Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT


RSUP DR. KARIADI PEMASANGAN NGT

Disusun Oleh: ADITYA KRISNA 22020113210041

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN XXII PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

LAPORAN ANALISA TINDAKAN PEMASANGAN NASOGASTRIC TUBE (NGT) DI UGD RS DR.MOEWARDI SURAKARTA

Inisial Klien Diagnosa Medis No. Register Tanggal Masuk Tanggal Tindakan Ruang

: Tn.W : Suspect Faringitis : C4472664 : 09 Desember 2013 pukul 17.20 : 09 Desember 2013 pukul 17.24 : IGD RSUP DR.KARIADI

1. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN DASAR PEMIKIRAN DO: a. Tanda-tanda vital Suhu : 36,5C

Tekanan darah : 100/80 mmHg Nadi RR : 92 x/menit : 30 x/menit

b. GCS : E4M5V6 c. Keadaan umum: sedang, composmentis d. Klien tampak mengerutkan kening ketika diminta untuk menelan. e. Klien terlihat sesak napas, mukosa bibir lembab, turgor kulit elastis DS: a. Klien mengatakan sakit tenggorokan sejak 3 hari yang lalu. b. Klien mengatakan awalnya merasa sakit pada pundak kiri kemudian menjalar hingga ke leher dan tenggorokan c. Klien mengatakan mengalami kesulitan menelan dan sakit ketika menelan makanan maupun minuman d. Klien mengatakan makan dan minum hanya sedikit sejak 3 hari yang lalu

e. Klien mengeluh sakit tenggorokan dengan karakteristik seperti tertusuk jarum

Diagnosa keperawatan yang muncul dalam kasus: a. Risiko ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan gangguan menelan, inadekuat intake oral b. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi

Faringitis akut merupakan infeksi akut mukosa dan struktur limfe pada faring yang disebabkan oleh bakteri, virus, maupun asap, uap, dan zat kimia (KMB). Beberapa faktor yang menjadi predisposisi munculnya penyakit ini yaitu virus influenza, udara dingin, makanan kurang bergizi, maupun penurunan daya tahan tubuh (Tubert, 1994). Pasien dengan faringitis akut dapat mengalami gejala yang berbeda-beda tergantung patogen penyebabnya. Pada pasien yang menderita faringitis akibat infeksi streptococcus non hemolitik dapat mengalami gejala yang muncul perlahan seperti batuk, pilek, suara parau, dan sakit pada tenggorokan (Price, 2005). Pasien yang menderita faringitis akut dianjurkan untuk mengurangi aktivitas sehari-hari, mengkonsumsi banyak cairan, tidak meminum minuman yang dingin, berkumur dengan larutan NaCl hangat setiap 2-3 jam untuk mengurangi rasa sakit, dan menghindari makanan yang merangsang (Ditjen PP dan PL, 2010). Pasien mengalami gangguan menelan akibat inflamasi faring sehingga asupan nutrisi dan cairan oral tidak adekuat. Pemberian

nutrisi dapat dibantu dengan menggunakan nasogastric tube (NGT) untuk menyalurkan nutrisi dan cairan langsung ke lambung tanpa melalui tenggorokan. Indikasi pemasangan NGT diantaranya (Hartono, 2006): a. Pasien tidak sadar (koma) b. Pasien dengan masalah saluran pencernaan atas : stenosis esofagus, tumor mulut/faring/esofagus c. Pasien tidak mampu menelan d. Pasien pasca operasi pada mulut/faring/esofagus

2. TINDAKAN KEPERAWATAN YANG DILAKUKAN Tindakan keperawatan yang dilakukan diantaranya pemeriksaan primer (ABCDE), pemeriksaan sekunder yang meliputi tanda-tanda vital, pengkajian status nutrisi dan cairan yang terdiri dari mukosa bibir, turgor kulit, keadaan umum, dan anamnesa. Risiko ketidakseimbangan nutrisi diatasi dengan

melakukan pemasangan NGT pada klien.

