Anda di halaman 1dari 13

Jambu Monyet Kaya Manfaat

REP | 23 August 2011 | 11:00 Dibaca: 5553 Komentar: 1 Nihil

Jambu Monyet (Anacardium Occidentale) atau biasa kita sebut dengan Jambu Mete/Mede merupakan tanaman buah yang umumnya dimanfaatkan buahnya untuk diolah menjadi bahan makanan ringan yang unik dan bercita rasa tinggi. Ya, jambu monyet merupakan sumber panganan terkenal di Indonesia, yaitu kacang mete/mede. Tanaman asal Brazil ini, memiliki buah yang tergolong unik. Buah Jambu Monyet merupakan tangkai buah yang mengalami penggelembungan dan menjadi buah semu yang lunak. Teksturnya seperti buah peer dengan warna kuning dan sedikit noda kemerahan. Rasanya manis sepat dan berair juga berserat. Biji bulat panjang, melengkung pipih dan berwarna coklat tua. Biji inilah yang sering disebut kacang mete. Selain bijinya, kayu pohon Jambu Monyet juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, peralatan rumah tangga dan kerajinan tangan. Daun mudanya dapat dijadikan lalapan (baik mentah maupun dikukus terlebih dahulu). Buah semu nya juga dapat langsung dimakan sebagai bahan rujak atau minuman. Kulit bijinya juga dapat diolah menjadi bahan pelumas, insektisida, pernis, dan plastik. Namun, kita harus berhati-hati dengan cairan kulit bijinya, karena mengandung Cashew Nut Shell Liquid (CNSL), dimana kulit kita akan mengalamai pembengkakan serta peradangan bila terkena getah kulit bijinya tersebut. Selain kegunaan diatas, tanaman jambu monyet juga memiliki khasiat yang menyehatkan. Daunnya yang berbau aromatik, rasaya kelat, memiliki khasiat anti radang dan penurunan kadar glukosa darah. Tangkai daunny berfungsi sebagai pengelat. Bijinya berkhasiat sebagai pelembut kulit dan penghilang rasa nyeri (analgesik).Akarnya bermanfaat sebagai pencahar (laksatif). Kulit kayunya

berbau tanah, rasanya kelat dana lama kelamaan menimbulkan rasa tebal di lidah. Khasiatnya sebagai pencahar, astringen dan memacu aktivitas enzim pencernaan. Penyakit-penyakit yang dapat diobati dengan Jambu Mete antara lain: Sembelit (Kulit kayu), Kencing Manis (kulit kayu), Radang Tenggorokan (daging buah jambu monyet), Sariawan (Daun muda), Rematik/Tekanan darah tinggi (Daun jambu), Digigit ular berbisa (1 buah jambu mede utuh), Sakit gigi (biji mede). Demikian segudang manfaat Jambu Monyet. Semoga dapat menambah referensi anda. http://margarethacyntia.blogspot.com/ T.ia
=======================================

Pemanfaatan Limbah Jambu Mete


Posted on Desember 31, 2008 | 9 Komentar

Tanaman jambu mete ( Anacardium occidentale. L) merupakantanaman perkebunan yang sedang berkembang di Indonesia dan cukup menarik perhatian, hal ini karena pertama , tanaman jambu mete dapat ditanam di lahan kritis sehingga persaingan lahan dengan komoditas lain menjadi kecil dan dapat juga berfungsi tanaman konservasi, kedua tanaman jambu mete merupakan komoditas ekspor, sehingga pasar cukup luas dan tidak terbatas pada pasar domestik, ketiga usaha tani, perdagangn dan agroindustri mete melibatkan banyak tenaga kerja. Pengembangan tanaman jambu mete di Indonesia di mulai sekitar tahun 1975 melalui proyek kehutanan yang saat itu ditujukan terutama untuk melindungi lahan kritis, dikembangan tanaman seluas 58.000 ha, tahun 1984 menjadi 196.000 ha. Tahun 2005 aereal tanaman mente di Indonesia 547.000 ha, yang tersebar di 21 provinsi, Sulawesi Tenggara 138.830 ha, Nusa Tenggara Timur 126.828 ha, Sulawesi Selatan 70.467 ha, Jawa Timur 57.794 ha, Nusa Tenaggara Barat 46.196 ha, dan Jawa Tengah 30.815 ha. Di Jawa Tengah luas areal tanaman jambu mete kurang lebih 30.821 ha yang tersebar dibeberapa kabupaten antara lain Wonogiri 17.500 ha, Sragen 1.852 ha, Karanganyar 1.720 ha, Blora 1.869 ha , Purworejo 1.364, Sukoharjo 1.214 ha, Jepara 1.542 dan lainnya tersebar kabupatn Semarang, Batang , Grobogan, Rembang, Boyolali, Pemalang, Kebumen.

