Anda di halaman 1dari 51

Zaman Gelap

Abad ke-5 sampai Abad ke-10

Akhir Cendekiawan Arab


• Setelah tahun 1100, cendekiawan Arab terus
berkurang (tidak ada penerus)

Alkemi
• Arab juga meneruskan kegiatan alkemi
• Mereka memadukan alkemi dari Yunani
dengan alkemi dari Cina (dari Taoisme)
• Kelompok eksoterik menguat lagi sehingga
kedua-duanya esoterik dan eksoterik sama
kuatnya
• Dari kegiatan mereka ditemukan bahan alkali
caustik (soda alkali)

Zaman Pertengahan
• Zaman Gelap disusul oleh Zaman Pertengahan
(Medieval) pada abad ke-10
Zaman Pertengahan
Abad ke-10 sampai Abad ke-15

Karakteristik Zaman
• Kehidupan di Eropa relatif lebih tenang
• Kegairahan belajar mulai bangkit lagi. Mulai
ada pendidikan di luar katedral
• Karya Yunani dan Arab diterjemahkan dari
bahasa Arab ke bahasa Latin terutama oleh
orang Yahudi
• Perhatian kepada filsafat tararah ke metafisika
dan bahkan diperdebatkan
• Filsafat digunakan untuk menjustifikasi agama
• Universitas dengan istilah universitas mulai
muncul pada zaman ini
• Metoda induktif mulai digunakan di dalam
pencarian pengetahuan
Zaman Pertengahan
Filsafat Metafisika

Aliran Filsafat
• Sejak zaman Yunani Kuno sudah ada perbedaan
aliran di bidang metafisika
• Pada zaman pertengahan, setiap aliran
mengemukakan argumentasi masing-masing
• Ada yang berpegang kepada Plato serta ada yang
berpegang kepada Aristoteles

Perdebatan
• Ada kalanya, aliran berbeda saling berdebat
• Argumentasi cukup marak pada abad ke-12
sampai ke-14; Universitas juga mempelajari
esensi universal pada filsafat
• Dari zaman ke zaman terjadi pergeseran anutan
dari satu aliran ke aliran lainnya
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas

Studium
• Bermunculan studium yakni tempat orang
mempelajari bidang pengetahuan tertentu di bawah
pengajar
• Ada tiga studium yang sangat terkenal yakni
studium di Salerno (medik), Bologna (hukum dan
teologi), dan Paris (seni dan teologi); semacam
program studi sekarang

Studium Generale
• Studium generale adalah studium yang terbuka
untuk semua pelajar (dari berbagai negeri)
• Jadi generale di sini berarti terbuka untuk semua
jenis pelajar
• Biasanya studium yang terkenal berbentuk studium
generale
Zaman Pertengahan
Studium dan Uunivesitas

Docendi, Doctor, Magister


• Pengajaran di studium dilakukan melalui
docendi (menggurui)
• Kemudian pengajar dibekali lisensi mengajar
oleh katedral atau kaisar berupa licentiae
docendi dan ius ubique docendi (berhak
mengajar di mana-mana)
• Pelaksana docendi adalah doctor sehingga arti
doctor adalah pemberi docendi atau guru
• Pengajar juga dikenal sebagai magister yang
artinya juga guru
• Doctor dan magister adalah sejajar. Ada jenis
studium yang menggunakan istilah doctor dan
ada yang menggunakan istilah magister
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas
Legere
• Jarang ada buku sehingga buku hanya dimiliki oleh
para pengajar
• Pengajaran berlangsung melalui pembacaan (legere,
lectus) oleh pengajar dan pelajar mencatatnya
• Pengajar yang membaca dikenal sebagai lektor yakni
mereka yang membaca (sekarang dikenal sebagai lektor)
• Ada juga commentatio (komentar) dan summa
(ringkasan)

Disputatio dan Tesis


• Sewaktu-waktu ada disputatio yakni perdebatan
• Di dalam disputatio, ada yang mendudukkan atau
menempatkan (thesis) pemikiran yang perlu
dipertahankannya terhadap sanggahan
• Secara harfiah, thesis berarti mendudukkan atau
menempatkan
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas

Tujuan Belajar
• Tujuan belajar di studium adalah untuk menjadi
doctor atau magister dengan hak mengajar
(dengan semua hak yang berkenaan dengan
jabatannya)

Gelar
• Kecuali hukum, medik, dan teologi, semua
lainnya adalah filsasat, sehingga gelar lulusan
menjadi PhD
• Lulusan medik adalah MD dan luluan hukum
LLD (bukan PhD)

