Anda di halaman 1dari 138

RESEP

ADALAH : PERMINTAAN TERTULIS DARI SEORANG DOKTER KEPADA APOTEKER UNTUK MEMBUAT ATAU MENYERAHKAN OBAT KEPADA PASIEN.

RESEP HARUS DITULIS DENGAN MENYEBUTKAN : A.TANGGAL DAN TEMPAT DITULISNYA (INSCRIPTIO) B.ATURAN PAKAI DARI OBAT YANG DITULIS (SIGNATURA) C.PARAF/TANDA TANGAN DOKTER YANG MENULIS RESEP (SUBSCRIPTIO) D.TANDA BUKA PENULISAN RESEP DENGAN R/ (INVOCATIO) E.NAMA OBAT, JUMLAH DAN CARA MEMBUATNYA (PRESCRIPTIO ATAU ORDINATIO) D.NAMA DARI PASIEN (SISAKIT) DALAM RESEP TERTULIS NAMA DOKTER DAN ALAMAT PRAKTEK DOKTER (UMUMNYA DICETAK)

CONTOH RESEP: DOKTER BUDI JLN. T. UMAR NO. 43 TELP. (0651) 44256 IZIN PRAKTEK: NO. 2567 A BANDA ACEH: 17 8 2005 R/ PARASETAMOL TAB NO. XV S3DDTAB I PARAF/TANDA TANGAN DOKTER PRO: TN. ADI

TANDA RESEP SEGERA


JIKA DOKTER INGIN RESEP ITU DIBUAT SEGERA MAKA TANDA-TANDA YANG DITULIS DAN DITULIS DISEBELAH ATAS DARI BLANGKO RESEP ADALAH: A. CITO : SEGERA B. URGENT : PENTING C. STATIM : PENTING D. P. I. M : PERICULUM IN MORA : BERBAHAYA BILA DITUNDA

TANDA RESEP DIULANG


BILA DOKTER INGIN AGAR RESEPNYA DAPAT DIULANG MAKA DALAM RESEP DAPAT DITULIS ITERATIE DAN DITULIS BERAPA KALI RESEP BOLEH DI ULANG, MISALNYA ITERATIE 3X ARTINYA RESEP DAPAT DILAYANI 1 + 3 KALI ULANG = 4 KALI UNTUK RESEPNYA YANG MENGANDUNG NARKOTIKA, TIDAK DAPAT DITULIS ITERATIE TETAPI SELALU DENGAN RESEP BARU.

TANDA DOSIS SENGAJA MELAMPOI M. D (MAXIMUM DOSE) JIKA DOKTER SENGAJA MEMBERI DOSIS YANG MELEBIHI M. D, MAKA DIBELAKANG NAMA OBATNYA DIBERI TANDA! (TANDA SERU) ATAU PARAF DOKTER TANDA N. I JIKA DOKTER MELARANG RESEP TADI DI ULANG PEMBUATANNYA, MAKA DOKTER MENULIS DI SEBELAH ATAS DALAM BLANGKO RESEP TANDA N. I, ARTINYA Ne ITERETUR = TIDAK DIULANG.

MEMBUAT RESEP (MERACIK OBAT)


YANG BERHAK MEMBUAT RESEP IALAH: A. APOTEKER B. ASISTEN APOTEKER DI BAWAH PENGAWASAN APOTEKER. APOTEK HARUS MENYERAHKAN OBAT KEPADA PENDERITA SESUAI DENGAN YANG TERTULIS DALAM RESEP. APABILA APOTEKER MENGANGGAP DALAM RESEP TERDAPAT KEKELIRUAN ATAU PENULISAN RESEP YANG TIDAK TEPAT, APOTEKER HARUS MEMBERITAHUKAN KEPADA DOKTER PENULIS RESEP.

BILA DOKTER PENULIS TETAP PADA PENDIRIANNYA, TANGGUNG JAWAB SEPENUHNYA DIPIKUL OLEH DOKTER YANG BERSANGKUTAN.

BILA DOKTER TIDAK DAPAT DIHUBUNGI DALAM HAL RESEP TERDAPAT KEKELIRUAN YANG BERBAHAYA, MAKA PENYERAHAN OBAT DAPAT DITUNDA. RESEP YANG TIDAK DAPAT DIBACA SECARA JELAS ATAU TIDAK LENGKAP, MAKA APOTEKER BERKEWAJIBAN MENANYAKAN KEPADA DOKTER PENULIS RESEP, (PER. MENKES. NO. 26/PER/11/1981)

COPIE RESEP = SALINAN RESEP ISTILAH LAIN DARI COPIE RESEP IALAH APOGRAPH EXEMPLUM ASFSCHRIFT SALINAN RESEP HARUS DITANDATANGANI ATAU DIPARAF OLEH APOTEKER.DISIMPAN DALAM JANGKA 3 (TIGA) TAHUN. RESEP ATAU SALINAN RESEP HANYA BOLEH DIPERLIHATKAN KEPADA : 1.DOKTER PENULIS RESEP ATAU YANG MERAWAT PENDERITA. 2.PENDERITA SENDIRI 3.PETUGAS KESEHATAN ATAU PETUGAS LAIN YANG BERWENANG MENURUT PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN YANG BERLAKU

SEBAGAI CONTOH: - PETUGAS PENGADILAN BILA DIPERLUKAN UNTUK SUATU PERKARA - BADAN SOSIAL/JAWATAN YANG MEMBIAYAI COPIE RESEP HARUS MEMUAT KETERANGAN YANG TERDAPAT DALAM RESEP ASLI DAN HARUS MEMUAT PULA (SK. MENKES NO. 280/V/1981): A. NAMA DAN ALAMAT APOTEK B. NAMA DAN NOMOR PEMILIK SIPA (SURAT IZIN PENGELOLAAN APOTEK) C. TANDA TANGAN ATAU PARAF APOTEKER PENGELOLAAN APOTEK

D. TANDA DET ATAU DETUR UNTUK OBAT YANG SUDAH DISERAHKAN, TANDA NE DET. ATAU NE DETUR UNTUK OBAT YANG BELUM DISERAHKAN E. NOMOR RESEP DAN TANGGAL PEMBUATAN. DOKTER TIDAK BOLEH MEMBERI OBAT SENDIRI LANGSUNG PADA PASIEN PADA DAERAH YANG TELAH ADA APOTEK. DOKTER HANYA BOLEH MEMBERI OBAT JIKA PERTOLONGAN SEGERA DIPERLUKAN (PADA PERTOLONGAN PERTAMA), SEDANG OBAT YANG DIKEHENDAKI TIDAK SEGERA DAPAT DIPEROLEH (PASAL 49 W. G) KEKECUALIAN INI DIPERBOLEHKAN HANYA PADA KUNJUNGAN PERTAMA DARI DOKTER.

