya perbaikan dan peningkatan mutu profesi Dokter Spesialis


Anak dan Konsultan

Dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan mutu kompetensi profesi


dokter spesialis anak dan konsultan, maka dokter tersebut harus berupaya
meningkatkan mutu profesinya melalui:

i. Kegiatan audit medis.

ii. Mengikuti berbagai pelatihan termasuk pelatihan wajib yang


diselenggarakan IDAI.

iii. Mengikuti berbagai kegiatan ilmiah berkesinambungan (Continuous


Professional Development/CPD) yang diselenggarakan oleh IDAI dan
atau institusi yang terakreditasi.

iv. Mengikuti Ujian Kompetensi diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak


Indonesia (IDAI).

13
Pedoman Pelaksanaan
Standar Profesi Dokter Spesialis Anak

14
Pedoman Pelaksanaan Standar Profesi Dokter Spesialis Anak

A. Pendahuluan
Pedoman Pelaksanaan Standar Profesi Dokter Spesialis Anak ini merupakan penjelasan
operasional dari Standar Profesi Dokter Spesialis Anak yang dapat dilaksanakan untuk
persiapan pemberian Sertifikat Kompetensi dan Surat Rekomendasi IDAI untuk praktik
sebagai dokter spesialis anak atau konsultan dalam rangka meningkatkan mutu profesi
dan kompetensi dengan tujuan agar dapat melaksanakan profesinya sebaik mungkin
sesuai dengan tingkat kategorinya.

B. Kebijakan
Pedoman Pelaksanaan Standar Profesi Dokter Spesialis Anak merupakan satu kesatuan
yang tidak terpisahkan dengan Standar Profesi Dokter Spesialis Anak.

C. Pedoman Pelaksanaan Standar Profesi Dokter Spesialis Anak


Pedoman Pelaksanaan Standar Profesi Dokter Spesialis Anak ini menjelaskan istilah dan
proses dalam rangka penerbitan Sertifikat Kompetensi dan Surat Rekomendasi IDAI
untuk praktik sebagai dokter spesialis anak atau konsultan ini terdiri dari langkah langkah
sebagai berikut:

1 Penjelasan Istilah

a. Pelatihan wajib:

Pelatihan wajib adalah pelatihan khusus yang diselenggarakan oleh IDAI


mengenai topik tertentu yang harus diikuti oleh setiap dokter spesialis
anak atau konsultan dan harus lulus ujian pelatihan tersebut dalam waktu
5 tahun. Pelatihan wajib tersebut tediri dari:

i. Untuk dokter spesialis anak:

1. Kedarurat gawatan pediatri

2. Pertumbuhan dan perkembangan anak

3. 1 (satu) pelatihan yang diselenggarakan oleh salah


satu Unit Kerja Koordinasi (UKK) IDAI.

15
ii. Untuk dokter spesialis anak konsultan:

1. Kedarurat gawatan pediatri

2. Pertumbuhan dan perkembangan anak

3. 2 (dua) pelatihan yang diselenggarakan oleh Unit


Kerja Koordinasi (UKK) IDAI sesuai dengan bidang
keilmuannya.

b. Kegiatan Ilmiah

Yang termasuk dalam kegiatan ilmiah untuk menilai standar kompetensi


dalah kegiatan ilmiah yang diselenggarakan oleh IDAI dan atau
organisasi/institusi yang terakreditasi dan diakui IDAI dalam periode 5
(lima) tahun terakhir.

i. KONIKA adalah Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak yang


diselenggarakan oleh PP IDAI.

ii. PIT adalah Pertemuan Ilmiah tingkat nasional mengenai lmu


kesehatan anak yang diselenggarakan oleh PP IDAI.

iii. Modul pendalaman adalah kegiatan ilmiah yang diselenggarakan


oleh Unit Kerja Koordinasi (UKK) IDAI untuk mendalami bidang
keilmuan tertentu di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis
Anak yang terakreditasi oleh IDAI. Lama pendalaman modul
adalah 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan atau sesuai kebutuhan dan
ketetapan Unit Kerja Koordinasi (UKK) yang bersangkutan.

iv. Lokakarya atau workshop adalah pertemuan untuk membahas suatu


pokok permasalahan disertai praktek dan diskusi.

v. Pendidikan Tambahan Berkelanjutan adalah pertemuan berbagai


pokok permasalahan yang dilaksanakan secara periodik.

vi. Round table discussion atau diskusi panel adalah pertemuan dan
diskusi untuk membahas suatu pokok.

vii. Seminar adalah pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu


pokok permasalahan atau topik dengan dipimpin oleh Ketua
Sidang.

viii. Simposium adalah pertemuan untuk membahas suatu pokok per-


masalahan.

16
2 Institusi penyelenggara kegiatan ilmiah yang diakui IDAI adalah:

a. Yang secara otomatis telah diakreditasi IDAI adalah:

 Semua Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang


terakreditasi IDAI.

 Unit Kerja Koordinasi (UKK) IDAI

 Badan atau organ PP IDAI

 IDAI Cabang

b. Organisasi/Institusi selain (i) harus memenuhi Akreditasi Standar


Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi IDAI (lihat
Standar, Pedoman dan Instrumen Penilaian Akreditasi Institusi
Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi IDAI).

3 Pembobotan nilai kegiatan ilmiah adalah sebagai berikut:

Kegiatan Peserta Pembicara Moderator

i Diselenggarakan oleh IDAI:


KONIKA 12 4 3
PIT 10 4 3
SINAS UKK 8 3 2
Simposium oleh organ PP 8 3 2
IDAI
IDAI Cabang 6 3 2
Institusi Pendidikan 6 3 2
Dokter Spesialis Anak
Pendalaman Modul:
 1 - 3 bulan 50 - -
 > 6 bulan 110 - -

ii Kegiatan diselenggarakan oleh bukan IDAI


Kongres 4 2 1
PIT 3 2 1
Seminar/simposium 2 2 1

17
4 Ujian Kompetensi

Ujian Tulis Kompetensi:

i. Materi Ujian Tulis dari PP IDAI berbentuk pertanyaan pilihan


ganda (MCQ) yang diambil dari kegiatan ilmiah skala nasional
(seperti PIT/KONIKA IDAI), Standar Pelayanan Medis Kesehatan
Anak (SPM KA) IDAI, Kode Etik Kedokteran Indonesia
(KODEKI), dan Undang Undang mengenai profesi kedokteran.

ii. Ujian Tulis diselenggarakan oleh IDAI Cabang dan bila perlu dapat
diselenggarakan oleh PP IDAI.

iii. Ujian Tulis tersebut dilakukan empat kali dalam setahun, yaitu
pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober.

5 Dinyatakan lulus dan mendapat Sertifikat Kompetensi IDAI

i. Untuk dokter spesialis anak bila:


a. Mempunyai sertifikat tanda lulus mengikuti 3 (tiga)
pelatihan wajib
b. Nilai kumulatif Kegiatan Ilmiah ≥ 150
c. Nilai Ujian Tulis Kompetensi ≥ 70%.
d. Log Book (Buku Kinerja) memenuhi persyaratan.

ii. Untuk dokter spesialis anak konsultan bila:


a. Mempunyai sertifikat tanda lulus mengikuti 4 (empat)
pelatihan wajib
b. Nilai kumulatif Kegiatan Ilmiah ≥ 150
c. Nilai Ujian Tulis Kompetensi ≥ 70%.
d. Log Book (Buku Kinerja) memenuhi persyaratan.

18
6 Proses Penerbitan Surat Rekomendasi IDAI

Untuk Dokter Spesialis Anak dan Konsultan baru lulus dan belum
mempunyai Surat Izin Praktek:

a Mengisi Formulir Permohonan menjadi anggota IDAI dengan


menyertakan bukti sebagai berikut:

i Kartu Tanda Anggota Ikatan Dokter Indonesia (KTA IDI).

ii Sertifikat Ijazah dari institusi pendidikan dokter spesialis anak


terakreditasi.

iii Sertifikat Kompetensi sebagai dokter spesialis anak atau konsultan


dari Kolegium IDAI.

iv Surat Tanda Registrasi (STR) dai Konsil Kedokteran Indonesia


(KKI).

v Surat Pengantar dari IDI Cabang setempat.

b Mengisi Formulir Permohonan Surat Rekomendasi IDAI di IDAI Cabang.

c Menanda tangani surat persetujuan akan melaksanakan praktik sebagai


dokter spesialis anak atau konsultan harus senantiasa berpedoman kepada:

i Standar Profesi Dokter Spesialis Anak.

ii Sumpah Dokter.

iii Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).

iv Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) yang


dikeluarkan dan disahkan oleh IDAI.

Untuk Dokter Spesialis Anak dan Konsultan yang belum mempunyai


Surat Izin Praktek:

a Mengisi Formulir Permohonan Surat Rekomendasi IDAI di IDAI Cabang


dengan menyertakan bukti sebagai berikut:

i Kartu Tanda Anggota IDI dan IDAI.

ii Surat Penugasan (SP)/ Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil


Kedokteran Indonesia (KKI).

19
iii Sertifikat Kompetensi sebagai dokter spesialis anak atau konsultan
yang masih berlaku dari IDAI.

iv Surat Keterangan tidak pernah melakukan pelanggaran etika profesi


dari pihak berwenang sesuai dengan perundangan dan peraturan
yang berlaku.

b Menanda tangani surat persetujuan akan melaksanakan praktik sebagai


dokter spesialis anak atau konsultan harus senantiasa berpedoman kepada:

i Standar Profesi Dokter Spesialis Anak.

ii Sumpah Dokter.

iii Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).

iv Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) yang


dikeluarkan dan disahkan oleh IDAI.

Untuk Dokter Spesialis Anak dan Konsultan yang akan memperpanjang


Surat Izin Praktek:

a Mengisi Formulir Permohonan Surat Rekomendasi IDAI di IDAI Cabang


dengan menyertakan bukti sebagai berikut:

i Kartu Tanda Anggota IDI dan IDAI.

ii Surat Penugasan (SP)/ Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil


Kedokteran Indonesia (KKI).

iii Surat Izin Praktek (SIP) lama yang masih berlaku.

iv Sertifikat Kompetensi sebagai dokter spesialis anak atau konsultan


yang masih berlaku dari IDAI.

v Surat Keterangan tidak pernah melakukan pelanggaran etika profesi


dari pihak berwenang sesuai dengan perundangan dan peraturan
yang berlaku.

b Menanda tangani surat persetujuan akan melaksanakan praktik sebagai


dokter spesialis anak atau konsultan harus senantiasa berpedoman kepada:

i Standar Profesi Dokter Spesialis Anak.

ii Sumpah Dokter.

20
iii Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).

iv Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak (SPM KA) yang


dikeluarkan dan disahkan oleh IDAI

Penelitian Berkas dan Penerbitan Surat Rekomendasi IDAI.

i. Sekretariat IDAI Cabang meneliti seluruh berkas dan Surat Permohonan


dengan menggunakan Formulir sebagaimana Lampiran 1, 2 dan 3.

ii. Bila telah memenuhi persyaratan (i) di tas, maka IDAI Cabang dapat
menerbitkan Surat Rekomendasi.