Pakaian
• Di Oxford dan Cambridge, toga adalah pakaian
sehari-hari (kini dipakai pada upacara saja)
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas

Universitas Scholarium
• Dalam bahasa Latin, universitas berarti organisasi
atau korporasi
• Karena mahasiswa luar kota di Bologna
mengalami sejumlah kesulitan (pemondokan,
makan), pada tahun ± 1158, mereka membentuk
universitas scholarium (korporasi pelajar)
• Mahasiswa berasal dari setiap negeri membentuk
consiliarii masing-masing
• Mereka mengangkat rector scholarium (rektor
pelajar) untuk menentukan kurikulum dan upah
pengajar
• Dari Bologna, model universitas scholarium
menyebar ke Padua, Roma, Montpellier,
Salamanca, Perancis bagian selatan (umumnya di
Eropa selatan)
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas

Universitas Magistrorum
• Di Paris, universitas dibentuk oleh para magister
menjadi universitas magistrorum (korporasi
pengajar)
• Pimpinan dan organisasi universitas dipegang oleh
para magister
• Model universitas magistrorum menyebar ke
Oxford, Cambridge, dan Eropa utara (dan ke jajahan
mereka)

Cessatio
• Cessastio adalah berhenti (mogok). Cessatio terjadi
kalau timbul masalah serius
• Pada tahun 1229, terjadi cessatio di Universitas
Paris selama hampir dua tahun. Banyak magister dan
pelajar pergi ke Oxford
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas

Tradisi di Universitas Paris


• Metoda ajar belajar: collatio (kuliah) dan lectio
(penjelasan)
• Masa kuliah:
• 1. St Remi (Okt) - Lent, dan
• 2. Easter - St. Pierre (29 Juni)
• Lulusan: di bawah magister adalah determinatio
(baccaulaureate) dengan hak mengajar di bawah
supervisi magister

Upacara di Universitas Paris


• Di Paris terdapat upacara wisuda berupa pidato
pengukuhan (sekarang: untuk guru besar), duduk
di kursi magister dan memakai topi magister
Zaman Pertengahan
Studium dan Universitas

Pembentukan Universitas Baru


• Mula-mula reputasi universitas bergantung kepada
namanya yang terkenal
• Pengajar dari universitas kurang terkenal yang
pindah ke universitas lebih terkenal sering harus
menempuh ujian dulu
• Kaisar atau raja ingin mendirikan universitas. Agar
memiliki reputasi, pendiriannya dilakukan
melalui keputusan kaisar atau raja
• Sering terjadi bahwa kaisar atau raja sendiri yang
menjadi kepala dari universitas itu dan menjabat
sebagai chancellor
• Dengan demikian, orang yang sehari-hari
mengepalai universitas menjadi vice chancellor.
Di sejumlah universitas, tradisi ini masih berlaku
sampai sekarang
Zaman Pertengahan
Metoda Deduktif dan Induktif

Metoda Deduktif
• Dimulai dari yang telah diketahui (premis),
melalui penalaran, mencapai konklusi
• Metoda ini digemari karena argumentasinya
sangat kuat dan lagi pula mereka tidak usah
melakukan kegiatan manual (kegiatan manual
dilakukan oleh para budak)

Asumsi
• Kelemahan metoda deduktif terletak pada kasus
ketika yang diketahui itu (premis) tidak ada
• Diciptakan asumsi untuk dijadikan yang
diketahui itu yakni dijadikan premis
• Asumsi tidak diuji, terserah mau diterima atau
tidak
Zaman Pertengahan
Metoda Deduktif dan Induktif

Belantara Asumsi
• Karena banyak hal tidak memiliki atau
menemukan premis, maka asumsi bermunculan
tanpa kendali
• Hal yang sama dapat diterangkan melalui asumsi
yang berbeda-beda

Parsimoni (Pisau Cukur Ockham)


• William Ockham mempopulerkan kegiatan
untuk hanya memilih argumentasi yang paling
sederhana untuk diterima dan yang lainnya
ditolak (seperti dicukur)
• Prinsip untuk hanya menerima argumentasi yang
paling sederhana dikenal sebagai parsimoni atau
pisau cukur Ockham
• Parsimoni berlaku sampai sekarang
OCKHAMS’S RAZOR

