Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTEK KONSELING INDIVIDUAL

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktek Konseling Individual Dosen Pengampu: Drs. Sukoco KW, M.Pd

Oleh :

Afif Nurul Iman

1110500007

Kelas: 4 F

BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dan sikap seseorang terhadap kemampuan pada dirinya sendiri dengan menerima secara apa adanya baik positif maupun negatif yang dibentuk dan dipelajari melalui proses belajar dengan tujuan untuk kebahagiaan dirinya. Percaya diri adalah modal dasar seorang manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhan sendiri. Seseorang mempunyai kebutuhan untuk kebebasan berfikir dan berperasaan sehingga seseorang yang mempunyai kebebasan berfikir dan berperasaan akan tumbuh menjadi manusia dengan rasa percaya diri. Salah satu langkah pertama dan utama dalam membangun rasa percaya diri dengan memahami dan meyakini bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Kelebihan yang ada didalam diri seseorang harus dikembangkan dan dimanfaatkan agar menjadi produktif dan berguna bagi orang lain (Hakim, 2002). Seseorang yang percaya diri dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang sesuai dengan tahapan perkembangan dengan baik, merasa berharga, mempunyai keberanian, dan kemampuan untuk meningkatkan prestasinya, mempertimbangkan berbagai pilihan, serta membuat keputusan sendiri merupakan perilaku yang mencerminkan percaya diri (Lie, 2003). Percaya diri merupakan dasar dari motivasi diri untuk berhasil. Seseorang yang mendapatkan ketenangan dan kepercayaan diri haruslah menginginkan dan termotivasi dirinya. Banyak orang yang mengalami kekurangan tetapi bangkit melampaui kekurangan sehingga benar benar mengalahkan kemalangan dengan mempunyai kepercayaan diri dan motivasi untuk terus tumbuh serta mengubah masalah menjadi tantangan. Kepercayaan diri dan kebesaran hati membuatnya bersikap, bergaul, bersama orang lain dengan penuh percaya diri dan kemampuan menghadapi segala kesulitan dengan kepercayaan diri yang besar. Terutama bagi siswa dalam pergaulannya dilingkungan sekolah. Dengan kepercayaan diri tersebut siswa dapat mencapai perkembangannya secara optimal, dan bisa mencapai kematangan pribadi secara baik.

BAB II PERMASALAHAN Kepercayaan diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal: a) Faktor internal, meliputi: 1. Konsep diri. Terbentuknya keperayaan diri pada seseorang diawali dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulan suatu kelompok. Menurut Centi (1995), konsep diri merupakan gagasan tentang dirinya sendiri. Seseorang yang mempunyai rasa rendah diri biasanya mempunyai konsep diri negatif, sebaliknya orang yang mempunyai rasa percaya diri akan memiliki konsep diri positif. 2. Harga diri. Meadow (dalam Kusuma, 2005 ) Harga diri yaitu penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Orang yang memiliki harga diri tinggi akan menilai pribadi secara rasional dan benar bagi dirinya serta mudah mengadakan hubungan dengan individu lain. Orang yang mempunyai harga diri tinggi cenderung melihat dirinya sebagai individu yang berhasil percaya bahwa usahanya mudah menerima orang lain sebagaimana menerima dirinya sendiri. Akan tetapi orang yang mempuyai harga diri rendah bersifat tergantung, kurang percaya diri dan biasanya terbentur pada kesulitan sosial serta pesimis dalam pergaulan. 3. Kondisi fisik. Perubahan kondisi fisik juga berpengaruh pada kepercayaan diri. Anthony (1992) mengatakan penampilan fisik merupakan penyebab utama rendahnya harga diri dan percaya diri seseorang. Lauster (1997) juga berpendapat bahwa ketidakmampuan fisik dapat menyebabkan rasa rendah diri yang kentara. 4. Pengalaman hidup. Lauster (1997) mengatakan bahwa kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman yang mengecewakan adalah paling sering menjadi sumber timbulnya rasa rendah diri. Lebih lebih jika pada dasarnya seseorang memiliki rasa tidak aman, kurang kasih sayang dan kurang perhatian. b) Faktor eksternal meliputi:

1. Pendidikan. Pendidikan mempengaruhi kepercayaan diri seseorang. Anthony (1992) lebih lanjut mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan yang rendah cenderung membuat individu merasa dibawah kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya individu yang pendidikannya lebih tinggi cenderung akan menjadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada individu lain. Individu tersebut akan mampu memenuhi keperluan hidup dengan rasa percaya diri dan kekuatannya dengan memperhatikan situasi dari sudut kenyataan. 2. Pekerjaan. Rogers (dalam Kusuma,2005) mengemukakan bahwa bekerja dapat mengembangkan kreatifitas dan kemandirian serta rasa percaya diri. Lebih lanjut dikemukakan bahwa rasa percaya diri dapat muncul dengan melakukan pekerjaan, selain materi yang diperoleh. Kepuasan dan rasa bangga di dapat karena mampu mengembangkan kemampuan diri. 3. Lingkungan dan Pengalaman hidup. Lingkungan disini merupakan lingkungan keluarga dan masyarakat. Dukungan yang baik yang diterima dari lingkungan keluarga seperti anggota kelurga yang saling berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat semakin bisa memenuhi norma dan diterima oleh masyarakat, maka semakin lancar harga diri berkembang (Centi, 1995). Sedangkan pembentukan kepercayaan diri juga bersumber dari pengalaman pribadi yang dialami seseorang dalam perjalanan hidupnya. Pemenuhan kebutuhan psikologis merupakan

pengalaman yang dialami seseorang selama perjalanan yang buruk pada masa kanak kanak akan menyebabkan individu kurang percaya diri (Drajat, 1995). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi rasa percaya diri pada individu, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi konsep diri, harga diri dan keadaan fisik. Faktor eksternal meliputi pendidikan, pekerjaan, lingkungan dan pengalaman hidup.

BAB III PEMBAHASAN a. Topik Permasalahan : merasa malu dalam bergaul dilingkungan sekolah karena merasa kurang percaya diri. b. Spesifikasi Kegiatan c. Bidang Bimbingan 1. Jenis Layanan 2. Fungsi Layanan 3. Sasaran Layanan d. Pelaksanaan Layanan 1. Hari/tanggal 2. Waktu 3. Tempat : Selasa, 17 April 2012 : Pukul 09.00 Selesai : Ruang BK SMP NU MaArif Dukuhwaru Kab. Tegal : : Pribadi Sosial : Konseling Individu : Pengentasan : M.Misbahudin / kelas VIII A.

4. Deskripsi dan komentar mengenai pelaksanaan layanan: Setelah melakukan pendekatan dan wawancara dengan konseli, dapat diperoleh identifikasi masalah, dari tahap tersebut diketahui beberapa hal tentang konseli beserta permasalahan yang dihadapinya, uraiannya adalah sebagai berikut: IDENTIFIKASI MASALAH Konseli merupakan salah satu siswa yang sekarang bersekolah di SMP NU MaArif Dukuhwaru. Konseli mengalami masalah dalam hubungan pribadi dan sosialnya dilingkungan sekolah. Konseli merasa kurang percaya diri dalam bergaul. Masalah tersebut sangat mengganggu aktivitasnya dikelas. Hingga suatu ketika konseli disuruh maju didepan kelas untuk membaca pidato. Dan konseli hanya bersuara pelan, kepalanya pun tertunduk malu. Sehingga teman-temannya menertawainya, dan konseli pun terdiam sambil kembali duduk. Selain itu konseli merasa malu karena terkadang konseli merasa pakaiannya tidak rapi. Dan Konseli juga merasa malu apabila berhubungan dengan laawan jenis.

