Anda di halaman 1dari 26

BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Periode krisis dan periode stabilitas silih berganti mewarnai perekonomian.

Berbagai negara di dunia telah mencoba berbagai macam sistem moneter Internasional yang berlainan. Di abad dua puluh dimulai dengan sistem dengan sistem nilai tukar yang berdasarkan standar emas. Meskipun sistem ini mengalami krisis periodik semasa tahun-tahunan sesudah perang dunia 1, namun sistem ini kemudian berakhihr dengan adanya perang dunia 2, ketika banyak pemerintah beralih dari sistem nilai tukar emas dengan menganut sistem nilai tukar lainnya. Dalam sistem nilai tukar ada kalanya pemerintah mengintervensi atau ikut campur tangan dalam kegiatan sistem niali tukar di sebuah negara. Dengan adanya intervensi dari pemerintah terhadap sistem nilai tukar di suatu negara dapat berdampak baik terhadap ekonomi di negara tersebut atau sebaliknya. Maka pada bab ini akan di jelaskan lebih lanjut mengenai pengaruh intervensi pemerintah terhadap sistem nilai tukar. 1.2 Rumusan Masalah Apa itu sistem nilai tukar? Apa saja macam-macam sistem nilai tukar? Bagaimana pemerintah melakukan intervensi terhadap sistem nilai tukar?

BAB II Pembahasan Pengaruh Pemerintah Atas Nilai Tukar 2.1 Sistem Nilai Tukar Sistem nilai tukar dapat diklasifikasikan menurut seberapa jauh nilai tukar dikendalikan oleh pemerintah. Sistem nilai tukar biasanya masuk ke dalam salah satu kategori berikut: Tetap (Fixed) Mengambang Bebas (Freely Floating) Mengambang Terkendali (Managed Float) Terpatok (Pegged)

Masing-masing system nilai tukar tersebut akan dibahas berikut ini. 2.2 Sistem Nilai Tukar Tetap (Fixed) Dalam system nilai tukar tetap (fixed exchange rate system), nilai tukar dibuat konstan atau hanya dibiarkan berfluktuasi dalam batas-batas yang sangat sempit. Jika nilai tukar terlalu tajam, pemerintah dapat melakukan intervensi untuk

mempertahankannya dalam batas-batas yang dimaksud. Sebuah nilai tukar tetap akan bermanfaat bagi suatu negara untuk alasan berikut .Eksportir dan importir bisa terlibat dalam perdagangan internasional tanpa

kekhawatiran tentang pergerakan nilai tukar Mata uang yang terkait dengan nilai mata uang mereka. Setiap perusahaan yang menerima mata uang asing sebagai pembayaran akan terisolasi dari resiko mata uang yang dapat terdepresiasi dari waktu ke waktu . Selain itu, setiap perusahaan yang perlu mendapatkan mata uang asing dimasa depan akan terisolasi dari risiko apresiasi mata uang dari waktu ke waktu. Manfaat lain adalah bahwa perusahaan dapat terlibat dalam investasi asing langsung , tanpa memperhatikan tentang pergerakan nilai tukar mata uang itu . Mereka akan dapat mengkonversi mereka pendapatan mata uang asing ke dalam mata uang mereka tanpa
2

kekhawatiran bahwa asing mata uang mata uang pendapatan mereka mungkin melemah dari waktu ke waktu . Dengan demikian , manajemen MNC akan jauh lebih mudah . Selain itu, investor akan dapat menginvestasikan dana di luar negeri, tanpa kekhawatiran bahwa mata uang asing didenomisasi investasi mereka mungkin melemah dari waktu ke waktu. Sebuah negara dengan nilai tukar yang stabil dapat menarik lebih banyak dana sebagai investasi yang menyebabkan investor tidak perlu khawatir tentang melemahnya mata uang dari waktu ke waktu. Dana yang dibutuhkan di setiap negara untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Negara-negara yang menarik sejumlah besar arus modal biasanya memiliki suku bunga yang lebih rendah. Ini dapat merangsang kenaikan ekonomi mereka. Jika nilai tukar mulai bergerak terlalu banyak, pemerintah melakukan intervensi untuk mempertahankan itu dalam batas-batas. Dalam beberapa situasi, pemerintah akan mendevaluasi atau mengurangi nilai mata uangnya terhadap mata uang lainnya. Dalam situasi lain, akan merevaluasi atau meningkatkan nilai mata uangnya terhadap mata uang lainnya. Sebuah tindakan bank sentral untuk mendevaluasi mata uang dalam sistem nilai tukar tetap disebut sebagai devaluasi .Devaluasi istilah biasanya digunakan dalam konteks yang berbeda selain penyusutan. Devaluasi mengacu pada penyesuaian ke bawah nilai tukar oleh bank sentral. Sebaliknya, revaluasi kebalikannya yaitu penyesuaian kenaikan nilai tukar oleh pusat Bank. Metode yang digunakan oleh pemerintah untuk mengubah nilai mata uang dibahas kemudian dalam bab ini. Dalam system nilai tukar tetap, tugas manajerial dari sebuah MNC akan lebih mudah. Namun demikian, tetap ada resiko bahwa pemerintah akan mengubah nilai dari suatu valuta tertentu. Devaluasi valuta dapat meningkatkan ekspor suatu Negara, dan produktivitas serta lapangan kerja, karena devaluasi mendorong konsumen perusahaan luar negeri untuk membeli lebih banyak barang yang didenominasi dalam valuta yang didevaluasi. Revaluasi (peningkatan nilai) sutau valuta dapata meningkatkan

persaingan yang diterima perusahaan-perusahaan local dari perusahaan-perusahaan asing, karena valuta asing sekarang dapat dibeli dengan harga lebih murah. Revaluasi merupakan strategi yang dipakai oleh berbagai pemerintah untuk menahan laju inflasi,
3

