Anda di halaman 1dari 16

Makalah Metode dalam Sosiologi Agama

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Alhamdulillahi rabbil alamin, segala puja dan puji syukur milik Allah Subhanahu
Wataala, Semoga Allah selalu menunjukkan kita pada jalan kebaikan dan kebenaran.
Sholawat serta salam semoga dapat senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad
Shollallohualaihi Wasallam, beserta keluarga dan sahabatnya, Allahuma Amin. Kami yakin
tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, makalah ini belum dapat terselesaikan. Oleh
karena itu, kami dari kelompok empat mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Dr.
H.Zulfi Mubaroq M.Ag selaku pembimbing mata kuliah Sosiologi Agama, teman-teman dan
semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada kami.
Makalah Sosiologi Agama yang berjudul Pendekatan dan Metode Sosiologi Agama ini
berisi tentang pembahasan mengenai beberapa macam pendekatan dan metode-metode untuk
menganalisis masalah masyarakat agama. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas
Sosiologi Agama dan perlu kita pahami seluk beluknya oleh para mahasiswa. Setelah
membaca makalah ini di harapkan kita semua bisa mengetahui dan mendalami lebih lanjut
untuk menganalisis beberapa masyarakat agama.
Isi global makalah ini adalah tentang pengertian dan macam-macam metode pendekatan
sosiologi agama, serta bagaimana penggunaan metode dan pendekatan dalam masyarakat-
masyarakat yang beragama.

2. Tujuan
1. Mengetahui pengertian metode dan pendekatan
2. Mengetahui Macam-macam metode dan pendekatan
3. Mengetahui penggunaan metode dan pendekatan dalam sosiologi agama

3. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian metode dan pendekatan?
2. Macam-macam metode dan pendekatan?
3. Bagaimana penggunaan metode dan pendekatan dalam sosiologi agama?

B. PEMBAHASAN
1. Hakikat Kebenaran
Ketika ilmu sosial dituntut untuk menjadi sebuah science maka segala usaha ditujukan
pada pencapaian derajat keilmiahan (scientific), seperti yang telah dicapai oleh ilmu
pengetahuan alam. Mula-mula, ilmuwan sosial atau sosiolog mencoba mengikuti prosedur
yang dipergunakan oleh ilmu pengetahuan alam, untuk mendapatkan sebuah kerangka ilmiah.
Auguste de Comte dan Emile Durkheim adalah contoh orang-orang yang gigih dalam
perjuangan ini.
Sesungguhnya harus dipahami satu persoalan mendasar yang menjadi ganjalan adalah
bahwa objek kedua ilmu tersebut sangat jauh berbeda. Meskipun manusia mempunyai banyak
kesamaan dengan makhluk yang dikaji dalam ilmu pengetahuan alam, namun mempunyai
karakter pembeda yang sagat signifikan. Manusia adalah makhluk yang berkesadaran, hidup
dan berkembang dalam suatu masyarakat. Kesadaran akan keunikan dan heterogenitas
manusia dan masyarakat, memberikan ruang yang longgar bagi ilmuwan sosial untuk
mengajukan berbagai macam teorinya. Pada akhirnya memahami manusia tidak ansich
terhadap dirinya sendiri, namun memerlukan pula pemahaman terhadap masyarakat dan
kebudayaannya. Oleh karena itu, mengikuti prosedur ilmiah seperti ilmu pengetahuan alam,
yaitu generalization merupakan kesalahan besar dalam dunia ilmu-ilmu sosial.1[1] Max
Weber memperlihatkan upaya-upaya untuk membangun sebuah ilmu sosial yang mirip
dengan fisika dalam hal presisi, lingkup, dan utilitas akan menemuhi kegagalan-tanpa
menyangkal kemampuan kita untuk tiba pada generalisasi-generalisasi dari sejarah. Weber
berusaha untuk menjembatani jurang antara dua sudut pandang ekstrim yang mewakili
tradisi-tradisi intelektual yang saling bersaing: potivisme ilmu-ilmu alam dan idealisme serta
historisme jerman.2[2]
Sosologi adalah suatu kajian ilmiah tentang kehidupan masyarakat manusia. Ahli
sosiologi berusaha mengadakan penelitian yang mendalam tentang hakikat dan sebab-sebab
dari berbagai keteraturan pola pikiran atau tindakan manusia secara berulang-ulang. Sebagai
suatu usaha analisis yang menggunakan metode kajian ilmiah, sosiolog juga dituntut untuk
menggunakan pendekatan yang bersifat empiris sebagai persyaratan ilmiah.