Sebagai hasil/ produksi utama tanaman mete adalah gelondongmente, hasil samping buah semu mente yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri rumah tangga yang sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Di Indonesia pemanfaatan buah semu jambu mete masih sangat terbatas baik dalam jumlah maupun bentuk produksinya. Pada beberapa daerah tertentu umumnya dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan produk olahan tradisional. Diperkirakan, dari produksi buah jambu mete hanya sekitar 20 % yang sudah dimanfaatkan secara tradisional , misal dibuat rujak, dibuat abon dan sebagainya sedangkan sisanya 80 % masih terbuang sebagai limbah. Ditinjau dari segi nilai gizi dan komposisi kimianya, buah semu jambu mete merupakan salah satu sumber vitamin dan mineral. Kadar vitamin C nya cukup tinggi, yaitu ( 147 372 mgr/ 100 gr ) kira kira 5 kali vitamin C buah jeruk. Selain itu juga mengandung cukup vitamin B1, B2 dan niasin. Kandungan mineralnya terutama unsur P terdapat dalam jumlah yang cukup., juga buahnya mengadung karbohidrat yang sebagian besar terdiri dari gula reduksi ( 6,7 10,6 % ) dan pektin serta bersifat Juicy karena banyak mengandung air. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa buah semu jambu mete mempunyai potensi ekonomi yang cukup tinggi, sehingga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman seperti sari buah, selai, jelly, sirop,cuka , manisan dan dapat dibuat sebgai lauk pauk abon. Teknologi pengolahan untuk membuat produk olahan dari buah semu jambu mete sebenarnya telah tersedia, namun teknologi ini belum dimanfaatkan. Pengolahan buah jambu mete akan memberikan nilai tambah dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani beserta keluarganya.

Hampir semua bagian dari tanaman jambu mete dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Hasil utama tanaman jambu mete adalah buahnya. Buah mete terdiri dari buah sejati (biji/gelondong mete) dan buah semu. Produk utama yang diambil dari tanaman jambu mete adalah bijinya (kacang mete), sedangkan buah semu jambu mete sering dianggap sebagai produk ikutan. Bahkan bagi sebagian besar petani buah semu seringkali dibuang begitu saja dan dianggap sebagai limbah jambu mete. Walaupun demikian, buah semu jambu mete juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam bahan makanan, misalnya untuk membuat jam, jelly, sirup, sari buah, serta minuman.

A.Perlakuan Pasca Panen Untuk mendapatkan hasil panen berupa biji mete dan buah semu jambu mete dengan kualitas baik, kegiatan pemanenan perlu diatur sedemikian rupa sehingga kepentingan keduanya terpenuhi. Kualitas buah mete sangat dipengaruhi oleh tingkat kemasakan buah. Jika buah mete yang memiliki kemasakan optimal (masak petik), maka biji metenya juga memiliki kualitas baik pula. Oleh karena itu, pemetikan buah mete sangat dianjurkan pada sat buah tersebut hampir jatuh atau gugur. Pada saat buah mete hampir jatuh atau gugur, biji mete telah tumbuh dan mencapai kemasakan sepenuhnya (Cahyono, 2001). Pemetikan buah mete ini tidak dapat dilakukan sekaligus karena buah mete tidak masak bersamaan. Pemetikan dapat dilakukan setiap 3 5 hari selama 2 -3 bulan, tergantung pada banyaknya buah. Pemetikan diutamakan pada buah-buah yang sudah masak. Buah-buah mete yang sudah mencapai derajat kemasakan optimal. Adapun tanda tanda buah jambu mete siap petik, adalah sebagai berikut : warna buah tua optimal dan merata, cerah, serta mengkilat, menebarkan aroma harum, warna kulit biji putih keabua-abuan dan mengkilat. Panen buah jambu mete dapat dipanen setelah berumur 60 - 70 hari hari sejak bunga mekar. Masa panen berlangsung selama empat bulan, yaitu pada bula Nopember - Februari tahun berikutnya. B. Biji Mete

