Anda di halaman 1dari 28

BURUNG WALET

OLEH
LUCIA J. LAMBEY
Klasifikasi Burung
Walet
Kingdom : Animalia
Fillum : Chordata
Subfillum : Vertebrata
Kelas : Aves
Ordo : Apodiformes
Familia : Apodidae
Genus : Collocalia, aerodramus
Spesies : Collocalia fuciphaga (walet putih)
Collocalia esculenta/linchi (walet sapi/sriti
Aerodramus maximus (walet sarang hitam)
Aerodramus vulcanorum (walet gunung)
Aerodramus salanganus (walet sarang lumut)
Spesies walet umumnya
dibedakan berdasarkan :
Ukuran tubuh
Warna bulu
Bahan yang dipakai untuk
membuat sarang
Burung walet adalah burung
HABITAT aerial (sepanjang hari
BURUNG WALET

terbang mencari makan). Burung walet mencari


makan dibeberapa tipe habitat, hutan, sawah,
tegal, sungai dan rawa.
Malam hari istirahat dan berbiak di gua-gua atau
celah batu
Jenis-jenis pohon yang sering didatangi burung
walet adalah beringin (Ficus benjamina), kenari
(Canarium commune), kihujan (Samanea saman),
angsana (Pterocarpus indicus), dan flamboyan
(Delonix regia). pohon Ara (Ficus annulata) karena
banyak tawon yang sering beterbangan di atasnya.
Manfaat sarang burung walet
Bermanfaat bagi dunia kesehatan seperti
menyembuhkan paru-paru, panas dalam,
melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.
Untuk kecantikan (Kosmetik)

Menurut Mardiastuti dalam penelitiannya


menemukan adanya zat spesifik dalam
sarang walet yang berpengaruh pada
kesehatan manusia. Zat tersebut dianalisis
sebagai ODA (9-octadecenoic acid) dan
HDA (hexadecenoic acid). Menurutnya
HDA inilah yang umum ditemukan pada
minuman suplemen yang bersifat
menguatkan atau berfungsi meningkatkan
vitalitas tubuh (Redaksi Trubus, 2001:
128).
Kandungan protein sarang walet cukup tinggi
(51,5%), karbohidrat 17,7%, abu 11,6%, dan
kandungan lemaknya bisa dikatakan sangat
rendah (0,07%). Beberapa mineral yang
penting ditemukan, antara lain kadar nitrogen
8,23%, fosfor 0,27%, kalium 1,01%, kalsium
1,4%, Fe 278,6 ppm, dan natrium 0,4%. Kadar
vitamin antara lain vitamin C 2,15%, vitamin
12,09IU/g, dan niasin 3,15 mg/g
Kandungan lemak dan kolesterol sangat rendah
Morfologi Collocalia fuciphaga (Burung walet
sarang putih) dan Collocalia linchi (Burung
walet sarang rumput)
Collocalia fuciphaga
Collocalia linchi
(Burung walet sarang (Burung walet sarang rumput)
putih)
Burung walet sriti
Tampak dorsal Tampak ventral
Sarang Burung Sriti (Collocalia Esculenta)
dibangun dari material seperti daun cemara,
rumput, dan lumut laut yang direkatkan oleh
air liur burung.
Walet adalah burung penghasil sarang yang
dibentuk dari air liurnya. Air liur walet
diproduksi oleh kelenjar saliva yang terletak
dibawah lidah (Harrison, 1975: 106).
Burung Walet Sarang
Putih menghasilkan
sarang yang
seluruhnya terbuat
dari saliva
Burung Walet Linchi
dan Burung Walet
Esculenta
menghasilkan sarang
dari campuran saliva
dengan bahan lain
seperti daun pinus,
ranting atau tali
Morfologi Burung Walet Ukuran paruhnya relatif kecil dengan
Memiliki daya bukaan lebar, sehingga mampu
menangkap dan memangsa
jelajah/kemampuan serangga sambil terbang. Oleh
terbangnya hingga ratusan karena itu, ujung paruh membentuk
kilometer dengan kecepatan sedikit lengkungan ke bawah.
Seperti burung pemakan serangga
150 km/jam.
umumnya, paruh walet berbentuk
Memiliki sayap yang panjang segi tiga
dan runcing. Indera penciumannya sangat tajam.
Bentuk tubuhnya ramping Aroma yang hampir tidak tercium
oleh manusia, bisa tercium oleh
mirip burung gereja. Stuktur kelompok walet, khususnya spesies
tubuh ini sangat cocok untuk collacolia fuciphaga.
menghalau arus udara dari Kaki berukuran sangat kecil dan
depan/bersifat aerodinamis. stukturnya sangat lemah, sehingga
tidak cukup kuat untuk berjalan.
Panjang tubuhnya antara 9-15 Namun, justru dengan struktur kaki
cm. yang seperti ini membuet ini
Ekor umumya bercabang 2 mampu merayapi dinding-dinding
gua yang kasar, terutama saat
dengan belahan yang membuat sarang.
bervariasi, yakni ada yang
Pola Hidup Burung
Walet
Walet merupakan burung yang hidup secara berkelompok
atau berkoloni.
Walaupun hidup berdesak-desakkan di satu tempat, walet
tidak saling mengusik. Semakin besar tempat tinggal
walet maka semakin besar pula anggota kelompoknya..
Walet berkelompok antara lain untuk berburu serangga
ke hutan atau peladangan. Pagi hari berangkat bersama
dan sore hari pulang bersama kembali. Suatu kelompok
walet akan membangun sarang-sarang secara
berdekatan pada tempat tinggalnya (Budiman,2005: 26-
27). Untuk mengetahui dengan tepat posisi sarang,
walet mengeluarkan suara melengking atau suara
krincing atau suara echolokasi (mengeluarkan suara
untuk menentukan arah dikegelapan). Suara
dipantulkan kembali oleh dinding rumah atau gua
tempat bersarangnya, menuntun walet untuk
TINGKAH LAKU BURUNG WALET