1[1] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 29.
2[2] Dennis Wrong, Max Weber Sebuah Khazanah, (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2003), 12.
Persyaratan ilmiah tersebut dalam upaya untuk mencapai sebuah kebenaran. Istilah
kebenaran sebetulnya memiliki rentang yang sangat luas, tergantung dari perspektif mana
melihatnya. Ada empat kebenaran3[3], yaitu:
1. Kebenaran Pertama adalah kebenaran metafisik, yang tidak dapat diuji banar atau tidaknya
(justifikasi atau falsifikasi) berdasarkan norma-norma eksternal, seperti kesesuaian dengan
alam, logika deduktif, atau standar-standar perilaku professional. Kebenaran seluruh
kebenaran atau basic, ultimate truth. Oleh karena itu, harus diterima apa adanya (taken for
granted) sebagai sesuatu given. Misalnya, kebenaran iman dan doktrin-doktrin absolute
agama.
2. Kebenaran Kedua adalah kebenaran etik, yang menunjukkan pada perangkat standar moral
atau professional tentang perilaku yang pantas dilakukan, termasuk kode etik (code of
conduct). Seseorang dikatakan benar menurut kode etik, nila ia berperilaku sesuai dengan
standar perilaku itu. Sumber kebenaran etik dapat berasal dari kebenara metafisik atau dari
norma-norma sosial budaya suatu lingkup masyarakat atau komunitas profesi tertentu.
Kebenaran ini ada yang mutlak (memenuhi standar etika universal) dan ada pula yang
relative.
3. Kebenaran Ketiga adalah kebenaran logis. Sesuatu dianggap benar apabila secara logis atau
matematis konsisten dan koheren dengan apa yang telah diakui sebagai sesuatu yang benar
atau sesuai dengan apa yang benar menurut kepercayaan metafisik. Peranan rasio atau logika
sangat dominan dalam kebenaran logis. Meskipun demikian, seperti halnya pada bagian
kebenaran etik, kebenaran ini tidak terlepas dari konsensus orang-orang yang terlibat di
dalamnya. Contohnya aksioma matematik yang menyatakan bahwa sudut-sudut segitiga sama
sisi masing-masing 60 atau 2+2=4.
4. Kebenaran Keempat adalah kebenaran empirik, yang lazimnya dipercayaan sebagai landasan
pekerjaan para ilmuwan dalam melakukan penelitian. Sesuatu (kepercayaan, asumsi, dalil,
hipotesis dan proposisi) dianggap benar apabila konsisten dengan kenyataan alam, dalam arti
diverifikasi,
dijustifikasi dan (meminjam istilah Popper) tahan terhadap falsifikasi atau kritik.
Dalam hal ini, korespondensi antar teori dan fakta di lapangan, antara pengetahuan apriori

3[3] Zulfi, Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 30. Lihat Dadang Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendekatan Struktural (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 45-46;
Lihat Supriadi, Kebenaran Ilmiah, Metode Ilmiah, dan Paradigma Riset Kependidikan (Bandung:
Pascasarjana IKIP Bandung, 1998), 5.
dengan pengetahuan aposteriori (demikian Immanuel Kant menyebutnya) menjadi persoalan
utama.
Dalam konteks kebenaran ilmiah atau kebenaran empiric yang melibatkan subjek
(manusia, knower, dan observer) dengan objek (fakta,realitas, dan know), terdapat tiga teori
utama tentang kebenaran, yaitu4[4]:
1. Teori Korespondensi (Corespondence Theory), teori ini beranggapan bahwa sebuah
pernyataan itu benar jika apa yang diungkapkannya itu merupakan fakta, dalam arti adanya
suatu kenyataan yang interaksional antara teori dengan realita.5[5] Motto teori ini adalah
truth is fidelity to objective reality atau kebenaran itu setia atau tunduk pada realitas
objektif.6[6] Contoh, Jakarta adalah ibu kota Indonesia, dan setelah dicocokkan dengan
realitanya memang Jakarta adalah ibu kota Negara Republik Indonesia. Alran teori kebenaran
ini berimplikasi bahwa hakikat pencarian kebenaran ilmiah tidak lain untuk mencari relasi
yang konsisten antara subjek dengan objek, atau antara subjek dengan subjek
(intersubjektifitas), dan antara objek dengan objek berdasarkan perspektif subjek. Dengan
demikian, teori ini kebenaran realisme dan empirisme ini erat kaitannya dengan kebenaran
empirik.
2. Teori Koherensi (Coherence Theory), yang beranggapan bahwa Sesuatu dianggap benar jika
terdapat koherensi atau konsistensi, dalam arti tidak terjadi kontradiktif pada saat bersamaan,
antara dua atu lebih logika. Jadi, fokus kebenaran dalam teori ini adalah logika yang
konsisten dan inheren memiliki koherensi. Jadi, di sini kebenaran logis mendahului
kebenaran empiris.7[7] Dengan demikian, suatu proporsi cenderung benar jika proporsi
tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proporsi lain yang benar, bukan dengan
fakta atau realitas. Oleh karena itu, teori ini sejalan dengan paham idealism yang
dikembangkan Hegel, Braley, maupun Ford. Contohnya, pernyataan orang yang sederhaa,
kecil kemungkinan untuk berprilaku serakah maupun materialistic.