BAGI TEMPAT YANG BELUM ADA APOTEK, DOKTER DIBERI IZIN UNTUK MENGADAKAN PERSEDIAAN OBATOBAT SECUKUPNYA UNTUK MEMENUHI PRAKTEKNYA SENDIRI (SK. MENKES 33148/KAB/176/1962). PENYERAHAN OBAT ATAS DASAR RESEP HARUS DILENGKAPI DENGAN ETIKET BERWARNA PUTIH UNTUK OBAT DALAM DAN WARNA BIRU UNTUK OBAT LUAR, DAN PADA ETIKET TERSEBUT HARUS DICANTUMKAN: A. NAMA DAN ALAMAT APOTEK B. NAMA DAN NOMOR SIPA C. NAMA DAN TANGGAL PEMBUATAN D. NAMA PASIEN

E. ATURAN PEMAKAIAN D. TANDA LAIN YANG DIPERLUKAN MISALNYA KOCOK DULU TIDAK BOLEH DIULANG TANPA RESEP DOKTER DAN SEBAGAINYA. CARA MENYUSUN PENULISAN OBAT DI DALAM RESEP ADALAH SEBAGAI BERIKUT: 1. DITULIS OBAT POKOKNYA DULU, DISEBUT REMEDIUM CARDINALE (BASIS) 2. DITULIS OBAT TAMBAHAN, DISEBUT REMEDIUM ADJUVANTIA

REMEDIUM ADJUVANTIA DAPAT BERUPA: A.REMEDIUM CORRIGENS ACTIONIS YAITU OBAT YANG MEMPERBAIKI ATAU MENAMBAH EFEK OBAT POKOK. B.REMEDIUM CORRIGENS SAPORIS (MEMPERBAIKI RASA) C.REMEDIUM CORRIGENS ODORIS (MEMPERBAIKI BAU) D.REMEDIUM CORRIGENS COLORIS (MEMPERBAIKI WARNA) 3.DITULIS BAHAN TAMBAHAN UNTUK MEMPERBESAR VOLUME DISEBUT : REMEDIUM CONSTITUENS SEBAGAI CONTOH: R/FOL. DIGITALIS 75 MG DIURETIN 500 MG M. F. PULV. D. T. D. NO. XII

DIGITALIS DIPAKAI UNTUK MENGOBATI DEKOMPENSASI JANTUNG, YANG JUGA TIMBUL UDEM. PENYEBAB PENYAKITNYA (KAUSAL) DIOBATI OLEH OBAT POKOK YAITU FOLIA DIGITALIS, SEDANG OEDEM AKAN DIPERCEPAT DIHILANGKAN DENGAN PENAMBAHAN DIURETIN YANG MEMPUNYAI EFEK SEBAGAI DIURETIKUM. JADI REMEDIUM CARDINALE ADALAH FOLIA DIGITALIS DAN SEBAGAI REMEDIUM CORRIGENS ACTIONIS ADALAH DIURETIN. SEBAGAI CORRIGENS COLORIS ADALAH : TINCTURA CROCI (WARNA KUNING), CARAMEL, DAN SEBAGAINYA.

SEBAGAI CORRIGENS ODORIS ADALAH; ROSARUM, 01. BERGAMOTTAE, 01. LAVANDULAE DAN SEBAGAINYA. SEBAGAI CORRIGENS SAPORIS ADALAH; UNTUK RASA PAHIT DENGAN MENGGUNAKAN SIRUPUS AURANTIORUM. AQUA/SPRIRITUS/TINCTURA CINNAMOMI. JUGA BANYAK DIGUNAKAN AQUA MENTHAE PIPERITAE KARENA ADANYA RASA MENTHOL UNTUK MEMPERBAIKI RASA YANG TIDAK ENAK.

CONTOH RESEP: DR. MUHAMMAD SIP: NO. 2334/P/25 JLN. T. UMAR NO. 15 TELP. (0651) 2234 BANDA ACEH R/ASETOSAL MG 500 CODEIN HCL MG20 C. T. M MG 4 S.L Q.S mf. Pulv.dtd No XV DA IN CAPS STDD CAPS I PRO: TN. MULIA JLN. T. UMAR 10 BANDA ACEH

PARAF/TANDA TANGAN DOKTER

CONTOH RESEP: - R/ ICHTYOL ZALF 10%

INDIKASI: - FURUNKED - KARBONKED

- R/BORAX GLYCERIN 10%

- STOMATITIS - APHTAEDIMULUT - GINGIVITIS


- CONDYLOMA ACUMINATA - CANDIDIASIS MULUT, VAGINA - MYCOSIS (DWS)

- R/TINTURE PODOPHYLIN 25% - R/GENTIAN VIOLAT 1-2 % - A. A. V. II R/ACID SALICILAT 6% ACID BENZAICUM 12% VASEDIN ALBUM AD M. F. UNG

- A. A. V I R/ACID SALICILAT 3% ACID BENZOICUM 6% VASELIN ALBUM AD.. MF. UNG - R/ ACID ACETYLSALICYLAT,05 M. F PULV DTD. NO. 20 (DITIMBANG 20 X 0,5 GRAM ASETOSAL, DIGERUS, LALU DI BAGI MENJADI 20 BUNGKUS/PULVERES)

