Anda di halaman 1dari 6

SHERLY WAHYUNI

Learning Issue

04011181320091
A
TUTOR 4
Furosemide
Furosemid merupakan salah satu obat yang termasuk ke dalam golongan Diuretic Loop.
Diuretik ini secara selektif menghambat reabsorpsi dari natrium klorida atau NaCl. Karena
golongan ini memiliki absorbs NaCl yang besar dan efek diuretiknya tidak dibatasi oleh asidosis,
maka diuretik loop ini merupakan salah satu diuretik yang cukup efektif. Furosemid sendiri
merupakan salah satu obat diuretik yang fungsinya untuk mengurangi pembengkakan atau edema
dan penyimpanan cairan yang berlebihan akibat dari berbagai masalah kesehatan seperti pada
kasus yaitu hipertensi. Furosemide juga digunakan untuk pengobatan tekanan darah
tinggi/hipertensi. Furosemide bekerja dengan membloking absorpsi garam dan cairan dalam
tubulus ginjal, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah urin yang diekskresikan. Efek
diuretik furosemide dapat menyebabkan deplesi cairan tubuh dan elektrolit dalam tubuh.

Struktur Kimia
Furosemid dan obat diuretik loop lainnya seperti bumetanid dan torsemid merupakan
diuretic loop golongan sulfonamide. Selain itu ada juga asam etakrinat yang bukan golongan
sulfonamide tetapi derivat asam fenoksiasetat yang mengandung gugus keton dan metilen.
Furosemid memiliki rumus molekul C12H11CIN2O5S, dengan berat molekul 330,745 g/mol.
Lasix merupakan nama dagang paling dikenal di Amerika Serikat, merujuk pada rxlist dan
drugbank. Lasix adalah diuretik yang merupakan turunan asam antranilat. Lasix tablet untuk
pemberian oral mengandung furosemid sebagai bahan aktif dan bahan aktif berikut : laktosa
monohidrat NF , magnesium stearat NF , NF pati , talk USP , dan koloid silikon dioksida NF.
Rumus kimia IUPAC adalah asam 4 - kloro - N - furfuril - 5 - sulfamoylanthranilic. Struktur
kimia dari furosemide akan diperlihatkan pada gambar di bawah ini:

Learning Issue

Indikasi
Furosemide tablet diindikasikan pada pasien dewasa dan anak-anak untuk pengobatan
edema yang dihubungkan dengan gagal jantung kongestif, sirosis hati, dan penyakit ginjal,
termasuk syndrome nephritic. Furosemide tablet juga digunakan pada dewasa untuk pengobatan
hipertensi.

Efek Samping
Setiap obat mempunyai efek samping, tetapi beberapa orang ada yang tidak menunjukkan
efek samping, ada yang sedikit yang menunjukkan efek samping, dan ada yang menunjukkan
efek samping. Furosemide menimbulkan efek samping sebagai berikut :anemia, sensasi
abnormalitas kulit, kejang kandung kemih, penglihatan kabur, konstipasi/sembelit, kram, pusing,
demam, iritasi mulut dan lambung, kemerahan, sedikit ikterik, kejang otot, telinga berdengung,
fotosensitivitas, inflamasi vena, mual, jaundice. Biasanya frekuensi urin maksimal sampai enam
jam setelah dosis pertama, dan akan menurun setelah mengkonsumsi furosemide dalam waktu
beberapa minggu.

Cara penggunaan
Furosemide ada yang dalam bentuk oral (tablet) dan injeksi (IV/IM). Untuk yang
penggunaan oral mungkin pasien sudah familiar , tetapi untuk yang injeksi biasanya pasien
diberikan injeksi oleh dokter. Untuk penggunaan injeksi dirumah, maka pasien akan diberikan
latihan tentang cara penggunaan injeksi oleh petugas kesehatan. Dalam hal ini pasien harus

Learning Issue

benar-benar mengerti apa yang telah diajarkan baik tentang pengaturan dosis sampai teknik
aseptic sebelum melalukan injeksi. Pasien tidak diijinkan untuk meningkatkan dosis sendiri lebih
dari yang telah diresepkan atau berhenti menggunakan obat tanpa konsultasi terlebih dahulu
kepada dokter. Dosis yang diberikan tergantung pada keadaan klinis pasien dan respon terhadap
terapi. Pada anak-anak penggunaan dosis lebih dari 6 mg/kgBB tidak dianjurkan. Pemakaian
dosis pertama mungkin akan meningkatkan jumlah urin atau pasien akan sering BAK, oleh
karena itu supaya tidak mengganggu kenyamanan tidur pasien, maka dianjurkan untuk
mengkonsumsi obat sebelum jam 6 sore.