Ockham’s razor, also spelled Occam’s razor,


also called Law of Economy, or Law of Parsimony, name
given to the principle stated by William of Ockham
(1285-1349?), a Scholastic, that non sunt multiplicanda
entia practer necessitatum; i.e. entities are not to be
multiplied beyond necessity.
The principle was, in fact, invoked before
Ockham by Durand de Saint-Pourçain, a French
Dominican theologian and philosopher of dubious
orthodoxy, who used it to explain that abstraction is the
apprehension of some real entity, such as an Aristotelian
cognitive species, an active intellect, or a disposition, all
of which he spurned as unnecessary. Likewise, in
science, Nicole d’Oresme, a 14th -century French
physicist, invoked the law of economy, as did Galileo
later, in defending the simplest hypothesis of the heavens.
Other later scientists stated similar simplifying laws and
principles.
Ockham, however, mentioned the principle so
frequently and employed it so sharply that it was called
“Ockham’s frazor.” He used it, for instance, to
dispense with relations, which he held to be nothing
distinct from their foundation in things; with efficient
causality, which he tended to view merely as regular
succession; with motion, which is merely the
reappearance of a thing in a different place; with
psychological powers distinct for each mode of sense;
and with the presence of ideas in the mind of the
Creator, which are merely the creatures themselves.
Zaman Pertengahan
Metoda Deduktif dan Induktif
Kisah Gigi Kuda
• Dikisahkan pada tahun 1432, terjadi
perdebatan di biara tentang berapa
jumlah gigi di mulut kuda
• Semua karya kuno dan karya besar
dibaca untuk dicari premis, tetapi
belum juga ditemukan
• Dengan izin para tetua, biarawan muda
membantu dengan menyeret kuda ke
dalam ruangan dan menghitung giginya
• Dianggap sebagai cara hina, biarawan
muda dan kuda diusir dan perdebatan
berlangsung
• Setelah lelah berdebat, mereka
berdamai dengan kesimpulan: jumlah
gigi di mulut kuda adalah suatu misteri,
tidak mungkin diketahui
THE STORY OF HORSE TEETH
In the year of our Lord, 1432, there arose a
grievous quarrel among the brethren over the number
of teeth in the mouth of a horse. For thirteen days the
disputation raged without ceasing. All the ancient
books and chronicles were fetched out, and wonderful
and ponderous erudition was made manifest. At he
beginning of the fourteenth day a youthful friar of
goodly bearing asked his learned superiors for
permission to add a word, and straightaway, to the
wonder of the disputants, whose deep wisdom he
sorely vexed, he beseeched them in a manner coarse
and unheard of, to look in the mouth of a horse and
find answers to their questionings. At this, their dignity
being grievously hurt, they waxed exceedingly wroth;
and joining in a mighty uproar they flew upon him and
smote him hip and thigh and cast him out forthwith.
For, they said, “Surely Satan hath tempted this bold
neophyte to declare unholy and unheard-of ways of
finding truth, contrary to all the teachings of the
fathers.” After many days of grievous strife the dove
of peace set on the assembly, and they, as one man,
declaring the problem to be an everlasting mystery
because of a dearth of historical and theological
evidence thereof, so ordered the same writ down.
– Dari Francis Bacon as cited by CEK Mees,
“Scientific thought and Social Reconstruction,”
American Scientist 22 (1934): 13-24.
Zaman Pertengahan
Metoda Deduktif dan Induktif

Metoda Induktif
• Diperlukan metoda induktif untuk menemukan
jumlah gigi di mulut kuda, sehingga metoda
induktif mulai digunakan
• Kelemahan: terjadi lompatan induktif yang
membuat argumentasi lemah
• Penganut: Robert Grosseteste, Roger Bacon,
John Duns Scotus, William Ockham

Bahaya Metoda Induktif


• Metoda induktif dapat menghasilkan sesuatu
yang bertentangan dengan doktrin penguasa
• Contoh: Kopernikus menemukan sistem
heliosentris yang bertentangan dengan doktrin
katedral (yang geosentris)
Zaman Pertengahan
Alkemi

Terjemahan
• Terjemahan tulisan Arab ke Latin juga
mencakup alkemi
• Alkemi menyerap berbagai sumber termasuk
dari Cina (alkemi Tao)