Pada musim membuat sarang dan bertelur, walet pulang lebih cepat
dari hari biasanya. Walet adalah tipe burung yang memiliki sifat homing
behavior. Walet terikat pada tempat tinggalnya dan senantiasa akan
pulang ke tempat itu lagi selama keadaan tempat sesuai dan aman.
Selain itu pada burung yang sedang merawat anaknya, waktu untuk
berkeliarannya juga terbatas, mereka lebih sering mondar-mandir untuk
menyuapi anaknya. Kegiatan ini berhenti hingga anaknya bisa terbang
dan dapat mencari makan sendiri. Menjelang matahari tenggelam,
burung walet kembali kehuniannya. Biasanya walet terbang lurus
sewaktu berburu, sedangkan sewaktu pulang ke rumahnya walet akan
terbang berputar-putar mengelilingi rumah. Mereka tidak langsung
masuk ke dalam gedung. Setelah seharian berkeliaran, mereka biasanya
berputar-putar lebih dahulu di sekitar hunian. Tujuannya adalah untuk
meregangkan otot-otot sayapnya sebelum beristirahat pada malam hari.
Burung walet beristirahat dengan cara bertengger di sarangnya. Jika
belum menghasilkan sarang, burung-burung ini bertengger atau
bergelantungan di dinding dan dikerangka-kerangka kayu di hunian
rumah dengan cara mencengkeramkan kaki-kakinya (Djuwantoko, 1999:
17-19)
Perkembangbiakan Burung Walet

Aktifitas reproduksi burung :


