Anda di halaman 1dari 24

REFERAT PERSENTATION

PENANGANAN JALAN NAPAS

Pembimbing :
dr. Ratna Anggraeni Sp.An

NOCA ARIANTI
030.13.240

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BEKASI
PERIODE 24 JULI 2017-26 AGUSTUS 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
PENDAHULUAN

Pengelolaan jalan napas bagian yang terpenting dalam suatu


tindakan anestesi.
Salah satu usaha menjaga jalan napas, dengan melakukan tindakan
1. Intubasi endotrakeal
2. Pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA)
Tahap akhir dari intubasi adalah ekstubasi
DEFINISI

Airway management memastikan jalan napas terbuka,


dengan tujuan untuk menjamin jala masuknya udara ke paru
secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigenasi
tubuh.

Menurut The Commite on Traume: American College of


Surgeon, tindakan melapangkan saluran pernapasan yaitu
dengan cara
Triple Manuver
Manuver Heimlich
ANATOMI

Ada 2 gerbang untuk masuk kejalan nafas


pada manusia
1. Hidung yang menuju nasofaring (pars nasalis)
2. Mulut yang menuju orofaring (pars oralis)
Nasofaring dan Orofaring dipisahkan
oleh palatum pada bagian anteriornya
bergabung di posterior dalam faring.
Membran mukosa dari hidung bagian anterior dipersarafi oleh N.
ophthalmic (V1) (saraf ethmoidalis) dan dibagian posterior oleh N.
Maxilla (V2) (saraf sphenopalatina).
Saraf palatinus mendapat serabut saraf sensoris dari saraf trigeminus
(V) untuk mempersarafi permukaan superior dan inferior dari
palatum molle dan palatum durum.
Airway Management

Tindakan penguasaan jalan napas darurat ( tanpa alat )


Jika tonus otot meghilang, lidah akan menyumbat faring dan epiglottis
akan menyumbat laring. Untuk menghindari dapat dilakukan bbrp
tindakan
Head tilt-chin lift maneuver dilakukan jika tidak ada trauma
pada leher.
Satu tangan mendorong dahi kebawah agar kepala tengadah
Tangan lain mendorong dagu
Hidung menghadap ke atas dan epiglottis akan terbuka.

Jaw thrust maneuver dilakukan pada pasien dengan


trauma leher.
Rahang bawah diangkat didorong kedepan pada sendi
nya
Pengelolaan jalan napas (Airway Management) dengan alat

1. Oral & Nasal Airway


Untuk mempertahankan jalan napas jalan napas buatan (artifial
airway) dapat dimasukkan melalui mulut atau hidung agar
menimbulkan aliran udara antara lidah dengan dinding faring bagian
posterior.
Nasal airway
Panjang diperkirakan jarak antara lubang
Oral airway
hidung ke lubang telinga
Oral airway dewasa umumnya
Kira-kira 2-4 cm lebih panjang dari oral
berukuran kecil (80mm/Guedel No 3)
airway
Medium (90 mm/Guedel no 4)
Memiliki resiko epistaksis tidak boleh
Besar (100 mm/Guedel no 5)
diberikan pada pasien yang diberi
antikoagulan atau anak dengan adenoid.
Teknik dan Bentuk Face Mask

Face mask dapat memfasilitasi pengaliran oksigen atau gas anestesi


dari system pernafasab ke pasien.
Orifisium face mask dapat disambungkan
ke sirkuit mesin anestesi melalui konektor
Terdapat berbagai model mask
face mask yang transparan dapat mengobservasi uang gas
ekspirasi dan muntahan
face mask yang dibuat dari karet berwarna hitam cukup lunak
untuk menyesuaikan dengan bentuk muka yang tidak umum.
Teknik menggunakan face mask

Bila face mask dipegang dengan tangan kiri, tangan kanan digunakan
untuk melakukan ventilasi dengan tekanan positif dengan memeras
breathing bag.
Facemask dipasang di muka pasien dan
sedikit ditekan pada badan facemask dengan
ibu jari dan telunjuk
Jari tengah dan jari manis menarik mandibular
untuk ekstensi sendi atlantoocipital.
Tekanan jari-jari harus pada mandibular, jangan pada jaringan lunak
yang menopang dasar lidah karena dapat terjadi obstruksi jalan napas.
Jari kelingking dibawah sudut rahang dan untuk melakukan jaw thrust
manuever.
Teknik dan Bentuk Laryngeal Mask Airway (LMA)

penggunaan LMA untuk menggantikan pemakaian face mask dan TT


selama pemberian anestesi.
Ada 4 tipe LMA yang biasa digunakan
LMA yang dapat dipakai ulang

LMA yang tidak dapat dipakai ulang

ProSeal LMA yang memiliki lubang untuk memasukkan pipa


nasogastrik dan dapat digunakan ventilasi tekanan positif

Fastrach LMA yang dapat memfasilitasi intubasi bagi pasien


dengan jalan napas yang sulit
LMA terdiri dari pipa dengan lubang besar yang akhir bagian proksimal
dihubungkan dengan sirkuit nafas dengan konektor berukuran 15 mm
Dibagian distal terdapat balon berbentuk elips yang dapat dikembangkan
lewat pipa
Kontraindikasi LMA
1. Kelainan faring (misalnya abses)
2. Sumbatan faring
3. Lambung yang penuh
4. Komplians paru rendah yang memerlukan tekanan inspirasi puncak lebih
besar d
Esophageal-Tracheal Combitube (ETC)

Teknik dan bentuk pipa


Pipa kombinasi esophagus tracheal (ETC) terbuat dari gabungan 2
pipa, masing-masing dengan konektor 15 mm pada ujung
proksimlanya.
Rigid laryngoskop