7 Peningkatan mutu profesi Dokter Spesialis Anak dan Konsultan.

Dalam rangka meningkatkan mutu profesi dokter spesialis anak dan konsultan,
maka dokter tersebut harus berupaya meningkatkan mutu profesinya melalui:

a Kegiatan audit medis.

b Mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh IDAI.

c Mengikuti berbagai kegiatan ilmiah dalam bentuk Continuous


Professional Development (CPD) yang diselenggarakan oleh IDAI dan
atau institusi/lembaga/ organisasi yang terakreditasi dan diakui IDAI.

d Mengikuti Ujian Kompetensi yang diselenggarakan oleh IDAI.

21
Lampiran 1. Check List Penelitian kelengkapan berkas untuk Penerbitan Surat
Rekomendasi IDAI Cabang bagi Dokter Spesialis Anak baru lulus.

Ada Tidak
1 Kartu Tanda Anggota Ikatan Dokter Indonesia (KTA IDI)

2 Sertifikat Ijazah dari institutusi pendidikan dokter spesialis


anak terakreditasi.

3 Sertifikat Kompetensi sebagai dokter spesialis


anak/konsultan dari Kolegium IDAI.

4 Surat Tanda Registrasi (STR) yang dari Konsil Kedokteran


Indonesia (KKI).

5 Menanda tangani surat persetujuan akan melaksanakan


praktik sebagai dokter spesialis anak (konsultan) harus
senantiasa berpedoman kepada Standar Profesi Dokter
Spesialis Anak, Sumpah Dokter, KODEKI, dan SPM KA.

6 Surat Pengantar dari IDI Cabang setempat.

Kesimpulan: Dapat/Tidak* dapat diberikan Surat Rekomendasi IDAI.

Harus melengkapi: ..................................................................... .....................


..................................................................... .....................
..................................................................... .....................

Ketua IDAI Cabang ................................

...........................................................

22
Lampiran 2. Check List Penelitian kelengkapan berkas untuk penerbitan Surat
Rekomendasi IDAI bagi Dokter Spesialis Anak/Konsultan yang belum mempunyai SIP:

Ada Tidak
1 Kartu Tanda Anggota IDI dan IDAI.

2 Surat Penugasan (SP)/Surat Tanda Registrasi (STR) dari


Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

3 Sertifikat Kompetensi sebagai dokter spesialis


anak/konsultan yang masih berlaku dari IDAI.

4 Surat Keterangan tidak pernah melakukan pelanggaran


etika profesi dari pihak berwenang sesuai dengan
perundangan dan peraturan yang berlaku.

5 Menanda tangani surat persetujuan akan melaksanakan


praktik sebagai dokter spesialis anak (konsultan) harus
senantiasa berpedoman kepada Standar Profesi Dokter
Spesialis Anak, Sumpah Dokter, KODEKI, dan SPM KA.

Kesimpulan: Dapat/Tidak* dapat diberikan Surat Rekomendasi IDAI.

Harus melengkapi: ..................................................................... .....................


..................................................................... .....................
..................................................................... .....................

Ketua IDAI Cabang ....................

.....................................................

23
Lampiran 3. Check List Penelitian kelengkapan berkas untuk penerbitan Surat
Rekomendasi IDAI Cabang bagi Dokter Spesialis Anak/ Konsultan yang akan
memperpanjang SIP:

Ada Tidak
1 Kartu Tanda Anggota IDI dan IDAI.

2 Sertifikat Kompetensi sebagai dokter spesialis


anak/konsultan yang masih berlaku dari IDAI.

3 Surat Lisensi (SIP dan SPTP) yang masih berlaku.

4 Surat Keterangan tidak pernah melakukan pelanggaran


etika profesi dari pihak berwenang sesuai dengan
perundangan dan peraturan yang berlaku.

5 Menanda tangani surat persetujuan akan melaksanakan


praktik sebagai dokter spesialis anak (konsultan) harus
senantiasa berpedoman kepada Standar Profesi Dokter
Spesialis Anak, Sumpah Dokter, KODEKI, dan SPM KA.

Kesimpulan: Dapat/Tidak* dapat diberikan Surat Rekomendasi IDAI.

Harus melengkapi: ..................................................................... .....................


..................................................................... .....................
..................................................................... .....................

Ketua IDAI Cabang ....................

.....................................................

24
Standar Penyelenggara
Kegiatan Pengembangan Profesi
(Continuous Profesional Development)
IDAI

25
Standar Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
(Continuous Professional Development/CPD)

A. Pendahuluan
Dalam rangka meningkatkan profesionalitas dan kompetensi serta mutu profesi dokter
spesialis anak, maka dokter spesialis tersebut perlu meningkatkan kemampuan
kompetensinya melalui berbagai kegiatan ilmiah yang diselenggarakan oleh insttusi,
lembaga maupun organisasi profesi yang terakreditasi dan diakui oleh IDAI. Oleh
karena itu perlu ada Standar Penyelenggara Kegiatan Pengembanagn Profesi agar dapat
memenuhi persyaratan standar kompetensi dan profesi untuk mendapatkan lisensi praktik
sebagai dokter spesialis anak.

B. Kebijakan
Standar Penyelenggara Kegiatan Ilmiah Berkelanjutan untuk Dokter Spesialis Anak ini
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pedoman Penilaian Akreditasi
Penyelenggara Kegiatan Pengembanagn Profesi untuk Dokter Spesialis Anak

C. Standar Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi

1. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut mempunyai:

i. Struktur organisasi secara tertulis dan disahkan oleh IDAI


(Pengurus Pusat IDAI dan atau Pengurus Cabang sesuai dengan
tingkat objektif kegiatan ilmiah tersebut).

ii. Penjelasan secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang dan


tanggung jawab setiap unit dan individu dalam
institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan
Pengembangan Profesi tersebut dalam hal penyelenggaraan
kegiatan ilmiah tersebut dan disahkan oleh IDAI (Pengurus
Pusat/Cabang).

2. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut mengadakan kegiatan ilmiah dalam bentuk yang sesuai
dengan salah satu dari klausal dalam Standar Kompetensi Dokter
Spesialis Anak

3. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut memberikan penjelasan tertulis objektif dan hasil yang
ingin dicapai dari kegiatan tersebut.

26
4. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan
Profesi tersebut memberikan penjelasan tertulis daftar acara kegiatan
ilmiah yang terdiri dari judul/topik, alokasi waktu, nama pembicara dan
moderator kegiatan tersebut.

5. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut mempunyai dokumentasi kualifikasi dan riwayat
hidup/resume setiap pembicara/pelatih serta makalah yang ditulis sesuai
dengan kaidah ilmiah yang berlaku.

6. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut mengadakan kegiatan ilmiah dengan tema yang sesuai
dengan unsur unsur yang terkandung dalam Standar Pelayanan Medik
Kesehatan Anak (SPM KA) atau Unit Kerja Koordinasi (UKK)/Unit Kerja
(UK) atau Satuan Tugas IDAI, serta sesuai dengan Kode Etik Kedokteran
dan tidak bertentangan dengan norma norma yang berlaku di masyarakat.

7. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut menyediakan sarana kegiatan ilmiah termasuk identitas
peserta, panitia, pembicara/pelatih, alat tulis, audiovisual dan makalah
yang disajikan serta lembar evaluasi.

8. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut menerbitkan Sertifikat Partisipasi dan atau Sertifikat
Tanda Lulus dengan bobot, nomor dan tanggal Surat Keputusan SKP IDI
(PB IDI atau IDI Wilayah sesuai dengan peraturan yang berlaku).

9. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut memberikan kuesioner kepada peserta sebagai umpan
balik (feedback) mengenai penyelenggaraan kegiatan ilmiah yang terdiri
dari: pemberitahuan/pengumuman kegiatan ilmiah, pendaftaran, biaya,
tema/topik/judul, nara sumber, makalah, fasilitas dan saran saran.

10. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan


Profesi tersebut mempunyai program upaya perbaikan dan peningkatan
mutu penyelenggaraan kegiatan ilmiah berkelanjutan.

27
Pedoman Penilaian Akreditasi
Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi

28
Pedoman Penilaian Akreditasi
Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi

A. Pendahuluan
Pedoman Penilaian Akreditasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi ini
merupakan penjelasan operasional dari Standar Penyelenggara Kegiatan Pengembangan
Profesi yang dapat dilaksanakan untuk persiapan akreditasi (self assessment) dari pihak
yang akan dinilai (institusi/lembaga/organisasi) penyelenggara dan surveyor dari IDAI
serta pada waktu proses akreditasi oleh surveyor dari IDAI.

B. Kebijakan
Pedoman Penilaian Akreditasi untuk Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
ini merupakan ini satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Standar Penyelenggara
Kegiatan Pengembangan Profesi untuk Dokter Spesialis Anak.

C. Penilaian Standar/Akreditasi
Proses Penilaian Akreditasi untuk Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi ini
terdiri dari langkah langkah sebagai berikut:

1. Permohonan untuk penilaian dari institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara


Kegiatan Kegiatan Pengembangan Profesi kepada PP IDAI.

2. PP IDAI akan mengirimkan instrumen penilaian yakni Standar Penyelenggara


Kegiatan Pengembangan Profesi untuk Dokter Spesialis Anak dan Pedoman
Penilaian Akreditasi untuk Penyelenggara Kegiatan Kegiatan Pengembangan
Profesi sebagai persiapan penilaian (self assessment) bagi
institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
dalam jangka waktu 3 hari kerja.

3. Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Kegiatan Pengembangan


Profesi mengirim isian intrumen penilaian (self assessment) kepada PP IDAI
untuk dipelajari dan menentukan surveyor serta waktu penilaian akreditasi.

4. PP IDAI mengirim surat pemberitahuan nama nama surveyor dan waktu penilaian
akreditasi kepada institusi/lembaga/ organisasi Penyelenggara Kegiatan Kegiatan
Pengembangan Profesi tersebut.

5. Surveyor melaksanakan penilaian akreditasi.

6. Surveyor memberikan laporan hasil penilaian akreditasi kepada PP IDAI.

29
7. Rapat surveyor dan PP IDAI untuk menentukan hasil akreditasi.

8. PP IDAI mengirim surat hasil penilaian akreditasi kepada


institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut dengan tembusan kepada Kolegium IDAI dan Ketua IDAI Cabang
setempat.

9. Kriteria dinyatakan lulus akreditasi adalah:


a. Hasil penilaian kumulatif ≥ 17
b. Tidak ada nilai 0 untuk setiap komponen yang dinilai

30
Instrumen Penilaian Akreditasi
Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi

31
Instrumen Penilaian Akreditasi
Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi

S1 Manajemen organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi untuk


Dokter Spesialis Anak.

S1 P1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi


tersebut mempunyai struktur organisasi.

Nilai: Kriteria:

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut tidak mempunyai struktur
organisasi secara tertulis.

2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mempunyai struktur
organisasi secara tertulis, akan tetapi belum/tidak disahkan
oleh IDAI (Pengurus Pusat/Cabang).

3 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mempunyai struktur
organisasi secara tertulis dan telah disahkan oleh IDAI
(Pengurus Pusat/Cabang).

32
S1 P2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut mempunyai penjelasan secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang
dan tanggung jawab setiap unit dan individu.

Nilai: Kriteria:
1 Tidak ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas,
wewenang dan tanggung jawab setiap unit dan individu.

