Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

SKABIES IMPETIGENISATA

Winda Fauti
Pembimbing Dr.Hj. VITA NOOR ‘AINI, Sp.KK
IDENTITAS PASIEN

 Nama : An. S
 Umur : 1 tahun
 Jenis Kelamin :P
 Alamat :
 Pendidikan : -
 Agama : Islam
 Status Marital :
ANAMNESIS

Keluhan Utama : Bruntus-


bruntus berisi nanah di kedua
tangan dan kaki
ANAMNESIS KHUSUS

 Riwayat Penyakit Sekarang


Sejak ± 3 hari sebelum datang ke poli penyakit kulit
RSUD Cianjur, Ibu pasien mengeluh bruntus-bruntus berisi
nanah di kaki dan tangan pasien. Sebagian bruntus-bruntus
tersebut pecah dan pasien tampak sering menggaruk dan
menangis, keluhan juga disertai demam tapi tidak terlalu
tinggi.
± 1 minggu yang lalu bruntus-bruntus kecil berisi cairan
mulai muncul di kaki dan tangan serta sel-sela jari. Bruntus
tersebut semakin lama semakin luas menyebar di sekeliling
perut juga gatal dan pasien tampak sering menggaruk terutama
malam hari. Ibu pasien tidak memperhatikan adanya garis
keabu-abuan pada tubuh pasien. Sebelumnya keluhan tidak
disertai demam.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

 Pasien sebelumnya tidak pernah sakit seperti ini


 Ibu pasien menyangkal adanya riwayat timbul bercak di pipi
pasien
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

 Sejak ± 3 minggu terakhir kedua orang tua pasien juga


mengalami hal yang sama, keluhan di obati salep yang dibeli
dari apotek, ibu pasien tidak tahu nama salep tersebut,
namun tidak ada perubahan.
 Sejak ± 1 bulan yang lalu kakak pasien juga mengeluh
keluhan yang sama berupa bruntus-bruntus berisi cairan yang
gatal dibadan, tangan dan kaki, terutama dibagian lipatan
tubuh. Keluhan dirasakan setelah beberapa hari kakak
pertama pasien pulang dari Pesantren.
RIWAYAT PENGOBATAN

 ±2 minggu yang lalu, kakak pasien di bawa berobat


ke Puskesmas namun kedua orang tuanya tidak
diobati. di Puskesmas diberikan obat minum dan
salep (Ibu pasien lupa nama obatnya) setelah
beberapa hari keluhan kakak pasien berkurang
kecuali keluhanorang tua pasien yang semakin
meluas dan berakibat pasien juga tertular.
 Pasien sebelumnya belum pernah dibawa berobat
namun pasien pernah di beri obat salep oleh ibunya
dari Apotek (ibu pasien lupa nama obat), tidak ada
perubahan setelah di beri salep tersebut.
RIWAYAT ALERGI

 Riwayat alergi makanan dan obat tertentu disangkal oleh ibu


pasien.
 Riwayat alergi suhu dingin di sangkal
PEMERIKSAAN FISIK

 Kesadaran :Composmentis
 Keadaan umum :Tampak sakit ringan
 Vital Sign :Tensi : Tidak dilakukan pemeriksaan
 Nadi : 88 x/menit
 RR : 22 x/menit
 Suhu : 37⁰C
 BB : 6,5 kg
STATUS GENERALIS

 Kepala : Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera ikterik (-)


Hidung : Sekret ( - /-)
Telinga: Sekret ( -/- )
Mulut : hiperemis (-)
Kulit ( Lihat status dermatologikus )
 Leher : JVP tidak meningkat, KGB tidak teraba membesar.
Kulit ( Lihat status dermatologikus )
 Thorax : bentuk dan gerak simetris,
Paru-paru : VBS kanan = kiri
Jantung: mur-mur (-), gallop (-)
 Abdomen : Datar, supel, BU (+) normal, turgor baik. Kulit (
Lihat status dermatologikus )
 Estremitas : Edema (-), atrofi (-), akral hangat, CRT < 2 detik.
Kulit ( Lihat status dermatologikus )
STATUS DERMATOLOGIKUS

