Anda di halaman 1dari 40

EMULSI

Emulsi : - adalah sistem dua fase cair yang tidak


tercampur terdiri dari :
* fase terdispersi ( fase dalam, fase
diskontinu )
* fase luar ( medium dispersi, fase
pembawa, fase kontinu )
* zat pengemulsi ( emulgator,
emulsifying agent )

Garis tengah (diameter) partikel fase dispersi = 0,1 – 10 um.


Sediaan emulsi : untuk peroral, pemakaian luar ( losio, cream )
Untuk vit larut minyak adsorpsi lebih baik jika dibuat emulsi
• TYPE EMULSI :
* Emulsi minyak dalam air (m/a): oral/eksternal
* Emulsi air dalam minyak (a/m): eksternal

Tipe emulsi tsb sangat dipengaruhi oleh 2 faktor:


- perbandingan kedua fase tsb
- bahan pengemulsi:misal akasia biasanya
menghasilkan emulsi tipe M/A
* Kebanyakan emulsi M/A memberikan warna
putih krim (semua minyak), warna yg tampak
menunjukkan ukuran relatif tetesan
* Emulsi kasar memberikan warna kekuningan
sedangkan warna keputih-putihan
menunjukkan tetesan yang lebih kecil

* Pada ukuran tetesan 0,05 um atau <,


tetesan tidak akan terdeteksi oleh mata,
emulsi terlihat transparan, disebut
mikroemulsi
• Cara menentukan tipe emulsi :
* Pengenceran :prinsip bahwa emulsi
bercampur dengan fase luarnya. Jika air
ditambahkan pada emulsi tipe M/A, maka
air akan segera bercampur.
*Tes kelarutan zat warna : prinsip seluruh
emulsi akan berwarna jika zat warna yg
digunakan larut dalam fase luar. Misal zat
warna amaran akan menjadikan emulsi M/A
menjadi merah
* Tes arah kriming (proses sedimentasi tetesan
(ke atas/ke bawah)karena perbedaan
kerapatan fase dalam dan fase luar. Jika
kriming terjadi ke atas maka emulsi tipe M/A
dan sebaliknya.
* Tes konduktivitas listrik, prinsip air
menghantar arus listrik sedangkan minyak
tidak. Jika elektroda ditempatkan dalam
emulsi dan memberikan arus listrik maka
emulsinya tipe M/A
* Tes Fluoresensi, beberapa minyak
memberikan fluoresensi jika dipaparkan
pada sinar UV. Jika setetes emulsi diperiksa
dgn sinar fluoresen , seluruh bidangnya
memberikan fluoresen , maka emulsi tipe
A/M
Bahan pengemulsi (surfaktan) :
- bekerja dengan membuat batas fisik di
sekeliling partikel yang akan berkoalisen
- mengurangi tegangan antarpermukaan antar
fase, sehinga meningkatkan proses emulsifikasi
Surfaktan : mengandung gugus polar dan nonpolar
yg mengarah pada antermuka campuran minyak
dan air.
Gugus polar (hidrofilik) akan mengarah (menuju)
ke air, sedangkan gugus non polar ( lipofilik,
hidrofobik) ke minyak.
Jika surfaktan mempunyai gugus polar > dari gugus
non polar, maka akan lebih larut dalam air dan
akan bergerak dari minyak menuju bagian air
juga sebaliknya.
Surfaktan dengan gugus polar dan nonpolar
seimbang, surfaktan akan berada tepat pada
antar permukaan minyak air
• TEORI EMULSIFIKASI
* Jika dua cairan yg tidak bercampur dikocok
salah satu terdispersi dalam bentuk
tetesan halus  memisah menjadi dua
lapisan
* Pemisahan terjadi karena gaya Kohesi > dari
gaya adhesi
* Gaya kohesif masing2 fase ditunjukkan
sebagai energi antarmuka atau tegangan
pada batas antara kedua cairan tsb
• Jika suatu cairan pecah menjadi partikel2
halus maka luas antarmuka globul akan
menjadi besar sekal.Jika 1cm3 minyak mineral
didispersikan menjadi globul dgn garis tengah
-6
volume-surface dvs 0,01 um(10 ) dalam 1 cm3
air sehingga membentuk emulsi yg halus,
maka luas permukaan tetes minyak menjadi
600 meter persegi. Energi bebas permukaan
7
yg bekaitan dengan luas tsb adalah 34x10
erg, atau 8 kalori. Vol total sistem tetap 2 Cm3
• Perhitunganya adalah :
Sv =