ANALISIS MASALAH Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang yang percaya diri yakin atas kemampuan mereka sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis, bahkan ketika harapan mereka tidak terwujud, mereka tetap berpikiran positif dan dapat menerimanya. Namun sebaliknya, apabila kepercayaan diri konseli runtuh maka akan sangat berpengaruh pada pribadi konseli dan juga dalam hubungan sosial konseli akan terhambat. Krisis kepercayaan diri yang dialami konseli sangat membuatnya kesulitan dalam bergaul dilingkup sekolah. Dalam kegiatan belajar mengajar pun konseli terhambat, konseli merasa gugup setiap maju didepan kelas sampai-sampai ditertawai oleh teman-temannya. Selain itu konseli juga minder ketika bergaul dengan teman perempuan. Dan ketika berdiskusi didalam kelas konseli tidak pernah mengeluarkan pendapat. Dengan keadaan yang dialami konseli tersebut, konseli merasa tidak tahu harus berbuat apa lagi. Konseli merasakan kebingungan dan sedih, bagaimana harus menentukan sikap dan bagaimana agar dirinya bisa bangkit serta menjadi lebih percaya diri dalam hubungan sosialnya di sekolah. Masalah yang dialami konseli tersebut termasuk masalah yang sering terjadi di kalangan siswa. Terutama bagi mereka yang sedang dalam masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Namun tingkat kesulitan dari sebuah masalah tersebut tergantung dari individu itu sendiri. Permasalahan-permasalahan seperti ini bisa dipecahkan melalui kegiatan konseling. DIAGNOSIS MASALAH 1. Esensi masalah Berdasrkan data yang telah praktikan dapat, maka dapat dinyatakan bahwa permasalahan yang konseli alami adalah malu dalam bergaul disekolah karena kurang percaya diri. Dimana konseli merasa minder saat bergaul dengan teman-temannya sehingga hubungan sosialnya terhambat. 2. Sebab-Sebab Timbulnya Masalah a) Faktor Internal

Faktor internal yang menyebabkan konseli kurang percaya diri yaitu konseli terlalu merasa rendah diri dan pesimis dalam pergaulannya dikelas, sehingga konseli sulit dalam bergaul dalam lingkup sekolah. b) Faktor Eksternal Faktor eksternal yang menyebabkan konseli tidak percaya diri yaitu temantemannya yang sering menertawakan konseli ketika konseli maju didepan kelas. 3. Dinamika Psikis Konseli a) Dinamika psikis positif Konseli sangat terbuka dalam mengutarakan permasalahannya, dan konseli pun sangat berusaha untuk bisa terbebas dari permasalahannya tersebut. Selama proses konseling pun konseli mengikuti dengan baik. Selain itu konseli menerima masukan-masukan yang diterima dari praktikan. b) Dinamika psikis negative Konseli masih sering merasa bingung akan keadaanya sekarang, sehingga konseli merasa ragu-ragu dalam mengambil keputusan. PROGNOSIS Berdasarkan analisis dan diagnosis diatas, maka permasalahan tersebut masih bisa dientaskan melalui kegiatan konseling ini. Akan tetapi bila permasalahan tersebut tidak segera dibantu dan diselasaikan maka akan memberikan dampak yang merugikan diri konseli, seperti: a. Tidak memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang diperjuangkan secara sungguh sungguh. b. Tidak memiliki keputusan melangkah yang decissive (ngambang) c. Mudah frustasi atau give-up ketika menghadapi masalah atau kesulitan d. Kurang termotivasi untuk maju, malas-malasan atau setengah-setengah e. Sering gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung jawab (tidak optimal) f. Canggung dalam menghadapi orang, terutama teman-teman dikelasnya g. Tidak bisa mendemonstrasikan kemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan yang meyakinkan h. Sering memiliki harapan yang tidak realistis