Penentuan daerah kekuasaan (teritorial)
Menemukan pasangan
Membangun sarang,
Pengeraman telur, dan
Pengasuhan anak.
Bila musim hujan tiba walet akan mengalami masa kawin.
Untuk kondisi yang kurang lembab biasanya walet pun
enggan untuk kawin dan membuat sarang walaupun pada
saat itu sudah masa kawin untuk burung walet karena kondisi
bangunan kurang lembab.
Masa produksi
Burung walet mulai memasuki
masa produksi pada usia sekitar
8-10 bulan. Pada fase ini, seluruh
organ yang berkaitan dengan
reproduksi mulai berfungsi.
Sebagai contohnya, walet sudah
mulai mengeluarkan bunyi untuk
memikat pasangannya, organ
kelamin mulai berfungsi, dan
glandula sublingualis (kelenjar di
bawah lidah) mulai menghasilkan
saliva.
Pada saat ini, walet siap
berkembang biak (breeding) yang
diawali dengan membangun
sarang, tentunya setelah
menemukan pasangannya
Daya hidup burung walet 6 tahun.
Burung dewasa ditandai dengan warna bulu yang hitam
seluruhnya
Walet dewasa mengeluarkan suara
Memasuki musim kawin walet terbang berpasangan
Masa berkembang biak burung walet dimulai bulan september
hingga April
Sebelum kawin jantan dan betina membuat sarang
Burung walet jantan rajutan air liurnya lebih panjang
Pembuatan sarang 40-80 hari
Satu malam burung membuat satu baris air liur sepanjang
45mm, tinggi 8mm, tebal 2,5mm
Kawin dapat dilakukan saat terbang atau dalam sarang
Faktor klimatik (eksternal) berpengaruh pada
aktifitas reproduksi burung. Faktor klimatik seperti
suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan
kecepatan angin akan mempengaruhi
hipothalamus, kemudian hipothalamus akan
mempengaruhi kelenjar pituitaria anterior. Kelenjar
pituitaria anterior akan mensekresi hormon
prolaktin. Prolaktin menstimulasi produksi air susu
sehingga mempengaruhi perilaku menyusui atau
jika pada bangsa burung adalah perilaku memberi
makan anaknya (Miller, 2005: 415).
BUDIDAYA BURUNG WALET
Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:
Dataran rendah dengan ketinggian
maksimum 1000 m dpl.
Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh
kemajuan teknologi dan perkembangan
masyarakat.
Daerah yang jauh dari gangguan burung-
burung buas pemakan daging.
Persawahan, padang rumput, hutan-hutan
terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa
merupakan daerah yang paling tepat
Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat
C dan kelembaban 80-95 %.

Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:


Melapisi plafon dengan sekam setebal 2 Cm

Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.

Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk L yang


berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm.
Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak
terpakai.
Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang

berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam


sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap.
Suasana gelap lebih disenangi walet.

Bentuk dan Konstruksi Gedung


Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung
besar, luasnya bervariasi dari 1015 m 2 sampai
1020 m 2 .
Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin
besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin
baik rumah walet dan lebih disukai burung walet.
Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi
Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room
sebagai tempat berputar-putar dan resting room
sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang.
Lubang tempat keluar masuk burung berukuran
2020 atau 2035 cm 2 dibuat di bagian atas.
Pemilihan calon induk dan perawatan bibit

Pemilihan Calon Induk


Cara untuk memancing burung sriti agar masuk
dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan
kaset rekaman dari suara walet atau sriti.
Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.0018.00
Perawatan Bibit dan Calon Induk
Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet
yang sedang melakukan panen cara buang telur.
Panen ini dilaksanakan setelah burung walet
membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet
diambil untuk ditetaskan dengan menetaskannya
di dalam sarang sriti.
Memilih Telur Walet

Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam


warna, yaitu :
Merah muda, telur yang baru keluar dari

kloaka induk berumur 05 hari.


Putih kemerahan, berumur 610 hari. Putih

pekat kehitaman, mendekati waktu


menetas berumur 1015 hari.
Telur walet berbentuk bulat panjang,

ukuran 2,0141,353 cm dengan berat 1,97


gram
Metode penetasan telur
walet
Menggunakan induk Menggunakan mesin
sriti tetas

Suhu mesin 40C


Penggantian telur Kelembaban 70%
dilakukan pada siang hari Dua kali sehari posisi
Pengambilan telur harus
telur dibalik
dengan sendok atau tisue
Pembalikkan telur
Selanjutnya dierami
sampai menetas, dan sampai hari ke 12
tetap diasuh oleh induk Telur menetas hari 13-
sampai bisa terbang 15
Sumber Pakan
Untuk mendapatkan sarang walet yang
memuaskan, pengelola rumah walet harus
menyediakan makanan tambahan terutama untuk
musim kemarau. Beberapa cara untuk
menghasilkan serangga adalah:
menanam tanaman dengan tumpang sari.

budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.

membuat kolam dipekarangan rumah walet.

menumpuk buah-buah busuk di


pekarangan rumah
Cara panen
Panen rampasan
Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan
walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak
waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang
burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian
burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk
terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas
sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak
mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
Panen Buang Telur
Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir.
Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai
keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu
sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun
kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan
telurnya.
Panen Penetasan
Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah
bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak
dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet
dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat
meningkat
PREDATOR SARANG DAN BURUNG
WALET
DALAM KANDANG DILUAR KANDANG

TIKUS
SEMUT
KECOA
TOKEK KELELAWAR
ELANG