2 Ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas,


wewenang dan tanggung jawab setiap unit dan individu, akan
tetapi belum/tidak disahkan oleh IDAI (Pengurus
Pusat/Cabang).
3 Ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas,
wewenang dan tanggung jawab setiap unit dan individu serta
telah disahkan oleh IDAI (Pengurus Pusat/Cabang).

33
S2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut mengadakan kegiatan ilmiah dalam bentuk yang sesuai dengan
Standar Profesi Dokter Spesialis Anak

Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mengadakan kegiatan ilmiah
dalam bentuk yang tidak sesuai dengan Standar Profesi
Dokter Spesialis Anak

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mengadakan kegiatan ilmiah
dalam bentuk yang sesuai dengan salah satu Standar Profesi,
akan tetapi tidak sesuai dengan tema dan objektif kegiatan
ilmiahnya.

2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mengadakan kegiatan ilmiah
dalam bentuk dan tema yang sesuai dengan salah satu dari
Standar Profesi, akan tetapi tidak sesuai dengan objektif
kegiatan ilmiahnya.

3 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mengadakan kegiatan ilmiah
dalam bentuk, tema dan objektifnya sesuai dengan salah satu
dari Standar Profesi.

34
S3 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut memberikan penjelasan tertulis objektif dan hasil yang ingin dicapai
dari kegiatan tersebut.

Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut tidak memberikan penjelasan
tertulis objektif dan hasil yang ingin dicapai dari kegiatan
tersebut.

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut memberikan penjelasan
tertulis akan objektif, akan tetapi tidak menjelaskan hasil
yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut.
2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan
Pengembangan Profesi tersebut memberikan penjelasan
tertulis objektif dan hasil yang ingin dicapai dari kegiatan
tersebut.

35
S4 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut memberikan penjelasan tertulis daftar acara kegiatan ilmiah yang
terdiri dari judul/topik, alokasi waktu, nama pembicara dan moderator kegiatan
tersebut.
Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut tidak memberikan penjelasan
tertulis daftar acara kegiatan ilmiah yang terdiri dari
judul/topik, alokasi waktu, nama pembicara dan moderator
kegiatan tersebut.

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut memberikan penjelasan
tertulis daftar acara kegiatan ilmiah yang terdiri dari
judul/topik, akan tetapi tidak ada alokasi waktu, nama
pembicara dan moderator kegiatan tersebut.
2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan
Pengembangan Profesi tersebut memberikan penjelasan
tertulis daftar acara kegiatan ilmiah yang terdiri dari
judul/topik, alokasi waktu, nama pembicara dan moderator
kegiatan tersebut.

36
S5 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut mempunyai dokumentasi kualifikasi dan riwayat hidup/resume setiap
pembicara/pelatih serta makalah yang ditulis sesuai dengan kaidah ilmiah yang
berlaku.

Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut tidak mempunyai
dokumentasi kualifikasi dan riwayat hidup/resume setiap
pembicara/pelatih serta makalah yang ditulis sesuai dengan
kaidah ilmiah yang berlaku.

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mempunyai dokumentasi
kualifikasi dan riwayat hidup/resume setiap pembicara/pelatih,
akan tetapi makalah tidak sesuai dengan kaidah ilmiah yang
berlaku.

2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mempunyai dokumentasi
kualifikasi dan riwayat hidup/resume setiap pembicara/pelatih
serta makalah yang ditulis sesuai dengan kaidah ilmiah yang
berlaku.

37
S6 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut mengadakan kegiatan ilmiah dengan tema yang sesuai dengan unsur
unsur yang terkandung dalam Standar Pelayanan Medik Kesehatan Anak (SPM
KA) atau Unit Kerja Koordinasi (UKK)/Unit Kerja (UK) atau Satuan Tugas
IDAI, serta sesuai dengan Kode Etik Kedokteran dan tidak bertentangan dengan
norma norma yang berlaku di masyarakat.

Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mengadakan kegiatan ilmiah
dengan tema yang tidak sesuai dengan unsur unsur yang
terkandung dalam Standar Pelayanan Medik Kesehatan Anak
(SPM KA) atau Unit Kerja Koordinasi (UKK)/Unit Kerja
(UK) atau Satuan Tugas IDAI, serta tidak sesuai dengan Kode
Etik Kedokteran dan bertentangan dengan norma norma yang
berlaku di masyarakat.

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mengadakan kegiatan ilmiah
dengan tema yang sesuai dengan unsur unsur yang terkandung
dalam Standar Pelayanan Medik Kesehatan Anak (SPM KA)
atau Unit Kerja Koordinasi (UKK)/Unit Kerja (UK) atau
Satuan Tugas IDAI, akan tetapi tidak sesuai dengan Kode
Etik Kedokteran dan bertentangan dengan norma norma yang
berlaku di masyarakat.

2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi mengadakan kegiatan ilmiah dengan
tema yang sesuai dengan unsur unsur yang terkandung dalam
Standar Pelayanan Medik Kesehatan Anak (SPM KA) atau
Unit Kerja Koordinasi (UKK)/Unit Kerja (UK) atau Satuan
Tugas IDAI, akan tetapi tidak sesuai dengan Kode Etik
Kedokteran dan bertentangan dengan norma norma yang
berlaku di masyarakat.

38
S7 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut menyediakan sarana kegiatan ilmiah termasuk identitas peserta,
panitia, pembicara/pelatih, alat tulis, audiovisual dan makalah yang disajikan
serta lembar evaluasi.

Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut tidak menyediakan sarana
kegiatan ilmiah termasuk identitas peserta, panitia,
pembicara/pelatih, alat tulis, audiovisual dan makalah yang
disajikan serta lembar evaluasi.

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut menyediakan sarana kegiatan
ilmiah termasuk identitas peserta, panitia, pembicara/pelatih,
alat tulis, audiovisual dan makalah yang disajikan, akan tetapi
tidak ada lembar evaluasi.

2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut menyediakan sarana kegiatan
ilmiah termasuk identitas peserta, panitia, pembicara/pelatih,
alat tulis, audiovisual dan makalah yang disajikan serta lembar
evaluasi.

39
S8 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut menerbitkan Sertifikat Partisipasi dan Sertifikat Tanda Lulus dengan
bobot, nomor dan tanggal Surat Keputusan SKP IDI (PB IDI atau IDI Wilayah
sesuai dengan peraturan yang berlaku).

Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut tidak menerbitkan Sertifikat
Partisipasi dan Sertifikat Tanda Lulus.

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut menerbitkan Sertifikat
Partisipasi akan tetapi tidak ada Sertifikat Tanda Lulus.

2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut menerbitkan Sertifikat
Partisipasi dan Sertifikat Tanda Lulus dengan bobot, nomor
dan tanggal Surat Keputusan SKP IDI (PB IDI atau IDI
Wilayah sesuai dengan peraturan yang berlaku).

40
S9 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut memberikan kuesioner kepada peserta sebagai umpan balik (feedback)
mengenai penyelenggaraan kegiatan ilmiah yang terdiri dari:
pemberitahuan/pengumuman kegiatan ilmiah, pendaftaran, biaya,
tema/topik/judul, nara sumber, makalah, fasilitas dan saran saran.

Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut tidak memberikan kuesioner
kepada peserta sebagai umpan balik (feedback) mengenai
penyelenggaraan kegiatan ilmiah yang terdiri dari:
pemberitahuan/pengumuman kegiatan ilmiah, pendaftaran,
biaya, tema/topik/judul, nara sumber, makalah, fasilitas dan
saran saran.

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut memberikan kuesioner
kepada peserta sebagai umpan balik (feedback) mengenai
penyelenggaraan kegiatan ilmiah akan tetapi tidak lengkap.

2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut memberikan kuesioner kepada
peserta sebagai umpan balik (feedback) mengenai
penyelenggaraan kegiatan ilmiah yang terdiri dari:
pemberitahuan/pengumuman kegiatan ilmiah, pendaftaran,
biaya, tema/topik/judul, nara sumber, makalah, fasilitas dan
saran saran.

41
S10 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan Pengembangan Profesi
tersebut mempunyai program upaya perbaikan dan peningkatan mutu
penyelenggaraan kegiatan ilmiah berkelanjutan.

Nilai: Kriteria:

0 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut tidak mempunyai program
upaya perbaikan dan peningkatan mutu penyelenggaraan
kegiatan ilmiah berkelanjutan.

1 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mempunyai program upaya
perbaikan dan peningkatan mutu penyelenggaraan kegiatan
ilmiah berkelanjutan akan tetapi tidak dilaksanakan.

2 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mempunyai program upaya
perbaikan dan peningkatan mutu penyelenggaraan kegiatan
ilmiah berkelanjutan serta telah dilaksanakan sebagian (tidak
seluruhnya).

3 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mempunyai program upaya
perbaikan dan peningkatan mutu penyelenggaraan kegiatan
ilmiah berkelanjutan dan telah melaksanakan seluruh program
tersebut.

4 Institusi/lembaga/organisasi Penyelenggara Kegiatan


Pengembangan Profesi tersebut mempunyai program upaya
perbaikan dan peningkatan mutu penyelenggaraan kegiatan
ilmiah berkelanjutan dan telah melaksanakan seluruh program
tersebut serta dilakukan audit.

42
Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak

43
STANDAR PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS ANAK

A. Pendahuluan
Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak ini merupakan salah satu upaya Kolegium
IDAI dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dokter spesialis anak dan
keseragaman sistem pendidikan dokter spesialis anak yang diadakan di berbagai Institusi
(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Indonesia.

B. Kebijakan
Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak ini merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dengan:

Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh
Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang disusun oleh berbagai Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Indonesia berdasarkan Kurikulum Pendidikan
Dokter Spesialis Anak dari Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

C. Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak

1. Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Indonesia hanya diselenggarakan oleh


Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang telah lulus penilaian
akreditasi dan harus mempunyai Sertifikat Akreditasi Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak dari Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

2. Proses Pendidikan Dokter Spesialis Anak harus berdasarkan Kurikulum


Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI).