karena dapat mencegah perusahaan-perusahaan local menaikkan harga produk mereka dalam tingkat yang signifikan. Tentu saja, tidak semua valuta dapat didevaluasi atau direvaluasi secara simultan. Jika dolar AS, misalnya didevaluasi terhadap valuta lain, ini mengimplikasikanbahwa valuta lain telah menguat terhadap dolar AS. 2.3 Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas (freely floating) Dalam system nialai tukar mengambang bebas (freely floating exchange rate system), nilai tukar valuta akan ditentukan oleh kekuatan pasar tanpa intervensi dari pemerintah. Nilai tukar mengambang bebas pada dasarnya secara terus-menerus menyesuaikan dalam menanggapi permintaan dan kondisi pasokan untuk mata uang itu. Dalam system ini, perusahaan-perusahaan multinasional perlu mencurahkan sumber daya yang substansial untuk mengukur dan mengelola risiko valuta asing. Keunggulan Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas. Salah satu keuntungan dari sistem nilai tukar mengambang bebas adalah bahwa sebuah negara lebih terisolasi dari inflasi negara-negara lain. Sebagai contoh: Diasumsikan ada dua Negara AS dan Inggris. Perdagangan antara kedua Negara ini cukup signifikan. Sekarang asumsikan bahwa sistem nilai tukar yang dipakai adalah sistem nilai tukar tetap. Jika AS mengalami laju inflasi yang jauh lebih tinggi dari pada Inggris, maka konsumen AS akan membeli banyak barang di Inggris dan konsumen Inggris akan mengurangi impor barang-barang AS (karena meningkatnya harga barang-barang AS). Reaksi ini akan menyebabkan menurunnya produksi di AS dan meningkatnya pengangguran. Hal ini juga bias menyebabkan naiknya laju inflasi di Inggris karena tajamnya peningkatan permintaan atas barang barang Inggris relative terhadap penawarannya. Jadi, inflasi yang tinggi di AS bias menciptakan laju inflasi di Inggris. Hubungan diatas tidak muncul pada lingkungan nilai tukar mengambang bebas. Sebagai konsekuensi dari tingginya inflasi di AS, meningkatnya permintaan AS atas barang-barang Inggris akan menimbulkan tekanan kenaikan nilai pound Inggris. Sebagai konsekuensi kedua dari tingginya inflasi di AS, menurunnya permintaan Inggris atas barang-barang AS akan mengimplikasikan menurunya penawaran pound Inggris (untuk ditukarkan dengan dolar)., yang juga akan memberikan tekanan kenaikan pada
4

nilai pound. Pound akan mengalami apresiasi akibat faktor-faktor pasar ini (sementara dalam sistem nilai tukar tetap, tidak dibiarkan berfluktuasi). Apresiasi ini akan membuat barang-barang Inggris menjadi lebih mahal bagi konsumen AS semahal barang-barang AS, walaupun produsen Inggris tidak menaikan harga mereka. Ini terjadi karena pound mengalami apresiasi, sehingga sekarang dibutuhkan jumlah dolar yang lebih banyak untuk membeli pound dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya. Di Inggris, harga actual barang-barang dalam dalam pound Inggris barangkali tidak berubah, meskipun harga-harganya di AS naik. Konsumen Inggris akan terus membeli barang-barang AS karena pound mereka dapat ditukarkan dengan lebih banyak dolar (akibat apresiasi pound terhadap dolar). Pembahasan diatas mengindikasikan bahwa inflasi AS akan memiliki dampak yang lebih besar atas inflasi di Negara-negara lain dalam sistem nilai tukar tetap dibandingkan sistem nilai tukar mengambang bebas. Masalah-masalah yang dialami setiap Negara kemungkinan besar tidak akan menular kenegara lain dalam lingkungan sistem nilai tukar mengambang bebas. Dalam contoh ini, karena pergerakan nilai tukar, Inggris terisolasi dari inflasi AS. Keunggulan lain dari sistem nilai tukar mengambang bebas adalah bahwa bank sentral tidak diwajibkan untuk mempertahankan nilai tukar dalam batas-batas tertentu. Karenanya, bank sentra dipaksa untuk menerapkan suatu kebijakan intervensi yang mungkin memiliki dampak yang tidak menguntungkan bagi ekonomi hanya untuk mengendalikan nilai tukar. Disamping itu pemerintah dapat kebijakan-kebijakan tertentu tanpa harus mengimplementasikan pengaruhnya atas

mengkhawatirkan

pergerakan nilai tukar. Terakhir, jika nilai tukar tidak dibiarkan untuk mengambang, para investor akan menginvestasikan dana di Negara-negara yang memiliki suku bunga paling tinggi. Hal ini akan mengharuskan pemerintah dari Negara-negara yang memiliki tingkat suku bunga rendah untuk membatasi pelarian dana keluar negeri. Jadi, akan muncul restriksi atas arus modal, dan efesiensi pasar modal akan menurun.

Kelemahan Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas. Dalam contoh yang sebelumnya, mengilustrasikan bahwa masalah sebuah Negara kadang-kadang dapat di perarah oleh nilai tukar mengambang bebas. Di sisi lain, pada contoh sebelumnya memperlihatkan bahwa lingkungan sistem nilai tukar tetap, masalah dari sebuah Negara bias menular ke Negara-negara lain. Sistem mana yang sebaliknya dipilih tergantung pada lingkungan politik, kondisi, tujuan dan kebijakan ekonomi dari sebuah Negara. 2.4 Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali Sistem nilai tukar sejumlah valuta yang ada sekarang berada di antara sistem nilai tukar tetap dan sistem nilai tukar mengambang bebas. Sistem tersebut menyerupai sistem mengambang bebas karena nilai tukar dibiarkan berfluktuasi setiap hari dan tidak ada batasan resmi. Tetapi, menyerupai sistem nilai tukar tetap dalam hal pemerintah dapat dan kadang-kadang melakukan intervensi untuk mencegah valuta mereka berfluktuasi terlalu tajam ke satu arah. Tipe sistem ini dikenal dengan sistem mengambang bebas terkendali (managing float), atau mengambang kotor (bedakan dengan mengambang bersih dimana nilai tukar mengambang bebas tanpa intervensi pemerintah). Beragam bentuk intervensi yang digunakan pemerintah untuk mengelola fluktuasi nilai tukar akan dibahas dalam bab ini. Kritik atas Sistem Mengambang Terkendali. Sejumlah pihak mengecam bahwa sistem mengambang terkendali memungkinkan pemerintah untuk memanipulasi nilai tukar agar menguntungkan negaranya sendiri dan merugikan Negara lain. Sebagai contoh, pemerintah mungkin berupaya memperlemah valutanya untuk merangsang ekonomi yang sedang stagnan. Meningkatnya permintaan agregat atas produk-produk dalam negeri yang diakibatkan oleh kebijakan semacam itu mungkin mencerminkan menurunya permintaan atas produk-produk dinegara lain, karena valuta yang melemah mempengaruhi permintaan luar negeri. Kritik ini juga berlaku bagi sistem nilai tukar tetap dimana pemerintah memiliki kemampuan untuk mendevaluasi untuk tujuan yang sama.