4[4] Ibid., 31.
5[5] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 32. Lihat Louis O. Kattsoff,
Pengantar Filsafat, Terjemahan (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1996), 183.
6[6]Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 32. Lihat Supriadi, Kebenaran
Ilmiah, 7.
7[7] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 32. Lihat Kattsoff, Pengantar
Filsafat, 181; Supriadi, Kebenaran Ilmiah, 7.
3. Teori Pragmatisme (Pragmatism Theory), yang beranggapan bahwa kebenaran itu tersimpul
pada aspek fungsional secara praktis. Segala sesuatu yang benar apabila memiliki asa
manfaat (utilitarian). Jadi, kebenaran itu menaruh perhatian dalam praktik. Mereka
memandang hidup manusia itu sebagai sesuatu perjuangan yang berlangsung terus-menerus,
yang di dalam terdapat konsekuensi-konsekuensi bersifat praktis. Kebenaran dikembangkan
menjadi pengertian yang dinamis, sambil berjalan kita membuat kebenaran, karena masalah-
masalah yang kita hadapi bersifat nisbi bagi kita.8[8]

2. Pengertian Metode dan Pendekatan
Istilah metode, secara etimologis berasal dari bahasa yunani meta yang berarti
sesudah yang kata hodos yang berarti jalan. Dengan demikian metode berarti langkah-
langkah yang diambil menurut urutan tertentu untuk mencapai pengetahuan yang telah
dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan apapun9[9]. Pengertian lain
metode ilmiah ilmiah adalah ialah prosedur yang digunakan oleh ilmuan dalam pencarian
sistematis terhadap pengetahuan baru dan peninjauan kembali terhadap pengetahuan yang
telah ada.10[10] Sedangkan dalam website wikipedia Metode ilmiah atau proses
ilmiah (bahasa Ingg ris: scientific method) merupakan proses keilmuan untuk
memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan
pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk
menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji
dengan melakukaneksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut
dapat menjadi suatu teori ilmiah.11[11] Menurut Kniler, metode ilmiah adalah struktur
rasional dari penyelidikan ilmiah yang hipotesisnya disusun dan di uji.12[12] Rosenblueth

8[8] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 33. Lihat Kattsoff, Pengantar
Filsafat, 130-131.
9[9] Zulfi Mubaraq , Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 36. Lihat Sri Suprapto,
Metode Ilmiah dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat, Filsafat Ilmu sebagai Dasar
Pengembangan Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Liberty,2003), 128.
10[10] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 37. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 42. Lihat The World Of Science And Encyclopedia, volume 17, 181.
11[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_ilmiah (diakses pada 21 September 2013)
12[12] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 37. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 43. Lihat George F. Kneller, Science as a Human Endeavor (New York:
Columbia University Press, 1978), 118
mengatakan metode ilmiah adalah prosedur dan ukuran yang dipakai oleh para ilmuan dalam
penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan yang khusus.13[13] Sedangkan Titus
berpendapat metode ilmiah ialah proses-proses dan langkah-langkah yang membuat ilmu-
ilmu menghasilkan pengetahuan.14[14] Adapun menurut The Liang Gie, metode merupakan
prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam melaksanakan suatu penelitian
ilmiah.15[15]
Istilah pendekatan secara Etimologi: pendekatan merupakan ancangan, penghampiran,
(dalam bukunya Eko Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia) , menurut kamus umum
Bahasa Indonesia, pendekata: hal (perbuatan, usaha) mendekati atau mendekatkan.
Pendekatan atau approach menurut Vernon van Dyke bahwa suatu pendekatan pada
prinsipnya adalah ukuran-ukuran untuk memlih masalah-masalah dan data-data yang
berkaitan satu sama lain.16[16]

Definisi lain pendekatan atau rancangan ilmiah merupakan
bentuk sistematis yang khusus dari seluruh pemikiran dan telaah reflektif.17[17]

Suatu
pendekatan dalam menelaah sesuatu, dapat dilakukan berdasarkan sudut pandang ataupun
tinjauan dari berbagai karakteristik maupun cabang ilmu, seperti antropologi, psikologi,
sejarah, geografi, ekonomi, politik, termasuk sosiologi. Jika pada cabang ilmu sosiologi maka
pola pendekatan yang digunakan ukuran-ukuran sosiologi untuk menentukan masalah,
pertanyaan penelitian maupun data yang akan ditelaah.