- MYCOSIS (ANAK)

SINGKATAN BAHASA LATIN YANG SERING DIPAKAI UNTUK MENULIS RESEP A. AA= ANA = MASING-MASING AA P. AEQ = ANA PARTES AEQUALES AD AD 2 VIC = AD DUAS VICES AD US. IN = AD USUM INTERNUM AD US. EXT. = AD USUM EXTERNUM AC = ANTE COENAM ADD. = ADDE

= MASING-MASING = MASING-MASING BAGIAN YANGSAMA = SAMPAI = UNTUK 2 KALI = UNTUK PEMAKAIAN DALAM (PERORAL) = UNTUK PEMAKAIAN LUAR = SEBELUM MAKAN = TAMBAHKAN

AD US. PROP = AD USUM PROPRIUM AD CHART. = AD CHARTAM

= UNTUK DIPAKAI SENDIRI = DALAM KERTAS

AD OLLAM AD SCATUL = AD SCATULAM AD VITR. = AD VITRUM AD VITR. ALB = AD VITRUM ALBAM


AQ COIS = AQUA COMMUNIS AQ BULL = AQUA BULLIENS AQ DEST. = AQUA DESTILLATA AQ FERV = AQUA FERVIDA AQ STERIL = AQUA STERILLISATA

= DALAM POT = DALAM DOS = DALAM BOTOL = DALAM BOTOL PUTIH = AIR BIASA, AIR LEDING = AIR MENDIDIH = AIR SULING = AIR PANAS = AIR STERIL

B. B. IN D = BIS IN DIE = 2 KALI SEHARI B. D. D = BIS DE DIE = 2 KALI SEHARI C. C = CUM = DENGAN C. = COCHL = COCHLEAR = SENDOK MAKAN\ C. P = COCHLEAR PULTIS = SENDOK BUBUR C. TH = COCHLEAR THEAE = SENDOK THE COCHLEAT = COCHLEATIM = SENDOK DEMI SENDOK CAPS GEL OP = CAPSULAE GELATINO SAE OPERCUIATAE = CAPSUL SELATIN DENGAN TUTUP CITISS = CITISSIME = SANGAT SEGERA CITO = SEGERA CLYSM = CLYSMA = LAVEMENT = CAIRAN DUBUR

COLLYR = COLLYRIUM = CUCI MATA COLLUT = COLLUTIO = CUCI MULUT COQ. = COQUE = DIDIHKAN COQ AD. COL = COQUE AD COLATURAM = DIDIHKAN SAMPAI JADI COLUTUR TURAM D D = DA = BERILAH D. IN DIM = DA IN DIMIDIO = BERILAH SEPARUHNYA D. IN 2 PLO = DA IN DUPLO = BERILAH 2 KALINYA D. C. FORM = DA CUM FORMULA = BERILAH DENGAN FORMULANYA

D. S. S. VEN = DA SUB SIGNO VENENI D. C = DURANTE COENAM D. T. D = DA TALES DOSES DIL = DILUTUS DIV. IN P AEQ = DIVIDE IN PARTES AEQUALES

= BERILAH DENGAN TANDA RACUN = SELAMA MAKAN = BERILAH SEKIAN TAKARAN = ENCER = BAGILAH DALAM BAGIAN YANG SAMA

E. ELAEOS = ELAEOSACCHARUM = GULA BERMINYAK EMPL = EMPLASTRUM = PLESTER EXTR. LIQ = EXTRACTUM LIQUIDUM = EKSTRAK CAIR EXTR SPISS = EXTRACTUM SPISSUM = EKSTRAK KENTAL EXTR SICC = EXTRACTUM SICCUM = EKSTRAK KERING EMULS = EMULSUM = EMULSI

F. F = FAC. FIAT FIANT F. L. A = FAC LEGE ARTIS FOL = FOLIA FLOR = FLORES FILTR = FILTRA G. G. GRAM G = GRAMMA GARG. = GARGARISMA TGG = GUTTA (E) H. H = HORA \H. M = HORA MATUTINA HAUST.= HAUSTUS H. V. = HORA VESPERTINA H. S = HORA SOMNI

= BUAT, DIBUAT = BUAT MENURUT SENI = DAUN = BUNGA = SARING = GRAM = OBAT KUMUR = TETES (TETES-TETES) = JAM = PAGI-PAGI = SEKALI MINUM = MALAM = SEBELUM TIDUR

I. INF. = INFUSUM INJ = INJECTIO INJ SUBC = INJECTIO SUBCUTANEA

= INFUSA = INJEKSI = INJEKSI DI BAWAH KULIT INJ HYPOD = INJECTIO HYPODERMICA = INJEKSI DI BAWAH KULIT ITER = INTERETUR = DIULANG L. L. A = LEGE ARTIS = MENURUT ATURAN SENI LAG = LAGENA = BOTOL LIN = LINIMENTUM = LINIMEN LIQ = LIQUOR = CAIRAN LIQ = LIQUIDUS = CAIR LIT OR = LITUS ORIS = TUTUL MULUT LOT = LOTIO = AIR PEMBERSIH

M. MAN = MANE M. = MISCE M. D. S = MISCE DA SIGNA

= PAGI = CAMPURLAH = CAMPUR DAN BERILAH TANDA M. ET. V = MANE ET VESPERE = PAGI DAN MALAM M. F = MISCE FAC = CAMPUR DANBUATLAH M. F PILUL = MISCE FAC PILULAS = CAMPUR DAN BUATLAH PIL M. F. PULV = MISCE FAC PULVERES= CAMPUR DAN BUATLAH SERBUK MG. MGRM = MILLIGRAMMA = MILIGRAM MIXT = MIXTURA = LARUTAN CAMPURAN MASS PIL = MASSA PILULARUM = MASA PIL