3. Dalam menyelenggarakan Pendidikan Dokter Spesialis Anak, setiap Institusi


(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut harus sesuai:

44
a. Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak

b. Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak

4. Dalam menyelenggarakan Pendidikan Dokter Spesialis Anak, setiap Institusi


(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut harus mempunyai:

a. Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh


Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan disahkan
penggunaannya sebagai bahan acuan untuk membuat Panduan Pendidikan
Dokter Spesialis Anak di institusi tersebut oleh pimpinan institusi (Dekan
Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

b. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak secara tertulis dan disahkan


oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

c. Log Book (Buku Kinerja) Peserta Didik secara tertulis dan disahkan oleh
pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

d. Log Book (Buku Kinerja) Tenaga pendidik secara tertulis dan disahkan
oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

5. Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak disusun oleh Kolegium Ikatan


Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama dengan Ketua Bidang II (Ilmiah)
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serta melibatkan seluruh
Unit Kerja Koordinasi (UKK) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dikeluarkan
oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ditetapkan pada Kongres
Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) dan disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia
(KKI) sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

6. Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak menjelaskan secara umum dan


terdiri dari :

a. Pendahuluan

b. Tujuan umum dan khusus Pendidikan Dokter Spesialis Anak

c. Ciri utama Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak

d. Struktur Pendidikan: struktur dasar kurikulum dan beban studi serta pokok
bahasan materi pendidikan

e. Isi Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak: materi pendidikan,


prosedur pediatrik, buku ajar dan jurnal yang digunakan

45
f. Penerimaan calon peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak:
waktu, persyaratan pendaftran, alur pendaftaran, proses dan kriteria
penerimaan peserta program baru

g. Pelaksanaan Pendidikan Dokter Spesialis Anak: pola alur dan bentuk


kegiatan pelaksanaan pendidikan

h. Persyaratan Pusat Pendidikan: penyelenggara institusi, tenaga pendidik,


sarana dan prasarana serta dana.

i. Organisasi Penyelenggaraan

j. Manajemen institusi penyelenggara pendidikan dokter spesialis anak

k. Sistem evaluasi hasil belajar di tingkat institusi dan evaluasi nasional

l. Adaptasi dokter spesialis anak lulusan luar negeri

m. Predikat kelulusan, gelar dan ijazah

n. Penerapan kurikulum: petunjuk pembuatan buku Panduan Pendidikan


Dokter Spesialis Anak dan strategi penerapan kurikulum

7. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak di institusi tersebut harus


menjelaskan secara rinci dan kuantitatif dari hal 6 di atas dengan memperhatikan
kondisi setempat menyangkut :

a. Proses penerimaan dan persyaratan peserta didik,

b. Proses pendidikan untuk setiap jenjang peserta didik;

i. Modul dan materi yang harus ditempuh,

ii. Jangka waktu penyelesaian modul dan batas waktunya,

iii. Daftar referensi setiap modul dan materi

iv. Sarana pendidikan,

v. Proses penilaian, kriteria penilaian dan batas nilai/marka,

vi. Hak dan kewajiban peserta didik,

vii. Hak dan kewajiban tenaga pendidik,

46
viii. Proses pemberhentian peserta didik,

8. Kolegium IDAI, Ketua II (Bidang Ilmiah) PP IDAI dan Ketua Ketua Unit Kerja
Koordinasi (UKK) IDAI melaksanakan pertemuan rutin yang terjadwal untuk
tingkat masing masing sesuai fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawabnya
serta pertemuan rutin terpadu yang bersifat sinergis mengenai perkembangan
Kurikulum, Panduan Pendidikan, Log Book, Buku Ajar, proses implementasi
metodologi pendidikan dan Evaluasi Nasional.

9. Kolegium IDAI mempunyai program upaya perbaikan dan peningkatan mutu


mengenai Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak, Standar Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Anak, Pedoman Penilaian Akreditasi Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Anak, Instrumen Penilaian Akreditasi Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Anak, Buku Ajar dan Standar Kompetensi Dokter Spesialis
Anak.

10. Seluruh Unit Kerja Koordinasi (UKK) IDAI dikoordinasikan oleh Ketua II
(Bidang Ilmiah) PP IDAI mlalui pengurus pengurus UKK, mempunyai program
upaya perbaikan dan peningkatan mutu mengenai Buku Ajar, Standar Pelayanan
Medis Kesehatan Anak, dan Standar Kompetensi Dokter Spesialis Anak.

47
Standar
Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak

48
Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak

A. Pendahuluan
Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak ini merupakan salah satu
upaya Kolegium IDAI dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dokter spesialis
anak dan keseragaman sistem pendidikan dokter spesialis anak yang diadakan di berbagai
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Indonesia.

B. Kebijakan
Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak ini merupakan ini satu
kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pedoman Penilaian Akreditasi untuk Institusi
(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

C. Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak

1. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai:

a. Struktur organisasi secara tertulis dan disahkan oleh pimpinan institusi


(Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

b. Penjelasan secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang dan tanggung


jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak
tersebut dalam hal penyelenggaraan pendidikan dan disahkan oleh
pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

c. Dokumentasi kualifikasi dan lisensi profesi setiap staf pendidik sesuai


dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

d. Uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik dan disahkan oleh oleh
pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

2. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai Panduan


Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang telah disahkan pelaksanaannya oleh
pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/ Direktur Rumah Sakit) dimana:

49
a. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mengacu kepada
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh
Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

b. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan tentang


mekanisme proses rekrutmen dan kriteria penerimaan serta pemberhentian
peserta didik.

c. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan tentang


objektif setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut.

d. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan tentang


hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk setiap jenjang tingkat
pendidikan di institusi tersebut.

3. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai Log Book
bagi peserta didik yang telah disahkan pelaksanaannya oleh pimpinan institusi
(Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) tersebut serta:

a. Log Book tersebut mengacu kepada Panduan Pendidikan Dokter Spesialis


Anak di institusi tersebut.

b. Log Book tersebut mencerminkan penilaian kegiatan yang akan dinilai dari
peserta didik di institusi tersebut.

c. Log Book tersebut diimplementasikan secara kontinyu dan konsisten.

4. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana


sebagai berikut:

a. Perpustakaan dengan berbagai bentuk kompilasi (buku, jurnal, VCD, CD


dsb).

b. Teknologi informasi dan audio-visual

c. Tempat pertemuan ilmiah untuk seluruh staf dan peserta didik di institusi
tersebut.

d. Tempat diskusi kelompok setiap unit dalam institusi tersebut.

e. Peralatan penunjang diagnostik dan terapeutik yang dibutuhkan untuk


mencapai objektif Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

f. Media komunikasi antar staf Pendidik dan peserta didik.

50
5. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menyediakan staf
Pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta didik yang mempunyai
masalah.

6. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai kebijakan


tentang mekanisme pengambilan keputusan secara tertulis dan disahkan oleh
pimpinan (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

7. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana


dan tempat pengaduan peserta didik baik untuk hal akademis maupun non
akademis.

8. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut melaksanakan


pertemuan rutin tingkat unit dan institusi yang terjadwal mengenai perkembangan
pencapaian peserta didik dan sarana serta proses penyelenggaraan pendidikan
yang dilaksanakan di institusi tersebut.

9. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut memberikan umpan


balik (feedback) mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada peserta
didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang dana peserta didik
tersebut secara tertulis dan rutin.

10. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai program
upaya perbaikan dan peningkatan mutu Pendidikan Dokter Spesialis Anak di
tingkat unit maupun institusi.

51
Pedoman Penilaian Akreditasi
Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak

52
Pedoman Penilaian Akreditasi
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak

A. Pendahuluan

Pedoman Penilaian Akreditasi Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak ini
merupakan penjelasan operasional dari Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter
Spesialis Anak yang dapat dilaksanakan untuk persiapan akreditasi (self assessment) dari
pihak yang akan dinilai (institusi) dan surveyor dari Kolegium IDAI serta pada waktu
proses akreditasi oleh surveyor dari Kolegium IDAI.

B. Kebijakan
Pedoman Penilaian Akreditasi Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak ini
merupakan ini satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Standar Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

C. Penilaian Standar/Akreditasi
Proses Penilaian Akreditasi untuk Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak ini
terdiri dari langkah langkah sebagai berikut:

1. Permohonan untuk penilaian dari Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis


Anak kepada Kolegium IDAI (up. Ketua Komite Pengembangan dan Akreditasi
Kolegium IDAI).

2. Kolegium IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan Akreditasi Kolegium


IDAI) akan mengirimkan instrumen penilaian yakni Standar Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan Pedoman Penilaian Akreditasi untuk
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak sebagai persiapan penilaian
(self assessment) bagi Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak dalam
jangka waktu 1 (satu) minggu.

3. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak mengirim isian intrumen


penilaian (self assessment) kepada Kolegium IDAI (up. Ketua komite
Pengembangan dan Akreditasi Kolegium IDAI) untk dipelajari dan menentukan
surveyor serta waktu penilaian akreditasi.

53
4. Kolegium IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan Akreditasi Kolegium
IDAI) mengirim surat pemberitahuan nama nama surveyor dan waktu penilaian
akreditasi kepada Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut.

5. Surveyor melaksanakan penilaian akreditasi di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter


Spesialis Anak.

6. Surveyor memberkan laporan hasil penilaian akreditasi kepada Ketua Kolegium


IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan Akreditasi Kolegium IDAI).

7. Rapat surveyor dan Ketua Kolegium IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan
Akreditasi Kolegium IDAI) untuk menentukan hasil akreditasi.

8. Ketua Kolegium IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan Akreditasi


Kolegium IDAI) mengirim surat hasil penilaian akreditasi kepada Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak dengan tembusan kepada Ketua Umum PP
IDAI dan Ketua IDAI Cabang setempat.

9. Kriteria dinyatakan lulus akreditasi adalah:


a. Hasil penilaian kumulatif ≥ 60
b. Tidak ada nilai ≤ 2 dalam setiap komponen yang dinilai

54
LAMPIRAN : CONTOH SERTIFIKAT AKREDITASI

KOLEGIUM IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA


Nomor: ............................................

Sertifikat ini diberikan sebagai pengakuan bahwa Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter
Spesialis Anak tersebut di bawah telah memenuhi Standar Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak.

Nama Institusi : ......................................................................


Alamat : ......................................................................
Status Akreditasi: ......................................................................
Berlaku : ..............................s/d.....................................

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : ................
Ketua Kolegium IDAI;

...................................

55
Instrumen
Penilaian Akreditasi Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak

56
Instrumen Penilaian Akreditasi
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak

Standar 1: Manajemen Organisasi Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

S1 P1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai struktur


organisasi.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut tidak


mempunyai struktur organisasi secara tertulis

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai struktur organisasi secara tertulis, akan tetapi
belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai struktur organisasi secara tertulis dan telah disahkan oleh
pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai struktur organisasi secara tertulis dan telah disahkan oleh
pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit) serta seluruh staf pendidik dan peserta didik mengetahui dan
memahami struktur organisasi tersebut.

57
S1 P2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai
penjelasan secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab
setiap unit.

Nilai Kriteria:

1 Tidak ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas,


wewenang dan tanggung jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut.

2 Ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang


dan tanggung jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak tersebut, akan tetapi belum/tidak disahkan
oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

3 Ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang


dan tanggung jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak tersebut dan telah disahkan oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang


dan tanggung jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak tersebut dan telah disahkan oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta
seluruh staf pendidik dan peserta didik mengetahui dan memahami
penjelasan akan fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab setiap
unit tersebut.

58
S1 P3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai
dokumentasi kualifikasi dan lisensi profesi setiap staf pendidik sesuai dengan
peraturan dan perundangan yang berlaku.

Yang dimaksud dengan kualifikasi adalah Ijazah Spesialis 1 dan atau 2 yang
dikeluarkan dan telah dilakukan sertifikasi oleh pihak berwenang dan diakui oleh
pemerintah.

Sedangkan yang dimaksud dengan lisensi profesi adalah Surat Penugasan (SP)/
Surat Tanda Registrasi (STR), Surat Izin Praktek Tenaga Medis (SIPTM) dan
Surat Persetujuan Tempat Praktek (SPTP) di institusi/rumah sakit tersebut yang
dikeluarkan oleh pihak berwenang dan diakui oleh pemerintah serta masih
berlaku.