Dosis
Pemberian injeksi dosis Minimal/Maximal untuk dewasa adalah 10 mg/600mg. untuk
anakanak dosis Minimal/Maximal adalah 0.5mg/kg / 6 mg/kg. Sedangkan untuk pemberian
secara oral untuk dewasa dosis Minimal/Maximal adalah 20mg / 600mg, dan untuk anak-anak
dosis Minimal/ Maximal adalah 0.5mg/kg / 6mg/kg.Untuk pengobatan edema, pada dewasa bisa
digunakan Furosemide 20-80 mg sigle dose. Jika dibutuhkan, pada dosis yang sama dapat
diberikan 6-8 jam berikutnya atau dosis bisa ditingkatkan.
Dosis bisa ditingkatkan 20 atau 40 mg dan tidak diberikan kurang dari 6-8 jam
berikutnya. Pasien dengan sigle dose harus diberikan satu atau dua kali sehari (misal : pada jam 8
pagi dan 2 siang). Untuk anak-anak dapat juga diberikan per oral tablet dengan dosis 2 mg/kg
BB diberikan single dose. Jika respon diuretik tidak juga hilang maka dosis dinaikkan 1-2 mg/kg
BB diberikan 6-8 jam setelah pemberian sebelumnya, asalkan pemberian dosis tidak mencapai
kadar minimal yaitu lebih dari 6n mg/kgBB.
Pada pengobatan hipertensi dapat juga diberikan furosemide tablet 80 mg, biasanya
dibagi menjadi 40 mg dan diberikan dua kali sehari. Jika respon tidak begitu memuaskan, dapat
ditambahkan agen antihipertensi yang lain. Tetapi perubahan tekanan darah harus selalu
dimonitor ketika furosemide diberikan dengan agen antihipertensi yang lain. Untuk mencegah
tekanan darah yang turun secara mendadak, dosis agen-agen yang lain harus dikurangi minimal
50% ketika furosemide tablet ditambahkan ke dalam regimen. Durasi furosemide adalah 6-8 hari
dimana waktu paruhnya adalah 2 hari, sehingga pemberian ulang dosis setiap dua hari jika perlu.
Obat diekskresikan lewat urin.

Learning Issue

Sediaan dan Posologi


Furosemida tersedia dalam bentuk tablet 20, 40, 80 mg dan preparat suntikan. Umumnya
pasien membutuhkan kurang dari 600 mg/hari. Dosis anak 2 mg/kg BB, bila perlu dapat
ditingkatkan menjadi 6 mg/kg BB (Ganiswara,1995).

Cara Kerja
Furosemida adalah suatu derivat asam antranilat yang efektif sebagai diuretik. Efek
kerjanya cepat dan dalam waktu yang singkat. Mekanisme kerja furosemid adalah menghambat
penyerapan kembali natrium oleh sel tubuli ginjal. Furosemida meningkatkan pengeluaran air,
natrium, klorida, kalium dan tidak mempengaruhi tekanan darah yang normal. Pada penggunaan
oral, furosemida diabsorpsi sebagian secara cepat dan diekskresikan bersama urin dan feses
(Lukmanto,2003)

Farmakokinetik
Absorpsi
Bioavailbilitas furosemid adalah sekitar 43%-69%. Absorbsi furosemid berlangsung
selama sekitar 2-3 jam. Awal kerja obat terjadi dalam 0,5-1 jam setelah pemberian oral, dengan
masa kerja yang relatif pendek 6-8 jam. Absorpsi furosemida dalam saluran cerna cepat,
ketersediaan hayatinya 60-69 % pada subyek normal, dan 91-99 % obat terikat oleh plasma
protein. Kadar darah maksimal dicapai 0,5-2 jam setelah pemberian secara oral, dengan waktu
paruh biologis 2 jam (Siswandono,1995).

Distribusi
Sebagian besar senyawa obat akan terikat dengan protein plasma, utamanya albumin.
Konsentrasi plasma berkisar 1- 400 mg/mL yang terikat pada orang sehat sekitar 91 99 % dan
fraksi tak terikat rata-rata 2,3 4,1% pada konsentrasi terapeutik. Pada orang usia lanjut, fraksi
yang terikat dengan albumin akan berkurang sehingga meningkatkan konsentrasi obat bebas
dalam plasma yang menyebabkan peningkatan efek obat.

Learning Issue

Metabolisme
Sekitar 35% ekskresi dilakukan melalui metabolisme di hati. Beberapa penelitian
berfokus pada metabolisme senyawa ini oleh CYP2C9 dan CYP2D6, dua isoform Sitokrom
P450 yang inhibis salah satu atau keduanya dapat menyebabkan peningkatan efek yang berujung
pada toksisitas pada pasien. Furosemide glukuronida metabolit dalam urin dari 10 % sampai 20
% dari zat yang direabsorbsi. Dosis yang tersisa, mungkin diikuti dengan sekresi empedu
diekskresikan melalui feses .