3. Macam-Macam Metode dan Pendekatan
Macam-Macam Metode

13[13]Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 37. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 43. Lihat Arturo Rosenblueth, Mind and Brain: A Philosophy of Science
(Canbridge: M.I.T Press, 1970), 1.
14[14]Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 37. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 43. Lihat Harold H. Titus, Living Issues in Philosophy: An Introductory
Textbook (New York: American Book, 1964), 527.
15[15] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 37. Lihat The Liang Gie,
Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 1999), 177.
16[16] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 33. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 41. Lihat Vernon Van Dyke, Polical Science: A Philosophical Analysis
(Pricenton: Van Nostrand, 1965:114).
17[17] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 33. Lihat Fred N.
Kerlinger, Azaz-azaz Penelitian Behavioral. Terjemahan (Yogyakarta: Gadjahmada University Press,
2000:18).
Dalam penelitian sosiologi, menurut Kahmad umumnya digunakan tiga bentuk
metode penelitian, Deskriftif, Komperatif, dan Eksperimental.18[18] Sedangkan menurut
Supardan, selain itu ada metode lain yaitun Eksplanatori, Fungsionalisme, Studi Kasus, Surve
dan Histori Komparatif.19[19]
1. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian tentang dunia empiris yang terjadi pada
masa sekarang. Tujuannya untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara
sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan antar fenomina
yang diselidiki.20[20] Menurut Pardan, metode yang digunakan berupa pengajaran atau
pelacakan pengetahuan dan dirancang untuk menemukan apa yang sedang terjadi, tentang
apa, siapa, kapan, dan dimana. Meted ini dituntut kehati-hatian dalam pengumpulan suatu
data atau fakta untuk mengambarkan beberapa hal yang diuraikan, seperti penggolongan,
praktik, maupun peristiwa yang tercakup didalamnya.21[21] Pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan pertanya-pertanyaan yang disusun melalui angket terhadap responden
untuk mengukur pendapat atau tanggapan public tentang sesuatu yang diteliti.
2. Metode komperatif adalah sejenis metode deskripsi yang ingin mencari jawaban yang
mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis factor-faktor penyebab terjadinya atau
munculnya suatu fenomina. Jangkauan waktunya adalah masa sekarang. Jika jangkauan
waktu terjadinya pada masa lampau maka penelitian tersebut disebut metode sejarah.22[22]
3. Metode Eksperimental adalah suatu metode pengujian terhadap suatu teori yang telah mapan
dengan suatu perlakuan baru. Pengujian dari suatu teori dari ilmuan yang telah dibuktikan
oleh beberapa kali pengujian bisa memperkuat atau memperlemah teori tersebut. Tetapi

18[18] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 37. Lihat Khamad,
Sosiologi Agama, 10.
19[19] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 38. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 91-93.
20[20] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 38. Lihat Kahmad,
Sosiologi Agama, 10.
21[21] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 38. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 91-92; David Popenoe, Sociology (New Jersey:Prentice-Hall, 1983), 28. Metta
Spencer & Inkeles Alex, Foundations of Modern Sosiology (New Jersey: Prentice-Hall, 1982), 32.
22[22] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 39. Lihat Kahmad,
Sosiologi Agama, 10.
apabila teori itu ternyata dapat dibuktikan oleh suatu eksperiman baru, maka teori tersebut
akan lebih menguat mungkin akan mencapai taraf hokum teori.23[23]
4. Metode eksplanatori adalah metode yang bersifat menjelaskan atas jawaban dari pertanyaan,
mengapa dan bagaimana sehingga lebih mendalam daripada metode deskriptif yang
hanya bertanya tentang apa siapa kapan dan dimana. Metode ini termasuk bagian dari metode
empiris.24[24]
5. Metode Historis komperatif adalah metode yang menekankan pada analisis atas peristiwa-
peristiwa masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum, yang kemudian digabungkan
dengan metode komperatif, dengan menitikberatkan pada perbandingan antara beberapa
masyarakat besrta bidangnya agar memperoleh pola persamaan, perbedaan dan sebab-
sebabnya. Dengan demikian dapat dicari petunjuk perilaku kehidupan masyarakat pada masa
silam dan sekarang, serta perbedaan tingkat peradaban satu sama lain.25[25]
6. Metode fungsionalisme adalah metode yang bertujuan untuk meneliti fungsi lembaga-
lembaga kemasyarakatan dan struktur social dalam masyarakat. Metode ini berpendirian
pokok bahwa unsur-unsur yang membentuk masyarakat memiliki hubungan timbal balik
yang saling mempengaruhi, masing-masing memiliki fungsi tersendiri terhadap
masyarakat.26[26]
7. Metode studi kasus adalah metode yang merupakan suatu penyelidikan mendalam dari diri
individu, kelompok, atau institusi untuk menentukan variable itu dan hubungannya diantara
variable yang mempengaruhi status atau perilaku yang saat itu menjadi pokok kajian.27[27]
Dengan demikian peneliti mampu mengungkap keunikan-keunikan dan menelaah hubungan-
hubungan antara variabel yang mempengaruhi status atau perilaku yang dikaji.