Hasil Utama tanaman jambu mete adalah buahnya. Buah mete terdiri dari atas buah sejati ( biji glondong) dan buah semu. Produk utama yang diambil dari tamanan jambu mete adalah bijinya (kacang mete) untuk memperoleh kacang mete dengan pengacipan (pengupasan kulit biji mete), dapat dilakukan secara manual dan semi mekanis. Kacang mete ini yang biasa digunakan untuk campuran berbagai macam hidangan atau makanan karena rasanya gurih dan enak. Dalam proses pengacipan biji glondong mete ini disamping menghasilkan kacang mete dan menghasilkan kulit mete ( limbah kulit mate).

Limbah kulit biji mete juga dapat diolah menjadi minyak CNSL ( cashew nut shell liquid ) mempunyai nilai ekonomi tinggi, dapat digunakan sebagai bahan industri secara luas seperti minyak rem, industri cat, pernis danlain lain. C. Buah Semu Buah semu mete secara keseluruhan terdiri atas daging buah yang lunak dan mengadung air dalam jumlah yang relatif banyak. Buah semu jambu mete sebenarna merupakan tangkai yang mengembung. Permasalahanatau kendala yang sering muncul dalam proses pengolahan jambu mete disebabkab oleh 3 jenis unsur pengganggu : 1. Senyawa tanin , senyawa ini yang menyebabkankan rasa sepat hingga pahit pada buah jambu mete. Pada saat buah masih muda konsentrasi

tanin sangat tinggi (maksimal) , namun makin tua akan makin berkurang dan pada saat matang (di pohon) konsentrasi tanin minimal. 2. Senyawa asam anakardat, senyawa asam anakardat merupakan senyawayang sering menyebabkan rasa gatat-gatal ditenggorokan dan merangsang batuk. 3. Senyawa polifenolat , senyawa polifenolat merupakan senyawa yang menyebabkan cairan hasil perasan buah jambu mete berwarna kebiruan. Oleh karena itu, sebelum buah jambu mete diolah lebih lanjutmenjadi berbagai makanan dan minuman, ketiga unsur pengganggu tersebut yaitu mengadung tanin penyebab rasa sepat, senyawa anakardat yang mengakibatkan rasa gatal di tenggorokan, dan senyawa polifenolat harus dinetralkan terlebih dahulu. Untuk menetralkan ketiga unsur-unsur tersebut, dengan beberapa perlakuan yaitu dengan perendaman memakai garam dapur 2 % selama 24 jam dan dengan jalan dikukus selama 20 menit, kemudian diolah lebih lanjut sesuai dengan keperluannya.

Pengolahan atau penanganan buah semu jambu mete dimaksudkan untuk menghindari kerusakan yang sekecil mungkin, mengingat buah semu jambu mete sangat mudah mengalami kerusakan, cepet menjadi lewat masak dan membusuk. Pada kondisi suhu kamar, buah semu jambu mete umumnya hanya dapat disimpan maksimal 2 hari, supaya buah tersebut awet/ tahan lama perlu diolah secara komersial menjadi sirup,abon, sari buah, jelly dan lain-lain.

Kandungan gizi buah semu

Daun jambu mete telah digunakan secara tradisional untuk pengobatan diare, luka bakar, penyakit kulit, dan diabetes melitus. Penelitian mengenai kandungan kimia daun jambu mete masih terbatas dan belum banyak dipublikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi salah satu kandungan kimia daun jambu mete dalam ekstrak n-heksana. Serbuk simplisia dari daun jambu mete diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut n-heksana. Ekstrak n-heksana difraksinasi dengan kromatografi cair vakum dan kromatografi kolom. Pemurnian dilakukan dengan menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif. Karakterisasi isolat dilakukan dengan penampak bercak spesifik, spektrofotometri ultravioletsinar tampak dan inframerah. Simplisia daun jambu mete mengandung senyawa golongan flavonoid, tanin, kuinon, dan steroid/triterpenoid. Dari ekstrak n-heksana diperoleh isolat yang menghasilkan bercak berwarna merah-ungu setelah disemprot penampak bercak Liebermann Burchard. Isolat diduga merupakan suatu senyawa triterpenoid yang memiliki gugus OH, -CH alifatik, dan -C=O.