Buku Jabir
• Pada 1310, Jabir menerbitkan 4 buku alkemi
• Logam memiliki prinsip terbakar dan karatan
dari belerang serta prinsip cair dan lebur dari
merkuri
• Paduan yang cocok dari belerang dan merkuri
dapat menghasilkan emas
• Eksoterik dan esoterik sama majunya
• Ada kalanya menghasilkan bahan kimia baru
ALCHEMY
Alchemy, the pseudoscience whose aims were
to transform base metals such as lead or copper into
silver or gold. Although such attempts have involved
chemical procedures, evidence linking the
pseudoscience with the development of chemistry
itself remains inconclusive.
The theory that five elements (air, water,
earth, fire, space) in various combinations constitute
all matter was postulated in almost identical form in
ancient China, India, and Greece. Further, the world of
matter was seen to function by means of antagonistic,
opposing “forces”—e.g., hot and cold, wet and dry,
positive and negative, male and female. Under their
similar astrological heritages, philosophers of these
three cultures found correspondences among the
elements, planets, and metals.
Astrologers believed that events in the
macrocosm of the natural world were reflected in the
human microcosm, and vice versa. Thus, under the
proper astrological influences, a “perfection,” or
“healing,” of lead into gold might occur, just as the
human soul could achieve a perfect state in heaven.
The artisan in his laboratory could perhaps hasten this
process by careful nurture and long heating, by “kill-
ing” the metal and then “reviving” it in a finer form.
While the practical alchemists invented and
used many laboratory apparatuses and procedures that
in modified form are used today, they were still
essentially artisans and did not wish to reveal their
trade secrets. In an effort to preserve the esoteric
nature of their practices, they devised many
concealing, symbolic names for the materials with
which they work. In addition, Greek writers usually
ascribed their manuscripts to some god, hero, king, or
philosopher of old as a further concealment.
The confusing tendencies were intensified as
the mystically minded began to develop alchemical
ideas. As Hellenistic philosophy shifted more and
more from the technical scientific viewpoint to the
emphasis on divine revelation of Gnosticism,
Neoplatonism, and Christianity, the alchemical
writings became esoteric to the point of total obscurity.
In time the Chinese practitioners, who sought to make
gold not for its own sake but as an elixir of
immortality, also came to emphasize the esoteric
aspects at the expense of all practical technique, and
the art degenerated into a mass of superstition.
Alchemy in India eventually met with a similar fate.
Arabic alchemy is as mysterious in its origins
as the other currents. It presumably migrated to Egypt
during the Hellenistic period, where it became
incorporated into the work of the first alchemist whose
identity has been authenticated, Zomisos of Panopolis.
Through their contact with China, the Arabs adopted the
use of a transmuting “medicine,” the mysterious
substance that appears later in European alchemy as the
philosopher’s stone. Translations of the Arabic works of
ar-Razi (c. 850-923 or 924) by Christian scholars in the
12th century led to a revival of the art in Europe. By 1300
the subject was being discussed by the leading
philosophers, scientists, and theologians of the day.
Important alchemical discoveries of the period include
the mineral acids and alcohol. Medical chemistry, or
pharmacy, emerged from this revival two centuries later
under the influence of Paracelsus (1493-1541), a Swiss-
German alchemist.
Renaissance physicists and chemists began to
discount the possibility of transmutation on the basis of a
renewed interest in Greek atomism. The chemical facts
that had been accumulated by the alchemists were now
reinterpreted and made the basis upon which modern
chemistry was erected. It was not until the 19th
century, however, that the possibility of chemical gold-
making was conclusively contradicted by scientific
evidence. Sporadic revivals of alchemical philosophies
and techniques persisted into the 20th century.
Zaman Pertengahan
Filsafat Scholaticism

Filsafat Scholasticism
• Pada zaman pertengahan, sejumlah biarawan
menjadi ahli filsafat
• Di antaranya St. Agustin, St. Anselmus, St.
Thomas Aquinas
• Mereka menggunakan filsafat untuk
menerangkan agama dan doktrin katedral
• Aliran filsafat mereka dikenal sebagai
scholaticism

Scholaticism dan Induksi


• Scholasticism tidak menolak metoda induksi
dengan syarat
• Syaratnya adalah seluruh kegiatan induktif tidak
boleh bertentangan dengan doktrin katedral
Zaman Kebangkitan
Abad ke-15 sampai Abad ke-18

Karakteristik Zaman
• Disebut sebagai Renaissance, banyak perubahan
terjadi pada zaman ini
• Kemajuan di bidang observasi dan eksperimen
• Sintesis agung ilmu dengan matematika
• Metoda ilmiah
• Alkemi menjadi kimia
• Kemajuan di bidang matematika dan ilmu alam
• Kemajuan di bidang pertukangan

Penjelajahan
• Terjadi penjelajahan ke seluruh dunia
• Columbus tiba di benua Amerika
• Vasco da Gama mengelilingi bumi
• Belanda sampai ke Indonesia
Zaman Kebangkitan
Observasi dan Eksperimen

Observasi Ilmiah
• Observasi astronomi melalui teropong
dilakukan oleh Kopernikus, Galileo, Tycho
Brahe
• Lahir teori heheliosentris (berbeda dengan
geosentris) dan ditemukan bulan di planet
saturnus
• Heliosentris ditentang oleh Katedral
• (kini dilindungi dengan kebebasan akademik)