2.5 Sistem Nilai Tukar Terpatok Sejumlah Negara menggunakan sistem nilai tukar terpatok (pegged exchange rate), dimana valuta mereka dipatokkan (dikaitkan) ke valuta lain, atau ke unit perhitungan. Walaupun nilai valuta lokal tetap dalam hubungannya dengan valuta asing (atau unit perhitungan) yang menjadi patokan, valuta tersebut bergerak mengikuti valuta tersebut relative terhadap valuta-valuta lain. Salah satu sistem nilai tukar patok yang paling terkenal adalah sistem yang dibentuk oleh Masyarakat Ekonomi Eropa (EEC) pada bulan April 1972. Valuta dari Negara-negara anggota EEC dipatok satu sama lain dan dibiarkan berfluktuasi dalam batas-batas tertentu. Sistem seperti ini kemudian dikenal dengan nama sistem ular (snake). Tetapi, tekanan pasar kemudian membuat sejumlah valuta bergerak keluar dari batas-batas yang telah ditentukan. Konsekuensinya, sejumlah anggota menarik diri dari sistem ular tersebut; karena sulit mempertahankan, dan sejumlah valuta harus dipatok ulang. Akibat berlanjutnya masalah yang berhubungan dengan sistem ular, Sistem Moneter Eropa (EMS) kemudian dibentuk pada bulan Maret 1979. Konsep EMS serupa dengan sistem ular, tetapi karakteristik khususnya berbeda. Dalam sistem EMS, nilai tukar dari Negara-negara anggota dikaitkan ke European Currency Unit (ECU). ECU bukan merupakan valuta melainkan suatu unit perhitungan. ECU adalah rata-rata tertimbang dari kurs Negara anggota, dimana tiap timbangan ditentukan oleh pendapatan nasional bruto (PNB) relative masing-masing anggota dan aktivitasnya dalam perdagangan Intra-Eropa. Valuta dari Negara-negara anggota ini diperbolehkan berfluktuasi tidak lebih dari 2,25% (6% bagi sejumlah valuta) dari nilai per yang sebelumnya ditetapkan. Pada tahun 1993, batas-batas ini diperluas secara substansial untuk memungkinkan nilai tukar valuta-valuta Eropa berfluktuasi lebih leluasa. Metode pengaitan nilai valuta-valuta Erop ke ECU dikenal dengan nama Mekanisme Nilai Tukar (Exchange rate mechanism-ERM). Masing-masing pemerintah yang terlibat melakukan intervensi dalam pasar valas untuk mempertahankan nilai tukar dalam batas-batas yang ditentukan oleh ERM. Valuta-valutu Eropa yang lain dipatok ke ECU dan dengan demikian terikat ke valuta-valuta ERM dalam batas-batas yang

sempit. Namun, para pemerintah ini tidak berkewajiban untuk mempertahankan valuta mereka dalam batas-batas tertentu. Tiap valuta yang dikaitkan ke ECU mendapat apa yang dinamakan dengan nilai tukar pusat (central exchange rate-CER). Nilai tukar pusat didasarkan pada ECU. Dari kurs pusat ini, kurs pusat antara dua Negara manapun dapat ditentukan. Sebagai contoh, asumsikan bahwa kurs pusat dari franc Perancis dan mark Jerman berbasis ECU masing-masing adalah 6,90 dan 2,06. Dari informasi ini, kita dapat menentukan bahwa kurs pusat antara mark Jerman (DM) dengan franc Perancis (FF) adalah:

= = 3,35 Cara lain, kurs pusat mark per unit franc dapat ditentukan dengan membalik rasio diatas, yaitu 0,298. Jika nilai tukar antara mark dengan franc mendekati batas bawah atau batas atas, bank sentral dari kedua Negara akan terjun ke pasar untuk mempertahankan nilai tukar agar tidak keluar dari batas-batas yang dimaksud. Jika kedua bank sentral tidak dapat melakukannya, mereka bias mengubah patokan kurs pusat dari masing-masing valuta.

2.6 Klasifikasi Sistem Nilai Tukar

Gambar 6.1 mengklasifikasikan sistem nilai tukar yang digunakan oleh berbagai negara. Beberapa negara kecil mematok nilai valuta mereka ke Dolar AS. Dalam kaitannya dengan perdagangan internasional, nilai peso Meksiko dikendalikan oleh pemerintah, tetapi dibiarkan mengambang dalam hubungannnya dengan pariwisata. Kurs mengambang dipengaruhi oleh intervensi pemerintah. Pada bulan November 1987, bank sentral Meksiko menghentikan dukungannya terhadap peso, dan nilai peso menurun sekitar 25% terhadap dolar AS dalam satu hari. Begitu fluktuatifnya peso sehingga sejumlah bank menolak untuk menerima peso untuk ditukarkan dengan dolar. Dalam beberapa tahun terakhir, Meksiko berhasil mengurangi laju inflasi, dan telah mampu menstabilkan nilai peso.

Pemerintah dari negara-negara Amerika Latin yang lain juga berhasil mengurangi fluktuasi valuta mereka dalam beberapa tahun belakangan. Seiring dengan masuknya dana ke negara-negara Amerika Latin untuk diinvestasikan dalam obligasi pemerintah dan dalam perusahaan-perusahaan yang baru diswastanisasikan, muncul permintaan terhadap valuta negara-negara Amerika Latin, sehingga mampu mampu menutupi pelarian dana keluar dari negara-negara ini yang biasanya terjadi. Pemerintah Chile melakukan intervensi untuk mempertahankan nilai valutanya dalam kisaran +10% dari nlai yang sebelumnya ditetapkan (berbasis sejumlah valuta penting). Valuta Brazil dan Venezuela biasanya mengalami depresiasi setiap hari, tetapi dengan laju yang dikendalikan oleh pemerintah. Sejumlah negara Eropa Timur yang baru saja membuka pasar mereka juga telah mamatok valuta mereka ke salah satu valuta penting dalam perdagangan global. Cara ini kadang-kadang bersifat sementara karena negara-negara ini tengah mencari nilai tukar yang tepat, yang akan mampu menstabilkan dan memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Sebagai contoh, pemerintah Slovakia mendevaluasi valutanya (koruna) dalam upaya untuk meningkatkan permintaan asing atas produk-produk lokal dan mengurangi pengangguran. Sebuah Mata Uang Tunggal Eropa