Proses Pengolahan Limbah Jambu Mete, Kakao Dan Kopi Untuk Pakan Penguat Ransum Ternak
infotekno
Oleh Administrator Kamis, 05 Juli 2012 08:05

Tanaman jambu mete, kakao dan kopi di samping menghasilkan produk utama berupa kacang atau biji, juga menghasilkan produk sampingan limbah berupa buah semu mete, cangkang kakao dan kulit buah kopi. Dipandang dari aspek pakan ternak, produk limbah memiliki potensi untuk diolah sebagai bahan pakan penguat (konsentrat) yang dapat dimanfaatkan untuk mengganti dedak sebagai komponen penting dalam ransum ternak, baik ternak ruminansia (sapi, kambing, kerbau) maupun ternak monogastrik (unggas seperti ayam, itik).

Nilai potensi limbah tersebut cukup besar, yaitu pada jambu mete limbahnya berupa buah semu mencapai 91% dari total berat buah basah, pada kakao limbahnya berupa cangkang mencapai 73% dari total berat buah buah basah, dan pada kopi limbah kulitnya mencapai 48% dari total berat buah basah. Akan tetapi limbah-limbah tersebut memiliki beberapa kelemahan antara lain : (1) kandungan gizi terutama proteinnya relatif rendah, (2) mengandung senyawasenayawa yang dapat menghambat petumbuhan seperti theobromin pada kakao dan asam anarcadat pada buah semu mete, (3) kandungan serat kasar yang tinggi, dan (4) kandungan air yang tinggi sehingga mudah rusak membusuk. Sehingga untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut dan meningkatkan mutu gizi serta daya simpannya, maka limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu sebelum dipergunakan sebagai pakan ternak. Proses pengolahan meliputi pencacahan, fermentasi, pengeringan, penggilingan dan pengemasan. Adapun proses pengolahan yang terpenting adalah fermentasi, dimana melalui proses fermentasi mutu limbah tersebut dapat ditingkatkan, sehingga kandungan gizinya bisa hampir sama, atau bahkan melebihi kandungan gizi dedak padi. Dalam kasus limbah jambu mete, dengan proses fermentasi dapat meningkatkan kadar protein buah semu jambu mete dari 9,15% menjadi 20,80% (dari bahan kering), sedangkan kandungan serat kasarnya menurun dari 14,48% menjadi 8,56%. Dengan proses pengolahan, diharapkan adanya senyawa-senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan ternak dapat dihilangkan atau ditekan, begitupun masa penyimpanannya dapat diperpanjang, sehingga dapat tersedia sepanjang tahun diluar musim panen. 1. Pencacahan Tujuan pencacahan adalah memperkecil bentuk limbah, sehingga lebih mudah untuk difermentasi. Oleh karena itu pencacahan perlu dilakukan pada limbah jambu mete dan kakao, mengingat kedua jenis limbah ini bentuknya terlalu besar, sehingga akan sulit untuk difermentasi. Pencacahan dapat dilakukan secara manual dengan pisau atau golok, tetapi agar lebih efisien pencacahan sebaiknya dilakukan dengan alat mesin pencacah. Dimana setelah pencacahan limbah jambu mete dan kakao, akan berbentuk serpihan-serpihan berukuran 25 cm. Sebaiknya proses pencacahan dilakukan segera setelah buah dipanen, agar limbah masih dalam kondisi segar. 2. Fermentasi. Proses fermentasi dilakukan untuk meningkatkan mutu gizi limbah serta menekan kadar senyawa-senyawa yang dapat menghambat pencernaan. Fermentasi dapat dilakukan dengan beberapa jenis mikroba, diantaranya yang efektif adalah Aspergillus niger. Sebelum digunakan, Aspergillus niger dilarutkan dengan air yang steril tanpa kaporit. Seperti air mata air atau air sumur yang bersih, bisa menggunakan air hujan atau air sungai, tapi harus dimasak lebih dahulu untuk membunuh mikroba yang ada, kemudian didinginkan. 1. 2. 3. Kedalam 10 liter air larutkan 100 g gula pasir, 100 g urea dan 50 g NPK. Selanjutnya tambahkan 100 ml Aspergillus niger, lakukan pengadukan. Larutan diaerasi selama 2436 jam, setelah itu larutan Aspergillus niger dapat dipergunakan.