Temuan
• Kopernikus mengemukakan sistem heliosentri
dengan garis edar lingkaran
• Kepler (dengan data Tycho Brahe) menemukan
garis edar berbentuk elips
• Galileo menemukan bulan di planet Jupiter
melalui teropong
Zaman Kebangkitan
Observasi dan Eksperimen

Eksperimen Ilmiah
• Galileo menjatuhkan benda dari menara Pisa
dan menemukan bahwa benda ringan dan berat
tiba di tanah dalam waktu yang sama
(membantah asumsi Aristoteles)
• Galileo melakukan percobaan tentang gerak
benda pada bidang miring dan menyusun
rumus gerak benda

Dinamika Gerak (Gallileo)


• Sebelum Newton, Galileo menemukan
dinamika gerak
• Termasuk rumus gerak, gerak parabola, gaya
sentripetal
SCHOLASTICISM

The philosophical systems and speculative tendencies of


various medieval Christian thinkers who, working on a
background of fixed religious dogma, sought to solve
anew general philosophical problems (as of faith and
reason, will and intellect, realism and nominalism, and the
provability of the existence of God), initially under the
influence of the mystical and intuitional tradition of
patristic philosophy and especially Augustinianism and
later under that of Aristotle.
In the early Middle Ages the authority of the Church
Fathers still remain important especially that of the
Pseudo-Dionysus, with his hierarchically ordered cosmos.
(Pseudo-Dionysus wrote under the name of Dionysus the
Areopagite—one of St. Paul’s convents—around AD 500
in order to clothe his own works in a borrowed authority.)
The impact of the controversial theologian Peter Abelard
in the 11th century, however, brought logic to the forefront
of scholastic philosophy and rendered reliance upon the
authority of the Fathers alone inadequate.
For such medieval theologians as Albertus Magnus and
Thomas Aquinas, reasoned assumed an important role in
theology, not as the antithesis of faith, but as its
supplement. Thus, the scholastics made a systematic
attempt to map out the field of theology as a science and
in so doing developed new treatises on matters that had
previously belonged to preaching (e.g. the sacraments).
They began to prevail over the more contemplative
and monastic schools, which held that theology
considered in wisdom rather than in science. They
borrowed freely from the philosophy of Aristotle,
which came to them largely via the Islamic
philosophers Averoes (1126-98) and Avicenna (980-
1037). They aimed at a synthesis of learning in which
theology surmounted the hierarchy of knowledge.
The primary methods of teaching were the
lectio (lecture) and the disputatio (formal debate),
which consisted largely in the presentation and
analysis of syllogisms. Although there was fairly
general agreement as to method and aim, Scholastics
did not always agree among themselves on points of
doctrines. Distinct schools of theology emerged, the
most influential being those of the Franciscan Duns
Scotus, for whom a world created in God’s groundless,
absolute freedom could exhibit no “necessary
reasons,” and the Dominican St. Thomas Aquinas, for
whom faith, in general, presupposed and therefore
required natural reason. The Thomist position tended
increasingly to prevail, and Aquinas was eventually
declared “common doctor” of the church and consider-
ed the repository of sound and orthodox doctrine. His
Summa Theologiae (“Summary of Theology”) became
the standard textbook of theology, and the era of the
great commentaries on Aquinas began. One of the
most famous was that of a 16th-century Dominican,
Cardinal Thomas de Vio, commonly known as
Cajetan.
The polemical atmosphere of the Reformation
and Counter-Reformation introduced a new factor.
While Protestant theologians stressed scriptural and
patristic authority and despised the Scholastics as
logic-chopping obscurantists, Catholic theologians
came to rely on the latter more and more heavily. The
Metaphysical Disputations of the late 16th-century
Jesuit Francisco Suares, however, reveal a concern for
the spirit rather than the letter of Scholasticism. Rather
than commentary on Aquinas, his work is an original
philosophical treatises inspired by Aquinas and others.
The first author to try to extract a philosophy
(apart from theology) from Aquinas was the
Dominican John of St. Thomas in the 17th century with
his Cursus Philosophicus, and this example was much
followed. The medieval synthesis was still further
fragmented as new treatises were devised on such
subjects as ecclesiology, apologetics, moral theology,
and cosmology. Nevertheless, the medieval were
retained
as a point of reference, and these philosophers and
theologians saw themselves as the heirs to the
Scholastic tradition. Th18th and 19th centuries were a
period of decadent Scholasticism. The tradition
survived as a form of emasculated Aristotelianism out
of touch with contemporary thought and science, it
continues to be taught in Latin, providing what
amounted to a memory test for Catholic seminarians.
A Thomist revival was announced and
stimulated by Pope Leo XIII’s encyclical Aeterni Puris
(1879); so called Neoscholasticism became the
dominant school in the Roman Catholic universities,
although it proved at first incapable of dialogue with
contemporary philosophy and played a conservative
role in the Modernist crisis of the early years of the 20th
century. Subsequently, however, Neoscholasticism
and Neothomism earned renewed respect on the basis
of the historical scholarship of the French Christian
philosopher Etienne Gilson and others, who traced the
original contributions of the Scholastics and their
influence on subsequent philosophy.
Zaman Kebangkitan
Observasi dan Eksperimen
Teori Newton
• Newton mengemukakan teori mekanika:
kelembaman dan gravitasi
• Merupakan salah satu temuan terbesar di bidang
ilmu