Pada tahun 1991, Traktat Maastricht menyerukan pembentukan mata uang tunggal Eropa. Pada tanggal 1 Januari 1999, euro menggantikan mata uang nasional 11 negara Eropa untuk tujuan transaksi komersial yang dilakukan melalui transfer elektronik dan bentuk lain dari pembayaran. Tanggal 1 Juni 2002, ketika mata uang nasional harus ditarik dari sistem keuangan dan diganti dengan euro, sebuah negara kedua belas telah memenuhi syarat untuk euro. Keanggotaan

Kesepakatan untuk mengadopsi euro adalah peristiwa bersejarah. Negara-negara yang sebelumnya telah berperang satu sama lain beberapa kali di masa lalu kini bersedia untuk bekerja sama menuju tujuan bersama. Dari 27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa (UE), 13 negara berpartisipasi dalam euro: Austria, Belgia, Finlandia,
10

Perancis, Jerman, Yunani, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Portugal, Slovenia, dan Spanyol. Bersama-sama, negara-negara peserta yang terdiri dari hampir 20 persen dari produk domestik bruto dunia, yaitu proporsi yang sama dengan Amerika Serikat. Tiga negara yang menjadi anggota Uni Eropa pada tahun 1999 (Inggris, Denmark, dan Swedia) memutuskan untuk tidak mengadopsi euro pada saat itu. 10 negara di Eropa Timur (termasuk Republik Ceko dan Hungaria) yang bergabung dengan Uni Eropa pada tahun 2004 memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam euro jika mereka memenuhi tujuan ekonomi tertentu. Slovenia mengadopsi euro pada tahun 2007. Negara-negara yang berpartisipasi dalam Uni Eropa seharusnya mematuhi pakta stabilitas dan pertumbuhan sebelum mereka mengadopsi euro. Perjanjian ini mensyaratkan bahwa defisit anggaran negara kurang dari 3 persen dari produk domestik bruto. Namun, sering ada tuduhan bahwa beberapa negara Uni Eropa yang berpartisipasi dalam euro saat ini memiliki defisit anggaran yang melebihi batas yang diijinkan mereka. Dampak Terhadap Kebijakan Moneter Eropa

Euro memungkinkan untuk suplai uang tunggal di sebagian besar wilayah Eropa, daripada peredaran uang yang terpisah untuk setiap mata uang yang berpartisipasi. Dengan demikian, kebijakan moneter Eropa terkonsolidasi karena efek terhadap jumlah uang beredar akan berdampak pada semua negara Eropa yang menggunakan euro. Pelaksanaan kebijakan moneter umum dapat meningkatkan persatuan politik di antara negara-negara Eropa dengan pertahanan nasional dan kebijakan luar negeri yang sama. European Central Bank. European Central Bank (ECB) berbasis di Frankfurt dan bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan moneter untuk semua negara-negara Eropa yang berpartisipasi. Tujuannya adalah untuk mengendalikan inflasi di negaranegara yang berpartisipasi dan untuk menstabilkan (dalam batas-batas yang wajar) nilai euro terhadap mata uang utama lainnya. Dengan demikian, tujuan moneter ECB yaitu stabilitas harga dan stabilitas mata uang sama dengan masing-masing negara di seluruh dunia, tetapi berbeda karena mereka berfokus pada sekelompok negara bukan satu negara.
11

Implikasi Kebijakan Moneter Eropa. Meskipun kebijakan moneter tunggal Eropa memungkinkan untuk kondisi ekonomi yang lebih konsisten di seluruh negara, kebijakan tersebut juga mencegah masing-masing negara Eropa dalam pemecahan masalah ekonomi lokal dengan kebijakan moneter yang unik. Pemerintah Eropa mungkin tidak setuju pada kebijakan moneter yang ideal untuk meningkatkan perekonomian lokal mereka, tetapi mereka harus setuju pada kebijakan moneter tunggal Eropa. Setiap kebijakan yang diberikan digunakan dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan kondisi di beberapa negara dan mempengaruhi negara lain. Setiap negara peserta masih mampu menerapkan kebijakan fiskal sendiri (pajak dan keputusan pengeluaran pemerintah). Penggunaan mata uang bersama suatu hari nanti dapat menciptakan harmoni politik di antara negara-negara Eropa. Dampak Terhadap Bisnis di Eropa Euro memungkinkan warga negara peserta untuk terlibat dalam arus perdagangan lintas batas dan arus modal di seluruh wilayah yang disebut zona euro (negara peserta) tanpa mengubahnya ke mata uang yang berbeda. Penghapusan pergerakan mata uang antara negara-negara Eropa juga mendorong lebih banyak pengaturan bisnis jangka panjang antara perusahaan dari berbagai negara, karena mereka tidak lagi perlu khawatir tentang efek samping akibat pergerakan mata uang. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan di negara-negara Eropa yang berbeda semakin terlibat dalam semua jenis pengaturan bisnis termasuk lisensi, usaha patungan (joint ventures), dan akuisisi. Harga produk sekarang lebih sebanding antara negara-negara Eropa, seperti nilai tukar antara negara-negara adalah tetap. Dengan demikian, pembeli dapat lebih mudah menentukan di mana mereka dapat memperoleh produk dengan biaya terendah. Arus perdagangan antara negara-negara Eropa yang berpartisipasi telah meningkat karena eksportir dan importir dapat melakukan perdagangan tanpa kekhawatiran tentang pergerakan nilai tukar. Sampai-sampai ada arus perdagangan yang lebih besar antara negara-negara tersebut, kondisi ekonomi di masing-masing
12

negara akan memiliki dampak yang lebih besar pada negara-negara Eropa lainnya, dan ekonomi dari negara-negara tersebut dapat menjadi lebih terintegrasi. Dampak Terhadap Valuasi Bisnis di Eropa