i. Terlalu perfeksionis j. Terlalu sensitif (perasa) Guna mengatasi masalah-masalah tersebut, maka berdasarkan analisis dan diagnosis dapat ditentukan alternative-alternatif bantuan yang dapat diberikan kepada konseli, yaitu: 1. Menyambut konseli dengan terbuka dan penuh keakraban 2. Mengerti dan berusaha memahami apa yang dirasakan konseli 3. Membantu konseli dalam pengambilan keputusan atas perilaku-perilaku yang akan dilakukan 4. Memberikan gambaran-gambaran baik gambaran positif maupun negatif mengenai perilaku yang diambil 5. Memberi pemahaman untuk menjadi diri sendiri dalam kehidupannya, sehingga konseli lebih optimis dan semangat dalam menjalani aktivitasnya 6. Membantu konseli untuk selalu berusaha berfikir secara positif dalam menjalani aktivitasnya sebagai siswa 7. Memberi pemahaman tentang bagaimana cara mencintai diri sendiri, sehingga konseli bisa meningkatkan kepercayaan dirinya TREATMENT Treatment yang digunakan dalam membantu menyelesaikan masalah konseli adalah Pendekatan CCT (Clien Centered Therapy). Pendekatan ini berpusat pada klien karena dalam proses konseling, konselor memberikan kesempatan luas kepada klien untuk membuat keputusan. CCT mendasarkan pandangannya pada sifat dan hakekat manusia. Klien diberi tanggung jawab dalam pengambilan keputusan lewat konseling, memberikan kebebasan kepada klien untuk mengekspresikan dirinya dan menentukan cara menyelesaikan maslahnya. Dasar dari pendekatan CCT adalah bahwa ada kekuatankekuatan atau kemampuan-kemampuan tertentu dalam diri individu untuk tumbuh dan berkembang, menyesuaikan diri dan memiliki dorongan yang kuat ke arah kedewasaan dan kemampuan-kemampuan tersebut harus dihargai. 1. Konsep Dasar

CCT didasari oleh suatu teori kepribadian yang disebut self theory yang menjelaskan bahwa kepribadian manusia ada 3, yaitu: a. organisme, merupakan keseluruhan dan kesatuan individu b. lapangan fenomenal, merupakan keseluruhan pengalaman individu yang sifatnya sadr dan tidak sadar c. self, merupakan bagian yang berdiferensiasi dari lapangan fenomenal yang terdiri atas pola-pola pengmatan yang sadar serta nilai-nilai dari aku sebagai subyek dan obyek 2. Tujuan Sesuai dengan konsep dasar CCT, maka tujuan konseling adalah: a. Memberi kesempatan dan kebebasan kepada konseli untuk mengekspresikn perasaan-perasaannya, berkembang dan terealisasi potensinya. b. Membantu konseli untuk makin sanggup berdiri sendiri dalam mengadakan integrasi dengan lingkuannnya dan bukan pada penyembuhan tingkah laku itu sendiri. c. Membantu individu dalam mengadakan perubahan dan pertumbuhan. 3. Teknik yang dipakai yaitu teknik wawancara, dimana didalam wawancara terdapat teknik: a. acceptance (peneriman) b. respect (rasa hormat) c. understanding (mengerti, memahami) d. reassurance (menentramkan hati, meyakinkan) e. encouragement (dorongan) f. limited questioning (pertanyaan terbatas) g. reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan) 4. Proses Konseling

