Anda di halaman 1dari 23

PRAKTIKUM 1

SEDIMENTASI

I. TUJUAN
Tujuan dari percobaan sedimentasi ini adalah
1. Mengetahui Settling Velocity dari percobaan sedimentasi yang telah
dilakukan, yaitu berdasarkan grafik perbandingan waktu (t) dan tinggi
endapan (z).
2. Mengetahui densitas masing-masing variabel.
3. Mengetahui perubahan ketinggian endapan tiap waktu untuk masing-
masing variabel konsentrasi.

II. DASAR TEORI
` Sedimentasi merupakan salah satu bagian dari proses pemisahan
yang didasarkan atas gerakan partikel zat padat melalui fluida akibat adanya
gaya gavitasi. Kecepatan sedimentasi dapat bertambah dengan adanya
flokulan. Efek flokulasi yang menyeluruh adalah menciptakan penggabungan
partikel-partikel halus menjadi partikel yang lebih besar sehingga dengan
mudah dapat diendapkan. Penggabungan antara partikel-partikel yang dapat
terjadi apabila ada kontak antara partikel tersebut. Kontak partikel dapat
terjadi dengan cara-cara berikut (Mustafa, 2010) :
1. Kontak yang disebabkan oleh gerak Brown (gerak acak partikel koloid
dalam medium pendispersi)
2. Kontak yang disebabkan atau dihasilkan oleh gerakan cairan itu sendiri
akibat adanya pengadukan.

Dalam filtrasi partikel zat padat dipisahkan dari slurry dengan
kekuatan fluida yang berada pada medium filter yang akan menghalangi laju
lintas partikel zat padat. Dalam proses pengendapan dan proses sedimentasi
partikel dipisahkan dari pengendapan fluida oleh gaya aksi gravitasi partikel.
Pada beberapa proses, pemisahan serta sedimentasi partikel dan pengendapan
bertujuan untuk memisahkan partikel dari fluida sehingga fluida bebas dari
konsentrasi partikel (Geankoplis, 1983 : 816).
Selama proses berlangsung terdapat tiga gaya yang mempengaruhi
proses, yaitu:
1. Gaya Gravitasi
Gaya ini terjadi apabila berat jenis larutan lebih kecil dari berat
jenis partikel, sehingga partikel lain lebih cepat mengendap. Gaya ini
bisa dilihat pada saat terjadi endapan. Pada kondisi ini, sangat
dipengaruhi oleh hokum 2 Newton, yaitu:
Fg = m . g
= s x
2. Gaya Apung
Gaya ini terjadi jika massa jenis partikel lebih kecil dari pada
massa jenis fluida sehingga fluida berada pada permukaan cairan.
=
x x


3. Gaya Dorong
Gaya ini terjadi pada saat larutan dipompakan kedalam tabung
klarifier. Gaya dorong juga dapat dilihat pada saat mulai turunnya
partikel padatan karena adanya gaya gravitasi, maka fluida akan
memberikan gaya yang besarnya sama dengan berat padatan itu
sendiri.
Fd =
x -


Dari ketiga gaya diatas diturunkan suatu laju pengendapan menurun
yaitu:
Fd =
x

(- )


(Tim Dosen Praktikum, 2014)

Sedimentasi bisa berlangsung secara batch, semi batch dan kontinyu :
1. Sedimentasi Batch
Sedimentasi ini merupakan salah satu cara yang paling ekonomis
untuk memisahkan padatan dari suatu suspensi, bubur atau slurry. Hingga
saat ini, proses batch lebih banyak digunakan oleh kalangan industri. Operasi
ini banyak digunakan pada proses-proses untuk mengurangi polusi dari
limbah industri. Proses sedimentasi batch merupakan proses yang mudah
dilakukan.
Mekanisme sedimentasi secara batch disajikan pada gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan slurry awal yang memiliki konsentrasi seragam
dengan partikel padatan yang seragam di dalam tabung (zona B). Partikel
mulai mengendap dan diasumsikan mencapai kecepatan maksimum dengan
cepat. Zona D yang terbentuk terdiri dari partikel lebih berat sehingga lebih
cepat mengendap. Pada zona transisi, fluida mengalir ke atas karena tekanan
dari zona D. Zona C adalah daerah dengan distribusi ukuran yang berbeda-
beda dan konsentrasi tidak seragam. Zona B adalah daerah konsentrasi
seragam, dengan komsentrasi dan distribusi sama dengan keadaan awal. Di
atas zona B, adalah zona A yang merupakan cairan bening. Selama
sedimentasi berlangsung, tinggi masing-masing zona berubah (gambar 1b, 1c,
1d). Zona A dan D bertambah, sedang zona B berkurang. Akhirnya zona B, C
dan transisi hilang, semua padatan berada di zona D. Saat ini disebut critical
settling point, yaitu saat terbentuknya batas tunggal antara cairan bening dan
endapan.

