PELATIHAN INTERNAL -
R&D SISTEM JAMINAN
HALAL HAS 23000
Peraturan Perundangan Di Indonesia yang Mengatur Tentang
Produk Halal
• UU No. 18 tahun 2012 tentang Pangan
• UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal
• SNI HALAL no.99001 : 2016
Pemangku Kepentingan lainnya:
MUI
WHFC, ASEAN, MABIMS, IMTGT,
Universitas, Komunitas Konsumen,
dll…
Komisi LPPOM
Fatwa MUI MUI
Pemerintah RI
BPOM RI KEMENAG RI
MoU LPPOM MUI
dan BPOM RI
tahun 2013 KEMENTAN RI
Ijin Label Halal
pada Dll…
Kemasan
produk
Sertifikat Halal MUI
11
Gambar Pemangku Kepentingan Sertifikasi Halal di
Cara Memutuskan Status Kehalalan Produk
Gabungan antara Ulama dan Scientist
LPPOM MUI Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Auditor (Scientist) Ulama di Komisi Fatwa MUI
- Menemukan fakta kandungan produk
dan menelaah dari sisi sains dan
teknologi. Memberikan Fatwa terhadap status hukum
- Sebagai saksi terhadap proses produksi dari produk. Keluaran dari Fatwa adalah
secara menyeluruh dan penerapan menjelaskan status kehalalan dari produk
SJH di perusahaan.
berdasarkan hasil audit dari LPPOM MUI.
Sertifikat Halal Produk
Standar Sertifikasi Halal LPPOM MUI
HAS 23000 :
Landasan penggunaan standar halal LPPOM MUI : Persyaratan Sertifikasi Halal
1. Hukum Islam (Islamic Law) HAS 23103 :
2. Scientific Research Pedoman Pemenuhan Kriteria Sistem
3. Budaya (Culture) Jaminan Halal di Rumah PotongHewan
HAS 23201 :
Persyaratan Bahan Pangan Halal
HAS 23101 :
Pedoman Pemenuhan Kriteria Sistem
LPPOM MUI Jaminan Halal di Industri Pengolahan
HAS 23301 :
Konsep Sistem Jaminan Halal Pedoman Penyusunan manual SJH di
pada Pangan, obat-obatan dan Industri Pengolahan
Kosmetika di Industri HAS 23102 :
HAS 23000 Pedoman Pemenuhan Kriteria Sistem
Sebagai Standar Sertifikasi Jaminan Halal di Restoran
Halal HAS 23104 :
Pedoman Pemenuhan Kriteria Sistem
Jaminan Halal di Katering
HAS 23106 : (baru)
Pedoman Pemenuhan Kriteria SJH
Jasa Logistik
HAS 23202 : (baru)
Persyaratan Bahan Obat
Buku HAS 23000
Seluruh persyaratan sertifikasi dituangkan
dalam buku HAS 23 000
HAS 23 000 : 1 --- Kriteria Sistem Jaminan Halal
• Ada 11 kriteria sistem
• Level pemenuhan kriteria ini mencerminkan tingkat kemampuan sistem
dalam menjaga kehalalan produk secara konsisten)
HAS 23 000 : 2 --- Kebijakan dan Prosedur
Persyaratan ini harus diikuti sepenuhnya (dipenuhi 100%)
14
MANFAAT PENERAPAN SJH
1. Menjamin kehalalan produk selama berlakunya
Sertifikat Halal MUI.
2. Timbul kesadaran internal dan perusahaan
memiliki pedoman kesinambungan proses
produksi halal.
3. Memberikan Jaminan dan ketentraman
bagi masyarakat.
4. Mencegah kasus ketidakhalalan produk
bersertifikat halal.
5. Mendapatkan Reward
11 Prinsip jaminan Halal
1. Maqoshidu syari’ah
2. Jujur
3. Kepercayaan
4. Sistematis 11
5. Disosialisasikan Prinsip
6. Keterlibatan Key person SJH
7. Komitmen Manajemen
8. Pelimpahan wewenang
9. Mampu telusur
10. Absolut
11. Spesifik
Jujur
Kepercayaan
4 Prinsip
ma
Uta H
SJ Partisipatif
Absolut
MAQOSHIDU SYARIAH
Sesuai tujuan syariat Islam ,Maqashid syariah dalam
pengertian yang umum (dasar) adalah tujuan-tujuan
syariah. Tujuan-tujuan syariah tersebut adalah
untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia
dan di akhirat. Kemaslahatan manusia diwujudkan
dengan memelihara lima kebutuhan
pokok yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan
harta
JUJUR
Perusahaan harus jujur menjelaskan semua bahan
yang digunakan dan proses produksi yang dilakukan
di perusahaan di dalam Manual SJH serta melakukan
operasional produksi halal sehari-hari berdasarkan
apa yang telah ditulis dalam Manual SJH.
KEPERCAYAAN (TRUST)
LPPOM memberikan kepercayaan kepada
perusahaan untuk menyusun sendiri
Manual SJH nya berdasarkan kondisi nyata
internal perusahaan.
PARTISIPATIF
Perusahaan melibatkan personal-personal dalam
jajaran manajemen untuk memelihara pelaksanaan
SJH.
Implementasi SJH adalah merupakan
tanggungjawab bersama dari level manajemen
puncak sampai dengan karyawan, sehingga SJH
harus disosialisasikan dengan baik di lingkungan
perusahaan
ABSOLUT
Semua bahan yang digunakan dalam proses produksi halal harus pasti
kehalalannya. SJH tidak mengenal adanya status bahan yang berisiko rendah,
menengah atau tinggi terhadap kehalalan suatu
produk.