Ketika perusahaan mempertimbangkan untuk memperoleh target di Eropa, mereka dapat lebih mudah membandingkan harga (nilai pasar) dari target antara negara-negara karena nilai-nilai mereka dalam mata uang yang sama (euro). Selain itu, pergerakan mata uang masa depan dari mata uang target terhadap mata uang non-Eropa akan sama. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan AS bisa lebih mudah melakukan valuasi perusahaan di negara-negara Eropa yang berpartisipasi karena ketika dana disetorkan ke perusahaan induk AS dari salah satu negara peserta, tingkat apresiasi atau depresiasi akan sama untuk jangka waktu tertentu dan tidak akan ada perbedaan dalam dampak nilai tukar. Perusahaan-perusahaan Eropa menghadapi tekanan lebih untuk melakukan aktivitasnya dengan baik karena mereka dapat diukur terhadap semua perusahaan lain dalam industri yang sama di seluruh negara peserta, bukan hanya di dalam negeri sendiri. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan ini lebih terfokus pada memenuhi berbagai tujuan kinerja. Dampak Terhadap Arus Keuangan

Sebuah mata uang tunggal Eropa memaksa suku bunga yang ditawarkan pada sekuritas pemerintah serupa di negara-negara Eropa yang berpartisipasi. Setiap perbedaan dalam tarif akan mendorong investor dalam negara-negara Eropa untuk berinvestasi di mata uang dengan tingkat tertinggi, yang akan meluruskan kembali suku bunga di antara negara-negara tersebut. Namun, angka tersebut masih bervariasi antara dua, sekuritas pemerintah dengan jatuh tempo yang sama jika mereka menunjukkan berbagai tingkat risiko kredit. Harga saham sekarang lebih sebanding antara negara-negara Eropa karena mereka dalam mata uang yang sama. Investor di negara-negara Eropa yang berpartisipasi sekarang dapat berinvestasi pada saham di negara-negara ini tanpa kekhawatiran
13

tentang risiko nilai tukar. Dengan demikian, ada lebih banyak investasi lintas batas daripada yang ada di masa lalu. Karena harga pasar saham dipengaruhi oleh ekspektasi kondisi ekonomi, harga saham antara negara-negara Eropa dapat lebih terkorelasi jika ekonomi di antara negara-negara ini lebih terkorelasi. Investor dari negara lain yang berinvestasi di negara-negara Eropa mungkin tidak mencapai banyak diversifikasi seperti di masa lalu karena integrasi dan karena efek nilai tukar akan sama untuk semua pasar yang sahamnya dalam mata uang euro. Bursa saham di negara-negara Eropa juga cenderung terkonsolidasi dari waktu ke waktu karena mereka menggunakan mata uang yang sama. Investor obligasi yang berbasis di negara-negara Eropa sekarang dapat berinvestasi pada obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah dan perusahaan di negaranegara ini tanpa kekhawatiran tentang risiko nilai tukar, selama obligasi dalam mata uang euro. Beberapa pemerintah Eropa telah menerbitkan obligasi yang

diredenominasi dalam euro karena pasar sekunder untuk beberapa obligasi yang diterbitkan di Eropa dengan mata uang lainnya kini kurang aktif. Yield obligasi di negara-negara Eropa yang berpartisipasi tidak selalu sama meskipun mereka sekarang dalam mata uang yang sama, risiko kredit mungkin masih lebih tinggi bagi emiten di negara tertentu. Dampak Terhadap Risiko Nilai Tukar

Salah satu keuntungan utama dari mata uang tunggal Eropa adalah penghapusan risiko nilai tukar antara negara-negara Eropa yang berpartisipasi, yang dapat mendorong lebih banyak perdagangan dan arus modal lintas batas Eropa. Selain itu, biaya transaksi valuta asing yang terkait dengan transaksi antara negara-negara Eropa telah dieliminasi. Mata uang tunggal Eropa sesuai dengan tujuan dari Single European Act untuk menghilangkan hambatan perdagangan antara perbatasan Eropa sejak risiko nilai tukar merupakan penghalang perdagangan implisit. Nilai euro berhubungan dengan perubahan dolar AS secara terus menerus. Nilai euro dipengaruhi oleh arus perdagangan dan arus modal antara negara-negara Eropa
14

yang berpartisipasi dan Amerika Serikat sejak arus ini mempengaruhi kondisi penawaran dan permintaan. Nilainya sehubungan dengan yen Jepang yang dipengaruhi oleh arus perdagangan dan arus modal antara negara-negara Eropa yang berpartisipasi dan Jepang. Negara-negara Eropa yang berpartisipasi dalam euro masih dipengaruhi oleh pergerakan nilai sehubungan dengan mata uang lainnya seperti dolar. Selain itu, banyak perusahaan AS masih dipengaruhi oleh pergerakan nilai euro terhadap dolar. Laporan Status pada Euro

Euro telah mengalami kenaikan yang stabil sejak diperkenalkan pada tahun 1999. Nilainya awalnya menurun secara substansial terhadap pound Inggris, dolar AS, dan beberapa mata uang lainnya. Pada bulan Oktober 2001, misalnya, 33 bulan setelah diperkenalkan, nilainya adalah $ 0,88 atau sekitar 27 persen lebih sedikit dari nilai awalnya. Kelemahan itu sebagian disebabkan oleh arus keluar modal dari Eropa. Pada April 2007, euro senilai $ 1,35 atau 53 persen di atas nilai pada bulan Oktober 2001. Rebound pada euro dipicu oleh suku bunga Eropa yang relatif tinggi dibandingkan dengan suku bunga AS pada periode 2001-2003, yang menarik aliran masuk modal ke Eropa. 2.7 INTERVENSI PEMERINTAH Tiap negara memiliki suatu badan pemerintah yang bisa melakukan intervensi dalam pasar valuta asing untuk mengendalikan nilai valuta. Di AS, misalnya, bank sentralnya adalah Federal Reserve System (Fed). Bank sentral memiliki banyak tugas lain selain melakukan intervensi dalam pasar valas, misalnya mengendalikan pertumbuhan uang beredar dalam rangka mempengaruhi kondisi ekonomi ke arah yang diinginkan.