23[23] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 39. Lihat Kahmad,
Sosiologi Agama, 10.
24[24] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 39. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 92.
25[25] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 39. Ibid. Lihat Peponoe,
Sosiology, 28.
26[26] Zulfi Mubaraq,, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 40. Lihat Supardan,
Pengantar Ilmu Sosial, 93; Soekanto, Sosiologi, 38.
27[27] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 39. Lihat Jack R. Fraenkel
& Norman F Wallen, How to Design and Evaluate Research in Education (New York: McGraw-Hill,
1993), 548.
8. Metode survei adalah metode yang berusaha untuk memperoleh data dari anggota populasi
yang relative besar untuk menentukan keadaan, karakteristik, pendapat dan populasi
sekarang yang berkenaan dengan satu variabel atau lebih.28[28]


Macam-Macam Pendekatan
Ada dua pendekatan penting dalam penelitian agama yaitu Pendekatan Teologis dan
Pendekatan Keilmuan.
1. Pendekatan Teologis, yaitu pendekatan kewahyuan atau keyakinan peneliti sendiri.
Pendekatan ini dilakukan dalam penelitian suatu agama untuk kepentingan agama yang
diyakini oleh peneliti untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang
dipeluknya dan suatu pendapat atau mazhab sehingga penuh dengan subvektifitas dari
peneliti, sarat dengan muatan kepentingan, keyakinan dan prasangka peneliti, yaitu dilakukan
oleh ulama dan, pendeta para rahib, seperti penelitian ahli ilmu kalam, ahli tafsir, usul fiqih,
ulum al-hadist.29[29] Kalau ilmu ketuhanan (teologi) mempelajari agama dan masyarakat
agama dari kacamata supraempiris (menurut kehendak Tuhan), maka sosiologi agama
mempelajari dari sudut empiris-sosiologis.30[30]
2. Pendekatan Keilmuan, yaitu pendekatan yang menggunakan metodologi ilmiah dengan
prosedur ilmiah, sistematis atau runtut dalam cara kerjanya, empiris dari dunia bukan dari
pemikiran atau angan-angan, objektif atau sesuai dengan fakta tidak bias oleh keyakian dan
prasangka peneliti.31[31]
Sedangkan dari sisi keilmuan, ada dua bidang dalam penelitian agama, yaitu ilmu
budaya dan ilmu sosial.
1. Bidang ilmu budaya adalah segala hasil pemikiran manusia yang mencakup buku-buku
maupun tradisi lisan yang diturunkan melalui pewarisan dari generasi ke generasi. Bidang
yang termasuk dalam ilmu budaya: filsafat, agama, teologi, hukum, kesenian, sejarah, filologi
dan kesusasteraan.32[32]