Nilai Kriteria:

1 Tidak ada dokumentasi kualifikasi dan lisensi profesi setiap staf


pendidik sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

2 Ada dokumentasi kualifikasi setiap staf pendidik akan tetapi


belum/tidak lengkap dokumentasi lisensi profesi setiap staf pendidik
sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku
3 Ada dokumentasi kualifikasi dan lisensi profesi setiap staf pendidik
sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku akan tetapi
belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Ada dokumentasi dan kualifikasi lisensi profesi setiap staf pendidik


sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku dan telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/
Direktur Rumah Sakit).

59
S1 P4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai uraian
tugas secara tertulis setiap staf pendidik.

Nilai Kriteria:

1 Tidak ada uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik dan
disahkan oleh oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

2 Ada uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik, akan tetapi
belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

3 Ada uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik dan telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Ada uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik dan telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik mengetahui dan memahami uraian tugas tersebut.

60
Standar 2: Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak

S2 P1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai Panduan


Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang mengacu kepada Kurikulum Pendidikan
Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI).

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut tidak


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak, akan tetapi
belum/tidak mengacu kepada Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan mengacu
kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),
akan tetapi belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan
Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan mengacu
kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI dan
telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

5 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan mengacu
kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI dan
telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik mengetahui dan memahami Panduan Pendidikan Dokter
Spesialis Anak tersebut.

61
S2 P2 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan tentang
mekanisme proses rekrutmen dan kriteria penerimaan serta pemberhentian
peserta didik.

Nilai Kriteria:

1 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Institusi (Pusat)


Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut tidak menerangkan
tentang mekanisme proses rekrutmen dan kriteria penerimaan serta
pemberhentian peserta didik.

2 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Institusi (Pusat)


Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut ada menerangkan tentang
mekanisme proses rekrutmen dan kriteria penerimaan serta
pemberhentian peserta didik, akan tetapi belum/tidak mengacu
kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

3 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Institusi (Pusat)


Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut ada menerangkan tentang
mekanisme proses rekrutmen dan kriteria penerimaan serta
pemberhentian peserta didik sesuai dengan Kurikulum Pendidikan
Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI), akan tetapi belum/tidak disahkan
oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

4 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Institusi (Pusat)


Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut ada menerangkan tentang
mekanisme proses rekrutmen dan kriteria penerimaan serta
pemberhentian peserta didik sesuai dengan Kurikulum Pendidikan
Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan telah disahkan oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta
seluruh staf pendidik mengetahui dan memahami mekanisme proses
rekrutmen dan kriteria penerimaan serta pemberhentian peserta didik
tersebut.

62
S2 P3 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan tentang
objektif setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut tidak


menerangkan tentang objektif setiap jenjang tingkat pendidikan di
institusi tersebut.

2 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan


tentang objektif pendidikan akan tetapi tidak/belum lengkap untuk
setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut.

3 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan


tentang objektif dan telah lengkap untuk setiap jenjang tingkat
pendidikan di institusi tersebut akan tetapi belum disahkan oleh
pimpinan intitusi tersebut (Dekan Fakultas Kedokteran/Direkur
Rumah Sakit).

4 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan


tentang objektif dan telah lengkap untuk setiap jenjang tingkat
pendidikan di institusi tersebut dan disahkan oleh pimpinan intitusi
tersebut (Dekan Fakultas Kedokteran/Direkur Rumah Sakit) serta
seluruh staf pendidik dan peserta didik mengetahui dan memahami
objektif setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut.

63
S2 P4 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan tentang hak,
tugas dan kewajiban peserta didik untuk setiap jenjang tingkat tingkat pendidikan
di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut tidak


menerangkan tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk
setiap jenjang tingkat tingkat pendidikan di institusi tersebut.

2 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan


tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk setiap jenjang
tingkat tingkat pendidikan di institusi tersebut.akan tetapi
tidak/belum lengkap untuk setiap jenjang tingkat pendidikan di
institusi tersebut.

3 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan


tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk setiap jenjang
tingkat tingkat pendidikan di institusi tersebut dan telah lengkap
untuk setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut akan
tetapi belum disahkan oleh pimpinan intitusi tersebut (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direkur Rumah Sakit).

4 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut menerangkan


tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk setiap jenjang
tingkat tingkat pendidikan di institusi tersebut.dan telah lengkap
untuk setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut dan
disahkan oleh pimpinan intitusi tersebut (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direkur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik mengetahui dan memahami hak, tugas dan kewajiban
peserta didik untuk setiap jenjang tingkat tingkat pendidikan di
institusi tersebut.

64
Standar 3: Log Book Peserta Didik

S3 P1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai Log


Book untuk peserta didik yang mengacu kepada Panduan Pendidikan Dokter
Spesialis Anak di institusi tersebut dan Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis
Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut tidak


mempunyai Log Book untuk peserta didik.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Log Book untuk peserta didik, akan tetapi belum/tidak
mengacu kepada Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak di
institusi tersebut dan Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak
yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Log Book untuk peserta didik mengacu kepada Panduan
Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI), akan tetapi belum/tidak disahkan oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Log Book untuk peserta didik mengacu kepada Panduan
Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI dan telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan
Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf
pendidik dan peserta didik mengetahui dan memahami penggunaan
Log Book tersebut.

65
S3 P2 Log Book tersebut mencerminkan aktifitas penilaian yang akan dinilai dari
peserta didik di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


tersebut belum/tidak mencerminkan aktifitas penilaian yang akan
dinilai dari peserta didik di institusi tersebut.

2 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


tersebut telah mencerminkan aktifitas penilaian yang akan dinilai dari
peserta didik, akan tetapi belum/tidak mengacu kepada Panduan
Pendidikan Dokter Spesialis Anak di institusi tersebut dan Kurikulum
Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

3 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


tersebut telah mencerminkan aktifitas penilaian yang akan dinilai dari
pesrta didik dan mengacu kepada Panduan Pendidikan Dokter
Spesialis Anak dan Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak
yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI), akan tetapi belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi
(Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


tersebut telah mencerminkan aktifitas penilaian yang akan dinilai dari
peserta didik dan mengacu kepada Panduan Pendidikan Dokter
Spesialis Anak dan Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak
yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI), dan telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik peserta didik mengetahui dan memahami aktifitas
penilaian.

66
S3 P3 Log Book tersebut diimplementasikan secara kontinyu dan konsisten.

Nilai Kriteria:

1 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


tersebut belum/tidak diimplementasikan secara kontinyu dan
konsisten.

2 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


tersebut telah diimplementasikan akan tetapi belum/tidak kontinyu
dan konsisten (baru sebagian yang telah diimplementasikan).

3 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


tersebut telah diimplementasikan sepenuhnya secara kontinyu dan
konsisten.

67
Standar 4: Sarana Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak

S4 P1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana


perpustakaan dengan berbagai bentuk kompilasi (buku, jurnal, VCD, CD dsb).

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai sarana perpustakaan.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana perpustakaan, akan tetapi belum/tidak ada
dokumentasi database daftar buku, jurnal, VCD/CD secara sistematik.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana perpustakaan dan telah terdokumentasi dengan
baik dan sistematik, akan tetapi belum/tidak ada prosedur tertulis
tentang mekanisme penggunaan sarana tersebut baik untuk
peminjaman dan pengembaliannya.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana perpustakaan dan telah terdokumentasi dengan
baik dan sistematik serta ada prosedur tertulis tentang mekanisme
penggunaan sarana tersebut baik untuk peminjaman dan
pengembaliannya.

68
S4 P2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana
teknologi informasi dan audio-visual.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai sarana teknologi informasi dan audio-
visual.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana teknologi informasi dan audio-visual, akan tetapi
belum/tidak ada prosedur tertulis tentang mekanisme penggunaan
dan pemakaiannya.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana teknologi informasi dan audio-visual serta ada
prosedur tertulis tentang mekanisme penggunaan dan pemakaian.

69
S4 P3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana
tempat pertemuan ilmiah untuk seluruh staf dan peserta didik di institusi
tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai sarana pertemuan ilmiah untuk seluruh staf
dan peserta didik di institusi tersebut.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana pertemuan ilmiah untuk seluruh staf dan peserta
didik di institusi tersebut, akan tetapi belum/tidak ada prosedur
tertulis tentang mekanisme penggunaan dan jadwal pemakaiannya.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana pertemuan ilmiah untuk seluruh staf dan peserta
didik di institusi tersebut serta ada prosedur tertulis tentang
mekanisme penggunaan dan jadwal pemakaiannya.

70
S4 P4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana
tempat diskusi kelompok setiap unit (Sub Divisi/Bagian) dalam institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai sarana tempat diskusi kelompok setiap unit
(Sub Divisi/Bagian) dalam institusi tersebut.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana tempat diskusi kelompok hanya untuk beberapa
unit (Sub Divisi/Bagian) dalam institusi tersebut ( < 50%).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana tempat diskusi kelompok setiap unit (Sub
Divisi/Bagian) dalam institusi tersebut (100 %).

71
S4 P5 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana
peralatan penunjang diagnostik dan terapeutik yang dibutuhkan untuk mencapai
objektif Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai sarana peralatan penunjang diagnostik dan
terapeutik yang dibutuhkan untuk mencapai objektif Kurikulum
Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana peralatan penunjang diagnostik dan terapeutik
yang dibutuhkan, akan tetapi belum/tidak lengkap untuk mencapai
objektif Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana peralatan penunjang diagnostik dan terapeutik
lengkap yang dibutuhkan untuk mencapai objektif Kurikulum
Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

72
S4 P6 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana
media komunikasi antar staf Pendidik dan peserta didik.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai sarana media komunikasi antar staf Pendidik
dan peserta didik.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana media komunikasi antar staf pendidik dan peserta
didik, akan tetapi belum/tidak lengkap antar staf pendidik dan peserta
didik untuk mencapai objektif Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana media komunikasi antar staf pendidik dan peserta
didik lengkap untuk mencapai objektif Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak.

73
Standar 5: Pembimbing Konseling

S5 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai staf


Pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta didik yang mempunyai
masalah.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai staf pendidik sebagai pembimbing konselor
bagi peserta didik yang mempunyai masalah.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut ada staf


pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta didik yang
mempunyai masalah, akan tetapi belum/tidak ada jadwal konseling .

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut ada staf


pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta didik yang
mempunyai masalah dan ada jadwal konseling, akan tetapi
belum/tidak ada Panduan Konseling peserta didik bermasalah.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut ada staf


pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta didik yang
mempunyai masalah dan ada jadwal konseling, serta telah mempuyai
Panduan Konseling peserta didik bermasalah.

74
Standar 6: Mekanisme Pengambilan Keputusan

S6 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai


kebijakan tentang mekanisme pengambilan keputusan secara tertulis dan
disahkan oleh pimpinan ( Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan
keputusan secara tertulis.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan keputusan
secara tertulis, akan tetapi belum/tidak mempunyai Panduan
Pengambilan Keputusan.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan keputusan
secara tertulis dan Panduan Pengambilan Keputusan, akan tetapi
belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan keputusan
secara tertulis dan Panduan Pengambilan Keputusan, serta telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/
Direktur Rumah Sakit) telah diketahui dan difahami oleh seluruh staf
pendidik di institusi tersebut.