15

2.8 Alasan-Alasan Intervensi Sejauh mana valuta lokal dikendalikan atau dikelola bervariasi antarbank sentral. Tiga alasan utama bagi bank sentral untuk mengelola nilai tukar adalah: 2 Mengurangi fluktuasi nilai tukar. 3 Membentuk batas-batas implisit bagi nilai tukar. 4 Bereaksi terhadap gangguan-gangguan temporer. Jika sebuah bank sentral khawatir bahwa perekonomiannya akan terganggu oleh fluktuasi nilai valutanya yang tak menentu, bank tersebut mungkin ingin mengurangi fluktuasi. Tindakan bank sentral bisa membuat siklus bisnis lebih stabil. Bank sentral juga bisa meningkatkan perdagangan internasional dengan mengurangi ketidakpastian nilai tukar. Selain itu, pengurangan fluktuasi nilai valuta juga dapat mengurangi ketakutan dalam pasar keuangan dan aktivitas spekulatif yang bisa menyebabkan penurunan nilai valuta secara tajam. Sejumlah bank sentral berupaya mempertahankan nilai valuta lokal mereka dalam batas-batas implisit (tidak resmi). Para analisis pasar seringkali mengatakan bahwa suatu valuta tidak akan turun di bawah atau naik di atas nilai acuan tertentu karena bank sentral akan melakukan intervensi untuk mencegahnya. Fed secara periodik melakukan intervensi sepanjang tahun 1983 hingga 1985 dalam rangka menurunkan nilai dolar yang tengah mengalami apresiasi dan sepanjang tahun 1986 hingga 1988 untuk menaikkan nilai dolar yang tengah mengalami depresiasi. Hal ini menyiratkan bahwa Fed mungkin telah membentuk batas-batas implisit bagi nilai dolar. Namun, meskipun batas-batas tersebut benar-benar ada, batas-batas tersebut tentu terus diubah sepanjang waktu. Dolar yang sangat lemah atau sangat kuat mungkin diinginkan dalam periode-periode tertentu. Dalam sejumlah kasus, bank sentral bisa melakukan intervensi untuk mengisolasi nilai valuta dari gangguan-gangguan temporer. Sebagai contoh, berita bahwa harga minyak akan naik bisa menimbulkan ekspektasi bahwa yen Jepang akan mengalami
16

depresiasi di masa depan, karena Jepang menukarkan yen untuk dolar pada saat membeli minyak dari negara-negara pengekspor minyak. Para spekulan pasar valas mungkin menjual yen dan membeli dolar untuk mengantisipasi penurunan nilai yen. Pemerintah Jepang selanjutnya mungkin melakukan intervensi untuk menahan penurunan nilai yen yang diakibatkan oleh transaksi-transaksi pasar semacam itu. Beberapa penelitian menemukan bahwa intervensi pemerintah tidak memiliki dampak yang permanen atas fluktuasi nilai tukar. Dalam banyak kasus, intervensi tertutupi oleh kekuatan-kekuatan pasar. Namun, bank sentral beroperasi berlandaskan teori bahwa pergerakan valuta bakal akan lebih bergejolak tanpa adanya intervensi. 2.9 Intervensi Langsung Metode intervensi langsung yang dipakai oleh Fed untuk membuat dolar mengalami depresiasi adalah dengan menukar cadangan dolar yang dimilikinya dengan valuta-valuta lain dalam pasar valas. Apa yang dinamakan flooding the market with dollars ini menimbulkan penurunan atas nilai dolar. Jika Fed ingin memperkuat dolar nilai dolar, Fed bisa menjual valuta asing yang dimilikinya dan membeli dolar dalam pasar valas, sehingga menghasilkan tekanan kenaikan atas nilai dolar. Dampak dari intervensi langsung atas nilai pound Inggris diilustrasikan dalam gambar 6.3. untuk memperkuat nilai pound (atau memperlemah nilai dolar), Fed menjual dolar dan membeli pound, yang mencerminkan perpindahan pound dari D 1 ke D2 dalam pasar valas (seperti yang ditunjukan dalam grafik). Sebaliknya, untuk memperlemah nilai pound (atau menaikkan nilai dolar), The Fed menjual pound dan membeli dolar, yang mencerminkan perpindahan kurva dari S1 ke S2 dalam pasar valas. Intervensi langsung biasanya sangat efektif pada saat upaya dari bank-bank sentral terkoordinasi. Jika semua bank sentral secara simultan berupaya memperkuat atau memperlemah dolar dengan cara yang baru saja dijelaskan merkea dapat menciptakan tekanan yang lebih kuat atas nilai dolar.

17

Contoh Intervensi Langsung

Pada bulan September 1985, bank-bank sentral dari AS, Jerman, Inggris, Perancis, dan Jepang mengimplementasikan langkah-langkah bersama untuk menurunkan nilai dolar. Tindakan ini merupakan hasil kesepakatan antar waki negara-negara tersebut di Plaza Hotel, New York. Kesepakatan tersebut sejarang dinamakan Plaza Accord. Pasar valas dibanjiri dolar dalam jumlah milyaran pada saat bank-bank sentral ini menukarkan dolar dengan valuta asing. Tindakan ini menyebabkan nilai dolar jatuh. Akan tetapi, walaupun intervensi langsung sering digunakan selama periode 1986 hingga 1987 untuk memperkuat dolar, dolar masih saja terus melemah.

Dolar mulai menguat pada tahun 1988. Karena terus menguat pada musim panas 1989, muncul kekhawatiran di sejumlah negara industri bahwa dolar yang kuat bisa merugikan ekonomi dunia. Lima bank sentral telah melakukan intervensi pada bulan September 1989, yang menyebabkan nilai dolar langsung menurun 2% relatif terhadap pound Inggris dan mark Jerman. Namun intervensi lanjutan dari bank sentral pada bulan berikutnya terlibas oleh transaksi transaksi dari pasar. Seiring dengan makin tumbuhnya aktivitas valuta asing, intervensi bank sentral semakin tidak efektif. Volume transaksi valas dalam satu hari saja melampaui nilai cadangan gabungan dari seluruh bank sentral.