N. NE ITER, N I = NE ITERETUR = TIDAK DIULANG O. O H = OMNI DIMIDIA HORA = TIAP SETENGAH JAM O. H = OMNI HORA = TIAP JAM O B H = OMNI BIHORIO = TIAP DUA JAM O TR H = OMNI TRIHORIO = TIAP TIGA JAM P. P AEQ = PERTES AEQULES = TIAP BAGIAN YANG SAMA PAUP = PAUPERE = MISKIN P. P = PRO PAUPERE = UNTUK DI MISKIN P P P = PULVIS PRO PILULAE = SERBUK UNTUK PIL = SUCCUS DAN RADIX LIQUIRITIAE SAMA BANYAK

P. C = POST COENAM PIL = PILULAE PAST DENTIFR = PASTA DENTIFRICIA POT = POTIO

PULV ADSP = PULVIS ADSPERCORIUS PULV DENTIFR = PULVIS DENTIFRICIUS


PULV GORSS = PULVIS GORSSUS PULV SUBT PULVIS SUBTILIS PULV SUBTISS = PULVIS SUBTILIS SIMUS

= SESUDAH MAKAN = PIL = PASTA GIGI = MINUMAN (CAIRAN OBAT UNTUK DIMINUM) = BEDAK TABUR = SERBUK UNTUK GIGI = SERBUK KASAR = SERBUK HALUS = SERBUK SANGAT HALUS

Q. Q. S = QUANTUM SUFFICIT = QUANTUM SATIS R. R. RP. RCP = RECIPE REC = RECENS RE PAR = RECENTER PARATUS REITER = REITERETUR

= BANYAKNYA SECUKUPNYA = AMBILLAH = SEGAR = DIBUAT BARU = DIULANG

S. S. = SIGNA SCAT = SCATULA SOL SOLUT = SOLUTIO S. D. D = SEMEL DE DIE S S N = SIGNA SUO NOMINE S. N. E. = SI NECESSE EST S. N. S = SI NECESSE SIT SOLV.= SOLVE SUM = SUMENDUM STERIL = STERILISATUS

= TANDA = DOS = LARUTAN = SATU KALI SEHARI = BERILAH TANDA NAMANYA = BILA PERLU = BILA PERLU = LARUTKAN = UNTUK DIMINUM = DISTERIL

T. TCT. TINCT = TINCTURA TER D. D = TER DE DIE TRIT = TRITUS, A. UM U. U. C = USUS COGNITUS U. E. = USUS EXTERNUS U I = USUS INTRNUS U. N = USUS NOTUS U. A = UT ANTE V. VESP = VESPERE

= TINKTUR = 3 KALI SEHARI = DIGERUS = ATURAN PAKAI TAHU = UNTUK DIPAKAI DI LUAR = UNTUK PEMAKAIAN DALAM (PERORAL) = ATURAN PAKAI TAHU = SEPERTI YANG LALU = MALAM

DOSIS OBAT, RESEP, ISTILAH SATUAN BERAT & ISI


SATUAN BERAT YANG DIGUNAKAN DALAM PERHITUNGAN DOSIS OBAT ADALAH:1 KG =1000 gr(GRAM), 1gr= 1000mg (MILIGRAM) DAN 1mg = 1000mcg (MIKROGRAM). SEDANGKAN SATUAN YANG DIGUNAKAN UNTUK DOSIS OBAT INI ADALAH 1 L=1000 ML (MILILITER).

KONVERSI GRAM KE MILIGRAM DAN SEBALIKNYA

1G = 1000 MG 2G = (2 X 1000) MG = 2000 MG 2,165 G= (2,165 X 1000) MG = 2165 1,23 G = (1,230 X 1000) MG = 1230

2060 MG

2060 1000

G 2,06 G

MENYATAKAN PERSENTASE DENGAN ISTILAH KUANTITATIF


SEJALAN DENGAN KETENTUANNYA KINI BERLAKU BAGI LABEL BAHAN TERAPEUTIK, SEJUMLAH PRODUK KINI MENCATUMKAN KADARNYA DENGAN ISTILAH KUANTITATIF, BUKAN ISTILAH PERSEN. MISALNYA1 % BERLABEL 10 MG/G. DALAM PRAKTIKNYA INI HANYA BERLAKU UNTUK OBAT LUAR SEPERTI KRIM DAN OBAT TETES MATA KARENA TERDAPAT LEBIH DARI SATU KEKUATAN/KADAR UNTUK SATU PRODUK.

CONTOH : MENGONVERSI KEKUATAN 1 % KEDALAM ISTILAH KUANTITATIF PERTAMA-TAMA PERLU DIINGAT BAHWA SATUAN DASAR UNTUK BENDA PADAT ADALAH GRAM DAN UNTUK PREPARAT CAIR ADALAH MILITER. UNGKAPAN 1 % BERARTI SATU BAGIAN DARI SERATUS, DIUCAPKAN DALAM GRAM ATAU MILITER.
1% 1G 100 G X 1 0, 01G / G ATAU 10 MG / G

LARUTAN 1 % = 10 MG/ML

LATIHAN UBAHLAH PERSENTASE BERIKUT MENJADI ISTILAH KUANTITATIF 1. SALEP MATA 0,5 % MG/G 2. TETES MATA 10 % 3. SALEP KULIT 0,02 % 4. TETES TELINGA 0,1 %, IMG/CC 5. LARUTAN BETADIN 0,05%, 0,5 MG/CC

PERHITUNGAN DOSIS TABLET/KAPSUL/OBAT CAIR/SUNTIKAN


SOAL 1

BEBERAPA TABLET DIPERLUKAN UNTUK MENDAPAT DOSIS 0,12 MG? 1 TABLET MENGANDUNG 62,5 MCG DIGOXIN. JAWAB : 0,125 MG = (0,125 x 1000) MCG = 125 MCG JIKA 1 tab. Mengandung 62,5 mcg dan diperlukan X tablet untuk mencapai dosis 125 mcg, maka X.62,5 = 125