Sintesis Agung
• Observasi, eksperimen, dan teori Newton
menggunakan matematika sehingga terjadi
sintesis di antara ilmu alam dengan matematika
• Sintesis ini sangat produktif sehingga
menghasilkan kemajuan yang pesat di bidang ilmu

Matematika
• Mengalami kemajuan yang pesat, dari ahli
matematika Italia, ke Perancis, dan ke Jerman
Zaman Kebangkitan
Observasi dan Eksperimen

Alkemi
• Alkemi eksoterik dan esoterik terus berkembang
• Mereka mencari suatu bahan yang dinamakan
elixir (al-iksir) atau philosopher’s stone yang
dipercaya dapat menjadi katalisator pembuatan
emas dari bahan murah
• Elixir dapat membuat orang panjang umur
• Pembuatan emas tidak mereka peroleh, tetapi
mereka menemukan sejumlah bahan baru
• Kegiatan mereka mendekati kegiatan kimia

Bernard Trevisan
• Ada kisah tentang Bernard Trevisan yang sejak
muda berusaha membuat emas tetapi tidak
berhasil (agaknya fiktif)
Zaman Pertengahan
Observasi dan Eksperimen

Paracelsus dan Pengobatan


• Nama aslinya adalah Theophratus Philippus
Aureolus Bombastus von Hohenheim, kemudian
menggunakan nama Paracelsus (1493-1541)
• Anak seorang dokter dan kemudian belajar di
Universitas Basel dan menjadi dokter
• Paracelsus percaya bahwa bahan dari alkemi dapat
dijadikan obat sehingga bertengkar dengan para
dokter dan farmasi yang masih menggunakan
pengobatan cara kuno
• Ketika diangkat menjadi guru besar medik di
Universitas Basel, pada tahun 1527, di depan
umum, Paracelsus membakar buku pengobatan
kuno
• Dimusuhi banyak orang, Paracelsus pergi
meninggalkan Basel dan berkelana
Zaman Pertengahan
Observasi dan Eksperimen

Paracelsus dan Alkemi


• Paracelsus percaya bahwa alkemi dapat mengubah
bahan alami dan menghasilkan bahan baru untuk
keperluan baru
• Walaupun gagal membuat emas, para alkemi
berhasil menemukan sejumlah bahan baru

Alkemi Menjadi Kimia


• Dibantu dengan teori ilmiah, alkemi memudar dan
hilang
• Dirintis oleh Lavoisier, muncul kimia yang
mengenal teori dan eksperimen di laboratorium

Pembetulan Kalender
• Pada tahun 1527, Paus Gregorius membetulkan
kalender (ada lompatan 10 hari di bulan Oktober)
Zaman Pertengahan
Observasi dan Eksperimen

Rekapitulasi Perkembangan
• Kopernikus: heliosentrik (tata surya)
• Kepler (dengan data dari Tycho Brahe): gerakan
benda langit adalah elips
• Galileo Galilei: dinamika gerak (percepatan jatuh
dan sentrifugal, gerak parabola dan proyektil),
bulan di Jupiter
• Isaac Newton: teori gravitasi

Dampak
• Bumi hanya planet kecil, arti manusia di jagad
raya menjadi kecil
• Komet bisa diterangkan, banyak tahayul lenyap
• Tuhan berurusan dengan jagad raya yang besar
sehingga urusan manusia hanya bagian kecil
Zaman kebangkitan
Metoda Ilmiah

Metoda Ilmiah Descartes


• Rene Descartes menulis Risalat Metoda
• Ada empat aturan pada metoda ilmiah ini yang
dimulai dari meragukan apa yang belum diyakini
secara pasti
• Ragukan masa kini, masa lalu, masa depan, dan
pikiran orang lain
• Bahkan Descartes meragukan keberadaan dirinya
sendiri. Katanya cogito ergo sum (saya berpikir
maka saya ada)