18

Pada tahun 1992, nilai dolar cukup lemah, yang menyebabkan Fed melakukan intervensi dengan membeli dolar dan menjual valuta-valuta eropa. Pada tahun 1993, fokus beralih pada Yen Jepang, yang mengalami apresiasi 13% atas dolar AS sepanjang 5 bulan pertama tahun 1993 dan mencapai tingkat tertinggi sejak PD II. Fed melakukan intervensi 7 kali pada tanggal 27 Mei 1993 untuk mencegah penurunan lebih lanjut. Fed secara berulang membeli dolar dengan yen dalam pasar valas pada hari tersebut. Upaya diatas hanya bisa memperlambat penurunan nilai yen untuk sementara, tetapi tidak memperlemah yen. Intervensi non-steril vs. Intervensi steril

Pada saat Fed melakukan intervensi dalam pasar valas tanpa menyesuaikan perubahan uang beredar, Fed dikatakan melakukan intervensi non-steril. Sebagai contoh, jika Fed menjual dolar dan membeli valuta-valuta asing dalam pasar valas dlam rangka memperkuat nilai dari valuta-valuta asing yang dimaksud (memperlemah dolar), dolar yang beredar meningkat. Jika Fed ingin melakukan intervensi dalam pasar valas dan mempertahankan jumlah uang (dolar) beredar, Fed menggunakan intervensi steril. Intervensi steril tercapai melalui transaksi transaksi simultan dalam pasar valas dan sekuritas Treasury. Sebagai contoh, jika Fed ingin menurunkan nilai dolar (memperkuat nilai valuta-valuta lain) tanpa mempengaruhi jumlah dolar yang beredar , Fed akan (1) menjual dolar dan membeli valuta lain, dan (2) menjual sejumlah sekuritas Treasury dan memperoleh dolar. Dampak nettonya adalah meningkatnya kepemilikan sekuritas Treasury di tangan para investor dan menurunnya saldo valuta asing (non-dolar) pada bank-bank. Berspekulasi tentang intervensi langsung

Sejumlah pedagang valas berupaya menentukan kapan Fed melakukan intervensi, dan besarnya intervensi, agar bisa mengambil keuntungan dari upaya intervensi tersebut. Normalnya, Fed berupaya melakukan intervensi tanpa diketahui. Namun, dealer-dealer pada bank-bank besar yang berdagang dengan Fed biasanya menyampaikan informasi tersebut kepada para pelaku pasar lain. Demikian juga, pada saat Fed melakukan transaksi secara langsung dengan bank-bank komersial, pasar segera tahu bahwa Fed
19

tengah melakukan intervensi. Untuk menyembunyikan strategi ini, Fed bisa berpurapura tertarik menjual dolar pada saat Fed sebetulnya tengah membeli dlar, atau sebaliknya. Fed mengontak bank komersial dan meminta harga jual dan beli valutavaluta tertentu sekaligus, sehingga bank-bank itu tidak yakin apakah Fed berkeinginan membeli atau menjual valuta-valuta tersebut.

Strategi intervensi bervariasi antar bank sentral. Sejumlah bank sentral langsung mengajukan pesanan dalam jumlah besar pada saat melakukan intervensi; bank-bank yang lain mengajukan beberapa pesanan dalam jumlah kecil, bernilai $5 juta atau $10 juta. Sekalipun para pedagang valas bisa menentukan besarnya intervensi bank sentral, mereka masih tidak bisa mengetahui dengan pasti dampak dari intervensi tersebut atas nilai tukar.

20

2.10 Intervensi Tidak Langsung Fed dapat mempengaruhi nilai dolar secara tidak langsung dengan

mempengaruhi faktor-faktor yang menentukan nilai dolar itu sendiri. Sebagai contoh, Fed bisa berupaya untuk menurunkan nilai bunga dengan menaikkan uang beredar di AS (berlandaskan asumsi bahwa ekspektasi inflasi tidak dipengaruhi). Suku bunga AS yang lebih rendah akan mengurangi keinginan investor untuk berinvestasi dalam sekuritas-sekuritas AS, shingga memberikan tekanan penurunan atas nilai dolar AS. Untuk menaikkan nilai doalr, Fed bisa berupaya menaikkan nilai suku bunga dengan mengurangi uang beredar. Fed selama ini sering melakukan strategi ini bersama-sama dengan intervensi langsung dalam pasar valas. Sebagai contoh bagaimana pasar valas bereaksi terhadap intervensi tidak langsung dari pemerintah federal, nilai dolar menurun secaara substansial pada tanggal 2 Juni 1987 ketika diumumkan bahwa Paul Vocker mengundurkan diri dari gubernur Fed. Vocker terkenal karena upaya-upayanya dalam menghentikan inflasi. Para pelaku pasar memperkirakan bahwa inflasi di AS akan naik dan kemungkinan akan menurunkan nilai dolar menyusul pengunduran diri Vocker. Ekspektasi ini memicu penjualan dolar secara besar-besaran dalam pasar valas dan nilai dolar langsung jatuh. Penelitian terbaru dari Batten dan Thornton menemukan bahwa sedikit saja perubahan dalam suku bunga diskonto Fed akan menyebabkan reaksi yang signifikan dalam pasar valas. Hal ini menyiratkan bahwa para pelaku pasar valas harus memonitor tindakantindakan Fed untuk mengantisipasi bagaimana tindakan tersebut akan mempengaruhi variabel ekonomi (seperti suku bunga) yang mempengaruhi nilai tukar. Para pelaku pasar tidak hanya harus memonitor intervensi langsung, namun juga intervensi tidak langsung. Zona target nilai tukar

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak ekonom telah mengecam sistem niali tukaar yang ada sekarang karena tingginya fluktuasi nilai tukar valuta-valuta penting dunia. Sejumlah ekonom telah menyarankan pemakaian zona target. Dalam hal ini dibentuk kurs pusat (central rate) uang memiliki batas-batas tertentu (dengan struktur yang sama
21

dengan EMS). Sebagai contoh, nilai tukar mark-dolar bisa saja memiliki kurs pusat $0.50 dengan lebar band +6% dari kurs pusat tersebut, sehingga menghasilkan batas atas sebesar $0.53 dan batas bawah sebesar $0.47. zona target semacam itu serupa dengan band yang digunakan dalam sistem nilai tukar tetap, tetapi sistem zona target bisa memiliki batas-batas yang lebih luas. Para penganjur sistem zona target mengemukakan bahwa sistem ini akan menstabilkan pola perdagangan internasional dengan mengurangi gejolak nilai tukar. Ada sejumlah komplikasi dalam pengimplementasian suatu sistem zona target. Pertama, berapa kurs pusat uang harus dibentuk bagi masing-masing valuta? Kedua, berapa luas zona target yang tepat? Zona taerget yang ideal adalah zona target yang memmungkinkan nilai tukar untuk menyesuaikan diri dengan faktor-faktor ekonomi tanpa menimbulkan fluktuasi yang tajam dalam perdagangan internasional dan menciptakan ketakutan dalam pasar keuangan. Sejumlah pemerintah mungkin tidak setuju dengan kurs pusat tertentu. Contohnya, pemerintah AS mungkin menginginkan Yen Jepang diberikan kurs pusat yang lebih tinggi daripada kurs pasar demi mengurangi defisit neraca perdagangan AS dengan Jepan. Namun, mungkin pemerintah Jepang menginginkan kurs pusat yang lebih rendah untuk yen. Selain itu, sejumlah pemerintah menginginkan zona target yang lebih luas daripada pemerintah yang lain. Jika zona target benar-benar diimplementasikan, pemerintah akan memiliki tanggung jawab lebih besar untuk melakukan intervensi dalam rangka