Proses fermentasi bisa dilakukan dalam kotak, atau di atas anyaman bambu/parapara atau di atas lantai yang dilapisi dengan kayu/bambu, yang penting tempatnya harus teduh beratap agar bahan tidak terkena hujan atau sinar matahari. Bahan limbah yang telah siap difermentasi ditaburkan pada permukaan media setebal 5 10 cm, selanjutnya disiram dengan larutan Aspergillus niger secara merata. Penyiraman bisa dilakukan dengan tangan, tetapi lebih baik dengan gembor atau sprayer agar lebih merata. Diatas tumpukan bahan yang telah tersiram larutan Aspergillus niger ditaburkan lagi limbah setebal 510 cm, selanjutnya disirami larutan Aspergillus niger secara merata. Demikian seterusnya, sehingga bahan habis tertumpuk dan tersiram cairan Aspergillus niger. Selanjutnya diatas tumpukan limbah ditutup dengan goni atau plastik yang bersih secara rapat agar terlindung dari mikroba lain, dan dibiarkan hingga 45 hari. Setelah umur 4- 5 hari, baru dibongkar, selanjutnya dikeringkan. 3. Pengeringan. Pengeringan bisa dilakukan dengan sinar matahari atau dengan alat dryer, dengan tujuan untuk menghentikan proses fermentasi, disamping itu pengeringan juga untuk mempermudah proses penggilingan serta memperpanjang daya simpan, karena kadar air akan turun hingga 1214%. Limbah olahan yang telah kering, akan ditandai dengan tekstur yang keras dan warna yang kehitam-hitaman. 4. Penggilingan. Penggilingan dimaksudkan agar limbah bentuknya lembut seperti tepung sehingga ternak mudah memakan dan mencernanya. Disamping itu, penepungan akan memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan pencampuran pada saat diberikan pada ternak. Penggilingan secara efisien bisa dilakukan dengan menggunakan alat mesin penggiling. Dalam proses penggilingan ukuran serbuk bisa diatur. Untuk pakan ternak ruminansia, ukurannya bisa agak kasar, sedangkan untuk babi atau ayam sebaiknya bentuknya lebih lembut. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan saringan dengan ukuran lubang yang berbeda. 5. Pengemasan Tepung konsentrat bisa langsung diberikan pada ternak, bisa pula disimpan dalam waktu yang cukup lama yaitu 610 bulan. Agar bahan tidak cepat rusak dan mutunya dapat dipertahankan dalam penyimpanan tepung limbah perlu dilakukan pengemasan dengan wadah plastik atau goni, dan diikat atau dijahit agar tidak kemasukan serangga atau mikroorganisme perusak, serta disimpan ditempat yang kering dan teduh.

Tepung konsentrat limbah jambu mete, kakao dan kopi bisa diberikan sejak ternak masih kecil, fase pertumbuhan, hingga fase reproduksi. Untuk ternak ruminansia pada saat masa menyusui atau prasapih pakan diberikan melalui induknya. Selanjutnya, pemberian pakan bisa dilakukan secara berangsur-angsur sesuai dengan bertambahnya umur. Ternak sapi atau kambing muda dapat dibiasakan mengonsumsi konsentrat hingga tiba masa pascasapih. Selanjutnya, konsentratbisadiberikan langsung pada ternak yang telah melewati masa pascasapih tersebut. Sementara itu, pada ternak monogastrik tepung konsentrat bisa diberikan secara langsung sejak fase starter hingga fase reproduksi (bertelur). Dalam penggunaan untuk ternak ruminansia, tepung konsentrat merupakan pakan penguat, hijauan tetap diberikan, sedangkan pakan penguat sebagai pakan tambahan untuk mempercepat pertumbuhan atau meningkatkan produksi susu.