Gambar 1.1 Mekanisme Sedimentasi Batch
2. Sedimentasi Semi Batch
Pada sedimentasi semi-batch, hanya terdapat cairan keluar atau
masuk saja. Jadi, kemungkinan hanya ada slurry yang masuk atau beningan
yang keluar. Proses sedimentasi semi batch disajikan pada gambar 2.
Keterangan :
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan







Gambar 2. Proses Sedimentasi Semi-Batch

3. Sedimentasi Kontinu
Pada proses ini terdapat slurry yang masuk dan cairan bening yang
keluar pada saat yang bersamaan. Saat kondisi steady state, maka ketinggian
cairan akan selalu tetap. Proses sedimentasi disajikan dengan gambar berikut :
Keterangan:
A = Cairan bening
B = Zona konsentrasi seragam
C = Zona ukuran butir tidak seragam
D = Zona partikel padat terendapkan
Gambar 1.3 Mekanisme Proses Sedimentasi Kontinyu

Proses sedimentasi dapat dikelompokkan dalam tiga klasifikasi,
bergantung dari sifat padatan di dalam suspensi:
1. Discrete (free settling)
Pengendapan dari partikel-partikel discrete adalah dipegaruhi oleh
gravitasi dan gaya geser.
2. Flocculent
Kecepatan pengadukan dari partikel-partikel meningkat, dengan
setelah adanya penggabungan diantaranya.
3. Hindered/Zone settling
Kecepatan pengendapan dari partikel-partikel di dalam suspensi
dengan konsentrasi padatan melebihi 500 mg/l.






















(d) (f)

(e)

III. PROSEDUR KERJA
1. Alat















Gambar 1.4 Alat Praktikum sedimentasi : (a) Piknometer, (b) Botol
timbang, (c) Termometer, (d) Gelas ukur 100 mL, (e) Kaca Arloji, (f)
Spatula, (g) NeracaDigital, (h) Saringan 150 mesh
2. Bahan
a. Pasir
b. Bentonit
c. Air


(a)

(c)

(b)

(g)



(h)



3. Cara Kerja
a. Sedimentasi pada partikel pasir A (Pasir Halus, <150mesh)









Gambar 1.5 Skema Kerja Sedimentasi Pada Larutan Pasir A
b. Sedimentasi Pada Partikel Pasir B (Pasir Kasar, >150mesh)








Menyiapkan larutan pasir A dengan
ukuran <150 mesh dengan konsentrasi
5gr/100mL dan 7gr/100mL dalam gelas
ukur 100 ml
Mengocok dan mengamati
pengendapannya selama 3 detik pada
masing-masing larutan
Mencatat tinggi pengendapan
Mengkur densitas masing-masing
larutan
Menyiapkan larutan pasir B dengan
ukuran >150 mess dengan konsentrasi
5gr/100mL dan 7gr/100mL dalam gelas
ukur 100 ml
Mengocok dan mengamati
pengendapannya selama 5 detik pada
masing-masing larutan
Mencatat tinggi pengendapan
Mengkur densitas masing-masing
larutan

Gambar 1.6 Skema Kerja Sedimentasi Pada Larutan pasir B
c. Skema Kerja Sedimentasi Pada Larutan Bentonit (5gr/100 mL
dan 7gr/100 mL)










Gambar 1.7 Skema Kerja Sedimentasi Pada Larutan
Bentonit








Menyiapkan larutan bentonit dengan
dengan konsentrasi 5gr/100mL dan
7gr/100mL dalam gelas ukur 100 ml
Mengocok dan mengamati
pengendapannya selama 5 detik pada
masing-masing larutan
Mencatat tinggi pengendapan
Mengkur densitas masing-masing
larutan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Data Pengamatan
Data Pengamatan Pengukuran
Suhu Ruangan : 30
o
C
Suhu Air : 27
o
C
Pengukuran dengan Neraca Analitik
Berat Piknometer : 10,77 gram
Berat Pikno + Air : 21,09 gram

air
=


= 1, 032 gram/mL
Berat Botol timbang + Air : 64,47 gram
a. Menghitung Densitas air
Berat pikno = 10,77 gr
Berat pikno + air = 21,09 gr

b. Menghitung masa jenis



c. Menghitung densitas pasir
Berat botol timbang = 28,17 gr
Berat botol timbang + air = 64,47 gr
Volume botol timbang = (64,45-28.17)/1,032
= 35,17 ml
Berat Pasir A + botol timbang = 84,4 gr