125 62,5

=2 Jadi diperlukan 2 tablet

JAWAB : PAKAI RUMUS BERIKUT :


KUANTITAS YANG DIMINTA DOSIS YANG DIMINTA DOSIS YANG TERSEDIA X 1 TABLET

0,125 MCG = (0,125 X 1000) MCG = 125 MCG ISI RUMUS DIATAS

1. BERAPA BANYAK TABLET FUROSEMIDE 40 MG HARUS DIBERIKAN UNTUK MEMPEROLEH DOSIS 10 MG? 2. BERAPA BANYAK TABLET LEVODOPA 250 MG HARUS DIBERIKAN UNTUK MEMPEROLEH DOSIS 375 MG? 3. BERAPA BANYAK TABLET DIGOXIN 0,25 MG HARUS DIBERIKAN UNTUK MEMPEROLEH DOSIS 125 MIKROGRAM? 4. BERAPA BANYAK TABLET HOLEPERIDOL 1,5 MG HARUS DIBERIKAN UNTUK MEMPEROLEH DOSIS 4,5 MG?

SOAL 2 PASIEN DIINTRUKSIKAN UNTUK DIBERI 75 MG PETHIDIN. TERSEDIA AMPUL BERISIKAN 100 MG DALAM 2 ML. BERAPA ML YANG DISUNTIKKAN? JAWAB: JIKA 2 ML LARUTAN MENGANDUNG 100 MG PERTHIDIN, DAN X ML LARUTAN MENGANDUNG 75 MG PERTHIDIN, MAKA

75 100

X 2 ML

150ML 100

1,5ML

ATAU MEMAKAI RUMUS


X DOSIS YANG DIMINTA DOSIS YANG TERSEDIA 75 100 1,5 ML X 2 ML

X VOLUME DOSIS YANG TERSEDIA

SOAL 3 DIINSTRUKSIKAN UNTUK MENYUNTIK 150 MG PENISILIN V. TERSEDOIA FLAKON DENGAN LABEL 125 MG/5 ML. BERAPA ML HARUS DIBERIKAN??? Jawab : Jika 5 ml larutan mengandung 125 penisilin V dan X ml mengandung 150 mg, maka
X 150 X 5 ML 125 6 ML

Atau
150 125 6 ML X 5 ML

LATIHAN

1. TELAH DIPESAN KCI DENGAN DOSIS 350 MG. TERSEDIA LARUTAN YANG MENGANDUNG 1 G DALAM 4 ML. BERAPA BANYAK YANG HARUS DIBERIKAN? 2. TELAH DIPESAN ERITROMISIN DENGAN DOSIS 100 MG. TERSEDIA SUSPENSI ERITROMISIN YANG MENGANDUNG 125 MG/5 ML. BERAPA BANYAK YANG HARUS DIBERIKAN? 3. TERSEDIA AMPUL ATROPIN 0,6 MG/ML. BERAPA BANYAK HARUS DIBERIKAN UNTUK MEMPEROLEH DOSIS 900 MCG? 4. TELAH DIPESAN DEXCHLORPHENIRAMIN YANG MENGANDUNG SIRUP DEXCHLORPHENIRAMIN YANG MENGANDUNG 2 MG PER 5 ML. BERAPA YANG HARUS DIBERIKAN?

DIPERLUKAN LARUTAN BETADINE 1:2.000 DAN TERSEDIA LARUTAN 20%. BERAPA BANYAK LARUTAN BETADINE 20% INI DIPERLUKAN UNTUK MEMBUAT 2 L BETADINE 1:2.000? KARENA KONSENTRASI DINYATAKAN SEBAGAI RASIO DAN YANG LAIN SEBAGAI PERSENTASE, SALAH SATUNYA HARUS DIKONVERSIKAN. 20% = 20 BAGIAN PER SERATUS = 20:100 = 1:5. JAWAB : MEMAKAI RUMUS
X KONSENTRAS I YANG DIMINTA X JUMLAH YANG DI MINTA KONSENTRAS I YANG TERSEDIA

JADI DIPERLUKAN 5 ML LARUTAN BETADINE 20 ML UNTUK 2 L LARUTAN 1:2000.

1 : 2.000 1: 5 1 2.000 X

X 2.000 ML 5 1 X 2.000 ML

5 ML

LATIHAN 1. BERAPA BANYAK EUSOL 1:8 DIBUTUHKAN UNTUK MEMBUAT 500 ML LARUTAN 1:20? 2. BERAPA BANYAK SAVLON CONCENTRATE (100%) DIBUTUHKAN UNTUK MEMBUAT 600 ML LARUTAN 5%? 3. BERAPA BANYAK HIBITANE 5% DIBUTUHKAN UNTUK MEMBUAT 1 L LARUTAN 1:1000? 4. BERAPA BANYAK SAVLON 1:2 DIBUTUHKAN UNTUK MEMBUAT 1,5 L LARUTAN 10%?

KALKULASI KECEPATAN INFUS


PEMBERIAN OBAT SECARA INTRAVENA DIHITUNG BERDASARKAN JUMLAH TETES PER MILILITER LARUTAN. KARENA INSTRUKSI DIBERIKAN BERUPA VOLUME YANG HARUS DIBERIKAN DALAM WAKTU TERTENTU (MISALNYA 500 ML DALAM 4 JAM), MAKA DIPERLUKAN KEMAMPUAN UNTUK MENGHITUNG KONVERSI DARI TETES PER MENIT KE MILILITER PER MENIT, DAN SEBALIKNYA.