6
Sv = -6 = 6 x 10 cm² =600 cm²
Usaha atau kenaikan energi bebas permukaan:
W = yow x ΔA sedangkan, tegangan antarmuka
minyak mineral dengan air adalah
57 dyne/cm (erg/cm²)
6 7
W = 57 erg/ cm² x(6x10 ) = 34 x 10 erg
= 34 joule= 8 kalori
Karena 1 kalori = 4,184 joule
• Kenaikan energi akibat besarnya luas
permukaan menjadikan sistem tidak stabil scr
termodinamis- kecenderungan tetes2 untuk
bersatu kembali (koalisensi), dicegah (
diperkecil lajunya)dengan penambahan
emulgator
• Penambahan surfaktan :
- akan menurunkan tegangan antarmuka
- mengurangi energi yg diperlukan untuk
emulsifikasi
• Mekanisme kerja zat pengemulsi dalam hal menahan
terjadinya koalesensi tetesan :
1. Film antarmuka. Ada berapa pengemulsi
(emulgator), seperti Gom akasia ,tidak
menurunkan Teg. Permukaan, tapi diduga
membentuk lapisan film yg kuat disekeliling
tetesan terdispers
2. Penolakan muatan . Tetesan minyak dalam fase
air biasanya memiliki muatan listrik yg terbentuk dari
sifat alamiah emulgator atau dgn cara mengadsorpsi
ion dari larutan.Muatan tsb tidak cukup besar, dapat
menyebabkan tetesan saling tolak dan bertindak sbg
sawar mekanik terhadap koalesensi
3. Penolakan Sterik . Tetesan air dalam fase
minyak dicegah berhubungan antara satu dgn
lain nya oleh rantai Hidrokarbon panjang dari
mol surfaktan/emulgator

Zat pengemulsi dibagi dalam 3 kelompok :


1. Zat aktif permukaan
2. Koloid hidrofil
3. Partikel padat halus
Nama Golongan Tipe Emulsi
Trietanolamin oleat Surfaktan (anionik) M-A ( HLB = 12)
N-asetil-etil morfolinum Surfaktan (kationik) M-A ( HLB = 25 )
etosulfat (atlas G-236)
Sorbitan mono oleat Surfaktan (nonionik) A – M ( HLB = 4,3 )
Polioksietilen sorbitan Surfaktan (nonionok) M – A ( HLB = 15 )
mono oleat (Atlas Tween
80)
Akasia(garam dari asamd- Koloid hidrofilik M–A
glukoronat)
Gelatin (polipeptida dan Koloid hidrofilik M–A
asam amino)
Bentonit (aluminium silikat Partikel padat M – A dan A – M
hidrat
Veegum ( magnesium Partikel padat M–A
aluminium silikat
arang Partikel padat A-M
• Koloid liofilik hidrat dianggap sebagai zat aktif
permukaan karena terlihat pada antarmuka minyak-air.
• Dibedakan dari surfaktan karena :
1. tidak menurunkan tegangan permukaan
2. membentuk film multimolekuler pada antar muka,
yg kuat dan menahan terjadinya koalesensi, efek
tambahan adl kenaikan viskositas.
Partikel padat yg dibasahkan oleh minyak/air dapat
bekerja sbg emulgator.Part tsb terkonsentrasi pd
antarmuka dan membentuk film partikulat yg
mengelilingi tetesan sehingga mencegah koalesensi.
Serbuk yg mudah dibasahkan air membentuk emulsi M/A,
sedangkan yg mudah dibasahkan minyak membentuk
emulsi A/M
• Polimer hidrofilik alam , semisintetik dan
sintetik dapat digunakan bersama surfaktan
pada emulsi minyak dlm air karena akan
terakumulasi pada permukaan dan juga
meningkatkan kekentalan fase air. Sehingga
mengurangi kecepatan pembentukan agregat
tetesan.
• Agregasi biasanya diikuti dgn pemisahan
emulsi yg relatif cepat menjadi fase yg kaya
akan butiran dan miskin akan tetesan.
• Secara normal kerapatan minyak lebih rendah
dari kerapatan air, sehingga bila tetesan
minyak dan agregat tetesan meningkat, akan
terbentuk krim
• Makin besar kecepatan agregasi, makin besar
ukuran tetesan dan makin besar pula
kecepatan pembentukan krim.
• Tetesan air dalam emulsi A/M biasanya
membentuk sedimen disebabkan oleh
kerapatan yg lebih besar.