Tepung konsentrat bisa dijadikan pengganti dedak, dengan dosis pemberian 0,7 1,2% dari berat hidup ternak. Pada awal pemberian, sebagian ternak tidak segera mengonsumsi konsentrat limbah jambu mete, kakao dan kopi dengan lahap. Ternak memerlukan waktu untuk beradaptasi untuk mengkonsumsinya, oleh karena itu agar ternak lebih berselera mengkonsumsi pakan pada tahap awal, tambahkan sedikit garam, gula merah, atau tetes tebu ke dalam tepung konsentrat untuk merangsang nafsu makan. Adapun pada ternak monogastrik, tepung konsentrat bisa dijadikan komponen penyusun ransum sebagai pengganti dedak, untuk tepung konsentrat limbah jambu mete dan kakao, dosis penggunaannya bisa mencapai 20 22%, sedangkan untuk tepung konsentrat limbah kopi dosis penggunaannya mencapai 10 15% dari berat ransum (Juniaty Towaha/ juniaty_tmunir@yahoo.com )

Pemanfaatan tanaman jambu mete


Buah jambu mete (untuk selanjutnya disebut jambu mete) umumnya hanya menjadi limbah, karena orang lebih banyak mengurus biji-biji mete yang pada dasarnya memang memiliki nilai ekonomis tinggi. Selama ini, buah semu jambu mete kurang dimanfaatkan, sedangkan sebaliknya bijinya semakin dikembangkan pemanfaatannya. Volume limbah buah semu jambu mete pun semakin meningkat.Padahal sebenarnya jambu mete yang memiliki unsur gizi dan kalori cukup tinggi, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi, seperti manisan kering jambu mete.

PENGOLAHAN MANISAN KERING Bahan: Larutan garam dapur K-metabisulfit Sirup gula Asama sitrat Natrium benzoat Cara Pembuatan: 1. 2. 3. 4. Dipilih buah mete yang telah tua, masak, dan tidak cacat Buah mete dicuci bersih dan pangkal buah dibuang. untuk mendapatkan manisan yang baik adalah sebaiknya dipililh buah jambu mete yang masih utuh Setelah dicuci buah mete lalu direndam dalam larutan garam dapur dan ditambahkan K-metabisulfit; Buah jambu mete dicuci kembali dengan air panas untuk menghilangkan sisa garam lalu di blanching (dicelupkan dalam air mendidih) dengan di blanching warna buah lebih awet dan tidak menjadi hitam

5. 6. 7. 8.

Campurkan sirup gula dan asam sitrat (sebelumnya didihkan) dituangkan ke dalam wadah buah dan direndam Setelah proses perendaman selesai cairan gula dipisahkan dari buah lalu lakukan perendaman kedua Untuk mengantisipasi serangan jamur yang hanya tahan 1 minggu perlu penambahan pengawet seperti natrium benzoat atau asam sitrat Tahap terakhir dikeringkan dengan sinar matahari atau pengering buatan. Setelah kering manisan siap dipasarkan.

dikutip : http://www.kadin-indonesia.or.id/enm/images/dokumen/KADIN-104-1608-13032007.pdf

Manfaat Tanaman Jambu Mete


Tanaman jambu mete merupakan komoditi ekspor yang banyak manfaatnya, mulai dari akar, batang, daun, dan buahnya. Selain itu juga biji mete (kacang mete) dapat digoreng untuk makanan bergizi tinggi. Buah mete semu dapat diolah menjadi beberapa bentuk olahan seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan, dan jem jambu mete. Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat. Apabila terkena udara, cairan tersebut berubah menjadi hitam. Cairan ini dapat digunakan untuk bahan tinta, bahan pencelup, atau bahan pewarna. Selain itu, kulit batang pohon jambu mete juga berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Batang pohon mete menghasilkan gum atau blendok untuk bahan perekat buku. Selain daya rekatnya baik, gum juga berfungsi sebagai anti gengat yang sering menggerogoti buku. Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut. Daun Jambu mete yang masih muda dimanfaatkan sebagai lalap, terutama di daerah Jawa Barat. Daun yang tua dapat digunakan untuk obat luka bakar.