75
Standar 7: Sarana dan tempat pengaduan peserta didik

S7 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai sarana


dan tempat pengaduan peserta didik baik untuk hal akademis maupun non
akademis.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai kebijakan tentang sarana dan tempat
pengaduan peserta didik baik untuk hal akademis maupun non
akademis.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang sarana dan tempat pengaduan peserta
didik baik untuk hal akademis maupun non akademis secara tertulis,
akan tetapi belum/tidak mempunyai sarana dan tempat pengaduan di
institusi tersebut.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang sarana dan tempat pengaduan peserta
didik baik untuk hal akademis maupun non akademis secara tertulis
dan telah ada sarana dan tempat pengaduan peserta didik di institusi
tersebut.

76
Standar 8: Pertemuan Rutin (Management Review)

S8 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut melaksanakan


pertemuan rutin tingkat unit dan institusi yang terjadwal mengenai
perkembangan pencapaian peserta didik dan sarana serta proses pendidikan yang
dilaksanakan di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai kebijakan tentang pertemuan rutin tingkat
unit dan institusi mengenai perkembangan pencapaian peserta didik
dan sarana serta proses pendidikan yang dilaksanakan di institusi
tersebut.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang pertemuan rutin tingkat unit dan
institusi mengenai perkembangan pencapaian peserta didik dan sarana
serta proses pendidikan yang dilaksanakan di institusi tersebut, akan
tetapi belum/tidak ada jadwal yang teratur.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan dan ada jadwal yang teratur tentang pertemuan
rutin tingkat unit dan institusi mengenai perkembangan pencapaian
peserta didik dan sarana serta proses pendidikan yang dilaksanakan di
institusi tersebut, akan tetapi belum/tidak dilaksanakan.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan dan ada jadwal serta dilaksanakan teratur
tentang pertemuan rutin tingkat unit dan institusi mengenai
perkembangan pencapaian peserta didik sarana serta proses
pendidikan yang dilaksanakan di institusi tersebut.

77
Standar 9: Umpan Balik (Feed back)

S9 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut memberikan umpan


balik (feedback) mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada
peserta didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang dana peserta
didik tersebut secara tertulis dan rutin.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai kebijakan tentang umpan balik (feedback)
mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada peserta
didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang dana
peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang umpan balik (feedback) mengenai
perkembangan pencapaian peserta didik kepada peserta didik, atasan
peserta didik, pengirim maupun penyandang dana peserta didik
tersebut secara tertulis dan rutin, akan tetapi. belum/tidak mempunyai
format umpan balik (feedback).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang umpan balik (feedback) dan formatnya
mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada peserta
didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang dana
peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin, akan tetapi belum/tidak
dilaksanakan secara teratur.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang umpan balik (feedback) dan formatnya
mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada peserta
didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang dana
peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin, serta telah
dilaksanakan secara teratur.

78
Standar 10: Program Peningkatan Mutu (Quality Improvement)

S10 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai program
upaya perbaikan dan peningkatan mutu Pendidikan Dokter Spesialis Anak di
tingkat unit (Sub Divisi/Bagian) maupun institusi.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


belum/tidak mempunyai kebijakan tentang upaya perbaikan dan
peningkatan mutu pendidikan Dokter Spesialis Anak di tingkat unit
(Sub Divisi/Bagian) maupun institusi.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan tentang upaya perbaikan dan peningkatan mutu
pendidikan Dokter Spesialis Anak di tingkat unit (Sub Divisi/Bagian)
maupun institusi akan tetapi belum/tidak Rencana Program Kerja
Peningkatan Mutu.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan dan Rencana Program Kerja Peningkatan Mutu
tentang upaya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan Dokter
Spesialis Anak di tingkat unit (Sub Divisi/Bagian) maupun institusi,
akan tetapi belum/tidak dilaksanakan.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai kebijakan, Rencana Program Kerja Peningkatan Mutu
dan telah melaksanakan program upaya perbaikan dan peningkatan
mutu Pendidikan Dokter Spesialis Anak di tingkat unit (Sub
Divisi/Bagian) maupun institusi, akan tetapi belum/tidak
melaksanakan evaluasi/audit.

79
Standar Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan

80
STANDAR PENDIDIKAN
DOKTER SPESIALIS ANAK KONSULTAN

A. Pendahuluan
Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan ini merupakan salah satu upaya
Kolegium IDAI dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dokter spesialis anak
konsultan dan keseragaman sistem pendidikan dokter spesialis anak konsultan yang
diadakan di berbagai Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di
Indonesia.

B. Kebijakan
Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan ini merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan dengan:

Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan
oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan oleh


Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang disusun oleh berbagai
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di Indonesia berdasarkan
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan dari Kolegium Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI).

C. Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

1. Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di Indonesia hanya diselenggarakan


oleh Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang telah
lulus penilaian akreditasi dan harus mempunyai Sertifikat Akreditasi Institusi
(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan dari Kolegium Ikatan Dokter
Anak Indonesia (IDAI).

2. Proses Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan harus berdasarkan


Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan oleh
Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

81
3. Dalam menyelenggarakan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan, setiap
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut harus
sesuai:

a. Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

b. Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

4. Dalam menyelenggarakan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan, setiap


Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut harus
mempunyai:

a. Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan


oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan disahkan
penggunaannya sebagai bahan acuan untuk membuat Panduan Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan di institusi tersebut oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/ Direktur Rumah Sakit).

b. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan secara tertulis dan


disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur
Rumah Sakit).

c. Log Book (Buku Kinerja) Peserta Didik secara tertulis dan disahkan oleh
pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/ Direktur Rumah Sakit).

d. Log Book (Buku Kinerja) Tenaga pendidik secara tertulis dan disahkan
oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/ Direktur Rumah
Sakit).

5. Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan disusun oleh Kolegium


Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama dengan Ketua II (Bidang Ilmiah)
Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serta melibatkan seluruh
Unit Kerja Koordinasi (UKK) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dikeluarkan
oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ditetapkan pada Kongres
Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) dan disahkan oleh Konsil Kedokteran
Indonesia (KKI) sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

6. Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan menjelaskan secara


umum dan terdiri dari :

a. Pendahuluan

b. Tujuan umum dan khusus Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

c. Ciri utama Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

82
d. Struktur Pendidikan: struktur dasar kurikulum dan beban studi serta pokok
bahasan materi pendidikan

e. Isi Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan : materi


pendidikan, prosedur pediatrik, buku ajar dan jurnal yang digunakan

f. Penerimaan calon peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan: waktu, persyaratan pendaftran, alur pendaftaran, proses dan
kriteria penerimaan peserta program baru

g. Pelaksanaan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan: pola alur dan


bentuk kegiatan pelaksanaan pendidikan

h. Persyaratan Pusat Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan :


penyelenggara institusi, tenaga pendidik, sarana dan prasarana serta dana.

i. Organisasi Penyelenggaraan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

j. Manajemen institusi penyelenggara Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan

k. Sistem evaluasi hasil belajar di tingkat institusi dan evaluasi nasional

l. Adaptasi Dokter Spesialis Anak Konsultan lulusan luar negeri

m. Predikat kelulusan, gelar dan ijazah

n. Penerapan kurikulum: petunjuk pembuatan buku Panduan Pendidikan


Dokter Spesialis Anak Konsultan dan strategi penerapan kurikulum

7. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di institusi tersebut harus


menjelaskan secara rinci dan kuantitatif dari hal 6 di atas dengan memperhatikan
kondisi setempat menyangkut :

a. Proses penerimaan dan persyaratan peserta didik,

b. Proses pendidikan untuk setiap jenjang peserta didik;

c. Modul dan materi yang harus ditempuh,

d. Jangka waktu penyelesaian modul dan batas waktunya,

e. Daftar referensi setiap modul dan materi

f. Sarana pendidikan,

g. Proses penilaian, kriteria penilaian dan batas nilai/marka,

83
h. Hak dan kewajiban peserta didik,

i. Hak dan kewajiban tenaga pendidik,

j. Proses pemberhentian peserta didik,

8. Kolegium IDAI, Ketua II (Bidang Ilmiah) PP IDAI dan Ketua Ketua Unit Kerja
Koordinasi (UKK) IDAI melaksanakan pertemuan rutin yang terjadwal untuk
tingkat masing masing sesuai fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawabnya
serta pertemuan rutin terpadu yang bersifat sinergis mengenai perkembangan
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Konsultan, Panduan Pendidikan Dokter
Spesialis Konsultan, Log Book, Buku Ajar, proses implementasi metodologi
pendidikan dan Evaluasi Nasional.

9. Kolegium IDAI mempunyai program upaya perbaikan dan peningkatan mutu


mengenai Standar Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan, Standar Institusi
(Pusat) Pendidikan Dokter Anak Konsultan, Pedoman Penilaian Akreditasi
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Anak Konsultan, Instrumen Penilaian
Akreditasi Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Anak Konsultan, Buku Ajar dan
Standar Kompetensi Dokter Spesialis Anak Konsultan.

10. Seluruh Unit Kerja Koordinasi (UKK) IDAI dikoordinasikan oleh Ketua II
(Bidang Ilmiah) PP IDAI melalui penurus pengurus UKK, mempunyai program
upaya perbaikan dan peningkatan mutu mengenai Buku Ajar, Standar Pelayanan
Medis Kesehatan Anak Konsultan, dan Standar Kompetensi Dokter Spesialis
Anak Konsultan.

84
Standar Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan

85
Standar Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan

A. Pendahuluan
Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan ini merupakan
salah satu upaya Kolegium IDAI dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dokter
spesialis anak konsultan dan keseragaman sistem pendidikan dokter spesialis anak
konsultan yang diadakan di berbagai Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Konsultan di Indonesia.

Yang dimaksud dengan Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan ini adalah Sub Divisi/Bagian dari Departemen/SMF/Bagian Kesehatan Anak.

B. Kebijakan
Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan ini merupakan ini
satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Pedoman Penilaian Akreditasi untuk
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan.

C. Standar Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan
1. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan (Sub Divisi/Bagian)
tersebut mempunyai:

a. Struktur organisasi secara tertulis dan disahkan oleh pimpinan institusi


(Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

b. Penjelasan secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang dan tanggung


jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Konsultan tersebut dalam hal penyelenggaraan pendidikan dan disahkan
oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

c. Dokumentasi kualifikasi dan lisensi profesi setiap staf pendidik sesuai


dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

86
d. Uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik dan disahkan oleh oleh
pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

2. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak (Sub Divisi/Bagian) tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang telah disahkan
pelaksanaannya oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/ Direktur
Rumah Sakit) dimana:

a. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut mengacu


kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan
disusun bersama dengan Unit Kerja Koordinasi (UKK) terkait.

b. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang mekanisme proses rekrutmen dan kriteria
penerimaan serta pemberhentian peserta didik.

c. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang objektif setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi
tersebut.

d. Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk setiap
jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut.

3. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut mempunyai


Log Book bagi peserta didik yang telah disahkan pelaksanaannya oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) tersebut serta:

a. Log Book tersebut mengacu kepada Panduan Pendidikan Dokter Spesialis


Anak Konsultan di institusi tersebut.

b. Log Book tersebut mencerminkan penilaian kegiatan yang akan dinilai dari
peserta didik di institusi tersebut.

c. Log Book tersebut diimplementasikan secara kontinyu dan konsisten.

4. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut mempunyai


sarana sebagai berikut:

a. Perpustakaan dengan berbagai bentuk kompilasi (buku, jurnal, D/VCD,


CD dsb).

b. Teknologi informasi dan audio-visual

c. Tempat pertemuan ilmiah untuk seluruh staf dan peserta didik di institusi
tersebut.