SPESIFIK
Sistem harus dapat mengidentifikasi setiap bahan secara spesifik merujuk pada
pemasok, produsen, dan negara asal. Ini berarti bahwa setiap kode spesifik
untuk satu bahan dengan satu status
kehalalan.
11 Kriteria Sistem Jaminan Halal :
1. Kebijakan Halal /Halal Policy (Note : Jantungnya
SJH )
2. Tim Manajemen Halal
3. Pelatihan dan Edukasi
4. Bahan
5. Produk
6. Fasilitas Produksi
7. Prosedur Tertulis untuk Aktivitas Kritis
8. Penanganan Produk untuk yang tidak memenuhi kriteria
9. Mampu Telusur (Traceability)
10. Internal Audit
11. Kaji Ulang Manajemen (Management Review)
24
Kebijakan halal merupakan
pernyataan tertulis tentang
komitmen perusahaan untuk
memproduksi produk halal
secara konsisten, mencakup
konsistensi dalam penggunaan
dan pengadaan bahan baku,
bahan tambahan dan bahan
penolong serta konsistensi
dalam proses produksi halal.
2. TIM MANAJEMEN HALAL
TOP MANAJEMEN/MR
KETUA MANAJEMEN HALAL INTERNAL(KMHI)
M.Erwin Yamashita
KOORDINATOR AUDIT HALAL
INTERNAL (KAHI)
LPPOM RUDIAWAN
MUI
LEAD AUDITOR DOCUMENT CONTROL
HRD/GA QA/QC Pembelian R&D Produksi Pergudangan
Wahyu Nyoman J Yohana F Turi H/ SP Dindin S Subari/Agung K
1. Menyusun Manual SJH perusahaan
2. Mengkoordinasikan pelaksanaan SJH
3. Membuat laporan pelaksanaan SJH
4. Melakukan komunikasi dengan pihak LPPOM
MUI. Termasuk hal-hal yang terkait dengan
segala perubahan yang berhubungan dengan
produk Halal dan matriks bahan.
Kualifikasi Standar KAHI
1. Karyawan tetap perusahaan
2. Seorang muslim yang mengerti dan menjalankan syariat Islam
3. Berada dalam lingkup organisasi manajemen halal
4. Berasal dari bagian yang terlibat dalam proses produksi secara
umum (QC/QA, R&D, Purchasing, Produksi, Pergudangan.
5. Memahami titik kritis keharaman dan proses produksi serta
SJH
6. Lulus dan Bersertifikat Training Halal Eksternal
7. Teruji kompetensi sebagai penyelia Halal
1. Komitmen Penyusunan Formula berbasis Halal
2. Mempersiapkan dokumen pendukung kehalalan untuk semua bahan yang dipakai dalam
formulasi
3. Menyusun sistem pembuatan produk baru berdasarkan bahan yang telah disusun oleh
KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI
4. Menyusun sistem perubahan bahan sesuai dengan ketentuan halal.
5. Mencari alternatif bahan yang jelas kehalalalannya.
6. Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam hal yang terkait dengan
formulasi,pembuatan produk baru dan perubahan formula/bahan
7. Memiliki Formula standard yang tertulis
8. Melakukan dokumentasi dan pencatatan aktivitas kritis yang
dilakukan
2. Tugas Purchasing/Procurement
1. Menyusun prosedur dan melaksanakan pembelian yang dapat menjamin
konsistensi bahan sesuai dengan daftar bahan yang telah disusun oleh
KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI
2. Melakukan komunikasi dengan R&D untuk pencarian alternatif bahan
baku halal
3. Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam pembelian bahan baru dan
atau pemilihan pemasok baru.
4. Melakukan evaluasi terhadap pemasok dan menyusun peringkat pemasok
berdasarkan kelengkapan dokumen halal
5. Melakukan dokumentasi dan pencatatan aktivitas kritis yang dilakukan
3.Tugas Gudang / Logistik
1.Menyusun prosedur administrasi pergudangan yang dapat menjamin
kehalalan bahan dan produk yang disimpan serta menghindari terjadinya
kontaminasi dari segala sesuatu yang haram dan najis.
2.Melaksanakan penyimpanan produk dan bahan sesuai dengan daftar
bahan dan produk yang telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM
MUI.
3.Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam sistem keluar masuknya bahan
dari dan ke dalam gudang.
4. Melakukan dokumentasi dan pencatatan aktivitas kritis yang dilakukan
1. Menyusun dan melaksanakan prosedur pemantauan dan pengendalian
untuk menjamin konsistensi produksi halal.
2. Melaksanakan pemeriksaan terhadap setiap bahan yang masuk sesuai
dengan sertifikat halal, spesifikasi dan produsennya. Mengupdate ED bahan
baku dan SH bahan baku
3. Memberikan Status Halal pass
4. Melakukan komunikasi dengan KAHI terhadap setiap perubahan ,
penyimpangan dan ketidakcocokan bahan dengan dokumen kehalalan.
5. Melakukan dokumentasi dan pencatatan aktivitas kritis yang
dilakukan
1. Menyusun prosedur / SOP aktivitas kritis produksi yang dapat menjamin
kehalalan produk
2. Melakukan pemantauan produksi yang bersih dan bebas dari bahan
haram dan najis.
3. Menjalankan kegiatan produksi sesuai dengan matrik formulasi bahan
yang telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI.
4. Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam hal proses produksi halal,
perubahan fasilitas / lini dan terjadinya penyimpangan di area proses
produksi
5. Melakukan dokumentasi dan pencatatan aktivitas kritis yang
dilakukan