3. PRINSIP-PRINSIP TINDAKAN a. Tahap Pra Interaksi Mengecek program terapi. Mencuci tangan. Mengidentifikasi pasien dengan benar (nama, nomor kamar). Menyiapkan dan meletakkan alat di dekat pasien.

b. Tahap Orientasi Mengucapkan salam, menyapa pasien, memperkenalkan diri. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan. Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien.

c. Tahap Kerja Menjaga privacy. Mengatur posisi pasien dalam posisi semi fowler/fowler (jika tidak ada kontra indikasi). Memasang pengalas di atas dada. Memakai sarung tangan. Menentukan lubang hidung yang akan digunakan untuk memasukkan NGT. Meminta pasien bernafas dengan menutup salah satu hidung bergantian. Membersihkan lubang hidung yang akan digunakan. Mengukur panjang NGT dan memberi tanda (perhatikan jangan sampai selang menyentuh permukaan terkontaminasi).

Metode tradisional : ukur selang dari prosesus xifoideus di sternum ke hidung dan belok ke daun telinga bawah.

Metode Hanson : mula-mula ukur 50 cm pada selang, beri tanda. Kemudian lakukan pengukuran dengan metode tradisional, beri tanda. Selang yang dimasukkan pertengahan antara tanda pertama dan tanda kedua.

Menutup pangkal selang dengan spuit/klem (mencegah masuknya udara ke dalam lambung karena dapat mengakibatkan pasien menjadi kembung).

Mengolesi ujung NGT dengan jelly sesuai ukuran panjang NGT yang akan dipasang.

Mengatur pasien pada posisi ekstensi kepala, dan masukkan perlahan ujung NGT melalui hidung. Menganjurkan pasien menekuk leher/fleksi kepala setelah NGT melewati nasofaring (3-4 cm).

Menganjurkan pasien untuk menelan ludah berulang-ulang bila pasien sadar, kalau perlu berikan sedikit air minum untuk merangsang pasien menelan.

Memastikan NGT masuk ke dalam lambung dengan cara mengaspirasi NGT dengan spuit (jika posisi tepat akan keluar cairan/isi lambung). Jika masih ragu lakukan tes kedua dengan memasukkan udara 10 cc sambil di auskultasi di region lambung (tidak direkomendasikan untuk memasukkan ujung NGT ke dalam gelas berisi air).

Menutup ujung NGT dengan spuit / klem atau disesuaikan dengan tujuan pemasangan.

Melakukan fiksasi NGT di depan hidung / pipi.

d. Tahap Terminasi Mengevaluasi tindakan yang dilakukan. Merapikan pasien dan lingkungan. Mengajak pasien berdoa dan berserah kepada Allah. Berpamitan dengan pasien.

Membereskan dan mengembalikan alat ke tempat semula. Mencuci tangan. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan.

4. ANALISA TINDAKAN KEPERAWATAN Nasogastric tubes (NGT) merupakan selang yang dimasukkan menuju lambung melalui hidung dan digunakan hanya dalam waktu yang singkat. (Metheny, 2001). Pemasangan NGT dalam jangka waktu lama dapat