Laringoskop adalah instrument untuk pemeriksaan laring dan untuk


fasilitas intubasi trakea.
Laryngoskop Khusus

Terdapat 2 laryngoskop baru untuk membantuk dokter anestesi


menjamin jalan napas pada pasien dengan jalan napas yang sulit
1. Laringoskop Bullard
2. Laringoskop Wu
Teknik Laringoskop dan Intubasi

Indikasi Intubasi untuk pasien yang memiliki resiko untuk


aspirasi dan untuk prosedur operasi meliputi rongga perut atau kepala
dan leher.
Persiapan untuk Rigid Laryngoskop
Persiapan untuk intubasi termasuk
memeriksa perlengkapan dan posisi pasien.
TT harus diperiksa.
Keberhasilan intubasi tergantung dari
posisi pasien yang benar. Gambaran klasik yang benar adalah
leher dalam keadaan fleksi ringan, sedangkan kepala dalam
keadaan ekstensi Sniffing in the air position.
Intubasi Orotrakeal

4. Ujung dari blade


1. Laringoskop dipegang oleh melengkung dimasukkan ke 7. Laringoskop ditarik dengan
tangan kiri valekula, dan ujung blade lurus hati-hati untuk menghindari
2. Dengan mulut pasien menutupi epiglottis kerusakan gigi
terbuka lebar, blade 5. Handle diangkat menjauhi 8. Balon dikembangkan dengan
dimasukkan pada sisi kanan pasien secara tegak lurus dari sedikit udara yang dibutuhkan
dari orofaring dengan hati-hati mandibular pasien untuk agar tidak ada kebocoran
untuk menghindari gigi melihat pita suara selama ventilasi tekanan
3. Gesekan lidah kekiri dan 6. TT diambil dengan tangan positif, untuk meminimalkan
masuk menuju dasar dari faring kanan dan ujungnya tekanan yang ditransmisikan
dengan pinggir blade dilewatkan melalui pita suara pada mukosa trakea.
yang terbuka (abduksi)
Setelah intubasi, dada dan episgatrium dengan segera diauskultasi
untuk memastikan TT ada di intratrakeal.
Jika sudah yakin, pipa dapat diplester atau diikat untuk mengamankan
posisi.
Intubasi Nasotrakeal

Intubasi nasal mirip dengan intubasi oral kecuali bahwa TT masuk lewat
hidung dan nasofaring menuju orofaring sebelum dilakukan laringoskopi.

TT yang telah dilubrikasi dengan jeli yang larut dalam air, dimasukkan
dipergunakan didasad hidung, dibawah turbin inferior.

Pipa secara berangsur-angsur dimasukkan hingga ujungnya terlihat di


orofaring, dengan laringoskop, digunakan untuk adduksi pita suara.
Teknik Ekstubasi

Secara umum, ekstubasi terbaik dilakukan ketika pasien sedang


ter anestesi dalam atau bangun. Pasien juga harus pulih
sepenuhnya dari pengaruh obat pelemas otot pada saat sebelum
ekstubasi

Selain kapan TT dicabut, yakni ketika pasien teranestesi dalam


atau sudah sadar, faring pasien juga sebaiknya disuction terlebuh
dahulu sebelum ekstubasi untuk mengurangi risiko aspirasi atau
laringospasme
Teknik Ekstubasi

Pasien juga harus diventilasi dengan 100% oksigen sebagai


cadangan apabila sewaktu-waktu terjadi kesulitan untuk
mengontrol jalan napas setelah TT dicabut.

Sesaat sebelum ekstubasi, TT dilepas dari plester dan balon


dikempiskan

Pemberian sedikit tekanan positif pada jalan napas pada


kantong snestesia yang dihubungkan dengan TT dapat
membantu meniuo sekret yang terkumpul pada ujung balon
supaya keluar ke arah atas, menuju faring, yang kemudian
dapat disuction.
Komplikasi Laringoskopi dan Intubasi

Komplikasi laringoskopi dan intubasi termasuk hipoksia,


hiperkarbia, trauma gigi dan jalan nafas, posisi ETT yang salah,
respons fisiologi, atau malfungsi ETT
Komplikasi-komplikasi ini dapat terjadi selama laringoskopi atau
intubasi, saat ETT dimasukkan dan setelah ekstubasi
Kesimpulan

Ada 2 gerbang untuk masuk ke jalan nafas pada manusia yaitu hidung
yang menuju nasofaring (pars nasalis) dan mulut yang menuju
orofaring (pars oralis).
Teknik intubasi ada 2 macam yaitu intubasi endotrakeal dan intubasi
nasotrakeal.

Alat-alat yang digunakan untuk mempertahankan jalan nafas


diantaranya adalah oral dan nasal airway, face mask, LMA,
esophageal tracheal combitube (ETC) dan pipa tracheal (TT).
Sedangkan untuk laringoskop nya terdapat berbagai jenis yaitu Rigid
laryngoscope, Laringoskop Bullard dan Laringoskop Wu.
DAFTAR PUSTAKA

Morgan GE et al. Clinical Anesthesiology. 4th edition. New York: Lange


MedicalBook. 2014.
Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Ilmu dasar Anestesi in Petunjuk
Praktis Anestesiologi 2nd ed. Jakarta: FKUI; 2009, 3-8. 2.
Roberts F, Kestin I. Respiratory Physiology in Update in Anesthesia 12th
ed. 2013.
Stock MC. Respiratory Function in Anesthesia in Barash PG, Cullen BF,
Stelting RK, editors. Clinical Anesthesia th ed. Philadelphia: Lippincott
William & Wilkins; 2013, p. 791-811 4.
Galvin I, Drummond GB, Nirmalan M. Distribution of blood flow and
ventilation in the lung: gravity is not the only factor. British Journal of
Anaesthesia; 2010, 98: 420-8.