• Pembuatan emulsi dapat dilakukan dengan


cara manual menggunakan lumpang (mortar)
dengan alu(pestle, stamper) dan dengan alat
elektrik (mikser, blender)
• Metode Pembuatan Emulsi :
1. Cara Gom Kering , emulgator gom kering
(khusus akasia); corpus emulsi dibuat dengan
menggunakan seluruh minyak, ½ bag air dan
¼ bag. Emulgator ( 4 bag minyak : 2 bag air :1
bag emulgator ); cara : gom didispersikan
dalam minyak + air sekaligus, aduk kuat
sampai terbentuk corpus emulsi, ditandai
dgn terdengarnya suara yg lengket serta
emulsi berwarna putih, terakhir tambahkan
sisa fase air sedikit2
Rasio Komponen Untuk Membuat Emulsi Primer

Minyak Akasia Tragakan

Minyak Lemak 4:2:1 40 : 20 : 1


Minyak Mineral 3:2:1 30 : 20 : 1
Minyak Lini 2:2:1 20 : 20 : 1
Minyak Atsiri 2:2:1 20 : 20 :1
2. Cara Gom Basah, menggunakan mucilago
atau emulgator yg dilarutkan dulu. Mucilago
dibuat dari 1 bag gom dan 2 bag air ditambah
minyak sedikit2 sambil diaduk kuat. Setelah
minyak tercampurkan semua,tambahkan sisa
air sampai jumlah yg diminta
3. Cara Botol , untuk membuat emulsi dari
minyak atsiri atau minyak g tidak kental,
menggunakan cara gom kering atau cara gom
basah tapi digunakan botol sebagai alat
pencampur
4. Cara penyabunan di tempat( in situ)
Sabun Kalsium. Emulsi A/M yg mengandung minyak
nabati dan air kapur dibuat dengan dikocok
kuat.Emulgator yg terbentuk ditempat adalh
sabun kalsium oleat, minyak yg cocok adalah :
zaitun(olive), amandel (almond) dan lini
(linseed)Minyak lainnya seperti, biji kapas,
jagung, kacang dan minyak hidrokarbon tidak
mengandung asam lemakbebas utk
mengemulsikannya ditambahkan asam oleat.
Contoh : Kalamin 80;Seng oksida 80 ; Minyak zaitun
500 ml dan lar Kalsium hidroksida qs 1000 ml.
• Sabun Lunak .Basa dilarutkan dalam fase air,
asam lemak dalam fase minyak, jika perlu fase
minyak dipanaskan demikian pula fase airnya.
Suhu disekitar titik leleh asam lemaknya. Jika
suh sudah bersamaan, fase luar ditambakan
ke dalam fase dalam sambil diaduk, sampai
dingin (suhu kamar)
• Contoh : fase minyak : minyak mineral 8
Asam stearat 15
Fase air - trietanolamin 1,5
Air qs 100
• Sistem HLB
- HLB(Hydrophil Lipophil Balance) adl angka yg menunjukkan
kesetimbangan gugus hidrofil dan gugus lipofil.
- Dlm sistem emulgator /Surfaktan HLB nya diberi angka
antara 1 – 20, tergantung dari kekuatan relatif bag mol
hidrofil dan lipofil.
- Emulgator dengan HLB rendah bersifat hidrofobik,
sedangkan yg tinggi bersifat hidrofil
- Emulgator dgn HLB < 9 menghasilkan emulsi A/M, yg
mempunyai angka antara 9 – 11 merupakan intermediat.
- Untuk mendapatkan emulsi yg stabil, emulgator harus
mempunyai HLB yg sama dgn HLB minyak.
- Setiap minyak/lemak mempunyai HLB butuh,yaitu HLB yg
harus dipenuhi oleh emulgator agar tercapai emulsi yg baik
Nilai HLB Beberapa Amfifilik
Nama Zat HLB
Asam Oleat 1,0
Gliseril Monistearat 3,8
Sorbitan Monooleat ( Span 80 ) 4,3
Sorbitan Mnolaurat ( Span 20 ) 8’6
Trietanolamin Oleat 12,0
Polioksietilen Sorbitan Monooleat ( Tween 80 ) 15,0
Polioksietilen Sorbitan Monolaurat ( Tween 20) 16,7
Natrium Oleat 18,0
Natrium Lauril Sulfat 40,0
HLB Butuh Fase Minyak, untuk Emulsi
M/A dan A/M
Nama Zat M/A A/M
Asam stearat 17 -
Lemak Bulu Domba(Adeps) 12 – 14 8
Malam 9 – 11 5
Minyak Biji Kapas 6–7 -
Minyak Mineral 10 – 12 5–6
Parafin Padat 10 4
Petrolatum (Vaselin) 8 -
Setil Alkohol 13 – 16 -
Stearil Alkohol 15 - 16 -
• Fase minyak pada emulsi M/A memerlukan
satu HLB spesifik, disebut HLB butuh (HLBB).
• Nilai HLBB untuk emulsi M/A dan A/M telah
ditentukan secara empirik untuk beberapa
minyak ( tabel 5 )
• Untuk memperoleh suatu emulsi yg baik maka
HLBB harus sama dengan harga HLB surfaktan
yg digunakan
• Contoh :
Suatu formula emulsi sebagai berikut :
Komponen Jumlah HLBBB(M/A)