Kegiatan konseling diawali oleh praktikan dengan memberikan penjelasan tentang maksud dari konseling, serta menjelaskan asas-asas yang ada dalam konseling sehingga konseli lebih percaya kepada praktikan dan konseli mau secara terbuka menceritakan masalahnya. Konseli pun menceritakan semua permasalahan yang sedang dialaminya. Mulai dari latar belakang permasalahan, faktor permasalahan sampai bagaimana keadaan emosi konseli saat masalah tersebut muncul. Pada saat konseli menceritakan masalahnya, praktikan pun memposisikan diri dengan baik menggunakan teknik-teknik komunikasi konseling yang ada. Sehingga konseli lebih terbuka mengenai masalahnya tersebut. Dalam hal ini praktikan menggunakan kemampuan attending dan empatinya. Guna mengatasi maslah krisis kepercayaan diri yang dialami konseli, praktikan member penjelasan-penjelasan mengenai kepercayaan diri. Selain itu praktikan mendorong konseli untuk lebih positif dalam berpikir dan lebih optimis dalam menjani kehidupannya terutama kehidupan sosial disekolah. Praktikan pun memberikan gambaran-gambaran positif dan negative mengenai keoercayaan diri, sehingga konseli nantinya diharapkan mampu memutuskan perilaku apa yang akan diambil. Dimana konseli nantinya bertanggungjawab atas keputusannya tersebut. 5. Evaluasi Treatmen Setelah pemberian treatment selesai, maka praktikan melanjutkan kegiatan ke kegiatan evaluasi. Evaluasi tersebut diantaranya: 1. Konseli sudah bisa menentukan perilaku yang nantinya akan dilakukan tanpa adanya paksaan ari praktikan. 2. Konseli mampu menjelaskan alas an atas dasar apa konseli dalam menentukan perilaku yang akan dilakukannya. 3. Konseli mampu berfikir secara positif dan menjadi lebih optimis dalam menjalani kehidupan sosialnya disekolah. 4. Konseli menjadi lebih percaya diri untuk bergaul dengan teman-temannya.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pelaksanaan konseling diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kasus yang dihadapi oleh konseli adalah krisis kepercayaan diri. Seperti contoh, konseli merasa malu setiap bergaul dengan teman perempuan, konseli malu ketika maju didepan kelas, dan konseli hamper tidak pernah berpendapat ketika berdiskusi dikelas. Dengan masalah yang dihadapi tersebut, konseli merasa kesulitan dalam bergaul dilingkungan sekolahnya. Konseli terkadang merasa selalu kesepian karena konseli terlalu rendah diri kepada teman-temannya.

B. Saran Bagi konseli, sebaiknya konseli lebih berpikir secara positif, selain itu konseli harus lebih optimis dalam menjalani kehidupannya. Konseli hendaknya lebih berpandangan pada kekuatannya sendiri, dan menjadi diri sendiri serta berusaha melatih skill percakapan. Dimana dengan kesemuanya itu konseli akan lebih percaya dir dalam bergaul dengan teman-temannya.

DAFTAR PUSTAKA Hartinah, Sitti. 2010. Konsep Dasar Bimbingan Konseling Belajar. Tegal: Universitas Pancasakti. http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepercayaan-diri/ http://www.masbow.com/2009/08/percaya-diri-dalam-psikologi.html Pujosuwarno, Sayekti. 1993. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mas Offset. Supriyo dan Mulawarman. 2006. Keterampilan Dasar Konseling. Semarang: UNNES.

LAMPIRAN 1. Hasil Wawancara Dengan Konseli 2. Surat Pengantar Dari Universita Pancasakti Tegal

HASIL WAWANCARA Tokoh Konseli Praktikan Dialog Tok tok.assalamualaikum.. Waalaikummussalam silahkan masuk mas Keterangan Keterampilan

Konseli

Terimakasih pak

Praktikan

Silahkan duduk mas

Konseli

Praktikan Membuka bergegas berdiri percakapan dan mempersilahkan konseli masuk Konseli menganggukkan kepala Praktikan menawarkan klien untuk duduk Menganggukkan kepala dan langsung duduk

Praktikan Konseli Praktikan

Konseli

Praktikan Konseli Praktikan Konseli Praktikan Konseli Praktikan Konseli Praktikan Konseli Praktikan Konseli

Bagaimana kabarnya mas? Sehat? Alhamdulillah sehat.. Oh ya! Perkenalkan nama saya Afif Nurul Iman. Tapi, mas bisa sapa saya dengan panggilan Afif aja. .. Terdiam dan menganggukkan kepala Mas sendiri lebih suka dengan panggilan apa ya? Misbah aja pak! Baiklah mas Misbah! Mas Misbah baru dari mana nih. Saya dari kelas pak Ohhmas Misbah sudah Reinforcment kelas 8 ya? iya pak! saya kelas 8.. Bagaimana kegiatan hari ini? Konfrontasi Ya begitulah pak! menunjukkan wajah melasnya Maksud mas Misbah? Iya pak! Saya merasakan kesepian. Kenapa bisa seperti itu? Limited quetioning Karena saya merasa tidak

Praktikan Konseli

percaya diri.. Oh begitu ya, kenapa anda tidak pede? Alasannya apa? Begini pak! Saya pemalu, saya merasa malu kalau lagi main sama teman perempuan saya..