SOAL 5 BERAPA KECEPATAN ALIRAN DIPERLUKAN UNTUK MEMASUKKAN 500 ML DEKTOSA 5% DALAM AIR SELAMA 8 JAM? LARUTAN INI MEMBERI 15 TETES/ML. JAWAB : LANGKAH 1 KONVERSI JAM KE MENIT 8 JAM = 8 X 60 MENIT = 480 MENIT LANGKAH 2 MENGHITUNG KECEPATAN YANG DIBUTUHKAN DALAM ML PER MENIT. JIKA 500 ML HARUS DIBERIKAN

DALAM 480 MENIT, DAN X ML AKAN DIBERIKAN DALAM 1 MENIT, MAKA

500 X 1

1 ML 480

1 ML ( DIBULATKAN)

LANGKAH 3 KONVERSI KE TETES PER MENIT. KECEPATAN PEMBERIAN ADALAH 1 ML/MENIT (KURANG LEBIH). LARUTAN ITU MENGANDUNG 15 TETES /ML, MAKA JUMLAH TETES PER MENIT MENJADI 1 X 15 TETES PER MENIT ATAU 15 TETES/MENIT.

SOAL 6 BEBERAPA CEPAT HARUS KITA BERIKAN LARUTAN YANG MENGANDUNG 1000 MG LIGNOCAIN DALAM 500 ML LARUTAN AGAR PASIEN MENDAPAT 3 MG/MENIT BILA 1 ML LARUTAN ITU MENGANDUNG 60 TETES

LANGKAH 1 HITUNG BERAPA BANYAK LARUTAN MENGANDUNG 3 MG LIGNOKAIN. JIKA 500 ML LARUTAN MENGANDUNG 1000 MG LIGNOKAIN DAN X ML LARUTAN MENGANDUNG 3 MG, MAKA PERHITUNGAN SEBAGAI BERIKUT :
500ML 3MG X X 1ML 1.000MG

1,5ML

JADI HARUS DIBERI 1,5 ML SETIAP MENIT AGAR DI DAPAT DOSIS 3 MG/MENIT

LANGKAH 2 KONVERSI KECEPATAN ALIRAN. JIKA TERDAPAT 60 TETES DALAM 1 ML DAN TERDAPAT X TETES DALAM 1,5ML, PERHITUNGANNYA SEBAGAI BERIKUT :

60 1

1,5 1

90 TETES PER MENIT

LATIHAN 1. BEBERAPA TETES PER MENIT HARUS DI PERTAHANKAN UNTUK MEMBERI INFUS NaCl FISIOLOGI SEBANYAK 1 L SELAMA 12 JAM BILA 1 ML MENGANDUNG 15 TETES? 2. BEBERAPA TETES PER MENIT HARUS DI PERTAHANKAN UNTUK MEMBERI 50 ML DEKSTROSA 10 % DALAM 1 JAM, BILA 1 ML MENGANDUNG 60 TETES?

3. BEBERAPA TETES PER MENIT DIBUTUHKAN UNTUK MEMBERI AMINOFILIN SEBANYAK 1 MG/MENIT MENGANDUNG 15 TETES? LARUTAN INFUS YANG TERSEDIA MENGANDUNG 250 MG AMINOFILIN DALAM 500 ML. 4.DIINSTRUKSIKAN MEMBERI AMPISILIN DENGAN KECEPATAN 100 MG/JAM, BILA 1 ML MENGANDUNG 60 TETES. LARUITAN INFUS MENGANDUNG 500 MG AMPISILIN PER 500ML. BERAPA TETES PERMENIT?

KALKULASI DOSIS BERDASARKAN BERAT BADAN

KADANG-KADANG DOSIS DIUCAPKAN SEBAGAI BERI 1 MG/KG BERAT BADAN. JADI BERAT BADAN PASIEN HARUS DIKETAHUI DULU, MISALNYA 60 KG, MAKA DOSISNYA ADALAH 60 MG. BILA PERMINTAANNYA ADALAH BERIKAN 1 MG/KG BERAT BADAN/HARI, MAKA DOSIS TADI HARUS DIBAGI DALAM BEBERAPA KALI DOSIS, MISALNYA DIBAGI 3 MAKA MENJADI 3 KALI MINUM @ 20 MG.

DOSIS PEDIATRIK
DOSIS TEPAT PENTING UNTUK PASIEN PEDIATRI. ANDA DAPAT MENGONVERSI DOSIS DEWASA MENJADI DOSIS PEDIATRIK DENGAN SEJUMLAH FORMULA; DUA DI ANTARANYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :

RUMUS CLARKE
DOSIS PEDIATRIK BERAT ANAK ( KG ) 70 X DOSIS DEWASA

RUMUS YOUNG
DOSIS PEDIATRIK UMUR ANAK UMUR ANAK 12 X DOSIS DEWASA

INDIKATOR YANG LEBIH TEPAT DARI BERAT BADAN DAN UMUR ADALAH LUAS PERMUKAAN BADAN

RUMUS LUAS PERMUKAAN CLARKE


LUAS PERMUKAAN ANAK ( M 2 ) DOSIS PEDIATRIK X DOSIS DEWASA 1,73

CARA PEMBERIAN OBAT


I. PEMBERIAN OBAT PERORAL CARA INI MERUPAKAN CARA PEMBERIAN OBAT YANG PALING UMUM DILAKUKAN KARENA : - MUDAH - AMAN - MURAH - PALING MENYENANGKAN

KERUGIANNYA A. OBAT DAPAT MENGIRITASI SALURAN CERNA B. MEMERLUKAN KOOPERASI DARI PENDERITA (TIDAK BISA BILA PASIEN KOMA, MUNTAHMUNTAH) C. BEBERAPA OBAT AKAN MENGALAMI PENGRUSAKAN OLEH CAIRAN LAMBUNG DAN USUS D. ONSETNYA LAMBAT URUTAN BERKURANGNYA KECEPATAN KESEDIAAN ZAT AKTIF TERHADAP CAIRAN BIOLOGIK ADALAH: LARUTAN-SUSPENSI ORAL-CAPSUL-TABLET-TABLET SALUT.