Pengaruh Metoda Descartes


• Aturan Descartes ini berpengaruh sampai
sekarang
• Metoda ini digunakan pada metodologi penelitian
METHODIC DOUBT

Methodic doubt in Cartesian philosophy, a


way of searching for certainty by systematically
though tentatively doubting everything. First, all
statements are classified according to type and source
of knowledge—e.g. knowledge from tradition,
empirical knowledge, and mathematical knowledge.
Then, examples from each class are examined. If a
way can be found to doubt the truth of any statement,
then all other statements of that type are also set aside
as dubitable. The doubt is methodic because it assures
systematic completeness, but also because no claim is
made that all—or even that any—statements in a
dubitable class are really false or that one must or can
distrust them in an ordinary sense. The method is to set
aside as conceivably false all statements and types of
knowledge that are not indubitably true. The hope is
that, by eliminating all statements and types of
knowledge the truth of which can be doubted in any
way, one will find some indubitable certainties.
In the first half of the 17th century, the French
Rationalist Rene Descartes used methodic doubt to
reach certain knowledge of self-existence in the act of
thinking, expressed in the indubitable proposition
cogito, ergo sum (“I think, therefore I am”). He found
knowledge from tradition to be dubitable because
authorities disagree; empirical knowledge dubitable
because of illusions, hallucinations, and dreams; and
mathematical knowledge dubitable because people
made errors in calculating. He proposed an all-
powerful, deceiving demon a a way of involving
universal doubt. Although the demon could deceive
men regarding which sensations and ideas are truly of
the world, or could even make them think that there is
an external world when there is none, the demon could
not make men think that they exist when they do not.
Zaman Kebangkitan
Metoda Ilmiah: Aturan Descartes

Aturan #1
• Jangan menerima sesuatu sebagai kebenaran
selama kita tidak mengetahui secara jelas
bahwa sesuatu itu adalah demikian
• (ini dikenal sebagai methodic doubt)

Aturan #2
• Membagi kesulitan yang sedang diperiksa ke
dalam sebanyak mungkin bagian dan seperlu
mungkin untuk memperoleh pemecahan yang
pantas
• (kemudian dikritik sebagai reduksionis karena
melihat sesuatu dari bagian-bagian dan bukan
secara menyeluruh)
Zaman Kebangkitgan
Metoda Ilmiah

Aturan #3
• Mengatur pikiran kita menurut urutan sehingga
dengan memulai penelitian pada obyek yang
paling sederhana dan yang paling mudah untuk
diketahui, langkah demi langkah, ke bagian
yang lebih kompleks

Aturan #4
• Di dalam setiap kasus kita membuat
perhitungan yang lengkap dan ditinjau secara
umum sehingga kita dapat memastikan bahwa
tidak ada cara yang terlewatkan
Zaman Kebangkitan
Metoda Ilmiah

Kritik terhadap Descartes


• Metoda ilmiah Descartes masih kita
pergunakan sampai sekarang
• Di semua penelitian, kita membagi dan
membatasi masalah kita ke dalam bagian
tertentu
• Kemudian kita membatasi masalah kita pada
bagian tertentu saja
• Muncul kritik yang mengatakan bahwa metoda
ini adalah reduksionis karena melihat sesuatu
dari bagian-bagian
• Ada yang mengusulkan metoda wholistic yakni
memecahkan masalah secara keseluruhan
Zaman Kebangkitan
Observasi dan Eksperimen

Contoh Tubuh Manusia


• Tubuh dipecah menjadi jiwa dan raga
• Jiwa dipecah menjadi psikiatri dan psikologi
• Raga dipecah menjadi banyak bagian (mata,
kulit, jantung, dan lainnya)
• Tiap bagian dipelajari tersendiri dengan
keahlian terpisah

• Ada yang ingin melihat tubuh manusia secara


utuh
• Tidak jelas bagaimana sebenarnya metoda
wholistic ini
• Masih di dalam pembicaraan
Zaman Kebangkitan
Bidang Pertukangan

Bidang Pertukangan
• Bidang pertukangan juga mengalami kemajuan
yang cepat
• Terjadi sumbangan secara silang di antara ilmu
dan pertukangan
• Pertukangan membuat alat yang lebih canggih
(teropong, kompas) untuk digunakan oleh ilmu
• Sebaliknya temuan ilmiah dapat dimanfaatkan
oleh pertukangan untuk meningkatkan
kemampuan pertukangan

Teknik dan Teknologi


• Ilmu dan pertukangan yang maju kelak menjadi
ilmu teknik dan teknologi
Zaman Modern
Abad ke-18 sampai Sekarang