 Distribusi : Regional
 Ad Regio : kedua tangan dan kaki.
 Karakteristik:
Lesi multipel, sebagian diskret dan ada yang konfluens,
dengan bentuk irreguler, luas luka terkecil 0,3cmx0,5 cm dan
terbesar 2cmx2cm. batas tegas, sebagian menonjol dari
pemukaan kulit, sebagian lesi tampak mengering.
 Eflorosensi :
Pustul dan vesikel dengan dasar eritem
Erosi dengan dasar dan tepi eritem
Bula
GAMBAR LESI

Gmbr 1 lesi di lengan kanan Gmbr 2 lesi di lengan kiri


 Gmbr 3 lesi di tungkai
RESUME
1 minggu 3 hari Saat MRS

• Bruntus2 kecil berisi cairan


mulai muncul di kaki,tangan • Pustul dan vesikel
dan sela2 jari dan meluas ke dengan dasar eritem
hampir seluruh tubuh • Erosi dengan dasar
 Gatal malam hari dan tepi eritem
 Di keluarga (kakak & ortu) • Bula
juga mengeluh seperti ini

• Bruntus2 di tangan
dan kaki berisi
nanah
• Demam +
DIAGNOSIS

Diagnosis Banding:
 Skabies dengan infeksi sekunder (Skabies
impetigenisata)
 Pedikulosis korporis dg infeksi sekunder
 Impetigo krustosa dengan infeksi sekunder
 Dermatitis Atopik dengan infeksi sekunder

Diagnosa Kerja
 Skabies dengan infeksi sekunder (Skabies
impetigenisata
PENATALAKSANAAN

 Umum :
Edukasi tentang penyakit. Keluarga pasien harus diobati
dengan tuntas. Baju, sarung bantal, seprei yang digunakan
direndam dengan air panas lalu dicuci, jemur dan disetrika,
dilakukan beberapa kali.
 Khusus :
Sistemik  Amoksisilin 3 x 70 mg (untuk infeksi sekunder)
Paracetamol 3 x 100 mg
Topikal  Setelah infeksi sekunder membaik 
Scabimite ( Permethrin krim 5 % ) dioleskan
hanya sekali ke seluruh tubuh, mandi setelah 10 jam. Bila
belum sembuh diulangi setelah 1 minggu.
PROGNOSIS

 Quo Ad Vitam : Ad Bonam


 Quo Ad Functionam : Ad Bonam
 Quo Ad Sanantionam : Ad Bonam
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Skabies
 Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi
dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan
produknya.
 Sinonim dari penyakit ini adalah kudis, the itch, gudig,
budukan, dan gatal agogo.
FAKTOR PENUNJANG EPIDEMIOLOGI

 sosial ekonomi rendah


 hygiene buruk
 sering berganti pasangan seksual
 kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografis serta
ekologik.
PENULARAN PENYAKIT SKABIES

Secara langsung maupun tidak langsung, karenanya tak


heran jika penyakit gudik (skabies) dapat dijumpai di sebuah
keluarga, di kelas sekolah, di asrama, di pesantren. Adapun
cara penularannya adalah sebagai berikut :
 Kontak langsung ( kulit dengan kulit ), misalnya berjabat
tangan, tidur bersama, dan hubungan seksual.
 Kontak tak langsung ( melalui benda ), misalnya pakaian,
handuk, sprei, bantal, dll.
PENGKLASIFIKASIAN DARI SKABIES INI
TERBAGI ATAS :
1. Skabies pada orang bersih, yaitu ditandai dengan lesi
berupa papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya
sehingga jarang dijumpai.
2. Skabies nodular, yaitu lesi berupa nodus coklat kemerahan
yang gatal. Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup,
terutama pada genetala laki-laki. Nodus ini timbul sebagai
reaksi hipersensitivitas terhadap tungau scabies.
3. Skabies yang ditularkan melalui hewan,yaitu sumber
utamanya adalah anjing.
4. Skabies pada bayi dan anak, yaitu lesi scabies pada anak
dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher,
telapak tangan dan kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder
impetigo sehingga terowongan jarang ditemukan.