= 1,59 gr/ml (Densitas pasir A)
d. Berat pasir B + botol timbang = 83, 06 gr


= 1,56 gr/ml (Densitas Pasir B)
e. Menghitung densitas Bentonit
Berat bentonit + botol timbang = 65,45 gr


= 1,059 gr/ml (Densitas Bentonit)

























Tabel 1.1 Pengamatan Ketinggian Endapan Partikel Pasir dalam Air
a. Pengamatan tinggi endapan partikel pasir A (<150 mesh) 5gr/100ml per 3
detik











b. Pengamatan tinggi endapan partikel partikel pasir A (<150 mesh)
7gr/100ml per 3 detik
Waktu
(sekon)
Ketinggian
(mm)
3 2
6 3
9 5
12 7
15 8
18 9
21 9,5
24 9,75
42 11
60 12
63 12
66 12
waktu
(s)
Ketinggian
(mm)
3 2
6 3
9 4
12 5
15 6
18 7
21 8
24 8,5
27 9
30 9,5
33 9,55
57 10
172 10,5
180 11
183 11
186 11
192 11

c. Pengamatan tinggi endapan partikel pasir B (>150 mesh) 5gr/100ml per 3
detik







d. Pengamatan tinggi endapan partikel pasir B (>150 mesh) 7gr/100mL per 3
detik
Waktu
(sekon)
Ketinggian
(mm)
3 12
6 13
9 14
12 14

e. Pengamatan tinggi endapan partikel Bentonit 5gr/100mL per 3 detik
Waktu
(sekon)
Ketinggian
(mm)
3 2
6 3
9 4
12 5
15 6
18 7
21 8
24 9
27 9,5
48 11
72 12
99 15
144 20
225 24
Waktu
(sekon)
Ketinggian
(mm)
3 5
6 8
9 9
12 9
15 9,25
18 9,5
21 9,5
24 9,5
228 24
231 24

f. Pengamatan tinggi endapan partikel Bentonit 7gr/100mL per 3 detik
Waktu
(s)
Ketinggian
(mm)
3 2
6 3
9 4
15 6,5
24 9
27 9,5
30 10
60 15
63 15,25
78 26
90 29,5
232 30
235 30
238 30























2. Analisa Data

a) Grafik Pengaruh Konsentrasi Pada masing-masing Bahan


Gambar 1.8 Grafik Perbandingan Ketinggian Pengendapan per Waktu
pada masing- masing Konsentrasi pada Larutan Pasir A


Gambar 1.9 Grafik Perbandingan Ketinggian Pengendapan per Waktu
pada masing- masing Konsentrasi Larutan Pasir B
y = 0.0289x + 6.0173
y = 0.1208x + 4.8439
0
2
4
6
8
10
12
14
0 50 100 150 200 250
Z

(
m
m
)

Time (sekon)
T vs Z Larutan Pasir 5gr/100 mL dan 7
gr/100mL
Pasir 5gr/100 mL
Pasir 7gr/100 mL
y = 0.1617x + 6.4107
y = 0.1667x + 11.9
0
2
4
6
8
10
12
14
16
0 5 10 15 20 25 30
Z

(
m
m
)

Time (sekon)
T vs Z Larutan pasir B 5gr/100 mL dan 7gr/100
mL
Pasir 5 gr/100 mL
Pasir 7 gr/100 mL

Gambar 1.10 Grafik Perbandingan Ketinggian Pengendapan per Waktu
pada masing- masing Konsentrasi Larutan Bentonit
b) Grafik Pengaruh Perbedaan Jenis Partikel pada Masing- Masing
Konsentrasi


Gambar 1.11 Grafik Perbandingan Ketinggian Pengendapan pada per
Waktu Masing- Masing Jenis Partikel pada Konsentrasi 5 gr/100 mL
y = 0.1097x + 6.9721
y = 0.0841x + 5.0988
0
5
10
15
20
25
30
35
0 100 200 300
Z

