Anda di halaman 1dari 8

DEVIASI SEPTUM NASAL / PERGESERAN DINDING HIDUNG

Sumber : RSUP SANGLAH Septum hidung merupakan bagian dari hidung yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Septum nasi berfungsi sebagai penopang batang hidung (dorsum nasi). Deviasi septum adalah kelainan tulang sekat tidak lurus sempurna digaris tengah. Penyebab deviasi septum nasal 1. Trauma masa kehamilan 2. Ketidakseimbangan pertumbuhan

Trauma masa kehamilan berlangsung saat masa kehamilan ataupun setelah melahirkan. Pertumbuhan yang tidak seimbang dapat membuat tulang sekat hidung (septum) tumbuh dengan tidak sempurna seperti bengkok, sebab pertumbungan tulang hidung tidak sesuai dengan bentuk hidung sehingga penyebabkan kesulitan bernafas.

Faktor Risiko Deviasi Septum Nasal 1. Infeksi selama kehamilan 2. Trauma semasa hamil 3. Melahirkan bayi dengan berat badan besar 4. Pekerjaan dengan resiko trauma muka 5. Orang-orang dengan gangguan pertumbuhan

Dalam masa kehamilan rentan bagi seorang wanita terkena infeksi dan trauma, yang mengakibatkan risiko septum nasal. Bayi dengan berat badan yang besar menjadi susah untuk dilahirkan secara normal, jika dipaksakan melahirkan bayi seperti itu resiko deviasi septum nasal dapat terjadi karena hidung sang bayi terhimpit. Pekerjaan dengan resiko trauma muka, maksudnya pekerjaan dengan resiko mudah cidera pada muka seperti terpentok benda ke tulang sekat hidung. Seperti yang sudah dijelaskan pada penyebab deviasi septum nasal, seorang yang pertumbuhan tulang hidung tidak sesuai dengan bentuk hidung. Tanda dan Gejala Deviasi Septum Nasal 1. Hidung tersumbat 2. Rasa nyeri di kepala dan sekitar mata 3. Didapatkan hasil pemeriksaan sekat tulang hidung tidak lurus sempurna di tengah Hidung tersumbat sebagian atau seluruhnya, menjadi kesulitan bernafas. Biasnya tersumbat pada satu bagian karena tulang hidung yang membelok atau tidak lurus. Rasa nyeri di kepala dan sekitar mata karena deviasi septum dapat mengakibatkan sinus. Jika diraba tulang hidung tidak lurus dan setelah diperiksa dokter didapat ternyata benar tulang sekat hidung tidak lurus merupakan tanda adanya deviasi septum nasal pada hidung anda.

Pencegahan Dini Deviasi Septum Nasal 1. Nasoendoskopi 2. Foto polos sinus paranasal 3. CT Scan Penanganan Deviasi Septum Nasal 1. Menghilangkan keluhan dan mencegah komplikasi 2. Operasi pelurusan tulang sekat hidung 3. Terapi Tujuan utama dari pengobatan adalah mengurangi dan menghilangkan keluhan serta mencegah komplikasi lebih lanjut. Bila keluhan berat, diperlukan operasi pelurusan sekat tulang

hidung agar nantinya hidung dapat berfungsi dengan normal sehingga oksigen bersirkulasi dengan baik. Terapi diberikan untuk mengatasi infeksi dan komplikasi yang ada dan mencegah komplikasi. Komplikasi Deviasi Septum Nasal 1. Sinusitis 2. Infeksi telinga 3. Sumbatan jalan nafas Deviasi septum nasal dapat mengakibatkan adanya penyumbat ostium sinus sehingga menyebabkan sinusitis. Karena hidup mempunyai saluran yang berhubungan dengan telinga, maka resiko infeksi telinga dapat terjadi. Karena sekat tulang hidung yang tidak lurus, pembelokan sekat tulang hidup menutupi sebagian lubang hidung sehingga penderita deviasi septum nasal menjadi susah bernafas karena adanya sumbatan atau terhalang sekat tulang hidung. Prognosis Deviasi Septum Nasal Mengarah baik bila penanganan dilakukan pada waktu dan teknik yang tepat, tetapi bila terlambat dan sudah terjadi komplikasi maka prognosis mengarah menjadi buruk.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan Deviasi Septum Nasal 1. Mengetahui tanda dan gejala penyakit polip hidung 2. Segera membawa penderita ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapat penanganan yang tepat

Sebaiknya mengetahui tanda dan gejala , untuk mengetahui tanda kita dapat meraba atau cek ke dokter, jika sudah terkena deviasi septum nasal sebaiknya tidak menunda penanganan dokter, sebelum terlambat dan berlarut-larut.

REFERENSI Bailey BJ. Head and Neck Surgery Ontolaryngology, Third Edition, Lippincott Williams & Wilkins Philadelphia, 2001, 702 715 Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition, Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 854 855. Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL. Modul Faring & Laring. Jakarta, 2008, Edisi I Soepardi, e.a., DKK. (Penyunting), Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007, Edisi VI