1. Malam 15 9
2. Lemak Bulu Domba 10 12
3. Parafin 20 10
4. Setil Alkohol 5 15
5. Emulgator 2
6. Pengawet 0,2
7. Air sampai 100
• Jika emulgator yg akan digunakan adalah kombinasi
Tween 80(HLB=15,0) dan Span 80 (HLB=4,3). Hitung
berapa g masing2 surfaktan yg digunakan
• Mula2 hitung HLBB total fase minyak dengan
mengalikan HLBB masing2 minyak dengan bobot fraksi
minyak dari fase minyaknya.
• Bobot total fase minyak = 50 g,maka :
-Malam = 15/50 x 9 =2,70
-Lemak Bulu Domba = 10/50 X 12 =2,40
- Parafin = 20/50 x 10=4,00
- Setil Alkohol = 5/50 x 15 = 1,50
___________________
HLBB total utnuk emulsi = 10,60
• Tween 80 = HLBB – HLBB rendah
HLB tinggi – HLB rendah

Tween 80 = 10,6 – 4,3 = 0,59


15,0 – 4,3

Maka banyaknya Tween 80 = 2,0 x 0,59=1,18 g


Span 80 = 2,0 – 1,18=0,82 g
Cara lain untuk menghitung jumlah emulgator :

Tween 80 (HLB 15,0) 15,0 6,3


10,6
Span 80 ( HLB 4,3 ) 4,3 4,4
___________
10,7
Banyaknya Tween 80 =6,3/10,7x2 g = 1,18 g
Span 80 = 4,4/10,7x 2g=0,82 g
• Sifat Reologi Emulsi
- Sifat alir emulsi , daya sebar pada produk
dermatologik dan kosmetik, juga aliran emulsi
parenteral melalui jarum suntik, pengeluaran dari
botol ,harus diperhatikan dalam formulasi emulsi
karena formulasi dapat mempengaruhi daya alir.
- Kebanyakan emulsi , kecuali yg encer (vol
terdispers < 0,05=sistem Newton) menunjukkan
aliran non newton.
- Jika konsent fase terdispers dinaikan , maka lebih
tahan/susah untuk mengalir, menunjukkan
karakteristik aliran pseudoplastik, pada konsent
tinggi akan terjadi aliran plastik
• Komponen yg mempengaruhi viskositas
adalah emulgator, jenis emulgator
mempengaruhi flokulasi partikel karena gaya
tarik menarik antar partikel yg akhirnya
memodifikasi aliran, makin besar emulgator
viskositas produk semakin tinggi
• Konsistensi emulsi , dari cairan yg mudah
dituang sampai krim setengah padat
• Sifat setengah padat pada emulsi A/M,
biasanya diakibatkan oleh fase eksternal
setengah padat
• Pengawetan Emulsi
- Perubahan pada emulsi dapat terjadi karena
mikroorganisme, perubahan itu termasuk :
* pemisahan fase
* perubahan warna
* pembentukan gas dan bau
* dan perubahan sifat reologik
Bakteri dapat mendegradasikan emulgator
nonionik dan anonik, gliserin dan gom alam ,
sehingga emulsi rusak ,maka perlu ditambah
pengawet
• Pengawet sangat penting untuk emulsi M/A,
karena fase air mempermudah pertumbuhan
mikroorganisme
• Jamur dan ragi banyak ditemukan daripada
bakteri maka diperlukan pengawet yg bersifat
fungistatik/bakteriostatik.
• Perlu diperhatikan pada penggunaan
pengawet karena antimikroba bisa memisah
dari fase air
• Pengawet yg biasa digunakan dalam emulsi :
metil; etil atau butil paraben, asam benzoat
dan senyawa amonium kuartener
• Stabilitas Fisik Emulsi
1.Emulsi yg stabil mempunyai ciri :
- bebas koalesensi fase dalam
- bebas kriming
- tetap baik dalam penampilan, bau, warna
dan sifat fisis lainnya
2. Ketidakstabilan emulsi dapat digolongkan
atas: a. flokulasi dan kriming
b. Koalesensi dan pecah
c. Perubahan fisis dan kimia
d. Inversi fase
• A. Flokulasi dan kriming
Faktor2 dalam terjadinya kriming berkaitan
dgn hukum stokes (untuk suspensi/emulsi)