menyebabkan ulserasi dan infeksi atau yang biasa diistilahkan sebagai nasogastric tube syndrome. Prioritas utama dalam penggunaan NGT adalah mempertahankan jalan napas efektif dan melepaskan ketergantungan terhadap NGT sedini mungkin (Agha, 2011). Pemasangan NGT dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami gangguan saluran pencernaan atas seperti stenosis esofagus, tumor mulut, faring, maupun laring. Beberapa fungsi pemasangan NGT pada pasien diantaranya mengeluarkan isi perut dengan cara menghisap apa yang ada dalam lambung (cairan, udara, darah, racun), memasukan cairan (memenuhi kebutuhan cairan atau nutrisi), membantu memudahkan diagnosa klinik melalui analisa subtansi isi lambung, persiapan sebelum operasi dengan general anaesthesia, serta menghisap dan mengalirkan untuk pasien yang sedang melaksanakan operasi pneumonectomy untuk mencegah muntah dan kemungkinan aspirasi isi lambung sewaktu recovery (pemulihan dari general anaesthesia) (Asmadi, 2008.) Beberapa metode digunakan untuk mengukur panjang selang yang masuk kedalam lambung. Metode tradisional dengan mengukur selang dari prosesus xifoideus di sternum ke hidung dan belok ke daun telinga bawah. Metode Hanson yaitu mula-mula ukur 50 cm pada selang, beri tanda. Kemudian lakukan pengukuran dengan metode tradisional, beri tanda. Selang yang dimasukkan pertengahan antara tanda pertama dan tanda kedua (Asmadi,

2008.). Sebuah studi kasus yang dilakukan oleh Riaz Agha terhadap pasien kecelakaan lalu lintas di RS Cambridge menunjukkan gambaran pemasangan NGT melalui foto thorax (Agha, 2011). Hasil foto thorax menunjukkan

dislokasi pemasangan NGT menuju lower lobus paru sedangkan auskultasi mengindikasikan selang sudah masuk dengan aman di lambung. Menurut Riaz, panjang selang bukan masalah mendasar. Riaz menyarankan

pemasangan selang sepanjang 30 cm kemudian memastikan ketepatan posisi selang melalui radiografi. Setelah dipastikan selang masuk ke esofagus,

selang dapat dimasukkan lebih dalam sesuai dengan panjang selang yang sudah ditandai. Meskipun metode tersebut lebih menjamin keamanan pasien, tetapi dari segi biaya tidak efektif sehingga penggunaan metode tersebut hanya disarankan bagi pasien yang memiliki riwayat dislokasi dan komplikasi pemasangan NGT (Agha, 2011).

5. HASIL YANG DIDAPAT DAN MAKNANYA Setelah dilakukan tindakan keperawatan di atas, hasil yang dapat dievaluasi sebatas NGT terpasang dengan benar pada lambung melalui auskultasi. Klien belum diberikan makanan melalui NGT tersebut.

6. TINDAKAN KEPERAWATAN LAIN YANG DAPAT DILAKUKAN UNTUK MENGATASI DIAGNOSA KEPERAWATAN DI ATAS Tindakan keperawatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan di atas yaitu mengkaji kemungkinan adanya ketidakseimbangan nutrisi dan cairan yang mengindikasikan terjadinya dehidrasi ringan.

7. EVALUASI DIRI

Mahasiswa harus lebih meningkatkan ilmu pengetahuan mengenai prosedur pemasangan NGT dengan tepat untuk menghindari kemungkinan kesalahan penempatan selang NGT.

8. KEPUSTAKAN Agha, R., Muhammed RSS. Pneumothorax After Nasogastric Tube Insertion. Journal of the Royal Society of Medicine Short Reports 2011; 2: 28. Asmadi. Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika. 2008. Ditjen PP dan PL. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI. Indonesia Sehat 2010. Hartono, Andry. Terapi Gizi san Diet Rumah Sakit. Jakarta : EGC.2006. Metheny, N A. & Titler, M. (2001) Assessing Placement of Feeding Tubes. American Journal of Nursing 101. Pillai, JB., Annette V, Stephanie B. Negative Result-Thoracic General

Thoracic Complications of Nasogastric Tube :Review of safe Pracice. Interactive CardioVascular and Thoracic Surgery 4 (2005) 429433. Price, Wilson L. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses. Penyakit. Edisi 6. EGC. 2005.

Tubert KA, Rowley AH, Shulman ST.

Seven Year National Survey of

Kawasaki Disease and Acute Rheumatic Fever. Pediatr Infect Dis J. 1994; 13 : 704-708.