Deviasi Septum Trauma hidung banyak terjadi akibat kecelakaan yang bersifat tumpul, sehingga beresiko mengakibatkan berbagai macam komplikasi misalnya infeksi, obstruksi hidung, jaringan parut dan fibrosis, deformitas sekunder, sinekia, hidung pelana, obstruksi duktus nasoolakrimalis, dan perforasi hidung. Berdasarkan waktu, trauma hidung terbagi atas trauma baru, dimana kalus belum terbentuk sempurna; dan trauma lama, bila kalus sudah mengeras. Berdasarkan hubungan dengan telinga luar, ada yang disebut trauma terbuka dan trauma tertutup. Arah trauma menentukan kerusakan yang terjadi, misalnya bila trauma datang dari lateral, akan terjadi fraktur tulang hidung ipsilateral jika ringan, sedangkan trauma yang berat akan menyebabkan deviasi septum nasi dan fraktur tulang hidung kontralateral. Septum hidung merupakan bagian dari hidung yang membatasi rongga hidung kanan dan kiri. Septum nasi berfungsi sebagai penopang batang hidung (dorsum nasi). Septum nasi dibagi atas dua daerah anatomi antara lain bagian anterior, yang tersusun dari tulang rawan quadrangularis; dan bagian posterior, yang tersusun dari lamina perpendikularis os ethmoidalis dan vomer. Dalam keadaan normal, septum nasi berada lurus di tengah tetapi pada orang dewasa biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di garis tengah. Deviasi septum dapat menyebabkan obstruksi hidung jika deviasi yang terjadi berat. Kecelakaan pada wajah merupakan faktor penyebab deviasi septum terbesar pada orang dewasa. Gejala yang paling sering timbul dari deviasi septum ialah kesulitan bernapas melalui hidung. Kesulitan bernapas biasanya pada satu hidung, kadang juga pada hidung yang berlawanan. Pada beberapa kasus, deviasi septum juga dapat mengakibatkan drainase sekret sinus terhambat sehingga dapat menyebabkan sinusitis. Pada kasus di bawah ini, deviasi septum yang terjadi akibat trauma tumpul dan gejala yang dialami pasien masih ringan sehingga pengobatan yang diberikan hanya berupa simptomatik.

Definisi Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi dari septum nasi dari letaknya yang berada di garis medial tubuh. Deviasi septum dibagi atas beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu: 1. Tipe I; benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara. 2. Tipe II; benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun masih belum menunjukkan gejala klinis yang bermakna. 3. Tipe III; deviasi pada konka media (area osteomeatal dan turbinasi tengah). 4. Tipe IV, S septum (posterior ke sisi lain, dan anterior ke sisi lainnya).

5. Tipe V; tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain masih normal. 6. Tipe VI; tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga menunjukkan rongga yang asimetri. 7. Tipe VII; kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.

Bentuk-bentuk dari deformitas hidung ialah deviasi, biasanya berbentuk C atau S; dislokasi, bagian bawah kartilago septum ke luar dari krista maksila dan masuk ke dalam rongga hidung; penonjolan tulang atau tulang rawan septum, bila memanjang dari depan ke belakang disebut krista, dan bila sangat runcing dan pipih disebut spina; sinekia, bila deviasi atau krista septum bertemu dan melekat dengan konka dihadapannya.

Etiologi Penyebab deviasi septum nasi antara lain trauma langsung, Birth Moulding Theory (posisi yang abnormal ketika dalam rahim), kelainan kongenital, trauma sesudah lahir, trauma waktu lahir, dan perbedaan pertumbuhan antara septum dan palatum. Faktor resiko deviasi septum lebih besar ketika persalinan. Setelah lahir, resiko terbesar ialah dari olahraga, misalnya olahraga kontak langsung (tinju, karate, judo) dan tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman ketika berkendara.

Diagnosis

Deviasi septum biasanya sudah dapat dilihat melalui inspeksi langsung pada batang hidungnya. Namun, diperlukan juga pemeriksaan radiologi untuk memastikan diagnosisnya. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior, dapat dilihat penonjolan septum ke arah deviasi jika terdapat deviasi berat, tapi pada deviasi ringan, hasil pemeriksaan bisa normal. Deviasi septum yang ringan tidak akan mengganggu, akan tetapi bila deviasi itu cukup berat, menyebabkan penyempitan pada satu sisi hidung. Dengan demikian, dapat mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan komplikasi.

Gejala yang sering timbul biasanya adalah sumbatan hidung yang unilateral atau juga bilateral. Keluhan lain ialah rasa nyeri di kepala dan di sekitar mata. Selain itu, penciuman juga bisa terganggu apabila terdapat deviasi pada bagian atas septum.

Penatalaksanaan Analgesik. Digunakan untuk mengurangi rasa sakit. Dekongestan, digunakan untuk mengurangi sekresi cairan hidung. Pembedahan. o Septoplasti. o SMR (Sub-Mucous Resection).

Komplikasi

Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor predisposisi terjadinya sinusitis. Selain itu, deviasi septum juga menyebabkan ruang hidung sempit, yang dapat membentuk polip.

DAFTAR PUSTAKA Balasubramanian, T. 2006. Deviated Nasal Septum. Accessed:http://drtbalu.com/dns.html. Anonim. 2006.http://www.obstructednose.com/nasal_treatment_deviated_septum.html. Novak, V .J. 1995. Pathogenesis and surgical treatment of neurovascular primary headaches. The italian journal of Neurological Sciens. Accessed: http://www.vjnovak.ch/images/novak1-1.jpg. Mangunkusumo, Endang. Nizar, N.W. 2006. Kelainan Septum. Dalam: Buku Ajar Ilmu TelingaHidung-Tenggorokan, hal.99. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Kartika, Henny.2007. Anatomi Hidung dan Sinus Paranasal. Accessed: http://hennykartika.wordpress. com/2007/12/29/anatomi-hidung-dan-sinus-paranasal. Chmielik, Lechosaw P. 2006. Nasal septum deviation and conductivity hearing loss in children. Borgis - New Medicine 3/2006, p. 82-86. accessed: http://www.newmedicine.pl/show.php?ktory=22.