Analisis persamaan tsb menunjukkan bahwa jika


fase terdispers kurang berat dari fase kontinu
( emulsi M/A) maka laju sedimentasi neg,
terjadi kriming naik ( ke atas). Bila fase dalam
lebih berat dari fase luar maka globul
memisah, hal ini terjadi pada emulsi A/M. Efek
ini disebut kriming arah turun.
• Lebih besar perbedaan berat kedua fase,lebih
besar tetes minyak dan fase luar kurang kental
maka laju kriming bertambah.Garis tengah globul
yg dibesarkan dua kali akan menyebabkan laju
kriming meningkat dengan faktor empat .
• Faktor2 dalam hukum stokes dapat diubah utk
mengurangi laju kriming dalam emulsi: fase luar
dapat dinaikan (batas akseptabilitas) dgn cara
menambahkan zat pengental (etil selulosa,
tragan/Na alginat).Ukuran partikel dapat
dihaluskan dengan cara homogenisasi.
• Secara teoritis dgn mengatur kerapatan kedua
fase sehingga kerapatannya sama dapat
mengurangi kecenderungan terjadinya kriming
B. Koalesensi dan Pecah
- Pecah ( breaking) sifatnya irreversibel,
sedangkan kriming  reversibel
- Jika emulsi pecah, dengan pengocokan
sederhana tidak akan dapat mensuspensikan
kembali tetesan membentuk emulsi, karena
film yg mengelilingi partikel rusak sehingga
minyak akan bersatu.
- Jika partikel tidak seragam, yg kecil akan
menyusup diantara part besar, kohesi akan
kuat sehingga fase dalam mudah
berkoalesensi
- Jika fase minyak lebih dari 74 % ditambahkan
kedalam emulsi M/A, maka globul minyak
sering kerkoalesensi dan emulsi menjadi
pecah, nilai ini disebut titik kritis.
- Titik kritis didefinisikan sebagai konsentrasi
fase dalam dimana diatas konsentrasi tersebut
emulgator tidak mampu menghasilkan emulsi
stabil.
- Secara umum rasio volume fase 50 : 50
menghasilkan emulsi yg paling stabil dan
kebanyakan emulsi medisinal dibuat dalam
rasio 50 bag minyak dengan 50 bag air
c. Pembalikan / inversi Fase
- Emulsi M/A yg distabilkan dengan Na Stearat
dapat diubah menjadi tipe A/M dengan
menambahkan Kalsium klorida untuk
membentuk kalsiumstearat.
- Inversi dapat dihasilkan dengan mengubah
perbandingan volume fase.
dalam pembuatan suatu emulsi , emulgator M/A
dicampur dgn minyak lalu ditambah air sedikit.
Karena vol air relatif lebih sedikit dibandingkan
dgn minyak, dgn pengadukan kuat air akan
didistribusikan dalam minyak. Ketika air ditambah
sedikit2, maka akan dicapai titik inversi, lalu air
dan emulgator akan membungkus minyak sbg
globul halus -> emulsi M/A