28[28] Ibid, 41.
29[29] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), 87.
30[30] Ishomuddin, Pengantar Sosiologi Agama, (Jakarta: PT Galia Indonesia, 2002), 24.
31[31] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), 88.
32[32] Ibid, 88.
2. Bidang ilmu sosial adalah keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam masyarakat pemeluk
agama sebagai akibat dari interaksi antar anggota atau antar masyarakat pemeluk agama lain,
dalam kondisi masyarakat statis maupun proses. Bidang ilmu yang termasuk dalam ilmu:
antropologi, sosiologi, psikologi, komunikasi, ekonomi, politik dan sejarah.33[33]
Dibawah ini adalah contoh penelitian agama dengan pendekatan ilmu sosial atau
sosiologi:34[34]
1. Pendekatan Sosiologis, ialah pendekatan tentang interelasi antara agama dengan masyarakat
serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi diantara mereka. Dorongan, gagasan, lembaga
agama, kekuatan sosial organisasi dan stratifikasi sosial mempengaruhi masyarakat.
2. Pendekatan Antropologis, yaitu pendekatan kebudayan; artinya agama dipandang sebagai
bagian dari kebudayaan, baik wujud ide maupun gagasan dianggap sebagai sistem norma dan
nilai yang dimiliki oleh anggota masyarakat, yang mengikat seluruh anggota masyarakat.
Sistem budaya agama itu memberikan pola kepada seluruh tingkah laku anggota masyarakat,
dan melahirkan hasil karya keagamaan yang berupa karya fisik, dari bangunan tempat ibadah
seperti masjid, gereja, pura dan klenteng, sampai alat upacara yang sangat sederhana seperti
hioh, tasbeh, atau kancing baju.
3. Pendekatan Psikologis, yaitu studi ilmiah mengenai agama ditinjau dari perspektif
psikologis. Wilayah kajian utama yang mennjadi bahan pendekatan ini adalah pengalaman
religius dari kelompok individu atau sosial. Kajian mendalam terhadap motivasi beragama
dan latar belakang keberagaman manusia secara individual atau komunal. Dalam penelitian
psikologi ini, para peneliti mencari makna agama dalam setting psikologis, yaitu bagaimana
keadaan hati manusia beragama yang terefleksikan kedalam tingkah laku keagamaan atau
tingkah laku yang bukan agama.
4. Pendekatan Historis atau Kesejarahan. Pendekatan ini menganut pandangan bahwa suatu
fenomena religius bisa dipahami dengan mencoba menganalisis perkembangan segi
historisnya. Dengan memperhatikan perkembangan prinsip-prinsip umum dari tingkah laku
religius dan menghubungkan dengan kejadian-kejadian khusus dan tertentu, muncullah pola-
pola kejadian yang menghasilkan prinsip-prinsip umum dari keagamaan tadi. Sejarah atau
perjalanan hidup suatu agama di suatu daerah banyak meniggalkan beberapa barang-barang
suci, seperti sekumpulan teks-teks suci dan artefak (peniggalan benda-benda padat) yang
berkaitan dengan keberagaman agama tersebut. Dengan metode sejarah, benda-benda

33[33] Ibid, 89.
34[34] Zulfi Mubaraq, Sisiologi Agama, (Malang: UIN Maliki press,2010), 34-36.
peninggalan tadi dapat diketahuiarti dan maknanya, mengapa dan bagaimana keduanya saling
berkaitan dengan latar belakang ajaran agama dan budaya yang melahirkannya.
5. Pendekatan Fenomologis, yaitu pendekatan yang menggunakan perbandingan sebagai sarana
interpretasi yang utama untuk memahami arti dari ekspresi-ekspresi keagamaan, seperti
persembahan, upacara agama, makhluk gaib, dan lain-lain. Asumsi dasar dari pendekatan ini
bahwa bentuk luar dari ungkapan manusia mempunyai pola atau konfigurasi kehidupan
dalam yang teratur, yang dapat dilukiskan kerangkanya dengan menggunakan metode
fenomologi. Pendekatan ini mencoba menemukan struktur yang mendasari fakta keagamaan
dan memahami makna yang lebih dalam, sebagaimana dimanifestasikan lewat struktur
tersebut dengan hukum-hukum dan pengertian yang khas. Tujuan dari metode fenomologi ini
adalah untuk menangkap makna lebih dalam dan intensonalitas dari data religius orang lain
yang merupakan ekspresi-ekspresi dari pengalaman religius dan imannya yang lebih dalam.
Metode ini mengungkap wilayah spiritual dan intelektual manusia, meskipun disadari batas-
batasnya dalam tugas memasuki kedalaman pengalaman dari suatu jiwa religius.35[35]


4. Penggunaan Metode Dan Pendekatan Dalam Sosiologi Agama36[36]
Dalam usaha mengumpulan data yang dapat menghasilkan temuan-temuan baru
dalam sosiologi, para ahli sosiologi perlu memperhatikan tahap-tahap penelitian, yang saling
berkaitan secara erat. Sebelum memulai suatu usaha penelitian seorang ahli terlebih dahulu
harus melakukan tinjauan terhadap bahan-bahan pustaka agar dapat mengetahui temuan-
temuan yang sebelumnya.
Setelah pertanyaan penelitian dirumuskan, peneliti harus menentukan metode
penelitian yang akan digunakannya. Dalam ilmu-ilmu sosial dikenal sebagai metode
pengumpulan data, seperti metode survei dan beberapa metode nonsurvei, seperti metode
riwayat hidup, studi kasus, analisis isi, kajian data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain,
dan eksperimen.
Dalam penelitian survei hal yang hendak diketahui peneliti dituangkan dalam suatu
daftar pertanyaan buku. Tehknik survei mengandung persamaan dengan sensus; namaun pada
sensus yang menjadi subjek wawancara adalah seluruh populasi sedangkan dalam tehnik