87
d. Tempat diskusi kelompok dalam institusi tersebut.

e. Peralatan penunjang diagnostik dan terapeutik yang dibutuhkan untuk


mencapai objektif Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Konsultan.

f. Media komunikasi antar staf pendidik dan peserta didik.

5. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menyediakan staf pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta didik yang
mempunyai masalah.

6. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut mempunyai


kebijakan tentang mekanisme pengambilan keputusan secara tertulis dan disahkan
oleh pimpinan (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

7. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut mempunyai


sarana dan tempat pengaduan peserta didik baik untuk hal akademis maupun non
akademis.

8. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


melaksanakan pertemuan rutin tingkat unit dan institusi yang terjadwal mengenai
perkembangan pencapaian peserta didik dan sarana serta proses penyelenggaraan
pendidikan yang dilaksanakan di institusi tersebut.

9. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


memberikan umpan balik (feedback) mengenai perkembangan pencapaian peserta
didik kepada peserta didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang
dana peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin.

10. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut mempunyai
program upaya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan Dokter Spesialis
Anak di tingkat unit maupun institusi.

88
Pedoman Penilaian Akreditasi
Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan

89
Pedoman Penilaian Akreditasi
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

A. Pendahuluan
Pedoman Penilaian Akreditasi untuk Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Konsultan ini merupakan penjelasan operasional dari Standar Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan yang dapat dilaksanakan untuk persiapan akreditasi
(self assessment) dari pihak yang akan dinilai (institusi) dan surveyor dari Kolegium IDAI
serta pada waktu proses akreditasi oleh surveyor dari Kolegium IDAI.

B. Kebijakan
Pedoman Penilaian Akreditasi untuk Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Konsultan ini merupakan ini satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Standar
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan.

C. Penilaian Standar/Akreditasi
Proses Penilaian Akreditasi untuk Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Konsultan ini terdiri dari langkah langkah sebagai berikut:

1. Permohonan untuk penilaian dari Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis


Anak Konsultan kepada Kolegium IDAI (up. Ketua Komite Pengembangan dan
Akreditasi Kolegium IDAI).

2. Kolegium IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan Akreditasi Kolegium


IDAI) akan mengirimkan instrumen penilaian yakni Standar Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan dan Pedoman Penilaian Akreditasi
untuk Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan sebagai
persiapan penilaian (self assessment) bagi Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter
Spesialis Anak Konsultan dalam jangka waktu 1 (satu) minggu.

3. Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan mengirim isian


intrumen penilaian (self assessment) kepada Kolegium IDAI (up. Ketua komite

90
Pengembangan dan Akreditasi Kolegium IDAI) untk dipelajari dan menentukan
surveyor serta waktu penilaian akreditasi.

4. Kolegium IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan Akreditasi Kolegium


IDAI) mengirim surat pemberitahuan nama nama surveyor dan waktu penilaian
akreditasi kepada Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan
tersebut.

5. Surveyor melaksanakan penilaian akreditasi di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter


Spesialis Anak Konsultan.

6. Surveyor memberkan laporan hasil penilaian akreditasi kepada Ketua Kolegium


IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan Akreditasi Kolegium IDAI).

7. Rapat surveyor dan Ketua Kolegium IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan
Akreditasi Kolegium IDAI) untuk menentukan hasil akreditasi.

8. Ketua Kolegium IDAI (up. Ketua komite Pengembangan dan Akreditasi


Kolegium IDAI) mengirim surat hasil penilaian akreditasi kepada Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter
Spesialis Anak Konsultan dengan tembusan kepada Ketua Umum PP IDAI dan
Ketua IDAI Cabang setempat.

9. Kriteria dinyatakan lulus akreditasi adalah:

a. Hasil penilaian kumulatif ≥ 60


b. Tidak ada nilai ≤ 2 dalam setiap komponen yang dinilai

91
LAMPIRAN : CONTOH SERTIFIKAT AKREDITASI

KOLEGIUM IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA


Nomor: ............................................

Sertifikat ini diberikan sebagai pengakuan bahwa Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter
Spesialis Anak tersebut di bawah telah memenuhi Standar Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan.

Nama Institusi : Sub Divisi/Bagian.....................................................


Alamat : ....................................................................……….
Status Akreditasi: ....................................................................……….
Berlaku : …...........................s/d…..................................

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : ….......
Ketua Kolegium IDAI ;

…………………………

92
Instrumen Penilaian Akreditasi
Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan

93
Instrumen Penilaian Akreditasi
Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

Standar 1: Manajemen Organisasi Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan.

S1 P1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


mempunyai struktur organisasi.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut tidak mempunyai struktur organisasi secara tertulis

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai struktur organisasi secara tertulis, akan tetapi
belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai struktur organisasi secara tertulis dan telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai struktur organisasi secara tertulis dan telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik mengetahui dan memahami struktur organisasi tersebut.

94
S1 P2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai
penjelasan secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab
setiap unit.

Nilai Kriteria:

1 Tidak ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas,


wewenang dan tanggung jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat)
Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut.

2 Ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang


dan tanggung jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak tersebut, akan tetapi belum/tidak disahkan
oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

3 Ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang


dan tanggung jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak tersebut dan telah disahkan oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Ada penjelasan secara secara tertulis akan fungsi, tugas, wewenang


dan tanggung jawab setiap unit dalam Institusi (Pusat) Pendidikan
Dokter Spesialis Anak tersebut dan telah disahkan oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta
seluruh staf pendidik dan peserta didik mengetahui dan memahami
penjelasan akan fungsi, tugas, wewenang dan tanggung jawab setiap
unit tersebut.

95
S1 P3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai
dokumentasi kualifikasi dan lisensi profesi setiap staf pendidik sesuai dengan
peraturan dan perundangan yang berlaku.

Yang dimaksud dengan kualifikasi adalah Ijazah Spesialis 1 dan atau 2 yang
dikeluarkan dan telah dilakukan sertifikasi oleh pihak berwenang dan diakui oleh
pemerintah.

Sedangkan yang dimaksud dengan lisensi profesi adalah Surat Penugasan (SP)/
Surat Tanda Registrasi (STR), Surat Izin Praktek Tenaga Medis (SIPTM) dan
Surat Persetujuan Tempat Praktek (SPTP) di institusi/rumah sakit tersebut yang
dikeluarkan oleh pihak berwenang dan diakui oleh pemerintah serta masih
berlaku.

Nilai Kriteria:

1 Tidak ada dokumentasi kualifikasi dan lisensi profesi setiap staf


pendidik sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

2 Ada dokumentasi kualifikasi setiap staf pendidik akan tetapi


belum/tidak lengkap dokumentasi lisensi profesi setiap staf pendidik
sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku
3 Ada dokumentasi kualifikasi dan lisensi profesi setiap staf pendidik
sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku akan tetapi
belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Ada dokumentasi dan kualifikasi lisensi profesi setiap staf pendidik


sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku dan telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/
Direktur Rumah Sakit).

96
S1 P4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut mempunyai uraian
tugas secara tertulis setiap staf pendidik.

Nilai Kriteria:

1 Tidak ada uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik dan
disahkan oleh oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

2 Ada uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik, akan tetapi
belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

3 Ada uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik dan telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Ada uraian tugas secara tertulis setiap staf pendidik dan telah
disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik mengetahui dan memahami uraian tugas tersebut.

97
Standar 2: Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

S2 P1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang
mengacu kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut tidak


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak, akan tetapi
belum/tidak mengacu kepada Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak
Indonesia (IDAI).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan mengacu
kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),
akan tetapi belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan
Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan mengacu
kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI dan
telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

5 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak dan mengacu
kepada Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI dan
telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik mengetahui dan memahami Panduan Pendidikan Dokter
Spesialis Anak tersebut.

98
S2 P2 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut menerangkan
tentang mekanisme proses rekrutmen dan kriteria penerimaan serta
pemberhentian peserta didik.

Nilai Kriteria:

1 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di Institusi


(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut tidak
menerangkan tentang mekanisme proses rekrutmen dan kriteria
penerimaan serta pemberhentian peserta didik.

2 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di Institusi


(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut ada
menerangkan tentang mekanisme proses rekrutmen dan kriteria
penerimaan serta pemberhentian peserta didik, akan tetapi
belum/tidak mengacu kepada Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI).

3 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di Institusi


(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut ada
menerangkan tentang mekanisme proses rekrutmen dan kriteria
penerimaan serta pemberhentian peserta didik sesuai dengan
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),
akan tetapi belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan
Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di Institusi


(Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut ada
menerangkan tentang mekanisme proses rekrutmen dan kriteria
penerimaan serta pemberhentian peserta didik sesuai dengan
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan
telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik
mengetahui dan memahami mekanisme proses rekrutmen dan kriteria
penerimaan serta pemberhentian peserta didik tersebut.

99
S2 P3 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut menerangkan
tentang objektif setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut tidak


menerangkan tentang objektif setiap jenjang tingkat pendidikan di
institusi tersebut.

2 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang objektif pendidikan akan tetapi tidak/belum
lengkap untuk setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut.

3 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang objektif dan telah lengkap untuk setiap jenjang
tingkat pendidikan di institusi tersebut akan tetapi belum disahkan
oleh pimpinan intitusi tersebut (Dekan Fakultas Kedokteran/Direkur
Rumah Sakit).

4 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang objektif dan telah lengkap untuk setiap jenjang
tingkat pendidikan di institusi tersebut dan disahkan oleh pimpinan
intitusi tersebut (Dekan Fakultas Kedokteran/Direkur Rumah Sakit)
serta seluruh staf pendidik dan peserta didik mengetahui dan
memahami objektif setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi
tersebut.

100
S2 P4 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut menerangkan
tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk setiap jenjang tingkat
tingkat pendidikan di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut tidak


menerangkan tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk
setiap jenjang tingkat tingkat pendidikan di institusi tersebut.

2 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk
setiap jenjang tingkat tingkat pendidikan di institusi tersebut.akan
tetapi tidak/belum lengkap untuk setiap jenjang tingkat pendidikan
di institusi tersebut.

3 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk
setiap jenjang tingkat tingkat pendidikan di institusi tersebut dan telah
lengkap untuk setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut
akan tetapi belum disahkan oleh pimpinan intitusi tersebut (Dekan
Fakultas Kedokteran/Direkur Rumah Sakit).

4 Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


menerangkan tentang hak, tugas dan kewajiban peserta didik untuk
setiap jenjang tingkat tingkat pendidikan di institusi tersebut.dan telah
lengkap untuk setiap jenjang tingkat pendidikan di institusi tersebut
dan disahkan oleh pimpinan intitusi tersebut (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direkur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik mengetahui dan memahami hak, tugas dan kewajiban
peserta didik untuk setiap jenjang tingkat tingkat pendidikan di
institusi tersebut.