MACAM-MACAM ROUTE PENGGUNAAN OBAT SECARA PARENTERAL ADALAH: 1. INTRA DERMAL = INTRACUTAN = I. C 2. SUB CUTAN = HIPDERMAL = S. C 3. IM (INTRA MUSCULRA) 4. IV ( INTAR VENA) 5. INTRASPINAL (INTRA THECAL & SUBARCHNOID) = IS 6. EPIDURAL (EP) 7. INTA PERITONEAL (IP)

INJEKSI DAPAT BERUPA LARUTAN, SUSPENSI ATAU EMULSI. APABILA OBATNYA TIDAK STABIL DALAM CAIRAN, MAKA DIBUAT DALAM BENTUK KERING. BILA MAU DIPAKAI BARU DITAMBAH AQUA STERIL UNTUK MEMPEROLEH LARUTAN ATAU SUSPENSI INJECTIE.

WADAH OBAT INJECTIE - UNTUK DOSIS TUNGGAL DIGUNAKAN AMPUL - UNTUK DOSIS GANDA DIGUNAKAN VIAL/FLACON

PEMBERIAN SECARA SUNTIKAN (PARENTERAL) KEUNTUNGANNYA A. EFEKNYA TIMBUL LEBIH CEPAT DAN TERATUR B. DAPAT DIBERIKAN PADA PENDERITA YANG TIDAK KOOPERATIF C. DAPAT DIBERIKAN PADA PENDERITA YANG TIDAK SADAR. D. DAPAT DIBERIKAN PADA PENDERITA YANG MUNTAH-MUNTAH E. SANGAT BERGUNA PADA KEADAAN DARURAT

KERUGIANNYA: A. DIBUTUHKAN CARA ASEPSI/STERIL B. SERING DIERTAI RASA NYERI C. ADA BAHAYA PENULARAN HEPATITIS SERUM/DISPOSIBEL D. SUKAR DILAKUKAN SENDIRI OLEH PENDERITA E. TIDAK EKONOMIS

CARA INTRADERMAL/INTRACUTAN DISUNTIKAN KEDALAM KULIT YANG SEBENARNYA, BIASANYA VULUME YANG DISUNTIKKAN SENDIKIT (0,1 0,2 CC) DIPAKAI UNTUK TUJUAN DIAGNOSA SKIN TEST, MANTOUX TEST.

CARA SUBCUTAN/HIPODERMIK DISUNTIKKAN, KEDALAM JARINGAN DIBAWAH KULIT, OBAT DI ABSORBSI LAMBAT, JADI DAPAT MENGATUR INTESITAS EFEK SISTEMIK. LARUTAN HARUS SEDAPAT MUNGKIN ISOTONIS SEDANG PHNYA SEBAIKNYA NETRAL, MAKSUDNYA UNTUK MENGURANGI IRITASI JARINGAN DAN MENCEGAH KEMUNGKINAN TERJADINYA NEKROSIS.

SUNTIKAN SUBKUTAN (SK) - HANYA BOLEH DIGUNAKAN UNTUK OBAT-OBAT YANG TIDAK MENYEBABKAN IRITASI JARINGAN - ABSORBSI BIASANYA TERJADI SECARA LAMBAT DAN KONSTAN SEHINGGA EFEKNYA BERTAHAN LAMA. (INSULIN) - OBAT DALAM BENTUK SUSPENSI DI ABSROBSI LEBIH LAMBAT DARIPADA DALAM BENTUK LARUTAN (CONSTISO, PP SUSP) - PENCAMPURAN OBAT DENGAN VASOKONSTRIKTOR JUGA AKAN MEMPERLAMBAT ABSORBSI OBAT TERSEBUT (PROKOIN, LIDOKAIN/ANESTSLOKAL) - OBAT DALAM BENTUK PADAT YANG DITANAMKAN DIBAWAH KULIT DAPAT DI ABSORBSI SELAMA BEBERAPA MINGGU ATAU BEBERAPA BULAN (K. B SUSUK)

CARA INTRA MUSCULAR - DISUNTIKKAN MASUK OTOT DAGING, INJEKSI YANG DIBERIKAN BERUPA LARUTAN, SUSPENSI, EMULSI DAPAT DIBERIKAN MELALUI ROUTE INI. - YANG BERUPA LARUTAN ADALAH CEPAT DI SERAB SEDANG YANG BERUPA SUSPENSI, EMULSI ATAU LARUTAN DALAM MINYAK DISERAB LAMBAT DAN DIMAKSUDKAN SUPAYA MENDAPATKAN EFEK YANG LAMA (PROLONGED ACTION)

SUNTIKAN INTRA MUSCULAR (IM) - OBAT YANG SUKAR LARUT DALAM AIR PADA PH FISIOLOGIK MISALNYA DIGOKSIN, FENITOIN, DIAZEPAM, AKAN MENGENDAP DI TAMPAT SUNTIKAN SEHINGGA ABSORBSINYA BERJALAN LAMBAT, TIDAK LENGKAP DAN TIDAK TERATUR. - OBAT YANG LARUT DALAM AIR DIABSORBSI CUKU CEPAT, TERGANTUNG DARI ALIRAN DARAH DI TEMPAT SUNTIKAN. - KELARUTAN OBAT DALAM AIR MENENTUKAN KECEPATAN DAN KELENGKAPAN ABSORBSI - ABSORBSI LEBIH CEPAT DI DELTOID ATAU VASTUS LATERALIS MUSCULARIS GLUTEUS MAKSIMUS - OBAT-OBAT DALAM LARUTAN MINYAK ATAU BENTUK SUSPENSI AKAN DI ABSORBSI DENGAN SANGAT LAMBAT DAN KONSTAN (SUNTIKAN DEFECT) MISALNYA: PENISILLIN

PEMBERIAN INTA VENA (CARA IV) - DISUNTIKAN LANGSUNG KEDALAM PEMBULUH DARAH, LARUTAN INI BIASANYA INSOTONIS ATAU HIPERTONIS - LARUTAN YANG HIPERTONIS DIMASUKKAN PERLAHAN-LAHAN JIKA LARUTAN YANG DIBERIKAN BANYAK DISEBUT INFUSI - LARUTAN HYECTIE INTRA VENA, HARUS BETUL, JERNIH, BEBAS DARI PARTIKEL PADAT, KARENA DAPAT MENYUMBAT KAPILER DAN OBAT MENYEBABKAN KEMATIAN JADI HYECTIE BENTUK SUSPENSI TIDAK BOLEH DI BERIKAN MELALUI INTRA VENA (IV) - GUNA BILA DIKEHENDAKI EFEK SISTEMIK YANG CEPAT.