Revolusi Industri
• Revolusi industri pada abad ke-18 digunakan sebagai
waktu dimulainya zaman modern
• Kemajuannya dapat kita saksikan pada zaman ini,
terutama di bidang ilmu dan teknologi
• Ada yang mengidentifikasi zaman sekarang ini sebagai
zaman informasi pascaindustri

Filsafat
• Ada sejumlah aliran filsafat yang berkembang pada
zaman modern (Hegel, Marx, Satre, dan lainnya),
namun di sini, kita hanya melihat aliran yang banyak
sangkut pautnya dengan filsafat ilmu
• Mereka mencakup filsafat positivisme, filsafat analitik
(linguistik), dan filsafat postivisme logika
Zaman Modern
Aliran Filsafat

Filsafat Positivisme
• Diidentifikasi juga sebagai filsafat ilmu
• Membatasi filsafat kepada hal-hal yang dapat
diuji secara empirik

Filsafat Analitik
• Dikenal juga sebagai filsafat linguistik (bahasa)
• Filsafat diungkapkan dan dikomunikasikan
melalui bahasa sehingga masalah filsafat adalah
masalah bahasa

Filsafat Positivisme Logika


• Positivisme ditambahkan dengan logika dan
analisis bahasa
• Metodologi penelitian bertumpu juga pada
filsafat ini
Zaman Modern
Kemajuan Ilmu dan Teknologi

Kemajuan Ilmu
• Kemajuan pesat terjadi di berbagai cabang ilmu
• Muncul jurnal untuk publikasi temuan ilmiah
• Terdapat hadiah (termasuk Nobel) bagi temuan
yang dinilai sangat menonjol
• Penerapan temuan ilmu ke teknologi terjadi
dalam tenggang waktu yang makin singkat

Kemajuan Ilmu Teknik


• Ilmu teknik juga mengalami kemajuan pesat
• Terpecah ke dalam sejumlah disiplin
• Menggunakan temuan di bidang ilmu
• Membuat alat canggih untuk penelitian di
bidang ilmu
Zaman Modern
Kemajuan Ilmu dan Teknologi
Beberapa dimensi kemajuan
• Sangat kecil sampai ke partikel subatomik dan
bahkan partikel elementer
• Sangat besar sampai ke galaksi dan cluster
galaksi
• Sangat cepat pada siklotron dan pencepat
partikel subatomik lainnya
• Sangat jauh melalui pesawat antariksa dan
bahkan ke luar tata surya
• Sangat mendekati inti kehidupan sampai ke
genetika dan gnome
• Sangat cerdas sampai ke komputer dan
kecerdasan buatan
• Sangat menyentuh kesehatan sampai ke
transplantasi dan cloning
• Sangat halus sampai ke nanoelektronika dengan
skala nanometer (submikron)
Zaman Modern
Kemajuan Ilmu dan Teknologi

Segi Positif
• Ada mesin tenaga alam sehingga hewan dan
budak menjadi bebas
• Ada mesin terampil dan robot sehingga
membebaskan manusia dari pekerjaan
monoton dan berbahaya
• Ada mesin komupter sehingga membebaskan
manusia dari hitung yang lambat
• Ada pengobatan canggih sehingga
membebaskan manusia dari banyak jenis
penyakit

Segi Negatif
• Alat digunakan untuk perang dan membunuh
orang secara massal
• Senjata nuklir dapat memusnahkan peradaban
manusia
Zaman Modern
Kemajuan Ilmu dan Teknologi

Moral Ilmuwan
• Ilmuwan makin berbahaya sehingga diperlukan
ilmuwan yang bermoral dan jujur
• Diperlukan etika untuk eksperimen, biasanya,
dilakukan melalui dewan etika
• Ada juga etika publikasi yang perlu dipatuhi
oleh para ilmuwan

Konvensi Internasional
• Larangan senjata pembunuh massal
• Perlindungan terhadap bumi
• Perlindungan terhadap hewan dan tumbuhan
• Hak asasi manusia
Zaman Modern
Ilmu dan Teknologi

Dari Ilmu ke Teknologi


• Dua abad lalu, tidak diketahui apa gunanya
listrik
• Satu setengah abad lalu, tidak diketaui apa
gunanya sistem bilangan biner
• Pada waktu lalu, tidak diketahui apa gunanya
bilangan prima

Kecepatan Kemajuan
• Tiap 18 tahun isi perpustakaan melipat dua
• Jumlah organisasi ilmuwan bertambah
• Waktu antara ilmu ke teknologi makin singkat
• Kecepatan gerak yang dihasilkan manusia
makin besar