35[35] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), 87.
36[36] Kumanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia, 2004) , 242-244.
surveu daftar pertanyaan diajuakan dalam sebuah subjek penelitian yang dianggap populasi.
Para subjek penelitian merupakan contoh yang ditarik populasi. Contoh dipilih secara acak
atau dengan tehnik penarikan contoh lain.
Pengamatan merupakan suatu metode penelitian dimana peneliti mengamati secara
langsung perilaku para subjek penelitiannya dan merekam perilaku yang wajar, asli, tidak
dibuat-buat, spontan dalam kurun waktu relatif lama sehingga terkumpul data yang bersifat
mendalam dan rinci. Dalam sosiologi dibedakan antara penelitian dimana pengamat (1)
sepenuhnya terlibat (2) berperan sebagai pengamat (3) berperan sebagai peserta, atau (4)
sepenuhnya melakukan pengamatan tanpa keterlibatan apapun dengan subjek penelitian.
Salah satu kelebihan terlibat bila dibandingkan dengan survei ialah bahwa pengamatan
terlibat lebih memungkinkan terjalinnya hubungan dekat (rapport) antara peneliti dengan
subjek penelitiannya.
Riwayat hidup merupakan suatu tehknik pengumpulan data untuk mengungkapkan
pengalaman subyektif dengan tujuan pengungkapan data baru. Dalam penelitian dengan
memakai tehknik studi kasus berbagai segi kehidupan sosial suatu kelompok sosial
menyeluruh.
Suatu masalah penelitian dapat pula diungkapkan dengan jalan menganalisis isi
berbagai dokumen seprti surat kabar, majalah, dokumen resmi maupun naskah di bidang seni
dan sastra. Suatu penelitian dapat pula dilakukan dengan mengkaji data yang telah
dikumpulkan oleh pihak lain: misalnya oleh berbagai instansi pemerintah serta piahk swasta,
ataupun oleh peneliti lain.
Meskipun tehnik eksperimen lebih banyak dijumpai dalam ilmu sosial lain seperti
psikologi, namun dalam hal tertentu kita pun menjumpai eksperimen dalam sosiologi. Dalam
penelitian sosial sering dibedakan antara penelitian kuantitatif dan kwalitatif. Penelitian-
penelitian kualitatif merupakan penekitian yang mengutamakan segi kualitas data dengan
menggunakan tehnik pengamatan dan wawancara mendalam.
Dalam pencarian maupun pemanfaatan ilmiah seorang ilmuan harus menghormati
aturan etika, seperti keikutsertaan serta sukarela, tidak membawa cidera bagi para subjek
penelitian, atas azas anonimitas dan kerahasiaan, tidak memberikan keterangan yang keliru,
dan menyajikan data penelitian secara jujur.
Analisis data kuantitatif dinamakan univariat bila mana yang dipelajari hanya satu
gejala, bivariat bila yang ingin diketahui ialah hubungan antara dua gejala, dan multivariat
bila yang diteliti ialah hubungan antara lebih dari dua gejala. Analisis data univaruat hanya
memungkinkan dilakukannya diskripsi, sedangkan analisis data bivariat dan multivariat
memungkinkan peneliti untuk melakukan pula penjelasan sebab-akibat.
Dalam penelitian kualitatif mempelajari catatan penelitian lapangan, yang secara rinci
memeuat hasil wawancara mendalam dan pengamatannya. Analisis data kualitatif
berlangsung terus menerus semenjak penliti mulai memasuki lapangan dan arah penelitian
dapat berubah sesuai hasil analisis dilapangan.
Metode penelitian yang dipergukan ahli sosiologi sering terkait dengan teori
paradigma sosiolagi yang dianutnya. Menurut Ritzer masalah apa yang akan diteliti seorang
peneliti, pertanyaan penelitian yang akan diajukannya, caranya menajukan pertanyaan
penelitian, dan aturan yang diikutinya dalam menafsirkan temuan penelitiannya ditentukan
oleh paradigma yang dianutnya.
Menurut Ritzer sosiologi merupakan suatu ilmu yang berparadigma majemuk kerena
mempunyai tiga peradigma yaitu (1) paradigma fakta sosial (2) paradigma definisi sosial dan
(3) paradigma perilaku sosial. Menurutnya ketiga padigma tersebut dibedakan satu dengan
yang lain dalam tiga hal: (1) eksemplar (acuan atau contah yang dijadikan teladan), (2) teori
dan (3) metode.