KEUNTUNGANNYA A. TIDAK MENGALAMI TAHAP ABSORBSI SEHINGGA KADAR OBAT DALAM DARAH DIPEROLEH DENGAN CEPAT, TEPAT DAPAT DISESUAIKAN LANGSUNG DENGAN RESPONS PENDERITA. B. DAPAT UNTUK MEMBERIKAN LARUTAN TERTENTU YANG BERSIFAT IRITATIF (HANYA DENGAN CARA INI0 KARENA DINDING PEMBULUH DARAH RELATIF TIDAK SENSITIF DAN BILA DI SUNTIKAN PERLAHAN-LAHAN OBAT SEGERA DI ENCERKAN OLEH DARAH.

KERUGIANNYA A. EFEK TOKSIK MUDAH TERJADI KARENA KADAR OBAT YANG TINGGI SEGERA TERCAPAI DI DARAH DAN JARINGAN B. OBAT YANG DISUNTIKAN IV TIDAK DAPAT DI TARIK KEMBALI C. OBAT YANG LARUT DALAM MINYAK YANG MENGENDAPKAN KONSTITUEN-KONSTITUEN DARAH, DAN YANG MENYEBABKAN HEMOLISIS TIDAK BOLEH DI BERIKAN DENGAN CARA INI.

CARA INTRATEKAL, MNNTRA SPINAL, INTRA DURAL DISUNTIKAN KEDALAM SALURAN SUMSUM TULANG BELAKANG (ANTARA 3-4 ATAU 5-6 VERTEBRA LUMBALIS) YANG ADA CAIRAN CEREBROSPINAL ADALAH LAMABAT, MESKIPUN LARUTAN ANSTETIKA SUMSUM TULANG BELAKANG SERTING HIPERTONIS. LARUTAN HARUS BENARBENAR STERIL, BERSIH SEBAB JARINGAN SYARAF DI DAERAH ANTOMIS DISINI SANGAT PEKA. SUNTIKAN INTRA TEKAL YAKNI SUNTIKAN LANGSUNG KEDALAM RUANG SUBARACHNOID SPINAL DILAKUKAN BILA DI INGINKAN EFEK OBAT YANG CEPAT DAN SETEMPAT PADA SELAPUT OTAK ATAU SUMBU CEBROSPINAL, SEPERTI PADA ANASTESI SPINAL ATAU INFEKSI SSP YANG AKUT

CARA INTRA PERITONEAL (IP) DISUNTIKAN LANGSUNG KEDALAM RONGGA PERUT, PENYERAPAN CEPAT BAHAYA INFEKSI BESAR DAN JARANG DIPAKAI, TIDAK DILAKUKAN PADA MANUSIA KARENA BAHAYA INFEKSI DAN ADHESI TERLALU BESAR. CARA PERDURAL, EXTRA DURAL, EPIDURAL DISUNTIKAN KEDALAM RUANG EPIDURAL TERLETAK DIATAS DURAMATER, LAPISAN PENUTUP TERLUAR DARI OTAK DAN SUMSUM TULANG BELAKANG. CARA INTRASISTERNAL (IS) DISUNTIKAN KEDALAM SALURAN SUMSUM TULANG BELAKANG PADA DASAR OTAK. CARA INTRA KARDIAL (I. KAD) DISUNTIKAN LANGSUNG KEDALAM JANTUNG

PEMBERIAN MELALUI PARU-PARU (INHALASI) - CARA INI HANYA DAPAT DILAKUKAN UNTUK OBAT YANG BERBENTUK GAS ATAU CAIRAN YANG MUDAH MENGUAP MISALNYA: ANESTETIK UMUM, DAN UNTUK OBATOBAT LAIN YANG DAPAT DIBERIKAN DALAM BENTUK AEROSOL - ABSORBSI TERJADI MELALUI EPITEL PARU DAN MUCOSA SALURAN NAFAS KEUNTUNGANNYA - ABSORBSI TERJADI DENGAN CEPAT KARENA PERMUKAAN ABSORSINYA LUAS TERHINDAR DARI ELIMINASI LINTAS PERTAMA DIHATI - PADA PENYAKIT PARU-PARU MISALNYA ASTMA BRONCHIAL OBAT DAPAT DIBERIKAN LANGSUNG PADA BRONCHUS

KERUGIANNYA - DIPERLUKAN ALAT DAN METODA KHUSUS YANG AGAK SULIT DIKERJAKAN - SUKAR MENGATUR DOSIS - OBATNYA SERING MENGIRITASI EPITEL PARU PEMBERIAN TOPIKAL - JUMLAH OBAT YANG DISERAP TERGANTUNG DARI LUAS PERMUKAAN KULIT YANG TERPAPAR SERTA KELARUTAN OBAT DALAM LEMAK - OBAT YANG BANYAK DIGUNAKAN UNTUK PENYAKIT KULIT SEBAGAI SALEP KULIT ADALAH : ANTIBIOTIK, KORTIKOSTERIOD, ANTIHISTAMIN, DAN FUNGISID, TETAPI BEBERAPA OBAT SISTEMIK DIBUAT JUGA SEBAGAI SEDIAAN TOPIKAL MISALNYA : NITROGLIS SERIN DAN SKOPOLAMIN PEMBERIAN TOPIKAL PADA MATA CARA INI DI MAKSUDKAN UNTUK EFEK LOKAL PADA MATA.

TERIMA KASIH