Reabsorbsi
Resorpsinya dari usus hanya lebih kurang 50%, t plasmanya 30-60 menit.
Ekskresi
Sekitar 65% ekskresi dilakukan melalui urin (Goodman & Gillman:748). Obat golongan
diuretic loop diabsorbsi dan dieliminasi oleh ginjal secara cepat melalui filtrasi glomerulus dan
sekresi tubulus, mengingat berat molekulanya yang kecil. Obat furosemid ini difiltrasi di
glomerulus ginjal sama seperti filtrasi pada umumnya. Lalu kemudian diabsorbsi selama 2-3 jam
di lumen tubulus. Oleh sebab itu, durasi efek furosemid biasanya sama seperti waktu absorbsinya
yaitu 2-3 jam. Namun proses reabsorpsi di renal ini akan sangat bergantung dengan pH urin yang
akan mempengaruhi disasosiasi senyawa obat yang bersifat asam menjadi kation, seperti
diketahui bahwa proses reabsorpsi di ginjal sebagian besar tergantung pada sifat fisikokimiawi
senyawa obat. Kation bersifat polar dan sulit menembus epitel tubular. Waktu paruhnya
bergantung pada fungsi ginjal. Eliminasi furosemid terutama terjadi melalui sekresi pada tubulus
proksimal. 60% sampai 70% dari dosis dimasukkan ke ginjal dengan cara ini, hal ini nantinya
akan berkaitan dengan proses kerja obat pada segmen naik tebal ansa henle.

Farmakodinamik
Furosemide bekerja dengan menghalangi penyerapan natrium, klorida, dan air dari cairan
yang disaring dalam tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan ekskresi urin (diuresis). Obat dari
golongan diuretik loop bekerja dengan menghambat NKCC-2 yaitu transporter Na+/K+/2Cl- di
lumen, dalam cabang asenden tebal ansa Henle. Dengan menghambat transporter ini, diuretik
loop menurunkan reabsorbsi dari NaCl dan mengurangi potensial positif di lumen akibat dari

Learning Issue

siklus kembalinya K+. Potensial positif ini normalnya memicu reabsorbsi kation divalen ansa
Henle, dengan menurunnya potensial ini, diuretic loop akan meningkatkan ekskresi dari Mg2+
dan Ca2+ (pada beberapa pasien, penggunaan yang berlebihan dapat menyebabkan
hipomagnesium). Karena absorbs Ca2+ di usus yang dipicu vitamin D dapat ditingkatkan dan
Ca2+ aktif direabsorbsi di Tubulus Kontortus Distal, diuretik loop umumnya tidak menyebabkan
hipokalsemia. Di bawah ini adalah gambar jalur transport ion di dalam lumen yang berkaitan
dengan kinerja dari diuretik loop : Onset relatif cepat dan diuresis berumur pendek, yang
merupakan diuretik kuat (highcelling diuretic), hal ini dikarenakan sekitar 25% beban Na+ yang
difiltrasi secara normal direabsorbsi oleh bagian naik yang tebal. Selain itu, segmen-segmen
nefron sebelum bagian naik yang tebal tidak mempunyai kapasitas reabsorptif yang cukup untuk
mendapatkan kembali berlimpahnya senyawa yang keluar dari bagian naik yang tebal.
Furosemide memblokir sistem memblokir symport Na+K+2Cl- pada segmen naik tebal
ansa henle. Dengan demikian, efektivitas furosemide melalui mekanisme transportasi anion
tergantung pada ketercapaian obat pada lumen tubulus. Efek utama inhibisi ini adalah natriuresis.
Efek sekunder dari peningkatan ekskresi natrium adalah ekskresi urin (karena tekanan osmotic
berhubungan dengan perpindahan air), dan peningkatan ekskresi kalsium (melalui inhibisi
symport) dan sekresi di tubulus distal. Furosemide mengganggu mekanisme umpan balik tubuloglomerular makula densa karena menghambat transpor garam ke dalam makula densa. Sebagai
akibatnya, tidak ada penurunan aktivitas. Stimulasi dosis furosemid tergantung dari sistem reninangiotensinaldosteron. Selain aktivitas diuretiknya, golongan loop ini mempunyai efek langsung
pada aliran darah melalui beberapa dasar vaskular. Furosemid mampu meningkatkan aliran darah
pada ginjal juga terbukti menurunkan kongesti paru dan tekanan pengisian ventrikel kiri pada
gagal jantung sebelum terjadi peningkatan keluaran urin yang nyata dan pada penderita anefrik.
Perlu diingat bahwa obat ini menghambat simporter Na/K/2Cl, jadi cenderung tidak
menyebabkan hiperkalemia karena tidak terjadi tahanan kalium di sitosol sel epitel. Obat ini
malah cenderung menetralkan efek hiperkalemia oleh Spironolacton dan Captopril.