101
Standar 3: Log Book Peserta Didik

S3 P1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


mempunyai Log Book untuk peserta didik yang mengacu kepada Panduan
Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di institusi tersebut dan Kurikulum
Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan oleh Kolegium
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut tidak mempunyai Log Book untuk peserta didik.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai Log Book untuk peserta didik, akan tetapi
belum/tidak mengacu kepada Panduan Pendidikan Dokter Spesialis
Anak Konsultan di institusi tersebut dan Kurikulum Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan oleh Kolegium
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai Log Book untuk peserta didik mengacu kepada
Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan dan
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),
akan tetapi belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan
Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai Log Book untuk peserta didik mengacu kepada
Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan dan
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan yang
dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI dan
telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta seluruh staf pendidik dan
peserta didik mengetahui dan memahami penggunaan Log Book
tersebut.

102
S3 P2 Log Book tersebut mencerminkan aktifitas penilaian yang akan dinilai dari
peserta didik di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan tersebut belum/tidak mencerminkan aktifitas penilaian
yang akan dinilai dari peserta didik di institusi tersebut.

2 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan tersebut telah mencerminkan aktifitas penilaian yang akan
dinilai dari peserta didik, akan tetapi belum/tidak mengacu kepada
Panduan Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di institusi
tersebut dan Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan
yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI).

3 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan tersebut telah mencerminkan aktifitas penilaian yang akan
dinilai dari pesrta didik dan mengacu kepada Panduan Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan dan Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI), akan tetapi belum/tidak disahkan
oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

4 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan tersebut telah mencerminkan aktifitas penilaian yang akan
dinilai dari peserta didik dan mengacu kepada Panduan Pendidikan
Dokter Spesialis Anak Konsultan dan Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak Konsultan yang dikeluarkan oleh Kolegium Ikatan
Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan telah disahkan oleh pimpinan
institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah Sakit) serta
seluruh staf pendidik dan peserta didik peserta didik mengetahui dan
memahami aktifitas penilaian.

103
S3 P3 Log Book tersebut diimplementasikan secara kontinyu dan konsisten.

Nilai Kriteria:

1 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan tersebut belum/tidak diimplementasikan secara kontinyu
dan konsisten.

2 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan tersebut telah diimplementasikan akan tetapi belum/tidak
kontinyu dan konsisten (baru sebagian yang telah
diimplementasikan).

3 Log Book di Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak


Konsultan tersebut telah diimplementasikan sepenuhnya secara
kontinyu dan konsisten.

104
Standar 4: Sarana Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan

S4 P1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


mempunyai sarana perpustakaan dengan berbagai bentuk kompilasi (buku,
jurnal, VCD, CD dsb).

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai sarana perpustakaan.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana perpustakaan, akan tetapi belum/tidak
ada dokumentasi database daftar buku, jurnal, VCD/CD secara
sistematik.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana perpustakaan dan telah terdokumentasi
dengan baik dan sistematik, akan tetapi belum/tidak ada prosedur
tertulis tentang mekanisme penggunaan sarana tersebut baik untuk
peminjaman dan pengembaliannya.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana perpustakaan dan telah terdokumentasi
dengan baik dan sistematik serta ada prosedur tertulis tentang
mekanisme penggunaan sarana tersebut baik untuk peminjaman dan
pengembaliannya.

105
S4 P2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut
mempunyai sarana teknologi informasi dan audio-visual.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai sarana teknologi informasi dan
audio-visual.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana teknologi informasi dan audio-visual,
akan tetapi belum/tidak ada prosedur tertulis tentang mekanisme
penggunaan dan pemakaiannya.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana teknologi informasi dan audio-visual serta
ada prosedur tertulis tentang mekanisme penggunaan dan pemakaian.

106
S4 P3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut
mempunyai sarana tempat pertemuan ilmiah untuk seluruh staf dan peserta didik
di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai sarana pertemuan ilmiah untuk
seluruh staf dan peserta didik di institusi tersebut.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana pertemuan ilmiah untuk seluruh staf dan
peserta didik di institusi tersebut, akan tetapi belum/tidak ada
prosedur tertulis tentang mekanisme penggunaan dan jadwal
pemakaiannya.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana pertemuan ilmiah untuk seluruh staf dan
peserta didik di institusi tersebut serta ada prosedur tertulis tentang
mekanisme penggunaan dan jadwal pemakaiannya.

107
S4 P4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut
mempunyai sarana tempat diskusi kelompok untuk peserta didik.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai sarana tempat diskusi kelompok
untuk peserta didik.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana tempat diskusi kelompok untuk peserta didik.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana tempat diskusi kelompok untuk peserta didik serta
ada prosedur tertulis tentang mekanisme penggunaan dan jadwal
pemakaiannya.

108
S4 P5 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut
mempunyai sarana peralatan penunjang diagnostik dan terapeutik yang
dibutuhkan untuk mencapai objektif Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis
Anak Konsultan.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai sarana peralatan penunjang
diagnostik dan terapeutik yang dibutuhkan untuk mencapai objektif
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana peralatan penunjang diagnostik dan
terapeutik yang dibutuhkan, akan tetapi belum/tidak lengkap untuk
mencapai objektif Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak
Konsultan.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana peralatan penunjang diagnostik dan
terapeutik lengkap yang dibutuhkan untuk mencapai objektif
Kurikulum Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan.

109
S4 P6 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut
mempunyai sarana media komunikasi antar staf pendidik dan peserta didik.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai sarana media komunikasi antar staf
pendidik dan peserta didik.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai sarana media komunikasi antar staf pendidik dan
peserta didik, akan tetapi belum/tidak lengkap antar staf pendidik dan
peserta didik untuk mencapai objektif Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak Konsultan.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak tersebut


mempunyai sarana media komunikasi antar staf pendidik dan peserta
didik lengkap untuk mencapai objektif Kurikulum Pendidikan Dokter
Spesialis Anak Konsultan.

110
Standar 5: Pembimbing Konseling

S5 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


mempunyai staf pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta didik yang
mempunyai masalah.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai staf pendidik sebagai pembimbing
konselor bagi peserta didik yang mempunyai masalah.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut ada staf pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta
didik yang mempunyai masalah, akan tetapi belum/tidak ada jadwal
konseling .

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut ada staf pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta
didik yang mempunyai masalah dan ada jadwal konseling, akan tetapi
belum/tidak ada Panduan Konseling peserta didik bermasalah.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut ada staf pendidik sebagai pembimbing konselor bagi peserta
didik yang mempunyai masalah dan ada jadwal konseling, serta telah
mempuyai Panduan Konseling peserta didik bermasalah.

111
Standar 6: Mekanisme Pengambilan Keputusan

S6 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan keputusan secara tertulis
dan disahkan oleh pimpinan (Dekan Fakultas Kedokteran/Direktur Rumah
Sakit).

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai kebijakan tentang mekanisme
pengambilan keputusan secara tertulis.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan
keputusan secara tertulis, akan tetapi belum/tidak mempunyai
Panduan Pengambilan Keputusan.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan
keputusan secara tertulis dan Panduan Pengambilan Keputusan, akan
tetapi belum/tidak disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas
Kedokteran/Direktur Rumah Sakit).

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang mekanisme pengambilan
keputusan secara tertulis dan Panduan Pengambilan Keputusan, serta
telah disahkan oleh pimpinan institusi (Dekan Fakultas Kedokteran/
Direktur Rumah Sakit) telah diketahui dan difahami oleh seluruh staf
pendidik di institusi tersebut.

112
Standar 7: Sarana dan tempat pengaduan peserta didik

S7 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


mempunyai sarana dan tempat pengaduan peserta didik baik untuk hal akademis
maupun non akademis.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai kebijakan tentang sarana dan tempat
pengaduan peserta didik baik untuk hal akademis maupun non
akademis.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang sarana dan tempat pengaduan
peserta didik baik untuk hal akademis maupun non akademis secara
tertulis, akan tetapi belum/tidak mempunyai sarana dan tempat
pengaduan di institusi tersebut.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang sarana dan tempat pengaduan
peserta didik baik untuk hal akademis maupun non akademis secara
tertulis dan telah ada sarana dan tempat pengaduan peserta didik di
institusi tersebut.

113
Standar 8: Pertemuan Rutin (Management Review)

S8 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


melaksanakan pertemuan rutin yang terjadwal mengenai perkembangan
pencapaian peserta didik dan sarana serta proses pendidikan yang dilaksanakan
di institusi tersebut.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai kebijakan tentang pertemuan rutin
mengenai perkembangan pencapaian peserta didik dan sarana serta
proses pendidikan yang dilaksanakan di institusi tersebut.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang pertemuan rutin mengenai
perkembangan pencapaian peserta didik dan sarana serta proses
pendidikan yang dilaksanakan di institusi tersebut, akan tetapi
belum/tidak ada jadwal yang teratur.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan dan ada jadwal yang teratur tentang
pertemuan rutin mengenai perkembangan pencapaian peserta didik
dan sarana serta proses pendidikan yang dilaksanakan di institusi
tersebut, akan tetapi belum/tidak dilaksanakan.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan dan ada jadwal serta dilaksanakan
teratur tentang pertemuan rutin mengenai perkembangan pencapaian
peserta didik sarana serta proses pendidikan yang dilaksanakan di
institusi tersebut.

114
Standar 9: Umpan Balik (Feed back)

S9 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


memberikan umpan balik (feedback) mengenai perkembangan pencapaian
peserta didik kepada peserta didik, atasan peserta didik, pengirim maupun
penyandang dana peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai kebijakan tentang umpan balik
(feedback) mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada
peserta didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang
dana peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang umpan balik (feedback)
mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada peserta
didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang dana
peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin, akan tetapi.
belum/tidak mempunyai format umpan balik (feedback).

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang umpan balik (feedback) dan
formatnya mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada
peserta didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang
dana peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin, akan tetapi
belum/tidak dilaksanakan secara teratur.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang umpan balik (feedback) dan
formatnya mengenai perkembangan pencapaian peserta didik kepada
peserta didik, atasan peserta didik, pengirim maupun penyandang
dana peserta didik tersebut secara tertulis dan rutin, serta telah
dilaksanakan secara teratur.

115
Standar 10: Program Peningkatan Mutu (Quality Improvement)

S10 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan tersebut


mempunyai program upaya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan Dokter
Spesialis Anak Konsultan di tingkat unit (Sub Divisi/Bagian) maupun institusi.

Nilai Kriteria:

1 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut belum/tidak mempunyai kebijakan tentang upaya perbaikan
dan peningkatan mutu pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan
di tingkat unit (Sub Divisi/Bagian) maupun institusi.

2 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan tentang upaya perbaikan dan
peningkatan mutu pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di
tingkat unit (Sub Divisi/Bagian) maupun institusi akan tetapi
belum/tidak Rencana Program Kerja Peningkatan Mutu.

3 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan dan Rencana Program Kerja
Peningkatan Mutu tentang upaya perbaikan dan peningkatan mutu
pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di tingkat unit (Sub
Divisi/Bagian) maupun institusi, akan tetapi belum/tidak
dilaksanakan.

4 Institusi (Pusat) Pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan


tersebut mempunyai kebijakan, Rencana Program Kerja Peningkatan
Mutu dan telah melaksanakan program upaya perbaikan dan
peningkatan mutu pendidikan Dokter Spesialis Anak Konsultan di
tingkat unit (Sub Divisi/Bagian) maupun institusi, akan tetapi
belum/tidak melaksanakan evaluasi/audit.

116