(
m
m
)

Time (sekon)
T vs Z pada Bentonit 5gr/100mL dan 7gr/100mL
Bentonit
5gr/100mL
Bentonit
7gr/100mL
y = 0.0289x + 6.0173 y = 0.1617x + 6.4107
y = 0.1097x + 6.9721
0
5
10
15
20
25
30
35
0 50 100 150 200 250
Z

(
m
m
)

Time (sekon)
T vs Z partikel pada Konsentrasi 5gr/100mL
Pasir A 5gr/100mL
Pasir B 5gr/100mL
Bentonit 5gr/100mL

Gambar 1.12 Grafik Perbandingan Ketinggian Pengendapan pada per
Waktu Masing- Masing Jenis Partikel pada Konsentrasi 7 gr/L.
c) Grafik Perbedaan Ukuran Partikel pada Masing- Masing Bahan
pada Masing- Masing Konsentrasi


Gambar 1.13 Grafik Perbandingan Ketinggian Pengendapan per Waktu
pada masing- masing Konsentrasi pada Larutan Pasir A dan Pasir B
konsentrasi 5gr/100 mL


y = 0.1208x + 4.8439
y = 0.1667x + 11.9
y = 0.0841x + 5.0988
0
5
10
15
20
25
30
0 50 100 150 200 250 300
Z

(
m
m
)

Time (sekon)
T vs Z Partikel pada konsentrasi 7gr/100mL
Pasir A 7gr/100mL
Pasir B 7gr/100mL
Bentonit 7gr/100mL
y = 0.0289x + 6.0173
y = 0.1617x + 6.4107
0
2
4
6
8
10
12
14
0 50 100 150 200 250
Z

(
m
m
)

Time (sekon)
T vs Z pada Pasir A&B 5gr/100mL
Pasir A 5gr/100mL
Pasir B 5gr/100mL

Gambar 1.14 Grafik Perbandingan Ketinggian Pengendapan per Waktu
pada masing- masing Konsentrasi pada Larutan Pasir A dan Pasir B
dengan konsentrasi masing-masing 7gr/100 mL














y = 0.1208x + 4.8439
y = 0.1667x + 11.9
0
2
4
6
8
10
12
14
16
0 20 40 60 80
Z

(
m
m
)