mempertahankan nilai valuta mereka tetap berada dalam zona target. Jika zona target luas, intervensi pemerintah kurang diperlukan dan sebaliknya. Sebuah negara yang mengalami defisit neraca perdagangan yang besar mungkin juga ingin

mengambangkan valutanya dibawah batas bawah dalam rangka merangsang pertumbuhan ekspor. Fluktuasi mendalam dalam perdagangan internasional bisa terjadi. Selain itu, harga pasar keuangan kan menjadi lebih bergejolak karena para pelaku pasar keuangan mungkin memperkirakan bahwa sejumlah valuta akan bergerak keluar dari zona targetnya. Hasil akhirnya adalah sebuah sistem yang tidak berbeda dengan sistem yang ada sekarang.
22

Pada bula Februari 1987, wakil dari AS, Jerman, Jepang, Perancis, Kanada, Italia, dan Inggris (group of seven ayan G-7) menandatangani Louvre Accord untuk membentuk batas-batas bagi nilai dolar (tidak diumumkan ke publik), relatif terhadap valuta asing lain. Fed melakukan intervensi dalam jumlah besar dalam pasar valas selama 2 bulan setelah penandatanganan Louvre Accord, tetapi kemudian hanya berintervensi dalam jumlah kecil. Jadi, kebijakan intervensi bank sentral setelah Louvre Accord tidak jauh dengan yang diimplementasikan sebelum Louvre Accord. Intervensi sebagai suatu perangkat kebijakan

Pemerintah federal dari negara manapun dapat mengimplementasikan kebijakankebijakan fiskal dan moneternya sendiri untuk mengontrol perekonomian. Selain itu, pemerintah juga bisa berusaha mempengaruhi nilai valuta lokal dalam rangka memperbaiki ekonomi, memperlemah valuta dalam kondisi tertentum dan dalam kondisi lain memperkuaatnya. Pada dasarnya, nilai tukar merupakan suatu perangkat kebijakan, sama seperti undang-undang pajak dan jumlah uang beredar, yang bisa digunakan pemerintah untuk meraih tujuan-tujuan ekonomi. Dampak valuta lokal yang lemah atas perekonomian

Valuta lokal yang lemah dapat merangsang permintaan luar negeri atas produkproduk domestik. Dolar yang lemah misalnya, dpat meningkatkan ekspor dan menciptakan lapangan kerja secara signifikan. Selain itu, dolar yang lemah bisa mengurangi impor AS. Walaupun valuta yang lemah bisa mengurangi pengangguran domestik, valuta yang lemah juga bisa mengarah pada inflasi yang lebih tinggi. Sebagai contoh, pada akhir tahun 1970an, dolar yang lemah membuat impor dari negara asing sangat mahal. Dolar juga lemah pada awal 1990an, situasi ini mebuat perusahaan seperti Bayer, Volkswagen, dan Volvo terpaksa keluar dari pasar AS. Dalam kondisi semacam ini, perusahaan domestik AS lebih leluasa menaikkan harga dalam pasar domestik, karena para pesaing asing sulit untuk bersaing dalam pasar tersebut. Di samping itu, perusahaan AS yang pasar utamanya adalah pasar ekspor, seperti Goodyear Tire & Rubber. Co, Litton Industries, Merck, dan Maytag.Corp, juga diuntungkan.
23

Dampak valuta lokal yang kuat atas perekonomian

Valuta lokal yang kuat bisa mendorong para konsumen dan produsen domestik untuk membeli produk dari luar negeri. Situasi ini memaka produsen domestik untuk tidak menaikkan harga. Jadi laju inflasi secara keseluruhan akan lebih rendah jika valuta sebuah negara menguat, ceteris paribus. Walaupun valuta kuat bisa mengurangi inflasi, valuta yang kuat juga bisa mnaikkan tingkat pengangguran karena valuta lokal yang kuat membuat produk luar negeri lebih menarik. Nilai valuta yang ideal tergantung pada perspektif masing-masing negara dan otoritas yang terlibat dalam pembuatan keputusan-keputusan ini. Valuta yang lemah atau kuat hanyalah satu faktor yang mempengaruhi kondisi ekonomi sebuah negara.

24

BAB III Kesimpulan

Sistem nilai tukar dapat diklasifikasikan menjadi nilai tukar tetap, sistem nilai tukar mengambang bebas, sistem nilai tukar mengambang terkendali dan sistem nilai tukar terpatok. Dalam sistem nilai tukar tetap, nilai tukar dibuat konstan atau dibiarkan berfluktuasi dalam batas-batas yang sempit. Dalam sistem nilai tukar mengambang bebas, nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar tanpa intervensi. Dalam sistem mengambang terkendali, nilai tukar tidak diabatas oleh batas eksplisit namun terkena intervensi pemerintah. Dalam nilai tukar terpatok, nilai suatu valuta dipatok ke suatu valuta asing atau suatu unit pengukuran, dan bergerak bersama-sama valuta (atau unit pertukaran) tersebut terhadap valuta lain. Pemerintah dapat menggunakan intervensi langsung dengan membeli atau menjual valuta dalam pasar valas, sehingga mempengaruhi konsidi permintaan dan penawaran, dan selanjutnya mempengaruhi ekuilibrium dari valuta. Pemerintah dapat menggunakan intervensi tidak langsung dengan

mempengaruhi faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi nilai tukar ekuilibrium. Ketika intervensi pemerintah digunakan untuk melemahkan dolar AS, dolar yang lemah akan merangsang perekonomian dengan mengurangi permintaan impor dan meningkatkan permintaan luar negeri atas produk AS. Jadi dolar yang lemah cenderung mengurangi pengangguran, tetapi bisa menaikkan inflasi. Dan sebaliknya.

25

DAFTAR PUSTAKA

Madura, Jeff.2008.International Financial Management Ninth Edition. Thomson Higher Education.USA

26