Reflection Klien mengutarakan dengan nada lemas

Praktikan

Konseli

Praktikan

Konseli Praktikan Konseli Praktikan Konseli Praktikan

Konseli Praktikan

Konseli Praktikan

Saya juga selalu merasa gugup saat maju didepan kelas.. dan akhirnya ditertawai oleh teman.. Owh.. berarti anda merasa Understanding malu saat bergaul dikelas.. Gitu ya? . Terdiam sambil mencoba memahami keadaan Apakah mas Misbah pernah Respect membicarakan hal ini dengan orang tua atau teman dekat? Belum pak! Menggelengkan kepala Kenapa? Limited quetioning Saya merasa malu pak! Bila nantinya orang tua saya tahu Malu kenapa? . Terdiam sesaat Begini.. apakah dengan Konfrontasi berdiam diri maka masalah anda akan hilang begitu saja? Kembali termenung Saya mengerti apa yang anda Membuat alami saat ini. Dimana mas ringkasan Misbah sebenarnya mas Misbah ingin bisa bergaul layaknya teman lain, tetapi anda merasa rendah diri dan malu kepada teman anda.. Benar pak! Mas Misbah sudah pernah berusaha untuk memberanikan diri

Konseli

Praktikan

berinteraksi dengan teman anda? Terutama teman perempuan.. Lumayan sering pak! Menganggukkan kepala Tapi ya itu, saya masih gugup dan minder.. karena saya kurang pede.. terkadang pakaian saya kurang rapi.. Owh.. begitu.. Melihat masalah yang dihadapi mas misbah, seharusnya anda brpikir secara positif dan optimis, setiap manusia pasti punya kekurangan dan juga kelebihan.. begitu juga anda, jadi janganlah malu akan keadaan diri anda.. beranikanlah diri anda dan berkonsentrasilah pada kelebihan anda.. ya.. Diam dan termenung Saya merasa mas misbah sudah mengerti apa yang saya bicarakan. Iya pak! saya akan Menunjukkan memberanikan diri untuk tanda-tanda bergaul, dan lebih berpikir optimis positif dan menghilangkan rasa malu itu.. Nah.. gitu donk.. Itu baru lelaki.. . Tersipu malu Oh ya bagaimana hubungan mas misbah dengan guruguru.. Alhamdulillah baik pak. Apakah ada yang ingin mas misbah ungkapkan lagi? Tidak pak! terimakasih ya Menganggukkan pak atas diskusi kita kali ini kepala Saya juga terimakasih karena

Memberikan dorongan

Konseli Praktikan

Konseli

Praktikan

Konseli Praktikan

Menutup percakapan

Konseli Praktikan Konseli Praktikan

Konseli Praktikan Konseli Praktikan Konseli

Praktikan

Konseli

Praktikan

mas misbah bersedia berdiskusi dengan saya Iya pak.. menganggukkan kepala Gimana, mas misbah masih ada pelajaran lagi? Oh ya ada pak! Sebentar lagi masuk pak.. . Terdiam sambil tersenyum Saya permisi dulu pak! Bergegas untuk bangkit dari tempat duduk Oh ya! Mari mas. Tapi, kalau nantinya mas memerlukan saya lagi ya jangan sungkansungkan untk menghubungi saya lagi Permisi pak! Mengulurkan tangan Assalamualaikum? Waalaikummussalam, hati- Menyambut hati ya mas, dan semoga tangan klien berhasil