Time (sekon)
T vs Z pada Konsentrasi Partikel 7gr/100mL
Pasir A
7gr/100mL
Pasir B
7gr/100mL
3. Pembahasan
Praktikum sedimentasi tersebut bertujuan untuk mengukur ketinggian
endapan suatu larutan sehingga dapat diketahui kecepatan suatu pengendapan
(settling velocity). Dengan menggunakan suatu partikel padat yang dilarutkan
dalam suatu fluida didapatkan perubahan ketinggian endapan masing-masing
variabel dengan masing-masing konsentrasi yang berbeda, ukuran partikel yang
berbeda serta jenis partikel yang berbeda. Dari perubahan ketinggian endapan
masing-masing variabel dalam rentang waktu tertentu dapat dihitung kecepatan
pengendapan melalui perhitungan slope garis singgung pada grafik perubahan
ketinggian terhadap waktu pengendapan.
Metode awal yang dilakukan yaitu mengukur densitas masing-masing
variabel dengan mengukur berat piknometer dan juga botol timbang, berat air,
berat pasir A (untuk ukuran pasir < diameter screener 150 mesh), berat pasir B
(Untuk ukuran pasir > diameter screener 150 mesh), berat bentonit, berat larutan
pasir A pada masing-masing konsentrasi (5gr/100mL, 7gr/100mL), berat larutan
pasir B pada masing-masing konsentrasi (5gr/100mL, 7gr/100mL), dan berat
larutan bentonit pada masing-masing konsentrasi (5gr/100mL, 7gr/100mL).
Suhu dan tekanan memiliki pengaruh terhadap pengukuran densitas suatu
materi. Didapatkan suhu ruang pada waktu tersebut sebesar 30
o
Celcius. Dari data
pengamatan dapat diketahui bahwa, pada temperature ruangan 30
o
didapatkan
berat jenis (densitas) masing-masing variabel sebesar 1,59 gr/ml (Densitas pasir
A), 1,56 gr/ml (Densitas Pasir B), dan 1,059 gr/ml (Densitas Bentonit).
Proses pengendapan tersebut yaitu dengan proses batch. Mekanisme
sedimentasinya secara proses batch adalah sebagai berikut. Pada awalnya partikel
pasir maupun bentonit dengan konsentrasi tertentu partikelnya mulai mengendap
dan diasumsikan mencapai kecepatan maksimum dengan cepat pada awal- awal
waktu pengendapan, zona paling bawah yang terbentuk terdiri dari partikel pasir
dan bentonit yang lebih berat sehingga cepat mengendap. Lalu pada zona transisi,
air mengalir ke atas karena tekanan dari zona paling bawah. Lalu zona diatasnya
adalah daerah dengan distribusi ukuran pasir dan bentonit yang tidak seragam
kemudian zona daerah seragam. Lalu dipaling atas merupakan cairan bening. Hal
itu sesuai dengan teori seperti digambarkan pada Gambar 1.1
Massa partikel menyebabkan adanya gaya drag, gaya luar (External
Force), Gaya Apung (Buoyant Force), serta gaya Friksi/gaya gesekan partikel.
Gaya Luar timbul akibat massa dan percepatan gerak pengendapan partikel,
sedangkan agaya apung merupakan perlawanan yang diberikan cairan terhadap
partikel yang mengendap, dan gaya friksi/gaya gesekan partikel besarnya
tergantung pada tingkat kekasaran, ukuran, luas, bentuk dan kecepatan
pengendapan.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi proses sedimentasi antara lain
adalah ukuran partikel padat, densitas partikel padat, dan kekentalan fluida.
Faktor-faktor lain yang pengaruhnya relatif kecil antara lain adalah bentuk
partikel padat yang bisa berubah bentuk, persinggungan atau benturan antar
partikel padat untuk yang berkonsentrasi tinggi, kedekatan partikel padat terhadap
dinding kolam sedimentasi dan arus konveksi likuida (Haryati, 2010).
Dalam menentukan kecepatan pengendapan dapat ditentukan dengan
menentukan besarnya slope (dZ/dt) dari grafik hubungan anatara waktu kecepatan
pengendapan versus ketinggian endapan dalam mm per detik. Pengukuran
kecepatan pengendapan didasarkan pada bertambahnya ketinggian endapan yang
terbentuk akibat aktivitas sedimentasi partikel. Pada gambar pengeplotan
grafik/kurva di atas merupakan hubungan perubahan ketinggian endapan (z) tiap
waktu (t).
Pada percobaan sedimentasi, jika data antara waktu pengendapan terhadap
tinggi pengendapan dibuat grafik, akan menghasilkan grafik seperti disajikan pada
Gambar 1.8 sampai 1.14. Kecepatan sedimentasi dari data percobaan dapat dicari
dengan persamaan :
v
1
=