C. ANALISIS dan DISKUSI
1. Analisis
Pendekatan merupakan merupakan suatu rancangan ilmiah yang terbentuk secara
sistematis dari sebuah pemikiran yang reflektif, sedangkan metode dalam sosiologi agama
merupakan suatu tata cara atau siasat untuk mengkaji masyarakat agama yang pada
notabeninya terdiri dari beraneka macam budaya masyarakatnya.
Hal ini dalam melakukan sebuah penelitian tidak hanya terpaku pada satu atau dua
metode saja, melainkan seorang peneliti dianjurkan bisa menggunakan beberapa metode
seperti yang disebutkan oleh Kahmad bahwasanya metode terdiri dari, metode deskriptif,
metode komperatif, metode eksperimental.
Sedangkan menurut Sukardan metode terdiri dari, metode eksperimental, metode
fungsionalisme, metode histori komperatif, metode studi kasus, metode survei. Dari sekian
metode yang disebutkan diatas seorang peneliti mampu mengaktualisasikan terhadap objek
penelitiannya, baik dari kuantitatif maupun kualitatif.
Demikian pula peneliti juga disoroti secara berturut turut struktur dan fungsinya
pengaruhnya terhadap masyarakat luas spesifikasinya masyarakat agama, dan atas stratifikasi
sosial khususnya, Teristimewa mengingat kesadaran dan kohesi kelompok religius yang
mempunyai sifat tersendiri.
Sebagaimana telah kita lihat, maka, seperti itu juga ilmu-ilmu pengetahuan lainnya,
sosiologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang lahir dan tumbuh berkembang, perlu
diadakannya kegiatan yang dinamakan penelitian sosial. Melalui penelitian sosial para ahli
mengumpulkan data yang dapat menambah pengetahuan kita mengenai sasaran perhatian
mereka, yaiyu msyarakat; melalui penelitian sosial para ahli sosiologi menemukan fakta baru
yang memperluas cakrawala serta memperdalam pemahaman kita sehingga merupakan
sumbangan kearah sosiologi.




2. Diskusi


D. KESIMPULAN
Sosiologi agama adalah kajian ilmiah tentang masyarakat agama, para ahli sosiologi
berusaha mengadakan penelitian yang mendalam tentang hakikat dan sebab-sebab dari
berbagai pola fikiran manusia secara berulang. Sebagai suatu usaha analisis yang
menggunakan metode kajian ilmiah, sosiolog juga dituntut untuk menggunakan pendekatan
yang bersifat empiris sebagai persyaratan ilmiah.
Pendekatan atau rancangan ilmiah merupakan bentuk sistematis yang khusus dari seluruh
pemikiran dan telaah reflektif. Suatu pendekatan pada prinsipnya ukuran-ukuran untuk
memilih masalah-masalah dan data-data yang berkaitan antara satu sama lain.
Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud,
dalam artian cara menyelidiki. Metode ilmiah ialah prosedur yang digunakan oleh ilmuan
dalam pencarian sistematis terhadap pengetahuan baru dan peninjauan kembali terhadap
pengetahuan yang telah ada.
Sebagaimana yang telah dijelaskan mengenai metode dan pendekatan sosiologi agama di
atas, maka objek material sosiologi agama adalah masyarakat agama. Seperti masyarakat
non-agama umumnya, masyarakat agama terdiri atas komponen-komponen konstitutif,
seperti kelompok-kelompok keagamaan, institusi-institusi religious yang mempunyai ciri
pola tingkah laku tersendiri, baik ke dalam maupun ke luar, menurut norma-norma dan
peraturan-peraturan yang ditentukan oleh agama. Metode dan pendekatan ilmiah tersebut
berguna dalam upaya untuk mencapai sebuah kebenaran.


DAFTAR RUJUKAN

Mubaraq, Zulfi. 2010. Sisiologi Agama. Malang: UIN Maliki Press.
Kahmad, Dadang.2009 Sosiologi Agama. Bandung:Remaja Rosdakarya.
Sunarto, Kumanto 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_ilmiah (diakses pada 21 September 2013).
Wrong , Dennis. 2003. Max Weber Sebuah Khazanah, Yogyakarta: Ikon Teralitera.

Anda mungkin juga menyukai