5. Skabies pada orang yang terbaring ditempat tidur, yaitu


kelainan yang sering menyerang pada penderita penyakit kronis
dan pada orang yang lanjut usia yang terpaksa harus tinggal
ditempat tidur terus

6. Skabies Norwegia atau scabies krustosa, ini ditandai oleh


lesi yang luas dengan krusta,skuama generaisata dan
hyperkeratosis yang tebal
Etiologi
 Sarcoptes (Acarus) scabiei var.hominis
 Phylum Arthropoda; Class Arachnida; Ordo
Acarina; Famili Sarcoptidae

Parasitologi
 Sarcoptes scabiei = tungau atau kutu yang kecil,
transulen
 Bentuk bulat lonjong, konveks bagian dorsal &
pipih bagian ventral
 Ukuran:
 ♀= 0,20 – 0,25 mm
 ♂= 0,33 – 0,45 mm
 4 pasang kaki
 2 depan + alat isap
 2 belakang + bulu keras
 Jantan dan betina berkopulasi.
Stlh kopulasi jantan mati. Mati enak niyee !?
 Betina membuat terowongan, lalu bertelur 2 – 5 butir/ hari
lalu mati
 Siklus hidup
sarkoptes dewasa (tiap
Telur  larva  nimfa 
siklus berlangsung selama +/- 3 hari)
M A N I F E S TA S I K L I N I S
D I A G N O S I S D I B U AT D E N G A N M E N E M U K A N 2 D A R I 4 TA N D A C A R D I N A L :

1. Pruritus nokturma (gatal pada malam hari) karena aktivitas


tungau lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas.
2. Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya
mengenai seluruh anggota keluarga.
3. Adanya terowongan ( kunikulus ) pada tempat-tempat
predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan,
berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm,
pada ujung menjadi pimorfi (pustu, ekskoriosi).
4. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik .
Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
TEMPAT PREDILEKSI

Daerah dengan stratum komeum tipis, yaitu


 Sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar,
 Siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan,
 Aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus,
 bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah.
 Pada bayi dapat menyerang bagian telapak tangan dan
telapak kaki bahkan seluruh permukaan kulit .
 Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit
kepala dan wajah.
GAMBAR TEMPAT PREDILEKSI SKABIES
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Cara menemukan tungau :


 Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung dapat
terlihat papul atau vesiel. Congkel dengan jarum dan letakkan
diatas kaca obyek, lalu tutup dengan kaca penutup dan lihat
dengan mikroskop cahaya.
 Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung diatas
selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
 Dengan membuat biopsi irisan, caranya ; jepit lesi dengan 2
jari kemudian buat irisan tipis dengan pisau dan periksa
dengan miroskop cahaya.
 Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan
H.E.
JENIS OBAT TOPIKAL :

 Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam


bentuk salep atau krim. Pada bayi dan orang dewasa
sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman
dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak
boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif
terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian
dan dapat menimbulkan iritasi.
 Emulsi benzyl-benzoat 20 - 25% efektif terhadap
semua stadium, diberikan setiap malam selama 3
kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi,
dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
 Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% daam bentuk krim atau
losio, termasuk obat pilihan arena efektif terhadap semua stadium,
mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi.
 Krokamiton 10% dalam krim atau losio mempunyai dua efek sebagai
antiskabies dan antigatal.
 Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman
karena sangat mematikan untuk parasit S.scabei
 Pemberian antibiotika sistemik dapat digunakan jika ada infeksi
sekunder, misalnya bernanah di area yang terkena (sela -sela jari,
alat kelamin) akibat garukan.
 Terima Kasih