-

(Geankoplis, 1993)
Percobaan dilakukan dengan variasi jenis partikel yang digunakan sebgaia
sampel dalam sedimentasi. Adapun sampel yang digunakan yaitu Pasir A
(diameter <150 mesh), Pasir B (diameter >150 mesh) dan Bentonit. Dari data
pengamatan percobaan, dapat digambarkan kurva tinggi permukaan endapan
terhadap waktu. Sehingga dari masing-masing kurva yang terbentuk dapat
diketahui slope ( kemiringan) dari data percobaan masing-masing. Slope yang
didapat dari kurva tersebut adalah settling velocity dari masing-masing proses
sedimentasi yang dilakukan pada setiap konsentrasinya. Sehingga kecepatan
sedimentasi setiap partikel bahan pada konsentrasi tertentu dapat dilihat melalui
persamaan gradien pada grafik seperti tercantum pada gambar 1.8 sampai dengan
grafik 1.14.
Berdasarkan grafik hubungan antara tinggi endapan dengan waktu
dapat terlihat jelas masing-masing settling velocity setiap partikel dengan
konsentrasi yang berbeda (Grafik 1.8 sampai dengan grafik 1.14). Pada
pengendapan bentonit seperti diplotkan pada grafik gambar 1.10 dapat dilihat
bahwa semakin besar konsentrasi maka semakin kecil kecepatan pengendapannya.
Hal ini terjadi karena pada konsentrasi yang lebih besar, jarak antar partikel padatan
pada slurry semakin kecil, akibatnya, gaya gesek antar partikel semakin besar,
sehingga memperlambat kecepatan partikel turun ke bawah.
Pada larutan pasir A 5gr/100mL memiliki settling velocity sebesar
0,00289 mm/sekon, Pasir B 5gr/100mL memiliki settling velocity 0,1617
mm/sekon dan Bentonit 5gr100mL sebesar 0,1097 mm/sekon.. Pasir A
7gr/100mL sebesar 0,1208 mm/sekon, pasir B 7gr/100mL sebesar 0,1667
mm/sekon dan bentonit 7gr/100mL sebesar 0,0841mm/sekon.
Diantara ketiga jenis partikel yang digunakan didapatkan kecepatan
sedimentasi tertinggi pada partikel Pasir B (7gr/100mL). Pasir B tersebut
mempunyai settling velocity sebesar 0,1667 mm/s (Gambar 1.9). Free settling
(pengendapan bebas) : merupakan tahap dimana kecepatan jatuhnya relative
konstan , kecepatan sedimentasi akan linier hingga waktu tertentu. Pada saat awal
sedimentasi pertikel yang jatuh dianggap hanya satu partikel, tidak dipengaruhi
oleh partikel lain. Free settling pada umumnya berlangsung di awal proses
sedimentasi dimana konsentrasi tumpukan partikel masih rendah sekali. Hal ini
disebabkan karena konsentrasi partikel yang besar yang ada pada fluida, sehingga
kecepatan mengendap lebih cepat (Mustafa,2010). Hal ini sesuai dengan
pernyataan Haryati (2010), partikel padat yang berbentuk bola atau mendekati
bola atau sebagai gumpalan akan lebih cepat mengendap apabila dibandingkan
dengan partikel yang berbentuk pipih atau jarum. Partikel yang diameternya
sangat kecil yaitu beberapa mikron akan mengendap sangat lambat.
Sedangkan berdasarkan pengamatan kecepatan pengendapan
terhadap perbedaan jenis partikel seperti dapat dilihat pada grafik gambar 1.8
sampai 1.14. Pada masing-masing variabel konsentrasi didapatkan hasil yang
sama yaitu kecepatan pengendapan tertinggi pada pasir B (>150 mesh) kemudian
pasir A (<150 mesh) lalu bentonit. Hal itu sesuai dengan perbandingan densitas
seperti dapat dilihat pada data pengamatan (1) serta perbandingan ukuran aprtikel
masing-masing partikel. Semakin besar ukuran partikel maka semakin besar pula
kecepatan pengendapannya.






















V. Simpulan dan Saran
A. Simpulan
1. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, semakin besar ukuran
partikel maka akan cenderung lebih cepat mengendap (dapat dilihat
juga dari grafik 1.8 sampai 1.14).
2. Dari grafik perbandingan antara waktu (sekon) dengan ketinggian
endapan (mm) menunjukan bahwa kecepatan pengendapan masing-
masing partikel semakin besar konsentrasi, semakin lama juga
waktu yang digunakan untuk mengendap.
3. Densitas berbanding lurus dengan kecepatan pengendapan.
Semakin besar densitasnya semakin besat pula kecepatan
pengendapannya.

B. Saran
1. Diameter penampang wadah endapan mempengaruhi kemudahan
dalam pengamatan ketinggian endapan. Semakin kecil luas
penampang wadah, semakin akurat dalam mengamati ketinggian
endapan.
2. Pengocokan dalam pencampuran (pengohomogenan) partikel
dalam larutan harus benar-benar merata. Hal ini bertujuan untuk
mempermudah pengamatan agar lebih akurat serta berpengaruh
terhadap kecepatan pengendapan partikel.
3. Selain dengan mengocok larutan sebelum proses sedimentasi,
pengadukan juga bisa digunakan untuk menghomogenkan larutan
sebelum proses sedimentasi.







VI. DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, C.,1993. Transport Process and Unit Operation. Prentice-Hall Inc
Englewood Clifts: New Jarsey.
Haryati, 2010. Studi Pengaruh Waktu Pengendapan dan Konsentrasi Awal
Partikel Padat. Junal Purifikasi Volume 11 Nomor 1 Juli 2010.
Mustafa, 2010. Evaluasi Laju Sedimentasi pada Kolom Sedimentasi Sistem Batch
dengan Penambahan Flokulan. Jurnal. Vol.10 No.1.
Setiyadi, 2014. Menentukan Persamaan Kecepatan Pengendapan Pada
Sedimentasi. Jurnal Ilmiah Widya Teknik. ISSN 1412-7350.